Anda di halaman 1dari 21

KONSEP DASAR METODE

PENELITIAN KOMBINASI

A.Landasan Filsafat

Metode penelitian kombinasi adalah metode penelitian yang menggabungkan


antara metode kuantitatif dan metode kualitatif. Oleh karena itu, untuk dapat
melakukan penelitian dengan metode kombinasi (Met Kom), maka harus dipahami
terlebih dahulu karakteristik kedua metode tersebut.

Seperti telah dikemukakan pada Bab I, bahwa salah satu perbedaan antara metode
penelitian kuantitatif dan metode kualitatif terletak pada landasan filsafat, atau
aksioma dasar. Landasan filsafat terkait dengan pandangan terhadap realitas, gejala
atau data. Metode kuantitatif berlandaskan pada filsafat positivisme (positivism).
Filsafat ini berpandangan bahwa, suatu gejala itu dapat dikelompokkan, dapat
diamati, dapat diukur, bersifat sebab akibat, relatif tetap dan bebas nilai. Karena gejala
dapat dikelompokkan, maka peneliti kuantitatif dapat memilih beberapa variabel
dalam penelitiannya. Tingkat kesulitan penelitian kuantitatif dapat diukur dari jumlah
variabel yang diteliti. Misalnya penelitian untuk S1 bisa dengan dua variabel
independen satu dependen. Penelitian S2 lebih banyak dari itu, model hubungan
variabel bisa berbentuk jalur yang dianalisis dengan analisis jalur (path analysis).
Penelitian mahasiswa S3 variabel penelitiannya lebih banyak dari S2, misalnya
dengan model hubungan. variabel yang berbentuk Structural Equation Model (SEM),
yang merupakan pengembangan dari analisis jalur.

Karena gejala dapat diamati, dan diukur maka peneliti dalam melakukan
pengamatanmenggunakan alat ukur (instrumen) yang telah teruji validitas dan
reliabilitasnya. Karena gejala bersifat sebab akibat, maka peneliti dalam melakukan
penelitiannya, selain mendeskripsikan nilai variabel yang diamati, juga melakukan
penelitian yang bersifat sebab akibat, mencari pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen sehingga judul penelitiannya dengan menggunakan kata "pengaruh,
kontribusi, faktor determinan ".

Penelitian kuantitatif memandang bahwa, suatu gejala dianggap relatif tetap, tidak
berubah dalam waktu tertentu. Dengan demikian hasil penelitian kuantitatif dapat
dinyatakan valid dan reliabel dalam waktu yang relatif lama. Karena hasil penelitian
berlaku untuk waktu yang relatif lama, maka peneliti kuantitatif dapat melakukan
prediksi secara lebih akurat.

Peneliti kuantitatif dalam memandang gejala adalah bebas nilai. Bebas nilai
adalah data yang diperoleh tidak dipengaruhi faktor subyektif peneliti dan sumber
data. Hal ini terjadi karena antara peneliti dengan sumber data sering tidak
berinteraksi. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan
sampel yang diambil secara random, sehingga peneliti tidak ada kontak langsung
dengan sumber data. Dengan demikian data yang diperoleh adalah data yang obyektif
dan bebas nilai.

Metode kualitatif berlandaskan pada filsafat pospositivisme atau enterpretive.


Filsafat ini berpandangan bahwa suatu gejala bersifat holistik, belum tentu dapat
diamati dan diukur, hubungan gejala bersifat reciprocal, data bersifat dinamis dan
terikat nilai. Gejala yang holistik adalah gejala yang menyeluruh, tidak dapat dipisah-
pisahkan/diklasifikasikan. Dengan demikian peneliti dalam melakukan penelitian,
tidak meneliti hanya beberapa variabel saja, tetapi seluruh aspek yang ada pada obyek
yang diteliti, atau oleh Spradley disebut "situasi sosial". Situasi sosial meliputi, orang,
tempat dan aktivitas orang tersebut dalam tempat itu.

Penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat enterpretif, karena dalam melihat


gejala peneliti kualitatif harus menginterpretasikan terlebih dulu terhadap data yang
ditemukan. Peneliti kualitatif tidak boleh "menelan mentah-mentah" dalam membuat
kesimpulan terhadap gejala yang ditemukan, tetapi harus memberi interpretasi dan
mengujinya melalui uji keabsahan data. Sebagai contoh, peneliti melihat orang
menangis jangan langsung disimpulkan bahwa, orang tersebut sedang mengalami
kesedihan, tetapi hams dapat dipastikan, orang tersebut menangis disebabkan oleh
apa, apakah karena sedang susah atau bahagia.

Penelitian kualitatif memandang tidak semua gejala dapat diamati dan diukur.
Gejala yang mengandung makna tidak dapat diamati, tetapi dapat dirasakan. Makna
adalah data di balik data yang tampak. Orang mancing ikan adalah datayang bisa
mengandung makna. Kegiatan mancing tidak semata-mata mencari ikan tetapi
mungkin untuk hiburan. Karena banyak data kualitatif yang mengan- dung makna,
dan data tersebut bersifat kualitatif dan dinamis (tidak tetap), maka data tersebut sulit
diukur. Karena data sulit diukur dengan instrument secara kuantitatif, maka peneliti
kualitatlf akan menjadi instrumen utama dalam penelitian.

Gejala dalam penelitian kualitatif tidak bersifat sebab-akibat (kausal), tetapi lebih
bersifat reciprocal (saling mempengaruhi), sehingga penelitian kualitatif tidak ingin
mencari pengaruh antar variabel, melalui pengujian hipotesis, tetapi ingin
mengkonstruksikan gejala dalam satu model hubungan reciprocal. Dalam hubungan
reciprocal tidak diketahui mana sebab dan akibat, karena semuanya berinteraksi.
Penelitian kualitatif tidak menguji hipotesis, tetapi menemukan hipotesis.

Hasii penelitian kualitatif tidak akan bebas nilai, karena peneliti berinteraksi
dengan sumber data. Karena terjadi interaksi, maka data yang diperoleh dalam
penelitian akan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, keyakinan
yang dimiliki oleh pemberi data dan pengumpul data. Karena peneliti kualitatif
menjadi instrument utama dalam pengumpulan data, maka hasil penelitian kualitatif
bersifat subyektif pada awalnya, dan akan menjadi obyektif setelah diuji melalui uji
konfirmability.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan di sini bahwa, landasan filsafat


kedua metode penelitian tersebut sangat berbeda bahkan bertentangan, sehingga
secara teoritis ke dua metode tersebut tidak dapat dikombinasikan untuk digunakan
bersama-sama. Seperti dikemukakan oleh Thomas D. Cook and Charles Reichard
(1978) "To the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can
never be used together. Since the methods are linked to different paradigms and since
one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views, one must
also choose between the methods type". Kesimpulannya, metode kualitatif dan
kuantitatif tidak akan pernah dipakai bersama-sama, karena kedua metode tersebut
memiliki paradigma yang berbeda dan perbedaannya bersifat mutually exclusive,
sehingga dalam penelitian hanya dapat memilih salah satu metode.

Susan Stainback, (1988) "Each methodology can be used to complement the other
within the same area of inquiry, since they have different purposes or aims".
Maksudnya bahwa setiap metode dapat digunakan untuk melengkapi metode lain, bila
penelitian dilakukan pada lokasi yang sama, tetapi dengan maksud dan tujuan yang
berbeda.

Sugiyono (2006) menyatakan bahwa, pertama, kedua metode tersebut dapat


digabnngkan tetapi digunakan secara bergantian. Pada tahap pertama menggunakan
metode kualitatif, sehingga ditemukan hipotesis, selanjutnya hipotesis tersebut diuji
dengan metode kuantitatif. Kedua metode penelitian tidak dapat digabungkan dalam
waktu bersamaan, tetapi hanya teknik pengumpulan data yang dapat digabungkan.
Misalnya peneiitian kuantitatif dengan teknik pengumpulan data yang utama adalah
kuesioner. Selanjutnya untuk mengecek dan memperbaiki kebenaran data dari
kuesioner tersebut dilakukan pengumpulan data dengan teknik lain yaitu observasi
dan wawancara.

Penggabungan antara filsafat metode kuantitatif (positivistik) dan mode kualitatif


(pospositivistik/enterpretif) oleh Johnson dan Cristensen (2007) disebut filsafat
pragmatik. Dalam hal ini dinyatakan "Starting in the 1990s, many researchers
rejected the incompatibility thesis and started advocating the pragmating position
that says that both quantitative and qualitative research are very important and often
should be mixed in single research studies". Mulai tahun 1990 an, beberapa peneliti
menolak tesis yang menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif dan kuantitatif
tidak dapt digabungkan, dan mulai mengembangkan pemikiran yang pragmatis,
bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dikombinasikan dalam satu kegiatan
penelitian. "Pragmatism Philosophical position that what works is what is important
or "valid" (Johnson & Cristensen, 2007)

Newman & Benz dalam Creswell (2009) menyatakan bahwa "Quantitative and
Qualitative Approach are should not be viewed as polar opposites or dichotomy;
instead they represent different ends on a continuum”. Metode penelitian kuantitatif
dan kualitatif tidak bisa dipandang sebagai dua metode penelitian yang bersifat
dikotomi dan bertentangan satu dengan yang lain, tetapi merupakan suatu metode
yang saling melengkapi. Metode ini terletak dalam satu garis yang kontinum, pada
ujung kiri metode kuantitatif, ujung kanan metode kualitatif (atau sebaliknya) dan di
antara kedua adalah metode tersebut terletak penelitian kombinasi.

Metode kombinasi tidak harus di tengah-tengahnya, tetapi bisa, lebih berat ke


kuantitatif atau ke kualitatif. Hal ini dapat digambarkan seperti gambar 19.1 berikut.
Metode Metode
Kuantitatif Metode
Metode
Metode
Metode
Metode
Metode
Metode Kualitatif
Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi
Kombinasi

Gambar 19.1. Kedudukan Metode Penelitian Kombinasi

Melalui kajian kritis dan pengalaman praktik-praktik penggunaan berbagai


metode penelitian lapangan, temyata kedua metode penelitian tersebut dapat
dikombinasikan atau digabungkan. Dengan mengkombinasikan kedua metode
penelitian tersebut, maka metode penelitian kuantitatif dapat melengkapi kekurangan
yang ada pada metode kualitatif dan metode kuantitatif. Namun dengan menggunakan
metodc kombinasi, proses penelitian memerlukan waktu yang relatif lama, dan
peneliti harus memahami karakteristik masing-masing metode dan mampu
mengkombinasikan untuk digunakan dalam suatu penelitian.

Creswell (2009) menyatakan bahwa "A Mixed methods design is useful when
either the quantitative or qualitative approach by itself is inadequate to best
understand a research problem or the strengths of both quantitative and qualitative
research can provide the best understanding". Metode penelitian kombinasi akan
berguna bila metode kuantitatif atau metode kualitatif secara sendiri-sendiri tidak
cukup akurat digunakan untuk memahami permasalahan penelitian, atau dengan
menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi akan dapat
memperoleh pemahaman yang paling baik (bila dibandingkan dengan satu metode).

Pengertian Metode Kombinasi


Johnson dan Cristensen (2007) memberikan definisi tentang metode penelitian
kombinasi (mixed research) sebagai berikut. "Research that involve the mixing of
quantitative and qualitative approach". Penelitian yang menggabungkan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya Creswell (2009) memberikan definisi tentang
mixed methods research adalah: "is an approach to inquiry that combines or
associated both qualitative quantitative forms of research. It involves philosophical
assumptions the use of quantitative and qualitative approaches, and the mixing of
both approached in a study" Metode penelitian kombinasi merupakan pendekatan
dalam penelitian yang mengkombinasikan atau menghubungkan antara metode
penelitian kuantittif dan kualitatif. Hal itu mencakup landasan filosofis, penggunaan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan mengombinasikan kedua pendekatan dalarn
penelitian.

Creswell (2009) menyatakan bahwa, metode ini sering disebut sebagai metode
multimethods (menggunakan multi metode), convergence (dua metode bermuara ke
satu), integrated (integrasi dua metode), and combine (kombinasi dua metode).
Selanjutnya Johnson dan Cristensen (2007) menyatakan bahwa "mixed research also
is commonly call mixed methods research, bu we use the simple term mixed
research". Penelitian campuran, biasa dinamakan metode penelitian campuran, untuk
lebih sederhana dinamakan penelitian campuran atau penelitian kombinasi.

Dalam buku ini penggabungan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif
yang digunakan dalam suatu kegiatan penelitian dinamakan Metode Penelitian
Kombinasi, yang selanjutnya disingkat Metkom.

Metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian yang


mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode
kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian,
sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan obyektif.

Data yang komprehensif adalah data yang lengkap yang merupakan kombinasi
antara data kuantitatif dan kualitatif. Data yang valid adalah data yang memiliki
derajat ketepatan yang tinggi antara data yang sesungguhnya terjadi dengan data yang
dapat dilaporkan oleh peneliti. Melalui kombinasi dua metode, maka data yang
diperoleh dari penelitian akan lebih valid, karena data yang kebnarannya tidak dapat
divalidasi dengan metode kuantitatif akan divalidasi dengan metode kualitatif atau
sebaliknya. Data yang reliabel adalah data yang konsisten dari waktu ke waktu, dan
dari orang ke orang. Dengan menggunakan metode kombinasi maka reliabilitas data
akan dapat ditingkatkan, karena reliabilitas data yang tidak dpa diuji dengan metode
kuantitatifdapat diuji dengan metode kualitatif atau sebaliknya. Data yang
obyektiflawannya data yang subyektif. Jad1 data yang obyektif apabila data tersebut
disepakati oleh banyak orang. Dengan menggunakan metode kombinasi, maka data
yang diperoleh dengan metode kualitatif yang bersifat subyektif dapat ditingkatkan
obyektivitasnya pada sampel yang lebih luas dengan metode kuantitatif.

VarianMetode Kombinasi

Dengan digabungkannya metode kuantitatif dan kualitatif untuk penelitian, maka


muncul variasi dalam metode kombinasi. Johnson dan Cristensen (2007)
mengemukakan bahwa, variasi metode kombinasi merupakan interaksi antara dua
aspek, yaitu Time Order Decision (waktu mengkombinasikan) dan Paradigm
Emphasis Decision (dominasi bobot kombinasi metode). Pada Time Order Decision
meliputi dua aspek yaitu concurrent (kombinasi dicampur) dan sequential (kombinasi
berurutan), sedangkan pada aspek Paradigm Emphasis Decision meliputi aspek
Dominant Status (bobot tidak sama) dan Equal Status (bobot sama). Hal ini
ditunjukkan pada gambar 19.2.

MODEL METODE PENELITIAN KOMBINASI

Creswell (2009) mengklasifikasikan metode kombinasi seperti ditunjukk.an pada


gambar 19.3. Berdasarkan gambar 19.3 tersebut terlihat bahwa, terdapat dl,la model
utama metode kombinasi yaitu model sequential (kombinasi berurutan), dan model
concurrent (kombinasi campuran) . Model urutan (sequential) ada dua yaitu model
urutan pembuktian (sequential explanatory) dan model urutan penemuan (sequential
exploratory). Model concurrent (campuran) ada dua yaitu, model concurrent
triangulation (campuran kuantitatif dan kualitatif secara berimbang) dan concurrent
embedded (campuran penguatan/metode kedua memperkuat metode pertama). Jadi
semuanya ada enam model. Pada buku ini hanya difokuskan pada empat model yaitu
model sequential explanatory, dan sequential exploratory (masuk dalam model
sequential), model concurrent triangulation, dan concurrent embedded (masuk dalam

Sequential
Explanatory
Design
model concurrent.

Gambar 19.3. Macam metode penelitian kombinasi

1. Model Sequential

Creswell (2009) mengemukakan tentang metode kombinasi model sequential


adalah sebagai berikut . "Sequential Mixed Methods procedure are those in which the
researcher seeks to elaborate on or expand on the finding of one methods with
another methods" Metode kombinasi model sequential adalah suatu prosedur
penelitian dimana peneliti mengembangkan hasil penelitian dari satu metode dengan
metode yang lain.

Metodeini dikata!rnn sequential, karena penggunaan metode dikombinasikan


secara berurutan. Bila urutan pertama menggunakan rnetode kuantitatif, dan urutan
kedua menggunakan kualitatif , maka rnetode tersebut dinarnakan kombinasi
modelsequentialexplanatory dan bila urutan pertama menggunaka.n metode kualitatif
dan urutan kedua menggunakan metode kuantitatif , maka metode tersebut
dini:imakan metode penelitiankombinasimodelsequential explanatory.

a. Sequential Explanatory Design

Dalam hal sequential, sequential explanatory ini Creswell (2009) menyatakan


"Explanatory Strategy in mixed methods research is characterized by the collection
and analysis of quantitative data in a first phase followed by the collection and
analysis of qualitative data in a second phase that build on the result of initial
quantitative results" Metode penelitian kombinasi model sequential explanatory,
dicirikan dengan pengumpulan data dan analisis data kuantitatif pada tahap pertama,
dan diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap ke dua, guna
memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama

b. Sequential Exploratory Design

Sequential Exploratory Strategy in mixed methods research involves a first phase


of qualitative data collection and analysis followed by a second phase of quantitative
data collection and analysis that builds on the results of the first qualitative phase
(Creswell, 2009).

Metode ini sama dengan metode sequential explanatory, hanya dibalik, di mana
pada metode ini pada tahap awal menggunakan metode kualitatif dan tahap
berikutnya menggunakan metode kuantitatif. Bobot metode lebih pada metode tahap
pertama yaitu metode kualitatif dan selanjutnya dilengkapi dengan metode kuantitatif.
Kombinasi data kedua metode bersifat connecting (menyarnbung) hasil penelitian
tahap pertama (hasil penelitian kualitatif) dan tahap berikutnya asil penelitian
kuantitatit). Kelemahan dari metode ini adalah bahwa penelitian memerlukan waktu,
tenaga dan biaya yang lebih besar. .

Burke Johnson; Larry Christensen (2008) memberikan ilustrasi perbedaan antara


desain sequential explanatory dan desain sequential exploratory seperti ditunjukkan
pada gambar 19.4 berikut. Berdasarkan gambar tersebut terlihat hubungan antara
desain sequential explanatory dengan desain sequential exploratory dalam bentuk
"roda penelitian" ( research wheel).

Gambar 19.4. Roda Penelitian

Desain sequential explanatory disebut dengan Confirmatory methods, yang lebih


bersifat "top-down or theory-testingapproachto research" Yang dimaksud dengan top-
down or theory- testing, adalah suatu penelitian kuantitatif yang pada umumnya
bertujuan menguji hipotesis dengan fakta di lapangan, sedangkan desain explanatory
methods bersifat "bottom-up or theory generation to research". Yang dimaksud
dcngan bottom-up or theory generation to research. adalah suatu mctode kualitatif
yang umumnya bertujuan untuk menghasil kan hipotesis atau teori .
c. Sequential TransformativeStrategy

Metode kuantitatif/kombinasi model Sequential Transformative Design Creswell


(2009) menyatakan sebagai berikut.

The sequential transformativestrategy is a two phase project with theorical lens


(gender, race, social science) overlaying the sequential procedures. It too has an
initial phase(either quantitative orqualitative)followed by a second phase (either
(either quantitative orqualitative)that’s builds on either phase. The theoretical lens is
introduce in the introduction to a proposal, shapes a directional research question
aimed at exploring a problem

Model ini dilakukan dalam dua tahap dengan dipandu oleh teori lensa (gender,
ras, ilmu sosial) pada setiap prosedur penelitian- nya. Tahap pertama bisa
menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif dan dilanjutkan pada tahap berikutnya
dengan metode kualitatif atau kuantitatif. Teori lensa dikemukakan pada bagian
pdahuluan proposal penelitian untuk memandu dirumtskannya pertanyaan penelitian
untuk menggali masalah.

2. Model Concurrent

Concurrent Mixed Methods: procedures are those in which the researcher


converges or merges quantitative and qualitative data in order to provide a
comprehensive analysis of the research problems (Creswell 2009). Metode kombinasi
model campuran, merupakan prosedur penelitian di mana peneliti menggabungkan
data kuantitatif dan kualitatif agar diperoleh analisis yang komprehensif guna men-
jawab masalah penelitian.

Kalau dalam tipe sequential, penggabungan metode dilakukan secara berurutan


dalam waktu yang berbeda, sedangkan dalam tipe concurrent penggabungan dengan
cara dicampur dalam waktu yang sama. Dalam hal ini metode kuantitatif/kombinasi
digunakan untuk menjawab satu jenis rumusan masalah atau satu jenis pertanyaan
penclitian. Pada tipe ini terdapat tiga model yaitu: Concurrent Triangulation strategy;
concurrent embedded strategy, dan concurrent transformative strategy.
a. Concurrent Triangulation Strategy

Concurrent Triangulation: strategy in mixed methods is an approach in which


the researcher collects both quantitative and qualitative data concurrently and then
compares the two databases to determine if there is convergence, different or some
combination (Creswell, 2009).

Model atau strategi ini merupakan model yang paling familier di antara enam
model dalam metode kuantitatif/kombinasi/mixed methods. Dalam model ini peneliti
menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama-sama, baik dalam
pengumpulan data maupun analisisnya, kemudian membandingkan data yang
diperoleh, untuk kemudian dapat ditemukan mana data yang dapat digabungkan, dan
dibedakan.

Dalam model ini, penelitian dilakukan dalarn satu tahap tetapi dengan
menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama-sama. Bobot antara
metode kuantitatif dan kualitatif yang digunakan dalam penelitian mestinya
seirr..bang, namun dalam praktiknya bisa metode yang satu bobotnya lebih tinggi atau
lebih rendah dari yang lain. Penggabungan data dilakukan pada penyajian data
interprestasi dan pembahasan .

b. Concurrent Embedded Strategy

Concurrent Embedded : strategy of mixed methods research can be identified by


its use data collection phase, during which both quantitative and qualitative data are
collected simultaneously. Unlike the traditional triangulation model, a concurrent
embedded has primary methods that guides the project and a secondary methods that
provide a supporting role in the procedure (Creswell , 2009).

Metode penelitian kombinasi model embedded, merupakan metode penelitian


yang mengkombinasikan penggunaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif
secara simultan/bersama-sama (atau sebaliknya), tetapi bobot metodenya berbeda.
Pada model ini ada metode yang primer dan metode sekunder. Metode primer
digunakan untuk memperoleh data yang utama, dan metode sekunder digunakan
untuk memperoleh data guna mendukung data yang diperoleh dari metode primer.
Morse (1991) menyatakan "a primarily qualitative design could embed
quantitative data to enrich the description of the sample participant. Like wise, she
describe how qualitative data could be used to describe an aspect of quantitative
study that cannot be quantitative "

c. Concurrent Transformatif Strategy

Dalam hal ini Creswell menyatakan " s with the sequential tranformative model,
the concurrent transformative approach is guided by the research's use of a specific
theoretical perspective as well as the concurrent collection of both quantitative and
qualitative data" Seperti dalam model sequential transformative, pada model
concurrent transformatif peneliti juga dipandu dengan menggunakan teori perspektif
baik teori kuantitatif maupun kualitatif. Teori perspektif ini seperti: critical theory,
advocacy, participatory research, or a conceptual or theoretical framework.
Selanjutnya dinyatakan "It is the driving force behind all methodological choices,
such as defining the problem, identifying the design and data source, analyzing,
interpreting, and reporting results" .

Metode concurrent transformative merupakan gabungan antara model


triangulation dan embedded. Dua metode pengumpulan data dilakukan pada satu
tahap/fase penelitian dan pada waktu yang sama. Bobot metode bisa sama dan
bisa tidak sama. Penggabungan data dapat dilakukan dengan merging, connecting
atau embedding (mencampur dengan bobot sama, menyambung, dan mencampur
dengan bobot tidak sama).

Buku ini memfokuskan metode penelitian kombinasi pada model Sequential


Explanatory Design (Urutan pembuktian), Sequential Exploratory Design Urutan
penemuan), Concurrent Triangulation Design (campuran Trianggulasi) dan
Concurrent Embedded Design (campuran embedded). Masing-masing model atau
desain diberikan pada Bab XX, XXI, XXII, XXIII).
STRATEGI-STRATEGI PENELITIAN METODE CAMPURAN DAN
MODEL-MODEL VISUALNYA

Ada beberapa tipologi yang bisa dimanfaatkan peneliti untuk memilih jenis
strategi metode campuran yang akan digunakan dalam penelitiannya. Creswell dan
Plano Clark (2007) mengidentifikasi 12 sistem klasifikasi strategi penelitian metode
campuran yang didasarkan pada ranah-ranah yang berbeda, seperti evaluasi,
perawatan kesehatan publik, kebijakan dan penelitian pendidikan, serta penelitian
sosial dan behavioral. Dalam klasifikasi-klasifikasi ini, setiap strategi memiliki istilah
yang berbeda-beda, meskipun ada sejumlah hal substansial yang mirip dan
overlapping dalarn rancangan-rancangan tersebut. Berikut ini, saya jelaskan enam
strategi penelitian metode campuran yang.sudah saya dan rekan-rekan saya gunakan
sejak 2003 (Creswell et al., 2003).

Merencanakan Prosedur-Prosedur Metode Campuran

Sebelum membahas enam strategi ini, penting kiranya untuk mernpertimbangkan


terlebih dahulu sejumlah aspek penting dalam merancang prosedur-prosedur untuk
penelitian metode campuran . Aspek-aspek tersebut antara lain: timing (waktu),
weighting (bobot), mixing (pencampuran), dan teorizing (teorisasi) seperti yang dapat
dilihat dalam Garnbar 10.1.

Timing Bobot/Prioritas Pencampuran Teorisasi

Konkuren/Tidak Menggabungkan
Seimbang
Sekuensial (Integrating) Eksplisit

Tahap Pertama Menghubungkan


Kualitatif
Kualitatif-Sekuensial (Connecting)

Tahap Pertama Menancapkan Implisit


Kuantitatif
Kuantitatif-Sekensial (Embedding)

Gambar 10.1 Aspek-Aspek yang Perlu Dipertimbang!<an dalam Merancang


Penalitian Metode Campuran

Sumber: Diaptasi dari Creswell et al. (2003)

Timing (Waktu)

Peneliti harus mempertimbangkan waktu dalam pengumpulan data kualitatif dan


kuantitatifnya : apakah data akan dikumpulkan secara bertahap (sekuensial) atau
langsung dikurnpulkan sekaligus dalam satu waktu (konkuren). Ketika data
dikumpulkan secara bertahap, peneliti perlu menentukan data apa saja yang akan
dikumpulkan terlebih dahulu: apakah data kuantitatif atau data kualitatif. Hal ini
bergantung pada tujuan awal peneliti. Ketika data kualitatif yang terlebih dahulu
dikumpulkan, berarti tujuannya adalah untuk mengeksplorasi topik penelitian dengan
cara mengamati para partisipan di lokasi penelitian. Setelah itu, peneliti memperluas
pemahamannya melalui tahap kedua, kuantitatif, yang di dalamnya data dikumpulkan
dari sejurnlah besar partisipan (yang biasanya dianggap sebagai sampel penelitian).
Ketika data dikumpulkan secara konkuren, berarti data kualitatif maupun data
kuantitatif sama-sama dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu, dan pelaksanaannya
berlangsung serempak. Dalam beberapa proyek penelitian, terkadang memang tidak
efektif mengumpulkan data secara bertahap dalam jangka waktu yang lama (misalnya,
dalam ilmu kesehatan dimana para dokter tidak punya banyak Waktu untuk
mengumpulkan data di lapangan). Dalam hal ini, ketika peneliti berada dalam lokasi
penelitian, mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif dalam satu waktu sering kali
lebih efektif ketimbang mengumpulkannya secara bertahap.

Weighting (Bobot)

Faktor kedua yang perlu diperha tikan dalam merancang prosedur-prosedur


metode campuran adalah bobot atau prioritas yang diberikan antara metode kuantitatif
dan kualitatif. Dalam beberapa penelitian, bobot ini bisa saja seimbang, narnun dalam
beberapa penelitian lain, bobot tersebut bisa lebih berat ke satu metode daripada
metode yang lain. Prioritas pada satu metode bergantung pada minat peneliti,
keinginan pembaca (seperti, pihak fakultas, organisasi profesional), dan hal apa yang
ingin diutamakan oleh peneliti. Dalam kerangka yang lebih praksis, bobot dalam
penelitian metode campuran ini bisa dipertimbangkan melalui beberapa hal, antara
lain apakah data kualitatif atau data kuantitatif yang akan diutamakan terlebih dahulu,
sejauh mana treatment terhadap masing-masing dari dua jenis data tersebut, atau
apakah pendekatan induktif (seperti, membangun tema-tema dalam kualitatif) atau
pendekatan deduktif (seperti, menguji suatu teori) yang akan diprioritaskan.
Terkadang, peneliti memang sengaja lebih memprioritaskan satu jenis data untuk
penelitian tertentu, eperti dalam percobaan-percobaan eksperimen (lihat Rogers et al.,
2003).
Mixing (Pencampuran)

Mencampur data (atau dalam pengertian yang lebih luas, mencampur rumusan
ma salah, filosofi, clan interpretasi penelitian) bukanlah pekerjaan yang mudah
mengingat data kualitatif terdiri dari teks-teks dan gambar-gambar, sedangkan data
kuantitatif terdiri dari angka-angka. Ada dua pertanyaan yang perlu diajukan dalam
hal ini: Kapan peneliti harus melakukan pencampuran ( mixing) dalam penelitian
metode campuran? Dan bagaimana proses pencampuran ini? Pertanyaan pertama
lebih mudah dijawab ketimbang pertanyaan kedua . Pencampuran dua jenis data bisa
saja diiakukan dalam beberapa tahap: tahap pengumpulan data, tahap analisis data,
tahap interpretasi, atau bahkan dalam ketiga tahap ini sekaligus. Bagi para pembuat
proposal yang menggunakan metode campuran ini, mereka perlu menjelaskan dan
menyajikan dalam proposalnya kapan proses pencampuran tersebut terjadi. .

Bagaimana data dicampur? Ini menjadi salah satu perhatian utama di kalangan
para pakar metodologi penelitian baru-baru ini (Creswell & Plano Clark, 2007).
Mencampur (rnixing) berarti bahwa data kualitatif dan kuantitatif benar-benar
dileburkan dalam satu end of continuum, dijaga keterpisaha,mya dalam end of
continuum yang lain, atau dikombinasikan dengan beberapa cara yang lain. Dua data
ini bisa saja ditulis secara terpisah, namun keduanya tetap dihubungkan satu sama lain
secara implisit. Misalnya, dalam proyek dua-tahap yang diawali oleh tahap kuantitatif,
analisis data dan hasilnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi para partisipan
yang dikumpulkan pada tahap selanjutnya, yakni pada tahap pengumpulan data
kualitatif. Dalam situasi ini, baik data kuantitatif maupun data kualitatif, saling
dihubungkan (connecting) satu sama lain selama tahap-tahap penelitian.
Keterhubungan ini tergambar dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang terhubung
selama analisis data pada tahap pertama dan pengumpulan data pada tahap kedua.

Dalam proyek yang lain, peneliti bisa saja mengumpulkan data kuantitatif dan
kualitatif secara konkuren dan menggabungkan (integrating) database keduanya
dengan mentransformasikan tema-tema kualitatif menjadi angka-angka yang bisa
dihitung (secara statistik) dan membandingkan hasil penghitungan ini dengan data
kuantitatif deskriptif. Dalam hal ini, pencampuran berarti menggabungkan dua
database dengan meleburkan secara utuh data kuantitatif dengan data kualitatif .

Dalam skenario proyek terakhir, peneliti bisa saja lebih cenderung untuk
mengumpulkan satu jenis data (katakanlah kuantitatif) yang didukung oleh jenis data
lain (katakanlah kualitatif) yang sudah ia miliki sebelumnya. Dalam hal ini, peneliti
tidak menggabungkan dua jenis data yang berbeda dan tidak pula menghubungkan
dua tahap penelitian yang berbeda . Sebaliknya, ia justru tengah menancapkan
(embedding) jenis data sekunder (kualitatif) ke dalam jenis data primer (kuantitatif )
dalam satu penelitian . Da tabase sekunder memainkan peran pendukung dalam
penelitian ini.

Teorisasi dan Perspektif-Perspektif Transformasi

Faktor terakhir yang perlu dipertimbangkan seorang peneliti dalam meranang


prosedur metode campuran adalah perspektif teoretis apa yang akan menjadi landasan
bagi keseluruhan proses/tahap penelitian. Perspektif ini bisa berupa teori yang berasal
dari ilmu-ilmu sosial (seperti, teori adopsi, teori kepemimpinan, teori atribusi) atau
perspektif-perspektif teoretis lain yang lebih luas, semacam advokasi/partisipatoris
(misalnya, gender, ras, kelas) (lihat Bab 3). Semua peneliti membawa teori-teori ke
dalam penelitian rnereka, dan teori-teori ini dapat ditulis secara eksplisit dalam
penelitian rnetode campuran, tetapi bisa juga ditulis secara implisit, bahkan tidak
disebutkan sarna sekali.

Di sini, kita akan fokus pada penggunaan teori-teori yang eksplisit. Dalam
penelitian metode carnpuran, teori biasanya rnuncul di bagian awal peneiitian untuk
rnembentuk rurnusan rnasalah yang diajukan, siapa yang berpartisipasi dalam
penelitian, bagairnana data dikumpulkan, dan implikasi-implikasi yang diharapkan
dari penelitian (biasanya demi perubahan dan advokasi). Setiap teori pada umumnya
menyediakan perspektif utuh yang bisa diterapkan dalam semua strategi penelitian
metode campuran (akan dibahas sebentar lagi). Mertens (2003), misalnya. Ia
rnenyajikan pembahasan yang menarik tentang bagaimana perspektif transforrnasi
mernbentuk tahap- tahap penelitian metode campuran.

Strategi Eksploratoris Sekuensial

Strategi ini mirip dengan strategi sebelumnya, hanya tahap pengumpulan dan
anaiisis datanya saja yang dibalik. Strategi eksploratoris sekuensial melibatkan
pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap pertama, yang kemudian diikuti
oleh pengumpulan dan analisis data kuantiatif pada tahap kedua yang didasarkan pada
hasil-hasil tahap pertama. Bobot/prioritas lebih cenderung pada tahap pertama, dan
proses pencampuran (mixing) antarkedua metode ini terjadi ketika peneliti
menghubungkan antara analisis data kualitatif dan pengumpulan data kuantitatif.
Strategi eksploratoris sekuensial bisa, atau tidak bisa, diimplimentasikan berdasarkan
perspektif teoretis tertentu (lihat Gambar 10.2b).

Pada level yang paling dasar, tujuan dari strategi ini adalah menggunakan data
dan hasil-hasil kuantitatif untuk membantu menafsirkan penemuan-penemuan
kualitatif. Tidak seperti strategi eksplanatoris sekuensial, yang lebih cocok untuk
menjelaskan dan menginterpretasi hubungan-hubungan, fokus utama dalam strategi
eksploratoris sekuensial adalah mengeksplorasi suatu fenomena. Morgan (1998)
menyatakan bahwa strategi ini cocok digunakan untuk menguji elemen-elemen dari
suatu teori yang dihasilkan dari tahap kualitatif. Lebih dari itu, strategi ini juga dapat
digunakan untuk melakukan generalisasi atas penemuan-penemuan kualitatif pada
sampel-sampel yang berbeda. Begitu pula, Morse (1991) menyatakan bahwa salah
satu tujuan dipilihnya strategi ini adalah untuk menentukan distribusi suatu fenomena
dalam populasi yang dipilih. Pada akhirnya, strategi eksploratoris sekuensial sering
kali dipilih sebagai prosedur penelitian ketika peneliti perlu membuat suatu instrumen
disebabkan instrumen yang ada tidak layak atau tidak tersedia. Untuk membuat
instrumen ini, peneliti perlu melewati tiga tahap: pertama-tama, mengumpulkan data
kualitatif dan menganalisisnya (Tahap 1), lalu menggunakan analisis tersebut untuk
membuat suatu instrumen (Tahap 2), yang kemudian diatur untuk ke- perluan
sampel populasi (Tahap 3) (Creswell & Plano Clark, 2007).

Strategi eksploratoris sekuensial memiliki banyak keunggulan sebagaimana


strategi sebelumnya. Pendekatan dua-tahap ini (penelitian kualitatif yang diikuti oleh
penelitian kuantitatif) membuat strategi inimudah diwujudkan, dideskripsikan, dan
dilaporkan. Strategi ini tepat digunakan oleh peneliti yang ingin mengeksplorasi
suatu fenomena, tetapi juga ingin memperluas penemuan--penemuan kualitatifnya.
Selain itu, strategi ini dapat membuat penelitian kualitatif yang sangat luas menjadi
nyaman dibaca oleh pembimbing, panitia, atau komunitas penelitian yang terbiasa
dengan penelitian kuantitatif. Seperti halnya strategi eksplanatoris sekuensial, strategi
eksploratoris sekuensial juga mengharuskan peneliti untuk melewati waktu yang
relatif lama dalam menyelesaikan tahap-tahap pengumpulan data, yang tentu saja
lemah untuk beberapa situasi penelitian tertentu. Selain itu, peneliti juga hams
membuat keputusan penting tentang penemuan-penemuan awal kualitatif apa saja
yang akan difokuskan dalam tahap kuantitatif berikutnya (seperti, satu tema,
perbandingan antarkelompok, tema-tema ganda).

Strategi Triangulasi Konkuren

Strategi triangulasi konkuren mungkin menjadi satu-satunya strategi dari enarn


strategi metode campuran yang paiing populer saat ini (lihat gambar l0.3a). Dalam
strategi triangulasi konkuren, peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif
secap konkuren (dalam satu waktu), kemudian membandingkan dua database ini
untuk rnengetahui apakah ada konvergensi, perbedaan-perbedaan, atau beberapa
kombinasi. Sebagian penulis menyebut perbandingan ini dengan istilah konfirmasi,
diskonfirmasi, lintas-validasi, atau corroboration (Greene, Caracelli, & Graham, 1989;
Morgan, 1998; Steckler, McLeroy, Goodman, Bird, & McCormick, 1992). Strategi ini
pada umumnya menerapkan metode kuantitatif dan kualitatif secara terpisah untnk
menutupi/menyeimbangkan kelemahan-kelemahan satu metode dengan kekuatan-
kekuatan metode yang lain (atau sebaliknya, kekuatan satu metode menambah
kekuatan metode yang lain). Dalam strategi ini, pengumpulan data kuantitatif dan
kualitatif dilakukan secara bersamaan (konkuren) dalam satu tahap penelitian.
Idealnya, bobot antara dua metode ini setara / seimbang, tetapi dalam praktiknya,
sering kali ada prioritas yang lebih dibebankan pada satu metode ketimbang pada
metode yang lain.

Dalam strategi ini, pencampuran (mixing) terjadi ketika peneliti sampai pada
tahap interpretasi dan pembahasan. Pencampuran tersebut dilakukan dengan
meleburkan dua data penelitian menjadi satu (seperti, mentransformasi satu jenis data
menjadi jenis data lain sehingga keduanya dapat mudah diperbandingkan) atau
dengan mengintegrasikan atau mengompa rasikan hasil-hasil dari dua data tersebut
secara berdampingan dalam pembahasan. Integrasi berdampingan ini (side-by-side
integration) banyak dijumpai dalam penelitian-penelitian metode campuran
terpublikasi yang bagian pembahasan di dalamnya selalu menyajikan hasil-hasil
statistik (kuantitatif) terlebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh kuota-kuota kualitatif
yang mendukung atau menolak hasil-hasil tersebut.

Strategi transformatif konkuren ini memiliki banyak manfaat selain karena sudah
populer di kalangan peneliti, strategi ini juga dapat menghasilkan penemuan yang
substantif dan benar-benar tervalidasi. Saya sering menjumpai bahwa para peneliti
yang ingin melakukan penelitian metode campuran hampir selalu menggunakan
strategi ini dalam rnengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif, dan mentbandingkan
kedua data tersebut. Apalagi, pengumpulan data konkuren membutuhkan jangka
waktu pengumpulan data yang reltif sebentar jika dibandingkan dengan pengumpulan
data sekuensial. Hal ini disebabkan data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan
sekaligus dalam satu waktu di lokasi penelitian.

Meski demikian, strategi ini juga memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya
adalah karena strategi ini membutuhkan usaha keras dan keahlian khusus dari peneliti
untuk mengkaji fenomena dengan dua metode yang berbeda. Kerumitan strategi ini
juga terletak pada keharusan untuk membandingkan hasil-hasil dari dua analisis
dengan dua data yang berbeda. Selain itu, peneliti bisa saja bingung bagaimana
mengatasi ketidaksesuaian-ketidaksesuaian yang sering kali muncul ketika
membandingkan hasil-hasil penelitian, meskipun cara-cara mengatasi masalah ini
sudah banyak dibahas dalam literatur, seperti mengumpulkan data tambahan untuk
memecahkan ketidaksesuaian, memeriksa kembali database asli, memperoleh gagasan
baru dari ketidaksamaan data, atau membuat proyek baru yang membahas
ketidaksesuaian tersebut (Creswell & Plano Clark, 2007)