Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

STRUKTUR MAKRO BAB “FUNGI”

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Biologi

Dosen Pengampu:
Dr. Bambang Supriatno, M.Si

HAFIDZ FADILLOH

NIM. 1802705

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2018
STRUKTUR MAKRO PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

FUNGI

1. Fungi merupakan heterotrof yang memperoleh makanan melalui absorpsi

1.1 Fungi mengabsorpsi nutrisi dari lingkungan dengan menyekresikan enzim-enzim


hidrolitik ke sekitarnya

1.2 Beberapa jenis fungi menggunakan enzim khusus untuk menembus dinding sel
tumbuhan untuk menyerap nutrisi

1.3 Kemampuan absorpsi fungi memungkinkan fungi bersifat decomposer, parasit maupun
mutualis

2. Struktur tubuh fungi merupakan faktor penunjang penting efisiensi absorpsi nutrisi

2.1 Struktur tubuh umum dari fungi berbentuk filamen multiseluler dan sel tunggal (khamir)

2.2 Beberapa spesies dapat tumbuh sebagai filamen maupun khamir pada fase hidupnya

2.3 Morfologi fungi multiseluler medukung aktivitas hidupnya dengan tumbuh ke dalam
jaringan sel tumbuhan untuk mengabsorpsi makanan

2.3.1 Morfologi fungi multiseluler berupa hifa (filamen)

2.3.2 Hifa terdiri dari dinding sel berbentuk tabung yang mengelilingi membran plasma
dan sitoplasma yang diperkuat olek kitin

2.3.2 Hifa membentuk jalinan yang disebut miselium yang akan menembus zat tempat
fungi mencari makanan

2.3.4 Hifa memiliki dua karakteristik morfologi, yakni bersepta dan koenositik (tidak
bersepta)
2.4 Beberapa fungi memiliki hifa terspesialisasi yang disebut haustoria, hifa ini digunakan
untuk mengekstraksi atau bertukar nutrisi dengan inangnya

2.4.1 Bentuk Hifa terspesialisasi mutualistik dengan tumbuhan dikenal sebagai Mikoriza

2.4.2 Mikoriza membantu meningkatkan penyerapan ion fosfat dan mineral lain ke
jaringan tumbuhan dengan kompensasi tumbuhan menyediakan karbohidrat.

2.4.3 Hifa Arthhrobotrys (fungi tanah) termodifikasi sebagai lingkaran yang mengikat
nematoda untuk dimangsa

2.5 Fungi menghasilkan spora melalui siklus hidup seksual dan aseksual

2.5.1 Reproduksi seksual dimulai dengan pelepasan feromon oleh dua miselium yang
berbeda tip kemudian hifa menjulur untuk berdifusi

2.5.1.1 Penyatuan dua miselium (plasmogami) yang mengandung dua nukleus yang
berbeda secara genetis disebut heterokarion

2.5.1.2 Beberapa spesies dapat bertukar nukleus bahkan kromosom dengan proses
yang mirip pindah silang

2.5.1.3 Pada beberapa spesies, dua nukleus haploid yang berpasangan (dikariotik)
membelah tanpa berfusi dengan tetap mempertahankan kedua nukleus haploid

2.5.1.4 Dua nukleus yang akan berdifusi memiliki rentang waktu yang berbeda antar
spesies, dimulai dari hitungan jam, hari, bahkan berabad-abad lamanya untuk berdifusi

2.5.1.5 Nukleus yang berfusi pada tahap kariogami menghasilkan sel diploid, zigot dan
struktur lainnya terbentuk hingga akhir meiosis menghasilkan spora haploid
2.5 Fungi menghasilkan spora melalui siklus hidup seksual dan aseksual

2.5.1 Reproduksi seksual dimulai dengan pelepasan feromon oleh dua miselium yang
berbeda tip kemudian hifa menjulur untuk berdifusi

2.5.1.1 Penyatuan dua miselium (plasmogami) yang mengandung dua nukleus yang
berbeda secara genetis disebut heterokarion

2.5.1.2 Beberapa spesies dapat bertukar nukleus bahkan kromosom dengan proses
yang mirip pindah silang

2.5.1.3 Pada beberapa spesies, dua nukleus haploid yang berpasangan (dikariotik)
membelah tanpa berfusi dengan tetap mempertahankan kedua nukleus haploid

2.5.1.4 Dua nukleus yang akan berdifusi memiliki rentang waktu yang berbeda antar
spesies, dimulai dari hitungan jam, hari, bahkan berabad-abad lamanya untuk

2.5.1.5 Nukleus yang berfusi pada tahap kariogami menghasilkan sel diploid, zigot
dan struktur lainnya terbentuk hingga akhir meiosis menghasilkan spora haploid

2.5.2 Reproduksi seksual pada fungi beraneka ragam dan ada sekitar 20.000 spesies
hanya bereproduksi secara aseksual

2.5.2.1 Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara menumbuhkan filamen yang


menghasilkan spora haploid, spesies-spesies ini dikenal sebagai kapang (mold)

2.5.2.2 Banyak spesies fungi kemudian akan bereproduksi secara seksual apabila
kebetulan bertemu anggota spesiesnya dari tipe perkawinan yang berbeda

2.5.2.3 Reproduksi aseksual juga dapat terjadi dengan cara melalui pembelahan sel
biasa (pada khamir) atau pelepasan sel-sel tunas

2.5.3 Khamir dan fungi berfilamen yang tidak diketahui tahapan seksual hidupnya
dikelompokkan ke dalam deuteromycetes
3. Nenek moyang fungi adalah protista aquatik berflagela dan bersel tunggal

3.1 DNA sekuens tiga kelompok eukariota yakni fungi, hewan dan kerabat protistanya
membentuk klad bernama ophisthokonta (flagel pada posterior)

3.2 Nucleariid, amoeba pemangsa alga dan bakteri memiliki DNA sekuens yang lebih
dekat dengan fungi mengindikasikan nenek moyang fungi bersifat uniseluler

3.3 Komponen molekuler hewan berkerabat dekat dengan kelompok Protista menunjukkan
bahwa multiseluleritas pasti telah berevolusi pada hewan dan fungi

3.4 Pada tahun 2006, DNA sekuens mikrosporodia diindikasikan sebagai garis keturunan
fungi yang berdivergensi

3.5 Fosil tumbuhan vascular terawal dari periode Silur (420 juta tahun lalu) menunjukkan
bukti hubungan mikorizal

4. Fungi telah beradiasi menjadi sejumlah garis keturunan yang beraneka ragam

4.1 Fungi yang diklasifikasikan dalam filum Chytridiomycota disebut Kitrid

4.1.1 Dari 1.000 spesies, sebagian kitrid hidup sebagai dekomposer sementara yang
lainnya sebagai parasit pada protista, fungi lain, tumbuhan dan hewan

4.1.2 Kitrid merupakan salah satu kelompok fungi yang paling awal berdivergensi dan
berkerabat lebih dekat dengan zigomisetes

4.1.3 Memiliki keunikan yakni spora memiliki flagel (zoospora)

4.2 Fungi yang diklasifikasikan dalam filum Zygomycota disebut Zigomisetes

4.2.1 Spesies yang sudah diketahui berjumlah sekitar 1.000 spesies

4.2.2 Hidup sebagai parasit, simbion komensal pada hewan dan menyebabkan
pembusukan pada makanan seperti roti, persik dan ubi jalar
4.2.3 Rhizopus stolonifer adalah salah satu contoh zigomisetes yang berkembang biak
secara aseksual dan seksual

4.2.3.1 Reproduksi aseksual juga dapat terjadi dengan cara melalui pembelahan sel
biasa (pada khamir) atau pelepasan sel-sel tunas

4.2.3.2 Hifanya menyebar ke seluruh permukaan makanan untuk mendapatkan


nutrisi, koenositik dengan septa hanya pada bagian reproduktif

4.2.3.3 Sporangium berwarna hitam yang berisi spora haploid akan menggelembung
dan berkembang di ujung sampai siap untuk dilepaskan

4.2.3.4 Spora yang jatuh pada makanan lembab akan segera bergerminasi

4.2.3.5 Pada kondisi buruk hifa akan bereproduksi secara seksual dengan
menghasilkan zigosporangium (tempat terjadinya kariogami dan meiosis)

4.2.3.6 Zingosporangium merupakan struktur multinukleat, heterokariotik dengan


banyak nukleus haploid dan diploid setelah kariogami

4.3 Fungi yang diklasifikasikan ke dalam filum Glomeromycota disebut Glomerisetes

4.3.1 Hampir semua glomeromisetes membentuk mikozia arbuskular, yaitu mikoriza


bercabang-cabang yang menggembung ke dalam sel tumbuhan

4.3.2 Sekitar 90% dari semua tumbuhan berhubungan mutual dengan glomeromisetes

4.4 Fungi yang diklasifikasikan ke dalam Filum Ascomycota disebut Askomisetes

4.4.1 Memiliki ciri spesifik yaitu spora seksual di dalam struktur seperti kantung
(Ascus)

4.4.4 Beberapa membentuk mikoriza dengan tumbuhan dan hidup diantara sel-sel
mesofil menghasilkan senyawa beracun yang melindungi daun dari serangga.

4.4.5 Askomisetes dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual


4.4.5.1 Neurospora crassa bereproduksi secara aseksual dengan menghasilkan
konidium (jamak: conidia) yang dihasilkan di ujung hifa terspesialisasi yang
disebut konidiofor

4.2.3.2 Konidium dapat bergerminasi menjadi hifa baru dan mengulang siklus
aseksual bergerminasi

4.2.3.3 Konidium dapat terlibat reproduksi seksual, berfusi dengan hifa dari tipe
perkawinan yang berbeda dan diikuti dengan plasmogami membentuk hifa
dikariotik

4.2.3.5 Kariogami terjadi di dalam setiap askus, menghasilkan satu nukleus diploid
yang kemudian membelah secara meiosis menjadi 4 nukleus haploid

4.2.3.6 Nukleus membelah sekali lagi secara mitosis menghasilkan delapan


askopora (pembelahan diikuti dengan pembentukan dinding sel)

4.2.3.7 Askospora didorong dengan kencang hingga terlepas dari askus melalui
celah askokarp, kemudian tumbuh menjadi miselium baru

4.2.3.7 Penelitian tahun 2003 memetakan 10.000 genom Neurospora,


keseluruhannya berukuran ¾ genom Drosophila dan ½ genom manusia

4.5 Fungi yang diklasifikasikan ke dalam filum Basidiomycota disebut Basidiomisetes

4.5.1 Memiliki basidium (latin: landasan) yaitu tempat terjadinya kariogami yang diikuti
oleh meiosis

4.4.2 Disebut juga sebagai fungi gada karena bentuk basidium seperti ujung tongkat golf

4.4.3 Merupakan dekomposer terbaik karena mampu menguraikan polimer kompleks


lignin, yang melimpah pada kayu
5. Fungi memainkan berbagai peran penting dalam daur-ulang nutrien, interaksi ekologis, dan
kesejahteraan manusia

5.1 Fungi teradaptasi dengan baik sebagai dekomposer material organik, termasuk selulosa
dan lignin dari dinding sel tumbuhan

5.2 Fungi dapat membentuk hubungan mutualistik dengan tumbuhan, alga, sianobakteria,
dan hewan

5.2.1 Selain mikoriza, fungi dapat bersimbiosis secara endofit di dalam jaringan
tumbuhan tanpa menimbulkan kerugian

5.2.2 Keuntungan yang diberikan berupa toksin yang dapat mengusir herbivora atau
meningkatkan toleransi tumbuhan inang terhadap panas, kekeringan, atau logam berat

5.2.3 Beberapa fungi hidup dalam perut sapi dan mamalia pemamah biak membantu
menguraikan material tumbuhan

5.2.4 Semut diketahui juga memanfaatkan fungi digestif daun di sarangnya, dan
kemudian memakan ujung hifa yang kaya akan protein dan karbohidrat

5.2.5 Hubungan mutualistik lainnya berupa liken, dengan komponen fungi yang utama
berupa askomisetes, beberapa liken basidiomisetes dan satu glomeromisetes dengan
alga dan sianobakteri

5.2.6 Sekitar 30% dari 100.000 fungi hidup sebagai patogen, baik bagi tumbuhan,
hewan maupun manusia

5.2.7 Infeksi fungi pada hewan manusia dan hewan dikenal dengan istilah mikosis

5.2.6 Fungi juga memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, termasuk
penggunannya dalam beberapa produk makanan seperti keju, kola dan lain-lain

5.2.7 Banyak fungi juga memiliki nilai medis dengan mengambil hasil ekstraksinya