Anda di halaman 1dari 24

CRITICAL BOOK REVIEW PERPAJAKAN

INDONESIA

DOSEN PENGAMPU :

Mata Kuliah : Perpajakan Indonesia

DISUSUN OLEH :
AYU ANGELINA PASARIBU (7163342005)
C- Ekstensi 2016

PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTASEKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan CRITICAL BOOK REVIEW ini tentang perencanaan
pembelajaran ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
BOOK REVIEW ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai teori danperhitungan pajak berdasarkan undang
undang pajak .Terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.Oleh sebab
itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan critical book
review yang telah saya buat, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.

Semoga critical book review sederhana ini dapat dipahami bagi


siapapun yang membacanya.Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan
saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
critical book riview ini di waktu yang akan datang.

MEDAN, 05 Oktober 2017


Penyusun

Ayu angelina
IDENTITAS BUKU

BUKU 1 UTAMA

Nama buku : Perpajakan Indonesia


Konsep, Aplikasi Dan Penuntun Praktis
Nama Pengarang : Anatasia Diana dan Lilis
Setiawati
Penerbit :CV . ANDI OFFSET

Jmlh Halaman : 792


Tahun : 2010

Ukuran Buku : 16 X 23

ISBN : 978-979-29-1634-8
BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Memahami dan megetahui isi sebuah buku atau karangan, maka
Pertanyaan dan latihan-latihan untuk maksud tersebut akan membimbing dan
menuntun agar cermat, dan bagaimana harus menulisnya kembali dengan
tepat. Penulis tidak akan membuat ringkasan dengan baik bila ia kurang
cermat membaca, bila ia sanggup membeda-bedakan gagasan utama dari
gagasan-gagasan tambahan. Kemampuan membedakan tingkat-tingkat gagasan
itu akan membantunya mempertajam tingkat-tingkat gagasan itu akan
membantunya mempertajam gaya bahasa, serta menghindari uraian-uaraian
yang panjang lebar yang mungkin menyelusup masuk dalam karangan tersebut

MANFAAT

1. Agar kita lebih mengetahui isi bacaan tersebut dan kita akan mengetahui
semua bacaan dalam buku tetsebut.
2. Mengetahui isi pokok dari sebuh bahasan lebih mudah dibaca.
3. Sebagai sarana untuk membantu kita dalam mengingat isi sebuah buku atau
suatu uraian yang begitu panjang. Rangkuman memuat ide- ide pokok yang
mewakili setiap bagian bacaan aslinya
BAB II RESUME BUKU
BUKU 1 (UTAMA)

BAB 1 KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang undang dengan
tidak mendapatkan undangan secara langsung yang digunakan untuk keperluan
Negara. Semua wajib memenuhi persyaratan subjektif, dan objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang undangan berdasarkan system self
assement. WP wajb mendaftarkan diri pada kantor direktoral jenderal pajak
untuk dicatat sebagai wajib pajak dan mendapatkan NPWP.

Tata cara pendaftaran dan pemberian NPWP serta pelaporan dan


pengukuhan

a. WP diberi kuasa khusus untuk mendaftarkan diri dan memperoleh


NPWP dan menyampaikan formulir pendaftaran kekantor pelayanan
pajak.
b. Maka kantor pelayanan pajak menerbitkan NPWP dan suratg
pengukuhan pengusaha kena pajak.
c. Kantor pelayanan pajka menerbitkan surat kukuhan paling lama 3 hari
kerja setelah persyaratan diterima
d. Dalam hal wajib pajak melakukan pendaftaran sekaligus melaporkan
usahanya yang dikukuhkan sebagai wajib pajak.

Penyetoran Pajak

Surat setoran pajak berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah
disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau
apabila telah mendapatkan validitas yang ketentuanya diatur berdasarkan
peraturan menteri keuangan.
Surat Tagihan Pajak

Merupakan surat untuk melakukan tagihan pajak dan sanksi administrasi


berupa bunga atau denda. Surat tagihan pajak menyebabkan jumlah pajak yang
harus dibayar bertambah , harus dilunasi dalam jangka panjang waktu 1 bulan
sejak tanggal diterbitkan. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam surat
tagihan pajak dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% perbulan
untuk paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutang atau berakhirnya masa
pajak bagian tahun pajak.

BAB 2 SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)

Surat pemberitahuan adalah surat yang digunakan oleh wajb pajak untuk
melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak . fungsi surat pemberitahuan
bagi wajip pajak adalah:

 Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan melalui


pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam tahun berjalan
 Penghasilan yang merupakan objek pajak
 Harta dan kewajiban
 Pembayaran dan pemotongan atau pemungutan tentang pemotongan
pajak orang pribadi atau badan lain dalam masa pajak sesuai dengan
ketentuan perundang undangan .
Jenis Surat Pemberitahuan
 Surat pemberitahuan tahunan , merupakan suatu tahunan pajak dalam
jangka waktu 1 tahun kalender kecuali bila wajib pajak menggunakan
tahun buku yang sama dengan tahun kalender.
 Surat pemberitahuan Masa , merupakan jangka waktu yang menjadi
dasar bagi wajib pajak untuk menghitung , menyetor dan melaporkan
pajak yang terutang dalam suatu jangka panjang tertentu.
Sanksi Administrasi Bila SPT tidak disampaikan
Surat pemberitahuan dianggap tidak disampaikan apabila
 Surat pemberitahuan tidak ditandatangani
 Surat pemberitahuan tidak sepenuhnya dilampirkan keterangan
dokumen seharusnya
 Surat pemeberitahuan yang menyatakan lebih bayar disampaikan
setelah 3 tahun sesudah berakhirnya masa pajak , bagian tahun pajak
dan wajib pajak telah ditegur secara tertulis.
 Surat pemberitahuan disampaikan setelah direktur jederal pajak pajak
melakukan pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pakak.

Pelaporan Masa Pajak Dalam satu SPT Masa Dengan Kriteria Tertentu
Wajib pajak dapat menyampaikan 1 surat pemeberitahuan masa yang meliputi
beberapa masa pajak dengan kriteria:
1. Menyempaikan SPT masa pajak penghasilan pasal 25 untuk beberapa
masa pajak sekaligus dengan syarat pembayaran seluruh pajak yang
wajib dilunasi paling lama masa pajak berakhir.
2. Menyampaikan SPT masa pajak sekaligus dengan syarat pembayaran
untuk masing masing masa pajak dilakukan sesuai batas waktu untuk
masa pajak yang bersangkutan
Perkecualian Dari Kewajiban Menyampaikan SPT
Wajib pajak yang dikecualikan dari kewajiban tersebut adalah :
1. Wajib pajak orang pribadi yang dalam satu tahun pajak menerima atau
memperoleh penghasilan neto tidak melebihi penghasilan tidak kenak
pajak dikecualikan dari kewajiban penyampaian SPT
2. Wajib pajak yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau tidak
melakukan pekerjaan bebas dikecualikan dari kewajiban penyampaian
SPT
BAB 3 PAJAK PENGHASILAN UMUM

Subjek Pajak Penghasilan

1. a. orang pribadi , merupakan subjek pajak yang dapat bertempat tinggal


atau berada diindonesia atau diluar negeri
b. warisan yang belum terbagi sebagai suatu kesatuan menggantikan
yang berhak.
2. Badan , merupakan sekumpulan orang atau modal yang melakukan
usaha maupun tidak melakukan usaha .
3. Bentuk Usaha Tetap (BUT), merupakan subjek pajak yang perlakuan
perpajakanya disamakn dengan subjek pajak badan

Subjek Pajak

1. Subjek pajak dalam negeri


2. Subjek pajak luar negeri

Perbedaan wajib pajak dalam negeri (WP DN) dengan wajib pajak luar
negeri (WP LN)
Keterangan WP DN WP LN
Objek Pajak Penghasilan yang : diterima di Indonesia Penghasilan yang diterim
dan diterima dari luar negeri dari Indonesia
PKP Penghasilan neto Penghasilan bruto
Tarif Umum Sepadan dan bersifat fina
Kewajiban Wajib Tidak wajib
menyampaikan SPT

Objek Pajak Penghasilan


1. Pergantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima termasuk upah , gaji ,premi dll
2. Hadiah dari undian pekerjaan dan penghargaann
3. Laba usaha
4. Keuntungan penjulan karena pengalihan aktiva
5. Bunga , deviden, sewa dan keuntungan karena pembebasan hutang.
Bukan Objek Pajak
1. Bantuan atau sumbangan
2. Harta, hibah , bantuan yang diterima keluarga dan badan pendidikan
3. Warisan

Pembukuan Versus Norma Perhitungan Penghasilan Neto

1. Menggunakan pembukuan (cara perhitungan biasa) , yaitu norma


perhitungan diusun dengan berdasarkan hasil penelitian atau data lain
dengan menyelenggarakan pencatatan tentang beredarnya bruto
2. Menggunakan norma perhitungan khusus, yaitu mengatur norma
perhitungan untuk golongan wajib pajak tertentu perusahaan pelayaran,
penerbangan dan perusahaan yang berinvestasi dalam bangunan guna
serah.

BAB 4 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI


DALAM NEGERI

Pajak penghasilan wajib pajak orang pribadi dalam negeri setahun


dihitung dengan cara mengalihkan pendapatan kena pajaknya dengan tarif
pajak . Sedangkan besarnya penghasilan kena pajaknya (PKP) dihitung dari
penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan menagih, dan
memelihara serta dikurangi dengan pendapatan tidak kena pajak (PTKP).

Biaya Untuk Mendapatkan , Menagih , Dan Memelihara Penghasilan


1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung yang berkaitan dengan
kegiatan usaha yakni; biaya pembelian bahan , upah, gaji dan bentuk
uang , bunga
2. Penyusutan atau pengeluaran yang berwujud amortisasi
3. Iuran kepada dana pnsiun
4. Kerugian penjualan dan pengalihan harta
5. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan

Penyusutan

Pengeluaran untuk memperoleh harta yang mempunyai masa manfaat lebih


dari satu tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan
penghasilan dengan mengalokasikan pengeluaran selama masa manfaat harta
berwujud melalui penyusutan. Metode Penyusutan yang diperbolehkan adalah:

a. Metode garis lurus, merupakan metode dimana penyusutan berupa


bagian bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan
bagi harta
b. Metode saldo menurun , merupakan penyusutan berupa bagian yang
menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku
Amortisasi
Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
pengeluaran lainya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan , hak
guna usaha , hak pakai yang mempunyai masa manfaat 1 tahun . Amortisasi
dimulai pada bulan dilakukan pengeluaran sehingga amortisasi pada tahun
pertama dihitung secara pro rata kecuali bidang usaha yang diatur dengan
peraturan menteri keuntungan.
Masa manfaat dan tarif amortisasi harta tak berwujud
Kelompok harta Masa manfaat Tariff amortisasi berdasarkan
tak berwujud metode
Garis lurus Saldo
menurun
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

Penghasilan Tidak Kena Pajak

1. Rp 15.840.000,00 untuk wajib pajak orang pribadi


2. Rp 1.320.000,00 tambahan wajib pajak yang kawin
3. Rp 15.840.000,00 tambahan seorang istri yang penghasilan digabung
4. Rp 1.320.000,00 tambahan anggota keluarga 3 orang

Tarif Pajak Penghasilan

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif


Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000 5%
Diatas Rp 50.000.000 s.d Rp 250.000.000 15%
Diatas Rp 250.000.000 s.d Rp 500.000.000 25%
Diatas Rp 500.000.000 30%
BAB 5 PAJAK PENGHASILAN BADAN

Badan adalah sekumpulan orang yang merupakan kesatuan baik yang


melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha. Subjek Pajak Badan
ialah:

a. Wajib pajak dalam negeri berupa badan usaha


b. Wajib pajak luar negeri kan berupa badan dan bentuk usaha tetap
(BUT)
Biaya Yang Tidak Boleh Dikurang Dalam Menghitung Pendapatan Kena
Pajak
1. Pembagian laba dengan nama dalam bentuk apapun seperti deviden
2. Biaya biaya yang dikeluarkan
3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan
4. Premi asuransi
5. Penggantian atau imbalan
6. Pajak penghasilan

Bentuk Usaha Tetap (BUT)

a. Bentuk usaha yang digunakan orang pribadi yang tidak tinggal di


Indonesia , orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183
hari dalam jangka waktu 12 bulan
b. Badan yang tidak didirikan dan tidk bertempat tinggal kedudukan di
Indonesia untuk menjalankan usaha

Objek Pajak BUT

1. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap


2. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan , penjualan , barang
atau pemberian jasa Indonesia yang sejenisnya dengan yang dijalankan
atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia
3. Penghasilan yang diterima atau diperoleh kantor pusat , sepanjang
terdapat hubngan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau
kegiatan yang berpenghasilan

Hubungan Istimewa Dan Penghindaran Pajak

Hubungan keistimewaan dapat terjadi karena ketergantungan atau keterikatan


satu dengan yang lain disebabkan :

a. Kepemilikan dan penyertaan modal , yaitu wajib pajak mempunyai


penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25%
pada wajib pajak lain
b. Adanya penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi ,
yaitu hubungan istimewa dapat terjadi karena penguasaan melalui
manajemen atau penggunaan teknologi walaupun tidak terdapat
hubungan kepemilikan
c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis
keturunan lurus atau kesamping sederajat.

Wajib Pajak Badan Dalam Negeri Berbentuk Perseroan Terbuka

Untuk meningkatkan jumlah perseroan terbuka dan mendorong peningkatan


kepemilikan public pada perseroan terbuka serta menunjang peningkatan peran
pasar modal sebagai sumber pembiayaan dunia usaha , maka pemerintah
memberikan penurunan tariff pajak penghasilan bagi wajib pajak badan dalam
negeri yang berbentuk perseroan terbuka. Penurunan tariff pajak penghasilan
sebesar 5% kepada wajib pajak badan dalam negeri.

Laba Rugi Komersial Versus Fiskal Bagi Wajib Pajak Badan Dalam
Negeri

Koreksi fiscal atau penyesuaian fiscal adalah koreksi yang dilakukan akibat
adanya perbedaan antara laba/rugi komersial (menurut standar akuntansi
keuangan/SAK) dengan laba/rugi fiscal (menurut ketentuan perpajakan) .
Koreksi fiscal dilakukan terhadap baika penghasilan dan biaya , dibedakan
menjadi 2, yaitu:

1. Beda waktu
2. Beda tetap
Oleh karena adanya perbedaan maka perlu dilakukan penyesuaian atau koreksi
, terbagi menjadi 2, yakni:
1. Koreksi penyesuaian positif
2. Koreksi penyesuaian negatif

BAB 6 PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Wajib Pajak Penghasilan Pasal 21

1. Pegawai
2. Penerima uang pasokan , pension, tunjangan dan ahli waris
3. Bugan pegawai yang menrima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan , jasa atau kegiatan .
Pemotongan PPH Pasal 21
1. Pemberian kerja
2. Bendahara pemerintah
3. Dana pensiun dan badan lain
4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
serta badan
5. Penyelenggara kegiatan
Biaya Jabatan Dan Biaya Pensiun
Cara prhitungan penghasilan neto (PN) yakni: Besarnya penghasilan neto
pegawai ditentukan berdasarkan penghasila bruto dikurangi dengan biaya
jabatan 5% dan juga iuran terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai .
Tarif PPh Pasal 21
 0 Sampai dengan Rp 50 juta 5%
 Diatas Rp 50 juta s.d. Rp 250 juta 15%
 Diatas Rp 250 juta s.d. Rp 500 juta 25%
 Di atas Rp 500 juta 30%

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

No. Elemen PTKP

1 WP Sendiri Rp 24.300.000

2 Status Kawin Rp 2.025.000

3 PTKP bagi istri yang Rp 24.300.000


penghasilannnya digabung.

4 Tambahan untuk anggota Rp 2.025.000


Keluarga (maksimal 3 orang)

A. Penghitungan Pemotongan Pph Pasal 21 Terhadap Penghasilan


Pegawai Tetap
1. Dengan Gaji Bulanan
Andi pada tahun 2016 bekerja pada perusahaan PT Abadi dengan
memperoleh gaji sebulan Rp 5.750.000 dan membayar iuran pensiun sebesar
Rp 200.000. Andi menikah tetapi belum mempunyai anak. Pada bulan januari
penghasilan Andi dari PT. Abadi hanya dari gaji. Berapa perhitungan PPh
Pasal 21 selama bulan januari ?
Penyelesaian :
Gaji sebulan Rp 5.750.000
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan : 5% x Rp 5.750.000,00 Rp 287.500
2. Iuran pensiun Rp 200.000 (+)
Rp 487.500 (-)
Penghasilan neto sebulan Rp 5.262.500
Penghasilan neto setahun
= 12 x Rp 5.262.500 Rp63.150.000
PTKP setahun (K/0)
– untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
– tambahan WP kawin Rp 4.500.000,00 (+)
Rp 58.500.000 (-)
Rp 4.650.000

Penghasilan Kena Pajak setahun


PPh Pasal 21 terutang :5% x Rp 4.650.000 = Rp 232.500
PPh 21 bulan Januari Rp 232.500 : 12 = Rp 19.375

2. Dengan Gaji Mingguan


Oka belum menikah, pada tahun 2016 bekerja sebagai pegawai tetap
pada perusahaan PT Mahagoni Gemilang menerima gaji yang dibayar
mingguan sebesar Rp 2.000.000. berapakah penghitungan PPh pasal 21 minggu
pertama bulan Agustus 2016 apabila dalam minggu tersebut hanya menerima
penghasilan berupa gaji saja?
Penyelesaian:
Gaji 4 x Rp 2.000.000 Rp 8.000.000
Biaya jabatan 5% x Rp 8.000.000 Rp 400.000(+)
Penghasilan netto sebulan Rp 7.600.000
Penghasilan netto setahun 12 x Rp 7.600.000 Rp. 91.200.000
PTKP (TK/0)
-Untuk WP sendiri Rp 54.000.000 (+)
Penghasilan kena pajak setahun Rp 37.200.000
PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 37.200.000 Rp 1.860.000
PPh pasal 21 sebulan
Rp 1.860.000 : 12 Rp 155.000
PPh Pasal 21 atas upah minggu pertama Rp 155.000: 4 Rp 38.750

3. Penghitungan PPh Pasal 21 Atas Pembayaran Uang Rapel


Pada awal tahun 2006 retno mendapat gaji sebulan Rp 5.750.000 pada
perusahaan PT Jaya Abadi kemudian juni 2016 retto menerima kenaikan gaji,
menjadi Rp6.750.000 sebulan dan berlaku surut sejak 1 januari 2016. Dengan
adanya kenaikan gaji yang berlaku surut tersebut retto meniram rapel sejumlah
Rp 5.000.000 (selisih gaji yang seharusnya diterima untuk masa januari s,d.
mei 2016). Untuk menghitung PPh Pasal 21 atas uang rapel tersbut,terlebih
dahulu dihitung kembali PPh Pasal 21 untuk masa januari s.d. Mei 2016 atas
dasar penghasilan setal ada kenakan gaji. Dengan demikian penghitungan PPh
Pasal 21 terutangnya Adalaha sebagai berikut:
Gaji Rp 6.750.000
Pengurangan:
1. Biaya jabatan 5% X Rp 6.750.000 Rp 337.500
2. Iuran pensiunan Rp 200.000
Rp 537.500 (-)
Penghasilan Netto sebulan Rp 6.212.500

Penghasilan Netto Setahun 12 x Rp 6.212.500 Rp 74. 550.000

PTKP(K/0)

- Untuk WP sendiri Rp 54.000.000

- Tambahan karena kawin Rp 4.500.000

Rp 58.500.000(-)

Penghasilan kenak pajak setahun Rp 16.050.000

PPH Pasal 21 terutang 5% x Rp 16.050.000 Rp. 802.500

PPh Pasal 21 sebulan Rp 802.5000:12 Rp 66.875

PPh Pasal 21 Januari s.d

Mei 2016 seharusnya adalah: 5 x Rp 66.875 Rp 334.375

PPh Pasal 21 yang sudah

dipotong januari s.d Mei 2016 5 x Rp. 19.375 Rp 96.875

PPh pasal 21 untuk uang rapel Rp 237.500

B. Penghitungan Pemotongan Pph Pasal 21 Terhadap Penghasilan


Berupa : Jasa Produksi, Tunjangan Hari Raya Atau Tahun Baru, Bonus
Yang Sifatnya Tidak Tetap Dan Pada Umumnya Diberikan Sekali
Setahun
Sudiro (tidak kawin) bekerja pada PT Qolbu Jaya dengan memperoleh gaji
sebesar Rp 5.000.000,00 sebulan. Pada bulan Maret 2016 sudiro memperoleh
bonus sebesar Rp 8.000.000,00 sehingga pada bulan maret 2016 sudiro
memperoleh penghasilan berupa gaji sebesar Rp 5.000.000,00 dan bonus
sebesar Rp 8.000.000,00. Setiap bulannya sudiro membayaran iuran pensiun
kedana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan
sebesar Rp 80.000,00. Cara menghitung PPh pasal 21 atas bonus adalah:

a. PPh pasal 21 atau gaji dan bonus (penghasilan setahun)

Gaji setahun 12 X Rp 5.000.000,00 Rp 60.000.000,00

Bonus Rp 8.000.000,00

Penghasilan bruto setahun Rp 68.000.000,00

Pengurangan:

1.Biaya jabatan5% X Rp 68.000.000,00 Rp 3.400.000,00

2.Iuran pensiun setahun 12 X Rp 80.000,00 Rp 960.000,00

Rp 4.360.000,00

Penghasilan neto setahun Rp 56.040.000,00

PTKP (TK/0)

-untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00

Penghasilan kena pajak Rp 2.040.000,00

PPh pasal 21 terutang 5% X Rp 2.040.000,00 Rp 102.000,00

c. PPh pasal 21 atas bonus

PPh pasal 21 atas bonus Rp 482.000,00 – Rp 102.000,00 = Rp 380.000,00

5. Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 Atas Penghasilan Yang


Sebagai Atau Seluruhnya Diperoleh Dalam Mata Uang Asing

Neil Mc Leary adalah seorang pegawai tetap memperoleh gaji pada


bulan januari 2016 dalam mata uang asing sebesar US$2,000 sebulan.Kurs
yang berlaku pada saat gaji dibayarkan berdasarkan keputusan menteri
keuangan adalah Rp 13.766,00 per US$1.00.Neil Mc Leary berstatus menikah
dengan 1 anak. Perhitungan PPh pasal 21 adalah:

Gaji sebulan adalah:

US$2,000 X Rp 13.766,00 Rp 27.532.000,00

Pengurangan:
5% X Rp 27.532.000,00 = Rp 1.376.600,00

Maksimum diperkenankan Rp 500.000,00

Penghasilan neto sebulan Rp 27.032.000,00

Penghasilan neto setahun:

12 X Rp 27.032.000,00 Rp 324.384.000,00

PTKP (K/I)

-untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00

-tambahan karena kawin Rp 4.500.000,00

-tambahan 1 orang anak Rp 4.500.000,00

Rp 63.000.000,00

Penghasilan kena pajak setahun Rp 261.384.000,00

PPh pasal 21 di setahunkan:

5% X Rp 50.000.000,00 Rp 2.500.000,00

15% X Rp 200.000.000,00 Rp 30.000.000,00

25% X Rp 11.384.000,00 Rp 2.846.000,00

Rp 35.346.000,00

PPh pasal 21 bulan januari: Rp 35.346.000,00 : 12 Rp 2.945.500,00

B. Penghitungan Pph Pasal 21 Atas Uang Pensiun Yang Dibayarkan


Secara Berkala (Bulanan)

Hari Irawan, berstatus kawin dengan 2 orang anak yang masih menjadi
tanggungan, bekerja sebagai pegawai tetap pada PT. Nusa Indah dengan gaji
sebulan sebesar Rp 13.000.000. Hari Irawan setiap bulan membayar iuran
pensiun sebesar Rp 250.000 ke dana pensiun Artha Mandiri yang pendiriannya
telah di sahkan oleh Menteri Keuangan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku di
PT. Nusa Indah terhitung mulai 1 juli 2016, Hari Irawan akan memasuki masa
pensiun. Penghitungan PPh pasal 21 sebulan :

Gaji sebulan Rp 13.000.000


Pengurangan

1. Biaya jabatan

5% x Rp 13.000.000 = Rp 650.000 Rp 500.000

2. Iuran pensiun Rp 250.000

Rp 750.000

Penghasil neto sebulan Rp 12.250.000

Penghasil neto 6 bulan (masa bekerja januari s.d juni 2016)Rp 12.250.000 x 6
Rp 73.500.000

TKP (K/2)

Untuk WP sendiri Rp 34.000.000

Tambahan karena kawin Rp 4.500.000

Tambahan 2 orang anak Rp 9.000.000

Rp 67.500.000

Penghasil kena pajak Rp 6.000.000

PPh pasal 21 terutang

5% x Rp 6.000.000 Rp 300.000

PPh pasal 21 terutang sebulan:

Rp 300.000 : 6 Rp 50.000

Pada saat Hari Irawan berhenti dan memasuki masa pensiun, maka pemberi
kerja memberi bukti pemotongan PPh pasal 21 dengan data sebagai berikut :

Gaji selama 6 bulan :

6 x Rp 13.000.000 Rp
78.000.000

Pengurangan :

1. Biaya jabatan :

5% x Rp 78.000.000 = 3.900.000 Rp 3.000.000


2. Iuran pensiun :

6 x Rp 250.000 Rp 1.500.000
Rp 4.500.000

Penghasilan neto selama 6 bulan Rp


73.500.000

PTKP (K/2)

Untuk WP sendiri Rp 54.000.000

Tambahan karena kawin Rp 4.500.000

Tambahan 2 orang anak Rp 9.000.000

Rp 67.500.000

Penghasilan kena pajak Rp


6.000.000

PPh pasal 21 terutang

(5% x Rp 6.000.000) Rp 300.000,00


PPh pasal 21 telah dipotong

(6 x Rp 50.000) Rp
300.000,00

PPh pasal 21 kurang (lebih) dipotong -


BAB 7 PAJAK PENGHASILAN PASAL 22

Pajak penghasilan pasal 22 dipungut sehubungan dengan pembayaran atas


penyerahan barang dan kegiatan dibidang impor dan ekspor .

Pemungutan Pajak Pasal 22

1. Bank devisa dan direktoral jenderal bead an cukai atas impor


2. Direktoral jenderal pembendaharaan atas pembelian barng
3. Badan usaha milik Negara yang melakukan pembelian barang
4. Bank Indonesia
5. Produsen dan eksportir.
Pemungutan PPH pasal 22 ataspenyerahan barang oleh pemungut pajak atas
penjualan bahan bakar kepada agen bersifat final .

BAB 8 PAJAK PENGHASILAN 23


Pajak penghasilan pasal 23 mengatur mengenai pemotongan pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri dan bentuk
usaha tetap yang berasal dari modal, penyerahan modal dan penyerahan jasa
yang dipotong pajak pasal 21
Objek Pajak Penghasilan Pasal 23
a. deviden pembagian hasil usaha
b. bunga pengembalian hutang
c. hadiah dipotong setelah pajak penghasilan penyelenggara kegiatan
d. imbalan jasa yang telah dipotong pajak penghasilan 21
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23
1. badan pemerintah
2. subjek pajak dalam negeri
3. penyelengga kegiatan
4. bentuk usaha tetap
BAB 9 PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

Pada dasarnya pajak penghasilan pasal 24 ini merupakan pajak dalam


negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan termasuk penghasilan yang
diperoleh dari luar negeri. Untuk meringankan pajak ganda yang dapat terjadi
karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar
negeri maka ketentuan mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan
terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak dalam
negeri . Pajak yang dibayar atas penghasilan dari luar negeri yang diterima oleh
wajib pajak boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang dalam tahun pajak
yang sama.
Batas Maksimum Kredit Pajak Luar Negeri
Jumlah kredit pajak setinggi tingginya sama dengan jumlah pajak yang dibayar
atau terutangb di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung
menurut perbandingan dari luar negeri terhadap penghasilan kena pajak
dikalikan dengan pajak yang terutang . Apabila jumlah pajak yang dibayar
melebihi jumlah kredit yang dihitung maka kelebihan itu tidak dapat dihitung
dengan pajak tahun berikutnya

BAB 10 PAJAK PENGHASILAN 26

Penerima penghasilan yang dipotong PPH pasl 26 adalah orang pribadi


dengan status dengan subjek paja luar negeri menerima dengan status
pengasilan dengan nama bentuk apapun pemotongan pasal 26 sebagai imbalan
sehubung dengan pekerjaan dan penerimaan pensiun.
Objek PPH pasal 26
1. penghasilan pegawaik tetap yang bersifat teratur yang ditetapka
pemberi kerja dan termasuk uang lembur
2. penghasilan pegawai tetap yang bersifatg tidak tearatur
3. penghasilan pegawai bebas
4. imbalan kepada bukan pegawai
Tarif Pajak
Tarif pajak yang berlaku menurut pasal 26 adalah 20% yang bersifatg final
diterapkan atas penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh sebagai imbalan
atas pekerjaan dengan status subjek luar negeri