Anda di halaman 1dari 2

Jepang Sudah Tak Persoalkan Ekspor Nikel

Indonesia
4 Desember 2014 | 12:38

Jakarta – TAMBANG. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa hubungan


bilateral RI dengan Jepang sudah kembali normal, pasca diberlakukannya larangan ekspor
mineral mentah. Kedua belah pihak diakui telah saling memahami satu sama lain, terkait konsep
pengembangan pabrik pengolahan domestik.

“Kita sudah melakukan pembicaraan terkait smelter dan sudah kembali normal untuk bahan baku
nikel yang dibutuhkan di Jepang,” ungkap Gusmardi Bustami, Staf Ahli Kementerian
Perdagangan, di sela acara konferensi pers Kementerian Perdagangan, Rabu (3/12).

Setelah pemerintah menutup keran ekspor mineral mentah per tanggal 12 Januari 2014, reaksi
dari luar negeri pun berdatangan. Larangan ini diberlakukan sejalan dengan kewajiban
pengolahan mineral di dalam negeri, sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009
atau UU Minerba.

Nikel adalah salah satu komoditas mineral andalan Indonesia, sehingga pasar global mengalami
ancaman gangguan pasokan. Harga nikel pun sempat melonjak, sehingga Jepang sebagai negara
konsumen pun merasa dirugikan.

Negeri Sakura dengan industri otomotifnya yang mendunia itu memang selama ini memakan
nikel dalam jumlah besar. Sebagai pembuat baja tahan karat (stainless steel) terbesar dunia,
Jepang harus mengimpor 40% bahan baku nikelnya dari Indonesia. Jepang pun sempat
berencana menyeret Pemerintah Indonesia ke panel Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade
Organization), atas pemberlakuan restriksi perdagangan ini.

Indonesia sendiri menerapkan kebijakan larangan ekspor mineral mentah karena ingin
meningkatkan nilai tambah, dan melipatgandakan pendapatan dari ekspor. Namun kemudian,
perusahaan yang sudah berkomitmen untuk membangun smelter mendapatkan kesempatan untuk
kembali melakukan kegiatan ekspor bahan mentah, sementara menunggu fasilitas tersebut siap
beroperasi. Ketentuan tambahan untuk ekspor mineral adalah dengan penerapan Bea Keluar
(BK).

“Mereka yang sudah bangun smelter akan bisa ekspor nikel lagi dengan BK rendah sehingga
suplai ke Jepang tidak terganggu lagi, balik ke normal lagi. Semoga kedepannya Jepang tidak
akan gugat lagi, mudah-mudahan enggak ada masalah,” pungkasnya.

https://www.tambang.co.id/1614-1614/