Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) atau istilah
yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotia dan Bahan/ Obat Berbahaya)
merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara
komprehensif dengan melibatkan kerjasama multidisipliner, multisektor, dan peran serta
masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Meskipun dalam kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan
tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur
ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi
muda. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke
kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah
bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling
banyak berumur antara 15-24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis
perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya
terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan memegang peranan
penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.

B. Rumusan Masalah
1) Apa itu NAPZA ?
2) Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien NAPZA ?

C. Tujuan
1) Agar mahasiswadapatmemahami konsep dasar NAPZA
2) Agar mahasiswa mengetahuibagaimanaasuhankeperawatanpadapasien NAPZA

1
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR
1. DEFENISI
Menurut rumusan WHO (Hawari, 1991 dalam Afiatin 2000) mendefinisikan
penyalahgunaan zat sebagai pemakaian zat yang berlebihan secara terus-menerus atau
berkala di luar maksud medik. Sedangkan Wicaksono (1996), Holmes (1996) dan Hawari
(2004) mendefinisikan penyalahgunaan zat sebagai pola penggunaan yang bersifat patologik
paling sedikit satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi social dan
okupasional (pekerjaan dan sekolah). Pola penggunaan zat yang patologik dapat berupa
intioksinasi sepanjang hari terus-menerus menggunakan zat tersebut, meskipun pengguna
mengetahui bahwa dirinya sedang menderita sakit fisik yang berat akibat zat tersebut, atau
adanya kenyataan bahwa tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut
(dalam Afiatin, 2000).
Sementara itu, Gordon dan Gordon (2000) membedakan pengertian antara pengguna,
penyalahguna dan pecandu narkoba.Menurutnya, pengguna adalah seseorang yang
menggunakan narkoba hanya sekedar untuk, misalnya bersenang-senang, rileks atau
relaksasi dan hidup mereka tidak berputar di sekitar narkoba.Pengguna jenis ini disebut juga
pengguna social rekreasional.Penyalah guna adalah seseorang yang mempunyai masalah
yang secara langsung berhubungan dengan narkoba.Masalah tersebut bisa muncul dari ranah
fisik, mental, emosional maupun spiritual. Penyalah guna selalu menolak untuk berhenti
sama sekali dan selamanya. Sedangkan pecandu adalah seseorang yang sudah mengalami
hasrat/obsesi secara mental dan emosional serta fisik. Bagi pecandu, tidak ada hal yang lebih
penting selain memperoleh narkoba, sehingga jika tidak mendapatkannya, ia akan
mengalami gejala-gejala putus obat dan kesakitan.
Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai
setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering
dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya meruju pada perilaku psikososial yang
berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan
biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk memperoleh
efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik
(Stuart & Sundeen, 1998).

2
2. ETIOLOGI
Harboenangin (dikutip dari Yatim, 1986) mengemukakan ada beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang menjadi pecandu narkoba yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
1. Faktor Internal
a. Faktor Kepribadian
Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini. Hal ini lebih cenderung
terjadi pada usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep
diri yang negatif dan harga diri yang rendah.
Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh
ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas,
pasif, agresif, dan cenderung depresi, juga turut mempengaruhi. Selain
itu, kemampuan untuk memecahkan masalah secara adekuat berpengaruh
terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan cara
melarikan diri.
b. Inteligensia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia pecandu yang datang untuk
melakukan konseling di klinik rehabilitasi pada umumnya berada pada taraf di bawah
rata-rata dari kelompok usianya.
c. Usia
Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasan remaja menggunakan
narkoba karena kondisi sosial, psikologis yang membutuhkan pengakuan, dan identitas
dan kelabilan emosi; sementara pada usia yang lebih tua, narkoba digunakan sebagai
obat penenang.
d. Dorongan Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu
Narkoba dapat memberikan kenikmatan yang unik dan tersendiri.
Mulanya merasa enak yang diperoleh dari coba-coba dan ingin tahu atau ingin
merasakan seperti yang diceritakan oleh teman-teman sebayanya. Lama kelamaan
akan menjadi satu kebutuhan yang utama.
e. pemecahan Masalah
Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan narkoba untuk
menyelesaikan persoalan. Hal ini disebabkan karena pengaruh narkoba dapat
menurunkan tingkat kesadaran dan membuatnya lupa pada permasalahan yang
ada.
2. Faktor Eksternal
a. Keluarga

3
Keluarga merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab seseorang
menjadi pengguna narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tim UKM Atma Jaya dan
Perguruan Tinggi Kepolisian Jakarta pada tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga
yang berisiko tinggi anggota keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba, yaitu:
1) Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan
narkoba.
2) Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan
yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya ayah bilang ya, ibu
bilang tidak).
3) Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang
memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu,
ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara.
4) Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Dalam hal ini, peran orang tua sangat
dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua dengan
alasan sopan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu
sendiri - tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan
ketidaksetujuannya.
5) Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai
kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.
6) Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang
kurang kuat, mudah cemas dan curiga, sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.
b. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara
teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar
berperilaku seperti kelompok itu. Peer group terlibat lebih banyak dalam delinquent
dan penggunaan obat-obatan. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor sosial tersebut
memiliki dampak yang berarti kepada keasyikan seseorang dalam menggunakan
obat-obatan, yang kemudian mengakibatkan timbulnya ketergantungan fisik dan
psikologis. Sinaga (2007) melaporkan bahwa faktor penyebab penyalahgunaan
NAPZA pada remaja adalah teman sebaya (78,1%). Hal ini menunjukkan betapa
besarnya pengaruh teman kelompoknya sehingga remaja menggunakan narkoba.
Hasil penelitian ini relevan dengan studi yang dilakukan oleh Hawari (1990) yang
memperlihatkan bahwa teman kelompok yang menyebabkan remaja memakai
NAPZA mulai dari tahap coba-coba sampai ketagihan.
c. Faktor Kesempatan

4
Ketersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga dapat disebut
sebagai pemicu seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang sudah menjadi tujuan
pasar narkoba internasional, menyebabkan obat-obatan ini mudah diperoleh. Bahkan
beberapa media massa melaporkan bahwa para penjual narkotika menjual barang
dagangannya di sekolah-sekolah, termasuk di Sekolah Dasar. Pengalaman feel
good saat mencoba drugs akan semakin memperkuat keinginan untuk memanfaatkan
kesempatan dan akhirnya menjadi pecandu. Seseorang dapat menjadi pecandu karena
disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus atau secara bersamaan. Karena ada juga
faktor yang muncul secara beruntun akibat dari satu

3. PATOFISIOLGI
narkoba bekerja di dalam tubuh manusia berbeda-beda tergantung cara
pemakaiannya.
1. Melalui saluran pernapasan: dihirup melalui hidung(shabu), dihisap sebagai rokok
(ganja).
Narkoba yang masuk ke saluran pernapasan setelah melalui hidung atau mulut, sampai
ke tenggorokan, terus ke bronkus, kemudian masuk ke paru-paru melalui bronkiolus dan
berakhir di alveolus.
Di dalam alveolus, butiran “debu” narkoba itu diserap oleh pembuluh darah kapiler,
kemudian dibawa melalui pembuluh darah vena ke jantung. Dari jantung, narkoba
disebar ke seluruh tubuh. Narkoba masuk dan merusak organ tubuh (hati, ginjal, paru,
usus, limpa, otak, dll).
Narkoba yang masuk ke dalam otak merusak sel otak. Kerusakan pada sel otak
menyebabkan kelainan pada tubuh(fisik) dan jiwa (mental dan moral). Kerusakan sel
otak menyebabkan terjadinya perubahan sifat, sikap, dan perilaku.
2. Melalui saluran pencernaan: dimakan atau diminum (ekstasi, psikotropika)
Narkoba masuk melalui saluran pencernaan setelah melalui mulut, diteruskan ke
kerongkongan, kemudian masuk ke lambung, dan diteruskan ke usus.
Di dalam usus hakus, narkoba dihisap oleh jonjot usus, kemudian diteruskan ke
dalam pembuluh darah kapiler, narkoba lalu masuk ke pembuluh darah balik,
selanjutnya masuk ke hati. Dari hati, narkoba diterskan melalui pembuluh darah ke
jantung, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Narkoba masuk dan merusak organ-
organ tubuh(hati, ginjal, paru-paru, usus, limpa, otak, dll).
Setelah di otak, narkoba merusak sel-sel otak. Karena fungsi hati dan peranan sel
otak, narkoba tersebut menyebabkan kelainan tubuh (fisik) dan jiwa (mental dan moral).

5
Cara pemakaian seperti ini mendatangkan reaksi setelah relatif lebih lama karena
jalurnya panjang.
3. Melalui aliran darah
Jalan ini adalah jalan tercepat. Narkoba langsung masuk ke pembuluh darah
vena, terus ke jantung dan seterusnya sama dengan mekanisme melalui saluran
pencernaan dan pernapasan.

4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Untuk menentukan pemakaian narkoba pada seorang individu, pemeriksaan
narkobaseringkali dilakukan menggunakan berbagai spesimen biologis seperti darah, urin,
cairanoral, keringat ataupun rambut.
a. Pemeriksaan Urin, Skrining dan Konfirmatori
Urin merupakan spesimen yang paling sering digunakan untuk pemeriksaan narkoba
rutin karena ketersediaannya dalam jumlah besar dan memiliki kadar obat dalamjumlah
besar sehingga lebih mudah mendeteksi obat dibandingkan pada spesimen lain.Teknologi
yang digunakan pada pemeriksaan narkoba pada urin sudah berkembang baik.Kelebihan
lain spesimen urin adalah pengambilannya yang tidak invasif dan dapat dilakukanoleh
petugas yang bukan medis. Urin merupakan matriks yang stabil dan dapat disimpanbeku
tanpa merusak integritasnya. Obat-obatan dalam urin biasanya dapat dideteksisesudah 1-
3hari. Kelemahan pemeriksaan urin adalah mudahnya dilakukan pemalsuandengan cara
substitusi dengan bahan lain maupun diencerkan sehingga mengacaukan hasilpemeriksaan.
Pemeriksaan narkoba seringkali dibagi menjadi pemeriksaan skrining dan
konfirmatori. Pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan awal pada obat pada golongan
yang besar atau metobolitnya dengan hasil presumptif positif atau negatif. Secara umum
pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan yang cepat, sensitif, tidak mahal dengan
tingkat presisi dan akurasi yang masih dapat diterima, walaupun kurang spesifik dan dapat
menyebabkan hasil positif palsu karena terjadinya reaksi silang dengan substansi lain
dengan struktur kimia yang mirip. Pada pemeriksaan skrining, metode yang sering
digunakan adalah immunoassay dengan prinsip pemeriksaan adalah reaksi antigen dan
antibodi secara kompetisi. Pemeriksaan skrining dapat dilakukan di luar laboratorium
dengan metode onsitestrip test maupun di dalam laboratorium dengan metode ELISA
(enzyme linked immunosorbent assay).
Pemeriksaan konfirmasi digunakan pada spesimen dengan hasil positif pada pemeriksaan
skrining. Pemeriksaan konfirmasi menggunakan metode yang sangat spesifik untuk
menghindari terjadinya hasil positif palsu. Metoda konfirmasi yang sering digunakan adalah

6
gas chromatography / mass spectrometry (GC/MS) atau liquid chromatography/mass
spectrometry (LC/MS) yang dapat mengidentifikasi jenis obat secara spesifik dan tidakdapat
bereaksi silang dengan substansi lain. Kekurangan metode konfirmasi adalah
waktupengerjaannya yang lama, membutuhkan ketrampilan tinggi serta biaya pemeriksaan
yang tinggi.
Panel pemeriksaan narkoba tergantung jenis narkoba yang banyak digunakan, tetapi
biasanya meliputi 5 macam obat yaitu amfetamin, kanabinoid, kokain opiat dan PCP. Obat
lain yang sering disalahgunakan seperti benzodiazepin sering pula diperiksakan. Pada
pemeriksaan narkoba baik untuk skrining maupun konfirmasi, telah ditetapkan standar
cutoff oleh NIDA untuk dapat menentukan batasan positif pada hasil pemeriksaan. Pada
tabel berikut disampaikan kadar cutoff pemeriksaan narkoba untuk skrining maupun
konfirmasi.
Tabel.1
Obat Kadar Skrining Kadar Konfirmasi
(ng/mL) (ng/mL)
THC 50 15
Metabolit Kokain 300 150
Metabolit Opiat 300 atau 2000 300 atau 2000
Morfin - 300 atau 2000
Kodein - 300 atau 2000
Phenicyclidin 25 25
Amfetamin 1000 500
Metamphetamin - 500
(Dasgupta)
Waktu deteksi obat dalam urin tergantung berbagai kondisi termasuk waktu paruh obat. Pada
tabel berikut disampaikan durasi deteksi obat dalam urin:
Tabel. 2
Obat Durasi Deteksi dalam Urin
Amfetamin dan metamfetamin 1-2 hari
Barbiturat 1-3 hari
Benzodiazepin Sampai 21 hari
Kanabinoid Sampai 60 hari
Kokain 1-3 hari
Methadon 1-3 hari

7
Opiat 1-3 hari
(Lum 2006)
Pada pemeriksaan dengan metode immunoassay dapat menyebabkan positif palsu karena
reaksi silang dengan substansi lain. Berbagai substansi yang dapat menyebabkan reaksi
silang pada pemeriksaan skrining disampaikan pada tabel berikut:
Tabel. 3
Jenis Obat Faktor Pengganggu
Opiat Quinolon (levofloxacin, ofloxacin)
Phencyclidine Antidepresan venlafaxine,
dextromethorphan, dyphenhydramin,
Ibuprofen
Methadon Antipsikotik atipik quetiapin
THC Antiretroviral efaviren, proton inhibitor
(pantoprazole)
Amfetamin Pil diet (clobenzorex), promethazin, i-
metamphetamin (otc nasal
inhaler), pseudoephedrin, ranitidin,
thioridazin
Benzodiazepin Oxaprozin, sertraline (zoloft)
(Stanridge 2010)
Dibandingkan berbagai spesimen yang digunakan untuk pemeriksaan narkoba, urin
merupakan spesimen yang paling mudah dimanipulasi. Manipulasi yang dilakukan
bertujuan mengubah hasil pemeriksaan. Secara umum, terdapat tiga jenis manipulasi pada
urin yang akan dilakukan pemeriksaan narkoba:
1. Menurunkan konsentrasi obat dengan cara mengkonsumsi obat untuk detoksifikasi
ataupun meminum air dalam jumlah besar
2. Menurunkan kadar obat dalam urin dengan cara menambahkan air pada urin yang
telah ditampung
3. Merusak obat atau mengubah pH sehingga mengganggu pemeriksaan dengan cara
menambahkan berbagai substansi seperti bahan kimia maupun produk detoksifikasi.
Untuk mengatasi pemalsuan urin, dapat dilakukan beberapa hal terutama dengan
pengawasan saat pengambilan urin dan melakukan mendeteksi penambahan zat-zat
manipulatif dalam sampel urin. Berbagai produk rumah tangga digunakan untuk
memalsukan spesimen urin seperti garam dapur, cuka rumah tangga, pemutih pakaian,
konsentrat jus jeruk, tetes mata dan sebagainya.
8
Berikut beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pemalsun
pada skrining narkoba pada urin.
1) Melepaskan pakaian luar yang tidak begitu berguna (jaket, syal dll)
2) Memindahkan benda/ substansi pada area pengambilan sampel yang dapat digunakan
untuk memalsukan urin (air, sabun cuci tangan)
3) Menaruh disinfektan berwarna biru pada air pembilas yang terdapat dalam area
pengambilan sampel
4) Meminta untuk mengeluarkan dan menyimpan barang-barang yang terdapat di saku
pasien
5) Menyimpan barang-barang pribadi dengan pakaian luar (tas, ransel)
6) Menginstruksikan pasien untuk mencuci tangan dan mengeringkannya (lebih baik
dengan sabun cuci tangan cair) dengan pengawasan dan tidak mencuci tangan sampai
pasien menyerahkan spesimen.
Terdapat pemeriksaan sederhana untuk mendeteksi adanya manipulasi ataupun
penambahan zat-zat yang mengganggu pemeriksaan. Kondisi urin berikut ini merupakan
keadaan normal, dan keadaan urin di luar kondisi berikut patut dicurigai terjadinya
manipulasi maupun substitusi urin:
1. Suhu urin harus dicatat dalam waktu 4 menit sesudah pengambilan sampel dengan
suhu di antara 32-380C dan tetap di atas 330C dalam waktu 15 menit.
2. pH urin normal berkisar antara 4,5-8
3. Berat jenis urin berkisar antara 1,002-1,020
4. Konsentrasi kreatinin lebih dari 20mg/dL
5. Tampilan urin normal (tidak berbusa, keruh, berwarna gelap atau sangat jernih dan
kuning muda)
Saat ini sudah terdapat test strip yang dapat mendeteksi penambahan zat-zat yang
dapat menyebabkan hasil pemeriksaan invalid atau negatif palsu. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan bila dicurigai kelainan integritas urin. Pada setiap test strip ini terdapat 7
bantalan untuk mendeteteksi kadar kreatinin, nitrit, glutaraldehid, pH, berat jenis,
oksidan dan piridinium chlorchromat pada urin.

b. Rapid Test
Dalam pemeriksaan narkoba ada beberapa cara salah satunya dengan menggunakan
Rapid Test. Rapid Test ini menggunakan Strip/Stick Test dan Card Test.
1. Strip/Stick Test

9
Dalam pemeriksaan Strip/Stick Test tersebut ada yang menggunakan 3 parameter
yaitu Amphetamine (AMP), Marijuana (THC), Morphine (MOP), dan ada yang
menggunakan 6 parameter yaitu Amphetamine (AMP), Methamphetamine (METH),
Cocaine (COC), Morphine (MOP), Marijuana (THC), dan Benzidiazephine (BZO).
Strip/Stick Test ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dibuat dalam
bentuk imunokromatografi kompetitif kualitif yang praktis, tidak memerlukan tenaga
terampil dan cepat (hasil dapat diperoleh dalam 3-10 menit). Dengan sampel urin teknik
ini memiliki sensitivitas sesuai dengan standard Nasional Institute on Drug Abuse
(NIDA, sekarang SAMHSA), dan dengan spesifisitas 99,7%.
Jika pada pemeriksaan Strip/Stick Test ini menggunakan metode
imunokromatografi kompetitif kualitif yang ditandai hasil positif dengan terbentuk hanya
1 garis yaitu pada area control, dan hasil negative dengan terbentuk 2 garis yaitu pada
area control dan test, dan invalid apabila terbentuk garis pada test atau garis tidak
terbentuk sama sekali.
Perlu diingat untuk pemeriksaan ini, pembacaan hasil harus dilakukan saat 5
menit dan tidak boleh melebihi 10 menit karena akan terbentuk hasil yang positif
palsu.
2. Card Test
Card Test ini sama dilakukan seperti Strip/Stick Test yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Yang membedakan, jika Strip/Stick Test ini dicelupkan pada wadah yang
sudah diisi dengan urin, sedangkan pada Card Test ini urin yang diteteskan pada zona
sample sekitar 3-4 tetes urin.

c. Tes Darah
Selain dilakukan pemeriksaan urin dan rapid test seperti Strip/Stick dan Card Test,
dapat dilakukan tes darah. Pada pengguna narkoba, akan didapat hasil SGOT dan SGPT
yang meningkat karena biasanya pemakaian narkoba dalam jangka panjang dapat
menyebabkan terjadinya hepatomegali.

d. Sampel Rambut
Cara ini dinilai lebih mantap dibandingkan tes urin untuk memastikan seseorang
pecandu narkoba atau tidak. Ada beberapa kelebihan dari analisis rambut bila
dibandingkan dengan tes urin. Salah satunya adalah narkoba dan metabolism narkoba
akan berada dalam rambut secara abadi dan mengikuti pertumbuhan rambut yang

10
berlangsung sekitar 1 inchi per 60 hari. Sedangkan, kandungan narkoba dalam urin
segera berkurang dan menghilang dalam waktu singkat.
Berikut ini disediakan tabel pemeriksaan tes darah dan tes rambut tentang
mendeteksi keberadaan narkoba.
Tabel. 4
Jenis Narkoba Tes Darah Tes Rambut
Amphetamin 12 jam Hingga 90 hari
Methamphetamin 1-3 hari Hingga 90 hari
Ekstasi (MDMA) 3-4 hari Hingga 90 hari
Cannabis 2-3 hari untuk pengguna Hingga 90 hari
ringan, 2 minggu untuk
pengguna berat
Kokain 2-10 hari Hingga 90 hari
Morfin 1-3 hari Hingga 90 hari
Metadon 24 jam Hingga 90 hari
PCP 1-3 hari Hingga 90 hari

5. PENATALAKSANAAN
Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan sampai
pemulihan (rehabilitasi).
1. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan:
a. Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA.
b. Deteksi dini perubahan perilaku.
c. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau “Katakan tidak pada narkoba”.
2. Pengobatan
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah
upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi tanpa subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami
gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya
dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
b. Detoksifikasi dengan substitusi
Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein,

11
bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari
jenis anti ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan
dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga
diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa
nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat
tersebut.
3. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui
pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita
sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin.
Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan
(Depkes, 2001).
Sesudah klien penyalahgunaan / ketergantungan NAPZA menjalani program
terapi (detoksifikasi) dan konsultasi medik selama minggu dan dilanjutkan dengan program
pemantapan (pasca detoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan dapat
melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2003).
Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada
jumlah dan kemampuan sumber daya, fasilitas, dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia
di rumah sakit. Menurut Hawari (2003), bahwa setelah klien mengalami perawatan selama
minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2
minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit, pusat rehabilitasi,
dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan
parameter sembuh menurut medis bias beragam 6 bulan dan 1 tahun, mungkin saja bisa
sampai 2 tahun.
Berdasarkan pengertian dan lama rawat di atas, maka perawatan di ruang rehabilitasi tidak
terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang detoksifikasi.
Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani
detoksifikasi sebagian besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA, oleh karena
rasa rindu (craving) terhadap NAPZA yang selalu terjadi (DepKes, 2001). Dengan
rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat:
o Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi
o Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA
o Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya
o Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik

12
o Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
o Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan
lingkungannya.

6. KOMPLIKASI
Komplikasi kesehatan yang diakibatkan dari penggunaan NAPZA,tidak hanya sakit secara
fisik, yang ditandai dengan berbagai penyakit fisik seperti, gangguan tidur, makan, paru-
paru, hati dan organ penting lainnya, tetapi secara psikis, pasien NAPZA juga tidak jarang
mengalami kecemasan yang berlebih, paranoid, halusinasi dan gangguan psikis lainnya. Hal
ini dapat berakibat pada terjadinya gangguan mental yang mengikutinya seperti penyakit
jiwa stress, depresi, skizofrenia yang seringkali menjadi diagnosis ganda bagi pasien
NAPZA. Demikian pula secara sosial dan spiritual pasien NAPZA merasa terasaing dari
komuniatas masyarakat dan tidak memiliki komitmen keagamaan yang kuat.

7. PROGNOSIS
Fokus awal tujuan pengobatan atau untuk mencapai pantang melalui pendekatan
pengurangan dampak buruk (Denning, 2000), tujuan akhir dari penyalahgunaan zat
pengobatan adalah untuk membantu klien berpartisipasi dalam proses pemulihan.
Penyembuhan, seperti yang ditandai di sini, bukanlah proses satu langkah, ini tidak hanya
terjadi karena klien dilarang dari semua penggunaan narkoba. Sementara satu atau dua
tahun larangan itu adalah kriteria dalam program pemulihan penyalahgunaan zat yang
digunakan untuk mengukur keberhasilan, ini bukan "pemulihan" dalam arti dinamis dan
holistik. Sebaliknya, pemulihan dari ketergantungan obat adalah hal "sulit”, proses yang
berkelanjutan, di mana ketika kambuh kembali ke penggunaan bahan kimia aktif adalah
bahaya yang konstan” (Doweiko, 1999, hal. 399) .
Pemulihan melibatkan mengubah gaya hidup seseorang, sikap, kepercayaan, dan
perilaku. Tujuan pemulihan dari gaya hidup ketergantungan obat adalah mengubah
kehidupan seseorang untuk mencapai identitas-baru yang tidak termasuk penggunaan
narkoba. Pencapaian tujuan ini memerlukan lebih dari sekedar berpantang dari zat. Hal ini
membutuhkan perubahan besar dan mendasar dalam cara orang melihat diri mereka sendiri
dan orang lain.

13
B. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas klien

Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang
identitas klien ( nama klien, jenis kelamin, usia, pendidikan ), alasan masuk biasanya karena timbul
gejala-gejala penyalahgunaan zat, atau mungkin klien mengatakan tidak tau, karena yang
membawanya ke rumah sakit adalah keluarganya tanyakan kepada keluarganya.

b. Faktor predisposisi

kaji hal-hal yang menyebabkan perubahan perilaku klien baik dari klien maupun keluarga

c. Fisik

pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ akibat gejala yang timbul dari
penyalahgunaan zat seperti tanda-tanda vital, berat badan, dan lain-lain.

d. Psikososial

 Genogram

Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien
dan keluarga.

 Konsep diri

Gambaran diri : Klien mungkin merasa tubuhnya baik-baik saja

Identitas : Klien mungkin kurang puas terhadap dirinya sendiri

Peran : Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara

Ideal diri : Klien menginginkan keluarga dan orang lain menghargainya

Harga diri : Kurangnya penghargaan keluarga terhadap perannya

 Hubungan sosial

Klien penyalahgunaan zat biasanya menarik diri dari aktivitas keluarga maupun
masyarakat. Klien sering menyendiri, menghindari kontak mata langsung, sering berbohong dan
lain sebagainya.

 Spiritual

14
Nilai dan keyakinan : Menurut masyarakat, penyalahgunaan tidak baik untuk kesehatan.

Kegiatan ibadah : Tidak lagi menjalankan ibadah sebagaimana semestinya.

e. Status Mental

 Penampilan.

Penampilan tidak rapi, tidak sesuai dan cara berpakaian tidak seperti biasanya dijelaskan.

 Pembicaraan

Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah cepat, keras, gagap, membisu,
apatis dan atau lambat. Biasanya klien menghindari kontak mata langsung, berbohog atau
memanipulasi keadaa, bengong/linglung.

 Aktivitas motorik

Klien biasanya menunjukkan keadaan lesu, tegang, gelisah, agitasi, Tik, grimasen,
termor dan atau komfulsif akibat penggunaan atau tidak menggunakan.

 Alam perasaan.

Klien bisa menunjukkan ekspresi gembira berlebihan pada saat mengkonsumsi jenis
psikotropika atau mungkin gelisah pada pecandu shabu.

 Afek

Pada umumnya, afek yang muncul adalah emosi yang tidak terkendai. Afek datar
muncul pada pecandu morfin karena mengalami penurunan kesadaran.

 lnteraksi selama wawancara

Secara umum, sering menghindari kontak mata dan mudah tersingung. Pecandu
amfetamin menunjukkan perasaan curiga.

 Persepsi.

Pada pecandu ganja dapat mengalami halusinasi pengelihatan

 Proses pikir

Klien pecandu ganja mungkin akan banyak bicara dan tertawa sehingga menunjukkan
tangensial. Beberapa NAPZA menimbulkan penurunan kesadaran, sehingga klien mungkin
kehilangan asosiasi dalam berkomunikasi dan berpikir.

15
 lsi pikir

Pecandu ganja mudah percaya mistik, sedangkan amfetamin menyebabkan paranoid


sehingga menunjukkan perilaku phobia. Pecandu amfetamin dapat mengalami waham curiga
akibat paranoidnya.

 Tingkat kesadaran

Menunjukkan perilaku bingung, disoreientasi dan sedasi akibat pengaruh NAPZA.

 Memori.

Golongan NAPZA yang menimbulkan penurunan kesadaran mungkin akan


menunjukkan gangguan daya ingat jangka pendek.

 Tingkat konsentrasi dan berhitung

Secara umum klien NAPZA mengalami penurunan konsentrasi. Pecandu ganja


mengalami penurunan berhitung.

 Kemampuan penilaian

Penurunan kemampuan menilai terutama dialami oleh klien alkoholik. Gangguan


kemampuan penilaian dapat ringan maupun bermakna.

 Daya tilik diri

Apakah mengingkari penyakit yang diderita atau menyalahkan hal-hal diluar dirinya.

f. Kebutuhan Persiapan Pulang

Lakukan observasi tentang:

1. Makan

2. BAB/BAK,

3. Mandi

4. Berpakaian

5. lstirahat dan tidur

6. Penggunaan obat

7. Pemeliharaan kesehatan

8. Kegiatan di dalam rumah


16
9. Kegiatan di luar rumah

g. Mekanisme Koping

Maladaptif.

h. Masalah Psikososial dan Lingkungan

Klien tentu bermasalah dengan psikososial maupun lingkungannya.

2. Diagnosa

 Resiko perilaku kekerasan


 gangguan presepsi sensori b.d perubahan sensori presepsi

3. Intervensi dan implementasi

 Risiko perilaku kekerasan


Noc :
1. Menahan diri dari memutilasi
Tindakan pribadi untuk menahan diri dari sengaja melukai diri sendiri (tidak
mematikan)
Indikator:
1. Menahan diri dari dari mengumpulkan niat untuk melukai diri sendiri
2. Memperoleh bantuan yang diperlukan
3. Memegang janji untuk tidak menyakiti diri sendiri
4. Berpartisipasi dalam aktivitas yang meningkatkan kesehatan

Nic :

1. Perawatan penggunaan zat terlarang


Perawatan bagi klien dan anggota keluarga yang menunjukan disfungsi akibat
penyalahgunaan maupun ketergantungan zat terlarang.
Aktivitas-aktivitas:
1. pertimbangkan adanya penyakit penerta maupun adanya penyakit jiwa atau kondisi
medis menyertai yang membuat adanya perubahan dlm hal perawatan.
2. tingkatkan hubungan saling percaya dengan membuat batasan yang jelas.
Dorong pasien untuk menjaga grafik rinci penggunaan zat untuk
mengevaluasi kemajuan
 gangguan presepsi sensori b.d perubahan sensori presepsi

NOC :
17
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..........x 24 jam, diharapakan
gangguan persepsi sensori teratasi.

Kriteria hasil:

- Sensori function : hearing


- Sensori function : vision
- Sensori function : taste and smell

Menunjukan tanda dan gejala persepsi dan sensori baik : penglihatan, pendengaran,
makan, dan minum baik.

Mampu mengungkapkan fungsi persepsi dan sensori dengan tepat

NIC:

- Monitor tingkat neurologis


- Monitor fungsi neurologis klien
- Monitor respon neurologis
- Monitor reflek-reflek meningeal
- Monitor fungsi sensori dan persepsi : penglihatan, penciuman, pendengaran,
pengecapan, rasa
- Monitor tanda dan gejala penurunan neurologis klien
4. Evaluasi

Evaluasi kemamapuan klien dalam mengatasi keinginan menggunakan zat misalnya


dalam pikiran klien sudah tergambar masa depan yang lebih baik (tanpa zat), hdup yang
lebih berharga dan keyakinan tidak akan lagi menggunakan zat. Perilaku klien untuk
mengatakan tidak terhadap tawaran penggunaan zat dan menyuruh pergi. Evaluasi apakah
hubungan klein dengan keluarga sudah terbina saling percaya dan kesempatan untuk saling
mendukung melakukan komunikasai yang lebih efektif untuk sama-sama mengatasi
keinginan menggunakan zat lagi oleh klien, serta masalah yang timbul akibat penggunaan
zat.

18
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Pokok Bahasan : Penyalahgunaan zat

Sub pokok bahasan : akibat dari penyalahgunaan Narkoba

Sasaran : Masyarakat Kapalo koto

Target : orangtua anak

Waktu : 60 menit

Hari/tanggal : Sabtu/15 september 2018

Tempat : Balai Desa

Penyuluh : Mahasiswa keperawatan Universitas Andalas

I. Tujuan
1.1.Tujuan umum
Setelah mendapat penyuluhan selama 60 menit tentang akibat penyalahgunaan zat
terhadap tubuh , keluarga memahami bahaya penyalahgunaan zat bagi tubuh.
1.2. Tujuan khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan satu kali diharapkan peserta penyuluhan mampu :
a. Memahami tentang pengertian penyalahgunaan zat
b. Mengetahui Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan NARKOBA
c. Mengetahui akibat penyalahgunaan narkoba
d. Memahami Peran Orang Tua Dalam Mencegah Dan Menanggulangi
Penyalahgunaan Narkoba.

II. Materi
1. Pengertian penyalahgunaan zat
2. Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan NARKOBA
3. akibat penyalahgunaan narkoba
4. Peran Orang Tua Dalam Mencegah Dan Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba.

III. Media
 LCD
19
IV. Metode Penyuluhan
Ceramah dan tanya jawab

V. Setting tempat

PENYULUH
MODERATOR
MEJA

FASILITATOR E S E R T A
P FASILITATOR

FASILITATOR

OBSERVER

VI. Pengorganisasian
a. Moderator : hertati Mengatur jalan nya penyuluhan
b. Penyuluh : desrila indra sari Memberikan materi penyuluhan
c. Fasilitator : serly berlian, clarissa pramestya, khairunnisa Membantu para peserta
bila ingin bertanya dan hal lainnya
d. Observer : annazhifa A boestari Memperhatikan jalannya penyuluhan dari belakang

VII. Kegiatan penyuluhan

no Kegiatan Respon peserta Waktu

1 Pendahuluan a. Membalas salam 10 menit

a. Penyampaian salam b. Memperhatikan

20
b. Perkenalan c. Memperhatikan

c. Menjelaskan topic penyuluhan d. Memperhatikan

d. Menjelaskan tujuan e. Memperhatikan

e. Menjelaskan waktu pelaksanaan

2 Penyampaian materi 1. Memperhatikan 45 menit


penjelasan dan
1. Materi
mencermati

a. Pengertian penyalahgunaan zat materi

b. Faktor-Faktor Penyebab 2. Bertanya


Penyalahgunaan NARKOBA
3. Memperhatikan
c. akibat penyalahgunaan narkoba
jawaban
d. Peran Orang Tua Dalam
Mencegah Dan Menanggulangi
Penyalahgunaan Narkoba.
e. Kesimpulan

2. Memberikan kesempatan untuk


bertanya

3. Menjawab pertanyaan peserta

3 Penutup a. Memperhatikan 5 menit

a. Menyimpulkan hasil penyuluhan b. Menjawab salam

b. Mengahiri dengan salam

VIII. Evaluasi
1. Dari penyuluhan yang saya sampaikan , siapa yang bisa menjelaskan lagi tentang
pengertian penyalahgunaan zat ?
2. Apa saja Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkoba ?
3. Apa akibat penyalahgunaan narkoba?

21
4. Bagaimana Peran Orang Tua Dalam Mencegah Dan Menanggulangi Penyalahgunaan
Narkoba?

MATERI PENYULUHAN

1. pengertian

Menurut rumusan WHO (Hawari, 1991 dalam Afiatin 2000) mendefinisikan


penyalahgunaan zat sebagai pemakaian zat yang berlebihan secara terus-menerus atau
berkala di luar maksud medik. Sedangkan Wicaksono (1996), Holmes (1996) dan Hawari
(2004) mendefinisikan penyalahgunaan zat sebagai pola penggunaan yang bersifat patologik
paling sedikit satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi social dan
okupasional (pekerjaan dan sekolah). Pola penggunaan zat yang patologik dapat berupa
intioksinasi sepanjang hari terus-menerus menggunakan zat tersebut, meskipun pengguna
mengetahui bahwa dirinya sedang menderita sakit fisik yang berat akibat zat tersebut, atau
adanya kenyataan bahwa tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut
(dalam Afiatin, 2000).
Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai
setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering
dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya meruju pada perilaku psikososial yang
berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik
terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang
diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart &
Sundeen, 1998).
2. Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan NARKOBA

Terdapat 2 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai “ pemicu” seseorang dalam
penyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan,
dan faktor kesediaan narkoba itu sendiri :

1. Faktor Diri
a) Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau brfikir panjang tentang
akibatnya dikemudian hari.
b) Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
c) Keinginan untuk bersenang-senang.
d) Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau lingkungan
tertentu.
22
e) Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant (perangsang).
f) Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.g.Mengalami kelelahan dan
menurunya semangat belajar.h.Menderita kecemasan dan kegetiran
g) Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke arahpenya
lahgunaan narkoba.
h) Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
i) Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat
penghilangrasa lapar yang berlebihan.
j) Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam lingkungan
keluargaatau lingkungan pergaulan.
k) Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
l) Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
m) Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan menimbulkan
masalah.
n) Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok
pergaulanuntuk menggunakan narkoba.
o) Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.
2. Faktor Lingkungan
a) Keluarga bermasalah atau broken home.
b) Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna atau
bahkanpengedar gelap nrkoba.
c) Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau
bahkan semuaanggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba
d) Sering berkunjung ke tempat hiburan (café, diskotik, karoeke, dll.).
e) Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
f) Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.
g) Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi, keterbukaan,
perhatian, dansaling menghargai di antara anggotanya.
h) Orang tua yangOtoriter.
i) Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang/tanpa
pengawasan.
j) Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar rumah.
k) Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
l) Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi, tidak
ada hubunganprimer, ketidakacuan, hilangnya pengawasan sosial dari

23
masyarakat, kemacetan lalu lintas,kekumuhan, pelayanan public yang buruk, dan
tingginya tingkat kriminalitas.
m) Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran

3. Akibat Penyalahgunaan Narkoba

 Bagi diri sendiri


a) Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja seperti :
 Daya ingat sehingga mudah lupa
 Perhatian sehingga sulit berkonsentrasi
 Perasaan sehingga tidak dapat bertindak rasional dan impulsive
 Persepsi sehingga memberi perasaan semu/khayal
 Motivasi sehingga keinginan dan kemampuan belajar merosot, persahabatan rusak,
minatdan cita-cita semula padam
b) Intoksikasi (keracunan)Yaitu gejala yang timbul akibat pemakaian narkoba dalam jumlah
yang cukup berpengaruhpada tubuh dan perilakunya. Gejalanya tergantung jenis, jumlah
dan cara penggunaannya.
c) Over dosisDapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernafasan (heroin) atau
perdarahan otak(amfetamin,sabu). Over dosis terjadi karena toleransi maka perlu dosis yang
lebih besar, ataukarena sudah lama berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang
dahulu digunakan.
d) Gejala putus zatYaitu gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan
pemakiannya. Berat ringangejala bergantung jenis zat, dosis dan lama pemakaian.
e) Berulangkali kambuhYaitu ketergantungan yang menyebabkan craving
(rasa rindu pada narkoba), walau telahberhenti pakai. Narkoba dan perangkatnya seperti
kawan-kawan sesama pemakai, suasanadan tempat-tempat penggunaannya dahulu
mendorong untuk memakai narkoba kembali. Itusebabnya pecandu akan berulang kali
kambuh.
f) Gangguan perilaku/mental-sosialSikap acuh tak acuh, sulit mengendalikan diri, mudah
tersinggung, menarik diri dari pergaulan, hubungan dengan keluarga dan teman terganggu,
terjadi perubahan mental diantaranya gangguan pemusatan perhatian, motivasi
belajar/bekerja lemah, ide paranoid, gejala parkinson.
g) Gangguan kesehatanYaitu kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh seperti hati,
jantung, paru, ginjal, kelenjar endokrin, alat reproduksi, infeksi hepatitis B/C, HIV/AIDS,
penyakit kulit dan kelamin, kurang gizidan gigi berlubang.

24
h) Kendornya nilai-nilaiMengendornya nilai-nilai kehidupan agama, sosial, budaya seperti
perilaku seks bebas denganakibatnya (penyakit kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan),
sopan santun hilang, menjadiasosial, mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan
kepentingan orang lain.
i) Keuangan dan hukumYaitu keuangan menjadi kacau karena harus memenuhi kebutuhan
akan narkoba. Itu sebabnyaia akan mencuri, menipu dan menjual barang-barang milik
sendiri atau orang lain. Jika masih sekolah,uang sekolah digunakan untuk membeli narkoba
sehingga akan terancam putus sekolah. Dapat juga malakukan tindakan kriminal sehingga
bisa terkena sanksi hukum (ditahan,dipenjara atau didenda).
 Bagi keluarga

Suasana hidup nyaman dan tentram menjadi terganggu, membuat keluarga resah
karena barang-barang berharga di rumah hilang. Anak berbohong, mencuri, menipu,
bersikap kasar, acuh tak
acuh dengan urusan keluarga, tidak bertanggung jawab, hidup semaunya dan asosial.Orang
tua menjadi malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah, tetapi juga sedih
danmarah. Perilakunya ikut berubah sehingga fungsi keluarga terganggu. Orang tua menjadi
putus asakarena masa depan anak tidak jelas, stres meningkat dan membuat kehidupan
ekonomi morat-marit, pengeluaran uang meningkat karena pemakaian narkoba atau karena
harus berulang kalidirawat dan bahkan mungkin mendekam di penjara.

 Bagisekolah
Penyalahgunaan narkoba juga berkaitan dengan kenakalan dan putus sekolah, kemungkinan
siswa penyalahguna narkoba membolos lebih besar dari siswa lain.Penyalahgunaan narkoba
juga berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yangmengganggu suasana
tertib dan aman, perusakan barang-barang milik sekolah, meningkatnyaperkelahian. Mereka
juga menciptakan iklim acuh tak acuh dan tidak menghormati pihak lain.
Banyak diantara mereka menjadi pengedar atau pencuri barang milik teman atau karyawan
sekolah.

4. Peran Orang Tua Dalam Mencegah Dan Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba.

Orang tua dapat berperan dalam mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan


narkoba dengan jalan melaksanakan tugas sebagai berikut:

 Mengajarkan standar perilaku benar/salah dan baik/buruk serta menunjukkan keteladanan


dalamstandar perilaku tersebut dengan cara :
- Menjadi contoh yang baik bagi anak dan tidak memakai narkoba
25
- Menjelaskan sedini mungkin kepada anak sampai remaja bahwa penyalahgunaan
narkoba tidakdapat dibenarkan dan berbahaya
- Mendisiplinkan anak dengan memberi tugas harian untuk melatih tanggung jawab atas
kegiatandan perilakunya sehari-hari
- Mendorong anak agar berdiri teguh jika menghadapi tekanan kelompok sebaya untuk
memakainarkoba.
 Membantu anak menolak tekanan kelompok sebaya untuk memakai narkoba, mengawasi
kegiatan, mengetahui teman-teman anak dan berbicara dengan mereka mengenai minat dan
permasalahannya dengan cara :
- Mengetahui kegiatan anak sehari-hari dan teman-temannya
- Meningkatkan komunikasi keluarga dan mendengarkan anak secara aktif
- Membahas hal-hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkoba
- Bersikap selektif terhadap acara televisi dan film yang ditonton annak.

26
BAB III
ANALISIS JURNAL

Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling


Volume 2 Nomor 1 Juni 2016. Hal 26-32
p-ISSN: 2443-2202 e-ISSN: 2477-2518
Homepage: http://ojs.unm.ac.id/index.php/JPPK

Penyalahgunaan napza di kalangan remaja


(studi kasus pada 2 Siswa di MAN 2 Kota Bima)
Alya Nurmaya

Bimbingan dan Konseling, STKIP Bima


Email: nurmaya_alya@yahoo.com

(Diterima: 02-April-2016; di revisi: 10-Juni-2016; dipublikasikan: 28-Juni-2016)

Abstract. This research used qualitative approach, it is a case study using interview,
observation, and doumentation as the technique in data collection. The research subject
had been chosen through purposing sampling. The data was analyzed using triangulation
technique and member checked. The findings shows that (i) The factors caused NAPZA
abused to the first subject are the individual personality and peer. Whilst the factors
caused NAPZA abused in the second subject are family (broken home family) and the
environment. (ii) Napza abused caused negative impact to the physical, phsycological,
social and spiritual of a person that can affect the learning achievement to both subjects
in school. (iii) The guidance and counseling teacher treatment to both subjects that had
already got NAPZA abused was done through giving information, individual
counseling, home visit and do sweeping. However, those treatments had not been
suceessfully applicable because NAPZA cases should get more serious attention in the
way we give treatment. As the result we need a professional and representative therapy
and rehablitationcenter.

Keywords: NAPZA Abused;Adolescents.

Abstrak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus
dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek
penelitian dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan teknik
trianggulasi dan member cek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (i) Faktor penyebab
penyalahgunaan NAPZA pada subyek pertama yaitu faktor individu (kepribadian) dan
faktor lingkungan pergaulan (teman sebaya). Sedangkan faktor penyebab penyalahgunaan
NAPZA pada subyek kedua yaitu faktor keluarga (broken home) dan faktor lingkungan
tempat tinggal. (ii) Penyalahgunaan NAPZA berdampak negatif pada fisik, psikologis,
sosial dan spiritual sehingga berpengaruh pada hasil prestasi belajar kedua subyek di
sekolah. (iii) Upaya guru bimbingan dan konseling terhadap kedua subyek yang sudah
terlanjur menyalahgunakan NAPZA dilakukan melalui layanan informasi, konseling
individual, home visit dan mengadakan razia. Namun hal tersebut belum maksimal,
karena masalah NAPZA seharusnya perlu mendapatkan perhatian lebih serius dalam
27
penanganannya, untuk itu dibutuhkan tempat terapi dan rehabilitasi yang secara
professional dapatdipertanggungjawabkan.

Kata Kunci: Penyalahgunaan NAPZA; Remaja.

Copyright © 2016 Universitas Negeri Makassar. This is an open access article under the CC BY-
NC-ND license (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).

28
PENDAHULUAN Studi identifikasi di MAN 2 kota Bima
peneliti lakukan melalui wawancara dan
observasi awal dengan guru bimbingan dan
Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia saat konseling pada bulan Januari 2015. Hasil
ini sangat memprihatinkan, terlihat dengan wawancara dengan guru bimbingan dan kon-
makin banyaknya pengguna NAPZA dari semua seling yang berinisial HN menyatakan bahwa
kalangan. Namun yang lebih memprihatinkan kedua siswa terlibat dalam kasus
penyalahgunaan NAPZA saat ini justru banyak penyalahgunaan NAPZA. Kemudian hasil obser-
dilakukan oleh kalangan remaja (BNN, 2011). vasi di lapangan peneliti menyimpulkan bahwa
Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa siswa yang berinisial AD menunjukkan sikap dan
di masa depan. Para pecandu NAPZA itu pada perilaku kurang disiplin, suka membolos, sering
umumnya berusia 11 sampai 24 tahun artinya
bepergian sampai larut malam, begadang, mudah
usia tersebut tergolongkan usia produktif atau tersinggung dan sulit berkonsentrasi. Sementara
usiapelajar. siswa AN menunjukkan sikap dan perilaku
Hasil penelitian yang dilakukan Dadang kecenderungan berbohong, prestasi di sekolah
Hawari (Mahi 2008: 46) diperoleh data dan menurun, malas belajar, tidak mengerjakan tugas
kesimpulan bahwa pada umumnya kasus sekolah, mengantuk dikelas, kadang tidak pulang
penyalahgunaan NAPZA dilakukan pada usia tanpa ijin, minta banyak uang dengan berbagai
remaja yakni sebanyak 97% karena pada masa alasan tapi tidak jelas penggunaannya, suka
remaja sedang mengalami keadaan emosional bengong ataulinglung.
yang labil dan mempunyai keinginan besar untuk Penentuan dua siswa sebagai kasus dalam
mencoba serta mudah terpengaruh oleh penelitian ini berdasarkan pertimbangan:
lingkungan dan temansebaya.
pertama, subyek tergolong masih terlibat dalam
Di kalangan para pelajar terutama bagi penyalahgunaan NAPZA; kedua, subyek ber-
mereka yang berada di bangku SMP maupun sedia dan mempunyai waktu memadai untuk
SMA biasanya diawali dengan perkenalannya dimintai informasi; ketiga, subyek bersedia
dengan rokok dan terlanjur kebiasaan karena memberikan informasi yang dibutuhkan selama
kebiasaan merokok ini, menjadi hal yang wajar penelitian; keempat, subyek memiliki prestasi
di kalangan pelajar saat ini kemudian berlanjut yang sangat rendah dan tercatat sebagai siswa
mengonsumsi NAPZA. Hal ini terjadi biasanya yang paling sering mendapat surat panggilan
karena penawaran, bujukan, atau tekanan untuk orangtua.
seseorang atau sekelompok orang kepadanya, Peran guru pembimbing sangat menentukan
misalnya oleh kawan sebayanya atau bisa saja dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA
stress yang berkepanjangan, kurangnya perhatian di sekolah atau meminimalkan faktor penyebab
orang tua, keretakan rumah tangga/broken home terjangkitnya NAPZA tersebut. Keberadaan dan
dan sekaligus didorong rasa ingin tahu, ingin
peranserta guru pembimbing di sekolah sangat
mencoba, atau inginmemakai.
diperlukan.
Berdasarkan informasi dari Kauf Bin Ops
Keterlibatan remaja dalam penggunaan
Satuan Unit Narkoba Polres kota Bima bapak
NAPZA menjadi momok penting di kalangan
AIPDA Hanafi, bahwa wilayah barat kota Bima
masyarakat, bangsa dan Negara karena pada
menjadi sentral dan basis peredaran dan
penyalahgunaan NAPZA, sehingga sekolah dasarnya remaja merupakan ujung tombak bagi
Madrasah Aliyah Negeri 2 kota Bima yang perkembangan dan kemajuan bangsa dan Negara.
terletak di jalan Mongonsidi kecamatan Rasanae Hal itu dapat terjadi karena belum mampu
Barat menjadi salah satu pertimbangan berfikir positif. Kemampuan untuk berpikir dan
dipilihnya lokasi penelitian. Khusus wilayah kota berperilaku positif dari kecil akan mempengaruhi
Bima, kasus penyalahgunaan NAPZA yang pertumbuhan dan performa individu ketika
dilakukan oleh remaja usia sekolah usia 18 tahun dewasa. Proses konseling dan mentoring selan-
ke bawah pada tahun 2014 sebanyak 5 kasus dan jutnya perlu memperhatikan preferensi dan
di tahun 2015 yang terdata baru 2 kasus. kecenderungan klien atau mentee dalam menaruh
Lanjutnya, wilayah kota Bima sebagai peringkat ekspektasi pada lingkungannya (Kiling et al.,
kedua terparah setelah Mataram untuk 2015)
penyebaran dan peredaran NAPZA wilayah Dengan melihat kenyataan yang terjadi,
NTB. maka peneliti tertarik untuk melakukan

27
pengkajian lebih dalam penyalahgunaan NAPZA satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala
di kalangan remaja sebagai sebuah studi kasus. atau teratur diluar indikasi medis, sehingga
Penelitian ini bertujuan: (1) untuk menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis
mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan dan gangguan fungsi sosial, 3) Remaja adalah
siswa melakukan penyalahgunaan NAPZA. (2) pribadi yang terus berkembang menuju
untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan kedewasaan, dan sebagai proses perkembangan
oleh penyalahgunaan NAPZA. (3) untuk menge- yang berjalan natural, dan sedang studi ditingkat
tahui upaya guru bimbingan dan konseling SMA jenjang pendidikan.
terhadap siswa yang menyalahgunakanNAPZA. Dalam penelitian kualitatif instrument
utamanya adalah peneliti itu sendiri, maka teknik
METODE pengumpulan data yang digunakan (Moleong,
2010) adalah: obsevasi, wawancara dan
Pendekatan yang digunakan dalam dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. 2 orang siswa di Madrasah yang dipilih secara
pertimbangannya karena peneliti ingin purposive sampling yaitu teknik pengambilan
mendapatkan gambaran serta informasi yang sumber data dengan mengkhususkan pada
mendalam mengenai penyalahgunaan NAPZA subyek yang mengalami masalah yang diteliti
dikalangan remaja. Jenis penelitian ini adalah (Moleong, 2007). Kriteria yang dipakai memilih
penelitian studi kasus. Adapun alasan penelitian subyek penelitian ini yakni subyek yang
ini menggunakan pendekatan studi kasus karena mengalami masalah penyalahgunaan NAPZA.
metode ini dapat digunakan sebagai alat analisis Analisis data dalam penelitian ini menggunakan
maupun metode untuk memadukan semua data Model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2010)
yang terdiri dari catatan komprehensif. Lokasi terdiri dari tiga langkah meliputi reduksi data,
penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah penyajian data dan penarikan kesimpulan. Salah
Negeri (MAN) 2 Kota Bima. Menghindari satu cara uji kredibilitas data atau kepercayaan
perbedaan persepsi terhadap fokus penelitian, terhadap data hasil penelitian kualitatif antara
maka dikemukakan deskripsi fokus penelitian lain dilakukan dengan trianggulasi dan member
atau yaitu: (1) NAPZA adalah singkatan dari check (Moleong,2010).
narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya
meliputi zat alami atau sintesis yang bila
dikonsumsi menimbulkan perubahan fungsi fisik HASIL DAN PEMBAHASAN
dan psikis serta menimbulkan ketergantungan,
(2) Penyalahgunaan adalah penggunaansalah Subyek pertama

Tabel 1.3 Tahapan pemakain, jenis NAPZA dan gejala


Subyek Usia Tahapan Jenis Gejala
Pemakaian NAPZA
AD 18 tahun Sosial use Tramadol Pusing, ngantuk, mulut
kering danberkeringat.

Subyek pertama berusia 18 tahun pertama kemudian kelas satu Madrasah mulai
merupakan anak sulung dari dua bersaudara, mengkonsumsi alkohol dan mengenal obat-
adiknya duduk dibangku kelas dua sekolah obatan. Sebelum menggunakan NAPZA AD
menengah pertama sementara AD sekarang adalah anak yang rajin ibadah, sopan, jujur dan
dikelas dua Madrasah. Kehidupan keluarga AD tidak pernah meninggalkan sekolah serta
sangat sederhana, Ibu bekerja sebagai penjual memiliki kepribadian yang baik. Namun setelah
ikan di pasar raya Bima sementara bapak bekerja terlibat dalam penyalahgunaan NAPZA AD
sebagai petani. Orang tua pun sangat mendukung berubah menjadi malas untuk belajar, sering
penuh pendidikan AD dengan memberikan mengantuk dan bosan di dalam kelas, jadi brutal
fasilitas kendaraan bermotor untuk memudahkan dan jarang beribadah.
semua aktifitas AD di sekolah. AD mengenal dan Tahapan pemakaian NAPZA pada subyek
mencoba rokok saat kelas dua sekolah menengah pertama AD adalah Social Use (pemakaian

28
sosial), tujuannya untuk bersenang-senang pada opiate (mirip morfin), termasuk psikotropika
saat rekreasi atau santai dan karena terpengaruh golongan IV yang memiliki daya adiksi ringan.
lingkungan sosial atau pergaulan. Jenis NAPZA
yang dipakai oleh AD adalah tramadol Subyek kedua
merupakan salah satu obat analgesik/antisakit

Tabel 1.7 Tahapan pemakain, jenis NAPZA dan gejala

Usia Tahap Jenis Gejala


Subyek
pemakaian NAPZA

AN 17 tahun Situasi Use Ganja Kantung mata membengkak dan merah,


bengong, sulit konsentrasi, perasaan
menjadi gembira, selalu tertawa tanpa
sebab, ingin tidur terus dan nafsu makan
besar.

AN berusia 17 tahun merupakan anak ibadah. Setelah menggunakan NAPZA berubah


bungsu dari empat bersaudara. Orang tua menjadi anak yang sangat tertutup dan pendiam,
berpisah sejak tahun 2009 saat AN duduk dikelas menjadi malas ke sekolah, sering berbohong dan
empat sekolah dasar. AN dibesarkan dalam malas untuk belajar sehingga banyak mata
keluarga yang broken home (bercerai) sementara pelajaran yang tidak tuntas dan berpengaruh pada
bapak bekerja sebagai pegawai Negeri sipil dan nilai hasil belajarnya serta semakin jauh dari
ibu wiraswasta. Sejak orang tua berpisah AN agama.
kehilangan figur dan sosok seorang bapak Tahapan pemakaian NAPZA pada AN
sehingga tumbuh dan besar tanpa pengawasan adalah Situasional Use yaitu penggunaan zat
orang tua dan menjadikan AN anak yang sulit di pada saat mengalami ketegangan, kekecewaan,
atur. AN mengenal dan mulai merokok saat kelas kesedihan dan sebagainya dengan maksud
dua sekolah menengah pertama kemudian menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Jenis
berlanjut dikelas tiga mencoba obat-obatan dan NAPZA yang dipakai oleh AN adalah ganja
alkohol. Sebelum menggunakanNAPZA. termasuk narkotiika golongan I, memiliki daya
AN adalah anak yang aktif dan sering adiksi sangattinggi.
terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti a. Faktor-faktor penyebab penyalahgunaan
olahraga basket tetapi jarang melaksanakan NAPZA

Tabel 1.4 Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada subyek pertama


Subyek Faktor penyebab
AD - Faktor individu (kepribadian).
- Faktor lingkungan pergaulan (pengaruh temansebaya)

Tabel 1.8 Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada subyek kedua


Subyek Faktor penyebab
AN - Faktor keluarga (broken home).
- Faktor lingkungan tempattinggal
Faktor individu merupakan salah satu bahaya yang ditimbulkan oleh NAPZA. Hal
bagian dari penyebab terjadinya penyalahgunaan tersebut di atas sesuai dengan pendapat Gunarsa
NAPZA. Individu yang mencoba-coba (Hikmat 2008) bahwa pada usia remaja terjadi
menggunakan NAPZA biasanya memiliki sedikit perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang
pengetahuan akan NAPZA serta efek-efek

29
dapat mendorong seseorang untuk menya- pendapat Nugroho Penelitian Hawari (2006)
lahgunakanNAPZA. menjelaskan bahwa remaja dengan kondisi
Faktor lingkungan pergaulan (teman keluarga yang tidak harmonis mempunyai resiko
sebaya). pendapat Papalia dan Olds (2001) yang relatif 7.9 kali untuk menyalahgunakan NAPZA.
menyatakan bahwa kelompok teman sebaya Kebiasaan meng-konsumsi NAPZA
merupakan sumber referensi utama bagi remaja ditentukan oleh dimana dan dengan siapa
dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan individu tinggal. Individu yang tinggal
dengan gaya hidup. dilingkungan budaya yang permisif terhadap
Beberapa remaja mengalami tekanan penggunaan NAPZA maka kecen-derungan
psikologi ketika di rumah diakibatkan adanya individu untuk menggunakan NAPZA juga
perceraian atau pertengkaran orang tua yang tinggi.
menyebabkan si anak tidak betah di rumah dan
menyebabkan dia mencari pelampiasan dan salah b. Dampak penyalahgunaanNAPZA
satunya NAPZA. Hal ini sejalandengan

Tabel 1.5 Dmpak penyalahgunaan NAPZA pada subyek pertama

Subyek Dampak Keterangan


AD Fisik Pelupa, sukar bernafas, sakit kepala, suhu tubuhsewaktu-waktu
meningkat dan sulit tidur.
Psikologis Pemalas, lamban bekerja, ceroboh, sering tegang dan gelisah, sulit
fokus, merasa tertekan dan emosi labil.

Sosial dikucilkan oleh masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggal dan


dijauhi oleh teman-teman di sekolah.

Spiritual Sebelum mengenal NAPZA AD adalah anak rumahan dan tidak pernah
meninggalkan ibadahnya tetapi setelah mengenal NAPZA justru
ibadahnya ditinggalkan dan sering berada diluar rumah dengan teman-
temanpemakai.

Tabel 1.6 Dampak penyalahgunaan NAPZA pada subyek kedua


Subyek Dampak Keterangan
AN Fisik Sering lemas, ingin tidur terus dan nafsu makan besar.

Psikologis Memiliki perasaan gembira dan selalu tertawa untuk hal-hal yang tidak
lucu, suka menghayal, sulit fokus dan merasa tertekan dalam diri.
Sosial Menjadi anti sosial dan bergaul hanya dengan teman sesama pemakai
serta dikucilkan oleh masyarakat lingkungan tempat tinggal.
Spiritual Sebagai seorang muslim jarang melaksanakan ibadah dan jauh dari
agama, keadaan lebih parah setelah mengenalNAPZA.
Menurut Badan Narkotika Nasional tergantung pada obat itu hanya untuk bisa
Republik Indonesia (BNN RI) tahun 2009 bahwa berfungsi normal. Tetapi bila penggunaan
dampak fisik, psikologis, sosial dan spiritual NAPZA dihentikan, akan mengubah semua
tersebut saling berhubungan erat. Adaptasi susunan dan keseimbangan kimia tubuh.
biologis tubuh terhadap penggunaan NAPZA Mungkin akan ada kelebihan suatu jenis enzyme
untuk jangka waktu lama bisa dibilang cukup dan kurangnya tranmisi syaraf tertentu (Martono,
ekstensif, terutama dengan obat-obatan yang 2006).
tergolong dalam kelompok downers. Tubuh kita c. Upaya guru bimbingan dan konseling pada
bahkan dapat berubah begitu banyak hingga sel- siswa yang sudah terlanjur menyalahgunakan
sel dan organ-organ tubuh kita menjadi NAPZA

30
Tabel 1.7 Upaya guru bimbingan dan konseling pada subyek pertama
Informan Keterangan
Guru BK - Memberikan layanan informasi tentang bahaya pergaulan bebas
dan bahaya penyalahgunaanNAPZA.
- Pihak sekolah telah menjalin kerjasama dengan BNN NTB dan
pihak kepolisian setiap tiga kali setahun menyampaikan materi
terkait dengan bahaya NAPZA secaraterjadwal
- Melakukan konselingindividual
AD - Berhenti memakai obat-obatan
- Tidak bergaul dengan teman-temanpemakai

Tabel 1.8 Upaya guru bimbingan dan konseling pada subyek kedua

Informan Keterangan
Guru BK - Memberikan layanan informasi tentang kesehatan dan
sosialisasi masalah NAPZA.
- Mengadakan razia dan mengontrol pada saat jamistrahat
- Mengadakan homevisit.
- Pihak sekolah mengirim beberapa orang guru BK untuk
mengikuti diklat dan pertemuan dengan pihakkepolisian
Polres kota Bima dan BNN NTB di mataram terkait sosialisasi
tentang bahaya NAPZA.
- Melakukan konselingindividual
AN - Berhenti dari pengaruhobat-obatan
- Menghindari teman-temanpemakai
- Mengaktifkan diri dalam kegiatan yang positif sepertimenjadi
anggota remajamasjid.
Menurut Prayitno (2004:2) layanan Memperhatikan fakta empiris yang terjadi
informasi merupakan suatu layanan yang di lapangan, maka peneliti menyimpulkan bahwa
berusaha untuk memenuhi kekurangan individu upaya yang dilakukan guru bimbingan dan
akan informasi yang mereka perlukan kemudian konseling terhadap siswa yang sudah terlanjur
diolah dan digunakan oleh individu untuk menyalahgunakan NAPZA adalah melalui
kepentingan hidup dan perkembangannya layanan informasi, konseling individual, home
sebagai dasar pengambilankeputusan. visit dan mengadakan razia. Laporan tersebut
Menurut Sukardi (2002) merupakan belum maksimal, karena masalah NAPZA
layanan konseling yang diselenggarakan oleh seharusnya mendapatkan perhatian lebih serius
seorang konselor terhadap seorang klien dalam dan dalam penanganannya, untuk itu dibutuhkan
rangka pengentasan masalah pribadi klien. terapi dan rehabilitasi yang secara professional
Dalam konseling individu pemberian bantuan dapat dipertanggungjawabkan.
dilakukan secara face to face (relationship)
antara konselor dengan konseli(individu).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
SIMPULAN DAN SARAN
Fatchurahman, et al (2006), menyebutkan bahwa
Berdasarkan hasil penelitian yang
peran guru pembimbing besar pengaruhnya
dilakukan di MAN 2 Kota Bima tentang
terhadap upaya pencegahan dan menanggulangan
penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja,
penyalahgunaan narkotika hususnya kepada para
maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1)
siswa dan umumnya kepada para remaja yang
Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada
saat ini sedang berkembang.
subyek pertama yaitu faktor individu
(kepribadian) dan faktor lingkungan pergaulan

31
(teman sebaya). Sedangkan faktor penyebab
penyalahgunaan NAPZA pada subyek kedua
yaitu faktor keluarga (broken home) dan faktor
lingkungan tempat tinggal. (2) Penyalahgunaan
NAPZA berdampak negatif pada fisik,
psikologis, sosial dan spiritual sehingga
berpengaruh pada hasil prestasi belajar kedua
subyek di sekolah. (3) Upaya guru bimbingan
dan konseling terhadap kedua subyek yang sudah
terlanjur menyalahgunakan NAPZA dilakukan
melalui layanan informasi, konseling individual,
home visit dan mengadakan razia. Namun hal
tersebut belum maksimal, karena masalah
NAPZA seharusnya perlu mendapatkan
perhatian lebih serius dalam penanganannya,
untuk itu dibutuhkan tempat terapi dan
rehabilitasi yang secara professional dapat
dipertanggungjawabkan.

DAFTAR RUJUKAN

Moleong, L.J. (2007). Metode Penelitian


Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Moleong. (2010). Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Prayitno, (2004). Layanan Informasi, Layanan
Bimbingan dan Konseling Kelompok.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Papalia, DE, Olds, S. W,.& Feldman, Ruth D.
(2001). Human Development. Boston:
McGraw-Hill.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sukardi, D. K. (2002). Pengantar Pelaksana
Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

32
Badan Narkotika Nasional Republik
Indonesia, (2009). Advokasi
Pencegahan Penyalahgunaan
Narkoba, Jakrta.
Badan Narkotika Nasional Republik
Indonesia, (2011). Pencegahan
Penyalahgunaan Narkoba Bagi
Remaja, Jakarta.
Fatchurahman M, Bulkani, (2006). Peran
Guru Pembimbing Dalam Upaya
Pencegahan Penyalahgunaan
Narkotika Pada Siswa SMA
Negeri dan Swasta Kota
Palangkaraya. Warta, 2006 : 9
(1): 21-
27.
Hawari Dadang, (2006). Penyalahgunaan
Dan Ketergantungan NAZA:
Narkotika, alcohol dan zat adiktif.
Jakarta: FKUI.
Mahi M, H, (2008). Awas Narkoba Para
Remaja Waspadalah. Bandung:
Grafitri Budi Utami.
Hawkins, JD; Lishner, D.M; Catalano,
R.F. & Howard , M.O., .(1998).
Childhood Predictors of
Adolescent Substance Abuse:, 18,
(1), 11-48
Kiling, B. N., Perkembangan, P., Anak, P.,
Dini, U., Studi, P., Anak, P., …
Komunitas, P. (2015). Tinjauan
Konsep Diri dan Dimensinya Pada
Anak dalam Masa Kank-Kanak
Akhir. Jurnal Psikologi
Pendidikan & Konseling, 1(2),
116–124.
Martono, Lydia Harlina dan Satya
Joewana. (2006). Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan
Narkoba. Jakarta: BalaiPustaka.

33
HASIL ANALISIS JURNAL
A. Ringkasan Hasil Jurnal yang di Publikasikan

Jurnal ini membahas mengenai kasus penyalahgunaan NAPZA pada anak khusus
nya pada remaja di wilayah kota Bima yaitu disekolah MAN 2 kota Bima NTB.
Hasil wawancara dengan guru bimbingan dan kon- seling yang berinisial HN
menyatakan bahwa kedua siswa terlibat dalam kasus penyalahgunaan NAPZA.
Kemudian hasil obser- vasi di lapangan peneliti menyimpulkan bahwa siswa yang
berinisial AD menunjukkan sikap dan perilaku kurang disiplin, suka membolos,
sering bepergian sampai larut malam, begadang, mudah tersinggung dan sulit
berkonsentrasi. Sementara siswa AN menunjukkan sikap dan perilaku
kecenderungan berbohong, prestasi di sekolah menurun, malas belajar, tidak
mengerjakan tugas sekolah, mengantuk dikelas, kadang tidak pulang tanpa ijin,
minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, suka
bengong ataulinglung.

Subyek dalam penelitian ini adalah 2 orang siswa di Madrasah yang dipilih secara
purposive sampling yaitu teknik pengambilan sumber data dengan mengkhususkan pada
subyek yang mengalami masalah yang diteliti (Moleong, 2007).

Subyek pertama berusia 18 tahun, AD mengenal dan mencoba rokok saat


kelas dua sekolah menengah pertama kemudian kelas satu Madrasah mulai
mengkonsumsi alkohol dan mengenal obat- obatan. Sebelum menggunakan NAPZA
AD adalah anak yang rajin ibadah, sopan, jujur dan tidak pernah meninggalkan
sekolah serta memiliki kepribadian yang baik. Namun setelah terlibat dalam
penyalahgunaan NAPZA AD berubah menjadi malas untuk belajar, sering
mengantuk dan bosan di dalam kelas, jadi brutal dan jarang beribadah.Tahapan
pemakaian NAPZA pada subyek pertama AD adalah Social Use (pemakaiansosial),
tujuannya untuk bersenang-senang pada saat rekreasi atau santai dan karena terpengaruh
lingkungan sosial atau pergaulan. Jenis NAPZA yang dipakai oleh AD adalah tramadol
merupakan salah satu obat analgesik/antisakit opiate (mirip morfin), termasuk psikotropika
golongan IV yang memiliki daya adiksi ringan.
Subyek kedua AN berusia 17 tahun AN dibesarkan dalam keluarga yang broken
home (bercerai) sementara bapak bekerja sebagai pegawai Negeri sipil dan ibu
wiraswasta. Sejak orang tua berpisah AN kehilangan figur dan sosok seorang bapak
sehingga tumbuh dan besar tanpa pengawasan orang tua dan menjadikan AN anak

34
yang sulit di atur. AN mengenal dan mulai merokok saat kelas dua sekolah menengah
pertama kemudian berlanjut dikelas tiga mencoba obat-obatan dan alkohol. Sebelum
menggunakanNAPZA.
AN adalah anak yang aktif dan sering terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler
seperti olahraga basket tetapi jarang melaksanakan ibadah. Setelah menggunakan
NAPZA berubah menjadi anak yang sangat tertutup dan pendiam, menjadi malas ke
sekolah, sering berbohong dan malas untuk belajar sehingga banyak mata pelajaran
yang tidak tuntas dan berpengaruh pada nilai hasil belajarnya serta semakin jauh dari
agama.
Tahapan pemakaian NAPZA pada AN adalah Situasional Use yaitu penggunaan
zat pada saat mengalami ketegangan, kekecewaan, kesedihan dan sebagainya dengan
maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Jenis NAPZA yang dipakai oleh
AN adalah ganja termasuk narkotiika golongan I, memiliki daya adiksi sangattinggi.

B. Kesimpulan dari Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MAN 2 Kota Bima tentang
penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja, maka dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA pada subyek pertama yaitu faktor individu
(kepribadian) dan faktor lingkungan pergaulan, teman sebaya). Sedangkan faktor
penyebab penyalahgunaan NAPZA pada subyek kedua yaitu faktor keluarga (broken
home) dan faktor lingkungan tempat tinggal.
2. Penyalahgunaan NAPZA berdampak negatif pada fisik, psikologis, sosial dan spiritual
sehingga berpengaruh pada hasil prestasi belajar kedua subyek di sekolah.
3. Upaya guru bimbingan dan konseling terhadap kedua subyek yang sudah terlanjur
menyalahgunakan NAPZA dilakukan melalui layanan informasi, konseling individual,
home visit dan mengadakan razia. Namun hal tersebut belum maksimal, karena
masalah NAPZA seharusnya perlu mendapatkan perhatian lebih serius dalam
penanganannya, untuk itu dibutuhkan tempat terapi dan rehabilitasi yang secara
professional dapat dipertanggungjawabkan.

35
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Narkoba adalah obat-obatan terlarang yang jika dikonsumsi mengakibatkan


kecanduan dan jika terlalu lama dan sudah ketergantungan narkoba maka lambat laun organ
dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi batas takaran maka pengguna itu akan
overdosis dan akhirnya menyebabkan kematian.

Narkoba pun ada berbagai jenis seperti : heoin, ganja, putaw, kokain, sabu-sabu, dan
alkohol pun termasuk dalam golongan narkoba. Manfaat yang dirasakan hanyalah sesaat.
Tapi mudhorotnya jelas banyak sekali. Banyak organ tubuh rusak.

B. Saran

Berdasarkan pembahasan tersebut, saran penulis adalah sebagai berikut:

1. Jangan pernah mencoba narkoba walaupun itu hanya sedikit


2. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya agar tidak terjerumus ke dalam jurang
Narkoba
3. Remaja harus diperhatikan oleh semua pihak agar tidak terjerumus pada
penyalahgunaan Narkoba

36
DAFTAR PUSTAKA

Partodiharjo, Subagyo.2009. KenaliNarkoba Dan Musuhi Penyalahgunaannya.


Jakarta: Erlangga.
Kaplan & Sadock.2012. Buku Ajar Psikiatri Klinis.Jakarta.ECG
Maslim R. 2001. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. In PPDGJ-
III Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK Unika Atmajawa: Jakarta.
Husain AB. 2010. Gangguan Penggunaan Zat Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta : Badan
Penerbit FK UI
Dochterman, J.M, & Bulechek, G.M 2004. Nursing Interventions classification
(NIC).America : Mosby Elseiver
Moorhead,s., Jhonson, M.,Maas, M., & swanson, L. 2008. Nursing Outcomes
classification (NOC). United states of America : Mosby Elseiver
Nanda International. 2015. Diagnosa keperawatan : definisi dan klasifikasi 2015-2017
(10th ed). Jakarta : EGC

37