Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH PEMICU II

“SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM DAN


SPEKTROSKOPI INFRAMERAH”

Oleh Kelompok: 9
1. Kirana Widiani Lestari (1606826880)
2. Shafira Pradita (1606835550)
3. Ranya Jamal Alkatiri (1606907991)
4. Hadi Mulyadi (1706104395)
5. Zumroh Desty (1606907751)
6. Dwira Satria Arby (1606871511)

Program Studi Teknik Kimia (Rabu Sore)


Departemen Teknik Kimia FTUI
Depok - 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas kehendak-Nya
laporan yang berjudul “Spektroskopi Serapan Atom dan Spektroskopi Inframerah” ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan laporan ini bertujuan untuk pembuatan tugas
penulisan laporan pemicu 11 mata kuliah Kimia Analitik. Selain itu, tujuan penulis dalam
penulisan makalah ini adalah untuk memahami aplikasi kimia analitik, khususnya pada
identifikasi limbah dalam wastewater treatment.

Dalam penyelesaian laporan ini, tim penulis mengalami beberapa kesulitan, terutama
disebabkan oleh kurangnya pemahaman lanjut terhadap materi. Namun, berkat bimbingan dari
berbagai pihak, laporan ini dapat terselesaikan walaupun masih banyak kekurangannya. Oleh
karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Dianursanti, S.T., M.T. dan
Cindy Dianita S.T., M.Eng. yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk
membuat laporan, juga memberikan pengarahan dan bimbingannya kepada penulis, dan kepada
semua pihak yang telah membantu,baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak
dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar laporan ini dapat
menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang. Penulis berharap laporan yang
sederhana ini dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai metode dalam menentukan
kandungan zat beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta bermanfaat bagi rekan
mahasiswa dan semua kalangan masyarakat.

Depok, 7 November 2017

Kelompok 9

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2


DAFTAR ISI...................................................................................................................... 3
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... 4

DAFTAR TABEL ............................................................................................................. 4


BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 5
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 5
1.2 Tujuan Pembahasan ...................................................................................................... 5

BAB II SOAL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 7


2.1 Kasus I Tugas I ............................................................................................................. 7
2.2 Kasus I Tugas II ............................................................................................................ 15
2.3 Kasus II Tugas I ............................................................................................................ 18
2.4 Kasus II Tugas II ........................................................................................................... 23

BAB III KESIMPULAN................................................................................................... 27


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 28
LAMPIRAN

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Mekanisme Oksidasi Fenol ............................................................................. 8


Gambar 2. Perbedaan sel galvani dan sel elektrolisis ....................................................... 5
Gambar 3. Rangkaian Alat Titrasi Potensiometri Secara Manual ..................................... 15

Gambar 4. Kalibrasi Elektroda Selektif Ion Tembaga ...................................................... 19


Gambar 6. Penentuan Cu2+ dengan metode adisi standard .............................................. 23

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbedaan Sel Volta dengan Sel Elektrolisis ....................................................... 10


Tabel 2. Hubungan antara ΔGo , K dan Eo sel.................................................................... 11
Tabel 3. Parameter Kimia Tingkat Pencemaran Logam Berat........................................... 14
Tabel 4. Sistem Titrasi Potensiometri Pembentukan Kompleks ........................................ 16

Tabel 5. Hasil Percobaan Penentuan Konsentrasi Adisi Standar ....................................... 23

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia baik itu untuk dikonsumsi
ataupun keperluan lainnya. Meskipun begitu, tak semua air bebas dari kontaminasi
unsur dan tidak berbahaya kandungannya. Penilitian menunjukan bahwa terdapat
kandungan logam Pb (0,005 mg/L) pada air isi ulang untuk konsumsi sehari-hari. Hal
ini tentu melanggar kriteria higienitas yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan.

Tak hanya bagi manusia, air juga berpengaruh terhadap ekosistem lingkungan,
khususnya pada perairan. PCB atau polychlorinated biphenyls sering kali dijumpai
pada kadar tak sedikit dalam ekosistem perairan. PCB ini dapat menyebabkan mati ikan
dalam ekosistem dan sifatnya bioakumulatif sehingga apabila tak sengaja dikonsumsi,
kandungannya dapat terus tertumpuk dalam tubuh dan susah sekali diurai.
Untuk mengetahui kadar limbah dalam suatu larutan, baik itu besar konsentrasi Pb
maupun PCB, dapat digunakan metode analisis spektroskopsi untuk mendapatkan data
kualitatif maupun kuantitatif yang akurat. Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari
materi dan atributnya berdasarkan cahaya, suara atau partikel yang dipancarkan, diserap
atau dipantulkan oleh materi tersebut. Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai
ilmu yang mempelajari interaksi antara cahaya dan materi. Spektroskopi umumnya
digunakan dalam kimia fisik dan kimia analisis untuk mengidentifikasi suatu substansi
melalui spektrum yang dipancarkan atau yang diserap. Alat untuk merekam spektrum
disebut spektrometer. Terdapat berbagai jenis spektroskopi diantaranya yaitu,
spektroskopi AAS dan juga Spektroskopi Inframerah.
AAS merupakan suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan
unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan absorbsi radiasi
oleh atom bebas., Dengan AAS, konsentrasi Pb dalam air minum dapat diketahui
sehingga pencegahan terhadap distribusi air minum yang tidak memenuhi kualifikasi
dapat dilakukan.

Spektroskopi Inframerah (IR) digunakan untuk analisis konsentrasi senyawa organik


sehingga dapat digunakan untuk mengetahui kadar PCB yang ada pada perairan. Jika
radiasi inframerah dikenakan pada sampel senyawa organik, beberapa frekuensi bisa
diserap oleh senyawa tersebut. Jumlah frekuensi yang melewati senyawa diukur
sebagai transmitasi.

1.2 Tujuan Pembahasan


Makalah ini dibuat dengan tujuan umum pembahasan yaitu memahami aplikasi
kimia analitik, khususnya pada metoda identifikasi limbah dan pengolahan limbah.
Adapun tujuan khusus dari makalah ini yaitu:

5
Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)
1. Untuk mengetahui dampak logam berat terhadap kesehatan.
2. Untuk memahami prinsip kerja, instrumentasi, dan pengolahan data pada AAS.
3. Untuk mengetahui keunggulan metode AAS dari segi deteksi, sensitivitas, dan
ketelitian.
4. Untuk memahami penurunan Hukum Lambert-Beer dan pengaplikasiannya
terhadap metode AAS.
5. Untuk mempelajari hubungan antara absorbansi dengan volume dan
konsentrasi termasuk penyimpangan-penyimpangannya.
6. Untuk memahami contoh soal dan menentukan konsentrasi larutan sampel
berdasarkan absorbansi yang diukur pada metode AAS.

Spektroskopi Inframerah
1. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai polychlorinated biphenyls dalam
perairan dan dampaknya kepada lingkungan.
2. Memahami prinsip kerja, instrumentasi, dan poengolahan data pada
spektrosopi inframerah.
3. Untuk mengetahui perbedaan spektroskopi inframerah dan AAS.
4. Untuk analisis kandungan suatu zat menggunakan spektroskopi inframerah.
5. Untuk memahami lebih lanjut mengenai fingerprint area dalam spektrum
inframerah.

6
BAB II
SOAL DAN PEMBAHASAN

2.1 Kasus 1 Tugas 1


2.1.1 Dengan berbekal informasi-informasi yang Anda dapatkan dari
berbagai sumber dapatkah Anda menjelaskan upaya apa yang perlu
dilakukan oleh produsen air minum isi ulang, untuk mendapatkan air
minum dengan kualitas tinggi?

Adapun yang harus diperhatikan oleh produsen air minum isi ulang.
1. Bahan Baku
Air diambil dari sumber yang terjamin kualitasnya
1. Terlindung dari cemaran fisik, kimia dan mikrobiologi
2. Diperiksa secara berkala terhadap: pemeriksaan
fisik/organoleptik, kimia dan mikrobiologi, bahan wadah
foodgrade, inert terhadap bahan pencuci, desinfektan maupun
terhadap produknya.
2. Desain dan Konstruksi Depot
1. Bahan Baku, Mesin dan Peralatan Produksi
2. Proses Produksi
3. Produk Air Minum
4. Pemeliharaan Sarana Produksi dan Program Sanitasi
5. Karyawan
6. Penyimpanan Air Baku dan Penjualan
3. Lokasi Depot Air Minum
Jauh dari sumber pencemaran: debu disekitar Depot,
pembuangan kotoran/sampah, penumpukan barang bekas, comberan
dan selokan, sarang serangga, tikus, dll.
4. Ruang proses produksi
1. Cukup untuk penempatan peralatan proses/ inspeksi dan
pembersihan
2. Lantai/dinding/plafon terang & mudah dibersihkan
3. Pembersihan ruang terjadwal
4. Ruang pengisian khusus, tidak untuk lainnya
5. Pintu bisa tertutup rapat
6. Sanitasi ruang pengisian terjadwal
7. Cukup Penerangan di area proses produksi, pencucian/
pembilasan/ sterilisasi/ pengisian gallon
8. Ventilasi ruang produksi cukup dan terlindung kasa

Water treatment merupakan proses pengolahan air sehingga menjadi


air dengan standar tertentu serta siap untuk diminum dan dikonsumsi.
Proses water treatment ini tergantung pada kondisi air yang akan diloah,
apakah air tersebut merupakan ground water atau surface water.
7
Ground water merupakan air yang berasal dari dalam tanah
sedangkan surface water merupakan air permukaan. Air yang berasal dari
tanah membutuhkan teknik pengelolaan yang lebih sederhana dibanding air
permukaan. Hal ini dikarenakan air dari dalam tanah tidak mengalami
kontak langsung dengan zat-zat yang dapat mencemari air.
Berikut tahap-tahap water treatment:
1. Unit Sadap Air
Unit ini berfungsi sebagai penampung air yang akan diolah. Unit ini
dilengkapi dengan bar screen yang berfungsi untung menyaring benda-
benda yang mungkin ikut bersama air seperti daun, potongan ranting,
dan benda lainnya.
2. Unit Pengolahan
Di dalam unit pengolahan terdapat beberapa tahapan yaitu:
a. Tahap Koagulasi
Tahapan ini bertujuan untuk menghancurkan partikel koloid yang
menyebabkan keruhnya pada air. Tahapan ini bisa dilakukan
menggunakan rapid mixing atau penambahan zat tertentu seperti
koagulan, tawas atau PAC serta penetral pH.
b. Tahap Flokulasi
Tahap Flokulasi adalah tahap penggumpalan partikel yang kecil
menjadi partikel yang berukuran lebih besar. Partikel yang lebih besar
ini diharapkan dapat mengendap dengan sendirinya akibat gaya
gravitasi. Proses flokulasi ini dilakukan dengan
menggunakan slow mixing atau pengadukan lambat yang biasanya
menggunakan Polimer.
c. Tahap Sedimentasi
Pada tahapan ini partikel besar yang merupakan hasil flokulasi
mengendap akibat tarikan gaya gravitasi. Selanjutnya air akan masuk ke
tahap filtrasi atau penyaringan.
d. Tahap Penyaringan
Pada tahap ini air akan disaring dan terkadang diberi perlakuan
tertentu agar sesuai dengan standar yang diinginkan, seperti disaring
memakai saringan pasir lambat, saringan pasir cepat atau zeolit.
Beberapa proses tambahan tersebut antara lain:
1. Ion exchange yang berfungsi menghilangkan zat atau partikel
anorganik yang tidak hilang pada proses sebelumnya.
2. Absorpsi menggunakan karbon filter seperti pasir silika dan
karbon aktif/ cartridge microfilter berupa gulungan serat putih
halus yang terbuat dari bahan polypropylene yang berfungsi
membuang zat pencemar organik. Proses ini dapat menghilangkan
penyebab adanya bau, rasa, warna pada air, sisa klor dan bahan
organik.
3. Desinfeksi (ozonisasi dan atau UV 254 nm) yang berfungsi untuk
mensterilisasi media/tempat filtrasi, air, tabung filter, tangki air

8
dan instalasi lainnya agar terhindar dari kontaminasi serta sinar
ultraviolet untuk membunuh kuman, bakteri atau mikroorganisme
yang terkandung di dalam air.

e. Tahap Penampungan
Tahap ini merupakan tahap akhir proses water treatment. Pada
tahap ini, air ditampung kemudian menggunakan mesin dan alat untuk
memasukan air minum kedalam wadah, kemudian siap diedarkan
untuk dikonsumsi.

Gambar.1. Sistem Pengolahan Air Siap Minum


(Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/Patek/Spah/spah.html)

2.1.2 Apakah Anda setuju bahwa kandungan logam berat dalam air minum
selalu membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia? Bagaimana
Anda menjelaskan bahwa logam berat tersebut terhadap kesehatan
manusia?
Logam berat (heavy metal atau trace metal) merupakan istilah yang
digunakan untuk menamai kelompok metal dan metalloid dengan densitas/
berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Berdasarkan sudut pandang toksikologi,
logam berat dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis pertama adalah logam berat
esensial, di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan
oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat
menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co,
Mn, dan lain sebagainya. Jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau
beracun, di mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui
manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr, As dan
lain-lain.
Logam berat dianggap berbahaya bagi kesehatan bila terakumulasi
secara berlebihan di dalam tubuh. Beberapa di antaranya bersifat
membangkitkan kanker (karsinogen). Demikian pula dengan bahan pangan
dengan kandungan logam berat tinggi dianggap tidak layak konsumsi.
Logam berat dapat menimbulkan efek kesehatan bagi manusia tergantung
pada bagian mana logam berat tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun
yang dimiliki akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses
metabolisme tubuh terputus. Lebih jauh lagi, logam berat ini akan bertindak
sebagai penyebab alergi, mutagen, teratogen atau karsinogen bagi manusia.

9
Jalur masuknya adalah melalui kulit, pernapasan dan pencernaan. Logam
berat jika sudah terserap ke dalam tubuh maka tidak dapat dihancurkan
tetapi akan tetap tinggal di dalamnya hingga nantinya dibuang melalui
proses eksresi. Manusia sebagai mahluk omnivora (pemakan segala), rentan
sekali terkena penyakit yang berasal dari bahan makanan yang tercemar oleh
logam berat. Sumber-sumber kontaminannya yaitu sayur-sayuran maupun
ternak yang terkontaminasi logam berat dari air penyiramnya yang
mengandung logam berat atupun rumput yang dimakan ternak yang
terkontaminasi oleh logam berat dari air yang diserapnya. Logam berat
dapat mengendap dan menumpuk serta terakumulasi di dalam tanah.
Dalam konsentrasi yang tinggi yaitu melebihi dari 5 mg dan masuk
pada organ internal tubuh manusia, Logam berat akan berubah menjadi
racun yang bisa merusak semua organ tubuh dengan cepat termasuk
keracunan yang kemudia secara cepat dapat menimbulkan rusaknya
jaringan penglihatan, pendengaran, ginjal, hati, lambung, sel darah dan
menghancurkan susunan saraf pusat (otak) dan kematian.

Gambar.2. Skema perjalanan logam berat dari sumber sampai ke tubuh manusia
(Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sib3pop/Iptek/LogamBerat/logamberat.htm)

2.1.3 Bila Anda diminta untuk memberikan informasi tentang AAS,


bagaimana Anda menjelaskan prinsip penentuan konsentrasi logam
dengan spektroskopi absorbsi atom?

Spektroskopi Absorbsi Atom


Spektrofotometri serapan atom atau Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang
pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang
tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et. al., 2000). Teknik

10
AAS umumnya digunakan utk analisis logam-logam berat yang berada
dalam sampel. Dasar analisisnya adalah serapan energi cahaya dengan λ
tertentu oleh sejumlah atom netral dalam keadaan dasarnya.
Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung
pada sifat unsurnya. Metode serapan atom hanya bergantung pada
perbandingan dan tidak bergantung pada temperatur. Setiap alat AAS terdiri
atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi, sistem pengukur
fotometerik.

Prinsip penentuan konsentrasi logam dengan spektroskopi absorbsi atom:


1. Proses Emisi
Proses yang terjadi karena atom menerima energi pengeksitasi
dalam bentuk energi panas dinyala, sebagaian dari energi tersebut
digunakan untuk mengeksitasi atom. Dalam eksitasi, atom mengalami
perpindahan ke tingkat yang lebih tinggi lalu pada saat atom tersebut
kembali ke keadaan dasar terjadi pelepasan energi yang berbentuk
gelombang elektromagnetik berupa sinar emisi yang akan dipancarkan ke
segala arah sehingga intensitas sinar yang sampai ke detektor hanya
sebagian kecil.
2. Proses Absorpsi
Proses absorpsi terjadi karena seberkas sinar dengan panjang
gelombang tertentu melewati media pengabsorpsi yang terdiri dari atom.
Atom yang mengabsorpsi energi cahaya tersebut akan mengubah atom
menjadi atom yang tereksitasi, sedangkan energi yang tidak diserap akan
ditransmisikan.
3. Proses Atomisasi
Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS:
1. Atomisasi dengan nyala
Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam
pada suhu ± 1700 ºC atau lebih. Sampel yang berbentuk cairan akan
dilakukan atomisasi dengan cara memasukan cairan tersebut ke dalam
nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu nyala yang diperlukan untuk
atomisasi setiap unsur berbeda.
Beberapa unsur dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang
berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan
memberikan sensitivitas yang berbeda pula. Syarat-syarat gas yang
dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala:
 Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk
atomisasi unsur yang akan dianalisa.
 Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan.
 Gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan.
 Gas cukup murni dan bersih (UHP).

11
2. Atomisasi tanpa nyala
Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada
batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA
– Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda. Sampel
dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Arus listrik dialirkan sehingga
batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan unsur
yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC.
pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu:
 Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut
 Pengabuan (ashing), suhu furnace dinaikkan bertahap sampai
terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada
dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida logam
 Pengatoman (atomization)
3. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida
Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk
unsur As, Se, Sb yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu
lebih dari 800 ºC sehingga atomisasi dilakukan dengan membentuk
senyawa hibrida berbentuk gas atau yang lebih terurai menjadi atom-
atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl 2 atau NaBH4, contohnya
merkuri (Hg).

Alur Spektrometri
Atomic Absorption spectrophotometry adalah metode analisis
dengan prinsip dimana sampel yang berbentuk liquid diubah menjadi bentuk
aerosol atau nebulae lalu bersama campuran gas bahan bakar masuk ke
dalam nyala, disini unsur yang dianalisa tadi menjadi atom – atom dalam
keadaan dasar (ground state). Lalu sinar yang berasal dari lampu katoda
dengan panjang gelombang yang sesuai dengan unsur yang uji, akan
dilewatkan kepada atom dalam nyala api sehingga elektron pada kulit terluar
dari atom naik ke tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi.
Penyerapan yang terjadi berbanding lurus dengan banyaknya atom ground
state yang berada dalam nyala. Sinar yang tidak diserap oleh atom akan
diteruskan dan dipancarkan pada detektor, kemudian diubah menjadi sinyal
yang terukur.

12
Gambar.3. Alur mekanisme kerja Atomic Absorption Spectrofotometry
(Sumber: www.web.nmsu.edu/~kburke/instrumentation/AAS1.html)

2.1.4 Bagaimana Anda menjelaskan keunggulan teknik analisis AAS


bandingkan analisis lain dalam hal limit deteksi, sensitivitas dan
ketelitian?
Kelebihan metoda AAS adalah:

 Spesifik
 Batas (limit) deteksi rendah
 Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat
diukur
 Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh
(preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana, kecuali
bila ada zat pengganggu)
 Selektivitas dan kepekaan tinggi, karena dapat menentukan
unsur dengan kadar ppm hingga ppb.
 Tidak diperlukan pemisahan unsur logam.
 Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak
jenis contoh.
 Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas
(mg/L hingga persen)

Sensitivitas dan batas deteksi merupakan 2 parameter yang sering


digunakan dalam AAS. Sensitivitas didefinisikan sebagai konsentrasi
suatu unsure dalam larutan air (μg/ ml) yang mengabsorpsi 1 % dari
intensitas radiasi yang datang. Sedangkan batasan deteksi adalah
konsentrasi suatu unsure dalam larutan yang memberikan sinyal setara
dengtan 2 kali deviasi standar dari suatu seri pengukuran standar yang
konsentrasinya mendekati blangko atau sinyal latar belakang.

13
Batas deteksi (limit deteksi)
Inductively Coupled Plasma – Mass Spectrophotometer (ICP MS)
menghasilkan batas deteksi terbaik (biasanya 1 – 10 ppt), diikuti oleh
Graphite Furnace Atomic Absorption Spectrometry (GFAAS) kisaran
sub-ppb selanjutnya Inductively Coupled Plasma Atomic Emission
Spectrometry (ICP-AES) dari urutan 1 – 10 ppb dan terakhir Flame
Atomic Absorption Spectrometry (FAAS) dikisaran sub-ppm. Gambar
dibawah menunjukkan rentang batas deteksi untuk masing masing
metode/teknik pengujian.

Gambar.4. Perbandingan batas deteksi


(Sumber: http://www.sampling-analisis.com/2016/09/perbandingan-aas-icp-analisis-
trace-metal.html#.WgHU0mi0PI)

Tabel 1. Perbandingan Limit Deteksi Unsur Atom dengan Berbagai Metode


Unsur AAS flame AAS elektrotermal AES flame AES ICP
Al 30 0,005 5 2
As 100 0,02 0,0005 40
Ca 1 0,02 0,1 0,02
Cd 1 0,0002 800 2
Cr 3 0,02 4 0,3
Cu 2 0002 10 0,1
Fe 5 0,005 30 0,3
Hg 500 0,1 0,0004 1
Mg 0,1 0,00002 5 0,05
Mn 2 0,0002 5 0,06
Mo 30 0,005 100 0,2
Na 2 0,0002 0.1 0,2

14
Ni 5 0,02 20 0,4
Pb 10 0,002 100 2
Sn 20 0,1 300 30
V 20 0,1 10 0,2
Zn 2 0,00005 0,0005 2
(sumber: http://www.sampling-analisis.com/2016/09/perbandingan-aas-icp-analisis-
trace-metal.html#.WgHU0mi0PI)

2.2 Kasus 1 Tugas 2


2.2.1 Bagaimana anda membuat suatu persamaan yang menghubungkan
absorbansi (A) dengan besaran Vs, Vx, Cs, Cx, serta Vt berdasarkan
hukum Lambert-Beer
Hukum Lambert menyatakan ketika suatu cahaya monokromatik
melewati suatu medium transparan, maka intensitas cahaya yang diteruskan
akan berkurang sesuai dengan bertambahnya ketebalan medium yang
dilewati oleh sinar tersebut. Hukum Beer menyatakan intensitas cahaya
yang diteruskan akan berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya
konsentrasi zat yang menyerap cahaya atau sinar tersebut.
Hukum Lambert – Beer digunakan untuk radiasi monokromatik,
dimana absorbansi sebanding dengan tebal medium (b) dan konsentrasi (c)
senyawa yang mengabsorbsi. Hal ini dapat dinyatakan dengan persamaan
sebagai berikut:
A = a.b.c (2.1)
Dimana a adalah factor kesebandingan yang disebut absorptivitas.
Besarnya dan ukuran dari a tergantung pada satuan untuk b dan c. Untuk
larutan dari senyawa yang mengabsorpsi, b sering diberikan dalam
centimetre dan c dalam gram per Liter. Maka absorptivitas dalam satuan
L.g-1.cm-1 (Skoog, DA, 1996).
Ketika persamaan (2.1) dinyatakan dalam mol per liter dan tebal
medium dalam centimeter, absorptivitas disebut molar absorptivitas dan
diberi symbol khusus yaitu ε. Jadi, ketika b adalah centimetre dan c dalam
mol per Liter maka persamaannya adalah sebagai berikut :
A = ε.b.c. (2.2)
Dimana ε dalam satuan L.mol .cm
-1 -1

Dari kedua hukum tersebut diperoleh Hukum Lambert-Beer yang


dapat dinyatakan dengan persamaan berikut
𝐼
𝐴 = −𝑙𝑜𝑔 𝐼0 = 𝜀 𝑏 𝑐 (2.3)
𝑡
Di mana 𝐴 = absorbansi
𝐼0 = intensitas sumber sinar
𝐼𝑡 = intensitas sinar yang diteruskan
𝜀 = absortivitas molar
𝑏 = panjang medium

15
𝑐 = konsentrasi larutan analit yang menyerap sinar

Pada metode adisi standar, sejumlah volume tertentu dari sampel


dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan sampai volume
tertentu kemudian larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah
terlebih dahulu dengan sejumlah larutan standar tertentu dan diencerkan
seperti pada larutan yang pertama. Menurut Hukum Lambert-Beer akan
berlaku persamaan berikut.
𝐴𝑥 = 𝑘 × 𝑐𝑥 atau 𝐴 𝑇 = 𝑘 × (𝑐𝑠 + 𝑐𝑥 ) (2.4)
Di mana 𝑐𝑥 = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
𝐴𝑥 = absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
𝐴 𝑇 = absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua rumus digabung maka akan diperoleh
𝐴𝑥
𝑐𝑥 = 𝑐𝑠 + (𝐴 ) (2.5)
𝑇 − 𝐴𝑥
Konsentrasi zat dalam sampel (𝑐𝑥 ) dapat dihitung dengan mengukur 𝐴𝑥 dan
𝐴 𝑇 dengan spektrometri. Jika dibuat suatu seri penambahan zat standar
dapat pula dibuat grafik antara 𝐴 𝑇 dengan 𝑐𝑠 garis lurus yang diperoleh dari
ekstrapolasi ke 𝐴 𝑇 = 0, sehingga diperoleh:
𝐴𝑥
𝑐𝑥 = 𝑐𝑠 × 𝑥 + ( )
−𝐴𝑥
𝑐𝑥 = 𝑐𝑠 × (−1) 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑐𝑥 = −𝑐𝑠

Jika disubstitusikan ke persamaan Hukum Lambert-Beer, maka akan


didapatkan persamaan umum untuk adisi standar yang menghubungkan Vs,
Vx, Cs, Cx, dan Vt dengan absorbansi sebagai berikut.
𝑣
𝐴 = 𝜀 𝑏 𝑐𝑥 (𝑣𝑥 ) (2.6)
𝑇

2.2.2 Bila intersep pada plot di atas bernilai a sedangkan kemiringan


kurvapada no.1 diatas bernilai b, bagaimana anda mendapatkan
persamaan untuk menentukan konsentrasi sampel
Cx = (a.Cs)/(b.Vs) (2.7)

Nilai a dan b dapat dicari dengan menggunakan cara regresi linear dari
data volume standar dan absorbansi dari larutan yang telah kita dapatkan dari
percobaan. Dari regresi linear tersebut akan didapatkan persamaan garis linear

𝑦 = 𝑚𝑥 + 𝑐 (2.8)

Dimana nilai y merupakan nilai absorbansi, m merupakan gradien dari


kemiringan garis atau dapat juga dianggap sebagai tebal kuvet, dan c adalah
intersept dari y.

16
Berdasarkan jawaban dari nomor sebelumnya, yaitu penggabungan
rumus lambert beer didapatkan persamaan
(𝑎 .𝐶𝑠)
𝐶𝑥 = (𝑏 .𝑉𝑥) (2.9)

Dimana a merupakan intersep dari plot, dan b merupakan kurva


kemiringan. Untuk menggunakan rumus tersebut dapat nantinya dimasukkan
nilai a dan b dari persamaannya.

2.2.3 Bagaimana anda menentukan konsentrasi larutan berdasarkan data


yang anda peroleh di atas?
Tabel 2. Perbandingan Volume Sampel, Standar, dan Nilai Absorbansi
Volume Sampel Pb, Volume standar Pb,
Absorbansi
mL mL
10.0 0.0 0.210
10.0 10.0 0.292
10.0 20.0 0.378
10.0 30.0 0.467
10.0 40.0 0.554
Diketahui :

Vx = 10ml Cs = 12,2ppm
Ditanya : Cx?
Jawab :

As = bVs + a
y =mx +c

Grafik Hubungan antara Vs terhadap As


0.6

0.5
Absorbansi Standar

y = 0.0086x + 0.2076
0.4 R² = 0.9998

0.3

0.2

0.1

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Volume Standar

Gambar.5. Grafik Hubungan antara Vs terhadap As

Dari grafik tersebut diperoleh persamaan garis, yaitu: y =


0,0086x + 0,2076. Maka didapatkan nilai b sebesar 0,0086 dan nilai a
17
sebesar 0,2076. Selanjutnya nilai a dan b tersebut akan digunakan untuk
menghitung konsentrasi Pb dalam sampel.

Cx = (a.Cs)/(b.Vx)
Cx = (0,2076 x 12,2)/(0,0086 x 10)
Cx = 29,45ppm

Jadi, konsentrasi Pb dalam larutan limbah tersebut adalah


sebesar 29,45 ppm.

2.3 Kasus II Tugas 1


2.3.1 Apakah memang polychlorinated biphenyls berbahaya bagi
ikan/makhluk hidup di perairan?
Ya bisa berbahaya bagi ikan maupun makhluk hidup di perairan. Terbukti
dari data penelitian berikut:
Tabel 3. Kadar Keracunan Aroclor 1242, 1248, dan 1254 terhadap Subjek Tes

(Sumber: National Conference on Polychlorinated Biphenyls, November 1975, Chicago)

2.3.2 Bagaimana batas kandungan senyawa tersebut dalam badan air yang
membahayakan kehidupan makhluk hidup?
Batas aman kandungan senyawa polychlorinated biphenyls (PCBs)
dalam air adalah sebesar 0,002 𝜇g/L atau bahkan sekarang 0,001 𝜇g/L
sudah tidak aman. Ketika kandungan PCBs dalam air dibawah batas aman
(< 0,001 𝜇g/L), PCBs bisa termakan oleh ikan dan terakumulasi di dalam
tubuh ikan hingga batas maksimum 5𝜇g/L.

Tidak hanya untuk ikan itu sendiri, PCBs yang terakumulasi sebelum
lethal dosis dan termakan oleh makhluk hidup pada rantai makanan di
atasnya dapat terus terakumulasi sampai kemungkinan besar dikonsumsi
oleh manusia dan bisa menyebabkan kanker, menekan fungsi imun, dan
pada ibu hamil meningkatkan resiko bayi yang lahir mengalami
permasalahan gerak motorik.

18
Gambar.6. Jalur Paparan PCB di Lingkungan

(Sumber: http://www.pcbfreeindonesia.com/dampak-bagi-kesehatan/)

2.3.3 Bagaimana anda menjelaskan pada Budiman mengapa metoda analisis


spektroskopi infra merah dapat digunakan untuk analisis senyawa
polychlorinated biphenyls dalam sampel?
Jawaban:
Metoda spektroskopi inframerah dapat digunakan untuk menganalisis
senyawa polychlorinated biphenyls dalam sampel dengan cara
mengidentifikasi senyawa melalui gugus fungsinya, yaitu pada senyawa
polychlorinated biphenyls gugus fungsinya adalah C=C aromatik dan C-Cl
hal ini diperoleh dari spektrum IR, hasil spektroskopi inframerah. Untuk
mengetahui masing-masing gugus fungsi dari spektrum IR, dapat
diperhatikan puncak-puncak serapan sesuai dengan karakteristik.

2.3.4 Apakah instrumentasi pada spektroskopi infra merah ini berbeda dari
spektroskopi serapan atom yang anda telah ketahui?
Instrumentasi Spektroskopi Inframerah:

• Sumber Radiasi
• Sampel
Berbagai sampel dalam bentuk padatan, cair dan gas dapat
dianalisis dengan infra merah. Sampel harus dalam keadaan
murni, misalnya hasil rekristalisasi, pemisahan kromatografi atau
destilasi.
• Monokromator

19
Monokromator yang berfungsi memberikan resolusi yang
jauh lebih bagus dengan dispersi yang lurus, disamping itu tetap
menjaga keutuhan radiasi IR menuju detektor.
• Detektor
Berfungsi mengubah sinyal radiasi IR menjadi sinyal listrik.
Detektor spekrofotometer yang bersifat menggandakan elektron
tidak dapat dipakai pada spekrofotometer IR sebab radiasi IR
sangat lemah dan tidak dapat melepaskan elekron dari katoda
yang ada pada sistem detektor.
 Penguat dan Pencatat (Rekorder)
Penguat dalam sistem optik spektrofotometer IR sangat diperlukan
mengingat sinyal radiasi IR yang sangat kecil.

Pada instrumentasi spektroskopi AAS

 Lampu Katoda
Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS.
 Burner
Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main
unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas
asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan dapat
terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang
berada pada burner, merupakan lobang pemantik api, dimana
pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.
Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-
beda. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada
tingkat konsentrasi logam yang diukur. Bila warna api merah,
maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. Dan warna api
paling biru, merupakan warna api yang paling baik, dan paling
panas.
 Monokromator
Monokromator yang berfungsi untuk memisahkan radiasi
resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-
radiasi lainnya.
 Detektor
Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan
oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam
bentuk energi listrik.
 Rekorder
Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti
yang dapat menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi.
Maka dari segi instrumentasi perbedaan spektroskopi infra
merah dan AAs adalah sumber radiasi, dan pada AAS
menggunakan burner sedangkan infra merah tidak

20
2.3.5 Bagaimana anda menjelaskan perbedaan spektra IR, dibandingkan
spektra AAS dan mengapa hal itu terjadi?
Data-data yang dikeluarkan oleh AAS dapat berupa absorbansi atau
transmitansi yang langsung dibaca pada spektrofotometer. Namun untuk IR
dan juga AAS, data yang dikeluarkan dapat berupa spektrum jika telah
dihubungkan dengan komputer.
Spektrum yang dikeluarkan oleh AAS berupa pita yang lebar sedangkan
pada pita yang dikeluarkan oleh IR berupa garis atau puncak tajam. Pita
melebar pada AAS disebabkan karena energi yang dimiliki selain
menyebabkan transisi elektronik terjadi pula rotasi dan vibrasi elektron
dalam molekul. Sedangkan pada IR hanya terjadi vibrasi elektron maka
spektrum yang dihasilkan berupa garis atau puncak tajam. Selain pada IR,
spektrum berupa garis dapat terjadi pula pada spektroskopi NMR karena
hanya terjadi rotasi elektron.
Spektrum yang dihasilkan dari setiap spektroskopi berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Spektrum AAS maupun IR dapat dibedakan dengan
mudah. Spektrum yang dihasilkan oleh AAS sangat berbeda bila
dibandingkan dengan spektrum IR. Untuk membedakannya dapat dilihat
pada gambar:

Gambar.7. Spektrum AAS


(Sumber: www.faculty.virginia.edu/analyticalchemistry/AAS%20Lead/AAS%20Lead)

Gambar.8. Spektrum IR

21
(Sumber: www.chemistry.msu.edu/faculty/reusch/virttxtjml/spectrpy/infrared/infrared)

Pita tertinggi mengarah ke bawah sedangkan pada UV pita yang


paling tinggi mengarah ke atas hal ini disebabkan spektrofotometer IR
ditulis dalam bentuk wavenumber.

2.3.6 Gambar berikut ini adalah spektrum IR senyawa benzene, bagaimana


menurut anda spektrum IR untuk polychlorinated biphenyls serta
puncak-puncak serapan mana yang karakteristik?

Gambar.9. Spektrum IR Senyawa Benzena


(Sumber: www.chemistry.msu.edu/faculty/reusch/virttxtjml/spectrpy/infrared/infrared)

 Adanya C=C aromatik diketahui dari adanya serapan pada daerah


1500 cm-1
 Adanya gugus aromatik diperkuat dengan adanya puncak pada
daerah sekitar 3000 cm-1
Dapat disimpulkan bahwa senyawa benzene mempunyai gugus fungsi
alkena dan gugus aromatik (cincin benzene). Untuk Senyawa
Polychlorinated Biphenyls (PCB), maka harus diketahui sruktur senyawa
tersebut.

Gambar.10. Sktruktur senyawa Polychlorinated Biphenyls (PCB)

22
(Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sib3pop/Iptek/PemantauanPOP2014/Pemantauan)

Maka dari itu, pada spektrum IR untuk Senyawa Polychlorinated


Biphenyls (PCB) dapat diketahui puncak-puncak serapan karakteristik dari
masing-masing gugus fungsi

 Adanya C=C aromatik diketahui dari adanya serapan pada daerah


1500 cm-1
 Adanya gugus aromatik diperkuat dengan adanya puncak pada
daerah sekitar 3000 cm-1
 Adanya ikatan C-Cl diketahui dari adanya serapan pada daerah
760-540 cm-1

2.4 Kasus II Tugas II


2.4.1 Apakah kegunaan spektrum sidik jari dalam spektrum IR?
Daerah sidik jari memiliki rentang bilangan gelombang 1700 – 1500
-1
cm . Daerah sidik jari ini digunakan dalam penentuan senyawa karena
tidak ada senyawa yang memiliki daerah sidik jari yang sama. Bila terdapat
sedikit saja perbedaan dalam struktur dan susunan molekul, maka distribusi
puncak absorpsi pun akan berubah. Selain itu, spectrum sidik jari berguna
dalam mendeteksi jenis senyawa yang berbeda berdasarkan pola lembah
yang berbeda di bagian spectrum. Setiap lembah yang dilihat pada grafik
disebabkan oleh energy yang diserap dari frekuensi radiasi infra-merah
digunakan untuk mengaktivasikan ikatan-ikatan dalam molekul kedalam
tingkat getaran yang lebih tinggi (baik pergerakan maupun pembelokan).
Maka daerah sidik jari ini berguna untuk menentukan senyawa apa saja
yang terkandung secara spesifik yang dapat dijadikan suatu identitas yang
khas untuk suatu senyawa didalam sampel.

Gambar.11. Spektrum Infra Merah propan-2-ol

23
(Sumber: https://www.chemguide.co.uk/analysis/ir/fingerprint.html)

2.4.2 Apa rancangan anda bila hendak menganalisis polychlorinated


biphenyls dengan metode spektroskopi inframerah?
 Sampel yang akan dianalisis:
polychlorinated biphenyls
 Analisis yang akan digunakan:
Spektroskopi inframerah
 Mengambil sampel polychlorinated biphenyls
Cara pengambilan sampel jika dalam wujud cair (sesuai pemicu) ,
sampel dapat ditempatkan pada sebuah film tipis diantara 2 lapis NaCl
yang transparan terhadap inframerah. Namun jika spectra dibawah 250
cm-1 maka gunakan CsI untuk sampel dengan menyiapkan tablet sel
AgCl yang dijaga dari radiasi matahari atau dapat menggunakan CaF2

 Mengidentifikasi Gugus-gugus Fungsional


 Metode yang akan dipilih: Spektrofotometri IR (Infra-Red).
Spektrofotometri IR merupakan metode spektrofotometri yang
menggunakan sinar inframerah, di mana sinar IR memiliki frekuensi
yang lebih rendah dibandingkan dengan spektrofotometri UV-Vis atau
AAS. Oleh karena itu, energi yang dihasilkan lebih rendah. Ketika sinar
tersebut diarahkan ke senyawa organik, elektronnya tidak dapat
tereksitasi karena energinya terlalu lemah, sehingga yang terjadi adalah
ikatan-ikatan kovalen senyawanya mengalami vibrasi (stretching atau
bending). Stretching atau bending itu sendiri unik dengan jenis
ikatannya, sehingga spektrogram yang dihasilkan juga unik. Keunikan
tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis ikatan apa saja
yang ada di dalam senyawa organic tersebut.
Senyawa polychlorinated biphenyls dapat dideteksi dengan
menggunakan spektroskopi IR karena senyawa polychlorinated
biphenyls merupakan senyawa organic. Untuk mengidentifikasi gugus-
gugus fungsionalnya dianjurkan menggunakan Fourier Transform Infra
Red (FTIR) karena FTIR memberikan sensitivitas yang tinggi, resolusi,
dan kecepatan akuisisi data yang tepat, karena FTIR tidak memiliki
elemen dispersi dan semua panjang gelombang dapat dideteksi dan
diukur secara simultan. Selain itu pada FTIR spektrum yang keluar lewat
layar komputer akan menunjukan daerah sidik jari dimana di daerah
sidik jari itu menunjukan senyawa yang lebih spesifik dimana mungkin
polychlorinated biphenyls diprediksikan akan muncul pada daerah sidik
jari ini, dibandingkan memggunakan spektrofotometri infra merah jenis
Dispersive yang tidak menunjukan daerah sidik jari.
 Analisis selesai dan kandungan polychlorinated biphenyls diketahui

24
2.4.3 Apa rekomendasi yang akan anda berikan kepada Budiman tentang
masalah polusi air ini? Bila hasil analisis anda dari sampel air sungai
yng diberikan Budiman menunjukkan kadar PCB sebesar 0.01 mg/L?
Apakah air sungai ini layak minum?
a. Sampel yang telah dianalisis :
Air sungai yang mengandung kadar PCB sebesar 0.01 mg/L
b. Rekomendasi untuk Budiman tentang polusi air akibat adanya PCB
diperairan
Berdasarkan hasil analisis sampel PCB yang ada di perairan
dilingkungan Budiman, menyatakan bahwa air tersebut sudah tidak
layak konsumsi jika kandungannya sudah mencapai 0.01 mg/L, Karena
menurut Baku Mutu Air Laut, kadar PCB yang diperbolehkan dalam
perairan untuk kehidupan biota laut dan air layak minum yang
ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup yaitu 10 ppt
(Anonim, 2004). jika dikonversikan, 10 ppt dapat diubah menjadi
0,00001 mg/L atau 0,001 𝜇g/L. Jika berdasarkan WHO, jumlah asupan
PCB harian yang diperbolehkan adalah 6.0 µg/kg per hari. Maka,
berdasarkan dua tetapan tersebut, air dengan kandungan PCB dilokasi
Budiman sudah melewati batas aman konsumsi sehingga air tersebut
tidak layak minum dan berbahaya bagi lingkungan. Rekomendasi yang
dapat diberikan untuk Budiman :
 Budiman tidak mengonsumsi air tersebut. karena air ini
berdampak buruk dengan pengaruh racun ini sangat tinggi
terhadap hampir seluruh sistem tubuh organisme (Terutama
pada hati, karena PCB adalah senyawa yang larut dalam
lemak), terlebih kepada manusia.
 Sebagai orang yang mengetahui hasil analisis PCB ini
Budiman memiliki kewajiban untuk melakukan sosialisasi
kepada warga setempat tentang pencemaran air sungai ini
sehingga warga tidak terkena dampaknya
 Terdapat satu metode yang dapat dilakukan oleh Budiman
untuk menanggulangi polusi air akibat kandungan PCB ini
yaitu dengan degradasi PCB. Degradasi dilakukan dengan
deklorinasi PCB atau mengurangi kandungan klorida dalam
senyawa PCB. Kecepatan biodegradasi menurun seiring
bertambahnya jumlah ion klorida dalam suatu senyawa.
Deklorinasi PCB dapat dilakukan dengan bantuan bakteri
seperti Phanerochaete chrysosporium, Nocardia, Alkaligenes,
Acinetobacter. Prinsip deklorinasi reduktif ini yaitu
mengubah Cl menjadi H. Hasil akhir dari proses ini adalah
CBAs. Selanjutnya dilakukan pemutusan struktur cincin C
dan mineralisasi lanjut dengan menggunakan bakteri
Burkholderia cepacia LB400, Pseudomonas

25
pseudoalaciniges KF707 sehingga sangat menurunkan
toksisitas. Hasil akhirnya yaitu mengubah CBAs menjadi
CO2.

26
BAB III
KESIMPULAN

1. Spektroskopi merupakan suatu metode analisis konsentrasi suatu zat dengan


prinsip identifikasi dengan spektrum cahaya. AAS dan Spektroskopi Inframerah
merupakan salah satu jenis metode spektroskopi
2. Untuk mengetahui dampak logam berat terhadap kesehatan.
7. Untuk memahami prinsip kerja, instrumentasi, dan pengolahan data pada AAS.
8. Untuk mengetahui keunggulan metode AAS dari segi deteksi, sensitivitas, dan
ketelitian.
9. Untuk memahami penurunan Hukum Lambert-Beer dan pengaplikasiannya
terhadap metode AAS.
10. Untuk mempelajari hubungan antara absorbansi dengan volume dan
konsentrasi termasuk penyimpangan-penyimpangannya.
11. Untuk memahami contoh soal dan menentukan konsentrasi larutan sampel
berdasarkan absorbansi yang diukur pada metode AAS.
Spektroskopi Inframerah
6. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai polychlorinated biphenyls dalam
perairan dan dampaknya kepada lingkungan.
7. Memahami prinsip kerja, instrumentasi, dan poengolahan data pada
spektrosopi inframerah.
8. Untuk mengetahui perbedaan spektroskopi inframerah dan AAS.
9. Untuk analisis kandungan suatu zat menggunakan spektroskopi inframerah
10. Untuk memahami lebih lanjut mengenai fingerprint area dalam spektrum
inframerah.

27
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: ANDI
Day R.A. dan A.L. Underwood.2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta :
Erlangga
D.A. Skoog, et.al. 1998. Fundamentals of Analytical Chemistry, 5th Edition.
Saunders College Publishing.
Fessenden, Ralp J; Fessenden, Joan, S.1994. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Pembina Mata Kuliah. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Analisis
Spektrometri.Palu : Untad Press
R.A.Day, Jr/A.L. Underwood. 1980. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta :
Erlangga
National Conference On Polychlorinated Biphenyls. (1976). [ebook] Washington
DC. Available at:
https://books.googleusercontent.com/books/content?req=AKW5QadIyKJUzIg_xv
4kgYIKuZi8XSrcLqLeMaqi3THOjk-
9psBvzZHQ8d7GCwmlTcn47n_xGPbeK5OW3zOIx-
FpqzZjd7C130TyOhjiOqBDQC4I2kU1koLiCoYaG9ZJ9rKMXaZ3PUwWlgq_dq
mx8PxyG60C7KZKzYWO6-
k2l1Nqsra_rW63Pu9CyO6EvfP9LgyBVEsP37gu4ac3n9AtdvpM8-
m2596WOvPTZ0zeKGvLOk9eqnTWqyoS3oK_ynFqhWtC4EOptSltlKlTZpG4H
kimzR7_ZdWqKJuzrF7KByqFVyqC9SgrdH8 [Accessed 4 Nov. 2017].
Sudrajat, Hakim. Bahaya PCB di Lingkungan. 2006. Available at:
http://www.pcbfreeindonesia.com/dampak-bagi-kesehatan/) [Accessed 6 Nov.
2017]
Polychlorinated Biphenyls (PCBs)2014: What Standards and Regulations Exist
for PCB Exposure? | ATSDR - Environmental Medicine & Environmental Health
Education - CSEM. 2017. Polychlorinated Biphenyls (PCBs)2014: What
Standards and Regulations Exist for PCB Exposure? | ATSDR - Environmental
Medicine & Environmental Health Education - CSEM. [ONLINE] Available at:
https://www.atsdr.cdc.gov/csem/csem.asp?csem=30&po=8. [Accessed 07
November 2017].
infra-red spectra - the fingerprint region. 2017. infra-red spectra - the fingerprint
region. [ONLINE] Available at:
https://www.chemguide.co.uk/analysis/ir/fingerprint.html. [Accessed 07
November 2017].
analytical chemistry - Why is the segment of the IR spectrum below 1500
wavenumbers called the fingerprint region? - Chemistry Stack Exchange. 2017.
analytical chemistry - Why is the segment of the IR spectrum below 1500
wavenumbers called the fingerprint region? - Chemistry Stack Exchange.
[ONLINE] Available at:
https://chemistry.stackexchange.com/questions/60019/why-is-the-segment-of-the-
ir-spectrum-below-1500-wavenumbers-called-the-fingerpr. [Accessed 07
November 2017].

28
HiQ. 2017. Infrared spectroscopy | HiQ. [ONLINE] Available at: http://hiq.linde-
gas.com/en/analytical_methods/infrared_spectroscopy/infrared_spectroscopy.html
. [Accessed 07 November 2017].

29