Anda di halaman 1dari 20

BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

BAB IV

KARAKTERISASI RESERVOIR “A”

4.1 Analisa Petrofisika

Analisa petrofisika merupakan salah satu proses yang penting dalam usaha untuk
mengetahui karakteristik suatu reservoir. Melalui analisa petrofisika dapat diketahui
litologi, porositas, jenis fluida, permeabilitas dan saturasi air. Dalam penelitian ini analisa
petrofisika dilakukan dengan menggunakan log gamma ray, resistivitas, neutron, sonik
dan densitas.

4.1.1. Identifikasi Reservoir

Identifikasi reservoir dilakukan untuk mengetahui interval lapisan yang berpotensi


memiliki kandungan hidrokarbon. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi
reservoir dalam penelitian ini adalah :

a. Log Gamma Ray

Log gamma ray digunakan untuk menentukan zona permeabel dan non-permeabel
berdasarkan volume shale yang terkandung dalam suatu lapisan.

Cut off volume shale (Vshale) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50%,
yang berarti semua lapisan yang mempunyai V shale > 50% akan dianggap sebagai
lapisan batulempung (gambar 4.1).

b. Log Resistivitas

Lapisan yang mengandung hidrokarbon akan memiliki resistivitas yang lebih besar
dibandingkan dengan lapisan yang mengandung air. Ini karena hidrokarbon lebih
susah untuk mengalirkan aliran listrik (insulator) dibandingkan dengan air.

c. Crossover Densitas-Neutron

Metode selanjutnya dalam identifikasi reservoir adalah dengan memanfaatkan


adanya cross over antara kurva densitas dan neutron. Hidrokarbon akan memiliki

27
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

nilai densitas yang kecil dan nilai neutron yang kecil, karena memiliki jumlah ion
hidrogen yang sedikit.

Gambar 4.1. Identifikasi reservoir berdasarkan Vshale (A), resistivitas (B) dan cross over
densitas-neutron (C). Unit I, II, III dan IV merupakan unit reservoir pada reservoir “A”.

4.1.2 Identifikasi Litologi

Identifikasi litologi ini bertujuan untuk mengetahui jenis litologi yang menyusun
lapisan pada reservoir “A”. Informasi tentang litologi ini akan sangat berguna dalam
melakukan analisa selanjutnya, seperti untuk penghitungan porositas. Dalam penelitian
ini, identifikasi litologi dilakukan dengan menggunakan beberapa metoda seperti plot M-
N, plot MID (mineral identification), log kombinasi densitas-neutron serta cutting.

28
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

a. Plot M-N

Plot M-N membutuhkan data log sonik, densitas dan neutron untuk mendapatkan
informasi tentang litologi pada lapisan tertentu. Nilai M dan N bisa dihitung
menggunakan persamaan dari Schlumberger, 1989 (persamaan 2.10).

Berdasarkan hasil plot M-N (gambar 4.1), litologi pada reservoir “A” susah untuk
diidentifikasi. Hal ini dikarenakan semua hasil plot menunjukkan area shale (shale
region), sehingga informasi tentang litologi yang menyusun reservoir “A” tidak diperoleh
dengan baik. Tingginya kandungan shale pada reservoir “A” diperkirakan menjadi
penyebab dari hasil plot M-N ini.

PLOT M-N
1,1
Gypsum
Secondary porosity
1,0
Gas
0,9 Limestone
Sandstone
Dolomite
0,8
M

Unit I
0,7

Unit II
0,6 Anhydrite
Unit III
0,5
Unit IV Shale Region
0,4
0,40 0,45 0,50 0,55 0,60 0,65 0,70

Gambar 4.2. Plot M-N pada sumur AL 1.

b. Plot MID (mineral identification)

Plot MID dapat dilakukan setelah diperoleh nilai-nilai ȡmaa (apparent density) dan

ǻtmaa (apparent interval transit time matrix). Nilai ǻtmaa dan ȡmaa bisa dihitung
menggunakan persamaan 2.11.

Seperti halnya plot M-N, plot MID juga tidak bisa memberikan informasi
memadai mengenai jenis litologi pada reservoir “A”. Hasil plot MID (gambar 4.3)
semuanya berada pada area yang tidak menunjukkan litologi tertentu, sehingga sulit

29
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

untuk dapat mengetahui jenis litologi pada reservoir “A”. Hal ini diperkirakan akibat
besarnya kandungan shale, sehingga mengakibatkan nilai interval transit time sonik
menjadi besar. Besarnya nilai interval transit time akan mengakibatkan nilai ǻtmaa
menjadi lebih besar, sehingga secara langsung akan mempengaruhi plot MID yang
dihasilkan.

PLOT MID
tmaa
30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130
2,0
Salt
2,1
2,2
2,3
2,4
2,5
pm aa

2,6
Calcite Quartz
2,7
2,8 Dolomite Unit I
2,9 Unit II
Unit III
3,0 Anhidrite
Unit IV
3,1

Gambar 4.3 Plot MID pada sumur AL 1.

c. Crossplot Densitas-Neutron

Penentuan litologi dengan log densitas dan neutron dapat dilakukan dengan cara
mengeplot (plotting) nilai-nilai densitas dan porositas neutron ke dalam suatu gaftar /
chart (Schlumberger, 1986). Hasil pengeplotan kemudian akan menunjukkan jenis
litologi yang membentuk lapisan tersebut.

Berdasarkan hasil pengeplotan densitas dan neutron (gambar 4.4), reservoir “A”
tersusun oleh perselingan dolomit, batugamping dan batupasir dengan batulempung.
Disini ada suatu kendala dalam penentuan batupasir, dolomit dan batugamping, ini
dikarenakan kandungan hidrokarbon pada reservoir “A” yang mempengaruhi nilai-nilai
densitas dan neutron.

30
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Crossplot Densitas - Neutron

NPHI

-0,05 0,05 0,15 0,25 0,35 0,45


1,9
2
2,1
2,2
Den (RhoB)

2,3
2,4
2,5
2,6 Sandstone

2,7 Lim estone

2,8
Dolom ite
2,9 Unit I Unit II Unit III Unit IV

Gambar 4.4 Crossplot densitas neutron pada sumur AL 1 menunjukkan bahwa reservoir
“A” disusun oleh dolomit, batugamping dan batupasir.

d. Cutting

Data cutting yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan geologi
dan mud log sumur pada reservoir “A”. Data cutting digunakan sebagai rujukan utama
untuk identifikasi litologi pada reservoir “A”. Hal ini dikarenakan metode lainnya tidak
bisa memberikan informasi yang memadai tentang litologi yang menyusun reservoir “A”.

Berdasarkan data cutting yang ada (tabel 4.1), reservoir “A” disusun oleh
perselingan batupasir dan batulempung.

Sumur Deskripsi Cutting

AL 1 Bps : Abu-abu terang, berbutir halus – sedang, menyudut tanggung-


membundar tanggung, pemilahan buruk, kuarsa.

Blp : Abu-abu, bergradasi dengan lanau, non gampingan.

31
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

DM 08 Bps : Abu-abu terang, berbutir halus – sedang, menyudut tanggung-


membundar, pemilahan sedang - baik.

Blp : Abu-abu terang, non gampingan.

DM 09 Bps : Abu-abu terang, berbutir sangat halus - halus, menyudut tanggung-


membundar, pemilahan sedang - baik, getas - tak terkonsolidasi.

Blp : Abu-abu terang, non gampingan, foram.

DM 13 Bps : Putih, berbutir sangat halus – halus, menyudut tanggung-


membundar, pemilahan baik, kuarsa.

Blp : Abu-abu, non gampingan, foram.

DM 17 Bps : Abu-abu terang, berbutir sangat halus-halus, menyudut tanggung-


membundar, pemilahan baik.
Formatted: Swedish (Sweden)
Blp : Abu-abu terang, non gampingan.

Tabel 4.1 Deskripsi cutting pada reservoir “A”.

Berdasarkan analisa litologi yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa reservoir “A” disusun oleh perselingan batupasir dan batulempung. Kesimpulan
ini diambil berdasarkan data dari cutting yang dianggap lebih akurat dibandingkan
metode lainnya. Kehadiran hidrokarbon dan tingginya kandungan shale pada reservoir
“A” diperkirakan menjadi penyebab ketidakakuratan metode plot M-N, plot MID dan
crossplot densitas-neutron dalam mengidentifikasi litologi.

32
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

4.1.3 Penentuan Porositas

Porositas suatu formasi bisa dihitung menggunakan log sonik, neutron maupun
densitas. Pemilihan jenis porositas yang akan digunakan dalam analisa petrofisika
selanjutnya menjadi sangat penting, penggunaan porositas yang berbeda akan
menghasilkan hasil yang berbeda pula.

Dalam penelitian ini, perhitungan porositas menggunakan koreksi terhadap shale.


Ini dikarenakan kandungan shale dalam reservoir “A” akan mempengaruhi hasil dari
perhitungan porositas.

Porositas efektif (PHIE) yang digunakan dalam penelitian ini adalah porositas
densitas-neutron (persamaan 2.5). Ini cocok untuk reservoir “A” yang memiliki
kandungan gas. Kehadiran gas akan mengakibatkan porositas neutron menjadi kecil,
karena jumlah ion hidrogen dalam gas sedikit. Sebaliknya, porositas densitas yang
terhitung akan menjadi lebih besar, karena kandungan gas akan membuat densitas bulk
yang terbaca menjadi kecil.

Gambar 4.5 menunjukkan bahwa porositas sonik yang belum terkoreksi terhadap
shale (garis merah putus-putus) memiliki porositas yang besar yaitu diatas 35 %. Setelah
dilakukan koreksi terhadap shale, nilai porositas sonik (garis merah) berubah menjadi
antara 15 - 30 %. Hal serupa juga terjadi pada porositas densitas dan porositas neutron.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kandungan shale dalam reservoir “A” ini sangat
mempengaruhi semua nilai porositas yang terhitung.

Berdasarkan hasil perhitungan porositas yang telah dilakukan, didapatkan


porositas dalam reservoir “A” berkisar antara 17 – 33 %.

33
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Porositas Sonik Porositas Neutron - Densitas


N Phi (corr) N Phi
D Phi (corr) D Phi
S Phi (corr) S Phi
Phi E (Den-Neu)
-3230

-3240

-3250

-3260
K e da la m a n (TV D S S Ft)

-3270

-3280

-3290

-3300

-3310

-3320
0,0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5
0,0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

Porositas
Porositas

Gambar 4.5 Berbagai perhitungan porositas pada sumur AL 1, kurva putus-putus


menunjukkan nilai porositas sebelum dilakukan koreksi terhadap shale.

34
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

4.1.4 Perhitungan Saturasi Air

Saturasi air menunjukkan jumlah pori dalam batuan yang terisi oleh air formasi
(Asquith dan Krygowski, 2004). Perhitungan saturasi air (Sw) dalam penelitian ini
menggunakan persamaan Archie yang mempertimbangkan faktor formasi (F), resistivitas
air (Rw) dan true resistivity (Rt).

Sw = (F x Rw / Rt) 1/2

Untuk mendapatkan nilai Rw, digunakan metode Rwa dan Pickett plot. Dalam penelitian
ini, metode Rwa dipilih untuk digunakan dalam penentuan nilai Rw. Ini dikarenakan nilai
Rw dari Pickett plot tidak memberikan informasi tentang temperatur formasi.
Sebagaimana diketahui, nilai resistivitas berubah seiring perubahan temperatur (Asquith
dan Krygowski, 2004).

Pickett plot bisa dimanfaatkan untuk mengetahui nilai faktor sementasi (m) yang
berguna untuk menentukan faktor formasi (F). Nilai m dalam pickett plot (gambar 4.6)
merupakan nilai kemiringan dari garis 100 % saturasi air (Sw 100%).

Pickett Plot
Rw = 0.15
1,0 AL 1

AL 6

DM 01

DM 02

DM 04

DM 05

DM 07
P orositas

DM 08

DM 09
0,1 DM 11

DM 13

DM 16

DM 17

DM 20
Sw 100%
m=2

0,0
0,1 1,0 10,0 100,0
Rt LLD

Gambar 4.6 Penentuan nilai resistivitas air (Rw) berdasarkan Pickett plot.
Nilai m merupakan kemiringan dari garis Sw 100 %.

35
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Nilai Rw berdasarkan metode Rwa dihitung dengan menentukan nilai Rwa pada zona
batupasir yang terisi 100% air (water- bearing zone). Pada zona ini true resistivity (Rt)
mempunyai nilai yang sama dengan Ro (resistivitas pada zona air). Sehingga berdasarkan
rumus Archie, nilai Rwa bisa dihitung dengan membandingkan nilai Ro dengan faktor
formasi (F). Nilai Ro bisa diketahui dari nilai resistivitas MSFL.

Rwa = Ro / F

Gambar 4.7.a menunjukkan penentuan nilai Rw berdasarkan nilai Rwa pada zona 100%
air yang ditunjukkan oleh nilai Rwa yang konstan (garis kuning). Nilai Rw yang
diperoleh adalah 0,19 ohm-m pada temperatur 161 0F.

Rwa Sw

-3230
-3230

-3240 -3240

Unit I
-3250 -3250

-3260
Kedalaman (TVDSS Ft)

-3260
Kedalaman (TVDSS Ft)

Unit II
-3270 -3270

-3280 -3280

Unit III
-3290 -3290

-3300
Unit IV
-3300

-3310
-3310

-3320
-3320
0,0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9
0,0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

1,0

a. b.

Gambar 4.7 a). Penentuan nilai Rwa pada AL 1, b). Nilai Sw pada AL 1.

Gambar 4.7.b menunjukkan nilai saturasi air (Sw) pada sumur AL 1. Unit II memiliki
nilai Sw yang paling kecil dibandingkan dengan unit reservoir yang lainnya. Keadaan ini
berlaku juga untuk sumur-sumur yang lain.

36
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Berdasarkan hasil analisa pada reservoir “A” , nilai saturasi air terendah pada reservoir
“A” adalah 0,28.

4.1.4.1. Moveable Hydrocarbon

Untuk mengetahui apakah hidrokarbon bisa terambil atau tidak (moveable


hydrocarbon), digunakan perbandingan antara saturasi air pada zone tak terinvasi /
uninvaded zone (Sw) dengan saturasi air pada zona terinvasi / flushed zone (Sxo). Nilai
Sxo dapat dihitung dengan rumus :

Sxo = (F x Rmf / Rxo) 1/n

Dimana nilai Rmf (resistivitas mud filtrat) dapat diperoleh dari data mud log, dan Rxo
(resistivitas pada flushed zone) dapat diperoleh dari log MSFL.

Jika nilai Sw / Sxo adalah < 0,6 (untuk batupasir) atau < 0,7 (untuk karbonat), maka
hidrokarbon yang ada akan dapat terambil (moved). Gambar 4.8 menunjukkan bahwa
hidrokarbon yang ada pada unit II adalah moved hydrokarbon, ditunjukkan oleh kurva
Sw/Sxo yang lebih kecil dari 0,6.

AL 1
Moveable Hydrocarbon (Sw/Sxo)

-3230

-3240
Unit I
-3250
Dep th (T VDSS F t)

-3260
Unit II Sw
-3270
Sxo
-3280 Sw / Sxo
Unit III
-3290

-3300
Unit IV
-3310

-3320
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00

Gambar 4.8 Nilai Sw, Sxo dan Sw/Sxo pada sumur AL 1.

37
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

4.1.5 Perhitungan Permeabilitas

Permeabilitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu batuan untuk


mengalirkan fluida (Asquith dan Krygowski, 2004). Nilai permeabilitas yang dihitung
dari log hanya akan valid jika dihitung pada kondisi formasi yang irreducible water
saturation / Sw irr (Schlumberger, 1977 op cit. Asquith dan Gibson, 1982). Pada saat
formasi berada pada kondisi ini (Sw irr), air dalam formasi tidak akan bergerak. Oleh
karena itu, produksi hidrokarbon pada zona ini akan bebas dari air / water-free ( Morris
dan Biggs, 1967 op cit. Asquith dan Gibson, 1982). Formasi yang berada pada kondisi
irreducible water saturation akan ditunjukkan oleh nilai bulk volume water (BVW) yang
relatif konstan (Gambar 4.9).

Setelah memastikan bahwa formasi berada pada kondisi irreducible water


saturation, perhitungan permeabilitas bisa dilakukan.

Perhitungan permeabilitas (K) bisa dihitung menggunakan persamaan dari Wyllie


dan Rose, 1950 ( Asquith dan Krygowski, 2004 ) :

K 1/2 = 79 x ĭ 3 / Sw irr (gas)

Bulk Volume Water (BVW)

1.00

0.90

0.80

0.70

0.60
Swirr

0.50

0.40
0.12
BVW line
0.30

0.20

0.10

0.00
0.000 0.050 0.100 0.150 0.200 0.250 0.300 0.350 0.400
PHI E

Gambar 4.9 Plot nilai porositas efektif (PHIE) dan saturasi air (Sw) pada unit II sumur
AL 1 menunjukkan nilai bulk volume water (BVW) yang konstan, yang berarti berada
pada irreducible water saturation.

38
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Permeability vs BVW
Permeabilitas vs BVW
-3230
0.01 0.10 1.00 10.00 100.00
-3235

-3240
Unit I

-3245
Depth TVDSS Ft

-3250
Unit II permeability
-3255
BVW

-3260

-3265

-3270
Unit III
-3275

-3280

Gambar 4.10 Nilai permeabilitas yang tinggi berada pada unit II sumur AL 1.

Berdasarkan analisa permeabilitas yang telah dilakukan, maka nilai permeabilitas yang
diperoleh berkisar antara 1,2 - 96,1 mD.

4.2. Analisa Mud Log

Analisa mud log dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kehadiran
gas (gas show) dan jenis gas yang terkandung di dalam reservoir “A”.

Pada sumur AL 1, dijumpai perbedaan antara gas show pada mud log dan saturasi air
hasil perhitungan pada sumur AL 1 (gambar 4.11).

Perbedaan ini dapat disebabkan adanya sisa gas (residu) yang terbaca sebagai gas show
pada reservoir “A”. Ini sangat mungkin terjadi karena sifat umum gas yang mudah
menguap dan mengalir. Kemungkinan lain adalah karena adanya ketidakpastian dalam
penentuan nilai Rw untuk perhitungan Sw. Nilai Rw yang diperoleh baik dari metode
Rwa maupun dari Pickett plot tidak mewakili resistivitas pada zona 100% air. Hal ini
menyebabkan nilai Rw yang diperoleh lebih besar dari yang sebenarnya, sehingga nilai
Sw yang terhitung pun memiliki nilai yang lebih besar dari sebenarnya.

39
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Sw

-3230

-3240

-3250

-3260

Kedalaman (TVDSS Ft)


-3270

-3280

-3290

-3300

-3310

-3320

0,0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9
Formatted: Spanish (Spain-Modern
Gambar 4.11 Perbedaan antara gas show pada mud log dan saturasi air hasil perhitungan Sort)

pada sumur AL 1.

2000 ppm C1

“A”

100 Unit Total


Gas Show Gas

Gambar 4.12. Mud log pada sumur AL 1 menunjukkan kandungan total gas pada
reservoir “A” adalah 20 – 100 unit serta metana (C1) adalah 300 – 2000 ppm .

40
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Jenis gas pada reservoir “A” dapat diketahui dengan menggunakan metode rasio
gas (Haworth, 1985 op cit. Hawker, 1999). Metode ini dapat digunakan setelah dihitung
nilai-nilai dari wetness ratio (Wh), balanced ratio (Bh) dan character ratio (Ch).

AL 1 AL 6 DM 02 DM 05 DM 07 DM 08 DM 09 DM 13 DM 16 DM 17
Total Gas
(Units) Unit I 20 - 70 <2 20 - 40 600 135 20 - 105 120 - 130 10 35 100 - 300
Unit II 60 - 100 <2 100 - 150 500 - 600 120 105 120 - 130 10 - 25 35- 25 200 - 500
Unit III 20 - 100 <2 10 - 100 500 - 600 30 - 80 105 - 10 120 - 130 10 - 25 20- 25 90 - 200
Unit IV 20 - 100 <2 2.0 - 4.0 350 110 10 - 30.0 7 - 50 10 10- 20 100 - 130
20000 - 2000 -
C1 (ppm) Unit I 200 - 1000 6000 10000 - 30000 60000 50000 20000 20000 -60000 20000 - -
Methane Unit II 300 - 2000 6000 30000 90000 40000 20000 60000 - 80000 20000 - 30000 - -
Unit III 300 - 4000 6000 20000 - 30000 70-90000 10000 3000-20000 60000- 80000 10000 - -
Unit IV 300 - 2000 6000 20000 50 - 60000 10000 3000 - 4000 2000- 8000 10000 - -
C2 (ppm) Unit I - - 100 - 400 300 - 800 110 - 30 - 500 - - -
Ethane Unit II - - 400 300 - 1000 120 - 200 - 500 - - 1000
Unit III - - 20-400 200 - 1000 80 - 10 - 150 - - -
Unit IV - - < 20 600 100 - - - - -
C3 (ppm) Unit I - - - - 70 - - - - -
Propane Unit II - - - - 100 - - - - -
Unit III - - - - - - - - - -
Unit IV - - - - - - - - - -
IC4 (ppm) Unit I - - - - - - - - - -
Iso Butane Unit II - - - - 60 - - - - -
Unit III - - - - - - - - - -
Unit IV - - - - - - - - - -

Tabel 4.2 Rekapitulasi kandungan gas pada reservoir “A” berdasarkan data mud log.

Contoh perhitungan rasio gas dilakukan pada unit II dari sumur DM 07, yang memiliki
kandungan gas paling lengkap dibandingkan unit dan sumur lainnya (lihat tabel 4.2).

Unit II sumur DM 07 memiliki kandungan C1 = 40000 ppm, C2 = 120 ppm, C 3 = 100


ppm dan IC4 = 60 ppm.

Wetness ratio (Wh) = [ (C2+C3+C4+C5) / (C1+C2+C3+C4+C5) ] x 100

= [ (120+100+60+0) / (40000+120 + 100 + 60+0) ] x 100

= 0.69

Balanced Ratio (Bh) = [ (C1+C2) / (C3+C4+C5) ]

= [ (40000+120) / (100+60) ]

= 250.75

Character Ratio (Ch) = [ (C4 + C5 ) / c3 ]


= [ (60 + 0 ) / 100 ] = 0.6

41
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Berdasarkan tabel interpretasi rasio gas (tabel 4.3), maka jenis gas pada reservoir “A”
adalah gas kering ringan (light dry gas).

Interpretation of Gas Ratios

Gas Ratio Interpretation

Wh < 0.5 Very dry gas

Wh 0.5 - 17.5 Gas. Density increases as Wh increases

Wh 17.5 – 40 Oil. Density increases with Wh

Wh > 40 Residual Oil.

Wh < 0.5 AND


Light Dry Gas
Bh > 100

Wh 0.5 - 17.5 AND Productive gas. Density and wetness increase as


Wh < Bh < 100 the two curves converge

Wh 0.5 - 17.5 AND


Bh < Wh AND Gas condensate or wet gas
Ch < .05

Wh 0.5 - 17.5 AND


Bh < Wh AND High gravity/high GOR oil
Ch > 0.5

Wh 17.5 - 40 AND
Oil. Gravity decreases as the curves diverge
Bh < Wh

Wh 17.5 - 40 AND
Residual Oil.
Bh << Wh

Tabel 4.3 Interpretasi rasio gas yang dapat digunakan untuk penentuan hidrokarbon

(Haworth, 1985 op cit. Hawker, 1999 )

42
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

4.3 Analisa Biostratigrafi

Analisa biostratigrafi dilakukan untuk mengetahui umur dan lingkungan purba


(paleo-environment) dari reservoir “A” yang terdapat pada Formasi Upper Arang. Data
biostratigrafi yang digunakan berasal dari sumur AL 1.

Tabel 4.4. Data biostratigrafi pada sumur AL 1.

a. Penentuan umur Formasi Upper Arang

Penentuan umur Formasi Upper Arang dilakukan berdasarkan :

ƒ Kehadiran pertama Florschuetzia trilobata pada kedalaman 2320 kaki


menunjukkan umur yang tidak lebih muda dari Miosen Tengah.

ƒ Kehadiran Florschuetzia meridionalis pada kedalaman 2320 kaki


mengindikasikan umur yang tidak lebih tua dari Miosen Bawah.

ƒ Kehadiran Orbulina universa pada kedalaman 2650 kaki, mengindikasikan


umur yang tidak lebih tua dari Miosen Tengah.

ƒ Kehadiran Sphenolithus heteromorphus pada interval 2650 - 2890 kaki


mengindikasikan umur diantara NN5 – NN4, Miosen Tengah – akhir Miosen
Bawah.

ƒ Kehadiran Calophyllum B (2760-3480 kaki) dan Calophyllum A (3480-4290


kaki) menunjukkan umur Miosen Bawah.

43
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Berdasarkan analisa tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa Formasi Upper


Arang memiliki umur Miosen Bawah – Tengah, dengan reservoir “A” (3234 -
3312 kaki) diperkirakan berumur Miosen Bawah.

b. Analisa lingkungan pengendapan pada Formasi Upper Arang didasarkan pada :

ƒ Kehadiran Ammonia spp. dan Haplophragmoides spp. pada interval 2244 -


2620 kaki mengindikasikan lingkungan pengendapan intertidal – nearshore
marine, litoral – neritik dalam.

ƒ Peningkatan keberagaman bentos gampingan serta nanofosil gampingan yang


konsisten pada interval 2620 – 2890 kaki menunjukkan lingkungan marin
(laut). Kehadiran Ammonia spp., Heterolepa praecincta, Elphidium sp., dan
foram besar Amphistegina lessonii mengindikasikan lingkungan neritik dalam.

ƒ Kehadiran bentos gampingan Ammonia sp. pada interval 2890 - 4262 kaki,
menunjukkan lingkungan intertidal, estuarin – litoral.

2244 - 2620 Intertidal, Litoral – Neritik dalam

2620 - 2890 Neritik dalam

2890 - 4262 Intertidal, Estuarin – Litoral

Berdasarkan analisa lingkungan pengendapan tersebut, reservoir “A” yang berada


pada interval 3234 – 3312 kaki diperkirakan memiliki lingkungan pengendapan
intertidal, estuarin – litoral.

44
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

4.4. Korelasi Stratigrafi dan Struktur

4.4.1 Korelasi Stratigrafi

Dua buah korelasi stratigrafi telah dibuat dalam penelitian ini, yaitu berarah Utara-
Selatan (X-X’) dan Barat – Timur (Y-Y’). Korelasi stratigrafi menggunakan pendekatan
stratigrafi sikuen, yang didasarkan pada kesamaan waktu (kronostratigrafi).

Berdasarkan prinsip sikuen stratigrafi dan hasil korelasi (Gambar 4.14 & 4.15), maka
reservoir “A” ini dapat dibagi menjadi empat unit reservoir (fasies), yakni :

1. Unit IV

Unit IV merupakan bagian terbawah dari reservoir “A” , yang dibatasi oleh batas
sikuen (Sequence Boundary / SB). Unit ini memiliki pola suksesi agradasi, dengan
pola log blocky. Unit ini diperkirakan merupakan distributary channel yang dicirikan
oleh lowstand systems tract (LST).

Unit ini memiliki penyebaran ketebalan yang relatif sama pada setiap area, dengan
ketebalan berkisar antara 15 – 20 kaki.

2. Unit III

Unit III merupakan unit yang berada diatas unit IV, dibatasi oleh maximum flooding
surface (MFS) pada bagian atasnya. Unit III dicirikan oleh transgressive sytems tract
(TST) yang diperkirakan diendapkan pada delta mouth bar.

Penyebaran ketebalan unit III dari Utara ke Selatan (korelasi XX’) relatif sama,
sedangkan penyebaran ketebalan unit III dari Barat ke Timur (korelasi YY’) tidak
merata. Semakin ke arah Timur, diperkirakan pengaruh sistem channel semakin
besar. Secara umum, unit III ini memiliki ketebalan yang kecil berkisar antara 5 – 10
kaki.

3. Unit II

Unit II diendapkan tepat diatas maximum flooding surface (MFS). Unit II dicirikan
oleh pola log corong (funnel shape), dengan suksesi vertikal mengkasar dan menebal
ke atas (coarsening & thickening upward). Unit II diperkirakan merupakan
distributary channel, yang dicirikan oleh highstand systems tract (HST).

45
BAB IV Karakterisasi Reservoir “A”

Ketebalan unit II ini berkisar antara 5 – 15 kaki, dengan penyebaran yang relatif
sama.

4. Unit I

Unit I merupakan bagian teratas dari reservoir “A” , diendapkan tepat diatas unit II.
Unit I dicirikan oleh pola log corong (funnel shape), dengan suksesi vertikal
mengkasar dan menebal keatas (coarsening & thickening upward). Unit I
diperkirakan merupakan distributary channel yang dicirikan oleh highstand systems
tract (HST). Ketebalan rata-rata unit I ini adalah 10 kaki, dengan penyebaran yang
hampir merata pada setiap sumur.

Berdasarkan hasil analisa biostratigrafi dan sikuen stratigrafi, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa reservoir “A” ini diendapkan pada lingkungan delta plain-delta front.
Ini sesuai dengan hasil analisa biostratigrafi yang mengindikasikan lingkungan intertidal,
juga sesuai dengan hasil analisa sikuen stratigrafi yang sebagian besar menunjukkan
sistem distributary channel.

Gambar 4.13 Fasies yang terdapat pada sistem delta (Fisher, 1969)

46