Anda di halaman 1dari 33

6

BAB II

TEORI DASAR

2.1 Pengertian Boiler

Salah satu peralatan yang sangat penting di dalam suatu pembangkit

tenaga listrik adalah Boiler (Steam Generator) atau yang biasanya disebut ketel

uap. Alat ini merupakan alat penukar kalor, dimana energi panas yang dihasilkan

dari pembakaran diubah menjadi energi potensial yang berupa uap. Uap yang

mempunyai tekanan dan temperatur tinggi inilah yang nantinya digunakan sebagai

media penggerak utama Turbin Uap. Energi panas diperoleh dengan jalan

pembakaran bahan bakar di ruang bakar.

2.2 Klasifikasi Boiler

2.2.1 Bedasarkan tipe pipa yang digunakan

1. Fire Tube

Gambar 2.1 Fire Tube Boiler


(Sumber: www.industrialboiler.com )

fire tube boiler seperti pada gambar 2.1, yaitu fluida yang mengalir

dalam pipa adalah gas nyala (hasil pembakaran), yang membawa energi panas
7

(thermal energy), yang segera mentransfernya ke air ketel melalui bidang

pemanas (heating surface). Tujuan pipa-pipa api ini adalah untuk memudahkan

distribusi panas (kalori) kepada air ketel.

Cara kerja : proses pengapian terjadi didalam pipa, kemudian panas yang

dihasilkan dihantarkan langsung kedalam boiler yang berisi air. Besar dan

konstruksi boiler mempengaruhi kapasitas dan tekanan yang dihasilkan boiler

tersebut.

2. Water Tube

Gambar 2.2 Water Tube Boiler


(Sumber: www.electrical4u.com)

Water tube boiler seperti pada gambar 2.2, yaitu fluida yang mengalir

dalam pipa (yaitu ruang dapur) ke air ketel.

Cara Kerja : proses pengapian terjadi diluar pipa, kemudian panas yang

dihasilkan memanaskan pipa yang berisi air dan sebelumnya air tersebut

dikondisikan terlebih dahulu melalui economizer, kemudian steam yang

dihasilkan terlebih dahulu dikumpulkan di dalam sebuah steam-drum. Sampai


8

tekanan dan temperatur sesuai, melalui tahap secondary superheater

dan primary superheater baru steam dilepaskan ke pipa utama distribusi.

Didalam pipa air, air yang mengalir harus dikondisikan terhadap mineral atau

kandungan lainnya yang larut di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor

utama yang harus diperhatikan terhadap tipe ini.

2.2.2 Berdasarkan bahan bakar yang digunakan

1. Solid Fuel

Tipe boiler bahan bakar padat memiliki karakteristik : harga bahan baku

pembakaran relatif lebih murah dibandingkan dengan boiler yang menggunakan

bahan bakar cair dan listrik.

2. Oil Fuel

Tipe boiler bahan bakar cair memiliki karakteristik : harga bahan baku

pembakaran paling mahal dibandingkan dengan semua tipe. Nilai effisiensi dari

tipe ini lebih baik jika dbandingkan dengan boiler bahan bakar padat dan listrik.

3. Gaseous Fuel

Tipe boiler bahan bakar gas memiliki karakteristik : harga bahan baku

pembakaran paling murah dibandingkan dengan semua tipe boiler. Nilai

effisiensi dari tipe ini lebih baik jika dibandingkan dengan semua tipe boiler

berdasarkan bahan bakar

4. Electric

Tipe boiler listrik memiliki karakteristik : harga bahan baku pemanasan

relatif lebih murah dibandingkan dengan boiler yang menggunakan bahan bakar
9

cair. Nilai effisiensi dari tipe ini paling rendah jika dbandingkan dengan semua

tipe boiler berdasarkan bahan bakarnya.

2.2.3 Berdasarkan kegunaan boiler

1. Power Boiler

Tipe power boiler memiliki karakteristik : kegunaan utamanya sebagai

penghasil steam sebagai pembangkit listrik, dan sisa steam digunakan untuk

menjalankan proses industri.

2. Industrial Boiler

Tipe industrial boiler memiliki karakteristik : kegunaan utamanya

sebagai penghasil steam atau air panas untuk menjalankan proses industri dan

sebagai tambahan pemanas.

3. Commercial Boiler

Tipe commercial boiler memiliki karakteristik : kegunaan utamanya

sebagai penghasil steam atau air panas sebagai pemanas dan sebagai tambahan

untuk menjalankan proses operasi komersial.

4. Residential Boiler

Tipe residential boiler memiliki karakteristik : kegunaan utamanya

sebagai penghasil steam atau air panas tekanan rendah yang digunakan untuk

perumahan.
10

5. Heat Recovery Boiler

Tipe heat recovery boiler memiliki karakteristik : kegunaan utamanya

sebagai penghasil steam dari uap panas yang tidak terpakai. Hasil steam ini

digunakan untuk menjalankan proses industri.

2.2.4 Berdasarkan konstruksi boiler

1. Package Boiler

Tipe package boiler memiliki karakteristik : perakitan boiler dilakukan

di pabrik pembuat, pengiriman langsung dalam bentuk boiler.

2. Site Erected Boiler

Tipe site erected boiler memiliki karakteristik : perakitan boiler

dilakukan di tempat akan berdirinya boiler tersebut, pengiriman dilakukan per

komponen.

2.2.5 Berdasarkan cara pembakaran bahan bakar

1. Stoker Combustion

Tipe stoker combustion memiliki karakteristik : tipe ini memanfaatkan

bahan bakar padat untuk melakukan pembakaran, bahan bakar padat dimasukkan

kedalam ruang pembakaran melalui conveyor ataupun manual.

2. Pulverized Coal

Cara kerja : proses ini menghancurkan batu bara dengan ball mill atau

roller mill sehingga batu bara memiliki ukuran kurang dari 1 mm. kemudian batu

bara berupa bubuk ini disemprotkan ke dalam ruang pembakaran.


11

3. Fluidized Coal

Cara kerja : proses ini menghancurkan batu bara dengan crusher,

sehingga batu bara memiliki ukuran kurang dari 2 mm. Pada proses ini

pembakaran dilakukan dalam lapisan pasir, batu bara akan langsung membara

jika mengenai pasir.

4. Firing Combustion

Tipe firing memiliki karakteristik : tipe ini memanfaatkan bahan bakar

cair, padat, dan gas untuk melakukan pembakaran, pemanasan yang terjadi lebih

merata.

2.3 Komponen Boiler Pulverized Coal

Komponen utama boiler pulverized coal secara umum adalah sebagai

berikut:

1. Furnace

Furnace merupakan tempat terjadinya pembakaran bahan bakar yang

akan menjadi sumber panas, proses penerimaan panas oleh media air dilakukan

melalui pipa yang telah dialiri air, pipa tersebut menempel pada dinding tungku

pembakaran.

2. Wall Tube

Dinding Boiler Terdiri dari tubes/ pipa-pipa yang disatukan oleh

membran, oleh karena itu disebut dengan wall tube. Di dalam wall tube tersebut

mengalir air yang akan dididihkan.


12

3. Steam Drum

Steam drum merupakan bagian terpenting pada sistem sirkulasi alami

(natural circulation) maupun sirkulasi paksa (forced circulation). Fungsi steam

drum adalah menampung dan mengontrol kebutuhan air di boiler. Fungsi lain

yang tidak kalah pentingnya yaitu untuk memisahkan uap dan air. Steam Drum

menghubungkan downcomer, water wall, header dan riser pada sistem

sirkulasi air tertutup

4. Superheater

Superheater berfungsi untuk menaikkan temperatur uap jenuh menjadi

uap panas lanjut dengan memanfaatkan gas panas hasil pembakaran. Uap yang

masuk ke superheater berasal dari steam drum. Uap yang keluar dari

superheater kemudian digunakan untuk memutar HP Turbine.

5. Reheater

Reheater berfungsi untuk memanaskan kembali uap yang keluar dari

HP Turbine dengan memanfaatkan gas hasil pembakaran yang temperaturnya

relatif masih tinggi. Pemanasan ini bertujuan untuk menaikkan efesiensi sistem

secara keseluruhan. Uap ini kemudian digunakan untuk menggerakkan IP

Turbine.

6. Economizer

Economizer merupakan pipa-pipa air yang dipasang ditempat

laluan gas hasil pembakaran sebelum air preheater. Economizer menyerap

panas dari gas hasil pembakaran setelah melewati superheater, untuk

memanaskan air pengisi sebelum masuk ke main drum. Pemanasan air ini
13

dilakukan agar perbedaan temperatur antara air pengisi dan air yang ada dalam

steam drum tidak terlalu tinggi, sehingga tidak terjadi thermal stress (tegangan

yang terjadi karena adanya pemanasan) didalam main drum.

7. Sootblower

Sootblower merupakan peralatan tambahan boiler yang berfungsi

untuk membersihkan kotoran yang dihasilkan dari proses pembakaran yang

menempel pada pipa-pipa wall tube, seperheater, reheater, economizer, dan air

heater. Tujuannya adalah agar perpindahan panas tetap berlangsung secara baik

dan efektif. Sebagai media pembersih digunakan uap. Suplai uap ini diambil

dari primary superheater melalui suatu pengaturan tekanan PVC yang diset

pada tekanan 40 kg/cm2. Setiap sootblower dilengkapi dengan poppet valve

untuk mengatur kebutuhan uap sootblower. Katup ini terbuka saat sootblower

dioperasikan dan menutup kembali saat lance tube dari sootblower tersebut

mundur menuju stop.

Dilihat dari mekanisme/cara kerja nya pengoperasiannya sootblower di bagi

atas:

a. Short Retractable Sootblower/Furnace Wall Blower, digunakan untuk

membersihkan pipa-pipa penguap (wall tube) pada daerah furnace.

b. Long Retractable Sootblower, digunakan untuk membersihkan pipa-pipa

superheater, dan reheater.

c. Air Heater Sootblower, digunakan untuk membersihkan elemen-elemen

Air Heater.
14

8. Safety Valve

Safety valve berfungsi sebagai pengaman ketika terjadi tekanan uap

yang berlebih yang dihasilkan oleh boiler. Tekanan berlebih ini dapat terjadi

karena panas boiler yang berlebihan atau adanya penurunan beban turbin secara

drastis.

9. Gelas Penduga

Gelas penduga dipasang pada drum bagian atas yang berfungsi untuk

mengetahui ketinggian air didalam drum. Tujuannya adalah untuk

memudahkan pengontrolan ketinggian air dalam ketel selama boiler sedang

beroperasi. Gelas penduga ini dicuci secara berkala untuk menghindari

terjadinya penyumbatan yang membuat level air tidak dapat dibaca.

10. Burner

Sebagai penyuplai HSD untuk bahan bakar penyala awal dan

pembakaran awal pada saat proses start-up boiler. Setelah penyuplai bakar

bakar utama (coal feeder) telah beroperasi secara normal maka operasi burner

sudah bisa di stop.

11. Force Draft Fan

Force Darft Fan (FD Fan) yaitu sebuah kipas yang berfungsi

menghasilkan udara untuk proses pembakaran (firing). Udara disekitar

pembangkit dihisap menuju ke furnace, tetapi sebelumnya udara dipanaskan

terlebih dahulu menggunakan heater yang dihasilkan dari flue gas (gas buang).

Hal ini bertujuan meningkatkan efektifitas proses pembakaran.


15

12. Air Preheater

Air preheater yaitu sebuah kipas yang berfungsi menghisap gas buang

(flue gas) dari proses pembakaran (furnace) dimana kipas ini menghisap

temperatur panas dari flue gas untuk digunakan sebagai media pemanas udara

FDF dan PAF.

13. Coal Feeder

Coal Feeder adalah alat yang berfugsi untuk mengatur jumlah bahan

bakar pada boiler. Coal feeder juga berfungsi mengatur jumlah batubara yang

keluar dari coal bunker menuju ke tahap selanjutnya yaitu tahap penghalusan

(coal mill), dan selanjutnya akan menuju ke ruang bakar.

14. Coal Mill

Coal mill berfungsi untuk menghaluskan batubara sebelum menuju ke

ruang pembakaran (furnace) pada boiler. Hal ini dilakukan agar memudahkan

proses pembakaran (firing) pada furnace dan menghasilkan panas yang efektif.

Pada coal mill batubara dihaluskan sampai 200 mess. Dimana 1 cm2 terdapat

200 lobang dengan kehalusan mencapai 75%.

15. Primary Air Fan

Primary Air Fan yaitu kipas yang berfungsi mendorong batubara yang

telah dihaluskan oleh mill menuju ke ruang pembakaran (furnace). Udara yang

dihasilkan PA Fan bertemperatur panas dikarenakan udara melewati air

preheater yang memanfaatkan gas buang dari proses furnace. Hal ini dilakukan

agar batubara mudah di bakar ketika proses fiting di boiler


16

16. Slag cooler

Berfungsi untuk membuang bottom ash dari furnace dengan cara

didinginkan sebelum dibuang ke Bottom Ash Silo.

17. Induced Draft Fan

Indust Draft Fan berfungsi untuk menghisap gas sisa pembakaran (flue

gas) dari boiler menuju cerobong (stack) dan menjaga tekanan pada boiler,

sekaligus membuat tekanan boiler menjadi minus/vacum.

2.4 Siklus Rankine

Siklus rankine merupakan siklus standard untuk pembangkit daya yang

menggunakan tenaga uap. Siklus rankine nyata yang digunakan dalam instalasi

pembangkit daya jauh lebih rumit dari pada siklus rankine ideal asli yang

sederhana. Siklus rankine juga disebut siklus uap-cair, siklus ini biasanya

digambarkan pada kedua diagram, yaitu P-V dan T-S dengan garis-garis yang

menunjukkan uap jenuh dan cairan jenuh. Fluida kerjanya biasanya adalah H2O,

tetapi tidak harus menggunakan fluida tersebut (El-wakil, 1992).

Gambar 2.3 Diagram T-s Siklus Rankine Sistem Reheater


(Sumber: www.artikelteknologi.com)
17

Gambar 2.4 Diagram Alir Siklus Rankine Sistem Reheater


(Sumber: www.artikelteknologi.com)

2.5 Sistem Boiler

Boiler pulverized coal PLTU supercritical and reheater steam memiliki

beberapa sistem yaitu:

Feedwater and
economizer
Steam heating Superheater
system system

Water Drainage Reaheating


system steam system

Periodic Main system Flue gas


blowdown system system
of boiler

Countinous Secondary air


blowdown system system

Boiler blowdown Primary air


and water drainage system
Pulverized
coal system

Gambar: 2.5 Sistem boiler coal pulveriver PLTU


(Sumber: boiler operation manual PLTU)
18

Adapun penjelasan tentang sistem boiler PLTU dapat diuraikan sebagai

berikut:

2.5.1 Feedwater and economizer system

Feedwater and economizer system adalah sistem dimana aliran air umpan

pertama menuju ke header inlet, kemudian menuju ke economizer melalui 4 rute.

Setelah dipanaskan, air umpan akan masuk ke dalam empat header intermediet

yang dipasang di bagian atas bundel pipa economizer, dan kemudian menuju ke

header atas melalui pipa gantung, akhirnya dialirkan ke drum melalui 16 pipa

penghubung.

Sistem ini dapat memasok air pada tekanan dan suhu tertentu ke boiler,

yang memenuhi persyaratan sirkulasi uap & air. Menjadi terdeoksidasi dalam

deaerator, ditekan oleh pompa air umpan dan dipanaskan oleh pemanas HP, dan

diatur dengan mengatur katup, air umpan ini mengalir ke economizer, di mana ia

dipanaskan oleh gas buang dan akhirnya mengalir ke drum uap untuk memasok air

untuk pipa-pipa pemanas yang ada pada boiler untuk menghasilkan uap.

2.5.2 Superheater system

Superheater system adalah sistem dimana uap berasal dari drum uap, uap

ini berupa uap jenuh yang akan dijadikan steam di superheater sistem. Adapun

aliran uap di superheater system adalah dimana aliran pertama melewati dari roof

superheater, kemudian ke enclosure wall superheater, kemudian ke low

temperature superheater, kemudian ke large platen superheater kemudian ke

primary desuperheater, kemudian ke platen superheater kemudian ke secondary


19

desuperheater, kemudian ke high temperature superheater dan akhirnya menuju ke

pipa outlet uap utama pembangkit listrik.

2.5.3 Reheating steam system

Reheating steam system adalah sistem pemanasan ulang kembali uap

dimana uap dari turbin HP mengalir ke header inlet boiler suhu rendah pemanas.

Setelah dipanaskan oleh reheater temperatur rendah dan reheater temperatur tinggi,

kemudian uap tersebut menuju lagi ke dalam turbin IP.

2.5.4 Flue gas system

Flue gas system adalah sistem pembakaran boiler, sistem ini terdiri dari

peralatan berikut: PA fan yang memberi tekanan untuk memanaskan dan

mentransfer udara dingin ke pulverizer batubara dan furnace, FD fan yang

memberikan tekanan di dalam furnace sehingga proses pembakaran batubara

menjadi balance, ID fan adalah kipas yang membuang gas buang dari pembakaran

batubara ke cerobong setelah dimurnikan.

2.5.5 Sekondary air system

Sistem ini hanya digunakan untuk pembakaran. Udara FD fan

menggunakan draf udara luar, udara dipanaskan hingga 378 ̊C. Udara panas dari

pemanas udara APH kemudian dimampatkan ke dalam kotak angin sekunder di dua

sisi boiler.
20

2.5.6 Primary air system

Primary air system adalah sistem yang berfungsi untuk mengeringkan dan

menghancurkan batu bara yang sudah dihaluskan. Pa fan memasok udara yang

sudah dipanaskan oleh APH ke pulverizer batubara dan mendorong udara ke dalam

furnace. PA fan yang digunakan adalah tipe sentrifugal, yang secara otomatis

mengatur aliran udara dan tekanan melalui peredam bukaan saluran masuk.

2.5.7 Pulverized coal system

Pulverizer coal system adalah sitem penggilingan batubara untuk

pembakaran yang lebih sempurna, Setiap pulverizer dilengkapi dengan satu

pengumpan batu bara dan satu bunker batubara. Ada lima sistem penghancur

batubara untuk setiap boiler. Empat pulverizer yang beroperasi bersama dan satu

siaga, hal ini dilakukan agar dapat memenuhi persyaratan peringkat maksimum

boiler terus menerus.

2.5.8 Boiler blowdown and water drainage system

Boiler blowdown and water drainage system adalah sistem yang

digunakan untuk memastikan dan meningkatkan kualitas air secara berkala dan

terus menerus mengalirkan air yang bersirkulasi. Sistem drainase intermiten terdiri

dari tangki flash blowdown intermiten dan pipa drainase intermiten pada header

bawah tabung air.


21

2.5.9 Continuous blowdown system

Continuous blowdown system adalah sistem dimana ketika kualitas air

boiler tidak dapat memenuhi standar, drum uap terus menerus mengalirkan air

boiler tertentu ke dalam continuous blowdown flash tank. Setelah pemisahan uap

dan air, uap akan dikirim ke deaerator, dan drainase akan dikirim ke tangki flash

blowdown intermiten boiler.

2.5.10 Periodic blowdown system

Periodic blowdown system adalah sistem blowdown menurut waktu yang

diatur atau kualitas air boiler secara tidak teratur debit air boiler dengan kotoran di

header bawah boiler. Air boiler ini langsung dibuang ke dalam tangki flash

blowdown intermittent. Setelah itu akan dibuang ke atmosfer setelah dipisahkan.

2.5.11 Water drainage system

Water drainage system adalah sistem dimana selama startup dan shutdown

drainase dan air yang dibuang di setiap header dikumpulkan ke dalam satu pipa

utama dan kemudian disatukan ke dalam blowdown intermiten boiler.

2.5.12 Steam heating system

Steam heating system adalah sistem dimana ia dapat memanaskan air

boiler, mempersingkat waktu startup dari boiler dan menghemat bahan bakar

minyak.
22

2.6 Perpindahan Panas Pada Boiler

Perpindahan panas pada boiler terbagi tiga yaitu : Perpindahan Panas

Secara Pancaran (radiation), Perpindahan Panas Secara Aliran (convection), dan

Perpindahan Panas Secara Rambatan (conduction).

2.6.1 Perpindahan panas scara pancaran (radiation)

Perpindahan panas secara radiasi adalah perpindahan panas antara suatu

benda ke benda yang lain melalui gelombang-gelombang elektromagnetik tidak

tergantung pada ada atau tidak adanya media diantara benda yang menerima

pancaran panas tersebut.

Molekul-molekul api yang merupakan hasil pembakaran bahan bakar dan

udara akan menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan elektromagnetis

terhadap media yang disebut aether (materi bayangan tanpa bobot yang mengisi

ruangan). Sebagian panas yang timbul dari hasil pembakaran tersebut diteruskan

ke aether yang kemudian diteruskan kepada bidang yang akan dipanasi yaitu

dinding atau pipa ketel.

2.6.2 Perpindahan panas secara aliran (convection)

Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan panas yang

dilakukan oleh molekul-molekul suatu fluida (cair maupun gas). Molekul-molekul

fluida tersebut dalam gerakannya melayang-layang kesana kemari membawa

sejumlah panas masing- masing q joule. Pada saat molekul fluida tersebut

menyentuh dinding atau pipa ketel maka panasnya dibagikan sebagian kepada

dinding atau pipa ketel, sedangkan sebagian lagi dibawa molekul pergi.
23

Gerakan-gerakan molekul yang melayang-layang tersebut disebabkan

karena perbedaan temperatur didalam fluida itu sendiri. Dalam gerakannya,

molekul-molekul api tersebut tidak perlu melalui lintasan yang lurus untuk

mencapai dinding bidang yang dipanaskan

2.6.3 Perpindahan panas secara rambatan (conduction)

Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan panas dari suatu

bagian benda padat kebagian lain dari benda padat yang sama atau dari benda

padat yang satu kebenda padat yang lain karena terjadinya persinggungan fisik

(kontak fisik atau menempel) tanpa terjadinya perpindahan panas molekul-

molekul dari benda padat itu sendiri.

Didalam dinding ketel, panas akan dirambatkan oleh molekul-molekul

dinding ketel sebelah dalam yang berbatasan dengan api, menuju ke molekul-

molekul dinding ketel sebelah luar yang berbatasan dengan air. Perambatan

tersebut menempuh jarak terpendek.

2.7 Performa Boiler

Kinerja boiler (performa boiler), seperti efisiensi dan rasio penguapan

berkurang seiring berjalannya waktu, karena pembakaran yang tidak sempurna,

pengupasan perpindahan panas dan operasi dan perawatan yang kurang baik.

Menurunnya kualitas bahan bakar dan kualitas air juga menyebabkan kinerja boiler

menjadi menurun. Uji efisiensi membantu kita untuk mengetahui sejauh mana

efisiensi boiler berkurang dari efisiensi terbaiknya. Setiap penyimpangan abnormal


24

yang diamati dapat diselidiki untuk menentukan area masalah untuk tindakan

perbaikan yang diperlukan. Oleh karena itu perlu untuk mengetahui tingkat efisiensi

saat ini untuk evaluasi kinerja, yang merupakan persyaratan untuk tindakan

konservasi energi di industri.

2.8 Efisiensi Boiler

PLTU adalah Unit Pembangkit Termal yang merupakan suatu sistem yang

terdiri dari berbagai komponen-komponen seperti : boiler, turbin, generator dan

alat-alat bantu lainnya. Masing-masing komponen memiliki besaran efisiensi

turbin dengan turbinnya, generator dengan efisiensi generator dan demikian pula

dengan alat-alat bantu lainnya. Bila efisiensi dari masing-masing komponen

tersebut dikombinasikan, maka akan diperoleh efisiensi keseluruhan dari sistem

PLTU. Efisiensi menyeluruh ini dapat ditemukan melalui persamaan berikut:

ηm = ηth + ηk + ηt + ηg + ηa

Keterangan :

ηm : Efisiensi keseluruhan PLTU


Ηth : Efisiensi Thermal

ηk : Efisiensi Ketel

ηt : Efisiensi Turbin

ηg : Efisiensi Generator

ηa : Efsiensi Alat bantu


25

Efisiensi PLTU tidak lepas dari peran boiler yang merupakan komponen

utama yang terdapat dalam PLTU sehingga tingkat unjuk kerja (efisiensi) boiler

harus selalu dipantau sehingga memperoleh untuk kerja yang maksimal untuk

meningkatkan effisiensi PLTU sendiri. Menurut ASME PTC 4.1 untuk

menghitung effisiensi Boiler dapat diperoleh dengan dua metode yaitu dengan

metode tidak langsung (indirect) dan metode langsung (direct).

2.8.1 Perhitungan efisiensi dengan metode langsung (direct method)

Energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam) dibandingkan dengan

energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler.

Metode ini dikenal juga sebagai metode ‘ input-output’ karena kenyataan bahwa

metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input

(bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Berikut ilustrasi gambar 2.6

Gambar. 2.6 Skema Direct Method.


Sumber : Buerau, Energy Efficiency, 2005
26

Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:

𝑸 𝒙 (𝑯−𝒉)𝒙 𝟏𝟎𝟎
Efisiensi boiler ƞ = (2.1)
(𝒒 𝒙 𝑮𝑪𝑽)

Keterangan: Q = Jumlah uap yang dihasilkan per jam (kg/jam)

q = Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (kg/jam)

GCV = Nilai kalor bruto dari bahan bakar (kCal/kg)

H = Entalpi uap (kCal/kg)

h = Entalpi air umpan (kCal/kg)

2.8.2 Perhitungan efisiensi dengan metode tidak langsung (indirect method)

Perhitungan efesiensi dengan metode tidak langsung (indirect)

merupakan perhitungan efisiensi Boiler yang menggunakan perbandingan antara

kehilangan energi dengan energi yang masuk sesuai ilustrasi pada gambar 2.7

Gambar. 2.7 Skema Indirect Method.


(Sumber : Buerau, Energy Efficiency, 2005)
27

Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:

Boiler efisiensi ƞ = 100 - (L1+L2+L3+L4+L5+L6+L7+L8) (2.2)

Keterangan: L1 = kehilangan gas buang kering

L2 = kerugian akibat hidrogen di bahan bakar

L3 = Kerugian akibat Kelembaban pada bahan bakar

L4 = Kerugian akibat kelembaban di udara

L5 = Pembakaran sebagian C ke CO

L6 = Kehilangan panas permukaan

L7 = Kerugian karena tidak terbakar pada abu terbang

L8 = Kerugian karena tidak terbakar di dasar abu

2.8.3 Perhitungan efisiensi boiler coal pulverizer menggunakan metode tidak

langsung

Perhitungan efisiensi boiler coal pulverizer dengan menggunakan metode

tidak langsung adalah menghitung heat loss yang terjadi sesuai dengan standar

ASME PTC 4.1, adapun rumus yang digunakan untuk menghitung effisiensi boiler

adalah sebagai berikut.

 Perhitungan enthalpy

Tabel 2.1 Perhitungan enthalpy

Parameter Simbol Satuan Rumus

Enthalphy of dry air at AH inlet air Dry Air, Fig 5-19-1 ASME PTC 4
HDA kJ/kg
(average) 1998
Enthalphy of dry vapor at AH inlet air Water Vapor, Fig 5-19-2 ASME
HWv kJ/kg
(average) PTC 4 1998
28

Enthalphy of dry gas at AH outlet gas Dry Air, Fig 5-19-1 ASME PTC 4
HDFgLvCr kJ/kg
(corrected=Excluding Leakage) 1999

Enthalphy of water vapor at AH Water Vapor, Fig 5-19-2 ASME


outlet gas (corrected=Excluding HWvLvCr kJ/kg
PTC 4 1999
Leakage)

Enthalphy of dry gas at AH outlet gas Dry Gas, Fig 5-19-3 ASME PTC 4
HDFgLv kJ/kg
(corrected=Including Leakage) 1998

Enthalphy of dry air at AH outlet gas Water Vapor, Fig 5-19-2 ASME
HDAFgLv kJ/kg
(corrected=Including Leakage) PTC 4 1998

Enthalphy of water vapor at AH Water Vapor, Fig 5-19-2 ASME


outlet gas (corrected=Including HWvLv kJ/kg
PTC 4 1998
Leakage)
From [TFgLvCr] and Enthalphy
Enthalphy of steam at AH outlet gas HstLvCr kJ/kg
calculation
Enthalphy of water at reference
Hw kJ/kg ([Tre (o F) ]- 32 )* 2,326
temperature

Enthalphy of water vapour at From [Tre] and Enthalphy


Hwv kJ/kg
reference temperature calculation
Enthalphy of Fly Ash at Average Fly
HCba kJ/kg [TFgLv]/[HDFgLv]
Ash Temperature

Keterangan:

TFgLvCr= AH outlet gas temperature (corrected = excluding leakage)

Tre= Reference temperature = 30,0 oC (AH inlet temperature)

TFgLv= AH Outlet gas temperature (uncorrected = including leakage)

 Perhitungan AH inlet gas

Tabel 2.2 Perhitungan AH inlet gas

Parameter Simbol Rumus


11.51 x [MpCb] / 100 + 4.31 x [MpSF] /
Theoretical air MFrThACr kg/kg-f 100 + 34.3 x [MpH2F] / 100 - 4.32 x
[MpO2F] / 100
Moles of theoretical air
MoThACr kmol/kg-f [MFrThACr] / 28,966
at AH inlet
29

Moles of dry products


[MpCb] / 100 / 12.011 + [MpSF] / 100 /
from the combustion of MoDPc kmol/kg-f
32.066 + [MpN2F] / 100 / 28.013
fuel

100 x {[DVp02] x ([MoDPc] + 0.7905 x


Excess air XpA % [MoThACr]) / {[MoThACr] x (20.95 -
[DVp02])}

Dry air MFrDA kg/kg-f (1 + [XpA] / 100) x [MFrThACr]

Moisture from the


combustion of hydrogen MFrWH2F kg/kg-f 8.937x([MpH2F]/100)
in the fuel

Moisture from water in


MFrWF kg/kg-f [MpWF]/100
fuel

Moisture in air MFrWA kg/kg-f [MFrWDA]x[MFrDA]

Moisture in AH inlet gas MFrWFg kg/kg-f [MFrWH2F]+[MFrWF]+[MFrWA]

Wet gas from fuel MFrFgF kg/kg-f 1-[MpAsF]/100-[MpUbC]/100

Wet gas at AH inlet MFrFg kg/kg-f [MFrDA]+[MFrWA]+[MFrFgF]

Dry gas MFrDFg kg/kg-f [MFrFg]-[MFrWFg]

Keterangan:

MpCb= Carbon burned content DVp02= AH inlet 02 in dry flue gas

MpSF= Sulfur content MpWF= Moisture content

MpH2F= Hydrogen content MFrWDA= Absolute humidity

MpO2F= Oxygen content MpAsF= Ash content

MpN2F= Nitrogen content MpUbC= Unburn carbon in fuel


30

 Perhitungan AH outlet gas

Tabel 2.3 Perhitungan AH oulet gas

Parameter Simbol Satuan Rumus

100 x ([DVp02Lv] x [MoDPc] +


Excess air XpALv % 0.7905 x [MoThACr]) / {[MoThACr]
x (20.95-[DVp02Lv])}

Dry air MFrDALv kg/kg-f (1+[XpALv]/100)x[MFrThACr]

AH leakage dry air MFrDAL kg/kg-f [MFrDALv]-[MFrDA]

AH leakage wet air MFrWAL kg/kg-f [MFrDAL]x([MFrWDA]+1)

AH outlet wet gas MFrFGLv kg/kg-f [MFrWAL]+[MFrFg]

Keterangan:

DVp02Lv= AH Outlet 02 in dry flue gas

 Perhitungan AH outlet gas temperature (Corrected)

Tabel 2.4 Perhitungan AH outlet gas temperature (Corrected)

Mean specific heat of


MnCpA kJ/kg/°C ([HATFgLv]-[HAEn])/([TFgLv]-[Taen])
wet air
Mean specific heat of ([HFgLvCr] - [HFgLv]) / ([TFgLvCr] -
MnCpFg kJ/kg/°C
wet gas [TFgLv])

Enthalpy of AH outlet (1-[MFrWFgLvCr]) x [HDFgLvCr] +


HFgLvCr kJ/kg
wet gas (corrected) [MFrWFgLvCr] x [HWvLvCr]

Enthalpy of AH outlet (1-[MgFrWFgLv]) x [HDFgLv] +


HFgLv kJ/kg
wet gas (uncorrected) [MgFrWFgLv] x [HWvLv]
Moisture in AH outlet
MFrWFgLv kg/kg-f [MFrWFg] + [MFrDAL] x [MFrWDA]
gas
AH outlet total moisture
MFrWFgLvCr kg/kg [MFrWFg] / [MFrFg]
in gas (corrected)
AH outlet total moisture
MgFrWFgLv kg/kg [MFrWFgLv] / [MFrFGLv]
in gas(uncorrected)
Enthalpy of wet air of AH (1-[MFrWA]) x [HDAFgLv] + [MFrWA] x
HATFgLv kg/kg
outlet gas [HWvLv]
31

Enthalpy of AH inlet wet (1-[MFrWA]) x [HDA] + [MFrWA] x


HAEn kg/kg
air [HWv]
Moisture in AH inlet wet
MFrWA kg/kg [MFrWDA] / (1+[MFrWDA])
air
Secondary air flow ratio XpFrA2 % Design value
Primary air flow ratio XpFrA1h % Design value

Keterangan:

Taen= AH Inlet air mean temperature

 Perhitungan heat loss

a. Heat loss due to heat in dry flue gas (L1)

Rumus:

L1= HDFgLvCr x MFrDFg (2.3)

HHV= L1 / Hf x 100

LHV= L1 / Hfl x 100

Keterangan:

L1= Heat Loss due to heat in dry flue gas (kJ/kg-f)

HHV= Higher heating value (%)

LHV= Lower heating value (%)

HDFgLvCr= Enthalphy of dry gas at AH outlet gas corrected including

leakage (KJ/Kg)

MFrDFg= Dry gas (Kg/Kg-f)

Hf= Higher heating value (kJ/kg-f) (GCV of coal)

Hfl= Lower heating value (kJ/kg-f) (GCV of coal)


32

b. Heat loss due to moisture in fuel (L2)

Rumus:

L2= MFrWF x HstLvCr – Hw (2.4)

L2l= MFrWF x HstLvCr - Hwv

HHV= L2 / Hf x 100

LHV= L2l / Hfl x 100

Keterangan:

L2= Heat loss due to moisture in fuel HHV basis (kJ/kg-f)

L2= Heat loss due to moisture in fuel LHV basis (kJ/kg-f)

MFrWF= Moisture from water in fuel (kg/kg-f)

HstLvCr= Enthalphy of steam at AH outlet gas (kJ/kg)

Hw= Enthalphy of water at reference temperature (kJ/kg)

Hwv= Enthalphy of water vapour at reference temperature (kJ/kg)

c. Heat loss due to moisture from burning of hydrogen in fuel (L3)

Rumus:

L3= MfrWH2F x HstLvCr – Hw (2.5)

L3l= MfrWH2F x HstLvCr – Hwv

HHV= L3 / Hf x 100

LHV= L3l / Hfl x 100

Keterangan:
33

L3= Heat loss due to moisture from burning of hydrogen in fuel HHV Basis

(kJ/kg-f)

L3l= Heat loss due to moisture from burning of hydrogen in fuel LHV Basis

(kJ/kg-f)

MfrWH2F= Moisture from the combustion of hydrogen in the fuel

(kg/kg-f)

a. Heat loss due to moisture in air (L4)

Rumus:

L4= MFrWA x HWvLvCr (2.6)

HHV= L4 / Hf x 100

LHV= L4 / Hfl x 100

Keterangan:

L4= Heat loss due to moisture in air (kJ/kg-f)

MFrWA= Moisture in air (kg/kg-f)

HWvLvCr= Enthalphy of water vapor at AH outlet gas corrected excluding

leakage (kJ/kg)

b. Heat loss due to combustible in refuse (L5)

Rumus:

L5= MpUbC / 100 x 33700 (2.7)

HHV= L5 / Hf x 100

LHV= L5 / Hfl x 100


34

Keterangan:

L5= Heat loss due to combustible in refuse (kJ/kg-f)

MpUbC= Unburn carbon in fuel (wt%)

c. Heat loss due to surface radiation and convection (L6)

Rumus:

L6= From ABMA Chart (2.8)

Keterangan:

L6= Heat loss due to surface radiation and convection (%)

ABMA Chart= Maximum continuous output BMCR design (x106 Btu/h)

d. Heat loss due to unmeasured losses (L7)

Rumus:

L7= HHV x Hf / 100 (2.8)

L7l= LHVx Hfl / 100

Keterangan:

L7= Heat loss due to unmeasured losses (% fuel input HHV)

L7l= Heat loss due to unmeasured losses (% fuel input LHV)

HHV= Design from manufactur boiler

LHV= Design from manufactur boiler

e. Heat loss due to sensible heat in fly ash (L8)

Rumus:
35

L8= 0,9 x MFrR x HCba x TFgLv – Tre (2.10)

HHV= L8 / Hf x 100

LHV= L8 / Hfl x 100

Keterangan:

L8= Heat loss due to sensible heat in fly ash (kJ/kg-f)

MFrR= Mass of residue (kg/kg-f)

HCba= Enthalphy of fly ash at average fly ash temperature (kJ/kg)

TFgLv= AH outlet gas temperature uncorrected including leakage (0C)

Tre= Reference temperature AH inlet (0C)

 Perhiungan heat credit

Rumus:

B1= QqBDA + QqBWA + QqBF (2.11)

Keterangan:

QqBDA= Entering air heat credit (kJ/kg-f)

QqBWA= Moisture entering with inlet air heat credit (kJ/kg-f)

QqBF= Sensible heat in fuel heat credit (kJ/kg-f)

 Perhitungan power consumption of pulverizer/ forced draft fan/ primary air

fan/ coal feeder

Rumus:

B2= [QXA Pulverizer] + [QXB Pulverizer] + [QXC Pulverizer] + [QXD

Pulverizer] + [QXE Pulverizer] + [QXA AH] + [QXB AH] (2.12)


36

Keterangan:

QXA Pulverizer= A-Pulverizer power consumption

QXB Pulverizer= B-Pulverizer power consumption

QXC Pulverizer= C-Pulverizer power consumption

QXD Pulverizer= D-Pulverizer power consumption

QXE Pulverizer= E-Pulverizer power consumption

QXA AH= A-AH power consumption

QXB AH= B-AH power consumption

 Perhitungan boiler heat output

Rumus:

Qro= Hvp x Wvp - Haalim x Waalim - Hss x Wss + Wvrec x Hrc-Hrf + Wrs

x Hrc – Hrs (2.13)

Keterangan:

Hvp= SH outlet steam enthalpy (kJ/kg)

Wvp= Main steam flow (kg/h)

Haalim= ECO inlet water enthalpy (kJ/kg)

Waalim= ECO inlet water flow (kg/h)

Hss= SH spray water enthalpy (kJ/kg)

Wss= SH spray water flow (kg/h)

Wvrec= Reheat steam flow (kg/h)

Hrc= RH outlet steam enthalpy (kJ/kg)

Hrf= RH inlet steam enthalpy (kJ/kg)


37

Wrs= RH spray water flow (kg/h)

Hrs= RH spray water enthalpy (kJ/kg)

 Perhitungan efisiensi boiler

a. Boiler Fuel Efficiency (HHV Basis)

Rumus:

ηBf (HHV)= (100 ({[L1] + [L2] + [L3] + [L4] + [L5] [B1]} / [Hf] x 100 +

[L6] + [L7])) x {[Qro] / ([Qro] - [B2])} (2.14)

b. Boiler Fuel Efficiency (LHV Basis)

Rumus:

ηBf (LHV)= (100 ({[L1] + [L2] + [L3] + [L4] + [L5] [B1]} / [HfL] x 100 +

[L6] + [L7])) x {[Qro] / ([Qro] - [B2])} (2.15)

c. Boiler Gross Efficiency (HHV Basis)

Rumus:

ηBg (HHV)= (100 - (({[L1] + [L2] + [L3] + [L4] + [L5] + [L8]} / ([Hf] +

[B1]) x 100) + [L6] + [L7])) x {[Qro] / ([Qro] – [B2])}

(2.16)

d. Boiler Gross Efficiency (LHV Basis)

Rumus:
38

ηBg (LHV)= (100 - (({[L1] + [L2l] + [L3l] + [L4] + [L5] + [L8]} / ([HfL]

+ [B1]) x 100) + [L6l] + [L7l])) x {[Qro] / ([Qro] -

[B2])} (2.17)

Keterangan: L1= Heat Loss due to heat dry gas

L2= Heat loss due to moisture in fuel

L3= Heat loss due to moisture from burning of hydrogen in fuel

L4= Heat loss due to moisture in air

L5= Heat loss due to combustible in refuse

L6= Heat Loss due to Surface Radiation and Convection

L7= Heat loss due to Unmeasured Losses

L8= Heat loss due to sensible heat in fly ash

Hf= Higher Heating Value

HfL= Lower Heating Value

B1= Total heat credit

B2= Total power consumption

Qro= Boiler heat output