Anda di halaman 1dari 10

As-Syifaa Vol 07 (01) : Hal.

93-102, Juli 2015


ISSN : 2085-4714

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETIK PADA PENGOBATAN


PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT JALAN DI RSUP DR WAHIDIN
SUDIROHUSODO MAKASSAR

Hardianty Malinda, Rahmawati, Hendra Herman

Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia


Email : hendrahermanapt@gmail.com

ABSTRACT

Diabetes mellitus is a chronic disesase characterized by high blood sugar


levels in the body. This research aims to present the use of antidiabetic medication
for type 2 diabetes mellitus in outpatient at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar. This is a descriptive survey in the form of retrospective search. The
results showed that the use of drugs by drug class and type of antidiabetic drugs
sulfonylurea (glibenclamide 12.4%, glimepiride 7.2%, gliclazide 3.9%), biguanide
(metformin 43.8%0, inhibitor α-glucosidase (acarbose 3.3%), thiazolidinedione
(pioglitazone 0.7%), the combination of OHO (gliburida-metformin 0.7%), vildagliptin-
metformin 0.7%), rapid insulin 8.5%, insulin detemir 13.1%, insulin glargine 4.6%,
and insulin premix 13.1%.

Key words : Antidiabetic, Retrospective, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo


Makassar, Type 2 Diabetes Mellitus

PENDAHULUAN penderita DM terbesar di dunia setelah


Diabetes melitus (DM) India, Cina, Amerika Serikat. Secara
didefinisikan sebagai suatu penyakit epidemiologi, pada tahun 2000
atau gangguan metabolisme kronis terdapat 8,4 juta penderita DM dan
dengan multi etiologi yang ditandai pada tahun 2030 diperkirakan akan
dengan tingginya kadar gula darah meningkat hingga 21,3 juta penderita.
disertai dengan gangguan Penatalaksanaan diabetes
metabolisme karbohidrat, lipid dan mempunyai tujuan akhir untuk
protein sebagai akibat insufisiensi menurunkan morbiditas dan mortalitas
fungsi insulin (Depkes, 2005). DM, yang secara spesifik ditujukan
Menurut World Health untuk mencapai 2 target utama, yaitu:
Organization (WHO) pada tahun 2000, menjaga agar kadar glukosa plasma
Indonesia merupakan negara yang berada dalam kisaran normal dan
menempati urutan ke-4 terbesar untuk mencegah atau meminimalkan
prevalensi diabetes melitus dari jumlah kemungkinan terjadinya komplikasi

93
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

diabetes (Depkes, 2005). Dalam minum obat, pola makan dan aktivitas
pengobatan diabetes melitus tipe 2 fisiknya, serta pola hidup yang lain,
obat metformin harus dimasukkan yang dapat mempengaruhi
dalam terapi pengobatan tersebut, pengendalian kadar glukosa darah
karena dapat ditolerir oleh pasien dan penderita (Coppel et al, 2008). Oleh
tidak ada kontraindikasi yang spesifik. karena itu perlu dilakukan penelitian
Hal tersebut dikarenakan satu-satunya mengenai gambaran pengobatan
obat antihiperglikemik oral yang penyakit DM tipe 2 pada pasien rawat
terbukti dapat menurunkan risiko jalan di RSUP Dr. Wahidin
kematian, menurut United Kingdom Sudirohusodo Makassar.
Prospective Diabetes Study (UKPDS) METODE PENELITIAN
(Dipiro et al., 2008). METODE KERJA
Pada beberapa penderita DM Penelitian yang dilakukan
tipe 2 menolak menjalani rawat inap adalah penelitian secara deskriptif
dengan berbagai alasan sehingga pada pasien dengan diagnosis DM tipe
dilakukan terapi rawat jalan. 2 yang menjalani rawat jalan di RSUP
Rawat jalan adalah pelayanan Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
medis kepada seseorang untuk tujuan periode Januari–Desember 2014
observasi, diagnosis, pengobatan, dengan penulusuran retrospektif yang
rehabilitasi dan pelayanan kesehatan diambil dari data rekam medik pasien.
lainnya tanpa pasien tersebut harus Prosedur Kerja
dirawat (Riskesdas, 2013). Tahap persiapan
Diabetes melitus merupakan Proses persiapan yang dilakukan
penyakit kronik seumur hidup dan sebelum pengambilan data sebagai
mempunyai resiko komplikasi tertinggi, berikut :
sehingga menuntut kepatuhan yang 1. Pembuatan proposal
tinggi kepada penderitanya dalam 2. Pembuatan surat kode etik
menjalani pengobatan agar target 3. Pengurusan surat perijinan untuk
pengendalian glikemik tercapai. Pada melakukan pengambilan data
kenyataannya sangat sulit menilai Tahap pengambilan data
tingkat kepatuhan penderita secara Proses penelusuran data
pasti, terutama pada pasien rawat dimulai dari observasi di instalasi
jalan, karena kita tidak tahu pasti yang rekam medik RSUP Dr. Wahidin
dilakukan penderita menyangkut cara Sudirohusodo Makassar. Lalu
94
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

dilakukan pengambilan data dengan Analisis Data


langkah-langkah sebagai berikut: Pengolahan data dianalisis
1. Diambil data dari catatan rekam secara deskriptif dengan
medik sehubungan dengan obat- mengunnakan program SPSS versi 20
obat yang digunakan oleh yang dibandingkan dengan buku Drug
penderita diabetes mellitus pada Information Handbook ditinjau dari
pasien rawat jalan mulai Januari– tepat jenis obat yang digunakan serta
Desember 2014. dilakukan analisis secara Anova
2. Dari rekam medik pasien hubungan antara jenis obat yang
didapatkan data karakteristik digunakan terhadap penurunan
berupa nama, umur, jenis kelamin, HbA1c.
jenis obat yang digunakan, dosis HASIL PENELITIAN
obat, pemeriksaan laboratorium, Hasil evaluasi data rekam
komplikasi penyakit. medis di RSUP Dr. Wahidin
Tahap pengolahan data Sudirohusodo Makassar periode
Setelah semua data Januari-Desember 2014 diperoleh data
didapatkan, selanjutnya dilakukan pasien yang didiagnosa DM tipe 2
tabulasi berdasarkan kriteria yang rawat jalan sebanyak 367 pasien,
sudah ditentukan untuk persiapan tetapi yang memenuhi kriteria inklusi
analisa penggunaan obat pada pasien sebanyak 97 pasien. Hasil penelitian
rawat jalan. yang diperoleh disajikan dalam bentuk
tabel.
Tabel 1. Karakteristik pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar Periode Januari-Desember 2014

Karakteristik n (%) Min Max Rata-rata (SD)


Jenis Kelamin
1. Laki-laki 43 (44,3) - - -
2. Perempuan 54 (55,7) - - -
Usia 97 (100) 33 82 56,03 (10,297)
GDP 97 (100) 73 435 210,12 (72,406)
HbA1c 97 (100) 5,1 16,5 10,346 (2,6909)
Kategori IMT
1. (<18,5) Kurus 6(6,2) - - -
2. (18,5-25) Normal 62 (63,9) - - -
3. (25-29,9)Gemuk 19 (19,6) - - -
4. (≥30) Obesitas 10 (10,3) - - -
Penyakit penyerta
Tidak ada 29 (29,9) - - -
Komplikasi 68 (70,1) - - -

95
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

Glukosa darah puasa (GDP), hemoglobin A1c (HbA1c), indeks massa tubuh
(IMT), standard deviation (SD)

Tabel 2. Klasifikasi pasien DM tipe 2 rawat jalan berdasarkan terapi pengobatan di


RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Januari-Desember
2014

Terapi Pengobatan Jumlah (%)


Insulin 9 (9,3)
OHO tunggal 46 (47,4)
Kombinasi OHO-OHO 21 (21,6%)
Kombinasi insulin-OHO 21 (21,6%)
Jumlah 97 (100%)
Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

Tabel 3. Hasil uji Anova antara jenis obat dengan HbA1c pasien DM tipe 2 rawat
jalan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Januari-
Desember 2014

Kategori HbA1c (%) P


Insulin 12,44 0,000
OHO tunggal 9,06
Kombinasi OHO-OHO 9,79
Kombinasi insulin-OHO 12,81
P>0.05 tidak berbeda secara signifikan
P<0.05 berbeda secara signifikan

Tabel 4. Hasil uji lanjutan LSD antara jenis obat dengan HbA1c pada DM tipe 2
rawat jalan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode Januari-
Desember 2014

Jenis Obat Jenis Obat P


Insulin OHO Tunggal 0,000
OHO-OHO 0,003
Insulin-OHO 0,672
OHO Tunggal Insulin 0,000
OHO-OHO 0,210
Insulin-OHO 0,000
OHO-OHO Insulin-OHO 0,000
P>0.05 tidak berbeda secara signifikan
P<0.05 berbeda secara signifikan

Tabel 5. Klasifikasi pasien DM tipe 2 rawat jalan berdasarkan kelompok obat


(generik dan brand generik) di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar Periode Januari-Desember 2014
Kelompok obat Jumlah Persen (%)
Generik 95 62,1
Brand Generik 58 37,9
Jumlah 153 100,0

96
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

Tabel 6. Klasifikasi pasien DM tipe 2 rawat jalan berdasarkan golongan dan jenis
obat andiabetes di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode
Januari-Desember 2014

Golongan Obat Jumlah Persen (%)


Sulfonilurea
1. Glibenklamid 19 12,4
2. Glimepirid 11 7,2
3. Glikazida 6 3,9
Biguanida
1. Metformin 67 43,8
Penghambat α- glukosidase
1. Akarbose 5 3,3
Tiazolidindion
1. Pioglitazon 1 0,7
Kombinasi OHO
1. Gliburid-Metformin 1 0,7
2. Vildagliptin-Metformin 1 0,7
Insulin kerja cepat 13 8,5
Insulin detemir 20 13,1
Insulin glargine 7 4,6
Insulin premix 2 1,3
Jumlah 153 100
Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

PEMBAHASAN Kedokteran Universitas Hasanuddin


Penelitian ini merupakan dengan nomor 2208 / H4.8.4.5.31 /
penelitian non eksperimental dengan PP36 - KOMETIK / 2014.
menggunakan data-data dari rekam Dari 97 pasien terdiri dari 43
medik pasien yang ada di RSUP Dr. (44,3%) laki–laki dan 54 (55,7%)
Wahidin Sudirohusodo Makassar perempuan, dapat dilihat pada tabel 5.
periode Januari-Desember 2014. Data yang didapatkan pasien
Penelitian ini menggunakan data-data perempuan lebih banyak yang
dari kartu rekam medik dengan jumlah mengalami penyakit ini dibandingkan
kasus sebanyak 97 pasien yang laki-laki. Dan sebagai salah satu
mendapatkan terapi obat hipoglikemik. penyebab dari hal tersebut yaitu
Pengumpulan data yang diperoleh kurangnya perempuan dalam
kemudian di analisis dengan standar berolahraga, yang mana
Drug Information Handbook. menyebabkan penumpukan lemak dan
Penelitian ini telah memicu terjadinya penyumbatan atau
mendapatkan persetujuan dari Komite gangguan metabolisme. Sehingga
Etik Penelitian Kesehatan Fakultas mudah mengalami obesitas yang

97
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

dapat menyebabkan diabetes melitus Dari data hasil penelitian


(Khairani, 2007). diperoleh data pasien DM tipe 2 tanpa
Data hasil penelitian terdapat 97 penyakit penyerta sebanyak 29 pasien
pasien yang berusia minimal 33 tahun (29,9%) dan pasien DM tipe 2 dengan
dan maksimal 82 tahun. Hal ini penyakit penyerta sebanyak 68 pasien
membuktikan bahwa pasien dewasa (70,1%). Pasien DM tipe 2 dengan
secara perlahan kemampuan penyakit penyerta terdiri dari penyakit
jaringannya menghilang untuk hipertensi dan hiperlipidemik. Maka
memperbaiki diri/mengganti diri dan dari itu, pasien diberikan obat
mempertahankan struktur serta fungsi antihipertensi dan obat
normalnya sehingga tidak bertahan antihiperlipidemik sebagai salah
terhadap trauma seperti infeksi. satunya yaitu amlodipin terapi
Dimana pasien DM dewasa antihipertensi dan simvastatin untuk
menunjukkan peningkatan Gangguan terapi antihiperlipidemik yang mana
Toleransi Glukosa (GTG) seiring banyak pasien mengalami keluhan
dengan pertambahan usia. Dari data utama yaitu rasa tegang di leher,
WHO didapatkan bahwa setelah kesemutan dan nyeri pada sendi.
mencapai usia 30 tahun, kadar Sehingga beberapa pasien diberikan
glukosa darah akan naik 1-2 obat antihipertensi dan
mg%/tahun pada saat puasa dan akan antihiperlipidemik.
naiksebesar 5,6-13 mg%/tahun pada 2 Pada penelitian ini klasifikasi
jam setelah makan (Kurniawan,2010). pasien DM tipe 2 rawat jalan
Selain itu, pada penelitian ini berdasarkan terapi pengobatannya
klasifikasi pasien DM tipe 2 rawat jalan diperoleh pasien yang menggunakan
berdasarkan kriteria indeks massa terapi insulin 9 orang sebesar 9,3%,
tubuh telah didapatkan hasil kriteria pasien dengan terapi OHO tunggal 68
yang paling banyak yaitu normal orang sebesar 497,4%, pasien dengan
sebesar 63,9% dan yang paling sedikit terapi kombinasi OHO 21 orang
adalah kurus sebesar 6,2%. Hal sebesar 21,6%, dan pasien dengan
tersebut menunjukkan bahwa pasien terapi kombinasi insulin-OHO 21 orang
yang memiliki kriteria indeks massa sebesar 21,6%. Hal ini membuktikan
tubuh (IMT) normal belum tentu tidak bahwa pasien diabetes melitus tipe 2
menderita diabetes melitus. rawat jalan kebanyakan diberikan
terapi OHO tunggal, kemudian
98
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

pemberian obat antidiabetes untuk insulin dengan OHO-OHO yaitu 0,003,


pasien diabetes melitus tipe 2 dan OHO tunggal dengan OHO-OHO
bergantung pada kadar glukosa darah yaitu 0,210. Yang apabila nilai P<0,05
yang tidak terkontrol atau tidak berbeda secara nyata dalam
menetap. penurunan HbA1c. Sedangkan
Pengukuran HbA1c sebagai penggunaan insulin dengan kombinasi
indikator kepatuhan pasien diabetes insulin-OHO diperoleh data yaitu
melitus yang paling baik dibandingkan 0,672, yang mana jikan nilai P>0,05
menggunakan pengukuran glukosa membuktikan bahwa penggunaan
dalam darah maupun urin karena insulin dengan kombinasi insulin-OHO
HbA1c dapat menggambarkan dalam penurunan HbA1c tidak
konsentrasi glukosa darah rata-rata berbeda secara nyata.
selama periode 8-12 minggu Pada penelitian ini pasien DM
sebelumnya (National Diabetes tipe 2 rawat jalan yang menggunakan
Information Clearing House, 2012). obat generik sebesar 62,1% dan
Pada hasil uji Anova diperoleh data pasien yang menggunakan obat brand
penggunaan insulin terhadap generik sebesar 37,9%. Hal ini
penurunan HbA1c sebanyak 12,44%, disebabkan karena adanya ketentuan
penggunaan OHO tunggal terhadap yang mewajibkan seluruh fasilitas
penurunan HbA1c sebanyak 9,06%, kesehatan milik pemerintah
penggunaan OHO-OHO terhadap menggunakan obat generik dalam
penurunan HbA1c sebanyak 9,07%, kegiatan pelayanan kesehatan sesuai
dan penggunaan insulin-OHO dengan kebutuhan, dimana ketentuan
terhadap penurunan HbA1c sebanyak tersebut tertuang dalam peraturan
12,8%. Hal tersebut dapat disimpulkan Menteri Kesehatan Nomor
bahwa penggunaan OHO tunggal baik HK/02/Menkes/068/1/2010. Hal ini
dalam menurunkan kadar HbA1c. sudah sesuai dengan penggunaan
Yang dimana penurunan 1% dari obat generik di RSUP DR Wahidin
HbA1c akan menurunkan komplikasi Sudirohusodo Makassar lebih banyak
sebesar 35%. dibandingkan dengan penggunaan
Dari hasil uji LSD antara jenis obat brand generik.
obat dengan penurunan Hba1c maka Obat antidiabetes yang
diperoleh data nilai P antara insulin digunakan adalah obat hipoglikemik
dengan OHO tunggal yaitu 0,000, oral dan insulin. Beberapa macam
99
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

obat dari golongan hipoglikemik oral digunakan adalah metformin. Karena


yang digunakan pada pasien. Seperti metformin merupakan obat yang
Metformin golongan biguanid. dianjurkan sebagai terapi awal untuk
Glibenklamid, glimepirid, dan gliklazida pasien diabetes melitus tipe 2.
dari golongan sulfonilurea. Akarbose Memberikan manfaat terhadap sistem
dari golongan penghambat α- kardiovaskular dan berisiko lebih kecil
glukosidase. Pioglitazon dari golongan terhadap hipoglikemia, kecuali untuk
tiazolidindion. Serta gliburid-metformin pasien yang memiliki kontraindikasi
dan vildagliptin-metformin dari dengan metformin. Yaitu gangguan
kombinasi OHO. Untuk insulin ada fungsi ginjal, gangguan fungsi hati,
beberapa macam insulin diberikan gagal jantung, asidosis, dehidrasi, dan
yaitu insulin kerja cepat (aspart), hipoksia.
insulin glargine dan insulin detemir dan Beberapa pasien juga
insulin premix. diberikan obat hipoglikemia dari
Pasien DM tipe 2 yang golongan sulfonilurea seperti
menunjukan obat-obat antidiabetes glibenklamid, glimepirid, dan gliklazida.
yang paling banyak digunakan pasien Golongan ini diberikan apabila pasien
adalah metformin (41,8%) dari memiliki kontraindikasi dengan
golongan biguanida serta yang paling metformin. Golongan sulfonilurea
jarang digunakan adalah pioglitazon dapat diberikan pada pasien diabetes
(0,7%) dari golongan tiazolidindion, melitus tipe 2 karena bekerja dengan
glyburid-metformin atau terapi merangsang sekresi insulin di kelenjar
kombinasi OHO (0,7%), dan pankreas, sehingga diberikan obat
vildagliptin-metformin (0,7%) atau golongan ini untuk pasien yang masih
terapi kombinasi OHO. Pasien juga mampu memproduksi insulin. Oleh
diberikan beberapa obat lain karena itu, obat ini tidak dapat
diantaranya glibenklamid (12,4%), diberikan untuk pasien yang
glimepiride (7,2%), gliklazida (3,9%), mengalami kerusakan sel β-pankreas.
akarbose (3,3%), insulin kerja cepat Obat dari golongan sulfonilurea juga
(8,5%), insulin detemir (13,1%), insulin dapat menghambat degradasi insulin
glargine (4,6%), dan insulin premix dari hati.
(1,3%). Beberapa macam insulin
Dari hasil penelitian obat diberikan pada pasien diabetes melitus
hipoglikemik oral yang paling banyak yaitu insulin aspart, insulin detemir,
100
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

insulin glargine, dan insulin premix. mengetahui kondisi pasien yang


Insulin diberikan pada pasien diabetes sebenarnya dimana kondisi pasien
melitus tipe 2 jika target gula darah merupakan pertimbangan dokter
tidak tercapai dengan pemberian obat dalam mendiagnosis dan memberikan
hipoglikemik oral. Insulin aspart terapi. Selain itu, peneliti juga tidak
merupakan insulin analog kerja cepat menghadapi pasien secara langsung
untuk menurunkan glukosa darah pada sehingga tidak mengetahui dengan
manusia. Onset dari insulin aspart pasti kepatuhan pasien dalam
yaitu 15-30 menit. Insulin detemir mengkonsumsi obat yang diresepkan.
merupakan insulin analog manusia Golongan dan jenis obat yang
kerja panjang untuk menyediakan dievaluasi didasarkan pada data dari
pasokan insulin plasma yang rendah, rekam medik sehingga penggunaan
konstan, dan direproduksi sampai 24 yang sebenarnya tidak diketahui
jam. Onset dari insulin detemir adalah dengan pasti.
2 jam. Insulin glargine merupakan KESIMPULAN
insulin analog manusia kerja panjang Berdasarkan hasil penelitian
yang disiapkan untuk memodifikasi yang dilakukan maka dapat
struktur kimia insulin untuk disimpulkan bahwa penggunaan obat
memungkinkan pelepasan lambat. berdasarkan golongan obat dan jenis
Onset dari insulin glargine adalah 4-5 obat antidiabetes sulfonilurea
jam. Antidiabetik yang digunakan (glibenklamid 12,4%, glimepirid 7,2%,
untuk terapi pasien yang memenuhi gliklazida 3,9%), biguanid (metformin
kriteria inklusi adalah metformin, 43,8%), inhibitor α-glukosidase
glibenklamid, glimepirid, gliklazida, (akarbose 3,3%), tiazolidindion
akarbose, pioglitazon, gliburida- (pioglitazone 0,7%), kombinasi OHO
metformin, vildagliptin-metformin, (gliburida-metformin 0,7%, vildagliptin-
insulin aspart, insulin detemir, insulin metformin 0,7%), insulin kerja cepat
glargine, dan insulin premix. Obat-obat 8,5%, insulin detemir 13,1%, insulin
ini sudah sesuai dengan standar glargine 4,6%, dan insulin premix
pemberian obat yang ditetapkan oleh 13,1%.
Drug Information Handbook (DIH) DAFTAR PUSTAKA
(Lacy, 2011). Coppel, K., Mann, J., Chisholm, A.,
Wiliiams, S., Vorgers, S., and
Adapun kelemahan dari
Kataoka, M., 2008, Medication
penelitian ini yaitu peneliti tidak Adherence Amongst People
101
Gambaran Penggunaan Obat Antidiabetik Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii
Rawat Jalan Di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

With Less Than Ideal Glycaemic Kurniawan, I., 2010, Diabetes Mellitus
Control-The Lifestyle Over And Tipe 2 pada Usia Lanjut
above Drugs in Diabetes (online), Vol 60, No 12 (diakses
(LOADD Study), Diabetes 12 september 2014)
Research and Clinical Practice
Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman,
Depkes, 2005, Pharmaceutical Care M.P., Lance, L.L., 2011, Drug
Untuk Penyakit Diabetes Information Handbook, 20th
Mellitus, Departemen Edition, Lexi Comp : Ohio
Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta Riskerdas, 2013, Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar, Departemen
Dipiro, J., Matzke, G.R., Posey, L.M., Kesehatan Republik Indonesia.
Talbert, R.L., Wells, B.G., Yee, Jakarta
G.C., 2008, Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approuch, The National Diabetes Information
Medical MC Graw, New York, Clearing House, 2012, The a1c
Edisi 7 Test and Diabetes (online), The
national Institute of Diabetes
Khairani, R., 2007, Prevalensi and Digestive and Kidney
Diabetes Mellitus dan Diseases, National Institute of
Hubungan Dengan Kualitas Health
Hidup Lanjut Usia di
Masyarakat, Universitas Trisakti WHO, 2003, Prevention of Diabetes
: Jakarta, Vol 26, No 1 Mellitus, Technical Report
Series, Geneva: WHO

102