Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS I ASUHAN KEPERAWATAN PADA TUMOR JINAK SISTEM REPRODUKSI

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS I ASUHAN KEPERAWATAN PADA TUMOR JINAK SISTEM REPRODUKSI FASILITATOR: Retnayu Pradanie, S. Kep.,

FASILITATOR:

Retnayu Pradanie, S. Kep., Ns., M. Kep

DISUSUN OLEH:

Yuliani Puji Lestari

131611133003

Ni'matush Sholeha

131611133009

Reffy Shania Novianti

131611133010

Nabila Hanin Lubnatsary

131611133011

Dinda Dhia Aldin kholidiyah

131611133041

Novalia Puspitasary

131611133044

Septin Srimentari Lely Darma

131611133046

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan Makalah tentang “Asuhan Keperawatan Pada Tumor Jinak Sistem ReproduksiMakalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata pelajaran Keperawatan Maternitas I. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Dosen Pembimbing dan Rekan-rekan satu kelompok yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari Dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Surabaya, 19 Maret 2018 Penyusun

Kelompok 5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

i

DAFTAR ISI

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1

1.1

Latar Belakang

1

1.2

Rumusan Masalah

2

1.3

Tujuan

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1

Mioma Uteri

3

2.1.1

Definisi

3

2.1.2

Klasifikasi

4

2.1.3

Etiologi

4

2.1.4

Manifestasi Klinis

..........................................................................

5

2.1.5

Penatalaksanaan Mioma Uteri

6

2.1.6

WOC

8

2.1.7

Komplikasi

8

2.1.8

Pemeriksan Fisik dan Diagnostik

9

2.2

Asuhan Keperawatan Mioma uteri

10

2.3

Kista ovarium

................................................................................................

20

2.3.1

Definisi Kista Ovarium

.................................................................

20

2.3.2

Klasifikasi Kista Ovarium

20

2.3.3

Etiologi ..........................................................................................

24

2.3.4

Manifestasi Klinis

26

2.3.5

Patofisiologi ..................................................................................

27

2.3.6

Pemeriksaan Diagnostik

28

2.3.7

Penatalaksanaan Medis

29

2.3.8

Komplikasi

....................................................................................

30

2.3.9

WOC Kista Ovarium

32

2.4

Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

33

BAB III PENUTUP

 

41

5.1

Kesimpulan

41

5.2

Saran

42

DAFTAR PUSTAKA

 

43

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Derajat kesehatan salah satunya didukung dengan kaum wanita yang memperhatikan kesehatan reproduksi karena hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu masalah kesehatan pada kaum wanita yang insidensinya terus meningkat adalah mioma uteri. Mioma uteri menempati urutan kedua setelah kanker serviks berdasarkan jumlah angka kejadian penyakit. Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui secara pasti, diduga merupakan penyakit multifaktor karena memiliki banyak faktor dan resikonya meningkat seiiring dengan bertambahnya usia. Selain mioma uteri, kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang banyak menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau kanker. Penelitian Marino (2004) di Italia melaporkan 73 kasus mioma uteri dari 341 wanita terjadi pada usia 30-60 tahun dengan prevalensi 21,4%. Penelitian Boynton (2005) di Amerika melaporkan 7.466 kasus mioma uteri dari 827.348 wanita usia 25-42 tahun dengan prevalensi 0,9%. Penelitian Pradhan (2006) di Nepal melaporkan 137 kasus mioma uteri dari 1.712 kasus ginekologi dengan prevalensi 8%. Sedangkan penelitian mengenai kista ovarium di Jawa Tengah, berdasarkan laporan program Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang berasal dari Rumah Sakit atau Puskesmas tahun 2010, kasus penyakit tumor jinak terdapat 7.345 kasus terdiri dari tumor jinak 4.678 (68%) kasus dan tumor ganas 2.667 (42%) kasus, kasus terbanyak ditemukan di kota Semarang (Dinkes Jateng, 2010) Berdasarkan penelitian tersebut, kewaspadaan wanita terhadap resiko mioma uteri dan kista ovarium sangat dibutuhkan. Dalam hal ini peran perawat berpengaruh dalam menjawab kebutuhan klien dengan mioma uteri. Yaitu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan mioma

uteri atau kista ovarium, serta menjalankan fungsi perannya sebagai health edukator.

  • 1.2 Tujuan

    • 1.2.1 Umum Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan asuhan keperawatan dengan Mioma Uteri dan Kista Ovarium.

    • 1.2.2 Khusus

      • 1. Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi dan penatalaksanaan Mioma Uteri

      • 2. Menjelaskan proses asuhan keperawatan dengan Mioma Uteri

      • 3. Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi dan penatalaksanaan Kista Ovarium

      • 4. Menjelaskan proses asuhan keperawatan dengan Kista Ovarium

  • 1.3 Manfaat

    • 1. Mahasiswa mampu memahami tentang Mioma Uteri dan Kista Ovarium sehingga dapat menunjang pembelajaran perkuliahan pada mata kuliah Keperawatan Maternitas I.

    • 2. Mahasiswa mampu memahami proses asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan Mioma Uteri dan Kista Ovarium sehingga dapat menjadi bekal saat melakukan proses asuhan keperawatan selama di Rumah Sakit.

  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Mioma Uteri 2.1.1 Definisi

    Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium dengan ciri tersendiri, bulat, keras, berwarna putih hingga merah muda pucat, sebagian besar terdiri atas otot polos dengan beberapa jaringan ikat. Kira-kira 95% berasal dari korpus uteri dan 5% dari serviks. Hanya kadang-kadang saja berasal dari tuba fallopi atau ligamentum rotundum. Mioma uteri ialah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat sehingga dalam kepustakaan disebut juga leiomioma, fibriomioma, atau fibroid (Mansjoer, dkk., 2009). Neoplasma ialah pertumbuhan jaringan baru yang tidak normal pada tubuh, dan dikenal juga dengan istilah tumor (Dirckx, 2005). Mioma uteri merupakan tumor yang terbanyak pada organ reproduksi wanita (Tulandi, 2003). Mioma uteri jarang ditemukan pada wanita yang berusia 20 tahun, dan paling banyak ditemukan pada wanita usia 35-45 tahun. Angka kejadiannya diperkirakan 3 dari 10 wanita berusia > 30 tahun menderita mioma uteri ( Endjun, 2008 : 271). Mioma uteri adalah tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot polos rahim. Mioma uteri terjadi pada 20%- 25% perempuan di usia reproduktif, tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti (Anwar, 2011 :274). Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali. Dari penelitian yang dilakukan Hafiz et al di Nisthar Hospital Multan Pakistan mengemukakan bahwa mioma uteri terjadi pada 74% pasien dengan paritas 1-5 (multipara) dan 13% pasien dengan paritas 0 (nullipara), dengan kata lain sebagian besar mioma uteri terjadi pada pasien. Mioma uteri ini menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai etiologi mioma uteri itu sendiri. Walaupun jarang menyebabkan mortalitas, namun morbiditas yang ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup

    tinggi karena mioma uteri dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal, serta diperkirakan dapat menyebabkan kesuburan rendah. (Bailliere, 2006).

    • 2.1.2 Klasifikasi

    Mioma uteri menurut letaknya dibagi menjadi 3 yaitu:

    • 1. Mioma submukosum: dibawah endometrium dan menonjol ke cavum uteri

    • 2. Mioma intramural: berada di dinding uterus di antara serabut myometrium

    tinggi karena mioma uteri dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal, serta diperkirakan dapat menyebabkan kesuburan
    • 3. Mioma subserosum: tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa (Nurafif & Hardi, 2013 :445 ). Menurut (Anwar, 2011) Mioma diklasifikasikan berdasarkan lokasinya

    • 1. Mioma submukosa : menempati lapisan dibawah endometrium dan menonjol ke dalam kavum uteri.

    • 2. Mioma intramural : mioma yang berkembang diantara miometrium.

    • 3. Mioma subrerosa : mioma yang tumbuh dibawah lapisan serosa uterus dan dapat bertumbuh ke arah luar dan juga bertangkai.

    • 2.1.3 Etiologi

    Penyebab utama penyakit ini belum diketahui secara pasti (Mansjoer dkk, 2001). Meskipun demikian, kemungkinan untuk memiliki mioma uteri dapat meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga yang menderita mioma uteri, wanita dengan tingkat kesuburan yang rendah dan pada wanita yang belum pernah melahirkan (Wiknjosastro, Saifuddin, & Rachimhadhi, 2009). Mioma uteri yang berasal dari sel otot polos miometrium, menurut teori onkogenik maka patogenesa mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor yaitu insiator dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan mioma uteri masih belum diketahui dengan pasti. Dari penelitian menggunakan

    glucose-6-phospatase dihydrogenase diketahui bahwa mioma berasal dari jaringan yang uniselular. Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks dan growth factor lokal.

    2.1.4 Manifestasi Klinis

    Gejala yang ditimbulkan berupa pendarahan abnormal, rasa nyeri, dan rasa adanya tekanan di daerah sekitar panggul yang dapat menciptakan rasa sakit hingga menjalar ke punggung. Pendarahan abnormal rahim merupakan gejala yang paling sering dialami oleh 30% penderita mioma uteri (DeCherney & Nathan, 2003). Menurut (Benson & Pernoll, 2008) tanda gejala mioma uteri yaitu :

    • 1. Perdarahan uterus abnormal Perdarahan uterus abnormal dijumpai pada kira-kira 30% pasien dengan mioma uteri.Menoragi merupakan pola perdarahan uterus abnormal yang paling umum dan meskipun pola apa saja mungkin terjadi, paling sering berupa perdarahan bercak pre menstruasi dan sedikit perdarahan terus menerus setelah menstruasi.

    • 2. Efek penekanan.

    • 3. Nyeri dan infertilitas.

    Menurut (Nurafif & Hardi, 2013) tanda dan gejala mioma uteri yaitu :

    • 1. Perdarahan abnormal : Hipermenore, menoragia, metroragia. Disebabkan oleh pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasi endometrium, permukaan endometrium yang lebih luas dari biasanya, atrofi endometrium yang lebih luas dari biasanya, dan miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

    • 2. Nyeri yang timbul karena gangguan sirkulasi yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan dapat menyempitkan canalis servikalis sehingga menimbulkan dismenore.

    • 3. Gejala penekanan pada vesika urinaria menyebabkan poliuri, pada uretra menimbulkan retensio urine, pada ureter menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan limfe menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul

    • 4. Disfungsi reproduksi Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab infertilitas masih belum jelas, 27- 40% wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, bisa menyebabkan :

      • a. Infertilitas

      • b. Bertambahnya resiko abortus

      • c. Hambatan pada persalinan

      • d. Inersia atau atonia uteri

      • e. Kesulitan pelepasan plasenta dan

    • f. Gangguan proses involusi masa nifas (Unicef, 2013). Perubahan fisik yang terjadi akibat gejala mioma uteri membuat penyakit ini ditakuti oleh kaum wanita. Perubahan fungsi seksual merupakan perubahan yang berarti bagi seorang wanita dikaitkan dengan

    fungsi dan perannya dalam keluarga. Sebagai istri, perubahan fungsi seksual akan mempengaruhi kehidupan seksual individu dengan pasangan. Pasangan penderita dapat merasa takut melukai pasangan mereka ketika melakukan hubungan seksual (Burt & Hendrick, 2005). Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan seperti meningkatkan risiko keguguran (Wiknjosastro, Saifuddin, & Rachimhadhi, 2009).

    2.1.5 Penatalaksanaan Mioma Uteri

    Pengobatan penyakit mioma uteri tergantung gejala yang dialami pasien, usia, status kehamilan, rencana reproduksi, kesehatan umum, serta ukuran dan lokasi dari mioma (DeCherney & Nathan, 2003). Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik umumnya adalah tindakan operasi yaitu histerektomi ( pengangkatan rahim ) atau pada wanita yan ingin mempertahankan kesuburannya, miomektomi ( pengangkatan mioma )

    dapat menjadi pilihan (Djuwantono, 2004). Pembedahan merupakan

    pengobatan utama mioma uteri. Miomektomi merupakan pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan uterus/rahim (Wiknjosastro, Saifuddin, & Rachimhadhi, 2009). Miomektomi merupakan pilihan untuk pasien yang ingin mempertahankan fertilitasnya (DeCherney & Nathan, 2003). Pengobatan mioma uteri menimbulkan efek pada penderita, yang dapat berdampak pada timbulnya permasalahan seksual, ketakutan akan kekambuhan penyakit, dan mengurangi rasa feminin karena kehilangan organ reproduksi. Perubahan fungsi seksual pada pasien wanita yang menjalani operasi organ reproduksi, merupakan hal yang memprihatinkan. Beberapa wanita merasa takut kehilangan feminitasnya setelah kehilangan organ reproduksinya (DeCherney & Nathan, 2003). Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk memiliki keturunan yang dianggap sebagai bentuk kesempurnaan wanita (Stotland & Stewart, 2001). Pengobatan penyakit mioma uteri dapat menyebabkan dampak psikologis berupa tingginya level kecemasan sebelum dan sesudah operasi. Pengobatan dengan operasi juga dapat meningkatkan kegelisahan, depresi, marah, dan bosan. Beberapa penelitian menunjukkan penderita yang hendak melakukan operasi merasa khawatir dengan hasil akhir operasi (Ayers dkk, 2007). Terapi harus memperhatikan usia, paritas, kehamilan, konservasi fungsi reproduksi, keadaan umum, dan gejala yang ditimbulkan. Bila kondisi pasien sangat buruk, lakukan upaya perbaikan yang diperlukan termasuk nutrisi, suplementasi zat esensial, ataupun transfusi. Pada keadaan gawat darurat akibat infeksi atau gejala abdominal akut, siapkan tindakan bedah gawat darurat untuk menyelamatkan penderita. Pilihan prosedur bedah terkait dengan mioma uteri adalah miomektomi atau histerektomi ( Anwar, 2011).

    2.1.6

    WOC

    2.1.6 WOC 2.1.7 Komplikasi Komplikasi mioma uteri menurut (Marmi, 2010) terbagi menjadi 3 yaitu : a.

    2.1.7

    Komplikasi

    Komplikasi mioma uteri menurut (Marmi, 2010) terbagi menjadi 3

    yaitu :

    • a. Pertumbuhan leimiosarkoma

    • b. Torsi (putaran tangkai)

    • c. Nekrosis dan infeksi

    2.1.8 Pemeriksan Fisik dan Diagnostik

    Menurut (Setyorini, 2014) pemeriksaan fisik mioma uteri meliputi:

    • 1. Pemeriksan abdomen : teraba massa didaerah pubis atau abdomen bagian bawah dengan konsistensi kenyal, bulat, berbatas tegas, sering berbenjol atau bertangkai, mudah digerakan, tidak nyeri.

    • 2. Pemeriksaan bimanual : didapatkan tumor tersebut menyatu atau berhubungan dengan uterus, ikut bergerak pada pergerakan serviks. Pemeriksaan diagnostik menurut (Nurafif & Hardhi, 2013) antara lain:

      • a. Tes laboratorium hitung darah lengkap dan apusan darah : leukositosis dapat disebabkan oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar hemoglobin dan hematokrit menunjukan adanya kehilangan darah yang kronik.

      • b. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik menyerupai kehamilan atau terdpat bersamasama dengan kehamilan.

      • c. Ultrasonografi apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu.

      • d. Pielogram intravena dapat membantu dalam evaluasi diagnostik.

    Menurut (Marmi, 2010) deteksi mioma uteri dapat dilakukan dengan cara :

    • 1. Pemeriksaan darah lengkap Hb : turun, Albumin : turun, Lekosit : turun atau meningkat, Eritrosit : turun.

    • 2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.

    • 3. Vaginal toucher : didapatkan perdrahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.

    • 4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.

    • 5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi

    • 6. ECG : mendeteksi, kelainan yang mungkin terjadi yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.

    2.2 Asuhan Keperawatan Mioma Uteri 2.2.1 Kasus Mioma Uteri

    Seorang perempuan usia 47 tahun datang ke UGD dengan keluhan mengeluh perdarahan pervaginaan sejak 2 minggu yang lalu kadang banyak kadang sedikit dan mengeluh pusing dan perut terasa nyeri. Pada pemeriksaan fisik diperoleh benjolan di perut bagian bawah dan hasil USG menunjukkan adanya Mioma Uteri 80,6 x 92,1 mm. Tekanan darah 100/60 mmHg, respiration rate 20 x/menit, denyut nadi 88 x/menit, suhu 36,C, Hb 8,0 gr/dl.

    2.2.2 Pengkajian 1. Identitas

    1)

    Identitas Klien

    Nama

    : Ny. A

    2)

    Umur : 47 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Keluhan Utama

    3)

    Klien mengeluh perdarahan pervaginam sejak 2 minggu yang lalu kadang banyak kadang sedikit dan mengeluh pusing dan perut terasa nyeri Riwayat Kesehatan Sekarang Klien mengatakan sejak 2 minggu yang lalu mengalami perdarahan kadang banyak kadang sedikit dan mengeluh pusing dan perut terasa nyeri. Pada saat dilakukan pengkajian klien mengeluh ada perdarahan pervaginam dengan jumlah banyak dan konsistensi cair. Klien mengeluh nyeri perut P: nyeri dirasakan saat terjadi perdarahan dengan bentuk darah gumpalan Q: nyeri seperti disayat-sayat R: nyeri pada perut bagian bawah S: skala nyeri 3 (0-5) T: nyeri dirasakan saat terjadi perdarahan dan berkurang saat perdarahan berhenti

    4)

    Pemeriksaan Umum

    Tekanan darah

    : 100/60 mmHg

    Respirasi

    : 20 ×/menit

    Nadi

    : 88 ×/menit

    Suhu

    : 36,C

    Hb

    : 8,0 gr/dl

    BB/TB

    : 60kg/165cm

    5)

    Pemeriksaan Fisik Tingkat kesadaran composmentis

    6)

    Benjolan di perut bagian bawah Pemeriksaan Penunjang

    USG menunjukkan adanya Mioma Uteri 80,6 x 92,1 mm

    2.

    Data Klien

    1)

    Data Subjektif

     

    Pasien mengatakan nyeri pada vagina dan menjalar pada pinggang

    Pasien mengatakan susah BAK

    Pasien mengatakan apakah penyakitnya sangat berbahaya? Pasien mengatakan takut kalau dioperasi

    2)

    Data Objektif

     

    Ekspresi wajah yang menahan sakit dan sering memegang perut

    Tampak memegang perut

    3)

    Pasien nampak tegang dan bertanya tentang pemyakitnya Analisis Data

    Diagnosa

    Data Fokus

    Problem

    Etiologi

    1

    DS: pasien

    Nyeri

    Penekanan syaraf

    mengatakan

    sekitarnya

    nyeri pada

    vagina dan

    menjalar pada

    pinggang, P:

    mengeluarkan darah, Q: senut-

       

    senut, R:

       

    vagina, S: 5, T:

    1 jam 2x menit DO: ekspresi wajah yang menahan sakit dan sering memegang perut

    3

    DS: pasien

    Gangguan citra

    Kurangnya

    mengatakan

    tubuh

    pengetahuan

    apakah

    penyakitnya

    sangat

    berbahaya?

    Apakah saya

    akan

    ditinggalkan

    oleh suami

    saya? Pasien

    mengatakan

    takut kalau

    dioperasi dan

    tidak percaya

    diri

    DO: pasien

    nampak tegang,

    oasien bertanya

    tentang

    penyakitnya

    3.

    Pengkajian

     
    • a. Sistem pernapasan Hidung simetris, septum normal, kotoran (-), pengeluaran (-), polip (-), dada simetris, retraksi dinding dada (-), RR: 20x/ menit

    Nyeri tekan (-)

    Suara paru sonor

    Suara napas vesikuler

    • b. Sistem kardiovaskuler

    TD: 100/60 mmHg, P: 84x/ menit, sianosis (-), konjungtiva anemis, edema (-), CRT < 2 detik

    Suara jantung S 1 dan S 2 reguler

    • c. Sistem pencernaan

    Mukosa bibir lembab, warna merah muda, edema (-),

    hemoroid (-) Bising usus: 6x/ menit

    Suara abdomen tymphani

    Nyeri tekan (+)

    • d. Sistem persyarafan

    Pasien mengetahui dan menyadari dimana ia berada

    Kejang (-)

    Reflek patella (+)

    • e. Sistem panca indra Pandangan jelas, pandangan berkunang-kunang (-), reflek pupil (+) Pendengaran jelas, penumpukan serumen (-), nyeri tekan (-) Pasien dapat membedakan bau alkohol

    Pengecapan (+)

    • f. Sistem perkemihan Klien berjenis kelamin wanita, frekuensi berkemih 4-5x/ hari Distensi kandung kemih (-),

    • g. Sistem integumen Hiperpigmentasi (-), kloasma gravidarum (-), striae (-), warna kulit sawo matang Kulit lembab, akral hangat, turgor kulit baik,

    • h. Sistem endokrin

    Tremor (-)

    Pembesaran kelenjar tyroid (-)

    • i. Sistem muskuloskeletal Deformitas (-) ROM (+), tonus otot aktif,

    • j. Sistem reproduksi Mammae simetris, hiperpigmentasi areola (-), puting susu menonjol, mammae tidak penuh, bersih, perdarahan Edema (-), varises (-), benjolan di perut bagian bawah

    • 4. Diagnosis Keperawatan berdasarkan NANDA

    Nyeri berhubungan dengan Agens cedera biologis (nekrosis atau trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat tumor)

    Gangguan Citra Tubuh behubungan dengan Penyakit

    • 5. Intervensi Keperawatan

    Diagnosis

    Hasil yang Dicapai

    Intervensi (NIC)

    Keperawatan

    (NOC)

    NANDA

    Nyeri Akut

    Dalam 1 × 24 jam, klien

    Manajemen Pegobatan :

    berhubungan dengan Agens cedera biologis

    diharapkan dapat mengurangi rasa nyeri yang

    Monitor efektivitas cara pemberian obat yang

    Definisi :

    dirasakan dengan kriteria hasil:

    sesuai Rasional :

    Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang

    Domain. 12

    Kontrol Nyeri :

    Memberikan efek dan dampak yang bagus serta

    muncul akibat kerusakan jaringan

    Mengenali kapan nyeri terjadi

    efektif kepada proses penyembuhan penyakit

    aktual atau potensial atau yang digambarkan

    Menggambarkan faktor penyebab

    Monitor pasien mengenai efek terapeutik

    sebagai kerusakan

    Melaporkan perubahan

    obat. Rasional :

    (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas

    terhadap gejala nyeri pada profesional kesehatan Melaporkan gejala yang tidak terkontrol

    Untuk mengetahui apakah terdapat efek lain dari obat yang tidak sesuai dengan efek terapi yang diinginkan.

    ringan hingga berat dengan akhir yang

    pada profesional kesehatan

    Monitor tanda dan gejala

    dapat diantisipasi atau diprediksi.

    Status Kenyamanan :

    toksisitas obat. Rasional :

    Kesejahteraan fisik

    Untuk mengetahui

    Keselamatan/Perlindun

    Kontrol terhadap gejala

     

    apakah dosis yang

    gan

    Kesejahteraan

    diberikan kepada pasien

    Kelas. 2

    psikologis

    sesuai dengan kebutuhan

    Kenyamanan Fisik

    Perawatan sesuai dengan kebutuhan

    Pantau kepatuhan mengenai regimen obat. Rasional :

     

    Membantu memberikan hasil terapi yang baik Ajarkan pasien dan/atau anggota keluarga mengenai metode pemberian obat yang sesuai. Rasional :

    Membantu pasien dan/atau anggota keluarga dalam bersikap untuk proses penyembuhan penyakit Konsultasi dengan perawatan kesehatan lainnya untuk meminimalkan jumlah dan frekuensi obat yang dibutuhkan agar didapatkan efek terapeutik. Rasional :

    Untuk menghindari efek terapeutik obat yang tidak diinginkan

    Manajemen Nyeri :

    Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnyanyeri dan faktor pencetus. Rasional :

    Mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan

         

    pemantauan yang ketat. Rasional :

    Menghindari efek yang tidak diinginkan. Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri. Rasional:

    Mengidentifikasi masalah kesehatan yang sedang dialami oleh pasien terkait dengan nyeri

    Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya, suhu ruangan, pencahayaan, suara bising). Rasional :

    Membuat klien menjadi nyaman

    Mulai dan modifikasi tindakan pengontrol nyeri berdasarkan respon pasien. Rasional :

    Mengurangi rasa nyeri

    Dorong pasien untuk mendiskusikan pengalaman nyerinya, sesuai kebutuhan. Rasional :

    Membantu pasien untuk lebih terbuka mengungkapkan rasa nyeri yang dirasakan

    Monitor kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri dalam interval yang spesifik. Rasional :

    Mengetahui respon pasien terhadap terapi yang sudah diberikan

       

    Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim kesehatan lainnya untuk memilih dan mengimplementasikan tindakan penurun nyeri nonfarmakologi, sesuai kebutuhan. Rasional :

    Untuk memperoleh perbaikan kondisi yang optimal

    Periksa tingkat ketidaknyamanan bersama pasien, catat perubahan dalam catatan medis pasien, informasikan petugas kesehatan lain yang merawat pasien. Rasional :

    Sebagai data dasar terbaru dalam merencanakan perawatan

    Gangguan Citra

    Definisi :

    Dalam waktu 3 × 24 jam,

    Peningkatan citra tubuh

    Tubuh behubungan

    klien diharapkan dapat

    Bantu pasien untuk

    dengan Penyakit

    mengurangi rasa nyeri yang dirasakan, dengan kriteria hasil :

    mendiskusikan perubahan-perubahan (bagian tubuh)

    Konfusi dalam gambaran mental

    Kesadaran diri

    disebabkan adanya penyakit atau

    tentang diri-fisik

    Dapat mempertahankan

    pembedahan, dengan

    individu (Domain 6, Kelas 3)

    kesadaran berfikir Menerima perasaan

    cara yang tepat. Rasional :

    sendiri Menerima perilaku

    Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien

    sendiri

    Tentukan persepsi pasien

    Membayangkan menerima perilaku sendiri pada masa yang akan datang

    dan keluarga terkait dengan perubahan citra diri dan realitas. Rasional :

    Harga diri

    Agar pasien dan keluarga memiliki persepsi yang sama

    Meningkatkan tingkat

    mengenai perubahan

     

    kepercayaan diri Penerimaan terhadap

    citra diri dan realitas Tentukan apakah

    kritik yang membangun Keinginan untuk

    perubahan citra tubuh berkontribusi pada

    berhadapan muka orang lain Perasaan tentang nilai

    peningkatan isolasi sosial Rasional :

    diri

    Meningkatkan percaya diri dan semangat pasien Bantu pasien untuk

    Membantu pasien untuk

    Tingkat kecemasan sosial

    mengidentifikasi

    Tidak nyaman selama

    tindakan-tindakan yang

    menghadapi sosial Mempehatikan penilaian orang lain setelah pertemuan sosial

    akan meningkatkan penampilan Rasional :

    meningkatkan rasan

    Gangguan dengan fungsi peran

    percaya diri

     

    Peningkatan kesadaran diri

    Dukung pasien untuk mengenal dan mendiskusikan pikiran dan perasaan (nya). Rasional :

    Membantu pasien untuk lebih terbuka Bantu pasien untuk menyadari bahwa setiap orang adalah unik Rasional :

    Membantu pasien untuk menerima diri sendiri Berbagi observasi atau pemikiran tentang perilaku atau respon pasien Rasional :

    Pasien merasa lebih baik Bantu pasien untuk mengidentifikasi prioritas hidup Rasional :

    Pasien dapat menentukan kebutuhan hidupnya Bantu pasien untuk merubah pandangan

         

    mengenai diri sebagai korban dengan mendefinisikan hak nya dengan cara yang tepat Rasional :

    Membantu pasien untuk menerima diri sendiri

    Peningkatan harga diri

    Dukung pasien untuk bisa mengidentifikasi kekuatan Rasional :

    Membantu pasien dalam menghadapi ancaman dan peluang kemungkinan terjadi Bantu pasien untuk menemukan diri Rasional :

    Membantu pasien untuk mengetahui sifat-sifat yang dimiliki Dukung pasien untuk telibat dalam memberikan afirmasi positif melalui pembiacaraan pada diri sendiri dan secara verbal terhadap diri setiap hari Rasional :

    Meningkatkan rasa percaya diri pasien Bantu pasien untukmengatasi bullying atau ejekan Rasional :

    Membantu pasien dalam memberikan kekuatan untuk membela dirinya sendiri

    2.3 Kista Ovarium

    • 2.3.1 Definisi Kista Ovarium Kista ovarium adalah suatu pertumbuhan abnormal di ovarium yang bentuknya bulat, berisi cairan, biasanya bertangkai, dan bisa tumbuh terus menjadi besar. Kista Ovarium memiliki bentuk benjolan yang membesar, seperti balon yang beisi cairan, yang tumbuh di indung telur. Cairan ini bisa berupa air, darah , nanah, atau cairan coklat kental seperti darah menstruasi. Kista banyak terjadi pada wanita usia subur atau usia reproduksi (Dewi, 2010). Tidak menutup kemungkinan bahwa kista ovarium dapat terbentuk kapan saja, antara masa pubertas sampai menopause, bahkan selama kehamilan (Irianto, 2014). Kista ovarium juga merupakan rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista ini disebut juga kista fungsional karena terbentuk setelah sel telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista fungsional akan mengerut dan menyusut setelah beberapa waktu (1-3 bulan), demikian pula yang terjadi bila seseorang perempuan sudah menopause, kista fungsional tidak terbentuk karena menuruunnya aktivitas indung telur (Yatim,2005).

    • 2.3.2 Klasifikasi Kista Ovarium

    Menurut Wiknjosastro (2008) Pembagian kista ovarium berdasarkan

    non neoplastik dan neoplastik yaitu:

    • 1. Non Neoplastik

    1) Kista folikel Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak berovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel. Kista ini berdiameter 1-1,5 cm. Kista ini bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam dinding kista yang tipis terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa, akan tetapi karena tekanan di dalam kista, terjadilah atrofi pada lapisan ini. Cairan dalam kista

    2.3 Kista Ovarium 2.3.1 Definisi Kista Ovarium Kista ovarium adalah suatu pertumbuhan abnormal di ovarium yang

    jernih dan sering kali mengandung estrogen, oleh sebab itu kista kadang-kadang dapat menyebabkan gangguan haid. Kista folikel lama

    kelamaan mengecil dan dapat menghilang, atau bisa terjadi ruptur dan kista menghilang. 2) Kista korpus luteum

    Korpus

    luteum

    disebut kista korpus

    luteum jika berukuran

    >3

    cm, kadang-kadang diameter kista ini dapat sebesar 10 cm, rata- rata 4 cm (Benson, 2008). Dalam keadaan normal korpus luteum

    lama kelamaan mengecil dan menjadi korpus albikans. Perdarahan yang sering terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, kista ini berisi cairan yang berwarna merah coklat. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi

    gambaran yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel- sel teka. Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa amonore diikuti oleh pendarahan yang tidak teratur. Adanya kista dapat menyebabkan rasa berat di perut bagian bawah. Rasa nyeri di dalam perut yang mendadak dengan adanya amenorea sering menimbulkan kesulitan dalam diagnosis. Penanganan kista luteum ialah menunggu sampai kista hilang sendiri. 3) Kista teka lutein

    Kista

    teka

    lutein

    biasanya

    bilateral,

    kecil dan jarang

    terjadi dibandingkan kista folikel atau kista korpus luteum. Kista teka lutein berisi cairan berwarna kekuning-kuningan. Berhubungan dengan penyakit trofofoblastik kehamilan (misalnya mola hidatidosa, koriokarsioma), penyakit ovarium polikistik dan pemberian zat perangsang ovulasi. Gejala yang timbul biasanya rasa penuh atau menekan pada pelpis (Benson, 2008). Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon koriogononadotropin yang berlebihan, dan hilangnya mola atau koriokarsinoma, ovarium yang mengecil secara spontan.

    4) Kista inklusi germinal Tumor ini lebih banyak terdapat pada wanita usia lanjut, dan

    besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara

    kebetulan

    ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang

    diangkat waktu operasi. kista ini terletak di bawah

    permukaan

    ovarium, dindingnya terdiri atas satu jernih. 5) Kista endometrium

    lapisan epitel, berisi cairan

    Kista

    ini

    endometriosis

    yang

    berlokasi

    di

    ovarium.

    Endometriosis

    adalah

    suatu keadaan

    dimana

    jaringan

    endometrium

    yang

    masih

    berfungsi

    terdapat

    di

    luar kavum uteri. Jaringan

    endometrium terdapat di dalam miometrium atau pun di luar uterus. Endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita pada umur muda, dan wanita yang tidak mempunyai banyak anak.

    Gambaran

    mikroskopik

    dari endometriosis yaitu pada ovarium

    tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar berisi darah

    tua

    menyerupai coklat (kista coklat atau endometrioma)

    (Wiknjosastro, 2008).

    6) Kista stein-levental

    Biasanya

    kedua

    ovarium membesar dan bersifat polykistik,

    permukaan licin, kapsul ovarium menebal dan tampak tunika yang tebal dan fibrotik pada pemeriksaan mikroskopis.

    2.

    Neoplastik

    1) Kistoma ovarii simpleks Kista ini memiliki permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar, dinding kista tipis dan

    2)

    cairan dalam kista jernih, terus berwarna kuning. Kistadenoma ovarii musinosum Tumor musinosum merupakan 15 %- 25% dari semua neeoplasma ovarium dan menyebabkan 6%-10% kanker ovarium. Sekitar 8%-10% adalah bilateral. Tumor ini bisa sangat besar (>70 kg) tetapi rata-rata berdiameter 16-17 cm saat didiagnosis dan terutama ditemukan pada dua kelompok umur (10-30 tahun dan >40 tahun). Biasanya tidak menimbulkan

    gejala selain rasa penuh akibat adanya massa dalam perut. Tumor musinosum berdinding licin halus dan berisi cairan kental, tebal, kecoklatan (Benson, 2008). Bila terjadi keganasan terapi yang dilakukan adalah melakukan pembedahan.

    3)

    Kistadenoma ovarii serosum

    Kista

    jenis

    ini

    tidak

    mencapai

    ukuran

    yang

    sangat

    besar

    dibandingkan

    dengan

    kistadenoma

    musinosum.

    Permukaan

    ini

    ialah

    potensi

    gejala selain rasa penuh akibat adanya massa dalam perut. Tumor musinosum berdinding licin halus dan berisi

    tumor biasanya licin dan berwarna keabu-abuan. Ciri khas kista

    pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista

    sebesar 50 % dan keluar pada permukaan kista sebesar 5 %. Isi kista cair, kuning, dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. 4) Kista endometrioid Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai

    lapisan epitel endometrium. Kista ini ditemukan oleh Sartesson tahun 1969, kista ini tidak ada hubungannya dengan endometriosis ovarii.

    5)

    Kista dermoid

    Tidak

    ada

    ciri-ciri

    khas

    pada

    kista

    dermoid.

    Dinding

    kista

    kelihatan

    putih

    dan

    keabu-abuan,

    dan

    agak

    tipis.

    Pada

    umumnya

    terdapat

    satu

    daerah

    pada

    nyeri

    mendadak

    gejala selain rasa penuh akibat adanya massa dalam perut. Tumor musinosum berdinding licin halus dan berisi

    dinding bagian dalam yang menonjol dan padat. Kista

    dengan

    gejala

    dermoid dapat terjadi torsi tangkai (komplikasi)

    di perut bagian bawah. Ada kemungkinan

    pula terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan jarang terjadi, kira-kira 1,5% dari semua kista dermoid, dan biasanya terjadi pada wanita sesudah menopause. Kista dermoid penanganannya dengan pengangkatan seluruh ovarium.

    • 3. Pembagian kista ovarium berdasarkan lokasi:

      • a. Kista bebas ( pedunculata )

    1)

    Gerakan bebas

    2)

    Batas jelas

    • b. Kista intraligamentair

    1)

    Letaknya diantara 2 ligamentum

    2)

    Gerakan terbatas

    3)

    Tampak pembuluh darah yang bersilangan satu sama lain

    • c. Kista pseudo intraligamentair

    1)

    Letaknya di luar ligamentum

    2)

    Gerakannya terbatas, karena perlekatan (infeksi, metafase)

    3)

    Gambaran pembuluh darah biasa.

    2.3.3 Etiologi

    Penyebab pasti dari penyakit kista Ovarium belum diketahui secara pasti.Akan tetapi salah satu pemicunya adalah faktor hormonal.Penyebab terjadinya kista ovarium ini dipengaruhi oleh banyak factor yang saling berhubungan. Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kista

    ovarium adalah:

    • a. Gangguan pembentukan hormone Kista ovarium disebabkan oleh 2 gangguan (pembentukan) hormon yaitu pada mekanisme umpanbalik ovarium dan hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang berperan sebagai respon hipersekresi folikel stimulasi hormon. Dalam menggunakan obat- obatan yang merangsang pada ovulasi atau misalkan pola hidup yang tidak sehat itu bisa menyebabkan suatu hormone yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormone. Gangguan keseimbangan hormon dapat

    berupa peningkatan hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menetap sehingga dapat menyebabkan ganguan ovulasi.

    • b. Memiliki Riwayat kista ovarium atau keluarga memiliki riwayat kista ovarium.

    • c. Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen) Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak yang biasanya menyelesaikan penghentian pengobatan tersebut.

    • d. Pada pengobatan infertilitas Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan gonadotropin atau agen lainnya , seperti clomiphene citrate atau letrozole , dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi ovarium.

    • e. Gaya hidup yang tidak sehat Gaya hidup yang tidak sehat dapat memicu terjadinya penyakit kista ovarium.Risiko kista ovarium fungsional meningkat dengan merokok ,risiko dari merokok mungkin meningkat lebih lanjut dengan indeks massa tubuh menurun.Selain dikarenakan merokok pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi tinggi lemak, rendah serat, konsumsi zat tambahan pada makanan, konsumsi alcohol dapat juga meningkatka risiko penderita kista ovarium (Bustam,2007). Pada wanita yang sudah menopause kista fungsional tidak terbentuk karena menurunnya aktivitas indung telur (Manuaba,2010).

    • f. Gangguan siklus Haid Gangguan siklus haid yang sangat pendek atau lebih panjang harus diwaspadai. Menstuasi di usia dini yaitu 11 tahun atau lebih muda merupakan faktor resiko berkembangnya kista ovarium, wanita dengan siklus haid tidak teratur juga merupakan faktor resiko kista ovarium.(Manuaba,2010).

    • g. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal juga merupakan faktor resiko kista ovarium, yaitu pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa implant, akan tetapi pada wanita yang

    menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa pil cenderung mengurangi resiko untuk terkena kista ovarium.

    2.3.4 Manifestasi Klinis

    Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala sampai pada periode tertentu, hal ini disebabkan perjalanan penyakit ini berlangsung secara tersembunyi. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama. Namun bila kista berkembang menjadi besar dan menimbulkan nyeri, bila kista terpelintir atau pecah akan menimbulkan rasa sakit terutama pada perut, kista berkembang menyebabkan perut terasa penuh, berat, kembung. Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

    • a. Gejala Kista Secara Umum Menurut Yatim Faisal, (2005) gejala kista secara umum, antara lain :

      • a. Rasa nyeri di rongga panggul disertai rasa gatal.

      • b. Rasa nyeri sewaktu bersetubuh atau nyeri rongga panggul kalau tubuh

    bergerak.

    • c. Rasa nyeri saat siklus menstruasi selesai, pendarahan menstruasi tidak seperti biasa. Mungkin perdarahan lebih lama, lebih pendek atau tidak keluar darah menstruasi pada siklus biasa, atau siklus menstruasi tidak teratur.

    • d. Perut membesar.

    • b. Gejala Klinis Kista Ovarium Ada pun gejala klinis kista ovarium:

      • a. Pembesaran, tumor yang kecil mungkin diketahui saat melakukan pemeriksaan rutin. Tumor dengan diameter sekitar 5 cm, dianggap belum berbahaya kecuali bila dijumpai pada ibu yang menopause atau setelah menopause. Besarnya tumor dapat menimbulkan gangguan berkemih dan buang air besar terasa berat di bagian bawah perut, dan teraba tumor di perut.

      • b. Gejala gangguan hormonal , indung telur merupakan sumber hormon wanita yang paling utama sehingga bila terjadi pertumbuhan tumor dapat mengganggu pengeluaran hormon. Gangguan hormon selalu berhubungan dengan pola menstruasi yang menyebabkan gejala klinis berupa gangguan pola menstruasi dan gejala karena tumor mengeluarkan hormon.

      • c. Gejala klinis karena komplikasi tumor. Gejala komplikasi tumor dapat berbentuk infeksi kista ovarium dengan gejala demam, perut sakit, tegang dan nyeri, penderita tampak sakit. Mengalami torsi pada tangkai dengan gejala perut mendadak sakit hebat dan keadaan umum penderita cukup baik (Manuaba, 2009).

    2.3.5 Patofisiologi

    Ovulasi terjadi akibat interaksi antara hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan endometrium. Perkembangan dan pematangan folikel ovarium terjadi akibat rangsangan dari kelenjar hipofisis. Rangsangan yang terus menerus datang dan ditangkap panca indra dapat diteruskan ke hipofisis anterior melalui aliran portal hipothalamohipofisial. Setelah sampai di hipofisis anterior, GnRH akan mengikat sel genadotropin dan merangsang pengeluaran FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (LutheinizingHormone), dimana FSH dan LH menghasilkan hormon estrogen dan progesteron (Nurarif, 2013). Ovarium dapat berfungsi menghasilkan estrogen dan progesteron yang normal. Hal tersebut tergantung pada sejumlah hormon dan kegagalan pembentukan salah

    satu hormon dapat mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi dengan secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormon hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal dapat menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur. Dimana, kegagalan tersebut terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium dan hal tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya kista di dalam ovarium, serta menyebabkan infertilitas pada seorang wanita (Manuaba,

    2010).

    2.3.6 Pemeriksaan Diagnostik

    • 1. Pap smear Pap Smear untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya kanker / kista.

      • 2. Ultrasound / scan CT Memungkinkan visualisasi kista yang diameternya dapat berkisar dari 1-6 cm. Pemeriksaan ini bertujuan untuk membantu mengindentifikasi ukuran / lokasi massa, dan batas-batanya.

      • 3. Laparoskopi Laparoskopi dilakukan untuk melihat adanya tumor, perdarahan, perubahan endometrial. Laparoskopi juga berguna untuk menentukan apakah kista berasal dari ovary atau tidak dan juga untuk menentukan jenisnya.

      • 4. Hitung darah lengkap Penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif, peningkatan SDP dapat mengindikasikan proses inflamasi / infeksi. ( Doenges. 2000:743 ).

      • 5. Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor.

    2.3.7 Penatalaksanaan Medis

    • 1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, missal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.

    • 2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.

    • 3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.

    • 4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba (Salpingo-oovorektomi). Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan dan keluaran, rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik biasanya diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional Ibu. Efek anestesi umum mempengaruhi keadaan umum penderita, karena kesadaran menurun. Selain itu juga diperlukan monitor terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit, suara nafas dan usaha pernafasan, tanda-tanda infeksi saluran kemih, drainese urin dan perdarahan. Perawat juga harus mengajarkan bagaimana aktifitas

    pasien di rumah setelah pemulangan, berkendaraan mobil dianjurkan setelah satu minggu di rumah, tetapi tidak boleh mengendarai atau menyetir untuk 3-4 minggu, hindarkan mengangkat benda-benda yang berat karena aktifitas ini dapat menyebabkan kongesti darah di daerah pelvis, aktifitas seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah operasi, kontrol untuk evaluasi medis pasca bedah sesuai anjuran. 2.3.8 Komplikasi Kista ovarium yang besar bisa mengakibatkan ketidaknyamanan pada ovarium. Jika kista yang besar menekan kandung kemih akan mangakibatkan seseorang menjadi sering berkemih karena kapasitas kandung kemih menjadi berkurang. Beberapa wanita dengan kista ovarium tidak menimbulkan keluhan, tapi dokterlah yang menemukan pada pemeriksaan pelvis. Masa kista ovarium yang berkembang setelah menopause mungkin akan menjadi suatu keganasan (kanker).

    Beberapa komplikasi dari kista ovarium antara lain:

    • a. Torsio Kista Ovarium. Komplikasi kista ovarium bisa berat. Komplikasi paling sering dan paling berbahaya adalah torsio dari kista ovarium yang merupakan kegawatdaruratan medis yang menyebabkan tuba falopi berotasi, situasi ini bisa menyebabkan nekrosis. Kondisi ini sering menyebabkan infertilitas. Manifestasi dari torsio kista ovarium adalah nyeri perut unilateral yang biasanya menyebar turun ke kaki. Pada kondisi ini pasien harus segera di bawa ke rumah sakit.

    Jika pembedahan selesai pada 6 jam pertama setelah onset krisis, intervensi pada kista torsio bisa dilakukan. Jika torsio lebih dari 6 jam dan tuba falopi sudah nekrosis, pasien akan kehilangan tuba falopinya.

    • b. Perdarahan dan ruptur kista Komplikasi lain adalah perdarahan atau rupturnya kista yang ditandai dengan ascites dan sering sulit untuk dibedakan dari kehamilan ektopik. Situasi ini juga perlu pembedahan darurat. Gejala dominan dari komplikasi ini adalah nyeri kuat yang

    berlokasi di salah satu sisi dari abdomen (pada ovarium yang mengandung kista). Ruptur kista ovarium juga mengakibatkan anemia. Ruptur kista ovarium sulit dikenali karena pada beberapa kasus tidak ditemukan gejala. Tanda pertama yang bisa terjadi adalah terasa nyeri di abdomen bagian bawah, mual, muntah dan demam. c. Infeksi Infeksi bisa mengikuti komplikasi dari kista ovarium. Kista ovarium yang tidak terdeteksi dan susah untuk didiagnosis bisa mengakibatkan kematian akibat septikemia. Gejala infeksi pertama adalah demam, malaise, menggigil dan nyeri pelvis.

    2.3.9 WOC

    Estrogen-progesteron tidak seimbang Hormon LH ↑ dan FSH ↓ Degenerasi Penimbunan Ovarium Folikel KISTA OVARIUM Pembesaran
    Estrogen-progesteron
    tidak seimbang
    Hormon LH ↑
    dan FSH ↓
    Degenerasi
    Penimbunan
    Ovarium
    Folikel
    KISTA OVARIUM
    Pembesaran ovarium
    Menekan organ disekitar
    ovarium
    Menekan organ disekitar ovarium
    Menekan organ disekitar
    ovarium
    syaraf anus Rasa nyeri Kandung pada perut Kemih Mk : Nyeri Mk : Resti Konstipasi Mual
    syaraf
    anus
    Rasa nyeri
    Kandung
    pada perut
    Kemih
    Mk : Nyeri
    Mk : Resti
    Konstipasi
    Mual
    Pengosongan
    VU(vesica urania)
    tidak optimal
    Anoreksia
    Retensi urine
    Intake tidak
    adekuat
    MK : Eliminasi
    Urine terganggu
    MK: Nutrisi
    kurang dari
    kebutuhan tubuh

    32

    2.4 Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

    2.4.1

    Pengkajian

     

    A.

    Pengumpulan Data

     

    1.

    Identitas

     

    a)

    Identitas Klien Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku, statu perkawinan, diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no. RM, dan alamat.

    b)

    Identitas Penanggung Jawab

     

    Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku, dan alamat.

     

    2.

    Riwayat Kesehatan

     

    a)

    Keluhan Utama Keluhan yang diungkapakan saat dilakukan pengkajian.

    b)

    Riwayat Kesehatan Sekarang Riwayat penyakit klien sebelum, selama, perjalanan, dan sesampainya di rumah sakit hingga saat dilakukan pengkajian tindakan yang dilakukan sebelumnya dan pengobatan yang diadapat setelah masuk Rumah Sakit.

    c)

    Riwayat Menstruasi Kaji menarche, siklus mens, banyaknya haid yang keluar, keteraturan mens, lamanya, keluhan yang menyertai.

    d)

    Riwayat Obstetri Kaji tanggal partus, jenis partus.

    e)

    Riwayat Keluarga Berencana KB idien, jenis kontrasepsi yang digunakan sejak kapan.

    f)

    Riwayat Penyakit Dahulu Tanyakan penyakit yang pernah dialami.

    g)

    Riwayat Pernikahan Kaji usia pernikahan, lamanya pernikahan.

    h)

    Riwayat Seksual Kaji peratama kali melakukan hubungan seksual.

    i)

    Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat kesehatan keluarga yang mempunyai penyakit yang sama.

    • j) Riwayat Kebiasaan sehari-hari

      • 1. Personal Hygiene Kaji kebiasaan personal hygiene klien meliputi keadaan kulit, rambut, mulut, gigi, dan vulva hygiene.

      • 2. Pola Makan Kebaisaan makan dalam porsi makan, frekuensi, alergi atau tidak.

      • 3. Pola Eliminasi

        • a. BAB Kaji frekuensi, warna, konsistensi atau kehalusan.

        • b. BAK Kaji frekuensi, warna, bau, dan keluhan saat berkemih.

    • 4. Pola Aktivitas dan Latihan Kaji kegiatan dalam pekerjaan dan kegiatan diwaktu luang sebelum selama di RS.

    • 5. Pola Tidur dan Istirahat Kaji waktu, lama tidur per hari, kebiasaan saat tidur dan kesulitan.

  • k) Riwayat Penggunaan Zat Kaji kebiasaan dan lama penggunaan rokok.

  • l) Riwayat Sosial Ekonomi Kaji pendapatan per bulan, hubungan sosial dan hubungan dalam keluarga.

  • m) Riwayat Psikososial dan Spiritual 1) Psikososial Respon klien terhadap penyakit yang diderita saat ini. 2) Spiritual Kaji kegiatan keagamaan klien yang sering dilakukan di rumah dan di RS.

    • 3. Pemeriksaan Fisik Kaji keadaan umum, kesadaran, berat badan dan tinggi badan, dan TTV.

    • a. Kepala Keluhan pusing, warna rambut, keadaan, dan kebersihan.

    • b. Mata Kesimetrisan mata, warna konjungtiva, sklera kornea.

    • c. Hidung Kesimetrisan, keadaan kebersihan, penciuman.

    • d. Mulut Kelembaban mukosa bibir, keadaan gigi.

    • e. Telinga Kelainan bentuk, keadaan, dan fungsi.

    • f. Leher Kaji adanya pembengkakan, pembesaran kelenjar tiroid.

    • g. Daerah Dada Keluhan sesak, bentuk, nyeri dada, auskultasi suara jantung, frekuensi nadi, dan TD.

    • h. Abdomen Kaji adanya massa pada abdomen, distensi bising usus, nyeri tekan.

    • i. Genetalia Eksterna Pengeluaran secret dan perdarahan, warna, bau keluhan gatal, dan kebersihan.

    • j. Ekstrimitas Kaji kekuatan otot, varises, kontraktur pada persendian, dan kesulitan pergerakan.

    • 4. Pemeriksaan Penunjang Kaji hemoglobin, pembekuan darah, USG

    • 2.4.2 Analisa Data Analisa data adalah mengaitkan data, menghubungkan data dengan konsep, teori, dan kenyataan yang relevan, untuk membuat kesmipulan dan menentukan masalah keperawatan klien.

    Diagnosis

     

    NOC

    NIC

    Nyeri Akut b.d Agensi

    Setelah

    dilakukan

    Manajemen Nyeri

    cedera biologis.

    asuhan

    keperawatan

    selama

    24

    jam

    • 1. Lakukan

    Definisi: Pengalaman

    diharapkan

    nyeri

    yang

    pengkajian nyeri

    sensori dan emosional

    dirasakan

    klien

    komprehensif

    tidak menyenangkan yang

    berkurang,

    dengan

    yang meliputi

    muncul akibat kerusakan

    outcome:

    lokasi,

    jaringan aktual atau potensial atau yang

    Kontrol Nyeri (1605)

    karakteristik, onset/durasi,

    digambarkan sebagai

    • 1. Klien

    dapat

    frekuensi, kualitas,

    kerusakan (International

     

    mengenali kapan

    intensitas atau

    Association for The Study

    nyeri terjadi.

    beratnya nyeri dan

    of Pain); awitan yang

    • 2. Klien

    dapat

    faktor pencetus.

    tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang

     

    menggambarkan faktor penyebab terjadinya nyeri.

    Rasional: untuk mengetahui tingkat nyeri klien.

    dapat diantisipasi atau

    • 3. dapat

    Klien

    • 2. Observasi adanya

    diprediksi.

     

    melakukan

    petunjuk

    (Domain 12.

    tindakan untuk mengurangi

    nonverbal mengenai

    Kenyamanan, kelas 1.

    nyeri

    tanpa

    ketidaknyamanan

    Kenyaman fisik, kode

    analgesic.

    terutama pada

    00132)

    • 4. Klien menggunakan analgesic yang direkomendasika n sesuai aturan.

    mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Rasional: untuk

    Tingkat Nyeri (2102)

    mengetahui

    • 1. Klien

    tingkat

     

    melaporkan

    ketidaknyamanan

    nyeri berkurang.

    yang dirasakan

    • 2. tidak

    Klien

    oleh klien.

     

    tampak mengerang dan menangis.

    • 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk

    • 3. Ekspresi wajah

    mengetahui

     

    klien

    tidak

    pengalaman nyeri

    menunjukkan

    dan sampaikan

    nyeri.

    penerimaan pasien

    Klien

    bisa

    istrihat.

    • 4. terhadap nyeri. Rasional: untuk

      • 4. Tentukan akibat

    mengalihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.

    dari pengalaman nyeri terhadap

       

    kualitas hidup klien (misalnya, tidur, nafsu makan, pengertian, perasaan, hubungan, performa kerja, dan tanggung jawab). Rasional: untuk mengetahui apakah nyeri yang dirasakan klien berpengaruh terhadap yang lainnya.

    • 5. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akn dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur. Rasional: untuk mengetahui apakah terjadi penurunan nyeri atau nyeri klien bertambah.

    • 6. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi (missal relaksasi, bimbingan antisipatif, terapi music, sebelum, sesudah, dan jika memungkinkan, ketika melakukan aktivitas yang menimbulkan nyeri; sebelum nyeri terjadi atau meningkat; dan bersamaan dengan

       

    penurunan rasa nyeri lainnya). Rasional: agar klien mampu menggunakan teknik non farmakologi dalam manajemen nyeri yang dirasakan.

    • 7. Berikan individu penurunan nyeri yang optimal dengan peresepan analgesik.

    Rasional:

    pemberian

    analgesic dapat

    mengurangi rasa

    nyeri pasien.

    Konstipasi b.d Penekanan

    Setelah

    dilakukan

    Manajemen Konstipasi

    tumor.

    asuhan

    keperawatan

    selama 1

    x

    7

    jam

    • 1. Buatlah jadwal

    Definisi: Penurunan

    diharapkan

    defekasi

    untuk BAB

    frekuensi normal defekasi

    klien

    teratur,

    dengan

    dengan cara yang

    yang disertai kesulitan

    outcome:

    tepat.

    atau pengeluaran feses tidak tuntas dan/atau feses

    Eliminasi Usus (0501)

    Rasional: untuk memfasilitasi

    yang keras, kering dan

    • 1. Konsistensi feses

    refleks defekasi.

    banyak.

    klien lembut dan berbentuk.

    • 2. Instruksikan pada klien/keluarga

    (Domain 3. Eliminasi dan Pertukaran, kelas 2. Fungsi Gastrointestinal, kode 00011)

    • 2. Eliminasi feses atau BAB klien mudah tanpa perlu mengejan berlebihan.

    pada diet tinggi serat dengan cara yang tepat. Rasional: nurisi serat tinggi untuk

    • 3. Defekasi klien

     

    dapat dilakukan satu kali sehari.

    melancarkan eleminasi fekal.

    • 3. Instruksikan klien/keluarga akan penggunaan laksatif yang tepat. Rasional: untuk melunakkan eleminasi feses.

     
    • 4. Instrukasikan klien/keluarga mengenai hubungan anatara

       

    diet, latihan, dan asupan cairan terhadap kejadian konstipasi. Rasiobal: untuk mengembilakn keteraturan pola defekasi klien dan untuk melunakkan feses klien.

    Risiko infeksi b.d

    Setelah

    dilakukan

    Kontrol Infeksi

    Prosedur invasif.

    asuhan

    keperawatan

    • 1. Mengajarkan klien

    selama

    1

    x

    7

    jam

    mengenai teknik

    Definisi: Rentan

    diharapkan

     

    resiko

    mencuci tangan

    mengalami invasi dan

    infeksi

    tidak

    terjadi,

    dengan benar.

    multiplikasi organisme

    dengan outcome:

    Rasional:

    patogenik yang dapat mengganggu kesehatan.

    Keparahan Infeksi

     

    meminimalkan pathogen yang dapat

    (Domain 11.

    00004)

    (0703)

    menyebabkan

    Keamanan/Perlindungan,

    1.

    Tidak terdapat

    infeksi.

    kelas 1. Infeksi, kode

    tanda kemerahan pada klien.

    • 2. Mengajarkan pengunjung untuk

    2.

    Tidak terdapat vesikel yang mengeras permukaannya pada klien.

    mencuci tangan pada saat memasuki dan meninggalkan ruangan klien.

    3.

    Klien tidak

    Rasional:

    merasakan nyeri.

    meminimalkan

    4.

    Klien tidak

     

    terlihat menggigil.

    pathogen yang ada di sekeliling klien.

    • 3. Mengajarkan klien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus

     

    melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatan. Rasional: agar klien dan keluarga mengetauhui tanda dan gejala infeksi.

    • 4. Mengajarkan klien dan anggota

       

    keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi. Rasional: agar klien dan keluarga mengetahui cara menghindari infeksi.

    Perlindungan Infeksi

    • 1. Memonitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Rasional: untuk mengetahui sejauh mana infeksi yang timbul.

    • 2. Memonitor kerentanan terhadap infeksi. Rasional: untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat infeksi pada klien sehingga memudahkan pengambilan intervensi.

    • 3. Memonitor hitung mutlak granulosit, WBC, dan hasil- hasil differensial. Rasional: sebagai indikator adanya infeksi.

    BAB III

    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan

    Mioma uteri merupakan

    tumor jinak miometrium dengan ciri

    tersendiri, bulat, keras, berwarna putih hingga merah muda pucat, sebagian besar terdiri atas otot polos dengan beberapa jaringan ikat. Penyakit ini banyak ditemukan pada wanita berusia >30 tahun. Mioma diklasifikasikan berdasarkan lokasinya menjadi tiga antara lain mioma pada lapisan dibawah endometrium dan menonjol ke dalam kavum uteri, mioma intramural diantara miometrium, dan mioma subrerosa tumbuh dibawah lapisan serosa uterus dan dapat bertumbuh ke arah luar dan juga bertangkai. Penyebab utama dari penyakit mioma uteri belum diketahui secara pasti. Gejala yang dirasakan berupa pendarahan abnormal, rasa nyeri, dan rasa adanya tekanan di daerah sekitar panggul yang dapat menciptakan rasa sakit hingga menjalar ke punggung. Komplikasi yang terjadi akibat mioma uteri adalahpertumbuhan leimiosarkoma, torsi (putaran tangkai), dan ekrosis dan infeksi. Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan terkait dengan moima uteri antara lain pemeriksaan tes laboratorium hitung darah lengkap dan apusan, tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin, ultrasonografi, dan pielogram intravena dapat membantu dalam evaluasi diagnostik. Kista Ovarium memiliki bentuk benjolan yang membesar, seperti balon yang beisi cairan berupa air, darah , nanah, atau cairan coklat kental seperti darah menstruasi yang tumbuh di indung telur. Penyebab terjadinya

    kista ovarium saling berhubungan antara lain hormon, riwayat keluarga, gaya hidup, pengobatan infertil, gangguan menstruasi, dan pemakaina alat kontrasepsi. Gejala klinis secara umum yang dapat timbul yaitu rasa nyeri yang disertai gatal, rasa nyeri ketika bersetubuh, dan rasa nyeri setelah siklus menstruasi selesai, dan perut membesar. Sementara gejala klinis muncul karena komplikasi tumor. Gejala komplikasi tumor dapat

    berbentuk infeksi kista ovarium dengan gejala demam, perut sakit, tegang dan nyeri, penderita tampak sakit. Beberapa pemeriksaan diagnosis kista ovarium yaitu pap smear, utrasound / scan CT, laparoskopi, hitung darah lengkap, dan foto rontgen. Tindakan medis yang dilakukan yaitu pengangkatan kista ovarium, kontrasepsi oral, dan perawatan pasca operasi setelah pembedahan Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi.

    3.2 Saran

    Peran perawat selaku tenaga kesehatan selayaknya memberikan asuhan keperawatan secara tepat, cepat, dan teliti kepada pasien, khususnya kepada pasien dengan penyakit tumor jinak seperti mioma uteri dan kista ovarium. Asuhan keperawatan yang dilakukan kepada pasien berupa tahapan pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi.

    DAFTAR PUSTAKA

    Apriyani, Y., & Sumarni, S. (2015). Analisa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian mioma uteri di rsud dr. Adhyatma semarang. Jurnal Kebidanan. Vol. 2. No. 5. Hal 36-46. Ariffati, Siska (2015) Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada Ny. K P2 A0 Dengan Kista Ovarium di Ruang Bougenvile Rsud Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Diploma Thesis, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Benson, R. C., & Pernoll, M. L. (2008). Buku Saku Obstetri & Ginekologi.Jakarta:

    EGC. Cahyasari, A. S. M., & Sakti, H. (2014). Optimisme Kesembuhan Pada Penderita Mioma Uteri. Jurnal Psikologi. Vol. 13. No. 1. Hal 21-33. Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th Edition. Missouri: Mosby Elsevier Manuaba, I.B.C., & Manuaba, I.B.G.F., 2010. Buku Ajar Penuntun Kuliah Ginekologi. Jakarta: CV.Trans Info Media. Manuaba, Ida Ayu Chandranita, dkk. 2013. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta : EGC Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th Edition. Missouri: Mosby Elsevier NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi 2015-2017/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike Budhi Subekti; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC. Prawirohardjo S, Wiknjosastro H, Sumapraja S. Ilmu Kandungan (Edisi Ketiga).J akarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono, 2011. Setyorini, Aniek. (2014). Kesehatan Reproduksi & Pelayanan Keluarga Berencana. Bogor: In Media. Shiyamika, D. N. (2014). Asuhan Keperawatan pada NN. F dengan Post Operasi Kistektomi oleh Karena Kista Coklat Hari Ke-2 di Ruang Anggrek Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Tahun 2014. Tugas Akhir, 1-21.

    Triyanto, E. (2010). Hubungan antara dukungan suami dengan mekanisme koping istri yang menderita kista ovarium di Purwokerto. Jurnal Keperawatan Soedirman, 5(1), 1-7.

    Wiknjosastro H., 2008. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Yatim, Faisal. (2008). Penyakit Kandungan. Myoma, Kanker Rahim/Leher Rahim, Indung Telur, Kista, serta Gangguan Lainnya. Jakarta. Pustaka Populer Obor.