Anda di halaman 1dari 19

ANALISA KONTUR KECEPATAN DAN KONTUR TEKANAN ALIRAN FLUIDA

PADA LINGKARAN 2D MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DINAMICS


(CFD) DENGAN BENTUK MESHING STRUCTURED GRID

1)
Wardatul Jannah, 2)Muchammad Verizal Setyo,

1)
Mahasiswa Program Strata 1 Teknik Mesin

2)
Dosen Mata Kuliah Pr. Simulasi Mesin Program Strata 1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
Universitas Jember

Jalan Kalimantan No. 37, Kampus Tegalboto, Sumbersari, Jember, Kabupaten Jember, Jawa
Timur 68121

e-mail: jannahwardatul08@gmail.com

ABSTRAK

Kata Kunci: CFD, Aliran Turbulen dan Laminar, Kecepatan, Tekanan

1. PENDAHULUAN paling dominan dari aliran tersebut, atau


Fluida adalah suatu yang tidak bisa berdasarkan jenis dari fluida yang terkait.
lepas dari kehidupan sehari-hari kita, Aliran fluida dapat berupa aliran laminar
dimanapun dan kapanpun kita berada, dan aliran turbulen. Aliran turbulen terjadi
fluida selalu mempengaruhi berbagai karena pencampuran partikel-partikel
kegiatan kita dalam kehidupan sehari-hari fluida sehingga pergerakan suatu partikel
kita baik itu dalam bentuk liguid ataupun tertentu terjadi secara acak dan sangat
gas. (Dr., Ir. Ahmad Indra. 2008) tidak teratur. Dan aliran laminar tidak
Fluida lebih mudah mengalir terjadi pencampuran partikel-partikel yang
karena ikatan molekul dalam fluida lebih signifikan, pergerakannya halus dan
kecil daripada ikatan molekul dalam zat tenang. Selain itu aliran fluida juga dapat
padat. Aliran fluida terbagi atas beberapa diklasifikasikan dalam aliran viscous
kategori yang dibagi berdasarkan sifat-sifat
(kental) dan aliran invicid (tak kental). tersebut meliputi sudut 0ᴼ, 45ᴼ, 90ᴼ, 135ᴼ,
(Potter, C. M., 2008). dan 180ᴼ. Dari hasil tekanan dan gaya
Pada paper ini bertujuan untuk yang dihasilkan maka dapat dihitung nilai
menganalisa aliran fluida turbulen dan Cp dan Cd sehingga kemudian dapat
laminar pada first order dan second order dibandingkan nilai perhitungan analitik
dengan aliran viscous dan invicid pada dengan nilai hasil CFD pada setiap
lingkaran dan membandingkan nilai Cp karakteristik kondisi aliran. Selain itu
yang dihasilkan dari perhitungan analitik dalam paper ini juga menunjukkan bentuk
dengan Cp yang dihasilkan pada CFD aliran pada setiap kondisi dalam kontur
dalam beberapa kondisi aliran serta untuk kecepatan. (Hery Indria Dwi Puspita.
mengetahui nilai Cd dari setiap kondisi 2015)
tersebut. CFD merupakan metode
perhitungan dengan sebuah control 2. LANDASAN TEORI
dimensi, luas, dan volume dengan 2.1 Fluida
memanfaatkan bantuan komputasi Fluida adalah zat yang dapat
komputer untuk melakukan perhitungan bergerak ketika dikenai gaya. Fluida dapat
pada tiap-tiap elemen pembaginya. berubah bentuk dan bersifat tidak
Untuk memodelkan bentuk permanen. Fluida membentuk berbagai
lingkaran dan domain fluida menggunakan jenis benda padat sesuai dengan bentuk
software ANSYS dengan pemodelan beda yang dilewatinya. Karakteristik aliran
numerik 2D dan grid structured. Input fluida meliputi tekanan statis, tekanan
aliran yang digunakan dalam analisa aliran dinamis, total tekanan, kecepatan fluida
fluida ini adalah aliran invicid first order, dan tegangan geser. (Al-Shemmeri, 2012).
invicid second order, laminar viscous first 2.2 Aliran Fluida
order, laminar viscous second order, Aliran pada fluida berbeda dengan
laminar invicid first order, laminar invicid zat padat, hal tersebut dikarenakan
second order, turbulen viscous first order, kemampuannya untuk mengalir. Fluida
turbulen viscous second order, turbulen lebih mudah untuk mengalir karena ikatan
invicid first order, dan turbulen invicid molekul pada fluida lebih kecil
second order. Kemudian, untuk dibandingkan dengan ikatan molekul pada
mendapatkan nilai tekanan dari masing- zat padat.
masing koordinat pada lingkaran di setiap Aliran fluida dapat dibedakan
sudut serta untuk mendapatkan gaya yang menjadi 2 jenis, yaitu berdasarkan waktu
bekerja digunakan metode CFD. Sudut
dan bedasarkan bentuk aliran. Aliran fluida
berdasarkan waktu yaitu:
a. Aliran Steady Suatu aliran dimana
kecepatannya tidak terpengaruh oleh
perubahan waktu sehingga kecepatan
konstan pada setiap titik (tidak mempunyai
percepatan). Gambar 2. Aliran pada circular cylider
b. Aliran Transient Suatu aliran dimana turbulen
terjadi perubahan kecepatan terhadap
waktu. b. Aliran Laminar
2.2.1 Aliran Turbulen dan Aliran Aliran laminar didefinisikan
Laminer sebagai aliran dengan fluida yang bergerak
a. Aliran Turbulen dalam lapisan-lapisan, atau lamina-lamina
Aliran dimana pergerakan dari dengan satu lapisan meluncur secara
partikel-partikel fluida sangat tidak merata. Dalam aliran laminar ini viskositas
menentu karena mengalami percampuran berfungsi untuk meredam kecenderungan-
serta putaran partikel antar lapisan, yang kecenderungan terjadinya gerakan relatif
mengakibatkan saling tukar momentum antara lapisan. Aliran laminar memunyai
dari satu bagian fluida ke bagian fluida nilai bilangan Reynoldsnya kurang dari
yang lain dalam skala yang besar. Dimana 2100 (Re < 2100). Sehingga aliran laminar
nilai bilangan Renoldsnya lebih besar dari memenuhi pasti hukum viskositas Newton,
4000 (Re>4000). yaitu :

dimana:
𝜏 = tegangan geser pada fluida
𝜇 = viskositas dinamik fluida
𝑑𝑢/𝑑𝑦 = gradien kecepatan
Gambar 1. Aliran turbulen

Gambar 3. Aliran laminar


biasanya dihubungkan dengan tegangan
geser.
2. 3 Coefisient Pressure (Cp)
Teoritis distribusi tekanan pada
lingkaran silinder ditampilkan sebagai
Gambar 4. Aliran pada circular cylider garis putus-putus pada gambar 6. Dengan
laminar rumus Cp sebagai berikut:
2.2.2. Aliran-aliran Viscous (Kental) dan
Invicid (Tak Kental)
Aliran viscous atau aliran fluida
nyata adalah aliran yang dipengaruhi oleh
viskositas. Aliran fluida berdasarkan di mana ρ dan V adalah tekanan
viskositasnya dibagi menjadi dua bagian dan kecepatan, masing-masing, dalam
yaitu aliran invicid dan viscous. Aliran aliran bebas. Distribusi tekanan lapisan
invicid adalah aliran fluida yang tidak boundary laminar dan turbulen
dipengaruhi oleh viskositas/kekentalan. ditunjukkan pada gambar 3 yang berbeda
Pada aliran invicid efek dari viskositas dari yang diprediksi oleh teori. Aliran
(kekentalan) fluida diabaikan (μ = 0). laminar sangat rentan terhadap gradien
Untuk menyederhanakan analisa beberapa negatif pada bagian belakang silinder.
fenomena aliran mengabaikan viskositas Dibandingkan dengan lapisan batas
boleh dilakukan. Untuk aliran fluida laminar, aliran lapisan batas turbulen
dimana viskositas sangat penting atau memiliki energi kinetik yang lebih besar
diperhatikan maka aliran itu disebut aliran dan momentum yang berkaitan dengannya.
viscous. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 5,
lapisan batas turbulen dapat mengalir lebih
jauh di sekeliling silinder (lebih jauh
mendaki bukit tekanan) sebelum
mengalami separasi dibandingkan dengan
Gambar 5. Berbagai daerah aliran lapisan lapisan batas laminar.
batas diatas plat rata
Dari gambar 5, terlihat mulai tepi
depan plat itu terbentuk suatu daerah
dimana pengaruh gaya viscous (Viscous
force) makin meningkat. Gaya viscous ini
Tabel 1. Reynold Number

2. 5 Coefisient Drag (Cd)


Setiap benda yang bergerak melalui
suatu fluida akan mengalami drag, D suatu
gaya netto dalam arah aliran karena
Gambar 6. Distribusi tekanan permukaan tekanan dan gaya geser pada permukaan
yang sebenarnya dan teoritis. benda. Gaya netto ini, yang merupakan
2. 4 Reynold Number kombinasi komponen gaya pada arah
Reynold adalah bilangan tidak aliran dari gaya-gaya normal dan
berdimensi yang penting digunakan untuk tangensial pada benda, dapat ditentukan
penelitian aliran fluida didalam pipa. dengan menggunakan persamaan sebagai
Adapun persamaan bilangan Reynold berikut:
menurut Munson (2009) adalah sebagai
berikut:
dan

Jika distribusi tekanan, p, dan


tegangan geser dinding 𝜏𝑤 diketahui.
Dengan: Hanya pada kasus-kasus tertentu (sangat
jarang) distribusi-distribusi ini dapat
V = Kecepatan Fluida (m/s)
ditentukan secara analitis. Kemajuan saat
D = Diameter Dalam Pipa (m) ini dalam bidang komputasi dinamika
fluida (yaitu dengan menggunakan
ρ = Massa Jenis Fluida (kg/m³)
komputer untuk memecahkan persamaan-
μ = Viskositas Dinamik Fluida (kg/m.s) persamaan pengatur pada medan aliran)
atau (N.s/m²) telah memberikan hasil-hasil yang
mrnjanjikan untuk bentuk-bentuk yang
Reynold number untuk aliran turbulen dan
lebih komplek. Namun demikian, masih
laminar berbeda, dapat dilihat pada tabel
banyak usaha yang harus dilakukan di
dibawah ini :
bidang ini. Sebagian besar informasi yang sebuah benda akan terdiri dari bagian yang
tersedia mengenai drag pada sebuah benda sejajar dan tegak lurus terhadap aliran
adalah hasil eksperimen yang banyak hulu, dan juga pada arah dia antraranya.
sekali dilakukan dengan terowongan Silinder bundar adalah salah satunya.
angin, terowongan air, tangki towing, dan Karena fluida-fluida yang umum
peralatan-peralatan lainnya yang viskositasnya kecil, kontribusi dari gaya
digunakan untuk mengukur drag model- geser terhadap drag keseluruhan pada
model yang diskala. Data-data ini dapat benda seringkali sangat kecil. Pernyataan
dinyatakan dalam bentuk tak berdimensi seperti ini seharusnya disajikan suku-suku
dan hasilnya dapat diperbandingkan tak berdimensi. Hal ini karena bilangan
dengan tepat untuk perhitungan prototipe. Reynolds untuk aliran-aliran yang lazim
Biasanya, hasil untuk benda berbentuk sangat besar, persentase drag yang
tertentu adalah sebuah koefisien drag, Cd, disebabkan langsung oleh tegangan geser
dimana, seringkali sangat kecil. Namun demikian,
untuk benda-benda yang sangat
streamlined atau untuk aliran dengan
bilangan Reynold rendah, sebagian besar
Dan CD adalah fungsi dari drag mungkin disebabkan oleh drag
parameter tak berdimensi lainnya seperti gesekan. Drag gesekan pada pelat datar
bilangan Reynolds, Re, bilangan Froude, dengan lebar b dan panjang l yang sejajar
Fr, dan kekasaran relatif. dengan aliran hulu dapat dihitung dengan,

2.5.1. Drag Gesekan (Cdf)


Drag gasekan, D adalah bagian
dari drag yang langsung disebabkan oleh Dimana 𝐶𝐷𝑓 adalah koefisien drag
tegangan geser. Drag ini bukan hanya gesekan. Nilai dari 𝐶𝐷𝑓 diberikan sebagai
merupakan fungsi dari besar tegangan fungsi dari bilangan Reynold, 𝑅𝑒𝑙=𝜌𝑉𝑙/𝜇,
geser dinding, tetapi juga arah orientasi dari kekasaran, ε/l.
permukaan dimana gaya tersebut bekerja. 2.5.2. Drag Tekanan
Jika permukaan sejajar dengan kecepatan Drag tekanan adalah 𝐷𝑝 adalah
hulu, seluruh gaya geser berkontribusi bagian dari drag yang langsung
langsung terhadap drag. Hal ini terjadi disebabkan oleh tekanan, p, pada sebuah
pada pelat datar yang tegak lurus terhadap benda. Drag ini sering disebut sebagai
kecepatan hulu. Secara umum, permukaan
drag bentuk karena ketergantungan yang Disini 𝐶𝑝=(𝑝−𝑝𝑜)/(𝜌𝑉22) adalah
sangat kuat pada bentuk dari benda. Drag koefisien tekanan, dimana 𝑝𝑜 adalah
tekanan fungsi dari besarnya tekanan dan tekanan acuan.
orientasi arah elemen permukaan di mana
gaya tekanan tekanan tersebut bekerja. 2.6 Computatinal Fluid Dinamics (CFD)
Sebagai contoh, gaya tekanan pada kedua Computational Fluid Dynamics
sisi pelat datar sejajar aliran mungkin saja (CFD) adalah metode perhitungan dengan
sangat besar, tetapi gaya tersebut tidak sebuah control dimensi, luas dan volume
berkontribusi pada drag karena gaya dengan memanfaatkan bantuan komputasi
tersebut bekerja pada arah tegak lurus komputer untuk melakukan perhitungan
terhadap kecepatan hulu. Sebaliknya, gaya pada tiap-tiap elemen pembaginya.
tekanan pada pelat datar yang tegak lurus Prinsipnya adalah suatu ruang yang berisi
aliran menyebakan keseluruhan drag. fluida yang akan dilakukan penghitungan
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, hal
pada sebagian besar benda, terdapat bagian ini sering disebut dengan sel dan
pada permukaan yang sejajar dengan aliran prosesnya dinamakan meshing. Bagian-
hulu, dan ynag lainnya tegak lurus bagian yang terbagi tersebut merupakan
terhadap kecepatan hulu, dan sebagian sebuah kontrol penghitungan yang akan
besar lainnya pada orientasi arah dengan dilakukan adalah aplikasi. Kontrol-kontrol
sudut diantaranya. Drag tekanan dapat penghitungan ini beserta kontrol-kontrol
juga diperoleh dari persamaan, penghitungan lainnya merupakan
pembagian ruang yang disebut tadi atau
meshing. Nantinya, pada setiap titik
Jika terdapat gambaran terperinci kontrol penghitungan akan dilakukan
dari distribusi tekanan dan bentuk benda penghitungan oleh aplikasi dengan batasan
yang diberikan. domain dan boundary condition yang telah
ditentukan. Prinsip inilah yang banyak
dipakai pada proses penghitungan dengan
Yang dapat dituliskan kembali menggunakan bantuan komputasi
dalam koefisien drag tekanan, 𝐶𝐷𝑝, komputer.
sebagai, CFD adalah penghitungan yang
mengkhususkan pada fluida. Mulai dari
aliran fluida, heat transfer dan reaksi kimia
yang terjadi pada fluida. Atas prinsip-
prinsip dasar mekanika fluida, konservasi atau boundary condition. Ditahap ini juga
energi, momentum, massa, serta species, sebuah benda atau ruangan yang akan
penghitungan dengan CFD dapat dianalisa dibagi-bagi dengan jumlah grid
dilakukan. Secara sederhana proses tertentu atau sering juga disebut dengan
penghitungan yang dilakukan oleh aplikasi meshing. Tahap selanjutnya adalah
CFD adalah dengan kontrol-kontrol processor, pada tahap ini dilakukan proses
penghitungan yang telah dilakukan maka penghitungan data-data input dengan
kontrol penghitungan tersebut akan persamaan yang terlibat secara iteratif.
melibatkan dengan memanfaatkan Artinya penghitungan dilakukan hingga
persamaan-persamaan yang terlibat. hasil menuju error terkecil atau hingga
Persaman-persamaan ini adalah persamaan mencapai nilai yang konvergen.
yang membangkitkan dengan memasukan Penghitungan dilakukan secara
parameter apa saja yang terlibat dalam menyeluruh terhadap volume kontrol
domain. Misalnya ketika suatu model yang dengan proses integrasi persamaan diskrit.
akan dianalisa melibatkan temperatur Tahap akhir merupakan tahap
berarti model tersebut melibatkan postprocessor dimana hasil perhitungan
persamaan energi atau konservasi dari diinterpretasikan ke dalam gambar, grafik
energi tersebut. Inisialisai awal dari bahkan animasi dengan pola warna
persamaan adalah boundary condition. tertentu.
Boundary condition adalah kondisi dimana
kontrol-kontrol perhitungan didefinisikan 2. 7 Grid Generation
sebagai definisi awal yang akan dilibatkan Grid Generation adalah aspek
ke kontrol-kontrol penghitungan yang penting dalam semua metode numerik
berdekatan dengannya melalui persamaan- yang menggunakan finite difference, finite
persamaan yang terlibat. Secara umum volume dan finite elements dalam rangka
proses penghitungan CFD terdiri atas 3 mendapatkan solusi dari persamaan
bagian utama: differensial parsial. Caranya dengan
1. Prepocessor membagi domain aliran ke dalam elemen-
2. Processor elemen kecil (segitiga, poligon 2D,
tetrahedral, quadrilateral) yang disebut
3. Post processor
cell. Gabungan dari cell-cell tersebut
Prepocessor adalah tahap dimana
membentuk satu kesatuan dalam domain
data diinput mulai dari pendefinisian
yang disebut mesh atau grid karena
domain serta pendefinisian kondisi batas
gabungan dari elemen-elemen tersebut
seperti jala. Terdapat beberapa masalah berdasarkan deret aproksimasi ekspansi
konseptual yang harus diselesaikan dalam seperti deret Taylor, untuk fungsi kontiyu.
memilih sistem grid generation untuk Semakin banyak bentuk ekspansi yang
masalah-masalah tertentu[8]. digunakan. Derajat (order) dari skema
 Domain terbuka maupun tertutup tersebut merupakan indikasi dari pangkat

 Topologi domain terbesar yang dipangkas dalam deret


ekspansi. Skema 1st Order Upwind sangat
 Single atau multiple block
baik dan stabil secara numerik dan dijamin
 Structured atau unstructured
tidak akan jauh dari target. Namun skema
 2D atau 3D tersebut sangat rentan terhadap difusi
numerik atau ‘gradient smeasring’.
2. 8 Skema Numerik 2.7.2. 2nd Order Upwind Scheme
Untuk melengkapi diskritisasi dari Dalam second Order Upwind
adveksi, variabel 𝜑𝑖𝑝 harus dihubungkan Scheme tingkat akurasi lebih tinggi dari
dengan nilai titik dari 𝜑. Skema yang first order upwind sehingga dalam
diterapkan di ANSYS memiliki bentuk perhitungan atau simulasi lebih dianjurkan
menggunakan second Order Upwind.
Second Order Upwind menggunakan
Dimana 𝜑𝑢𝑝 adalah nilai titik dari ekspansi deret Taylor dalam solusinya
upwind dan 𝑡 adalah vektor dari upwind seperti halnya dengan first order upwind.
node ke integration point (ip). Ketika 3. METODOLOGI
menggunakan specified blend, ∇ɸ adalah 3.1 Langkah Kerja
rata-rata dari gradien titik-titik yang Langkah-langkah simulasi dapat
berdekatan dan ketika menggunakan dilihat pada skema berikut :
skema high resolution ∇ɸ adalah gradien
Mulai
titik pada upwind node. Pemilihan khusus
nilai 𝛽 akan memberikan skema lain yang
berbeda.
Studi Literatur

2.7.1. 1st Order Upwind Scheme


Nilai 𝛽=0 adalah nilai untuk first Penentuan parameter
order upwind difference. Banyak skema ukuran lingkaran dan
domain
yang dikembangkan untuk CFD yang
Pembuatan model dan konsep dari perhitungan yang
lingkaran dan domain digunakan dalam menyelesaikan laporan
ini serta untuk lebih memahami
permasalahan yang akan dibahas dalam
Pembuatan meshing
laporan ini. Referensi-referensi untuk
mengerjakan laporan ini didapatkan dari
Penentuan paramater buku, jurnal ilmiah, laporan-laporan
perhitungan numerik
sebelumnya yang masih berkaitan dan
internet.
Nilai
kecepatan
3.3 Penentuan Parameter Ukuran
Lingkaran dan Domain
Pelaksanakan Kriteria ukuran desain lingkaran dan
perhitungan atau domain:
komputasi
 Jari-jari :8m
 Diameter : 16 m
Menampilkan
 Ukuran domain : 300 m × 200 m
hasil simulasi
 Inlet & outlet : 200 m
 Top & bottom : 300 m
Kesimpulan

Selesai

3.2 Studi Literatur


Tahap pertama yang dilakukan
dalam pengerjaan laporan ini adalah studi
literatur. Studi literatur digunakan untuk Gambar 8. Model Lingkaran dan Domain
mengetahui karakteristik aliran fluida di Software ICEM ANSYS CFD
seperti aliran turbulen, laminar, invicid,
dan viscous, serta untuk mengetahui
kecepatan dan reynold number yang
digunakan sebagai input. Selain itu, studi
literatur digunakan untuk mengetahui teori
Dalam pembuatan model lingkaran Tahap 3
dan domain menggunakan software ICEM
ANSYS CFD dengan ukuran-ukuran yang
telah ditentukan sebelumnya.

3.5 Pembuatan Meshing


Tahap 1
Gambar 11. Bentuk meshing keseluruhan

Gambar 9. Surfaces dalam model


Setelah dibuat model 2D lingkaran
dan domain dengan ukuran-ukuran yang
Gambar 12. Bentuk meshing di sekitar
telah ditentukan, kemudian langkah
lingkaran
selanjutnya adalah membuat surfaces
dengan tool “geometry” yang tersedia
dalam software ICEM ANSYS CFD.
Tahap 2

Gambar 13. Perbesaran bentuk meshing

Kemudian berikutnya pembuatan


Gambar 10. Blocking
meshing, dengan tool “mesh” yang tersedia
dengan bentuk structured grid. Dengan
Langkah berikutnya yaitu
cara klik “mesh” maka akan muncul mesh
pembuatan blocking yang berfungsi untuk
yang secara otomatis membagi geometri
mengatur bentuk meshing sehingga bentuk
model ke dalam elemen-elemen kecil yang
meshing terbentuk sesuai yang diinginkan.
disebut cell. Gabungan dari cell-cell
tersebut membentuk satu-kesatuan yang
disebut mesh atau grid karena gabungan
dari elemen-elemen tersebut membentuk Sehingga:
seperti jala. Kemudian mesh dapat 𝜌𝑉𝐿
Re = 𝜇
disesuaikan dengan kebutuhan yang 998,2 . 𝑉 . 16
103 =
diingikan, yaitu dengan merapatkan 0,00103
1,03
dimensi dari cell sehingga jumlah elemen V = 15.971,2
dan node bertambah. V = 6,449 x 10-5
V = 0,00006449 m/s
3.6 Penentuan Parameter Perhitungan
Numerik b. Reynold Number aliran laminer (pada
udara)
Dalam perhitungan numerik yaitu untuk
menentukan nilai kecepatan dan reynold Diketahui:
number pada aliran laminar dan turbulen. Re = 103
Untuk kecepatan dari kedua aliran tersebut ρ = 1,225 kg/m3
berbeda sesuai dengan batas renold L = 16 m
number dari masing-masing aliran. μ = 1,7894 x 10-5 kg/m.s
a. Reynold Number dari aliran laminer Manggunakan Rumus Reynold Number
(pada air) Re =
𝜌𝑉𝐿
𝜇
1,225 . 𝑉 . 16
3 103 = 1,7894 x 10−5
Re = 10
1,7894 𝑥 10−2
Menggunakan rumus reynold number V= 19,6
(Re): V = 0,000913 m/s
𝜌𝑉𝐿
Re = 𝜇

Dimana: c. Renold Number aliran turbulen (pada


Re : Reynold Number air)
ρ : massa jenis air (kg/m3)
L : diameter lingkaran (m) Diketahui:
μ : vsikositas fluida (kg/m.s) Re : 108
V : Laju aliran fluida (m/s) ρ : 998,2 kg/m3
Diketahui: L : 16 m
ρ : 998,2 kg/m3 μ : 0,00103 kg/m.s
L : 16 m menggunakan Rumus Reynold Number
𝜌𝑉𝐿
μ : 0,00103 kg/m.s Re = 𝜇
998,2 . 𝑉 . 16
108 = 0,00103
103.000
V = 15.971,2

V = 6,4491083951 m/s

d. Renold Number aliran turbulen (pada


udara)
2. Kemudian klik GENERAL, maka

Diketahui: akan muncul pengaturannya, sesuaikan

Re = 103 dengan gambar dibawah ini, dengan

ρ = 1,225 kg/m3 memasukkan gravitasi -9,81 m/s.

L = 16 m
μ = 1,7894 x 10-5 kg/m.s
Manggunakan Rumus Reynold Number
𝜌𝑉𝐿
Re = 𝜇
1,225 . 𝑉 . 16
108 = 1,7894 x 10−5
17894,4
V= 19,6

V = 91,29591836 m/s

3.7 Pelaksanaan Perhitungan atau


Simulasi 3. Kemudian klik MODELS, maka
akan muncul model-model yang
Setelah model jadi, dan nilai input
digunakan, seperti viscous. Pertama, klik
untuk proses running telah ditentukan,
VISCOUS, maka akan muncul kontak
maka proses selanjutnya adalah:
perintah viscous. Didalam kotak ini
1. Langkah SETUP, yang adalah terdapat jenis pemodelan invicid, laminar,
menentukan parameter-parameter, k-epsilon, dan lainnya. Pengaturan dapat
kondisi-kondisi batas, dan pengaturan dilakukan sesuai dengan gambar dibawah
simulasi pada FLUENT. Dengan klik ini.
SETUP maka program FLUENT akan
terbuka. Dengan pengaturan awal seperti
gambar dibawah ini, kemudian klik OK
maka akan muncul FLUENT.
6. Kemudian lompati hingga ke
SOLUTION INITIALIZATION, pada
kontak atur Compute from “In”, kemudian
4. Klik MATERIALS, kemudian klik
initialize.
Fluent Database.
7. Klik RUN CALCULATION,
sesuaikan pengaturan dengan gambar. Klik
Calculate.
8. Dengan proses running ini
digambarkan dengan grafik, dengan sumbu
x menunjukkan acumulated time step
sesuai dengan nilai iterasi yang kita
masukkan dan sumbu y menunjukkan
5. Klik, CELL ZONE CONDITION,
variable value.
akan muncul kontak pengaturan. Klik,
BOUNDARY CONDITIONS akan muncul
kondisi-kondisi batas sesuai. Misalnya
pada kondisi batas “In”, klik edit, maka
akan muncul kotak pengaturan, masukkan
kecepatan 𝑉 = 6,449 m/s untuk aliran
4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
turbulen (air), masukkan kecepatan 𝑉 =
91,296 m/s untuk aliran turbulen (udara) Berdasarkan dasar teori yang telah
dan kecepatan 𝑉 = 0,000064 m/s untuk dijelaskan maka akan dilakukan analisa

aliran laminar (air), serta masukkan dan pembahasan mengenai aliran fluida

kecepatan 𝑉 = 0,000913 m/s untuk aliran pada lingkaran. Pada proses simulasi

laminar (udara) kemudian klik OK. dengan kecepatan 𝑉 = 6,449 m/s untuk
aliran turbulen (air), masukkan kecepatan
𝑉 = 91,296 m/s untuk aliran turbulen Sehingga dihasilkan nilai Cp pada setiap
(udara) dan kecepatan 𝑉 = 0,000064 m/s titik sudut adalah sebagai berikut:
untuk aliran laminar (air), serta masukkan
kecepatan 𝑉 = 0,000913 m/s untuk aliran
laminar (udara), kecepatan tersebut akan
mengakibatkan tekanan fluida pada
permukaan benda atau lingkaran. Sehingga
bagian belakang permukaan akan terjadi
wave. Aliran turbulen (udara) konvergeen Dalam simulasi dengan metode
pada literasi 820, aliran laminar air CFD yang dilakukan, menggunakan
konvergen pada literasi (cek k fuji) beberapa karakteristik aliran yaitu aliran
sedangkan pada aliran laminar udara dan laminar viscous first order dan turbulen
turbulen air belum konvergen sampai viscous first order.
literasi 2000.
4.1 Hasil Simulasi
Dalam simulasi CFD dapat diketahui
4.1.1 Hasil Kontur Kecepatan Aliran
nilai tekanan pada titik yang ditinjau dan
Fluida
tekanan total aliran disekitar titik yang
ditinjau serta nilai gayanya. Kemudian Hasil dari simulasi pemodelan 2D
data tekanan tersebut dapat digunakan didapatkan gambar kontur kecepatan aliran
untuk menghitung nilai koefisien tekanan fluida pada setiap kondisi aliran.
(Cp) dan nilai gaya digunakan untuk
Gambar jangan lupa
menghitung nilai coefficient drag (Cd).
Dalam simulasi kali ini digunakan 5 titik Gambar 14. Kontur kecepatan aliran
sudut yang ditinjau yaitu pada sudut 0ᴼ, laminar (air) viscous first order
45ᴼ, 90ᴼ, 135ᴼ, 180ᴼ. Dengan sudut 0ᴼ
dibagian depan, sudut 90ᴼ pada bagian atas
dan begitu seterusnya hingga melingkar
sampai sudut 180ᴼ.

Untuk mengetahui nilai Cp


perhitungan manual yang dihasilkan dapat
Gambar 15. Kontur kecepatan aliran
digunakan rumus sebagai berikut:
laminar (udara) viscous first order
𝐶𝑝 = 1 − 4 𝑆𝑖𝑛 θ
2
lingkaran yang tidak terlewati sepenuhnya
oleh aliran fluida.

4.1.2 Hasil Kontur Tekanan Aliran


Fluida

Tekanan dalam hal ini nilainya


Gambar 16. Kontur kecepatan aliran
berbanding terbalik dengan nilai
turbulen (air) viscous first order
kecepatan, artinya adalah ketika kecepatan
besar maka tekanannya akan kecil begitu
sebaliknya.

Gambar 17. Kontur kecepatan aliran


turbulen (udara) viscous first order

Gambar kontur kecepatan diatas


Gambar 18. Kontur tekanan aliran
menunjukkan bahwa aliran fluida yang
laminar (air) viscous first order
melewati lingkaran akan membentuk
boundary layer (lapisan batas) yang
disebabkan oleh gesekan aliran fluida
dengan permukaan lingkaran. Ketika aliran
fluida melewati lingkaran akan terjadi
perubahan tekanan dan kecepatan di
Gambar 19. Kontur tekanan aliran
sepanjang lingkaran. Dapat dilihat dari
laminar (udara) viscous first order
gambar diatas kecepatan maksimum
berada disekitar sudut 90o dan kecepatan
mulai berkurang setelah melewati
lingkaran pada sudut 90o. Kemudian untuk
daerah wake yang dihasilkan oleh aliran
laminar dan turbulen, dapat dilihat pada
gambar diatas bahwa aliran laminar lebih Gambar 20. Kontur tekanan aliran
luas daripada aliran turbulen. Semakin turbulen (air) viscous first order
besar daerah wake yang dihasilkan maka
semakin besar pula daerah di belakang
135 -0,30702701
180 0,092083

Tabel koefesien perssure turbulen udara:


ϴ Cp
Gambar 20. Kontur tekanan aliran 0 1,736288
45 2,2867911
turbulen (udara) viscous first order
90 0,63528198
135 0,36003101
Dilihat dari gambar diatas nilai
180 -1,016227
tekanan dan koefisien tekanan yang
dihasilkan yaitu pada daerah pada sudut 0o
memiliki nilai koefisien tekanan paling
tinggi dan nilai tekanan pada daerah atau
Grafik koefesien pressure
sudut 90o memiliki nilai paling kecil.

4.1.3 Koefisien Pressure

Tabel koefesien pressure

Tabel koefesien perssure laminar udara:


ϴ Cp
0 1,463392
45 1,359082
90 -0,20556501 Pada simulasi FLUENT didapatkan
135 0,837533
180 -1,5615931 nilai Cp pada sudut 0, 45, 90, 135, dan
180. Dari data nilai Cp didapatkan grafik
Tabel koefesien perssure laminar air: coefficient pressure terhadap sudut seperti
ϴ Cp di tunjukkan pada gambar. Pada sudut 0o
0 1,7192481 terjadi koefesien pressure terbesar. Aliran
45 0,754661118
90 -0,76111799
laminar air dan turbulen udara pola
135 -0,48552099 grafiknya sama baik, meskipun nilainya
180 -0,209925 masih belum mencapai atau sama dengan
nilai Cp pada aliran ideal flow. Aliran
Tabel koefesien perssure turbulen air:
turbulen udara mempunya pola grafik yang
ϴ Cp
nilai Cp kurang dari aliran ideal flow. Niali
0 0,49119201
45 -1,304801 Cp pada sudut 180o tidak mencapai nilai 1
90 -2,1030209 kembali, dimungkinkan karena adanya
efek viscous yang menyebabkan drag F = Gaya pada analisa numerik FLUENT
tekanan tekanan atau drag gesek pada 2D (N/m)
permukaan lingkaran.
ρ = massa jenis air (kg/m3)
4.1.4 Koefisien Drag
K = keliling lingkaran (m)
Tabel Koefesien Drag
Cd = koefisien drag dalam aerodinamika
Flow Force (N/m) Cd dan hidrodinamika.

Laminar 7,3222372 x 0,000704 Analisa dimensi :


viscous 1st 10-8
𝐶𝑑 = 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛𝑠𝑖 sama dengan
order (air)
Laminar 144231,76 0,5623
viscous 1st
order
(udara) Pada Tabel diatas didapatkan nilai

Turbulence -348.77328 -33,44 Cd dari setiap aliran. Dalam teori nilai Cd

viscous 1st untuk aliran laminar pada lingkaran yaitu

order (air) Cd = 1,17 sedangkan pada hasil yang

Turbulence 199936,82 0,7795 didapatkan jauh dari hasil teori.

viscous 1st Kemungkinan terjadi kesalahan dalam

order meshing atau kerapatan meshing yang

(udara) masih belum rapat. Sedangkan pada aliran


turbulen nilai Cd = 0,3 dalam teori, dan
hasil simulasi pada turbulen udara sangat
Pada simulasi numerik dengan jauh dan mempunyai nilai negatif dari hisil
menggunakan FLUENT dua dimensi (2D) teori dan pada turbulen udara nilai Cd
menghasilkan nilai gaya dengan satuan melebbihi dari hasil teori.
N/m (Newton/meter). Ini sesuai dengan
analisa dimensinya yaitu: 5. KESIMPULAN
Setelah dilakukan analisa aliran
fluida pada lingkaran dengan
menggunakan metode CFD maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
Dimana :
1. Pada diskritisasi first order, pada
laminar air dan turbulen udara
mencapai konvergen sebelum litersi
2000, sedangkan pada laminar udara
dan turbulen air belum mencapai
konvergen setelah literasi 2000.
2. Kecepatan maksimum aliran berada
disekitar sudut 90o dan kecepatan
mulai berkurang setelah melewati
lingkaran pada sudut 90o.
3. Koefisien tekanan yang dihasilkan
pada sudut 0o memiliki nilai koefisien
tekanan paling tinggi dan nilai tekanan
pada sudut 90o memiliki nilai paling
kecil.
4. Nilai Cd pada diskritisasi first order
untuk aliran laminar dan turbulen yang
dihasilkan masih belum sesuai dengan
teori.

5. DAFTAR PUSTAKA