Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian sampel
1. Klasifikasi
Alam : Tumbuhan
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Order : Liliales
Keluarga : Cactaceae
Genus : Pereskia
Spesies : P. sacharosa
Nama binomial : Pereskia sacharosa
2. Morfologi Daun Bilah
Pokok renek separa berkayu, bersaiz besar dan boleh tumbuh
sehingga 5 m tinggi sekiranya tidak dicantas. Batang berwarna hijau ketika
muda, bertukar coklat selepas matang, mempunyai 7 batang duri panjang,
halus sperti jarum yang keluar berhampiran tangkai daun. Daun tunggal,
susunan berpilin, bentuk bukur dengan hujung serta pangkalnya tirus,
pucuk muda berwarna kemerahan dan bertukar warna menjadi hijau,
permukaan berkilat, mudah bertunas. Bunga tunggal, bersaiz sederhana
besar, keluar di hujung dahan, banyak kelopak bersusun berlapis-lapis,
berwarna jingga, merah tua atau ungu. Buah sederhana besar, berbentuk
bulat rata di atasnya seakan buah teratai, hijau ketika muda, kuning setelah
tua, mengandungi beberapa biji hitam bersaiz sederhana besar.
3. Kandungan kimia
4. Kegunaan
Dapat mengobati: mulut/gusi bermasalah, perut kembung,
tenggorokan bermasalah, usus/lambung yang bermasalah, darah tinggi,
diabetes, kanker rahim, kanker usus besar, kanker hidung dan kanker
lainnya, ambein, pasca operasi, ginjal, anti racun, infeksi, reumatik ( 10
helai direbus, konsumsi 3 – 4 kali sehari ).

C. Metode Ekstraksi
1. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian dengan cara merendaman serbuk
dalam air atau pelarut organik sampai meresap yang akan melunakkan
susunan sel, sehingga zat-zat yang terkandung di dalamnya akan terlarut
(Mohamad Fajar, et.al. 2011: 56).
Istilah maserasi berasal dari bahasa latin ”macerare” yang artinya
mengairi, melunakkan, merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana.
Bahan jamu yang dihaluskan sesuai dengan syarat farmakope (umumnya
terpotong-potong atau diserbuk kasarkan) disatukan dengan bahan ekstraksi.
Rendaman tersebut disimpan terlindungi dari cahaya langsung (mencegah
reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok kembali.
Waktu maserasi adalah berbedabeda, masing-masing farmakope
mancantumkan 4-10 hari. Namun pada umumnya 5 hari, setelah waktu
tersebut keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel
dengan luar sel telah tercapai. Pengocokan dilakukan agar cepat mendapat
kesetimbangan antara bahan yang diekstraksi dalam bagian sebelah dalam
sel dengan yang masuk ke dalam cairan. Keadaan diam tanpa pengocokan
selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Semakin
besar perbandingan jamu terhadap cairan ekstraksi, akan semakin baik hasil
yang diperoleh (Voight, 1994).

2. Perkolasi

Istilah perkolasi berasal dari kata ‘percolare’ yang artinya penetesan,


merupakan ekstraksi yang dilakukan dengan penetesan cairan penyari dalam
wadah silinder atau kerucut (perkolator), yang memilki jalan masuk dan
keluar. Bahan ekstraksi yang dimasukkan secara kontinyu dari atas mengalir
lambat melintasi simplisia yang umumnya berupa serbuk kasar. Melalui
pembaharuan terus-menerus bahan pelarut berlangsung sesuai suatu
maserasi banyak tingkat. Jika pada maserasi sederhana suatu ekstraksi
sempurna dari simplisia tidak terjadi, karena kesetimbangan konsentrasi
antara larutan dalam sel dengan cairan disekelilingnya dapat diatur, maka
pada perkolasi melalui pemasukan bahan pelarut yang ekstraksi total secara
teoritis adalah mungkin, berkaitan dengan perbedaan konsentrasi pada posisi
yang baru, secara praktek diperoleh sampai 95% bahan yang terekstraksi.
Sebelum perkolasi dilakukan, simplisia terlebih dahulu direndam
menggunakan pelarut dan dibiarkan membengkak agar mempermudah
pelarut masuk ke dalam sel. Namun pembengkakan ini juga dapat
menyebabkan pecahnya wadah itu sendiri. Dalam pengisian simplisia tidak
boleh terdapat ruang rongga. Hal ini akan menggagu keteraturan aliran
cairan dan menyebabkan berkurangnya hasil ekstraksi, namun suatu
pengisian yang kompak dapat menghambat aliran pelarut atau malah
menghentikannya (Voigt, 1994).
Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap
perendaman antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan
perkolat) sampai diperoleh ekstrak (Depkes, 2000). Keuntungan dari metode
perkolasi ini adalah proses penarikan zat berkhasiat dari tumbuhan lebih
sempurna, sedangkan kerugiannya adalah membutuhkan waktu yang lama
dan peralatan yang digunakan mahal (Agoes, 2007: 38-39).
Perkolasi dilakukan dengan cara dibasahkan 10 bagian simplisia dengan
derajat halus yang cocok, menggunakan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan
penyari dimasukkan dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam.
Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator, ditambahkan
cairan penyari. Perkolator ditutup dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran
dibuka dengan kecepatan 1 ml permenit, sehingga simplisia tetap terendam.
Filtrat dipindahkan ke dalam bejana, ditutup dan dibiarkan selama 2 hari
pada tempat terlindung dari cahaya (Dirjen POM, 1986).

3. Sokletasi
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya ekstraksi secara
berkesinambungan. Cairan penyari dipanaskan sampai mendidih. Uap
penyari akan naik melalui pipa samping, kemudian diembunkan lagi oleh
pendingin tegak. Cairan penyari turun untuk menyari zat aktif dalam
simplisia. Selanjutnya bila cairan penyari mencapai sifon, maka seluruh
cairan akan turun ke labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian
seterusnya sampai zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari seluruhnya
yang ditandai jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon (Dirjen POM,
1986).
Prosedur ekstraksi sokletasi
a. Menimbang simplisia kering dan telah dihaluskan lolos ayakan mesh 44
sebanyak kurang lebih 50 gram
b. Membungkus simplisia dengan kertas saring kemudian diikat dengan
tali atau ditutup kapas bebas lemak dan dimasukkan dalam tabung
soxhlet.
c. Memasang alat ekstraksi
d. Menambahkan pelarut yang digunakan
e. Melakukan ekstraksi sebanyak 7 kali sirkulasi selama 2 jam
f. Mengambil sampel yang berada dalam tabung soxhlet denga pinset
g. Melakukan ekstraksi sampai hampir semua pelarut masuk ke dalam
soxhlet, jangan sampai pelarut tumpah. Pelarut yang berada dalam
tabung soxhlet ditampung dalam botol agar dapat digunakan lagi untuk
ekstraksi berikutnya
h. Pelarut yang berada dalam labu, harus benar-benar teruapkan dengan
cara penyulingan hingga pelarut yang digunakan sudah kelihatan jernih.
i. Labu dipanaskan di dalam alat pemanas pada suhu 105-110oC selama 1
jam. Kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh berat
konstan
j. Untuk setiap variable pelarut dilakukan pengulangan 3 kali
(Darmawan, 2009: 285).
4. Refluks
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi
berkesinambungan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan
penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak,
lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap, uap
tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali
menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya. Ekstraksi
ini biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam
(Rusdi, 2013).
5. Destilasi Uap
Metode yang banyak digunakan untuk memisahkan dan memurnikan
senyawa-senyawa organik dalam bentuk cair adalah dengan cara destilasi.
Terdapat tiga teknik destilasi, yang sering digunakan adalah destilasi
sederhana, destilasi uap, dan destilasi fraksi. Destilasi uap didasarkan pada
volatilitas dari beberapa senyawa organik terhadap uap yang terjadi pada
temperatur kurang dari 1000 C (Sastrohamidjojo, 2004 : 203-238).
Destilasi juga bisa dikatakan sebagai suatu metode pemisahan bahan
kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap.
Komponen yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih
dahulu (Wikipedia, 2008). Destilasi juga bisa dikatakan sebagai suatu
metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau
kemudahan menguap. Komponen yang memiliki titik didih lebih rendah
akan menguap terlebih dahulu (Wikipedia, 2008).
Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi
campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan
caramengalirkan uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang dapat
menguap berubahmenjadi uap pada temperatur yang lebih renda (Anonim ).
Prinsip destilasi uap adalah melibatkan kodestilasi campuran air dan
senyawa organik yang mudah menguap dan tidak bercampur dengan air.
Salah satu keuntungan isolasi minyak atsiri dengan menggunakan destilasi
uap diantaranya penetrasi uap ke dalam sel-sel tanaman cukup baik dan
membagi uap lebih merata ke seluruh bagian ketel. Selama proses destilasi
berlangsung, uap air masuk menembus jaringan material dan melarutkan
sebagian minyak yang ada di dalam sel. Uap air menembus dengan cara
osmosis yang mengakibatkan pembengkakan membran dan akhirnya
minyak sampai pada permukaan. Kemudian minyak langsung diuapkan
bersama-sama dengan uap airyang berlangsung terus menerus sampai semua
minyak yang ada di dalam sel keluar
(http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-156-1654965666-bab
%20ii.pdf ).
Bila cairan diwadahi dalam ruang tanpa tutup, cairan akan perlahan
menguap, dan akhirnya habis. Bila ruangnya memiliki tutup dan cairannya
terisolasi, molekulnya kehilangan energinya dengan tumbukan, dsb, dan
energi kinetic beberapa molekul menjadi demikian rendah sehingga molekul
tertarik dengan gaya antarmolekul pada permukaan cairan dan kembali
masuk ke cairan. Ini adalah kondensasi uap dalam deskripsi makroskopik
(Anonim, Minyak Atsiri. http://id.wikipedia.org/wiki/minyak-atsiri).

D. Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair merupakan cara pemisahan satu atau lebih senyawa
dengan menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur di mana
senyawa tersebut akan terdistribusi diantara dua fase sesuai dengan derajat
kelarutannya sehingga masing-masing jenuh dengan perbandingan
konsentrasi tertentu dan terjadi pemisahan. Metode ekstraksi ini sering kali
disebut proses partisi dari “crude extract” atau ekstrak kasar sehingga
diperoleh sekumpulan senyawa kimia dengan tingkat polaritas yang
berbeda-beda (Rusdi, 2013: 10).
Penyarian merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi dalam
dua pelarut yang tidak bercampur. Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah
air sedangkan sebagai pelarut kedua adalah pelarut organic yang tidak
bercampur dengan air. Dengan demikian ion anorganik atau senyawa
organik polar sebagian besar akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang
dikatakan “like dissolves like” yang berarti bahwa senyawa polar akan
mudah larut dalam pelarut polar dan sebaliknya. Dalam suatu larutan encer
actor kadar tidak mempengaruhi koefisien distribusinya (Rusdi, 2013: 10).
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak cairan lain yang tidak
dapat bercampur dengan yang pertama, akan terbentuk dua lapisan. Satu
komponen dari campuran akan memiliki kelarutan ke dalam dua lapisan
tersebut (biasanya disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai
kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan. Waktu diperlukan untuk
tercapainya keseimbangan biasanya dipersingkat oleh pencampuran kedua
fase tersebut dalam corong pisah (Rusdi, 2013: 10).

E. Kromatografi Lapis Tipis


Di antara berbagai jenis teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis
(KLT) adalah yang paling cocok untuk analisis obat laboratorium farmasi.
Metode ini hanya memerlukan investasi yang kecil untuk perlengkapan,
menggunakan waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan analisis (15–
60 menit), dan memerlukan jumlah cuplikan yang sangat sedikit (kira-kira 0,1
g). Selain itu hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak
mungkin terjadi, kebutuhan ruangan minimum, dan penanganannya
sederhana.
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan
yang memisahkan, yang terdiri dari bahan berbutir-butir (fase diam),
ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang
cocok. Campuran yang akan dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak
atau pita (awal). Setelah lapisan disimpan di dalam bejana tertutup rapat yang
berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama
pengembangan kapiler. Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus
ditampakkan (dideteksi).
Untuk campuran yang tidak diketahui, lapisan pemisah (sifat
penjerap) dan sistem larutan pengembang harus dipilih dengan tepat karena
keduanya berkerja sama untuk mencapai pemisahan. Selain itu hal yang juga
penting adalah memilih kondisi kerja optimum dan meliputi sifat
pengembangan, atmosfer bejana, dan lain-lain (Stahl, 1985).
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau
kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak
mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang
terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada
laju yang berbeda. Fase diam pada pelaksaanan kromatografi lapis tipis
menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada
sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang dapat
berpendar dalam sinar ultra violet. Fase diam lainnya yang biasa digunakan
adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga
memiliki gugus -OH. Fase gerak dalam kromatografi berupa eluen yang
berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati
fase diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluen sangat
menentukan terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu, pemisahan
komponen dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluen
dan jumlah umpan. Eluen dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan
teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan
dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau
sebuah lapis tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik
pelarut. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir
pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (Kantasubrata,
1993).
Deret eluotropik
Deret eluotropik dapat dipakai untuk menentukan kekuatan pelarut
yang optimal untuk suatu pemisahan tertentu. Misal pada suatu pemisahan
HPLC menggunakan fase diam silika, diperoleh nilai tr yang terlalu besar,
dalam arti komponen ditahan terlalu kuat oleh kolom. Dengan menggunakan
deret eluotropik, fase gerak yang dipakai dapat dimodifikasi jenisnya atau
diubah komposisinya menjadi eluen dengan kepolaran relatif lebih tinggi agar
komponen dapat terelusi oleh fase gerak relatif lebih cepat. Dapat juga
digunakan campuran dari dua, tiga bahkan empat pelarut untuk mendapatkan
kekuatan pelarut untuk mendapatkan kekuatan pelarut yang optimal.
Misalnya dibuat campuran isooktana (eo =0,42) dengan komposisi sedemikian
rupa sehingga mempunyai kekuatan sama dengan CCl4 (eo =0,18).
Beberapa eluen yang dapat digunakan dalam pengerjaan kromatografi
lapis tipis seperti heksan : etil asetat (5 : 1) yang memiliki kepolaran rendah,
kloroform : metanol (4 : 1) yang memiliki kepolaran tinggi. Contoh eluen
yang lain dari beberapa penelitian seperti petroleum eter : kloroform (1 : 9),
kloroform : etil asetat (1 : 2), etil asetat : metanol (1 : 1), diklorometan :
kloroform : etil asetat (1 : 1 : 1), toluen : etil asetat : etanol+asam fomat (0,5 :
4 : 1), diklorometan : etil asetat : klorofom+asam fomat (1 : 4 : 1), serta
kloroform : etanol : asam asetat (4 : 0,5 : 1,5).
Perbandingan kecepatan bergeraknya komponen terlarut dalam fase
gerak (pelarut), merupakan dasar untuk mengidentifikasi komponen yang
dipisahkan, perbandingan kecepatan ini dinyatakan dalam Rf (Rate of Flow).
Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai Rf adalah :
a. Ukuran partikel dari zat penyerap
b. Derajat keaktifan dari zat penyerap
c. Kemurnian pelarut
d. Kejenuhan chamber
e. Kehadiran ion lain
f. Keasaman larutan aslinya
g. Bahan pengembang (jenis dan ketebalan lapisan)
h. Kelembaban udara
i. Konsentrasi dan komposisi larutan yang diperiksa
j. Panjang trayek migrasi
k. Senyawa asing dan pencemaran pelarut
l. Ketidakhomogenan kertas
m. Arah serabut kertas
n. Temperatur
(Rahim dan Rusdi, 2012)

F. Identifikasi Komponen Kimia


1. Senyawa alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang

terbesar. Pada umumnya alkaloid menccakup senyawa bersifat basa yang

mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan,

sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia

dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol yang


digunakan secara luas dalam bidang pengobatan.alakoloid biasanya tanpa

warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk Kristal tetapi

hanya sedikit yang berupa cairan ( misalnya nikotina pada suhu kamar ).

Prazat alkaloid yang paling umu adalah asam amino, meskipun sebenarnya

biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara kimia, alkaloid

merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari senyawa sederhana

seperti koniina, yaitu alkaloid utama Conium maculatum sampai

pentasiklik seperti estrikhnina yaitu racun kulit strychnos.

Alkaloid, sekitar 5500 telah di ketahui, merupaan golongan zat

tumbuhan sekunder yang terbesar. Tidak ada satu pun istilah alkoloid yang

memuaskan tetapi pada umumnya alkoloid mencakup senyawa bersifat

basa mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan

sebagai bagian dari sistem siklik. Alkoloid sering kali beracun bagi

manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol

jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkoloid biasanya

tanwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal

tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu

kamar .uji sederhana tetapi yang sama sekali tidak satu sempurna, untuk

alkoloid dalam daun atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah.

Misalnya, alkoloid kinina adalah zat yang dikenal paling pahit dan pada

konsentrasimolar 1x 103 membeikan rasa pahit yang berarti.prazat

alkoloid yang paling umum adalah asam amino, meski pun sebenarnya,

biosintesis kebanyakan alkoloid lebih rumit. Secara kimia, alkoloid


merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari senyawa sederhana

seperti koniina, yaitu alkoloid utama conium maculatum, sampai ke

struktur pentasiklik seperti strikhnina , yaitu racun kulit Strychnos. Amina

tumbuhan (misalnya meskalina) dan basa Purina dan pirimidina (misalnya

kafeina) kadang-kadang digolongkan sebagai alkoloid dalam arti umum.

Banyak alkoloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya solanina

alkoloid – steroid kentang, Solanum tuberosum) sebaiknya ditinjaudari

segi biosintesis sebagai terpenoid termodifikasi. Yang lainnya terutama

berupa senyawa aromatic ( misalnya kolkhisina, alkoloid tropolon umbi

crocus musim gugur ) yang mengandung gugus basa sebagai gugus rantai

samping. Banyak sekali alkoloid yang khas pada suatu suku tumbuhan

atau beberapa tumbuhan sekerabat. Jadi nama alkoloid sering kali

diturunkan dari sumber tumbuhan penhasilnya, misalnya alkoloid Atropa

atau alkoloid tropana, dan sebagainya (Harbrone.J.B,1987).

Sebagian besar alkaloid alami yang bersifat sedikit asam

memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent Mayer

(Larutan Kaliummercuri Iodida); reagent Wangner (larutan Iodida dalam

Kalium Iodida); dengan larutan asam tanat,reagent Hager (saturasi dengan

asam pikrat); atau dengan reagent Dragendroff (larutan Kalium Bismuth

Iodida). Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri dari kristal dari berbagai

warna. Cream (Mayer),Kuning (Hager),coklat kemerah – merahan

(Wagner dan Dragendroff). Caffein dan beberapa alkaloid tidak

menimbulkan reaksi pengendapan. Ketelitian harus dimulai dari ekstraksi


alkaloid yang diuji karena bahan akan membentuk endapan dengan

protein. sebagian dari protein akan membuat tidak larut dari bahan yang

telah diekstrak oleh proses epaporasi atau mungkin disebabkan filtrate

yang terbongkar. Jika ekstrak asli telah dikonsentrasi ke konsentrasi rendah

akan membentuk ekstrak alkaloid yang bebrbentuk basa dengan

pertolongan suatu pelarut organik kemudian dimasukan dalam larutan

asam encer (misalnya : Tartarat),larutan haus bebas dari protein dan siap

untuk dilakukan uji alkaloid (Teyler.V.E,1988).

Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya

bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi

tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut

Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai:

a. Alkaloid Sesungguhnya

Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut

menunjukkan aktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali

bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin

heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat

“aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang

bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan

alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.

b. Protoalkaloid

Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana

nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik.


Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino

yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan

untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,N-

dimetiltriptamin.

c. Pseudoalkaloid

Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino.

Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting

dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin

(kaffein) (Teyler.V.E,1988).

Adapun pereaksi alkaloid yakni:

Untuk pereaksi Dragendrof dibuat dua larutan persediaan : (1) 0,6 g

bismusubnitrat dalam 2 ml HCl pekat dan 10 ml air ; (2) 6 g Kalium

iodide dalam 10 ml air. Larutan persediaan ini dicampur dengan 7 ml

HCl pekat dan 15 ml air. Untuk menyemprot kertas dengan pereaksi

iodoplatinat, 10 ml larutan platina klorida 5% dicampur dengan 240 ml

Kalium iodide 2% dan diencerkan dengan air sampai 500 ml. untuk

menyemprot pelat, campurkan 10 ml platina klorida 5%, 5 ml HCl pekat,

dan 240 ml Kalium iodide 2% (Teyler.V.E,1988)

2. Senyawa flavonoid
a. Flavonoid minor
1) Khalkon
Khalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat
kuat dengan sinar UV bila di kromatografi kertas; bila kertas diuapi
dengan uap amonia warna mungkin berubah menjadi jerau kuat,
walaupun beberapa khalkon tidak memberikan reaksi seperti. KLT
dapat dilakukan pada silika gel memakai dapar Natrium asetat dan
pengembang benzen : etil asetat : asam formiat (9:7:4)
2) Auron
Senyawa ini tampak pada kromatogram kertas berupoa
bercak kuning. Dengan sinar UV berwarna kuning kuat dan berubah
menjadi merah jingga bila diuapi amonia.
3) Flavonon
Beberapa flavon berwarna hijau-kuning atau biru muda pada
kertas bila disinari dengan sinar UV dan diuapi amonia. Pada plat
KLT dengan menyemprotkan pertama kali dengan memakai larutan
Natrium borohidrida (kira-kira 1%) dalam alkohol dan kemudian
disemprotkan lagi dengan larutan Natrium klorida dalam etanol.
4) Dihidrokhalkion
Dideteksi dengan menyemprot kertas dengan p-nitroanilina
yang terdiasotasi dan dengan AlCl3 dalam alkohol. Floridzin
menghasilkan warna merah jingga dengan pereaksi pertama dan
fluoresen kehijauan yang kuat dengan pereaksi kedua.
5) Isoflavon
Beberapa isoflavon memberikan warna biru muda cemerlang
dengan sinar UV bila diuapi dengan amoniak, tetapi kebanyakan
yang lain tampak sebagai bercak lembayung pudar yang dengan
amoniak berubah menjadi coklat pudar.
3. Senyawa Steroid
Steroid adalah suatu golongan senyawa triterpenoid yang
mengandung inti siklopentana perhidrofenantren yaitu dari tiga cincin
sikloheksana dan sebuah cincin siklopentana. Dahulu sering digunakan
sebagai hormon kelamin, asam empedu, dan sebagainya. Tetapi pada
tahun-tahun terakhir ini makin banyak senyawa steroid yang ditemukan
dalam jaringan tumbuhan. Tiga senyawa yang biasa disebut fitosterol
terdapat pada hampir setiap tumbuhan tinggi yaitu: sitosterol,
stigmasterol, dan kampesterol (Harborne, 1996).
Menurut asalnya senyawa steroid dibagi atas:
a. Zoosterol, yaitu steroid yang berasal dari hewan misalnya kolesterol
b. Fitosterol, yaitu steroid yang berasal dari tumbuhan misalnya
sitosterol dan stigmasterol
c. Mycosterol, yaitu steroid yang berasal dari fungi misalnya ergosterol
d. Marinesterol, yaitu steroid yang berasal dari organisme laut misalnya
spongesterol
Berdasarkan jumlah atom karbonnya, steroid terbagi atas:
a. Steroid dengan jumlah atom karbon 27, misalnya zimasterol
b. Steroid dengan jumlah atom karbon 28, misalnya ergosterol
c. Steroid dengan jumlah atom karbon 29, misalnya stigmasterol
4. Senyawa Tanin
Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam
angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya,
tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantap yang
tidak larut dalam air. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal
dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah
menjadi kulit siap pakai karena kemampuanya menyambung silang
protein.
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim
sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakanya,
maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein
lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya,
sebagian besar tumbuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan
pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah
satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan
pemakan tumbuhan. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang
tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tanin –terkondensasi
hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnosperae, serta
tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan
berkayu. Sebaliknya, tanin yang terhidrolisiskan penyebaranya terbatas
pada tumbuhan berkeping dua (Harbrone.J.B,1987)

5. Senyawa Saponin
Saponin Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang
tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan
koloidal dalam air dan membentuk busa yang mantap jika dikocok dan
tidak hilang dengan penambahan asam

F. Bioassay
1. Brine Shrimp Lethality Test (BST)
Brine Shrimp Lethality Test (BST) merupakan salah satu metode
skrining untuk menentukan ketoksikan suatu ekstrak ataupun senyawa.
Metode ini juga sering digunakan untuk bioassay dalam usaha mengisolasi
senyawa toksik tersebut dari ekstrak. Pertama kali metode ini digunakan
untuk menentukan keberadaan residu insektisida seperti DDT, Parathion,
Dieldrin, dan lain-lain, serta menentukan potensi senyawa anestetik.
Metode ini kemudian berkembang sebagai salah satu metode bioassay
dalam mengisolasi senyawa aktif yang terdapat dalam suatu ekstrak
tanaman, karena metode ini ternyata peka, cepat, sederhana, dan dapat
diulang tanpa terjadi penyimpangan. Lebih jauh lagi bahwa bioassay ini
sering dikaitkan sebagai metode dalam isolasi senyawa antikanker dari
tumbuhan (Wahyuono, 1995).
Uji toksisitas dengan metode BST ini merupakan uji toksisitas akut
di mana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat,
yaitu rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji. Metode ini
menggunakan larva Artemia salina sebagai hewan coba.
Brine Shrimp Lethality test (BST) merupakan salah satu metode
untuk menguji bahan-bahan yang bersifat sitotoksik. Metode ini
menggunakan larva Artemia salina sebagai hewan coba. Uji toksisitas
dengan metode BST ini merupakan uji toksisitas akut dimana efek toksik
dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat setelah pemberian
dosis uji. Prosedurnya dengan menentukan nilai LC50 dari aktivitas
komponen aktif tanaman terhadap larva Artemia salina. Suatu ekstrak
dikatakan aktif sebagai antikanker berdasarkan metode BST jika harga
LC50 < 1000 μg/ ml. Penelitian Carballo dkk menunjukkan adanya
hubungan yang konsisten antara sitotoksisitas dan letalitas pada ekstrak
tanaman. Metode BST dapat dipercaya untuk menguji aktivitas toksikologi
dari bahan-bahan alami (Ramadhani, 2009).

Gambar Artemia salina


Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum
Arthopoda. Mereka berkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti
copepode dan daphnia (kutu air). Artemia hidup di danau-danau garam
(berair asin) yang ada di seluruh dunia. Udang ini toleran terhadap selang
salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam.
Secara alamiah salinitas danau di mana mereka hidup sangat bervariasi,
tergantung pada jumlah hujan dan penguapan yang terjadi. Apabila kadar
garam kurang dari 6 % telur artemia akan tenggelam sehingga telur tidak
bisa menetas, hal ini biasanya terjadi apabila air tawar banyak masuk ke
dalam danau di musim penghujan. Sedangkan apabila kadar garam lebih
dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat
menetas dengan normal.
Gambar siklus hidup Artemia salina
Siklus hidup artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau
telur. Setelah 15–20 jam pada suhu 25°C kista akan menetas manjadi
embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel
pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan menyelesaikan
perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang sudah akan bisa
berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecoklatan
akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak
akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna.
Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva
kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa
mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka
tidak akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama
bahan tersebut tersedia di air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan
berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8
hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun
demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai
dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasnya akan mencapi 500 kali
dibandingakan biomas pada fase naupli. Setelah 24 jam menetas, naupli
akan berubah menjadi Instar II, gnatobasen sudah berbulu, bermulut,
terdapat saluran pencernaan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan
dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping
badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar XV kakinya sudah
lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa (proses
instar I-XV) antara 1-3 minggu. Pada tiap tahapan perubahan instar
nauplius mengalami moulting. Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm
ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisi bagian kepala,
antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena berubah menjadi
alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada bagian
belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami penyusutan.
a. Penetasan Telur Artemia salina
Artemia direndam di dalam air tawar selama 15-30 menit.
Kemudian direndam dalam 10 liter air laut. Suhu penetasan adalah ±
25-30 C dan pH ± 6-7. Telur akan menetas setelah 18-24 jam dan
larvanya disebut nauplii. Nauplii siap untuk uji BST setelah larva ini
berumur 48 jam (Subyakto, 2003).
b. Uji Toksisitas Ekstrak Dengan Metode BST
Pengujian dilakukan dengan memasukkan 10 ekor larva
Artemia salina berumur 48 jam ke dalam toples kaca yang telah berisi
1 ml larutan ekstrak dan 4 ml air laut. Setelah 24 jam, jumlah larva
yang mati dihitung dengan bantuan alat kaca pembesar (Khurniasari,
2004: 56). Parameter yang digunakan adalah jumlah Artemia yang
mati 50 % dari total larva uji. Kemudian di hitung nilai LC 50 dengan
memasukkan angka probit (50% kematian larva uji).
Analisis hasil
Efek toksisitas dianalisis dari pengamatan dengan persen kematian :
jumlah larva yang mati
% kematian= ×100 %
jumlah larva uji
kemudian dicari angka probit melalui table dan dibuat persamaan
garis :
Y = Bx + A
dimana Y = log konsentrasi, dan
X = Angka probit
Dari persamaan tersebut kemudian dihitung LC50 dengan
memasukkan nilai probit (50 % kematian). Apabila pada kontrol ada larva
yang mati, maka % kematian ditentukan dengan rumus Abbot (Meyer,
1982).
T-K
% konsentrasi larva = ×100 %
10
Keterangan :
T = Jumlah larva uji yang mati
K = Jumlah larva kontrol yang mati
10 = Jumlah larva uji

2. KLT Bioautografi