Anda di halaman 1dari 19

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/266376225

Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy (in Bahasa


Indonesia)

Article · September 2014

CITATIONS READS

0 5,247

1 author:

Victor Christianto
University of New Mexico
311 PUBLICATIONS   493 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Science and Theology (1) : Kejadian dan Awal Semesta dan Kehidupan View project

Solving 3D Incompressible Navier-Stokes equations View project

All content following this page was uploaded by Victor Christianto on 03 October 2014.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif
Perilaku: Sebuah Tinjauan Ringkas
(Internet Addiction Disorder and Cognitive Behavioral Therapy)

Makalah diserahkan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh


mata kuliah Pastoral Counseling.

Oleh
Victor Christianto
email: victorchristianto@gmail.com

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SATYABHAKTI


MALANG, INDONESIA
September 2014

1
Kata Pengantar

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat menempuh matakuliah Pastoral

Counseling yang diampu oleh Tom Dooley, Psy.D. Sebagai topik makalah, penulis memilih

untuk membahas mengenai kecanduan Internet (Internet Addiction Disorder =IAD) dan Terapi

Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy). Alasan pemilihan topik ini adalah karena

pesatnya pertumbuhan pengguna Internet di antara kaum remaja dan pemuda di Indonesia, dan di

antara mereka banyak yang berlebihan dalam menggunakan Internet tersebut dengan berbagai

eksesnya. Penulis berusaha menyoroti tidak saja penggunaan Internet secara umum, tetapi juga

penggunaan game online, jejaring sosial (social network), dan pornografi.

Penulis mencoba menyoroti latar belakang, definisi, cakupan masalah serta jenis terapi

yang dapat ditempuh khususnya menggunakan metode Terapi Kognitif Perilaku.

Makalah ini ditulis dengan motivasi dari pengalaman penulis sendiri yang nyaris menjadi

pecandu Internet beberapa tahun lalu, namun syukurlah dengan pertolongan Tuhan sekarang

penulis sudah dapat mengontrol penggunaan Internet secara lebih rasional. Karena itu hendaknya

pembaca memperhatikan dengan benar agar tidak sampai terjatuh dalam jerat kecanduan

Internet. Harapan penulis adalah bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Version 1.0: 18 September 2014

VC, email: victorchristianto@gmail.com

2
Daftar Isi

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 3

1. Latar belakang dan Cakupan masalah Kecanduan Internet 4


2. Definisi dan simptom Kecanduan Internet 7
3. Penyebab Utama Kecanduan Internet 10
4. Terapi-terapi yang tersedia 11
5. Terapi Kognitif Perilaku (CBT): Definisi dan metode 13
6. Bagaimana menolong anak-anak atau remaja yang mengalami Kecanduan
Internet 16
7. Kesimpulan 17

Daftar Pustaka 18

3
1. Latar belakang dan Cakupan Masalah Kecanduan Internet

Pada saat ini penggunaan Internet semakin meluas, tidak saja di negara-negar

maju, tapi juga di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, India dan China.

Meskipun waktu yang digunakan orang pada umumnya untuk melakukan akses online

dapat menjadi sangat produktif, penggunaan Internet secara kompulsif dapat berpengaruh

buruk pada kehidupan, pekerjaan dan hubungan dalam keluarga. Jika Anda atau anak-

anak Anda merasa merasa lebih nyaman dengan teman-teman online daripada dengan

teman-teman di dunia nyata, atau Anda tidak dapat menahan diri dari bermain game

online atau membuka smartphone atau gadget lainnya, maka ada kemungkinan Anda atau

anak-anak Anda sudah menggunakan Internet terlalu banyak (istilahnya: kecanduan

Internet).1

Latar belakang dari meluasnya gejala kecanduan Internet ini antara lain adalah

meningkat pesatnya penggunaan perangkat mobil seperti smartphone dan tablet di

seluruh dunia, khususnya dalam sepuluh tahun terakhir. Kini orang dapat mengakses

Internet di manapun dan kapanpun, bahkan juga di toilet. Selain membawa dampak yang

baik berupa komunikasi yang lebih mudah dengan siapa saja dan di mana saja, namun

juga muncul berbagai dampak buruk yang tidak terelakkan khususnya bagi anak-anak

dan generasi muda. Banyak di antara anak-anak dan remaja saat ini lebih suka

menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari entah untuk bermain game online maupun

untuk bercengkerama dengan teman-teman online mereka melalui berbagai situs jejaring

sosial seperti facebook, youtube, instagram atau twitter.

1
Helpguide.org, “Internet and Computer Addiction: Signs, Symptoms and Treatment,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.helpguide.org/mental/internet_cybersex_addiction.htm; Internet; diakses 11 September 2014.

4
Untuk memberikan gambaran luasnya cakupan masalah yang terkait dengan

Kecanduan Internet ini, beberapa data berikut mungkin akan membantu:

a. Sekitar 25% pengguna memenuhi criteria kecanduan Internet setelah 6 bulan

pertama menggunakan Internet.

b. Liga Pemuda Komunis Cina (China Communist Youth League) mengklaim

bahwa pada tahun 2007, 17% dari warga China yang berusia antara 13 dan 17

tahun mengalami kecanduan Internet.2

c. Menurut Maressa Orzack, direktur dari Computer Addiction Study di Rumahsakit

McLean milik Universitas Harvard, antara 5-10% dari pengguna Internet

menderita semacam ketergantungan terhadap Web (Web dependency).3

d. Menurut Center of Internet Addiction Recovery, para pecandu Internet menderita

problem-problem emosi seperti depresi dan gangguan kecemasan dan seringkali

menggunakan dunia fantasi Internet untuk secara psikologis lari dari perasaan

tidak enak atau situasi stress.

e. Para peneliti juga menemukan bahwa penggunaan Internet secara kompulsif dapat

menyebabkan perubahan morfologis dari dari struktur otak. Sebuah studi terhadap

mahasiswa-mahasiswa Cina yang mengalami kecanduan Internet (di antaranya

menggunakan komputer sampai 10 jam sehari dan 6 hari seminggu) menemukan

penyusutan ukuran dorsolateral prefrontal cortex, rostral anterior cingulated

cortex, daerah motor suplementer, dan bagian-bagian dari cerebellum,

2
Pacificepoch.com, “17% of Youth Addicted to Internet,” January 11, 2007 [artikel on-line]; diambil dari
http://www.pacificepoch.com/newsstories/86510_0_5_0_M/; Internet; diakses 11 September 2014.
3
Lea Goldman, “This is Your Brain on Clicks,” Forbes [artikel on-line]; diambil dari
http://www.forbes.com/forbes/2005/0509/054.html; Internet; diakses 11 September 2014.

5
dibandingkan dengan para mahasiswa yang bukan pecandu.4 Diduga bahwa

perubahan morfologis tersebut mungkin disebabkan oleh optimisasi kognitif

pembelajaran untuk menggunakan komputer lebih efektif, tapi juga mungkin

akibat rusaknya ingatan jangka pendek dan kemampuan pengambilan keputusan.

f. Menurut Patricia Wallace, Direktur Senior dari Pusat Universitas Johns Hopkins

untuk Orang-orang Muda Berbakat, pada suatu universitas besar di New York

tingkat dropout dari para mahasiswa tahun pertama (freshmen) meningkat pesat

seiring dengan investasi mereka dalam komputer dan akses Internet, dan para

administrator memperhatikan bahwa 43% dari para mahasiswa dropout ini

dulunya sering tidak tidur semalaman karena mengakses Internet.

4
ScientificAmerican.com, “High wired: Does addictive Internet use restructure the brain?” [artikel on-line]; diambil
dari www.scientificamerican.com; Internet; diakses 11 September 2014.

6
2. Definisi dan Simptom Kecanduan Internet

Kecanduan Internet (Internet Addiction Disorder=IAD) mengacu pada

penggunaan Internet yang bermasalah, termasuk beragam aspek dari teknologi Internet

yang berkaitan, seperti email dan World Wide Web. Perlu dicatat bahwa kecanduan

internet belum tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan mental yaitu:

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi keempat (2000) yang

dikenal sebagai DSM-IV. Namun demikian, kecanduan internet telah diakui secara

formal sebagai gangguan oleh American Psychological Association.5

Meskipun kecanduan internet telah mempengaruhi banyak orang, para ahli masih

memperdebatkan mengenai terminologi yang tepat untuk gejala tersebut. Namun

demikian, dalam 1 dekade terakhir konsep tentang kecanduan internet telah semakin luas

diterima sebagai gangguan klinis yang acapkali memerlukan perawatan (treatment)

khusus. Para peneliti masih belum sepakat tentang apakah kecanduan internet merupakan

gangguan pada dirinya sendiri atau merupakan symptom dari gangguan yang lain. Ada

juga yang memperdebatkan apakah kecanduan internet harus dikategorikan sebagai

gangguan impuls atau gangguan kompulsif-obsesif (obsessive compulsive disorder) dan

bukannya kecanduan biasa.

Salah satu gejala (symptom) kecanduan Internet adalah penggunaan waktu yang

berlebihan untuk Internet. Seseorang mungkin mengalami kesulitan untuk mengurangi

akses terhadap Internet bahkan jika ia diancam sanksi mendapat nilai yang buruk di

sekolah atau dikeluarkan dari pekerjaannya. Ada beberapa kasus telah dilaporkan tentang

5
Minddisorders.com, “Internet addiction disorder,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html; Internet; diakses 11 September 2014.

7
para mahasiswa yang menolak untuk tidak mengakses Internet agar bisa mengikuti

kuliah. Gejala-gejala kecanduan lain meliputi antara lain kurang tidur, kelelahan, nilai-

nilai yang memburuk, kinerja yang buruk di tempat kerja, apatisme dll. Ada juga

kemungkinan berkurangnya investasi untuk hubungan sosial dan aktivitas. Seseorang

mungkin berbohong tentang berapa banyak waktu yang digunakannya untuk online atau

menyangkal bahwa mereka memiliki masalah. Mereka mungkin menjadi sering marah

(irritable) saat tidak online, atau marah kepada siapapun yang menanyakan waktu mereka

di Internet.6

Tanda-tanda dan symptom dari kecanduan Internet berbeda-beda untuk tiap

orang. Sebagai contoh, tidak ada kriteria sekian jam perhari atau berapa pesan sehari

yang mengindikasikan seseorang telah kecanduan Internet. Namun berikut ini dapat

diberikan tanda-tanda peringatan bahwa penggunaan Internet Anda atau anak-anak Anda

mungkin telah menjadi suatu masalah:7

a. Tidak dapat melacak waktu yang digunakan untuk online.

b. Memiliki masalah untuk menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan atau di rumah.

c. Terisolasi dari keluarga dan teman-teman.

d. Merasa bersalah atau defensif terhadap penggunaan Internet.

e. Merasa semacam euphoria jika sedang terlibat dalam aktivitas Internet.

Kecanduan internet, yang juga disebut kecanduan komputer, kecanduan online,

penggunaan internet yang patologis (Pathological Internet Use=PIU), iDisorder, atau

6
Ibid.
7
Helpguide.org, “Internet and Computer Addiction: Signs, Symptoms and Treatment,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.helpguide.org/mental/internet_cybersex_addiction.htm; Internet; diakses 11 September 2014.

8
gangguan kecanduan internet (Internet Addiction Disorder=IAD), mencakup sejumlah

problem kontrol impuls seperti:8

a. Kecanduan cybersex (Cybersex Addiction): internet pornography, adult chat rooms,

adult fantasy role-play.

b. Kecanduan hubungan-cyber (Cyber-Relationship Addiction): kecanduan jejaring

sosial, chat, text (sms) atau email

c. Net Compulsions: game online, judi online, permainan saham online, atau lelang

online seperti eBay yang seringkali membawa konsekuensi masalah finansial atau

masalah pekerjaan.

d. Kelebihan Informasi (Information Overload): selancar online atau pencarian database

secara kompulsif

e. Kecanduan Komputer: memainkan permainan komputer secara obsesif, seperti

Solitaire atau Minesweeper, atau pemrogramn komputer secara obsesif.

Yang paling umum dari kecanduan Internet ini adalah cybersex, judi online dan

kecanduan hubungan-cyber.

8
Ibid.

9
3. Penyebab Utama Kecanduan Internet

Tidak seorangpun yang tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang kecanduan

Internet, namun ada beberapa faktor yang telah diusulkan untuk menjelaskan kecanduan

Internet. Salah satu teori berhubungan dengan potensi mengubah mood (mood-altering

potential) dari perilaku-perilaku yang berkaitan dengan kecanduan proses. Sama seperti

seseorang yang mengalami kecanduan belanja merasakan dorongan (rush) atau

perubahan mood yang menyenangkan dari tindakan-tindakan yang berhubungan dengan

belanja, demikian pula seseorang yang kecanduan internet mungkin merasakan dorongan

yang sama untuk menghidupkan komputer dan mengunjungi situs-situs favorit mereka.

Dengan kata lain, para peneliti berpikir bahwa terdapat perubahan-perubahan kimiawi

yang terjadi dalam tubuh saat seseorang terlibat dalam perilaku kecanduan. Lebih lanjut,

dari sudut pandang biologis, mungkin terdapat kombinasi dari gen-gen yang membuat

seseorang lebih rentan terhadap perilaku kecanduan, mirip dengan para peneliti yang

telah menemukan gen-gen yang mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap alkohol.9

Teori-teori lainnya berupaya menjelaskan kecanduan tersebut dengan penjelasan

perilaku, psikodinamik dan kepribadian, sosiokultural atau biomedikal (Ferris).

9
Minddisorders.com, “Internet addiction disorder,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html; Internet; diakses 11 September 2014.

10
4. Terapi-terapi yang tersedia

Karena gangguan kecanduan Internet merupakan fenomena yang masih relatif baru,

hanya ada sedikit penelitian tentang efektivitas dari prosedur perawatan. Beberapa ahli

menyarankan penghentian total dari penggunaan Internet. Ahli lainnya mengatakan bahwa

adalah tidak realistis untuk menyarankan pada seseorang untuk berhenti sama sekali

menggunakan Internet.10 Banyak dari prosedur perawatan yang telah digunakan untuk

menangani kecanduan Internet telah dikembangkan berdasarkan program penanganan terhadap

kecanduan lainnya dan kelompok dukungan. Salah satu buku yang membahas tentang kecanduan

secara umum adalah karya Edward T. Welch.11

Jika kecanduan Internet yang diderita seseorang memiliki dimensi biologis, maka obat-

obatan antidepressant atau anti-kecemasan dapat menolong. Intervensi psikologis mungkin

mencakup perubahan lingkungan atau perubahan asosiasi yang telah dibuat oleh Internet, atau

mengurangi penguatan yang diterima akibat penggunaan Internet yang berlebihan. Intervensi

interpersonal mungkin terdiri dari pendekatan seperti pelatihan ketrampilan sosial atau

pendampingan (coaching) dalam keahlian-keahlian komunikasi. Terapi keluarga dan pernikahan

mungkin dapat diterapkan jika pengguna beralih ke Internet sebagai pelarian terhadap masalah-

masalah dalam keluarganya.12

10
Minddisorders.com, “Internet addiction disorder,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html; Internet; diakses 11 September 2014.
11
Edward T. Welch, Kecanduan: Sebuah Pesta dalam Kubur, diterjemahkan oleh Fenny Veronica (Surabaya:
Penerbit Momentum, 2005).
12
Minddisorders.com, “Internet addiction disorder,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html; Internet; diakses 11 September 2014.

11
Sebagai alternative dari menyetop semua aktivitas yang berhubungan dengan Internet,

Young (1999) memberikan 7 teknik perawatan yang mungkin dilakukan:13

a. Praktekkan kebalikannya (Practice the opposite)

b. Penghenti eksternal (External stoppers)

c. Tetapkan goal (Setting goals)

d. Kartu-kartu pengingat (Reminder cards)

e. Inventori personal (Personal inventory)

f. Dukungan sosial (Social support)

g. Terapi keluarga (Family therapy).

Kondisi kambuh (relapse) adalah lumrah untuk siapapun yang berhubungan

dengan kecanduan Internet. Mengakui dan mengantisipasi kambuh seringkali merupakan

bagian dari proses perawatan. Mengidentifikasi situasi-situasi yang menyebabkan

kecanduan Internet dan menemukan cara-cara untuk menghadapi situasi-situasi ini dapat

sangat mengurangi kemungkinan kambuh total.14

13
Chien Chou, Linda Condron, & John C. Belland, “A Review of the Research on Internet Addiction,” Educational
Psychology Review, Vol. 17 No. 4, December 2005 (2005): 383.
14
Ibid.

12
5. Terapi Kognitif Perilaku (CBT)

Terapi dapat memberikan Anda dorongan yang kuat untuk mengontrol

penggunaan Internet. Misalnya Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy

= CBT) memberikan langkah demi langkah untuk menghentikan perilaku Internet

kompulsif dan mengubah persepsi Anda mengenai Internet, smartphone dan komputer.

Terapi juga dapat menolong Anda untuk mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk

mengatasi emosi-emosi tidak nyaman, seperti kecemasan, stress, atau depresi.15

Menurut literatur, Terapi Kognitif Perilaku (CBT) telah menjadi metode yang

berguna dan efektif untuk menangani gangguan kompulsif seperti gangguan ledakan

emosi, judi patologis, trichotillomania. CBT juga efektif untuk menanggulangi kecanduan

obat, gangguan emosional dan gangguan makan.16

CBT adalah perawatan yang sudah lazim dan didasarkan pada premis bahwa

pikiran mengendalikan perasaan. Pasien diajar untuk memantau pikiran-pikiran mereka

dan mengidentikasikan mana yang memicu perasaan dan tindakan kecanduan, sementara

mereka belajar ketrampilan menanggulangi kecanduan tersebut serta cara-cara untuk

mencegah kambuh (relapse). CBT biasanya memerlukan 3 bulan perawatan atau sekitar

12 kali pertemuan mingguan.

Sebuah model kognitif perilaku terhadap kecanduan Internet telah dikembangkan

oleh Davis, seperti terlihat pada skema 1 di bawah ini:

15
Helpguide.org, “Internet and Computer Addiction: Signs, Symptoms and Treatment,” [artikel on-line]; diambil
dari http://www.helpguide.org/mental/internet_cybersex_addiction.htm; Internet; diakses 11 September 2014.
16
Kimberley S. Young, “Cognitive Behaviour Therapy with Internet Addicts: Treatment Outcomes and
Implications,” CyberPsychology & Behavior Vol. 10 No. 5 (2007): 672-673

13
Skema 1. Model kognitif perilaku terhadap kecanduan Internet menurut Davis.17

Khazaal et al. merangkumkan komponen-komponen perilaku dan motivasional dari

perawatan kecanduan Internet menurut Young sebagai berikut:

Tabel 1. Komponen-komponen perilaku dan motivasional dari CBT (Young)18

Strategi pemulihan Tujuan

Akuilah apa yang telah hilang Mengenali masalah

Bawalah kartu-kartu pengingat Mengenali masalah

Dengarlah suara-suara penyangkalan Mengenali masalah

17
Omer Senormanci, Ramazan Konkan, & Mehmet Zihni Sungur, “Internet Addiction and its Cognitive Behavioral
Therapy,” InTech [artikel on-line]; diambil dari http://cdn.intechopen.com/pdfs/31830/InTech-
Internet_addiction_and_its_cognitive_behavioral_therapy.pdf; Internet; diakses 11 September 2014.
18
Yazeer Khazaal, Constantina Xirossavidou, Riaz Khan, Yves Edel, Fadi Zebouni, Daniele Zullino, “Cognitive
Behavioral Treatments for Internet Addiction,” The Open Addiction Journal, Vol. 5 (2012, Suppl. 1:M5): 30-35

14
Profil-profil dari On-lineaholica Mengenali masalah

Tinjaulah waktu online Anda Pengamatan diri

Akuilah dorongan Anda akan kecanduan Pengamatan diri

Pelarian, obatbius dari Internet Pengamatan diri

Gunakan teknik manajemen waktu Manajemen waktu

Ambillah langkah nyata untuk Pengembangan aktivitas off-line

menanggulangi masalah

Hadapi kesepian Anda Pengembangan aktivitas off-line

Carilah dukungan dalam dunia nyata Pengembangan aktivitas off-line

Pertimbangkan manfaat dari pemulihan Pencegahan relapse (kambuh)

(recovery benefits)

Tip-tip untuk perjalanan menuju pemulihan Pencegahan relapse (kambuh)

15
6. Bagaimana menolong anak-anak dan remaja yang mengalami
Kecanduan Internet

Dalam makalah ini kita telah menyoroti latar belakang, symptom serta beberapa

langkah terapi yang dapat ditempuh. Namun langkah-langkah ini mungkin akan berbeda

jika yang mengalami kecanduan Internet adalah anak-anak Anda. Jika Anda membatasi

penggunaan Internet secara keras bagi anak-anak Anda, maka mereka mungkin akan

memberontak atau pergi ke tempat lain. Tapi Anda perlu memantau penggunaan

komputer dan smartphone, mengawasi aktivitas online dan memberikan pertolongan jika

anak-anak Anda memerlukan.19

Jika anak-anak Anda menunjukkan tanda-tanda kecanduan Internet, ada beberapa

hal yang bisa Anda lakukan untuk menolong:20

a. Doronglah minat-minat lainnya dan aktivitas sosial;

b. Pantaulah penggunaan komputer dan tetapkan batasan yang jelas;

c. Gunakan apps untuk membatasi penggunaan smartphone oleh anak-anak Anda;

d. Bicarakanlah dengan anak-anak Anda tentang masalah-masalah yang bisa muncul

akibat kecanduan Internet;

e. Carilah pertolongan: mungkin dari pelatih olahraga, dokter, sahabat

keluarga/tetangga, konselor atau psikolog.

19
Helpguide.org, “Internet and Computer Addiction: Signs, Symptoms and Treatment,” [artikel on-line]; diambil
dari http://www.helpguide.org/mental/internet_cybersex_addiction.htm; Internet; diakses 11 September 2014.
20
Ibid.

16
7. Kesimpulan

Dalam makalah ini kita telah menyoroti latar belakang, cakupan masalah, definisi

dan symptom Kecanduan Internet. Juga telah dibahas beberapa terapi yang bisa

ditempuh, termasuk Terapi Kognitif Perilaku (CBT). Diharapkan para orangtua dan guru

berperan aktif dalam mengatur akses dan waktu penggunaan Internet dari anak-anak dan

remaja sehingga dampak negatif dari Internet dapat dihindarkan.

Makalah ini ditulis dengan motivasi dari pengalaman penulis sendiri yang nyaris

menjadi pecandu Internet beberapa tahun lalu, namun syukurlah dengan pertolongan

Tuhan sekarang penulis sudah dapat mengontrol penggunaan Internet secara lebih

rasional. Karena itu hendaknya pembaca memperhatikan dengan benar agar tidak sampai

terjatuh dalam jerat kecanduan Internet.

Makalah ini memang baru merupakan penelitian awal tentang Kecanduan Internet

dan langkah-langkah penanggulangannya, karena itu diperlukan penelitian lanjutan untuk

memahami problem tersebut dengan konteks anak-anak dan remaja di Indonesia.

17
Daftar Pustaka

1. Young, Kimberley S., & de Abreu, Chistiano Nabuco. Internet Addiction: A Handbook and
Guide to Evaluation and Treatment. Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc., 2011.
2. Young, Kimberley S. “Internet Addiction: The Emergence of a New Clinical Disorder,”
CyberPsychology & Behavior Vol. 1 No. 3 (2006): 237-244
3. _______. “Cognitive Behaviour Therapy with Internet Addicts: Treatment Outcomes and
Implications,” CyberPsychology & Behavior Vol. 10 No. 5 (2007): 672-673
4. Chou, C., Condron, L., & Belland, John C. “A Review of the Research on Internet Addiction,”
Educational Psychology Review, Vol. 17 No. 4, December 2005 (2005): 383.
5. Goldman, Lea. “This is Your Brain on Clicks,” Forbes [artikel on-line]; diambil dari
http://www.forbes.com/forbes/2005/0509/054.html; Internet; diakses 11 September 2014.
6. Helpguide.org. “Internet and Computer Addiction: Signs, Symptoms and Treatment,” [artikel on-
line]; diambil dari http://www.helpguide.org/mental/internet_cybersex_addiction.htm; Internet;
diakses 11 September 2014.
7. Khazaal, Yazeer, et al. “Cognitive Behavioral Treatments for Internet Addiction,” The Open
Addiction Journal, Vol. 5 (2012, Suppl. 1:M5): 30-35
8. Minddisorders.com. “Internet addiction disorder,” [artikel on-line]; diambil dari
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html; Internet; diakses 11
September 2014.
9. Pacificepoch.com. “17% of Youth Addicted to Internet,” January 11, 2007 [artikel on-line];
diambil dari http://www.pacificepoch.com/newsstories/86510_0_5_0_M/; Internet; diakses 11
September 2014.
10. Ramdhonee, Karishma S. “Psychological Impact of Internet Usage on Children/Adolescents,”
[artikel on-line]; diambil dari
http://www.gov.mu/portal/sites/cert/sid2012/Psychological%20Impact%20of%20Internet%20usa
ge%20on%20Children.pdf; Internet; diakses 11 September 2014.
11. Senormanci, O., Konkan, R., & Sungur, M.Z. “Internet Addiction and its Cognitive Behavioral
Therapy,” InTech [artikel on-line]; diambil dari http://cdn.intechopen.com/pdfs/31830/InTech-
Internet_addiction_and_its_cognitive_behavioral_therapy.pdf; Internet; diakses 11 September
2014.
12. Welch, Edward T. Kecanduan: Sebuah Pesta dalam Kubur, diterjemahkan oleh Fenny Veronica
(Surabaya: Penerbit Momentum, 2005).

Versi 1.0: 18 September 2014

VC, email: victorchristianto@gmail.com

URL: http://independent.academia.edu/VChristianto

URL: http://www.sciprint.org

18

View publication stats