Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No.

1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

KAJIAN SISTEM SERTIFIKASI LAIK FUNGSI BANGUNAN GEDUNG


DI KOTA TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA
Endah Harisun
Alumni Program Pascasarjana S2 Teknik Sipil Unsrat

ABSTRAK
Sertifikat Laik Fungsi atau SLF, pemberlakuannya dimulai sejak tahun 2010 akan menjadi dokumen
yang wajib dimiliki setiap bangunan gedung, baik yang baru atau Pekerjaan Umum yang sudah lama
berdiri. Ketentuan ini dikeluarkan pemerintah demi memastikan keselamatan pengguna bangunan.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui sistem yang berlaku pada Dinas Pekerjaan Umum Kota
Ternate, menganalisa pemahaman masyarakat dan pelaku jasa konstruksi terhadap pemberlakuan
SLF bangunan gedung, dampak yang dihadapi terhadap pemberlakuannya. Selain itu, untuk
mengetahui korelasi antara pemahaman Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan terhadap dampak yang
dirasakan dengan adanya kewajiban sertifikasi laik fungsi bangunan tersebut.
Metodologi yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan pendekatan
penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penyatuan data dilakukan dengan cara mengkombinasikan data
kualitatif dalam bentuk teks dengan data kuantitatif dalam informasi angka. Penyatuan ini dicapai
melalui melaporkan hasil secara bersama-sama di dalam hasil dan pembahasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan belum berjalan sama
sekali. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah Kota belum siap terhadap pemberlakuan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 25 tahun 2007. Pada satu sisi pentingnya pemahaman dari
masyarakat dan pelaku jasa konstruksi tentang SLF bangunan gedung sangat berpengaruh terhadap
dampak yang akan dirasakan pada pemberlakuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut.
Penelitian yang dilakukan terhadap pemahaman masyarakat dan pelaku jasa konstruksi berdasarkan
analisis, terlihat bahwa masyarakat dan pelaku jasa konstruksi kurang mengetahui dan memahami
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi
Bangunan Gedung. Demikian juga dengan dampak yang dirasakan dengan pemberlakuan Sertifikasi
Laik Fungsi Bangunan khususnya bagi masyarakat, dapat disimpulkan bahwa aturan-aturan maupun
sanksi yang diberlakukan dalam Peraturan Menteri tersebut tidak berpengaruh pada masyarakat.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin masyarakat dan pelaku jasa konstruksi
memahami Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik
Fungsi Bangunan Gedung, masyarakat dan pelaku jasa konstruksi akan lebih mematuhi aturan-
aturan yang diberlakukan oleh Peraturan Menteri tersebut. Demi tertatanya suatu kondisi bangunan
gedung yang laik fungsi, pemerintah diharapkan lebih tegas dalam memberikan sanksi-sanksi baik
yang teringan berupa sanksi administratif maupun sanksi terberat berupa pembongkaran.
Kata kunci: Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung, Ternate Maluku Utara

PENDAHULUAN baik akan menguntungkan para karyawan


secara material, karena mereka akan lebih
Latar Belakang jarang absen bekerja dengan lingkungan
Salah satu faktor yang mempengaruhi yang menyenangkan, sehingga secara
produktivitas kerja adalah keselamatan keseluruhan akan mampu bekerja lebih lama
kerja. Perusahaan perlu memelihara berarti lebih produktif.
kesehatan para karyawan, kesehatan ini Keselamatan kerja erat kaitannya dengan
menyangkut kesehatan fisik ataupun mental. peningkatan produksi dan produktivitas.
Kesehatan para karyawan yang buruk akan Dengan tingkat keselamatan kerja yang
mengakibatkan kecenderungan tingkat tinggi, kecelakaan yang dapat menyebab-
absensi yang tinggi dan produksi yang kan sakit, cacat dan kematian pada pekerja
rendah. Adanya program kesehatan yang dapat ditekan sekecil-kecilnya. Tingkat

14
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

keselamatan yang tinggi sejalan dengan diberlakukan pada tahun 2010 di kota
pemeliharaan dan penggunaan peralatan Ternate
kerja, mesin yang produktif dan efisien, 2. Menganalisa pemahaman pelaku Jasa
bertalian dengan tingkat produksi dan Konstruksi tentang Sertifikasi Laik
produktivitas yang tinggi. Fungsi Bangunan..
Masih tingginya angka kecelakaan kerja 3. Menemukan dampak yang terjadi pada
pada pekerja konstruksi di kota Tomohon, pelaku Jasa Konstruksi dan pada
serta adanya tuntutan global dalam masyarakat mengenai pemberlakuan
perlindungan tenaga kerja, maka diperlukan Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan.
upaya-upaya untuk meminimalisasi 4. Menemukan korelasi antara pemahaman
kecelakaan kerja. Faktor sumber daya Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan
manusia memegang peranan yang sangat terhadap Dampak Yang Dirasakan
penting dalam meminimalisasi kecelakaan Dengan Adanya Kewajiban Sertifikasi
kerja, seperti kurangnya kesadaran untuk Laik Fungsi Bangunan
bekerja dalam kondisi sehat sampai dengan Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini
tidak menggunakan alat pelindung diri saat antara lain:
bekerja. Dari sekian banyak faktor penyebab 1. Memberikan masukan bagi Pemerintah
kecelakaan kerja akan dilakukan suatu Daerah dalam mempersiapkan segala
penelitian tentang analisis upaya pencegahan perangkat dalam menghadapi
kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi di pemberlakuan Peraturan Menteri
kota Tomohon yang difokuskan pada faktor Pekerjaan Umum No. 25/PRT/M/2007
Kesehatan Kerja, Pelatihan dan Penggunaan tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi
Alat Pelindung Diri (APD). Bangunan Gedung berupa :
a. Kesiapan Perda
Perumusan Masalah b. Kesiapan Tim Ahli
Permasalahan yang akan diteliti dalam c. Sosialisasi kepada masyarakat
penelitian ini adalah: 2. Sebagai informasi dan sosialisasi kepada
1. Bagaimana sistem Sertifikasi Laik pelaku Jasa Konstruksi dan masyarakat
Fungsi Bangunan pada Dinas Pekerjaan tentang pemberlakuan Peraturan Menteri
Umum Kota Ternate ? Pekerjaan Umum No. 25/PRT/M/2007
2. Bagaimana pemahaman Sertifikasi Laik 3. Sebagai informasi bagi peneliti lain yang
Fungsi Bangunan pada pelaku jasa bermaksud mengadakan penelitian
Konstruksi (Kontraktor dan Konsultan) mengenai Sertifikasi Laik Fungsi
dan masyarakat? Bangunan
3. Bagaimana dampak Sertifikasi Laik
Fungsi Bangunan bagi pelaku jasa
Konstruksi (Kontraktor dan Konsultan) KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
dan masyarakat?
4. Bagaimana hubungan antara pemahaman Definisi
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
terhadap Dampak Yang Dirasakan 25/PRT/M/2007 bagian I tentang ketentuan
Dengan Adanya Kewajiban Sertifikasi umum disebutkan beberapa pengertian .
Laik Fungsi Bangunan? Pedoman adalah acuan yang merupakan
penjabaran lebih lanjut dari Peraturan
Tujuan Penelitian Pemerintah dalam bentuk ketentuan-
Yang menjadi tujuan dari penelitian ini : ketentuan penyelenggaraan bangunan
1. Menemukan kendala-kendala dari gedung.
Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Standar teknis adalah standar yang
Pekerjaan Umum terhadap proses dibakukan sebagai standar tata cara, standar
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan yang spesifikasi, dan standar metode uji baik

15
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

berupa Standar Nasional Indonesia maupun peraturan yang disusun untuk mengatur
standar internasional yang diberlakukan hubungan kerja perlu disesuaikan dengan
dalam penyelenggaraan bangunan gedung. peraturan dari pemerintah. Semua pihak dari
Pemilik bangunan gedung adalah orang, ketiga unsur pelaksana pembangunan harus
badan hukum, kelompok orang, atau tunduk dan patuh pada peraturan-peraturan
perkumpulan, yang menurut hukum sah yang telah disusun baik dari segi teknis
sebagai pemilik bangunan gedung. maupun administratif. Penyimpangan yang
Pengguna bangunan gedung adalah pemilik terjadi akan mengakibatkan kesulitan dan
bangunan gedung dan/atau bukan pemilik ketidaklancaran pelaksanaan pembangunan.
bangunan gedung berdasarkan kesepakatan (Djojowirono, 2005)
dengan pemilik bangunan gedung, yang
menggunakan dan/atau mengelola bangunan Evaluasi Proyek
gedung atau bagian bangunan gedung sesuai Akibat dari perkembangan ilmu
dengan fungsi yang ditetapkan. pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan
Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil terbatasnya sumber daya (resources),
pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan sehingga dituntut daya upaya untuk
tempat kedudukannya, sebagian atau memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana
seluruhnya berada di atas dan atau di dalam bangunan fisik yang didasarkan pada azas
tanah atau di air yang berfungsi sebagai optimalisasi dan efisiensi. Konsekuensinya
tempat manusia melakukan kegiatannya, menuntut dalam perencanaan dan
baik untuk hunian atau tempat tinggal, perancangan bangunan akan menjadi
kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, semakin rumit/kompleks. Kompleksitas
kegiatan sosial budaya maupun kegiatan bukan hanya dalam rangka untuk memenuhi
khusus. tuntutan kebutuhan sesuai dengan akan
Struktur bangunan gedung adalah bagian tetapi juga aspek penerapan gagasan struktur
dari bangunan yang tersusun dan komponen- bangunan, teknologi, bahan, perlengkapan,
komponen yang dapat bekerja sama secara metode, dan peralatan yang digunakan.
satu kesatuan, sehingga mampu berfungsi (Tarore dan Mandagi, 2006)
menjamin kekakuan, stabilitas, keselamatan Setelah proyek berjalan dan selesai perlu
dan kenyamanan bangunan gedung terhadap dilakukan tindakan evaluasi. Perbedaan
segala macam beban, baik beban terencana yang mendasar antara evaluasi dan
maupun beban tak terduga, dan terhadap pengendalian adalah evaluasi lebih bersifat
bahaya lain dari kondisi sekitarnya seperti menilai sedangkan pengendalian akan
tanah longsor, intrusi air laut, gempa, angin mengikutinya dengan tindakan koreksi.
kencang, tsunami, dan sebagainya. Dalam tahap manajemen, evaluasi biasa
ditempatkan setelah pengendalian. (Santoso,
Unsur-Unsur Pengelola Konstruksi 2009).
Proses produksi selalu terdiri dari unsur Mekanisme umpan balik harus diberlakukan
konstruksi yang terlibat, yaitu: pemberi dalam pengelolaan proyek sehingga akan
tugas atau pemilik, konsultan dan diperoleh masukan mengenai jalannya
kontraktor. Kerja dari ketiga pihak tersebut proyek dan hasil-hasil tiap tahap serta hasil
membentuk suatu mekanisme pengelolaan akhirnya. Dengan mekanisme seperti itu
proyek untuk mencapai suatu tujuan yang akan ada tindakan koreksi yang diperlukan
sama. (Tarore dan Mandagi, 2006) untuk tetap menjaga proyek berjalan sesuai
Penyelenggaraan pekerjaan pembangunan rencana. Tujuan utama dari evaluasi adalah
suatu bangunan harus mengikuti atau untuk mengungkapkan di mana telah terjadi
berpedoman pada ketentuan-ketentuan, permasalahan dan membuka semua potensi
persyaratan dan peraturan-peraturan dari masalah yang ada. Evaluasi juga akan
pemerintah yang telah ada. Semua pihak menghasilkan pemahaman bagi semua pihak
dari ketiga unsur pelaksana pembangunan mengenai status proyek. Dengan demikian
harus tunduk dan patuh kepada peraturan- bisa dipahami sebelum diadakan evaluasi

16
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

perlu adanya tindakan pelaporan, karena dari Populasi dan Sampel


data, bahan-bahan dan informasi yang Populasi merupakan objek atau subjek yang
dilaporkan akan bisa dievaluasi. Evaluasi berada pada suatu wilayah dan memenuhi
juga berguna untuk melakukan pengelolaan syarat-syarat tertentu yang mempunyai
yang lebih baik terhadap proyek dimasa kaitan dengan masalah yang diteliti.
yang akan datang. Populasi terdiri dari dua bagian yaitu :
Santoso (2009), menyatakan ada dua macam - Pelaku jasa konstruksi (kontraktor dan
evaluasi menurut dilaksanakannya evaluasi konsultan)
tersebut : - Masyarakat (Wirausahawan dan Pemilik
a. Evaluasi Formatif Rumah Tinggal)
Evaluasi ini dilaksanakan setiap tahap Dari sekian banyak cara penentuan sampel,
dalam siklus proyek. Tujuannya penelitian ini menggunakan cara non
memberikan tanda perlu tidaknya probability sampling (judgment sampling).
dilakukan tindakan koreksi. Banyaknya Sampel dipilih berdasarkan penilaian
atau frekuensi evaluasi tentunya sangat peneliti bahwa Responden adalah pihak
bergantung pada kondisi yang dihadapi, yang paling baik untuk dijadikan sampel
tidak ada pedoman khusus. Pokok dari penelitiannya.
kegiatan ini bisa diperoleh informasi Total jumlah responden 137 responden yang
perlu tidaknya melakukan tindakan terdiri dari 60 pelaku jasa konstruksi dan 77
perbaikan masyarakat
b. Evaluasi Ringkas (Summary Evaluation)
Evaluasi ini dilakukan setelah proyek Teknik Pengolahan dan Pengumpulan
selesai. Ini sangat penting khususnya Data
sebagai masukan untuk pengelolaan
proyek yang serupa di masa yang akan Teknik Pengumpulan Data :
datang. Kalaupun proyeknya tidak mirip 1. Studi Literatur
orang-orang yang terlibat bisa 2. Teknik Wawancara atau Interview
mendapatkan informasi mengenai Mendalam
bagian-bagian dari proyek salah satu alat 3. Penyebaran kuesioner/Angket
evaluasi adalah audit proyek 4. Membuat variabel penelitian
Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan cara
METODOLOGI PENELITIAN mengkombinasikan data kualitatif dalam
bentuk teks dengan data kuantitatif dalam
Pendekatan dan Jenis Penelitian wujud informasi angka. Penyatuan ini
Penelitian ini termasuk policy research dicapai melalui melaporkan hasil secara
(metode penelitian kebijaksanaan). Untuk bersama-sama di dalam hasil dan
menjawab permasalahan, pendekatan dalam pembahasan.
penelitian ini adalah dengan menggunakan 1. Pengolahan dan Analisis Data Kualitatif
pendekatan penelitian kualitatif dan 2. Pengolahan dan Analisis Data Kuantitatif
kantitatif. Sugiyono (2009:26) mengatakan
bahwa kedua pendekatan tersebut dapat Hubungan Korelasi
digunakan bersama-sama atau digabung, Teknik analisa korelasi yang digunakan
dengan catatan pendekatan tersebut adalah korelasi Pearson Product Moment.
digunakan secara bergantian. Julius Slamet Dengan menggunakan bantuan SPSS 16,0
(2012), menyatakan bahwa menggunakan Persyaratan
lebih dari satu pendekatan dapat membantu Data dipilih secara acak (random); datanya
memperoleh gambaran yang lebih jelas berdistribusi normal; data yang dihubungkan
mengenai realitas sosial dan dapat berpola linier; dan data yang dihubungkan
menghasilkan penjelasan yang lebih mempunyai pasangan yang sama sesuai
lengkap. dengan subyek yang sama.

17
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

Untuk menyatakan ada atau tidaknya sebagai unsur pembina dengan Pemerintah
hubungan antara variabel X dengan variabel Kota sebagai unsur pelaksana. Kendala-
Y kendala yang ditemukan seperti kurangnya
Pengujian Hipotesis koordinasi yang baik dengan Dinas PU
a. Hipotesis Ho: r = 0 Provinsi, belum adanya struktur organisasi
pemahaman Sertifikasi Laik Fungsi yang membawahi SLF, perlunya
Bangunan (X) tidak ada hubungan yang peningkatan SDM baik dari jenjang kuliah
signifikan terhadap Dampak Yang maupun melalui pelatihan-pelatihan, belum
Dirasakan Dengan Adanya Kewajiban adanya aturan yang mengikat berupa
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan (Y) PERDA tentang bangunan gedung, serta
b.Hipotesis Ha: r ≠ 0 pemahaman Sertifikasi perlunya pembentukkan tim ahli bangunan
Laik Fungsi Bangunan (X) ada hubungan gedung.
yang signifikan terhadap Dampak Yang
Dirasakan Dengan Adanya Kewajiban Hasil Anaisis Data Kuantitatif
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan (Y) 1. Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner
tentang pemahaman Sertifikasi Laik
Fungsi Bangunan pada pelaku jasa
HASIL DAN PEMBAHASAN Konstruksi (Kontraktor dan Konsultan)
dan masyarakat, kesimpulan yang dapat
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas diambil antara lain:
Sebelum melakukan penelitian dengan a. Dengan adanya Permen PU No.
sebenar-benarnya, peneliti terlebih dahulu 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman
melakukan uji coba instrumen agar dapat Sertifikat Laik Fungsi Bangunan
memperoleh instrument yang valid dan Gedung, memiliki tingkat penge-
reliabel. Uji Validitas dilakukan dengan tahuan yang sangat kurang. Terlihat
menyebarkan kuesioner kepada 30 dengan nilai persentase dari
responden, 5 Konsultan, 5 kontraktor, 10 pernyataan responden sebesar 44.53%
pemilik usaha dan 10 pemilik rumah tinggal yang menjawab sangat tidak
masyarakat secara acak. Masukan-masukan mengetahui.
yang diterima selanjutnya menjadi dasar b. Dari prosentasi jawaban yang
untuk menyempurnakan materi dan format diperoleh terlihat bahwa masyarakat
kuesioner. Berdasarkan pengujian validasi maupun pelaku jasa konstruksi tidak
dan realibilitas butiran soal kuisioner mengetahui semua bangunan gedung
semuanya valid dan realibel dan dapat baik yang selesai dibangun maupun
dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Perubahan bangunan gedung yang lama
yang terjadi hanya sebatas penyempurnaan termasuk rumah tinggal harus
format penyajian kuesioner agar lebih disertifikasi hal ini dapat diihat dari
mudah dimengerti dan diisi oleh responden . cukup signifikannya prosentasi
Menyangkut materi kuesioner tidak ada jawaban tidak mengetahui sebesar
perubahan. 64.96%.
c. Dari prosentasi jawaban yang
Hasil Analisis Data Kualitatif diperoleh terlihat bahwa masyarakat
Berdasarkan hasil wawancara, persyaratan maupun pelaku jasa konstruksi tidak
yang dibutuhkan untuk pemberlakuan mengetahui bangunan gedung setelah
Permen PU tersebut hampir semua unsur mengalami perubahan fungsi harus
yang terlampir pada kisi-kisi pertanyaan mengurus IMB kembali hal ini dapat
tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah Kota diihat dari cukup signifikannya
Ternate dalam hal ini Dinas Pekerjaan prosentasi jawaban tidak mengetahui
Umum Kota Ternate. Tidak ada koordinasi sebesar 59.85%.
yang baik antara Pemerintah Propinsi d. Dari prosentasi jawaban yang
diperoleh terlihat lebih dari 50%

18
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

jawaban pertanyaan tidak mengetahui memiliki tenaga ahli konstruksi dan


tentang lembaga/institusi yang sedang proses Sertifikat Keahlian.
menyelenggarakan Sertifikasi Laik b. Dari prosentasi jawaban yang
Fungsi Bangunan (SLF). diperoleh terlihat bahwa seluruh
e. Dari prosentasi jawaban yang perusahan baik kontraktor maupun
diperoleh terlihat ada keseimbangan konsultan telah memiliki karyawan
antara mengetahui dan tidak tenaga ahli yang mempunyai sertifikat
mengetahui Dinas PU adalah Instansi keahlian (SKA) hal ini dapat dilihat
yang menyelanggarakan Sertifikasi dari prosentasi yang menyatakan
Laik Fungsi Bangunan (SLF) namun memiliki 1 karyawan tenaga ahli
responden yang mengetahui masih sebesar 60.00%. dan memiliki 2
didominasi oleh pelaku jasa karyawan tenaga ahli berjumlah
konstruksi. sebesar 26.67%.
f. Dari prosentasi jawaban yang c. Dari prosentasi jawaban yang
diperoleh terlihat bahwa masyarakat diperoleh terlihat bahwa kesadaran
maupun pelaku jasa konstruksi tidak pelaku jasa konstruksi untuk lebih
pernah mengetahui . Dinas PU telah selektif dalam melakukan tender
melakukan sosialisai tentang bangunan gedung cukup kecil dimana
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan yang menyatakan Selektif hanya
(SLF) hal ini dapat diihat dari cukup sebesar 20.00% dan yang menyatakan
signifikannya prosentasi jawaban tidak selektif sebesar 61.67%.
tidak mengetahui sebesar 70.80%. d. Prosentasi jawaban yang diperoleh
g. Dari prosentasi jawaban yang terlihat bahwa kesadaran pelaku jasa
diperoleh terlihat bahwa masyarakat konstruksi untuk meningkatkan
maupun pelaku jasa konstruksi tidak Sumber Daya Manusia (SDM) di
pernah mengetahui Sertifikat Laik peusahan cukup tinggi dimana yang
Fungsi Bangunan Gedung pember- menyatakan Lebih Meningkatkan
lakuannya pada tahun 2010 hal ini sebesar 40.00%, dan yang
dapat diihat dari cukup signifikannya menyatakan Meningkatkan sebesar
prosentasi jawaban tidak mengetahui 53.33%.
sebesar 64.96% dan jawaban sangat 3. Dampak yang dirasakan dengan pember-
mengetahui 0.00%. lakuan Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan
h. Dari prosentasi jawaban yang bagi masyarakat (pengelola tempat usaha
diperoleh terlihat bahwa masyarakat dan pemilik rumah tinggal) dapat
maupun pelaku jasa konstruksi tidak disimpulkan sebagai berikut:
pernah mengetahui Tahapan proses a. Dari prosentasi jawaban yang
penerbitan dan Sertifikasi Laik Fungsi diperoleh terlihat bahwa masyarakat
Bangunan (SLF) hal ini dapat diihat belum terlalu mengetahui bangunan
dari cukup signifikannya prosentasi Rumah/tempat usaha wajib di
jawaban tidak mengetahui 60.00%. sertifikasi.
2. Dampak yang dirasakan dengan pember- b. Dari prosentasi jawaban yang
lakuan Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan diperoleh terlihat bahwa kebersedia-
bagi pelaku jasa Konstruksi (Kontraktor an masyarakat untuk mendaftarkan
dan Konsultan) dapat disimpulkan rumah tinggalnya/tempat usahanya
sebagai berikut: masih kecil dibandingkan dengan
a. Dari prosentasi jawaban responden kesediaan untuk mendaftarkan. Hal
terlihat bahwa 95.00% responden ini terlihat dari jawaban reponden
menjawab telah memiliki tenaga ahli yang menjawab Tidak Menyetujui
konstruksi yang memiliki Sertifikat sebesar 45.45% dan yang menjawab
Keahlian dan 3.33% menjawab telah Menyetujui sebesar 37.66%.

19
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

c. Dari prosentasi jawaban yang terhadap dampak yang dirasakan dengan


diperoleh terlihat bahwa kebersediaan adanya kewajiban Sertifikasi Laik Fungsi
masyarakat untuk menggunakan jasa Bangunan. Dapat disimpulkan uji
Arsitek untuk mendesain sekaligus hipotesis yang diajukan peneliti mengenai
pengawasan pembangunan rumah “pemahaman Sertifikasi Laik Fungsi
tinggal/tempat usaha masih kecil. Bangunan ada hubungan yang signifikan
d. Dari prosentasi jawaban yang terhadap Dampak Yang Dirasakan
diperoleh terlihat bahwa dalam Dengan Adanya Kewajiban Sertifikasi
membangun rumah tinggal/tempat Laik Fungsi Bangunan “, dapat diterima.
usaha, masyarakat lebih banyak
membangun sendiri terutama untuk Kajian Persyaratan Teknis Bangunan
rumah tinggal. Hal ini ditunjukkan Gedung
oleh prosentasi Membangun sendiri Pemilik bangunan harus mengajukan
sebesar 57.14%. sedangkan permohonan untuk pemeriksaan dokumen
Menggunakan jasa kontraktor sebesar kepada Tim Ahli Bangunan Gedung terlebih
1.30%. dahulu, yaitu sebuah tim yang terdiri dari
e. Dari prosentasi jawaban yang para ahli yang terkait dengan penyeleng-
diperoleh terlihat bahwa pengaruh garaan bangunan gedung untuk memberikan
Permen PU pada usaha memperbaiki pertimbangan teknis dalam proses penelitian
Kualitas tempat tinggal/Tempat dokumen rencana teknis dengan masa
Usaha bagi masyarakat belum terlalu penugasan terbatas, dan juga untuk
berpengaruh. Hal ini ditunjukkan oleh memberikan masukan dalam penyelesaian
prosentasi yang menyatakan masalah penyelenggaraan bangunan gedung
Berpengaruh sebesar 32.47%. dan tertentu yang susunan anggotanya ditunjuk
Tidak Berpengaruh sebesar 33.77%. secara kasus per-kasus disesuaikan dengan
4. Hubungan korelasi antara pemahaman kompleksitas bangunan gedung tertentu
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan tersebut.
terhadap Dampak Yang Dirasakan Penetapan Tim Ahli Bangunan Gedung
Dengan Adanya Kewajiban Sertifikasi diatur dengan Peraturan Daerah tentang
Laik Fungsi Bangunan, dari hasil analisis Bangunan Gedung yang berpedoman pada
menggunakan program SPSS terdapat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor
hubungan positif dan signifikan. Semakin 26/PRT/M/2007, tentang Pedoman Tim Ahli
masyarakat dan pelaku jasa konstruksi Bangunan. Dalam hal Daerah belum
memahami Permen PU No. 25/PRT/M/ mempunyai peraturan daerah sebagaimana
2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik disebut di atas, maka pelaksanaan
Fungsi Bangunan Gedung, masyarakat pengaturan Tim Ahli Bangunan Gedung
dan pelaku jasa konstruksi akan lebih berpedoman pada peraturan Menteri nomor
mematuhi aturan-aturan yang diberlaku- 26/2007 tersebut.
kan oleh Permen tersebut. Besarnya Dalam melaksanakan pembinaan penyeleng-
pengaruh pemahaman Sertifikasi Laik garaan bangunan gedung, Pemerintah
Fungsi Bangunan terhadap Dampak Yang melakukan peningkatan kemampuan aparat
Dirasakan Dengan Adanya Kewajiban pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/
Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan adalah kota maupun masyarakat dalam memenuhi
sebesar 17,98% dan sisanya 82,02% ketentuan teknis sebagaimana dimaksud
dipengaruhi oleh faktor lainnya yang dalam Pasal 3 (Tugas dan Fungsi Tim),
tidak diteliti oleh peneliti. Pasal 4 (Aturan Pembentukan Tim Ahli
5. Dari hasil uji hipotesis, dapat dilihat (t > Bangunan), Pasal 5 (Tata Tertib Pelaksanaan
t) atau (5,439 > 2,576). Ini berarti Ho Tugas Tim), dan Pasal 6 (Pembiayaan)
ditolak dan Ha diterima, maka dalam Peraturan Menteri nomor 26/2007,
pemahaman Sertifikasi Laik Fungsi untuk terwujudnya penataan bangunan
Bangunan ada hubungan yang signifikan

20
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

gedung dan lingkungan, serta terwujudnya dengan kesediaan untuk mendaftarkan.


keandalan bangunan gedung. Kebersediaan masyarakat untuk
Demikian hal-hal yang sebenarnya sudah menggunakan jasa Arsitek untuk
diatur secara rapi, baik, dan cermat, tinggal mendesain sekaligus pengawasan
bagaimana mengimplementasikan peraturan pembangunan rumah tinggal/tempat
ini di lapangan, agar tidak ada lagi terdengar usaha masih kecil dan dalam
“bangunan publik roboh dan menyeng- membangun rumah tinggal/tempat
sarakan masyarakat”. usaha, masyarakat lebih banyak
membangun sendiri terutama untuk
rumah tinggal. Serta pengaruh Permen
PENUTUP PU pada usaha memperbaiki Kualitas
tempat tinggal/Tempat Usaha bagi
Kesimpulan masyarakat belum terlalu berpengaruh.
1. Sistem proses Sertifikasi Laik Fungsi 4. Antara pemahaman Sertifikasi Laik
Bangunan pada Dinas Pekerjaan Umum Fungsi Bangunan terhadap Dampak
Kota Ternate belum berjalan sama Yang Dirasakan Dengan Adanya
sekali. Hal ini mengindikasikan bahwa Kewajiban Sertifikasi Laik Fungsi
pemerintah Kota belum siap terhadap Bangunan, terdapat hubungan positif dan
pemberlakuan Peraturan Menteri PU No. signifikan. Semakin masyarakat dan
25 tahun 2007. Kendala-kendala yang pelaku jasa konstruksi memahami
ditemukan seperti kurangnya koordinasi Peraturan Menteri PU No. 25/PRT/M/
yang baik dengan Dinas PU Provinsi, 2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik
belum adanya struktur organisasi yang Fungsi Bangunan Gedung, masyarakat
membawahi SLF, perlunya peningkatan dan pelaku jasa konstruksi akan lebih
SDM baik dari jenjang kuliah maupun mematuhi aturan-aturan yang diberlaku-
melalui pelatihan-pelatihan, belum kan oleh Peraturan Menteri tersebut.
adanya aturan yang mengikat berupa
PERDA tentang bangunan gedung, serta Saran
perlunya pembentukkan tim ahli 1. Implementasi UU Bangunan Gedung
bangunan gedung. (UUBG) perlu ditindaklanjuti dengan
2. Sebagian besar pelaku jasa konstruksi terbitnya Peraturan Daerah tentang
dan masyarakat kurang mengetahui dan bangung gedung. Untuk itu perlu
memahami Peraturan Menteri PU No. kerjasama antara pemerintah pusat,
25/PRT/M/2007 tentang Pedoman pemerintah Propinsi dan pemerintah
Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Kota/Kabupaten. Hal tersebut dikarena-
Gedung. kan Pemda lebih memahami situasi dan
3. Hampir seluruh Kontraktor dan kondisi daerahnya.
Konsultan telah memiliki tenaga ahli 2. Tertatanya suatu kondisi bangunan
konstruksi yang memiliki Sertifikat gedung yang laik fungsi, pemerintah
Keahlian, sebagian besar dari kontraktor diharapkan lebih tegas dalam
dan konsultan menyatakan tidak selektif memberikan sanksi-sanksi baik yang
mengikuti tender bangunan gedung serta teringan berupa sanksi administratif
hampir seluruhnya akan meningkatkan maupun sanksi terberat berupa
Sumber Daya Manusia (SDM) baik pembongkaran. Hal ini disebabkan
berupa mengikuti pelatihan mapun karena selama ini banyak IMB yang
meningkatkan soft skillnya. Untuk terbit pada kenyataanya bangunannya
masyarakat, belum terlalu mengetahui tidak layak fungsi.
bangunan Rumah/tempat usaha wajib 3. Pemerintah Kota Ternate diharapkan
disertifikasi, Kebersediaan masyarakat selalu mensosialisasikan Peraturan
mendaftarkan rumah tinggalnya/tempat Menteri PU. No.25/prt/m/2007 tentang
usahanya masih kecil dibandingkan pedoman Sertifikat Laik Fungsi

21
Jurnal Ilmiah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 1, Maret 2013 ISSN 2087-9334 (14-22)

Bangunan Gedung kepada masyarakat Tarore, Huibert dan Mandagi, R.J.M., 2006.
dan pelaku jasa konstruksi sehingga Sistem Manajemen Proyek dan
masyarakat lebih paham dan mentaati Konstruksi (Simprokon), Tim Penerbit
peraturan tersebut. Disamping keter- JTS Fakultas Teknik Universitas Sam
sediaan sarana prasarana perlu diadakan Ratulangi, Manado
seperti laboratorium untuk pengujian
kelayakan bangunan.
4. Peraturan Menteri PU. No.25/prt/m/2007
tentang pedoman Sertifikat Laik Fungsi
Bangunan Gedung, perlu ditinjau
kembali pelaksanaannya maupun
pemberlakuannya ditingkat daerah. Hal
ini disebabkan karena Kedudukan SLF
Bangunan Gedung pada sistem
pengendalian proses membangun
bangunan gedung pemeriksaannya
setelah bangunan gedung selesai
difungsikan. Hal tersebut sangat tidak
efisien disebabkan karena lebih baik jika
pada saat pengurusan Ijin Mendirikan
Bangunan (IMB) pemerintah lebih
memperketat aturan-aturan yang berlaku
disertai dengan monitoring pada saat
pembangunan konstruksi gedung
tersebut sehingga terjadi kesinambungan
antara fungsi yang direncanakan dengan
fungsi bangunan yang dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

Khadiyanto, Parfi, Kajian Teknis


Pembangunan Gedung.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32
Tahun 2010 Tentang Pedoman
Pemberian Izin Mendirikan Bangunan.
Peraturan Menteri PU Nomor 26/prt/m/2007
Tentang Pedoman Tim Ahli Bangunan
Gedung.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
Suprapto, 2008. Tinjauan Eksistensi
Standar-standar (SNI) Proteksi
Kebakaran dan Penerapannya Dalam
Mendukung Implementasi Peraturan
Keselamatan Bangunan. Prosiding
PPIS Bandung 29 Juli 2008.

22