Anda di halaman 1dari 10

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :
Nama : Bagus Saputra
NIM : B1A016122
Rombongan : VI
Kelompok :5
Asisten : Dian Krisna Arifiani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem endokrin mengatur aktivitas-aktivitas yang lebih memerlukan


durasi waktu dari pada kecepatan. Kelenjar endokrin mengluarkan hormon,
pembawa pesan kimiawi dalam darah yang bekerja pada sel sasaran yang terletak
jauh dari kelenjar endokrin itu sendiri. Kelenjar hipofisis atau pituitary gland
adalah kelenjar endokrin kecil yang terletak di rongga tulang di dasar otak tepat di
bawah hipotalamus. Salah satu hormon yang disekresi kelenjar hipofisis adalah
gona dotropin yang secara kolektif terdiri dari LH (Luteinizing Hormone) dan
FSH (Follicle Stimulating Hormone) (Sherwood, 2011).
Secara alami perkembangbiakan banyak bergantung kepada kesiapan
induk yang matang gonad dan biasanya terjadi pada musim-musim tertentu saja.
Banyak jenis hormon yang dapat digunakan untuk merangsang perkembangan
gonad, namun setiap jenis hormon mempunyai dosis yang berbeda bergantung
kepada tingkat kematangan. Oleh karena itu kajian yang mengarah pada aspek
reproduksi seperti halnya manipulasi hormonal merupakan salah satu alternatif
dalam menunjang teknologi pembenihan (Aziz & Kalesaran, 2017)
Kegiatan budidaya dan pembenihan ikan di dalamnya terdapat beberapa
jenis ikan yang tidak mampu memijah secara spontan atau tidak memiliki waktu
memijah tertentu. Hal ini berkaitan dengan kondisi ikan di dalam kolam
budidaya yang tidak cukup mendapat stimulasi bagi berfungsinya kelenjar
endokrin reproduksi. Ikan-ikan tersebut membutuhkan induktor hormon dari
eksternal untuk menambah kecukupan LHRH-nya (Najmiyati et al., 2006).
Hipofisasi adalah menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis (donor) untuk
menginduksi kematangan gonad, ovulasi, dan spermiasi. Teknik hipofisasi
dilakukan untuk meningkatkan kadar hormon LH pada ikan yang kadarnya
tidak cukup menghasilkan kematangan gonad tingkat akhir dan ovulasi pada
betina. Ikan resipien ini membutuhkan donor ikan yang harus dimatikan untuk
memperoleh kelenjar hipofisis, sehingga salah satu kelemahan teknik hipofisasi
adalah membutuhkan donor kelenjar hipofisis dari ikan lain (Najmiyati et al.,
2006).
B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk merangsang ikan untuk ovulasi
dengan induksi kelenjar hipofisis.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah disecting


set, spuit volume 1 cc dan 5 cc, gelas piala, tabung Eppendorf, stereofoam,
ember plastik, cawan arloji, sentrifugator, pisau besar dan kecil, dan akuarium.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuabidest,
ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nilem (Osteochilus vittatus).

B. Cara Kerja

1. Ikan nilem diaklimatisasi selama 3 sampai 4 hari.


2. Ikan mas matang kelamin diletakkan di atas stereofoam lalu dipotong
kepalanya sampai putus tepat di belakang operkulum.
3. Kepala ikan mas diletakkan dengan mulut menghadap ke atas lalu dipotong
bagian kepala mulai tepat dari nostril di atas otak sampai putus sehingga
tengkorak kepala terbuka.
4. Kelenjar hipofisis diambil menggunakan pinset.
5. Kelenjar hipofisis dimasukkan ke dalam cawan arloji berisi akuabides 1 cc
lalu digerus sampai lumat. Hasil gerusan tersbeut dimasukkan ke dalam
tabung Eppendorf sebanyak 1,5 cc.
6. Tabung berisi hasil gerusan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
disentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
7. Sebelum diinjeksikan ke ikan nilem, supernatan diambil sebanyak kebutuhan
dosis (1,8 cc) atau rasio (2,1 cc) lalu ditambahkan akuabides sesuai
kebutuhan pengamatan.
8. Kedua ikan tersebut dimasukkan ke dalam bak penampungan yang diberi
aerasi sampai memijah.
9. Waktu yang diperlukan untuk memijah diamati.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Hipofisasi (rasio) Rombongan V

♂/♀ Memijah Tidak Memijah


1:3 - 
1:2 - 

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Hipofisasi (dosis) Rombongan VI

♂/♀ Memijah Tidak Memijah


0,2 cc - 
0,3 cc - 
0,5 cc - 
B. Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 12 jam didapatkan hasil


bahwa setelah penyuntikan ekstra kelenjar hipofisis pada ikan donor dengan cara
penyuntikan intramuskular melalui otot di bawah sirip punggung pada sisik ke
tiga oleh Rombongan III dan Rombongan IV, tidak terjadi pemijahan. Induksi
dilakukan dengan memperhatikan dua variabel, yaitu rasio jantan dan betina dan
dosis dari hipofisasi. Perlakuan hipofisasi dilakukan dengan memberikan dosis 0,4
cc pada ikan nilem jantan untuk Kelompok 5 Rombongan IV. Hal ini disebabkan
karena sebelum terjadi pemijahan dari ikan jantan dan betina, kelenjar yang akan
di induksi sudah pecah terlebih dahulu pada saat pengambilan. Kendati demikian,
pemijahan menurut Suriansyah et al. (2013), dapat dilakukan dengan hipofisasi, di
mana formulasi ekstrak kelenjar hipofisis ikan mas dapat mengendalikan dan
memperpanjang pelepasan hormon dalam tubuh ikan melalui sistem kerja
hipotalamus-gonad. Ikan mas sebagai donor universal dapat memberikan efek
tersebut pada hampir semua jenis ikan, termasuk di dalamnya adalah ikan nilem
(Solomon et al., 2015).
Ikan donor yang diambil kelenjar hipofisis adalah ikan mas yang
ukurannya dua kali lebih besar daripada ikan reseptor yaitu ikan nilem.
Pengambilan kelenjar hipofisis dengan cara membedah pada bagian kepala.
Biasanya ikan mas dengan bobot 1 kg akan memiliki kelenjar hipofisis dengan
ukuran kurang lebih 3 ml. Terdapat jenis ikan yang di mana penyuntikannya
secara bertahap, misalkan pada ikan patin, atau hanya satu kali, misalnya pada
ikan nilem. Jumlah yang disuntikan pada ikan donor dengan syarat dosis adalah
sebanyak 1,8 ml untuk ikan jantan dan ikan betina. Sementara untuk syarat rasio,
disuntikan sebanyak 2,1 ml (Schmidt-Nielsen, 1997).
Teknik hipofisasi merupakan penginduksian stimulan berupa hormon
pituitari pada ikan donor tertentu dengan tujuan meningkatkan produktivitas ikan
reseptor tersebut. Stimulan hormonal umum digunakan dalam bioteknologi
reproduksi untuk meningkatkan produk akuakultur. Misalkan, ovulasi pada ikan
dipicu oleh gonadotropins, yang terdapat pada ekstrak kelenjar hipofisis ikan mas
(sebagai donor) dan juga bentuk analog dari stimulan, misalkan Ovopel (Cejko et
al., 2013). Kegunaan dari fungsi ini antara lain untuk pembiakan hewan yang
belum mengalami ovulasi atau pengeluaran sperma secara alamiah dan
peningkatan efisiensi penggunaan induk dan produksi anakan (Schmidt-Nielsen,
1997).
Teknik hipofisasi dilakukan dengan cara menyuntikkannya pada hewan
reseptor. Sebelum penyuntikan, terlebih dahulu dibuat ekstrak kelenjar hipofisis
dari hewan donor. Kelenjar hipofisis diambil dari tempatnya yaitu pada tulang
sphenoid di sela chelatursica. Setelah dibuat ekstraknya, hewan donor disuntik
dengan ekstrak tersebut dengan ketentuan dosis tertentu. Penyuntikan pada ikan
dilakukan pada otot yang berada di dalam koordinat sisik kelima dihitung dari
sisi dorsal lalu turun ke sisik ketiga dihitung dari sisi anterior ikan. Lokasi
penyuntikan dapat berupa intermuskular (melalui otot dorsal), interkranial
(melalui rongga otak), dan interperitoneal (melalui rongga perut). Lokasi
penyuntikan yang paling umum digunakan adalah pada otot, di mana lokasi ini
jauh lebih aman jika dibandingkan dengan kedua lokasi lainnya yang besar
kemungkinan dapat merusak otak dan usus (Barnabe, 2003).
Pemijahan ikan dapat dibagi berdasarkan tekniknya, yaitu secara alami,
semi intensif, dan intensif. Pemijahan ikan secara alami terjadi tanpa dua faktor
pemijahan, yaitu bantuan manusia dan rangsang hormon. Sementara pemijahan
ikan secara semi intensif dilakukan dengan rangsang hormon, namun tidak
dibantu oleh manusia. Lalu, pemijahan ikan secara intensif dilakukan dengan dua
faktor, yaitu dibantu oleh manusia dan diberikan rangsang hormon (Meske &
Vogt, 1985).
Adapun syarat ikan yang dapat menjadi ikan donor maupun resipien.
Secara umum, syarat dari dua peran tersebut adalah ikan-ikan tersebut merupakan
ikan yang sehat. Namun, untuk ikan donor, ikan tidak harus matang kelamin,
berbeda dengan ikan resipien yang harus matang kelamin dan dipelihara di tempat
budidaya seperti kolam. Berat dari ikan donor harus dua kali lebih besar daripada
ikan resipien dan diketahui untuk menentukan dosis yang tepat. Selain itu, pada
bobot tertentu dapat menentukan matang tidaknya organ seksual, misalkan pada
ikan mas (Solomon et al., 2015). Ikan donor yang digunakan umumnya ikan
donor universal atau berasal dari famili yang sama atau bahkan satu spesies
dengan ikan resipien (Cabrita et al., 2008).
Ciri-ciri dari ikan yang sudah matang kelamin dapat dilihat dari segi
morfologi dan etologi. Ikan jantan dapat dianggap sebagai ikan yang matang
secara seksual apabila tubuhnya ramping, gerakannya gesit, dan jika dilakukan
stripping akan mengeluarkan cairan warna putih atau milt. Sementara untuk ikan
betina, tubuhnya cenderung lebih besar daripada ikan jantan, gerakannya lebih
lambat, dan jika dilakukan stripping akan mengeluarkan cairan warna kuning
yang di dalamnya terdapat telur (Cabrita et al., 2008).
Mekanisme pemijahan ikan dimulai dari adanya sinyal-sinyal berupa
impuls dari lingkungan. Impuls tersebut kemudian diterima oleh sistem pusat
syaraf ikan untuk diteruskan ke hipotalamus. Organ tersebut kemudian melepas
gonad GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) yang akan bekerja pada
hipofisis. Kerja tersebut akan memicu sintesis FSH (Folicle Stimulating
Hormone) dan LH (Lutenezing Hormone). Kedua hormon tersebut merangsang
perkembangan gonad. Sehingga organ seksual dari ikan dapat berkembang, yaitu
testis akan menghasilkan spermatozoa pada ikan jantan dan terjadi ovulasi pada
ikan betina (Rastogi, 2007).
Menurut Nasution (2004), umumnya ikan akan terus menerus memijah
setelah pertama kali matang gonad, namun bergantung kepada daur pemijahannya,
ada yang satu tahun sekali, beberapa kali dalam satu tahun, dan sebagainya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi dan menentukan daur reproduksi antara lain
adalah suhu, oksigen terlarut dalam perairan dan hormon yang berperan dalam
reproduksi yang dapat memacu organ-organ reproduksi untuk berfungsi. Umur
pada awal reproduksi bervariasi terhadap jenis kelamin. Bagi ikan jantan maupun
betina, umur pertama kali memijah bergantung kepada kondisi lingkungan yang
sesuai. Saat lingkungan yang tidak sesuai untuk tumbuh dan mempertahankan
sintasan, ikan-ikan cenderung akan menangguhkan pemijahan, karena akan
menurunkan tingkat pertumbuhan dan sintasan, sehingga reproduksi cenderung
akan berlangsung pada umur lebih muda.
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan


bahwa adalah rangsang ovulasi ikan dengan teknik hipofisasi dapat dilakukan dengan
penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisis ikan donor ke ikan reseptor. Praktikum kali ini
tidak terjadi pemijahan, baik pada perlakuan dosis maupun rasio. Hal ini dapat
disebabkan oleh berbagai faktor seperti suhu, pH, cahaya, pematangan gonad,
makanan, dosis kelenjar hipofisis yang disuntikkan, dan rendahnya hormon gonad.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, E. A. & Kalesaran, O. 2017. Pengaruh ovaprim, aromatase inhibitor, dan


hipofisa terhadap kualitas telur ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).
Budidaya Perairan, 5(1), pp.12-20.

Barnabe, G. 2003. Aquaculture: Biology and Ecology of Cultured Species. New York:
CRC Press.
Cabrita, E., Robies, V., & Herraez, P. 2008. Methods in Reproductive Aquaculture:
Marine and Freshwater Species. New York: CRC Press.
Cejko, B.I., Zarski, D., Krejszeff, S., Kucharczyk, D., & Kowalski, R.K. 2013. Effects
of Hormonal Stimulation on Milt Volume, Number of Sperm, and Sperm
Motility in the Crucian Carp, Carassius carrasius (L.). The Israeli Journal of
Aquaculture, 912(65), pp. 1-7.
Meske, C.P.B. & Vogt, F. 1985. Fish Aquaculture. Den Haag: Elsevier.
Najmiyati, E., Lisyastuti, E., & Hedianto, Y.E. 2006. Biopotensi kelenjar hipofisis
ikan Patin (Pangasius pangasius) setelah penyimpanan kering selama 0, 1, 2, 3,
dan 4 bulan. Jurnal Teknik Lingkungan, 7(3), pp. 311-316.
Nasution, S. H. 2004. Karakteristik Reproduksi Ikan Endemik Rainbow Selebensis
(Telmatherina celebensis Boulenger). Jurnal Makalah Individu S3 IPB, pp. 1-8.
Rastogi, S.C. 2007. Essentials of Animal Physiology. New Delhi: New Age
International.
Schmidt-Nielsen, K. 1997. Animal Physiology: Adaptation and Environment.
Cambridge: Cambridge University Press.
Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: ECG.
Solomon, S.G., Tiamiyu, L.O., Fada, A., & Okomoda, V.T. 2015. Ovaprim Dosage on
the Spawning Performance of Cyprinus carpio. Fishery Technology, 52(2), pp.
213-217.
Suriansyah, Kamil, M.T., Bugar, H. 2013. Efektivitas dan Efisiensi Pemberian
Ekstrak Kelenjar Hipofisa terhadap Pemijahan Ikan Betok (Anabas testudineus
Bloch). Jurnal Ilmu Hewani Tropika, 2(2), pp. 46-51.