Anda di halaman 1dari 5

Pokok-pokok Teori William H.

Sheldon
1. Struktur Tubuh (Jasmani)
Seprti ahli-ahli psikologi kostitusional yang terdahulu Sheldon menentukan dan
memberikan ukuran-ukuran daripada komponen-komponen jasmaniah manusia. Dalam pada itu
perlu didefinisikan bahwa Sheldon tidak hanya ingin mendapatkan kategori untuk
mengklasifikasikan dan mendeskripsikan tubuh manusia saja, tetapi tujuannya lebih jauh lagi,
yaitu untuk mendaptkan apa yang disebutkan biological identification tag. Sehldon berpendapat
bahwa faktor-faktor genetis dan biologis memainkan peranan yang menentukan dalam
perkembangan individu. Dia percaya juga, bahwa orang mumkin mendapatkan representasi dari
faktor-faktor tersbut dengan melalui sejumlah pengukuran yang didasarkan jasmani. Dalam
pandangan Sheldon ada suatu struktur biologis hipotesis, yaitu morphogenotipe yang menjadi
dasar jasmani yang nampak (phenotipe), dan yang memainkan peranan penting tidak saja dalam
menetukan perkem-bangan jasmani, tetapi juga dalam pembentukan tingkah laku. Somatotipe
merupakan suatu usaha untuk mengukur morphogenotipe itu, walaupun harus bekerja dengan
cara tidak langsung dan terutama bersandar kepada pengukuran jasmaniah (phenotipe).

a. Dimensi-dimensi Jasmaniah
Walaupun Sheldon tahu bahwa telah ada orang-orang lain terdahulu yang melakukan
pengukuran terhadap jasmani, namun dia memulai usahanya secara induktif. Soal pertama-tama
ialah mendapatkan sejumlah besar tubuh/jasmani yang dapat diselidiki kembali. Untuk membuat
cara ini supaya praktis, dia membuat foto-foto tubuh (dari depan dan dari samping), dengan cara
yang distandarisasi. Cara ini disebutnya: Somatotype Performance Test.
1) Komponen-komponen jasmani primer
Setelah lama menyelidiki dan menilai dengan teliti foto-foto tersebut Sheldon dengan pembantu-
pembantunya mengambil kesimpulan, bahwa ada tiga komponen atau dimensi jasmaniah itu. Ketiga
dimensi itu merupakan inti daripada teknik pengukuran struktur tubuh, komponen-kompoen itu adalah:
1. Endomorphy
2. Mesomorphy
3. Ectomorphy
Penggunaan istilah itu dihubungkan dengan tiga lapisan pada terbentuknya foetus manusia
(endoderm, mesoderm, dan ectodrm). Dominasi alat-alat yang berasal dari lapisan tertentu
menentukan dominasi daripada komponen tertentu. Dengan demikian, maka menurut Sheldon
ada tiga tipe pokok daripada jasmani manusia, yaitu:
a) Endomorphy (komponen endomorphy dominant)
b) Mesomorphy (komponen mesomorphy dominant)
c) Ectomorphy (komponen ectomorphy dominant)

a) Tipe Endomorph
Individu yang komponen endomorphynya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah,
ditandai oleh alat-alat atau organ-organ internal dan seluruh sistem digestif yang berasal dari
endoderm menegang peranan penting. Secara fisik tampak : lembut dan gemuk.
b) Tipe Mesomorph
Individu yang bertipe mesomorph komponen mesomorphynya tinggi sedang-kan kedua
komponen lainnya rendah, maka komponen mesomorphy dominan dibandingkan komponen lain.
Bagian tubuh yang berasal dari mesoderm lebih berkembang (otot, pembuluh darah, dan Jantung
). Secara fisik tampak : kokoh, keras, otot menonjol, tahan sakit, banyak ditemukan olahragawan,
pengelana, dan tentara termasuk tipe ini.
c) Tipe Ectomorph
Individu yang bertipe Ectomorphy, maka komponen ectomorphynya dominan.Organ-organ
ectoderm lebih berkembang seperti kulit dan sistem syaraf. Secara fisik terlihat : jangkung, dada
kecil dan pipih, lemah, otot tidak terlihat.

Seperti telah dikatakan, somatotip ini adalah alat untuk mengira-irakan komponen biologis dari tingkah
laku dasar dan tidak berubah (morphogenotipe) dengan jalan mengukur keadaan tubuh yanag nampak
luar (phenotipe). Pengukuran itu mengenai: kepala, leher, dada, lengan, panggul, perut, dan kaki. Jadi
somatotipe itu merupakan kompormis antara morphogenotipe dan phenotip.
Sheldon mengatakan bahwa apabila orang mau benar-benar memperoleh perkiraan yang sebaik-baiknya
tentang morphogenotipe secara ideal, dia tidak cukup hanya menyelidiki individu itu sepanjang sejarah
hidupnya, melainkan juga nenek moyang dan keturunannya. Selanjutnya foto individu itu harus dibuat
berturut-turut secara periodik. Tentu saja apa yang pernah dicapai bukanlah somatotipe yang ideal itu.
Kecuali ketiga tipe yang talah dikemukakan di atas, maka ada enam tipe campuran. Diantara tiap dua
tipe pokok ada dua tipe campuran. Adapun tipe-tipe campuran tersebut adalah:
a) Endomorph yang mesomorphis
b) Endomorph yang ectomorphis
c) Mesomorph yang endomorphis
d) Mesomorph yang ectomorphis
e) Ectomorph yang endomorphis
f) Ectomorph yang mesomorphis

2) Komponen-komponen jasmani sekunder


Disamping komponen-komponen jasmani primer, Sheldon juga mengemukakan adanya tiga
komponen jasmani sekunder, yaitu:
a) Displasia
Dengan meminjam istilah dari Kretchmer istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukkan
setiap ketidaktepatan dan ketidaklengkapan campuran ketiga komponen primer itu pada berbagai
daerah dari pada tubuh. Dalam penyeli-dikan-penyelidikan yang mula-mula Sheldon
menemukan, bahwa banyak desplisia berhubungan dengan ectomorphy, dan lebih banyak pada
wanita daripada laki-laki. Penyelidikan yang lebih kemudian membuktikan, lebih banyak
displesia pada para penderita psikosis daripada pada mahasiswa.

b) Gynandromorphy
Gyinandromorphy adalah komponen jasmani sekunder yang kedua. Komponen ini menunjukkan
sejauhmana jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya.
Komponen ini oleh Sheldon dinyatakan dengan huruf “g” jadi orang laki-laki yang memiliki
komponen “g” tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, panggul besar, dan sifat-sifat wanita
yang lain. Secara teori sifat-sifat ini dapat dinyatakan dengan angka 1 sampai 7. Angka 1
menunjukkan tidak adanya sifat-sifat dari jenis kelamin lawannya, sedangkan angka 7
menunjukkan kebencian (hermaphroditismus).
c) Texture (tampang)
Komponen jasmani sekunder yang ketiga, dan barangkali yang terpenting, adalah (texture) yang
ditandai oleh Sheldon dengan huruf “f” (dari texture). Adapun yang dimaksud dengan tampang
(texture) oleh Sheldon adalah bagai-mana individu itu nampaknya itu keluar (Jawa: dedeg-
piyadeg).

b. Konstansi Somatotipe
Perubahan umur dan variasi makanan kiranya memaksa orang pada umumnya untuk
mengakui sifat berubah-berubah somatotipe itu. Namun Sheldon yakin, bahwa tidak ada
perbahan makanan yang dapat merubah ukuran-ukuran orang dari somatotipe yang satu ke
somatotipe yang lain. Memang mumkin faktor-faktor makanan menim-bulkan perubahan pada
ukuran-ukuran individu, akan tetapi itu tidak akan mengubah somatotipe yang sebenarnya.
Hipotesis tentang konstansi somatotipe ini dibuktikan oleh adanya kemiripan dalam
distribusi bermacam-macam tipe itu pada umur yang berbeada-beda. Misalnya Sheldon (1940)
mengemukakan hasil penyelidikannya bahwa orang-orang yang ber-umur 40 tahun menunjukkan
variasi berbagi somatotipe yang kira-kira sama dengan mahasiswa-mahasiswa (masih muda).
Apabila umur membawa perubahan pokok dalam somatotipe, semestinya umur yang berbedaan
itu akan menunjukkan variasi somatotipe yang tidak sama.
Tetapi pada pendapatnya yang lebih kemudaian Sheldon mengubah pendiriannya itu;
kondisi somatotipe itu membutuhkan ada konstansi dalam makanan dan tak adanya hal-hal yang
patologis.

2. Analisis Tingkah Laku (Kepribadian)


Walaupun telah mempunyai alat yang tetap untuk menilai aspek jasmaniah daripada
manusia, namun ahli-ahli psikologi konstitusional harus membuat atau meminjam metode lain
untuk menilai tingkah laku apabila dia akan benar-benar menyelidiki hubungan antara jasmani
dan tingkah laku atau kepribadian. Dalam hal ini Sheldon bermula dari pangkal dagu, bahwa
walaupun nampaknya ada banyak dimensi atau variabel dalam tingkah laku, tetapi pada dasarnya
hanya ada sejumlah kecil komponen-komponen dasar yang diharapkan akan menjadi dasar
tingkah laku yang nampak kompleks itu.
a. Dimensi-dimensi temperamen
Komponen-komponen primer daripada temperamen
1) Tipe viscerotonis
Komponen primer temperamen ayang pertama dinamakan viscorotonia, karena kelompok sifat-
sifat yang dicakupnya berhubungan dengan fumgsi dan anatomi alat-alat viscerel/digesif. Orang
yang visceretonis itu mempuanyai alat pencer-naan yang relatif besar dan panjang, dengan hati
besar.
Sifat-sifat tempramne viscerotonis itu ialah:
a) sikap tidak tegang (relaxed)
b) suka akan hiburan
c) gemar makan-makan
d) besar kebutuhan akan resonansi orang lain
e) tidurnya nyenyak
f) bila mengadapi kesukaran membutuhkan orang lain
2) Tipe somatotonia
Komponen primer temperamen ayang kedua dinamakan viscorotonia, karena sifat-sifat
(kelompok sifat) yang dicakupnya berhubungan denagn dominasi dan antomi struktur somatis.
Orang yang somatotonis aktivitas otot-otot sekehendaknya dominan. Orang yang golongan ini
gemar akan ekspresi mus-kuler, suka mendapat pengalan fisik.
Sifat-sifat temperament somatotonis ini ialah:
a) sikapnya gagah
b) perkasa (energetic)
c) kebutuhan bergerak besar
d) suka terus terang
e) suara lantang
f) nampaknya lebih dewasa dari yang sebenarnya
g) bila menghadapi kesukaran-kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan
3) Tipe celebrotonis
Komponen primer ketiga dinamakan cerebotania. Sebenarnya Sheldon belum pasti benar tentang
penamaan ini. Dinamakan demikian karena dikirakan bahwa aktifitas pokok adalah perhatian
dengan sadar, serta inhibisi terhadap gerkan-gerakan jasmaniah.
Sifat-sifat orang yang bertipe cerebrotonis itu adalah:
a) sikapnya kurang gagah, ragu-ragu
b) reaksinya cepat
c) kurang berani bergaul dengan orang banyak (ada sociopobia)
kurang berani berbicara di depan orang banyak
d) kebiasaan-kebiasaannya tetap, hidup teratur
e) suara kurang bebas
f) tidur kurang nyenyak (sukar)
g) nampaknya lebih muda dari yang sebenarnya
h) kalau menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri

Ketiga komponen itu dengan sifat-sifat yang dicakupnya merupakanScale Of Temperamen, yang
juga mempunyai sekala 1 sampai dengan 7. Dengan uraian yang telah dikemukakan itu nyata,
bahwa kalau dipandang dari segi tipologi Sheldon membedakan adanya tiga tipe pokok
temperamen, yaitu:
1. Visceretonia
2. Somatotonia
3. Cerebrotonia.

3. Hubungan antara Jasmani dan Gangguan-ganguan Kejiwaan


Penyelidikan-penyelidikan Sheldon tidak hanya terbatas pada orang-orang yang normal
saja, tetapi juga masalah-masalah ketidaknormalan. Hasil penyelidikannya mengenai ini
(bersama-sama dengan With Katz) diterbitkan pada tahun 1948, Sheldon mengemukakan perihal
gangguan kejiwaan terdiri dari 3 dimensi primer. Ketiga dimensi itu pada pokoknya (pada garis
besanya) berhubungan dengan kategori-kategori yang biasa digunakan dalam diagnosis
psikiatris. Adapun komponen-komponen psikiatris itu ialah:
a. Affektive, bentuknya yang ekstrem terdapat pada psikosis jenis manis-depresif (antara ekstrem
gembira dan ekstrem sedih, depresif).
b. Paranoid, bentuknya yang ekstrem terdapat pada para penderita psikosis jenis paranoid (banyak
angan-angan, pikiran yang sangat jauh dari kenyataan: merasa diancam, merasa diri terlalu besar,
dan sebagainya).
c. Heboid, bentuknya yang ekstrem terdapat pada para penderita hebephrenia, suatu bentuk dari
schizophrenia (a sosial, anti sosial).
Sheldon sendiri menyatakan, bahwa penyelidikannya dalam lapangan ini masih harus
diuji tetapi cara yang dipakainya memberi harapn yang baik dimasa depan. Korelasi antara
komponen-komponen psikiatris (affaective, paranoid, dan heboid)denagn komponen-komponen
somatipe semua positif, walaupun tidak terlalu tinggi. Hal ini memberi kesimpulan bahwa antara
komponen-komponen somatipe dan komponen-komponen psikiatris itu terang ada hubungan,
walaupun hubungan itu tidak sederhana yang terdapat pada komponen-komponen somatotipe
dan komponen-komponen temperament.

4. Faktor-faktor yang Menjadi Perantara dalam Hubungan antara Jasmani dan Tingkah Laku
Hubungan antara komponen-komponen jasmani dan tingkah laku dapat dijelaskan dengan
beberapa cara:
a. Sukses yang menyertai suatu cara bertingkah laku tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan saja,
tetapi juga tipe jasmaninya. Misal: Orang yang octamorphis tentu kurang berhasil bertindak
kasar dan agresif, sedangkan orang yang mesomorphis akan lebih berhasil.
b. Kemungkinan lain adalah bahwa hubungan antara jasmani dan temperamen di hubungkan oleh
anggapan yang stereotipis dalam kebudayaan (tuntutan peran social) mengenai macam-macam
tingkah laku yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berbeda-beda tipe jasmaninya itu. Jadi
individu yang memilki tipe jasmani tertentu itu menduduki peranan sosial tetentu pada keadaan
biasa diharapkan bertingkah laku sesuai dengan peranan sosialnya itu. Harapan yang demikian
itu akan berakibat, bahwa orang-orang yang tipe jasmaninya berbeda akan bertingkah laku secara
berbeda. Dan ini cenderung untuk ditiru oleh orang lain yang punya tipe jasmani serupa.
c. Kemungkinan lain adalah pengalaman atau pengaruh lingkungan menghasilkan tipe tubuh
tertentu, selanjutnya menimbulkan kecenderungan tingkah laku tertentu. Contohnya orang yang
berlatih atletik mempunyai bentuk tubuh tertentu sehingga cenderung menghasilkan perilaku
tertentu pula.
d. Kemungkinan terakhir adalah hubungan antara bentuk fisik dan perilaku manusia dipengaruhi
oleh faktor genetis. Menurut Sheldon faktor yang paling mempengaruhi adalah yang pertama dan
kedua (pengalaman selektif dan determinasi budaya walaupun dia mengakui pentingnya
determinasi genetis).