Anda di halaman 1dari 6

AHMAD SAFIRA FIRDAUS

200110170042

TEORI KOMUNIKASI MASSA


DAN KONSEP TEORITIS
KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Perkembangan media massa saat ini merupakan kebutuhan, dalam

mendukung berbagai aktifitas masyarakat urban. Dalam era global saat ini

teknologi yang berkembang, kian memudahkan masyarakat dalam memperoleh

informasi secara cepat dan mengikuti perkembangan. Media massa, seperti halnya

pesan lisan dan isyarat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi

manusia.

Perkembangan teknologi menyebabkan munculnya beragam penggunaan

bahasa sesuai dengan media yang digunakan. Teknologi informasi menjadi babak

baru tata dunia dan perkembangan komunikasi manusia. Revolusi komunikasi ini

apabila diurutkan dapat dimulai dari tahap pralisan, lisan, tulisan, cetakan, media

massa, cybertenic hingga media elektronik. (Narudin, 2009)

2.1 Teori Pengaruh Komunikasi Massa

1. Teori Perbedaan-perbedaan Individu

2. Teori Penggolongan Sosial

3. Teori Hubungan Sosial

4. Teori Norma-norma Budaya

2.2 Konsep Teorotis Komunikasi Pembangunan

Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi

komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik)

diantara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan, terutama

antara masyarakat dengan pemerintah sejak dari proses perencanaan,

pelaksanaan, dan penilaian.


Ke dalam pengertian yang luas tadi, dapat digolongkan berbagai teori da

pendekatan yang berasal dari bermacam disiplin ilmu yang mengupas

masalah inter-relasi komunikasi dengan pembangunan. Bahasan yang

menonjol mengenai hal itu, telah dikemukakan antara lain :

1. Studi lerner

Sering juga orang menyebut karya ini sebagai Teori Modernisasi

dari Lerne atau singkatnya Teori Lerner. Lerner mengemukakan bahwa

modernisasi suatu bangsa dimulai dari terjadinya urbanisasi.

Namun kurang lebih 20 tahun kemudian, dalam sebuah wawancara

dengan Iranian Communication and development Institute (ICDI) pada

tahun 1977, Lerner memperbaiki beberapa hal dari teori modernisasi

yang ia kemukakan sebelumnya, yaitu:

1. urbanisasi tidak lagi sebagai langkah pertama. Gantinya adalah

melek huruf dan pengenaan media, lalu bergerak menuju

partisipasi

2. indicator partisipasi politik bukan lagi hanya pemberian suara

di pemilu, tapi sedang dicarikan indikator lain yang bersifat

psikologis semacam “empati”.

3. Lerner tidak lagi menyebut keseluruhan proses tersebut sebagai

modernisasi, tapi menggantinya dengan perubahan.

4. Karena itu empat faktor yang dikemukakan sebelumnya

(urbanisasi, melek huruf, pengenaan media dan partisipasi)

tidak lagi disebut sebagai indicator kemodernan, tapi sebagai

kecenderungan kepada perubahan atau kesiapan orang untuk

mencoba hal-hal baru.


2. Studi McClelland

McClelland melakukan studi tentang dorongan psikologis yang

memotivasi suatu masyarakat untuk mencapai kemajuan. Dalam studinya

yang berjudul The Archieving Society (1961) ia antara lain berkesimpulan

bahwa untuk memajukan suatu masyarakat harus dimulai dengan

mengubah sikap mental para anggotanya.

Untuk itu, ia merekomendasikan tiga cara dalam mengembangkan

jalan menuju kemodernan dan mengintensifkan motif pencapaian, yaitu:

1. Pentingnya mencapai opini publik yang paham yang ditandai oleh

suatu masyarakat dengan pers yang bebas.

2. Suatu langkah penting menuju kemodernan adalah emansipasi

wanita, yaitu mereka yang membesarkan generasi berikutnya.

Wanita hendaklah diberi informasi melalui media massa sehingga

mereka menerima nilai-nilai baru.

3. Pentingnya pengaruh pendidikan luar negeri untuk memperkuat

motivasi pencapaian.

3. Studi Wilbur Scrhamm

Wilbur Scrhamm melalui studinya yang ditugaskan oleh UNESCO

mengkaji peranan komunikasi dalam pembangunan nasional. Dalam

laporannya yang berjudul Mass Media and National Development: The

Role of Information in Developing Countries, tahun 1964 pada pokoknya

Scrhamm mengemukakan bahwa media massa dapat berperan dalam

beberapa hal, yaitu:

1. Menginformasikan pembangunan

2. Mengajarkan keterampilan

3. Kesempatan berpartisipasi dalam membuat keputusan

4. Meluaskan wawasan masyarakat


5. Memfokuskan perhatian masyarakat kepada pembangunan

6. Membantu mengubah sikap dan praktek yang dianut

7. Memberi masukan untuk saluran komunikasi antar pribadi

8. Memberi status

9. Memperlebar dialog kebijakan

10. Menegakkan norma-norma sosial

11. Membantu membentuk selera

12. Mempengaruhi nilai-nilai yang kurang teguh dianut dan

menyalurkan sikap yang lebih kuat.

13. Membantu berbagai jenis pendidikan dan pelatihan.

4. Studi Inkeles dan Smith

Pabrik media massa dan sekolah menurut Alex Inkeles dan D.

Smith merupakan institusi pemodernan suatu bangsa. Hasil dari studi

mereka tersebut, mereka mengemukakan bahwa ciri-ciri manusia

modern yaitu:

1. Terbuka kepada pengalaman baru. Artinya selalu berkeinginan

untuk mencari atau menemukan sesuatu yang baru.

2. Semakin tidak tergantung (independent) kepada berbagai bentuk

kekuasaan tradisional seperti suku, raja dan sebagainya.

3. Percaya terhadap ilmu pengetahuan dan kemampuannya

menaklukkan alam.

4. Berorientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi. Memiliki

hasrat untuk meniti tangga karir dan prestasi.

5. Memiliki rencana jangka panjang. Selalu merencanakan sesuatu

jauh di depan dan memikirkan apa yang akan dicapai.

6. Aktif dalam percatuan politik. Tergabung dalam berbagai

organisasi baik yang bersifat kekeluargaan maupun yang lebih


luas. Berpartisipasi dalam urusan masyarakat setempat dimana ia

berada.

5. Teori Difusi

Menurut Rogers dan Shoemaker (1971), studi difusi mengkaji

pesan-pesan yang berupa ide-ide ataupun gagasan-gagasan baru. Pada

masyarakat yang sedang membangun seperti di negara-negara

berkembang, penyebarserapan (difusi) inovasi terjadi terus menerus

dari suatu tempat ke tempat yang lain, dari suatu waktu ke kurun

waktu yang berikutnya, dan dari bidang tertentu ke bidang yang

lainnya. Bahkan kedua hal itu merupakan sesuatu yang saling

menyebabkan satu sama lain. Penyebarserapan inovasi menyebabkan

masyarakat menjadi berubah, dan perubahan sosial pun merangsang

orang untuk menemukan dan meyebarluaskan hal-hal yang baru.

Dalam proses penyebarserapan inovasi terdapat unsur-unsur utama

yang terdiri dari (Rogers dan Shoemaker, 1971):

1. Suatu inovasi,

2. yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu,

3. dalam suatu jangka waktu,

4. diantara para anggota suatu system sosial.


DAFTAR PUSTAKA

Havelock, R.G., (1973), The Change Agent’s Guide to Innovation in Education.

Englewood Cliffs, N.J.: Educational Technology Pubications.

Inkeles, A., dan Smith, D.H., (1974), Becoming Modern: Individual Change in

Six Developing Countries. Camridge, Mass.: Harvard University Press.

Lerner, D., dan Nelson, L., (1977), Communication Research-A Half Century

Appraisal. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press.

McCelland, D., (1961), The Archieving Society. Princeton: Van Nostrand.

Narudin. 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers

Nasution, Zulkarimen. 2009. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan

Teori dan Penerapannya Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali

Rogers, E.M. dan Shoemaker, F.F., (1969 dan 1971), Communication of

Innovation. New York: The Free Press.

Schramm, W., (1964), Mass Media and National Development: the Role of

Information in Developming Countries. Stanford: Stanford University

Press.

Tehranian, M., (1979a), “Development Policy and Planning”, Media Asia, (6), 1,

hlm. 15-18.