Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu daerah tidak selalu tetap untuk waktu yang lama. Diawali dengan
tumbuhan daerah itu segera dihuni oleh beragam spesies tumbuhan atau hewan.
Organisme ini mengubah habitat yang membuatnya sesuai bagi spesies lain. Masa
pendewasaan perkembangan suatu daerah seringkali mencapai suatu keadaan relatif
stabil yang dinamakan sebagai tahapan klimaks. Selama masa perkembangan ini,
penghunian suatu daerah baru, pertama-tama ditumbuhi oleh tumbuhan yang
melandasi jalan bagi hewan-hewan untuk tinggal di dalamnya disebut suksesi
(Michael, 1995).
Perkembangan ekosistem atau suksesi ekosistem adalah perubahan-perubahan
struktur dan proses komunitas sejalan dengan waktu. Suksesi pada prinsipnya
bersifat direksional apabila tidak dipengaruhi oleh kekuatan dari luar. Hal ini akibat
dari perubahan lingkungan fisik oleh komunitas. Komposisi spesies dalam komunitas
ekologis bervariasi sepanjang waktu dimana komposisi pada beberapa spesies
menurun sedangkan yang lain meningkat. Suksesi menyebabkan terjadinya
perubahan pada struktur suatu ekosistem, apapun jenis ekosistem tersebut (Abdul
Kadir, 2001).
Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas
atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem
yang disebut klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah
mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat
mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (response) yang
terkoordinasi dari komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan
yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu
komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi
lagi,meskipun perubahan-perubahan internal yang diperlukan untukmempertahankan
kehadiran komunitas berlangsung secara sinambung (Sutomo, 2009).

Berdasarkan uraian diatas maka perlu kiranya di lakukan praktikum suksesi untuk
mengetahui jenis-jenis suksesi, vegetasi yang dapat tumbuh dan faktor apa saja yang

1
mempengaruhi suksesi serta untuk mengetahui bagaimana pergeseran vegetasi pada
suatu daerah itu dapat berlangsung.
1.2 Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran vegetasi pada suatu daerah
suksesi serta laju penutupan jenis vegetasi sampai mencapai maksimal.
Percobaan ini di harapkan dapat memberikan pengetahuan dasar tentang aspek-
aspek suksesi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Suksesi


Suksesi adalah suatu proses perubahan yang berlagsung satu arah secara teratur
yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk
komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan perkataan lain,
suksesi dapat di artikan sebagai perkembangan ekosistem yang awalnya tidak
seimbang menuju ke ekosistem simbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi
lingkunga fisik dalam komunitas atau ekosistem (Arianto, 2008).
Penegrtian lain dari suksesi adalah konsep yang mendasar yang merujuk pada
perubahan-perubahan berangkai dalam struktur dan komposisi suatu komunitas yang
dapat diramalkan. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbentuknya formasi baru suatu
habitat yang sebelumnya tidak dihuni oleh mahluk hidup ataupun oleh adanya
gangguan terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran,
badai, maupun penebangan hutan. Kasus yang pertama sering disebut juga sebagai
suksesi primer, sedangkan kasus kedua disebut sebagai suksesi sekunder. Dengan
demikian suksesi adalah suatu proses perubahan komponen-komponen spesies suatu
komunitas selama selang waktu tertentu. (Sutomo, 2009).
Seorang ahli biologi menyatakan bahwa suksesi adalah perubahan yang terjadi
pada suatu ekosistem yang berlangsung bertahap- tahap dalam waktu yang lama.
Namun yang dianut oleh ahli- ahli ekologi sekarang adalah pandangan yang
mengatakan bahwa suatu komunitas adalah suatu gabungan dari beberapa organisme.
Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan, karena melalui proses
kehidupan yang saling berinteraksi. Lingkungan disekitarnya sangat penting karena
mempengaruhi kehidupan organisme yang hidup didalam lingkungan tersebut
(Irwan, 2002).
Namun demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup
hilangnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural
sebagai akibat dari degradasi setempat. Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi
3
misalnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat
dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (Wirakusumah, 2003).

2.2 Konsep Dasar Suksesi


Seluruh alam semesta merupakan sutu ekosistem yang tersususn oleh berbagai
komponen atau kesatuan. Dalam suatu ekosistem satu atau sekelompok komponen
dan dapat berdiri sendiri terlepas dari kelompok kesatuan lain. Dalam hal ini
kesatuan kelompok pertama merupakan satua kelompok kedua. Kesatuan kelompok
kedua akan menyususn kesatuan komponen ke tiga, demikian seterusnya. Atas dasar
pemikiran itu miller menyususn konsep model atau ekosistem alam semesta (Arianto,
2008).
Menurut Arianto, (2008) Secara ringkas ruang lingkup ekologi dapat di
gambarkan melalui spektrum biologi. Yang menggambarkan aras aras organisasi
kehidupan sebagai berikut :
Makromolekul protoplasma sel jaringan oragan
tubuh sistem organ organisme populasi
komunitas
Ekosistem Biosfer
1. Protoplasma adalah zat hidup dalam sel dan yterdiri atas senyawa organik yang
ompleks seperti lemak, protein, dan karbohidrat.
2. Sel adalah satuan dasar organisme yang terdiri atas protoplasma dan inti yang
terkandung didalam membran.
3. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuik dan fungsi yang sama,
misalnya jaringan otot.
4. Organ adalah alat tubuh yang merupakan bagian dari suatu organisme yang
mempunyai fungsi tertentu. Misalnya kaki atau telinga pada hewan da, dan adaun
atau akar pada tumbuhan.
5. Sistem organ adalah kerja kerja sma antara struktur dan fungsi yang harmonis,
sepertio kerja sama antara mata dan telinga, antara mata dan tangan, antara tangan
dan hidung.
6. Organisme adalah suatu benda hidup, jasad hidup, atau makhluk hidup.

4
7. Populasi adalah kelompok organisme yang sejenis yang hidup dan beranak pada
suatu daerah tertentu. Contohnya populasi rusa di daerah jawa.
8. Komunitas adalah semua populasi dari berbagai jenis organisme yang menepati
suatu daerah tertentu.di derah tersebut setiap populasi berinteraksi satu dengan
yang lain.
9. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur
lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan hibungan
timbal balik yang kompleks antara makhluk hidup dengan lingkungannya, baik
yang hidup maupun yang tak hidup secara bersamaan membentuk suatu sistem
ekologi
10. Biosfer adalah lapisan bumi tempat ekosistem beroprasi. Lapisan biosfer kira-
kira 9000 m di atas permukaan bumi, beberapa meter di bawah permukaan tanah,
dan beberapa ribu meter di bawah permukaan laut
Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam
interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa.
Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai
suksesi ekologis atau suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi
lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan
sebuah komunitas atauekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang
(homeostatis).
2.3 Jenis Suksesi
Menururt Odum (1992), berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat
dibedakan dua macam suksesi yaitu :
1. Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang
mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru.
Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia.
Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan
endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan manusia dapat
berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi).
Suksesi primer ini diawali tumbuhnya tumbuhan pionir, biasanya berupa lumut
kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan menjadi tanah sederhana. Lumut

5
kerak yang mati akan diuraikan oleh pengurai menjadi zat anorganik. Zat anorganik
ini memperkaya nutrien pada tanah sederhana sehingga terbentuk tanah yang lebih
kompleks. Benih yang jatuh pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu.
akan tumbuh rumput, semak, perdu, dan pepohonan. Bersamaan dengan itu pula
hewan mulai memasuki komunitas yang haru terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena
suksesi komunitas tumbuhan biasanya selalu diikuti dengan suksesi komunitas
hewan. Secara langsung atautidak langsung. Hal ini karena sumber makanan hewan
berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada suatu wilayah komunitas
tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan jenis tumbuhan yang ada.
Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan
terhadap perubahan (bersifat homeostatis).Salah satu contoh suksesi primer yaitu
peristiwa meletusnya gunung Krakatau. Setelah letusan itu, bagian pulau yang tersisa
tertutup oleh batu apung dan abu sampai kedalaman rata – rata 30 m.
2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak
bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat
kehidupan/substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari
tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.
Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari
peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angina
topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan
kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya
adalah pembukaan areal hutan.
Menurut Odum (1992), adapun tahapan-tahapan suksesi sekunder yaitu:
a. Fase Permulaan
Setelah penggundulan hutan, dengan sendirinya hampir tidak ada biomasa yang
tersisa yang mampu beregenerasi. Tetapi, tumbuhan herba dan semak-semak muncul
dengan cepat dan menempati tanah yang gundul.
b. Fase Awal/Muda
Kurang dari satu tahun, tumbuhan herba dan semak-semak digantikan oleh jenis-
jenis pohon pionir awal yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pertumbuhan
tinggi yang cepat, kerapatan kayu yang rendah, pertumbuhan cabang sedikit, daun-

6
daun berukuran besar yang sederhana, relatif muda/cepat mulai berbunga,
memproduksi banyak benih-benih dorman ukuran kecil yang disebarkan oleh
burung-burung, tikus atau angin, masa hidup yang pendek (7- 25 tahun),
berkecambah pada intensitas cahaya tinggi, dan daerah penyebaran yang luas.
Kebutuhan cahaya yang tinggi menyebabkan bahwa tingkat kematian pohon-pohon
pionir awal pada fase ini sangat tinggi, dan pohon-pohon tumbuh dengan umur yang
kurang lebih sama. Walaupun tegakan yang tumbuh didominasi oleh jenis-jenis
pionir, namun pada tegakan tersebut juga dijumpai beberapa jenis pohon dari fase
yang berikutnya, yang akan tetapi segera digantikan/ditutupi oleh pionir-pionir awal
yang cepat tumbuh.
c. Fase Dewasa
Setelah pohon-pohon pionir awal mencapai tinggi maksimumnya, mereka akan
mati satu per satu dan secara berangsur-angsur digantikan oleh pionir-pionir akhir
yang juga akan membentuk lapisan pohon yang homogen. Secara garis besar,
karakteristik-karakteristik pionir-pionir akhir yang relatif beragam dapat dirangkum
sebagai berikut: Walaupun sewaktu muda mereka sangat menyerupai pionir-pionir
awal, pionir-pionir akhir lebih tinggi, hidup lebih lama (50-100 tahun), dan sering
mempunyai kayu yang lebih padat.
Pionir-pionir akhir menggugurkan daun dan memiliki biji/benih yang disebarkan
oleh angin, yang seringkali dorman di tanah dalam periode waktu yang sangat lama.
Mereka bahkan dapat berkecambah pada tanah yang sangat miskin unsur hara bila
terdapat intensitas cahaya yang cukup tinggi. Jenis-jenis pionir akhir yang termasuk
kedalam genus yang sama biasanya dijumpai tersebar didalam sebuah daerah
geografis yang luas. Dalam akhir fase, akumulasi biomasa berangsur-angsur
mengecil secara kontinyu. Dalam hutan-hutan yang lebih tua, biimasa yang
diproduksi hanya 1- 4.5 t/ha/tahun. Setelah 50-80 tahun, produksi primer bersih
mendekati nol. Sejalan dengan akumulasi biomasa yang semakin lambat, efisiensi
penggunaan unsur-unsur hara akan meningkat, karena sebagian besar dari unsur-
unsur hara tersebut sekarang diserap dan digunakan kembali. Sebagai hasil dari
keadaan tersebut dan karena adanya peningkatan unsur hara-unsur hara yang non-
fungsional pada lapisan organik dan horizon tanah bagian atas, maka konsentrasi
unsur-unsur hara pada biomasa.

7
2.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Suksesi
Faktor yang mempengaruhi proses suksesi, yaitu :
1. Luasnya habitat asal yang mengalami kerusakan.
2. Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem yang terganggu.
3. Kecepatan pemancaran biji atau benih dalam ekosistem tersebut.
4. Iklim terutama arah dan kecepatan angin yang membawa biji, spora, dan benih
lain serta curah hujan yang sangat berpengaruh daam proses perkecambahan.
5. Jenis substrat baru yang terbentuk.
2.5 Analisis Vegetasi Tingkat Perkembangan Ekosistem
Menurut Agus Sugiyanto, (1994) berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif
komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu:
1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan
membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu
pengamatan berbeda
2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal
3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu
atau beberapa faktor lingkungan.
Gambaran tentang suatu vegetasi dapat dilihat dari keadaan unit penyusun
vegetasi yang di cuplik. Berbagai karakter tumbuhan dapat di ukur, biasanya
parameter vegetasi yang umum diukur adalah densitas (kerapatan), dominansi, dan
frekuensi (kekerapan), Indeks Nilai Penting (INP). Densitas, dominan, frekuensi, dan
INP dapat di peroleh dengan berbagai cara metode sampling. Parameter vegetasi
tersebut dapat diukur secara kuantitatif sebagai berikut :
1. Densitas seluruh spesies
Densitas seluruh spesies = Jumlah cacah individu seluruh spesies / Luas daerah
cuplikan.
2. Densitas spesies A
Densitas spesies A = Jumlah cacah individu spesies A / Luas area cuplikan.
3. Luas area cuplikan
Luas area cuplikan = Jumlah plot x Luas plot
4. Densitas relatif spesies A
Densitas relatif spesies A = Total cacah individu spesies A / Total cacah individu
seluruh spesies x 100%.

8
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum suksesi ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian,
Universitas Hasanuddin Makassar, pada hari Minggu, 16 September 2018 yang
dimulai dari pukul 16:00 – 18:00 WITA.
3.2 Alat dan Bahan
Alat – alat yang digunakan pada pelaksanaan praktikum suksesi yaitu meteran,
cangkul, parang, korek api, alat hitung dan alat tulis menulis.
Bahan – bahan yang digunakan dalam melaksanakan praktikum suksesi ini
yaitu tali raffia, 9 buah patok, label dan pasir.
3.3 Metode Praktikum/Prosedur
Metode kerja /prosedur kerja dalam praktikum kali ini :
1. Buatlah plot sebanyak 4 dengan ukuran 1 m x 1 m (plot 0, tanpa pengrusakan
tanah, plot 1 pengrusakan tanah dengan dicagkul, plot 2 pengrusakan dengan
pasir, plot 3 pengrusakan dengan pembakaran lahan)
2. Amati dan catat vegetasi yang ada.
3. Berikan perlakuan pada setip plot sesuai dengan metode (penyiramaan air pada
setiap plot).
4. Penyiraman dilakukan 4 kali dalam seminggu untuk membantu pertumbuhan
vegetasi pada setiap plot.
5. Pengamatan dilakukan setelah 7 hari, dan selanjutnya 2 minggu sekali.
6. Amati dan catat jumlah dan jenis vegetasi yang tumbuh (bedakan yang berdaun
sempit dan berdaun lebar).
3.4 Parameter Pengamatan
1. Dominasi jenis

9
Dominasi mutlak sering diartikan sebagai cover spesies tertentu pada suatu daerah
dari total cover tumbuhan. Dominasi mutlak diperoleh dengan rumus yaitu jumlah
tusukan yang mengenai spesies A dibagi dengan jumlah total tusukan 4.

1. Dominasi Relatif
Sering disinonimkan dengan cover relative yaitu dominasi spesies tertentu dalam
bentuk persentase pada suatu vegetasi dari total cover tumbuhan. Dominasi
relative diperoleh dengan rumus yaitu jumlah dominasi mutlak spesies A dibagi
jumlah keseluruhan DM 5.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil yaitu
sebagai berikut :
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Vegetasi Sesuai Perlakuan
Vegetasi Pengamatan Vegetasi
Daun Daun Rata-
Perlakuan Total
Leba Sempi 1 2 3 4 5 6 Rata
r t
P0 (Tanpa 13
50 139 4 8 6 6 34 189 79,8
Perlakuan) 1
P1 23 290,
63 422 4 79 46 46 77 485
(Pengrusakan) 3 8
P2 16
62 143 3 4 12 12 8 205 66,6
(Penutupan pasir) 6
P3
14 70 0 2 2 0 3 77 84 19,8
(Pembakaran)
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018
Grafik Populasi
140
Tingkat Perumbuhan ( Jumlah)

120
100
80
60
40
20
0
1 2 3 4 5 6
Waktu ( Pekan)
Grafi
k 1. Pertumbuhan Vegetasi Pada P0 ( Plot Tanpa Pengrusakan Tanah)

11
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

250
Tingkat Pertumbuhan (Jumlah)

200

150

100

50

0
1 2 3 4 5 6
Waktu ( Pekan)

Grafik 2. Pertumbuhan Vegetasi Pada P1 ( Plot Dengan Pengrusakan Tanah)


Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

180
160
Tingkat Perumbuhan ( Jumlah)

140
120
100
80
60
40
20
0
1 2 3 4 5 6
Waktu ( Pekan)

Grafik 3. Pertumbuhan Vegetasi Pada P2 ( Plot Dengan Penutupan Dengan Pasir)


Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

12
90
Tingkat Pertumbuhan (Jumlah) 80
70
60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6
Waktu ( Pekan)

Grafik 4. Pertumbuhan Vegetasi Pada P3 (Plot Dengan Pembakaran)


Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

250
Tingkat Pertumbuhan (Jumlah)

200

150

100

50

0
1 2 3 4 5 6
Waktu (Pekan)

Grafik 5. Perbandingan Pertumbuhan Vegetasi Pada P0, P1, P2 dan P3


Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

13
Tabel 1.2 Parameter Pengamatan
DR KR FR
Pengamatan Perlakuan DJ KJ FJ
(%) (%) (%)
P0 0 0 0 0 0 0
Sebelum P1 0 0 0 0 0 0
Perlakuan P2 0 0 0 0 0 0
P3 0 0 0 0 0 0
P0 4 36,36 1 36,36 1 133,3
P1 4 36,36 1 36,36 1 133,3
Pengamatan 1
P2 3 27,27 0,75 27,27 0,75 27,7
P3 0 0 0 0 0 0
P0 8 8,69 2 8,69 0,33 17,2
P1 79 85,6 19,75 85,6 1,45 75,9
Pengamatan 2
P2 4 0,04 1 0,04 0,04 2,09
P3 1 1,08 0,25 1,08 0,09 4,71
P0 6 9,09 15 9,09 0,24 11,9
P1 46 69,6 11,5 69,6 1,2 59,7
Pengamatan 3
P2 12 1,81 3 1,81 0,49 24,3
P3 2 3,03 0,5 3,03 0,08 3,98
P0 6 9,37 1,5 9,37 0,24 1,21
P1 49 71,8 11,5 71,8 1,22 61,6
Pengamatan 4
P2 12 18,7 3 18,7 0,52 26,2
P3 0 0 0 0 0 0
P0 34 27,9 8,5 27,9 0,49 25
P1 77 63,2 19,2 63,2 1,32 67,3
Pengamatan 5
P2 8 6,56 2 6,56 0,11 5,6
P3 3 2,46 0,75 2,46 0,04 2,04
P0 131 151,6 32,7 151,6 0,24 8,75
P1 233 38,3 58,2 38,3 0,69 25,1
Pengamatan 6
P2 166 27,37 41,5 27,37 0,29 10,5
P3 77 12,6 19,25 12,6 1,52 55,4
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2018

4.2 Pembahasan
Dari praktikum di lapangan dapat kita lihat bahwa pada pengamatan
menunjukkan jumlah tumbuhan yang cenderung bertambah disetiap pengamatan
yang terjadi pada tiap-tiap plot. Pada plot yang tanpa pengrusakan (P0) jumlah
vegetasi baik yang berdaun sempit ataupun berdaun lebar berturut-turut dari
pengamatan pertama sampai keenam yaitu sebanyak 4, 8, 6, 6, 34 dan 131 individu,
sehingga didapat hasil terakhir yaitu sebanyak 189 individu. Selanjutnya plot dengan
perlakuan berupa pengrusakan tanah (P1) berturut – turut sebanyak 4, 79, 46, 46, 77

14
dan 233 individu, dan didapat hasil akhir yaitu sebanyak 485 individu. Kemudian
plot dengan perlakuan berupa penutupan dengan pasir (P2) berturut-turut sebanyak 3,
4, 12, 12, 8, 166 dan 205 individu. dan terakhir yaitu plot dengan perlakuan
pembakaran lahan (P3) berturut-turut sebanyak 0, 2, 2, 0, 3 dan 77 individu.
Adapun pada setiap plot pada setiap pengamatan yang mengalami penurunan
jumlah individu. Penurunan individu ini, kami memiliki 3 hipotesis yaitu ulah
manusia karena pada lahan kami merupakan lalu lintas bagi praktikan lain, kemudian
pengaruh lingkungan karena lingkungan yang saat itu tidak turun hujan yang
menjadikan individu baru yang tumbuh tidak dapat beradaptasi dan mati, dan
pengaruh sifat individu itu sendiri, karena kita tahu bahwa setiap individu masing –
masing memiliki karakteristik sendiri, ada yang tahan akan cuaca ekstrim dan ada
yang tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat Ayu Su'udiyah (2014), bahwa iklim,
terutama curah hujan yang sangat berpengaruh dalam proses perkecambahan serta
arah dan kecepatan angin yang membawa biji, spora dan benih. Dan pada pekan
selanjutnya individu-individu yang bertahan dapat beradaptasi dan terus bertambah.
Pertambahan individu pada setiap plot atau daerah suksesi ini sesuai dengan
perkataan Odum (2006) bahwa suatu daerah suksesi akan mengalami pertambahan
individu sesuai dengan kemampuannya beradaptasi dan kemampuan dalam
tumbuhan penyebar biji dalam perkembangbiakannya.
Adapun pada pengamatan terakhir yaitu minggu keenam rata – rata jumlah
vegetasi mengalami kenaikan yang pesat dari minggu sebelumnya. Kenaikan jumlah
vegetasi pada plot minggu keenam disebabkan karena pada saat itu cuaca sedang
berubah dari cuaca panas menjadi cuaca sedang akibat sudah turun hujan atau dapat
dikatakan mengalami mengalami kestabilan iklim/cuaca pada saat itu sehingga
individu yang susah tumbuh menjadi tumbuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamal
Irwa (2003) bahwa stabilitas ekosistem akan beragam antara tipe suksesi yang
berbeda, antara tingkat suksesi dan antara suksesi primer dan suksesi sekunder.

15
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:

16
1. Jenis suksesi yang terjadi merupakan suksesi sekunder karena perlakuan atau
kerusakan yang terjadi tidak secara menyeluruh dan masih terdapat organisme
hidup setelah pengrusakan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan suksesi yaitu luas komunitas awal
yang rusak, spesies tumbuhan yang terdapat di sekita tempat terjadinya suksesi,
sifat-sifat spesies tumbuhan, kehadiran bakal kehidupan, jenis substrat baru yang
terbentuk, dan kondisi iklim.
5.2 Saran
Saran mengenai percobaan ini, sebaiknya sebelum dilakukan percobaan agar
asisten menjelaskan objek-objek yang akan diteliti seperti ciri dan karakteristik
tumbuhan daun sempit dan daun lebar agar praktikan lebih paham dan
meminimalkan kesalahan dalam menentukan jenis dari tumbuhan tersebut.
Kemudian untuk lahannya agar tidak di posisikan sebagai tempat lalu lintas praktikan
lain, maka disediakan jalur untuk lewat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir Rahardjanto, 2001. Buku ajar ekologi tumbuhan. Malang: UMM press
Agus Sugiyanto. 1994. Ekologi Kwantitatif. Surabaya: Usaha Nasional.

17
Arianto. 2008, Suksesi sebagai perkembangan ekosistem. Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
Irwan, dkk. 2002. Suksesi. Yogyakarta : Erlangga.
Michael, P. 1995. Metoda Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Odum, TH., 1992. Ekologi Sistem : Suatu Pengantar. Gadjah Mada Universitas
Press.Yogyakarta.
Sutomo. 2009. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Wirakusuma. 2003. Proses Suksesi. Jakarta: Rajawali Pers.

LAMPIRAN

Perhitungan
1) Hasil Pengamatan Minggu Pertama

18
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

4 3
P0 = =4 P2 = =3
1 1
P3 = 0
4
P1 = =4
1

Total = 4 + 4 + 3 + 0
= 11
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
4 3
P0 = =1 P1 = = 0,75
4 4
4
P2 = =1 P3 = 0
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 1 + 1 + 0,75 + 0
= 2,75
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
1 0,75
P0 = x 100 % = 36,36 % P2 = x 100 % = 27,27 %
2,75 2,75
1 0
P1 = x 100 % = 36,36 % P3 = x 100 % = 0 %
2,75 9,25

e. Dominasi Relatif (%)


Dominasi satu jenis
Dominasi Relatif = x 100 %
Dominasi Jumlah Jenis

4 4
P0 = x 100 % = 36,36 P1 = 100 % = 36,36 %
11 11

19
3 0
P2 = x 100 % = 27,27 P3 = 100 % = 0 %
11 11
%

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
1 2
DS = = 0,25 DS = = 0,5
4 4
3 1
DL = = 0,75 DL = = 0,25
4 4

Untuk P1 Untuk P3
1 0
DS = = 0,25 DS = =0
4 4
3 0
DL = = 0,75 DL = =0
4 4

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,25 + 0,75 P2 = 0,5 + 0,25
= 0,75
=1
P3 = 0 + 0
P1 = 0,25 + 0,75 =0
=1

Total Frekuensi Semua Jenis = 1 + 1 + 0,75 + 0


= 2,75

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100%
Frekuensi Semua Jenis
1
P0 = x 100 % = 133,3 %
2,75
1
P1 = x 100 % = 133,3 %
2,75
0,75
P2 = x 100 % = 27,27 %
2,75
0
P3 = x 100 % = 0 %
2,75

20
2) Hasil Pengamatan Minggu Ke-2
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

8 4
P0 = =8 P2 = =4
1 1
1
P3 = =1
79 1
P1 = = 79
1

Total = 8 + 78 + 4 + 1
= 92
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
8
P0 = =2
4
79
P1 = = 19,75
4
4
P2 = =1
4
1
P3 = = 0,25
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 2 + 19,75 + 1 + 0,25
= 23
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
2 1
P0 = x 100 % = 8,69 % P2 = x 100 % = 0,04 %
23 23
19,75 0,25
P1 = x 100 % = 85,6% P3 = x 100 % = 1,08 %
23 23

e. Dominasi Relatif (%)


Dominasi satu jenis
Domiansi Relatif = x 100
Dominasi Jumlah Jenis
2 1
P0 = x 100 % = 8,69 P2 = x 100 % = 0,04
92 92
% %
19,75
P1 = x 100 % = 0,25
92 P3 = x 100 % =
92
85,6 %
1,08 %

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
5 2
DS = = 0,06 DS = = 0,02
80 80
3 2
DL = = 0,27 DL = = 0,02
11 80

Untuk P1 Untuk P3
73 0
DS = = 0,91 DS = =0
80 80
6 1
DL = = 0,54 DL = = 0,09
11 11

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,06 + 0,27 P2 = 0,02 + 0,02
= 0,04
= 0,33
P3 = 0 + 0,09
P1 = 0,91 + 0,54 = 0,09
= 1,45

Total Frekuensi Semua Jenis = 0,33 + 1,45 + 0,04 + 0,09


= 1,91

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100%
Frekuensi Semua Jenis
0,33
P0 = x 100 % = 17,2 %
1,91
1,45
P1 = x 100 % = 75,9 %
1,91
0,04
P2 = x 100 % = 2,09 %
1,91
0,09
P3 = x 100 % = 4,71 %
1,91
3) Hasil Pengamatan Minggu Ke-3
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

6 12
P0 = = 6 P2 = = 12
1 1
2
P3 = = 2
46 1
P1 = = 46
1

Total = 6 + 46 + 12 + 2
= 66
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
6
P0 = = 1,5
4
46
P1 = = 11,5
4
12
P2 = = 3
4
2
P3 = = 0,5
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 1,5 + 11,5 + 3 + 0,5
= 16,5
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
1,5 3
P0 = x 100 % = 9,09 % P2 = x 100 % = 18,1 %
16,5 16,5
11,5 0,5
P1 = x 100 % = 69,6 % P3 = x 100 % = 3,03%
16,5 16,5

e. Dominasi Relatif (%)


Dominasi satu jenis
Dominasi Relatif = x 100
Dominasi Jumlah Jenis
6 12
P0 = x 100% = 9,09 % P2 = x 100% = 18,1
66 66
46
P1 = x 100% = 69,6 % %
66
2
P3 = x 100% = 3,03%
66

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
1 1
DS = = 0,04 DS = = 0,04
42 42
5 11
DL = = 0,20 DL = = 0,45
24 24

Untuk P1 Untuk P3
40 0
DS = = 0,95 DS = =0
42 42
6 2
DL = = 0,25 DL = = 0,08
24 24

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,04 + 0,20 P2 = 0,04+ 0,45
= 0,49
= 0,24
P3 = 0 + 0,08
P1 = 0,95 + 0,25 = 0,08
= 1,2

Total Frekuensi Semua Jenis = 0,24 + 1,2 + 0,49 + 0,08


= 2,01

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100%
Frekuensi Semua Jenis
0,24
P0 = x 100 % = 11,9 %
2,01
1,2
P1 = x 100 % = 59,7%
2,01
0,49
P2 = x 100 % = 24,3%
2,01
0,08
P3 = x 100 % = 3,98%
2,01
4) Hasil Pengamatan Minggu Ke-4
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

6 12
P0 = =6 P2 = = 12
1 1
0
P3 = =0
46 1
P1 = = 46
1

Total = 6 + 46 + 12 + 0
= 64
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
6
P0 = = 1,5
4
46
P1 = = 11,5
4
12
P2 = = 3
4
0
P3 = = 0
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 1,5 + 11,5 + 3 + 0
= 16
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
1,5 3
P0 = x 100 % = 9,37% P2 = x 100 % = 18,7 %
16 16
11,5 0
P1 = x 100 % = 71,8 % P3 = x 100 % = 0 %
16 16

e. Dominasi Relatif (%)


Dominasi satu jenis
Dominasi Relatif = x 100
Dominasi Jumlah Jenis
6 12
P0 = x 100 % = 9,37 P2 = x 100 % = 18,7
64 64
% %
46
P1 = x 100 % = 71,8 0
64 P3 = x 100 % = 0 %
64
%

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
1 1
DS = = 0,02 DS = = 0,02
42 42
5 11
DL = = 0,22 DL = = 0,5
22 22

Untuk P1 Untuk P3
40 0
DS = = 0,95 DS = =0
42 42
6 0
DL = = 0,27 DL = =0
22 22

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,02 + 0,22 P2 = 0,02 + 0,5
= 0,52
= 0,24
P3 = 0 + 0
P1 = 0,95 + 0,27 =0
= 1,22

Total Frekuensi Semua Jenis = 0,24 + 1,22 + 0,52 + 0


= 1,98

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100
Frekuensi Semua Jenis
0,24
P0 = x 100 % = 12,1 %
1,98
1,22
P1 = x 100 % = 61,6 %
1,98
0,52
P2 = x 100 % = 26,2 %
1,98
0
P3 = x 100 % = 0 %
1,98
5) Hasil Pengamatan Minggu Ke-5
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

34 8
P0 = = 34 P2 = =8
1 1
3
P3 = =3
77 1
P1 = = 77
1

Total = 34 + 77 + 8 + 3
= 122
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
34
P0 = = 8,5
4
77
P1 = = 19,2
4
8
P2 = =2
4
3
P3 = = 0,75
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 8,5 + 19,2 + 2 + 0,75
= 30,45
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
8,2 2
P0 = x 100 % = 27,9 % P2 = x 100 % = 6,56 %
30,45 30,45
19,2 0,75
P1 = x 100 % = 63,2 % P3 = x 100 % = 2,46 %
30,45 30,45

e. Dominasi Relatif (%)


Dominasi satu jenis
Dominasi Relatif = x 100
Dominasi Jumlah Jenis
34 8
P0 = x 100 % = 27,9 P2 = x 100 % = 6,56
122 122
% %
77
P1 = x 100 % = 63,2 0,75
122 P3 = x 100 % = 2,46
122
%
%

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
1 1
DS = = 0,01 DS = = 0,01
54 54
33 7
DL = = 0,48 DL = = 0,10
68 68

Untuk P1 Untuk P3
52 0
DS = = 0,96 DS = =0
54 54
25 3
DL = = 0,36 DL = = 0,04
68 68

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,01 + 0,48 P2 = 0,01 + 0,10
= 0,11
= 0,49
P3 = 0 + 0,04
P1 = 0,96 + 0,36 = 0,04
= 1,32

Total Frekuensi Semua Jenis = 0,49 + 1,32 + 0,11 + 0,04


= 1,96

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100
Frekuensi Semua Jenis
0,49
P0 = x 100 % = 25 %
1,96
1,32
P1 = x 100 % = 67,3 %
1,96
0,11
P2 = x 100 % = 5,6 %
1,96
0,04
P3 = x 100 % = 2,04 %
1,96
6) Hasil Pengamatan Minggu Ke-6
a. Dominasi Jenis
Jumlah Individu
Dominasi Jenis =
Luas Plot Individu

131 166
P0 = = 131 P2 = = 166
1 1
77
P3 = = 77
233 1
P1 = = 233
1

Total = 131 + 233 + 166 + 77


= 609
Jumlah Individu
b. Kepadatan Jenis =
Total Luas Plot
131
P0 = = 32,7
4
233
P1 = = 58,2
4
166
P2 = = 41,5
4
77
P3 = = 19,25
4

c. Kepadatan Semua Jenis = Jumlah Semua Jenis


= P0 + P1 + P2 + P3
= 32,7 + 58,2 + 41,5 + 19,25
= 151,6
Kepadatan Jenis
d. Kepadatan Relatif (%) = x 100 %
Kepadatan Semua Jenis
32,7 41,5
P0 = x 100 % = P2 = x 100 % = 27,37
151,6 151,6
151,6 % %
58,2 19,25
P1 = x 100 % = 38,3 % P3 = x 100 % = 12,6 %
151,6 151,6
e. Dominasi Relatif (%)
Dominasi satu jenis
Dominasi Relatif = x 100%
Dominasi Jumlah Jenis

131 166
P0 = x 100% = P2 = x 100% = 27,37
609 609
151,6 % %
233
P1 = x 100% = 38,3 77
609 P3 = x 100% = 12,6
609
%
%

Jumlah plot terdapat individu


f. Frekuensi Jenis =
JumlahTotal Plot
Untuk P0 Untuk P2
130 136
DS = = 0,23 DS = = 0,24
552 552
1 30
DL = = 0,01 DL = = 0,05
55 55

Untuk P1 Untuk P3
216 70
DS = = 0,93 DS = = 0,12
552 552
17 77
DL = = 0,30 DL = = 1,4
55 55

g. Frekuensi Semua Jenis


P0 = 0,23 + 0,01 P2 = 0,24 + 0,05
= 0,29
= 0,24
P3 = 0,12 + 1,4
P1 = 0,93 + 0,30 = 1,52
= 0,69
Total Frekuensi Semua Jenis = 0,24 + 0,69 + 0,29 + 1,52

= 2,74

Frekuensi Jenis
h. Frekuensi Relatif (%) = x 100
Frekuensi Semua Jenis
0,24
P0 = x 100 % = 8,75%
2,74
0,69
P1 = x 100 % = 25,1%
2,74
0,29
P2 = x 100 % = 10,5%
2,74
1,52
P3 = x 100 % = 55,4%
2,74

33