Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah
penyakit yang mendapat perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia.
Rata-rata setiap harinya ada satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS. Insiden tinggi
ISR dan IMS di antara perempuan yang menjalani perawatan antenatal, kesehatan seksual
dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR atau
IMS yang meluas.
Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan
sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme
penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan.
Orang dengan IMS atau ISR masih dapat melakukan program keluarga berencana
dengan menggunakan alat kontrasepsi yang sekaligus dapat memberikan perlindungan
penularan infeksi tersebut. Pada makalah ini maka akan dibahas apa saja alat kontrasepsi
yang dapat digunakan pada penderita infeksi menular seksual.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Infeksi Menular Seksual (IMS)
2. Apa saja tidep-tipe Infeksi?
3. Apa peran petugas kesehatan pada pelayanan kontrasepsi/ kesehatan reproduksi?
4. Bagaimana hubungan kontrasepsi terhadap ISR maupun IMS?
5. Apa Komplikasi dari IMS?
6. Bagaimana skrining atau penapisan klien IMS?

7. Bagaimana diagnosis/pengobatan ISR/IMS


8. Apa hubungan kontrasepsi dan pencegahan IMS?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan infeksi saluran reproduksi dengan KB.

2. Tujuan khusus

1
a. Untuk mengetahui pengertian infeksi saluran reproduksi dan Infeksi Menular
Seksual (IMS)
b. Untuk mengetahui tipe-tipe infeksi
c. Untuk mengetahui peran petugas kesehatan pada pelayanan kontrasepsi/ kesehatan
reproduksi
d. Untuk mengetahui Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan
terhadap ISR maupun IMS
e. Untuk mengetahui komplikasi IMS
f. Untuk mengetahui skrining atau penapisan klien
g. Untuk mengetahui diagnosis/pengobatan ISR/IMS
h. Untuk mengetahui kontrasepsi dan pencegahan IMS

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Infeksi Menular Seksual (IMS)


Infeksi Menular Seksual adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan
seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini termasuk hubungan seks
lewat liang senggama, lewat mulut (oral) atau lewat dubur (anal). Infeksi Menular Seksual
disebut juga penyakit kelamin. Infeksi Menular Seksual menyerang sekitar alat kelamin
(Wells et al., 2009 ).
Kebanyakan Infeksi Menular Seksual membahayakan organ-organ reproduksi. Pada
wanita, dapat merusak dinding vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda infeksi.
Pada pria adanya infeksi pada saluran air kencing. Apabila tidak diobati dapat menyebabkan
keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan berakibat sakit pada waktu buang air kecil
(Wells et al., 2009 ).
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui
hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala klinis maupun
asimptomatis (Daili, 2009). Penyebab infeksi menular seksual ini sangat beragam dan setiap
penyebab tersebut akan menimbulkan gejala klinis atau penyakit spesifik yang beragam
pula. Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis ,yaitu: (WHO,2007)
 bakteri (diantaranya N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum)
 virus (diantaranya HSV, HPV,HIV, Herpes B virus, Molluscum contagiosum virus),
 protozoa (diantaranya Trichomonas vaginalis)
 jamur (diantaranya Candida albicans)
 ektoparasit (diantaranya Sarcoptes scabiei)

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah
penyakit yang mendapat perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia.
Rata-rata setiap harinya ada satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS.insiden tinggi
ISR dan IMS di antara perempuan yang menjalani perawatan antenatal, kesehatan seksual
dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR atau
IMS yang meluas.
Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIVatau
menularkan HIV kepada pasangannya. Orang orang yang terinfeksi HIV pengobatan ISR

3
atau IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak, akan
meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV.
Berbagai jenis mikroorganisme (± 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks
dan berdampak pada organ reproduksi seseorang.bahkan ada juga penyakit seperti infeksi
Hepatitis dan AIDS yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual tetapi pada organ
reproduksinya tidak mengalami kelainan.

B. Tipe Infeksi Menular Seksual


Istilah-istilah ISR/IMS mencakup tipe infeksi, yaitu :
1. Infeksi yang merusak saluran reproduksi
2. Infeksi pada sluran reproduksi perempuan yang tidak disebabkan karena penularan
melalui hubungan seks, tetapi merupakan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang
normal ada dalam vagina (bakteri vaginosis dan jamur).
3. Infeksi malalui hubungan seks yang memberi dampak lebih luas selain alat reproduksi
(Sifilis dan HIV/AIDS).
4. Infeksi pada saluran reproduksi perempuan akibat komplikasi dari tindakan yang
dilakukan untuk membantu kasus persalinan, keguguran dan pengguguran insersi
AKDR atau operasi obstetri ginekologi.

C. Jenis Infeksi Menular Seksual yang Didapat di Indonesia


1. Gonorea
Gonorhoe merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman gonokokus
yang spesifik. Penyakit ini biasanya ditularkan lewat hubungan seks.
a. Tanda dan Gejala
Gonorhoe pada alat kelamin pria menimbulkan rasa panas selama kencing dan
uretra yang mengeluarkan nanah. Pada wanita, gonorhoe yang sama ini
menimbulkan keputihan dari vagina dan rasa nyeri di abdomen. Namun demikian,
gonorhoe pada wanita ini sering tidak mengetengahkan gejala apapun.
b. Tanda pada wanita
Tanda dapat mulai muncul dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
melakukan hubungan seksual dengan individu yang terinfeksi
1) Rabas kuning atau hijau dari vagina atau anus
2) Nyeri atau sensasi terbakar saat berkemih
3) Demam
4) Nyeri pada abdomen bawah
5) Nyeri atau perdarahan saat melakukan hubungan seksual
6) Atau tidak ada tanda sama sekali
c. Tanda pada pria

4
Tanda biasanya mulai muncul 2 hingga 5 hari setelah pria melakukan hubungan
seksual dengan individu yang terinfeksi
1) Rabas dari penis
2) Nyeri atau sensasi terbakar saat berkemih
3) Atau tidak ada tanda sama sekali
d. Dampak Gonorhoe
1) Mandul
2) Bayi yang dilahirkan dapat menjadi buta karena terkema gonorhoe di matanya.
e. Perawatan Sendiri
Perawatan sendiri di rumah tidak bisa dilakukan. Gonorhea hanya bisa
ditegakkan diagnosisnya oleh dokter serta dokter pula yang mengetahui obat yang
akan diberikannya. Penegakkan diagnosis memerlukan pemeriksaan khusus atas
nanah atau cairan yang keluar dari alat kelamin penderita, yakni dengan cara
memeriksanya langsung dibawah mikroskop lewat pembiakkan spesifik atas kuman
gonokokus.
f. Pencegahan dan Penanggulangan
1) Anda harus menyadari bahwa gonorhoe adalah penyakit yang sampai sekarang
masih ada, anak dari semua usia dapat diserang oleh penyakit gonorhoe itu.
2) Berikanlah pendidikan seks yang memadai pada anak-anak anda.
Banyak dokter menganjurkan mengikut sertakan pembiakan cairan keputihan
yang keluar dari vagina, kedalam pemeriksaan rutin atau pemeriksaan tahunan,
khususnya para siswa yang aktif secara seks

2. Sifilis

Penyakit Sifilis merupakan salah satu penyakit


menular seksual (PMS). Lesi sifilis bias terlihat jelas
ataupun tidak terlihat dengan jelas.

a. Etiologi
Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum. Treponema pallidum
merupakan salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral. Terdapat
empat subspecies yang sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum pallidum,
Treponema pallidum pertenue, Treponema pallidum carateum, dan Treponema
pallidum endemicum

5
b. Patofisiologi
Perjalanan penyakit ini cenderung
kronis dan bersifat sistemik. Hampir
semua alat tubuh dapat diserang,
termasuk sistem kardiovaskuler dan
saraf. Selain itu wanita hamil yang
menderita sifilis dapat menularkan
penyakitnya ke janin sehingga
menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyababkan kelainan bawaan atau
bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan
antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan
meluas ke bagian tubuh lain di luar alat kelamin.
c. Tanda dan gejala
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; rata-
rata 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang
menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Infeksi oleh
Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
1) Fase Primer
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang
terinfeksi yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga bisa
ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari tangan
atau bagian tubuh lainnya. Biasanya penderita hanya memiliki1 ulkus, tetapi
kadang-kadang terbentuk beberapa ulkus.
2) Fase Sekunder
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam
waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya sebentar
atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan menghilang.
Tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru.
3) Fase Laten
Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan memasuki fase
laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung
bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup
penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksi kembali muncul .
4) Fase Tersier
Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya.

d. Komplikasi
1) Komplikasi Pada Janin Dan Bayi

6
Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus dan partus premature.
Bayi dengan sifilis kongenital memiliki kelainan pada tulang, gigi, penglihatan,
pendengaran, gangguan mental dan tumbuh kembang anak.
2) Komplikasi Terhadap Ibu
a) Menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung
b) Kehamilan dapat menimbulkan kelainan dan plasenta lebih besar, pucat, keabu-
abuan dan licin.
c) Kehamilan <16 minggu dapat menyebabkan kematian janin
d) Kehamilan lanjut dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan
cacat.
e. Penatalaksanaan dan Terapi
Wanita hamil dengan sifilis harus diobati sedini mungkin, sebaiknya sebelum
hamil atau pada triwulan I untuk mencegah penularan terhadap janin. Suami harus
diperiksa dengan menggunakan tes reaksi wasserman dan VDRL, bila perlu diobati
dangan terapi penisilin G injeksi. Penting untuk diketahui dalam pemilihan obat-
obatan untuk ibu hamil perlu memperhatikan pengaruh buruk yang akan terjadi pada
janinya. Sedangkan jenis pinisilin dan eritrosin merupakan obat untuk ibu hamil
yang tidak memberikan efek atau pengaruh buruk terhadap janinnya. Berikut ini
adalah table terapi atau pengobatan Sifilis pada ibu yang sedang hamil.

3. Klamidia
Klamidia adalah penyakit menular seksual yang ditandai dengan nyeri saat berkemih
dan sekret abnormal yang berasal dari daerah kelamin. Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Chlamydia trachomatis yang biasanya ditularkan melalui kontak dengan mulut,
vagina, penis atau anus sewaktu aktifitas seksual.
a. Gejala
Gejala Penyakit Klamidi pada wanita, adalah sebagai berikut:
1) Nyeri pada organ genital / perut saat buang air kecil atau saat berhubungan badan,
2) Debit cairan dari alat kelamin lebih dari biasanya,
3) Terjadi perdarahan tidak normal di antara dua periode menstruasi atau setelah
berhubungan badan
4) Apabila penyakit Klamidia pada wanita tidak segera diobati, maka bakteri akan
menyebar ke rongga perut, sehingga menyebabkan Penyakit radang panggul dan
menimbulkan demam dan sakit perut.
Gejala Penyakit Klamidi pada pria adalah
1) Setelah bangun tidur sering mengeluarkan cairan seperti susu dari uretra, dengan
jumlah tidak terlalu banyak.
2) Merasakan sakit saat buang air kecil
b. Pengobatan
Dapat disembuhkan dengan penggunaan antibiotik tetrasiklin, yang diresepkan
dokter untuk dipakai dalam 7 hari dan pengobatan terhadap kedua pasangan.

7
4. Kandidiasis
Candidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan
oleh spesies candida, biasanya oleh spesies candida albicans dan dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku, bronki atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia,
endokarditis, atau meningitis.
a. Gejala Klinis
1) Mengenai mukosa vulva (labia minora) dan vagina.
2) Bercak putih, kekuningan, heperemia, leukore seperti susu
3) pecah, dan gatal hebat.
4) Dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih.

5. Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh protozoa
trichomonas vaginalis yang biasanya ditemukan pada vagina dan jaringan uretra.
Kondisi ini terutama menjangkiti wanita, namun dapat juga pada pria.
a. Gejala
Pada wanita, penyakit ini biasanya dimulai dengan keluarnya cairan dari
vagina yang berwarna kuning kehijauan, berbusa, dan berbau amis. Saat melakukan
hubungan intim bisa terasa nyeri. Pada kasus yang berat, genitalia bisa membengkak.
Frekuensi berkemih menjadi lebih sering dan terasa nyeri.
b. Pengobatan
Trikomoniasis diobati dengan pemberian antibiotik. Konsultasikan pada dokter untuk
memastikan diagnosa dan mendapatkan pengobatan yang efektif untuk
mengatasinya. Selain itu, pasangan seksual penderita juga harus diobati bersamaan
agar tidak terjadi infeksi ulang.
c. Pencegahan
Beberapa cara berikut dapat menurunkan risiko terkena infeksi trikomoniasis :
1) Gunakan kondom dengan benar setiap kali beruhubungan seksual
2) Tidak berganti-ganti pasangan seksual
3) Orang-orang yang terinfeksi harus menghindari hubungan seksual sampai
infeksi sembuh agar tidak menginfeksi pasangannya
4) Segera pergi ke dokteri jika Anda merasa terinfeksi, dan hindari hubungan
seksual.

6. Bakterial vaginosis
Vaginosis bakteri (bacterial vaginosis/BV) adalah kondisi pada wanita di mana
keseimbangan normal bakteri di vagina terganggu dan digantikan oleh pertumbuhan
berlebih bakteri tertentu. Vagina biasanya didominasi oleh bakteri yang baik, dan sedikit
bakteri berbahaya. BV terjadi ketika ada peningkatan jumlah bakteri berbahaya tersebut.

a. Gejala Vaginosis Bakterial


Gejala Vaginosis Bakterial adalah fluor albus yang amat berbau. Umumnya
tidak disertai gejala lainnnya. Jumlah cairan fluor albus dapat normal atau berlebihan
8
sehingga fluor albus pada seorang wanita harus diperiksa lebih lanjut.
Cairan vagina pada vaginosis bakterial biasanya encer dan berwarna keabu-abuan
dan umumnya keluar pasca sanggama sehingga sering mengakibatkan masalah
dalam hubungan seksual terutama pada pria.
b. Penyebab
Para peneliti telah mengalami kesulitan menentukan apa yang menyebabkan
vaginosis bakteri. Saat ini, tampaknya bahwa kombinasi dari beberapa bakteri harus
hadir bersama-sama untuk masalah yang berkembang. Bacterial vaginosis biasanya
dilengkapi dengan pengurangan jumlah hidrogen peroksida-memproduksi
lactobacilli normal dalam vagina. Bersamaan dengan itu, ada peningkatan
konsentrasi bakteri jenis lain, terutama bakteri anaerob (bakteri yang tumbuh tanpa
adanya oksigen). Akibatnya, diagnosis dan pengobatan tidak sesederhana
mengidentifikasi dan memberantas satu jenis bakteri. Mengapa bakteri
menggabungkan menyebabkan infeksi tidak diketahui.

7. Hesper simpleks

Herpes merupakan salah satu penyakit inflamatorik yang ditandai dengan


pembentukan vesikel-vesikel kecil berkelompok, yang disebabkan oleh human
herpesvirus. Herpes disebabkan oleh herpesvirus yang menjadi agen penyebab herpes
simpleks, herpes zoster, varicella. ( Kamus Saku Kedokteran Dorland ).
a. Penyebab Penyakit Herpes
Penyakit herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 adalah
penyebab umum untuk luka-luka demam disekeliling mulut. Herpes simpleks tipe 2
biasanya menyebabkan herpes kelamin. Pernyakit herpes genitalis berpotensi
menyebabkan kematian pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan
mempunyai herpes kelamin aktif disaat melahirkan maka dianjurkan melahirkan
dengan bedah caesar.
b. Tanda dan Gejala Penyakit Herpes
Gejala penyakit herpes mirip dengan flu yakni dengan gejala pertama suhu
badan akan meningkat, sakit pada kerongkongan, pening, kelelahan. Gejala-gejala
yang mengikuti herpes pada tahap pertama itulah yang biasanya sering
mendatangkan derita yang berat, karena sistem imun penderita atau orang yang
terinfeksi tidak siap untuk memerangi infeksi yang timbul.
Pada tahap kedua akan muncul lepuhan-lepuhan kecil yang berderet-deret pada
permukaan kulit, yang disertai rasa panas dan gatal, yang terkadang sangat menyiksa,
tidak tertahankan untuk tidak menggaruknya.
9
c. Cara Penularan Penyakit Herpes
Baik HSV-1 maupun HSV-2 menular melalui kontak kulit, ciuman, hubungan
seks dan oral seks. Herpes paling mudah ditularkan pada masa terjadinya luka aktif.
Akan tetapi virus juga dapat menyebar selama tidak ada gejala yang tampak, dan
ditularkan dari daerah yang kelihatannya tidak aktif. Sebagian besar penularan
herpes genitalis ini terjadi melalui kontak seksual.
c. Upaya Pencegahan dan Penanganan Penyakit Herpes
Pencegahan terhadap penularan serta menghindari faktor pencetus bagi
penderita penyakit herpes yang perlu juga diperhatikan adalah kondisi kejiwaan bagi
penderita herpes genitalis ini. Anggapan bahwa herpes adalah penyakit kotor, tidak
dapat disembuhkan, menular dengan mudah, dll, membuat orang yang terkena
herpes akan malu dan takut melakukan pemeriksaan dan berobat.

D. Peran Petugas Kesehatan pada Pelayanan Kontrasepsi/Kesehatan Reproduksi


Banyak orang khususnya perempuan yang mengalami ISR/IMS tidak terdapat perawatan
dan pengobatan yang tepat, karena :
1. Baik laki-laki atau perempuan mungkin tidak ada gejalanya. Penelitian menunjukkan
70% perempuan dan 30% laki-laki yang terinfeksi tidak mempunyai gejala.
2. Orang-orang yang menunjukkan gejala ISR/IMS tidak mengetahui bahwa mereka
sebenarnya terinfeksi. Banyak perempuan yang tidak mendapatkan informasi tentang
cairan vagina yang normal atau tidak sehingga mereka akan menganggap cairan vagina
yang keluar walaupun akibat ISR/IMS sebagai suatu yang wajar.
3. Banyak orang yang menduga bahwa mereka mungkin terinfeksi tetapi tidak segera
berobat karena tidak menganggap penyakit ini penting,merasa malu, penyakit yang
diderita merupakan stigma social, tidak mengetahui akses berobat dan tidak dapat
menjangkau pengobatan.

E. Pelayanan Kontrasepsi Dapat Sekaligus Memberikan Pelayanan Terhadap ISR


Maupun IMS
1. Pendidikan tentang pencegahan IMS dan pengenalan gejala dan tanda ISR/IMS serta
komplikasi IMS.
2. Konseling mengenai perilaku yang beresiko, alternative perilaku seksual yang aman,
kepatuhan klien untuk berobat hingga tuntas dan perlunya pasangan klien juga ikut
berobat.

10
3. Skrining atau penapisan ISR/IMS termasuk pemeriksaan vagina (selain dilakukan
sebagai pemeriksaan rutin atau lebih ditekankan pada orang yang beresiko).
4. Pengobatan ISR/IMS
5. Merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.
6. Menyediakan kontrasepsi dengan perlindungan ganda (dual action) seperti kondom

F. Komplikasi pada Infeksi Menular Seksual


Pada Perempuan Pada Bayi Baru Lahir Pada Laki-laki
Radang panggul Prematuritas Epididimitis
Infertilitas
Berat lahir rendah Prostatitis
Kehamilan ektopik
Sifilis congenital
Keguguran Striktur uretra
Oftalmia neonatorum
Lahir mati Infertilitas
Pneumonia klamidia
Kanker serviks
Septicemia AIDS
AIDS
AIDS
Hepatitis Hepatitis
Hepatitis

G. Skrining atau Penapisan Klien


1. Skrining klien dapat dilakukan melalui anamnesis yang cermat atau melalui konseling.
Apabila memungkinkan pemeriksaan organ reproduksi dilengkapi dengan pemeriksaan
laboratorium sederhana untuk melihat mikroorganisme yang ada (pemeriksaan duh
kelamin melalui mikroskop dan pewarnaan Gram, larutan NaCl dan KOH).
2. Berikan pengobatan sesuai dengan hasil temuan mikroorganisme atau dari hasil
pendekatan sindrom.
3. Selalu tanyakan pada klien adakah
a. Duh vagina atau uretra
b. Lesi atau ulkus pada alat kelamin
c. Pembengkakan pada kelenjar getah bening di daerah inguinal (selangkangan)
d. Nyeri perut bagian bawah
e. Tanyakan juga apakah pasangannya mengalami hal seperti di atas.
f. Riwayat hubungan seks seminggu sampai satu bulan terakhir.
g. Apakah klien atau pasangannya berganti pasangan dalam waktu satu bulan ini ?
h. Apakah klien atau pasangannya mempunyai aktivitas atau profesi yang
menyebabkan ia berganti pasangan atau sering berpindah tempat?
i. Apakah klien menyadari bahwa ia terkena IMS dan adakah usaha yang dilakukan
sebelum dating ke fasilitas in?

Petugas kesehatan perlu membekali diri dengan keterampilan untuk melakukan


investigasi atau skrining tanpa sikap yang menghakimi dan membuat klien malu,
marah, tersinggung atau tidak mau berterus terang
11
H. Diagnosis dan Pengobatan ISR/IMS
1. Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan
sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme
penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan.
2. Pemeriksaan duh tubuh dengan laboratorium dan pemeriksaan serologi akan sangat baik
untuk mendapatkan ketepatan diagnosis dan pengobatan. Paling tidak fasilitas pelayanan
kontrasepsi atau pelayanan kesehatan reproduksi mempunyai perangkat pemeriksaan
laboratorium sederhana.
3. Apabila diagnosis klien meragukan dan pengobatan tidak memberikan hasil yang
memuaskan, klien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan lain yang lebih lengkap dan
kemajuan penyembuhannya harus selalu dipantau.

Konseling, edukasi, pelayanan kontrasepsi dan pengobatan IMS secara terpadu


merupakan bagian yang penting untuk pencegahan dan mengurangi insiden IMS

I. Kontrasepsi dan Pencegahan IMS

Jenis Kontrasepsi Keterangan


Kondom lateks a. Merupakan metode terbaik untuk
penegahan IMS dan HIV/AIDS bila
digunakan terus menerus dan benar.
b. Tapi kondom tidak melindungi infeksi
yang berasal dari ulkus atau lesi pada
selangkangan yang tertutup oleh
kondom.
Female kondom (kondom perempuan) a. Walaupun data klinis terbatas, kondom
ini cukup efektif untuk pencegahan
kontak dengan sperma maupun bakteri
penyebab IMS dan HIV.
b. Sebagai alternative apabila kondom
untuk laki-laki tidak ada atau tidak bisa
digunakan.
c. Terbatasnya pemakaian kondom
perempuan juga disebabkan oleh factor
harga dan kurang nyaman.

12
Spermisida Tidak melindungi penularan IMS/HIV, oleh
karena itu pemakaian spermisida saja tanpa
pengaman (barrier) lain tidak dianjurkan.
Diafragma a. Digunakan bersama spermisida, dapat
mengurangi transmisi IMS. Perlindungan
terhadap HIV belum pernah dibuktikan.
b. Sebagai alternative apabila penggunaan
kondom laki-laki tidak bisa dilakukan.
Metode kontrasepsi lain a. Seluruh metode kontrasepsi yang lain
tidak dapat melindungi klien dari
IMS/HIV.
b. Perempuan yang beresiko terhadap IMS
perlu menggunakan tambahan kondom
disamping pemakaian metode
kontrasepsi yang lain.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Infeksi menular seksual adalah infeksi yang terutama menular melalui hubungan
seksual. Beberapa infeksi menular seksual adalah Gonorea, sifilis, klamidia, kandidiasis,
trikomoniasis, bakterial vaginosis, herpes simpleks. Pelayanan kontaraspesi yang sekaligus
dapat dilakukan terhadap pelayanan IMS atau ISR seperti pendidikan kesehatan, konseling,
skrining, pengobatan, serta melakukan rujukan kontrasepsi ke fasilitas yang lebih tinggi.
Infeksi menular seksual juga dapat memberikan komplikasi terhadap wanita, bayi baru
lahir yang dilahirkan pada wanita yang terkena infeksi menular seksual serta laki-laki.
Alat-alat kontasepsi yang digunakan untuk penderita infeksi menular seksual, yaitu:
kondom lateks, kondom wanita, spermisida, diafragma, dan dapat digunakan metode
kontasepsi lain.

14