Anda di halaman 1dari 121

LOG BOOK

MATA KULIAH AGAMA ISLAM

DIV KEBIDANAN

SEMESTER I

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEBIDANAN

2015
Tanggal : Senin, 7 September 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 4 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Hakikat Manusia

1. Definisi Manusia

Manusia dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal


tanah di bumi. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan
daging, darah, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran
dianggapnya barang benda, yang dihasilkan oleh otak. Pandangan ini menimbulkan kesan
seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan yang
hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan semata.

Dalam pandangan Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-
Nya, yang diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan hati,
sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa Al-Qur’an menurut sunah
rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam
keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat
mulia kalau mereka sebagai khalifah (makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah
(QS. Al-An’am : 165). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan (bisa dibedakan) dengan
makhluk lainnya, dan Allah menciptakan manusia untuk berkhidmat kepada-Nya,
sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat (51) : 56.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat (51) : 56).
2. Penciptaan Manusia

Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang


berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam a.s.
diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain
masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya,
kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut (Q.S, Al
An’aam (6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar
Rahman (55):4). Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya
adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di dalam proses
ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang
tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku
(‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya
segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya
ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan
Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah swt. ke dalam janin setelah ia
mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat.


Beberapa di antaranya sebagai berikut:

 Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).
 Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
 Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
 Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
 Setetes Mani

Sebelum proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada
satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-
sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena
saluran reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan
sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi
yang berlawanan. Sel telur hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.
Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani
yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).

 Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Setelah lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang
disebut ‘alaqah.

“Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah”. (al ‘Alaq/96:2).

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel
tunggal yang dikenal sebagai “zigot” , zigot ini akan segera berkembang biak dengan
membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat
dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.

Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada
dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui
hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu
bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap.
Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata
“alaq” dalam Al Qur’an. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang
menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan
lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

 Pembungkusan Tulang oleh Otot

Disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang
terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al
Mu’minun:14)
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara
bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini
bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop
yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap
bahwa pernyataan Al-Qur’an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu
terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan
tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di
sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

 Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani

Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Ketika mani disinggung di Al-
Qur’an, fakta yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa
mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran: “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan
sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan
keturunannya dari sari air yang hina.” (Al-Qur’an, 32:7-8).

3. Hakikat Manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang misterius dan sangat menarik. Dikatakan
misterius karena semakin dikaji semakin terungkap betapa banyak hal-hal mengenai
manusia yang belum terungkapkan betapa banyak hal-hal mengenai manusia yang belum
terungkapkan. Dan dikatakan menarik karena manusia sebagai subjek sekaligus sebagai
objek kajian yang tiada henti-hentinya terus dilakukan manusia khususnya para ilmuwan.
Oleh karena itu ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari.
Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya
terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya.
Didalam Al-Qur’an manusia disebut antara lain dengan
a. Bani Adam (Q.S. Al-Isra’:70)
b. Basyar (Q.S. Al-Kahfi: 10)
c. Al-Insan (Q.S. Al-Insan: 1)
d. An-Nas (Q.S. an- Anas (114):1)
Berbagai rumusan tentang manusia telah pula diberikan orang. Salah satu
diantaranya, berdasarkan studi isi Al-Qur’an dan Al-Hadits, berbunyi (setelah disunting)
sebagai berikut: Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi
untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan
mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala
perbuatannya dan berakhlak (N.A Rasyid, 1983: 19)

4. Kelebihan Manusia dari Makhluk Lainnya, Fungsi dan Tanggung Jawab


Manusia

Bertitik tolak dan rumusan singkat itu, menurut ajaran Islam, manusia, dibandingkan
dengan makhluk lain, mempunyai beberapa ciri utamanya adalah:

1. Makhluk yang paling unik, djadikan dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Tuhan
yang paling sempurna. Firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya” (QS. At-Tin:4)

Karena itu pula keunikannya (kelainannya dari makhluk ciptaan Tuhan yang lain)
dapat dilihat pada bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya,
mekanisme yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses pertumbuhannya melalui
tahap-tahap tertentu.
Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya, ketergantungannya
pada sesuatu, menunjukkan adanya kekuasaan yang berada diluar manusia itu sendiri.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah karena itu seyogyanya menyadari kelemahannya.
Kelemahan manusia berupa sifat yang melekat pada dirinya disebutkan Allah dalam Al-
Qur’an, diantaranya adalah:
a. Melampaui batas (QS. Yunus:12)
b. Zalim (bengis, kejam, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, aniaya) dan
mengingkari karunia (pemberian) Allah (QS. Ibrahim: 34)
c. Tergesa-gesa (QS. Al-Isra’:11)
d. Suka membantah (QS. Al-Kahfi:54)
e. Berkeluh kesah dan kikir (QS. Al-Ma’arij:19-21)
f. Ingkar dan tidak berterima kasih (QS. Al-‘Adiyat: 6)

Namun untuk kepentingan dirinya manusia ia harus senantiasa berhubungan


dengan penciptanya, dengan sesama manusia, dengan dirinya sendiri, dan dengan alam
sekitarnya.

2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan)


beriman kepada Allah. Sebab sebelum ruh (ciptaan) Allah dipertemukan dengan jasad di
rahim ibunya, ruh yang berada di alam ghaib itu ditanyain Allah, sebagaimana tertera
dalam Al-Qur’an:

Artinya: “apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuhan kalian? (para ruh itu menjawab)
“ya, kami akui (kami saksikan) Engkau adalah Tuhan kami”). (QS. Al-A’raf:172)

3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya dalam Al-Qur’an surat Az-
Zariyat:

Artinya: “tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” (QS.
Az-Zariyat:56)

Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus
dan jalur umum. Pengabdian melalui jalur khusus dilaksanakan dengan melakukan ibadah
khusus yaitu segala upacara pengabdian langsung kepada Allah yang syarat-syaratnya,
cara-caranya (mungkin waktu dan tempatnya) telah ditentukan oleh Allah sendiri sedang
rinciannya dijelaskan oleh Rasul-Nya, seperti ibadah shalat, zakat, saum dan haji.
Pengabdian melalui jalur umum dapat diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan
baik yang disebut amal sholeh yaitu segala perbuatan positif yang bermanfaat bagi diri
sendiri dan masyarakat, dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridaan
Allah.
4. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Hal itu dinyatakan
Allah dalam firman-Nya. Di dalam surat al-Baqarah: 30 dinyatakan bahwa Allah
menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Perkataan “menjadi khalifah”
dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia wakil atau
pemegang kekuasaan-Nya mengurus dunia dengan jalan melaksanakan segala yang
diridhai-Nya di muka bumi ini (H.M. Rasjidi, 1972:71)
Manusia yang mempunyai kedudukan sebagai khalifah (pemegang kekuasaan
Allah) di bumi itu bertugas memakmurkan bumi dan segala isinya. Memakmurkan bumi
artinya mensejahterakan kehidupan di dunia ini. Untuk itu manusia wajib bekerja, beramal
saleh (berbuat baik yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungan hidupnya) serta
menjaga keseimbangan dan bumi yang di diaminya, sesuai dengan tuntunan yang diberikan
Allah melalui agama.

5. Disamping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau
kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada Allah,
menjadi muslim. Tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak dipercaya,
tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya, menjadi
kafir. Karena itu di dalam Al-Qur’an ditegaskan oleh Allah:

Artinya: “Dan katakan bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang
mau beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia
kafir.” (QS. Al-kahfi: 29)

Dalam surat Al-Insan juga dijelaskan:


Artinya: “Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus (kepada manusia), ada
manusia yang syukur, ada pula manusia yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3)

6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hal ini
dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an :

Artinya: “Setiap orang terikat (bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.” (QS. At-
Thur: 21)
7. Berakhlaq. Berakhlaq adalah ciri utama manusia dibanding mahkluk lain. Artinya
manusia adalah makhluk yang diberikan Allah kemampuan untuk membedakan yang baik
dengan yang buruk. Dalam islam kedudukan akhlaq sangat penting, ia menjadi komponen
ketiga dalam Islam. Kedudukan ini dapat dilihat dalam sunah yang menyatakan bahwa
beliau diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia yang mulia.

Mengetahui, Denpasar, 7 September 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 14 September 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Keimanan dan Ketaqwaan

1. Definisi Keimanan
Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-
yu’manu-amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya
menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada
Allah dan selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap
kesehariannya tidak mencerminkan ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada yang telah
dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena adanya
keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah Allah dan dengan
membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Iman adalah Makrifat dengan hati, pengakuan dengan lidah dan tindakan dengan
anggota-anggota badan (dengan kata lain; Diyakini dalam Hati, diucapkan dengan lisan,
dan diwujudkan dengan perbuatan). Dalam surah al-Baqarah ayat 165 dikatakan bahwa
orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada Allah (asyaddu hubban
lillah).

Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan


selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-
orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-
orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya
(niscaya mereka menyesal) (al-Baqarah ayat 165).”
2. Definisi Ketaqwaan

Takwa adalah sifat seorang manusia yang selalu patuh pada perintah Allah dan
menjauhkan segala larangannya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa
takwa adalah terpeliharanya sifat diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan
meninggalkan larangannya.
Definisi lain pernah diutarakan oleh seorang ulama yang bernama Thalq bin Habib
rahimahullah dimana beliau berkata, “Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada
Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharap pahala Allah, dan engkau meninggalkan
maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan siksaan Allah.”

Dari ucapan beliau ini kita bisa memahami bahwa ketakwaan mempunyai 3 pondasi dasar :
a. Melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
b. Dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan harus sesuai dengan
cahaya Allah, yakni aturan Allah yang terwujud dalam sunnah Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.
c. Menyeimbangkan rasa harap dan takut kepada Allah dalam setiap amalan yang
dikerjakan.

3. Wujud Iman dan Taqwa

Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut iman. Iman bukan hanya berarti percaya,
melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu
lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang
muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan
kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan
keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan, melainkan menyatu
secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia merupakan
keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal. Seseorang
dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia
berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai amaliah
seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak beraqidah, maka segala amalnya tidak
memiliki arti apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan bernilai dalam pendengaran
manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat dengan
segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim
berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam. Seluruh
hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
Wujud Iman menurut Hasan Al-Bana di antaranya:
1. Ilahiyah: Hubungan dengan Allah
2. Nubuwwah: Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3. Ruhaniyah: Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4. Sam’iyah: Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i

4. Proses Terbentuknya Iman dan Taqwa


Spermatozoa dan ovum yang diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan
yang digariskan ajaran Allah, merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar
makanan yang dimakan berasal dari rezeki yang halalanthayyiban. Pandangan dan sikap
hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis yang dikandungnya. Ibu yang
mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka secara tidak langsung pandangan dan
sikap hidup suami juga berpengaruh secara psikologis terhadap bayi yang sedang
dikandung. Oleh karena jika seseorang menginginkan anaknya kelak menjadi mukmin
yang muttaqin, maka isteri hendaknya berpandangan dan bersikap sesuai dengan yang
dikehendaki Allah.
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang intensif,
besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih iman. Berbagai
pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang, baik yang
datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, maupun lingkungan termasuk
benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang
disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah
laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi anak-
anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk akan ditiru anak-anaknya. Jangan
diharapkan anak berperilaku baik, apabila orang tuanya selalu melakukan perbuatan yang
tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, “Setiap anak, lahir membawa fitrah. Orang
tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan proses
perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal ajaran Allah
adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal
ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah.
Seseorang yang menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka ajaran
Allah harus diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu dari tingkat
verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi mukmin, jika kepada
mereka tidak diperkenalkan al-Qur’an.
Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena
tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. Seorang
anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi
hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang dan terampil dalam
melaksanakan ajaran-ajaran Allah.
Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat
dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja. Di dalamnya
tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi kecuali secara fisik
langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat menggambarkan
sikap mental tersebut), bahkan secara tidak langsung itu adakalanya cukup sulit menarik
kesimpulan yang teliti. Di dalam tulisan ini dipergunakan istilah tingkah laku dalam arti
luas dan dikaitkan dengan nilai-nilai hidup, yakni seperangkat nilai yang diterima oleh
manusia sebagai nilai yang penting dalam kehidupan, yaitu iman. Yang dituju adalah
tingkah laku yang merupakan perwujudan nilai-nilai hidup tertentu, yang disebut tingkah
laku terpola.
Dalam keadaan tertentu, sifat, arah, dan intensitas tingkah laku dapat dipengaruhi melalui
campur tangan secara langsung, yakni dalam bentuk intervensi terhadap interaksi yang
terjadi. Dalam hal ini dijelaskan beberap prinsip dengan mengemukakan implikasi
metodologinya.
5. Tanda-Tanda Orang Beriman dan Bertaqwa
Ciri-ciri orang yang bertaqwa:
-Menjalankan tugas dengan penuh baik
-Berhati-hati dalam bertindak
-Mendekatkan diri kepada Allah SWT
-Menjadi tauladan di lingkungannya

Tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:

1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak
lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka bergejolak
hatinya untuk segera melaksanakannya
2. Senantiasa tawakal
3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga
4. Menafkahkan rezki yang diterimanya
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan
6. Memelihara amanah dan menepati janji
7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin

6. Hubungan antara Keimanan dan Ketaqwaan


Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi
dua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas
tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan
Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan
pemikiran atau konsep tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan
yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua
wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal
ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha
illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengertian tauhid praktis (tauhid
ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata lain, tidak ada
yang disembah selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah Allah semata dan
menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengertian beriman kepada
Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan,
tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat
dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara sempurna. Dalam pandangan Islam, yang
dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan
dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain, harus ada
kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam
kehidupan sehari-hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan
pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid
adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah melalui
pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan
perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah
mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua
perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Hadist tentang beriman dan bertaqwa:

 Qs. An-Nisa : 1
ُ ‫يَا أَيُّهَا ال َّن‬
ِ ‫اس اتَّقُواْ َربَّ ُك ُم ا َّلذِي َخ َلقَكُم ِمن نَّ ْف ٍس َو‬
‫اح َد ٍة‬
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan
kalian dari seorang diri.” (QS. An-Nisa`: 1)

 QS. Ali Imran: 102


ْ ‫ق تُقَاتِ ِه َوالَ تَ ُموت ُنَّ إِالَّ َوأَنت ُم ُّم‬
َ‫س ِل ُمون‬ َّ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُواْ اتَّقُواْ ّللاَ َح‬
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-
benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

 QS. Al-Hasyr: 18
َ‫ير ِب َما تَ ْع َملُون‬
ٌ ‫ّللاَ َخ ِب‬ َّ ‫س َّما قَ َّد َمتْ ِلغَ ٍد َواتَّقُوا‬
َّ َّ‫ّللاَ ِإن‬ ٌ ‫ظ ْر نَ ْف‬ َّ ‫َيا أ َ ُّيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬
ُ ‫ّللاَ َو ْلتَن‬
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian
kerjakan.”( QS. Al-Hasyr: 18)

 QS. An-Nisa`: 131


َ ْ‫اب ِمن قَ ْب ِل ُك ْم َو ِإ َّيا ُك ْم أ َ ِن اتَّقُوا‬
‫ّللا‬ َ َ ‫ص ْينَا ا َّل ِذينَ أُوت ُواْ ا ْل ِكت‬
َّ ‫َولَقَ ْد َو‬
“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab
sebelum kalian dan (juga) kepada kalian, yaitu bertakwalah kalian kepada
Allah.” (QS. An-Nisa`: 131)

 QS. Al-Maidah: 27
َ‫ِإنَّ َما يَتَقَبَّ ُل ّللاُ ِمنَ ا ْل ُمت َّ ِقين‬
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang
bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

 QS. Ath-Thalaq: 2-3


‫ب‬
ُ ‫س‬ ُ ‫ َويَ ْر ُز ْقهُ ِم ْن َحي‬.‫ّللاَ يَجْ عَل لَّهُ َم ْخ َر ًجا‬
ِ َ‫ْث ال يَحْ ت‬ َّ ‫ق‬ِ َّ ‫َو َمن يَت‬
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-
Thalaq: 2-3)

 QS. Al-Anfal: 29
ً ‫يِا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُواْ إَن تَتَّقُواْ ّللاَ يَجْ عَل لَّ ُك ْم فُ ْر َقانا‬
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan
memberikan kepadamu furqan (pembeda).” (QS. Al-Anfal: 29)

 QS. Maryam: 63
‫ث ِم ْن ِع َبا ِدنَا َمن كَانَ تَ ِقيًّا‬ ِ ُ‫تِ ْلكَ ا ْل َجنَّةُ الَّتِي ن‬
ُ ‫ور‬
“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu
bertakwa.” (QS. Maryam: 63)

 QS. Asy-Syu’ara`: 90
َ‫ت ا ْل َجنَّةُ ِل ْل ُمت َّ ِقين‬
ِ َ‫َوأ ُ ْز ِلف‬
“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Asy-Syu’ara`: 90)
 QS. Al-Baqarah: 2
َ‫ْب ِفي ِه ُهدًى ِل ْل ُمتَّ ِقين‬ ُ َ‫ذَ ِلكَ ا ْل ِكت‬
َ ‫اب الَ َري‬
“Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Mengetahui, Denpasar, 14 September 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 21 September 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Filsafat Ketuhanan (Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan)

1. Filsafat – Filsafat Ketuhanan

Filsafat adalah study tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia
secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan
melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang
tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah
proses dialektika. Untuk studi filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Sedangkan Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan


pendekatan akal budi, maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis. Bagi orang yang
menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan
pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah
pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang
dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak,
namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai
pada kebenaran tentang Tuhan.

Dalam filsafat Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan
Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim
bagi semesta alam.

Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha
Kuasa (tauhid). Dia ituwahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut al-
Qur'an terdapat 99 Nama Allah (asma'ul husnaartinya: "nama-nama yang paling baik")
yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan yang berbeda. Semua nama tersebut mengacu
pada Allah, nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas. Di antara 99 nama Allah tersebut,
yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah "Maha Pengasih" (ar-rahman)
dan "Maha Penyayang" (ar-rahim)

Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan
yang personal: Menurut al-Qur’an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi
manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka
berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan
yang di ridhoi-Nya.”

Islam mengajarkan bahwa Tuhan dalam konsep Islam merupakan Tuhan sama yang
disembah oleh kelompok agama Abrahamik lainnya seperti Kristen dan Yahudi
Filsafat ketuhanan dalam Islam digolongkan menjadi dua: konsep ketuhanan yang
berdasar al-Qur’an dan hadits secara harafiah dengan sedikit spekulasi sehingga banyak
pakar ulama bidang akidah yang menyepakatinya, dan konsep ketuhanan yang bersifat
spekulasi berdasarkan penafsiran mandalam yang bersifat spekulatif, filosofis, bahkan
mistis.

Filsafat ketuhanan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits

Menurut para mufasir(ahli agama), melalui hadis al-Qur’an (Al-’Alaq [96]:1-5),


Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia
berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur’an
adalah wahyu Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur’an merupakan
“penuturan Allah tentang diri-Nya”

Selain itu menurut Al-Qur’an sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri
manusia sejak manusia pertama kali diciptakan (Al-A’raf [7]:172).
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A’raf [7]:172).

Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji
keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi
saksi. Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa
manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan,
otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Qur’an menegaskan ini dalam surah Az-
Zumar [39]:8

Artinya : Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan)
kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan
memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang
pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan
dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia)
dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu
sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka" surah Az-
Zumar [39]:8.
dan surah Luqman [31]:32.

Artinya : Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap
menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami
selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (surah Luqman [31]:32).

2. Paham – Paham Ketuhanan

a. Teisme

Teisme adalah dalam penggunaannya yang paling luas, adalah kepercayaan


terhadap satu Tuhan.
b. Deisme

Deisme adalah kepercayaan bahwa dengan pengetahuan, akal dan pikiran,


seseorang bisa menentukan bahwa Tuhan adalah nyata. Beberapa deist menanggap
bahwa Tuhan tidak mencampuri urusan manusia dan mengubah hukum-hukum
alam semesta.
c. Agnostisisme

Agnotitisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari
suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi metafisika tentang
keberadaan Tuhan, dan yang lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal
pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak
mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang "Yang-
Mutlak"; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subjektif
dimungkinkan, namun secara objektif pada dasarnya mereka tidak memiliki
informasi yang dapat diverifikasi.
d. Ateisme

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan


Tuhan penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah
ketiadaan kepercayaan pada keberadaan Tuhan.

Mengetahui, Denpasar, 21 September 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 28 September 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Kajian Nilai Moral dan Kepribadian

1. Pengertian Moral

Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari
kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan
bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.

Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang
secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.

Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah
yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai
(ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika pengertian etika dan moral tersebut
dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral
memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia
selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.

Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan.
Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik
atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak
ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan
berlangsung di masyarakat.

Dengan demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-
konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku
yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam
moral untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya
yang berlaku di masyarakat.

2. Agama sebagai Sumber Moral

Akhlak yang baik adalah akumulasi dari akidah dan syari’at yang bersatu secara
utuh dalam diri seseorang. Apabila akidah islam telah mampu mendorong jiwa seseorang
untuk menerapkan syariat dalam kehidupan pribadi dan sosialnya maka lahirlah akhlak
yang baik pada perilakunya. Oleh sebab itu, akhlak merupakan perilaku yang tampak
apabila syariat islam telah dilaksanakan. Nabi saw. diutus oleh Allah adalah mengemban
misi untuk memperbaiki akhlak. Inilah yang ditemukan di dalam hadis Rasulullah saw.
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah berikut ini : “Aku hanya diutus (sebagai Rasulullah)
untuk menyempurnakan akhlak manusia.” (Hadis riwayat an-Nasa’i dan al-Baihaqi). Di
dalam Al-Quran disebutkan bahwa pada diri Nabi Muhammad saw. di temukan contoh
tauladan yang baik untuk menghantarkan manusia menuju rahmat Allah. Allah berfirman
di dalam surah al-ahzab ayat 21 :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan

yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21]

3. Teori Kepribadian

Manusia diciptakan oleh Allah dari dua unsur yaitu, Unsur Jasmaniah dan Unsur
Rohaniah. Dilihat dari karakteristik jasmaninya, manusia memiliki kesamaan dengan
hewan (binatang). Kesamaan itu seperti berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan makan,
minum, bernafas, seks (dorongan naluriyah untuk menambah keturunan), istirahat. Dalam
Al-Qur’an surat Ali-Imran:14, Dikemukakan tentang kebutuhan naluriyah manusia ini :

“Manusia dihiasi dengan perasaan senang terhadap: Wanita, anak, harta yang
banyak yang berupa mas, perak, kuda, (kendaraan) pilihan, binatang-binatang ternak, dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan disisi Allah ada tempat
kembali yang menyenangkan (surga)”.
Namun dari segi rohaninya, manusia berbeda dengan hewan. Dalam hal ini,
manusia memiliki akal atau kalbu yang subtansi rohaniah, yang dengannya menusia
mampu merespon (menerima/menolak) kebenaran ajaran agama sebagai pedoman hidup,
rambu-rambu yang mengatur pola perilakunya di dunia ini.

Agama menunjukan prilaku yang benar, yang membimbing manusia ke arah


kondisi kehidupan yang bahagia dan sejahtera, dan juga menunjukan pola prilaku yang
salah ( menyimpang) yang memperosokan manusia ke lembah kehidupan yang nista dan
nestana.

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan, bahwa manusia berpotensi untuk menerima atau


menolak kebenaran (Asysyams: 8): “Maka Allah mengilhamkan jiwa manusia “fujur”
(kefasihan/kedurjanaan) dan taqwa (beriman dan beramal shaleh)”.

Ayat ini menunjukan bahwa manusia dapat berkembang menjadi seorang yang
berkepribadian mulia (shaleh), atau kepribadian buruk (dolim/fasik/munafik). Kearah
kepribadian yang mana manusia itu berkembang, amat bergantung padam kualitas
pengalaman hidup sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.

4. Tipe – Tipe Kepribadian

Pilihan manusia terhadap dua masalah besar kehidupannya, yaitu haq dan bhatil
akan melahirkan perilaku-perilaku tertentu, sesuai dengan kerakteristik atau tuntunan yang
haq atau bhatil tersebut. Dalam Al-Qur’an kepribadian manusia itu terdapat tiga kelompok,
yaitu: Mukmin (Orang-orang yang beriman), Kafir (menolak kebenaran), dan Munafik
(meragukan kebenaran).

a. Tipe Mukmin
Tipe kepribadian mukmin mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Berkenaan dengan aqidah: Beriman kepada Allah, malaikat, Rosul, Kitab, Hari ahkir
dan Qodar.
2. Berkenaan dengan ibadah: melaksanakan rukun islam.
3. Berkenaan dengan kehidupan sosial: Bergaul dengan orang lain secara baik, suka
bekerja sama, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, suka
memanfatkan kesalahan orang lain dan dermawan.
4. Berkenaan dengan moral: Sabar, Jujur, Adil, Qona’ah, Amanah,thawadu’ Istiqomah
,dan mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu.
5. Berkenaan dengan Emosi: Cinta kepada Allah , Takut akan adzab allah, Tidak putus
asa dalm mencari ridha allah, Senang berbuat kebaikan pada setiap orang, menahan
marah, tidak angkuh, tidak hasud, Iri, dan berani dalam membela kebenaran.
6. Berkenaan dengan intelektual: Memikirkan alam semesta dan ciptaan allah yang
lainnya, selalu menuntut ilmu, menggunakan pikirnnya untuk sesuatu yang
bermanfaat .

b. Tipe Kafir
Tipe Kepribadian kafir mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Berkenaan dengan aqidah: Tidak beriman kepada Allah SWT.
2. Berkenaan dengan ibadah: Menolak beribadah kepada Allah SWT
3. Berekenaan dengan kehidupan sosial: Zhalim, Memusuhi orang beriman, senang
mengajak kepada kemungkaran, melarang kebijakan.
4. Berkaitan dengan kekeluargaan: Senang memutuskan silaturahmi.
5. Berkenaan dengan Moral: Tidak amanah, sombong, takabur.
6. Berkenaan dengan Emosi: Tidak cinta kepada allah, tidak takut terhadap adzab allah.
7. Berkenaan dengan intelektual: Tidak menggunakan pikirannya untuk bersyukur
kepada Allah SWT.

c. Tipe Munafik
Tipe kepribadian munafik mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Berkenaan dengan Ibadah: Bersifat riya, dan bersifat malas.
2. Berkenaann dengan Aqidah: bersifat ragu dalam dalam beriman .
3. Berhubungan dengan hubungan sosial: Menyeluruh kemungkaran dan mencegah
kebajikan, suka menyebar isu sebagai adu domba di lingkungan kaum muslimin.
4. Berkenaan dengan moral: senang berbohong, tidak amanah(khianat) , Ingkar janji,
kikir, hedonis dan poertunis.
5. Berkenaan dengan Emosi: suka curiga terhadap orang lain, takut mati.
6. Berkenaan dengan intelektual: peragu dan kurang mampu mengambil keputusan
(dalam kebenaran), dan tidak berpikir secara benar.

5. Hubungan Sikap Keagamaan dengan Kepribadian

1) Struktur Kepribadian
Sigmund Feud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem
itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat
ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan
gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya
kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut
dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri.
 Id . Sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli
manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
 Ego. Merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang
nyata.
 Super ego. Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka
sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa
individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.

2) Sukamto. M.M.
Menurut pendapat Sukamto kepribadian terdiri dari empat sistem yaitu:
 Qalb (angan-angan k ehatian). Qalb adalah hati, yang menurut bahasa berarti
sesuatu yang berbolak-balik. Sedangkan menurut istilah ialah segumpal daging
yang ada dalam tubuh yang digunakan untuk merasakan yang sifatnya bisa
berubah-ubah
 Fuad (perasaan, hati nurani), adalah perasaan terdalam dari hati yang sering kita
sebut hati nurani (cahaya mata hati), dan berfungsi sebagai penyimpan daya
ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati, dan merasakan
akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita.
 Ego (aku sebagai pelaksana dari kepribadian). Aspek ini timbul karena kebutuhan
organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego adalah
derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia
sesuatu yang subyektif dan yang obeyektif. Didalam fungsinya ego berpegang pada
prinsip kenyataan.
 Tingkah laku (wujud gerakan). Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka
acuan dan asumsi-asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena
menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersikap obyektif sepenuhnya dalam
mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh pengalaman yang disadari oleh
pribadi. Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi
ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut
normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh
di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal.

Mengetahui, Denpasar, 28 September 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 5 Oktober 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab

1. Definisi Hak, Kewajiban, dan, Tanggung Jawab


A. Definisi dan Macam - Macam Hak
Hak dapat diartikan sebagai wewenang atau kekuasaan yang secara etis
seseorang dapat mengerjakan, memiliki, meninggalkan, mempergunakan atau menuntut
sesuatu. Menurut Poedjawijatna mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hak ialah
semacam milik, kepunyaan, yang tidak hanya merupakan benda saja, melainkan pula
tindakan, pikiran dan hasil pikiran itu. Jika seseorang misalnya mempunyai hak atas
sebidang tanah, maka ia berwenang, berkuasa untuk bertindak atau memanfaatkan terhadap
miliknya itu, misalnya menjual, memberikan kepada orang lain, mengolah dan sebagainya.
Didalam Al – Qur’an kita jumpai kata al – haqq yang merupakan terjemahan
dari kata hak yang berarti milik atau orang yang menguasainya. Pengertian al –
haqq dalam Al – Qur’an sebagaimana dikemikukakan al – Raghib al – Asfahani adalah al
– mutabaqah wa al muwafaqah artinya kecocokan, kesesuaian dan kesepakatan.
Dalam perkembangan selanjutnya kata al – haqq dalam Al – Qur’an digunakan
untuk empat pengertian.Diantaranya :
1. Pertama, untuk menunjukkan terhadap pelaku yang mengadakan sesuatu yang
mengandung hikmah. Seperti adanya Allah disebut sebagai al – haqq karena Dia-lah
yang mengadakan sesuatu yang mengandung hikmah dan nilai bagi kehidupan. Dapat
juga di jumpai pada contoh ayat QS. Al-An’am, 6:62.
2. Kedua, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan kepada sesuatu yang diadakan
yang mengandung hikmah.Misalnya Allah SWT. Menjadikan matahari dan bulan
dengan al – haqq, yakni mengandung hikmah bagi kehidupan.
3. Ketiga, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan keyakinan ( I’ tiqad ) terhadap
sesuatu yang cocok dengan jiwanya.Seperti keyakinan seseorang terhadap adanya
kebangkitan di akhirat, pahala, siksaan, surga, dan neraka.
4. Keempat, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan terhadap perbuatan atau
ucapan yang dilakukan menurut kadar atau porsi yang seharusnya dilakukan sesuai
keadaan waktu dan tempat.

Macam-macam hak dilihat dari garis besarnya.


1. Hak hidup (Haqq al-hayat)
Setiap manusia mempunyai hak hidup. Hak hidup itu adalah hak yang suci
yang tidak dapat di berikan untuk keperluan sesuatu yang lain. Hak hidup merupakan
hak asasi setiap manusia. Hak hidup membawa kepada dua kewajiban.
1. Wajib bagi setiap orang menjaga Hak hidupnya dan mempergunakan hidupnya untuk
kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain.
2. Wajib bagi setiap orang menjaga hak hidup orang lain. Barang siapa yang menganggu
hak hidup orang lain dengan cara melakukan pembunuhan atau gangguan lainnya,
maka ia mendapat hukuman. Hukuman itu dapat berupa hukuman mati, yang berarti
bahwa ia harus dilenyapkan Hak hidupnya.

2. Hak kemerdekaan (Haqq Al-Hurriyyah)


Kata merdeka adalah kata samar-samar yang di pergunakan di dalam beberapa arti
yang berbeda-beda. kebebasan manusia berbuat menurut kehendaknya. Kebebasan yang
dimaksud disini bukan kebebasan yang mutlak. Tetapi kebebasan yang terbatas. Kebebasan
yang dimiliki manusia tidak boleh mengurangi atau menganggu kebebasan orang lain.
Kebebasan manusia ada batasannya, yaitu dibatasi oleh undang-undang atau aturan
moralMisalnya, kemerdekaan berfikir dan berpendapat.
a. Kemerdekaan lawan dari pada perhambaan
b. Kemerdekaan bangsa-bangsa, yang berarti tidak tunduk kepada kekuasaan asing.
c. Kemerdekaan kemajuan, ialah tiap-tiap orang aman dari perlakuan curang terhadap
miliknya. Kemerdekaan ini mengandung kemerdekaan melahirkan pendapat,
kemerdekaan pidato, kemerdekaan mempergunakan kemerdekaan.
d. Kemerdekaan berpolitik, yaitu Hak berperan dalam mengatur kehidupan bernegara,
antara lain dengan memilih wakilnya dalam pemilihan umum dan sebagainya.

Hak kemerdekaan membawa kepada dua kewajiban :


Untuk dirinya dan kebaikan orang banyak
a. wajib bagi manusiadan pemerintah menghormati hak kemerdekaan seseorang, hingga
mereka tidak mencampuri hak ihwal kecuali di dalam keadaan memaksa dan untuk
kepentingan umum.
b. Wajib bagi orang lain untuk menghormati kemerdekaan seseorang. Sudah barang tentu
selama ia tidak mengganggu kemerdekaan orang lain.

3. Hak memiliki (Haq Al-Malik)


Hak memiliki itu hampir menjadi bagian yang menyempurnakan hak kemerdekaan
. Oleh karena itu maka dibutuhkan adanya hak memiliki sesuatu. Hak milik dapat
dibedakan menjadi dua macam :
a. Hak milik perseorangan yaitu hak milik yang dimiliki secara penuh oleh seseorang
seperti pakaian, rumah, alat rumah tangga, buku-buku dan sebagainya.
b. Hak milik umum, yaitu hak milik yang dimiliki negara dan diserahkan kepada badan
atau institusi untuk mengaturnya. Misalnya sarana/alat transformasi umum, perusahaan
listrik, perusahaan air minum, dan sebagainya..

4. Hak memperoleh pendidikan (Haqq Al-Tarabbi)


Setiap manusia mempunyai hak memperoleh pendidikan sesuai dengan
kemampuannya. Pendidikan adalah alat untuk mencapai kemajuan. Kemajuan manusia
dalam berbagai bidang, ekonomi, sosial, kesehatan, dan sebagainya, sangat ditentukan oleh
pendidikan. Seorang yang berpendidikan dapat memperoleh kebutuhan hidupnya lebih
baik dari apa yang diperolek orang yang tidak berpendidikan. Keluarga yang terpelajar
dapat menjaga kesehatannya lebih baik dari pada keluarga yang tidak terpelajar. Hak
memperoleh pendidikan memberikan konsekuensi kewajiban bagi negara untuk
menyediakan sarana agar warga negara memperoleh pendidikan sebaik-baiknya. Jangan
sampai ada warga negara yang terhalang memperoleh pendidikan karena kemiskinan atau
tidak ada sarana.
5. Hak-hak perempuan
Kaum perempuan sampi hari ini belum mencapai seperti hak-hak kaum laki-laki
meskipun telah berjalan menuju kesitu beberap langkah yang amat luas. Kebanyakan ahli
fikir menyatakan bahwa kaum perempuan akan berjalan terus sehingga mencapai hasil.
Kaum perempuan akan berjalan cepat di dalam menghasilkan hak-haknya, selama dapat
membuktikan bahwa mereka dapat mempergunakan hak-haknya dengan sebaik-baiknya.

B. Definisi Kewajiban
Sebagian ahli-ahli ethika mengatakan bahwa: “wajib itu ialah perbuatan ahlak
yang ditimbulkan oleh suara hati”.mereka ulama akhlak berselisih cara bagaimana
membagi-bagi wajib. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa wajib itu dapat dibagi
menjadi :
1. Kewajiban perseorangan, ya’ni kewajiban seorang kepada dirinya seperti keberhasilan
dan keperwiraan, antara: makan dan minum, berpakaian, menjaga kebersihan dan
kesehatan, dll
2. Kewajiban kemasyarakatan, berarti keajiban seorang kepada masyarakatnya, sperti
adil dan berbuat baik.
3. Kewajiban kepada tuhan Allah, seperti ta’at.
Kewajiban terhadap Allah sangat penting agar setiap orang dapat mengetahui setiap
kewajiban yang harus dilakukan dalam upaya untuk meraih kebahagiaan yang dicita-
citakannya. Dengan demikian apabila seseorang dapat melakukan semua kewajibannya
dengan baik, maka akan dapat tercipta hubungan yang baik antara dirinya dengan orang
lain maupun dengan makhluk yang lain serta hubungan yang baik dengan Allah SWT.
Adapun kewajiban manusia terhadap Allah, antara lain :

a. Beriman kepada Allah


b. Beribadah dengan ikhlas hanya kepada Allah
c. Tidak menyekutukan Allah dengan apapun
d. Bersyukur kepada Allah
e. Meminta ampun dan bertaubat
f. Taqwa kepada Allah
g. Tawakal kepada Allah
Di dalam ajaran islam, kewajiban ditempatkan sebagai salah satu hukum syara’,
yaitu suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jka
ditinggalkan mendapatkan siksa. Dengan kata lain bahwa kewajiban dalam agama
berkaitan dengan pelaksanaan hak yang diwajibkan oleh Allah. Melaksanakan shalat lima
waktu membayar zakat bagi orang yang memiliki harta tertentu dan sampai batas nisab,
dan berpuasa di bulan Ramadhan misalnya adalah merupakan kewajiban.
Kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat kontraktual. Dengan
kata lain kewajiban adalah sesuatu yang sepatutnya diberikan. Salah satu sifat khas utama
manusia adalah manusia mampu mengemban kewajiban untuk mengikuti ajaran agama.
Manusia saja yang dapat hidup dalam kerangka hukum. Makhluk lain hanya dapat
mengikuti hukum alam yang sifatnya memaksa. Kondisi manusia dibebankan kewajiban
apabila :

a. Akil baligh
b. Sehat rohani
c. Tahu dan sadar

Manusia sebagai makhluk cipataan Allah juga mempunyai kewajiban terhadapnya


kewajiban manusia hanyalah beribadah kepada Allah. Prinsip dasar beribadah inilah
menjadi kewajiban bagi manusia sebagai makhluk Allah, penyembahan yang dilakukan
oleh manusia, buka semata-mata untuk kepentingan Allah, namun sebaliknya justru untuk
keselamatan dirinya sendiri. Bagi Allah tidak ada masalah apabila manusia tidak mau
melaksanakan kewajiban terhadapnya konsekuensinya sebenarnya terletak pada manusia
sebagai mahluk Allah, sebagaimanapun alasannya, tetap apabila manusia ingin mencari
keselamatan, harus mau melaksanakan kewajiban tersebut.

C. Definisi Tanggung Jawab

Pada prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu berdasarkan atas perbuatan


individu saja sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat Al An’am
yang Artinya: “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali
kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
Dalam surat Al Mudatstsir ayat 38 yang artinya: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab
atas apa yang telah diperbuatnya”

Akan tetapi perbuatan individu itu merupakan suatu gerakan yang dilakukan
seorang pada waktu, tempat dan kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa meninggalkan
bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh sebab itu apakah tanggung jawab seseorang
terbatas pada amalannya saja ataukah bisa melewati batas waktu yang tak terbatas bila
akibat dan pengaruh amalannya itu masih terus berlangsung mungkin sampai setelah dia
meninggal ?

Seorang yang cerdas selayaknya merenungi hal ini sehingga tidak meremehkan
perbuatan baik sekecil apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi.
Mengapa demikian ? Boleh jadi perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika
dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya terus berlangsung lama, bisa jadi akan
amat besar pahala atau dosanya.

Allah SWT menyatakan dalam QS Yaasiin yang artinya: “Kami menuliskan apa-
apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yaasiin 12).

Ayat ini menegaskan bahwa tanggangjawab itu bukan saja terhadap apa yang
diperbuatnya akan tetapi melebar sampai semua akibat dan bekas-bekas dari perbuatan
tersebut. Orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah atau anak yang
sholeh , kesemuanya itu akan meninggalkan bekas kebaikan selama masih berbekas sampai
kapanpun. Dari sini jelaslah bahwa Orang yang berbuat baik atau berbuat jahat akan
mendapat pahala atau menanggung dosanya ditambah dengan pahala atau dosa orang-
orang yang meniru perbuatannya. Hal ini ditegaskan dalam Surat An nahl 25

Artinya: “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan


sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah amat buruklah dosa yang
mereka pikul itu.”

Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban yang dibebankan


padanya. Semakin tinggi kedudukannya di masyarakat maka semakin tinggi pula
tanggungjawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung jawab atas prilaku dirinya,
keluarganya, saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya. Hal ini ditegaskan Allah
sbb.; “Wahai orang-orang mukmin peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(At Tahrim 6) Sebagaimana yang ditegaskan Rasululah saw : “Setiap kamu adalah
pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas
kepemimpinannya..”(Al Hadit)

Tanggungjawab vertikal ini bertingkat-tingkat tergantung levelnya. Kepala


keluarga, kepala desa, camat, bupati, gubernur, dan kepala negara, semuanya itu akan
dimnitai pertanggungjawabannya sesuai dengan ruang lingkup yang dipimpinnya. Seroang
mukmin yang cerdas tidak akan menerima kepemimpinan itu kecuali dengan ekstra hati-
hati dan senantiasa akan memperbaiki dirinya, keluarganya dan semua yang menjadi
tanggungannya. Para salafus sholih banyak yang menolak jabatan sekiranya ia khawatir
tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

Pemimpin dalam level apapun akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan


Allah atas semua perbuatannya disamping seluruh apa yang terjadi pada rakyat yang
dipimpinnya. Baik dan buruknya prilaku dan keadaan rakyat tergantung kepada
pemimpinnya. Sebagaimana rakyat juga akan dimintai pertanggungjawabannya ketika
memilih seorang pemimpin. Bila mereka memilih pemimpin yang bodoh dan tidak
memiliki kapabilitas serta akseptabilitas sehingga kelak pemimpin itu akan membawa
rakyatnya ke jurang kedurhakaan rakyat juga dibebani pertanggungjawaban itu.

Seorang penguasa tidak akan terlepas dari beban berat tersebut kecuali bila selalu
melakukan kontrol, mereformasi yang rusak pada rakyatnya , menyingkirkan orang-orang
yang tidak amanah dan menggantinya dengan orang yang sholeh. Pertolongan Allah
tergantung niat sesuai dengan firman Allah.

Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah akan ditunjuki hatinya danAllah Maha
Mengetahui ats segala sesuatu.” (At Taghobun 11).
2. Hubungan antara Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab

Telah dikemukakan bahwa akhlak adalah perbuatan yang telah dilakukan dengan
sengaja, mendarah daging, sebenarnya dan tulus ikhlas karena Allah. Hubungan dengan
hak dapat dilihat pada arti dari hak yaitu sebagai milik yang dapat digunakan oleh
seseorang tanpa ada yang menghalanginya.
Akhlak yang mendarah daging itu kemudian menjadi bagian dari kepribadian
seseorang yang dengannya timbul kewajiban untuk melaksanakannya tanpa merasa berat.
Dengan telaksananya hak, kewajiban, dan tanggung jawab, maka dengan sendirinya akan
mendukung terciptanya perbuatan yang akhlaki.
Mengingat hubungan hak, kewajiban dan tanggung jawab demikian erat, maka
dimana ada hak, maka ada kewajiban, dan dimana ada kewajiban maka ada tanggung
jawab, yaitu menerapkan dan melaksanakan hak sesuai dengan tempat, waktu dan
kadarnya yang seimbang.

Mengetahui, Denpasar, 5 Oktober 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 12 Oktober 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Hakikat, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia

1. Hakikat Manusia

Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah,
alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang
memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia
yang telah diberikan Allah Swt.

Manusia menurut pandangan al-Quran, al-Quran tidak menjelaskan asal-usul


kejadian manusia secara rinci. Dalam hal ini al-Quran hanya menjelaskan mengenai
prinsip-prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat dalam surat Nuh 17,
Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah 7-9, Al-Hijr
28, dan Al-Hajj 5.

Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-


macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.

Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, umumnya


dipahami secara lahiriah. Hal ini itu menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar
dari tanah, dengan asumsi karena Tuhan berkuasa , maka segala sesuatu dapat terjadi.
Ayat-ayat yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah tidak berarti bahwa
semua unsure kimia yang ada dalam tanah ikut mengalami reaksi kimia.

Dalam penciptaannya manusia dibekali dengan beberapa unsure sebagai


kelengkapan dalam menunjang tugasnya. Unsur-unsur tersebut ialah : jasad ( al-Anbiya’ :
8, Shad : 34 ). Ruh (al-Hijr 29, As-Sajadah 9, Al-anbiya’ :91 dan lain-lain); Nafs (al-
Baqarah 48, Ali Imran 185 dan lain-lain ) ; Aqal ( al-Baqarah 76, al-Anfal 22, al-Mulk 10
dan lain-lain); dan Qolb ( Ali Imran 159, Al-Ara’f 179, Shaffat 84 dan lain-lain ). Jasad
adalah bentuk lahiriah manusia, Ruh adalah daya hidup, Nafsu adalah jiwa , Aqal adalah
daya fakir, dan Qolb adalah daya rasa. Di samping itu manusia juga disertai dengan sifat-
sifat yang negatif seperti lemah ( an-Nisa 28 ), suka berkeluh kesah ( al-Ma’arif 19 ), suka
bernuat zalim dan ingkar ( ibrahim 34), suka membantah ( al-kahfi 54 ), suka melampaui
batas ( al-‘Alaq 6 ) suka terburu nafsu ( al-Isra 11 ) dan lain sebagainya. Hal itu semua
merupakan produk dari nafsu , sedang yang dapat mengendalikan kecenderungan negatif
adalah aqal dan qolb.

Dengan demikian al-Quran tidak berbicara tentang proses penciptaan manusia


pertama. Yang dibicarakan secara terinci namun dalam ungkapan yang tersebar adalah
proses terciptanya manusia dari tanah, saripati makanan, air yang kotor yang keluar dari
tulang sulbi, alaqah, berkembang menjadi mudgah, ditiupkannya ruh, kemudian lahir ke
dunia setelah berproses dalam rahim ibu.

2. Martabat Manusia

Martabat saling berkaitan dengan maqam, maksud nya adalah secara dasarnya
maqam merupakan tingkatan martabat seseorang hamba terhadap khalikNya, yang juga
merupakan sesuatu keadaan tingkatannya seseorang sufi di hadapan tuhannya pada saat
dalam perjalanan spritual dalam beribadah kepada Allah Swt. Maqam ini terdiri dari
beberapa tingkat atau tahapan seseorang dalam hasil ibadahnya yang di wujudkan dengan
pelaksanaan dzikir pada tingkatan maqam tersebut, secara umum dalam thariqat
naqsyabandi tingkatan maqam ini jumlahnya ada 7 (tujuh), yang di kenal juga dengan
nama martabat tujuh, seseorang hamba yang menempuh perjalanan dzikir ini biasanya
melalui bimbingan dari seseorang yang alim yang paham akan isi dari maqam ini setiap
tingkatnya, seseorang hamba tidak di benarkan sembarangan menggunakan tahapan
maqam ini sebelum menyelesaikan atau ada hasilnya pada riyadhah dzikir pada setiap
maqam, ia harus ada mendapat hasil dari amalan pada maqam tersebut.
Tingkat martabat seseorang hamba di hadapan Allah Swt mesti melalui beberapa
proses sebagai berikut :

1. Taubat;
2. Memelihara diri dari perbuatan yang makruh, syubhat dan apalagi yang haram;
3. Merasa miskin diri dari segalanya;
4. Meninggalkan akan kesenangan dunia yang dapat merintangi hati terhadap tuhan
yang maha esa;
5. Meningkatkan kesabaran terhadap takdirNya;
6. Meningkatkan ketaqwaan dan tawakkal kepadaNya;
7. Melazimkan muraqabah (mengawasi atau instropeksi diri);
8. Melazimkan renungan terhadap kebesaran Allah Swt;
9. Meningkatkan hampir atau kedekatan diri terhadapNya dengan cara menetapkan
ingatan kepadaNya;
10. Mempunyai rasa takut, dan rasa takut ini hanya kepada Allah Swt saja.

Dengan melalui latihan di atas melalui amalan dzikir pada maqamat, maka seseorang
hamba akan muncul sifat berikut :

1. Ketenangan jiwa;
2. Harap kepada Allah Swt;
3. Selalu rindu kepadaNya dan suka meningkatkan ibadahnya;
4. Muhibbah, cinta kepada Allah Swt.

Untuk mendapatkan point di atas, seseorang hamba harus melalui beberapa tingkatan
maqam di bawah ini, tetapi melaluinya adalah amalan dzikir pada maqam yang 7 (tujuh),
adapun hasilnya akan dapat di uraikan dengan beberapa maqam sifat, yaitu :

1. Taubat;
2. Zuhud;
3. Sabar;
4. Syukur;
5. Khauf (takut);
6. Raja’ (harap);
7. Tawakkal;
8. Ridha;
9. Muhibbah.

3. Tanggung Jawab Manusia

Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu,


juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab,
mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.

Tanggung jawab itu sendiri merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia.
Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu
memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin
meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak
bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung
jawab.

Inilah yang menyebabkan frekuensi tanggung jawab masing-masing individu


berbeda, Tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Tanggung
jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

 Macam-Macam Tanggung Jawab

a. Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri

Manusia dalam hidupnya mempunyai “harga”, sebagai mana kehidupan manusia


mempunyai beban dan tanggung jawab masing-masing.

b. Tanggung jawab terhadap keluarga

Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota
keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya.

c. Tanggung jawab terhadap masyarakat

Pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan
kedudukanya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain, maka ia harus
berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini
merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota
masyarakat yang lain agar dapat melangsunggkan hidupnya dalam masyarakat tersebut.

d. Tanggung jawab terhadap Bangsa / Negara

Suatu kenyataan bahwa setiap manusia, setiap individu adalah warga negara suatu
negara. Dalam berfikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-
norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak bisa berbuat semaunya
sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kan kepada
negara.

e. Tanggung jawab terhadap Tuhan

Manusia mempunyai tanggung jawab langsung kepada Tuhan. Sehingga tindakan


manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab
suci melalui berbagai macam agama.

Mengetahui, Denpasar, 12 Oktober 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 26 Oktober 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Kerukunan antar Umat Beragama

1. Agama Merupakan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa

Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”.
Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk
tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila pemaknaan
tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan
oleh masyarakat manusia. Namun apabila melihat kenyataan, ketika sejarah kehidupan
manusia generasi pertama keturunan Adam yakni Qabil dan Habil yang berselisih dan
bertengkar dan berakhir dengan terbunuhnya sang adik yaitu Habil; maka apakah dapat
dikatakan bahwa masyarakat generasi pertama anak manusia bukan masyarakat yang
rukun? Apakah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi saat ini adalah mencontoh
nenek moyang kita itu? Atau perselisihan dan pertengkaran memang sudah sehakekat
dengan kehidupan manusia sehingga dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena
“ketidakrukunan” itupun sudah menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?.Pertanyaan
seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya untuk
mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang berbeda arah,
antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan yang tercipta.

Manusia ditakdirkan Allah Sebagai makhluk social yang membutuhkan hubungan


dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia memerlukan
kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan
material maupun spiritual. Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan
tolong menolong (ta’awun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras,
bangsa, dan agama.

A. Kerja sama intern umat beragama

Persaudaraan atau ukhuwah, merupakan salah satu ajaran yang mendapat perhatian
penting dalam islam. Al-qur’an menyebutkan kata yang mengandung arti persaudaraan
sebanyak 52 kali yang menyangkut berbagai persamaan, baik persamaan keturunan,
keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Ukhuwah yang islami dapat dibagi kedalam
empat macam, yaitu :

– Ukhuwah ’ubudiyah atau saudara sekemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.


– Ukhuwah insaniyah (basyariyah), dalam arti seluruh umat manusia adalah
bersaudara, karena semua berasal dari ayah dan ibu yang sama;Adam dan Hawa.
– Ukhuwah wathaniyah wannasab,yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan.
– Ukhuwwah fid din al islam, persaudaraan sesama muslim.

Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan bentuk
perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab dan merasa senasib sepenanggungan. Nabi
menggambarkan hubungan persaudaraan dalam haditsnya yang artinya ” Seorang mukmin
dengan mukmin yang lain seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh terluka,
maka seluruh tubuh akan merasakan demamnya. Ukhuwwah adalah persaudaraan yang
berintikan kebersamaan dan kesatuan antar sesama. Kebersamaan di akalangan muslim
dikenal dengan istilah ukhuwwah Islamiyah atau persaudaraan yang diikat oleh kesamaan
aqidah.

Persatuan dan kesatuan sebagai implementasi ajaran Islam dalam masyarakat


merupakan salah satu prinsip ajaran Islam.

Salah satu masalah yang di hadapi umat Islam sekarang ini adalah rendahnya rasa
kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan mereka menjadi lemah. Salah satu sebab
rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam adalah karena randahnya
penghayatan terhadap nilai-nilai Islam. Persatuan di kalangan muslim tampaknya belum
dapat diwujudkan secara nyata. Perbedaan kepentingan dan golongan seringkali menjadi
sebab perpecahan umat. Perpecahan itu biasanya diawali dengan adanya perbedaan
pandangan di kalangan muslim terhadap suatu fenomena. Dalam hal agama, di kalangan
umat islam misalnya seringkali terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran mengenal
sesuatu hukum yang kemudian melahirkan berbagai pandangan atau madzhab. Perbedaan
pendapat dan penafsiran pada dasarnya merupakan fenomena yang biasa dan manusiawi,
karena itu menyikapi perbedaan pendapat itu adalah memahami berbagai penafsiran.

Untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam dan memantapkan


ukhuwah islamiyah para ahli menetapkan tiga konsep,yaitu :

1. Konsep tanawwul al ’ibadah (keragaman cara beribadah). Konsep ini mengakui


adanya keragaman yang dipraktekkan Nabi dalam pengamalan agama yang
mengantarkan kepada pengakuan akan kebenaran semua praktek keagamaan selama
merujuk kepada Rasulullah. Keragaman cara beribadah merupakan hasil dari
interpretasi terhadap perilaku Rasul yang ditemukan dalam riwayat (hadits).

2. Konsep al mukhtiu fi al ijtihadi lahu ajrun(yang salah dalam berijtihad pun


mendapatkan ganjaran). Konsep ini mengandung arti bahwa selama seseorang
mengikuti pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa, bahkan tetap diberi
ganjaran oleh Allah , walaupun hasil ijtihad yang diamalkannya itu keliru. Di sini
perlu dicatat bahwa wewenang untuk menentukan yang benar dan salah bukan
manusia, melainkan Allah SWT yang baru akan kita ketahui di hari akhir. Kendati pun
demikian, perlu pula diperhatikan orrang yang mengemukakan ijtihad maupun orang
yang pendapatnya diikuti, haruslah orang yang memiliki otoritaskeilmuan yang
disampaikannya setelah melalui ijtihad.

3. Konsep la hukma lillah qabla ijtihadi al mujtahid (Allah belum menetapkan suatu
hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan seorang mujtahid). Konsep ini dapat kita
pahami bahwa pada persoalan-persoalan yang belum ditetapkan hukumnya secara
pasti, baik dalam al-quran maupun sunnah Rasul, maka Allah belum menetapkan
hukumnya. Oleh karena itu umat islam,khususnya para mujtahid, dituntut untuk
menetapkannya melalui ijtihad. Hasil dari ijtihad yang dilakukan itu merupakan
hukum Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil ijtihad itu berbeda-beda.

Ketiga konsep di atas memberikan pemahaman bahwa ajaran Islam mentolelir adanya
perbedaan dalam pemahaman maupun pengalaman. Yang mutlak itu hanyalah Allah dan
firman-fiman-Nya,sedangkan interpretasi terhadap firman-firman itu bersifat relatif.
Karena itu sangat dimungkinkan untuk terjadi perbedaan. Perbedaan tidak harus
melahirkan pertentangan dan permusuhan. Di sini konsep Islam tentang Islah diperankan
untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi sehingga tidak menimbulkan permusuhan,
dan apabila telah terjadi, maka islah diperankan untuk menghilangkannya dan menyatukan
kembali orang atau kelompok yang saling bertentangan.

B. Kerja sama antar umat beragama

Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak


selalu hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat
diaplikasikan dalam masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai yang
bersifat universal. Kendatipun dapat dipahami bahwa Isalam yang hakiki hanya dirujukkan
kepada konsep al-quran dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag lahirdari pelaksanaan
ajaran isalam secara konsekwen dapat dirasakan oleh manusia secara keseluruhan.
Demikian pula pada tataran yang lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa,nilai-nilai ajaran
Islam menjadi sangat relevan untuk dilaksanakan guna menyatukan umat manusia dalam
suatu kesatuan kebenaran dan keadilan. Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan
pengingkaran terhadap makna Islam, sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan
keadilan yang bersifat universal. Universalisme Islam dapat dibuktikan anatara lain dari
segi, dan sosiologo. Dari segi agama, ajaran Islam menunjukkan universalisme dengan
doktrin monoteisme dan prinsip kesatuan alamnya. Selain itu tiap manusia, tanpa
perbedaan diminta untuk bersama-sama menerima satu dogma yang sederhana dan dengan
itu ia termasuk ke dalam suatu masyarakat yang homogin hanya denga tindakan yang
sangat mudah ,yakni membaca syahadat. Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada
paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak
kecuali yang merugikan umat Islam.
Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu
ditujukan kepada semua manusia agar mereka menganut agama islam, dan dalam tingkat
yang lain ditujukan kepada umat Islam secara khususu untuk menunjukan peraturan-
peraturan yang harus mereka ikuti. Karena itu maka pembentukan masyarakat yang
terpisah merupakan suatu akibat wajar dari ajaran Al-Qur’an tanpa mengurangi
universalisme Islam. Melihat Universalisme Islam di atas tampak bahwa esensi ajaran
Islam terletak pada penghargaan kepada kemanusiaan secara univarsal yang berpihak
kepada kebenaran, kebaikan,dan keadilan dengan mengedepankan
kedamaian.;menghindari pertentangan dan perselisian, baik ke dalam intern umat Islam
maupun ke luar.

Dengan demikian tampak bahwa nilai-nilai ajaran Islam menjadi dasar bagi
hubungan antar umat manusia secara universal dengan tidak mengenal suku,bangsa dan
agama.
Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam,
kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kedua persoalan tersebut
merupakan hak intern umat Islam yang tidak boleh dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial
kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja sama yang baik. Kerja sama antar umat
bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam
ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama ydalam bidang-bidang ekonomi, politik, maupun
budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan.

2. Kebersamaan dalam Pluralisme

Pluralisme terdiri dari dua suku kata yaitu Plural yang berarti jamak; lebih dari
satu, dan isme sufiks pembentuk nomina sistem kepercayaan berdasarkan politik, sosial,
atau ekonomi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pluralisme berarti keadaan
masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya).

Dalam kaitannya dengan pluralisme, Islam sangat menekankan pada dua aspek dasar,
yaitu :

1. Kesatuan manusia (unity of mankind).


2. Keadilan di semua aspek kehidupan.
Keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah
dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi
pemimpin. Menurut pendapat Muhammad Quttub, Islam memberikan hak-hak yang
penting terhadap semua orang tanpa perbedaan apapun. Islam menyatukan semua jenis
karena pada hakikatnya mereka sama-sama manusia dan juga menjamin kebebasan mutlak
untuk memilih agama di bawah penjagaan dan perlindungannya.

Pada dasarnya manusia diciptakan berbeda-beda. Allah menjelaskan bahwa dengan


perbedaan itu manusia dituntut untuk saling mengenal, lita ‘arofu. Namun ketika seseorang
memahami sebagai kebenaran mutlak yang ia yakini, orang itu kerap kali terjebak dalam
pandangan yang mengarah pada konflik, pertikaian antara seorang muslim dan non-muslim
atau mungkin diantara sesama Muslim yang berbeda faham. Bagaimana menjembatani
perbedaan-perbedaan ini sehingga memungkinkan terwujudnya perdamaian?

Hal itu menurut Khamami Zada, sangat terkait dengan bagaimana seseorang
memahami agama lain sebagai sesuatu yang mempunyai jalan tersendiri. Allah telah
menyebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 48, likullin ja’alna minkum siratan wa minhaja’,
(untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang) dalam
setiap agama itu ada syari’atnya sendiri, jalannya sendiri, yang memiliki kebenarannya
masing-masing. Tanpa memahami kebenaran mutlak di masing-masing agama, kita akan
sulit menemukan perdamaian diantara agama-agama itu sendiri. Disinilah kekurangan
umat Islam ketika memahami agama lain sebagai sesuatu yang lain, ‘ the others’. Agama
lain harus dipahami sebagai suatu realitas yang ada dimasyarakat. Islam sebaiknya tidak
sekedar didakwahkan dalam perspektif yang lahiriyah, persoalan-persoalan keakhiratan
yang melupakan dimensi sosial. Kalau Islam didakwahkan secara inklusif, dan bisa
memahami agama-agama lain sebagai suatu realitas kebenaran tersendiri, maka Islam akan
benar-benar menjadi agama rahmatan lil ’alamain.

Oleh karena itu, Budhi Munawar-Rahman, menjadi penting untuk disadari adalah
memposisikan fungsi kritis terhadap agama yang harus dilakukan dengan menjauhi sikap-
sikap yang bersifat totaliter. Disamping itu agamapun dituntut untuk mangadakan kritik
terhadap dirinya sendiri, karena keberadaan agama telah mendasarkan diri pada iman
kepada Tuhan “pencipta manusia” bukan Tuhan “ciptaan manusia”. Agama juga tidak bisa
apolitis dalam pengertian hanya membatasi diri pada masalah ritualistik dan moralitas
dalam kerangka ketaatan individu kepada Tuhannya, tetapi perlu terlibat kedalam proses
transformasi sosial.

Abdul Wahid Hamid mengatakan, suatu ciri khas ajaran Islam adalah keyakinan
bahwa agama Islam itu suatu cara hidup yang lengkap dan menyeluruh. Agama yang
mempunyai hubungan integral dan organik dengan politik dan masyarakat. Ideal Islam itu
terbayang dalam perkembangan hukum Islam yang merupakan suatu hukum yang serba
mencakup. Sebagai ajaran yang benar, Islam pada dasarnya bisa diterapkan disepanjang
masa dan dimanapun (shalihun li kulli zaman wa makam).

Dalam tiap langkahnya, seorang muslim akan selalu berhadapan dengan Tuhan
yang terepresentasikan melalui syari’atnya. Disini tanggung jawab individu menjadi jelas,
karena kehadiran Tuhan dalam perasaan manusia saja sudah cukup membuat setiap
manusia benar-benar sadar akan kewajibannya, demikian menurut pendapat Khurshid
Ahamad. Mengutif pernyataan Fazrul Rahman, kenyataan yang peling mendasar tentang
Islam dalam abad sekarang ini adalah kemerdekaan dari kekuasaan asing yang dicapai oleh
rakyat-rakyat Muslim diberbagai negri mereka.Dengan mengacu pada kenyataan seperti
itu, maka Islam telah memainkan peran yang menentukan dan dominan.

Menurut Amin Abdullah, dalam konteks keIndonesiaan terlepas dari sejarah besar
pluralisme. Kerukunan antar umat beragama sangat penting dan sangat dibutuhkan bagi
bangsa yang majemuk dalam hal agama seperti halnya di Indonesia. Keanekaragaman
(pluralisme) agama yang hidup di Indonesia termasuk di dalamnya keanekaragaman paham
keagamaan yang ada di dalam tubuh intern umat beragama adalah merupakan kenyataan
historis. Jika toleransi dalam beragama tidak ditegakkan, maka negara atau bangsa tersebut
akan menghadapi berbagai konflik antar pemeluk masing-masing agama dan dapat
menyebabkan disintegrasi. Untuk memberi perhatian khusus kepada masalah kerukunan
antar umat beragama, harus diupayakan untuk memahami masalah yang sebenarnya dan
dapat menemukan cara untuk menciptakan kerukunan itu (jika belum ada), atau
menumbuhkan serta mengembangkan (jika telah ada). Ada beberapa ayat yang secara tegas
mengatur pluralisme agama yang menyebutkannya dengan jelas. Selain ayat dalam al-
Qu’an surat al-Kafirun, ada satu ayat lagi yang tegas-tegas menyatakan bahwa agama tidak
bisa dipaksakan kepada seseorang, yaitu al-Baqarah: 256 yang artinya: “Tidak ada paksaan
untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada
jalan yang salah. Karena itu siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan
Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”.

Ayat di atas sebenarnya mengajarkan bahwa Allah telah menjelaskan mana yang
benar dan mana yang salah, atau lebih tegasnya mana agama yang benar dan mana agama
yang tidak benar (yang dalam al-Qur’an disebut ajaran thagut). Sesungguhnya misi Islam
yang paling besar adalah pembebasan. Dalam konteks dunia modern, ini berarti Islam
harus membebaskan manusia dai kungkungan aliran pikiran dan filsafat yang menganggap
manusia tidak mempunyai kemerdekaan, demikian menurut Kuntowijoyo. Dengan visi
teologis semacam itu, islam sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengisi
kehampaan spiritual yamg merupakan produk dunia modern.

Dari kacamata Islam, kemajemukan adalah sunnatullah (hukum alam). Masyarakat


yang majemuk ini tentu saja memiliki budaya dan aspirasi yang beraneka, tetapi mereka
seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada superioritas antara satu suku, etnis
atau kelompok sosial dengan lainnya. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk
berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik. Namun kadang-kadang perbedaan ini
menimbulkan konflik di antara mereka. Maka sebuah upaya untuk mengatasi permasalahan
ini dimunculkan konsep atau paham kemajemukan (pluralisme).

Secara garis besar pengertian konsep pluralisme meminjam definisi yang dikemukakan
oleh Alwi Shihab dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan.
Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan
tersebut. Pluralisme agama dan budaya dapat kita jumpai dimana-mana. Di dalam
masyarakat tertentu, di kantor tempat orang bekerja. Tetapi seseorang dikatakan
menyandang sifat tersebut apabila ia dapat berinteraksi positif dalam lingkungan
kemajemukan tersebut. Dengan kata lain, pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap
pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi
terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna terciptanya kerukunan,
dalam kebhinekaan.

Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme


menunjuk kepada suatu realita dimana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup
berdampingan disuatu lokasi. Sebagi contoh adalah kota New York. Kota ini adalak kota
kosmopolitan. Di kota ini terdapat orang Yahudi, Kristen, Muslim, Hindu, Budha, bahkan
orang-orang yang tanpa agama sekalipun. Seakan seluruh penduduk dunia berada di kota
ini. Namun interaksi positif antar penduduk ini, khususnya dibidang agama, sangat
minimal, kalaupun ada. Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan
relativisme. Seorang relativis akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut
“kebenaran” atau “nilai” ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir
seseorang atau masyarakatnya.

Sebagai contoh, “kepercayaan/kebenaran” yang diyakini oleh bangsa Eropa bahwa


“Colombus menemukan Amerika” adalah sama benarnya dengan
“kepercayaan/kebenaran” penduduk asli benua tersebut yang menyatakan “Colombus
mencaplok Amerika”.

Sebagai konsekwensi dari paham relativisme agama, doktrin agama apa pun harus
dinyatakan benar. Atau tegasnya “semua agama adalah sama”, karena kebenaran agama-
agama, walaupu berbeda-beda dan bertentangan satu dengan lainnya, tetapi harus diterima.
Suatu kebenaran universal yang berlaku untuk semua dan sepanjang masa. Namun yang
menjadi persoalan adalah manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, dan ketika dalam
sosial praksis akan menimbulkan dampak pada perubahan sosial.
Pluralisme agama dan multikulturalisme tidak hanya dalam suatu negara, tetapi
antar kawasan dan tingkat global, dalam arti menghormati perbedaan persepsi dan
keyakinan agama dan tradisi. Sebuah kepekaan pluralis-multikulturalis, harus
dikembangkan tidak hanya dikalangan umat Islam, tapi juga menyangkut umat-umat antar
agama dan persoalan-persoalan non-agama.

Mengetahui, Denpasar, 26 Oktober 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 2 November 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 4 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Taat Hukum Tuhan dan Fungsi Profetik Agama

1. Pengertian Profetik Agama

Kata “profetik” berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna
Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi. Yaitu sifat nabi yang mempunyai
ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor
perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa
henti melawan penindasan. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi
Musa melawan Fir’aun, Nabi Muhammad yang membimbing kaum miskin dan budak belia
melawan setiap penindasan dan ketidakadilan, mempunyai tujuan untuk menuju kearah
pembebasan. Menurut Ali Syari’ati dalam Hilmy (2008:179) para nabi tidak hanya
mengajarkan dzikir dan do’a tetapi mereka juga datang dengan suatu ideologi pembebasan.
Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang
tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya
mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan
perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik. Kuntowijoyo sendiri memang
mengakuinya, terutama dalam sejarahnya Islamisasi Ilmu itu seperti hendak memasukan
sesuatu dari luar atau menolak sama sekali ilmu yang ada (Kuntowijoyo, 2001: 357).

2. Fungsi Profetik Agama

Fungsi profetik agama adalah bahwa agama sebagai sarana menuju kebahagiaan
juga memuat peraturan-peraturan yang mengondisikan terbentuknya batin manusia yang
baik, yang berkualitas, yaitu manusia yang bermoral (agama sebagai sumber moral) .
Kearifan yg menjiwai langkah hukum dengan memberikan sanksi hukum secara bertahap
sehingga membuat orang bisa memperbaiki kesalahan (bertaubat kepada Tuhan).
3. Kesadaran Taat Hukum
a. Pengertian Taat Hukum
 Umum
- Patuh terhadap aturan perundang-undangan, ketetapan dari pemerintah,
pemimpin yang dianggap berlaku oleh untuk orang banyak.
- Mematuhi aturan perundang-undangan untuk menciptakan kehidupan berbangsa
bernegara dan bermasyarakat yang berkeadilan.
 Islam
Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan yang telah ditetapkan
oleh Al-Quran dan hadits serta Ijma’ Ulama dengan sabar dan ikhlas.

b. Asas Hukum
a. Pengertian Asas Hukum

 Kebenaran yang dipergunakan sebagai tumpuan berfikir dan


berpendapat.
 Kebenaran itu bertujuan dalam penegakan dan pelaksanaan hukum.
b. Asas Hukum Secara Umum

 Asas kepastian hukum


Tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali atas kekuatan hukum
dan perundang-undangan yang berlaku untuk perbuatan itu.

 Asas keadilan
Berlaku adil terhadap semua orang tanpa memandang status sosial,
status ekonomi, ras, keyakinan, agama dan sebagainya.

 Asas kemanfaatan
Mempertimbangkan asas kemanfaatan bagi pelaku dan bagi kepentingan
negara dan kelangsungan umat manusia.
c. Asas Hukum Secara Islam
 Asas kepastian hukum
Tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali atas kekuatan hukum dan
perundang-undangan yang berlaku untuk perbuatan itu.
Qs. Al-Maidah : 95
‫ص ْيدَ َوأَنت ُ ْم ُح ُر ٌم َو َمن قَتَلَهُ ِمن ُكم ُّمتَعَ ِمداً فَ َجزَ اء ِمثْ ُل َما قَت َ َل ِمنَ النَّعَ ِم‬ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُواْ الَ تَ ْقتُلُواْ ال‬
‫صيَاما ً ِليَذُوقَ َوبَا َل‬ ِ َ‫ساكِينَ أَو َعدْ ُل ذَلِك‬ َ ‫طعَا ُم َم‬ َ َّ‫يَحْ ُك ُم بِ ِه ذَ َوا َعدْ ٍل ِمن ُك ْم َهدْيا ً بَا ِل َغ ْال َك ْعبَ ِة أَ ْو َكف‬
َ ٌ ‫ارة‬
‫يز ذُو ا ْن ِتقَ ٍام‬ َ ‫أ َ ْم ِر ِه َعفَا ّللاُ َع َّما‬
ٌ ‫سلَف َو َم ْن َعادَ فَيَنت َ ِق ُم ّللاُ ِم ْنهُ َوّللاُ َع ِز‬

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang


buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu
membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan
binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut
putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-ya yang dibawa
sampai ke Kabah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi
makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan
yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari
perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan
barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan
menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk)
menyiksa.QS. al-Mai'dah (5) : 95
 Asas keadilan
Berlaku adil terhadap semua orang tanpa memandang status sosial, status
ekonomi, ras, keyakinan, agama dan sebagainya.
Qs. Shad : 26
ِ ‫ق َو َال تَتَّ ِبعِ ْال َه َوى فَي‬
َ ‫ُضلَّكَ َعن‬
‫س ِبي ِل‬ ِ ‫اس ِب ْال َح‬ِ َّ‫ض فَاحْ ُكم بَيْنَ الن‬ِ ‫يَا دَ ُاوود ُ ِإنَّا َج َع ْلنَاكَ َخ ِليفَةً فِي ْاْل َ ْر‬
‫ب‬
ِ ‫سا‬ َ ‫سوا َي ْو َم ْال ِح‬ َ ٌ‫ّللاِ لَ ُه ْم َعذَاب‬
ُ َ‫شدِيد ٌ ِب َما ن‬ َ ‫ضلُّونَ َعن‬
َّ ‫س ِبي ِل‬ ِ ‫ّللاِ ِإ َّن الَّذِينَ َي‬
َّ

“Allah memerintahkan para penguasa, penegak hukum sebagai khalifah di


bumi ini menegakan dan menjalankan hukum sabaik-baiknya tanpa
memandang status sosial, status ekonomi dan atribut lainnya”.
Qs. An-Nisa’ : 135 dan Qs. Al-Maidah : 8
Intinya : “Keadilan adalah asas titik tolak, proses dan sasaran hukum
dalam Islam”
“Siapa yang tidak menetapkan sesuatu dengan hukum yang telah
ditetapkan Allah itulah orang-orang yang aniaya”
 Asas kemanfaatan
Mempertimbangkan asas kemanfaatan bagi pelaku dan bagi kepentingan
negara dan kelangsungan umat manusia.
Qs. Al-Baqarah : 178
ِ‫اص ف‬
ُ ‫ص‬َ ‫ب َعلَي ُك ُم ال ِق‬ َ ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ُك ِت‬
ُ ‫ي القَتلَى ال ُح ُّر ِبال ُح ِر َوال َعبد ُ ِبال َعب ِد َواألُنثَى ِباألُنثَى فَ َمن‬
‫ع‬
‫عذَاب أَ ِلي‬ َ ‫وف َوأَدَاء ِإ َلي ِه ِبإِح‬
َ ُ‫سان ذَلِكَ تَخ ِفيف ِمن َّر ِب ُكم َو َرح َمة فَ َم ِن اعتَدَى َبعدَ ذَلِكَ فَلَه‬ ِ ‫ي َلهُ ِمن أ َ ِخي ِه شَيء فَ ِات َباع ِبال َمع ُر‬ َ ‫ِف‬
‫م‬
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan
dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka,
hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang
mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan)
mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf)
mambayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik
(pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan
suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka
baginya siksa yang sangat pedih. (QS. 2:178)
 Asas kejujuran dan kesukarelaan
QS. Al-Mudatsir : 38
ٌ‫ت َرهِينَة‬
ْ َ‫ُك ُّل نَ ْف ٍس ِب َما َك َسب‬

“Setip individu terikat dengan apa yang ia kerjakan dan setiap individu
tidak akan memikul dosa orang (individu) lain”.

4. Profetik Agama dan Taat Hukum


a. Pengertian Profetik Agama Dalam Taat Hukum
1. Hal-hal yang digambarkan, dan dinyatakan oleh Agama memalui yang
dicontohkan Nabi Muhammad saw.
2. Agama yang diajarkan atau dicontohkan oleh para Nabi/ Rasulullah
3. Contoh atau tauladan yang telah digariskan / dicontohkan Rasulullah saw
b. Fungsi Profetik Agama
1. Dalam Mengatasi Krisis Kebudayaan dan Kemanusiaan
Menjelaskan dan mengubah fenomena-fenomena sosial masyarakat yang
salah atau kurang baik seperti :
 Dalam Deideologisasi yang tidak sehat dan merugikan tatanan
masyarakat (Politik atau paham yang tidak sehat)
 Dalam keamanan dan kebebasan yang nyaris menabrak rambu-rambu
hukum dan norma serta nilai yang ada
 Dalam Reduksionisme (penurunan kwalitas ilmu pengetahuan) Ijazah
ilegal dan aspal
 Dalam Materialisme (kebendaan), pamer, glamour, poya-poya dsb
 Dalam Ekologi (lingkungan) ketidakseimbangan kehidupan dalam
masyarakat (Imbalance), baik materi dan non materi, baik lahir maupun
bathin
 Dalam Kultural (kebudayaan, peradaban) seperti Globalisasi (Ends of
Pluralisme)

2. Dalam Mengatasi / Merevitalisasi Keberagaman Dalam Menjalankan Agama


Dengan Back to Qur’an and Sunnah
a. Menjadikan Al-Quran dan Sunnah
 Sebagai sumber dan payung hukum dalam memahami dan
mengamalkan ajaran Islam
 Sebagai sumber rujukan dalam menyelesaikan dan memutuskan
suatu hukum -> QS.Al-Maidah : 48 – 49 QS. An-Nisa’ ; 59 dsb
b. Permasalahan yang ada bila tidak didapatkan dalam QS boleh
melakukan Istimbat hukum dengan tetap merujuk kepada QS.
QS.Isra’ : 15 dan Taqrir yang dikeluarkan Rasulullah saw.
c. Tidak menjadikan paham, mazhab, aliran sebagai keputusan final
yang Undervartable. Paham, aliran, mazhab tidak termasuk
Tasyri’ hanya bayan liat-tasyri’
d. Memperbolehkan Ikhtilaf, namun hanya pada masalah Ijtihadiyah
e. Tidak memandang hal-hal yang bersifat keduniaan yang tidak
ditentukan oleh QS, namun tetap mengacu pada sifat Basyariah
Rasulullah sebagai syari’at -> “antum a’lamubi umuri dunyakum”
f. Suatu hukum dari Ijtihad bersifat debatable (yang dapat dibantah,
debat) bukan merupakan keputusan final

Mengetahui, Denpasar, 2 November 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 9 November 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Peran Umat Beragama dalam Mewujudkan Masyarakat Beradab dan


Sejahtera

1. Masyarakat Beradab dan Sejahtera

Masyarakat berarti sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh
suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Dari pengertian ini dapat dicontohkan istilah
“masyarakat desa”, ialah masyarakat yang penduduknya mempunyai mata pencaharian
utama bercocoktanam, perikanan, peternakan atau gabungan dari ketiganya ini, yang
sistem budayanya mendukung masyarakat itu. Masyarakat modern berarti masyarakat yang
sistem perekonomiannya berdasarkan pasar secara luas, spesialisasi di bidang industri, dan
pemakaian teknoligi canggih (Kamus Besar, l990:564).
Memperthatikan kedua istilah di atas, “masyarakat desa”, dan “masyarakat
moderen”, kata kedua dalam gabungan dua kata itu, “desa” dan “modern” merupakan
kualitas dari suatu masyarakat. Bertolak dari cara demikian dapat memberi suatu kualitas
pada suatu “masyarakat”, umpama masyarakat tradisional, masyarakat primitif, masyarakat
agamis, masyarakat beradab, masyarakat sejahtera, dan masyarakat beradab dan sejahtera.
Pada contoh terakhir ini memberikan dua buah kualitas sekaligus, yaitu “beradab” dan
“sejahtera”. Hal semacam ini boleh-boleh saja.
Kata beradab berarti kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budipekerti (Kamus
Besar, l990:5). Sementara itu kata sejahtera berarti aman sentosa dan makmur, selamat
(dari gangguan dan kesukaran - Kamus Besar, l990:795). Bertolak dari masing-masing
pengertian term “masyarakat”, “beradab”, dan “sejahtera”, rangkaian kata ketiganya
menjadi masyarakat beradab dan sejahtera mempunyai maksud bahwa masyarakat yang
dikehendaki adalah masyarakat yang kumpulan manusianya terdiri atas orang-orang yang
halus, sopan, dan baik budipekertinya supaya masyarakat tersewbut selamat dan bebas dari
gangguan maupun kesukaran.
Bangsa Indonesia secara prinsip adalah masyarakat majemuk terdiri atas kumpulan
masyarakat bagian-bagian sejak dari barat masyarakat Nangroe Aceh Darussalam hingga
ke timur masyarakat Irian Jaya atau masyarakat Papua. Kumpulan besar dari berbagai
masyarakat itu masing-masingnya menghimpun menjadi masyarakat besar dengan nama
masyarakat (bangsa) Indonesia karena memiliki sistem budaya dan pandangan hidup yang
sama (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, berbahasa satu bahasa Indonesia, berbangsa satu
bangsa Indonesia, bernegara satu Negara Kesatuan Republik Indonesia, berbendera satu
bendera merah putih). Masyarakat (bangsa) Indonesia sesuai dengan sila kedua
“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”menghendaki sebagai bangsa yang berkesopanan,
baik dan halus budipekertinya supaya bisa menciptakan kemakmuran, kesentosaan,
selamat dari berbagai kesulitan dan gangguan.
Gangguan yang sekarang ini merebak dan mewabah dan dapat dirasakan oleh
setiap yang sadar sebagai anggota masyarakat (bangsa)Indonesia antara lain:budaya KKN
(korupsi, kolusi, dan nepotesme), penggundulan hutan secara liar oleh cukong-cukong
culas dan berlanjut pada pembalakan kayu yang liar pula secara besar-besaran, demo-demo
kolosal yang anarkhis merusak fasilitas dan kepentingfan umum, mafia hukum yang
bermuara hukum berpihak kepada pemikik uang, di samping praktik-praktik amoral seperti
pornografi dan porno aksi, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan masih banyak
gangguan lainnya.
Dalam tinjauan agama, para pelaku gangguan menuju masyarakat beradab itu
disebut mufsidun, yaitu orang-orang yang berbuat kerusakan. Allah tidak menyukai orang
semacam ini. Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S. al-
Qasas/28:77; al-Maidah/5:64).

Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan, Allah


melarangnya. Demikian larangan itu:

(syu’aib) berkata: Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahal) hari
akhir dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan (Q.S.al-
‘Ankabut/29:36; asy-Su’ara’/26:l83; Hud/11/85;al-A’raf/7:74).
Akibat pengabaian larangan Allah ditanggung oleh manusia sendiri, dalam hal ini
bangsa Indoneia.
Berteori dari kisah-kisah umat terdahulu seperti:kaum Samud, kaum ‘Ad, umat
Nabi Luth, umat Nabi Musa, umat Nabi Nuh, dan umat-umat Nabi lain yang
membangkang dari perintah Allah, berbuat kerusakan,, amoral seperti sodomi umat Nabi
Luth, Allah menjadi murka kemudian menurunkan bala’ umpama banjir Nuh (Q.S.
Hud/11:32-45), kaum Samud dibinasakan dengan amat dahsyat, kaum ‘Ad dihancurkan
dengan angin kencang (Q.S. al-Haqqah/69:56), mungkin sekali musibah sunami di
Nangroe Aceh Darussalam, di pulau Nia, dan di Pangandaran; gempa bumi di Yogyakarta
dan Padang Sumatera Barat; angin puting beliung (lisus) di Yogyakarta, semburan lumpur
panas Lapindo Brantas di Sidoarjo Jawatimur, tenggelamnya KM Senopati, raibnya
pesawat Adam Air di udara, dan meledaknya pesawat Garuda Indonesia Air Ways adalah
peringatan Allah agar umat manusia (dalam hal ini bangsa Indonesia) kembali (bertaubat)
kepada-Nya dengan mereformasi diri menjadi masyarakat yang beradab. Allah berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebebkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar - Q.S. ar-Rum/30:41)

Allah berjanji, jika suatu masyarakat taat akan aturan-aturan Allah, jauh dari sifat-
sifat biadab, Allah pasti akan menurunkan berkah dari langit maupun bumi yang
menjadikan masyrakata itu makmur, sejahtera, tidak ada gangguan maupun kesulitan.
Tetapi jika sebaliknya, mengedepankan sifat-sifat biadab Allah akan menimpakan siksa.
Alquran mengatakan:
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Mengetahui, Denpasar, 9 November 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 16 November 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Peran Umat Beragama dalam Mewujudkan Masyarakat Beradab dan


Sejahtera

2. Peran Umat Beragama dalam Mewujudkan Masyarakat Beradab dan Sejahtera

1. Landasan

Masyarakat, sebagaimana masyarakat madani binaan Rasulullah, didasarkan pada


Alquran dan Assunnah beliau sendiri. Petunjuk Alquran yang langsung berkenaan dengan
masyarakat beradab dan sejahtera didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

a. Tauhid

Rumusan tauhid terdapat dalam surat al-Ikhlas sebagai berikut:

Katakanlah, “Dia lah Alah Yang Maha Esa”. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula dianakkan. Dan tidak ada
seorang pun yang setara dengan Dia (Q.S. al-Ikhlas/ll2:l-4).

Dalam ayat kedua dari surat tersebut menyatakan bahwa segala sesuatu bergantung
kepada Allah swt., termasuk segala urusan yang berkenaan dengan masyarakat. Kepada
Allah mereka, masyarakat, kumpulan dari orang perorang, yang memiliki sistem budaya
dan pandangan hidup, menyembah dan mohon pertolongan. Allah berfirman:

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon


pertolongan (Q.S. al-Fatihah/1:5).

Dalam sistem kebangsaan dan kenegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia,


prinsip tauhid sejalan dengan sila pertama, “ketuhanan Yang Maha Esa”, bahkan
sebenarnya prinsip tauhid menjiwai sila pertama ini.
b. Perdamaian

Suatu masyarakat, negara, bahkan masyarakat yang paling mikro sekalipun, yaitu
keluarga batih (nuclear family: suami, istri, dan anak) tidak akan bisa bertahan
kebaradaannya kalau tidak ada perdamaian diantara warganya. Alquran mengatakan

Dan jika ada dua golongan orang-orang mukmin berperang (bermusuhan), maka
damaikan diantara keduanya . . . sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.
Karena itu damaikanlah anatara kedua saudaramu itu (Q.S. al-Hujarat/49: 9 dan l0).

Semangat ayat itu hendaklah yang satu kepada yang lain senantiasa berbuat baik,
dan tidak boleh saling bermusuhan.

c. Saling Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan kelanjutan dan isi berbuat baik terhadap orang lain.
Secara naluri, orang yang pernah ditolong oleh orang lain di saat ia tertimpa kesulitan,
diam-diam ia berjanji “suatu saat akan membalas budi baik yang sedang diterima”. Di saat
itu ia merasa berhutang budi. Di saat ini pula sering terlontar kata “semoga Allah
membalas budi baik Bapak . . . dan sering pula diiringi doa “Jazakumu-llahu khairal jaza’,
jazakumu-llah khairan kasira”(semoga Allah membalas kebaikan yang jauh lebih baik dan
semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih banyak). Dlam hal tolong-menolong,
Allah memerintahkan demikian:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan


jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Q.S. alMaidah/5:3).

d. Bermusyawarah

Dalam bermusyawarah sering muncul kepentingan yang berbeda dari masing-


masing sub kelompok atau warga. Supaya tidak ada pihak yang dirugikan atau tertindas,
musyawarah untuk mencapai kata sepakat, motto yang harus sama-sama dijunjung tinggi
adalah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, nikmat sama-sama dirasakan”, “duduk
sama rendah berdiri sama tinggi”. Allah berfirman:
Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila
membulatkan tekad (keputusan) maka bertakwalah kepada Allah (Q.S. Ali Imran/3: l59).

Musyawarah memang telah terbukti mempersatukan (ta’lluf), masyarakat (Jaelani,


2006:247).

e. Adil

Adil merupakan kata kunci untuk menghapus segala bentuk kecemburuan sosial.
Aneka macam bentuk protes dan demo-demo kolosal umumnya menuntut keadilan atau
rasa keadilan karena merasa dirugikan oleh mitra kerja, juragan, majikan, atau pemerintah.
Jika para penguasa, majikan, juragan, dan pemegang amanah lainnya berbuat adil
insyaallah kesentosaan dan kesejahteraan akan menjadi kenyataan bagi masyarakatnya
karena rakyat merasa dilindungi dan diayomi, dan penguasa dihormati dan disegani.

Sifat utama adil dan keadilan amat diserukan dalam Islam. Himbauan, perintah,
janji ganjaran bagi yang berbuat adil, ancaman siksa bagi yang berbuat tidak adil (curang,
culas, dan lalim) disebut 28 kali (‘Abd al-Baqi, [t.th]:569-700),dan sinonimnya (al-qist)
disebut 29 kali dalam Alquran (‘Abd al-Baqi, [t.th.]:691-692). Ini menendakan adil harus
menjadi ciri utama bagi setiap muslim atau masyarakat muslim dalam semua urusan

f. Akhlak

Nabi Muhammad mengaku bahwa dirinya diutus di muka bumi ini untuk
menyempurnakan akahlak manusia supaya ber-akhlaqul karimah. Pengakuan itu
diwujudkan dengan tindakan konkrit beliau baik sebagai pribadi maupun dalam
membangun masyarakat Islam di masanya, yaitu sebagai masyarakat yang disitir dalam
Alquran:

Negeri yang baik dan Allah berkenan senantiasa menurunkan ampunan-Nya (Q.S.
as-Saba’/34:15).
2. Aktualisasi Ajaran

Betapapun rasional dan terperinci suatu ajaran, doktrin, ia hanya terdiri atas
sejumlah pasal, diktum, prinsip yang berisi himbauan, perintah, informasi, larangan,
riward, dan punishment. Ajaran hanya akan bermakna kalau dipandang penting oleh
pemilik, penganut, dan pendukung ajaran. Dengan kata lain ajaran menjadi nilai sebagai
acuan berbuat baik oleh individu, kelompok, maupun budaya (S.Takdir, l982:20-30).
Sebaliknya jika diabaikan, ajaran hanya berhenti sebagai potensi dan tidak pernah berubah
menjadi aktus.

Supaya ajaran sebagai potensi berubah menjadi aktus , pertama seseorang harus
yakin atau iman, bahwa ayat-ayat quraniyah itu benar (al-Ghazali,:8) secara mutlak
(absolut). Keimanan pada Alquran mengikat diri begitu kuat (hablummina-llah- tali dari
dari Allah) sehingga jika tidak melaksanakan yang diyakini, diyakini pula pasti ada
sanksinya yang dapat merugikan diri sendiri. Dengan kata lain kondisi iman telah mukhlis
(murni) tanpa sedikitpun mengandung keraguan. Iman semacam ini mampu melahirkan
kehendak untuk berbuat. Kualitas kehendak atas dasar keyakinan tanpa ragu mendesakkan
keluar untuk melahirkan perbuatan. Jika perbuatan itu dirasa menguntungkan cenderung
untuk diulanginya. Pengulangan yang ajeg dan konstan akan menjadi kebiasaan atau
perbuatan itu telah menjadi pola. Dalam tahap demikian potensi telah menjadi aktual atau
aksi, dan ajaran telah berubah menjadi pelaksanaan ajaran.

Supaya aksi seseorang menjalar menjadi aksi kelompoknya (aksi sosial), prinsip
dakwah Islamiyyah tentang sesuatu yang dipandang baik (amar ma’ruf nahi munkar)
adalah ibda’ binafsik (mulailah dari dirimu). Perintah ini berlaku secara universal, artinya
semua mubaligh - dan setiap muslim adalah mubalgh - merasa diseru untuk itu. Dalam
aksi, unsur keteladanan (uswah hasanah) amat penting peranannya. Keteladanan
membutuhkan figur kharismatik, atau figur-figur yang memiliki otoritas, termasuk di
dalamnya para public figure. Jika orang-orang semacam ini telah memiliki perbuatan
berpola untuk mewujudkan masyarakat beradab, didukung ketiadaan sekat di dalam bidang
komunikasi modern, dalam waktu singkat aksi para individu atau beberapa individu akan
segera menjadi aksi sosial-masyarakat dan segera menggelinding menjadi budaya.
Sebaliknya jika para public figure dalam berbagai bidang kehidupan: sosial, politik,
seni, ekonomi, dan agama tidak ada yang pantas dicontoh, yang segera muncul adalah
anakhisme. Telah terbukti cost untuk mereformasi budaya anarkhisme begitu mahal dan
membutuhkan waktu beberapa generasi, yang dalam istilah Jawa pitung turunan (tujuh
generasi - pengertian umum tujuh adalah banyak).

Mengetahui, Denpasar, 16 November 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 23 November 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Peran Agama dalam Mewujudkan Kehidupan Berpolitik serta


Persatuan dan Kesatuan Bangsa

1. Kontribusi Agama dalam Kehidupan Berpolitik

1. Syarat Seorang Pemimpin


Seorang Pemimpin, utamnanya top leader seperti raja, perdana mentri, presiden,
sultan, malik dalam suatu negara (al-madinah al’uzma), gubernur untuk tingkat di
bawahnya yaitu propinsi (al-madinah al-wustha), wali kota atau bupati untuk tingkat di
bawah gubernur al-madinah ash-sughra), camat untuk wilayah yang lebih sempit di
bawahnya, Lurah atau Kepala desa, yang seterusnya ketua RW lalu ketua RT idealnya
supaya yang paling luas ilmunya dan sempurna secara fisik. Alquran mengatakan:

Artinya : “ Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah


mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah
Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang
diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya
Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang
perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah
Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui “. ( QS. Al Baqarah : 247 ).
Dalam ayat itu kekayaan seorang calon pemimpin tidak menjadi syarat, melainkan
ilmunya, ilmu memerintah atau ketatanegaraan. Syarat ini tentu amat penting. Dapat
dibayangkan jika pemimpin tidak memiliki konsep yang matang, tepat dan benar untuk
membawa negara ke arah keadilan, kemakmuran, dan ketenteraman bersama yang berlatar
belakang berbagai kepentingan dari berbagai kelompok dan golongan dari suatu negara .
Cepat atau lambat, mungkin yang benar secara cepat negara itu pasti ambruk, kacau, dan
penuh huru-hara di negeri tersebut.
Kandungan pokok kedua dari ayat tersebut adalah seorang pemimpin haruslah sehat
jasmani secara sempurna. Penapilkan seorang pemimpin, presiden, perdana mentri, raja
atau yang lain yang sejenis, umpama buta, tuli, pincang kronis, gagap kalau ngomong tentu
kurang menimbulkan simpati orang banyak. Orang seperti itu, mengurus dirinya butuh
bantuan, bagaimana ia bisa mengurus negara ? Kebijakan-kebijakan dalam kenegaraan dari
pemimpin yang cacat tubuh dikhawatirkan terjadi secara emosional, lebih-lebih kalau
penyakitnya sedang akut.
Bisa saja suatu saat di suatu negara mencari putra bangsa yang memiliki prestasi
basthatan fi al-ilm wa al-jism sulit. Secara fisik cacat pun boleh jika memang tidak ada
yang lain dengan syarat ilmu sebagai perangkat mutlak tetap ada pada diri sang pemimpin.
Dalam ayat di atas ada alternatif untuk itu, yaitu kandungan pokok yang ketiga :

Artinya : “ Allah memerintah kepada siapa yang di kehendaki “( QS. Al Baqarah :


247 ) Untuk ini Nabi bersabda:
Seandainya ada yang memerintah atas kamu seorang budak tetapi ia yang
kuat/menguasai diantara kamu mengenai kitab Allah hendaklah kamu dengar dan kamu
taati perintahnya. H.R.Muslim dari kakek Husain ( Muslim,II : l30).
Dan Abu Zar mengatakan
(Sesungguhnya kekasihku (Nabi) berwasiat kepadaku supaya aku mendengar dan
taat terhadap pemimpin, meskipun ia buntung tangan atau kaki. H.R. Muslim dari Abu
Zar.Muslim,II : 130).
Syarat seorang pemimpin harus adil dalam semua hal yang berkaitan dengan
pemerintahan. Alquran mengatakan:
Artinya : “ dan jika kamu memutuskan perkara mereka, Maka putuskanlah (perkara
itu) diantara mereka dengan adil, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil “.
( QS. Al Maidah : 42 ).

Artinya : “ dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa


kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu “. ( QS. Al Maidah :
48 ).

Artinya : “Maka berilah keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu
menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah Kami ke jalan yang lurus“. (QS. Shad : 22).

Artinya : “ Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa)


di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat,
karena mereka melupakan hari perhitungan “. ( QS. Shad : 26 ).
Pengertian adil secara umum adalah wad’u syaiin fi mahallihi (menempatkan
sesuatu pada tempatnya). Penerapan adil umpama menghukum yang salah dan membela
yang benar dalam suatu perkara delik aduan di pengadilan.
Atas dasar syarat-syarat seorang pemimpin sebagai mana dijelaskan oleh Alquran
maupun as-Sunnah di atas harus menjadi dasar pemerintahan negara. Baik uji teoritis
maupun praktis tentu konsep ini merupakan cara terbaik dibanding dengan teori manapuin.
Syarat keadilan yang dikehendaki Islam mencakup lintas ras, sosial, budaya, dan agama
sekaligus tidak menghendaki praktik apartheit, rasialis, dan diskrimanasi.

2. Kewajiban seorang pemimpin


Bagi seorang pemimpin, umpama presiden, negara dan dan pemerintahannya
adalah amanah yang dipertanggungjawabkan di hari kiyamat. (H.R. Muslim,II : 124).
Maka kewajiban pemimpin adalah mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Nabi
bersabda:
Seorang raja (pemimpin) bagi orang banyak adalah pengembala dan dia dimintai
pertanggungjawaban tentang pengembalaannya. H.R. Abu Dawud,III : 342); Muslim,II :
125.
Lafal bagi Muslim untuk ‘anhum’ adalah ra’iyyatih.Kata ra’in yang berarti
pengembala, maksudnya adalah pemimpin umat. Kata itu ( ra’in) berasal dari kata kerja
lampau (fi’il madi) ra’a yang berarti mengembala dan arti paraktisnya adalah
pemimpin/pengelola negara. Dari kata itu juga dapat dibentuk kata ra’iyyah yang berarti
gembalaan. Secara praktis gembalaan dalam suatu negara adalah umat atau orang banyak,
dan kata ra’iyyah itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi rakyat. Jadi
ra’in berarti pemimpin, dan ra’iyyah berati rakyat.
Kewajiban pokok bagi seorang pemimpin mengusahakan negara dalam keadaan
aman, tenteram , dan makmur. Allah berfirman :

Artinya : “ ....Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya.... “. ( QS. Hud : 61 ).
Negara yang makmur adalah negara yang secara umum kondusif dan baik. Allah
berfirman:

Artinya : “ ...bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik


dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun ". ( QS. Saba’ : 15 ).
Jika seorang pemimpin tidak menjalankan amanah dengan baik secara sengaja, ia
dikategorikan sebagai pengkhianat. Salah satu pengkhianatan dalam pemerintahan adalah
korupsi. Koruptor akan menuai siksaannya di akhirat. Barang yang dikorupsikan akan
melilit pada lehernya. Ketika itu ia meminta syafaat kepada Nabi. Nabi menjawab “Aku
tidak bisa menolong (mengasihani kamu). Aku dulu pernah menyampaikan (al-haq)
kepadamu (H.R.Muslim,II : 126-127). Artinya, di dunia Nabi telah memberikan
penerangan supaya memerintah dengan baik, jujur, dan adil, tetapi pemimpin itu tidak
mengindahkan penerangan Nabi. Mereka malah mengkhianatinya.
Kewjiban lain seorang pemimpin (imam, presiden dan yang sejenis ) merupakan
benteng terakhir dalam suatu negara. Di dalam kekuasannyalah rakyat itu wajib berperang
mempertahankan negara dari ancaman musuh atau mengajak semua rakyat untuk bertakwa
kepada Allah. Nabi bersabda:
Sesungguhnya seorang pemimpin adalah perisai orang-orang di belakangnya
(rakyat) itu berperang atau takwa karena perintahnya. Jika ia memerintahkan takwa kepada
Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, maka ia memperoleh pahala karenanya. Jika ia
memerintahkan yang selainnya, ia akan memeperoleh akibatnya. H.R. Muslim dari Abi
Hurairah (Muslim,II : 132).
Syarat pemimpin yang demikian itu harus memiliki keberanian memutuskan
sesuatu secara cepat dan tepat dalam semua keadaan. Pemimpin tidak bisa bersembunyi di
balik layar kenegaraan atau hanya bersenang-senang melulu kemudian urusan negara
diserahkan kepada para pembantu-pembantunya.

3. Hak Pemimpin
Selagi pemimpin menjalankan kewajibannya secara baik dan tidak mengajak ke
arah kemungkaran, mereka wajib ditaati baik dalam keadaan lapang atau sempit, baik
dalam keadaan normal atau darurat. Nabi meminta janji setia (baiat) yang digambarkan
oleh kakek Ubadah demikian:
Kami berbaiat kepada Rasulullah SAW. Untuk mendengar dan taat kepadanya baik
dalam keadaan lapang atau sempit,dalam keadaan yang menyenangkan atau
menjengkelkan, supaya kami mengikuti jejaknya, supaya kami tidak saling menentang
suatu urusan kepada ahlinya, supaya kami senantiasa berkata secara benar di manapun
kami berada, dan supaya kami senantiasa takut kepada Allah selamanya. H.R.Muslim dari
kakek Ubadah (Muslim,II : l3l-l32).

4. Kewajiban Rakyat.

Kewajiban rakyat adalah taat kepada pemimpin (pemerintah). Hadis tentang hak
pemimpin di atas sekaligus menjadi kewajiban rakyat. Tetapi ketaatan rakyat kepada
pemimpin hanya terbatas kepada hal-hal yang baik saja. Nabi bersabda:

bahwa taat (kepada pemimpin) hanya dalam kebaikan (Muslim,II : l31).

Atau:

Bagi seorang muslim wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) baik terhadap
sesuatu yang menyenangkan atau yang menjengkelkan kecuali jika diperintah untuk
bermaksiat. Jika diperintah maksiat maka tidak perlu mendengarkan atau taat (kepada
pemimpin itu). H.R. Muslim dari Ali (Muslim,II : l3l). Jika pemimpin memiliki kebijakan
yang kurang menyenangkan hendaklah bersabar, tidak boleh bughat (menentang) apalagi
berdemonstrasi secara anarkhis. Nabi bersabda:

Barang siapa melihat sesuatu dari amir (pemimpin) yang tidak menyenangkan
hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya barang siapa keluar dari jamaahnya
(menentang kebijakan negara) sejengkal saja kemudian ia mati, maka matinya terhitung
jahiliah. H.R. Muslim dari Ibnu Abbas (Muslim, II : 131). Sesuatu yang tidak
menyenangkan belum tentu melanggar syariat. Rakyat suatu negeri pasti terdiri atas
banyak kepentingan, satu dengan yang lain sangat mungkin bertentangan. Pemerintah
sering dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang bersifat delimatis. PKL (pedagang
kaki lima ) yang mengakibatkan kumuh di suatu area yang demi kepentingan yang lebih
luas harus asri dan bersih, dan menyebabkan arus lalu lintas sempit dan macet yang
menurut ilmu kepemerintahan area itu harus lancar dan bebas hambatan dalam berlalu
lintas dan bermobilisasi, harus ditata ulang yaitu dialihkan ke lokasi lain. Dalam hal ini
PKL semacam ‘dikorbankan’. Dalam keadaan seperti ini rakyat, LSM, atau komponen
lainnya harus tetap bersabar. Jangan malah sok menjadi pahlawan rakyat tertindas dengan
cara meprofokasi rakyat untuk menentang pemerintah. Ancaman Nabi dalam hadis itu jika
mereka (para penentang) kebijakan delimatis jika mati, matinya terhitung jahiliah, alias
non muslim. Senada dengan hadis itu Nabi juga bersabda:

Barang siapa yang keluar dari ketaatan (kepada iman ) dan memisah dari jamaah
(rakyat dalam kesatuannya) kemudian ia mati, maka ia mati secara jahiliah (non muslim),
dan barang siapa yang berperang di bawah kebutaan pendapatnya maka ia dimurkai karena
menuntut kepentingan kelompoknya. Barang siapa berperang karena kelompoknya, ia
bukan dari golonganku (Nabi). Barang siapa keluar dari umt ku, bagi umatku wajib
memerangi pemutusan hubungan dan kelancangannya. Para wanitanya yang tidak takut
dan tidak menepati janjinya maka mereka (juga) bukan golonganku (Nabi). H.R. Muslim
dari Abi Hurairah (Muslim,II : l35). Hadis di atas ini perlu doicermati dengan hati-hati dan
tepat. Orang yang menentang pemerintahan dengan catatan pemerintah syah dan
kebijakannya benar dengan cara mogok makan atau berdemonstrasi dengan merusak
fasilitas negara dan menciptakan opini yang tidak objekktif dan menghasut orang banyak,
tindakan ini sebenarnya konyol. Jika ia beragama Islam, pengakuannya tidak diterima oleh
Nabi dan jika mati digolongkan non muslim. Berdalih apapun Islam tidak membenarkan
mogok makan dan minum yang membahayakan kesehatannya, apalagi berakibat mati. Jika
ia tidak bisa bersabar karena perilaku pemimpin (bisa berarti presiden, perdana mentri,
amir, sultan, dan khalifah) selagi tidak mengajak kepada rakyat untuk bermaksiat seperti
yang ia perbuat, rakyat cukup membenci dalam hati dan tidak perlu mengacuhkan. Dalam
hal ini Nabi bersabda:

(suatu saat) akan ada seorang penguasa ( yang berperangai jelek). Kami semua
mengetahui (kejelekannya) dan kamu mengingkarinya. Barang siapa mengetahui maka ia
bebas (tak ada urusannya) dan barang siapa mengingkari ia pasti selamat, sementara itu ada
orang yang senang dan mengingkarinya. Sahabat bertanya: Apakah aku tidak boleh
memerangi mereka wahai Rasulullah ? jawabnya: Jangan. Kamu cukup membenci dan
mengingkari dalam hatimu saja.H.R.Muslim dari Ummu Salamah (Muslim, II : 137).
Seandainya perilaku peminpin itu berperilaku munafik umpama ia menggunakan idiom-
idiom, ikon-ikon, atau simbol-simbol agama sementara rakyat tidak lagi mempunyai wakil
untuk memperbaiki keadaan tetaplah konsisten dalam kesabarannya. Nabi bersabda:

Hendaklah mengingkari dari semua golongan itu meskipun engkau memakan


dangkel pohon dan engkau menemui ajal dalam keadaan demikian .H.R.Muslim dari
Huzaifah bin alYaman. (Muslim, II : 135). Maksud hadis itu menggambarkan para
pemimpin di suatu negri dalam keadaan tidak menentu, penuh huru-hara, suasana tidak
terkendali, dan kamu - tidak lagi memiliki kawan seperjuangan atau pemimpin
seperjuangan untuk mengembalikan keadaan negara yang baik dan stabil, dalam keadaan
ini harus tetap beriman, tidak boleh menyeberang agama, meskipun tidak lagi memiliki
makanan hingga memakan dangkel pohon, bahkan mati karenanya. Berdemonstrasi, atau
bahkan memerangi pemimpin - tetapi tidak berdemo nstrasi dengan mogok makan - suatu
saat justru dibenarkan dan wajib, yaitu suatu saat suatu negri ada dua pemimpin, satu
diantaranya harus diperangi, yaitu pemimpin yang sebenarnya tidak berhak memimpin,
karena tidak mungkin dua-duanya benar. Salah satu dari keduanya pastisalah. Yang pasti
salah itulah yang wajib diperangi. Nabi bersabda:

Jika (kamu) dibaiat untuk dua khalifah maka perangilah salah satu dari keduanya.
Satunya lagi yang tidak diperangi karena memang berhak untuk memerintah, ia wajib
ditegakkan dan wajib didukung. Jika pemimpin itu pada akhirnya tidak bermoral, mengacu
kepada hadis-hadis shahih tidak ada yang membenarkan untuk menggulingkan pemimpin.
Hadis-hadis tentang kewajiban rakyat yang telah diuraikan itu dapat dijadikan acuan bagi
kesimpulan ini. Umumnya kaum sunni seperti Asy’ari, al-Baqillani, al-Mawardi, an-
Nasafi, at-Taftazani, dan an-Nawawi juga berpendapat demikian. Namun sebagian
Syafi’iyyah, kaum teolog seperti al-Baghdadi, al-Ijji, al-Jurjani, Ibnu Hazm, dan kaum
Mu’tazilah membenarkan pemberhentian pemimpin yang tidak bermoral, khiyanat, dan
tidak melaksanakan amanahnya (Mumtaz Ahmad, l994 : l03-l04). Dengan dimikian dasar
kudeta hanyalah ijtihadiyah dari ulama saja.

5. Hak Rakyat

Apa yang menjadi hak rakyat adalah apa yang menjadi kewajiban pemerintah,
dengan demikian hak mereka memeperoleh hak hidup secara aman, tenteram, dan
perlindungan dari pemerintah selagi mereka tidak mengganggu stabilitas negara dan
ketertiban umum.

6. Hak dan Kewajiban

Berimbang antara Pemerintah dan Rakyat Secara prinsip hak dan kewajiban antara
rakyat dan pemerintah itu berimbang. Selagi pemerintah itu melaksanakan amanahnya,
yaitu mewujudkan pemerintahan yang bersih (tidak korup) dan berwibawa, memperhatikan
dan mengusahakan keamanan dan kemakmuran umum, rakyat dilindungi hak-haknya,
rakyat harus patuh terhadap pemerintah. Nabi bersabda:

dengarkanlah dan taatlah (olehmu rakyat). Apa yang menjadi (hak dan kewajiban)
mereka (pemerintah) adalah memang hak dan kewajiban mereka, dan apa yang menjadi
hak dan kewajiban mu memang ada padamu. ( H.R. Muslim, II : l34).

7. Prinsip Demokratis

Yang dimaksud demokratis adalah hak kebebasan bagi rakyat untuk memilih siapa
pemimpin yang dikehendaki atau yang disenangi dan tidak memilih calon pemimpin yang
tidak disenangi. Nabi bersabda:

Dari Rasulullah SAW. Bersabda: Pilihanmu terhadap pemimpinmu adalah orang


yang kamu senangi dan menjalin persaudaraan denganmu dan kamu juga menjalin
persaudaraan dengan mereka. Jeleknya pemimpinmu adalah orang yang kamu memarahi
mereka dan mereka memarahi kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu.
Dikatakan: Wahai Rasulullah ! apakah kami tidak boleh meluruskan mereka dengan
pedang ? Jawab beliau : Jangan ! Selagi di antara kamu (bebas) mendirikan salat. Jika
kamu melihat orang yang memimpin kamu berbuat hal yang tidak menyenangkan, maka
membencilah kamu terhadap perbuatan mereka dan janganlah kamu menentangnya.H.R.
Muslim dari ‘Auf bin Malik (Muslim,II : l38). Hadis di atas secara implisit membolehkan
adanya kelompok partai.

Dari kelompok partainyalah seseorang mengajukan calon pemimpin. Kelompok


lain juga berbuat yang sama. Calon pemimpin yang akhirnya menjadi pemimpin,
kelompok partai manapun harus menaatinya. Ketaatan yang dimaksud hadis itu begitu
ditekankan sehingga kalau kita (rakyat) melihat oknom pejabat berbuat yang tidak
menyenangkan (ditinjau dari syariat), rakyat tidak boleh memberontak, melainkan cukup
tidak menyenanginya atau bersabar selagi kebebasan beribadah masih tetap berlaku di
negara itu.

8. Prinsip Bermusyawarah (syura)

Syura berbeda dari demokrasi, khususnya dari aspek generikanya. Syura memiliki
dimensi teologis karena bersumber dari wahyu ilahi dan suci (sacral) dan demokrasi tidak
memiliki dimensi teologis karena bersumber dari pemikiran manusia dan bersifat
provan.Dalam demokrasi secara konseptual memberikan hak kepemimpinan bagi yang
memperoleh suara terbanyak dan yang selainnya supaya tetap menghormati, dan masih
memberi hak oposisi untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah; sementara itu dalam
syura memberikan hak kepemimpinan kepada yang paling sanggup memikul amanah Allah
dalam bermasyarakat dan bernegara meskipun tidak didukung (baiat) oleh mayoritas, tidak
memberi hak oposisi, semuanya harus taat kepada pemimpin syah.

Meskipun demikian secara praktis antara demokratis dan syura amat seiring dan
sejalan. Dalam memilih seorang pemimpin, wujud syura adalah baiat dan baiat secara
praktis diwujudkan dengan pemungutan suara (Mumtaz, l994 : l04) dan pemungutan suara
adalah essensi demokrasi itu sendiri. Selanjutnya baik syura maupun demokrasi
dimaksudkan untuk memecahkan semua persoalan yang menyangkut kepentingan
bersama, termasuk di dalamnya mengenai kehidupan politik. Allah berfirman :

Artinya : “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun
bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya “. (QS. Ali Imran : l59).

Di samping mengadung prinsip syura dalam praktik berpolitik, ayat tersebut


memberikan prinsip santun dan lemah lembut, sehingga tidak memberikan peluang
praktik-praktik yang bersifat kasar, mengumpat, menghujat, memfitnah, anarkhis dan
destruktif. Jika ada perbedaan antara kebijakan pemerintah dan rakyat, Alquran
menganjurkan selain bermusyawarah menuju mufakat, supaya kembali kepada petunjuk
Alquran maupun as-Sunnah. Alquran mengatakan:

Artinya : “ ...kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka


kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) ... “( QS. An Nisa : 59 ).

Kalau Alquran telah menjadi hakim terakhir, maka apapun keputusan Alquran
nmaupun as-Sunnah harus dijujung tinggi, dilaksanakan, dan diamalkan oleh semua pihak
yang bertikai. Siapa yang mengkhianati putusan atas dasar petunjuk Alquran maupun as-
Sunnah, wajib diluruskan.

Mengetahui, Denpasar, 23 November 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 30 November 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Peran Agama dalam Mewujudkan Kehidupan Berpolitik serta


Persatuan dan Kesatuan Bangsa

2. Peran Agama dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Agama memberikan penerangan kepada manusia dalam hidup bersama termasuk


dalam bidang politik atau bernegara. Penerangan itu antara lain:

1. Perintah untuk Bersatu

Islam melalui Al-Quran menganjurkan agar antar kelompok, antar golongan


maupun antar partai saling melakukan ta’aruf (perkenalan). Allah berfirman:

Artinya : “ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal “. ( QS. Al Hujurat : 13 ).

Ayat ini sekaligus menjelaskan paham persamaan (egalitarianisme) untuk semua


manusia atau lintas batas: ras, agama, bahasa, maupun adat istiadat. Allah menegaskan
tinggi rendah martabat seseorang hanya ditentukan oleh takwa, itu saja Allah tidak
menenttukan di mana batas tertinggi maupun terendah takwa. Hanya Allah saja yang
mengetahui karena Dia lah yang menentukan batas-batas itu. Allah justru menjelaskan
bahwa kita, manusia adalah suatu organis (umat) tunggal dan Allah lah satu-satunya yang
disembah. Allah berfirman:

Artinya : “ Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama
yang satu dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku “. ( QS. Al Anbiya : 92 ).

Artinya : “ Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama
yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku “. ( QS. Al Mukminun
: 52 ).

Pemahaman terhadap Al-Quran surat al-Hujarat ayat 13 menunjukkan bahwa


manusia diciptakan bersuku-suku, dan surat al-Mukminun ayat 52 menjelaskan bahwa
manusia adalah umat yang satu. Ini berarti berbagai suku, berbagai golongan, berbagai
kelompok, termasuk di dalamnya kelompok politik atau yang lainnya supaya tetap bersatu.
Pengikat persatuan adalah takwa. Karakter takwa antara lain menjalankan semua perintah
Allah sejauh yang diketahui dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, ukurannya gampang kalau
orang itu takwa pasti iman dan senang bersatu dan menjaga persatuan dan kesatun.

2. Larangan untuk Saling Curiga

Islam melarang kepada semua orang baik dalam kapasitasnya sebagai individu,
sebagai kelompok sosial, maupun kelompok-kelompok yang lain termasuk kelompok
politik untuk saling curiga, saling melecehkan atau yang semakna dengannya. Allah
berfirman:
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara
kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu
merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang “. ( QS. Al Hujurat : 12 ).

Dengan demikian, terhadap orang lain atau kelompok lain haruslah saling
mengembangkan husnuzhan (berprasangka baik). Kalau masing-masing kelompok saling
menaruh husnuzhan tentu akan mempererat hubungan mereka sebagaimana yang dimaksud
dalam ayat 13 surat al-Hujarat tersebut.

Kecurigaan dan pelecehan terhadap kelompok lain hanya akan menghasilkan


ketegangan antar individu maupun antar kelompok karena kelompok yang dicurigai jika
mengetahuinya pasti tersinggung hanya dirinya sebagai individu maupun atas nama
kelompok. Kelompok ini tentu membalas mencurigai kepada kelompok pencuriga tersebut.
Akibatnya mudah ditebak, pasti timbul saling mencurigai di antara mereka. Saling curiga
tentu mudah menigkat menjadi disintegrasi bahkan konflik di antara mereka. Sebagai
bangsa akan menjadi lemah jika elemen-elemen di dalamnya saling mencurigai dan
bertikai. Itulah sebabnya Allah melarang umat yang saling bercerai berai. Allah berfirman:

Artinya : “ dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai,.... “ )QS. Ali Imran : 103 ).
Perintah untuk bersatu dan larangan untuk bercerai berai disertai juga dengan al-
wa’du wa al-wa’id (janji dan ancaman). Sudah barang tentu janji dan ancaman Allah pasti
terjadi. Rasulullah dibebaskan dari tanggung jawab terhadap umatnya yang bercerai berai.
Demikian firman Allah:

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan


mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat “. ( QS Al An’am : 159 ).

Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah yang mengurus orang-orang yang
memecah-mecah dari keutuhan sebagai suatu umat, dan Allah pula yang akan membalas
kelakuan mereka itu, yaitu siksaan yang amat pedih.

Artinya : “ dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan


berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang
yang mendapat siksa yang berat . “ ( QS. Ali Imran : 105 ).

Sebaliknya orang yang tetap istikamah dalam kesatuan umat, mereka itulah sebagai
orang yang mempererat petunjuk ilahi dan dapat merasakan kenikmatan bersaudara
(bersatu). Demikian firman Allah:
Artinya : “ dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah
berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “. ( QS. Ali
Imran : 103 ).

Mencermati perintah Allah agar kita bersatu dan larangan-Nya untuk bercerai berai
itu ternyata akibatnya kembali kepada manusia itu sendiri. “Bersatu kita teguh bercerai kita
runtuh” merupakan kesimpulan padat dari perintah untuk bersatu dan larangan bercerai.

Mengetahui, Denpasar, 30 November 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 7 Desember 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Pemanfaatan IPTEKS Menurut Pandangan Berbagai Agama

1. KB

Keluarga berencana merupakan suatu proses pengaturan kehamilan agar terciptanya


suatu keluarga yang sejahtera. Adapun menurut Undang Nomor 52 Tahun 2009 pasal 1
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa
Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal
melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai
dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1992 pasal 1 ayat


12 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera
menyebutkan bahwa Keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran
serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil,
bahagia, dan sejahtera.

Namun dalam islam , keluarga berencana menjadi persoalan yang polemik karena
ada beberapa ulama yang menyatakan bahwa keluarga berencana dilarang tetapi ada juga
ayat al-qur’an yang mendukung program keluarga berencana . Dalam al-qur’an
dicantumkan beberapa ayat yang berkaitan dengan keluarga berencana , diantaranya :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan


dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar”.(Qs.An-Nisa : 9 )

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(Qs.Lukman : 14)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan”.(Qs.Al-Qashash: 77)

Ayat-ayat al-quran diatas menunjukan bahwa islam mendukung adanya keluarga


berencana karena dalam QS. An-Nissa ayat 9 dinyatakan bahwa “hendaklah takut kepada
Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang
lemah”. Anak lemah yang dimaksud adalah generasi penerus yang lemah agama , ilmu ,
pengetahuan sehingga KB menjadi upaya agar mewujudkan keluarga yang sakinah.

Pandangan Hukum Islam tentang Keluarga Berencana, secara prinsipil dapat


diterima oleh Islam, bahkan KB dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang
berkualitas dan melahirkan keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at
Islam yaitu mewujudkan kemaslahatan bagi umatnya. Selain itu, KB juga memiliki
sejumlah manfaat yang dapat mencegah timbulnya kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi
dan manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan maka
tidak diragukan lagi kebolehan KB dalam Islam.

Para ulama yang membolehkan KB sepakat bahwa Keluarga Berencan (KB) yang
dibolehkan syari`at adalah suatu usaha pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha
pencegahan kehamilan sementara atas kesepakatan suami-isteri karena situasi dan kondisi
tertentu untuk kepentingan (maslahat) keluarga. Dengan demikian KB disini mempunyai
arti sama dengan tanzim al nasl (pengaturan keturunan). Sejauh pengertiannya adalah
tanzim al nasl (pengaturan keturunan), bukan tahdid al nasl (pembatasan keturunan) dalam
arti pemandulan (taqim) dan aborsi (isqot al-haml), maka KB tidak dilarang.Kebolehan KB
dalam batas pengertian diatas sudah banyak difatwakan , baik oleh individu ulama maupun
lembaga-lembaga ke Islaman tingkat nasional dan internasional, sehingga dapat
disimpulkan bahwa kebolehan KB dengan pengertian batasan ini sudah hampir menjadi
Ijma`Ulama. MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga telah mengeluarkan fatwa serupa dalam
Musyawarah Nasional Ulama tentang Kependudukan, Kesehatan dan Pembangunan tahun
1983. Betapapun secara teoritis sudah banyak fatwa ulama yang membolehkan KB dalam
arti tanzim al-nasl, tetapi kita harus tetap memperhatikan jenis dan cara kerja alat/metode
kontrasepsi yang akan digunakan untuk ber-KB.

Selain hukum islam yang mendukung keluarga berencana , ada para ulama yang
menafsirkan larangan keluarga berencana seperti yang tercantum dalam QS. Al-An’am :
151

Untuk memperjelas lagi , berikut ada hadist nabi

“sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan


berkecukupan dari pada meninggalkan mereka omenjadi beban atau tanggungan orang
banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya
rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi
beban bagi orang lain (masyarakat). Dengan demikian pengaturan kelahiran anak
hendaknya direncanakan dan amalkan sampai berhasil.

Terlepas dari larangan untuk ber-KB , kita harus mengetahui dan memperhatikan
jenis dan kerja alat kontrasepsi yang akan digunakan. Alat kontrasepsi yang diharamkan
adalah yang sifatnya pemandulan.Vasektomi (sterilisasi bagi lelaki) berbeda dengan khitan
lelaki dimana sebagian dari tubuhnya ada yang dipotong dan dihilangkan, yaitu kulup
(qulfah bhs. Arab,praeputium bhs. Latin) karena jika kulup yang menutupi kepala zakar
(hasyafah/glans penis) tidak dipotong dan dihilangkan justru bisa menjadi sarang penyakit
kelamin (veneral disease). Karena itu, khitan untuk laki-laki justru sangat
dianjurkan.Tetapi kalau kondisi kesehatan isteri atau suami yang terpaksa seperti untuk
menghindari penurunan penyakit dari bapak/ibu terhadap anak keturunannya yang bakal
lahir atau terancamnya jiwa si ibu bila ia mengandung atau melahirkan bayi,maka
sterilisasi dibolehkan oleh Islam karena dianggap dharurat. Hal ini diisyaratkan dalam
kaidah:
“Keadaan darurat membolehkan melakukan hal-hal yang dilarang agama.”

Majlis Ulama Indonesia pun telah memfatwakan keharaman penggunaan KB


sterilisasi ini pada tahun 1983 dengan alasan sterilisasi bisa mengakibatkan kemandulan
tetap.Menurut Masjfuk Zuhdi bahwa hukum sterilisasi ini dibolehkan karena tidak
membuat kemandulan selama-lamanya. Karena teknologi kedokteran semakin canggih
dapat melakukan operasi penyambungan saluran telur wanita atau saluran pria yang telah
disterilkan. Meskipun demikian, hendaknya dihindari bagi umat Islam untuk melakukan
sterilisasi ini, karena ada banyak cara untuk menjaga jarak kehamilan.

Cara pencegahan kehamilan yang diperbolehkan oleh syara’ antara lain,


menggunakan pil, suntikan, spiral, kondom, diafragma, tablet vaginal , tisue. Cara ini
diperbolehkan asal tidak membahayakan nyawa sang ibu. Dan cara ini dapat dikategorikan
kepada azl yang tidak dipermasalahkan hukumnya. Sebagaimana hadits Nabi :

“Kami pernah melakukan ‘azal (coitus interruptus) di masa Rasulullah s.a.w.,


sedangkan al-Quran (ketika itu) masih (selalu) turun. (H.R. Bukhari-Muslim dari Jabir).
Dan pada hadis lain: Kami pernah melakukan ‘azl (yang ketika itu) nabi mengetahuinya,
tetapi ia tidak pernah melarang kami. (H.R. Muslim, yang bersumber dari ‘Jabir juga).

Hadis ini menerangkan bahwa seseorang diperkenankan untuk melakukan ‘azl’,


sebuah cara penggunaan kontrasepsi yang dalam istilah ilmu kesehatan disebut dengan
istilah coitus interruptus, karena itu meskipun ada ayat yang melarangnya, padahal ketika
itu ada sahabat yang melakukannya, pada saat ayat-ayat al-Quran masih (selalu) turun,
perbuatan tersebut dinilai ‘mubâh’ (boleh). Dengan alasan, menurut para ulama,
seandainya perbuatan tersebut dilarang oleh Allah, maka pasti ada ayat yang turun untuk
mencegah perbuatan itu. Begitu juga halnya sikap Nabi s.a.w. ketika mengetahui, bahwa
banyak di antara sahabat yang melakukan hal tersebut, maka beliaupun tidak melarangnya;
inilah pertanda bahwa melakukan ‘azl (coitus interruptus) dibolehkan dalam Islam dalam
rangka untuk ber-KB.

Pada intinya Keluarga berencana dalam pandangan islam diperbolehkan apabila


dilakukan dengan cara yang sesuai syariat islam , dilakukan dalam konteks pengaturan
keturunan bukan pembatasn keturunan dan dilakukan apabila dalam kondisi yang darurat
yang dapat mengancam keselamatan masyarakat itu sendiri .

2. Transplantasi Organ

Transplantasi adalah perpindahan sebagian atau seluruh jaringan atau organ dari
satu individu pada individu itu sendiri atau pada individu lainnya baik yang sama maupun
berbeda spesies. Saat ini yang lazim di kerjakan di Indonesia saat ini adalah pemindahan
suatu jaringan atau organ antar manusia, bukan antara hewan ke manusia, sehingga
menimbulkan pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau sebagian
organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain atau dari satu tempat ke tempat yang lain di tubuh
yang sama. Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tak
berfungsi pada penerima dengan organ lain yang masih berfungsi dari pendonor.

Berikut terdapat empat jenis transplantasi

1. Transplantasi Autograft

Yaitu perpindahan dari satu tempat ketempat lain dalam tubuh itu sendiri,yang
dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi.

2. Transplantasi Alogenik

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang sama spesiesnya,baik dengan
hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga.
3. Transplantasi Isograf

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang identik,misalnya pada gambar identik.

4. Transplantasi Xenograft

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang tidak sama spesiesnya.

Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang
hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana meninggal sendiri
didefinisikan kematian batang otak. Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti :
kulit ginjal sumsum tulang dan darah (transfusi darah). Organ-organ yang diambil dari
jenazah adalah jantung,hati,ginjal,kornea,pancreas,paru-paru dan sel otak. Semua upaya
dalam bidang transplantasi tubuh tentu memerlukan peninjauan dari sudut hokum dan etik
kedokteran

Menurut Cholil Uman (1994), Pencangkokan adalah pemindahan organ tubuh yang
mempunyai daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan
tidak berfungsi dengan baik, yang apabila apabila diobati dengan prosedur medis biasa.
Harapan klien untuk bertahan hidupnya tidak ada lagi.

Ada 3 tipe donor organ tubuh ;

1. Donor dalam keadaan hidup sehat : tipe ini memrlukan seleksi yang cermat dan
pemeriksaan kesahatan yang lengkap, baik terhadap donor maupun resipien untuk
menghindari kegagalan karena penolakan tubuh oleh resipien dan untk mencegah
resiko bagi donor.
2. Donor dalam keadaan koma atau diduga akan meninggal dengan sege. Untuk tipe
ini pengambilan organ donor memrlukan alat control kehidupan misalnya alat bantu
pernafasan khusus . Alat Bantu akan dicabut setelah pengambilan organ selesai. itu.
3. Donor dalam keadaan mati. Tipe ini merupakan tipe yang ideal , sebab secara
medis tinggal menunggu penentuan kapan donor dianggap meninggal secara medis
dan yuridis.
Tipe Donor 1

Donor dalam keadaan sehat. Yang dimaksud disini adalah donor anggota tubuh bagi siapa
saja yang memerlukan pada saat si donor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya
boleh. Karena Allah Swt memperbolehkan memberikan pengampunan terhadap qisash
maupun diyat.

Allah Swt berfirman:

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang
mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af)
membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang
demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa
yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (TQS al-
Baqarah [2]: 178)

Namun, donor seperti ini dibolehkan dengan syarat. Yaitu, donor tersebut tidak
mengakibatkan kematian si pendonor. Misalnya, dia mendonorkan jantung, limpha atau
paru-parunya. Hal ini akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal
manusia tidak boleh membunuh dirinya, atau membiarkan orang lain membunuh dirinya;
meski dengan kerelaannya.

Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. (TQS an-Nisa [4]: 29).

Selanjutnya Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di
antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS al-
An’am [6]: 151)

Sebagaimana tidak bolehnya manusia mendonorkan anggota tubuhnya yang dapat


mengakibatkan terjadinya pencampur-adukan nasab atau keturunan. Misalnya, donor testis
bagi pria atau donor indung telur bagi perempuan. Sungguh Islam telah melarang untuk
menisbahkan dirinya pada selain bapak maupun ibunya.
Allah Swt berfirman:

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. (TQS al-Mujadilah
[58]: 2)

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang menasabkan dirinya pada selain bapaknya, atau mengurus sesuatu
yang bukan urusannya maka atas orang tersebut adalah laknat Allah, Malaikat dan seluruh
manusia”.

Sebagaiman sabda Nabi saw:

“Barang siapa yang dipanggil dengan (nama) selain bapaknya maka surga haram atasnya”

Begitu pula dinyatakan oleh beliau saw:

“Wanita manapun yang telah mamasukkan nasabnya pada suatu kaum padahal bukan
bagian dari kaum tersebut maka dia terputus dari Allah, dia tidak akan masuk surga; dan
laki-laki manapun yang menolak anaknya padahal dia mengetahui (bahwa anak tersebut
anaknya) maka Allah menghijab Diri-Nya dari laki-laki tersebut, dan Allah akan
menelanjangi (aibnya) dihadapan orang-orang yang terdahulu maupun yang kemudian”.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Ra, dia berkata:

“ Kami dulu pernah berperang bersama Rasulullah sementara pada kami tidak ada isteri–
isteri. Kami berkat :”Wahai Rasulullah bolehkah kami melakukan pengebirian ?” Maka
beliau melarang kami untuk melakukannya,”

Adapun donor kedua testis maupun kedua indung telur, hal tersebut akan mengakibatkan
kemandulan; tentu hal ini bertentangan dengan perintah Islam untuk memelihara
keturunan.

Tipe donor 2

hukum Islam pun tidak membolehkan karena salah satu hadist mengatakan bahwa ”Tidak
boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membayakan diri orang lain.” (HR. Ibnu
Majah). Yakni penjelasannya bahwa kita tidak boleh membahayakan orang lain untuk
keuntungan diri sendiri. Perbuatan tersebut diharamkan dengan alasan apapun sekalipun
untuk tujuan yang mulia.

Tipe Donor 3

Menurut hukum Islam ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang
membolehkan menggantungkan pada syarat sebagai berikut:

Resipien (penerima organ) berada dalam keadaan darurat yang mengancam dirinya setelah
menmpuh berbagai upaya pengobatan yang lama

Pencangkokan tidak akan menimbulkan akibat atau komplikasi yang lebih gawat

Telah disetujui oleh wali atau keluarga korban dengan niat untuk menolong bukan untuk
memperjual-belikan

yang tidak membolehkan alasannya :

Seseorang yang sudah mati tidak dibolehkan menyumbangkan organ tubuhnya atau
mewasiatkan untuk menyumbangkannya. Karena seorang dokter tidak berhak
memanfaatkan salah satu organ tubuh seseorang yang telah meninggal dunia untuk
ditransplantasikan kepada orang yang membutuhkan. Adapun hukum kehormatan mayat
dan penganiayaan terhadapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat
mempunyai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana orang hidup. Dan Allah telah
mengharamkan pelanggaran terhadap pelanggaran kehormatan mayat sebagaimana
pelanggaran kehormatan orang hidup.Diriwayatkan dari A’isyah Ummul Mu’minin RA
bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Memecahkan tulang mayat itu sama saja dengan memecahkan tulang orang hidup” (HR.
Ahmad, Abu dawud, dan Ibnu Hibban)

Tindakan mencongkel mata mayat atau membedah perutnya untuk diambil jantungnya
atau ginjalnya atau hatinya untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan
dapat dianggap sebagai mencincang mayat. Padahal Islam telah melarang perbuatan ini.
Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Al-Anshasi RA, dia berkata :
“ Rasulullah SAW telah melarang ( mengambil ) harta hasil rampasan dan mencincang
(mayat musuh ).”(H.R. Bukhari)

3. Bayi Tabung

Masalah tentang bayi tabung ini memunculkan banyak pendapat, boleh atau tidak?
Misalnya Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan
bayi tabung dengan sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi
nomor 514 tanggal 1 September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam
(OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma
donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan
ovum dari isteri sendiri.

 Pengambilan sel telur

Pengambilan sel telur dilakukan dengan dua cara, cara pertama : indung telur di
pegang dengan penjepit dan dilakukan pengisapan. Cairan folikel yang berisi sel telur di
periksa di mikroskop untuk ditemukan sel telur. Sedangkan cara kedua ( USG) folikel yang
tampak di layar ditusuk dengan jarum melalui vagina kemudian dilakukan pengisapan
folikel yang berisi sel telur seperti pengisapan laparoskopi.

 Pendapat Ulama :

Yusuf Qardawi mengatakan dalam keadaan darurat atau hajat melihat atau memegang
aurat diperbolehkan dengan syarat keamanan dan nafsu dapat dijaga. Hal ini sejalan
dengan kaidah ushul fiqih:

“ Kebutuhan yang sangat penting itu diperlakukan seperti keadaan terpaksa ( darurat). Dan
keadaan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang”.

·Menurut hemat penulis adalah keadaan seperti ini di sebut dengan keadaan darurat ,
dimana orang lain boleh melihat dan memegang aurat besar wanita. Karena belum
ditemukan cara lain dan kesempatan unutuk melihat dan memegang aurat wanita itu
ditujukan semata- mata hanya untuk kepentingan medis yang tidak menimbulkan
rangsangan.
 Pengambilan sel sperma

Untuk mendapatkan sperma laki- laki dapat ditempuh dengan cara :

~Istimna’ ( onani)

~Azl ( senggama terputus)

~Dihisap dari pelir ( testis)

~Jima’ dengan memakai kondom

~Sperma yang ditumpahkan kedalam vaginayang disedot tepat dengan spuit

~Sperma mimpi malam

Diantara kelima cara diatas, cara yang dipandang baik adalah dengan cara onani (
mastrubasi) yang dilakukan di rumah sakit.

 Pendapat Ulama :

·Ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Zaidiyah, mengharamkan secara multak berdasarkan Al-


Qur’an surat Al- Mu’minun ayat 5-7, dimana Allah telah memerintahkan manusia untuk
menjaga kehormatan kelamin dalam setiap keadaan, kecuali terhadap istri dan budak.

·Ulama Hanabilah mengharamkan onani, kecuali khawatir berbuat zina atau terganggu
kesehatannya, sedang ia tidak punya istri atau tidak mampu kawin. Yusuf Qardawi juga
sependapat dengan ulama Hanabilah.

·Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa istimna’ pada prinsipnya diharamkan, namun


istimna’ diperbolehkan dalam keadaan tertentubahkan wajib, jika dikhawatirkan jatuh
kepada perbuatan zina. Hal ini didasari oleh kaidah ushul adalah:

“Wajib menempuh bahaya yang lebih ringan diantara dua bahaya”

Ada 2 hal yang menyebutkan bahwa bayi tabung itu halal, yaitu:

Sperma tersebut diambil dari si suami dan indung telurnya diambil dari istrinya kemudian
disemaikan dan dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.
Sperma si suami diambil kemudian di suntikkan ke dalam saluran rahim istrinya atau
langsung ke dalam rahim istrinya untuk disemaikan.

Hal tersebut dibolehkan asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan
inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan.

Sebaliknya, Ada 5 hal yang membuat bayi tabung menjadi haram yaitu:

Sperma yang diambil dari pihak laki-laki disemaikan kepada indung telur pihak wanita
yang bukan istrinya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.

Indung telur yang diambil dari pihak wanita disemaikan kepada sperma yang diambil dari
pihak lelaki yang bukan suaminya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si wanita.

Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari sepasang suami istri,
kemudian dicangkokkan ke dalam rahim wanita lain yang bersedia mengandung
persemaian benih mereka tersebut.

Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari lelaki dan wanita lain kemudian
dicangkokkan ke dalam rahim si istri.

Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari seorang suami dan istrinya,
kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya yang lain.

Jumhur ulama menghukuminya haram. Karena sama hukumnya dengan zina yang akan
mencampur adukkan nashab dan sebagai akibat, hukumnya anak tersebut tidak sah dan
nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Sesuai firman Allah dalam
surat (At-Tiin: 4) adalah:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya”

Dan hadist Rasululloh Saw:

“Tidak boleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyirami air spermanya
kepada tanaman orang lain ( vagina perempuan bukan istrinya). HR. Abu Daud At-
Tarmidzi yang dipandang shahih oleh Ibnu Hibban”.
4. Donor Sperma

Berdasarkan pengalaman yang kita tahu bahwa yang namanya bank adalah tempat
mengumpulkan dan menabung sesuatu yang berupa uang, tetapi dalam hal ini berbeda,
yang dikumpulkan bukan lagi uang tetapi sperma dari pendonor sebanyak mungkin. Yang
perlu dinyatakan untuk menentukan hukum ini pada tahap pertama ialah cara pengambilan
atau mengeluarkan sperma dari si pendonor dengan cara masturbasi (onani).
Persoalan dalam hukum Islam adalah bagaimana hukum onani tersebut dalam
kaitan dengan pelaksanaan pengumpulan sperma di bank sperma dan inseminasi buatan?.
Secara umum, Islam memandang melakukan onani merupakan tergolong perbuatan
yang tidak etis. Mengenai masalah hukum onani, fuqaha berbeda pendapat. Ada yang
mengharamkan secara mutlak dan ada yang mengharamkan pada suatu hal-hal tertentu, ada
yang mewajibkan juga pada hal-hal tertentu, dan ada pula yang menghukumi makruh.
Sayyid Sabiq mengatakan bahwa Malikiyah, Syafi`iyah, dan Zaidiyah menghukumi
haram. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa Allah SWT memerintahkan menjaga
kemaluan dalam segala keadaan kecuali kepada isteri dan budak yang dimilikinya.
Hanabilah berpendapat bahwa onani memang haram, tetapi kalau karena takut zina, maka
hukumnya menjadi wajib, kaidah usul :

“Mengambil yang lebih ringan dari suatu kemudharatan adalah wajib”

Kalau tidak ada alasan yang senada dengan itu maka onani hukumnya haram. Ibnu
Hazm berpendapat bahwa onani hukumnya makruh, tidak berdosa tetapi tidak etis.
Diantara yang memakruhkan onani itu juga Ibnu Umar dan Atha` bertolak belakang
dengan pendapat Ibnu Abbas, Hasan dan sebagian besar Tabi`in menghukumi Mubah. Al-
Hasan justru mengatakan bahwa orang-orang Islam dahulu melakukan onani pada masa
peperangan. Mujahid juga mengatakan bahwa orang Islam dahulu memberikan toleransi
kepada para pemudanya melakukan onani. Hukumnya adalah mubah, baik buat laki-laki
maupun perempuan.
Ali Ahmad Al-Jurjawy dalam kitabnya Hikmat al-Tasyri` wa Falsafatuhu telah
menjelaskan kemadharatan onani dan mengharamkan perbuatan ini, kecuali kalau karena
kuatnya syahwat dan tidak sampai menimbulkan zina. Agaknya Yusuf Al-Qardhawy juga
sependapat dengan Hanabilah mengenai hal ini, al-Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibnu
Muhammad Al-Husainy juga mengemukakan kebolehan onani yang dilakukan oleh isteri
atau ammahnya karena itu memang tempat kesenangannya:

“Seorang laki-laki dibolehkan mencari kenikmatan melalui tangan isteri atau hamba

sahayanya karena di sanalah (salah satu) dari tempat kesenangannya.”

Tahapan yang kedua setelah bank sperma mengumpulkan sperma dari beberapa
pendonor, maka bank sperma akan menjualnya kepada pembeli dengan harga tergantung
kualitas spermanya. Setelah itu agar pembeli sperma dapat mempunyai anak maka harus
melalui proses yang dinamakan inseminasi buatan.
Inseminasi buatan ialah pembuahan pada hewan atau manusia tanpa melalui
senggama (sexual intercourse). Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah
dikembangkan dalam dunia kedokteran, antara lain adalah: Pertama; Fertilazation in Vitro
(FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro
(tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri. Kedua; Gamet Intra
Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri, dan setelah
dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi) Teknik
kedua ini terlihat lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi
setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual.
Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk masalah
kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara spesifik di dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini
hendak dikaji menurut Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad
yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya
yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber
pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya
menggunakan pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim dari
berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-
benar proporsional dan mendasar. Misalnya ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum,
agama dan etika.
Masalah inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak dibicarakan di
kalangan Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya Majlis Tarjih
Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan
sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1
September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam
sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau
ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum dari isteri
sendiri. Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengecam keras pembuahan buatan, bayi
tabung, ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak, karena dipandang tak bermoral dan
bertentangan dengan harkat manusia. Mantan Ketua IDI, dr. Kartono Muhammad juga
pernah melemparkan masalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Ia menghimbau
masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerima bayi tabung dengan syarat sel
sperma dan ovumnya berasal dari suami-isteri sendiri.
Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi tabung pada
manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Bila dilakukan dengan sperma
atau ovum suami isteri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian
disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan cara
pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini
dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan
untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan.
Hal ini sesuai dengan kaidah hukum fiqh Islam:

“Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan

terpaksa (emergency). Padahal keadaan darurat/terpaksa itu membolehkan melakukkan


hal-hal yang terlarang.”

Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma
dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat hukumnya,
anak hasil inseminasi itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang
melahirkannya. Dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan menetapkan hukum haram
inseminasi buatan dengan donor ialah:
a. Firman Allah SWT dalam surat al-Isra: 70 dan At-Tin: 4. Kedua ayat tersebut
menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai
kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan
sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati
martabatnya sendiri serta menghormati martabat sesama manusia. Dalam hal ini inseminasi
buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat merendahkan harkat manusia sejajar
dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diinseminasi.
b. Hadits Nabi SAW yang mengatakan, “Tidak halal bagi seseorang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri
orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).
Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan seseorang
melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka
berbeda pendapat apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu Hanifah
boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum kandungannya lahir. Sedangkan Zufar
tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup, masalah inseminasi buatan
belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.
Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi buatan pada
manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata maa’ dalam bahasa Arab bisa
berarti air hujan atau air secara umum, seperti dalam Thaha: 53. Juga bisa berarti benda
cair atau sperma seperti dalam An-Nur: 45 dan Al-Thariq: 6.
c. Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus berasal
dari sperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih yang
mengatakan “dar’ul mafsadah muqaddam ‘ala jalbil mashlahah” (menghindari mafsadah
atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik maslahah/kebaikan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor
sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah.
Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul, baik
keduanya maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang mengalami
gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara
lain berupa:
a. Percampuran nasab, padahal Islam sangat menjaga kesucian/kehormatan kelamin dan
kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan kewarisan.
b. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
c. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma
pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.
d. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga.
e. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.
f. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi
tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-isteri yang
punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami.
(QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).
Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma
dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak
hasil prostitusi atau hubungan perzinaan. Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42
UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau
sebagai akibat perkawinan yang sah” maka tampaknya memberi pengertian bahwa anak
hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat dipandang sebagai anak yang tidak sah.
Namun, kalau kita perhatikan pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat
bagaimana peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang berkaitan
dengan perkawinan. Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan), pasal 8 (f) tentang
larangan perkawinan antara dua orang karena agama melarangnya, dll. Lagi pula negara
kita tidak mengizinkan inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum, karena
tidak sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.
Hal ini sesuai dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia di Jakarta 13 Juni 1979
tentang masalah bayi tabung atau enseminasi buatan:
1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah
hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah
agama.
2. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain
(misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram berdasarkan
kaidah Sadd az-Zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam
kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu
yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan
sebaliknya).
3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia
hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-Zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan
masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam
kaitannya dengan hal kewarisan.
4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri
yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar
lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari'ah,
yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.

Dalam masalah munculnya bank sperma terdapat dua hukum yang perlu dipahami
di sini, pertama, hukum keberadaan bank sperma itu sendiri, dan kedua, hukum
menggunakan layanan bank tersebut. Pertama dari segi hukum keberadaan/ eksistensi bank
sperma itu sendiri, maka hal ini tidaklah menjadi satu keharaman, selama bank tersebut
mematuhi hukum syara’ dari segi operasinya.

Hal ini karena dari segi hukum, boleh saja suami menyimpan sperma mereka di
bank sperma hanya untuk isterinya apabila keadaan memerlukan, Namun begitu, sperma
itu mestilah dihapuskan apabila si suami telah meninggal. Sperma tersebut juga mesti
dihapuskan jika terjadi perceraian (talaq ba’in) di antara suami isteri. Di dalam kedua
perkara ini (kematian suami dan talaq ba’in), jika mantan isteri tetap melakukan proses
memasukkan sel yang telah disimpan itu ke dalam rahimnya, maka dia (termasuk dokter
yang mengetahui dan membantu) telah melakukan keharaman dan wajib dikenakan ta’zir.
Kedua, menggunakan layanan bank sperma tersebut yakni mendapatkan sperma
laki-laki untuk disenyawakan dengan sel telur perempuan agar menyebabkan kehamilan
dengan cara inseminasi buatan, hal ini juga sama seperti pendapat yang telah dijelaskan di
atas, yaitu dibolehkan hanya percampuran antara sperma suami dengan ovum isterinya
sendiri.

Mengetahui, Denpasar, 7 Desember 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002
Tanggal : Senin, 14 Desember 2015

Waktu : 13.00 - 15.00 WITA

Dosen : Drs. H. Salim Syamlan, M.Pd.I

Mahasiswa : 5 orang

Metode : Teori dan Tanya Jawab

Materi : Pemanfaatan IPTEKS Menurut Pandangan Berbagai Agama

5. Sewa Rahim / Suroogate Mother

Menurut bahasa kata “Sewa” berarti pemakaian (peminjaman) sesuatu dengan


membayar uang. Sedangkan arti kata “Rahim” yaitu kandungan. Jadi pengertian sewa
rahim menurut bahasa adalah pemakaian/ peminjaman kandungan dengan membayar uang
atau dengan pembayaran suatu imbalan.

Menurut istilah adalah menggunakan rahim wanita lain untuk


mengandungkan benih wanita (ovum) yang telah disenyawakan dengan benih laki-laki
(sperma) yaitu pasangan suami istri, dan janin itu dikandung oleh wanita tersebut sampai
lahir kemudian suami istri itu yang ingin memiliki anak akan membayar dengan sejumlah
uang kepada wanita yang menyewakan rahimnya. . Embrio dibesarkan dan dilahirkan dari
rahim perempuan lain bukan istri. Untuk “jasa” nya tersebut, wanita pemilik rahim
biasanya menerima bayaran yang jumlahnya telah disepakati oleh keluarga yang ingin
menyewa rahimnya tersebut; dan wanita itu harus menandatangani persetujuan untuk
segera menyerahkan bayi yang akan dilahirkannya itu ke keluarga yang telah menyewanya.

Teknologi sewa rahim biasanya dilakukan bila istri atau wanita yang mempunyai
sel telur tidak mampu dan tidak boleh hamil atau melahirkan, rahimnya tidak baik untuk
mengandung, atau tidak mempunyai rahim, atau alasan lain yaitu, wanita yang mempunyai
sel telur, berkeinginan untuk menjaga kesehatan rahimnya, menjaga keindahan tubuh dan
kecantikannya atau dengan alasan lain sperti:

1. Seorang wanita tidak mempunyai harapan untuk mengandung secara biasa


karena ditimpa penyakit atau kecacatan yang menghalangnya dari mengandung
dan melahirkan anak.
2. Rahim wanita tersebut dibuang karena pembedahan.

3. Wanita tersebut ingin memiliki anak tetapi tidak mau memikul beban kehamilan,
melahirkan, menyusukan anak, karena ingin menjaga kecantikan tubuh badannya
dengan mengelakkan dari terkesan akibat kehamilan.

4. Wanita yang ingin memiliki anak tetapi telah putus haid (monopause).

5. Wanita yang ingin mencari pendapatan dengan menyewakan rahimnya kepada


orang lain.

Semua alasan tersebut tidak di perbolehkan dalam syariat, karena adanya beberapa
permasalahan yaitu:

 Permasalah pertama: tidak ada hubungan apapun antara laki-laki (yang mempunyai
sperma) dengan wanita yang rahimnya disewakan.

Dalam syariat islam, syarat mutlak atas status sah dari kelahiran seorang anak ke
dunia ini adalah dengan jalur yang resmi, yaitu akad nikah yang sah menurut agama dan
hukum dalam Negara serta didasari pada beberapa rukun dan syarat. Sebagimana yang
telah dijelaskan dalam hukum syariat dan sesuai dalam penggambaran yang dimaksudkan
sekarang, “Tidak ada hubungan suami isteri antara laki-laki yang mempunyai sperma dan
ibu yang menyewakan rahimnya”.

Keturunan dan anak-anak mereka, yang terikat dengan hubungan suami isteri agar
menjadi anak yang sah secara syar’I, wajib dilahirakan dari ikatan suami isteri tersebut.
Sebagiman firman Allah swt:

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kami

memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan “( QS. Ar Ra’ad: 38 ).

“Allah menjadikan bagimu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan

bagimu isteri-isterimu itu, anak-anakmu dan cucu-cucumu dan memberimu rizki yang
baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada Allah dengan batildan mengingkari
nikmat Allah?”. (QS. An-Nahl).
Dari keterangan kedua ayat di atas, bahwa nikmat tersebut dijadikan hanya untuk
anak adam dan keturunannya, bukan selainnya anak adam. Dan nikmat yang
diperuntukkan bagi anak-anak, cucu-cucu dari hubungan suami isteri.

Dan sungguh Allah telah menjelaskan kepada kita dalam Al-qur’an:

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-

isteri kami dan keturunan kami sdebagi penenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Furqan: 74)

Sudah jelas bahwa adanya keturunan harus dari ikatan suami isteri yang sah, yaitu
antara laki-laki yang mempunyai sperma dan perempuan yang mempunyai sel telur.
Hingga keduanya diperbolehkan untuk melakukan perkawinan. Dan keturunan dan anak-
anaknya harus dari ikatan suami isteri. Maka, tidak diperbolehkan mengandungkan janin
kepada wanita lain.

 Masalah kedua: adanya hubungan secara syar’i antara orang yang berhak memproduksi
dari rahim tertentu dan berhak berhubungan suami isteri dengan wanita yang
mempunyai rahim.

Jika seseorang mempunyai hak berhubungan badan dengan seorang perempuan


maka ia berhak menabur benihnya ke dalam rahim perempuan tersebut, dan jika ia tidak
berhak berhubungan badan dengannya maka ia juga terlarang memanfaatkan rahimnya
untuk menabur benih.

Adanya hubungan secara syar’I antara orang yang berhak memproduksi dari rahim
tertentu dan berhak berhubungan suami istri dengan wanita yang mempunyai rahim.

Menurut pendapat dalam masalah ini, ada dua kaidah, yaitu:

a. Setiap orang (wanita) yang berhak di gauli, maka berhak untuk di manfaatkan
rahimnya.

Tidak di perbolehkan setiap wanita/istri mencegah dirinya untuk hamil dan


mencegah suaminya untuk memproduksi walaupun dengan alasan tertentu.
b. Setiap orang yang tidak berhak untuk di gauli, maka tidak berhak di manfaatkan
rahimnya.
 Masalah ketiga: ada hal-hal yang boleh kita memberikannya kepada orang lain dan ada
hal-hal yang tidak boleh kita memberikannya kepada orang lain.

Menurut pendapat para ulama syar’i, bahwa ada sesuatu yang boleh di berikan
kepada yang lain. Maksudnya, di perbolehkan bagi orang yang mempunyai atau pemilik
unyuk memberikan kepada orang lain untuk kebaikan dirinya. Seperti makanan,
minuman,pakaian,mobil,buku-buku,pengetahuan dan sbagainya. Dan hal-hal tersebut di
perbolehkan untuk di perjual belikan dan sebagai dagangan. Di samping itu baik untuk
imbalan seperti hibah sodaqoh dan lain-lain.

Dan ada juga yang tidak diperbolehkan di berikan kepada orang lain, maksuknya
tidak di perbolehkan dalam syariat untuk memberikanya kepada yang lain atau
memperbolehkan menggunakanya, tidak boleh membeli,memperdagangkan dan tidak di
perbolehkan memberikanya walaupun sebagai upah atau imbalan,hibah sodaqoh. Seperti
suami istri dan rahim juga termasuk hal yang tidak di perbolehkan seperti yang telah di
sebutkan di atas. Atau selain itu yang telah di jelaskan dalam kitab fiqih islam.

Dan tidak di perbolehkan bagi istri untuk memberikan dirinya kepada seseorang
yang bukan suaminya dan begitu pula dengan suami sebagai mana yang telah di ringkas
dalam syariat.

Adanya hubungan suami istri tidak di perbolehkan untuk di berikan kepada orang
lain, karena haramnya wanita kepada selain suaminya. Maka rahim wanita itu tidak di
perbolehkan di berikan.

 Masalah keempat: Syari’at melarang sesuatu yang dapat menimbulkan konflik. Antara
pemilik rahim dan pemilik sel telur atau sperma.

Syari’at melarang segala sesuatu yang dapat menimbulkan perselisihan dan konflik
diantara manusia. Sementara menyewakan rahim berpeluang besar untuk menimbulkan
konflik dan perselisihan diantara dua wanita yaitu ibu yang mempunyai sel telur dan ibu
yang mempunyai rahim. Kemudian yang dibenarkan apakah orang yang mempunyai sel
telur atau yang mempunyai rahim dan melahirkan sang anak?
Bahkan kemungkinan besar akan memperpanjang masalah antara masalah satu
dengan masalah yang lain. Dikarenakan seseorang yang telah mendapatkan nasab dari anak
tersebut, khususnya apabila ada hak asasi bagi anak tersebut seperti warisan dari ayahnya.
Dan dari tujuan syariat islam seperti apa yang telah kita sebut. Maka sudah jelas setiap
sesuatu yang menimbulkan konflik baik itu perorangan ataupun kelompok, itu tidak
diperbolehkan dalam syariat.

Syari’at melarang terhadap suatu perkara yang dapat menimbulkan sebuah konflik
dan peselisihan antara satu dengan yang lain, khusunya antara pemilik rahim dan pemilik
sel telur. Atau konflik antar kelompok yang akan terjadi pada manusia. Tujuan dari
masalah tesebut yaitu untuk menjauhkan bahaya diantara mereka.

Syari’at melarang segala sesuatu yang dapat menimbulkan perselisihan dan konflik
diantara manusia. Sementara menyewakan rahim berpeluang besar untuk menimbulkan
konflik dan perselisihan diantara dua wanita yaitu ibu yang mempunyai sel telur dan ibu
yang mempunyai rahim. Kemudian yang dibenarkan apakah orang yang mempunyai sel
telur atau yang mempunyai rahim dan melahirkan sang anak?

Bahkan kemungkinan besar akan memperpanjang masalah antara masalah satu


dengan masalah yang lain. Dikarenakan seseorang yang telah mendapatkan nasab dari anak
tersebut, khususnya apabila ada hak asasi bagi anak tersebut seperti warisan dari ayahnya.
Dan dari tujuan syariat islam seperti apa yang telah kita sebut. Maka sudah jelas setiap
sesuatu yang menimbulkan konflik baik itu perorangan ataupun kelompok, itu tidak
diperbolehkan dalam syariat.

Dari permasalahan tersebut, kami berpendapat bahwa penyewaan rahim itu tidak
diperbolehkan, karena ada dasar-dasar yang menjelaskan hal tersebut. Terutama rahim
yang tidak bisa disewakan dan dipinjaman. Maka tidak cocok untuk disewakan karena
ulama’ telah memberi aturan pada masalah sewa menyewa, yaitu : adanya manfaat yang
diketahui, penyewaan dan peminjaman

Mengeluarkan hukum menyewakan rahim ke hukum fiqih klasik

Dalam ilmu fiqih terdapat kasus baru yang belum pernah ada kasus kontemporer
sebelumnya. Akan tetapi dalam fiqih –baik kasus baru ataupun kasus lama- terdapat kaidah
ataupun hukum yang sama. Imam sabiq memberikan hukum pada kasus-kasus
kontemporer dengan menyerupakan kasus lama terhadap kasus baru. Sayid Sabiq
membahas masalah-masalah baru ini dengan me-qiyaskan dengan masalah yang baru, yang
tidak dijelaskan hukumnya dalam fiqih klasik.

Hukum yang pertama : ulama’ memutuskan bahwa anak yang lahir dari orang yang
zina, maka dinasabkan kepada orang yang zina tersebut. Jika wanita tersebut tidak dalam
ikatan perkawinan. Setelah itu ulama’ sepakat bahwa anak itu milik orang tua yang
mempunyai mengandung, karena anak itu adalah milik ibunya yang mengandung.

Hukum yang kedua: hukum kedua ini ulama’ mengatakan bahwa penasaban itu di
syaratkan adanya andil sperma, dan tidak disyaratkan masuknya penis kedalam vagina.
Walaupun demikian itu disyaratkan adanya hubungan pernikahan antara orang yang
mempunyai sperma dengan orang yang mengandung (yang menyewakan rahim).

6. Adopsi
Mengadopsi atau mengangkat anak banyak dilakukan oleh masyarakat yang tidak
memiliki keturunan. Satu sisi, praktik adopsi anak merupakan tindakan yang mulia karena
tidak jarang anak yang diangkat adalah anak yatim piatu yang membutuhkan perawatan,
namun di sisi lain, jika salah dalam mengambil sikap, justru akan berakibat pada perbuatan
dosa. Ada dua pengertian adopsi atau pengangkatan anak yang berkembang di masyarakat:

1. Mengambil anak orang lain untuk diasuh seperti anaknya sendiri tanpa memberi status
anak kandung kepada anak tersebut.
2. Mengambil anak orang lain untuk diasuh seperti anak sendiri sampai melekatkan nasab
anak tersebut kepada orang tua angkat tersebut sehingga membuat hak-hak keperdataan
seperti saling mewarisi, menjadi wali nikah (jika anak tersebut perempuan) dan hak
orang tua kandung lainnya.
Al-Qur’an:

 Surah al-Ahzab ayat 37:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan
nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus
isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam
hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang
Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri
keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia
supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-
anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya
daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

 Surat al-Maidah ayat 2:


… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

 Surat al-Dahr ayat 8:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim
dan orang yang ditawan.

Dalam Islam pengangkatan anak yang dibenarkan adalah sebagaimana dalam


pengertian pertama, yaitu tidak melekatkan nasab kepada anak angkat sehingga hukumnya
tidak mempengaruhi kemahraman dan kewarisan. Hal ini dipahami dari dalil surah al-
Ahzab ayat 37, dimana asbabun nuzulnya adalah ketika Nabi saw diperintah Allah saw
untuk menikahi Zainab yang merupakan bekas isteri dari anak angkatnya yang bernama
Zaid.

Islam memang mengakui bahwa pengangkatan anak adalah hal yang mulia karena
sama halnya menolong anak-anak yang membutuhkan pertolongan apalagi anak yatim
piatu. Hal ini sebagaimana Anjuran Allah swt melalui surat al-Maidah ayat 2 dan surat al-
Dahr ayat 8.

Namun meskipun adopsi anak adalah perbuatan yang mulia, harus dipahami bahwa ada
batas-batas yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar. Seperti karena tidak
mempengaruhi kemahraman, maka tidak dibenarkan jika anak tersebut sudah baligh
diperlakukan seperti anak sendiri karena biar bagaimanapun ia bukanlah mahram (di
Indonesia sering disebut muhrim).

7. Aborsi
Secara etimologi, Aborsi adalah menggugurkan anak, sehingga dia tidak hidup.
Sedangkan secara terminologi, Aborsi adalah praktek seorang wanita yang menggugurkan
janinnya, baik dilakukan sendiri ataupun orang lain.
Macam-macam Aborsi
 Menurut kamus Bahasa Indonesia :
1. Aborsi Kriminalitas adalah aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena suatu
alasan dan bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.
2. Aborsi Legal, yaitu Aborsi yang dilaksanakan dengan sepengetahuan pihak yang
berwenang.
 Menurut medis Aborsi dibagi menjadi dua juga :
1. Aborsi spontan ( Abortus Spontaneus ), yaitu aborsi secara secara tidak sengaja dan
berlangsung alami tanpa ada kehendak dari pihak-pihak tertentu. Masyarakat
mengenalnya dengan istilah keguguran.
2. Aborsi buatan ( Aborsi Provocatus ), yaitu aborsi yang dilakukan secara sengaja
dengan tujuan tertentu. Aborsi Provocatus ini dibagi menjadi dua :
a. Jika bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan, maka
disebut dengan Abortus Profocatus Therapeuticum
b. Jika dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum yang
berlak, maka disebut Abortus Profocatus Criminalis

Pandangan Islam Mengenai Aborsi


Aborsi menurut agama-agama sebelum Islam adalah termasuk yang
diharamkan.Dalam agama Yahudi aborsi dianggap haram, tidak diperbolehkan dan
pelakunya mendapatkan hukuman. Akan tetapi hukumannya tidaklah ditentukan.
Dr. Abdurrahman Al Baghdadi (1998) dalam bukunya “Emansipasi Adakah Dalam
Islam” halaman 127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah
ruh (nyawa) ditiupkan. Jika dilakukan setelah setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4
(empat) bulan masa kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan
keharamannya. Tetapi para ulama fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum
ditiupkannya ruh. Sebagian memperbolehkan dan sebagaimana mengharamkan nya.Yang
memperbolehkan aborsi sebelum peniupan ruh, antara lain Muhammad Ramli (w. 1596 M)
dalam kitabnya An Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa.
Ada pula yang memandangnya makruh, denganalasan karena janin sedang mengalami
pertumbuhan.
Yang mengharamkan aborsi sebelum peniupan ruh antara lain Ibnu Hajar (w. 1567
M) dalam kitabnya At Tuhfah dan Al Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumiddin. Pendapat
yang disepakati fuqoha, yaitu bahwa haram hukumnya melakukan aborsi setelah
ditiupkannya ruh (empat bulan), didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi
setelah 4 (empat) bulan masa kehamilan. “Sesungguhnya setiap kamu terkumpul
kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam
bentuk ‘alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’selama itu pula .
kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan
Tirmidzi].

Dalil syar’i yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam
adalah hadits Nabi Saw berikut:

“Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat empat puluh dua malam, maka Allah mengutus
seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia
membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya,dagingnya, dan tulang belulangnya.
Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah), ‘Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau
tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?’ Maka Allah kemudian memberi
keputusan…” [HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a.]. Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw
bersabda: “(jika nutfah telah lewat) empat puluh malam…

Firman Allah SWT:


“Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia
dibunuh.” (Qs. at-Takwiir [81]: 8-9)

Jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari
dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram.
Dalam hal ini hukumnya sama dengan hukum keharaman aborsi setelah peniu¬pan ruh ke
dalam janin. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari,
maka hukumnya boleh (ja’iz) dan tidak apa-apa.
Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap penciptaan janin,
ataupun setelah peniupan ruh padanya, jika dokter yang terpercaya menetapkan bahwa
keberadaan janin dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan janinnya
sekaligus.Dalam kondisi seperti ini, dibolehkan melakukan aborsi dan mengupayakan
penyelamatan kehidupan jiwa ibu. Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu yang
diserukan oleh ajaran Islam, sesuai firman Allah SWT:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa
yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain. atau
bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya
telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan
yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui
batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi..” (QS. al-Ma’idah [5]:32)

Di samping itu aborsi dalam kondisi seperti ini termasuk pula upaya
pengobatan.Sedangkan Rasulullah Saw telah memerintahkan umatnya untuk berobat.
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan
penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian!”[HR.Ahmad].
Berdasarkan kaidah ini, seorang wanita dibolehkan menggugurkan kandungannya
jika keberadaan kandungan itu akan mengancam hidupnya, meskipun ini berarti
membunuh janinnya. Memang mengggugurkan kandungan adalah suatu mafsadat. Begitu
pula hilangnya nyawa sang ibu jika tetap mempertahankan kandungannya juga suatu
mafsadat. Namun tak syak lagi bahwa menggugurkan kandungan janin itu lebih ringan
madharatnya daripada menghilangkan nyawa ibunya, atau membiarkan kehidupan ibunya
terancam dengan keberadaan janin tersebut (Dr. Abdurrahman Al Baghdadi,1998).
Demikian pula pandangan Syariat Islam yang secara umum mengharamkan praktek aborsi.

Hal itu tidak diperbolehkan karena beberapa sebab :


1. Syariat Islam datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyaat al-khams,lima hal yang
urgen, seperti telah dikemukakan.
2. Aborsi sangat bertentangan sekali dengan tujuan utama pernikahan.Dimana Tujuan
penting pernikahan adalah memperbanyak keturunan.
3. Tindakan aborsi merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.
Anda akan menjumpai banyak diantara manusia yang melakukan aborsi karena didorong
rasa takut akan ketidak mampuan untuk mengemban beban kehidupan,biaya
pendidikan,dan segala hal yang berkaitan dengan konseling dan pengurusan anak.Ini
semua merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.Padahal,Allah telah berfirman :
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezkinya”
Maka, syariat Islam memandang bahwa hukum aborsi adalah haram kecuali beberapa
kasus tertentu yang insya Allah akan diterangkan.

Hukum Aborsi dalam Islam


Para ulama (para fuqaha) sepakat bahwa pengguguran janin sesudah ditiupkan ruh
adalah haram.Namun, dalam hal janin yang belum ditiupkan ruh mengenai
penggugurannya, para fuqaha berbeda pendapat, ada yang membolehkan, ada berpendapat
mubah dan ada yang mengharamkan. Dalam hal ini, penulis hanya akan membahas
pendapat para fuqaha yang mengharamkan aborsi. Tentang ini Al-Qur'an menguraikan:

"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua
orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut
kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang
tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan
dengan sesuatu yang benar ". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu
memahami" (QS. Al-An’am : 151).

Firman Allah SWT :


“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah , melainkan dengan suatu
yang benar . Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah
memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas
dalam membunuh.Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al-
Israa’ :33).
Kata “la taqtulu” berasal dari kata “qatala”, yang artinya janganlah kamu membunuh. Tapi,
dalam bahasa Arab “qatala” memiliki beberapa makna :
a) “Jadikanlah ia seperti orang yang terbunuh dan mati”
b) “Batalkanlah dan jadikanlah seperti orang yang sudah mati”
c) “Menghilangkan”
Jika dipakai arti “menghilangkan” dan “membatalkan” yang kedua kata tersebut
bersinonim, maka surat Al-An’am dan Al-Israa’ tersebut dapat diartikan: “dan janganlah
kamu menghilangkan jiwa yang Allah telah haramkan (mengharamkannya), melainkan
dengan (jalan) hak”.
Aborsi (menggugurkan), bermakna menghilangkan dari rahim.Karena itu, aborsi bisa
dimasukkan kedalam ayat tersebut.
Firman Allah SWT :
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang
akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka
adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Israa’ : 31).

Dalam ayat Al-Qur’an tersebut, tidak secara kontekstual dikatakan tentang


pelarangan aborsi.Namun, yang jelas dilarang adalah membunuh seorang manusia.Jika
dianalogikan bahwa janin yang belum ditiupkan ruh adalah salah satu tahap sebelum
terlahirnya manusia, bahkan memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk terbentuknya
manusia, maka pengguguran janinpun termasuk perbuatan yang dilarang.

Allah SWT berfirman :


“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk
mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan
mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat
dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan
mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan
mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12).
Menurut imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, pelaku dibebani pertanggung jawaban atas
sesuatu yang keluar dari rahim seorang perempuan, apabila sesuatu itu telah jelas
bentuknya walaupun belum lengkap (belum sempurna).Menurut pernyataan diatas,
pengguguran janin yang belum sempurna menuntut pertanggung jawaban bagi
pelakunya.Janin yang belum sempurna adalah fase embrio, fase dimana ruh belum
ditiupkan terhadap janin tersebut.Pengguguran difase ini, menuntut adanya pertanggung
jawaban, hal tersebut mengimplikasikan bahwa pengguguran janin walaupun belum
ditiupkan ruh adalah suatu tindak kejahatan (jinayah).
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2005, tentang Aborsi menetapkan
ketentuan hukum Aborsi sebagai berikut;
1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim
ibu (nidasi).
2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzurpabila tidak melakukan sesuatu yang
diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati.
3. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.
Aborsi yang Dilarang dalam Islam
Tidak ada pernyataan tunggal dalam Kitab Suci Al Qur'an atau dalam perkataan
(hadist/ sunnah) dari Nabi Muhammad SAW, yang memungkinkan aborsi!
Sebaliknya, ada ayat-ayat dalam Kitab Suci Al Qur'an yang jelas terhadap pembunuhan
setiap anak yang belum lahir atau anak, laki-laki atau perempuan, dengan cara apapun,
untuk alasan apapun dan pada setiap tahap kehamilan (Bab 6, ayat 151, Pasal 17, ayat 31,
Bab 5, ayat 31, Pasal 60, ayat 12). Perempuan Muslim dijelaskan dalam Al-Qur'an Al
sebagai (antara lain) orang-orang yang (Bab 60, ayat 12) "tidak membunuh anak-anak
mereka."
Dalam Islam kita diminta untuk menikah, hamil dan mempertahankan kehamilan sampai
akhir alam sebagai ditetapkan oleh ALLAH, dan menghasilkan banyak anak.Konsepsi
Setiap sah dan setiap kehamilan yang diinginkan dan ingin. Dalam Islam tidak ada hal
seperti “kehamilan yang tidak diinginkan”. Setiap anak dianggap sebagai karunia besar
dari Tuhan.
Islam juga telah menyatakan dengan jelas hak-hak janin, hak untuk hidup dan
perlindungan dari bahaya apapun, hak untuk keturunan, hak untuk dukungan dari keluarga,
hak untuk status hukum dan warisan.
Ibnu Taimiyyah, salah satu ulama besar Islam, mengatakan: "Ini adalah konsensus
dari semua fuqaha (ulama terkenal) bahwa aborsi dilarang."
Al Ghazali, seorang ulama besar Islam, menunjukkan bahwa itu adalah kejahatan
untuk mengganggu telur dibuahi dari manusia.Telur yang telah dibuahi (dasar setiap
manusia), yang disebut nutfa AMSHAJJ dalam Al Qur'an, adalah sepenuhnya dilindungi
dan dihormati!. Semua penelitian embrio merusak bertentangan dengan ajaran Islam!
Setiap telur dibuahi mengandung gen, warisan dari kedua orang tua dengan jenis kelamin
yang jelas baik laki-laki atau perempuan!
Imam Malik (seorang sarjana terkenal Muslim) menyatakan, aborsi tidak
diperbolehkan pada setiap tahap kehamilan dari konsepsi. Bukan hanya itu, tetapi hukum
 Islam menetapkan hukuman bagi siapa saja melakukan atau membantu dalam aborsi:
Al-Gurrah (uang darah) dibayarkan jika bayi dibatalkan mati. (Pada harga saat ini akan
menjadi sekitar £ 1000) Kendali Diyyah (uang darah, sekitar £ 20.000) dibayarkan jika
bayi dibatalkan hidup.

Aborsi yang Dihalalkan Dalam Islam


Aborsi atau menggugurkan bayi ternyata masih menjadi praktek yang banyak
terjadi di Indonesia.Dari salah satu sumber menyebutkan bahwa jumlah aborsi dalam satu
tahun di Indonesia mencapai 2 sampai 3 juta kasus aborsi.Dimana 50% aborsi tersebut
dilakukan oleh remaja. Sungguh data yang sangat menyesakkan dada melihat tingginya
“pembunuhan” bayi ini.Hal ini bisa merefleksikan semakin rendahnya moral anak muda
bangsa dalam menyikapi budaya free sex dari Barat.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperbolehkan praktek aborsi atau menggugurkan bayi
dalam kandungan dengan sejumlah syarat tertentu. Korban perkosaan dan kondisi
kandungan yang membahayakan ibu hamil merupakan serta kondisi bayi yang sudah
diketahui akan cacat yang tidak bisa disembuhkan yang memberikan hukum aborsi boleh
dilakukan. Dengan catatan bahwa aborsi ini dilakukan sebelum usia kandungan 40 hari.
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pengguguran kandungan atau aborsi
diperbolehkan(mubah) dalam islam karena alasan kesehatan/keselamatam jiwa , seperti :
1. Usia ibu hamil
Bila ibu yang sedang mengandung berusia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
, maka tingkat resiko kematiannya lebih tinggi. Untuk mencegah kematian nya sang
ibu pada ssat persalinan karena adanya suatu masalah , maka tindakan aborsi boleh
dilakukan.
2. Jarak kehamilan
Bila ada tempo waktu , kurang dari 2 tahun maka sang ibu akan mengalami
peningkatan resiko terhadap terjadinya pendarahan karena belum pulihnya rahim ,
plasenta previa,anemia dan ketuban pecah dini, pertumbuhan janin kurang baik
,persalinan lama/sulit,serta melahirkan bayi dengan berat rendah.
3. Telah memiliki 4 orang anak lebih
Ibu yang telah memiliki 4 orang anak/lebih beresiko untuk melahirkan kembali.Bila
saat melahirkan ada tanda-tanda yang membahayakan jiwa sang ibu, maka di
perbolehkan melakukan tindakan aborsi.

Kaidah Fikih Yang Mendukung Aborsi yang Dihalalkan


Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa aborsi memang merupakan problem
sosial yang terkait dengan paham kebebasan (freedom/liberalism) yang lahir dari paham
sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan (Abdul Qadim Zallum, 1998).
Terlepas dari masalah ini, hukum aborsi itu sendiri memang wajib dipahami dengan baik
oleh kaum muslimin, baik kalangan medis maupun masyarakat umumnya. Sebab bagi
seorang muslim, hukum-hukum Syariat Islam merupakan standar bagi seluruh
perbuatannya. Selain itu keterikatan dengan hukum-hukum Syariat Islam adalah kewajiban
seorang muslim sebagai konsekuensi keimanannya terhadap Islam. Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu (Muhammad) sebagai pemutus perkara yang mereka perselisihkan di antara
mereka.” (Qs. an-Nisaa` [4]: 65).

“Dan tidak patut bagi seorang mu`min laki-laki dan mu`min perempuan, jika Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36).

Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap penciptaan janin,
ataupun setelah peniupan ruh padanya, jika dokter yang terpercaya menetapkan bahwa
keberadaan janin dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan janinnya
sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, dibolehkan melakukan aborsi dan mengupayakan
penyelamatan kehidupan jiwa ibu.Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu yang
diserukan oleh ajaran Islam.
Di samping itu aborsi dalam kondisi seperti ini termasuk pula upaya pengobatan.
Sedangkan Rasulullah Saw telah memerintahkan umatnya untuk berobat. Rasulullah Saw
bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula
obatnya.Maka berobatlah kalian!” [HR. Ahmad].

Berdasarkan kaidah ini, seorang wanita dibolehkan menggugurkan kandungannya jika


keberadaan kandungan itu akan mengancam hidupnya, meskipun ini berarti membunuh
janinnya. Memang mengggugurkan kandungan adalah suatu mafsadat. Begitu pula
hilangnya nyawa sang ibu jika tetap mempertahankan kandungannya juga suatu mafsadat.
Namun tak syak lagi bahwa menggugurkan kandungan janin itu lebih ringan madharatnya
daripada menghilangkan nyawa ibunya, atau membiarkan kehidupan ibunya terancam
dengan keberadaan janin tersebut (Dr. Abdurrahman Al Baghdadi, 1998).

Tinjuan Aborsi menurut Hukum Islam


Melihat klasifikasi yang ada di atas, dapat dilihat bahwa:
Jenis pertama tidak masuk dalam kemampuan dan kehendak manusia, sehingga tentunya
masuk dalam firman Allah Ta’ala:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [QS. Al-
Baqarah/ 2 : 286]

Dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:


“Dimaafkan dari umatku kesalahan (tanpa sengaja), lupa, dan keterpaksaan.” [HR. al-
Baihaqi dalam Sunannya dan di-shahih-kan Syail al-Albani dalam Shahihul-Jami' no.
13066]

Jenis kedua tidaklah dilakukan kecuali dalam keadaan darurat yang menimpa sang
ibu, sehingga kehamilan dan upaya mempertahankannya dapat membahayakan kehidupan
sang ibu. Sehingga aborsi menjadi satu-satunya cara mempertahankan jiwa sang ibu; dalam
keadaan tidak mungkin bisa mengupayakan kehidupan sang ibu. Sehingga aborsi menjadi
satu-satunya cara mempertahankan jiwa sang ibu; dalam keadaan tidak mungkin bisa
mengupayakan kehidupan sang ibu dan janinnya bersama-sama. Dalam keadaan seperti
inilah mengharuskan para medis spesialis kebidanan mengedepankan nyawa ibu daripada
janinnya. Memang nyawa janin sama dengan nyawa sang ibu dalam kesucian dan
penjagaannya, namun bila tidak mungkin menjaga keduanya kecuali dengan kematian
salah satunya, maka hal ini masuk dalam kaedah “Melanggar yang lebih ringan dari dua
madharat untuk menolak yang lebih berat lagi.” [Irtikabul Akhaffi ad-Dhararain Lidaf'i
A'lahuma]
Di sini jelaslah kemaslahatan mempertahankan nyawa sang ibu didahulukan
daripada kehidupan sang janin, karena ibu adalah induk dan tiang keluarga. Dengan takdir
Allah Ta’ala, ia bisa melahirkan berulang kali, sehingga didahulukan nasib sang ibu dari
janinnya. Permasalahan yang penting dalam pembahasan ini adalah hukum aborsi jenis
ketiga, yaitu Al-Ijhadh al-Ijtima-i yang dinamakan juga al-Ijhadh al-Jina-i atau al-Ijrami
(Abortus Provokatus Kriminalis).

Alasan dilakukannya Aborsi


Banyak dalih yang dijadikan alasan untuk melakukan aborsi, beberapa alasan tersebut
antara lain :
 Terdapat kemungkinan janin lahir dengan cacat yang diturunkan secara genetik.
Penyakit kelainan genetik biasanya disebut “down syndrome”, yang diturunkan
melalui gen orang tuanya. Pada umumnya ini terjadi karena kedua orang tuanya
bersaudara artinya mereka memiliki hubungan famili dekat, sehingga kemungkinan
besar memiliki gen bawaan yang sama yang ketika dikawinkan akan melahirkan
kelainan genetic
 Ditakuti atau dicurigai adanya cacat bawaan lahir).Retardasi mental (keterbelakangan
mental), yang dibawa sejak lahir banyak ditimbulkan oleh kebiasaan si Ibu
mengkonsumsi alcohol.Maka, jelas kebiasaan Si Ibulah yang harus diubah dan
dibenarkan, bukan janin yang harus digugurkan.
 Suatu diagnosis kandung kemih terhadap janin menunjukkan adanya kelainan parah
yang tidak sesuai dengan kehidupan seperti kehilangan penglihatan atau kerusakan
otak. Hal ini disebabkan oleh Ibu yang mememiliki penyakit STD (Penyakit kelamin
menular), penyakit kelamin menular ditimbulkan dari hubungan yang berganti-ganti
pasangan.Mengugurkan kandungan dengan alasan inipun tidak dibenarkan.
Ada dua alasan lain yang dikemukakan oleh yayasan kesehatan perempuan dan
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam hal menyuarakan perlunya
legalisasi aborsi diIndonesia melalui RUU perubahan UU No. 23/1992.

Pertama, demi mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) akibat aborsi yang tidak
aman/illegal oleh tenaga-tenaga medis yang tidak memiliki kualifikasi yang memadai yang
sering menimbulkan kematian.Maka, aborsi yang tidak aman harus diubah menjadi aborsi
yang aman (safe abortion) yang dilakukan oleh tenaga medis yang professional bukan oleh
tenaga medis yang tidak professional) Yang menjadi permasalahan seharusnya bukanlah
yang membantu melakukan aborsi/ terkualifikasi atau tidaknya pembantu pelaku aborsi,
tapi “Aborsi” itu sendiri, yang jelas-jelas melanggar hak si janin untuk hidup dan terlahir
sebagai manusia.
Kedua, yang menjadi alasan perlunya aborsi dilegalkan adalah kebutuhan untuk
adanya alternative bagi warga Negara dalam menghadapi masalah kehamilan yang tidak
diinginkan.

firman Allah SWT dalam QS.Al-Isra':32 yang artinya:


"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji.Dan suatu jalan yang buruk".

Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka
yang hamil di luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Ada orang yang
menggugurkan kandungan karena tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka tidak
tahu akan keajaiban-keajaiban yang dirasakan seorang calon ibu, saat merasakan gerakan
dan geliatan anak dalam kandungannya. Alasan-alasan seperti ini juga diberikan oleh para
wanita di Indonesia yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa membunuh janin yang ada
di dalam kandungannya adalah boleh dan benar.Semua alasan-alasan ini tidak
berdasar.Sebaliknya, alasan-alasan ini hanya menunjukkan ketidak pedulian seorang
wanita, yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
Hikmah Larangan melakukan Aborsi
Allah SWT berfirman:

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes
mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami
tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan…"(QS. Al-Hajj: 5)

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan
dengan suatu (alasan) yang benar…"(QS. Al-Israa': 33)

Ayat-ayat di atas menegaskan larangan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah,
kecuali jiwajiwa yang dibolehkankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dibunuh
sebagaimana telah dijelaskan oleh para Ulama berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur'an dan
sunnah seperti pembunuh (qishah), orang muhsan yang berzina dan lain-lain.

Mengetahui, Denpasar, 14 Desember 2015


Ketua Prodi D IV Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah

Ni Nyoman Suindri, S.Si.T.,M.Keb I Nengah Sumirta, SST.,S.Kep.,Ners.,M.Kes


NIP. 1972020219992032004 NIP. 196502251986031002