Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam kehidupan manusia sering kali kita temui adanya kekerasan terhadap
sesama. Ada kekerasan yang dapat menyebabkan kematian, dan ada juga yang
tidak menyebabkan kematian. Kekerasan yang menyebabkan kematian disebut
pembunuhan, dan kekerasan yang tidak menyebabkan kematian disebut
penganiayaan. Penganiayaan ialah kesengajaan yang menimbulkan rasa sakit
atau menimbulkan luka pada tubuh orang lain (Leden, 2012).
Penganiayaan ialah kesengajaan menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan
luka pada tubuh orang lain. Penjelasan tersebut menyebutkan bahwa seseorang
yang telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut
harus mempunyai opzet atau suatu kesengajaan untuk menimbulkan rasa sakit,
luka atau merugikan kesehatan orang lain. (Santoso, 2016).
Penganiayaan pada akhir-akhir ini sering terjadi dimana-mana, bahkan
beritanya sering muncul di stasiun-stasiun TV, penganiayaan dilakukan karena
berbagai masalah, kadang-kadang penganiaayan terjadi hanya karena masalah
sepeleh saja misalnya akibat tersinggung, salah paham, dendam, dan masih
banyak lagi (Moeljatno, 2010).
Menurut Mr. M.H. Tirtaamidjaja “Menganiaya ialah dengan sengaja
menyebabkan sakit atau luka pada orang lain. Akan tetapi suatu perbuatan yang
menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat dianggap sebagai
penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah keselamatan
badan (Santoso, 2016).
Ada 3 jenis penganiayaan biasa menurut pasal 351 KUHP yakni: (1)
penganiayaan yang tidak mengakibatkan luka berat atau matinya orang, (2)
penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, (3) penganiayaan yang
mengakibatkan matinya seseorang. Penerapan pasa 351 ayat (3) yakni
penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang tampaknya tidak begitu sulit

1
atau rumit tetapi pada praktek, kadang-kadang sulit membedakan dengan pasal
351 ayat (2) (Santoso, 2016).
Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini akan
berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam
kazanah ilmu kedokteran forensik. Bantuan yang wajib diberikan oleh dokter
apabila diminta oleh penyidik antara lain adalah melakukan pemeriksaan
kedokteran forensik terhadap seseorang, baik terhadap korban hidup, korban
mati maupun terhadap bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari tubuh
manusia. Apabila dokter lalai memberikan bantuan tersebut, maka ia dapat
diancam dengan pidana penjara (FKUI, 1997).

1.2. Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan pengertian penganiayaan.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membuat Visum et Repertum pada kasus
penganiayaan.
3. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan aspek hukum pada kasus
penganiayaan.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. Kronologis Kejadian


Pasien datang ke RSUD Luwuk bersama seorang teman pada tanggal 2
September 2018 pukul 13.30 WITA dengan keluhan nyeri dibawah mata kanan.
Pasien membawa surat permintaan Visum et Repertum karena pasien mengaku
dirinya dianiaya oleh temannya yang sedang mabuk di depan Golden Park-
Luwuk Kelurahan Tombang permai Kecamatan Luwuk Selatan Kabupaten
Banggai.

2.2. Hasil Pemeriksaan


A. Keadaan Umum
Pasien dengan jenis kelamin laki-laki berumur 21 tahun datang ke
RSUD Luwuk dalam keadaan sadar. Pasien datang dengan menggunakan
properti baju kaos lengan panjang berwarna merah yang di bagian depannya
berlogo “Levis”, terdapat masker buff di leher berwarna campuran coklat
tua dan coklat muda serta memakai celana panjang berbahan jins berwarna
biru muda dan memakai sendal jepit bertali biru.. Pemeriksaan tanda vital
didapatkan tekanan darah 120/70 mmHg, Denyut Nadi 88 x/menit,
pernapasan 20 x/menit dan suhu tubuh 36,8oC.

B. Keadaan Bagian Tubuh


Pada daerah pipi:
1. Terdapat luka lecet di bagian pipi kanan dengan ukuran 1,1x0,3 cm,
terletak 2 cm di bawah kelopak mata bawah kanan dan terletak 3 cm
dari garis tengah depan tubuh.
Pada daerah mata:
2. Terdapat luka memar di bagian kelopak mata bawah kanan dengan
ukuran 3x1,8 cm, terletak tepat di kelopak mata kanan bawah dan
terletak 1,6 cm dari garis tengah depan tubuh.

3
Gambar 1. Luka lecet pada pipi kanan. Gambar 2. Luka memar pada kelopak
mata bawah kanan.

Gambar 3. Tampakan korban.

4
5
PEMERINTAH KABUPATEN BANGGAI
BADAN RUMAH SAKIT DAERAH
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL
Jalan Imam BonjolNo. 14 /  ( 0461 ) 21820, E-Mail : rsud_luwuk@yahoo.co.id

VISUM ET REPERTUM
(KORBAN HIDUP)
PRO JUSTITIA

No Reg/RM: 00– 0XX

Sehubungan dengan surat saudara:-----------------------------------------------------------------------


Nama: MUHAMMAD ARID, Pangkat: Bripka, NRP: 82090280, Jabatan: a.n Kepala
Kepolisian resor banggai KA SPKT u.b Kanit III SPKT,Nomor :
LP/456/XI/2018/SULTENG/RES-BGI, Alamat: Komplek Perkantoran Bukit Halimun
Luwuk, Tertanggal: 2 September 2018 , Perihal: Permintaan Visum Et Repertum, yang kami
terima pada tanggal: 2 September 2018 Pukul 13.30 WITA. -------------------------------------------
Maka kami:-----------------------------------dr. Asrawati Azis, Sp F -------------------------------------
Sebagai dokter forensik pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Luwuk
Kabupaten Banggai, menyatakan telah dilakukan pemeriksaan terhadap korban pada hari
minggu tanggal 2 September 2018 pukul 13.30 WITA, di Instalasi Gawat Darurat RS Daerah
Kabupaten Banggai atas korban yang menurut surat Saudara:------------------------------------------
Nama : ASIS --------------------------------------------------------------------------
Umur : 21 tahun----------------------------------------------------------------------
Kelamin : Laki-Laki --------------------------------------------------------------------
Agama : Islam--------------------------------------------------------------------------
Pekerjaan : Buruh -------------------------------------------------------------------------
Suku/Bangsa : Saluan/Indonesia -----------------------------------------------------------
Alamat : Kompleks STM Kel. Tombang Permai, Kec. Luwuk Kab.
Banggai ----------------------------------------------------------------------
Sehubungan dengan dugaan tindak pidana penganiayaan, yang terjadi pada hari minggu
tanggal 2 September 2018 sekitar jam 01.00 Wita, betempat di depan Golden Park-Luwuk
Kel. Tombang permai Kec. Luwuk selatan kab. Banggai. Korban tiba di IRD RS daerah Kab.
Banggai pada hari minggu, tanggal 2 September 2018 pukul 13.30 WITA.-----------------------

6
PEMERINTAH KABUPATEN BANGGAI
BADAN RUMAH SAKIT DAERAH
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL
Jalan Imam BonjolNo. 14 /  ( 0461 ) 21820, E-Mail : rsud_luwuk@yahoo.co.id

HASIL PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Luar: --------------------------------------------------------------------------------------------
1. Kesadaran baik, tekanan darah seratus dua puluh per tujuh puluh milimeter air raksa,
denyut nadi delapan puluh delapan kali per menit, pernapasan dua puluh kali per menit,
suhu ketiak tiga puluh enam koma delapan derajat celcius. ---------------------------------------
2. Korban berjenis kelamin laki-laki , umur dua puluh satu tahun. ---------------------------------
3. Properti : Korban datang dengan menggunakan baju lengan panjang berwarna merah
pada bagian depan terdapat logo Levis, terdapat masker buff berwarna campuran coklat
tua dan coklat muda melingkar di leher, celana panjang berbahan jins berwarna biru
muda, dan sendal jepit bertali biru. --------------------------------------------------------------------
4. Kepala: -------------------------------------------------------------------------------------------------------
a. Bentuk: Oval, tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -----------------------
b. Dahi: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------------
c. Pelipis: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -------------------------------
d. Pipi: terdapat luka lecet pada pipi kanan dengan ukuran satu koma satu kali nol koma
tiga sentimeter, luka terletak dua sentimeter di bawah kelopak mata bawah kanan dan
terletak tiga sentimeter dari garis tengah depan tubuh. -----------------------------------------
e. Dagu: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ---------------------------------
f. Mata: -----------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Kanan : terdapat luka memar di bagian kelopak mata bawah kanan dengan ukuran
tiga kali satu koma delapan sentimeter, terletak tepat di kelopak mata bawah
kanan dan terletak satu koma enam sentimeter dari garis tengah depan tubuh. ------
2. Kiri : tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ------------------------------
g. Hidung: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ------------------------------
h. Telinga : tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -----------------------------
i. Mulut: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ------------------------------- -
5. Leher: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -------------------------------------
6. Dada: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -------------------------------------
7. Perut: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------------
8. Pundak : tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------------
9. Punggung: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -------------------------------
10. Pinggang: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. --------------------------------
11. Panggul: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------------
12. Pantat : tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. -----------------------------------
13. Anggota gerak atas kanan dan kiri: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan--
14. Anggota gerak bawah kanan dan kiri : tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda
kekerasan. ---------------------------------------------------------------------------------------------------
15. Alat kelamin: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ----------------------------
16. Dubur: tidak ditemukan kelainan dan tanda-tanda kekerasan. ------------------------------------
Tindakan/Terapi : ----------------------------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan penunjang : ------------------------------------------------------------------------------

7
PEMERINTAH KABUPATEN BANGGAI
BADAN RUMAH SAKIT DAERAH
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL
Jalan Imam BonjolNo. 14 /  ( 0461 ) 21820, E-Mail : rsud_luwuk@yahoo.co.id

KESIMPULAN

1. Korban laki-laki, umur dua puluh satu tahun. --------------------------------------------------------


2. Padapemeriksaan ditemukan : ---------------------------------------------------------------------------
a. Luka lecet pada bagian pipi kanan. --------------------------------------------------------------
b. Luka memar pada kelopak mata bawah kanan. ------------------------------------------------
Luka tersebut diatas akibat kekerasan tumpul. ------------------------------------------------------
3. Kualifikasi luka tersebut diatas tidak menimbulkan penyakit, gangguan/halangan untuk
menjalankan pekerjaan/jabatan atau pencahariannya. ---------------------------------------------

Demikian Visum et Repertum ini dibuat menurut pengetahuan sebaik-baiknya pada waktu
itu dan dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan. -----------------------------------

DokterPemeriksa,

dr. Asrawati Azis, Sp F


Nip. 19750705 200604 2 033

dr. Asrawati Azis, Sp F

Nip. 19750705 200604 2 033

8
BAB III
PEMBAHASAN

Penganiayaan ialah kesengajaan menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan


luka pada tubuh orang lain. Penjelasan tersebut menyebutkan bahwa seseorang yang
telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut harus
mempunyai opzet atau suatu kesengajaan untuk menimbulkan rasa sakit, luka atau
merugikan kesehatan orang lain (Santoso, 2016).
Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut
“penganiayaan”, mengenai arti dan makna kata penganiayaan tersebut banyak
perbedaan diantara para ahli hukum dalam memahaminya. Penganiayaan diartikan
sebagai perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atas
luka pada tubuh orang lain. Adapula yang memahami penganiayaan adalah “dengan
sengaja menimbulkan rasa sakit atau luka, kesengajaan itu harus dicantumkan dalam
surat tuduhan”, sedangkan dalam doktrin/ilmu pengetahuan hukum pidana
penganiayaan mempunyai unsur sebagai berikut ; (1) Adanya kesengajaan, (2)
Adanya perbuatan, (3) Adanya akibat perbuatan (yang dituju), yakni rasa sakit pada
tubuh atau luka pada tubuh (Leden, 2012).
Ada 3 jenis penganiayaan biasa menurut pasal 351 KUHP yakni: (1)
penganiayaan yang tidak mengakibatkan luka berat atau matinya orang, (2)
penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, (3) penganiayaan yang mengakibatkan
matinya seseorang. Penerapan pasal 351 ayat (3) yakni penganiayaan yang
mengakibatkan matinya orang tampaknya tidak begitu sulit atau rumit tetapi pada
praktek, kadang-kadang sulit membedakan dengan pasal 351 ayat (2) (Wirjono,
2011).
Pada tiap kasus penganiayaan, tentunya terdapat tersangka dan juga korban.
Korban pada kasus ini dapat melakukan pelaporan kepada pihak kepolisian dan
berikutnya dapat ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dengan memberikan Surat
Permintaan Visum et Repertum kepada Rumah Sakit. Visum et Repertum dibuat dan
dikeluarkan berdasarkan kebutuhan dan secara objektif. Visum et Repertum dalam
bahasa latin terdiri atas 2 kata, yakni “Visum/Visa” dan “repertum/reperta”. “Visa”

9
artinya melihat tanda dan “Reperta” artinya melapor. Jadi, untuk pengertian secara
bahasa adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi)
penyidik pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati
ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah dan untuk kepentingan peradilan (Leden, 2012).
Dasar hukum VeR adalah sebagai berikut (Wirjono, 2011):
- Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau
ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
- Pasal 184 ayat (1) KUHAP menyebutkan :
Alat bukti yang sah adalah :
a. Keterangan Saksi,
b. Keterangan Ahli,
c. Surat,
d. Petunjuk,
e. Keterangan Terdakwa.
Pada kasus ini pasien datang ke RSUD Luwuk bersama seorang teman pada
tanggal 2 September 2018 pukul 13.30 WITA dengan keluhan nyeri dibawah mata
kanan. Pasien membawa surat permintaan Visum et Repertum karena pasien
mengaku dirinya dianiaya oleh temannya di depan Golden Park-Luwuk Kelurahan
Tombang permai Kecamatan Luwuk Selatan Kabupaten Banggai.
Pemeriksaan anggota tubuh pasien ditemukan luka lecet pada pipi kanan dan
luka memar pada kelopak mata bawah kanan. Luka tersebut diakibatkan oleh

10
kekerasan tumpul. Kualifikasi luka tersebut diatas tidak menimbulkan penyakit,
gangguan/halangan untuk menjalankan pekerjaan/jabatan atau pencahariannya.
Secara definisi, trauma tumpul (blunt force trauma) adalah suatu ruda paksa
yang diakibatkan oleh benda tumpul pada permukaan tubuh dan mengakibatkan
luka. Trauma tumpul ini, disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan
tumpul seperti batu, kayu, martil, kepalan tinju dan sebagainya, dimana termasuk
juga jatuh dari tempat yang tinggi, kecelakaan lalu lintas, luka tembak (dengan
peluru karet/ bukan peluru tajam) dan lain-lain (Narejo & Avais, 2012).
Pembagian derajat perlukaan secara tersirat diatur dalam KUHP pasal 90, 351
dan 352. Hal ini disebabkan karena tidak ada peraturan tentang perlukaan ringan dan
sedang, melainkan hanya mengatur ketentuan tentang penganiayaan dan
penganiayaan ringan yang diasosiasikan sebagai luka sedang dan luka ringan. Hal
ini dapat dilihat dalam pasal 352 (1) KUHP yang memuat ketentuan penganiayaan
ringan yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian. Pidana yang dikenakan dapat
berupa pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda Rp. 4.500,00. Menurut pasal
351 (1) KUHP penganiayaan diancam dengan penjara paling lama 2 tahun 8 bulan
atau denda sebanyak Rp. 4.500,00. Sedangkan ketentuan luka berat ada dicantumkan
dalam pasal 90 KUHP yaitu : jatuh sakit, atau yang menimbulkan bahaya maut,
tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencaharian, kehilangan salah satu panca indera, mendapat cacat berat, menderita
sakit lumpuh, terganggunya daya piker selama empat minggu lebih, gugur atau
matinya kandungan seorang perempuan (Dahlan, 2003).
Kesimpulan Dokter dalam Visum Et Repertum bahwa kasus penganiayaan atau
perlukaan, terbatas pada jenis luka dan jenis kekerasan, dan bukan jenis senjata yang
melukai korban. Pemeriksaan forensik yang dilakukan oleh dokter ahli forensik
sebagaimana dituangkan dalam Visum Et Repertum, harus memuat kejelasan sebagai
berikut: (1) Jenis luka yang ditemukan, (2) Jenis kekerasan yang menyebabkan luka,
(3) Kualifikasi atau derajat luka yang sesuai (Dahlan, 2003).

11
BAB IV
KESIMPULAN

1. Tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut “penganiayaan”, mengenai


arti dan makna kata penganiayaan tersebut banyak perbedaan diantara para ahli
hukum dalam memahaminya
2. Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan
tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia
baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan
interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.
3. Pada hasil pemeriksaan pada pasien didapatkan luka lecet pada pipi kanan dan
memar pada kelopak mata bawah kanan akibat kekerasan tumpul. Trauma
tumpul (blunt force trauma) adalah suatu ruda paksa yang diakibatkan oleh
benda tumpul pada permukaan tubuh dan mengakibatkan luka.
4. Luka yang ditemukan pada korban adalah penganiayaan ringan yang menurut
pasal 352 ayat 1 KUHP yaitu luka derajat 1 yang tidak menyebabkan penyakit
atau halangan di dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan. Dan berdasarkan
pasal 351 (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.

12
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997. Ilmu


kedokteran forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Dahlan, Sofwan. 2003. Pembuatan Visum Et Repertum. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang.
Leden, Marpaung, 2012. Tindak Pidana Terhadap Nyawa Dan Tubuh. Sinar Grafika:
Jakarta.
Moeljatno, 2009. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bumi Aksara:
Yogyakarta.
Narejo NB., & Avais MA. 2012. Examining the Role of Forensic Science for the
Investigative –Solution of Crimes. Sindh university research journal. Science
series. Vol.44. No. 2. p251-254.
Santoso, S.P. 2016. Analisis Peran Visum Et Repertum pada Pelaku Penganiayaan
Ditinjau dari Pasal 351 Ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP) (Studi Kasus Perkara Nomor: 247/PID.B/2014/PN.Cibadak. Vol. 3.
No.3. Diakses pada 25 Juli 2018. From
<http//www.JurnalilmiahWidya.com>.
Wirjono, Prodjodikoro. 2011. Asas-Asas Hukum Pidana Di Iandonesia. Penerbit
Erlangga: Bandung.

13