Anda di halaman 1dari 10

Pengantar Hukum Bisnis

“Analisa Kasus PT. Lapindo Brantas”

Oleh:

I Gede Made Aditya Pradnyana


1406305101

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
BAB I
Pendahuluan

Bencana lumpur Lapindo yakni peristiwa yang ramai dibahas dan diperbincangkan publik
karena masalahnya yang berlarut-larut ini merupakan buah dari eksplorasi gas yang dilakukan
oleh PT. Lapindo Brantas. Semburan awal lumpur panas ini terjadi pada tanggal 29 Mei 2006.
Akibatnya, kawasan, pemukiman, pertanian dan perindustrian di wilayah Porong Sidoarjo
lumpuh total. Pusat semburan lumpur panas berjarak 150 meter dari pusat pengeboran gas PT
Lapindo Brantas. Peristiwa ini terjadi karena kesalahan PT. Lapindo Brantas yang tidak
menjalankan prosedur dalam melakukan pengeboran gas yang terletak di Kecamatan Porong,
Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Akibat dari kesalahan yang dilakukan PT Lapindo,
menimbulkan meluapnya lumpur panas dari dalam perut bumi. Banyak sekali pendapat dari para
peneliti dan para ahli yang berbeda, mulai dari penyebab utama terjadinya peristiwa banjir
lumpur panas ini karena bencana alam, kesalahan perhitungan dari PT Lapindo Brantas sendiri,
bahkan sampai ada yang menyebutkan bahwa penyebabnya tidak diketahui dengan pasti.
Peristiwa banjir lumpur ini menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan, 10.426 unit rumah
terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur. Sekitar 30 pabrik lumpuh total
karena terendam banjir lumpur panas sehingga tidak dapat beroperasi. Akibat ini sebanyak 1.873
tenaga kerja mengalami PHK dari perusahaan tersebut. Dan masih banyak lagi dampak yang
terjadi pada beberapa sektor yang lain.
BAB II
Isi dan Pembahasan

Hal ini tentu merupakan hal yang sangat serius karena telah berdampak buruk dalam
areal yang cukup luas. Oleh sebab itu penulis ingin mengulas dan membahas kasus lumpur panas
Lapindo Brantas ini dalam bentuk makalah yang kemudian ditinjau dari etika bisnis dan
lingkungan.

Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki (2590 meter)
untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor
(casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi
circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke
dalam sumur) sebelum pengeboran menembus formasi Kujung. Sesuai dengan desain awalnya,
Lapindo “sudah” memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada
1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki
(Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari
kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka “belum” memasang casing 9-5/8 inchi yang
rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan
Formasi Kujung (8500 kaki).

Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboran ini dengan
membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan
zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung.
Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka
merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung
yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan
pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari
formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat di atasi dengan pompa
lumpurnya Lapindo (Medici). Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu
gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya
menyentuh formasi Klitik.
Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang
digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping
formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di
permukaan. Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha
menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong.
Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di
rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur
dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi
sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan
(surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak
stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke
permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur
disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan
lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface
blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di Indonesia
setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama tentang masangan casing
sudah disetujui oleh BP MIGAS. Dalam AAPG 2008 International Conference & Exhibition
dilaksanakan di Cape Town International Conference Center, Afrika Selatan, tanggal 26-29
Oktober 2008, merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh American Association of
Petroleum Geologists (AAPG) dihadiri oleh ahli geologi seluruh dunia, menghasilan pendapat
ahli: 3 (tiga) ahli dari Indonesia mendukung gampa Yogyakarta sebagai penyebab, 42 (empat
puluh dua) suara ahli menyatakan pemboran sebagai penyebab, 13 (tiga belas) suara ahli
menyatakan kombinasi Gempa dan Pemboran sebagai penyebab, dan 16 (enam belas suara) ahli
menyatakan belum bisa mengambil opini. Laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan tertanggal
29 Mei 2007 juga menemukan kesalahan-kesalahan teknis dalam proses pemboran.

Dampak kerusakan dan kerugian akibat lumpur Lapindo di Sidoarjo yang dilakukan
Bappenas dengan melibatkan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Jawa Timur,
memperkirakan kerugian total mencapai Rp27,4 triliun selama sembilan bulan terakhir, yang
terdiri atas kerugian langsung sebesar Rp11,0 triliun dan kerugian tidak langsung Rp16,4 triliun.
Laporan awal penilaian kerusakan dan kerugian akibat bencana semburan lumpur panas di
Sidoarjo yang diperoleh ANTARA News, Rabu (10/4), menyebutkan bahwa angka kerugian itu
berpotensi meningkat menjadi Rp44,7 triliun, sedangkan akibat potensi kenaikan kerugian
dampak tidak langsung menjadi Rp33,7 triliun.sedangkan dampak sosial, pemerintah melakukan,
antara lain, meminta untuk menuntaskan pembayaran uang muka cash and carry 20 persen
kepada korban di empat desa (Siring, Jatirejo, Kedungbendo, dan Renokenongo) yang masuk
dalam peta dampak lumpur 4 Desember 2006. Setelah itu menuntaskan pembayaran kepada
seluruh warga yang masuk peta terdampak lumpur 22 Maret 2007 (warga Perum TAS I, Desa
Gempolsari, Kalitengah, sebagian Kedungbendo).

Kondisi tersebut di atas, akibat pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo Brantas Inc
berdasarkan undang-undang 32 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 20 :
Baku Mutu Lingkungan, dan pasal 21 : Kriteri Baku Kerusakan Lingkungan Hidup dinyatakan
telah merusak lingkungan hidup berupa berubahnya kondisi tanah, air, udara, dan ekosistem pada
lokasi pengeboran tersebut. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 18 tahun 1999
tentang baku mutu dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap unsur-unsur kimiawi telah
melampaui nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Pada 27 November 2007, Pengadilan
Jakarta Selatan menolak gugatan legal standing Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) terhadap
pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab atas menyemburnya lumpur panas. Hakim
menyatakan munculnya lumpur akibat fenomena alam. Pengadilan Jakarta Pusat menolak
gugatan korban yang diajukan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Hakim
beralasan, Lapindo sudah mengeluarkan banyak dana untuk mengatasi semburan lumpur dan
membangun tanggul. Terakhir, Mahkamah Agung juga menolak permohonan uji materi atas
Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007.
BAB III
Analisis Kasus

Analisis dari Kasus Lumpur Lapindo Sidoarjo Berdasarkan Undang – undang No. 32
Tahun 2009. Kasus ini termasuk salah satu bencana nasional di Indonesia. Menurut analisis saya
berdasarkan data yang ada, ditinjau dari Undang – undang No. 32 Tahun 2009, begitu banyak
pelanggaran yang terjadi terhadap ketentuan hukum lingkungan. Seperti yang diuraikan dibawah
ini :

1. Pemanfaatan Sumber Daya Alam ( SDA ) tidak memperhatikan Lingkungan Hidup

Mengingat Lapindo Brantas Inc. tidak memiliki AMDAL maka berdasarkan UU No. 32
Tahun 2009 pasal 12 ayat ( 1 ), pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan
RPPLH. Dan dalam pasal 12 ayat ( 2 ) dikatakan bahwa dalam hal RPPLH sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) belum tersusun, pemanfaatan sumber

daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
dengan memperhatikan keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup, keberlanjutan
produktivitas lingkungan hidup, keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
Sedangkan kasus ini telah membuktikan bahwa Lapindo Brantas Inc. karena kelalaiannya
telah menyebabkan pencemaran.

2. Tidak Adanya Pengendalian Baik Oleh Pemerintah Maupun Penanggungjawab Usaha

Dalam UU No. 32 Tahun 2009 pasal 13 ayat ( 1 ), pengendalian pencemaran dan/atau


kerusakanlingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan
hidup. Dan dalam ayat ( 2 ) tertulis bahwa pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pencegahan,
penanggulangan, dan pemulihan. Dalam ayat (3) dikatakan pengendalian pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing. Lapindo Brantas
Inc. tidak melakukan pengendalian ini dan pemerintah sebelum terjadi semburan juga
tidak melakukan upaya pengendalian yang maksimal hingga Lapindo Brantas Inc. yang
tidak memiliki AMDAL dapat melakukan eksplorasi sumber daya alam di Sidoarjo saat
itu.

3. Lapindo Brantas Inc. Tidak Memiliki AMDAL

Berdasarkan hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup ( WALHI ), selama melakukan


usaha pertambangannya, Lapindo Brantas Inc. tidak memiliki AMDAL. Hal tersebut
tentu saja bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu pasal
14 dan 22 UU No. 32 Tahun 2009. Mengingat bahwa AMDAL merupakan prasyarat
mutlak dalam memperoleh izin usaha, dalam hal ini adalah kuasa pertambangan.

4. Lapindo Brantaas Inc. Berperan Dalam Pencemaran Lingkungan Hidup

Lumpur sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg) air
raksa, misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002
mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker.
Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar
(cardiac aritmia), dan gangguan ginjal. Ini tidak sesuai dengan Pasal 20 UU No. 1 Tahun
2009 mengenai baku mutu lingkungan hidup.

5. Tidak Maksimalnya Usaha Pemulihan Karena Putusan Pengadilan Yang Tidak Sesuai
Dengan Aspek Kebenaran Hukum

Gugatan WALHI ditolak seluruhnya oleh Putusan PN Jakarta Selatan, kemudian di


tingkat banding juga ditolak berdasarkan Putusan PT Jakarta yang menguatkan Putusan
PN Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa semburan lumpur panas Lapindo disebabkan
karena bencana alam. WALHI tidak mengajukan kasasi atas putusan PT Jakarta sehingga
dianggap bahwa Putusan PT Jakarta telah in kracht. Selain WALHI, YLBHI juga
mengajukan gugatannya kepada PN Jakarta Pusat, 27 November 2007, namun Putusan
PN Jakarta Pusat mengatakan bahwa Pemerintah dan PT. Lapindo Brantas tidak
melakukan Perbuatan Melawan Hukum. YLBHI mengajukan banding dan kasasi, yang
masing-masing hasil putusannya juga menolak gugatan pihak YLBHI dan menyatakan
bahwa Pemerintah dan PT. Lapindo Brantas tidak bersalah.
Dari putusan itu, dipertanyakan bagaimana identifikasi dari bencana alam dan bukan
bencana alam. Kebenaran umum banyak membuktikan bahwa ini disebabkan kelalaian
dari Lapindo Brantas Inc., namun apabila ini diputus sebagai bencana alam maka
pertanggungjawabannya serta pemulihan menjadi dialihkan kepada Negarasesuai pasal
54 UU No. 32 Tahun 2009. Dengan itu apabila memang Lapindo Brantas Inc. yang
menjadi penyebab dari pencemaran, ini berarti ia bebas untuk tidak bertanggungjawab
atas kelalaiannya

6. Pembuangan Lumpur Ke Laut Tidak Sesuai Dengan Pengelolaan Limbah B3

Lumpur yang menyembur di Sidoarjo, bukan lumpur biasa melainkan lumpur panas yang
mengandung banyak bahan berbahaya. Apabila dibuang kelaut maka dapat mencemari
ekosistem laut. Selain itu ini melanggar pasal 59 Undang – undang No. 32 Tahun 2009.

7. Pemerintah tidak melaksanakan PPLH dalam pasal 63, Lapindo Brantas Inc melanggar hak
– hak dalam pasal 65, tidak melaksanakan kewajiban pada pasal 67 – 69, Pemerintah tidak
melakukan pengawasan dan sanksi administrative.
BAB IV
Kesimpulan dan Saran

Dari peristiwa mengenai kasus semburan lumpur panas Lapindo Brantas ini dapat
disimpulkan bahwa kasus ini sampai sekarang masih belum bisa ditangani dengan tuntas dan
telah berdampak buruk bagi masyarakat sekitar. Peran pemeritah dalam menindaklanjuti kasus
ini juga terkesan berlarut-larut dan tidak dapat memberikan jaminan bagi para korban sehingga
masyarakat yang menjadi korban merasa mendapat kepastian dan ketenangan. Banyak upaya
yang telah dilakukan untuk menanggulangi kasus ini namun tidak berhasil dengan baik. Upaya
pemerintah untuk membuang semburan lumpur panas ini ke sungai Porong juga dinilai
masyarakat tidak mempertimbangkan etika lingkungan yang ada.

Adapun saran yang dapat saya sampaikan yaitu:

1. Meskipun berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan seperti pembangunan tanggul


penahan lumpur, pelaksanaan kajian sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Namun, dinilai
kurang efektif untuk menanggulangi dampak semburan yang kian hari kian meluas.
Sebaiknya, coba kita pandang sisi analisis ilmiah yang sifatnya progresif daripada
kandungan unsur-unsur yang terkandung didalam lumpur lapindo ini, sehingga
diperlukan kajian mendalam yang bisa menggali kandungan apa saja yang terdapat pada
lumpur tersebut, barulah setelah itu dicari tahu sisi efektif untuk mengatasinya secara
ilmiah dan kontruktif yang memiliki tingkat resiko yang cukup rendah bagi setiap elemen
tergabung didalamnya.
2. Pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab, dalam hal ini perlu memberikan
dukungan penuh secara finansial serta non finansial, salah satunya perihal alokasi dana
anggaran untuk progres proses penanggulangan lumpur lapindo, pemerintah pun perlu
berkonsilidasi dengan beberapa pakar ahli dibidang ini, serta pembayaran pelunasan ganti
rugi harta serta tempat tinggal korban, namun dalam hal pelunasan ganti rugi korban
pemerintah perlu cermat dan selektif memilah korban yang sungguh dirugikan sesuai
dengan nominal yang dibuktikan serta bukti administrasi yang kompleks dan jelas.
3. Dalam pemberian ganti rugi, diperlukan pengawasan terinci dari pihak aparat yang
bertanggungjawab untuk hal ini dan bekerja secara professional supaya tersalurkan secara
cepat dan tepat sasaran.
4. Pemerintah harus memikirkan jalan keluar dari dampak yang ditimbulkan karena adanya
semburan ini. Seperti dampak social, masalah kesehatan, pendidikan, perekonomian, dsb.
5. Untuk selanjutnya pemerintah diharapkan lebih ketat dalam perizinan. Sehingga izin ke
perusahaan yang tidak Qualited fight (tidak mumpuni) instansi pemerintah daerah
maupun pusat perlu mengetahui resikonya maka pihak pemberi izin pun harus tahu juga
seberapa besar kekuatan perusahaan tersebut bila terjadi dampak negatif.
6. Meskipun tidak terbukti dalam persidangan bahwa Lapindo Brantas Inc. bersalah dalam
kasus ini. Namun pemerintah harus tetap melakukan sanksi administrative sesuai dengan
pasal 76 UU No. 32 Tahun 2009, bahwa “Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
menerapkan sanksi administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika
dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan”.