Anda di halaman 1dari 7

NAMA : Lana Ismail

KELAS : XI-B

PELAJARAN : KEWIRAUSAHAAN

1.1 APA ITU BEP ?

Break-Even Point atau sering disingkat dengan BEP adalah suatu titik atau keadaan
dimana penjualan dan pengeluaran sama atau suatu kondisi dimana penjualan perusahaan
cukup untuk menutupi pengeluaran bisnisnya. Break-even point yang biasanya dalam bahasa
Indonesia disebut dengan “Titik Impas” ini biasanya membandingkan jumlah pendapatan atau
jumlah unit yang harus dijual untuk dapat menutupi biaya tetap dan biaya variabel terkait
dalam menghasilkan suatu penjualan. Dengan kata lain, Titik Impas atau Break Even Point
adalah titik dimana suatu bisnis tidak mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh
keuntungan.

2.2 APA SAJA YANG HARUS ADA DALAM BEP ?

Dalam menyusun perhitungan BEP, kita perlu menentukan dulu 3 elemen dari rumus
BEP yaitu :

1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha,
perabotan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita
hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali

2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya
setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastic,
biaya nota penjualan

3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Adapun rumus untuk menghitung Break Even Point ada 2 yaitu :

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :

Total Fixed Cost

__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost

Contoh :

Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-

Variable cost Rp.5,000 / unit

Harga jual Rp. 10,000 / unit

Maka BEP per unitnya adalah

Rp.200,000

__________ = 40 units

10,000 – 5,000

Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi break even point. Pada pejualan
unit ke 41, maka took itu mulai memperoleh keuntungan

2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :

Total Fixed Cost

__________________________________ x Harga jual / unit

Harga jual per unit dikurangi variable cost

Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus
diterima agar terjadi BEP adalah

Rp.200,000

__________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-

10,000 – 5,000

3.3 BUATLAH SUATU USAHA YANG DI DALAMNYA TERDAPAT PERENCANAAN


Ada seorang pengusaha baru yang mendirikan bisnis pabrik Topi dengan nama
MUBAROK BAROKAH. Setiap bulan produksi pabrik tersebut 100 Topi. Sedangkan harga per
buah Rp 50.000. Untuk biaya variabel per topi rata-rata Rp 30.000 dan rata-rata biaya tetap
tahunan Rp 2.000.000.

Pertanyaannya berapa jumlah topi yang harus diproduksi dan harga per topi agar mencapai
BEP? Penyelesaiannya dapat Anda simak di bawah ini.

Pertama-tama hitung terlebih dahulu jumlah topi yang harus diproduksi supaya mencapai titik
impas atau BEP.

BEP unit produk = FC / (P-VC)

= 2.000.000 / (50.000 – 30.000) = 100 buah topi

BEP unit rupiah = FC / (1 – (VC/P))

= 2.000.000 / (1 – (30.000/50.000) = Rp 5.000.000

Maka pabrik tersebut harus memperoleh keuntungan (omset) sebesar Rp 5.000.000 untuk
mencapai BEP.

Untuk membuktikan apakah hitungan tersebut benar adalah dengan mengalikan unit BEP x
harga jual per unit.

BEP = 100 x Rp 50.000 = Rp 5.000.000

4.4 SEBERAPA PENTINGKAH ANALISIS BEP BAGI SEORANG PENGUSAHA


/ENTERPRENERSHIP ?
BEP sangat berguna bagi perusahaan untuk menentukan besaran jumlah produksi yang
akan dihasilkan dan nilai harga jual barang tersebut. Dengan menerapkan analisa BEP,
perusahaan dapat melihat laba, kerugian, harga jual, produksi, keuntungan, dan lain sebagainya
yang telah dapat diprediksi sebelumnya, sehingga mempermudah bagi pemimpin perusahaan
untuk menentukan kebijaksanaan. Selain itu, kegunaan lain dari BEP adalah sebagai berikut:

Alat perencanaan untuk hasilkan laba

Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya


dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan

Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan

Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Menurut Rony (1990, p. 357) analisis BEP sangat bermanfaat bagi manajemen dalam
menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda namun
tetap berkaitan yaitu:

Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus
dicapai agar perusahaan memperoleh laba.

Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.

Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi


biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.
Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa BEP
untuk manajemen, yaitu :

• Membantu pengendalian melalui anggaran.

• Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan.

• Menganalisa dampak perubahan volume.

• Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya.

• Merundingkan upah.

• Manganalisa bauran produk.

• Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan.

• Menganalisa margin of safety.

KEGUNAAN ANALISA BEP BAGI MANAJEMEN

Analisa BEP dan Keputusan Penambahan Investasi

Hasil analisa BEP di samping memberikan gambaran tentang hubungan antara biaya,
volume dan laba, juga akan dapat membantu atau memberikan informasi maupun pedoman
kepada manajement dalam memecahkan masalah-masalah lain yang dihadapinya. Misalnya
masalah penambahan atau penggantian fasilitas pabrik atau investasi dalam aktiva tetap
lainnya.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi masalah tersebut adalah sebagai
berikut :

• Memperbandingkan tingkat BEP sebelum adanya tambahan investasi baru dengan


sesudah adanya tambahan investasi tersebut;

• Menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk memperoleh


keuntungan tertentu atau minimal sama dengan keadaan sekarang;
• Menentukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai dalam dua keadaan
tersebut.

Analisa BEP dan Keputusan Menutup Usaha

Suatu usaha harus dihentikan atau ditutup apabila penghasilan yang diperoleh tidak
dapat menutup biaya tunainya. Untuk mengetahui pada tingkat penjualan berapa suatu usaha
harus dihentikan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus maupun dengan grafik BEP.

Biaya variabel biasanya merupakan biaya tunai dan biaya tetap sebagian merupakan
biaya tunai dan sebagian lagi merupakan sunk cost. Untuk menghitung jumlah satuan barang
yang harus dijual agar dapat menutup biaya tunainya (shut down point), yaitu biaya tetap tunai
dibagi dengan marginal income per unit.

Bila digunakan grafik, maka suatu usaha harus dihentikan apabila tingkat penjualan
berada di titik perpotongan antara garis penjualan dengan garis biaya tunai.

Di samping kedua kegunaan tersebut, analisa BEP dapat pula digunakan untuk
membantu memecahkan masalah lain, misalnya : penentuan harga jual terendah yang
memungkinkan untuk diterima oleh perusahaan, penentuan produk yang harus ditingkatkan
ataupun dikurangi produksinya untuk memperoleh keutungan yang terbesar, menentukan
akibat adanya perubahan tingkat harga ataupun product mixture, penentuan
profit/keuntungan yang akan diperoleh pada berbagai tingkat volume penjualan dan masalah
lain yang dihadapi manajemen perusahaan.