Anda di halaman 1dari 9

KELOMPOK 1 (REVISI)

NAMA: Prima Istiana 1513022013


Beria Arada 1513022055

KETIDAKKEKALAN PARITAS PADA PELURUHAN BETA

Bunyi hukum kekekalan paritas yaitu paritas total sebelum reaksi inti harus sama dengan
paritas total sesudah reaksi inti. Pada peluruhan beta seolah-olah energi tidak kekal. Energi
elektron yang teramati selama peluruhan beta dari nuklida tertentu didapatkan bervariasi
secara kontinu dari 0 hingga harga maksimum Kmaks yang merupakan karakteristik
nuklidanya. Persamaan untuk energi maksimumnya adalah
Emaks = m0c2 + Kmaks
Energi hilang terjadi ketika tumbukan antara elektron yang dipancarkan dan elektron
atomik yang mengelilingi inti.

Pada peluruhan beta seolah-olah memontum linear dan momentum sudut tidak kekal.
Momentum linear dan momentum sudut didapatkan tidak kekal dalam peluruhan beta.
Dalam peluruhan beta nukilde tertentu arah elektron yang terpancar dan inti rekoil dapat
teramati, ternyata arah tersebut tidak selalu tepat berlawanan seperti yang diramalkan
oleh hukum kekekalan momentum linear. Ketidak kekekalan momentum sudut
diturunkan dari spin ½ dari elektron, proton dan neutron. Peluruhan beta menyangkut
perubahan neutron nuklir menjadi proton.

n = p+e–
karena spin masing-masing partikel yang tersangkut adalah 1/2. Reaksi tersebut tidak dapat
terjadi jika spin (jadi memontum sudutnya) harus kekal.

1
Dalam tahun 1934 Fermi telah mengajukan teori peluruhan beta
berdasarkan hipotesisi Pauli bahwa selain e- (elektron) dipancarkan v (anti
neutrino) pada peluruhan   . Kemudian suatu teori yang lebih modern

telah diajukan oleh Lee dan Yang pada tahun 1956.


Berikut ini akan dibahas teori dari Fermi saja:
Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam teori Fermi:
1. Karena elektron/positron dan neutrino tidak ada di dalam inti, maka
mereka harus dibentuk dulu pada waktu disintegrasi:
n  p  v
Menurut Fermi terdapat interaksi antara nukleon dengan   dan v yang

menyebabkan transformasi dari neutron ke proton. Jadi ada interaksi


antara medan elektron-nutrino dengan nukleon hal ini analog dengan
transisi gamma, dimana medan elektromagnetik berinteraksi dengan
nukleon.
2. Interaksi berjangkau pendek
Kebolehjadian pemancaran partikel beta per satuan waktu, dengan
momentum antara p dan p + dp di hutung dengan Mekanika Kuantum
(tidak dibahas pada bab ini) adalah
1
 N ( p)  2
 C(E max  E ) ……………………….(2.1)

2
 
2 
 F dp 
cacah rata-rata
gM
dengan C 
2 C 3 h 7 2
1
3

F : Faktor Fermi
P : momentum linier
G : konstanta Coupling antar e-, v-
M = elemen matriks

Kurie Plot:
Suatu metode untuk menentukan energi  .Transisi yang diperbolehkan
berlaku: Pers (2.1)

1
 N ( p)  2
 2 

 F  p 

3
1 H

10 20 KeV
E (KeV)
Kinetik

PELURUHAN BETA ()


Pada reaktor :
1
0 n 26 Fe 56 11H  25 Mn 56 *

25 Mn 56 T  26 Fe 56     v
26 jam

3 Fenomena Peluruhan 
1. Pemancaran elektron (-)
20
F
A
Z X
 Z 1Y  1 e
A 0

5,41 MeV -
1,63

20
0
Ne
3
2. Pemancaran Positron (+) 14
O
A
Z X
 Z 1Y  1 e
A 0
1,84 MeV

>99% 
+

2,30 + 4,1 MeV


0,6%

0 14
N

4
3. Tangkapan elektron (electron capture)
64
Cu
Z X A  1 e 0 
 Z 1Y A
EC (0,5%)

1,34 + 0,66 MeV


19%
 EC (~42%)

0 64
Ni
Syarat Terjadinya Peluruhan Beta
1. Pemancaran Elektron
A
Z X
 Z 1Y A  1 e 0

mp md me
Kd Ke
Hk. Kekekalan Energi
mpC2 = mdC2 + meC2 + Kd + Ke
= mdC2 + meC2 + Q = Energi peluruhan (MeV)
Maka Q  = (mp – md – me) C2

Z X A  Parent  M (Z ) = Massa sebuah atom dengan no atom Z


(Massa atom) dengan energi ikat elektron
diabaikan
= mp + Z me , sehingga
mp = m (z) – z me

Z 1Y A  daughter  M (Z  1)
= md + (Z+1) me , sehingga
md = m (z+1) – (z+1) me
Maka Q  = {m (z) – z me - m (z+1) + (z+1) me –me} C 2

Syarat terjadi peluruhan spontasn Q >0


Q  = {m(z) –m (z+1)} C2 > 0

m(z) > m(Z+1) dengan A tetap

5
2. Pemancaran Positron (+)
m(z)  m(z  1)  2me  Q  = m(z)  m(z  1)  2me C 2

3. Tangkapan Elektron
n
Z X A  1 e 0 
 Z 1Y -
A

mp me md
+ kd = QEC
QEC = (mp + me – md) C2 P
P  M(z) = mp + zme
D  M(z-1) = md + (z-1)me, maka
QEC  m(z)  zme  me  m(z  1)  (z  1)m e C 2

Q>0 m(z)  m(z  1)C 2 0

Elektron auger m(z)  m(z  1)

xray
E xray  Energi Sinar x (hf) = EK - EL
L
Energi elektron Auger
K
Ke = Exray – EL
= EK – EL – E
Ke = EK – 2EL
EK & EL, energi elektron pada kulir K, L
Spektrum Beta
Berdasarkan alat spektrometer beta  kontinu
Sinar X
0  besar

6
Jml elektron Jml positron
relatif tiap relatif tiap
satuan energi satuan energi

211
Bi
1,17 MeV 1,24 MeV

0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 0,5 1

Ke (MeV) K Positron MeV


Pemancaran  - Pemancaran  +

Bila ditinjau keadaan inti sebelum dan sesudahnya


 Energi peluruhan tertentu  Qtertentu pula
 Spektrum Diskrit
A
z X

 
Q

z 1 YA

Menurut Pauli pada reaksi ini terjadi perubahan


decay01n 
11 p 1 0    v

1 decay 01n 
11 p 1 0    v

EC 11p 1 e0 n 1    v

 Hukum Kekekalan * Tenaga


* Momentum
* Muatan
sehingga :
Q  E   Ev  E max
QB jika E  0  Ev  max  kontinu

E   0  Ev  0  kontinu

7
DAFTAR PUSTAKA

Arthur Beiser, 1986, Konsep Fisika Modern. Erlangga.

Allonso-Finn, 1968, Fundamental University Physics, Vol. III. Quantum And


Statistical Physics. Addison-Wesley Publishing Co. Massachusetts.

Irving Kaplan, 1963, Nuclear Physics. Addison Wesley Publishing Co.


Massachusetts.

Knetth Krane, 1992. Fisika Modern. UI Press Jakarta.

8
9