Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Perawatan kesehatan masyarajat harus mempunyai pengertian tentang
bahaya psikososial, biologis, fisik pada pria, wanita, orang tua, dan ank-anak,
seperti juga dampak yang mungkin timbul terhadap janin dalam kandungan
perawat yang bekerja di masyarakat harus waspada terhadap berbagai nacan
corak bahaya lingkungan yang timbul. Dia juga harus mengenal dimana lokasi
yang merupakan sumber informasi untuk mengidentifikasi dampak bahaya
terhadap atau masyarakat. (Stanhope, 1997)
Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas mengenai
peran perawat dalam kesehatan lingkungan
II. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar ba=elakang tersebut kami merumuskan
masalah “Bagaimana Konsep Dasar Kesehatan Lingkungan?”
III. Tujuan Penulisan
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep dasar kesehatan
lingkungan,dengan cara:
A. Memahami pengelolaan sampah
B. Memahami pengelolaan air bersih
C. Memahami rumah sehat
D. Memahami Peran, fungsi dan tugas perawat kesehatan lingkungan

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kesehatan Lingkungan
Kesehatan llingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai
keseimbangan, keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya
pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga
dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar dari
gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan
martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 )

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan lingkungan


adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.

Menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)


kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang
sehat dan bahagia.

B. Dasar hukum
1. Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 13 tahun 2015
tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas
2. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
184, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5570);
3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 374/Menkes/Per/III/2010 tentang
Pengendalian Vektor
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 736/Menkes/Per/VI/2010 tentang
Tatalaksana Pengawasan Kualitas Air Minum
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 tentang
Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah

2
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang
Higiene Sanitasi Jasa Boga;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2013 tentang
menyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian
(menurut kemenkes RI di http://aspak.yankes.kemkes.go.id)

C. Kriteria Kesehatan Lingkungan


1. Rumah Sehat
Rumah sehat adalah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan rohani
dan jasmani secara layak sebagai suatu tempat tinggal atau perlindungan
dari pengaruh alam luar. Kebutuhan jasmani misalnya terpenuhi
kebutuhan jasmani seperti membaca, menulis, istirahat dan lain-lain.
Kebutuhan rohani misalnya , perlindungan terhadap penyakit, cuaca, angin
dan sebaginnya. Secara umum kriteria rumah sehat yaitu adanya
pencahayaan yang baik, ventilasi yang cukup, serta ruang gerak yang
cukup dan terhindar dari kebisingan yang mengganggu. Selain itu, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kriteria rumah sehat antara
lain :
a. Sampah – sampah di tempat tinggal dapat ditanggulangi dengan cara
dibuang dilokasi pembuangan sampah (yang jauh dari lingkungan
tempat tinggal), atau dengan pembuatan lubang sampah, dengan
menimbun atau dikelolah untuk dibuat pupuk kandang.
b. Genangan air, air tidak boleh tergenang lebih dari seminggu, karena
dapat dijadikan tempat berkembang biaknya nyamuk, masalah ini
dapat diatasi dengan pembuatan parit – parit atau selokan agar air
dapat mengalir.
c. Sumber Air (sumur), konstruksinya baik dan memenuhi syarat, perlu
diperhatikan saat membuat sumur, jarak minimal dari sumber air
kotor (septick tank, sumur resapan, saluran air kotor yg tidak kedap
air) adalah 7 meter, agar sumur tidak tercemar.
d. Tanaman disekitar rumah, pepohonan yang rindang akan
mengakibatkan lingkungan yang gelap dan lembab, diusahakan agar

3
sinar matahari pagi dapat menyinari rumah, tanpa terhalang oleh
pepohonan
e. Kandang hewan (biasanya untuk rumah di pedesaan), letaknya
diusahakan agar tidak terlalu dekat dengan rumah terutama
pembungan kotoran, dapat dibuatkan tempat – tempat tertentu dan
dapat dimanfaatkan sebagai
2. Air bersih

Air merupakan kebutuhan essensial bagi mahluk hidup. Tanpa air


tidak akan ada kehidupan di bumi ini. Sekitar 71% komposisi bumi terdiri
dari air. Rumus kimia air adalah H2O (tersusun atas dua atom hidrogen
dan satu atom oksigen). Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak
berbau.
Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan
lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan
makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air,
untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan
oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain: diminum,
masak, mandi, mencuci dan pertanian.
Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang
memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara
berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per
hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum air
harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia.

1) Air Bersih dan Sehat


Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum
apabila telah dimasak. Sedangkan air minum harus steril (steril =

4
tidak mengandung hama penyakit apapun). Sumber-sumber air minum
pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung
sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan
kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.

Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara,


berikut:

a. Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua


kuman¬kuman mati. Cara ini membutuhkan waktu yang lama
dan tidak dapat dilakukan secara besar-besaran.
b. Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit,
dan lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara besar¬besaran,
cepat dan murah.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut


hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan,
setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat
harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

a. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening
(tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya
sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang
memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
b. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari
segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui
apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah
dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Bila dari
pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli
maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
c. Syarat kimia

5
Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan
maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam
adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga
persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-
kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu
mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan
pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk
yang menggunakan air tersebut.
2) Cara Mendapatkan Air Minum Sehat
a. Merebus: Air bersih direbus sampai matang (mendidih) dan
biarkan mendidih (tetap jerang air di atas kompor yang menyala,
jangan matikan kompor) selama 3-5 menit untuk memastikan
kuman-kuman yang ada di air tersebut telah mati;
b. Sodis: (Solar Disinfection) atau pemanasan air dengan
menggunakan tenaga matahari. Air bersih dimasukkan ke dalam
botol bening kemudian diletakkan di atas genteng rumah selama
4-6 jam saat cuaca panas atau 6-8 jam saat cuaca berawan. Panas
matahari dan sinar ultra violet akan membunuh kuman-kuman
yang ada di air sehingga air menjadi layak minum;
c. Klorinasi: atau proses pemberian cairan yang mengandung klorin
untuk membunuh bateri dan kuman yang ada di dalam air bersih.
3. Pembuangan kotoran/ tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan
syarat sebagai berikut:
a. Tanah pemukiman tidak boleh terjadi kontaminasi
b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin
memasuki mata air atau sumur
c. Tidak boleh terkontaminasi air pemukiman
d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar atau, bila memang benar-
benar diperlukan
f. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang

6
g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak
mahal. Pernafasan akut, iritasi pada mata, terganggunya jadwal
penerbangan, terganggunya ekologi hutan.

Agar pesrsyaratan-persyaratan ini dapat dipenuhi, maka perlu


diperhatikan antara lain:

1. Sebaiknya jamban tersebut tertutup, artinya bangunan jamban


terlindung dari panas dan hujan, serangga dan binatang yang lain,
terlindung dari pandangan orang (pravacy) dan sebagainya.
2. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat, tempat
berpijak yang kuat, dan sebagainya.
3. Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang
tidak mengganggu pandangan, tidak menimbulkan bau, dan
sebagainya.
4. Sedapat mungkin disediakan alat pembersih seperti air atau kertas
pembersih.
4. Pembuangan sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan
faktor-faktor/ unsur, berikut:
a. Penimbunan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi
sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatannya, tingkat aktivitas,
pola kehidupan/ tingkat sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim,
dan kemajuan teknologi.
b. Penyimpanan sampah
c. Pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatn kembali
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
5. Serangga dan binatang pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan survival) bibit penyakit
yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya: pinjal tikus untuk
penyakit pes/ sampar, nyamuk Anopheles sp untuk penyakit malaria,
nyamuk Aedes sp untuk penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD),

7
nyamuk Culex sp untuk penyakit kaki gajah/ filariasis. Penanggulangan/
pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/
tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat tikus), kelambu yang
dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles
sp, gerakan 3M (menguras, mengubur, dan menutup) tempat
penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, penggunaan kasa pada
lubang angin dirumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit
kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang penganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya
anjing dapat menularkan rabies/ anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi
perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulkan
diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang
dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
6. Makanan dan minuman
Sasaran hygine sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah
makan, jasa boga dan makanan jajanan. Pesyaratan hygine sanitasi
makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi:
a. Pesyaratan lokasi dan bangunan
b. Persyaratan fasilitas sanitasi
c. Pesyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
d. Pesyaratan bahan makanan dan makanan jadi
e. Pesyaratan pengolahan makanan
f. Pesyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
g. Pesyaratan peralatan yang digunakan
7. Limbah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999,
limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau
kegiatan manusia yang dapat berdampak negatif jika tidak dikelola dengan
baik.
Pencegahan dan penanggulangan dampak air limbah terhadap
kesehatan dapat dilakukan dengan mengidentifikasi jenis limbah,
mengetahui dampaknya terhadap kesehatan, dan cara pengolahannya.

8
Penurunan kualitas lingkungan tersebut diakibatkan tidak
terkendalinya pembuangan limbah dan emisi gas dari kegiatan industry.
Limbah dari kegiatan industry dapat berupa limbah cair, gas, dan padat.
Jenis-jenis limbah:
a. Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia
dapat menghasilkan Gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang
dengan cepat dapat merusak lingkungan.
b. Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan
api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah
menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar
hebat dalam waktu lama.
c. Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena
melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organic peroksida
yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
d. Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang
berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
e. Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang
terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit,
seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh
manusia yang terkena infeksi.
Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain :
a. Pengeceran (dilution)
Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup
rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Akan tetapi,
dengan makin bertambahnya penduduk yang berarti makin
meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus
dibuang terlalu banyak, dan diperlukan air pengeceran terlalu banyak
pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Di samping itu,
cara ini menimbulkan kerugian lain, di antaranya; bahaya kontaminasi
terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya
menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan

9
sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan
banjir.
b. Kolam Oksidasi (Oxidation ponds)
Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar
matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses
pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar
berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding
dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apa pun. Lokasi kolam
harus jauh dari daerah pemukiman, dan di daerah yang terbuka,
sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
Cara kerjanya antara lain :
Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah
ini adalah: sinar matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang
dengan butir klorofilnya dalam air limbah melakukan proses
fotosintesis dengan bantuan sinar matahari, sehingga tumbuh dengan
subur. Pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O
dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2
(oksigen). Kemudian oksigen ini digunakan untuk bakteri aerobik
untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air
buangan. Di samping itu, terjadi pengendapan. Sebagai hasilnya nilai
BOD dari air limbah tersebut akan berkurang, sehingga relatif aman
bila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan
sebagainya).
c. Irigasi
Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali, dan
air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding
parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat
digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan
sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat
dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi,
rumah potong hewan, dan lain-lainnya di mana kandungan zat-zat

10
organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-
tanaman.
D. Intervensi kesehatan lingkungan di puskesmas

Menurut PMK-No-13 tetntang Kesling di puskesmas, intervensi


Kesehatan Lingkungan adalah tindakan penyehatan, pengamanan, dan
pengendalian untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek
fisik, kimia, biologi, maupun sosial, yang dapat berupa:

a. komunikasi, informasi, dan edukasi, serta penggerakan/pemberdayaan


masyarakat;
b. perbaikan dan pembangunan sarana;
c. pengembangan teknologi tepat guna; dan
d. rekayasa lingkungan.

A. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, serta Penggerakan/Pemberdayaan


Masyarakat.
Pelaksanaan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dilakukan
untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan prilaku masyarakat
terhadap masalah kesehatan dan upaya yang diperlukan sehingga dapat
mencegah penyakit dan/atau gangguan kesehatan akibat Faktor Risiko
Lingkungan. KIE dilaksanakan secara bertahap agar masyarakat umum
mengenal lebih dulu, kemudian menjadi mengetahui, setelah itu mau
melakukan dengan pilihan/opsi yang sudah disepakati bersama.
Pelaksanaan penggerakan/pemberdayaan masyarakat dilakukan
untuk memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui kerja
bersama (gotong royong) melibatkan semua unsur masyarakat termasuk
perangkat pemerintahan setempat dan dilakukan secara berkala.
Contoh:
- Pemasangan dan/atau penayangan media promosi kesehatan lingkungan
pada permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, dan tempat dan fasilitas
umum;
- Pelatihan masyarakat untuk 3M (menutup, menguras, dan mengubur),
pembuatan sarana sanitasi dan sarana pengendalian vektor;

11
- Pemicuan, pendampingan, dan percontohan untuk menuju Sanitasi Total
pada kegiatan Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat/STBM;
- Gerakan bersih desa;

B. Perbaikan dan Pembangunan Sarana


Perbaikan dan pembangunan sarana diperlukan apabila pada hasil
Inspeksi Kesehatan Lingkungan menunjukkan adanya Faktor Risiko
Lingkungan penyebab penyakit dan/atau gangguan kesehatan pada
lingkungan dan/atau rumah Pasien. Perbaikan dan pembangunan sarana
dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap air minum, sanitasi, sarana
perumahan, sarana pembuangan air limbah dan sampah, serta sarana
kesehatan lingkungan lainnya yang memenuhi standar dan persyaratan
kesehatan lingkungan.
Tenaga Kesehatan Lingkungan dapat memberikan desain untuk
perbaikan dan pembangunan sarana sesuai dengan tingkat risiko, dan
standar atau persyaratan kesehatan lingkungan, dengan mengutamakan
material lokal.
Contoh perbaikan dan pembangunan sarana sebagai berikut:
- penyediaan sarana cuci tangan dengan material bambu;
- pembuatan saringan air sederhana;
- pembuatan pasangan/cincin pada bibir sumur untuk mencegah
kontaminasi air dan berkembangbiaknya vektor;
- pemasangan genteng kaca untuk pencahayaan ruangan;
- pembuatan tangki septik, pembuatan ventilasi, plesteran semen pada
lantai tanah, dan pembuatan sarana air bersih yang tertutup.

C. Pengembangan Teknologi Tepat Guna


Pengembangan teknologi tepat guna merupakan upaya alternatif
untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko penyebab penyakit
dan/atau gangguan kesehatan. Pengembangan teknologi tepat guna
dilakukan dengan mempertimbangkan permasalahan yang ada dan
ketersediaan sumber daya setempat sesuai kearifan lokal.

12
Pengembangan teknologi tepat guna secara umum harus dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, memanfaatkan sumber daya yang
ada, dibuat sesuai kebutuhan, bersifat efektif dan efisien, praktis dan
mudah diterapkan/dioperasionalkan, pemeliharaannya mudah, serta mudah
dikembangkan.
Contoh:
- pembuatan saringan pasir cepat/lambat untuk mengurangi kekeruhan
dan/atau kandungan logam berat dalam air;
- pembuatan kompos dari sampah organik;
- pengolahan air limbah rumah tangga untuk ternak ikan;

D. Rekayasa Lingkungan
Rekayasa lingkungan merupakan upaya mengubah media
lingkungan atau kondisi lingkungan untuk mencegah pajanan agen
penyakit baik yang bersifat fisik, biologi, maupun kimia serta gangguan
dari vektor dan binatang pembawa penyakit.
Contoh rekayasa lingkungan:
- menanam tanaman anti nyamuk dan anti tikus;
- pemeliharaan ikan kepala timah atau guppy;
- pemberian bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang tidak
tertutup;
- membuat saluran air dari laguna ke laut agar ada peningkatan salinitas.

E. Masalah Kesehatan Lingkungan Di Indonesia


1. Urbanisasi penduduk
Di Indonesia, terjadi perpindahan penduduk dalam jumlah besar dari desa
ke kota. Lahan pertanian yang semakin berkurang terutama di pulau Jawa
dan terbatasnya lapangan pekerjaan mengakibatkan penduduk desa
berbondong-bondong datang ke kota besar mencari pekerjaan sebegai
pekerja kasar seperti pembantu rumah tangga, kuli bangunan dan
pelabuhan, pemulung bahkan menjadi pengemis dan pengamen jalanan

13
yang secara tidak langsung membawa dampak sosial dan dampak
kesehatan lingkungan, seperti munculnya pemukiman kumuh dimana-
mana.
2. Tempat pembuangan sampah
Dihampir setiap tempat di Indonesia, sistem pembuangan sampah
dilakukan secara dumping tanpa ada pengelolaan lebih lanjut. Sistem
pembuangan semacam itu selain memerlukan lahan yang cukup luas juga
menyebabkan pencemaran pada udara, tanah dan air selain lahannya juga
dapat menjadi tempat berkembangbiaknya agens dan vektor penyakit
menular.
3. Penyediaan sarana air bersih
Berdasarkan survei yang pernah dilakukan, hanya sekitar 60% penduduk
Indonesia mendapatkan air bersih dari PDAM, terutama untuk penduduk
perkotaan, selebihnya mempergunakan sumur atau sumber air lain. Bila
datang musim kemarau, krisis air dapat terjadi dan penyakit gastroenteritis
mulai muncul dimana-mana.
4. Pencemaran udara
Tingkat pencemaran udara di Indonesia sudah melebih nilai ambang batas
normal terutama di kota-kota besar akibat gas buangan kendaraan
bermotor. Selain itu, hampir setiap tahun asap tebal meliputi wilayah
nusantara bahlan sampai ke negara tetangga akibat pembakaran hutan
untuk lahan pertanian dan perkebunan.
5. Pembuangan limbah industri dan rumah tangga
Hampir semua limbah cair baik yang berasal dari rumah tangga dan
industri dibuang langsung dan bercampur menjadi satu ke badan sungai
atau laut, ditambah lagi dengan kebiasaan penduduk melakukan kegiatan
MCK dibantaran sungai. Akibatnya, kualitas air sungai menurun dan
apabila digunakan untuk air baku memerlukan biaya yang tinggi.
6. Bencana alam/ pengungsian
Gempa bumi, tanah longso, gunung meletus, atau banjir yang sering
terjadi di Indonesia mengakibatkan penduduk mengungsi yang tentunya
menambah banyak permasalahan kesehatan lingkungan.

14
7. Perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah
Perencanaan tata kota dan kebijakan pemerintah seringkali menimbulkan
masalah baru bagi kesehatan lingkungan. Contoh, pemberian izin tempat
pemukiman, gedung atau tempat indnustri baru tanpa didahului studi
kelayakan yang berwawasan lingkungan dapat menyebabkan tejadinya
banjir, pencemaran udara, air dan tanah serta masalah sosial.

F. Penyakit Akibat Kesehatan Lingkungan


Penyakit Berbasis Lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa
kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh
interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi
penyakit.
1. Penyakit yang berkaitan dengan rumah
Rumah yang tidak sehat dan juga perilaku tidak sehat dapat
menyebabkan dan menularkan penyakit bagi penghuninya, seperti sakit
batuk-batuk, pilek, sakit mata, demam, sakit kulit, maupun kecelakaan.

Merokok adalah kebiasaan yang sangat tidak sehat bagi perokok


tersebut, apalagi dilakukan di dalam rumah maka akibatnya dapat
mengenai penghuni rumah lainnya. Asap yang dikeluarkan dari rokok
mengandung zat yang sifatnya racun bagi tubuh dan dapat menyebabkan
sakit kanker, jantung dan gangguan janin pada ibu hamil.

Dapur merupakan tempat kegiatan untuk mengolah, menyiapkan dan


menyimpan makanan, kegiatan memasak sering dilakukan oleh ibu-ibu
sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Tanpa disadari bahwa
menggendong anak sambil memasak merupakan perilaku tidak sehat
terutama untuk sang anak karena dapat terkena asap dapur yang berasal
dari pembakaran bahan bakar (minyak, kayu, arang, daun, batu bara).
Dari kegiatan memasak sambil menggendong anak dapat terkena sakit
saluran pernafasan seperti batuk-batuk.
Menjamah makanan tanpa cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu
adalah sangat berbahaya karena di tangan terdapat banyak kotoran

15
setelah tangan melakukan banyak kegiatan. Kegiatan manusia sebagian
besar menggunakan tangan, sehingga tangan dapat menjadi sumber
penularan penyakit. Penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan
antara lain diare, kecacingan, keracunan, sakit kulit dan lain-lain.
2. Penyakit yang berhubungan dengan air ( Air limbah )
Jenis penyakit yang berhubungan dengan air antara lain sakit perut,
diare, sakit kulit, sakit mata, kecacingan, demam berdarah, malaria, kaki
gajah (filariasis), dan lain-lain :
a. Sakit perut dan Diare
Sakit perut dan diare disebabkan karena mengkonsumsi air yang
telah tercemar kotoran, baik yang berasal dari sampah, tinja, atau
kotoran hewan.
b. Sakit kulit
Sakit kulit disebabkan karena menggunakan air yang telah tercemar
kotoran, baik yang berasal dari sampah, tinja, atau kotoran hewan
untuk mandi atau mencuci baju, sehingga kotoran menempel di
badan.
c. Sakit mata
Sakit mata disebabkan oleh masuknya kuman penyakit ke mata
yang salah satunya melalui air yang kotor, yang digunakan untuk
mandi atau mencuci muka.
d. Cacingan
Cacingan dapat terjadi karena mengkonsumsi air yang telah
tercemar kotoran manusia atau binatang karena didalam kotoran
tersebut terdapat telur cacing.
e. Malaria
Nyamuk malaria berkembang biak di air yang tergenang, oleh
karena itu bila ada air yang menggenang harus dialirkan agar tidak
ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut. Tempat bertelur
nyamuk malaria antara lain di sawah, kolam, danau, terutama di
daerah pantai.
f. Demam Berdarah Dengue (DBD)

16
Tempat berkembang biak nyamuk demam berdarah yaitu di air
yang tergenang dan jernih. Untuk mencegahnya, air yang
menggenang harus dialirkan agar tidak ada nyamuk yang bertelur di
tempat tersebut.
Menutup tempat penyimpanan air dan mengurasnya minimal
seminggu sekali agar telur yang berada di tempat air tersebut tidak
sempat menetas menjadi nyamuk.Mengubur barang bekas yang
dapat menampung air.Upaya pencegahan tersebut di atas dikenal
dengan istilah 3M yaitu menutup, menguras, mengubur.
g. Kaki Gajah (Flariasis)
Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing
filaria yang menyumbat pembulur darah sehingga mengakibatkan
pembengkakan. Cacing filaria terdapat didalam tubuh nyamuk culex
yang biasa berkembang biak di air kotor yang tergenang seperti got,
comberan, dan rawa. Untuk mencegahnya yaitu mengalirkan air agar
tidak ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut.

17
G. Data penerapan kesehatan lingkungan di masyarakat

18
19
H. Peran, Fungsi, dan Tugas Perawat Kesehatan Lingkungan

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat
stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada
situasi sosial tertentu.

Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas


perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya
yang diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas
dan tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik
professional.

Peran perawat kesehatan lingkungan antara lain :

1. Care Giver
Pada peran ini perawat diharapkan mampu :
a. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga ,
kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi
mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang
kompleks.
b. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien,
perawat harus memperhatikan klien berdasrkan kebutuhan significan
dari klien.
2. Client Advocate (Pembela Klien)
a. Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan
dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (informconcern) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya.
b. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan
karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi
dengan banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim

20
kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan
perawat harus mampu membela hak-hak klien.
3. Conselor
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan
mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun
hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan
perkembangan seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan
intelektual.
Peran perawat :
a. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan
sehat sakitnya .
b. Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
c. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu
atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu.
d. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia
(HAKLI) kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang
mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia
dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.
Kesehatan ligkungan merupakan kewajiban semua warga yang
berada di lingkungannya tanpa memandang jabatan/strata sosial.
Senantiasa kita harus melestarikan lingkungan, agar tetap terjaga dengan
baik ekosistemnya dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya
juga. Kita perlu memahami bagai mana mengolah limbah yang telah
digunakan baik itu limbah rumah tangga dan limbah pabrik agar ekosistem
lingkungannya tidak tercemar. Karena apbila kita tidak mengolah limbah
akhir dengan baik maka akan berdampak bagi manusia itu sendiri
contohnya ababila seseorang membuang sampah sembarangan akan
berdampak pada pence,aran udara akibat penumpukan sampahyang tidak
di pilah pilah terlebih dahulu.

B. Saran

Perawat bertanggungjawab dalam menjaga kesehatan masyarakat.


Kesehatan masyarakat dipengaruhi juga oleh lingkungan. Perawat juga
harus memperhatikan lingkungan masyarakat agar tetap sehat dan aman
bagi masyarakat

22
DAFTAR PUSTAKA

Syafrudin. 2015. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: CV. Trans Info Media

Husodo, Sosro. 2001. Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Cetakan ke 3.


Bandung : CV. Geger Sunten.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta:


Rineka Cipta.

PMK-No-13 tetntang Kesling di puskesmas

Data dan Informasi Profil kesehatan Indonesia 2016. Kemenkes

23