Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHSAN (SAP)

CA MAMAE & KEMOTERAPI

DI SUSUN :

NAMA : YENI PUSPITA SARI

NIM : 17 100 53 137

PRODI D III KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN

TAHUN AJARAN 2018

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Ca Mamae & Kemoterapi


Sasaran : Pasien
Hari/tanggal : Jumat, 16 November 2018
Waktu : 25 menit
Tempat : Ruang Matahari RS. Kanujoso Djatiwibowo
Penyuluh : Mahasiswi D III Keperawatan Universitas Mulawarman

Diagnosa Keperawatan : Kurangnya pengetahuan sasaran terhadap Ca Mamae &


Kemoterapi

A. Tujuan Instrukasional Umum(TIU)


Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 25 menit,di harapkan sasaran akan
dapat menjelaskan tentang konsep dasar Ca Mamae & Kemoterapi

B. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah diberikan penkes selama 25 menit, sasaran diharapkan dapat menyebutkan
tentang Ca Mamae dan Kemoterapi dengan baik dan benar :
1. Menjelaskan pengertian Ca mamae dengan benar
2. Menjelaskan penyebab Ca mamae dengan benar
3. Menyebutkan tanda dan gejala Ca mamae dengan benar
4. Menjelaskan pengertian kemoterapi dengan benar
5. Menjelaskan tujuan kemoterapi dengan benar
C. Materi/Pokok Bahasan
a. Pokok Bahasan : Ca mamae & Kemoterapi
b. Sub Pokok Bahasan :
1. Pengertian Ca mamae
2. Penyebab Ca mamae
3. Tanda dan gejala Ca mamae
4. Pengertian Kemoterapi
5. Tujuan Kemoterapi
D. Metode
 Ceramah
 Tanya jawab

E. Media
 Leaflet
 Lembar balik

F. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

Waktu Tahap Pengajar Sasaran

5 menit Pembukaan 1. Membuka acara 1. Menjawab salam


dengan dan mendengarkan
mengucapkan perkenalan
salam dan 2. Mendengarkan
perkenalan 3. Menyetujui
2. Menyampaikan kesepakatan
topik dan tujuan pelaksanaan
kepada sasaran penkes
3. Kontrak waktu 4. Menyamakan
dengan sasaran persepsi
4. Apersepsi dengan
sasaran
15 menit Kegiatan Inti 1. Menjelaskan 1. Memperhatikan
pengertian Ca 2. Merespon
mamae 3. Menjawab
2. Menanyakan pertanyaan
pemahaman 4. Memperhatikan
sasaran 5. Merespon
3. Mengajukan 6. Menjawab
pertanyaan pada pertanyaan
sasaran 7. Memperhatikan
4. Menjelaskan 8. Merespon
penyebab Ca 9. Menjawab
mamae pertanyaan
5. Menanyakan 10. Memperhatikan
pemahaman 11. Merespon
sasaran 12. Menjawab
6. Mengajukan pertanyaan
pertanyaan pada 13. Memperhatikan
sasaran 14. Merespon
7. Menjelaskan tanda 15. Menjawab
dan gejala Ca pertanyaan
mamae
8. Menanyakan
pemahaman
sasaran
9. Mengajukan
pertanyaan pada
sasaran
10. Menjelaskan
pengertian
kemoterapi
11. Menanyakan
pemahaman
sasaran
12. Mengajukan
pertanyaan pada
sasaran
13. Menjelaskan
tujuan kemoterapi
14. Menanyakan
pemahaman
sasaran
15. Mengajukan
pertanyaan pada
sasaran
5 menit Penutup 1. Memberi 1. Memperhatikan
kesimpulan
tentang
2. Menjawab
manajemen nyeri
pertanyaan
2. Mengajukan
pertanyaan
(evaluasi) pada 3. Memperhatikan
sasaran tentang dan menjawab
materi yang salam
sedang dilakukan
3. Menutup
pertemuan dan
memberi salam
penutup

G. Rencana Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
Sasaran menyepakati kontrak yang telah disepakati dan tersedianya media penkes
2. Evaluasi Proses
Sasaran berpartisipasi selama kegiatan dan pelaksanaan sesuai dengan rencana
3. Evaluasi Hasil (Lisan)
Sasaran mampu :
a. Menjelaskan pengertian Ca mamae dengan bahasanya sendiri
b. Menjelaskan penyebab Ca mamae dengan baik
c. Menyebutkan tanda dan gejala Ca mamae dengan benar
d. Menjelaskan pengertian Kemoterapi dengan bahasanya sendiri
e. Menjelaskan tujuan Kemoterapi dengan benar
Lampiran Materi

A. Definisi
Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal, berkembang biak dan
menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah. (Sofian,2012)

B. Etiologi
1. Faktor genetik
Faktor genetik berpengaruh dalam peningkatan terjadinya kanker payudara. Riwayat
keluarga yang pernah mengalami kanker payudara meningkatkan risiko
berkembangnya penyakit ini.
2. Faktor Hormonal
Kelebihan hormon estrogen endogen atau lebih tepatnya terjadi ketidakseimbangan
hormon terlihat sangat jelas pada kanker payudara. Banyak faktor resiko yang dapat
disebutkan seperti masa reproduksi yang lama, nulipara, dan usia tua saat mempunyai
anak pertama akan meningkatkan estrogen pada siklus menstruasi. Wanita pasca
menopause dengan tumor ovarium fungsional dapat terkena kanker payudara karena
adanya hormone estrogen berlebihan.
3. Faktor lingkungan dan gaya hidup
Pengaruh lingkungan diduga karena berbagai faktor antara lain : alkohol, diet tinggi
lemak, kecanduan minum kopi, dan infeksi virus. Hal tersebut mungkin mempengaruhi
onkogen dan gen supresi tumor dari kanker payudara

C. Tanda dan Gejala


Tanda dan Gejala Ca mamae:
Gejala dan tanda yang paling sering ditemukan adalah
1. Adanya benjolan pada payudara : Benjolan ini biasanya tidak nyeri dan ukurannya
kecil tetapi lama-lama akan membesar dan menempel pada kulit.
2. Terjadi retraksi : dimana putting akan masuk atau tertarik kedalam,.
3. Terjadi perubahan warna : warna menjadi pink atau kecoklatan sampai menjadi
oedema yang menyebabkan kulit payudara atau putting mengkerut dan menjadi
borok. Borok dapat membesar dan mendalam sehingga merusak payudara, menjadi
busuk dan berdarah.
4. Nipple discharge : keluarnya cairan. Gejalanya adalah keluarnya cairan yang tidak
wajar dan spontan dari puting. Cairan ini dikatakan tidak normal karena cairan
normal hanya keluar pada ibu hamil, ibu yang sedang menyusui, atau ibu yang
memakai pil kontrasepsi. Dimana cirri dari cairan ini adalah cairan berdarah encer,
bewarna merah atau kecoklatan, dapat keluar sendiri tanpa dipijat, dan dapat keluar
terus menerus pada satu payudara.

D. Komplikasi
Komplikasi potensial dari Ca payudara adalah limfederma. Hal ini terjadi jika
saluran limfe untuk menjamin aliran balik limfe ke sirkulasi umum tidak berfungsi
dengan adekuat. Jika nodus eksilaris dan sistem limfe diangkat, maka sistem kolateral
dan aksilaris harus mengambil alih fungsi mereka. Apabila mereka diinstruksikan
dengan cermat dan didorong untuk meninggikan, memasase dan melatih lengan yang
sakit selama 3-4 bulan. Dengan melakukan hal ini akan membantu mencegah
perubahan bentuk tubuh dan mencegah kemungkinan terbukanya pembengkakan yang
menyulitkan.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium meliputi:
a. Morfologi sel darah
b. Laju endap darah
c. Tes faal hati

d. Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau


plasma
e. Pemeriksaan sitologik

f. Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluar
spontan dari putting payudar, cairan kista atau cairan yang keluar dari
ekskoriasi
2. Mammagrafi

Pengujian mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara


dini. Memperlihatkan struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker yang
tidak teraba atau tumor yang terjadi pada tahap awal. Mammografi pada masa
menopause kurang bermanfaat karean gambaran kanker diantara jaringan kelenjar
kurang tampak.
3. Ultrasonografi

Biasanya digunakan untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada


mammae ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan kista.
kadang-kadang tampak kista sebesar sampai 2 cm.
4. Thermography

Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal; dari mammae atau
mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena
peningkatan suplay darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.
5. Xerodiography

Memberikan dan memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-


pembuluh darah dan jaringan yang padat. Menyatakan peningkatan sirkulasi
sekitar sisi tumor.
6. Biopsi

Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas,


dengan cara pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap massa
dan berguna klasifikasi histogi, pentahapan dan seleksi terapi.
7. CT. Scan
Dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
8. Pemeriksaan hematologi

Yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah
dengan sendimental dan sentrifugis darah.

F. Penatalaksanaan Medis
1. Pembedahan
a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi

Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis


mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis
minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b. Mastectomy total

Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot
dinding dada tidak diangkat.
c. Lumpectomy/tumor
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut
diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara
normal yang berada di sekitar tumor tersebut.
d. Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e. Ouadranectomy.

Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot
pectoralis mayor.
2. Radiotherapy

Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di
sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis,
radang tenggorokan.
3. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat
juga digabung dengan therapi endokrin lainnya.

4. Kemoterapi

Kemoterapi adalah cara pengobatan tumor dengan memberikan obat


pembasmi sel kanker (sitostatika) yang diminum ataupun diinfuskan ke
pembuluh darah, Susanti dan Tarigan (2010). Tujuan penggunaan terapi ini
terhadap kanker adalah untuk mencegah multiplikasi sel kanker dan
menghambat invasi dan metastase pada sel kanker. Jadi terapi ini cenderung
diberikan bila sel kanker sudah bermetastase luas sehingga menimbulkan efek
sistemik (Prawirodihardjo, 2006).
a) Tujuan Penggunaan Kemoterapi
1. Terapi adjuvant adalah suatu sesi kemoterapi yang digunakan
sebagai modalitas atau terapi tambahan untuk terapi lainnya misalnya
pembedahan dan radiasi yang bertujuan untuk mengobati
mikrometastasis.
2. Kemoterapi neo adjuvan yaitu pemberian kemoterapi yang
bertujuan untuk mengecilkan tumor sebelum dilakukan pengangkatan
tumor melalui pembedahan.
3. Terapi primer yaitu terapi pada pasien dengan kanker lokal
dikarenakan alternative terapi lain tidak terlalu efektif.
4. Kemoterapi induksi yaitu terapi primer pada pasien kanker
karena tidak memilki alternative terapi lain.
5. Kemoterapi kombinasi yaitu pemberian dua atau lebih obat
kemoterapi dalam terapi kanker yan obat tersebut bersifat sinergis atau
saling memperkuat aksi obat lainnya.
b) Persiapan dan Syarat Kemoterapi
1. Persiapan
a. Darah tepi (Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit)
b. Fungsi hepar (bilirubin, SGOT, SPGT, alkali phospat)
c. Fungsi ginjal (ureum kreatinin dan kreatinin clearance test bila
serum creatinin meningkat)
d. EKG
2. Syarat
a. Keadaan umum baik
b. Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi
(informed consent)
c. Faal ginjal dan hati baik
d. Diagnostic patologik
e. Jenis kanker diketahui cukup sensitive terhadap kemoterapi
f. Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.
g. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hemoglobin >10 gr,
leukosit >500/mm3, trombosit >15.000/mm3.
c) Prinsip Pemilihan Obat Kemoterapi
1. Obat yang digunakan diketahui aktivitasnya sebagai single
agent, terutama obat yang mempunyai complete remission
2. Obat dengan mekanisme kerja yang berbeda untuk menghindari
efek aditif atau sinergis
3. Obat dengan toksisitas yang berbeda untuk mendapatkan dosis
yang maksimal atau mendekati maksimal
4. Obat harus digunakan pada dosis optimal dan sesuai schedule
5. Obat harus diberikan pada interval yang konsisten
6. Obat mempunyai pola resistensi yang berbeda harus
dikombinasi untuk meminimalkan resistensi silang.

d) Cara Pemberian Kemoterapi


1. Pemberian per oral
Beberapa jenis kemoterapi telah dikemas untuk pemberian
peroral, diantaranya adalah chlorambucil dan etoposide (vp-16)
2. Pemberian secara intra-muskulus
Pemberian dengan cara ini relatif lebih mudah dan sebaiknya
suntikan tidak diberikan pada lokasi yang sama dengan
pemberian dua-tiga kali berturut-turut yang dapat diberikan
secara intra-muskulus antara lain bleomicin dan methotrexate.
3. Pemberian secara intravena dapat dengan bolus perlahan-lahan
atau diberikan secara infus (drip). Cara ini merupakan cara
pemberian kemoterapi yang paling umum dan banyak
digunakan.
4. Pemberian secara intra-arteri
Pemberian intra-arteri jarang dilakukan karena membutuhkan
sarana yang cukup banyak antara lain alat radiologi diagnostic,
mesin, atau alat filter, serta memerlukan keterampilan
tersendiri.
5. Intravesika
Melalui selang kateter
6. Intrapleura
Melalui WSD
e) Efek Samping Kemoterapi
1. Efek samping pada saluran gastrointestinal
Efek samping pada saluran gastrointestinal yang sering diderita oleh
pasien adalah mual dan muntah yang dapat menetap hingga 1 hari
setelah pemberian obat kemoterapi.
2. Efek samping pada sistem Hematopoitic
Myelosupresi ditandai dengan menurunnya jumlah sel-sel darah
merah (anemia), sel darah putih (leukopenia), dan trombosit
(trombositopenia).
3. Efek samping pada sistem neurologis
Beberapa gejala dari neuropati perifer yaitu numbness dan tingling
(merasa seperti tertusuk peniti atau kesemutan) pada tangan dan kaki,
nyeri pada ekstremitas, mati rasa, dan bisa juga menyebabkan ileus
paralitik seperti kesulitan dalam menelan.
4. Efek samping pada sistem Kardiopulmonal
Beberapa obat kemoterapi seperti daunorubicin dan doxorubicin
diketahui dapat menyebabkan penumpukan cardiac toxicity yang
bersifat irreversible, terutama ketika total dosis mencapai 550mg/m2.
5. rambut rontok : Rambut rontok adalah efek samping
kemoterapi yang hampir dialami oleh semua pasien kanker yang
menjalani pengobatan tersebut. Folikel rambut sangat rentan rusak
sehingga membuat rambut Anda mudah rontok ketika kemoterapi.
Tidak sedikit orang yang malu karena mengalami hal ini, apalagi bagi
kaum perempuan yang menganggap rambut adalah mahkotanya.

6. Sariawan pada mulut : Kemoterapi menyebabkan sistem


kekebalan tubuh Anda menurun, sehingga sangat mudah terserang
infeksi bakteri atau virus. Infeksi yang sering terjadi pada pasien
kanker adalah infeksi mulut. Infeksi ini ditandai dengan
timbulnya sariawan pada bagian mulut, tak hanya satu luka bahkan
bisa saja semua bagian mulut dipenuhi dengan luka. Tentu hal ini
akan membuat pasien menjadi susah untuk mengonsumsi
makanannya, padahal makanan dapat membuatnya pulih kembali.

7. Anemia dan kelelahan : Obat kemoterapi juga dapat membuat


jumlah sel darah merah menurun hingga pasien mengalami anemia.
Hal ini menyebabkan jaringan tubuh Anda tidak mendapatkan
oksigen dan makanan sehingga timbul rasa lelah. Biasanya untuk
mengatasi anemia yang berat, dokter akan menyarankan pasien untuk
ditransfusi
f) Cara mengatasi efek samping kemoterapi

1. Rambut rontok

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi rambut rontok:

 Anda tetap bisa bergaya dengan menggunakan topi, scarf, atau wig –
jika Anda mau. Jangan malu untuk mencoba hal tersebut, bila Anda
belum siap menggunakannya, Anda dapat berdiskusi dulu psikolog
atau tim medis Anda.
 Jika ingin keramas, gunakan sampo yang tidak memiliki wangi dan
ringan di kulit kepala, seperti sampo bayi. Gunakan air hangat ketika
membilas kulit kepala serta hindari gerakan menggaruk ketika
keramas atau mengeringkan rambut.
 Hindari terlalu sering menyisir rambut Anda.
 Hindari menggunakan minyak atau krim rambut.

2. Mual dan muntah

Beberapa hal yang dapat mengatasi mual dan muntah saat kemoterapi
yaitu:

 Makan dengan porsi yang sedikit namun sering, sebab rasa


mual sering kali muncul ketika perut Anda kosong.
 Saat mengonsumsi makanan, usahakan untuk mengunyahnya dengan
perlahan.
 Usahakan untuk mengonsumsi makanan yang bersuhu dingin. Hindari
makanan hangat atau panas karena akan menyebabkan Anda semakin
mual.
 Jangan mengonsumsi makanan dan minuman yang memiliki
temperatur berbeda dalam satu waktu.
 Minum antara 6-8 gelas per hari atau sesuai dengan kebutuhan.

3. Anemia dan Kelelahan

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk meringankan gejala


tersebut adalah:

 Istirahat yang banyak, seperti tidur siang setidaknya 15 menit saja


dapat membantu tubuh Anda pulih kembali. Kenali diri Anda dan
istirahat lah sebelum merasa lelah.
 Melakukan olahraga yang ringan. Tentu hal ini dapat dilakukan jika
dokter mengizinkan.
 Kelola stres dengan baik. Anda bisa menggunakan waktu luang Anda
untuk melakukan hobi atau hal-hal yang Anda sukai sehingga, stres
akan terkelola dengan baik.

4. Sariawan pada mulut

Berikut adalah cara untuk mengatasi luka pada mulut:

 Pastikan untuk menyikat gigi setidaknya 90 detik setiap dua kali


dalam satu hari. Usahakan untuk menggunakan sikat gigi yang halus.
 Hindari mengonsumsi alkohol, makanan pedas, serta makanan asam.
 Gunakan obat kumur untuk menghilangkan bakteri yang mungkin
masih tertinggal di dalam mulut.
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Aziz H, 2007. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta
: Salemba Medika

Dita Hana Febriani (2014), Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Klien yang
Menjalani Kemoterapi. (Kemo.com_laporan_pendahuluan-kemoterapi)
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2018