Anda di halaman 1dari 7

Unnes J Life Sci 1 (2) (2012)

Unnes Journal of Life Science


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/UnnesJLifeSci

Studi Awal Populasi dan Distribusi Macaca fascicularis Raffles di Cagar Alam
Ulolanang

Khasan Fakhri, Bambang Priyono, Margareta Rahayuningsih

Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Pembukaan ladang di sekitar Cagar Alam (CA) Uloalanang Kecubung telah
Diterima September 2012 mempengaruhi populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821)
Disetujui Oktober 2012 yang hidup di dalamnya. Monyet ekor panjang dianggap sebagai hama karena
Dipublikasikan November sering menyerang ladang, hal tersebut meningkatkan aktivitas perburuan monyet
2012 ekor panjang yang dikhawatirkan menyebabkan menurunnya populasi monyet
ekor panjang di CA Ulolanang Kecubung di masa mendatang. Tujuan penelitian
ini mengetahui ukuran populasi dan distribusi monyet ekor panjang di CA
Kata kunci Ulolanang Kecubung sebagai langkah awal upaya pelestarian monyet ekor
CA Ulolanang Kecubung panjang di CA Ulolanang kecubung. Penelitian ini menggunakan metode garis
Distribusi transek. Penentuan garis transek mengikuti jalur yang ada yaitu jalur sekat bakar.
Monyet ekor panjang Lebar areal pengamatan 50 meter ke kanan dan 25 meter ke kiri menyesuaikan
Populasi kondisi lapangan serta panjang 3 km. Hasil pengamatan diperoleh populasi
monyet ekor panjang berisar antara 30 sampai 36 ekor dengan kerapatan populasi
0,47 ekor/ha (0 sampai 1 ekor/ha) dan mengelompok di daerah pal 31 dan 51
karena berdekatan dengan sungai (riparian) dan sumber makanan (ladang).

Abstract
The opening of the fields around the Uloalanang Kecubung Nature Reserve has
affected populations of long-tailed macaque (Macaca fascicularis Raffles, 1821)
live in it. Long-tailed monkeys are seen as pests as they often attack the field, so
that hunting activity increases the fear causes decreased long-tailed macaque
population in Uloalanang Kecubung Nature Reserve in the future. The purpose
of this study was the determination of the population size and distribution of
long-tailed macaque in Uloalanang Kecubung Nature Reserve conservation as a
first step in the long-tailed macaque Uloalanang Kecubung Nature Reserve. This
study used the transect line. Determination of the transect line to follow the path
that is the path firebreaks. The width of the observation area of 50 meters to 25
meters to the right and left to adjust the condition of the field, and a length of 3
km. Observations obtained berisar long-tailed monkey population between 30 to
36 tail with a population density of 0.47 fish / ha (0 to 1 fish / ha) and clustered
in the pal 31 and 51 because adjacent to the river (riparian) and food sources
(fields).

© 2012 Universitas Negeri Semarang


 Alamat korespondensi :
Gedung D6 Lt.1 Jl Raya Sekaran GunungPati Semarang Indonesia ISSN 2252-6277
50229
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)
Pendahuluan sering diburu oleh manusia. Hal ini
Cagar Alam (CA) Ulolanang Kecubung dikhawatirkan mengakibatkan punahnya
adalah salah satu cagar alam yang ada di Jawa monyet ekor panjang di CA Ulolanang
Tengah. Menurut Undang-Undang No 5 Tahun Kecubung pada waktu yang akan datang.
1990 cagar alam merupakan kawasan suaka Kegiatan monitoring populasi monyet
alam yang mempunyai kekhasan tumbuhan, ekor panjang diperlukan untuk menjaga
satwa, dan ekosistem karena kondisi alamnya, kelestarian agar diketahui keadaan populasinya
atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi (jumlah, persebaran dan parameter populasi
dan perkembangannya berlangsung secara lainya) di CA Ulolanang Kecubung. Menurut
alami. CA Ulolanang Kecubung terletak di Primack et al (1998) monitoring merupakan
Desa Gondang Kecamatan Subah Kabupaten bagian penting dalam pelestarian atau
Batang ditetapkan berdasarkan Keputusan pengembangan terpadu, terutama perlindungan
Menteri Kehutanan dalam Surat Keputusan No. keanekaragaman hayati berjangka panjang.
SK 106 / Menhut-II / 2004 tanggal 14 April Tanpa upaya monitoring tersebut sulit untuk
2004 dengan luas 69,70 Ha (BKSDA 2009). membedakan fluktuasi tahunan yang normal
Ciri khas CA Ulolanang Kecubung dengan pola jangka panjang. Penelitian ini
adalah keseimbangan ekosistem masih terjaga merupakan langkah awal upaya monitoring
dan terdapat tumbuhan khas yakni pelalar monyet ekor panjang di CA Ulolanang
(Dipterocarpus gracilis) yang hanya ada di CA Kecubung yang nantinya dapat dijadikan
Ulolanang Kecubung, selain itu terdapat pembanding pada penelitian selanjutnya.
berbagai fauna salah satunya monyet ekor
Metode Penelitian
panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821).
Metode yang digunakan yaitu metode
Monyet ekor panjang Di CA Ulolanang
garis transek. Garis transek merupakan suatu
Kecubung sering kali dijumpai mencuri dan
petak contoh, penentuan garis transek
merusak tanaman di ladang sekitar CA
mengikuti jalur yang telah ada yaitu jalur sekat
Ulolanang Kecubung sehingga warga sering
bakar dengan lebar 25 m ke kiri dan 50 m ke
berjaga di ladang sepanjang hari. Selain itu adar
kanan dari sumbu utama menyesuaikan
yang menangkapnya untuk di pelihara di rumah
keadaan di lokasi penelitian serta panjang jalur
atau dijumpai juga monyet ekor panjang yang
3 km (Gambar 1). Sepanjang sumbu utama
ditembak. Menurut Kemp & Burnet (2003)
transek terdapat tapal (pal) batas tanah yang
keberadaan monyet ekor panjang dianggap
digunakan sebagai acuan penentuan lokasi
hama karena mereka sering mengganggu ladang
perjumpaan monyet ekor panjang selama
penduduk.
pengamatan.
Ukuran kelompok monyet ekor panjang
Peralatan yang digunakan dalam
sekitar 10-20 ekor di habitat alaminya
penelitian ini diantaranya adalah peta, kompas
(Soehartono & Mardiastuti 2003). Menurut
bidik, meteran gulung, binocular, hand counter,
Fadilah (2003) ukuran kelompok monyet ekor
thermometer, hygrometer, tally Sheet.
panjang bervariasi menurut kondisi habitatnya,
Pengamatan dilakukan dengan menyusuri
di hutan primer yang tidak mendapat pengaruh
transek mulai dari jam 08.30 sampai 14.00
tangan manusia ±10 ekor, di hutan mangrove
setiap dua hari sekali selama kurang lebih dua
±15 ekor dan di daerah terganggu seperti hutan
minggu. Pada selang waktu pukul 08.30 sampai
wisata dapat mencapai ukuran kelompok lebih
14.00 monyet ekor panjang biasanya telah
dari 40 ekor karena jumlah ketersediaan
selesai makan dan sedang menuju tempat
makanan yang melimpah.
peristirahatan siang di tepian sungai prigi,
Monyet ekor panjang merupakan sehingga diharapkan terjadi perjumpaan
frugivorus, namun jika ketersediaan buah monyet ekor panjang sedang berpindah tempat
rendah atau bahkan tidak tersedia monyet ekor menuju sungai prigi dengan melintasi garis
panjang dapat memakan jenis makanan lain transek atau bahkan sedang beristirahat. Data
yang tersedia di habitat tempat tinggalnya yang dikumpulkan dari pengamatan meliputi
seperti daun muda, tunas, serangga (bersifat data primer yaitu jumlah individu, posisi, jarak,
opportunistic omnivore). Berdasarkan sifat kelas umur, aktivitas saat penjumpaan, dan jenis
tersebut di habitat yang berdekatan dengan kelamin. Serta data sekunder meliputi jenis
ladang seperti di CA Ulolanang Kecubung vegetasi, suhu dan kelembaban udara.
monyet ekor panjang sering mencuri dan
merusak ladang sehingga dianggap hama dan
120
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)

Gambar 1. Jalur transek penelitian


Analisis data penentuan populasi Kecubung lebih sedikit yaitu 33 ekor. Faktor
menggunakan perhitungan menurut Fadillah yang mempengaruhi sedikitnya jumlah monyet
(2003), dan Penentuan tipe distribusi dilakukan ekor panjang di CA Ulolanang Kecubung
dengan membandingkan nilai varian dengan kemungkinan karena (1) distribusi kelas umur
rata-rata populasi. Hasil perhitungan kemudian yang di dominasi kelas umur prereproduktif, (2)
dikaitkan dengan data sekunder dan dibahas seks rasio yang seimbang, dan (3) faktor
secara deskriptif berdasarkan studi pustaka. makanan.
Hasil dan Pembahasan Monyet ekor panjang hidup
Populasi monyet ekor panjang mengelompok terdiri dari banyak jantan dan
berdasarkan hasil pengamatan dengan metode banyak betina (multi-male multi-female) dengan
transek diperoleh jumlah monyet ekor panjang sistem perkawinan tidak pilih-pilih. Jantan
di CA Ulolanang Kecubung 33 ekor dengan biasanya kawin dengan lebih dari satu betina
kerapatan populasi rendah yaitu 0,47 ekor/ha (0 dan sebaliknya (Karimullah 2011). Tatanan
sampai 1 ekor/ha) (Tabel 1) sosial dalam kelompok monyet ekor panjang
Nilai perbandingan jantan dan betina
(seks rasio) adalah 1:2 terdiri dari 4 jantan dan 8
betina. Distribusi kelas umur monyet ekor
panjang di CA Ulolanang Kecubung didominasi
kelompok usia muda yaitu 58 ekor (77%),
sedangkan kelompok usia tua ada 12 ekor
(16%), dan dan kelompok usia bayi 5 ekor (7%)
(Gambar 2).
Jumlah individu monyet ekor panjang
di CA Pananjung Pangandaran dan di Taman
Wisata Alam Kaliurang berturut-turut adalah
158 ekor dan 141 ekor (Djuwantoko et al. 2008, Gambar 2 Persentase kelas umur monyet ekor
Widiastuti et al. 2010). Jika dibandingkan panjang (bulan Mei – juni 2011)
dengan dua tempat tersebut jumlah populasi
monyet ekor panjang di CA Ulolanang

121
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)

tersusun secara hierarki dengan tingkatan menyebutkan bahwa seks rasio satu kelompok
tertinggi yaitu betina dominan (Alpha female) monyet ekor panjang di habitat alami adalah
untuk monyet ekor panjang betina dan jantan 1:2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa
dominan (Alpha male) untuk monyet ekor nilai seks rasio yaitu 1:2. Nilai seks rasio
panjang jantan yang sekaligus sebagai tersebut menunjukkan perbandingan jantan dan
pemimpin kelompok (Fuentes & Dolhinow betina yang seimbang dengan kemungkinan
1999). satu jantan hanya dapat mengawini dua betina.
Data distribusi kelas umur Nilai seks rasio yang seimbang mengakibatkan
menunjukkan bahwa jumlah individu fase angka kelahiran kecil sehingga repoduksi tidak
reproduktif (dewasa 12 ekor) lebih sedikit terjadi secara optimal. Nilai seks rasio yang
dibanding individu fase prereproduktif (muda tidak seimbang biasanya ditandai dengan
dan bayi total 63 ekor) sehingga individu yang tingginya perbedaan jumlah jantan dan betina
dapat melakukan reproduksi hanya sedikit. sehingga memungkinkan pejantan mengawini
Pada saat pengamatan monyet ekor panjang di banyak. Menurut santoso (1996) nilai seks rasio
CA Ulolanang Kecubung diduga telah selesai 1:17 dapat menghasilkan keturunan monyet
bereproduksi karena selama pengamatan ekor panjang secara optimal. Nilai seks rasio
dijumpai anakan yang masih kecil. Monyet ekor yang tidak seimbang biasanya terjadi di
panjang betina dominan mengalami berbagai penangkaran monyet ekor panjang dan
kematangan seksual ketika berumur 4 tahun, di habitat terganggu.
dan mulai bereproduksi sebelum usia 5,5 tahun Kelimpahan jumlah makanan sangat
sedangkan yang bukan dominan akan berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan proses
bereproduksi setelah berumur 5,5 tahun. reproduksi monyet ekor panjang. Ketika jumlah
Monyet ekor panjang jantan mengalami makanan melimpah maka kelahiran terjadi
kematangan seksual pada umur 7 tahun (Lang lebih cepat dan lebih sering (Lang 2006).
2006). Apabila jumlah pakan melimpah maka jumlah
Proses perkawinan monyet ekor asupan gizi yang masuk lebih banyak sehingga
panjang dapat terjadi sepanjang tahun (bukan kondisi kesehatannya lebih baik, siklus estrus
musiman), namun tidak dapat dilakukan setiap berjalan lancar, laju kelahiran berjalan lancar
hari karena siklus estrusnya 28 hari, dengan sehingga menghasilkan anakan yang sehat.
lama fase estrus 11 hari serta ovulasi terjadi Biasanya primata mempunyai prilaku\ makan
pada hari ke-13 (Santosa 1996). Proses yang bcrdasarkan hirarki. lndividu yang paling
perkawinan hanya dapat terjadi setelah fase berpengaruh (dominan) makan lebih dahulu,
estrus berakhir. Normalnya monyet ekor kcmudian yang lain mengikuti sesuai dengan
panjang betina dewasa dapat melahirkan setiap hirarkinya (Iskandar & Santosa 1992).
2 tahun sekali dengan satu anakan/kelahiran, Jenis pakan monyet ekor panjang
masa kehamilan 167 hari dan masa laktasi 18 adalah 70,01% buah-buahan, dan untuk jenis
bulan. Lambatnya laju pertumbuahan populasi pakan yang lainnya 6,06% (Romauli 1993,
dan sedikitnya proporsi usia reproduktif diacu dalam Santosa 1996). Vegetasi yang
menyebabkan rendahnya populasi monyet ekor tumbuh di CA Ulolanang Kecubung
panjang di CA Ulolanang kecubung. kebanyakan adalah tanaman penghasil kayu
Ada kemungkinan akan terjadi seperti jati (Tectona grandis), pelalar (
peningkatan populasi monyet ekor panjang di Dipterocarpus gracillis ), pasang (Quercus
CA Ulolanang Kecubung di masa mendatang sundaica), bendo (Swetenia mahagoni), dan
karena tingginya jumlah individu muda. mahoni (Swetenia mahagoni), selain itu
Struktur umur monyet ekor panjang di CA terdapat pula rotan, aren, dan bambu. Jenis
Ulolanang Kecubung termasuk struktur umur vegetasi yang berpotensi sebagai pakan monyet
meningkat. Menurut Dharmawan et al (2005) ekor panjang antara lain pelalar, pasang,
struktur umur meningkat adalah struktur umur bendo, mahoni, dan bambu.
pada populasi dengan kerapatan kelompok Santoso (1996) menyebutkan bahwa
umur muda paling besar, populasi dengan hanya bagian tertentu saja yang dimakan
struktur umur demikian akan mengalami monyet ekor panjang seperti daun muda, buah,
pertumbuhan populasi yang cepat pada periode bunga, dan tunas sehingga tidak dapat
mendatang. menyediakan makanan sepanjang tahun
Napier & Napier dalam Mulyati (2008) (musiman). Variasi jenis tumbuhan yang
dimakan mengikuti musim yang terjadi di
122
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)

habitat tempat tinggal monyet ekor panjang, Culion, Jolo, Leyte, Luzon, Mindanao,
jika pada bulan tertentu ketersediaan suatu jenis Mindoro, Palawan, dan Samar), Singapura,
makanan tidak ada maka akan beralih ke jenis Thailand (meliputi pulau-pulau terluar), Timor-
makanan lain yang ketersediaanya melimpah Leste dan Vietnam. Monyet ekor panjang dapat
(Fuentes & Dolhinow 1999). dijumpai di habitat tropis karena suhunya yang
Distribusi monyet ekor panjang hangat (24o sampai 36oC) dan iklim yang
mengelompok di CA Ulolanang Kecubung lembab dengan curah hujan berkisar antara 140
pada daerah Pal 31 dan 51 (Gambar 3). sampai 300 mm/tahun serta dapat hidup pada
Pengelompokan monyet ekor panjang di CA ketinggian 0 sampai 2000 mdpl (Lang 2006).
Ulolanang Kecubung dipengaruhi oleh Suhu lingkungan optimum monyet ekor
beberapa faktor (1) suhu, (2) air, (3) makanan panjang yaitu berkisar 24 - 36oC. Diluar rentang
dan (4) predator. suhu tersebut monyet ekor panjang tidak dapat
bertahan hidup. Suhu lingkungan daerah pal 31
Menurut Eudey (2008) persebaran
dan 51 hangat (30oC) berada dalam rentang
monyet ekor panjang terdiri dari Bangladesh,
suhu optimum lingkungan monyet ekor panjang
Brunei, Kamboja, India ( P.Nicobar),
sehingga tempat ini sangat disukai dan ideal
Indonesia, Laos, Malaysia (Sabah dan
bagi kehidupan monyet ekor panjang (Tabel 3).
Sarawak), Myanmar (kepulauan Mergui),
Filippina (Balabec, Basilan, Cagayan Sulu, Daerah pal 31 dan 51 merupakan

Gambar 3 Distribusi monyet ekor panjang di CA Ulolanang Kecubung

123
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)

daerah tepian sungai (riparian) yang disukai grandis), Pelalar (Dipterocarpus gracillis),
banyak spesies satwa liar termasuk monyet ekor Bendo ( Arthrocarpus elastica), Pasang
panjang karena berdekatan dengan sumber air. (Quercus sundaica), dan Jrakah (Ficus superba).
Air merupakan faktor paling penting bagi Selain berpotensi sebagai sumber pakan,
semua makhluk hidup. Sebagian besar tubuh vegetasi di pal 31 dan 51 memiliki banyak
makhluk hidup tersusun atas air, hampir di percabangan sehingga berpotensi sebagai
semua bagian tubuh terkandung air. Fungsi air tempat peristirahatan dan memudahkan untuk
dalam tubuh yakni sebagai pelarut yang berpindah tempat (beredar).
memungkinkan terjadinya berbagai reaksi Berkumpulnya individu-individu pada
metabolisme. Setiap hari monyet ekor panjang suatu tempat tidak selalu berarti tempat tersebut
menghabiskan air 1 liter tiap ekornya memiliki kondisi lingkungan yang optimal serta
(Haerunisa 2010). jumlah makanan melimpah, tetapi juga dapat
Menurut Alikodra (2010) ada beberapa disebabkan tidak ada predator dan pesaing.
alasan mengapa daerah riparian memegang Predator alami monyet ekor panjang di CA
peranan penting bagi satwa liar termasuk Ulolanang Kecubung adalah ular sanca (Phyton
monyet ekor panjang; (1) tersedianya air sebagai sp) dan macan tutul (Panthera pardus) yang
komponen habitat sangat penting, (2) cukup terdapat di sekitar daerah pal 68 - 92. Daerah
banyak air yang tersedia bagi tumbuhan akan lainnya yaitu daerah pal 1 - 30 terdapat pesaing
meningkatkan keanekaragaman tumbuhan babi hutan sehingga monyet ekor panjang
sehingga menghasilkan tempat hidup yang baik tidak dijumpai pada daerah ini. Jika terdapat
bagi satwa liar terrmasuk monyet ekor panjang, ancaman predator mononyet ekor panjang akan
(3) daerah riparian dapat menghasilkan iklim emberikan tanda kepada monyet ekor panjang
mikro yang lebih baik bagi satwa liar monyet lainnya dengan mengeluarkan suara kasar khas
ekor panjang, (4) dapat menjadi koridor jalur monyet ekor panjang.
migrasi, (5) daerah riparian merupakan Monyet ekor panjang dalam
penghubung berbagai kondisi habitat yang berkomunikasi memiliki berbagai jenis suara
menghasilkan daerah pertemuan antar habitat panggilan yang digunakan untuk berbagai
yang disukai satwa liar monyet ekor panjang. situasi yang berbeda. Ada dua jenis suara
Ketersedian makanan sering menjadi panggilan yakni panggilan kasar (harsh call) dan
penyebab berkumpulnya individu-individu pada panggilan bersih/halus (clear call), contoh harsh
suatu tempat. Menurut Fuentes et al (2007) call yaitu kra call, dinamakan kra call sesuai
monyet ekor panjang dapat beradaptasi pada dengan bunyi panggilannya. Panggilan ini
berbagai macam kondisi terutama pada habitat dilakukan oleh semua jenis umur monyet ekor
yang mendapat pengaruh dari kegiatan panjang baik tua maupun muda, jantan atau
manusia. Lokasi pal 31 dan 51 berdekatan betina dan bertujuan untuk memberi
dengan sumber makanan yaitu areal tanda/alarm jika ada predator yang datang atau
persawahan dan ladang penduduk yang jika mereka merasa terancam. Clear call
memungkinkan monyet ekor panjang biasanya digunakan untuk interaksi dalam
mendapatkan makanan dengan mudah dan kelompok dan untuk menghindari serangan
melimpah. Menurut Lang (2006) monyet ekor antar individual dan biasanya dilakukan ketika
panjang lebih menyukai hutan sekunder, terjadi interaksi antara betina bukan dominan
terutama yang berbatasan dengan pemukiman dengan betina dominan maupun bayi dengan
manusia, sehingga memiliki akses ke ladang dan induknya (Lang 2006).
peternakan penduduk untuk makan. Di daerah
Simpulan
lainnya seperti daerah pal 1-30, berubah fungsi
Populasi monyet ekor panjang Di CA
menjadi Hutan Alam Sekunder (HAS) yang
Ulolanang Kecubung cukup rendah yaitu 33
pengelolaannya hampir mirip dengan cagar
ekor dengan kisaran populasi 30 – 36 ekor dan
alam.
kerapatan populasi 0,47 ekor/ha (0-1 ekor/ha).
Sumber pakan selain ladang berasal dari Rendahnya jumlah monyet ekor panjang
vegetasi CA Ulolanang Kecubung. Jenis dipengaruhi oleh distribusi kelas umur yang
vegetasi yang berpotensi sebagai pakan antara didominasi kelas umur prereproduktif, seks
lain, di daerah pal 31 terdiri dari bambu rasio yang seimbang dan sumber makanan.
(Bambusa sp), jati (Tectona grandis), dan pisang Distribusi monyet ekor panjang di CA
(Musa sp) sisa tanaman ladang penduduk. Di Ulolanang Kecubung secara mengelompok di
daerah pal 51 vegetasinya meliputi Jati (Tectona
124
K Fakhri dkk. / Unnes Journal of Life Science 1 (2) (2012)

sekitar pal 31 dan 51. Media Konservasi 4 (I): 47-53.


Karimullah. 2011. Social Organization and mating
Ucapan Terima Kasih system of Macaca fascicularis (long tailed
Terima kasih kepada Sarto dan Yatin macaques). International Journal of Biology
selaku tim Resort Ulolanang Kecubung Kab. 3 (2):23-31.
Batang yang telah memandu selama penelitian. Kemp N J & Burnett JB. 2003. Kera Ekor Panjang
(Macaca fascicularis) di Pulau Nugini :
Daftar Pustaka Penilaian dan Penatalaksanaan Resiko
Alikodra HS. 2010. Teknik Pengelolaan Satwaliar terhadap Keanekaragaman Hayati.
Dalam Rangka Mempertahankan Terjemahan Ninil RM, dkk. (Laporan
Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bogor : Akhir). Washington DC : Indo-Pacific
IPB Press. Conservation Alliance.
Dharmawan A, Ibrohim, Taurita H,Suswono H & Lang KC. 2006. Primate Factsheets: Long-tailed
Susanto P. 2005. Ekologi Hewan. Malang: Macaque (Macaca fascicularis) Behavior.
Penerbit Universitas Negeri Malang. On line at
Djuwantoko, Utami RN Wiyono. 2008. Perilaku http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/entr
agresif monyet, Macaca fascicularis y/long-tailed_macaque/behav [diakses
(Raffles, 1821) terhadap wisatawan di hutan tanggal 22 juli 2010].
wisata alam kaliurang, Yogyakarta. Mulyati L. 2008. Prilaku Seksual Monyet Ekor
Biodiversitas 9 (4):301-305. Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi
Eudey AA. 2008. The Crab-eating Macaque (Macaca Perkemahan Pramuka Cibubur Jakarta
fascicularis):Widespread and Rapidly (Skripsi). Bogor : Fakultas Matematika dan
Declining. Primate Conservation Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian
(23):129–132. Bogor.
Fadilah A. 2003. Evaluasi Habitat dan Populasi Santosa Y. 1996. Beberapa parameter bio-ekolgi
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis penting dalam pengusahaan monyet ekor
Raffles, 1821) Di Penangkaran Semi Alami panjang (Macaca fascicularis). Media
Pulau Tinjil Kabupaten Pandeglang Provinsi konservasi 5 (1):25-29.
Banten (Skripsi). Bogor: Fakultas Santoso N. 1996. Analisis habitat dan potensi pakan
Kehutanan Institut Pertanian Bogor. monyet ekor panjang (Macaca fascicularis,
Fuentes A & Dolhinow P. 1999. The Nonhuman Raffles) di pulau Tinjil. Media konservasi 5
Primates. London : Mayfield publishing (1):5-9.
company. Soehartono T & Mardiastuti A. 2003. Pelaksanaan
Fuentes A, Rompis ALT, Putra IGAA, Watiniasih Konvensi CITES Di Indonesia. Jakarta :
NL, Suartha IN, Soma IG, Wandia IN, JICA.
Putra IDKH & Stephenson R. 2007. The Primack RB, Supriatna J, Indrawan M &
Macaca fascicularis at Padangtegal, Bali, Kramadibrata P. 1998. Biologi Konservasi.
Indonesia (Laporan Akhir). Bali : Pusat Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Kajian Primata Universitas Udayana.
Widiastuty H, Riana D, Larasati P, & Putri IA. 2010.
Haerunisa R. 2010. Perilaku, Wilayah Jelajah, Status Populasi Monyet Ekor Panjang Di
Jelajah Harian, Relung Ekologi dan Teritori Cagar Alam Pananjung Pangandaran Jawa
monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Barat. (Laporan Akhir). Bogor : Jurusan
On line at Biologi FMIPA IPB
http://www.rizkyhaerunisa08'sblog@world
press.com [diakses tanggal 11 april 2011]. [BKSDA] Balai Konservasi Sumber Daya
Alam.2009. Cagar Alam dan Suaka
Iskandar E & Santosa Y. 1992. Habituasi Monyet Margasatwa. Semarang : BKSDA Jateng.
Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles)
Terhadap Kandanc Penangkapan Berbentuk
Labirin Di Lokasi Penangkaran Pulau
Tinjil Kabupaten Pandeglang Jawa Barat.

125