Anda di halaman 1dari 12

PENERAPAN KONSEP EKOLOGIS

DALAM PENGEMBANGAN HUNIAN URBAN


DI INDONESIA

Jun Damar Wulan Purnomosari Paulus


Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jl. Babarsari No. 44 Depok, Sleman, D. I. Yogyakarta.
Email : Jundamar28@gmail.com

Kevin Binsar Lubis


Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta

ABSTRAK. Arsitektur mempunyai andil yang besar dalam memicu pemanasan global,
dan berakibat pada turunnya kualitas hidup manusia. Dari semua gejala yang sudah
terjadi, kini saatnya perancangan bangunan secara arsitektur lebih memahami alam,
khususnya dalam pembangunan perumahan atau hunian. Kebutuhan setiap orang akan
hunian saat ini semakin meningkat sehingga para arsitek harus memberikan inovasi-
inovasi yang baru tanpa memperhatikan seberapa besar dampak yang diberikan bagi
keberlangsungan alam tersebut. Cara itu dapat terwujud melalui pendekatan dan
pemahaman terhadap perilaku alam secara mendalam, agar tidak terjadi kerusakan alam
yang lebih parah lagi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui upaya perancangan arsitektur
yang selaras dengan alam serta memperhatikan keberlangsungan ekosistem, yaitu dengan
pendekatan ekologi. Pendekatan ekologi ini adalah pendekatan dengan menggabungkan
alam dengan terknologi, menggunakan alam sebagai dasar dari sebuah desain.
Perwujudan dari penerapan konsep ekologi ini adalah menghasilkan konsep desain
arsitektur yang lebih ramah lingkungan tanpa membatasi fungsi dan mengabaikan
kenyamanan manusia baik secara fisik, sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.

Kata kunci : selaras dengan alam, konsep ekologi, berkelanjutan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tuntutan dalam pembangunan berkelanjutan untuk masa depan merupakan


fenomena yang banyak terjadi dalam kehidupan berarsitektur pada abad 21.
Terjadinya krisis energi dan kerusakan lingkungan merupakan isu utama yang
harus di perhatikan dalam hal ini. Disisi lain tuntutan akan kebutuhan hunian
dalam lingkungan urban sangat mempengaruhi perkembangan arsitektur pada saat
ini. Pembangunan-pembangunan yang bersifat industrialis merupakan sebuah
tindakan yang dapat mengancam keberlangsungan kehidupan alam dan
lingkungan. Akibat langsung dari kegiatan pembangunana ini adalah dampak
negatif terhadap lingkungan hidup berupa makin rusaknya lingkungan alam
sekitar dan timbulnya efek pemanasan global (global warming). (Pawitro 2016:2)

Daya tarik kehidupan perkotaan (urban) dan tuntutan kehidupan yang


semakin tinggi menyebabkan semakin banyak penduduk Indonesia yang beralih
untuk tinggal dan beraktivitas dikawasan perkotaan (Urban). Terkait dengan hal
itu sejumlah kajian memprediksi jumlah penduduk Indonesia yang mendiami
kawasan perkotaan akan terus meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun
2025 jumlahnya akan mencapai sekitar 60% dari jumlah total penduduk
Indonesia.1 Jika hal tersebut terjadi maka dapat dipastikan tingkat populasi yang
bertambah pada suatu daerah akan semakin banyak, sehingga kebutuhan
pembangunan hunian akan semakin meningkat, dan otomatis daerah tersebut akan
membutuhkan sumber energi yang berlebih untuk memenuhi kebutuhan
kebutuhan penduduknya. Tidak menutup kemungkin hal tersebut juga akan
menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem lingkungan. Sebagai contoh
kota Jakarta yang saat ini memiliki tingkat populasi penduduk yang sangat tinggi
sehingga harus mebutuhkan konsumsi energi yang sangat banyak untuk
pemenuhan kebutuhan kotanya, dan juga mengalami penurunan kualitas
lingkungan.

Konsep Arsitektur ekologis merupakan konsep berkelanjutan yang muncul


untuk memaduhkan antara ilmu lingkungan dan ilmu arsitektur yang berorentasi
pada model pembangunan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan alam
dan lingkungan buatan. (Yuliani 2012:1) dilihat dari sejarah perkembangannya
paradigma arsitektur ekologis merupakan hasil dari pengembangan aliran
arsitektur lain yang dapat dilacak dari beberapa pendekatan yang berkembang
pada tahun 1920an hingga 1960an yang mengutamakan kebebasan dalam

1
Setiadi, Amos. “Pola Penanganan Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh
Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo .” Seminar Nasional-1BMTTSSI-
KoNTekS 5, 2011, hlm. 1.
berekspresi dalam bentuk dan ruang yang secara holistis berhubungan dengan
lingkungan, manusia, dan bangunan.2

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan ini adalah :

Hunian sebagai kebutuhan pokok manusia yang selaras dengan alam


dengan penerapan konsep arsitektur ekologis

Tujuan Penelitian

Memaparkan konsep pengembangan dan perancangan hunian urban


dengan menerapkan prinsip arsitektur ekologis

Metode Penelitian

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Studi pustaka, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi


penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan
laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.
2. Melakukan analisis dengan menggunakan metode komparasi dan
merumuskan strategi Arsitektur Ekologis dari teori dan preseden

TINJAUAN PUSTAKA

Eko-arsitektur

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan tahun 1869 sebagai ilmu


interaksi antara segala jenis mahluk hidup dan lingkungannya. Berasal dari bahasa
Yunani, oikos yang artinya rumah tangga atau tempat tinggal dan logos yang
artinya ilmu. Ekologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan
timbal balik antara mahluk hidup dan lingkungannya. Atas dasar pengetahuan

2
Frick, Heinz , dan Bambang FX Suskiyatno. Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis. Semarang:
Kanisius, 2006, hlm. iii
dasar – dasar ekologi maka arsitektur dikembangkan supaya selaras dengan alam
dan kepentingan manusia sebagai penghuninya.3

Perencanaan bangunan yang memenuhi kaidah ekologi berarti adanya


pemanfaatan prinsip – prinsip ekologis pada perencanaan bangunan beserta
lingkungan buatan. Terdapat kaitan dalam penyusunan pola perencanaan
bangunan dengan kondisi alam setempat.

Prinsip perencanaan yang dapat diterapkan antara lain pada 5 hal. Pertama,
perhatian pada lingkungan setempat sebagai upaya pembangunan yang hemat
energi. Kedua, Substitusi sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Ketiga,
Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan yang hemat energi.
Keempat, Pembentukan peredaran yang utuh di antara penyediaan dan
penggunaan bahan bangunan, energi dan air. Kelima, Penggunaan teknologi tepat
guna.4

Eko-arsitektur tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi di dalam


arsitektur karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau ukuran
baku. Namun, eko-arsitektur mencakup keselarasan antara manusia dan
lingkungan alamnya.

Konsep Ekologis dalam Arsitektur

Konsep ekologis merupakan konsep penataan lingkungan dengan


memanfaatkan potensi atau sumberdaya alam dan penggunaan teknologi
berdasarkan manajemen etis yang ramah lingkungan. Pola perencanaan dan
perancangan Arsitektur Ekologis (Eko-Arsitektur) adalah sebagai berikut:

3
Amos, Setiadi. “Pola Penanganan Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh
Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo.” SEMINAR NASIONAL-1
BMPTTSSI - KoNTekS 5, 2011: 3-6.

4
Ibid, hlm. 35
1. Elemen-elemen arsitektur mampu seoptimal mungkin memberikan
perlindungan terhadap sinar panas, angin dan hujan.
2. Intensitas energi yang terkandung dalam material yang digunakan saat
pembangunan harus seminimal mungkin, dengan cara-cara:
a. Perhatian pada iklim setempat
b. Substitusi, minimalisasi dan optimasi sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui
c. Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan
menghemat energi
d. Pembentukan siklus yang utuh antara penyediaan dan pembuangan
bahan bangunan, energi, atau limbah dihindari sejauh mungkin
e. Penggunaan teknologi tepat guna yang manusiawi

Menurut Yeang (2006), pendekatan ekologi dalam arsitektur didefinisikan


dengan Ecological design is bioclimatic design, design with the climate of the
locality, and low energy design. Dengan demikian terdapat integrasi antara
kondisi ekologi lokal, iklim mikro dan makro, kondisi tapak, program bangunan
atau kawasan, konsep, dan sistem yang tanggap terhadap iklim, serta penggunaan
energi yang rendah. Integrasi dapat dilakukan pada tiga tingkatan:

1. Integrasi fisik dan karakter fisik ekologi setempat (tanah, topografi, air
tanah, vegetasi, iklim, dsb.)
2. Integrasi sistem-sistem dengan proses alam (cara penggunaan air,
pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistem pembuangan dari
bangunan, pelepasan panas dari bangunan, dsb.)
3. Integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber
daya alam yang berkelanjutan5

Pengaruh Iklim pada Perancangan Arsitektur Ekologis

Iklim mempengaruhi bangunan setidaknya melalui 3 hal, radiasi matahari,


resipitasi, dan pola pergerakan udara. Radiasi matahari, radiasi matahari adalah
penyebab semua ciri umum iklim dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan
5
Titisari, Ema Yunita, Joko Triwinarto S, dan Noviani Suryasari. “Konsep Ekologis pada Arsitektur
di Desa Bendosari.” RUAS 10, no. 2 (Desember 2012): 21-22
manusia. Intensitas cahaya matahari dan pantulan cahaya matahari yang kuat
merupakan gejala dari iklim tropis. Energi radiasi matahari tertinggi akan terjadi
jika sampai di permukaan bumi tegak lurus. Orientasi bangunan, bentuk denah
yang terlindung dari sinar matahari langsung dan memiliki fasade yang tegak
lurus terhadap arah pergerakan angin adalah titik utama dalam peningkatan mutu
iklim mikro.6

Dengan menempatkan bangunan secara tepat terhadap arah matahari dan


angin, serta bentuk denah dan konstruksi serta pemilihan bahan yang sesuai, maka
temperatur ruangan dapat diturunkan beberapa derajat tanpa bantuan peralatan
mekanis. Panas tertinggi dicapai kira – kira 2 jam setelah tengah hari, karena itu
pertambahan panas terbesar terdapat pada fasade barat bangunan. Di daerah
tropis, fasade timur dan barat paling banyak terkena radiasi matahari. Kaitannya
dengan radiasi matahari,penyerapan dan pemantulan panas pada bahan sebuah
bangunan mempunyai efek terhadap perbedaan temperatur ruang dalam. Ruangan
yang hanya dipakai pada siang hari sebisa mungkin mempertahankan dingin yang
diserap pada malam hari oleh dinding dan atap. Bahan – bahan yang padat dan
berat menyerap dengan baik dan menyimpannya cukup lama. Penghambat udara
yang sangat baik adalah adanya aliran udara dingin diantara permukaannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN.

Aplikasi Arsitektur Ekologis Terhadap Bangunan

Pembangunan yang berkonsep Ekologi sebenarnya merupakan proses adaptasi


pada sumber daya alam dan keperdulian akan kondisi lingkungan yang semakin
menurun. Faktor utama yang menjadi orientasi pembangunan adalah adanya
kondisi perubahan iklim yang berpengaruh ke banyak faktor kehidupan, tidak

6
Amos, Setiadi. “Pola Penanganan Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh
Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo.” SEMINAR NASIONAL-1
BMPTTSSI - KoNTekS 5, 2011 hlm 3-6.
hanya manusia namun juga hewan dan tumbuhan.7 Menurut Kenneth Yeang
(dalam Yuliani 2012:4) ada lima point yang dikembangkan dalam pertimbangan
konseptual pengembangan melalui desainnya yaitu :

1. Tata lingkungan bangunan luar dalam bentuk lansekap alami.


2. Pengolahan kofigurasi bangunan
3. Pemanfaatan potensi iklim dalam bangunan
4. Penggunaan teknologi tepat guna dan efisien
5. Pertimbangan sosial budaya penghuni bangunan.

Beberapa dasar pertimbangan tersebut dikembangkan dalam metode


perancangan yang berkonsep Ekologi Arsitektur. Heinz Frick (1996) berpendapat
bahwa Arsitektur ekologi tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam
arsitektur, karena tidak ada sifat khas yang mengikat satandar atau ukuran baku.
Konsep Arsitektur Ekologi mengandung juga dimensi waktu, alam, sosio-
kulltural, ruang dan teknik bangunanan. Ada beberapa kriteria bangunan ekologis
menurut Heinz Frick diantaranya :

1. Menciptakan kawasan hijau diantara kawasan bangunan


2. Memilih tapak bangunan buatan lokal
3. Menggunakan bahan bangunan buatan lokal
4. Menggunakan ventilasi alam dalam bangunan
5. Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit ruang yang mampu
ngelirkan uap air.
6. Menjamin bahwah bangunan tidak menimbulkan permasalahan
lingkungan
7. Menggunakan energi terbarukan
8. Menciptakan bangunan bebas hambatan.

7
Yuliani, Sri. “Paradigma Ekologi Arsitektur Sebagai Metode Perancangan Dalam
Pembangunan Keberlanjutan Di Indonesia.” Jurnal LPPM UNiversitas Sebelas
Maret, 2012, hlm2
Konservasi Energi

Konservasi energi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam
menghemat konsumsi energi yang berlebihan. Upaya konservasi lingkungan dan
menggunakan sumber daya alami secara bertanggung jawab, merupakan faktor
pendorong desain bangunan arsitektur ekologis. Konservasi energi dalam
perangcangan hunian selalu dikaitkan dengan pengehematan listrik, melalui
pencahyaan buatan, pendingin udara, dan peralatan listrik lainya. Dengan strategi
perancangan tertentu, bangunan dapat didesian dengan memodifikasi iklim luar
yang tidak nyaman menjadi iklim ruangan yang nyaman tanpa banyak
mengkonsumsi energi. (Sukawi 2011:2)

Penghawaan Alami

Kondisi iklim di indonesia pada umumnya sering dianggap sebagai sebuah


masalah, tidak tercapainya kenyamanan penghawaan dalam hunian sering menjadi
keputus asaan dalam mencari penyebabnya. Pada umunya sering dicarikan solusi
untuk menggunakan alat Air Conditioner (AC). (Sukawi 2011:3) prinsip dalam
menggunakan Ac memang diakui dapat menurunkan suhu udara yang ada didalam
ruangan dengan baik. Tetapi penggunaan Ac merupakan pemborosan energi yang
tidak terbarukan, dan proses kerjanya menghasilkan zat emisi karbon CFC
(Klorofluorokarbon) yang akan mambentuk efek rumah kaca dan merusak lapisan
ozon. (Frick, 2006:56). Untuk menjaga suhu dalam ruangan agar tetap nyaman
ada cara yang sering digunakan yaitu dengan menggunakan sistem ventilasi
silang (Cross Ventilation) biak secara horizontal maupun vertikal, sehingga
akumulasi panas lembab dalam ruangan dapat dikendalikan, penerapan ini banyak
di gunakan dalam arsitektur tradisional dan sering di adopsi oleh arsitek untuk di
aplikasikan kedalam arsitektur kontemporer.

Material
Daftar Pustaka

Amos, Setiadi. “Pola Penanganan Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh Studi
Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo.” SEMINAR NASIONAL-1 BMPTTSSI -
KoNTekS 5, 2011: 3-6.

Budihardjo, Eko. Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung: Alumni, 1998.

Dini, Agumsari. “Kampung Vertikal Di Manggarai, Jakarta Selatan Berbasis Arsitektur


Fleksibel.” Proyek Akhir Sarjana , 2016: 17-18.

Dywangga, Auliannisa. “Permukiman Kumuh Di Kota Bandung.” Skripsi, 2009: 1.


Frick, Heinz , dan Bambang FX Suskiyatno. Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis. Semarang:
Kanisius, 2006.

Frick, Heinz, dan Hesti Tri Muliyani. Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Hakim, Luqmanul, dan Budi Nugraha. “Penerapan Arsitektur Ekologis Pada Desain
Rumah Tinggal.” NALARs 6, no. 1 (Januari 2007): 35.

Kusumawardhani, citra. “Karakteristik Fisik Permukiman Kumuh Di Perkotaan


Berdasarkan Tipologi Penataan.” Skripsi, 2017: 1-4.

Pawitro , Udjianto. “Pemanasan Global-Protokol Kyoto Dan Penerapan Kaidah 'Arsitetur


Ekologis .” Jurnal Ilmiah KORPRI Kopertis Wilayah IV, 2016: 2.

Prayitno, Budi. Skema Inovatif Penanganan Permukiman Kumuh. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press, 2014, 2016.

Setiadi, Amos. “Pola Penanganan Infrastruktur Pada KAwasan Permukiman Kumuh Studi
Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo .” Seminar Nasional-1BMTTSSI-
KoNTekS 5, 2011: 1.

Suganda, Emirhadi, Syvira Ananda, dan Hanita Rahmayanti. Konsep Kota Ekologis
Sebagai Kota Ekonomis Yang Berkelanjutan. Jakarta: Universitas Indonesia-
Program Pascasarjana, Program Studi Lingkungan, 2014.

Sukawi. “Penerapan Konsep Sadar Energi Dalam Perancangan Arsitektur Yang


Berkelanjutan.” Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3, 2011: 2.

Thurner, Jhon F. C. Housing By People. New York: Pantheon Books, 1976, 1977.

Titisari, Ema Yunita, Joko Triwinarto S, dan Noviani Suryasari. “Konsep Ekologis pada
Arsitektur di Desa Bendosari.” RUAS 10, no. 2 (Desember 2012): 21-22.

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. CPPS UGM. 25 October 2016.


http://cpps.ugm.ac.id/media-archives-luas-lahan-permukiman-kumuh-diy-2649-
hektare/ (diakses March 19, 2017).

Yuliani, Sri. “Paradigma Ekologi Arsitektur Sebagai Metode Perancangan Dalam


Pembangunan Keberlanjutan Di Indonesia.” Jurnal LPPM UNiversitas Sebelas
Maret, 2012: 1.

Zairin, Zain. “Partisipasi Komunitas Berpenghasilan Menengah ke Bawah Dalam


Pengembangan Permukiman Kota.” NalaRs, 2007: 50-52.