Anda di halaman 1dari 25

I.

KONSEP TEORI

A. Anatomi dan Fisiologi

Susunan saraf adalah sistim yang mengontrol tubuh kita yang terus

menerus menerima, menghantarkan dan memproses suatu informasi dan

bersama sistim hormon, susunan saraf mengkoordinasikan semua proses

fungsional dari berbagai jaringan tubuh, organ dan sistim organ manusia.

Susunan saraf dibagi menjadi dua yaitu susunan saraf pusat dan susunan

saraf otonom. (Evelyn C. Pearce :2009)


1. Susunan Saraf Pusat

Susunan saraf ini terdiri dari :

a. Otak

Secara fungsional dan anatomis otak dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1) Batang otak yang menghubungkan medulla spinalis dengan

serebrum terdiri dari medula oblongata, pons varoli dan

diensefalon (otak tengah).

a) Medula oblongata mengandung nucleus atau badan sel dari

berbagai saraf otak yang penting. Selain itu medula

mengandung pusat-pusat vital yang berfungsi mengendalikan

pernafasan dan system kardiovaskuler. Medulla oblongata

terletak dalam fosa krnialis posterior dan bersatu dengan

sumsum tulang belakang tepat dibawah foramen magnum

tulang oksipital

b) Pons varoli merupakan bagian tengah batang otak dank arena

itu memiliki jalur lintas naik dan turun seperti pada otak

tengah. Selain itu juga terdapat banyak serabut yang berjalan

menyilang pons untuk menghubungkan kedua lobus

serebelum dan menghubungkan serebelum dengan korteks

serebri.

c) Diensefalon (Otak tengah) mengandung pusat-pusat yang


mengendalikan keseimbangan dan gerakan-gerakan mata.

(Evelyn C. Pearce :2009 hal 346)

2) Otak kecil (cerebelum)

Cerebelum menempati fosa kranialis posterior dan diatapi

tentorium-serebeli, yang merupakan lipatan durameter yang

memisahkan lobus oksipitalis serebri. Fungsi cerebellum adalah

mengatur sikap dan aktivitas sikap badan. Cerebellum berperan

penting dalam koordinasi otot dan menjaga keseimbangan.

(Evelyn C. Pearce :2009 hal 348)

3) Otak besar (cerebrum)

Cerebrum mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak, yang

masing-masing disebut fosa kranialis anterior dan fosa kranialis

tengah. Cerebrum terdiri dari dua hemisfer yaitu kiri dan kanan,

empat lobus yaitu :

a) Lobus frontal berfungsi mengontrol perilaku individu,

membuat keputusan, kepribadian dan menahan diri.

b) Lobus parietal merupakan lobus sensori berfungsi

menginterpretasikan sensasi, berfungsi mengatur individu

mampu mengetahui posisi dan letak bagian tubuhnya.

c) Lobus temporal berfungsi menginterpretasikan sensasi kecap,

bau, pendengaran dan ingatan jangka pendek.


d) Lobus oksipital bertanggung jawab menginterpretasikan

penglihatan. (Evelyn C. Pearce :2009 hal 341)

b. Sumsum tulang belakang

Sumsum tulang belakang atau medulla spinalis bermula pada medulla

oblongata menjulur kea rah kaudal melalui foramen magnum, dan

berakhir diantara vertebra lumbalis pertama dan kedua. Fungsi

sumsum tulang belakang adalah mengadakan kounikasi antara otak

dan semua bagaian tubuh dan gerak reflkeks. (Evelyn C. Pearce :2009

hal 352)

c. Saraf cranial

Ada 12 pasang saraf cranial yaitu :

1) Nervus olfaktorius (sensorik), saraf penghidu

2) Nervus optikus (sensorik), saraf penglihatan

3) Nervus okulo-motorius, otot eksterna mata

4) Nervus troklearis (motorik), otot mata

5) Nervus trigeminus, tergiri dari saraf oftalmikus, maksilaris dan

mandibularis

6) Nervus abdusens (motorik), otot mata

7) Nervus fasialis, saraf untuk wajah

8) Nervus akustikus, saraf pendengaran

9) Nervus glosofaringeus, saraf faring

10) Nervus vagus


11) Nervus aksesorius

12) Nervus hippoglosus, saraf otot lidah. (Evelyn C. Pearce :2009 hal

349)

2. Susunan Saraf Otonom

System saraf otonom bergantung pada system saraf pusat dan antara

keduanya dihubungkan urat-urat saraf aferen dan eferen. Menurut

fungsinya, susunan saraf otonom dibagi dalam dua bagian :

a. System saraf simpatis

Terletak didepan kolumna vertebra dan berhubungan serta

bersambungan dengan sumsum tulang belakang melalui serabut saraf.

Fungsinya adalah mensarafi otot jantung, otot-otot tidak sadar semua

pembuluh darah, serta semua alat dalam seperti lambung, pangkreas

dan usus. Melayani serabut motorik sekretorik pada kelenjar keringat,

serabut motorik pada otot tak sadar dalam kulit-arektores pilorum serta

mempertahankan tonus semua otot, termasuk tonus otot sadar. (Evelyn

C. Pearce :2009 hal 371)

b. System saraf parasimpatis

Dibagi menjadi dua yaitu saraf otonom cranial dan saraf otonom

sacral. Saraf otonom cranial adalah saraf cranial ketiga, ketujuh,

kesembilan, dan kesepuluh. Saraf otonom sacral keluar dari sumsum

tulang belakang melalui daerah sacral membentuk urat-urat saraf pada

alat-alat dalam pelvis, dan bersama saraf simpatis membentuk pleksus


yang melayani kolom, rectum, dan kandung kemih. (Evelyn C. Pearce

:2009 hal 372)

Pembuluh darah yang mendarahi otak tardiri dari :

1. Sepasang pembuluh darah karotis : denyut pembuluh darah besar

ini dapat kita raba dileher depan, sebelah kiri dan kanan dibawah

mandibula, sepasang pambuluh darah ini setelah masuk ke rongga

tengkorak akan bercabang menjadi tiga :

a. Sebagian menuju ke otak depan (arteri serebri anterior)

b. Sebagian menuju ke otak belakang (arteri serebri posterior)

c. Sebagian menuju otak bagian dalam (arteri serebri interior)

Ketiganya akan saling berhubungan melalui pembuluh darah

yang disebut arteri komunikan posterior.

2. Sepasang pembuluh darah vertebralis : denyut pembuluh darah ini

tidak dapat diraba oleh karena kedua pembuluh darah ini

menyusup ke bagian samping tulang leher, pembuluh darah ini

mendarahi batang otak dan kedua otak kecil, kedua pembuluh

darah teersebut akan saling berhubungan pada permukaan otak

pembuluh darah yang disebut anastomosis. (Bram Al Azri:2013)

B. Definisi

Tumor otak adalah neoplasma pada bagian intracranial SSP. Tumor

otak primer berasal dari otak, sedangkan tumor otak sekunder merupakan

pindahan dari tempat asal lain.( Tucker, susan martin, dkk.2007 )


Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik

ganas maupun tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua

proses neoplastik yang terdapat dalam ruang intracranial atau dalam

kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh sifat-sifat proses

ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meningen otak,

termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (neuroglia), sel epitel

pembuluh darah, dan selaput otak.(Batticaca, Fransisca.B. 2008)

C. Etiologi

Penyebab tumor otak belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang

menunjukan bahwa beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa

tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliputi faktor herediter,

kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang

mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma

cerebral dan penyakit peradangan. Metastase ke otak dari tumor bagian

tubuh lain juga dapat terjadi. Karsinoma metastase lebih sering menuju ke

otak daripada sarcoma. Lokasi utama dari tumor otak metastase berasal

dari paru-paru dan payudara. (Muhamad Judha dan Nazwar Hamdani

Rahil : 2011 halm 97).


D. Klasifikasi

Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Bram Al Azri:2013)

Yaitu :

1. Jinak

a. Acoustic neuroma

b. Meningioma

c. Pituitary adenoma

d. Astrocytoma (grade I)

2. Malignant

a. Astrocytoma (grade 2,3,4)

b. Oligodendroglioma

c. Apendymoma

3. Berdasarkan lokasi

a. Tumor intradural, dibagi menjadi 2 yaitu

1) Ekstramedular

a) Cleurofibroma

b) Meningioma

2) Intramedular

a) Apendymoma

b) Astrocytoma

c) Oligodendroglioma

d) Hemangioblastoma
b. Tumor ekstradural

Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara,

prostal, tiroid, paru–paru, ginjal dan lambung.

E. Tanda dan Gejala

1. Gejala tumor otak secara umum

Gejala klinis pada tumor otak secara umum dikenal dengan istilah trias

klosis tumor otak, yaitu:

a. Nyeri kepala

Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat dalam,

terus-menerus, tumbuh, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri

paling hebat pada pagi hari dan lebih berat saat beraktivitas

sehingga dapat meningkatkan TIK pada saat membungkuk, batuk,

dan mengejan pada saat BAB. Nyeri kepala dapat berkurang bila

diberi aspirin dan kompres air dingin di daerah yang sakit. Lokasi

yang sering menimbulkan nyeri terjadi di 1/3 daerah tumor dan

2/3 di dekat atau di atas tumor.

b. Mual dan muntah

Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai akibat

rangsangan pusat muntah pada medulla oblongata. Sering terjadi

pada anak-anak dan berhubungan dengan peningkatan TIK yang

disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa

didahului mual dan dapat proyektil.


c. Papil edema

Papil edema disebabkan oleh stress vena yang menimbulkan

pembengkakan papilla saraf optikus. Bila terjadi pada

pemeriksaan oftalmoskopi (funduskopi), tanda ini mengisyaratkan

terjadi tekanan TIK. Kadang disertai gangguan penglihatan,

termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks (saat-saat

di mana penglihatan berkurang. ( Batticaca, Fransisca.B. 2008)

2. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:

a. Lobus frontal

1) Menimbulkan gejala perubahan kepribadian

2) Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese

kontra lateral, kejang fokal

3) Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan

inkontinentia

4) Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom

foster kennedy

5) Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

b. Lobus parietal

1) Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal

hemianopsi homonym

2) Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan

pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmann’s


c. Lobus temporal

1) Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor,

yang didahului dengan aura atau halusinasi

2) Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan

hemiparese

3) Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat

diketemukan gejala choreoathetosis, parkinsonism.

d. Lobus oksipital

1) Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan

penglihatan

2) Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia

berkembang menjadi hemianopsia, objeckagnosia

e. Tumor di ventrikel ke III

Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala

menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi

peninggian tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri

kepala, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran

f. Tumor di cerebello pontin angie

1) Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma

2) Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala

awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran


3) Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari

daerah pontin angel

g. Tumor Hipotalamus

1) Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe

2) Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan

perkembangan seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism,

gangguan cairan dan elektrolit, bangkitan

h. Tumor di cerebelum

1) Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan

cepat terjadi disertai dengan papil udem

2) Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan

spasme dari otot-otot servikal

i) Tumor fosa posterior

1) Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah

disertai dengan nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari

medulloblastoma. (Bram Al Azri:2013)

F. Patofisiologi

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang

disebabkan oleh dua faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan kenaikan

tekanan intrakranial (TIK). Gangguan fokal terjadi apabila terdapat

penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau infasi langsung pada

parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.


Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang

tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Akibatnya terjadi

kehilangan fungsi secara akut dan dapat dikacaukan dengan gangguan

serebrovaskuler primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron

akibat kompresi, invasi, dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan

otak.

Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti

bertambahnya massa dalam tengkorak, edema sekitar tumor, dan

perubahan sirkulasi CSS. Tumor ganas menyebabkan edema dalam

jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan osmosis

yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Obstruksi vena dan edema

yang disebabkan oleh kerusakan sawar di otak, menimbulkan peningkatan

volume intracranial dan meningkatkan TIK.

Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat.

Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari ataupunn

berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna

apabila tekanan intracranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini

meliputi menurunkan volume darah intrakranial, menurunkan volume

CSS, menurunkan kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel

parenkim otak. Kenaikan tekanan yang tidak diatasi akan mengakibatkan

herniasi unkus serebellum.


Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser ke

inferior melalui insisura tentorial karena adanya massa dalam hemisfer

otak. Herniasi menekan mesensefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran

dan menekan saraf ke-3. Pada herniasi serebellum, tonsil serebellum

tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior.

Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan terjadi

dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan

intrakranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi

sistemik, dan gangguan pernapasan.( Batticaca, Fransisca.B. 2008)

G. Komplikasi Tumor Otak

1. Edema Serebral

Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar lesi

sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-occupying).

Edema Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik) atau intrasel

(sitotoksik).

2. Hidrosefalus

Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa dalam

rongga cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika terjadi obstruksi

pada aliran cairan serebrospinal akibat massa.

2. Herniasi Otak Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi

sentra, unkus, dan singuli.

4. Epilepsi
5. Metastase ketempat lain (Febri : 2012)

G. Pemeriksaan Diagnostik

1. CT scan dan MRI

Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur

investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif

atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu

tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit

membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.

2. Foto polos dada

Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu

metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun

multiple pada otak.

3. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor.

Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien

dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik

ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang

tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses

cerebri).

4. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam

dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi

prognosis.

5. Angiografi Serebral

Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor

serebral.

6. Elektroensefalogram (EEG)

Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati

tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal

pada waktu kejang. (Nn:2013)

H. Penatalaksanaan

1. Medis

Faktor –faktor prognostik sebagai pertimbangan penatalaksanaan

medis

a. Usia

b. General Health

c. Ukuran Tumor

d. Lokasi Tumor

e. Jenis Tumor

Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam

penatalaksaannya, yaitu

a. Surgery
Terapi Pre-Surgery :

1) Steroid adalah Menghilangkan swelling, contoh

dexamethasone

2) Anticonvulsant adalah Untuk mencegah dan mengontrol

kejang, seperti carbamazepine

3) Shunt adalah Digunakan untuk mengalirkan cairan

cerebrospinal

Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat

tumor. Pembedahan pada tumor otak bertujuan untuk

melakukan dekompresi dengan cara mereduksi efek massa

sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek

paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin

diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikut serta sehingga

akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak

jaringan tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik,

sehingga diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi

lebih sempurna. Namun pada tindakan pengangkatan tumor

jarang sekali menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada

penderita.

b. Radiotherapy

Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam

penatalaksanaan proses keganasan. Berbagai penelitian klinis telah


membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan memberikan

hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan

kemoterapi dan radioterapi.

Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately

sensitive), sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian

dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor.

Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan

sehat disekitarnya. Semakin sedikit jaringan sehat yang terkena maka

makin tinggi dosis yang diberikan. Guna menyiasati hal ini maka

diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat

presisi yang tinggi.

Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor

sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi

juga digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya

adenoma hipofisis.

c. Chemotherapy

Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa

menggunakan satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan

dengan tujuan untuk membunuh sel tumor pada klien. Diberikan

secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan ini diberikan

dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif dalam waktu

yang singkat, diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua
sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien dianjurkan untuk

istirahat dan dilihat apakah tumor berespon terhadap terapi yang

dilakukan ataukah tidak. (Febri : 2012)

2. Diet

Pengobatan tumor otak tidak hanya memerlukan dokter yang ahli dan

obat yang mujarak tetapi juga makanan yang sehat. Berikut beberapa

kandungan makanan yang disarankan beserta alasannya:

a. Omega-3 yang dapat ditemukan di ikan (salmon, tuna dan

tenggiri) bermanfaat dalam menguransi resistensi tumor pada

terapi. Omega-3 juga membantu mempertahankan dan menaikan

daya tahan tubuh dalam menghadapi proses pengobatan tumor

otak seperti kemotrapi.

b. Omega-9 yang ada di minyak zaitun pun dapat meningkatkan

sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi pembengkakan dan

menguransi sakit saat pengobatan tumor otak.

c. Serat dari roti gandum, sereal, buah segar, sayur dan suku kacang-

kacangan membantu Anda mengatur tingkat gula. Sel kanker

cenderung mengkonsumsi gula 10-15 kali lipat daripada sel

normal sehingga semakin meradang. Agar bisa mengatur gula

dengan baik, disarankan mengkonsumsi 4-5 porsi sayur dan 1-2

porsi buah segar. Selain mengatur kadar gula, serat dapat

menurunkan peluang sembelit.


d. Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 atau Bc bisa mencegah

menyebarnya sehinga bisa membantu pengobatan tumor otak atau

bagian lainnya. Vitamin B9 dapat ditemukan di sayuran dengan

daun hijau tua (bayam, asparagus dan daun selada), kacang

polong, kuning telur dan biji bunga matahari.

e. Antioksidan memang dikenal sebagai salah satu senjata untuk

membantu pengobatan tumor otak. Antioksidan dapat di temukan

di keluarga beri (strawberi, rasberi dan blueberi), anggur, tomat,

brokoli, jeruk, persik, apricot, bawang putih, gandum, telur, ayam,

kedelai dan ikan.

Makanan yang harus dihindari penderita kanker dan tumor otak

adalah Gula dan karbohindrat harus dihindari karena mereka

merupakan makanan utama sel kanker. Pada saat pengobatan brain

tumor and cancer, sel-sel kanker yang ada di dalam tubuh akan

mengkonsumsi 10-15 kali lipat gula. Gula yang dikonsumsi akan

menjadi energy para sel kanker yang mempercepat perkembangan

mereka. (Nn:2012)
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

A. Pengkajian

1. Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa status

perkawinan, pendidikan, pekerjaan, golongan darah, penghasilan,

alamat,penanggung jawab, dll

2. Riwayat kesehatan :

a. keluhan utama

b. Riwayat kesehatan sekarang

c. Riwayat Kesehatan lalu

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

3. Pemeriksaan fisik :

a. Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia,

penurunan/kehilangan memori, afek tidak sesuai, berdesis

b. Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan

kabur

c. Pendengaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi

d. Jantung : bradikardi, hipertensi

e. Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea,

potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler

f. Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes

melitus
g. Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi

B. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK

2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan gangguan aliran darah

di otak.

3. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan

perubahan resepsi

C. Intervensi dan Rasional

a. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK

Intervensi

1. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi lokasi,

karakteristik dan durasi, frekuensi , kualitas, intensitas, keparahan

nyeri.

R: Dengan mengkaji tingkat nyeri klien untuk keefektifan

pengawasan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi

persepsi/reaksi terhadap nyeri.

2. Ajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti umpan-balik,

distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing.

R: Dengan melakukan teknik distraksi pada klien dengan cara

berbincang-bincang, dapat mengalihkan perhatian klien tidak

hanya tertuju pada nyeri.

3. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri


R: Dengan menjelaskan penyebab atau pemicu nyeri pasien akan

mengerti penyebab yang membuat dia merasa nyeri

4. Kendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi respon

pasien terhadap ketidak nyamanan.

R: Lingkungan yang aman dan nyaman akan membantu mengurangi

respon pasien terhadap nyeri yang dirasakan.

5. Kolaborasi pemberian obat analgetik

R: untuk mengurangi rasa nyeri

b. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan gangguan aliran darah

di otak.

1. pantau tanda-tanda vital

R: Untuk mengetahui keabnormalan tanda-tanda vital dan keadaan

umum,membantu unuk menegakan diagnosa

2. pantau TIK dan respons neurologis pasien terhadap aktivitas

keperawatan

R:Untuk membantu atau mengetahui seberapa parah pengaruh yang

diberikan akibat peningkatan TIK

3. Tinggikan bagian kepala tempat tidur

R: memberikan posisi dan memberikan rasa nyaman pada klien

4. Minimalkan lingkungan yang nyaman

R: Lingkungan yang aman dan nyaman akan membantu

mengurangi respon pasien terhadap nyeri yang dirasakan.


c. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan perubahan

resepsi

1. Pantau dan dokumentasikan perubahan status neurologis pasien

R:Untuk membantu mengetahui seberapa besar pasien memerlukan

bantuan keluarga atau perawat dalam melakukan aktivitas

2. Kaji lingkungan terhadap kemungkinan bahaya terhadap keamanan.

R:Lingkungan yang aman akan mengurai resiko cedera pada pasien

3. Jangan memindahkan barang-barang pasien di dalam kamar pasien

tanpa memberitahu pasien.

R: Agar pasien tidak mencari barang-barang yang sudah dia

dekatkan dan untuk mengurangi resiko cedera dan jatuh pada

pasien

4. Pastikan akses terhadap dan penggunaan alat bantu sensori.

R: Membantu klien untuk mempermudah dalam melakukan

aktivitas
DAFTAR PUSTAKA

Azri, Bram Al. 2013. “Askep Tumor Otak”, (Online), (http://nersbramalazri.


blogspot.com/2013/01/askep-tumor-otak.html, diakses pada 10 Mei 2013)
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan System
Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Febri.2012.”Asuahan Keperawatan Tumor Otak”, (Online), (http://nersfebri.
wordpress.com/2012/04/01/asuhan-keperawatan-askep-tumor-otak.html, diakses pada
10 Mei 2013)
Judha, Mohamad. 2011. Sistem Persyarafan dalam Asuhan Keperawatan. Yogyakarta :
Gosyen Publising.
Nn.2012.”Asuhan Keperawatan Klien dengan Tumor Otak”,(Online),
(http://samoke2012.wordpress.com/2012/11/12/asuhan-keperawatan-klien-dengan-
tumor-otak/, diakses pada 10 Mei 2013)
Nn.2012.”Makanan Sehat Babtu Pengobatan Tumor Otak”, (Online),
(http://embundaunhijau.blogspot.com/2012/07/makan-sehat-bantu-pengobatan-tumor-
otak.html , diakses pada 10 Mei 2013)
Nn.2013.”Klasifikasi Tumor Otak”, (Online), (http://alisarjunipadang.
blogspot.com/2013/03/klasifikasi-tumor-otak.html, diakses pada 10 Mei 2013)
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Sylvia A. Price.1995.Patofisiologi, konsep klinik proses- proses penyakit ed. 4. Jakarta :
EGC
Tucker, Susan Marti dkk. 2007. Standart Keperawatan Pasien Perencanaan Kolaborasi &
Intervensi Keperawatan. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : diagnosis NANDA,
intervensi NIC, criteria hasil NOC. Jakarta : EGC.