Anda di halaman 1dari 2

Hipertensi merupakan “silent killer” sehingga menyebabkan fenomena gunung es.

Prevalensi
hipertensi meningkat dengan bertambahnya
usia. Kondisi patologis ini jika tidak mendapatkan
penanganan secara cepat dan secara dini maka
akan memperberat risiko.
Yayasan Jantung Indonesia (2005) menyatakan
bahwa akibat yang terjadi jika hipertensi tidak segera
ditangani adalah otak (menyebabkan stroke), mata
(menyebabkan retinopati hipertensi dan dapat
menimbulkan kebutaan), jantung (menyebabkan
penyakit jantung koroner termasuk infark jantung
dan gagal jantung), ginjal (menyebabkan penyakit
ginjal kronik, gagal ginjal terminal).
Hipertensi adalah penyakit nomor 3 dari 10
penyakit yang mempunyai persentase besar dan
yang sering di jumpai pada usia lanjut (WHO, 1990
cit Nugroho, 2000). Berdasarkan data WHO dari
50% penderita hipertensi yang diketahui hanya
25% yang mendapat pengobatan, dan hanya 12,5%
yang diobati dengan baik (adequately treated
cases). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat
penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia
sebesar 26,3%, sedangkan data kematian di rumah
sakit tahun 2005 sebesar 16,7 (Ruhyana, 2007).
Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi
diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang
merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi
6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak
menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga
mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat
karena tidak menghindari dan tidak mengetahui
faktor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi
esensial (Amiruddin, 2007).
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh
beberapa hal diantaranya adalah genetik, umur,
obesitas, diet tinggi natrium, peningkatan konsumsi
alkohol, dan tidak pernah olah raga (Davis, 2004).
Hal ni didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Prasetyaningsih (2007), hasil dari penelitiannya
adalah ada hubungan antara senam lansia dengan
kejadian hipertensi pada lansia.

Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat dan kian hari
semakin mengkawatirkan, diperkirakan pada tahun 2025 2 sekitar 29% orang dewasa di seluruh
dunia akan menderita hipertensi (Depkes RI, 2006). Berdasarkan data dari AHA (American Heart
Asosiation) tahun 2011, di Amerika dari 59% penderita hipertensi hanya 34% yang terkendali,
disebutkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi (Heidenreich PA, et al, 2011). Dan
berdasarkan NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey) tahun 2010, dari 66,9 juta
penderita hipertensi di USA, 46,5% hipertensi terkendali dan 53,5% hipertensi tidak terkendali
(NHANES, 2010). Di Indonesia hipertensi merupakan penyebab kematian ketiga untuk semua umur
setelah stroke (15,4%) dan tuberculosis (7,5%), dengan jumlah mencapai 6,8% (Riskesdas, 2007).
Banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang, tetapi hanya 4% yang memiliki tekanan
darah terkendali sedangkan 50% penderita memiliki tekanan darah tidak terkendali (Bustan, 2007).
Data Riskesdas tahun 2013 melaporkan prevalensi hipertensi penduduk umur 18 tahun ke atas
sebesar 25,8%. Dari 15 juta penderita hipertensi, 50% hipertensinya belum terkendali (Riskesdas,
2013).

Keturunan (Genetik) Pada 70-80% kasus hipertensi esensial, terdapat riwayat hipertensi dalam
keluarga. Faktor genetik ini juga dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain, yang kemudian
menyebabkan seseorang menderita hipertensi. Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme
pengaturan garam dan renin membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita
hipertensi maka sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang
menderita hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya (Anna Palmer, 2007). Hipertensi
ditemukan lebih banyak terjadi pada kembar monozigot (berasal dari satu sel telur) dibanding
heterozigot (berasal dari sel telur yang berbeda). Jika memiliki riwayat genetik hipertensi dan tidak
melakukan penanganan atau pengobatan maka ada kemungkinan lingkungan akan menyebabkan
hipertensi berkembang dalam waktu 30 tahun, akan muncul tanda-tanda dan gejala hipertensi
dengan berbagai komplikasi (Lany Gunawan, 2005).