Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman
ketinggian permukaan bumi yaitu terdapat dataran rendah dan dataran
tinggi. Salah satu wilayah yang termasuk dalam kategori dataran tinggi
adalah Dieng dengan ketinggian 1500 sampai dengan 2095 meter diatas
permukaan laut. Dataran tinggi Dieng merupakan perbatasan antara
Kabupaten Batang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Banjarnegara, dan
Kabupaten Wonosobo. Kawasan tersebut memiliki kurang lebih 20.161
hektar hutan Negara yang dikelola Perhutani dan 19.472 hektar hutan
rakyat. Dataran tinggi Dieng memiliki kemiringan 15º hingga 40º dan
termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu (Fahmi, 2012).
Wilayah ini terkenal dengan berbagai sebutan mulai dari daerah geowisata,
daerah explorasi panas bumi hingga daerah pertanian kentang bernilai
ekonomi tinggi.
Budidaya kentang yang dilakukan di daerah ini hanya
mementingkan segi produksi dan ekonomi tanpa mempedulikan aspek
lingkungan. Pengolahan tanah yang digunakan petani kebanyakan kurang
memperhatikan garis kontur karena mereka membuat guludan yang
memotong garis kontur atau searah dengan kemiringan lereng. Para petani
juga kurang memperhatikan konservasi tanah dan air sehingga
menyebabkan budidaya pertanian di daerah ini belum berasaskan lestari,
optimal, dan seimbang (LOS). Alasan utama tidak dilakukannya
konservasi tanah dan air karena kecurigaan petani akan tumbuhnya jamur
Phythopthora infestan pada tanaman kentang yang akan menyebabkan
penyakit layu.
Cara pengolahan tanah yang searah dengan kemiringan lereng
dikombinasikan dengan kemiringan yang curam dan curah hujan yang
tinggi (3400 mm per tahun) akan sangat potensial untuk menimbulkan
erosi yang tinggi. Erosi adalah peristiwa terangkutnya tanah dari suatu
tempat ke tempat lain oleh air atau angin (Ana, 2012). Maka dari itu
diperlukan kombinasi rumput bede (braciaria decumbens) dan pupuk
kandang sebagai solusi mengatasi erosi di lahan pertanian kentang. Setelah
erosi teratasi maka petani kentang akan dapat terus menanam kentang
bahkan meningkatkan produksinya. Kerusakan lahan di daerah Dieng,
Jawa Tengah pun akan dapat diatasi dengan adanya kombinasi rumput
bede dan pupuk kandang tersebut. Serta petani tidak perlu
menghkhawatirkan lagi permasalahan lahan kritis.
B. Tujuan
a. Dapat mengurangi tingkat erosi di lahan pertanian kentang
b. Dapat meningkatkan hasil produksi dari penanaman kentang tanpa
menyebabkan kerusakan lahan.
C. Manfaat
a. Agar petani kentang dapat menanam kentang di lahan yang sama tanpa
adanya penurunan kualitas lahan.
b. Agar penghasilan petani kentang meningkat dan semakin mengurangi
angka kemiskinan.
BAB II GAGASAN
A. Fenomena Tingkat Kerusakan Lahan

Gambar 1. Kerusakan Lahan di Dieng

Problematika lingkungan, sosial dan ekonomi adalah persoalan Dieng


yang saling tumpah tindih. Selama tiga dekade terakhir, kompleksitas
persoalan tersebut telah mengubah Dieng secara drastis, dari sebuah kondisi
yang masih alami menjadi lahan yang terdegradasi dan berpotensi
menimbulkan kerusakan lingkungan dalam skala yang besar. Pada mulanya
kondisi geografi dataran tinggi Dieng menghasilkan penggunaan lahan yang
memperhatikan kaidah konservasi lingkungan untuk menuju kelestarian
lingkungan seperti konservasi tanah dan mempertahankan fungsi tanah
sebagai penyimpan air. Permasalahan dimulai ketika perubahan penggunaan
lahan dimulai. Fenomena penggunaan lahan sebelum tahun 1980-an berupa
hutan dan lahan pertanian dengan tanaman tembakau, bunga putren (sebagai
pengganti obat nyamuk) dan teh. Hasil produksi ketiga tanaman pertanian
tersebut tidak meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan akhirnya datang
seorang warga dari Bandung untuk menyewa lahan yang digunakan untuk
ditanami kentang. Dengan hasil yang sangat memuaskan tanaman kentang
tersebut tumbuh subur kemudian masyarakat mulai beralih untuk menanam
kentang (Ngabekti, 2007).
Alasan penduduk dataran tinggi Dieng menanam kentang antara lain
tanaman kentang tidak mengenal musim, kapanpun bisa ditanam asalkan
disiram. Pemasaran kentang juga sangat mudah, petani tidak perlu
memasarkan karena pembeli datang dengan sendirinya. Selain itu kentang
tidak mudah busuk, dapat bertahan selama dua bulan setelah dipanen (dengan
angka susut sebesar 5% saja) dan tanaman kentang merupakan tanaman
paling menguntungkan karena dalam satu tahun dapat dipanen sebanyak tiga
kali, meskipun biaya produksinya mahal petani masih dapat memperoleh
keuntungan yang lebih. Semakin berkembangnya usaha tanaman kentang
memacu penduduk untuk membuka lahan-lahan sampai ke lereng bahkan
puncak perbukitan. Fatalnya lagi, masyarakat Kecamatan Batur salah
mengartikan tentang pernyataan pemerintah pada tahun 1999 yang
mengatakan bahwa terdapatnya lahan tidur yang apabila ditanami akan
menghasilkan sesuatu yang lebih (Ngabekti, 2007). Masyarakat Kecamatan
Batur mengartikan bahwa yang dimasksud dengan lahan tidur adalah hutan.
Akhirnya lahan hutan yang mempunyai sebagai wilayah tangkapan air,
sampai sekarang sudah banyak berubah fungsi yaitu sebagian besar lereng
perbukitan dari lereng hingga puncak ditanami dengan tanaman kentang.
Jenis tanaman kentang merupakan komoditi unggulan, yang secara ekonomis
telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama kurun waktu 20 tahun
sejak dimulainya usaha tanaman kentang di daerah ini, sistem penanaman
tanaman kentang dilakukan dengan tidak memperhatikan aspek konservasi
lahan.
Salah satu bentuk tidak memperhatikan konservasi lahan yang
dilakukan petani adalah teknik pengolahan tanah yang tegak lurus terhadap
garis kontur atau dilakukannya terasering dengan arah menuruni lereng.
Ditambah dengan curah hujan yang tinggi (3400 mm per tahun) akan semakin
meningkatakan terjadinya erosi. Erosi yang terjadi juga membawa unsur hara
di permukaan tanah sehingga menyebabkan tingkat kesuburan tanah
menurun. Pengalihan fungsi hutan sebagai lahan pertanian juga
mengakibatkan lahan menjadi kritis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Kangmarlan (2015), menyatakan bahwa sekitar 7.758 hektar (4.758
hektar di Banjarnegara dan 3.000 hektar di Wonosobo) sudah menjadi lahan
kritis dan tingkat erosi yang terjadi sudah mencapai angka 10,7 mm per tahun
atau rata-rata sebesar 161 ton per hektar per tahun. Apalagi dengan tidak
adanya penutup lahan maka sering pula terjadi banjir di kawasan pertanian
kentang tersebut sehingga lahan pertanian mengalami kerusakan yang parah.
Beragam permasalahan yang timbul di kawasan Dieng memberikan
dampak pada kawasan sekitarnya antara lain rusaknya hutan lindung, hutan
produksi dan cagar alam. Kerusakan situs purbakala candi Dieng yang
merupakan peninggalan sejarah kebudayaan Hindu sekaligus sebagai salah
satu aset pariwisata budaya. Kerusakan ekosistem pada hulu Daerah Aliran
Sungi (DAS) serayu. Menurunnya keindahan kawasan sebagai obyek wisata
alam dan wisata budaya. Serta meningkatnya tingkat erosi, sedimentasi tanah
pada alur-alur sungai, dan tingginya penggunaan bahan-bahan kimia seperti
pestisida dalam kegiatan pertanian yang akan menyebabkan menurunnya
kualitas air sungai (Kangmarlan, 2015).
B. Teknik Konservasi Tanah
Dengan berkembangnya tingkat budidaya tanaman kentang secara
signifikan, pada umumnya petani di dataran tinggi Dieng telah melakukan
upaya konservasi tanah. Menurut Sitanala Arsyad (1989), konservasi tanah
adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai
dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan
syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Bentuk
upaya konservasi tanah yang dilakukan petani kentang Dieng adalah
membuat bedengan atau guludan searah lereng pada bidang-bidang teras
bambu. Namun, sangat disayangkan bahwa teras bambu tersebut umumnya
miring keluar, sehingga erosi ataupun longsor masih mungkin terjadi. Selain
itu, pada bagian ujung luar teras (talud) tidak ditanami tanaman penguat teras
dan permukaan tanah pada tampingan teras juga terbuka atau bersih tidak ada
tanaman. Dengan melihat tingkat erosi yang sebesar 10,7 mm per tahunnya,
usaha petani kentang masih belum sesuai dengan kaidah koservasi. Teras
bangku tidak sesuai untuk tanah yang mudah tererosi pada daerah yang
berlereng curam serta curah hujan yang tinggi. Menurut kaidah konservasi,
teras gulud lebih efektif untuk menahan erosi dan pembangunannya pun lebih
murah jika dibandingkan dengan teras bangku (Fahmi, 2012).

Gambar 2. Aktivitas Petani Kentang Dieng

Para petani kentang juga sudah melakukan pemupukan terhadap


tanaman kentang. Tindakan pemupukan tersebut merupakan langkah yang
tepat untuk memperbaiki sifat tanah. Efek yang akan ditimbulkan adalah sifat
tanah semakin membaik sehingga membuat air dapat dengan mudah terserap
oleh tanah. Dengan begitu, aliran permukaan akan terhambat dan tingkat erosi
dapat diperkecil. Namun yang kurang diperhatikan oleh petani kentang yaitu
jenis pupuk yang digunakan. Berdasarkan koran Tempo.co, pada tanggal 25
Desember 2015 menyatakan bahwa 1 kuintal kentang membutuhkan 50 kg
pupuk kimia dan 30 kg pupuk kandang. Dari data tersebut diketahui bahwa
perbandingan antara pupuk kandang dan pupuk kimia terlalu jauh. Hal
tersebut akan menyebabkan tanah tidak melakukan penyerapan air secara
maksimal.
C. Tingkat Keberhasilan Kombinasi Rumput Bede dan Pupuk Kandang
Dari usaha-usaha petani yang telah dilakukan membuktikan bahwa hasil
yang diharapkan belum optimal, yaitu masih terjadinya tingkat erosi yang
tinggi. Untuk membantu mengurangi erosi, bedengan yang dibuat harus
searah dengan garis kontur. Sedangkan untuk meningkatkan efektivitas teras
yang dibuat, perlu ditanami tanaman penguat teras pada bibir dan tampingan
teras. Rumput bede (Brachiaria decumbens) merupakan tanaman yang dapat
memperkuat teras yang terbukti efektif mengurangi tingkat erosi di lahan
pertanian yang curam. Selain itu dikombinasikan dengan penambahan kadar
pupuk organik dan pengurangan kadar pupuk kimia yang diharapkan tanaman
lebih optimal dalam melakukan penyerapan air.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Simatupang (2005)
menyatakan bahwa kombinasi antara rumput bede (Brachiaria decumbens)
dengan pupuk kandang dapat menekan angka erosi sebesar 81%
diabandingkan tanpa adanya perlakuan. Dengan hasil penelitian yang
memuaskan tersebut dan ditambah dengan pembuatan teras gulud yang searah
garis kontur, pemberian saluran teras tepat di atas teras gulud, dan pembuatan
rorak pada bidang olah dan saluran peresapan, apabila diterapkan di lahan
pertanian kentang dataran tinggi Dieng akan dapat menekan angka erosi
sebanyak 95%.
D. Pihak-Pihak Bersangkutan
Tingkat erosi yang terjadi di dataran tinggi Dieng termasuk dalam
kategori tinggi. Maka dari itu diperlukan strategi perbaikan demi kegiatan
penanaman kentang terus berlanjut dan agar petani tidak kehilangan mata
pencahariannya sebagai petani kentang dengan alasan lahan yang rusak.
Pihak yang akan sangat membantu dalam upaya perbaikan ini adalah
pemerintah yaitu dalam bentuk memberikan bantuan dana perbaikan serta
warga sekitar dengan bentuk ikut berpartisipasi dalam upaya perbaikan serta
melakukan upaya-upaya yang telah dipaparkan agar lahan dapat diperbaiki
secara optimal.
E. Strategi Perbaikan
Untuk mengatasi kerusakan lahan di dataran tinggi Dieng, yang disebabkan
oleh adanya erosi diperlukan strategi untuk menangani permasalahan tersebut.
Strategi perbaikannya yaitu sebagai berikut:

Membuat teras Membuat saluran teras yang


gulud searah garis dibangun tepat diatas teras gulud.
kontur.

Membuat rorak pada


Menanami rumput bede (Brachiaria
bidang olah dan
decumbens) pada bibir dan tampingan
saluran peresapan.
teras.

Memberi pupuk pada tanaman kentang dengan


perbandingan 35 kg pupuk kandang dan 45 kg
pupuk kimia dalam 1 kuintal kentang.
BAB III KESIMPULAN
1. Kombinasi antara rumput bede (Brachiaria decumbens) dengan pupuk
kandang dapat menekan angka erosi sebesar 81% sehingga permasalahan
kerusakan lahan di dataran tinggi Dieng dapat teratasi.
2. Setelah erosi dapat ditangani, petani kentang di dataran tinggi Dieng akan
dapat menanam kentang secara terus menerus tanpa adanya kekhawatiran
kerusakan lahan dan pada akhirnya penghasilan petani kentang meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Abujamin, S dan Suwardjo. 1979. Pengaruh Teras, Sistem Pengelolaan Tanaman


dan Sifat Hujan terhadap Erosi dan Aliran Permukaan pada Tanah
Latosol Darmaga. Pub.02/KTA/1979/PT.LPT Bogor
Anonim, 1995. Pengkajian Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. Yogyakarta
Bappeda Temanggung dan Fakultas Pertanian UGM
Anonim, 2006. Wonosobo Kehilangan Air 1,7 Juta Liter Setiap Tahun. Republika
16 Oktober 2006. Jakarta: Mahaka Media
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Asdak, S. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
Beliana, Ana Hasra. 2012. Analisis Konservasi Lahan Perkebunan Kopi di Desa
Lengkese. Makassar: Universitas Hasanuddin
Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Lahan. 2002. Rencana
Rehabilitasi Hutan dan Lahan Lima Tahun. Departemen Kehutanan.
Fahmi. 2012. Kerusakan Lahan Akibat Erosi Tanah di Dataran Tinggi Dieng Dan
Langkah - Langkah Teknis Penanggulangannya.
http://kickfahmi.blogspot.co.id diakses pada 5 Maret 2016
Kangmarlan. 2015. Kegiatan Pertanian dan Masalah Lingkungan di Dataran
Tinggi Dieng (Bagian 2). http://fkhbanjarnegara.com diakses pada 5
Maret 2016
Nafi’ah, Siti Safitri. 2013. Problematika Pasca Panen Kentang di Wonosobo.
Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogayakarta
Ngabekti, Sri dkk. 2007. Tingkat Kerusakan Lingkungan di Dataran Tinggi Dieng
sebagai Database Guna Upaya Konservasi. Semarang: Universitas Negeri
Semarang
Simatupang, Pandapotan. 2005. Pengaruh Pupuk Kandang dan Penutup Tanah
terhadap Erosi Pada Ultisol Kebun Tambunan A DAS Wampu, Langkat.
Medan: Universitas Sumatera Utara
Utami, Umi Baroroh Lili. 2001. Pengaruh Tindakan Konservasi Tanah Terhadap
Aliran Permukaan, Erosi, Kehilangan Hara dan Penghasilan Pada Usaha
Tani Kentang dan Kubis. Banjarbaru: Universitas Lambung Mangkurat
Widianto, R. 1995. Mencegah Erosi. Jakarta: Penebar Swadaya, Seri Teknologi-
XVIII/247/89
LAMPIRAN
Lampiran 1 Biodata Ketua Pelaksana

A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Restu Purnomo
2 Jenis Kelamin L/P
3 Program Studi Teknik Geologi
4 NIM 21100115120012
5 Tempat dan Tanggal Purbalingga,19 Mei 1997
Lahir
6 E-mail restupurnomo95@gmail.com
7 Nomor Telepon/ HP 085700007357

B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SD Negeri SMP Negeri 1 SMA Negeri 6
Condongsari Purworejo Purworejo
Jurusan - - IPA
Tahun Masuk- 2003-2009 2009-2012 2012-2015
Lulus

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No Nama Pertemuan Ilmiah/ Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Seminar Tempat
1
2
3

D. Penghargaan (10 tahun terakhir)


No Jenis Penghargaan Instritusi Pemberi Tahun
Penghargaan
1
2
3

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari
ternyata dijumpai ketdaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima
sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM – Gagasan Tertulis

Semarang, Tanggal Bulan 2016


Pengusul,

ttd
(Nama Lengkap Ketua Pelaksana)
Biodata Anggota 1

A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap *diisi sesuai dengan biodata anggota PKM
2 Jenis Kelamin L/P
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal
Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon/ HP

B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk-
Lulus

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No Nama Pertemuan Ilmiah/ Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Seminar Tempat
1
2
3

D. Penghargaan (10 tahun terakhir)


No Jenis Penghargaan Instritusi Pemberi Tahun
Penghargaan
1
2
3

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari
ternyata dijumpai ketdaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima
sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM - Gagasan Tertulis

Semarang, tanggal-bulan-2016
Pengusul,

ttd

(Nama Lengkap Anggota 1)


Biodata Anggota 2

A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap *diisi sesuai dengan biodata anggota PKM
2 Jenis Kelamin L/P
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal
Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon/ HP

B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk-
Lulus

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No Nama Pertemuan Ilmiah/ Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Seminar Tempat
1
2
3

D. Penghargaan (10 tahun terakhir)


No Jenis Penghargaan Instritusi Pemberi Tahun
Penghargaan
1
2
3

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari
ternyata dijumpai ketdaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima
sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM – Gagasan Tertulis

Semarang, Tanggal Bulan 2016


Pengusul,

ttd

(Nama Lengkap Anggota 2)


Biodata Dosen Pembimbing

E. Identitas Diri
1 Nama Lengkap *diisi sesuai dengan biodata Dosen
Pembimbing
2 Jenis Kelamin L/P
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal
Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon/ HP

F. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk-
Lulus

G. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No Nama Pertemuan Ilmiah/ Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Seminar Tempat
1
2
3

H. Penghargaan (10 tahun terakhir)


No Jenis Penghargaan Instritusi Pemberi Tahun
Penghargaan
1
2
3

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari
ternyata dijumpai ketdaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima
sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM – Gagasan Tertulis

Semarang, Tanggal Bulan 2016


Pengusul,

ttd

(Nama Lengkap Dosen Pembimbing)


Lampiran 2 Susunan Organisasi Tim Kegiatan Dan Pembagian Tugas

No Nama / NIM Program Bidang Ilmu Alokasi Uraian Tugas


Studi Waktu (jam
/minggu)
1
2
3
4
Lampiran 3. Pernyataan Ketua Pelaksana

*terlampir
Daftar Pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga pembaca dapat dengan
mudah menemukan sumber yang disebutkan. Format perujukan pustaka
mengikuti Harvard style.

Format Penyusunan Rujukan dan Daftar Pustaka PKM-GT


(Panduan ini dapat dihapus)
Penulisan Daftar Pustaka menggunakan Sistem Harvard (author-date style).
Sistem Harvard menggunakan nama penulis dan tahun publikasi dengan urutan
pemunculan berdasarkan nama penulis secara alfabetis. Publikasi dari penulis
yang sama dan dalam tahun yang sama ditulis dengan cara menambahkan huruf
a, b, atau c dan seterusnya tepat di belakang tahun publikasi (baik penulisan
dalam daftar pustaka maupun sitasi dalam naskah tulisan). Alamat Internet
ditulis menggunakan huruf italic. Terdapat banyak varian dari sistem Harvard
yang digunakan dalam berbagai jurnal di dunia.

Contoh :
Buller H, Hoggart K. 1994a. New drugs for acute respiratory distress
syndrome.
NewEngland J Med 337(6): 435-439.
Buller H, Hoggart K. 1994b. The social integration of British home owners
into rench rural communities. J Rural Studies 10(2):197–210.
Dower M. 1977. Planning aspects of second homes. di dalam Coppock
JT (ed.), SecondHomes: Curse or Blessing? Oxford: Pergamon Pr. Hlm
210–237.
Grinspoon L, Bakalar JB. 1993. Marijuana: the Forbidden Medicine. London:
Yale Univ Press. Palmer FR. 1986. Mood and Modality. Cambridge:
Cambridge Univ Press.

Contoh melakukan perujukan sumber pustaka dalam naskah


tulisan:

"Smith (1983) menemukan bahwa tumbuhan pengikat N dapat diinfeksi oleh


beberapa spesies Rhizobium yang berbeda”.

"Integrasi vertikal sistem rantai pasokan dapat menghemat total biaya


distribusi antara 15% sampai 25 % (Smith, 1949, Bond et al., 1955, Jones dan
Green, 1963)."
"Walaupun keberadaan Rhizobium normalnya mampu meningkatkan
pertumbuhan kacang-kacangan (Nguyen, 1987), telah didapat pula hasil yang
berbeda bahkan berlawanan (Washington, 1999)."