Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FARMASI PRAKTIS

OBAT TETES MATA

DOSEN PENGAMPU:

Ganet Eko P, M.Si., Apt

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2 / TEORI 4
1. Angela Casmita B (22164915A)
2. MiftahulNgizzah (22164916A)
3. AyuAngsari D.P (22164917A)
4. AfifahFauziyyah (22164918A)
5. NoviaDwi S (22164919A)
6. Hesty Pita W (22164921A)
7. Nurvikayani S (22164922A)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam
lingkaran bertulang berfungsi untuk memberi perlindungan maksimal dan sebagai pertahanan
yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi mata, iritasi mata,
mata memar dan glaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap infeksi karena secret mata
mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada bakteri dan dapat membantu
mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal terdiri atas beberapa bentuk sediaan
dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat mata dibuat khusus. Salah satu sediaan mata
adalah obat tetes mata. Obat tetes mata ini merupakan obat yang berupa larutan atau suspense
steril yang digunakan secara local pada mata.
Karena mata merupakan organ yang paling peka dari manusia maka pembuatan larutan
obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas,
kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Hal-hal
yang berkaitan dengan syarat tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

B. Tujuan
Penulisan makalahi ni bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sediaan tetes
mata dan persyaratan-persyaratan untuk obat tetes mata serta untuk memenuhi tugas mata
kuliah Farmasi Praktis.

C. Manfaat
Dalam pembahasan makalah ini dapat memberikan manfaat dalam memahami lebih
lanjut mengenai obat tetes mata baik itu larutan maupun suspense.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
 Menurut FI IV halaman 12, Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel
asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai
digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus
dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan
akan pengawet (dan jika perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang
tepat. Perhatian yang sama juga dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga.
 Menurut FI III halaman 10, Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau
suspensi yang digunaka dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dari bola mata.
 Menurut DOM Martin : Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata yang
terluka atau kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial lebih
berbahaya daripada injeksi intavena.
 Menurut Scoville’s : Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak
dari alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan
untuk dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata
digunakan untuk antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa.
Larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium).
 Menurut Parrot : Larutan mata (colluria) Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus
diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan untuk tonisitas, pH,
stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini diinginkan karena kornea dan
jaringan bening ruang anterior adalah media yang bagus untuk mikroorganisme dan
masuknya larutan mata yang terkontaminasi ke dalam mata yang trauma karena
kecelakaan atau pembedahan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
 Menurut Teks Book of Pharmaceutics : Tetes mata adalah cairan steril atau larutan
berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus
conjungtival. Mereka dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik,
bahan antiinflamasi seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat atau
obat midriatik seperti atropin sulfat.
 Menurut Ansel INA : Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril
yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata. Selain steril preparat
tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti
kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang
cocok.
 Sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan obat mata merupakan sediaan steril, yang
terdiri dari bahan bahan berkhasiat obat dan bahan tambahan dan membutuhkan
perhatian khusus dalam pembuatannya terutama dalam hal toksisitas bahan obat, nilai
isotonisitas, kebutuhan akan dapar, pengawet, sterilitas, serta kemasan yang tepat.
B. Contoh di Masyarakat
Obat sakit mata banyak kita dapatkan di berbagai apotik. Adapun daftar obat sakit
mata di apotik yang perlu kita ketahui ialah sebagai berikut:
1. Insto
Komposisi: Benzalkonium Chloride 0,01% dan Tetrahydrozoline HCl 0.05%,
Indikasi: dapat mengobati mata merah, mata pedih, dan mata iritasi
Dosis: sebanyak 2 hingga 3 tetes selama 3 hingga 4 kali sehari

2. Cendo Polynel
Komposisi: Fluoromethasone, Neomycin Sulphate
Indikasi: dapat mengobati sakit mata yang terjadi karena radang dan infeksi bakteri
Dosis: sebanyak 1 hingga 2 tetes setiap 3 kali sehari.
Perhatian khusus: tidak dianjurkan untuk pemakaian dalam jangka panjang.
Sebaiknya tidak digunakan saat mata terjadi infeksi dengan keluarnya nanah dan
terjadinya infeksi mata karena jamur.
Efek Samping: panas, hipersensitif, iritasi, gatal, kornea semakin, infeksi sekunder,
penglihatan buram

3. Cendo Xitrol
Komposisi: Neomycin Sulphate, Dexamethasone Sodium Phosphate, Polymixin B
Sulphate
Indikasi: sebagai obat infeksi mata yang timbul karena bakteri tertentu
Dosis: 1 hingga 2 tetes setiap satu jam sekali atau sesuai petunjuk dokter
Perhatian khusus: sebaiknya jangan digunakan pemakaian jangka panjang, apabila
terkena infeksi lebih baik segera hubungi dokter
Efek Samping: panas, hipersensitif, gatal, infeksi sekunder, dan iritasi

4. Rohto
Komposisi: Tetrahydrozoline HCl 0.05%
Indikasi: dapat menangani mata merah dan iritasi
Dosis: 1 hingga 2 tetes atau 2 hingga 3 kali sehari
Perhatian khusus: jangan dipakai untuk jangka panjang
Efek Samping: apabila mata pedih dan panas
Perhatian khusus: sebaiknya jangan dipakai untuk penderita glaukoma. Apabila
terjadi iritasi mata dan dalam kurun waktu 3 hari belum reda, maka sebaiknya
Anda bisa menghubungi dokter. Pastikan obat ini tidak dipakai dalam jangka
panjang
Efek Samping yang ditimbulkan ialah rasa pedih, panas, hyperemia

5. Polidemisin
Komposisi: neomycin sulphate, polymixin B sulphate, dan dexamethasone
Indikasi: dapat meredakan sakit belekan dan iritasi mata
Dosis: 1 hingga 2 tetes setiap jam, bila radang sudah berkurang teteskan setiap 4
jam saja atau sesuai petunjuk dokter
Perhatian khusus: jangan dipakai untuk jangka panjang karena membuat mata
menjadi infeksi
Efek samping: mata terasa gatal, panas, iritasi, hipersensitif, dan terjadi infeksi
sekunder

6. Benzalkonium Chloride
Indikasi: dapat meredakan mata iritasi
Dosis: 1 hingga 2 tetes atau sesuai resep dokter
Efek samping: perubahan pada bulu mata, kelopak mata menggelap, terjadi
perubahan iris pada pigmen.

7. Braito Tears
Indikasi: dapat membasahi mata yang terasa kering
Dosis: 1 hingga 2 tetes setiap hari
Efek samping: mata akan terasa lengket

8. Tetrahydrozoline HCL
Indikasi: mengatasi iritasi mata dan mengatasi ingrowth pembuluh darah di kornea
mata
Dosis: 1 hingga 2 tetes atau sesuai anjuran dokter
Efek samping: hipertensi, sakit kepala, berkeringat, tremor, aritmia jantung

9. Midriatik
Indikasi: membesarkan pupil mata, memfokuskan mata pada obyek jarak dekat
Dosis: 1 hingga 2 tetes atau sesuai anjuran dokter
Efek samping: mata pedih
Perhatian khusus: tidak boleh berkendara selama 1 hingga 2 jam

10. Cycloplegic
Indikasi: memperbesar pupil mata, memacu mata malas
Dosis: 1 hingga 2 tetes atau sesuai anjuran dokter
Efek samping: mata sering merasa silau

11. Betoptima
Indikasi: mengobati syaraf mata
Dosis: 2 kali sehari 1 tetes
Efek samping: mata kering, sesak nafas, vertigo, dan insomnia

12. Cendo Carpine


Indikasi: mengendalikan tekanan intra ocular
Dosis: 1 tetes 3 hingga 4 hari sekali
Efek samping: sakit kepala, perasaan terbakar pada mata

13. Cendo Timolol


Indikasi: menurunkan tekanan intraokuler penderita glaucoma
Dosis: 1 tetes, 2 kali sehari
Efek samping: gangguan penglihatan, hipotensi

14. TM Azopt
Indikasi: anti glaukoma
Dosis: 1 tetes sebanyak 2 hingga 3 kali sehari
Efek samping: mata pedih, sakit ginjal

15. Pantocain
Indikasi: anesthesia lokal
Dosis: sesuai anjuran dokter
Efek samping: mata pedih

16. Cendo Augentonic


Indikasi: mengatasi iritasi non infeksi, mengatasi radang dan alergi pada mata,
menguatkan pandangan mata
Dosis: 3 kali sehari, 1 hingga 2 tetes
Efek samping: mata pedih, mata terasa lengket

17. Cendo Lyteers


Indikasi: memberi cairan pada mata yang memakai lensa kontak, air mata buatan
Dosis: 1 hingga 2 tetes sehari
Efek samping: mata merah

18. Cendo Vision


Indikasi: mengatasi iritasi dan mata lelah
Dosis: 1 hingga 2 tetes, 2 hingga 3 kali sehari
Efek samping: mata pedih, tremor, berkeringat, hipertensi, sakit kepala

19. Voltaren Opthma


Indikasi: mengatasi inflamasi setelah operasi katarak, menghambat miosis saat
operasi katarak
Dosis: 5 tetes selama 3 jam sebelum operasi dan 3 tetes segera setelah operasi atau
atas petunjuk dokter
Efek samping: sakit kepala, vertigo, ruam kulit

20. Vision
Indikasi: mengatasi iritasi mata, dan mengatasi mata lelah
Dosis: 1 hingga 2 tetes, 2 hingga 3 kali sehari
Efek samping: mata merah, sakit kepala
C. CARAPENGGUNAAN

D. CARA
PEMBUATAN
Penjelasan prosedur pembuatan tetes mata :
Dalam pembuatan sediaan tetes mata ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu
pertama melakukan kalibrasi botol sebagai wadah sediaan. Kemudian alat – alat
praktikum yang akan digunakan disterilkan ke dalam oven dengan suhu 121ᵒC selama 15
menit. Dilanjutkan dengan Mensterilkan bahan yang dibutuhkan dengan memasukkannya
ke dalam oven suhu 45ᵒC selama 15 menit.
Bahan aktif yang digunakan yaitu dexamethasoni ditimbang sebanyak 50 mg dan
dilarutkan dalam 50 ml API (Aqua Pro Injectione) untuk pengenceran, lalu diambil 1,2 ml
dimasukkan dalam beaker glass. Kemudian DitimbangNaCl 89 mg, Asam Sitrat 200 mg,
Natrium Fosfat 490 mg, dan dilarutkan masing masing bahan yang ditimbang dengan API
qs ad larut dan dimasukkan kedalam hasil pelarutan dexamethasone. Selanjutnya diambil
Metil Merkuri 1 tetes, di teteskan kedalam campuran sampai homogeny dan dimasukkan
hasil campuran kedalam botol tetes samba disaring serta ditambahkan API ad 10 ml.

E. KOMPOSISI
Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk
mempertahankan potensi dan mencegah peruraian. Bahan tambahan itu meliputi :
1. Pengawet
Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan untuk mencegah perkembangan
mikroorganisme yang mungkin terdapat selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk
tetes mata khusus, yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan fenil
merkuri nitrat, fenil etil alcohol dan benzalkonium klorida.
2. Isotonisitas dengan Sekresi Lakrimal
NaCl normalnya digunakan untuk mencapai tekanan osmotik yang sesui
dengan larutan tetes mata.
3. Oksidasi Obat
Banyak obat mata dengan segera dioksidasi dan biasanya dalam beberapa
kasus termasuk bahan pereduksi. Natrium metasulfit dalam konsentrasi 0,1%
umumnya digunakan untuk tujuan ini.
4. Konsentrasi Ion Hidrogen
Butuh untuk kestabilan konsentrasi ion hidrogen, dan beberapa buffer telah
digambarkan.Sodium sitrat digunakan dalam tetes mata fenilefrin.
5. Bahan Pengkhelat
Ketika ion-ion dan logam berat dapat menyebabkan peruraian obat dalam
larutan digunakan bahan pengkhelat yang mengikat ion dalam kompleks organik,
akan memberikan perlindungan. Na2EDTA, satu yang paling dikenal sebagai
pengkhelat.
6. Viskositas
Untuk menyiapkan larutan kental dengan memberi aksi yang lama pada
larutan mata dengan tetap kontak lebih lama pada permukaan mata, bahan pengental
dapat digunakan, metilselulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini.

F. PENYIMPANAN DAN BATAS WAKTU PENGGUAAN


Secara umum obat mata disimpan pada suhu kamar, dalam wadah tertutup rapat dan
terlindung dari cahaya matahari.Ada obat mata tertentu yang harus disimpan dalam lemari es
(bukan freezer), namun setelah kemasan dibuka dapat disimpan pada suhu ruangan ber-AC
(>25 derajat Celcius) maksimal 2 hari. Apabila obat disimpan dalam lemari es (2-8 derajat
Celcius) dapat bertahan maksimal 3 hari.
Obat tetes mata rata-rata hanya boleh digunakan 1 bulan karena kemungkinan besar
telah terinfeksi selama penggunaannya. Jika ternyata obat-obatan di rumah Anda telah
melewati masa kadaluarsa seperti yang tercantum di kemasan obat, sebaiknya obat tersebut
segera disingkirkan karena jika dikonsumsi akan menimbulkan gejala keracunan obat seperti:

 Sakit pada bagian dada.


 Mual dan muntah.
 Sakit perut dan diare
 Kesulitan bernapas, bau napas tidak normal.
 Pusing atau sakit kepala.
 Kejang atau bahkan tidak sadarkan diri.
 Batuk-batuk.
 Bibir kebiruan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat dilihat bahwa obat tetes mata haruslah :
a. Steril
b. Bebas dari partikel tersuspensi kecuali bentuk suspense
c. Sedapat mungkin isotonis dan isohidris
d. Dibufer
e. Dalam wadah kecil, praktis dan steril
f. Mengandungzatbakteriostatikuntukmenjagasterilitasdanstabilitas
Formulasi suspense obat mata dapat dibuat jika diperlukan untuk membuat produk
yang bertujuan mengingkatkan waktu kontak kornea, atau diperlukan untuk obat tidak larut
atau tidak stabil dalam pembawa air.

B. SARAN
Sebelum memberikan larutan atau suspense oftalmik sebaiknya pengguna mencuci
tangan sampai bersih. Selama penanganan dan pemberian obat mata, harus berhati-hati agar
penetes tidak berkontak dengan mata, kelopak mata, atau permukaan lain.

DAFTAR PUSTAKA

Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres


Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Anonim. Farmakope Herbal
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press
Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV. Jakarta: PT.
Anem Kosong Anem (AKA).
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta
Departement of pharmaceutical Science. 1982. Martindale the Extra Pharmacoeia 28th
edition. London: The Pharmaceutical Press.
Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI), edisi 10.
Jakarta: Grafidian medi press. (#Akfar PIM/2010)
Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press
Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight Edition. The Parmaceutical Press,
London. 1982.
MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT Infomaster.
Pharmacopee Ned edisi V
Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan
Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London;
The Pharmaceutical Press.