Anda di halaman 1dari 21

Penyakit paru obstruktif menahun (PPOM)

Semua penyakit pernupasan dikarakterisikkan oleh obstruksi kronis pada


aliras udara dengan klasifikasi luas PPOM alam kategori luas ini penyebab utama
obstruksi bermacam-macara, mis., inflamasi jalan napas. perlengkélan mukosa
ponyempitan lumen jalan napas, atau kerusakan jalan napas. Asma: Dikarakteristikan
oleh konstriksi yang dapat pulih dari otot halus bronkial, hipersokresi mukosa, dan
inflamasi mukosa serta edema. Faktor pencetus termasuk alergen. masalah emosi,
cuaca dingin, latihun obat, kimia, dan infeksi. Bronkts kronis: Inflamasi luas jalan
napas dengan penyempitan atau hambatan jalan napas dan peningkatan produksi
sputum mukcid, menyebabkan ketidakcocokan ventilasi-perfusi dan menyebabkan
sianosis .
Emfisema : Bentuk paling berut dari PPOM dikarakteristikan otch inflamasi
berulang melukai dan akhirmya merusak dinding alveclar menyebabkan banyak bleb
atau bula (ruang udara) kolaps bronkiolus pada ekspirasi (jebakan udara). Catatan :
Bronkitis kronis dan emfisema ada bersamaan pada beberapa pasien dan adalah dua
penyakit paling umonm terlihat pada PPOM yang dirawat. Kedua penyakit
dikarakteristikan cleh keterbatasan alican adara kroms Bronkitis kronis dan emfisema
biasanya tidak dapat kembali sempurna, meskipun beberapa efek dapat diobati.
MASALAH YANG BERHUBUNGAN
- Gagal jantung kongestif
- Pneumonia
- Aspek - aspek psikososial perawatan akut
- Bantuan ventilasi (mekanis)

DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN


Aktivitas/istirahat
Gejala :
- Keletihan, kelelahan, malaise
- Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena kesulitan
bernapas
- Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi
- Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
Tanda :
- Keletihan
- Gelisah, insomnia
- Kelemahan umum/kehilangan massa otot

SIRKULASI
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda :
- Peningkatan TD
- Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia.
- Distensi vena lehor (penyakit berat)
- Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung
- Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada)
- Warna kuliumembran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis: kuku tabuh dan
sianosis perifer
- Pucat dapat menunjukkan anemia.

INTEGRITAS EGO
Gejala :
- Peningkatan faktor risiko
- Perubahan pola hidup
Tanda : Ansietas, ketakutan peka rangsang

MAKANAN/CAIRAN
Gejala :
- Mual/muntah
- Napsu makan buruk/anoreksia (emfisema)
- Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan
- Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan herat badan
menunjukkan edema (bronkitis)
Tanda :
- Turgor kulit buruk.
- Edema dependen.
- Berkeringat
- Penurunan berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema)
- Palpasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali (bronkitis).

HYGIENE
Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas
sehari-hari.
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.

PERNAPASAN
Gejala :
- Napas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol
pada emfisema) khususnya pada kerja: cuaca atau episode berulangnya sulit napas
(asma); rasa dada tertekan ketidakmampuan untuk bernapas (asma).
- "Lapar udara" kronis.
- Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun)
selama mini- mum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi
sputum (hijau, putih. atau kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis).
- Episode batuk hilang-timbul, biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun
dapat menjadi produktif (emfisema).
- Riwayat pneumonia berulang, terpajan pada polusi kimia/iritan pernapasan dalam
jangka panjang (misal rokok sigaret) atau debu/asap (misal asbes, debu, batu bara,
rami katun, serbuk gergaji).
- Faktor keluarga dan keturunan, misal defisiensi alfa-antitripsin (emfisema).
- Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus.
Tanda :
- Pernafasan : biasanya cepat, dapat lambat; fase ekspirasi memanjang dengan
mendengkur, napas biibir (emfisema).
- Lebih memilih posisi tiga titik (“tripot”) untuk bernafas (khususnya dengan
eksaserbasi akut bronkitis kronis).
- Penggunaan otot bantu pernafasan, misal meninggikan bahu, retraksi fosa
supraklafikula, melebarkan hidung.
- Dada : dapat terlihat hiperinflamasi dengan peninggian diameter AP (bentuk-
barrel): gerakan diafragma minimal.
- Bunyi napas : mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar,
lembut, atau krekels lembab kasar (bronkitis); ronki mengi sepanjang area paru
pada ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampau penurunan
atau tak adanya bunyi napas (asma).
- Perkusi : hipersonan pada area paru (misal jebakan udara dengan emfisema);
bunyi pekak pada area paru (misal konsolidasi, cairan, mukosa).
- Kesulitan bicara kalimat ata lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.
- Warna ; pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku; abu-abu keseluruhan; warna
merah (bronkitis kronis, “biru menggembung”). Pasiem dengan emfisema sedang
sering disebut “pink puffer” karena warna kulit normal meksipun pertukaran gas
tak normal dan frekuensi pernafasan cepat.
- Tabuh pada jari-jari (emfisema)
KEAMANAN :
Gejala :
- riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zatfaktor lingkungan.
- Adanya/berulangnya infeksi
- Kemerahan/berkeringat (asma).

SEKSUALITAS
Gejala : penurunan libido
INTERAKSI SOSIAL
Gejala :
- hubungan ketergantungan .
- Kurangg sistem pendukung.
- Kegagalan dukunga dari/terhadap pasangan/orang terdekat
- Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik.
Tanda :
- ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara karena distres
pernafasan.
- Keterbatasan mobilitas fisik.
- Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

PENYULUHAN/PEMBELAJARAN
Gejala :
- Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan
- Kesulitan menghentikan merokok
- Penggunaan aliohol secara teratur
- Kegagalan untuk membaik
Pertimbangan DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 5,9 hari
Rencana Pemulangan :
- Bantuan dalam berbelanja, transportasi, kebutuhan perawatan diri, perawatan
rumah/mempertahankan tugas rumah.
- Perubahan pengobatan/program trapeutik

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Sinar-x dada : dapat menyatakan hiperinflasi paru paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi atau
bula( emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis); hasil normal selama
periode remisi (asma).
Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab display untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruksii atau restriksi untuk memperkirakan derajat
diskusi dan untuk mengevaluasi efek terapi misalnya bronkodilator.
TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma penurunan
emfisema.
Kapasitas inspirasi :menurun pada emfisema.
Volume residu: meningkatkan pada emfisema bronkitis kronis dan asma.
FTV 1 atau FVC : rasio volume ekspirasi kuat dengan Kapasitas vital kuat menurun
pada bronkitis dan asma.
GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis misalnya paling sering PaO2
menurun dan PaCo2 normal atau meningkat atau bronkitis kronis dan emfisema tetapi
sering menurun pada asma PH Normal atau asidosis alkalosis respiratorik ringan
sekunder terhadap hiperventilasi emfisema sedang atau asma.
Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi kolaps
bronkial pada ekspirasi kuat emfisema pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada
bronchitis.
JDLl dan diferensial: hemoglobin meningkat emfisema luas peningkatan eosinofil
asma.
Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa
emfisema primer.
Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi mengidentifikasi patogen
pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.
EKG: deviasi Axis kanan peninggian gelombang P asma berat Destria atrial bronkitis
panjang gelombang P pada lead II,III,AVF bronkitis emfisema Axis vertikal q r s
emfisema.
EKG latihan, tes stress: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru Bang
evaluasi keefektifan terapi bronkodilator perencanaan atau evaluasi program latihan.

PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Mempertahankan potensi jalan nafas
2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas
3. Meningkatkan masukan nutrisi
4. Mencegah komplikasi memperlambat memburuknya kondisi
5. Memberikan informasi tentang proses penyakit atau prognosis dan program
pengobatan

TUJUAN PEMULANGAN
1. ventilasi atau oksigen nasi adekuat untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
2. masukkan nutrisi memenuhi kebutuhan kalori
3. beban infeksi
4. proses penyakit atau prognosis dan program terapi dipahami

DIAGNOSA
BERSIHAN JALAN NAPAS TAK EFEKTIF
KEPERAWATAN
Dapat dihubungkan dengan Bronkuspasme
Peningkatan produksi sekret sekresi tertahan, tebal,
sekresi kental
Penurunan energi/ kelemahan
Kemungkinan dibuktikan Pernyataan kesulitan bernapas Perubahan kedalaman/
oleh kecepatan pernapasan penggunaan otot aksesori bunyi
nafas tak normal misalnya mengi,ronki,krekels
Batuk (menetap), dengan/tanpa produksi sputum
Hasil yang Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi
diharapkan/kriteria evaluasi nafas bersih/jelas
pasien akan: Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan
jalan napas misalnya batuk efektif dan mengeluarkan
secret

TINDAKAN INTERVENSI RASIONAL


Mandiri Beberapa derajat spasme bronkus
Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi terjadi dengan obstruksi jalan napas dan
napas, mis, mengi, krekels, ronki dapat/tak dimanifestasikan adanya
bunyi napas adventisius, mis,
penyebaran, krekels basah (bronchitis ),
bunyi napas redup dengan ekspirasi
mengi ( emfisema ), atau tak adanya
bunyi napas (asma berat)
Kaji/ pantau frekuensi pernapasan. Catat Takipnea biasanya ada pada beberapa
rasio inseksi/ ekspirasi derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan/ selama stress/ adanya
proses infeksi akut. Pernapasan dapat
melambat dan frekuensi ekspirasi
memnajang di bandingkan dengan
inspirasi
Catat adanya/derajat dyspnea, mis, keluhan Disfungsi pernapasan adalah fariabel
“lapar udara,” gelisah, ansietas, distres yang tergantung pada tahap proses
pernapasan. Penggunaan otot bantu kronis selain proses akut yang
menimbulkan perawatan di rumah sakit,
missal infeksi, reaksi alergi
Kaji pasien untuk posisi yang nyama, mis.. Peninggian kepala tempat tidur
peninggian kepala tempat tidur, duduk pada mempermudah fungsi pernapasan
sandaran tempat tidur. dengan menggunakan gravitasi.
Namun, pasien dengan distress berat
akan mencari posisi yang paling mudah
untuk bernapas. Songkongan
tangan/kaki dengan meja, bantal, dan
lain-lain dapat membantu menurunkan
kelemahan otot dan dapat sebagai alat
ekspansi dada
Pertahankan polusi lingkungan minimum, Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan
mis, debu, asap, dan bulu bantal yang yang dapat mentriger episode akut
berhubungan dengan kondisi individu.
Dorong/ bantu latihan napas abdomen atau Memberikan pasien bebrapa cara untuk
bibir mengatasi dan mengontrol dyspnea dan
menurunkan jebakan udara.
Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi Beberapa derajat spasme bronkus
napas, mis: Mengi, krekels, ronki, terjadi dengan obstruksi jalan napas dan
dapat/tak dimanifestasian adanya bunyi
napas adventisius. Mis: penyebaran,
krekels basah ( bronchitis). Bunyi napas
redup dengan ekspirasi mengi
(emfisema) : atau tak adanya bunyi
napas (asma berat).
Kaji/pantau rfekuensi pernapasan. Catat Takipnea biasanya ada pada beberapa
rasio inspirasi/ekspirasi derajat dan dapat ditemukan pada
peneriman atau selama stress/adanya
proses infeksi akut. Pernapasan dapat
melambat dan frekuensi ekspirasi
memanjang dibanding inpirasi.
Catat adanya/derajat dispnea, mis: Keluhan Disfungsi pernapasan adalah variable
“lapar udara.” Gelisah, ansietas, distress yang tergantung pada tahap proses
pernapasan, penggunaan, otot bantu kronis selain proses akut yang
menimbulkan perawatan dirumah sakit,
mis: infeksi, reaksi alergi.
Kaji pasien untuk posisi yng nyaman, mis: Peninggian kepala tempat tidur
Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada mempermudah fungsi pernapasan
sandaran tempat tidur. dengan menggunakan gravitasi.
Namun, pasien dengan distress berat
akan mencari posisi yang paling mudah
untuk brnapas. Sokongan tangan/kaki
dengan meja, bantal, dan lain-lain
membantu menurunkan kelemahan otot
dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
Pertahankan polusi lingkungan minimum, Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan
mis: Debu, asap, dan bulu bantal yang yang dapat mentriger episode akut.
berhubungan dengan kondisi individu. Memberikan pasien beberapa cara
Dorong/bantu latihan napas abdomen atau untuk mengatasi dan mengontrol
bibir. dispnea dan menurunan jebakan udara
Obeservasi karakteristik Batuk dapat menetap teteapi tidak
batuk,mis.,menetap,batuk pendek, Basah. efektif,khususnya bila pasien lansia,
Bantu tindakan untuk memeperbaiki sakit akut, atau kelemahan. Batuk
keefektifan upaya bentuk. paling Efektif pada posisi duduk
tinggi atau kepala di bawah Setelah
peruksi dada.
Batuk dapat menetap teteapi tidak
efektif,khususnya bila pasien lansia,
sakit akut, atau kelemahan. Batuk
paling Efektif pada posisi duduk tinggi
atau kepala di bawah Setelah peruksi
dada Hedrasi membantu menurunkan
kekentalan skret mem permudah
pengeluran. Penggunaan cairan hangat
dapat menrunkan spasme bronkus.
Cairan selama makan dapat
meningkatan distensi gaster dan
tekanan pada diafrgama
Merilekskan otot halus dan menurunkan
kongesti lokal menurunkan spasme
jalan napas,mengi, dan produksi mokos.
Obat-obat mungkin per oral,injeksi,
atau inhalasi Menurunkan edema
mukosa dan spasme otot polos

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
PERTUKARAN GAS, KERUSAKAN
Dapat dihubungkan dengan :
- gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus,
jebakan udara )
- kerusakan alveoli
Kemungkinan dibuktikan oleh :
- dispnea,
- bingung, gelisah.
- Ketidakmampuan membuang sekret,
- nilai GDA tak normal ( hipoksia dan hiperkapnia).
- Perubahan tanda vital penurunan toleransi terhadap aktivitas
Hasil/kriteria evaluasi pasien :
- menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA
dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan
- Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan / situasi

TINDAKAN / INTERVENSI
Mandiri :
1. kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, bafas bibi,
ketidakmampuan bicara / berbincang.
Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan / atau
kronisnya proses penyakit
2. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah
untuk bernapas dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai kebutuhan/
toleransi individu.
Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan
latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea san kerja nafas
3. Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa
Rasional : Sianosis mungkin perifer ( terlihat pada kuku ) atau sentral ( terlihat
sekitar bibir / atau daun telinga ). Keabu-abuan dan dianosis sentral
mengindikasikan bertanya hipoksemia
4. Dorong mengeluarkan sputum., Pengisapan bila diindikasikan
Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan
pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Pengisapan dibutuhkan bila batuk tidak
efektif
5. Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan / bunyi tambahan
Rasional : Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area
konsolodasi. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus / tertahannya
secret. Krekels basah menyebar menunjukkan cairan pada interstisial /
dekompensasi jantung.
6. Palpasi fremitus
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara
terjebak
7. Awasi tingkat kesadaran / status mental. Selidiki adanya perubahan
Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia. GDA
memburuk disertai bingung / somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang
berhubungan dengan hipoksemia
8. Evalusi tingkat tolransi aktivutas. Berikan lingkungan tenang dan nyaman. Batasi
aktivitas pasien atau dorong untuk tidur/ istirahat dikursi selama fase akut.
Mungkinkan pasien lakukakan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan sesuai
toleransi individu.
Rasional : Selama distress pernafasan berat / akut / refraktori pasien secara total
tak mampu melakukan aktivitas sehari - hari karena hipoksemia dan dispnea.
Istirahat diselingi aktivitas perawatan masih penting dari program pengobatan.
Namun, program latihan ditunjukan untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan
tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkat rasa sehat

TINDAKAN / INTERVENSI
Mandiri
1. Awasi tanda vital dan irama jantung
Rasional : Takikardi, distrimia, dan perubahan TD dapat menunjukkan efek
hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
Kolaborasi
1. Awasi/ gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.
Rasional : PaCO2 biasanya meningkat ( bronkitis, emfisema ) dan PaCO2 secara
umum menurun, sehingga hipoksia terjadi dengan derajat lebih kecil atau lebih
besar. Catatan PaCO2 " normal" atau meningkat menandakan kegagalan
pernapasan yang akan datang selama asmatik.
2. Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi
pasien.
Rasional : Dapat memperbaiki / mencegah memburuknya hipoksia. Catatan :
emfisema kronis mengatur pernapasan pasien ditentukan oleh kadar CO2 dan
mungkin dikeluarkan dengan peningkatan PaCO2 berlebihan
3. Berikan penekan SSP ( mis., Antiansietas, sedatif, atau narkotik ) dengan hati -
hati.
Rasional : Digunakan untuk mengontrol ansietas / gelisah yang meningkatkan
konsumsk oksigen / kebutuhan, eksaserbasi dispnea, dipantau ketat karena dapat
terjadi gagal napas

4. Bantu intubasi, berikan / pertahankan ventilasi mekanik, dan pindahkan ke UPI


sesuai instruksi untuk pasien.
Rasional : Terjadinya / kegagalan napas yang akan datang memerlukan upaya
tindakan penyelamatan hidup.

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
NUTRISI, PERUBAHAN,KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH
Dapat dihubungkan dengan :
- Dispnea.
- Kelemahan.
- Efek samping obat.
- Produksi sputum.
- Anoreksia, mual/muntah.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
- Penurunan berat badan.
- Kehilangan massa otot, tonus otot buruk.
- Kelemahan.
- Mengeluh gangguan sensasi pengecap.
- Keengganan untuk makan, kurang tertarik pada makanan.
HASIL YANG DIHARAPKAN/KRITERIA EVALUASI---
PASIEN AKAN :
- Menunjukkan berat badan menuju tujuan yang tepat.
- Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau
mempertahankan berat yang tepat.

TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
1. Kaji kebiasaan diet,masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan.
Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh
Rasional : Pasien distres pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea,
produksi sputum dan obat. Selain itu banyak pasien PPOM mempunyai kebiasan
makan buruk, meskipun kegagalan pernafasan membuat status hipermetablik
dengan peningkatankebutuhankalori. Sebagai akibat pasien sering masuk RS
dengan beberapa derajat mal nutrisi. Orang yang mengalami emfisema sering
kurus denganperototan kurang.
2. Auskultasi bunyi usus
Rasional : Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunanmorilitas
gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan
pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas dan
hipoksemia
3. Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali
pakai dan tisu.
Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap
nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan
nafas
4. Dorong periode istirahat selam 1 jam sebelum dan sesudah mskan. Berikan
makan porsi kecil tapi sering
Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan
memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
5. Hindari makan penghasil gas dan minuman karbonat
Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas
abdomen dan gerakan difragma, dan dapat meningkatkan dispnea
6. Hndari makanan yang sangat atau sangat dingin
Rasional : Suhu extreme dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk
7. Timbang berat badan sesui indikasi
Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat
badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan : penurunan berat badan
dapat berlanjut meskipun masukan adekuat sesuai teratasi nya edema.
Kolaborasi
1. Konsul ahli gizi/nutrisis pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah
cerna, secara nutrisis seimbang, misalnya nutrisi tambahan oral/selang, nutrisi
parenteral
Rasional : Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi/kebutuhan
individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /
penggunaan energi.
2. Kaji pemeriksaan lab. Misal albumin serum, transferinprofil asam amino, besi,
pemeriksaan keseimbangan nitrogen, glukosa, pemeriksaan fungsi hati, elektrolit.
Berikan vitamin/mineral elektrolit sesuai indikasi
Rasional : Mengevaluasi/mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan terapi
nutrisi.
3. Berikan oksigen tambahan selama makan sesui indikaisi
Rasional : Menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk makan
meningkatkan masukan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
INFEKSI, RISIKO TINGGI TERHADAP
Faktor risiko meliputi :
- Tidak adekuatnay pertahan utama (penurunan kerja silia, menetapnya secret).
- Tidak adekuatnya imunitas (kerusakan jaringan, peningkatan pemajanan pada
lingkungan)
- Proses penyakit kronis.
- Mal nutrisi
Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda dan
gejala-gejala membuat diagnose actual].

HASIL YANG DIHARAPKAN/KRITERIA EVALUASI-


PASIEN AKAN:
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
1. Awasi suhu
Rasional: Demam dapat terjadi karena infeksi dan/atau dehidrasi.
2. Kaji pentingnya latihan napas, batuk efektif, perubahan posisi sering, dan
masukan cairan adekuat.
Rasional: Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekretuntuk
menurunkan risiko terjadinya infeksi paru.
3. Observasi warna, karakter, bau, sputum.
Rasional: Sekret berbau, kuning atau kehijauan menunjukkan adanya infeksi paru.
4. Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum. Tekankan cuci
tangan yang benar (perawat dan pasien) dan penggunaan sarung tangan bila
memegang/membuang tisu, wadah sputum.
Rasional :Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan.
5. Awasi pengunjung; berikan masker sesuai indikasi.
Rasional: Menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius (mis. ISK).
6. Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
Rasional: Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan oksigen dan
memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
7. Diskusikan kebutuhun masukan nutrisi adekuat.
Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi.
KOLABORASI
1. Dapatkan spesimen sputum dengan batuk atau penghisapan untuk pewarnaan
kuman Gram, kultur/sensitivitas.
Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan
terhadap berbagai antimikrobal.
2. Berikan antimikrobal sesuai indikasi.
Rasional : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan
kultur dan sensitivitas atau diberikan secara provflaktik karena risiko tinggi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
KURANG PENGETAHUAN [KEBUTUHAN BELAJAR]
MENGENAI KONDISI , TINDAKAN
Dapat dihubungkan dengan :
- Kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi.
- Salah mengerti tentang informasi.
- Kurang mengingat /keterbatasan kognitif.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
- Pertanyaan tentang informasi.
- Pernyataan masalah/kesalahan konsep.
- Tidak akurat mengikuti instruksi.
- Terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
HASIL YANG DIHARAPKAN/
KRITERIA EVALUASI-PASIEN AKAN:
- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan
- Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala yang ada dari proses penyakit dan
menghubungkan dengan faktor penyebab.
- Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan.

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
1. Penghentian merokok dapat
1. Kaji efek bahaya meokok dan
memperlambat kemajuan PPOM.
nasehatkan menghentikan rokok pada
Namun, meskipun pasien ingin
pasien dan atau orang terdekat.
menghentikan merokok, diperlukan
kelompok pendukung dan
pengawasan medis. Catatan,
penelitian menunjukan bahwa rokok
“side-stream’s” atau “second hand”
2. Berikan informasi tentang
dapat terganggu seperti halnya
pembatasan aktivitas untuk mencegah
merokok nyata.
kelemahan; cara menghemat energi 2. Mempunyai pengetahuan ini dapat
selama aktivitas (misalnya menarik memampukan pasien untuk membuat
dan mendorong, duduk dan berdiri pilihan/keputusan informasi untuk
sementara melakukn tugas); menurunkan dispnea,
menggunakan napas bibir, posisi memaksimalkan tingkat aktivitas,
berbaring, dan kemungkinan perlu melakukan aktivitas yang diinginkan,
oksigen tambahan selama aktivitas dan mencegah komplikasi.
seksual.
3. Diskusikan peningnya mengikuti
perawtan medis, foto dada periodik 3. Pengawasan proses penyakit untuk
dan kultur sputum. membuat program terapi untuk
memenuhi perubahan kebutuhan dan
4. Kaji kebutuhan/ dosis oksigen untuk dapat membantu mencegah
pasien yang pulang dengan oksigen komplikasi.
tambahan 4. Menurunkan resiko kesalahan
5. Anjurkan pasien/orang terdekat
penggunaan (terlalu kecil/terlalu
dalam penggunaan oksigen aman dan
banyak) dan komplikasi lanjut
merujuk ke perusahaan penghasil 5. Pasien ini dan orang terdekatnya
sesuai indikasi. dapat mengalami ansietas, depresi,
dan reaksi lain sesuai dengan
penerimaan dengan penyakit kronis
yang mempunyai dampak pada pola
hidup mereka. Kelompok pendukung
6. Rujuk untuk evaluasi perawatan
atau kunjungan rumah mungkin
dirumah bila diindikasikan. Berikan
diperlukan atau diinginkan untuk
rencana perawatan detail dan
memberikan bantuan, dukungan
pengkajian dasar fisik untuk
emosi, dan perawatan.
perawatan dirumah sesuai kebutuhan 6. Memberikan kelanjutan perawatan.
pulang dari perawatan akut. Dapat membantu menurunkan
frekuensi perawatan dirumah sakit.
7. Jelaskan penyakit individu. Dorong
pasien/orang terdekat untuk
menanyakan pertanaan
8. Intruksikan/kuatkan rasional untuk
latihan napas, batuk efektif dan
latihan kondisi umum. 7. Menurunkan ansietas dan dapat
menimbulkan perbaikan partisipasi
pada rencana pengobatan.
8. Napas bibir dan napas
abdominal/diafragmatik menguatkan
9. Diskusikan obat pernaasan, efek otot pernapasan, membantu
samping, dan reaksi yang tak meminimalkan kolaps jalan napas
diinginkan. kecil, dan memberikan individu arti
untuk mengontrol dispnea. Latihan
kondisi umum meningkatkan
toleransi aktivitas, kekuatan otot, dan
rasa sehat
9. Pasien ini sering mendapat obat
10. Tunjukkan teknik penggunaan dosis
pernapasan banyak sekaligus yang
inhaler seperti bagaimana memegang,
mempunyai efek samping hampir
interval semprotan 2-5 menit,
sama dan potensial interaksi obat.
bersihkan inhaler.
Penting bagi pasien memahami
11. Sistem alat untuk mencatat obat
perbedaan antara efek samping
inermiten/penggunaan inhaler.
menggangu (obat dilanjutkan) dan
efek samping merugikan (obat
12. Anjurkan menghindari agen sedatif
mungkin dihentikan/diganti).
antiansietas kecuali diresepkan
10. Pemberian yang tepat obat
diberikan oleh dokter mengobati
meningkatkan penggunaan dan
kondisi pernapasan.
keefektifan
13. Tekankan pentingnya perawatan
oral/kebersihan gigi. 11. Menurunkan resiko penggunaan tak
tepat/kelebihan dosis dari obat kalau
14. Diskusikan pentingnya menghindari perlu, khususnya selama eksaserbasi
orang yang sedang infaksi penpasan akut bila kognitif terganggu
12. Meskipun pasien mungkin gugup dan
aktif, tekankan perlunya vaksinasi
merasa perlu sedatif, ini dapat
influenza/pnemokokal rutin.
15. Diskusikan faktor individu yang menekan pernapasan dan melindungi
meningkatkan kondisi, udara terlalu mekanisme batuk.
13. Menurunkan pertumbuhan bakteri
kering, angin, lingkungan dengan
pada mulut, dimana dapt
suhu ekstrem, serubuk, asap
menmbulkan infeksi saluran nafas
tembakau, sprei aerosol, polusi udara.
atas.
Dorong pasien/orang terdekat untuk
14. Menurunkan pemajanan dan insiden
mencari cara mengontrol faktor ini
mendapatkan infeksi saluran nafas
dan sekitar rumah.
atas.

15. Faktor lingkungan ini dapat


menimbulkan/meningkatkan iritasi
bronkial menimbulkan peningkatan
produksi sekret dan hambatan jalan
napas.