Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep

diri. Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam

setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat

yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan

manusia dari makhluk hidup lainnya.

Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan

aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki

dorongan untuk berkembang. Perkembangan yang berlangsung kemudian

membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang

kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap

kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang

seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu

sangatlah penting untuk seorang perawat memahami konsep diri. Memahami

diri sendiri terlebih dahulu baru bisa memahami klien.

2. Rumusan Masalah

1) Apa pengertian konsep diri

2) Bagaimana komponen atau bagian dari konsep diri

3) Apa faktor – faktor yang memengaruhi konsep diri

1
4) Apa macam – macam konsep diri

5) Apa dimensi – dimensi konsep diri

6) Bagaimana perkembangan konsep diri

3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1) Untuk Mengetahui Konsep Diri

2) Untuk Mengetahui Komponen-komponen Konsep Diri

3) Untuk Mengetahui Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Konsep Diri

4) Untuk Mengetahui Macam – macam konsep diri

5) Untuk Mengetahui Dimensi-dimensi Konsep Diri

6) Untuk Mengetahui Perkembangan Konsep Diri

7) Untuk Mengetahui Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Konsep Diri

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KONSEP DIRI

Beberapa Pengertian konsep diri menurut para ahli :

 Menurut Burns (1982),

konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita

sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefisikan konsep

diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks diri keyakinan yang

dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi,

nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.

 Stuart dan Sudeen (1998),

konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang

diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam

berhubungan dengan orang lain.

 Seifert dan Hoffnung (1994)

mendefinisikan konsep diri sebagai “suatu pemahaman mengenai diri atau

ide tentang konsep diri.“

 Cawagas (1983)

Menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu

akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,

kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan

sebagainya.

3
 Santrock (1996)

Menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu

dari konsep diri.

 Atwater (1987)

Menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang

meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan

nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya.

Secara keseluruhan disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara seseorang

untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan,

dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan orang

lain.

B. KOMPONEN - KOMPONEN KONSEP DIRI

Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut

dikemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ), yang terdiri dari :

1. Citra Tubuh / Gambaran diri ( Body Image )

Citra Tubuh adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya

secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaaan

tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan

masa lalu yang secara berkesinambungan di modifikasi dengan

pengalaman baru setiap individu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 ).

4
Beberapa hal terkait citra tubuh antara lain :

1) Fokus individu terhadap bentuk fisiknya lebih terasa pada usia remaja

2) Bentuk badan, tinggi badan, serta tanda-tanda kelamin sekunder

menjadi citra tubuh

3) Cara individu memandang dirinya berdampak penting terhadap aspek

psikologis individu tersebut

4) Citra tubuh seseorang sebagian dipengaruhi oleh sikap dan respon

orang lain terhadap dirinya dan sebagian lagi oleh eksplorasi individu

terhadap dirinya

5) Gambaran yang realistis tentang menerima dan menyukai bagian tubuh

akan memberi rasa aman serta mencegah kecemasan dan

meningkatkan harga diri

6) Individu yang stabil , realistis, dan konsisten terhadap citra tubuhnya

terhadap citra tubuhnya dapat mencapai kesuksesan

2. Ideal Diri ( Self Ideal )

Ideal Diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku

berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu

(Stuart and Sundeen ,1991). Standart dapat berhubungan dengan tipe orang

yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang

ingin di capai .

Faktor yang mempengaruhi ideal diri ( Ana Keliat, 1998 ) yaitu :

1) Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya

2) Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri

3) Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang

realistis

5
4) Keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan

rendah diri

5) Kebutuhan yang realistis

6) Keinginan untuk menghindari kegagalan

7) Perasaan cemas dan rendah diri

Beberapa hal yang berkaitan dengan ideal diri yaitu :

1) Pembentukan ideal diri pertama kali terjadi pada masa kanak-kanak

2) Masa remaja terbentuk mulai proses identifikasi terhadap orang tua,

guru dan teman

3) Ideal diri dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting

dalammemberikan tuntunan dan harapan

4) Idel diri mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma

keluarga dan sosial

3. Harga diri ( Self Esteem )

Harga Diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan

menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and

Sundeen, 1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga

diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal ,

maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri

dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan

dari orang lain (Keliat, 1992).

Cara- cara untuk meningkatkan harga diri seseorang :

1) Memberinya kesempatan untuk berhasil

2) Memberinya gagasan

6
3) Mendorongnya untuk beraspirasi

4) Membantunya membentuk koping

Faktor-Faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :

1) Perkembangan individu.

Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan

orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan

anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang

lain.

2) Ideal Diri tidak realistis.

Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya

hak untuk gagal dan berbuat kesalahan.

3) Gangguan fisik dan mental

Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah

diri.

4) Sistim keluarga yang tidak berfungsi.

Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu

membangun harga diri anak dengan baik.

5) Pengalaman traumatik yang berulang,misalnya akibat aniaya fisik,

emosi dan seksual.

Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau

strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma,

7
mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya

koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.

4. Peran ( Role Performance )

Peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan

sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial.

Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai

pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh

individu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 ). Peran adalah sikap dan perilaku

nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di

masyarakat. ( Keliat, 1992 ) .Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari

peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal.

5. Identitas Diri ( Identity )

Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang

bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan

keunikan individu.

Beberapa hal terkait dengan identitas diri antara lain :

1) Identitas personal terbentuk sejak masa kanak-kanak bersamaan

dengan pembentukan konsep diri

2) Individu yang memiliki identitas diri yang kuat akan memandang

dirinya tidak sama dengan orang lain, unik ditmbulkan tidak ada

duanya

3) Identitas jenis kelamin berkembang secara bertahap

4) Kemandirian ttimbul dari perasaan berharga, sikap menghargai diri

sendiri, kemampuan dan penguasaan diri

8
5) Individu yang mandiri dapat mengatur dan menerimanya dirinya

C. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI

Berikut adalah faktor – faktor yang memengaruhi konsep diri

1) Tingkat perkembangan dan kematangan

Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan

anak akan mempengaruhi konsep diri.Contoh, bayi membutuhkan

lingkungan yang mendukung dan penuh kasih sayang, sedangkan anak

membutuhkan kebebasan untuk belajar dan menggali hal-hal baru.

2) Budaya

Pada usia anak-anak nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya

dan lingkungannya.Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak

lebih dekat pada lingkungannya.

3) Faktor Internal dan Eksternal

Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap

konsep diri. Pada sumber internal misalnya, orang yang humoris koping

individunya lebih efektif. Sumber eksternal misalnya adanya dukungan

dari masyarakat dan ekonomi yang kuat.

4) Pengalaman sukses dan gagal

Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri

demikian pula sebaliknya.

9
5) Stesor

Stresor dalam kehidupan misalnya perkawinan, pekerjaan baru, ujian dan

ketakutan. Jika koping individu tidak adekuat maka akan menimbulkan

depresi, menarik diri dan kecemasan.

6) Usia, keadaan sakit, dan trauma

Usia tua, keadaan sakit akan mempengaruhi persepsi dirinya

D. MACAM – MACAM KONSEP DIRI

Ada dua macam konsep diri, yaitu :

 Konsep diri negatif : peka pada kritik, responsif sekali pada pujian,

hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, bersikap

pesimitis pada kompetensi.

 Konsep diri positif : yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa

setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, sadar akan

keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui oleh orang lain, mampu

memperbaiki diri.

Hal-hal yang perlu dipahami tentang konsep diri adalah :

1) Dipelajari melalui pengalaman dan interaksi individu dengan

oranglain.

2) Berkembang secara bertahap.

3) Ditandai dengan kemampuan intelektual dan penguasaan

lingkungan(positif).

4) Negatif ditandai dengan hubungan individu dan sosial yang mal

adaptif.

10
5) Merupakan aspek kritikal yang mendasar dan pembentukan perilaku

individu.

Hal-hal yang penting dalam konsep diri adalah :

1. Nama dan panggilan anak.

2. Pandangan individu terhadap orang lain.

3. Suasana keluarga yang harmonis.

4. Penerimaan keluarga.

E. DIMENSI – DIMENSI KONSEP DIRI

Williams Fitts (dalam agustiani, 2006) membagi konsep diri dalam dua dimensi

pokok, yaitu sebagai berikut:

1. Dimensi Internal

Dimensi Internal atau yang disebut juga kerangka acuan (internal frame of

reference) adalah penilaian yang dilakukan individu yakni penilaian yang

dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam

dirinya.

Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk:

a. Diri identitas (identity sett)

Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep

diri dan mengacu pada pertanyaan, "Siapakah saya?" Dalam

pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang

diberikan pada diri (self) oleh individu-individu yang bersangkutan

untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya,

misalnya "Saya x". Kemudian dengan bertambahnya usia dan

interaksi dengan lingkungannya, pengetahuan individu tentang

dirinya juga bertambah, sehingga ia dapat melengkapi keterangan

11
tentang dirinya dengan halhal yang lebih kompleks, seperti "Saya

pintar tetapi terlalu gemuk " dan sebagainya.

b. Diri Pelaku (behavioral self)

Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya,

yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan oleh

diri. Selain itu bagian ini berkaitan erat dengan diri identitas. Diri

yang adekuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri

identitas dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan

menerima, baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku.

Kaitan dari keduanya dapat dilihat pada diri sebagai penilai.

c. Diri Penerimaan/penilai (judging self)

Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan

evaluator. Kedudukannya adalah sebagai perantara mediator) antara

diri identitas dan diri pelaku. Manusia cenderung memberikan

penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu,

label-label yang dikenal pada dirinya bukanlah semata-mata

menggambarkan dirinya tetapi juga sarat dengan nilai-nilai.

Selanjutnya, penilaian ini lebih berperan dalam menentukan

tindakan yang akan ditampilkannya. Diri penilai menentukan

kepuasan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang

menerima dirinya. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan

harga diri (self esteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan

ketidakpercayaan yang mendasar pada dirinya.

Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi,

kesadaran dirinya lebih realistis, sehingga lebih memungkinkan

individu yang bersangkutan untuk merupakan keadaan dirinya dan

12
memfokuskan energi serta perhatiannya ke luar diri, dan pada

akhirnya dapat berfungsi lebih konstruktif. Ketiga bagian internal ini

mempunyai peranan yang berbeda-beda, namun saling melengkapi

dan berinteraksi membentuk suatu diri yang utuh dan menyeluruh.

2. Dimensi Eksternal

Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan

aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta halhal lain di luar

dirinya. Dimensi ini merupakan suatu hal yang luas, misalnya diri yang

berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama, dan sebagainya. Namun,

dimensi yang dikemukakan oleh Williams Fitts adalah dimensi eksternal

yang bersifat umum bagi semua orang, dan dibedakan atas lima bentuk,

yaitu:

a. Diri Fisik (physical self)

Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya

secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai

kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak

menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, kurus).

b. Diri etik-moral (moral-ethical self)

Bagian ini merupakan perspsi seseorang terhadap dirinya dilihat

Dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Maka ini

menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan,

kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-nilai

moral yang dipegangnya, yang muliputi batasan baik dan buruk.

c. Diri Pribadi (personal self)

Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang

keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau

13
hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauhmana

individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia

merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.

d. Diri Keluarga (family self)

Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam

kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan

seberapa jauh seseorang merasa adekuat terhadap dirinya sebagai

anggota keluarga, Serta terhadap peran maupun fungsi yang

dijalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.

e. Diri Sosial (social self)

Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya

dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya. Pembentukan

penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi

eksternal ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya

dengan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa

ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya reaksi dari orang lain yang

memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Demikian

Pula seseorang tidak dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki diri

pribadi yang baik tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain di

sekitarnya yang menunjukkan bahwa dirinya memang memiliki

pribadi yang baik.

F. PERKEMBANGAN KONSEP DIRI

Konsep diri sebetulnya berkembang sejalan dengan perkembangan aspek-

aspek psikologis lainnya.Individu akan merupaya mendefinisikan diri jika

14
dihadapkan dengan upaya mengembangkan potensinya sesuai dengan tuntutan

tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakannya.

Konsep diri tidaklah statis dan dibentruk dalam kurun waktu tertentu,

melainkan bersifat dinamis dan berkembang secara terus-menerus dan

bersamaan dengan perkembangan personal, emosional, sosial, kognitif, dan

juga bahasa yang dijadikan dasar dalam mengekspresikan eksistensi diri

individu.Lingkungan sangat berperan dalam pembentukan konsep diri,

termasuk lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama dan

pertama, sekolah (dalam hal ini guru), teman sebaya, orang-orang dewasa, dan

juga institusi-institusi nonformal lainnya dalam lingkungan masyarakat.

Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri

merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses

perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak terjadi

dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara

berkesinambungan. Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup.

Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik yang membantu

seseorang dalam mengembangkan konsep diri yang positif.

1. Fase bayi dan kanak-kanak

Secara kronologis, masa bayi berlangsung sejak seorang individu mausia

dilahirkan dari Rahim ibunya sampai berusia sekitar setahun. Sedangkan

masa kanak-kanak adalah masa perkembangan berikutnya, yakni dari usia

setahun hingga usia sekitar lima tahun.

Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara

sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan keluarganya.

15
Tugas-tugas perkembangan pada fase bayi dan kanak – kanak , antara lain:

 Belajar berdiri dan berjalan

 Belajar berbicara

 Belajar membaca

 Belajar membedakan antara hal-hal yang baik dengan yang buruk

2. Fase anak-anak

Masa anak-anak berlangsung antara usia 6-12 tahun dengan ciri-ciri

seperti: memiliki dorongan untuk keluar dari rumah dan memasuki

kelompok sebaya, dan keadaan fisik yang mendorong anak memasuki

dunia permainan.

Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara lain:

 Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral

yang berlaku di masyarakatnya.

 Belajar memainkan peran sebagai seorang pria (jika seorang pria) dan

sebagai seorang wanita (jika seorang wanita).

 Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan

berhitung.

3. Fase remaja

Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama

kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada

pria. Masa perkambangan remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa

ynag penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri

melainkan juga bagi orang tua, guru, dan masyarakat sekitar.

Mengapa demikian? Karena individu remaja sedang berada di

persimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa.

16
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara lain:

 Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya

yang berbeda jenis kelamin.

 Mulai menjadi dirinya sendiri.

 Mempersiapkan diri untuk mencapai karier.

 Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan.

4. Fase dewasa

Masa dewasa berlangsung sekitar usia 21-40 tahun. Sebelum memasuki

masa ini seorang remaja terlebih dahulu berada pada tahap ambang dewasa

atau masa remaja akhir yang lazimnya berlangsung 21 atau 22 tahun.

Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara lain:

 Mulai bekerja mencari nafkah

 Memilih teman atau pasangan hidup berumah tangga

 Mulai memasuki kehidupan berumah tangga

 Belajar hidup bersama pasangan dalam rumah tangga

 Membesarkan anak-anak.

5. Fase setengah baya

Masa setengah baya berlangsung antara usia 40-60 tahun.Konon

dikalangan tertentu, pria dan wanita yang sudah menginjak usia 40 tahun

ke atas sering dijuluki sebagai orang yang sedang mengalami masa

pubertas kedua. Julukan ini timbul karena mereka senang lagi bersolek,

suka bersikap dan bahkan jatuh cinta lagi.

Dikalangan kaum wanita biasanya tampak gejala depresi, cepat

tersinngung, cemas, dan kawatir kehilangan kasih saying anak-anak yang

sudah beranjak dewasa. Selain itu, wanita setengah baya ini juga sering

17
merasa cemas akan kehilangan suami karena menopause yang pada

umumnya diiringi dengan timbulnya tanda-tanda ketuan di bagian tertentu

pada tubuhnya.

Tugas-tugas perkembangan pada fase setengah baya, antara lain:

 Mencapai tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan secara lebih

dewasa

 Membantu anak-anak agar berkembang menjadi orang-orang dewasa

yang bahagia.

 Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan

psikologis yang lazim terjadi pada masa setengah baya.

6. Fase usia tua

Masa tua adalah fase terakhir kehidupan manusia.Masa ini berlangsung

antara usia 60 tahun sampai berhembusnya napas terakhir.mereka yang

sudah menginjak umur 60 tahun ke atas dalam istilah psikologi disebut

“senescence” (masa tua) biasanya ditandai oleh perubahan-perubahan

kemampuan motoric yang semakin merosot.

Tugas-tugas perkembangan pada fase ini, antara lain:

 Menyesuaikan diri dengan keadaan pension dan berkurangnya


penghasilan.
 Membina pengaturan jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan

sesuai dengan kebutuhannya.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh

dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu

dalam berhubungan dengan orang lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat

untuk memahami konsep diri terlebih dahulu harus menanamkan dalam dirinya

sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang dialami klien bisa saja

mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain

memenuhi kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan

kembali konsep dirinya.

Ada beberapa komponen konsep diri yaitu identitas diri yang

merupakan intenal idividual, citra diri sebagai pandangan atau presepsi, harga

diri yang menjadi suatu tujuan, ideal diri menjadi suatu harapan, dan peran atau

posisi di dalam masyarakat.

B. Saran

Disarankan setelah membaca makalah ini dan memahaminya agar

diaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehingga, sikap saling mengerti dan

menghargai sesama manusia lebih baik.

19
DAFTAR PUSTAKA

Handry, M dan Heyes, S. 1989. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, Elizabeth B., Alih Bahasa : Med Meitasari T dan Muslichah Z., 1990.

Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta : Erlangga.

Jelle, HL dan Ziegler, JD. 1992. Personalities Theories Third Edition. New York:

McGraw Hill.

Markus H dan Nurius P. 1986. Possible Serve American Psichologist.

Monks, F.J, Knoers, A. M. P, Haditono. 1998. S, Psikologi Perkembangan:

Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajahmada University

Press.

Santrock J. W. 1995. Life Span Development Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

20
21