Anda di halaman 1dari 8

KURIKULUM 2013 PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI

SEKOLAH MENENGAH ATAS

Telaah Kurikulum Matematika 2

Rombel: 02
Dosen Pengampu: Dr. Mohammad Asikin, M.Pd

Disusun Oleh:
Andry Irawan
4101416048

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
A. Kurikulum 2013
Pada tahun 2013, pemerintah Indonesia memberlakukan kurikulum baru untuk
pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Indonesia, yaitu Kurikulum 2013.
Kurikulumini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan meningkatkan
daya saing bangsa, dan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kurikulum ini diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif
inovatif dan afektif, melalui penguatan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
(Puskurbuk, 2012). Tujuan ini dilakukan melalui pelaksanaan pendidikan dengan
memperbaiki muatan pendidikan, melakukan pergeseran paradigm belajar ke
konstruktivisme, dari siswa menerima materi menjadi siswa membentuk pemahaman konsep
dalam mata pelajaran sendiri, menggunakan penilaian berbasis kompetensi, dan penilaian
kelas secara otentik.
Muatan tiap mata pelajaran yang dipelajari siswa meliputi 4 kompetensi inti, yaitu
kompetensi sikap sosial, sikap spiritual, pengetahuan, dan keterampilan (Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan, 2013). Masing-masing kompetensi kemudian dijabarkan menjadi beberapa
kompetensi dasar. Keempat kompetensi inti masing-masing diberi penelakanan yang sama.
Hal ini yang membedakan Kurikulum 2013 dengan kurikulum yang berlaku sebelumnya.
Penekanan bukan hanya pada kompetensi kognitif saja, namun juga pada kompetensi sikap
dan keterampilan juga menjadi hal penting untuk dipelajari dan dilatihkan kepada siswa.
Pada proses pembelajaran, digunakan paradigma konstruktivisme. Dengan kurikulum
ini, direkomendasikan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, pembelajaran berbasis
masalah, atau pembelajaran berbasis projek (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
Sintakssintaks pembelajaran juga telah ditetapkan, yang diharapkan dapat mempermudah
guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan pembelajaran ini, siswa menjadi lebih aktif
dan mengkonstruk pemahaman sendiri untuk menguasai kompetensi sikap spiritual, sikap
sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
Sistem penilaian yang dilaksanakan guru di kelas juga sangat berbeda dengan
kurikulum sebelumnya, yaitu dengan menerapkan asesmen otentik. Penilaian dalam
Kurikulum 2013 diatur dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 81 Tahun 2013 (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2013) yang
kemudian diperbaiki menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 104 Tahun 2014 (Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, 2014). Terdapat 4 kompetensi yang diukur pada penilaian ini,
yaitu: kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk
mengukur sikap spiritual dan sikap sosial, ada 4 teknik yang dapat digunakan, yaitu
observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik, dan jurnal. Untuk mengukur
pengetahuan, ada3 teknik yang dapat digunakan, yaitu teknik tes, observasi, dan penugasan.
Adapaun untuk penilaian keterampilan, ada 4 teknik yang digunakan, yaitu penilaian unjuk
kerja, projek, produk, dan portofolio. Penilaian ini dilakukan pada setiap kompetensi dasar,
pada tiap kompetensi dengan menyatukan hasil dari penilaian beberapa kopetensi dasar yang
dipelajari, dan pada seluruh mata pelajaran di sekolah. Setelah itu, hasil penilaian
dideskripsikan secara kualitatif pada tiap siswa untuk keempat kompetensi pada seluruh mata
pelajaran.
Secara teoretis, pembelajaran pada Kurikulum 2013, khususnya dalam pelajaran
matematika sejalan dengan pembelajaran matematika yang ditetapkan NCTM. Pembelajaran
matematika yang dirumuskan oleh National Council of Teachers of Matematics (NCTM,
2000) menetapkanbahwa siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif
membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya. Ada lima standar proses dalam pembelajaran matematika, yaitu: (1) belajar
untuk memecahkan masalah; (2) belajar untuk bernalar dan bukti; (3) belajar untuk
berkomunikasi; (4) belajar untuk mengaitkan ide; dan (5) belajar untuk mempresentasikan
(NCTM, 2000). Pada pembelajaran ini, aspek yang dikembangkan dalam pendidikan meliputi
aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendidikan tidak hanya melatihkan pengetahuan
dan keterampilam saja, namun juga aspek sikap. Keterampilan dalam matematika yang
dimaksudkan adalah keterampilan berfikir tingkat tinggi (HOTS) yang mempengaruhi
kemampuan siswa dalam berfikir kritis (Udi & Cheng, 2015).
Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah
ilmuwan dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang
diperlukan adalah yang memungkinkan terbu-dayakannya kecakapan berpikir sains,
terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa (De Vito, 1989).
Pembelajaran saintifik dilakukan dengan tahap mengamati, menanya, mencoba,
mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman
siswa dari segi isi maupun pengalaman (Edelson, Gordin & Pea, 1999). Selain pembelajaran
saintifik, kurikulum merekomendasikan pula penggunaan pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning, PBL) dan pembelajaran berbasis projek (project based learning,
PjBL). PBL dapat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan berfikir tingkat tinggi
(Weissinger, 2004; Arends, 2012). Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mengorganisasikan kurikulum dan
pembelajaran dalam situasi yang tidak terstruktur dan memberikan masalah dunia nyata
(Mergendoller, Maxwell & Belissimo, 2006; Massa, 2008; Arends & Kilcher, 2010). Masalah
dalam PBL berupa masalah autentik untuk dijadikan tonggak untuk melakukan investigasi
dan penemuan(Arends, 2012), berkolaborasi dan mengatur pembagian tugas antarsiswa
(Arends & Kilcher, 2010). Demikian pula halnya dengan PjBL yang merupakan metode yang
mendukung, memfasilitasi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran (Tamin & Grant, 2013).
Asesmen pada Kurikulum 2013 yang diterapkan adalah penilaian autentik. Penilaian
otentik merupakan proses penilaian secara global untuk menilai secara mendalam pemikiran,
motivasi, atau tindakan. Dalam penilaian ini, siswa diharapkan berfikir kritis, menganalisis
informasi, memeroleh ide yang baru, mengomunikasikan, kerjasama, memecahkan masalah,
dan menyimpulkan (DiMartino, Castameda, & Miles, 2007). Pada asesmen otentik ini,
kompetensi siswa dinilai, baik pengetahuan, keterampilan, atau sikap, atau kombinasi dari
ketiganya (Gulikers, Bastiaens, Kirschner, 2004; Ariev,2005; Lombardi, 2008).
B. Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Matematika
Dalam pengimplementasiannya ada beberapa hal yang dirasakan oleh beberapa guru
matematika SMA tentang keunggulan dan kelemahan kurikulum 2013.
Keunggulan Kurikulum 2013
a. Siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam pemecahan masalah.
b. Penilaian didapat dari semua aspek. Pengambilan nilai siswa bukan hanya di dapat
dari nilai ujian saja tetapi juga di dapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap
dan lain lain.
c. Ada pengembangan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah
diintegrasikan ke dalam semua program studi.
d. Kurikulum berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional.
e. Kompetensi menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
f. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan
(misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft
skills dan hard skills, kewirausahaan).
g. Kurikulum 2013 tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat
lokal, nasional, maupun global. . Untuk tingkat SD, penerapan sikap masih dalam
ruang lingkup lingkungan sekitar, sedangkan untuk tingkat SMP penerapan sikap
dituntut untuk diterapkan pada lingkungan pergaulannya dimanapun ia berada.
Sementara itu, untuk tingkat SMA/SMK, dituntut memiliki sikap kepribadian
yang mencerminkan kepribadian bangsa dalam pergaulan dunia.
h. Standar penilaian mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap,
keterampilan, dan pengetahuan secara proporsional).
i. Menuntut adanya remediasi secara berkala.
j. Tidak memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci karena Pemerintah
menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman
pembahasan sudah tersedia.
k. Sifat pembelajaran kontekstual.
l. Meningkatkan motivasi mengajar dengan meningkatkan kompetensi profesi,
pedagogi, sosial, dan personal.
m. Buku, dan kelengkapan dokumen disiapkan lengkap sehingga memicu dan
memacu guru untuk membaca dan menerapkan budaya literasi, dan membuat guru
memiliki keterampilan membuat RPP, dan menerapkan pendekatan scientific
secara benar.

Kelemahan Kurikulum 2013


a. Banyak guru yang beranggapan bahwa dengan kurikulum terbaru ini guru tidak
perlu menjelaskan materinya. Padahal kita tahu bahwa belajar matematika,
fisika,dll tidak cukup hanya membaca saja. Peran guru sebagai fasilitator tetap
dibutuhkan, terlebih dalam hal memotivasi siswa untuk aktif belajar.
b. Sebagian besar guru belum siap. Jangankan membuat kreatif siswa, terkadang
gurunya pun kurang kreatif. Untuk itu diperlukan pelatihan-pelatihan dan
pendidikan agar merubah paradigma guru sebagai pemberi materi menjadi guru
yang dapat memotivasi siswa agar kreatif.Selain itu guru harus dipacu
kemampuannya untuk meningkatkan kecakapan profesionalisme secara terus
menerus. Sebagai contoh di Singapura, dalam setahun guru berhak mendapatkan
pelatihan selama 100 jam.
c. Konsep pendekatan scientific masih belum dipahami, apalagi tentang metoda
pembelajaran yang kurang aplikatif disampaikan.
d. Ketrampilan merancang RPP dan penilaian autentik belum sepenuhnya dikuasai
oleh guru.
e. Tugas menganilisis SKL, KI, KD, Buku Siswa dan Buku guru belum sepenuhnya
dikerjakan oleh guru, masih banyak yang copy paste dan kurangnya waktu untuk
membaca dokumen secara mendalam.
f. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan
kurikulum 2013. Pemerintah melihat seolah-olah guru dan siswa mempunyai
kapasitas yang sama.
g. Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam
kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional
(UN) masih diberlakukan. UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil
dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini berdampak
pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. Padahal,
mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar untuk mewujudkan
tujuan pendidikan.
h. Kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum
sebelumnya yaitu KTSP.
i. Pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang
pendidikan dasar tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran
itu berbeda.
j. Dalam mata pelajaran matematika SMA kelas X terdapat matematika wajib,
matematika peminatan yang harus diikuti siswa peminatan IPA. Matematika wajib
dan peminatan memiliki silabus yang berbeda. Terutama dalam matematika
peminatan diperlukan beberapa materi prasyarat yang belum dibahas di kelas
sebelumnya. Contoh : Dalam materi persamaan eksponen diperlukan beberapa
rumus turunan dari persamaan kuadrat yang belum dibahas di kelas sebelumnya.
k. Penyusunan materi ajar belum runtut sesuai tahap berpikir siswa, guru harus
memilah dan menentukan materi esensial mengingat materi yang harus dikuasai
siswa cukup banyak.
l. Pada buku paket matematika terdapat berbagai soal tingkat tinggi seperti soal
olimpiade. Mengingat banyaknya materi yang harus dikuasai siswa maka tidak
semua soal dapat diselesaikan. Soal-soal tersebut lebih cocok diberikan pada
siswa yang berminat mengikuti pendalaman matematika.
m. Seperti kurikulum sebelumnya, belum ada sinkronisasi antara matematika sebagai
alat bantu untuk menunjang pelajaran lainnya. Misalnya sinkronisasi antara
matematika dengan fisika, ada banyak materi fisika yang memerlukan hitungan
matematika seperti vektor, diferensial, integral dan trigonometri tetapi belum
dibahas dalam matematika.
n. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata
pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat
kemampuan siswa
o. Standar proses pembelajaran menggambarkan urutan pembelajaran yang kurang
rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung
pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
p. Materi terlalu luas, kurang mendalam.
q. Beban belajar terlalu berat, sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama.
Daftar Pustaka
Arends, R. I. 2012. Learning to teach (9th ed.).New York, NY: McGraw-Hill.
Arends, R. I., & Kilcher, A. 2010. Teaching forStudent Learning: Becoming an Accomplished
Teacher. New York, NY: Taylor & Francis.
De Vito, A. 1989. Creative Wellsprings for Science Teaching. West Lafayette, IN: Creative
Ventures.
DiMartino, J, Castameda, A. & Miles, S. 2007. “Authentic Assessment”. Principal’s
Research Review. 2 (4). 1-8.
Edelson, D.C., Gordin, D.N, & Pea, R.D. 1999. “Addressing the Challenges of InquiryBased
Learning through Technology and Curriculum Design”. The Journal of the Learning
Sciences, 1999, 8 (3-4), pp.391- 450.
Gulikers, J.T.M., Bastiaens, T.J., & Kirschner, P.A. 2004. “A Five-Dimensional Framework
for Authentic Assessment”. Educational Technology Research and Development, Vol.
52, No. 3 (2004), pp. 67- 86.
Lombardi, M.M. 2008. Making the Grade: The Role of Assessment in Authentic Learning.
Eduhouse Learning Initiative, dari http://www.net.eduhouse.org Tanggal 18 Juli 2015.
Mergendoller, J.R., Maxwell, N.L. & Bellisimo, Y. 2006. “The Effectiveness of
ProblemBased Instruction: A Comparative Study of Instructional Methods and Student
Characteristics”. The Interdisciplinary Journal of Problem- Based Learning, 1, 49-69.
Massa, N.M. 2008. “Problem-Based Learning: A Real-World Antidote to the Standards and
Testing Regime”. The New England Journal of Higher Education, 22, 19-20.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Penilaian.
National Council of Teacher of Mathematics (NTCM). 2000. Principles and Standards for
School Mathematics. Reston, VA: NCTM.
Puskurbuk. 2012. Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21. Tersedia di
http://www.puskurbuk.orgpada Tanggal 1 Agustus 2015.
Udi, E.A & Cheng, D. 2015. “Developing Critical Thinking Skills from Dispositions to
Abilities: Mathematics Education from Early Childhood to High School”. Creative
Education. 2015, 6, 455-462. Doi: 10.4236/ce.2015.64045.
Weissinger, P.A. 2004. Critical Thinking, Metacognition, and Problem-Based Learning.
Dalam Tan, O.S. (Eds.), Enhancing Thinking through Problem- Based Learning
Approaches: International Perspectives. Singapore: Cengage.