Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kita tahu, bahwa tafsir merupakan salah satu jalan untuk memahami kitab suci Al-

Quran yang diturunkan Allah kapada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup

manusia agar selamat baik ketika di dunia sampai di akhirat kelak. Sangat mustahil seseorang

akan paham Alqur’an secara kamilatausempurnakalau tidak tahu tentang tafsirnya. Serangan

terhadap Al-Quran pun beramai-ramai dilakukan oleh para orientalis Barat. Mereka berusaha

untuk mengkritisi serta meragukan otentisitas dan kesakralan Al-Quran dengan berbagai

ragam cara. Kita tentu tidak akan heran jika orang yang melakukan penyerangan terhadap Al-

Quran tersebut berasal dari kalangan Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, menjadi sangat tragis

dan ironis jika penyerangan itu juga dilakukan oleh kalangan yang menyatakan dirinya

sebagai muslim; bahkan tak jarang hal ini berkembang dari dan di perguruan tinggi negeri

yang memakai embel-embel Islam.

Ajakan untuk melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) terhadap Al-Quran semakin

sering terdengar. Penafsiran ulang tersebut terutama dilakukan terhadap ayat-ayat yang

dipandang tidak lagi relevan dengan konteks zaman ini atau dapat menimbulkan problem

dengan penganut agama lain. Akan tetapi, apakah setiap orang memiliki otoritas untuk

menafsirkan Al-Quran? Lantas, siapakah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Al-Quran

dan apa saja yang harus dipenuhi olehnya? Tulisan ini mencoba untuk menjelaskannya.

1
B. Rumusan masalah

Berdasarkan judul yang telah dipilihkan. Mengingat cakupan permasalahan tentang

penafsiran al-Qur an sangatluas, maka penulis perlu membatasi masalah-masalah pada

makalah ini ke dalam beberapa rumusan masalah, diantaranya:

1. Apa pengertian mufassir dan syarat mufassir ?

2. Apa sajakah syarat-syarat mufassir ?

3. Apa sajakah adab-adab seorang Mufassir?

4. Ilmu apa sajakah yang harus dimiliki seorang mufassir ?

C. Tujuan penulisan

Pada dasarnya tujuan penulisan karya tulis ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum

dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas

mata kulian Ilmu Tafsir1 semester ganjil.

Adapun Tujuan khusus penyusunan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian mufassir dan syarat mufassir.

2. Untuk mengetahui syarat-syarat mufassir

3. Untuk mengetahui adab-adab mufassir.

4. Untuk mengetahui ilmu apa sajakah yang harus dimiliki seorang mufassir.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Mufassir

Secara bahasa mufassira dalah bentuk isim fa’il dari kata Fassara yang artinya menafsirkan

atau menjelaskan. Kemudian di ikutkan wazan isim fa’il Mufa’ilunmenjadi Mufassirunyang

artinya orang yang menafsirkan, mengomentari, interpretasi.

Sedangkan menurutistilah, Mufassir adalah orang yang memiliki kapabilitas sempurna yang

dengannya ia mengetahui maksud Allah ta‘ala dalam Al-Quran sesuai dengan

kemampuannya. Ia melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak

pendapat mengenai tafsir Kitâbullâh. Selain itu, ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan

mengajarkannya atau menuliskannya.

Abu Muhammad FH, menjelaskan dalam Kamus Istilah Agama Islam, Mufassiradalah orang

yang menerangkan makna ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur an.

B. Pengertian Syarat Mufassir

Syarat adalah sesuatu yang harus dikerjakan agar sesuatu yang dikerjakan menjadi sah

hukumnya.

Sedangkan Pengertian syarat mufassir adalah jalur serta rel sahnya seseorang menafsirkan

Al-Qur’an. syarat amat sangat urgen bagi siapa pun yang ingin menafsirkan sebuah ayat

3
apalagi menafsirkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Setiap disiplin ilmu pengetahuan

membutuhkan sebuah syarat sebagai penunjang utama dalam langkah menuju objektif.

Peran syarat dalam suatu hal sangatlah penting karena al-Qur an merupakan Kitab pedoman

umat Islam dengan menyandang kata “suci” tidak boleh sembarang orang menafsirkan jika

tidak memenuhi persyaratanya karena dampaknya akan sangat fatal jika terjadi kesalahan

mengingat esensi al_qur an adalah sebagai pedoman hidup umat Islam agar selamat didunia

dan akhirat.

Seorang mufassir al-Quran perlu memiliki kualifikasi (syarat-syarat) dan berbagai bidang

ilmu pengetahuan secara mendalam. Untuk menjadi mufassir yang diakui, maka harus

memiliki kemampuan dalam segala bidang. Para ahli telah memformulasikan tentang syarat-

syarat dasar yang diperlukan bagi seorang mufassir.

Orang yang dapat menafsirkan al-Quran hanya orang yang memiliki keahlian dan menguasai

ilmu tafsir (Ilmu pengetahuan tentang al-Quran), sedangkan orang yang belum banyak

mengerti tentang ayat dan tata cara menafsirkan al-Quran dan tidak menguasai ilmu Tafsir

tidak diperbolehkan menfsirkan al-Quran, hal ini dimaksudkan agar jangan sampai kitab suci

ditafsirkan hanya sesuai dengan hawa nagsu keinginan mufassir, sehingga tidak sesuai

dengan maksud yang dikehendaki Allah dalam firman-Nya.

Larangan menafsirkan al-Quran tanpa dasar Ilmu Pengetahuan tentang al-Quran berdasarkan

surat al-A’raf:33

4
“Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang Nampak atau

yang sembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar dan

(mengharamkan) karena mempersekutuan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak

menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengada-adakan terhadap Allah

sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Penjelasan larangan menafsirkan al-Quran tanpa ilmu pengetahuan adalah terletak pada kata

“dan (mengharamkan) kamu mengada-adakan” yang di athof kan kepada hal-hal yang

diharamkan sebelum lafadz ini. Oleh sebab itu mengatakan sesuatu mengenai kitab Allah

tanpa dasar pengetahuan termasuk sesuatu yang diharamkan.

Selain itu terdapat Hadits Nabi yang juga melarang menafsirkan al-Quran tanpa didasari ilmu

pengetahuan (terkait dengan al-Quran) dengan pemberian ancaman masuk neraka.

‫آن بِغَي ِْر ِع ْل ٍم‬


ِ ‫سلَّ َم َم ْن َقا َل فِي ْالقُ ْر‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َّللاُ َع ْن ُه َما قَالَقَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ٍ ‫س ِعي ِد ب ِْن ُج َبي ٍْر َع ْن اب ِْن َعب‬
ِ ‫َّاس َر‬ َ ‫َع ْن‬

‫فَ ْليَتَبَ َّوأْ َم ْقعَدَهُ ِم ْن النَّار‬, ‫ص ِحي ٌح‬


َ ‫س ٌن‬ َ ‫قَا َل أَبُو ِعي‬
ٌ ‫سى َهذَا َحد‬
َ ‫ِيث َح‬

Artinya:

Dari Said Bin Jubair, dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa

yang mengatakan tentang al-Quran tanpa dasar ilmu pengetahuan, maka tempat yang paling

layak baginya adalah neraka (HR.a-Tirmidzi)

Asbabul wurud dari Hadits ini terjadi ketika pada zaman nabi banyak para sahabat yang

melakukan penafsiran tanpa ada dasar-dasar ilmu pengetahuan. Maksud dari hadits ini adalah

bahwa bagi yang menafsirkan al-Quran tanpa didasari ilmu pengetahuan akan memberikan

5
peluang bagi orang bodoh dan orang-orang yang mempunyai niat tidak baik untuk melakukan

penyelewengan terhadap al-Quran. Hal ini disebabkan mereka akan menafsirkan al-Quran

dengan dasar nafsu yang pada gilirannya bertujuan membela pendapatnya atau bahkan

sekedar membela kelompok atau madzhabnya.

6
BAB III

PEMBAHASAN

A. Syarat – Syarat Mufassir

Adanya suatu persyaratan sebenarnya adalah sudah menjadi otoritas dari setiap disiplin ilmu,

dalam bidang kedokteran saja seseorang tidak dperbolehkan menangani pasien jika tidak

paham benar ilmu tentang kedokteran. Bagaimana jika sebuah penafsiran al-Qur’an

dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak kompeten menafsirinya, maka akan terjadi

sebuah kesalahan yang terus menerus diajarkan dari masa ke masa dan terus menerus

menyesatkan orang yang mempelajarinya.

Adapun persyaratan bagi seorang mufassir adalah sebagaimana dijelaskan oleh beberapa

ulamaadalahsebagai berikut:

1. Syekh Muhammad Hussein Adz-Dazhabi: Syarat bagi seorang mufassir adalah menguasai

ilmu Nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu Lughah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu ma’ani, Ilmu Bayaan, Ilmu

Badi’ Ilmu Qira’at, Ilmu Kalam, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Qashas, Ilmu Nasikh mansukh,

Ilmu Hadits dan Ilmu Mauhibah (Ilmu karunia dari Allah).

2. Syekh Manna’ al-Qaththan: Syarat seorang mufassir dan tata cara menafsirkan adalah

bebas dari hawa nafsu, memulai menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, mencari tafsir

dari al-Sunnah, prndapat dari tabi’in, mengetahui bahasa Arab dengan semua cabangnya,

mengetahui pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan ilmu Al-Quran, dan memiliki

ketajaman berpikir.

3. Khalid al-Sabt: Syarat bagi seorang mufassir (yang hampir semuanya mengenai bahasa

Arab) yaitu harus mengetahui Fiqh al-Lughah, Hukum Kalimah, Ilmu Bayan, Ma’ani dan

Badi’ Mubham dan Mufasshal, ‘Am dan Khas, Ilmu Kalam, dan Ilmu Qiraat.

7
4. Imam as-Suyuti: Dalam kitabnya“al-Itqan” menyebutkan beberapa jenis ilmu yang

diperlukan dalam menafsirkan al-Quran, yaitu:

 Ilmu Lughat: Ilmu bahasa sangat penting dalam menafsirkan al-Quran, guna untuk

menegetahui kosakata penjelasan mufradat-mufradat (perbendaharaan kata). Jadi tidak

cukup dalam menafsirkan al-Quran kalau hanya sekedar mengetahui ilmu bahasa secara

mudah. Ada kalanya suatu lafadz mengandung makna musytarak (makna ganda) sekiranya

hanya mengetahui salah satu dari pengertian kata sedangkan yang lain tidak diketahui,

padahal makna yang lain itu dimaksud.

 Ilmu Nahwu: Ilmu ini sangat penting sekali, karena ilmu ini menyingkap tentang

perubahan makna dan mempunyai pengertian yang lain karena perubahan I’rab nya.

Semua bentuk I’rab benar-benar dikuasai agar dapat ditentukan makna yang dimaksud

dalam susunan kalimat yang berbentuk berdasarkan I’rab nya. Ilmu Nahwu sangat penting

karena susunan kata-katanya dapat diketahui dengan jalan pembentukan kata dab I’rab

suatu kalimat.

 Ilmu Sharaf: seorang mufassir yang diketahui tentang ilmu sharaf, berarti ia dapat

mengerti tentang pembentukan kalimat, timbangan kata, sighat kata dan sifat kata-kata.

Bila diketahui kata-kata yang sulit, lalau segera dikembalikan pada akar katanya serta

pengertiannya. Seorang yang tidak mengetahui Ilmu Sharaf dalam menafsirkan al-Quran

niscaya akan terdapat kekalahan, kekeliruan dalam menafsirkan al-Quran.

 IlmuIsytiqaq: disebut juga dengan ilmu etimologi yaitu ilmu tentang asal usul kata. Ilmu

ini digunakan untuk mengetahui dasar pembentukan akar kata yang melahirkan akar kata

yang serumpun denga pengertian yang berlainan. Umpamanya setiap kata benda yang

berasal dari kata yang berbeda tentu mengandung makna yang berbeda juga.

8
 Ilmu Balaghah (retorika, metafora). Ilmu balaghah terdiri dari tiga macam yaitu Ilmu

ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu badi’. Dengan mempergunakan ilmu ma’ani seorang

mufassir dapat mengetahui keistimewaan susunan kalimat, sehingga dapat mengambil

faedah dari satu segi makna yang tepa. Dan dengan ilmu bayan dapat mengetahui susunan

kalimat yang khusus terutama dari segi perbedaan susunan kalimat yang menjelaskan

tentang maksud suatu kalimat baik kalimat itu jelas maupun tidak jelas. Dengan

menggunakan ilmu badi’dapat diketahui tentang segi-segi keindahan dari suatu kalimat.

 Ilmu Qira’at (cara-cara membaca al-Quran), dengan ilmu Qira’at dapat diketahui

pembacaan yang benar dari beberapa kandungan penafsiran dalam al-Quran.

 Ilmu Ushuluddin, dengan Ilmu ini dapat diketahui kaidah-kaidah yang berhungan dengan

sifat Allah dan pembahasan tentang iman.

 Ilmu Ushul Fiqh, dengan mengetahui ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui dan

menganalisa teantang istidhlal (pembuktian) hukum-hukum yang terkandung dalam al-

Quran.

 Ilmu Asbabu an-Nuzul, dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui sebab dan

latar belakang turunnya masing-masing ayat al-Quran.

 Ilmu Nasikh dan Mansukh, dengan ilmu ini mufassir dapat mengetahui ayat-ayat dari al-

Quran yang di nasikh kan dan di mansukh kan.

 Ilmu Hadits, seorang mufassir yang mengetahui ilmu Hadits maka akan dibantu untuk

mengidentifikasikan ayat-ayat yang mujmal dan mubham.

 Ilmu Mubhamah, Imam asy-syuyuti mengatakan ilmu mubhamah sangat penting bagi

seorang mufaasir karena ilmu ini merupakan aplikasi dari ilmu yang telah dikaji oleh

mufassir untuk mengamalkannya.

9
 Ilmu sains dan teknologi, ilmu ini sangat diperlukan untuk menafsirkan al-Quran, terutama

dalam upaya menemukan teori-teori dibidang kedokteran, ilmu fisika, matematika. Karena

di dalam al-Quran banyak ayat menyebutkan tentang alam semesta.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat bagi seorang mufassir adalah:

1. Mengetahui bahasa Arab dan kaidah-kaidah bahasa (ilmu tata bahasa, sintaksis, etimologi,

dan morfologi), ilmu retorika (ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu Badi’), ilmu ushul fiqh

(Khas, ‘Am, Mujmal, dan mufasshal). Tanpa memahami secara mendalam tentang bahasa

al-Quran, maka besar kemungkinan bagi seorang mufassir akan melakukan penyimpangan

(distorsi) dan kesalahan interpretasi. Jika seseorang tidak dapat memahami makna ayat,

kosa kata dan idiom secara literal maka ia akan terjerumus kepada kesalahan dan

menyebabkan terjadinya penafsiran yang kontroversial.

2. Mengetahui pokok-pokok ulum al-Quran, seperti ilmu Qira’at, Ilmu asbabun Nuzl, Ilmu

nasikh mansukh, Ilmu Muhkam Mutasyabih, Ilmu makkai madani, Ushul Tafsir, ilmu

Qashash al-Quran, ilmu Ijaz al-Quran, ilmu amtsa al-Quran. Tanpa mengetahui

kesemuanya itu seorang mufassir tidak akan dapat menjelaskan arti dan maksud ayat

dengan baik dan benar.

3. Mengetahui Ilmu sains dan teknologi untuk bisa bersaing dan menemukan teori-teori baru

yang terkandung dalam al-Quran.

4. Mengetahui Hadits-Hadits Nabi dan segala macam aspeknya. Karena Hadits-Hadits itulah

yang berperan sebagai penjelas terhadap al-Quran, sebagaimana keterangan surat al-

Nahl:44.

10
5. Mengetahui hal ihwal manusia dan tabia’t nya, terutama dari orang-orang Arab pada masa

turunnya al-Quran, agar mengerti keselerasan hukum-hukum al-Quran yang diturunkan

untuk mengatur perbuatan-perbuatan mereka.

Hazim Sa’id al-Haidar menambahkan, untuk mendapatkan penafsiran yang berkualitas, selain

menguasai ilmu-ilmu tersebut mufassir juga harus memahami cabang-cabang ilmu

pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh, sebagaimana berikut ini:

1. Memaham watak dan rasa terminology yang benar, yang sering digunakan dalam al-Quran

berdasarkan atas pemakaian para ahli bahasa.

2. Ilmu tentang prosedur yang indah (pendekatan sastra yang dipakai dalam praktik al-kalam

(kefasihan berbicara dan penerapannya).

3. Pengetahuan tentang ilmu-ilmu humaniora, filsafat ketuhanan, dan prosedur dalam evolusi

bangsa-bangsa bersama perbedaan-perbedaannya, baik dalam kekuatan, kelemahan, iman,

kufur, maupun kekerasan dan kelembutan.

4. Pengetahuan tentang hidayah al-Quran untuk manusia. berkaitan dengan hal ini sahabat

umar bin Khatab berkata: “kebaikan Islam tidak akan jelas jika seseorang tidak paham

tentang kehidupan jahiliyyah.”

5. Pengetahuan tentang biografi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya terkait dengan

pengetahuan dan amaliah dalam urusan agama maupun keduniaan.

Disamping persyaratan kualifikasi dalam bidang intelektual diatas, seorang mufassir juga

harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya:

1. Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur’an serta

memiliki pengaruh besar terhadap jiwa pemiliknya, dan seringkali mendorongnya untuk

11
mengubah nash-nash, tidak jujur dalam penyampaian berita. Apabila seseorang menyusun

sebuah tafsir, maka ditakwilkannya ayat-ayat yang bertentangan dengan akidahnya,

kemudian menggiringnya kepada madzhabnya yang bathil, guna memalingkan orang-

orang dari mengikuti golongan golongan dan jalan petunjuk.

2. Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan

memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang

mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.

3. Menafsirkan dahulu al-Qur’an dengan al-Qur’an, karena sesuatu yang masih global pada

satu tempat telah terperinci di tempat lain dan sesuatu yang dikemukakan secara ringkas di

tempat telah diuraikan di tempat lain.

4. Mencari penafsiran dari sunnah, karena sunnah berfungsi sebagai pensyarah Al-Qur’an

dan penjelasnya.

5. Apabila tidak didapatkan penafsiran dalam sunnah, hendaklah meninjau pendapat dari

para sahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsir Qur’an, mengingat merekalah

yang menyaksikan qarinah dan kondisi ketika Qur’an diturunkan.

6. Apabila tidak ditemukan juga penafsiran dalam Qur’an, sunnah maupun dalam pendapat

sahabat maka sebagian besar ulama, dalam hal ini memeriksa pendapat tabi’in.

7. Menguasai Bahasa Arab dan cabang-cabangnya.

8. Menguasai pokok-pokok ilmu nyang berkaitan dengan Al Qur’an seperti ilmu tauhid, ilmu

usul, dll.

9. Seorang mufassir haruslah orang yang cerdas dan sehat akalnya agar tidak terjadi

kekeliruan dalam menghasilkan suatu hukum.

12
B. Adab- adab seorang Mufassir

Adapun adab seorang mufasir dalam menafsirkan al-Qur an adalah sebagai berikut:

1. Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. karena seluruh amalan

tergantung dari niatannya.

2. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain.

3. Mengamalkan ilmunya, karena dengan merealisasikan apa yang dimilikinya akan

mendapatkan penerimaan yang lebih baik.

4. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya

terlebih dahulu kebenarannya.

5. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada.

6. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam

penyampaian.

7. Mendahulukan orang yang lebih utama darinya.

Sementara itu, Imam As-Suyuthy mengatakan, “Ketahuilah bahwa seseorang tidak dapat

memahami makna wahyu dan tidak akan terlihat olehnya rahasia-rahasianya sementara di

dalam hatinya terdapat bid‘ah, kesombongan, hawa nafsu, atau cinta dunia, atau gemar

melakukan dosa, atau lemah iman, atau bersandar pada pendapat seorang mufassir yang tidak

memiliki ilmu, atau merujuk kepada akalnya.

Berdasarkan perkataan Imam As-Suyuthy di atas, Ahmad Bazawy Adh-Dhawy meringkaskan

sejumlah adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, yaitu: (a) Akidah yang lurus, (b)

Terbebas dari hawa nafsu, © Niat yang baik, (d)Akhlak yang baik, (e) Tawadhu‘ dan lemah

lembu, (f) Bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena

13
Allah ta‘ala, (g) Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar‘i serta

sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang, (h) Tidak bersandar pada ahli bid‘ah

dan kesesatan dalam menafsirkan, (i) Bisa dipastikan bahwa ia tidak tunduk kepada akalnya

dan menjadikan Kitâbullâh sebagai pemimpin yang diikuti.

Termasuk adab yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah ia wajib menghindari perkara-

perkara berikut ketika menafsirkan Al-Quran:

1. Terlalu berani menjelaskan maksud Allah ta‘ala dalam firman-Nya padahal tidak

mengetahui tata bahasa dan pokok-pokok syariat serta tidak terpenuhi ilmu-ilmu yang

baru boleh menafsirkan jika menguasainya.

2. Terlalu jauh membicarakan perkara yang hanya diketahui oleh Allah, seperti perkara-

perkaramutasyâbihât. Seorang mufassir tidak boleh terlalu berani membicarakan sesuatu

yang ghaib setelah Allah ta‘ala menjadikannya sebagai salah satu rahasia-Nya dan

hujjahatas hamba-hamba-Nya.

3. Mengikuti hawa nafsu dan anggapan baik (istihsân).

4. Tafsir untuk menetapkan madzhab yang rusak dengan menjadikan madzhab tersebut

sebagai landasan, sementara tafsir mengikutinya. Akibatnya, seseorang akan melakukan

takwil sehingga memalingkan makna ayat sesuai dengan akidahnya dan

mengembalikannya pada madzhabnya dengan segala cara.

5. Tafsir dengan memastikan bahwa maksud Allah begini dan begini tanpa landasan dalil.

Perbuatan ini dilarang secara syar’i berdasarkan firman Allah ta‘ala, “Dan (janganlah)

mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-Baqarah: 169).

14
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian pembahasan diatas dalam makalah ini dapat kami ambil kesimpulam diantaranya

sebagai berikut:

1. Pengertian Syarat mufassir adalah jalur serta rel sahnya seorang menafsirkan Al-Qur’an,

syarat amat sangat urgen bagi siapa pun yang ingin menafsirkan sebuah ayat apata lagi

menafsirkan Al-Qur’an secara keseluruhan.

2. Kaedah keilmuan yang disyaratkan bagi seorang mufassir antara lain adalah meliputi ilmu

Nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu Lughah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu ma’ani, Ilmu Bayaan, Ilmu Badi’

Ilmu Qira’at, Ilmu Kalam, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Qashas, Ilmu Nasikh mansukh, Ilmu

Hadits dan Ilmu Mauhibah, ilmu Science dan Teknologi, ilmu-ilmu humaniora

3. Syarat – syarat Mufassir diantaranya adalah : Berakidah yang benar, Mampu mengekang

hawa nafsu, menafsirkan ayat dengan ayat terlebih dahulu, merujuk pendapat sahabat,

merujuk pendapat tabi’in, menguasai bahasa Arab, dll

4. Adab-adab Mufassir diantaranya adalah: Niatnya harus bagus, Berakhlak mulia,

Mengamalkan ilmunya, Hati-hati dalam menukil sesuatu, Berani dalam menyuarakan

kebenaran, tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu,

15
B.Saran

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih

banyak memerlukan pembenahan. Oleh karena itu kami mengharap kepada segenap pembaca

yang budiman untuk memberikan masukan baik berupa kritik maupun saran, baik secara lisan

mapun secara tertulis. Kami akan dengan senang hati menerimanya. Harapan kami semoga

makalah ini menjadi manfaat. Amin.

16
DAFTAR PUSTAKA

Al-Dzahabi, Muhammad Hussein at-Tafsir wa al-Mufassirun, Beirut, Maktabah al-wahbah,

2000.

Al-Haidar, Hazim Sa’id Baina al-Itqan wa al Burhan,Madinah, Dar az-Zaman, 2000

Al-Harby, Husain Bin aly Bin,Qawa’id al-Tarjih ‘Inda al-Mufassirin, Riyad: Dar al-Qasim,

1996

Al-Qattan, Manna’,Mabahith fi Ulum al-Qur’an, Cairo: Maktabah al-Wahbah, 2000.

_____, Mabahith fi Ulum al-Hadits, ttp, Mansurat al-asri’ al-Hadits,1973.

_____, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an terj. Drs.Mudzakir AS, Bogor : Pustaka Litera Antar Nusa,

2009

Al-Sabt, Khalid,Qawa’id al-Tafsir, Cairo: Dar Ibnu Affan, tt.

Al-Suyuti, Jalaludddin,al-Itqan fi Ulum al-Qur’an,Saudi Arabia: Majma’ Malik Fahd, tt.

Amrullah, Fahmi,lmu Al Qur’an untuk Pemula, Jakarta : CV. Artha Rivera, 2008.

Bakr, Muhammad Mahmud,Asbab Rad al-Hadits,Riyadh: Jami’ah al-Imam Muhammad Ibn

as-Su’udi, tt.

Http://nadnabandi.blogspot.com/2010/05/syararat2-mufassir-dan-adabnya-ulumul.html,

Http://Gedublaks.Multiply.Com/Journal/Item/24/Studi_Tentang_Syarat-syarat-mufassir -al-

quran ,

Muhammad, Abu FH, ZainuriSiroj, KamusIstilah Agama Islam (KIAI),Jakarta: PT. Albama.

Munawwir, Ahmad Warson, KamusAl_Munawwir, Surabaya : PustakaProgressif.

17