Anda di halaman 1dari 4

The Pianist

Oleh: Maharani Yosandra

Alunan berbagai macam musik terdengar olehku semenjak aku memasuki bangunan
mewah bernama Melodiusic. Semua penataan di dalam bangunan ini sangatlah tersusun
dengan baik. Ini adalah les piano pertamaku. Sebelumnya aku hanyalah bermain piano secara
otodidak dirumah.
Aku memasuki ruangan 2.5 dan melihat anak-anak seumuranku sedang menatap
seorang anak laki-laki yang sedang fokus memainkan pianonya.

Setelah permainan itu berakhir. Pelatih yang melihatku itu menyuruhku untuk
memperkenalkan diri.

" Selamat siang. Perkenalkan nama saya Caroline Sanovi. kalian bisa panggil saya
Caroline. Umurku 12 tahun. Hobiku bermain musik terutama piano. Senang berkenalan
dengan kalian!" ucapku gugup.

" Apa boleh kami melihat penampilanmu yang pertama kali disini? Kami sangat
penasaran." teriak salah satu anak yang kemudian disetujui oleh anak lainnya.

Aku menerima tawarannya karena terdesak. Baru beberapa menit aku memainkannya
anak yang berteriak sebelumnya berbicara kembali.

" Sepertinya kamu sangat jago memainkannya, Caroline!" ucap anak itu dan disambut
tawa oleh anak-anak lainnya kecuali anak laki-laki yang bermain piano tadi.

Dadaku terasa sesak. Pikiranku kosong. Mentalku goyah. Seseorang menarik


tanganku dan membawaku keluar ruangan. Dia adalah seorang anak laki-laki yang bermain
piano sebelumku.

" Kamu baru merasakan untuk yang pertama kalinya, bukan?" tanya anak itu.

"Ya." jawabku sambil mengangguk kecil.

" Itu hanyalah hal yang kecil. Dulu aku juga sering mendapatkan cacian semenjak
datang ketempat ini. Tapi, karena mereka itulah sekarang aku menjadi sekuat ini." katanya
yang kemudian tersenyum.

Hubunganku dengan anak itu semakin akrab. Namanya Gary Wicaksana. Anak itu
ternyata sangat ramah dan cepat sekali bergaul.

"Penampilanmu tadi tidak terlihat buruk. Jika kamu mau, aku bisa mengajarkanmu
teknik bermain piano lainnya di rumahku."

Dia mengajakku ke rumahnya. Sebelumnya, aku sempat ragu menerima ajakkannya.


Tetapi, akhirnya aku terima dan pergi ke rumahnya setelah meninggalkan kelas Piano.
Jalur rumah yang terlewati terasa tidak asing bagiku. Ternyata dia adalah anak dari
tetangga baruku. Aku langsung mengirim pesan kepada Ayahku jika kelas Piano telah
berakhir dan aku sedang di rumah tetangga baru.

" Oh ya, 8 Desember nanti Melodiusic akan mengadakan pentas seni. Aku akan
mengisi acaranya nanti. Aku harap kamu juga akan mengisinya setelah pertunjukkanku. Jika
kamu mengisi acaranya, aku akan memberikanmu hadiah." ucapnya.

" Aku mau. Tapi, kemampuanku belumlah terlihat baik."

" Tenang saja! Masih ada hari yang tersisa sebelum pertunjukkan dimulai."

Beberapa hari kemudian aku lebih sering belajar bermain piano di rumah anak itu
daripada di Melodiusic. Dia selalu menyemangatiku disaat aku hampir menyerah.

****

Hari dimana pentas seni akhirnya tiba. Pertunjukkan demi pertunjukkan sudah
dimulai. Penampilan Gary telah selesai. Sekarang adalah bagianku tampil. Aku langsung
keatas panggung dan mulai memainkan piano tersebut. Dengan santai, aku memainkannya
dan merasakannya dalam hati. Aku mengingat semua ilmu yang diberikan oleh teman baru
yang sudah kuanggap sahabat itu.

Musik yang aku mainkan telah berakhir. Suasana yang tenang kini menjadi penuh
dengan suara tepuk tangan penonton. Usahaku selama ini ternyata tidak sia-sia. Aku
memeluk Ayah dan Ibuku seusai turun dari panggung. Tetapi, ada yang belum aku lihat
semenjak penampilanku tadi.

" Oh ya, nak. Ini ada hadiah untukmu dari Gary." ucap Ibuku.

" Memang dimana dia?" tanyaku penasaran.

" Jadi, kamu belum mengetahuinya? Gary memberitahu kami jika dia akan
melanjutkan sekolah ke London. Dia baru saja menitipkan kado ini setelah menyaksikanmu
lalu pergi."

" A.. Apa?"

Setelah mendengar penjelasan dari orang tuaku. Aku langsung berlari keluar dan
mencari Gary berharap dia masih disekitar sini. Tetapi, nyatanya tidak. Aku berdiri dan
terdiam bersama kado yang ada digenggamanku. Kado itu berisi sebuah boneka Teddy Bear
dan gelang.

5 tahun kemudian -8 Desember 2015-

Rintikan hujan turun membasahi pakaianku. Semilir angin menghantam tubuhku yang
sedang terdiam berdiri tegak menghadap ke sebuah bangunan kosong. Tempat itu memiliki
masalah sehingga beberapa minggu yang lalu tempat itu harus ditutup. Bangunan itulah yang
merupakan tempat terakhir pertemuanku dengan Gary saat kami sedang di bangku Sekolah
Dasar.

Aku melangkah ke dalam tempat yang tak terkunci itu. Sesuatu benda yang tak asing
terlihat dalam pandanganku. Boneka Teddy Bear yang sama dengan pemberian Gary dulu ada
di sekitar pintu. Tak lama kemudian seseorang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku
sangat terkejut karena ternyata dia adalah Gary. Gelang yang sedang dipakainya sama
denganku. Dia memelukku dan meyakinkanku bahwa dia tidak akan pergi meninggalkanku
lagi. Dia akan berada disampingku dan mendukungku selalu. Desember adalah bulan
favoritku.
Informasi Penulis

Maharani Yosandra lahir di Cilegon, 12 April 2000. Ia merupakan pelajar dari SMAN 2 KS
Cilegon. Hobinya adalah menulis dan menggambar. Ia sering membuat cerita-cerita yang
diupload ke akun sosmednya.