Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN

Laporan ini ditulis untuk memenuhi tugas Praktikum Proses Merserisasi Metode
Exhaust
Praktikum Teknologi Persiapan Penyempurnaan

Disusun Oleh

1.Rifqi Dias Ramadhan (17020066)


2.Syafira Narendraduhita (17020083)
3.Utami Nurul Azijah (17020087)
4.Nabilla Aristania (17020101)

2K4

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL


POLITEKNIK STT TEKSTIL
2018
1.Maksud & Tujuan

1.1. Maksud
Melakukan proses merserisasi & kontasi kapas dengan variasi waktu
1.2. Tujuan

Menganaslisa pengaruh waktu pada proses merserisasi & kontasi pada kain
kapas untuk mendapatkan nilai optimum berdasarkan evaluasi atau data
pengamatan prakatikum

2. Teori Dasar
Serat Kapas Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman kapas. Tanaman
kapas termasuk dalam jenis Gossypium. Tanaman yang berhasil dikembangkan
adalah jenis Gossypium hirsutum dan Gossypium barbadense. Kedua tanaman
berasal dari Amerika, Gossypium hirsutum kemudian terkenal dengan nama kapas
”Upland” atau kapas Amerika dan Gossypium barbadense kemudian dikenal dengan
nama kapas ”Sea Island”
Komposisi Kapas Kandungan terbesar dari serat kapas adalah selulosa, zat lain
selulosa akan menyulitkan masuknya zat warna pada proses pencelupan, oleh
karena itu zat selain selulosa dihilangkan dalam proses pemasakan. Komposisi
serat kapas dicantumkan pada Tabel 1.5.
Tabel 1.5 Komposisi Serat Kapas

Senyawa kandungan

Selulosa 94

Protein 1,3

Pektin 1,2

Lilin 0,6

Abu 1,2

Pigmen dan zat 1,7


lain

2.1 Sifat Serat Kapas


Serat kapas berasal dari tanaman, oleh karena itu serat kapas termasuk serat selulosa,
sehingga sifat kimia serat kapas mirip seperti sifat selulosa. Di dalam larutan alkali kuat
serat kapas akan menggembung sedangkan dalam larutan asam sulfat 70% serat
kapas akan larut. Proses penggembungan serat kapas dalam larutan NaOH 18%
disebut proses merserisasi. Kapas yang telah mengalami proses merserisasi
mempunyai sifat kilau lebih tinggi, kekuatan lebih tinggi dan daya serap terhadap zat
warna yang tinggi. Oksidator selama terkontrol kondisi pengerjaanya tidak
mempengaruhi sifat serat, tetapi oksidasi yang berlebihan akan menurunkan kekuatan
tarik serat kapas. Oleh karena itu pada proses pengelantangan yang menggunakan
oksidator harus digunakan konsentrasi oksidator dan suhu pengerjaan yang tepat agar
tidak merusak serat. Morfologi serat kapas jika dilihat dibawah mikroskop mempunyai
penampang memanjang seperti pita yang terpilin dan penampang melintang seperti
ginjal dengan lubang ditengah yang disebut lumen

karakteristik serat kapas tercantum dalam Tabel 1.6 berikut :


Tabel 1.6 Karakteristik Serat Kapas
Daya serap Hidrofilik,Moisture
Regain : 8.5 %
Elastisitas Kurang baik

Pembakaran Terbakar habis, tidak


meniggalkan abu
Kekuatan 2 – 3 gram/denier,
kekuatann akan
meningkat 10 % lebih
kuat ketika basah

Mulur Mulur serat kapas


berkisar antara 4-13
% bergantung pada
jenisnya dengan
mulur rata-rata 7 %.

Struktur Kimia Serat Kapas Serat kapas tersusun atas selulosa yang komposisi
murninya telah lama diketahui sebagai zat yang terdiri dari unit-unit anhidro-beta-
glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n dengan n adalah derajat polimerisasi yang
tergantung dari besarnya molekul. Selulosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n
merupakan suatu rantai polimer linier yang tersusun dari kondensat molekul-molekul
glukosa yang dihubungkan oleh jembatan oksigen pada posisi atom karbon nomor satu
dan empat. Stuktur rantai-rantai molekul selulosa disusun dan diikat satu dengan yang
lainnya melalui ikatan Van der Waals.
Struktur kimia dari selulosa dapat dilihat pada Gambar 2.1.2

Setiap satuan glukosa mengandung tiga gugus hidroksil (-OH). Gugus hidroksil pada
atom karbon nomor lima merupakan alkohol primer (-CH2OH), sedangkan pada posisi
2 dan 3 merupakan alkohol sekunder (HCOH). Kedua jenis alkohol tersebut mempunyai
tingkat kereaktifan yang berbeda. Gugus hidroksil alkohol primer lebih reaktif daripada
gugus hidroksil alkohol sekunder. Gugus hidroksil merupakan gugus fungsional yang
sangat menentukan sifat kimia serat kapas, sehingga serat selulosa dinotasikan
sebagai sel-OH dalam penulisan mekanisme reaksi.
Struktur Fisika Serat Kapas Serat kapas tersusun dari suatu rantai panjang anhidrida
glukosa yang diorientasikan dan diikat satu dengan lainnya melalui ikatan atau gaya
hidrogen danvan der Waals. Orientasi rantai molekul seluosa tersebut tidak semuanya
sempurna, karena dipisahkan oleh bagianbagian disorientasi secara berselang-seling.
Sesunan rantai molekul selulosa yang teririentasi teratur disebut kristalin, sedangkan
yang tidak teratur (disorientasi) disebut amorf. Dari difraksi sinar X diketahui bahwa
selulosa terdiri dari 75 % bagian kristalin dan sisanya bagian amorf. Bagian amorf
mempunyai daya serap yang lebih besar dan kekuatan yang lebih rendah dibandingkan
dengan kristalin. Pada bagian kristalin letak dan jarak antara molekul-molekul selulosa
tersusun sangat teratur dan sejajr satu sama lain. Pada bagian amorf letak dan jarak
antara molekul-molekul selulosa tidak teratur (ada jarak antara masing-masing molekul
selulosa yang besar dan kecil ). Pada jarak yang besar inilah molekul-molekul air dapat
masuk sehingga volume seat akan bertambah. Bentuk kristalin dan amorf serat kapas
dapat dilihat pada Gambar 2.1.2

Sifat Kimia :
1. Pengaruh asam Serat kapas tahan terhadap asam lemah, sedangkan asam kuat
akan mengurangi kekuatan serat kapas karena dapat memutuskan rantai molekul
selulosa (hidroselulosa). Asam kuat dalam larutan menyebabkan degradasi yng cepat
sedangkan larutan yang encer apabila dibiarkan mengering pada serat akan
menyebabkan penurunan kekuatan.
2. Pengaruh alkali Alkali kuat pada suhu didih air dan pengaruh adanya oksigen dalam
udara akan menyebabkan terbentuknya oksiselulosa. Alkali pada kondisi tertentu akan
mengelembungkan serat kapas.
3. Pengaruh oksidator Oksidator dapat menyebabkan terjadinya oksiselulosa yang
mengakibatkan penurunan kekuatan serat. Derajat kerusakan serat bergantung pada
konsentrasi, pH dan suhu pengerjaan.
4. Pengaruh mikroorganisme Dalam keadaan lembab dan hangat, serat kapas mudah
terserang jamur dan bakteri. Tetapi pada kondisi kering, serat kapas mempunyai
ketahanan yang cukup baik terhadap jamur dan mikroorganisme.
2.2 Merserisasi dan Kostisasi
Proses merserisasi dapat didefinisikan sebagai perendaman dalam watu singkat bahan
tekstil yang terbuat dari serat kapas dengan larutan soda kostik pekat (konsentrasi
NaOH 26- 20oBe) sambil diberikan tegangan pada bahan. Sedangan kostisasi adalah
proses yang serupa dengan merserisasi tetapi berbeda pada hal kepekatan soda kostik
yang digunakan yaitu NaOH 20-25 oBe dan tanpa adanya tegangan pada bahan.
Proses merserisasi merupakan proses penyempurnaan permanen pada bahan dan
tidak hilang meskipun dicuci, dicelup atau berbagai pengerjaan selanjutnya. Perbaikan
yang didapat pada bahan kapas setelah mengalami proses merserisasi adalah :
a. Kostisasi menghasilkan :
 Bahan menjadi mengkeret
 Kekuatan tarik bertambah
 Perpanjangan sebelum putus bertambah
 Daya serap dan reaksi selulosa terhadap zat warna pada suhu rendah
bertambah
b. Merserisasi disertai dengan tegangan menghasilkan : Bertambahnya kilau pada
bahan kapas yang permanen, selain dari perubahanperubahan sifat diatas,
bertambahnya kilau serat terutama disebabkan oleh orientasi dari rantai-rantai molekul
selulosa yang menyebabkan deretan kristalin yang lebih sejajar dan teratur
Pengerjaan merserisasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Merserisasi kering, yaitu proses merserisasi yang dilakukan pada bahan dalam
keadaan kering.
2.Merseriasai basah, yaitu proses merserisasi yang dilakukan pada bahan dalam
keadaan basah, misalnya setelah pemasakan. Dalam proses merserisasi akan terjadi
penggelembungan serat kapas yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi
atau konstruksi dari molekul selulosa. Pada konsentrasi 18% NaOH, penggelembungan
adalah yang terbesar

Gambar diatas memperlihatkan perubahan lintang serat kapas selama merserisasi


yang berlangsung secara bertahap mulai dari bentuknya pipih hingga mencapai
penggembungan maksimum pada tahap 5. tahap 6 dan 7 menggambarkan kontraksi
pada pencucian dan pengeringan. Penggembungan mulai terjadi pada konsentrasi
diatas 7% ke arah dalam dan mencapai maksimum pada konsentrasi diatas 11% dan
penggembungan ke arah luar mencapai maksimum pada konsentrasi 13,5% beberapa
literatur menyatakan pengembungan terjadi pada konsentrasi 18% tapi itu tergantung
pada perbedaan serat kapas dan metoda yang digunakan selama penelitian. Efek
pertama dari merserisasi adalah pengedaran ikatan antara mikrofibril, sehingga
penetrasi larutan terus sampai ke ruang mikrokapiler diantara bundel rantai selulosa
dan mikrofibril menggelembung. Bila penetrasi NaOH dapat masuk diantara mikrofibril-
mikrofibril tersebut, hal ini mengakibatkan serat menggelembung dengan bebas dan
terjadi slip diantara mikrofibril-mikrofibril tersebut
Kain grey
Kain grey adalah kain mentah yang masih mengandung banyak kotoran–kotoran baik
berupa kotoran alam maupun kotoran yang berasal dari luar. Kotoran alam adalah
kotoran yang timbul bersama tumbuhnya serat seperti malam, lemak/lilin, pigmen dan
lainnya. Kotoran luar adalah kotoran yang timbul karena proses pengerjaan dari
pengolahan serat
sampai menjadi kain seperti noda minyak, potongan daun, ranting, debu, dan kanji yang
sengaja ditambahkan sebelum pertenunan. Lemak, malam/lilin dan kanji bersifat
menghalangi penyerapan larutan (hidrofob)
proses merserisasi dapat dilakukan pada bahan berbentuk benang maupun kain ,
biasanya dilakukan antara proses penghilang kanji dan pemasakan atau pada bahan
yang telah dihilangkan kanji dan dimasak dan kadang dilakukan pada bahan yang
masih mentah/ grey . prosesini memegang peranan pada bahan tekstil yang terbuat
dari seratmengandung kapas dan rayon viskosakarena akan mempengaruhi sifta kimia
yaitu daya serap terhadap zat warna dan uap air , sifat fisik seperti kilau bahan ,
kekuatan tarik mengkeretdan stabilitas dimensi
2.2.1 Tujuan Merserisasi dan Kostisasi
Tujuan dari proses merserisasi adalah untuk memperbaiki kilau, stabilitas dimensi,
kekatan tarik, dan daya serap terhadap zat warna dan uap air. Sedangkan proses
kostisasi karena bahan tidak mengalami peregangan maka tidak terjadi peningkatan
kilau bahan namun bahan menjadi elastis.
2.2.2 Mekanisme merserisasi dan Kostisasi
Bahan kapas yang direndam dalam larutan NaOH dengan konsentrasi tinggi akan
menggembungkan serat ke arah melintang dan menciut ke arah membujur.
Penampang melintang serat kapas yang awalnya berbentuk seperti ginjal akan berubah
menjadi bentuk elips dan kemudian menjadi bundar, hal ini mengakibatkan
meningkatnya kemampuan serat dalam memantulkan cahaya sehingga bahan akan
kelihatan lebih berkilau. Puntiran serat kapas membuka sehingga serat lebih
menggembung pada bagian kristalin mengakibatkan serat mampu membagi beban
sepanjang serat dengan merata sehingga kekuatan tariknya bertambah. Pada saat
serat kapas menyerap kostik, mula-mula serat selulosa berubah menjadi alkali selulosa,
dan pada pencucian berulang serat berubah menjadi hidroselulosa, dimana serat lebih
banyak mengandung gugus –OH yang dapat menyerap air lebih banyak dan dengan
demikian serat lebih mudah dimasuki oleh zat warna. Faktor yang berpengaruh pada
proses ini adalah konsentrasi NaOH, suhu larutan, waktu perendaman, peregangan
arah lusi dan pakan, zat pembasah / penetrasi, kondisi kain sebelum merser apakah
grey atau kain yang telah dihilangkan kotorannya melalui penghilangan kanji dan atau
pemasakan.
2.2.3 Metoda Merserisasi dan Kostisasi Ada dua metode yang dapat dilakukan
tergantung dari jenis mesin yang tersedia, yaitu metode merserisasi dengan pemberian
peregangan arah lusi dan pakan kain menggunakan mesin Chain Merser dan metode
tanpa peregangan arah pakan menggunakan mesin Chainless dimana proses ini
disebut kostisasi. Disamping itu berdasarkan suhu proses terdiri dari merserisasi dingin
yaitu suhu larutan NaOH 15-20oC dan merserisasi panas dengan suhu larutan 80oC.
Serat berdasarkan kondisi kain yang diproses terdapat metode dry on wet yaitu kain
sebelum merser dalam keadaan kering dan metode wet on wet yaitu kain sebelum
merser dalam keadaan basah.
2.2.4 Faktor – faktor Merserisasi Hasil proses merserisasi dipengaruhi oleh beberapa
factor antara lain :
1. Zat-zat yang digunakan Untuk kain kapas gunakan NaOH 30 – 36oBe, atau
konsentrasi 25% sedangkan untuk kain rayon gunakan larutan Kalium Hidroksida
(KOH) 32 oBe. (perhatian : rayon tidak tahan terhadap NaOH). Kadang-kadang dalam
pembuatan resep merserisasi juga ditambahkan zat pembantu seperti : pembasah,
garam natrium atau kalium chloride dan sulfat.
2. Suhu pengerjaan Pengerjaan proses merserisasi dilakukan pada suhu 20 oC
(Perhatian : di atas 30oC NaOH dapat merusak serat sellulosa). Suhu pengerjaan harus
dijaga konstan/tetap, dan dihindari panas yang terjadi/timbul selama proses merserisasi
berlangsung.
3. Lama pengerjaan Waktu pengerjaan singkat saja sekitar 40 detik, karena pengerjaan
lebih lama lagi tidak akan efektif memberi hasil yang lebih baik.
4. Tegangan Pemberian dilakukan pada waktu penyerapan larutan kostik soda dan
pada waktu pencucian sedang berjalan atau bisa juga dilakukan setelah penyerapan
larutan kostik soda tetapi sebelum pencucian dilakukan. Pemberian tegangan ini
disesuaikan dengan prinsip dapat mengembalikan bahan agar sama dengan panjang
semula. (perlu diperhatikan : bahwa pemberian tegangan setelah pencucian
berlangsung tidak akan memberikan efek kilau yang baik dan penambahan panjang
yang diperoleh akan mengkeret kembali dalm proses pencucian.
5. Kualitas bahan yang dimerser Semakin baik kualitas bahan yang dimerser, akan
memberikan hasil merserisasi yang baik.
6. Anyaman bahan/kain Anyaman pada bahan yang dimerser juga menentukan hasil
merserisasi, misalnya anyaman satin dan anyaman keper karena mempunyai efek
benang yang banyak pada permukaan bahan/kain, maka akan memberikan efek
merserisasi yang baik (khususnya dalam menambah kilapnya).
Fungsi zat
Zat pembasah
memudahkan kain terbasahi dan larutan kostik termasuk berpenetrasi ke dalam celah
antar serat
NaOH
menggelembungkan serat
Daftar pustaka :

 Suprapto ,Agus , Muhammad Ichwan, Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Sekolah Tinggi


Teknologi Tekstil, Bandung, 2005.
 http.google.com / NaoH dan fungsinya.
 file:///C:/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/Downloads/39
%20Modul%20PLPG%20Tekstil%202013-%20Draft%202%20(1)%20(3).pdf
 http://khanifarifin.blogspot.com/2011/11/proses-merserisasi-dan-proses-
kostisasi.html