Anda di halaman 1dari 19

Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model:

Studi Kasus Implementasi SAP B1 di PT CP

Kursehi Falgenti1, Chandra Mai2, Sumaryoto2


1
Program Studi Teknik Informatika,Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
2
Program Studi Pendidikan Ekonomi,Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Abstrak. Penelitian ini bertujuan menjelaskan kesuksesan implementasi ERP (Enterprise Resource Planning)
menggunakan Design-Reality Gap Model pada PT. CP salah satu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Model
ini dirancang untuk menjelaskan kesuksesan atau kegagalan implementasi sistem informasi terutama di negara
berkembang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Metode
pengumpulan dan analisa data adalah triangulasi terdiri dari: wawancara dengan konsultan dan pemeran utama
implementasi ERP di PT. CP, observasi sistem informasi ERP di kantor pusat Jakarta dan kantor pemasaran di
empat kota, dan analisa dokumen implementasi SAP B1. Hasil penelitian menunjukkan sebelum implementasi
ERP terdapat kesenjangan yang cukup besar antara rancangan dengan realitas pada dimensi Informasi, teknologi,
dan Proses. PT. CP berhasil mengurangi kesenjangan dengan mengambil langkah-langkah radikal mewujudkan
realitas agar sesuai dengan rancangan. Dalam pengukuran kesuksesan impelementasi sistem ERP kami
mengusulkan untuk menjadikan transfer pengetahuan sebagai bagian dari komponen pengukuran.

Kata kunci: Enterprise Resource Planning (ERP), Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Design-reality Gap
Model, Implementasi ERP, transfer pengetahuan.

Abstract.The purpose of this research is to explain the success of Enterprise Resource Planning (ERP)
implementation using Design-Reality Gap Model at PT. CP, a small and medium enterprise (SME). This model is
designed to explain either the success or a failure the implementation of Information System particularly in most
developing countries. This research is a qualitative research using a single case study. Data collection method used is
triangulation including First, interviews with consultants and key user involved in ERP implementation at PT. CP.
Second, the observation of ERP system in Jakarta headquarter and sales offices in four cities. And third, document
analysis on the implementation of SAP B1. Results showed that prior to the ERP implementation, there are
considerable gaps in the dimensions of information, technology, and processes. PT. CP managed to reduce the gap by
taking radical steps to realize the reality fit with the needs and assumptions in the design. With the success of an ERP
implementation in small and medium enterprise, we suggest that knowledge transfer should be a part in the component
measure.

Keywords: Enterprise Resource Planning (ERP), Small and Medium Enterprise (SME), Design-reality Gap
Model, ERP Implementation, Knowledge transfer

Received: 8 Maret 2014, Revision: 28 Mei 2014, Accepted: 3 November 2014


Print ISSN: 1412-1700; Online ISSN: 2089-7928. DOI: http://dx.doi.org/10.12695/jmt.2014.13.3.3
Copyright@2014. Published by Unit Research and Knowledge, School of Business and Management - Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB)

Jurnal
271 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

1. Pendahuluan Falgenti dan Pahlevi (2013) mengevaluasi Seperti studi yang dilakukan Wahid dan tujuh dimensi dalam model kesenjangan
implementasi sistem ERP di PT. CP salah satu Setyiono (2010) untuk menemukan rancangan-realitas, yaitu; Informasi, Teknologi,
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pelaku UKM di Jakarta, hasil evaluasi ketidakcocokan dalam implementasi ERP di Proses, Tujuan dan Nilai, Penempatan dan
berperan penting dalam mendukung proses ditemukan faktor-faktor kesuksesan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan Kemampuan staf, Sistem dan Struktur Manajemen,
bisnis perusahaan. TIK sudah banyak diadopsi implementasi ERP di PT. CP adalah BPR yang menjelaskan solusi mengatasi ketidakcocokan dan Sumber Daya Lain. Analisa kecocokan
oleh perusahaan besar, sedangkan adopsi TIK berjalan dengan lancar, Kostumisasi yang tersebut. Pendekatan fit banyak juga digunakan kebutuhan dan asumsi dalam rancangan pada
oleh pelaku UKM Indonesia masih rendah. minimal dan komitmen manajemen tingkat untuk menjelaskan kegagalan sistem ERP, masing-masing dimensi dilakukan dalam tiga
Rendahnya adopsi TIK oleh pelaku UKM atas yang tinggi. Dalam Proses evaluasi ini diantaranya; kecocokan sistem ERP dengan tahapan penelitian, mulai dari tahap awal
menurut Wahid dan Izwari (2007:78) karena Falgenti dan Pahlevi (2013) tidak hanya organisasi klien (contoh: Hong dan Kim, sebelum implementasi ERP, saat proyek
manfaaat potensial yang ditawarkan TIK tidak menemukan faktor-faktor yang berperan 2002), studi tentang kecocokan kultur di negara implementasi berjalan 4 bulan, dan setelah
sesuai dengan kebutuhan UKM di Indonesia dalam kesuksesan implementasi ERP ditinjau berkembang (contoh: Zhang et al. 2003; implementasi sistem ERP selesai. Hasil analisa
yang operasionalnya masih menggunakan dari persepsi peng guna, tapi juga Rajapakse dan Seddon, 2005; Xue et al. 2005; merupakan penjelasan tentang usaha yang
metode tradisional. Lebih lanjut Wahid dan menggunakan pendekatan berorientasi proses Molla dan Balla, 2006), dan studi tentang dijalankan untuk mewujudkan rancangan dan
Izwari (2007:78) berpendapat, perlu menjelaskan faktor-faktor kesuksesan sistem kecocokan tujuan, teknologi dan strategi improvisasi-improvisasi yang dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran akan potensi TIK ERP pada saat pembuatan sistem ERP, (Kamhawi, 2007). mengurangi kesenjangan antara rancangan-
dalam mendukung proses bisnis pada UKM. pemakaian sistem ERP, dan dampak dari realitas.
pemakaian. Berdasarkan pendekatan fit dan misfit ini Hawari
Salah satu aplikasi TIK yang dapat mendukung dan Heeks (2010) membangun model yang Hasil penelitian dirangkum dalam bentuk
bahkan menur ut Aisyah (2011:40) E R P a d a l a h s i s t e m y a n g ko m p l e k . sistematis, disusun dari berbagai faktor yang closure diagram untuk memberikan gambaran
meningkatkan proses bisnis pelaku UKM Implementasi ERP meliputi teknologi, ditemukan dari literatur sebelumnya. Model ini perubahan yang terjadi pada rancangan dan
adalah Sistem ERP. Untuk menumbuhkan operasional, manajerial, strategi, dan diberi nama Design-realiy Gap Model. Selanjutnya perubahan yang terjadi pada realitas selama
kesadaran peran sistem ERP dalam komponen-komponen organisasi (Yu, 2005; disebut sebagai model kesenjangan rancangan- implementasi. Melalui penjelasan yang
mendukung proses bisnis UKM diperlukan Ifenedo dan Nahar, 2007). Dengan karakter realitas. Dalam studinya Hawari dan Heeks komprehensif tentang kesuksesan
literatur-literatur dari hasil penelitian yang yang komplek ini hasil penelitian tentang (2010) mengaplikasikan model kesenjangan implementasi ERP pada UKM ini diharapkan
membahas implementasi ERP pada UKM. kesuksesan implementasi ERP di UKM tidak rancangan-realitas ini untuk menjelaskan dapat menjadi suatu pengetahuan yang dapat
Hasil penelitian ini sebagai pembelajaran cukup hanya dengan menyusun daftar faktor- kegagalan implementasi sistem ERP di sebuah
bagaimana menyusun perencanaan dan ditransfer kepada pelaku-pelaku UKM lainnya,
faktor yang mempengaruhi kesuksesan perusahaan manufaktur di Yordania. untuk meningkatkan pengetahuan mereka
mengimplementasikan ERP dengan baik.
implementasi ERP. Berdasarkan faktor-faktor ter utama dalam menyusun strategi
Dengan menyusun strategi perencanaan yang
yang mempengaruhi kesuksesan implementasi Penelitian ini bertujuan menjelaskan perencanaan implementasi ERP.
lebih baik akan membantu UKM mendapatkan
ERP yang ditemukan dalam penelitianya, kesuksesan implementasi ERP pada pelaku
keuntungan yang potensial dari ERP (Zach et
Mudiantono (2013) kemudian menyusun UKM dengan pendekatan fit dan misfit 2. Kajian Studi
al. 2014:23).
skenario-skenario yang dapat ditempuh pelaku meng gunakan Model Kesenjangan
Penelitian implementasi ERP di UKM yang UKM di Jawa Tengah untuk meningkatkan R a n c a n g a n - r e a l i t a s. Pa d a p e n e l i t i a n 2.1. UKM dan TIK
ditemukan di Indonesia sangat terbatas. Dua kesuksesan implementasi ERP. sebelumnya Falgenti dan Pahlevi (2013) telah Perubahan iklim pasar yang cenderung makin
diantaranya adalah penelitian yang dilakukan meneliti meng gunakan pendekatan bebas, menghadirkan berbagai tantangan,
Penelitian yang dilakukan Falgenti dan Pahlevi berorientasi proses dengan model update kesempatan, dan peluang bagi UKM. Mereka
oleh Mudiantono (2013) dan penelitian oleh
(2013) selain menemukan faktor-faktor Kesuksesan SI Delone dan McLean (2003) dituntut untuk meningkatkan daya saingnya
Falgenti dan Pahlevi (2013). Penelitian
Mudiantono (2013) menguji 6 variabel yang kesuksesan implementasi ERP pada UKM juga untuk menemukan faktor-faktor yang terutama dalam menghadapi Masyarakat
mempengaruhi kesuksesan implementasi ERP menjelaskan kesuksesan ERP, tapi penjelasan berperan dalam kesuksesan implementasi ERP Ekonomi ASEAN 2015. Efisiensi harus
pada pelaku UKM di Jawa Tengah. Keenam yang disampaikan tidak hanya fokus pada pada PT. CP. Penelitian lanjutan ini akan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas
variabel yang diuji yaitu: Dukungan proses implementasi tapi juga pada pemakaian mengeksplorasi lebih dalam, menjelaskan agar pelaku UKM dapat bersaing. UKM
Manajemen Puncak, Projek Manajemen yang dan dampak dari pemakaian ERP sehingga secara komprehensif dan utuh faktor-faktor sebagai motor penggerak ekonomi (Mazzarol
efektif, Business Process Reengineering, pemilihan tidak mampu memberikan penjalasan yang kesuksesan implementasi tersebut. Penjelasan et al. 1999) harus bisa mengadopsi sistem TIK
software dan hardware yang tepat, pendidikan menyeluruh tentang faktor-faktor kesuksesan faktor-faktor kesuksesan implementasi ERP sesuai dengan visi dan misinya. Dalam
dan pelatihan, serta dukungan vendor, implementasi ERP, belum dapat menjawab ini dilakukan dengan menyusun kebutuhan dan Ekonomi berbasis pengetahuan pelaku UKM
semuanya mempeng ar uhi kesuksesan pertanyaan Bagimana penjelasan kesuksesan a s u m s i d a l a m r a n c a n g a n ke mu d i a n akan sangat tergantung dengan TIK, UKM
implementasi ERP pada UKM di Jawa Tengah. implementasi ERP di PT. CP ? Untuk menganalisa kecocokan antara kebutuhan dan yang tidak mengadopsi perangkat teknologi
menjelaskan implementasi ERP beberapa studi asumsi dalam rancangan dengan realitas yang infor masi tidak akan bisa ber tahan
mengggunakan pendekatan kecocokan(fit) dan ditemukan selama proyek implementasi pada (Kotelnikov, 2007).
ketidakcocokan (misfit).

Jurnal Jurnal
272 Manajemen Teknologi 273 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

1. Pendahuluan Falgenti dan Pahlevi (2013) mengevaluasi Seperti studi yang dilakukan Wahid dan tujuh dimensi dalam model kesenjangan
implementasi sistem ERP di PT. CP salah satu Setyiono (2010) untuk menemukan rancangan-realitas, yaitu; Informasi, Teknologi,
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pelaku UKM di Jakarta, hasil evaluasi ketidakcocokan dalam implementasi ERP di Proses, Tujuan dan Nilai, Penempatan dan
berperan penting dalam mendukung proses ditemukan faktor-faktor kesuksesan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan Kemampuan staf, Sistem dan Struktur Manajemen,
bisnis perusahaan. TIK sudah banyak diadopsi implementasi ERP di PT. CP adalah BPR yang menjelaskan solusi mengatasi ketidakcocokan dan Sumber Daya Lain. Analisa kecocokan
oleh perusahaan besar, sedangkan adopsi TIK berjalan dengan lancar, Kostumisasi yang tersebut. Pendekatan fit banyak juga digunakan kebutuhan dan asumsi dalam rancangan pada
oleh pelaku UKM Indonesia masih rendah. minimal dan komitmen manajemen tingkat untuk menjelaskan kegagalan sistem ERP, masing-masing dimensi dilakukan dalam tiga
Rendahnya adopsi TIK oleh pelaku UKM atas yang tinggi. Dalam Proses evaluasi ini diantaranya; kecocokan sistem ERP dengan tahapan penelitian, mulai dari tahap awal
menurut Wahid dan Izwari (2007:78) karena Falgenti dan Pahlevi (2013) tidak hanya organisasi klien (contoh: Hong dan Kim, sebelum implementasi ERP, saat proyek
manfaaat potensial yang ditawarkan TIK tidak menemukan faktor-faktor yang berperan 2002), studi tentang kecocokan kultur di negara implementasi berjalan 4 bulan, dan setelah
sesuai dengan kebutuhan UKM di Indonesia dalam kesuksesan implementasi ERP ditinjau berkembang (contoh: Zhang et al. 2003; implementasi sistem ERP selesai. Hasil analisa
yang operasionalnya masih menggunakan dari persepsi peng guna, tapi juga Rajapakse dan Seddon, 2005; Xue et al. 2005; merupakan penjelasan tentang usaha yang
metode tradisional. Lebih lanjut Wahid dan menggunakan pendekatan berorientasi proses Molla dan Balla, 2006), dan studi tentang dijalankan untuk mewujudkan rancangan dan
Izwari (2007:78) berpendapat, perlu menjelaskan faktor-faktor kesuksesan sistem kecocokan tujuan, teknologi dan strategi improvisasi-improvisasi yang dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran akan potensi TIK ERP pada saat pembuatan sistem ERP, (Kamhawi, 2007). mengurangi kesenjangan antara rancangan-
dalam mendukung proses bisnis pada UKM. pemakaian sistem ERP, dan dampak dari realitas.
pemakaian. Berdasarkan pendekatan fit dan misfit ini Hawari
Salah satu aplikasi TIK yang dapat mendukung dan Heeks (2010) membangun model yang Hasil penelitian dirangkum dalam bentuk
bahkan menur ut Aisyah (2011:40) E R P a d a l a h s i s t e m y a n g ko m p l e k . sistematis, disusun dari berbagai faktor yang closure diagram untuk memberikan gambaran
meningkatkan proses bisnis pelaku UKM Implementasi ERP meliputi teknologi, ditemukan dari literatur sebelumnya. Model ini perubahan yang terjadi pada rancangan dan
adalah Sistem ERP. Untuk menumbuhkan operasional, manajerial, strategi, dan diberi nama Design-realiy Gap Model. Selanjutnya perubahan yang terjadi pada realitas selama
kesadaran peran sistem ERP dalam komponen-komponen organisasi (Yu, 2005; disebut sebagai model kesenjangan rancangan- implementasi. Melalui penjelasan yang
mendukung proses bisnis UKM diperlukan Ifenedo dan Nahar, 2007). Dengan karakter realitas. Dalam studinya Hawari dan Heeks komprehensif tentang kesuksesan
literatur-literatur dari hasil penelitian yang yang komplek ini hasil penelitian tentang (2010) mengaplikasikan model kesenjangan implementasi ERP pada UKM ini diharapkan
membahas implementasi ERP pada UKM. kesuksesan implementasi ERP di UKM tidak rancangan-realitas ini untuk menjelaskan dapat menjadi suatu pengetahuan yang dapat
Hasil penelitian ini sebagai pembelajaran cukup hanya dengan menyusun daftar faktor- kegagalan implementasi sistem ERP di sebuah
bagaimana menyusun perencanaan dan ditransfer kepada pelaku-pelaku UKM lainnya,
faktor yang mempengaruhi kesuksesan perusahaan manufaktur di Yordania. untuk meningkatkan pengetahuan mereka
mengimplementasikan ERP dengan baik.
implementasi ERP. Berdasarkan faktor-faktor ter utama dalam menyusun strategi
Dengan menyusun strategi perencanaan yang
yang mempengaruhi kesuksesan implementasi Penelitian ini bertujuan menjelaskan perencanaan implementasi ERP.
lebih baik akan membantu UKM mendapatkan
ERP yang ditemukan dalam penelitianya, kesuksesan implementasi ERP pada pelaku
keuntungan yang potensial dari ERP (Zach et
Mudiantono (2013) kemudian menyusun UKM dengan pendekatan fit dan misfit 2. Kajian Studi
al. 2014:23).
skenario-skenario yang dapat ditempuh pelaku meng gunakan Model Kesenjangan
Penelitian implementasi ERP di UKM yang UKM di Jawa Tengah untuk meningkatkan R a n c a n g a n - r e a l i t a s. Pa d a p e n e l i t i a n 2.1. UKM dan TIK
ditemukan di Indonesia sangat terbatas. Dua kesuksesan implementasi ERP. sebelumnya Falgenti dan Pahlevi (2013) telah Perubahan iklim pasar yang cenderung makin
diantaranya adalah penelitian yang dilakukan meneliti meng gunakan pendekatan bebas, menghadirkan berbagai tantangan,
Penelitian yang dilakukan Falgenti dan Pahlevi berorientasi proses dengan model update kesempatan, dan peluang bagi UKM. Mereka
oleh Mudiantono (2013) dan penelitian oleh
(2013) selain menemukan faktor-faktor Kesuksesan SI Delone dan McLean (2003) dituntut untuk meningkatkan daya saingnya
Falgenti dan Pahlevi (2013). Penelitian
Mudiantono (2013) menguji 6 variabel yang kesuksesan implementasi ERP pada UKM juga untuk menemukan faktor-faktor yang terutama dalam menghadapi Masyarakat
mempengaruhi kesuksesan implementasi ERP menjelaskan kesuksesan ERP, tapi penjelasan berperan dalam kesuksesan implementasi ERP Ekonomi ASEAN 2015. Efisiensi harus
pada pelaku UKM di Jawa Tengah. Keenam yang disampaikan tidak hanya fokus pada pada PT. CP. Penelitian lanjutan ini akan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas
variabel yang diuji yaitu: Dukungan proses implementasi tapi juga pada pemakaian mengeksplorasi lebih dalam, menjelaskan agar pelaku UKM dapat bersaing. UKM
Manajemen Puncak, Projek Manajemen yang dan dampak dari pemakaian ERP sehingga secara komprehensif dan utuh faktor-faktor sebagai motor penggerak ekonomi (Mazzarol
efektif, Business Process Reengineering, pemilihan tidak mampu memberikan penjalasan yang kesuksesan implementasi tersebut. Penjelasan et al. 1999) harus bisa mengadopsi sistem TIK
software dan hardware yang tepat, pendidikan menyeluruh tentang faktor-faktor kesuksesan faktor-faktor kesuksesan implementasi ERP sesuai dengan visi dan misinya. Dalam
dan pelatihan, serta dukungan vendor, implementasi ERP, belum dapat menjawab ini dilakukan dengan menyusun kebutuhan dan Ekonomi berbasis pengetahuan pelaku UKM
semuanya mempeng ar uhi kesuksesan pertanyaan Bagimana penjelasan kesuksesan a s u m s i d a l a m r a n c a n g a n ke mu d i a n akan sangat tergantung dengan TIK, UKM
implementasi ERP pada UKM di Jawa Tengah. implementasi ERP di PT. CP ? Untuk menganalisa kecocokan antara kebutuhan dan yang tidak mengadopsi perangkat teknologi
menjelaskan implementasi ERP beberapa studi asumsi dalam rancangan dengan realitas yang infor masi tidak akan bisa ber tahan
mengggunakan pendekatan kecocokan(fit) dan ditemukan selama proyek implementasi pada (Kotelnikov, 2007).
ketidakcocokan (misfit).

Jurnal Jurnal
272 Manajemen Teknologi 273 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

UKM harus mengembangkan perangkat Informasi yang dihasilkan sistem ERP real time, Dasar dalam membangun model ini diambil Berdasarkan literatur diatas, Hawari dan Heeks
teknologi informasinya menjadi lebih modern data yang diinput oleh departemen produksi Heeks (2002) dari penelitian Venkatraman (2010) menyusun model untuk memahami
dan dinamis. Untuk itu UKM perlu langsung bisa dimanfaatkan oleh departemen (1989), juga penelitian sebelumnya oleh Leavitt sukses dan gagalnya sistem ERP secara
membangun ulang aplikasinya atau update ke keuangan dan departemen lain tanpa perlu (1965) yang mencoba memahami kecocokan mendasar mengenai kecocokan antara
versi yang lebih tinggi. Kompleksitas dari proses sinkronisasi. beberapa faktor-faktor sistem informasi yang rancangan sistem dengan realitas kontek
software membuat usaha pengembangan berbeda seperti; kecocokan antara proses, organisasi pada sistem yang telah dikenalkan.
aplikasi menjadi tidak mungkin dilakukan Keuntungan paling besar dari implementasi orang, struktur dan teknologi. Penelitian lain Model ini disebut dengan “design-reality gap”.
UKM (Cruz-cunha, 2010). Alasan UKM tidak ERP penghematan inventori sebesar 30% memahami kecocokan antara group stakeholder, Derajat kecocokan antara pada satu sisi
mungkin melakukan pengembangan aplikasi (Katalnikov, 2010:10). Penghematan yang asumsi dan harapan mereka (contoh: kebutuhan dan asumsi yang dibangun pada
menurut Cruz-cunha (2010) adalah: 1) UKM cukup besar juga bisa diperolah dari Orlikowski dan Gash, 1994). Selanjutnya rancangan sistem informasi dan sisi lain situasi
tidak memiliki banyak sumber daya dan pakar berkurangnya waktu proses produksi. Selain itu (Markus and Robey, 1983; Pliskin et al. 1994) realitas yang ditemukan pada organisasi dalam
TIK untuk membangun ulang perangkat lunak, juga penghematan biaya manufaktur, biaya fokus pada kecocokan antara rancangan sistem kontek implementasi. Berdasarakan analisa
2) Pekerja UKM akan kesulitan menggunakan kontrol kualitas, dan biaya pembelian (Gambar informasi dan setting organisasi. Bersama literatur yang dikutip sebelumnya dan
sistem yang berubah dengan cepat, 3) UKM 1). Keuntungan diatas dihasilkan dari mereka mengidentifikasi lima dimensi dimana berdasarkan penelitian sebelumya (Heeks,
mengalami kesulitan membangun proses bisnis implementasi ERP yang berdiri sendiri atau kecocokan yang bisa muncul: kompetensi 2002), Hawari dan Heeks (2010) meringkas
yang reliable dan stabil dan 4) UKM tidak bisa implementasi dengan cara tradisional. pengguna, struktur organisasi, politik menjadi tujuh dimensi disingkat dengan
menggunakan standar software yang komplek Keuntungan yang labih banyak akan diperoleh organisasi, kultur organisasi, dan faktor ITPOSMO. Tujuh dimensi ini cukup
seperti IEEE atau ISO. Solusi yang dapat bila implementasi ERP ini juga didukung oleh kontekstual yang lebih luas. memberikan pemahaman yang komprehensif
dilakukan adalah memanfaatkan pihak ketiga, teknologi baru internet seperti komputasi awan tentang design-reality gap. Dimensi-dimensi ini
mengganti legacy information system dengan (Sanchez dan Yogue, 2010) Hong dan Kim (2002) memperluas gagasan dijelaskan dalam gambar 2.
mengimplementasikan sistem informasi kecocokan sistem dan organisasi dengan
modern dan dinamis yaitu ERP. menyertakan kecocokan data, proses dan antar Tujuh dimensi dalam model ini terdiri dari:
Inventories muka pemakai. Sedangkan Kamhawi (2007) Information, Technology, Process, Objective and values,
Tingginya biaya implementasi merupakan menyertakan kecocokan tujuan, teknologi dan Staffing and skill, Management System and structure
Build/Test cycle times
masalah utama bagi pelaku UKM s t r a t e g i . Ke c o c o k a n k u l t u r b a n y a k and Other resource):
(Supramaniam et al. 2004). Sebenarnya biaya Manufacturing costs didiskusikan di negara berkembang (contoh: a. Informasi: Penyimpanan data, alur
besar yang dikeluarkan sebanding dengan Zhang et al. 2003; Rajapakse dan Seddon, 2005; data, dan lain-lain
Quality control costs
manfaat yang akan diperoleh. ERP adalah Xue et al. 2005; Molla dan Balla, 2006). b.Teknologi: perangkat keras dan
sistem informasi strategis dengan masa pakai Purchasing costs Menurut Soh et al. (2000) ada tujuh perangkat lunak
bisa lebih dari sepuluh tahun. Walaupun biaya Factory space
ketidakcocokan dalam sistem ERP yang harus c.Proses: aktivitas pengguna dan yang
yang dikeluarkan sangat besar tapi manfaat 0% 10% 20% 30% diperhatikan; model data, kebutuhan akses lain
yang diterima dalam jangka waktu yang lama. untuk melaksanakan tugas, prosedur validasi, d.Tujuan dan Nilai: faktor yang terlibat
Gambar 1. Penghematan setelah implementasi SOP, presentasi format output, dan konten seperti budaya dan politik.
2.2. Enterprise Resource Planning (ERP) ERP Sumber (Katalnikov, 2010:10) informasi pada input. e.Penempatan dan kemampuan pegawai:
Menurut Pozzebon (2004:4) ERP merupakan keduanya adalah aspek kuantitatif dan
konsep yang visioner, mengganti sistem 2.3. Model Kesenjangan Rancangan-realitas Current Reality Design of IS Project kualitatif dari kompetensi.
informasi yang terfragmentasi dan legacy Model kesenjangan rancangan-realitas (design- f. Sistem dan struktur manajemen
Information Information
information system yang tidak kompetibel dengan reality gap) dibangun oleh Heeks (2002). Model g.Sumber daya yang lain: khususnya
Technology Technology
satu sistem yang mengintegrasikan sistem ini sebelumnya telah diaplikasikan untuk waktu dan uang
perusahaan yang luas. Pada legacy information mengevaluasi proyek sistem informasi di Processes Processes

system data menumpuk di masing-masing negara berkembang seperti; E-government Objectives and Objectives and ITPOSMO cukup memadai untuk
values values
departemen. Penumpukan data dari aplikasi (contoh: Dada, 2006; Ramaswamy, 2009; Staffing and Staffing and
memberikan pengertian yang komprehensif
yang berbeda ini membutuhkan sinkronisasi Syamsuddin, 2011), sistem Informasi skills skills
tentang design-reality gap (Hawari dan Heeks,
Management systems Management systems
sebelum diolah menjadi informasi dan disusun kesehatan (contoh: Heeks, 2006). Model and structures and structures 2010). Model ini bukan untuk menilai kualitas
menjadi satu laporan. Akurasi data menjadi kesenjangan rancangan-realitas ini dibangun Other resources Other resources
rancangan dan kualitas realitas apakah baik
masalah dalam mensinkronisasi data. Akurasi dari pendekatan sukses dan gagalnya sistem Reality Design atau buruk, tapi menilai bahwa ketidaksesuaian
menjadi rendah karena proses input data yang informasi dilihat dari kecocokan (fit). Sukses antara rancangan dengan realitas akan
berulang. Sedangkan dengan sistem informasi dan gagalnya sistem informasi ditentukan dari Gap meningkatkan risiko kegagalan, sebaliknya
ERP input data hanya sekali dan seluruh data tingkat kecocokan (fit) dan ketidakcocokan Gambar 2. Model Design-Reality Gap (Hawari ke s e s u a i a n r a n c a n g a n - r e a l i t a s a k a n
disimpan dalam database tunggal. (misfit). dan Heeks, 2010) menghasilkan kesuksesan.

Jurnal Jurnal
274 Manajemen Teknologi 275 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

UKM harus mengembangkan perangkat Informasi yang dihasilkan sistem ERP real time, Dasar dalam membangun model ini diambil Berdasarkan literatur diatas, Hawari dan Heeks
teknologi informasinya menjadi lebih modern data yang diinput oleh departemen produksi Heeks (2002) dari penelitian Venkatraman (2010) menyusun model untuk memahami
dan dinamis. Untuk itu UKM perlu langsung bisa dimanfaatkan oleh departemen (1989), juga penelitian sebelumnya oleh Leavitt sukses dan gagalnya sistem ERP secara
membangun ulang aplikasinya atau update ke keuangan dan departemen lain tanpa perlu (1965) yang mencoba memahami kecocokan mendasar mengenai kecocokan antara
versi yang lebih tinggi. Kompleksitas dari proses sinkronisasi. beberapa faktor-faktor sistem informasi yang rancangan sistem dengan realitas kontek
software membuat usaha pengembangan berbeda seperti; kecocokan antara proses, organisasi pada sistem yang telah dikenalkan.
aplikasi menjadi tidak mungkin dilakukan Keuntungan paling besar dari implementasi orang, struktur dan teknologi. Penelitian lain Model ini disebut dengan “design-reality gap”.
UKM (Cruz-cunha, 2010). Alasan UKM tidak ERP penghematan inventori sebesar 30% memahami kecocokan antara group stakeholder, Derajat kecocokan antara pada satu sisi
mungkin melakukan pengembangan aplikasi (Katalnikov, 2010:10). Penghematan yang asumsi dan harapan mereka (contoh: kebutuhan dan asumsi yang dibangun pada
menurut Cruz-cunha (2010) adalah: 1) UKM cukup besar juga bisa diperolah dari Orlikowski dan Gash, 1994). Selanjutnya rancangan sistem informasi dan sisi lain situasi
tidak memiliki banyak sumber daya dan pakar berkurangnya waktu proses produksi. Selain itu (Markus and Robey, 1983; Pliskin et al. 1994) realitas yang ditemukan pada organisasi dalam
TIK untuk membangun ulang perangkat lunak, juga penghematan biaya manufaktur, biaya fokus pada kecocokan antara rancangan sistem kontek implementasi. Berdasarakan analisa
2) Pekerja UKM akan kesulitan menggunakan kontrol kualitas, dan biaya pembelian (Gambar informasi dan setting organisasi. Bersama literatur yang dikutip sebelumnya dan
sistem yang berubah dengan cepat, 3) UKM 1). Keuntungan diatas dihasilkan dari mereka mengidentifikasi lima dimensi dimana berdasarkan penelitian sebelumya (Heeks,
mengalami kesulitan membangun proses bisnis implementasi ERP yang berdiri sendiri atau kecocokan yang bisa muncul: kompetensi 2002), Hawari dan Heeks (2010) meringkas
yang reliable dan stabil dan 4) UKM tidak bisa implementasi dengan cara tradisional. pengguna, struktur organisasi, politik menjadi tujuh dimensi disingkat dengan
menggunakan standar software yang komplek Keuntungan yang labih banyak akan diperoleh organisasi, kultur organisasi, dan faktor ITPOSMO. Tujuh dimensi ini cukup
seperti IEEE atau ISO. Solusi yang dapat bila implementasi ERP ini juga didukung oleh kontekstual yang lebih luas. memberikan pemahaman yang komprehensif
dilakukan adalah memanfaatkan pihak ketiga, teknologi baru internet seperti komputasi awan tentang design-reality gap. Dimensi-dimensi ini
mengganti legacy information system dengan (Sanchez dan Yogue, 2010) Hong dan Kim (2002) memperluas gagasan dijelaskan dalam gambar 2.
mengimplementasikan sistem informasi kecocokan sistem dan organisasi dengan
modern dan dinamis yaitu ERP. menyertakan kecocokan data, proses dan antar Tujuh dimensi dalam model ini terdiri dari:
Inventories muka pemakai. Sedangkan Kamhawi (2007) Information, Technology, Process, Objective and values,
Tingginya biaya implementasi merupakan menyertakan kecocokan tujuan, teknologi dan Staffing and skill, Management System and structure
Build/Test cycle times
masalah utama bagi pelaku UKM s t r a t e g i . Ke c o c o k a n k u l t u r b a n y a k and Other resource):
(Supramaniam et al. 2004). Sebenarnya biaya Manufacturing costs didiskusikan di negara berkembang (contoh: a. Informasi: Penyimpanan data, alur
besar yang dikeluarkan sebanding dengan Zhang et al. 2003; Rajapakse dan Seddon, 2005; data, dan lain-lain
Quality control costs
manfaat yang akan diperoleh. ERP adalah Xue et al. 2005; Molla dan Balla, 2006). b.Teknologi: perangkat keras dan
sistem informasi strategis dengan masa pakai Purchasing costs Menurut Soh et al. (2000) ada tujuh perangkat lunak
bisa lebih dari sepuluh tahun. Walaupun biaya Factory space
ketidakcocokan dalam sistem ERP yang harus c.Proses: aktivitas pengguna dan yang
yang dikeluarkan sangat besar tapi manfaat 0% 10% 20% 30% diperhatikan; model data, kebutuhan akses lain
yang diterima dalam jangka waktu yang lama. untuk melaksanakan tugas, prosedur validasi, d.Tujuan dan Nilai: faktor yang terlibat
Gambar 1. Penghematan setelah implementasi SOP, presentasi format output, dan konten seperti budaya dan politik.
2.2. Enterprise Resource Planning (ERP) ERP Sumber (Katalnikov, 2010:10) informasi pada input. e.Penempatan dan kemampuan pegawai:
Menurut Pozzebon (2004:4) ERP merupakan keduanya adalah aspek kuantitatif dan
konsep yang visioner, mengganti sistem 2.3. Model Kesenjangan Rancangan-realitas Current Reality Design of IS Project kualitatif dari kompetensi.
informasi yang terfragmentasi dan legacy Model kesenjangan rancangan-realitas (design- f. Sistem dan struktur manajemen
Information Information
information system yang tidak kompetibel dengan reality gap) dibangun oleh Heeks (2002). Model g.Sumber daya yang lain: khususnya
Technology Technology
satu sistem yang mengintegrasikan sistem ini sebelumnya telah diaplikasikan untuk waktu dan uang
perusahaan yang luas. Pada legacy information mengevaluasi proyek sistem informasi di Processes Processes

system data menumpuk di masing-masing negara berkembang seperti; E-government Objectives and Objectives and ITPOSMO cukup memadai untuk
values values
departemen. Penumpukan data dari aplikasi (contoh: Dada, 2006; Ramaswamy, 2009; Staffing and Staffing and
memberikan pengertian yang komprehensif
yang berbeda ini membutuhkan sinkronisasi Syamsuddin, 2011), sistem Informasi skills skills
tentang design-reality gap (Hawari dan Heeks,
Management systems Management systems
sebelum diolah menjadi informasi dan disusun kesehatan (contoh: Heeks, 2006). Model and structures and structures 2010). Model ini bukan untuk menilai kualitas
menjadi satu laporan. Akurasi data menjadi kesenjangan rancangan-realitas ini dibangun Other resources Other resources
rancangan dan kualitas realitas apakah baik
masalah dalam mensinkronisasi data. Akurasi dari pendekatan sukses dan gagalnya sistem Reality Design atau buruk, tapi menilai bahwa ketidaksesuaian
menjadi rendah karena proses input data yang informasi dilihat dari kecocokan (fit). Sukses antara rancangan dengan realitas akan
berulang. Sedangkan dengan sistem informasi dan gagalnya sistem informasi ditentukan dari Gap meningkatkan risiko kegagalan, sebaliknya
ERP input data hanya sekali dan seluruh data tingkat kecocokan (fit) dan ketidakcocokan Gambar 2. Model Design-Reality Gap (Hawari ke s e s u a i a n r a n c a n g a n - r e a l i t a s a k a n
disimpan dalam database tunggal. (misfit). dan Heeks, 2010) menghasilkan kesuksesan.

Jurnal Jurnal
274 Manajemen Teknologi 275 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

2.4. Transfer Pengetahuan Tabel 1. Penilaian Kesenjangan Penelitian ini mengambil objek penelitian dua Metode pengumpulan data dan analisa data
Menurut Diop et al. (2013) implementasi ERP proyek E-government diintegrasikan dengan GIS yang digunakan adalah triangulasi
adalah proses transfer pengetahuan yang Tingkat kesenjangan Kemungkinan sukses di Mesir. Model kesenjangan rancangan- (menggunakan beberapa metode
8.1 – 10 Sangat tidak Mungkin
intensif yang membutuhkan kompetensi teknis realitas yang digunakan dalam penelitian ini pengumpulan dan analisa data). Triangulasi
6.1 – 8 Tidak Mungkin
dan keahlian untuk mendefinisikan parameter bukan semata menjelaskan hasil implementasi menurut Yin (2009) untuk meningkatkan
4.1 – 6 Mungkin
yang diperlukan, keahlian juga dibutuhkan ERP seperti dalam studi Hawari dan Heeks validitas data agar data yang digunakan untuk
2.1 – 4 Mungkin sekali
untuk rekonsialiasi logika sistem dangan logika (2010), tidak hanya berupaya memahami dianalisa adalah data yang bermanfaat.
0.0 – 2 Sangat mungkin
organisasi pada tahap implementasi maupun bagaimana kesuksesan implementasi ERP Pengumpulan data dilakukan melalui: pertama
pasca implementasi. Pengertian transfer dapat dicapai. Dalam penelitian ini model wawancara dengan konsultan dari PT.FID
pengetahuan menurut Dong-Gil, et al. (2005) Langkah kedua, memberikan nilai total kesenjangan rancangan-realitas juga digunakan Wawancara juga dialakukan dengan pemeran
adalah komunikasi pengetahuan dari sumber kesenjangan rancangan-realitas (diperoleh untuk mendeskripsikan strategi perencanaan utama implementasi ERP di PT. CP, yaitu tim
yang dapat dipelajari dan digunakan oleh dengan menambahkan nilai dari tujuh implementasi ERP di PT. CP Perencanaan internal terdiri dari; manajer keuangan,
penerima. Ada tiga komponen penting dalam kesenjangan individu). Dari nilai total ini dapat disusun dalam asumsi dan kebutuhan dalam supervisor akuntansi, manejer produksi, dua
proses transfer pengetahuan sumber diketahui proyek implementasi berhasil, gagal rancangan pada setiap 7 dimensi (Informasi, orang sistem administrator, dan beberapa
pengetahuan, media dan penerima. Selama total atau gagal parsial. Penjelasan dari nilai Teknologi, Proses, Tujuan dan Nilai, orang pengguna di kantor pusat dan kantor
implementasi ERP sumber utama pengetahuan keseluruhan dapat di lihat di tabel 2. Penempatan dan kemampuan pegawai, Sistem pemasaran di kota Bandung, Yogyakarta,
dari eksternal adalah konsultan atau dan struktur manajemen, dan Sumber daya Surabaya, dan Denpasar.
Tabel 2. Prediksi Proyek implementasi dari
implementator. Selain dari konsultan yang lain).
total nilai kesenjangan rancangan-realitas.
pengetahuan tentang implementasi ERP ini Wawancara dengan Konsultan dan Sistem
bisa diperoleh dari vendor. Total nilai 3. Metode Penelitian dan Analisis Data administrator lebih intensif untuk
Keterangan
kesenjangan
57-70 Proyek hampir pasti akan gagal mendapatkan realitas sistem, sebelum saat, dan
Ada dua jenis pengetahuan, yaitu; pengetahuan 43-59 proyek kemungkinan gagal Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif setelah implementasi. Kedua observasi sistem
proyek kemungkinan gagal sama sekali, atau
eksplisit dan pengetahuan tacit (Nonaka, 1994). 29-42
mungkin akan gagal sebagian
dengan pendekatan studi kasus tunggal. informasi ERP di kantor pusat Jakarta dan
Pengetahuan eksplisit dapat diperoleh dengan 15-28 proyek kemungkinan gagal sebagian Dengan pendekatan studi kasus kantor pemasaran di empat kota dilakukan
cara formal melalui pelatihan ditransmisikan 0-14 proyek kemungkinan sukses memungkinkan peneliti mempertajam teori untuk melihat bagaimana penggunaan sistem
secara sistematis. Pengetahuan tacit berkaitan 2.6. Pengembangan Hipotesis yang ada dengan menunjukkan kesenjangan ERP. Untuk memperkuat validitas, hasil
dengan pengalaman individu. Berbagi Hawari dan Heeks (2010) mengaplikasikan dan mengisi kesenjangan tersebut, peneliti obervasi di konfirmasi ulang kepada pihak
pengetahuan tacit difasilitasi melalui model kesenjangan rancangan-realitas untuk dapat melakukan pengungkapan dan terkait melalui wawancara singkat. Dan ketiga,
brainstrorming, storytelling, dan kebebasan menjelaskan kegagalan implementasi ERP penemuan teori baru (Sigelkow, 2007). analisa dokumen meliputi dokumen rancangan
mengekspresikan ide (Brown & Duguid, 2000; pada perusahaan Alpha di Yordania, untuk Penelitian ini akan mendalami penelitian sistem dan dokumen proyek implementasi
Wenger & Snyder, 2000; Jones, 2005:3). menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimana sebelumnya tentang kesuksesan sistem ERP untuk mendapatkan gambaran umum
Implementasi ERP memerlukan transfer menjelaskan kegagalan implementasi sistem ERP pada UKM yang dilakukan oleh Falgenti dan organisasi, terdiri dari; sistem ERP itu sendiri
peng etahuan eksplisit ser ta transfer diperusahaan Alpha? Penelitian Hawari dan Pahlevi (2013). dan stakeholder yang terlibat. Selain itu juga
pengetahuan tacit (Lee & Lee, 2000). Heeks (2010) berusaha memahami bagaimana untuk melihat data spesifik seperti spesifikasi
kegagalan implementasi sistem ERP tersebut Berbeda dengan penelitian Falgenti dan rancangan dan kemampuan sistem. Beberapa
2.5. Penilaian Kesenjangan bisa terjadi. Selain penelitian Hawari dan Heeks Pahlevi (2013) yang menilai persepsi pengguna pertanyaan wawancara dengan konsultan dan
Untuk mengetahui hasil luaran implementasi (2010) kami belum menemukan lagi literatur untuk mengevaluasi kesuksesan sistem ERP sistem administrator juga bersumber dari
berhasil, gagal atau gagal parsial, langkah yang menggunakan model ini untuk studi dan menggunakan pendekatan berorientasi analisa dokumen ini. Penulis melakukan
pertama yang dilakukan adalah memberikan mengenai implementasi ERP, studi yang proses untuk menemukan faktor-faktor yang korespondensi dengan Prof. Richard Heeks
tingkat kesenjangan 1-10 pada masing-masing membahas kesuksesan sistem ERP juga belum berperan dalam kesuksesan implementasi ERP, yang membangun model ini. beliau
dimensi dalam model ini. Nilai kesenjangan ditemukan. Beberapa literatur tentang penelitian ini akan fokus pada proyek menyarankan mengggunakan closure diagram
setiap dimensi ITPOSMO dalam model penjelasan sukses proyek sistem informasi implementasi saja dengan mengekplorasi lebih untuk membantu mempresentasikan hasil
rancangan-realitas ini disebut juga nilai selain ERP di negara berkembang lebih banyak dalam menggunakan pendekatan kecocokan analisa data perubahan nilai total kesenjangan.
kesenjangan individu. Penilaian adalah proses menggunakan kerangka kerja ITPOSMO yang (fit) dan ketidakcocokan (misfit). Kasus yang
subyektif, tetapi panduan secara garis besar merupakan bagian utama dari model ini. diangkat dalam penelitian ini sama dengan 4. Analisa
untuk menilai kesenjangan dimensi tertentu Seperti penelitian yang dilakukan oleh kasus pada penelitian sebelumnya,
sebagai penyebab kemungkinan kesuksesan Bandyopadhyay dan Sattarzadeh (2010) implementasi ERP di PT. CP sebuah UKM di 4.1. Analisa awal sistem ERP dengan model
ditunjukkan dalam tabel 1. menganalisa beberapa proyek e-government di Jakarta. kesenjangan rancangan-realitas
China dan di India, Selanjutnya penelitian Pada tahap ini dilakukan analisa untuk melihat
yang dilakukan oleh Abdelsalam et al. (2010). kesenjangan antara rancangan awal sistem ERP

Jurnal Jurnal
276 Manajemen Teknologi 277 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

2.4. Transfer Pengetahuan Tabel 1. Penilaian Kesenjangan Penelitian ini mengambil objek penelitian dua Metode pengumpulan data dan analisa data
Menurut Diop et al. (2013) implementasi ERP proyek E-government diintegrasikan dengan GIS yang digunakan adalah triangulasi
adalah proses transfer pengetahuan yang Tingkat kesenjangan Kemungkinan sukses di Mesir. Model kesenjangan rancangan- (menggunakan beberapa metode
8.1 – 10 Sangat tidak Mungkin
intensif yang membutuhkan kompetensi teknis realitas yang digunakan dalam penelitian ini pengumpulan dan analisa data). Triangulasi
6.1 – 8 Tidak Mungkin
dan keahlian untuk mendefinisikan parameter bukan semata menjelaskan hasil implementasi menurut Yin (2009) untuk meningkatkan
4.1 – 6 Mungkin
yang diperlukan, keahlian juga dibutuhkan ERP seperti dalam studi Hawari dan Heeks validitas data agar data yang digunakan untuk
2.1 – 4 Mungkin sekali
untuk rekonsialiasi logika sistem dangan logika (2010), tidak hanya berupaya memahami dianalisa adalah data yang bermanfaat.
0.0 – 2 Sangat mungkin
organisasi pada tahap implementasi maupun bagaimana kesuksesan implementasi ERP Pengumpulan data dilakukan melalui: pertama
pasca implementasi. Pengertian transfer dapat dicapai. Dalam penelitian ini model wawancara dengan konsultan dari PT.FID
pengetahuan menurut Dong-Gil, et al. (2005) Langkah kedua, memberikan nilai total kesenjangan rancangan-realitas juga digunakan Wawancara juga dialakukan dengan pemeran
adalah komunikasi pengetahuan dari sumber kesenjangan rancangan-realitas (diperoleh untuk mendeskripsikan strategi perencanaan utama implementasi ERP di PT. CP, yaitu tim
yang dapat dipelajari dan digunakan oleh dengan menambahkan nilai dari tujuh implementasi ERP di PT. CP Perencanaan internal terdiri dari; manajer keuangan,
penerima. Ada tiga komponen penting dalam kesenjangan individu). Dari nilai total ini dapat disusun dalam asumsi dan kebutuhan dalam supervisor akuntansi, manejer produksi, dua
proses transfer pengetahuan sumber diketahui proyek implementasi berhasil, gagal rancangan pada setiap 7 dimensi (Informasi, orang sistem administrator, dan beberapa
pengetahuan, media dan penerima. Selama total atau gagal parsial. Penjelasan dari nilai Teknologi, Proses, Tujuan dan Nilai, orang pengguna di kantor pusat dan kantor
implementasi ERP sumber utama pengetahuan keseluruhan dapat di lihat di tabel 2. Penempatan dan kemampuan pegawai, Sistem pemasaran di kota Bandung, Yogyakarta,
dari eksternal adalah konsultan atau dan struktur manajemen, dan Sumber daya Surabaya, dan Denpasar.
Tabel 2. Prediksi Proyek implementasi dari
implementator. Selain dari konsultan yang lain).
total nilai kesenjangan rancangan-realitas.
pengetahuan tentang implementasi ERP ini Wawancara dengan Konsultan dan Sistem
bisa diperoleh dari vendor. Total nilai 3. Metode Penelitian dan Analisis Data administrator lebih intensif untuk
Keterangan
kesenjangan
57-70 Proyek hampir pasti akan gagal mendapatkan realitas sistem, sebelum saat, dan
Ada dua jenis pengetahuan, yaitu; pengetahuan 43-59 proyek kemungkinan gagal Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif setelah implementasi. Kedua observasi sistem
proyek kemungkinan gagal sama sekali, atau
eksplisit dan pengetahuan tacit (Nonaka, 1994). 29-42
mungkin akan gagal sebagian
dengan pendekatan studi kasus tunggal. informasi ERP di kantor pusat Jakarta dan
Pengetahuan eksplisit dapat diperoleh dengan 15-28 proyek kemungkinan gagal sebagian Dengan pendekatan studi kasus kantor pemasaran di empat kota dilakukan
cara formal melalui pelatihan ditransmisikan 0-14 proyek kemungkinan sukses memungkinkan peneliti mempertajam teori untuk melihat bagaimana penggunaan sistem
secara sistematis. Pengetahuan tacit berkaitan 2.6. Pengembangan Hipotesis yang ada dengan menunjukkan kesenjangan ERP. Untuk memperkuat validitas, hasil
dengan pengalaman individu. Berbagi Hawari dan Heeks (2010) mengaplikasikan dan mengisi kesenjangan tersebut, peneliti obervasi di konfirmasi ulang kepada pihak
pengetahuan tacit difasilitasi melalui model kesenjangan rancangan-realitas untuk dapat melakukan pengungkapan dan terkait melalui wawancara singkat. Dan ketiga,
brainstrorming, storytelling, dan kebebasan menjelaskan kegagalan implementasi ERP penemuan teori baru (Sigelkow, 2007). analisa dokumen meliputi dokumen rancangan
mengekspresikan ide (Brown & Duguid, 2000; pada perusahaan Alpha di Yordania, untuk Penelitian ini akan mendalami penelitian sistem dan dokumen proyek implementasi
Wenger & Snyder, 2000; Jones, 2005:3). menjawab pertanyaan penelitian: Bagaimana sebelumnya tentang kesuksesan sistem ERP untuk mendapatkan gambaran umum
Implementasi ERP memerlukan transfer menjelaskan kegagalan implementasi sistem ERP pada UKM yang dilakukan oleh Falgenti dan organisasi, terdiri dari; sistem ERP itu sendiri
peng etahuan eksplisit ser ta transfer diperusahaan Alpha? Penelitian Hawari dan Pahlevi (2013). dan stakeholder yang terlibat. Selain itu juga
pengetahuan tacit (Lee & Lee, 2000). Heeks (2010) berusaha memahami bagaimana untuk melihat data spesifik seperti spesifikasi
kegagalan implementasi sistem ERP tersebut Berbeda dengan penelitian Falgenti dan rancangan dan kemampuan sistem. Beberapa
2.5. Penilaian Kesenjangan bisa terjadi. Selain penelitian Hawari dan Heeks Pahlevi (2013) yang menilai persepsi pengguna pertanyaan wawancara dengan konsultan dan
Untuk mengetahui hasil luaran implementasi (2010) kami belum menemukan lagi literatur untuk mengevaluasi kesuksesan sistem ERP sistem administrator juga bersumber dari
berhasil, gagal atau gagal parsial, langkah yang menggunakan model ini untuk studi dan menggunakan pendekatan berorientasi analisa dokumen ini. Penulis melakukan
pertama yang dilakukan adalah memberikan mengenai implementasi ERP, studi yang proses untuk menemukan faktor-faktor yang korespondensi dengan Prof. Richard Heeks
tingkat kesenjangan 1-10 pada masing-masing membahas kesuksesan sistem ERP juga belum berperan dalam kesuksesan implementasi ERP, yang membangun model ini. beliau
dimensi dalam model ini. Nilai kesenjangan ditemukan. Beberapa literatur tentang penelitian ini akan fokus pada proyek menyarankan mengggunakan closure diagram
setiap dimensi ITPOSMO dalam model penjelasan sukses proyek sistem informasi implementasi saja dengan mengekplorasi lebih untuk membantu mempresentasikan hasil
rancangan-realitas ini disebut juga nilai selain ERP di negara berkembang lebih banyak dalam menggunakan pendekatan kecocokan analisa data perubahan nilai total kesenjangan.
kesenjangan individu. Penilaian adalah proses menggunakan kerangka kerja ITPOSMO yang (fit) dan ketidakcocokan (misfit). Kasus yang
subyektif, tetapi panduan secara garis besar merupakan bagian utama dari model ini. diangkat dalam penelitian ini sama dengan 4. Analisa
untuk menilai kesenjangan dimensi tertentu Seperti penelitian yang dilakukan oleh kasus pada penelitian sebelumnya,
sebagai penyebab kemungkinan kesuksesan Bandyopadhyay dan Sattarzadeh (2010) implementasi ERP di PT. CP sebuah UKM di 4.1. Analisa awal sistem ERP dengan model
ditunjukkan dalam tabel 1. menganalisa beberapa proyek e-government di Jakarta. kesenjangan rancangan-realitas
China dan di India, Selanjutnya penelitian Pada tahap ini dilakukan analisa untuk melihat
yang dilakukan oleh Abdelsalam et al. (2010). kesenjangan antara rancangan awal sistem ERP

Jurnal Jurnal
276 Manajemen Teknologi 277 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

dengan kondisi di PT. CP sesaat sebelum adalah operasi windows XP dan perangkat PC untuk mengintegrasikan proses bisnis di kantor memiliki sertifikat Gold Partner Certified for SAP
implementasi dilakukan. Penilaian dilakukan minimal dengan kecepatan prosessor >1 Ghz pemasaran di daerah dengan kantor pusat B1 dari vendor SAP Indonesia. Persyaratan
menggunakan analisa kualitatif kemudian dan memori minimal 512 Mbps. Sedangkan dengan sistem ERP SAP B1. Manfaat yang dalam rancangan, sebelum implementasi
memberikan nilai tingkat kesenjangan terhadap realitas sistem yang berjalan beberapa akan didapatkan dengan mengintegrasikan sistem ERP pengguna perlu merasakan
hasil penelitian. Pada analisa awal ini ditemukan komputer masih menggunakan sistem operasi proses bisnis menggunakan sistem ERP juga kelebihan sistem ERP yang akan mereka
jumlah total kesenjangan 38, rinciannya dapat windows 98 dan PC dengan kecepatan < 1 sudah disosialisasikan kepada manager dan gunakan. Mereka harus dapat menerima sistem
dilihat pada masing-masing dimensi dibawah Ghz. Selain itu hanya ada satu server untuk manager diminta mensosialisasikan ke yang baru sehingga proses konversi diakhir
ini: sharing data, ruang untuk isolasi server juga departemennya masing masing. Pengguna implementasi dapat berjalan dengan lancar.
belum tersedia. kunci berbagi tugas dan tanggung jawab untuk Realitasnya, sebelum implementasi para
Tingkat kesenjangan Informasi: 8 mencapai target implementasi ERP. Supervisor pengguna mendapatkan pelatihan singkat
Kebutuhan dalam rancangan, ketersediaan Tingkat Kesenjangan Proses: 7 akuntansi memilki tanggung jawab utama menjalankan sistem ERP SAP B1
data yang benar dan memadai merupakan Asumsi dalam rancangan, proses input data mendamping masing-masing pengguna di menggunakan data dummy. Selama pelatihan
prioritas tertinggi faktor yang mempengaruhi hanya sekali dengan sistem ERP dan data departemen yang berbeda untuk menerangkan pengguna merasakan kelebihan-kelebihan
implementasi ERP (Kumar et al. 2010). Realitas diolah dalam database tunggal. Realitasnya, keterkaitan sistem akuntansi dengan pekerjaan sistem baru yang akan mereka gunakan nanti.
yang ditemukan, data yang diperlukan untuk model database yang ada terpisah di masing- di departemannya. Sistem administrator Dari pengalaman selama pelatihan ini
implementasi sistem ERP tidak memadai. masing kantor pemasaran membuat proses memiliki tangggung jawab utama membangun kemampuan pengguna dapat ditingkatkan,
Format master data kode produk pada sistem input dan pengolahan data transaksi menjadi infrastruktur TIK untuk memastikan proses sebagai modal bagi mereka menggunakan
lama tidak sesuai aturan industri. Selain itu data rumit. Asumsi dalam rancangan, sebelum bisnis di kantor cabang dengan kantor pusat sistem ERP setelah implementasi nanti.
stok barang di aplikasi x tidak akurat, terdapat mengimplementasikan sistem ERP bisa terhubung. Sedangkan Supervisor
perbedaan data laporan stok dengan realitas perusahaan seharusnya memiliki proses bisnis produksi memiliki tanggung jawab utama Tingkat Kesenjangan Sistem dan Struktur
stok fisik barang di gudang. Realitas yang yang sesuai dengan best paractice, untuk itu dalam memenuhi ketersediaan data master Manajemen: 5
ditemukan COA(Chart of Account) dari aplikasi diperlukan review seluruh proses bisnis. barang, stok barang, menyusun ulang COA, Kebutuhan dalam rancangan, pimpinan harus
X tidak lengkap sehingga tidak dapat Kualitas cetak biru hasil review sangat penting dan menyusun format laporan. menjadi sentral untuk memobilisasi sumber
diaplikasikan pada sistem SAP B1. Kebutuhan (Rosario, 2000). Realitasnya, setelah dilakukan daya, dan mengatasi konflik. Realitasnya
dalam rancangan, model database yang review proses bisnis yang sedang berjalan, tidak Kebutuhan dalam rancang an, UKM persyaratan ini sudah dipenuhi sebelum
berjalan harus database tunggal. Realitas yang banyak ditemukan proses bisnis di PT.CP yang seharusnya memiliki kultur yang kompak implementasi. Pimpinan PT. CP langsung
ditemukan pada sistem yang sedang berjalan tidak sesuai dengan praktek terbaik Sistem SAP sebagai pondasi untuk berubah (Zach et al., memimpin rapat penentuan vendor beserta
ada satu database dikantor pusat dan empat B1. Dua proses yang tidak sesuai diantaranya: 2014). Realitasnya, dalam menjalankan pihak ketiga sebagai implementator ERP SAP.
database masing masing dikantor pemasaran di pertama proses penerbitan invoice yang tidak aktivitas pekerjaan sehari-hari suasana kerja di Pimpinan juga ikut mengawasi penyusunan tim
kota Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. terkontrol, tidak sesuai asumsi dalam praktek PT. CP cukup santai tidak terlihat kaku. Banyak inter nal memastikan kar yawan yang
terbaik. Realitasnya, order dari pelanggan karyawan yang makan siang bersama di ruang berkompeten yang dilibatkan.
Tingkat Kesenjangan Teknologi: 9 langsung diproses, walaupun status barang di rapat. Suasana ini memperlihatkan adanya
Kebutuhan dalam rancangan, pada saat sistem kosong invoice bisa diterbitkan. Kedua kekompakan dan keterbukaan diperusahaan. Tingkat Kesenjangan Sumber daya lain: 4
implementasi ERP perlu dukungan proses penentuan harga diskon produk. Kekompakan dan keterbukaan ini sangat Asumsi pada rancangan, seleksi sofware ERP
infrastruktur yang memadai untuk Kebutuhan pada rancangan, praktek dibutuhkan untuk menerima perubahan dalam berperan penting untuk mencapai kesuksesan
mendapatkan performa yang baik (Huang dan terbaiknya selling price diberikan dan dikontrol proses implementasi ERP. implementasi ERP. Realitasnya, perusahaan
Palvia, 2001). Realitas yang ditemukan di melalui sistem, sedangkan realitas yang tidak asal memilih sistem ERP yang akan
kantor pusat hanya ada satu komputer yang ditemukan diskon untuk penjulan produk Tingkat kesenjangan Kemampuan dan Penempatan diimplementasikan. Per usahaan
terhubung ke jaringan internet dengan diberikan langsung oleh manager. Staf: 3 membutuhkan waktu sampai dua tahun untuk
kecepatan hanya 125 Kbps menggunakan Persyaratan dalam rancangan, tim internal yang menetapkan software ERP yang akan
koneksi dial-up. Sedangkan di kantor Tingkat kesenjangan Tujuan dan nilai : 2 kecil dan konsultan yang berkualifikasi diimplementasikan. Setelah melalui berbagai
pemasaran daerah tidak tersedia jaringan LAN Asumsi dalam rancangan, masing-masing merupakan faktor kritis sukses implementasi pertimbangan, akhirnya perusahaan memilih
dan tidak terkoneksi ke internet. Masing stakeholder berbagi target untuk mencapai ERP (Snider et al. 2009; Supramaniam dan SAP B1.
masing kantor pemasaran di daerah memiliki tujuan implementasi (Hawari dan Heeks 2010). Kuppussamy 2011). Persyaratan ini dalam
satu komputer yang sudah terpasang sistem Realitas yang ditemukan Pimpinan sebagai realitas sudah terpenuhi. PT. CP membentuk Kebutuhan dalam rancangan, perusahaan juga
akuntansi x. orang yang sangat berkepentingan telah tim kecil terdiri dari empat orang diketuai oleh harus membuat rencana pengeluaran rutin
menjalankan perannya sesuai dengan Manager Keuangan dan tiga orang anggota. operasional sistem ERP, meliputi on going annual
Perangkat PC yang ada juga tidak memadai. rancangan. Sebelum implementasi, Pimpinan Manajemen PT. CP juga telah memilih cost (Hamilton, 2002; Hawari dan Heeks, 2010)
Kebutuhan dalam rancangan, sistem operasi PT. CP mensosialisasikan tujuan implementasi perusahaan rekanan yang tepat, yaitu PT. FID yaitu biaya lisensi account SAP pertahun, biaya
dan PC untuk implementasi ERP SAP B1 Sistem ERP kepada kepada manajer, yakni pada tahun 2009 sebelum SAP sewa jaringan untuk menghubungkan kantor
diimplementasikan perusahaan ini telah

Jurnal Jurnal
278 Manajemen Teknologi 279 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

dengan kondisi di PT. CP sesaat sebelum adalah operasi windows XP dan perangkat PC untuk mengintegrasikan proses bisnis di kantor memiliki sertifikat Gold Partner Certified for SAP
implementasi dilakukan. Penilaian dilakukan minimal dengan kecepatan prosessor >1 Ghz pemasaran di daerah dengan kantor pusat B1 dari vendor SAP Indonesia. Persyaratan
menggunakan analisa kualitatif kemudian dan memori minimal 512 Mbps. Sedangkan dengan sistem ERP SAP B1. Manfaat yang dalam rancangan, sebelum implementasi
memberikan nilai tingkat kesenjangan terhadap realitas sistem yang berjalan beberapa akan didapatkan dengan mengintegrasikan sistem ERP pengguna perlu merasakan
hasil penelitian. Pada analisa awal ini ditemukan komputer masih menggunakan sistem operasi proses bisnis menggunakan sistem ERP juga kelebihan sistem ERP yang akan mereka
jumlah total kesenjangan 38, rinciannya dapat windows 98 dan PC dengan kecepatan < 1 sudah disosialisasikan kepada manager dan gunakan. Mereka harus dapat menerima sistem
dilihat pada masing-masing dimensi dibawah Ghz. Selain itu hanya ada satu server untuk manager diminta mensosialisasikan ke yang baru sehingga proses konversi diakhir
ini: sharing data, ruang untuk isolasi server juga departemennya masing masing. Pengguna implementasi dapat berjalan dengan lancar.
belum tersedia. kunci berbagi tugas dan tanggung jawab untuk Realitasnya, sebelum implementasi para
Tingkat kesenjangan Informasi: 8 mencapai target implementasi ERP. Supervisor pengguna mendapatkan pelatihan singkat
Kebutuhan dalam rancangan, ketersediaan Tingkat Kesenjangan Proses: 7 akuntansi memilki tanggung jawab utama menjalankan sistem ERP SAP B1
data yang benar dan memadai merupakan Asumsi dalam rancangan, proses input data mendamping masing-masing pengguna di menggunakan data dummy. Selama pelatihan
prioritas tertinggi faktor yang mempengaruhi hanya sekali dengan sistem ERP dan data departemen yang berbeda untuk menerangkan pengguna merasakan kelebihan-kelebihan
implementasi ERP (Kumar et al. 2010). Realitas diolah dalam database tunggal. Realitasnya, keterkaitan sistem akuntansi dengan pekerjaan sistem baru yang akan mereka gunakan nanti.
yang ditemukan, data yang diperlukan untuk model database yang ada terpisah di masing- di departemannya. Sistem administrator Dari pengalaman selama pelatihan ini
implementasi sistem ERP tidak memadai. masing kantor pemasaran membuat proses memiliki tangggung jawab utama membangun kemampuan pengguna dapat ditingkatkan,
Format master data kode produk pada sistem input dan pengolahan data transaksi menjadi infrastruktur TIK untuk memastikan proses sebagai modal bagi mereka menggunakan
lama tidak sesuai aturan industri. Selain itu data rumit. Asumsi dalam rancangan, sebelum bisnis di kantor cabang dengan kantor pusat sistem ERP setelah implementasi nanti.
stok barang di aplikasi x tidak akurat, terdapat mengimplementasikan sistem ERP bisa terhubung. Sedangkan Supervisor
perbedaan data laporan stok dengan realitas perusahaan seharusnya memiliki proses bisnis produksi memiliki tanggung jawab utama Tingkat Kesenjangan Sistem dan Struktur
stok fisik barang di gudang. Realitas yang yang sesuai dengan best paractice, untuk itu dalam memenuhi ketersediaan data master Manajemen: 5
ditemukan COA(Chart of Account) dari aplikasi diperlukan review seluruh proses bisnis. barang, stok barang, menyusun ulang COA, Kebutuhan dalam rancangan, pimpinan harus
X tidak lengkap sehingga tidak dapat Kualitas cetak biru hasil review sangat penting dan menyusun format laporan. menjadi sentral untuk memobilisasi sumber
diaplikasikan pada sistem SAP B1. Kebutuhan (Rosario, 2000). Realitasnya, setelah dilakukan daya, dan mengatasi konflik. Realitasnya
dalam rancangan, model database yang review proses bisnis yang sedang berjalan, tidak Kebutuhan dalam rancang an, UKM persyaratan ini sudah dipenuhi sebelum
berjalan harus database tunggal. Realitas yang banyak ditemukan proses bisnis di PT.CP yang seharusnya memiliki kultur yang kompak implementasi. Pimpinan PT. CP langsung
ditemukan pada sistem yang sedang berjalan tidak sesuai dengan praktek terbaik Sistem SAP sebagai pondasi untuk berubah (Zach et al., memimpin rapat penentuan vendor beserta
ada satu database dikantor pusat dan empat B1. Dua proses yang tidak sesuai diantaranya: 2014). Realitasnya, dalam menjalankan pihak ketiga sebagai implementator ERP SAP.
database masing masing dikantor pemasaran di pertama proses penerbitan invoice yang tidak aktivitas pekerjaan sehari-hari suasana kerja di Pimpinan juga ikut mengawasi penyusunan tim
kota Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. terkontrol, tidak sesuai asumsi dalam praktek PT. CP cukup santai tidak terlihat kaku. Banyak inter nal memastikan kar yawan yang
terbaik. Realitasnya, order dari pelanggan karyawan yang makan siang bersama di ruang berkompeten yang dilibatkan.
Tingkat Kesenjangan Teknologi: 9 langsung diproses, walaupun status barang di rapat. Suasana ini memperlihatkan adanya
Kebutuhan dalam rancangan, pada saat sistem kosong invoice bisa diterbitkan. Kedua kekompakan dan keterbukaan diperusahaan. Tingkat Kesenjangan Sumber daya lain: 4
implementasi ERP perlu dukungan proses penentuan harga diskon produk. Kekompakan dan keterbukaan ini sangat Asumsi pada rancangan, seleksi sofware ERP
infrastruktur yang memadai untuk Kebutuhan pada rancangan, praktek dibutuhkan untuk menerima perubahan dalam berperan penting untuk mencapai kesuksesan
mendapatkan performa yang baik (Huang dan terbaiknya selling price diberikan dan dikontrol proses implementasi ERP. implementasi ERP. Realitasnya, perusahaan
Palvia, 2001). Realitas yang ditemukan di melalui sistem, sedangkan realitas yang tidak asal memilih sistem ERP yang akan
kantor pusat hanya ada satu komputer yang ditemukan diskon untuk penjulan produk Tingkat kesenjangan Kemampuan dan Penempatan diimplementasikan. Per usahaan
terhubung ke jaringan internet dengan diberikan langsung oleh manager. Staf: 3 membutuhkan waktu sampai dua tahun untuk
kecepatan hanya 125 Kbps menggunakan Persyaratan dalam rancangan, tim internal yang menetapkan software ERP yang akan
koneksi dial-up. Sedangkan di kantor Tingkat kesenjangan Tujuan dan nilai : 2 kecil dan konsultan yang berkualifikasi diimplementasikan. Setelah melalui berbagai
pemasaran daerah tidak tersedia jaringan LAN Asumsi dalam rancangan, masing-masing merupakan faktor kritis sukses implementasi pertimbangan, akhirnya perusahaan memilih
dan tidak terkoneksi ke internet. Masing stakeholder berbagi target untuk mencapai ERP (Snider et al. 2009; Supramaniam dan SAP B1.
masing kantor pemasaran di daerah memiliki tujuan implementasi (Hawari dan Heeks 2010). Kuppussamy 2011). Persyaratan ini dalam
satu komputer yang sudah terpasang sistem Realitas yang ditemukan Pimpinan sebagai realitas sudah terpenuhi. PT. CP membentuk Kebutuhan dalam rancangan, perusahaan juga
akuntansi x. orang yang sangat berkepentingan telah tim kecil terdiri dari empat orang diketuai oleh harus membuat rencana pengeluaran rutin
menjalankan perannya sesuai dengan Manager Keuangan dan tiga orang anggota. operasional sistem ERP, meliputi on going annual
Perangkat PC yang ada juga tidak memadai. rancangan. Sebelum implementasi, Pimpinan Manajemen PT. CP juga telah memilih cost (Hamilton, 2002; Hawari dan Heeks, 2010)
Kebutuhan dalam rancangan, sistem operasi PT. CP mensosialisasikan tujuan implementasi perusahaan rekanan yang tepat, yaitu PT. FID yaitu biaya lisensi account SAP pertahun, biaya
dan PC untuk implementasi ERP SAP B1 Sistem ERP kepada kepada manajer, yakni pada tahun 2009 sebelum SAP sewa jaringan untuk menghubungkan kantor
diimplementasikan perusahaan ini telah

Jurnal Jurnal
278 Manajemen Teknologi 279 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

pusat dengan kantor-kantor cabang, dan dana Pimpinan memutuskan menunda dulu Usaha keras dilakukan tim implementator dan Tingkat Kesenjangan Sistem dan struktur Manajemen
pengembangan untuk peningkatan pembuatan fungsi ini karena pertimbangan pimpinan perusahaan untuk meyakinkan para :3
kemampuan sistem. Realitasnya, selain biaya dan waktu yang tidak memungkinkan. manajer pemasaran tentang pentingnya Sesuai dengan asumsi pada rancangan,
menyiapkan dana implementasi perusahaan pemberian harga diskon melalui sistem ERP keterlibatan manajemen puncak sebagai sentral
sudah menyiapkan dana pasca implementasi Tingkat Kesenjangan Teknologi : 3 setelah mendapat persetujuan supervisor dalam manajemen konflik dapat terlihat selama
untuk menjamin keberlanjutan penggunaan Kebutuhan dalam rancangan, Hardware dan akuntansi. proses implementasi ERP. Ketika muncul
sistem ERP SAP B1 ini, kecuali untuk software yang dipilih harus cocok dengan perbedaan pandangan tentang integrasi bill of
pengembangan belum ada perencanaannya. kebutuhan organisasi (Zhang et al. 2003). Tingkat Kesenjangan Tujuan dan nilai : 0 material antara tim implementatator dan
Untuk memenuhi rancangan infratruktur TIK, Asumsi pada rancangan, tim implementator manajer produksi dan tidak ada
4.2. Analisa sistem ERP dengan model kesenjangan pimpinan perusahaan telah menyediakan harus dapat bekerja sama selama proses pemecahannya, pimpinan langsung turun
Rancangan-realitas selama proses implementasi r uangan khusus berpendingin untuk implementasi untuk mencapai terget-target tangan menentukan bill of material yang juga
Rancangan sistem informasi dan realitas selalu melindungi dua server yang akan online 24 jam. yang telah ditentukan. Realitasnya Selama terdiri dari formula untuk meramu produk jus
berubah. Begitu juga kesenjangan rancangan- Perusahaan juga membeli lisensi sistem operasi implementasi tim implementator beserta premium tidak diintegrasikan ke dalam sistem
realitas akan mengalami perubahan selama untuk server database dan untuk server konsultan bekerja sama meminimalisir ERP SAP.
proses implementasi. Perubahan-perubahan presentasi. Infrastruktur jaringan hambatan-hambatan yang muncul selama
dihasilkan dari proses improvisasi saat menghubungkan kantor pusat dan kantor- implementasi. Mereka membangun Tingkat Kesenjangan Sumber Daya Lain: 2
implementasi. Setalah empat bulan proses kantor pemasaran dibangun menggunakan komunikasi intensif dengan para stakeholder Karena keterbatasan dana untuk menggunakan
implementasi dimulai analisa dilakukan lagi. jaringan ADSL dan teknologi VPN dengan agar perubahan-perubahan yang terjadi teknologi lease line, persyaratan teknologi yang
Hasilnya, terlihat pengurangan yang signifikan kecepatan 1 Mbps. Aplikasi manajemen sebagai dampak dari BPR dapat diterima oleh lebih murah diminta Pimpinan. Persyaratan ini
kesenjangan rancangan-realitas, nilai total jaringan menggunakan aplikasi open source. para pengguna yang akan menjalankan sistem bisa realisasikan oleh sistem administrator
kesenjangan menjadi 18. Rinciannya dapat Realitas yang ditemukan saat implementasi ERP ini. Seperti resistensi dari beberapa dengan menggunakan teknologi ADSL,
dilihat pada masing-masing dimensi dibawah berbeda dengan rancangan yang diusulkan manajer pemasaran ketika dilberlakukan jaringan VPN, dan manajemen jaringan open
ini. konsultan yaitu jaringan lease line dan apikasi perubahan cara pemberian diskon menjadi source. Dengan dukungan teknologi murah ini
manajemen jaringan berbayar. tersistem melalui master data ERP SAP B1. perusahaan mampu melakukan penghematan
Tingkat Kesenjangan Informasi: 4 Konsultan dan tim implementator berhasil biaya sewa jaringan sampai dengan 80%.
Agar realitas format kode produk sesuai PC yang akan digunakan untuk mengaskses meyakinkan para manajer bahwa tujuan
rancangan, pada saat implementasi format sistem SAP di kantor pusat dan di daerah dilakukan perubahan cara pemberian diskon 4.3. Analisa sistem ERP dengan model kesenjangan
kode produk yang baru dibuat mengikuti diganti dengan model terbaru sesuai dengan tersebut untuk kontrol semata. Rancangan-realitas setelah implementasi
aturan industri, format sederhana kombinasi kebutuhan pada rancangan untuk Pada bagian ini merupakan penjelasan
antara huruf dan angka, dengan jumlah angka implementasi ERP. Jaringan LAN dengan Tingkat Kesenjangan Penempatan dan kemampuan kesenjangan setelah proses implementasi
tidak melebihi 7 digit. COA direstruksturisasi kecepatan 100 MBps di pasang di kantor pusat. staf: 2 selesai. Nilai kesenjangan yang ditemukan
agar sesuai dengan rancangan kebutuhan Kemampuan tim implementasi yang memadai hanya 8. Penjelasannya dapat dilihat dibawah
sistem ERP. Data-data untuk perubahan kode Tingkat Kesenjangan Proses : 4 merupakan salah satu persyaratan dalam ini.
produk dan perubahan COA yang dibutuhkan Asumsi pada rancangan, BPR (Business Process rancangan untuk mencapai suksesnya
konsultan diperoleh melalui komunikasi Engineering) yang berjalan dengan benar akan implementasi ERP. Implementasi ERP Tingkat Kesenjangan Informasi: 2
intensif dengan tim internal. menghasilakan kesuksesan implementasi ERP. merupakan integrasi antara sistem akuntansi Fungsi expired date dalam rancangan akan
Realitas yang ditemukan, perubahan- dan Sistem Informasi Manajemen. Supervisor diintegrasikan pada sistem ERP SAP,
Sesuai rancangan, database dikantor-kantor perubahan proses bisnis yang cukup besar akuntansi dan Sistem administrator berperan realitasnya fungsi ini diganti cara manual
cabang tidak lagi dipakai. Data dari database terjadi di departemen pemasaran. Reengineering penting disini. Dalam realitasnya supervisor dengan menggunakan sistem label, setiap
lama dan data dari departeman yang berbeda di Proses bisnis penentuan harga jual produk akuntansi mampu menjelaskan keterkaitan produk ditandai dengan label dengan warna
konversi ke dalam satu database. Strategi (selling price) mengalami resistensi yang cukup pekerjaan pengguna dengan sistem akuntansi berbeda sebagai tanda produk diproduksi pada
konversi database sangat penting saat kuat di departemen pemasaran. Pemberian pada modul-modul sistem ERP. Sistem minggu yang berbeda. Pemberian label secara
implementasi ERP (Malhotra and Tamponi, diskon untuk harga jual selama ini langsung administrator juga mampu membangun manual pada produk ini lebih sederhana tapi
2009) Data yang sudah memadai dipetakan ke diberikan oleh manajer, setelah dilakukan BPR infrastruktur pendukung untuk sistem ERP tidak terintegrasi dengan sistem ERP.
dalam sistem sesuai dengan format sistem ERP diskon har us melalui sistem setelah SAP sehingga pengguna di kantor pemasaran
untuk mendukung berjalannya proses transaksi mendapatkan persetujuan super visor di daerah dapat terhubung dengan server Tingkat Kesenjangan Teknologi: 3
pada modul-modul ERP. Saat implementasi akuntansi. Praktek baru ini mengalami sistem ERP SAP di kantor pusat. Dengan Setelah implementasi tidak ada lagi perubahan
ada perubahan rencana, dalam rancangan penolakan dari manajer-manjer pemasaran. sistem online ini laporan untuk kebutuhan di sisi teknologi pada sistem ERP.
fungsi expired date akan dibuat untuk pencatatan manajemen dapat dibuat lebih cepat.
tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa
produk, Realitasnya fungsi ini tidak jadi dibuat.

Jurnal Jurnal
280 Manajemen Teknologi 281 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

pusat dengan kantor-kantor cabang, dan dana Pimpinan memutuskan menunda dulu Usaha keras dilakukan tim implementator dan Tingkat Kesenjangan Sistem dan struktur Manajemen
pengembangan untuk peningkatan pembuatan fungsi ini karena pertimbangan pimpinan perusahaan untuk meyakinkan para :3
kemampuan sistem. Realitasnya, selain biaya dan waktu yang tidak memungkinkan. manajer pemasaran tentang pentingnya Sesuai dengan asumsi pada rancangan,
menyiapkan dana implementasi perusahaan pemberian harga diskon melalui sistem ERP keterlibatan manajemen puncak sebagai sentral
sudah menyiapkan dana pasca implementasi Tingkat Kesenjangan Teknologi : 3 setelah mendapat persetujuan supervisor dalam manajemen konflik dapat terlihat selama
untuk menjamin keberlanjutan penggunaan Kebutuhan dalam rancangan, Hardware dan akuntansi. proses implementasi ERP. Ketika muncul
sistem ERP SAP B1 ini, kecuali untuk software yang dipilih harus cocok dengan perbedaan pandangan tentang integrasi bill of
pengembangan belum ada perencanaannya. kebutuhan organisasi (Zhang et al. 2003). Tingkat Kesenjangan Tujuan dan nilai : 0 material antara tim implementatator dan
Untuk memenuhi rancangan infratruktur TIK, Asumsi pada rancangan, tim implementator manajer produksi dan tidak ada
4.2. Analisa sistem ERP dengan model kesenjangan pimpinan perusahaan telah menyediakan harus dapat bekerja sama selama proses pemecahannya, pimpinan langsung turun
Rancangan-realitas selama proses implementasi r uangan khusus berpendingin untuk implementasi untuk mencapai terget-target tangan menentukan bill of material yang juga
Rancangan sistem informasi dan realitas selalu melindungi dua server yang akan online 24 jam. yang telah ditentukan. Realitasnya Selama terdiri dari formula untuk meramu produk jus
berubah. Begitu juga kesenjangan rancangan- Perusahaan juga membeli lisensi sistem operasi implementasi tim implementator beserta premium tidak diintegrasikan ke dalam sistem
realitas akan mengalami perubahan selama untuk server database dan untuk server konsultan bekerja sama meminimalisir ERP SAP.
proses implementasi. Perubahan-perubahan presentasi. Infrastruktur jaringan hambatan-hambatan yang muncul selama
dihasilkan dari proses improvisasi saat menghubungkan kantor pusat dan kantor- implementasi. Mereka membangun Tingkat Kesenjangan Sumber Daya Lain: 2
implementasi. Setalah empat bulan proses kantor pemasaran dibangun menggunakan komunikasi intensif dengan para stakeholder Karena keterbatasan dana untuk menggunakan
implementasi dimulai analisa dilakukan lagi. jaringan ADSL dan teknologi VPN dengan agar perubahan-perubahan yang terjadi teknologi lease line, persyaratan teknologi yang
Hasilnya, terlihat pengurangan yang signifikan kecepatan 1 Mbps. Aplikasi manajemen sebagai dampak dari BPR dapat diterima oleh lebih murah diminta Pimpinan. Persyaratan ini
kesenjangan rancangan-realitas, nilai total jaringan menggunakan aplikasi open source. para pengguna yang akan menjalankan sistem bisa realisasikan oleh sistem administrator
kesenjangan menjadi 18. Rinciannya dapat Realitas yang ditemukan saat implementasi ERP ini. Seperti resistensi dari beberapa dengan menggunakan teknologi ADSL,
dilihat pada masing-masing dimensi dibawah berbeda dengan rancangan yang diusulkan manajer pemasaran ketika dilberlakukan jaringan VPN, dan manajemen jaringan open
ini. konsultan yaitu jaringan lease line dan apikasi perubahan cara pemberian diskon menjadi source. Dengan dukungan teknologi murah ini
manajemen jaringan berbayar. tersistem melalui master data ERP SAP B1. perusahaan mampu melakukan penghematan
Tingkat Kesenjangan Informasi: 4 Konsultan dan tim implementator berhasil biaya sewa jaringan sampai dengan 80%.
Agar realitas format kode produk sesuai PC yang akan digunakan untuk mengaskses meyakinkan para manajer bahwa tujuan
rancangan, pada saat implementasi format sistem SAP di kantor pusat dan di daerah dilakukan perubahan cara pemberian diskon 4.3. Analisa sistem ERP dengan model kesenjangan
kode produk yang baru dibuat mengikuti diganti dengan model terbaru sesuai dengan tersebut untuk kontrol semata. Rancangan-realitas setelah implementasi
aturan industri, format sederhana kombinasi kebutuhan pada rancangan untuk Pada bagian ini merupakan penjelasan
antara huruf dan angka, dengan jumlah angka implementasi ERP. Jaringan LAN dengan Tingkat Kesenjangan Penempatan dan kemampuan kesenjangan setelah proses implementasi
tidak melebihi 7 digit. COA direstruksturisasi kecepatan 100 MBps di pasang di kantor pusat. staf: 2 selesai. Nilai kesenjangan yang ditemukan
agar sesuai dengan rancangan kebutuhan Kemampuan tim implementasi yang memadai hanya 8. Penjelasannya dapat dilihat dibawah
sistem ERP. Data-data untuk perubahan kode Tingkat Kesenjangan Proses : 4 merupakan salah satu persyaratan dalam ini.
produk dan perubahan COA yang dibutuhkan Asumsi pada rancangan, BPR (Business Process rancangan untuk mencapai suksesnya
konsultan diperoleh melalui komunikasi Engineering) yang berjalan dengan benar akan implementasi ERP. Implementasi ERP Tingkat Kesenjangan Informasi: 2
intensif dengan tim internal. menghasilakan kesuksesan implementasi ERP. merupakan integrasi antara sistem akuntansi Fungsi expired date dalam rancangan akan
Realitas yang ditemukan, perubahan- dan Sistem Informasi Manajemen. Supervisor diintegrasikan pada sistem ERP SAP,
Sesuai rancangan, database dikantor-kantor perubahan proses bisnis yang cukup besar akuntansi dan Sistem administrator berperan realitasnya fungsi ini diganti cara manual
cabang tidak lagi dipakai. Data dari database terjadi di departemen pemasaran. Reengineering penting disini. Dalam realitasnya supervisor dengan menggunakan sistem label, setiap
lama dan data dari departeman yang berbeda di Proses bisnis penentuan harga jual produk akuntansi mampu menjelaskan keterkaitan produk ditandai dengan label dengan warna
konversi ke dalam satu database. Strategi (selling price) mengalami resistensi yang cukup pekerjaan pengguna dengan sistem akuntansi berbeda sebagai tanda produk diproduksi pada
konversi database sangat penting saat kuat di departemen pemasaran. Pemberian pada modul-modul sistem ERP. Sistem minggu yang berbeda. Pemberian label secara
implementasi ERP (Malhotra and Tamponi, diskon untuk harga jual selama ini langsung administrator juga mampu membangun manual pada produk ini lebih sederhana tapi
2009) Data yang sudah memadai dipetakan ke diberikan oleh manajer, setelah dilakukan BPR infrastruktur pendukung untuk sistem ERP tidak terintegrasi dengan sistem ERP.
dalam sistem sesuai dengan format sistem ERP diskon har us melalui sistem setelah SAP sehingga pengguna di kantor pemasaran
untuk mendukung berjalannya proses transaksi mendapatkan persetujuan super visor di daerah dapat terhubung dengan server Tingkat Kesenjangan Teknologi: 3
pada modul-modul ERP. Saat implementasi akuntansi. Praktek baru ini mengalami sistem ERP SAP di kantor pusat. Dengan Setelah implementasi tidak ada lagi perubahan
ada perubahan rencana, dalam rancangan penolakan dari manajer-manjer pemasaran. sistem online ini laporan untuk kebutuhan di sisi teknologi pada sistem ERP.
fungsi expired date akan dibuat untuk pencatatan manajemen dapat dibuat lebih cepat.
tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa
produk, Realitasnya fungsi ini tidak jadi dibuat.

Jurnal Jurnal
280 Manajemen Teknologi 281 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Tingkat Kesenjangan Proses: 3 Tingkat Kesenjangan Tujuan dan Nilai : 0 Tingkat Kesenjangan Sistem dan Struktur pada dimensi lain tingkat kesenjangan yang
Setelah implementasi ERP, proses input data Asumsi pada rancangan, sistem yang realtime Manajemen: 0 ditemukan tidak terlalu tinggi. Dari hasil analisa
transaksi sesuai dengan best practice, seperti yang harus didukung oleh cara kerja yang realtime Setelah implementasi manajemen mendirikan awal sebelum implementasi tim internal dan
dibutuhkan dalam rancangan. Pengguna hanya juga. Realitasnya, pengguna mulai terbiasa departemen TIK yang dikepalai oleh seorang konsultan mendapatkan gambaran awal
sekali menginput data. Melalui sistem ERP dengan sistem realtime, setiap transaksi segera manajer. Manajer ini bertanggung jawab tentang pekerjaan-pekerjaan yang harus
yang sudah online didukung dengan jaringan diinput pengguna. Data transaksi yang telah terhadap keseluruhan sistem informasi di PT. dilakukan untuk mewujudkan rancangan
VPN pengguna di kantor cabang bisa langsung diinput menjadi informasi yang dapat segera CP termasuk disini memelihara sistem ERP implementasi ERP SAP B1, improvisasi-
menginput data transaksi, tidak perlu lagi dibuatkan laporan untuk kepentingan SAP B1 dan memastikan EIS (Executive improvisasi yang diperlukan di masing-masing
mengirimkan database ke kantor pusat. manajemen. Information System) untuk manajemen tingkat dimensi untuk mewujudkan realitas agar sesuai
Kontrol order dan piutang juga diaktifkan. atas dapat berjalan. rancangan. Improvisasasi yang dilakukan
BRP dalam penerbitan invoice dan kontrol Asumsi pada rancangan, sistem ERP akan bertujuan memperkecil nilai kesenjangan yang
order berhasil dilakukan di departeman menghasilkan tata kelola bisnis yang lebih baik. Tingkat Kesenjangan Sumber Daya Lain:0 pada tahap awal analisa sebesar 38. Bila
pemasaran. Realitasnya, budaya kebersamaan dan Dalam rancangan, implementasi ERP di PT. improvisasi tidak maksimal dilakukan
keterbukaan pada karyawan sangat berperan CP dijadwalkan selesai akhir bulan Desember implementasi ERP kemungkinan akan
Kebutuhan dalam rancangan, perubahan menjalankan tatakelola bisnis yang lebih baik 2009. Realitasnya implementasi dapat berjalan mengalami gagal total atau gagal sebagaian
proses bisnis setelah implementasi pada perusahaan. Setelah sistem ERP berjalan dengan lancar. Awal tahun buku 2010 sistem (lihat tabel 2)
menghasilkan prosedur-prosedur baru pada ditemukan karyawan yang tidak menyukai ERP sudah mulai online 24 jam, digunakan baik
proses operasional. Prosedur-Prosedur baru transparansi. Pihak manajemen segera di kantor pusat maupun di kantor pemasaran di Selama proses implementasi seluruh stakeholder
yang akan dijalankan perusahaan dirancang mengambil tindakan terhadap karyawan daerah. Kebutuhan dana setelah implementasi telah melakukan usaha-usaha memperkecil
untuk memperkuat ketergantungan masing- tersebut karena dianggap membahayakan untuk membayar dua lisensi pengguna kesenjangan pada masing-masing dimensi.
masing departemen, apabila ketergantungan keberlanjutan bisnis. profesional dan enam lisensi pengguna biasa Pimpinan perusahaan telah menginvestasikan
antar departemen dalam perusahan semakin sudah dialokasikan. Dalam rancangan, biaya ini banyak dana melakukan perubahan radikal
kuat, sistem ERP akan lebih sesuai dengan Tingkat Kesenjangan Penempatan dan kemampuan merupakan on-going annual costs yang harus dengan membangun infrastruktur jaringan
kebutuhan umum perusahaan (Chen et al. Staf: 0 dibayar tiap tahun. Dengan alokasi dana untuk yang kuat, menambah server dengan
2009). Realitasnya, bagian pemasaran terutama Dalam persyaratan sehar usnya ada lisensi pengguna ini akan menjamin Sistem kemampuan pengolahan data yang tinggi dan
staf di daerah yang terkait langsung dengan peningkatan pengetahuan pengguna tentang ERP SAP B1 tetap dapat digunakan karyawan mengganti perangkat PC sesuai dengan
pengembalian retur barang dari pelanggan sistem ERP setelah proses implementasi. Dua untuk mendukung proses bisnis. Dana tahunan kebutuhan sistem SAP B1. Usaha yang
tidak disiplin dalam menjalankan prosedur orang sistem administrator sudah lainya seperti biaya sewa jaringan juga sudah dilakukan perusahaan berhasil memperkecil
input data retur ke dalam sistem ERP SAP B1. mendapatkan sertifikat SAP B1 System disiapkan. kesenjang terutama pada dimensi informasi,
Pengaruhnya pada pembuatan laporan Administrator, menunjukkan mereka sudah teknologi dan proses. Pimpinan juga mampu
keuangan tidak dapat diproses sebelum memiliki cukup pengetahuan tentang Sistem 5. Pembahasan menjadi sentral dalam pengambilan keputusan
dikurangi retur. ERP SAP B1 untuk berbagi dengan pengguna. kritis selama proses implementasi, seperti
S eb el um p ro ses i m p l em en ta si E R P keputusan untuk tidak mengintegrasikan
Kebutuhan dalam rancangan, karyawan harus Asumsi pada rancangan, perusahaan harus dilaksanakan di PT. CP ditemukan kesenjangan fungsi expired date dalam sistem SAP B1.
disiplin menjalankan proses operasional. mampu mengelola dampak penggunaan sistem yang cukup besar pada dimensi informasi. Data
Disiplin dalam menjalankan proses operasional ERP terhadap karyawan setelah yang dibutuhkan untuk proses implementasi Tim internal PT. CP juga berkontribusi sangat
merupakan salah satu faktor kritis suksesnya diimplementasikan. Realitasnya, dampak tidak lengkap dan model database yang besar dalam kesuksesan implementasi ERP
implementasi ERP di UKM (Snider et al., tersebut bisa diantisipasi perusahaan dengan digunakan sebelum implementasi juga tidak SAP B1 ini. Mereka berinovasi menemukan
2009). Ketidakdisiplinan dalam menjalankan cara tidak menambah karyawan tetap untuk cocok dengan kebutuhan implementasi ERP solusi alternatif aplikasi manajemen jaringan
penginputan retur barang mengakibatkan bagian administrasi sebelum implementasi, tapi SAP. Pada dimensi teknologi juga ditemukan open source dan menggunakan teknologi jaringan
laporan keuangan ke manajemen tidak dapat memanfaatkan pihak ketig a untuk kesenjangan yang cukup besar berupa VPN untuk basis ERP SAP. Inovasi yang
diproses dengan cepat. Setelah memahami menger jakan peker jaan administratif dukungan infrastruktur jaringan dan perangkat dilakukan oleh Sistem Administrator lebih
pentingnya penginputan data retur sesegera rekapitulasi laporan dari kantor-kantor cabang. PC yang tidak memadai untuk murah dibandingkan dengan teknolgi yang
mungkin, bagian pemasaran mulai disiplin Selesai proses implementasi peran penyusunan mengintegrasikan proses bisnis dari kantor diusulkan konsultan yaitu aplikasi manajemen
menginput data retur barang. Asumsi dalam laporan dari cabang yang dilakukan oleh pihak pusat ke kantor pemasaran di daerah. Pada jaringan berbayar dan teknologi jaringan lease
rancangan selur uh bagian organisasi ketiga bisa dilakukan oleh sistem ERP. Rekap dimensi proses kesenjangan yang ditemukan line yang berbiaya mahal. Dengan berinovasi
terintegrasi dengan sistem ERP, realitasnya laporan panjualan langsung di buat dari sistem pada proses penginputan data dan pengolahan menggunakan manajemen jaringan open source
setelah implementasi perusahaan masih SAP oleh bagian akuntansi. Bersamaan data. Selain itu kesenjangan lainnya adalah dan teknologi VPN perusahan berhasil
menggunakan aplikasi terpisah untuk bagian habisnya masa kontrak tenaga pihak ketiga proses bisnis pada masing-masing bagian menekan biaya membangun infrastruktur
produksi. sistem ERP sudah go live.. belum terintegrasi satu sama lain. Kesenjangan jaringan.
pada ketiga dimensi ini cukup besar sedangkan

Jurnal Jurnal
282 Manajemen Teknologi 283 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Tingkat Kesenjangan Proses: 3 Tingkat Kesenjangan Tujuan dan Nilai : 0 Tingkat Kesenjangan Sistem dan Struktur pada dimensi lain tingkat kesenjangan yang
Setelah implementasi ERP, proses input data Asumsi pada rancangan, sistem yang realtime Manajemen: 0 ditemukan tidak terlalu tinggi. Dari hasil analisa
transaksi sesuai dengan best practice, seperti yang harus didukung oleh cara kerja yang realtime Setelah implementasi manajemen mendirikan awal sebelum implementasi tim internal dan
dibutuhkan dalam rancangan. Pengguna hanya juga. Realitasnya, pengguna mulai terbiasa departemen TIK yang dikepalai oleh seorang konsultan mendapatkan gambaran awal
sekali menginput data. Melalui sistem ERP dengan sistem realtime, setiap transaksi segera manajer. Manajer ini bertanggung jawab tentang pekerjaan-pekerjaan yang harus
yang sudah online didukung dengan jaringan diinput pengguna. Data transaksi yang telah terhadap keseluruhan sistem informasi di PT. dilakukan untuk mewujudkan rancangan
VPN pengguna di kantor cabang bisa langsung diinput menjadi informasi yang dapat segera CP termasuk disini memelihara sistem ERP implementasi ERP SAP B1, improvisasi-
menginput data transaksi, tidak perlu lagi dibuatkan laporan untuk kepentingan SAP B1 dan memastikan EIS (Executive improvisasi yang diperlukan di masing-masing
mengirimkan database ke kantor pusat. manajemen. Information System) untuk manajemen tingkat dimensi untuk mewujudkan realitas agar sesuai
Kontrol order dan piutang juga diaktifkan. atas dapat berjalan. rancangan. Improvisasasi yang dilakukan
BRP dalam penerbitan invoice dan kontrol Asumsi pada rancangan, sistem ERP akan bertujuan memperkecil nilai kesenjangan yang
order berhasil dilakukan di departeman menghasilkan tata kelola bisnis yang lebih baik. Tingkat Kesenjangan Sumber Daya Lain:0 pada tahap awal analisa sebesar 38. Bila
pemasaran. Realitasnya, budaya kebersamaan dan Dalam rancangan, implementasi ERP di PT. improvisasi tidak maksimal dilakukan
keterbukaan pada karyawan sangat berperan CP dijadwalkan selesai akhir bulan Desember implementasi ERP kemungkinan akan
Kebutuhan dalam rancangan, perubahan menjalankan tatakelola bisnis yang lebih baik 2009. Realitasnya implementasi dapat berjalan mengalami gagal total atau gagal sebagaian
proses bisnis setelah implementasi pada perusahaan. Setelah sistem ERP berjalan dengan lancar. Awal tahun buku 2010 sistem (lihat tabel 2)
menghasilkan prosedur-prosedur baru pada ditemukan karyawan yang tidak menyukai ERP sudah mulai online 24 jam, digunakan baik
proses operasional. Prosedur-Prosedur baru transparansi. Pihak manajemen segera di kantor pusat maupun di kantor pemasaran di Selama proses implementasi seluruh stakeholder
yang akan dijalankan perusahaan dirancang mengambil tindakan terhadap karyawan daerah. Kebutuhan dana setelah implementasi telah melakukan usaha-usaha memperkecil
untuk memperkuat ketergantungan masing- tersebut karena dianggap membahayakan untuk membayar dua lisensi pengguna kesenjangan pada masing-masing dimensi.
masing departemen, apabila ketergantungan keberlanjutan bisnis. profesional dan enam lisensi pengguna biasa Pimpinan perusahaan telah menginvestasikan
antar departemen dalam perusahan semakin sudah dialokasikan. Dalam rancangan, biaya ini banyak dana melakukan perubahan radikal
kuat, sistem ERP akan lebih sesuai dengan Tingkat Kesenjangan Penempatan dan kemampuan merupakan on-going annual costs yang harus dengan membangun infrastruktur jaringan
kebutuhan umum perusahaan (Chen et al. Staf: 0 dibayar tiap tahun. Dengan alokasi dana untuk yang kuat, menambah server dengan
2009). Realitasnya, bagian pemasaran terutama Dalam persyaratan sehar usnya ada lisensi pengguna ini akan menjamin Sistem kemampuan pengolahan data yang tinggi dan
staf di daerah yang terkait langsung dengan peningkatan pengetahuan pengguna tentang ERP SAP B1 tetap dapat digunakan karyawan mengganti perangkat PC sesuai dengan
pengembalian retur barang dari pelanggan sistem ERP setelah proses implementasi. Dua untuk mendukung proses bisnis. Dana tahunan kebutuhan sistem SAP B1. Usaha yang
tidak disiplin dalam menjalankan prosedur orang sistem administrator sudah lainya seperti biaya sewa jaringan juga sudah dilakukan perusahaan berhasil memperkecil
input data retur ke dalam sistem ERP SAP B1. mendapatkan sertifikat SAP B1 System disiapkan. kesenjang terutama pada dimensi informasi,
Pengaruhnya pada pembuatan laporan Administrator, menunjukkan mereka sudah teknologi dan proses. Pimpinan juga mampu
keuangan tidak dapat diproses sebelum memiliki cukup pengetahuan tentang Sistem 5. Pembahasan menjadi sentral dalam pengambilan keputusan
dikurangi retur. ERP SAP B1 untuk berbagi dengan pengguna. kritis selama proses implementasi, seperti
S eb el um p ro ses i m p l em en ta si E R P keputusan untuk tidak mengintegrasikan
Kebutuhan dalam rancangan, karyawan harus Asumsi pada rancangan, perusahaan harus dilaksanakan di PT. CP ditemukan kesenjangan fungsi expired date dalam sistem SAP B1.
disiplin menjalankan proses operasional. mampu mengelola dampak penggunaan sistem yang cukup besar pada dimensi informasi. Data
Disiplin dalam menjalankan proses operasional ERP terhadap karyawan setelah yang dibutuhkan untuk proses implementasi Tim internal PT. CP juga berkontribusi sangat
merupakan salah satu faktor kritis suksesnya diimplementasikan. Realitasnya, dampak tidak lengkap dan model database yang besar dalam kesuksesan implementasi ERP
implementasi ERP di UKM (Snider et al., tersebut bisa diantisipasi perusahaan dengan digunakan sebelum implementasi juga tidak SAP B1 ini. Mereka berinovasi menemukan
2009). Ketidakdisiplinan dalam menjalankan cara tidak menambah karyawan tetap untuk cocok dengan kebutuhan implementasi ERP solusi alternatif aplikasi manajemen jaringan
penginputan retur barang mengakibatkan bagian administrasi sebelum implementasi, tapi SAP. Pada dimensi teknologi juga ditemukan open source dan menggunakan teknologi jaringan
laporan keuangan ke manajemen tidak dapat memanfaatkan pihak ketig a untuk kesenjangan yang cukup besar berupa VPN untuk basis ERP SAP. Inovasi yang
diproses dengan cepat. Setelah memahami menger jakan peker jaan administratif dukungan infrastruktur jaringan dan perangkat dilakukan oleh Sistem Administrator lebih
pentingnya penginputan data retur sesegera rekapitulasi laporan dari kantor-kantor cabang. PC yang tidak memadai untuk murah dibandingkan dengan teknolgi yang
mungkin, bagian pemasaran mulai disiplin Selesai proses implementasi peran penyusunan mengintegrasikan proses bisnis dari kantor diusulkan konsultan yaitu aplikasi manajemen
menginput data retur barang. Asumsi dalam laporan dari cabang yang dilakukan oleh pihak pusat ke kantor pemasaran di daerah. Pada jaringan berbayar dan teknologi jaringan lease
rancangan selur uh bagian organisasi ketiga bisa dilakukan oleh sistem ERP. Rekap dimensi proses kesenjangan yang ditemukan line yang berbiaya mahal. Dengan berinovasi
terintegrasi dengan sistem ERP, realitasnya laporan panjualan langsung di buat dari sistem pada proses penginputan data dan pengolahan menggunakan manajemen jaringan open source
setelah implementasi perusahaan masih SAP oleh bagian akuntansi. Bersamaan data. Selain itu kesenjangan lainnya adalah dan teknologi VPN perusahan berhasil
menggunakan aplikasi terpisah untuk bagian habisnya masa kontrak tenaga pihak ketiga proses bisnis pada masing-masing bagian menekan biaya membangun infrastruktur
produksi. sistem ERP sudah go live.. belum terintegrasi satu sama lain. Kesenjangan jaringan.
pada ketiga dimensi ini cukup besar sedangkan

Jurnal Jurnal
282 Manajemen Teknologi 283 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Proyek Kesenjangan 38
Kontribusi tim konsultan dominan dalam q
Dimensi Penempatan dan kemampuan dimulai
rancangan realitas
Implementasi ERP menuntut peran lebih besar
peningkatan proses bisnis, konsultan mampu staf: melatih para pengguna ERP dan signifikan dari perusahaan dibandingkan
mengganti praktek bisnis konvensional yang mengunakan data dummy dan membantuk implementasi aplikasi sistem informasi
berjalan di PT. CP dengan best practice yang tim kecil implementator yang memiliki internal, sedangkan perusahaan memiliki

4 bulan
disediakan SAP B1, seperti best practice peran sentral selama implementasi. sumber daya terbatas untuk terlibat dalam tim
penentuan selling price, dan best practice Memilih konsultan yang terpercaya. proyek, karenanya menurut Dong-Gil, et al.,
penerbitan invoice. Improvisasi-improvisasi Meminimalisasi dampak pengurangan (2005) memahami bagaimana transfer
yang dilakukan stakeholder selama implementasi sumber daya manusia dengan pengetahuan yang efektif terjadi dalam kasus
berhasil mengurangi nilai kesenjangan secara menggunakan tenaga outsourching jauh hari ini menjadi penting.
signifikan. Total kesenjangan menjadi 18 sebelum implementasi rancangan Kesenjangan 18 realitas
setelah empat bulan implementasi berjalan. q
Dimensi Sistem dan struktur manajemen : 6. Simpulan dan Saran

2 bulan
pimpinan menjadi sentral mengambil
Setelah proyek selesai (enam bulan) realitas keputusan strategis dan membentuk Penjelasan tentang usaha-usaha yang dilakukan
yang ditemukan hampir memenuhi asumsi dan departemen TIK Proyek
selesai
rancangan Kesenjangan 8 realitas untuk mewujudkan rancangan dengan
persyaratan rancangan sistem ERP, total q
Dimensi Sumber daya lain: menggunakan mengubah realitas yang tidak sesuai membuat
kesenjangan hanya 8. Improvisasi-improvisasi manajemen jaringan open source dan kompleksitas implementasi ERP di PT. CP
Gambar 3. Closure diagram kesenjangan
yang dilakukan pada masing-masing dimensi teknologi VPN untuk menghemat biaya dapat lebih mudah dipelajari melalaui uraian
rancang an-realitas selama proyek
adalah: dan membuat perencanaan implementasi pada masing-masing dimensi. Penjelasan ini
implementasi ERP SAP B1 di PT.CP
q Dimensi informasi: melengkapi master yang baik sebingga proses implementasi Sumber: (data diolah) dapat memberikan gambaran menyeluruh dan
data untuk database, merubah sistem dapat berjalan sesuai waktu yang pemahaman baru tentang implementasi ERP
database yang tidak terintegrasi menjadi ditentukan. Mempersiapakan dana pasca- Model kesenjangan rancangan-realitas yang bagi pelaku UKM lainnya. Dalam penjelasan
database tunggal. Sistem ERP juga dibuat implementasi untuk pembayaran lisensi diusulkan Hawari dan Heeks (2010) untuk ini juga dideskripsikan bagaimana PT. CP
dapat diakses secara online di kantor cabang akun pengguna, biaya sewa jaringan menjelaskan luaran implementasi ERP tidak menyusun strategi perencanaan implementasi
sehingga proses transaksi dan pembuatan internet per tahun. memungkinkan mengukur kesenjangan ERP. Dengan strategi perencanaan yang baik
laporan bisa dilakukan secara realtime. transfer pengetahuan secara lengkap. pelaku UKM akan mendapatkan manfaat
q D i m e n s i Te k n o l o g i : p e r u s a h a a n Proses pengurangan kesenjangan melalui Pengukuran transfer pengetahuan hanya potensial ERP (Zach et al. 2014:23). Manfaat
menginvestasikan banyak dana untuk improvisasi selama implementasi dapat dilihat dilakukan melalui fasilitas training sebelum dan yang didapatkan PT. CP diantaranya
membangun infrastruktur teknologi dalam closure diagram (gambar 3). Improvisasi- saat implementasi pada dimensi penempatan implementasi ERP dapat berjalan on-time.
informasi yang kuat mampu improvisasi yang dilakukan telah memperkecil dan kemampuan staf. Begitupun dalam model Implementasi yang on-time ini mempercepat
mengintegrasikan proses bisnis ke masing- kesenjangan pada dimensi infor masi, Kesuksesan sistem informasi DeLone & ROI investasi ERP di PT. CP.
masing kantor cabang, meningkatkan teknologi, proses dan empat dimensi lainnya. McLean yang digunakan Falgenti dan Pahlevi
kemamapuan hardware dan sofware untuk Improvisasi yang paling banyak dilakukan (2013) dalam penelitian sebelumnya, Tujuan implementasi ERP di PT. CP dapat
menjamin sistem yang berkualitas untuk dengan mengubah realitas. Sedikit perubahan pengukuran transfer pengetahuan hanya pada dicapai karena masing-masing stakeholder
menjalankan ERP SAP B1 terjadi pada rancangan, menggunakan cara dimensi kualitas layanan melalui fasilitas berbagi target implementasi. Target
q ?Dimensi Proses: mengeliminasi praktek manual menggunakan label untuk menentukan training yang diberikan oleh konsultan. implementasi tidak hanya dibebankan kepada
penentuan harga jual (selling price) yang tidak tanggal kadaluarsa. Perubahan rancangan Kegiatan brainstrorming, storytelling, dan manajer keuangan sebagai kepala proyek, tapi
terkontrol dan mengganti dengan best berikutnya adalah mengganti rancangan penyampaian ide sebelum, saat dan setelah
paractice pemberian diskon produk yang teknologi jaringan leased line untuk dibagi-bagi kepada para pengguna kunci.
implementasi merupakan fasilitas untuk Adanya kerja sama dari seluruh stakeholder
dilakukan oleh bagian akuntansi melalui menghubungkan empat kantor pemasaran ke berbagi pengetahuan tacit. Bagaimana transfer
sistem EPR SAP, diskon tidak lagi langsung kantor pusat dengan teknologi jaringan VPN dalam mencapai tujuan proyek implementasi
pengetahuan tacit yang efektif berjalan belum membuat semua pihak berkontribusi dalam
diberikan oleh manajer tapi dikalkulasi dan manajemen jaringan open source. Integrasi merupakan bagian pengukuran dalam dua
dulu oleh bagian akuntansi. Menjalankan bagian produksi dengan bagian pemasaran kesuksesan implementasi ERP ini.
model ini.
best practice kontrol penerbitan invoice. seperti persyaratan dalam rancangan, tidak
q Dimensi Tujuan dan Nilai: pimpinan dapat dilakukan. Realitas yang ditemukan Implementasi ERP di PT.CP lebih dominan
Beberapa peneliti sebelumnya (Markus et al., untuk meningkatkan proses bisnis pada
mensosialisasikan tujuan dan manfaat bagian produksi masih menggunakan aplikasi 2000; Kawalek dan wood-Harper, 2002; Jones,
sistem ERP sampai ke karyawan bagian terpisah dengan sistem ERP. Terjadinya kegiatan operasional pemasaran. Sedangkan di
2005; Diop et al. 2013) menyatakan bahwa bagian produksi sistem ERP tidak
administratif ditingkat bawah. perubahan rancangan dan ada sedikit realitas transfer pengetahuan adalah salah satu
Membudayakan kerja cepat kepada yang ditemukan tidak sesuai rancangan ini dimanfaatkan PT.CP. Alasannya karena
komponen yang berperan dalam kesuksesan formula assemly untuk meramu bahan pembuat
pengguna sistem ERP untuk mendukung mengakibatkan nilai total kesenjangan 8. implementasi ERP.
berjalannya sistem realtime. jus merupakan rahasia bagian produksi
(Falgenti dan Palevi, 2013:171).

Jurnal Jurnal
284 Manajemen Teknologi 285 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Proyek Kesenjangan 38
Kontribusi tim konsultan dominan dalam q
Dimensi Penempatan dan kemampuan dimulai
rancangan realitas
Implementasi ERP menuntut peran lebih besar
peningkatan proses bisnis, konsultan mampu staf: melatih para pengguna ERP dan signifikan dari perusahaan dibandingkan
mengganti praktek bisnis konvensional yang mengunakan data dummy dan membantuk implementasi aplikasi sistem informasi
berjalan di PT. CP dengan best practice yang tim kecil implementator yang memiliki internal, sedangkan perusahaan memiliki

4 bulan
disediakan SAP B1, seperti best practice peran sentral selama implementasi. sumber daya terbatas untuk terlibat dalam tim
penentuan selling price, dan best practice Memilih konsultan yang terpercaya. proyek, karenanya menurut Dong-Gil, et al.,
penerbitan invoice. Improvisasi-improvisasi Meminimalisasi dampak pengurangan (2005) memahami bagaimana transfer
yang dilakukan stakeholder selama implementasi sumber daya manusia dengan pengetahuan yang efektif terjadi dalam kasus
berhasil mengurangi nilai kesenjangan secara menggunakan tenaga outsourching jauh hari ini menjadi penting.
signifikan. Total kesenjangan menjadi 18 sebelum implementasi rancangan Kesenjangan 18 realitas
setelah empat bulan implementasi berjalan. q
Dimensi Sistem dan struktur manajemen : 6. Simpulan dan Saran

2 bulan
pimpinan menjadi sentral mengambil
Setelah proyek selesai (enam bulan) realitas keputusan strategis dan membentuk Penjelasan tentang usaha-usaha yang dilakukan
yang ditemukan hampir memenuhi asumsi dan departemen TIK Proyek
selesai
rancangan Kesenjangan 8 realitas untuk mewujudkan rancangan dengan
persyaratan rancangan sistem ERP, total q
Dimensi Sumber daya lain: menggunakan mengubah realitas yang tidak sesuai membuat
kesenjangan hanya 8. Improvisasi-improvisasi manajemen jaringan open source dan kompleksitas implementasi ERP di PT. CP
Gambar 3. Closure diagram kesenjangan
yang dilakukan pada masing-masing dimensi teknologi VPN untuk menghemat biaya dapat lebih mudah dipelajari melalaui uraian
rancang an-realitas selama proyek
adalah: dan membuat perencanaan implementasi pada masing-masing dimensi. Penjelasan ini
implementasi ERP SAP B1 di PT.CP
q Dimensi informasi: melengkapi master yang baik sebingga proses implementasi Sumber: (data diolah) dapat memberikan gambaran menyeluruh dan
data untuk database, merubah sistem dapat berjalan sesuai waktu yang pemahaman baru tentang implementasi ERP
database yang tidak terintegrasi menjadi ditentukan. Mempersiapakan dana pasca- Model kesenjangan rancangan-realitas yang bagi pelaku UKM lainnya. Dalam penjelasan
database tunggal. Sistem ERP juga dibuat implementasi untuk pembayaran lisensi diusulkan Hawari dan Heeks (2010) untuk ini juga dideskripsikan bagaimana PT. CP
dapat diakses secara online di kantor cabang akun pengguna, biaya sewa jaringan menjelaskan luaran implementasi ERP tidak menyusun strategi perencanaan implementasi
sehingga proses transaksi dan pembuatan internet per tahun. memungkinkan mengukur kesenjangan ERP. Dengan strategi perencanaan yang baik
laporan bisa dilakukan secara realtime. transfer pengetahuan secara lengkap. pelaku UKM akan mendapatkan manfaat
q D i m e n s i Te k n o l o g i : p e r u s a h a a n Proses pengurangan kesenjangan melalui Pengukuran transfer pengetahuan hanya potensial ERP (Zach et al. 2014:23). Manfaat
menginvestasikan banyak dana untuk improvisasi selama implementasi dapat dilihat dilakukan melalui fasilitas training sebelum dan yang didapatkan PT. CP diantaranya
membangun infrastruktur teknologi dalam closure diagram (gambar 3). Improvisasi- saat implementasi pada dimensi penempatan implementasi ERP dapat berjalan on-time.
informasi yang kuat mampu improvisasi yang dilakukan telah memperkecil dan kemampuan staf. Begitupun dalam model Implementasi yang on-time ini mempercepat
mengintegrasikan proses bisnis ke masing- kesenjangan pada dimensi infor masi, Kesuksesan sistem informasi DeLone & ROI investasi ERP di PT. CP.
masing kantor cabang, meningkatkan teknologi, proses dan empat dimensi lainnya. McLean yang digunakan Falgenti dan Pahlevi
kemamapuan hardware dan sofware untuk Improvisasi yang paling banyak dilakukan (2013) dalam penelitian sebelumnya, Tujuan implementasi ERP di PT. CP dapat
menjamin sistem yang berkualitas untuk dengan mengubah realitas. Sedikit perubahan pengukuran transfer pengetahuan hanya pada dicapai karena masing-masing stakeholder
menjalankan ERP SAP B1 terjadi pada rancangan, menggunakan cara dimensi kualitas layanan melalui fasilitas berbagi target implementasi. Target
q ?Dimensi Proses: mengeliminasi praktek manual menggunakan label untuk menentukan training yang diberikan oleh konsultan. implementasi tidak hanya dibebankan kepada
penentuan harga jual (selling price) yang tidak tanggal kadaluarsa. Perubahan rancangan Kegiatan brainstrorming, storytelling, dan manajer keuangan sebagai kepala proyek, tapi
terkontrol dan mengganti dengan best berikutnya adalah mengganti rancangan penyampaian ide sebelum, saat dan setelah
paractice pemberian diskon produk yang teknologi jaringan leased line untuk dibagi-bagi kepada para pengguna kunci.
implementasi merupakan fasilitas untuk Adanya kerja sama dari seluruh stakeholder
dilakukan oleh bagian akuntansi melalui menghubungkan empat kantor pemasaran ke berbagi pengetahuan tacit. Bagaimana transfer
sistem EPR SAP, diskon tidak lagi langsung kantor pusat dengan teknologi jaringan VPN dalam mencapai tujuan proyek implementasi
pengetahuan tacit yang efektif berjalan belum membuat semua pihak berkontribusi dalam
diberikan oleh manajer tapi dikalkulasi dan manajemen jaringan open source. Integrasi merupakan bagian pengukuran dalam dua
dulu oleh bagian akuntansi. Menjalankan bagian produksi dengan bagian pemasaran kesuksesan implementasi ERP ini.
model ini.
best practice kontrol penerbitan invoice. seperti persyaratan dalam rancangan, tidak
q Dimensi Tujuan dan Nilai: pimpinan dapat dilakukan. Realitas yang ditemukan Implementasi ERP di PT.CP lebih dominan
Beberapa peneliti sebelumnya (Markus et al., untuk meningkatkan proses bisnis pada
mensosialisasikan tujuan dan manfaat bagian produksi masih menggunakan aplikasi 2000; Kawalek dan wood-Harper, 2002; Jones,
sistem ERP sampai ke karyawan bagian terpisah dengan sistem ERP. Terjadinya kegiatan operasional pemasaran. Sedangkan di
2005; Diop et al. 2013) menyatakan bahwa bagian produksi sistem ERP tidak
administratif ditingkat bawah. perubahan rancangan dan ada sedikit realitas transfer pengetahuan adalah salah satu
Membudayakan kerja cepat kepada yang ditemukan tidak sesuai rancangan ini dimanfaatkan PT.CP. Alasannya karena
komponen yang berperan dalam kesuksesan formula assemly untuk meramu bahan pembuat
pengguna sistem ERP untuk mendukung mengakibatkan nilai total kesenjangan 8. implementasi ERP.
berjalannya sistem realtime. jus merupakan rahasia bagian produksi
(Falgenti dan Palevi, 2013:171).

Jurnal Jurnal
284 Manajemen Teknologi 285 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Implementasi ERP di PT. CP sukses mencapai Penjelasan kesuksesan implementasi ERP pada Chen, H.H., Chen, S.C., & Tsai, L.H. (2009). A Hong, K.K & Kim, Y.G. (2002). The Critical
tujuan, tapi tidak mendapatkan keuntungan PT. CP menggunakan model kesenjangan Study of Successful ERP – From the Success faktor for ERP Implementation:
maksimal karena implementasi di PT.CP tidak rancangan-realitas ini tidak menyertakan Organization Fit Perspective. Journal of an organizational fit perspective.
sejalan dengan tujuan dan fungsi sistem ERP pengukuran transfer pengetahuan dengan Systemics Cybernetics and Informatics,7(4),8- Information and Management, 40(1), 25-40.
yaitu mengintegrasikan seluruh proses bisnis di lengkap, pengukuran transfer pengetahuan 16. Huang, Z., & Palvia, P. (2001). ERP
seluruh bagian perusahaan kedalam satu hanya melalui fasilitas training. Diperlukan Cruz-Cunha, M. M. (2010). Enter prise implementation issues in advanced and
aplikasi tunggal. Pihak manajemen perlu studi lebih lanjut dengan metode research and Information system for business integration in developing countries. Business Process
mengkaji ulang keputusannya dengan tidak development untuk mengembangkan model SMEs: technological, organizational and social Management Journal, 7 (2), 276–284.
mengintegrasikan formula assemly dalam sistem kesenjangan rancangan-realitas, menjadikan dimensions, IGI Publishing. Ifenedo, P & Nahar, N. (2007). ERP System
ERP dan masih menggunakan aplikasi internal komponen transfer pengetahuan tacit dan Dada, D. (2006). The failure of e-government Success: an empirical analysis of how
untuk pencatatan produksi. Adanya dua sistem eksplisit sebagai bagian dari pengukuran in developing countries: a literature two organizational stakeholder groups
pencatatan ini beresiko menimbulkan kesuksesan implementasi sistem informasi. review, The Electronic Journal of Information prioritize and evaluate relevan measures.
ketidaksinkronan data antara bagian produksi Systems in Developing Countries, 26(7), 1-10. Enterprise Information System,1(1), 25-48.
dan pemasaran. Ketidaksinkronan ini Ucapan Terimakasih DeLone, W.H. & McLean, E.R. (2003). The Jones, M.C. (2005). Tacit Knowledge Sharing
berpotensi menimbulkan rasa saling tidak Artikel ini merupakan bagian dari luaran DeLone and McLean Model of During ERP Implementation: A Multi-
percaya satu sama lain. penelitian Hibah Bersaing DIKTI No. Information Systems Success: A Ten- Site Case Study, Information Resource
Kontrak 121n/KU/UNINDRA/2013. kami Year Update. Journal of Management Management Journal,18(2).
Mahalnya biaya konsultan membuat PT. CP mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak Information Systems, 19(4), 9-30. Kamhawi, E.M. (2007). Critical success factors
tidak jadi mengintegrasikan fungsi exipred date yang telah membantu terbitnya artikel ini : Diop, B., Pascot, D., & Mbibi, S.M.A. (2013). for implementation success of ERP
kedalam sistem ERP SAP B1 saat 1. DP2M DIKTI Theoretical Framework of Human system an emperical investigation from
implementasi. Temuan dalam penelitian 2. Ketua LP2M UNINDRA Capital Development of SMEs: The Bahrain.International Journal of Entrprise
Sunarya (2011:72) juga menyatakan mahalnya 3. Dekan FIPPS Context of an ERP Project. Journal of information System,3(2), 34-49.
biaya sumber daya teknis adalah salah satu 4. Dekan FTMIPA UNINDRA Enterprise Resource Planning Studies, Kawalek, P. & Wood-Harper, T. (2002). The
faktor utama pelaku UKM di Jabotadebak tidak 5. Pimpinan dan Karyawan PT. CP 2013,1-15. Finding of thorns: user participation in
berinvestasi mengimplementasikan sistem 6. Konsultan SAP B1 dari PT. FID Indonesia Dong-Gil, K., Kirsch, L. J., & King, W. R. enterprise systems implementation. The
ERP. Pemerintah diharapkan ikut serta yang telah membantu penulis mendapatkan (2005). Antecedents of Knowledge Database for Advances in Information System,
membantu UKM melalui dana hibah untuk data penelitan. Transfer from Consultants to Cients In 33(1), 13-22.
meningkatkan proses bisnisnya. Bantuan Enterprise System Implementations. Kotelnikov, V. (2007). Small and mendium
dalam bentuk dana hibah untuk meningkatkan Daftar Pustaka MIS Quarterly, 29(1), 59-85. enter prise and ICT, Asia-Pacific
proses bisnis pelaku UKM telah dilakukan di Falgenti, K & Pahlevi, S. M.(2013). Evaluasi Development Programme-UNDP.
Malysia sejak tahun 2007. Melalui Menistry of Abdelsalam, M.E, El-Kadi, A. & Gamal, S. kesuksesan sistem informasi ERP pada Kumar, N.V. (2010). Application of an analytic
International Trade and Industr y (MITI) (2010). Setback and Remedy of Local e- usaha kecil dan menengah studi kasus process to prioritize the factor affecting
pemerintah Malaysia menyediakan bantuan Government Projects: A Case Study from PT.CP. Jurnal Manajemen Teknologi, ERP implementation, International
keuangan dalam skema “Grand for ICT Egyps. International Conference E- 12(2), 161-183. Journal of Computer Application, 2(2).
Apllication” untuk pelaku bisnis lokal membeli Government (ICEGOV2010) ACM. Hamilton, S. (2002). Maximizing Your ERP Leavit, H.J. (1965). Applying organizational change
sistem ERP untuk meningkatkan produktivitas Aisyah, M. Nur., (2011). Using Enterprise System, McGraw-Hill, New York. in industry: structural, technological and
dan kompetensinya dalam lingkungan global Resource Planning (ERP) for Enhancing Hawari, Ala'a & Heeks, R.B. (2010). humanistic approach”, in J.G March(eds),
(Supramaniam dan Kuppusamy, 2011). Business Processes in Small and Medium Explaining ERP failure in a developing Handbook of Organizations, Rand And
Enterprises (SMEs). Jurnal Pendidikan country: a Jordanian case study. Journal of McNally, Chicago, IL ;1144-70
Dalam model Kesuksesan SI Delone & Akuntansi Indonesia UNY, IX. ( 2), 40- 52. Enter prise Information Management, Lee, Z., & Lee, J. (2000). An ERP
McLean yang digunakan Falgenti dan Pahlevi Bandyopadhyay, A. & Sattarzadeh, S (eds) 23(2),135-160 . implementation case study from a
(2013) untuk mengevaluasi kesuksesan sistem Christoper G Riddick.(2010). Chalenging Heeks, R.B.. (2002). Information system and knowledge transfer perspective. Journal
ERP di PT.CP tidak terdapat pengukuran E- Journey Along The Silk Road : Lesson developing countries: failure success and of Information Technology,15(4), 281-288.
komponen keuangan. Kekurangan ini dapat Learned from E-governments in india And local improvisations. The Information Malhotra, R. and Temponi, C. (2009). Critical
ditutupi melalui komponen biaya dalam China. Comparative – E-Government, Society,18(2), 740-741. decisions for ERP integration: small
dimensi sumber daya lain dalam model Springer London. Heeks, R.B.. (2006). Health information business issues. International Journal of
kesenjangan rancangan-realitas. Biaya Brown, J.S. & Duguid, P. (2000). Balancing act s y s t e m s : Fa i l u r e, s u c c e s s a n d Information Management, 30(1), 28-37.
implementsi ini meliputi biaya konsultan, biaya how to capture knowledge withaout improvisation. International Journal of Markus, L.M & Robey, D.(1983). The
lisensi pengguna, biaya sewa jaringan, dan biaya killing it. Hardvard Business Review, (May- Medical Informatic, 75(2),125-137. organizational validity of management
perawatan sistem ERP. June), 73-80. information system. Human Relations,
36(3), 203-25.

Jurnal Jurnal
286 Manajemen Teknologi 287 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Implementasi ERP di PT. CP sukses mencapai Penjelasan kesuksesan implementasi ERP pada Chen, H.H., Chen, S.C., & Tsai, L.H. (2009). A Hong, K.K & Kim, Y.G. (2002). The Critical
tujuan, tapi tidak mendapatkan keuntungan PT. CP menggunakan model kesenjangan Study of Successful ERP – From the Success faktor for ERP Implementation:
maksimal karena implementasi di PT.CP tidak rancangan-realitas ini tidak menyertakan Organization Fit Perspective. Journal of an organizational fit perspective.
sejalan dengan tujuan dan fungsi sistem ERP pengukuran transfer pengetahuan dengan Systemics Cybernetics and Informatics,7(4),8- Information and Management, 40(1), 25-40.
yaitu mengintegrasikan seluruh proses bisnis di lengkap, pengukuran transfer pengetahuan 16. Huang, Z., & Palvia, P. (2001). ERP
seluruh bagian perusahaan kedalam satu hanya melalui fasilitas training. Diperlukan Cruz-Cunha, M. M. (2010). Enter prise implementation issues in advanced and
aplikasi tunggal. Pihak manajemen perlu studi lebih lanjut dengan metode research and Information system for business integration in developing countries. Business Process
mengkaji ulang keputusannya dengan tidak development untuk mengembangkan model SMEs: technological, organizational and social Management Journal, 7 (2), 276–284.
mengintegrasikan formula assemly dalam sistem kesenjangan rancangan-realitas, menjadikan dimensions, IGI Publishing. Ifenedo, P & Nahar, N. (2007). ERP System
ERP dan masih menggunakan aplikasi internal komponen transfer pengetahuan tacit dan Dada, D. (2006). The failure of e-government Success: an empirical analysis of how
untuk pencatatan produksi. Adanya dua sistem eksplisit sebagai bagian dari pengukuran in developing countries: a literature two organizational stakeholder groups
pencatatan ini beresiko menimbulkan kesuksesan implementasi sistem informasi. review, The Electronic Journal of Information prioritize and evaluate relevan measures.
ketidaksinkronan data antara bagian produksi Systems in Developing Countries, 26(7), 1-10. Enterprise Information System,1(1), 25-48.
dan pemasaran. Ketidaksinkronan ini Ucapan Terimakasih DeLone, W.H. & McLean, E.R. (2003). The Jones, M.C. (2005). Tacit Knowledge Sharing
berpotensi menimbulkan rasa saling tidak Artikel ini merupakan bagian dari luaran DeLone and McLean Model of During ERP Implementation: A Multi-
percaya satu sama lain. penelitian Hibah Bersaing DIKTI No. Information Systems Success: A Ten- Site Case Study, Information Resource
Kontrak 121n/KU/UNINDRA/2013. kami Year Update. Journal of Management Management Journal,18(2).
Mahalnya biaya konsultan membuat PT. CP mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak Information Systems, 19(4), 9-30. Kamhawi, E.M. (2007). Critical success factors
tidak jadi mengintegrasikan fungsi exipred date yang telah membantu terbitnya artikel ini : Diop, B., Pascot, D., & Mbibi, S.M.A. (2013). for implementation success of ERP
kedalam sistem ERP SAP B1 saat 1. DP2M DIKTI Theoretical Framework of Human system an emperical investigation from
implementasi. Temuan dalam penelitian 2. Ketua LP2M UNINDRA Capital Development of SMEs: The Bahrain.International Journal of Entrprise
Sunarya (2011:72) juga menyatakan mahalnya 3. Dekan FIPPS Context of an ERP Project. Journal of information System,3(2), 34-49.
biaya sumber daya teknis adalah salah satu 4. Dekan FTMIPA UNINDRA Enterprise Resource Planning Studies, Kawalek, P. & Wood-Harper, T. (2002). The
faktor utama pelaku UKM di Jabotadebak tidak 5. Pimpinan dan Karyawan PT. CP 2013,1-15. Finding of thorns: user participation in
berinvestasi mengimplementasikan sistem 6. Konsultan SAP B1 dari PT. FID Indonesia Dong-Gil, K., Kirsch, L. J., & King, W. R. enterprise systems implementation. The
ERP. Pemerintah diharapkan ikut serta yang telah membantu penulis mendapatkan (2005). Antecedents of Knowledge Database for Advances in Information System,
membantu UKM melalui dana hibah untuk data penelitan. Transfer from Consultants to Cients In 33(1), 13-22.
meningkatkan proses bisnisnya. Bantuan Enterprise System Implementations. Kotelnikov, V. (2007). Small and mendium
dalam bentuk dana hibah untuk meningkatkan Daftar Pustaka MIS Quarterly, 29(1), 59-85. enter prise and ICT, Asia-Pacific
proses bisnis pelaku UKM telah dilakukan di Falgenti, K & Pahlevi, S. M.(2013). Evaluasi Development Programme-UNDP.
Malysia sejak tahun 2007. Melalui Menistry of Abdelsalam, M.E, El-Kadi, A. & Gamal, S. kesuksesan sistem informasi ERP pada Kumar, N.V. (2010). Application of an analytic
International Trade and Industr y (MITI) (2010). Setback and Remedy of Local e- usaha kecil dan menengah studi kasus process to prioritize the factor affecting
pemerintah Malaysia menyediakan bantuan Government Projects: A Case Study from PT.CP. Jurnal Manajemen Teknologi, ERP implementation, International
keuangan dalam skema “Grand for ICT Egyps. International Conference E- 12(2), 161-183. Journal of Computer Application, 2(2).
Apllication” untuk pelaku bisnis lokal membeli Government (ICEGOV2010) ACM. Hamilton, S. (2002). Maximizing Your ERP Leavit, H.J. (1965). Applying organizational change
sistem ERP untuk meningkatkan produktivitas Aisyah, M. Nur., (2011). Using Enterprise System, McGraw-Hill, New York. in industry: structural, technological and
dan kompetensinya dalam lingkungan global Resource Planning (ERP) for Enhancing Hawari, Ala'a & Heeks, R.B. (2010). humanistic approach”, in J.G March(eds),
(Supramaniam dan Kuppusamy, 2011). Business Processes in Small and Medium Explaining ERP failure in a developing Handbook of Organizations, Rand And
Enterprises (SMEs). Jurnal Pendidikan country: a Jordanian case study. Journal of McNally, Chicago, IL ;1144-70
Dalam model Kesuksesan SI Delone & Akuntansi Indonesia UNY, IX. ( 2), 40- 52. Enter prise Information Management, Lee, Z., & Lee, J. (2000). An ERP
McLean yang digunakan Falgenti dan Pahlevi Bandyopadhyay, A. & Sattarzadeh, S (eds) 23(2),135-160 . implementation case study from a
(2013) untuk mengevaluasi kesuksesan sistem Christoper G Riddick.(2010). Chalenging Heeks, R.B.. (2002). Information system and knowledge transfer perspective. Journal
ERP di PT.CP tidak terdapat pengukuran E- Journey Along The Silk Road : Lesson developing countries: failure success and of Information Technology,15(4), 281-288.
komponen keuangan. Kekurangan ini dapat Learned from E-governments in india And local improvisations. The Information Malhotra, R. and Temponi, C. (2009). Critical
ditutupi melalui komponen biaya dalam China. Comparative – E-Government, Society,18(2), 740-741. decisions for ERP integration: small
dimensi sumber daya lain dalam model Springer London. Heeks, R.B.. (2006). Health information business issues. International Journal of
kesenjangan rancangan-realitas. Biaya Brown, J.S. & Duguid, P. (2000). Balancing act s y s t e m s : Fa i l u r e, s u c c e s s a n d Information Management, 30(1), 28-37.
implementsi ini meliputi biaya konsultan, biaya how to capture knowledge withaout improvisation. International Journal of Markus, L.M & Robey, D.(1983). The
lisensi pengguna, biaya sewa jaringan, dan biaya killing it. Hardvard Business Review, (May- Medical Informatic, 75(2),125-137. organizational validity of management
perawatan sistem ERP. June), 73-80. information system. Human Relations,
36(3), 203-25.

Jurnal Jurnal
286 Manajemen Teknologi 287 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Markus, L.M., Tanis, C., & Van Fanema, P.C. Sanchez, J.L & Yague, A. (2010). Competitive Wahid, F & Setyiono.(2010). Dealing with the
(2000). Multi-site ERP implementation. advantages of the ERP: new perspective, misfits in an ERP implementation: experiences
Communication of the ACM, 43(4), 42-46. VASOP ACM. from a University context in Indonesia.
Mazzarol,T., Vollery T., Doss, N., & Thien, V. Siggelkow, N.(2007) Persuasion With Case Seminar Nasional Aplikasi Informasi.
(1999). Factor Influencing Small Study. Academy of Manegement Journal, UII.
Business Start-ups. Internasional Journal of 5(1), 20-24. Wenger, E.C. & Snyder, W.M. (2000)
Enterpreneural Behavior and Research, 5(2), Snider, B., da Silveiram, JC., & Balakrishnan, J. Communities as Practice : The
48-63. (2009). ERP Implementation at SMEs: organizational frontier, Harvard Business
Molla, A. & Bhalla, (2006). A Business An Analysis of Five Canadian Cases. Review, (January-February), 139-145.
transformation through ERP: a case International Journal of Operations & Xue, Y., Liang, H. Bulton, C.A., & Snyder,
study of an asian company. Journal of Production Management, 29 (1),4-29. W.R. (2005). ERP implementation
Information Technology Case and Application Soh, C., Kien, S.S. & J. Tay-Yap. (2000). failures in China: case studies with
Research, 8(1), 34-54. Cultural fits and misfits: Is ERP a implications for ERP vendors.
Mudiantono (2013). Upaya Menigkatkan univesal solution?. Communications of the International Journal Production, 97(3),279-
Keberhasilan Implementasi ERP Untuk ACM, 43, 47-51. 295.
Membangun Keunggulan Bersaing Sunarya, R. (2011). Faktor-faktor yang Yin, R.K .(2009). Case Study Research : Design and
UKM di Jawa Tengah. Jurnal Manajemen Menyebabkan Perusahaan Kecil Menengah Method, 3rd Edition, SAGE Publication
dan Kewirausahaan, 15(2), 153-164. Tidak Berinvestasi pada ERP (studi London.
Nonaka, I. (1994). A Dynamic Theory of perusahaan kecil menengah di Jabodetabek), Zach, Ondrej, Munkvold, B.E & Olsen D.H.
Organizational Knowledge Creation. [Thesis] Pasca Sarjana Ilmu Komputer. (2014). ERP System Implementation in
Organization Science, 5 (1),14-37. Binus. SMEs: Exploring the Influences of the
O r l i k o w s k i , W. J & G a s h , D. C . Supramaniam, M., Abdullah, A., & Ponnan, R. SME Context. Enterprise information
(1994).Technological frames: making (2004). Cost Analysis on ERP System System, 8(2):309-355.
sense of information technology in Implementation amongst Malaysian Zhang, L. Lee, M., Zhang, Z., & P. Benerjee.
organizations.” ACM transactions on SMEs. International Journal of Trade, (2003). Critical success factors of enterprise
Information System, 12 (2), 174-207. Economics and Finance, 5( 1) resource planning systems implementation
Pliskin, N., Romm, T., Lee, A.S & Weber, Y. Supramaniam, M., & Kuppusamy, M. (2011). success in China. 36th Hawaii International
(1993). Presumed Versus actual Analysys of Critical Success Factor in Conference on System Sceinces.
organizational culture: manajerial Implementing Enterprise Resource
implecations for implementation of Planning system In Malaysia Business
information systems. The Computer Firm. The Electronic Journal on Information
Journal, 36(2), 143-152. System in Developing Country, 46(5), 1-11.
Pozzebon, M. (2004), Helping to improve ERP Syamsuddin, I. (2011). Evaluation of E-
research with a logic of complimentary, HEC government Initiatives in Developing
Montreal Canada. Countries: an ITPOSMO Approach.
Ramaswamy, M. (2009). E-Government International Research Journal of Applied and
implementation in transition countries, in: Basic Sciences, 2 (12): 439-446.
Handbook of Research on ICT-Enabled UNDP.(2014). 2013 Humant Development
Tr a n s f o r m a t i o n a l G o v e r n m e n t . V. Report avalilable at
Weerakkody, M. Janssen & Y.K. Dwivedi htt p://hdr.undp.or g/en/2013-r eport
(eds), IGI Global, Hershey, PA,441-451. (diakses Tgl 15-2-2014).
Rajapakse J. & Seddon, P. (2005). ERP Adoption Venkatraman, N. (1989). The concept of fit in
in Developing Countries in Asia: a cultural strategy research, Academy of Management
misfit” 28th Information System. Seminar in Review, 14 (3), 423-434.
Scandinavia, Kirstianstand. Wahid, F. & Izwari, L. (2007). Adopsi Teknologi
Robey, D., Ross, J. W., & Boudreau, M. C. Informasi Oleh Usaha Kecil dan Menengah
(2002). Learning to Implement Indonesia. Seminar Nasional Aplikasi
Enterprise Systems: An Exploratory Informasi. UII.
Study of the Dialectics of Change.
Journal of Management Information Systems,
19(1),17-46.

Jurnal Jurnal
288 Manajemen Teknologi 289 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014
Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP Falgenti dkk/Implementasi ERP Pada UKM dengan Design-Reality Gap Model Studi kasus implementasi SAP B1 di PT CP

Markus, L.M., Tanis, C., & Van Fanema, P.C. Sanchez, J.L & Yague, A. (2010). Competitive Wahid, F & Setyiono.(2010). Dealing with the
(2000). Multi-site ERP implementation. advantages of the ERP: new perspective, misfits in an ERP implementation: experiences
Communication of the ACM, 43(4), 42-46. VASOP ACM. from a University context in Indonesia.
Mazzarol,T., Vollery T., Doss, N., & Thien, V. Siggelkow, N.(2007) Persuasion With Case Seminar Nasional Aplikasi Informasi.
(1999). Factor Influencing Small Study. Academy of Manegement Journal, UII.
Business Start-ups. Internasional Journal of 5(1), 20-24. Wenger, E.C. & Snyder, W.M. (2000)
Enterpreneural Behavior and Research, 5(2), Snider, B., da Silveiram, JC., & Balakrishnan, J. Communities as Practice : The
48-63. (2009). ERP Implementation at SMEs: organizational frontier, Harvard Business
Molla, A. & Bhalla, (2006). A Business An Analysis of Five Canadian Cases. Review, (January-February), 139-145.
transformation through ERP: a case International Journal of Operations & Xue, Y., Liang, H. Bulton, C.A., & Snyder,
study of an asian company. Journal of Production Management, 29 (1),4-29. W.R. (2005). ERP implementation
Information Technology Case and Application Soh, C., Kien, S.S. & J. Tay-Yap. (2000). failures in China: case studies with
Research, 8(1), 34-54. Cultural fits and misfits: Is ERP a implications for ERP vendors.
Mudiantono (2013). Upaya Menigkatkan univesal solution?. Communications of the International Journal Production, 97(3),279-
Keberhasilan Implementasi ERP Untuk ACM, 43, 47-51. 295.
Membangun Keunggulan Bersaing Sunarya, R. (2011). Faktor-faktor yang Yin, R.K .(2009). Case Study Research : Design and
UKM di Jawa Tengah. Jurnal Manajemen Menyebabkan Perusahaan Kecil Menengah Method, 3rd Edition, SAGE Publication
dan Kewirausahaan, 15(2), 153-164. Tidak Berinvestasi pada ERP (studi London.
Nonaka, I. (1994). A Dynamic Theory of perusahaan kecil menengah di Jabodetabek), Zach, Ondrej, Munkvold, B.E & Olsen D.H.
Organizational Knowledge Creation. [Thesis] Pasca Sarjana Ilmu Komputer. (2014). ERP System Implementation in
Organization Science, 5 (1),14-37. Binus. SMEs: Exploring the Influences of the
O r l i k o w s k i , W. J & G a s h , D. C . Supramaniam, M., Abdullah, A., & Ponnan, R. SME Context. Enterprise information
(1994).Technological frames: making (2004). Cost Analysis on ERP System System, 8(2):309-355.
sense of information technology in Implementation amongst Malaysian Zhang, L. Lee, M., Zhang, Z., & P. Benerjee.
organizations.” ACM transactions on SMEs. International Journal of Trade, (2003). Critical success factors of enterprise
Information System, 12 (2), 174-207. Economics and Finance, 5( 1) resource planning systems implementation
Pliskin, N., Romm, T., Lee, A.S & Weber, Y. Supramaniam, M., & Kuppusamy, M. (2011). success in China. 36th Hawaii International
(1993). Presumed Versus actual Analysys of Critical Success Factor in Conference on System Sceinces.
organizational culture: manajerial Implementing Enterprise Resource
implecations for implementation of Planning system In Malaysia Business
information systems. The Computer Firm. The Electronic Journal on Information
Journal, 36(2), 143-152. System in Developing Country, 46(5), 1-11.
Pozzebon, M. (2004), Helping to improve ERP Syamsuddin, I. (2011). Evaluation of E-
research with a logic of complimentary, HEC government Initiatives in Developing
Montreal Canada. Countries: an ITPOSMO Approach.
Ramaswamy, M. (2009). E-Government International Research Journal of Applied and
implementation in transition countries, in: Basic Sciences, 2 (12): 439-446.
Handbook of Research on ICT-Enabled UNDP.(2014). 2013 Humant Development
Tr a n s f o r m a t i o n a l G o v e r n m e n t . V. Report avalilable at
Weerakkody, M. Janssen & Y.K. Dwivedi htt p://hdr.undp.or g/en/2013-r eport
(eds), IGI Global, Hershey, PA,441-451. (diakses Tgl 15-2-2014).
Rajapakse J. & Seddon, P. (2005). ERP Adoption Venkatraman, N. (1989). The concept of fit in
in Developing Countries in Asia: a cultural strategy research, Academy of Management
misfit” 28th Information System. Seminar in Review, 14 (3), 423-434.
Scandinavia, Kirstianstand. Wahid, F. & Izwari, L. (2007). Adopsi Teknologi
Robey, D., Ross, J. W., & Boudreau, M. C. Informasi Oleh Usaha Kecil dan Menengah
(2002). Learning to Implement Indonesia. Seminar Nasional Aplikasi
Enterprise Systems: An Exploratory Informasi. UII.
Study of the Dialectics of Change.
Journal of Management Information Systems,
19(1),17-46.

Jurnal Jurnal
288 Manajemen Teknologi 289 Manajemen Teknologi
Vol.13 | No.3 | 2014 Vol.13 | No.3 | 2014