Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM II

PROSES PENGGILINGAN GABAH


Senin, 11 Oktober 2018

OLEH:

YANDRI ISKANDAR PAH


NRP. F152180181

PRODI TEKNOLOGI PASCAPANEN


DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras. Padi termasuk dalam suku padi-padian
atau poaceae. Hasil panen padi dari sawah disebut gabah. Kegiatan pasca panen padi
meliputi proses pemanenan padi, penyimpanan padi, pengeringan gabah, dan
penggilingan gabah hingga menjadi beras.
Gabah adalah bulir hasil tanaman padi (Oryza Sativa L.) yang telah dilepaskan
dari tangkainya dengan cara dirontokkan (BPS, 2014) sedangkan Menurut Afni
(2012) beras adalah bulir padi yang sudah dipisahkan dari sekam melalui tahap
pengupasan dan penyosohan. Pengupasan gabah dengan alat pemecah kulit
menghasilkan sekam dan beras pecah kulit yang berwarna kecoklatan (brown rice).
Secara keseluruhan, sekam tersusun atas lemma, palea, lemma steril, dan rachilla.
Beras pecah kulit tersusun atas beberapa bagian yaitu pericarp, seed-coat, mucellus,
lembaga dan endosperm. Penyosohan terhadap beras pecah kulit menghasilkan
bekatul dan beras giling atau yang lazim disebut beras.
Teknologi pasca panen dimulai dari proses pemanenan padi yang melewati
proses perontokan, dilanjutkan dengan pengeringan, serta penggilingan. Persentase
beras kepala yang dihasilkan dari penggilingan sangat dipengaruhi oleh teknologi
pasca panen ini serta ketika proses pematangan beras selama mendekati masa panen.
Masalah utama dalam penanganan pasca panen padi yang sering dialami oleh
petani adalah tingginya kehilangan hasil selama pasca panen. Menurut Purwanto
(2011), Proses penggilingan harus dapat dioptimalkan khususnya untuk parameter
kualitas beras yang menentukan harga dipasaran. Diantara parameter mutu dimaksud
adalah beras kepala dan derajat putih (whiteness). Optimasi kedua parameter ini harus
dilakukan secara serentak untuk mencapai hasil yang optimum. Pengoptimasian dapat
dilakukan mulai dari tahap perkembangan kernel dan pengeringan di ladang sebelum
pemanenan untuk meminimalisir terjadinya fisura. Selanjutnya, dalam proses
penggilingan padi, persentase beras kepala dan derajat sosoh yang memenuhi standar
tertentu merupakan fungsi dari metode penggilingan yang melibatkan jenis dan waktu
proses penyosohan. Umumnya penggilingan yang menghasilkan beras pratanak akan
menghasilkan persentase beras kepala 6 persen lebih besar dibandingkan dengan
penggilingan tanpa perlakuan.

B. Tujuan
1. Mengetahui proses penggilingan gabah dengan unit penggiling padi (Rice
Milling Unit) skala laboratorium.
2. Mengamati dan menghitung rendemen serta mutu hasil penggilingan
gabah.
3. Membandingkan hasil penggilingan dengan 1 dan 2 lintasan pecah kulit,
serta mempelajari pengaruh lama penyosohan terhadap mutu hasil
penggilingan.
4. Membandingkan rendemen serta mutu hasil penggilingan dengan standar
mutu beras menurut SNI

C. Prosedur Praktikum
1. Peralatan: Moisture tester, paddy husker (pemecah kulit), whitener/polisher
(penyosoh), cylinder separator (pemutuan), timbangan/neraca, baki
penampung, dan stopwatch.
2. Bahan: Gabah Kering Giling (GKG)

D. Prosedur Analisis

Sampel Gabah
1000 KG Moisture tester

Paddy husker Kadar Air


(lintasan 1 dan 2)
Gabah pecah Rendemen
kulit 200 gram

Penyosohan
1.5, 2, 2.5 menit Rendemen
beras sosoh

Pemutuan
cylinder
100 gram
separator

-Beras mengapur -Beras menir


-Beras Kuning -Beras patah
-Beras Rusak
-Beras kepala
-Butir Merah

Kadar Air
II. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1 Hasil penggilingan dan penyosohan Gabah dengan 1 dan 2 lintasan
Lintasan Parameter Waktu
1,5 menit 2 menit 2,5 menit
1 Kadar air gabah (%) 13,6 13,5 13,6
Berat awal (g) 1000,18 1000,18 1000,18
Beras pecah kulit (g) 747,48 747,48 747,48
Beras awal penyosohan (g) 200,1 200,09 200,06
Beras akhir penyosohan (g) 159,03 152,66 144,78

2 Kadar air gabah (%) 13,6 13,5 13,6


Berat awal (g) 1000,81 1000,81 1000,8
Beras pecah kulit (g) 739,3 739,3 739,3
Beras awal penyosohan (g) 201,63 200,98 200,26
Beras akhir penyosohan (g) 154,41 100,58 100,05

Tabel 2 Hasil penggilingan dan penyosohan Beras dengan 1 dan 2 lintasan


Lintasan Komponen Mutu Waktu
1,5 menit 2 menit 2,5 menit
1 Berat awal (g) 100,3 100,58 100,05
Kadar air beras (%) 12,4 12 11,6
Beras Kepala (g) 70,94 68,15 60,24
Butir Patah(g) 20,68 22,9 27,58
Butir menir (g) 8,37 8,55 12,22

2 Kadar air beras (%) 11,9 11,5 11,3


Beras Kepala (g) 69,05 69,5 66,6
Butir Patah(g) 21,26 21,54 23,54
Butir menir (g) 9,76 11,69 12,26
Berat gabah awal = 50 kg Berat beras sosoh (beras putih) = 30.5 kg
Rendemen Penggilingan Gabah= (Berat beras sosoh/ Berat gabah awal) x 100%=
(352,24 gram/1000 gram) x 100% = 35,23%
Gambar 1. Unit Penggiling padi (Rice Milling Unit) skala Laboratorium

Gambar 1. Hasil Penyosohan Beras

B. Pembahasan
Proses penggilingan merupakan proses pelepasan sekam dari beras.
Karakteristik fisik padi sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi
sebenarnya mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Butiran padi
yang memiliki bagian-bagian yang tidak dapat dimakan, atau tidak enak dimakan,
sehingga perlu dipisahkan. Selama proses penggilingan, bagian-bagian tersebut
dilepaskan satu demi satu sampai akhirnya didapatkan beras yang dapat dikonsumsi
yang disebut dengan beras sosoh atau beras putih. Beras sosoh merupakan hasil
utama proses penggilingan padi. Beras sosoh adalah gabungan beras kepala dan beras
patah besar. Beras patah kecil atau menir sering disebut sebagai hasil samping karena
tidak dikonsumsi sebagai nasi seperti halnya beras kepala dan beras patah besar. Jadi,
hasil samping proses penggilingan padi berupa sekam, bekatul, dan menir.
Penggilingan merupakan proses pelepasan sekam dari beras. Karakteristik
fisik padi sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi sebenarnya
mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Butiran padi yang
memiliki bagian-bagian yang tidak dapat dimakan, atau tidak enak dimakan, sehingga
perlu dipisahkan. Selama proses penggilingan, bagian-bagina tersebut dilepaskan satu
demi satu sampai akhirnya didapatkan beras yang dapat dikonsumsi yang disebut
dengan beras sosoh atau beras putih. Beras sosoh merupakan hasil utama proses
penggilingan padi. Beras sosoh adalah gabungan beras kepala dan beras patah besar.
Beras patah kecil atau menir sering disebut sebagai hasil samping karena tidak
dikonsumsi sebagai nasi seperti halnya beras kepala dan beras patah besar. Jadi, hasil
samping proses penggilingan padi berupa sekam, bekatul, dan menir. Mesin-mesin
penggilingan padi berfungsi melakukan pelepasan dan pemisahan bagian-bagian butir
padi yang tidak dapat dimakan dengan seminimal mungkin membuang bagian utama
beras dan sesedikit mungkin merusak butiran beras. Terdapat dua tahap dalam proses
penggilingan yaitu husking dan polishing.
Kualitas gabah akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas beras yang
dihasilkan. Kualitas gabah yang baik akan berpengaruh pada tingginya rendemen
giling. Hasil rendemen yang diperoleh pada lintasan 1 dan 2 sebesar 35% dan 34%.
Nilai ini belum mancapai kriteria rendemen yang baik karena menurut literatur,
proses penyosohan berjalan baik bila rendemen beras yang dihasilkan sama atau lebih
dari 65% dan derajat sosoh sama atau lebih dari 95%.
Beras sosoh dipisahkan menjadi beberapa ukuran, yaitu beras kepala, beras
patah, dan menir. Mutu beras giling dikatakan baik apabila hasil dari proses
penggilingan diperoleh beras kepala yang banyak dengan beras patah dan menir
minimal. Dari hasil percobaan yang peroleh pada lintasan 1 didapat persentase beras
kepala adalah sebesar 33,2%, beras patah 11,8%, dan menir 4,85%.
Sementara pada lintasan 2 didapat persentase beras kepala adalah sebesar
34%, butir patah 11,5%, dan menir 5,61%. Jika dibandingkan dengan peryaratan
standar mutu Beras menurut SNI 6128-2015 maka ketiga prensentase masih
memenuhi Standar mutu yaitu kualitas medium 3.
III. KESIMPULAN
Hasil rendemen yang diperoleh pada lintasan 1 dan 2 sebesar 35% dan 34%.
Nilai ini belum mancapai kriteria rendemen yang baik karena menurut literatur,
proses penyosohan berjalan baik bila rendemen beras yang dihasilkan sama atau lebih
dari 65% dan derajat sosoh sama atau lebih dari 95%.
lintasan 1 didapat persentase beras kepala adalah sebesar 33,2%, beras patah
11,8%, dan menir 4,85%. Sementara pada lintasan 2 didapat persentase beras kepala
adalah sebesar 34%, butir patah 11,5%, dan menir 5,61%. Jika dibandingkan dengan
peryaratan standar mutu Beras menurut SNI 6128-2015 maka ketiga prensentase
masih memenuhi Standar mutu yaitu kualitas medium 3.
DAFTAR PUSTAKA
Afni RA. 2012. Pengaruh lama pengukusan dan cara penanakan beras pratanak
terhadap mutu nasi pratanak. (Skripsi). Bogor. Fakultas Teknik Pertanian
Insititut Pertanian Bogor.
Badan Pusat Statistik. 2014. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Harga Produsen
Gabah dan beras. https://sirusa.bps.go.id/webadmin/pedoman/Pedoman%20Gab
ah%20dan%20Beras%202014.pdf
Budijanto, S dan Sitanggang A, B. 2011. Produktivitas dan Proses Penggilingan Padi
Terkait Dengan Pengendalian Faktor Mutu Berasnya. Institut Pertanian Bogor.