Anda di halaman 1dari 91

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu jenis penyakit

infeksi menular langsung. Penyakit ini biasanya menyerang saluran

pernapasan atau paru-paru yang dipicu oleh suatu bakteri. Bakteri tersebut

merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang

cukup lama untuk melakukan pengobatan (Rimbi, 2014).

Kuman mycobacterium tuberkulosis bersifat sistemik sehingga dapat

mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak diparu yang

biasanya merupakan infeksi primer. Tuberkulosis (TB) paru merupakan

bakteri kronik dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang

terinfeksi dan hipersensivitas yang diperantarai sel (Cell Madiated

Hipersensivity) (Mansjoer, 2010).

Sangat susah untuk mengendalikan penyakit Tuberkulosis (TB) paru

karena rendahnya angka kesembuhan penderita yang berdampak pada

tingginya penularan. WHO dalam Global TB Report 2016 menyatakan

terdapat 6 negara dikategorikan sebagai hight-burden countries terhadap

tuberkulosis (TB) paru. India, Indonesia, Cina, Nigeria, Pakistan, dan Afrika

selatan berkontribusi > 60 % dari seluruh kasus tuberkulosis (TB) paru baru.

1
Indonesia untuk kasus tuberkulosis (TB) paru menempati peringkat ke-5 di

dunia (WHO, 2016).

Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka

kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (Morbiditas), maupun

diagnosis dan terapinya. Bersama dengan HIV/AIDS dan malaria,

tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit yang pengendaliannya menjadi

komitmen global dalam program SDGs.

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2015, Indonesia

sudah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis

paru ditahun 2015, jika dibanding dengan tahun 1990. Angka prevalensi

tuberkulosis (TB) paru yang pada tahun 1990 sebesar > 900 per 100.000

penduduk, pada tahun 2015 menjadi 647 per 100.000 penduduk. Dari semua

indikator MDG’s untuk tuberkulosis (TB) paru saat ini baru target penurunan

angka insiden yang sudah tercapai. Untuk itu perlu upaya lebih besar dan

terintegrasi supaya indonesia bisa mencapai SDG’s pada tahun 2030 yang

akan datang ( Kemenkes RI, 2017).

Tuberkulosis (TB) paru sampai dengan saat ini masih merupakan

salah satu masalah kesehatan masyarakat didunia walaupun upaya

penanggulangan tuberkulosis paru telah dilaksanakan dibanyak negara sejak

tahun 1995. Jumlah kasus tuberkulosis (TB) paru di Indonesia menurut WHO

tahun 2015 diperkirakan ada 1 juta kasus tuberkulosis (TB) paru baru

2
pertahun (399 perpenduduk) dengan 100.000 kematian pertahun (41 per

100.000 penduduk). (Kemenkes RI, 2015).

Waktu pengobatan tuberkulosis (TB) paru yang panjang dengan jenis

obat lebih dari satu menyebabkan penderita sering terancam putus berobat

selama masa penyembuhan dengan berbagai alasan, antara lain merasa sudah

sehat atau karena faktor ekonomi. Akibatnya pola pengobatan harus dimulai

dari awal serta menghabiskan waktu berobat yang lebih lama. Penyakit

tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit kronik, melemahkan tubuh dan

sangat menular serta memerlukan diagnosis akurat, pemeriksaan mikroskopis,

pengobatan jangka panjang dengan keteraturan meminum obat anti

tuberkulosis (TB) paru dalam mencapai kesembuhan. Penyakit tuberkulosis

(TB) paru menimbulkan kerugian sosial ekonomi yang luar biasa memerlukan

waktu pengobatan jangka panjang yang harus diikuti dengan manajemen

kasus dan tatalaksana pengobatan yang baik (Sarwono, 2007).

Penemuan kasus tuberkulosis paru merupakan langkah pertama

kegiatan penanggulangan tuberkulosis (TB) paru. Penemuan dan

penyembuhan pasien tuberkulosis paru menular secara bermakna dapat

menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis paru. Upaya

penemuan atau tersangka tuberkulosis paru perlu melibatkan banyak sektor,

baik sektor kesehatan maupun dari sektor lain seperti Kader Kesehatan

sebagai pendukung keberhasilan dalam pengendalian pemberantasan penyakit

menular khususnya tuberkulosis (TB) paru ( Kemenkes RI, 2017).

3
Adapun program penanggulangan tuberkulosis (TB) paru di Indonesia

tujuannya adalah untuk mencapai target program Penanggulangan TB

Nasional, dan memperhatikan strategi Nasional diantaranya Peningkatan

kemitraan TB dan Peningkatan kemadirian masyarakat dalam Penaggulangan

TB. Target program Nasional Penanggulangan TB sesuai dengan target

eliminasi global adalah Eliminasi TB pada tahun 2035 dan Indonesia bebas

TB tahun 2050 (Kemenkes RI, 2017).

Eliminasi TB adalah tercapainya cakupan kasus TB per 1 juta

penduduk. Strategi penangulangan TB dalam pencapaian Eliminasi Nasional

TB meliputi diataranya: Memaksimalkan penemuan TB dini, cakupan dan

keberhasilan pengobatan yang tinggi serta meningkatkan kemandirian

masyarakat dalam penanggulangan TB. WHO pada tahun 2016, ditingkat

global diperkirakan penemuan kasus TB mencapai 10,4 juta kasus TB baru

dan 1,8 juta kematian/tahun, data ini menunjukkan masih tingginya jumlah

kasus TB. ( Kemenkes RI, 2017).

Faktor-faktor yang berperan dalam upaya pencapaian cakupan CDR

dalam program TBC adalah faktor dari dalam diri individu dan faktor di luar

diri individu. Faktor dalam diri individu meliputi umur, motivasi, sikap,

persepsi, pendidikan, kemampuan petugas yang mencakup pengetahuan dan

keterampilan, serta lama kerja dan peran petugas. Sedangkan faktor di luar

individu meliputi komitmen kepala puskesmas, beban kerja petugas, insentif

bagi petugas, sumber daya atau sarana penunjang dan kondisi geografis.

4
Kemampuan yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dari petugas yang

terkait langsung dalam pelaksanaan program TB di puskesmas adalah hal

yang menentukan keberhasilan program (Notoatmodjo, 2007).

Indikator yang digunakan dalam penanggulangan TB salah satunya

Case Detection Rate (CDR), yaitu jumlah proporsi pasien baru BTA positif

yang ditemukan dan pengobatan terhadap jumlah pasien baru BTA positif,

yang diperkirakan dalam wilayah tersebut. (Kemenkes RI, 2017).

Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberkulosis Infection

= ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Pada

daerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk,

10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan

terjadi penderita tuberkulosis, hanya 10% dari yang terinfeksi yang akan

menjadi penderita tuberkulosis. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan

seseorang menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh rendah,

diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS disamping faktor pelayanan

kesehatan yang belum memadai. (Sulianti,2007).

Upaya penanggulangan penyakit TB sudah dilakukan melalui berbagai

program kesehatan di tingkat Puskesmas, berupa pengembangan strategi

penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed

Treatmen, Shourt course = pengawasan langsung menelan obat jangka

pendek), yang telah terbukti dapat menekan penularan, juga mencegah

5
perkembangannya MDR (Multi Drug Resisten = kekebalan ganda terhadap

obat)-TB, tetapi hasilnya masih dirasakan belum sesuai dengan yang

diharapkan. Oleh karena itu diharapkan adanya pendekatan secara

komprehensif. (Kemenkes, 2016)

Penyakit tuberkulosis paru merupakan fenomena gunung es, karena

kebanyakan masyarakat mengetahui dirinya menderita TBC setelah datang

berobat di tempat pelayanan kesehatan. Tetapi masyarakat yang tidak datang

berobat di tempat pelayanan kesehatan karena berbagai faktor (sosial budaya,

ekonomi, pengetahuan), walaupun sudah menderita TBC tetapi belum

diketahui atau tidak terdaftar sebagai penderita TBC, akibatnya penderita

TBC tersebut dapat menjadi kantong-kantong penularan pada masa sekarang

dan masa yang akan datang. (Taufan, 2007).

Tingginya kejadian penyakit tuberkulosis paru masih merupakan

masalah kesehatan masyarakat dunia. Penyakit tuberkulosis paru banyak

menyerang usia kerja produktif, kebanyakan dari kelompok sosial ekonomi

rendah dan berpendidikan rendah.(Rusnoto, 2006). Pasien dengan hasil

pemeriksaan BTA (+) akan menularkan kepada 10-15 orang lainnya. Semakin

tinggi derajat positifnya semakin besar pula potensinya untuk menularkan

penyakit ini. (Anggreani, 2011).

Hasil studi lain melaporkan bahwa kontak terdekat (misalnya keluarga

serumah akan dua kali lebih beresiko dibandingkan kontak biasa (tidak

6
serumah) (Widoyono, 2008). Seorang penderita dengan BTA positif yang

derajat positifnya tinggi berpotensi menularkan penyakit ini. Penderita dengan

BTA negatif dianggap tidak menularkan (Widoyono, 2008)

Penyakit Tuberkulosis ditularkan melalui udara (melalui percikan

dahak penderita tuberkulosis. Penderita tuberkulosis batut, bersin, berbicara

atau meludah, mereka memercikan kuman tuberkolosis atau Bacilli keudara.

Droplet yan infeksius dapat bertahan beberapa jam sampai beberapa hari

akhirnya ditiup angin. Infeksi terjadi jika seseorang menghirup droplet yang

mengandung kuman tuberkolosis dan akhirnya sampai di alveoli. Respon

imun terbentuk 2-10 minggu setelah terinfeksi. Sejumlah kuman akan tetap

dorman bertahun-tahun yang disebut infeksi laten. (Kemenkes, 2012)

Masalah yang muncul akibat Tuberkulosis paru ini menyebabkan

keletihan, penurunan berat badan, letargi (hilang kesadaran), anoreksia

(kehilangan nafsu makan, dan demam ringan yang biasanya terjadi pada

siang hari, berkeringat malam, ansietas (cemas), dispnea (sesak nafas), nyeri

dada, dan hemoptisis (Effendi, 2004).

Dalam penelitian Murtaningsih, (2010) menunjukkan bahwa variabel

yang berpengaruh dengan kesembuhan penderita Tuberkulosis paru adalah

status gizi, pendapatan, dan keteraturan berobat. Sedangkan penelitian Eldira

sukmawati 2009 variabel yang mempengaruhi kesembuhan tuberkulosis paru

adalah usia, pencahayaan, sanitasi dan keadaan rumah. Penelitian (Syamsul

7
Muarif, 2010) menjelaskan mengenai pengetahuan pasien, persepsi pasien

terhadap sikap petugas, kepatuhan minum obat, riwayat penyakit yang

menyertai dan informasi yang didapat adalah beberapa faktor yang

mempengaruhi kesembuhan pengobatan TB Paru.

Berdasarkan hasil penelitian (Pradono, 2007) menyatakan bahwa

keluarga yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi akan lebih mampu

menjaga kebersihan lingkungan rumah tangganya, menyediakan minuman

yang baik, membeli makanan yang jumlah dan kualitasnya memadai bagi

keluarganya serta mampu membiayai kesehatan keluarga mereka.

Disamping itu penelitian (Dermawanti, 2014) menunjukan bahwa

peran tenaga kesehatan memberi pengaruh terhadap kepatuhan pasien untuk

selalu datang berobat kepuskesmas dan mau menerima anjuran petugas

kesehatan selama pengobatan di puskesmas. Hal ini tentu saja tidak terlepas

dari sikap positif yang dikembangkan oleh petugas kesehatan kepada pasien.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun

2015, angka capaian CDR hanya 54 % dengan 276.910 penderita suspek

Tuberculosis Paru dan 21.446 penderita diantaranya BTA positif. Hal ini

menunjukkan bahwa target merupakan masalah dalam program pengendalian

Tuberkulosis Paru di Provinsi Sumatera Barat, Cakupan penemuan tersangka

TB Paru di Sumatera Barat ditahun 2016 sebanyak 306.736 suspek dari

8
5.196.289 penduduk, dengan target 85% dengan jumlah kasus 6.988 kasus.

(Dinkes Provinsi Sumatera Barat. 2016).

Kota Padang pada tahun 2016 menempati urutan nomor lima terendah

diantara sembilan belas Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Barat, yang

mana pencapaian suspek TB hanya sebanyak 9.868 suspek (45%) dari

927.011 penduduk dengan target 95%. dan target suspek yang harus

ditemukan pada tahun 2017 sebesar 13.397 suspek dengan target 100%,

target yang berikan sangat tinggi sehingga capaian masih sangat rendah.

Sedangkan Puskesmas pada tahun 2017 untuk pencapaian suspek TB masih

sangat rendah, ditemukan 896 suspek (70%). Puskesmas Andalas merupakan

salah satu Puskesmas di kota padang dengan jumlah penduduk yang cukup

besar yaitu sebesar 84.830 jiwa.(Dinkes Kota Padang, 2017).

Dari hasil pengambilan data awal 2 tahun terakhir di Puskesmas

Andalas Padang pencapaian program TB pada tahun 2016 terhadap

penjaringan suspek yang ditemukan sebanyak 636 (66%), dan pada tahun

2017 angka penjaringan suspek yang ditemukan sebanyak 896 (70%) dari

standar angka penjaringan suspek TB yaitu 100%.

Berdasarkan hasil wawancara dilakukan peneliti di Puskesmas

Andalas Kota Padang terhadap 6 orang responden di Puskesmas Andalas Kota

Padang, 4 orang mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit tuberkulosis

paru. Sedangkan observasi yang peneliti lakukan terhadap 6 responden

9
menunjukan bahwa mereka memiliki pendapatan yang rendah dibawah UMR,

Tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas lingkungan fisik rumah yang

bisa dikatakan tidak sehat, seperti kurangnya sinar yang masuk ke dalam

rumah, ventilasi yang buruk cenderung menciptakan suasana yang gelap dan

lembab.

Dari hasil wawancara peneliti dengan kepala Puskesmas Andalas Kota

Padang, mengatakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh Puskesmas

Andalas Kota Padang seperti sosialisasi dan pendidikan kesehatan berkaitan

dengan tuberculosis paru guna memancing kesadaran masyarakat agar mereka

mau memeriksakan kesehatannya kepada puskesmas, namun pihak puskesmas

masih menemui kesulitan dalam menjaring masyarakat yang terduga

tuberkulosis paru.

Berdasarkan data di atas,maka penulis tertarik untuk meneliti faktor-

faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru di Puskesmas

Andalas Kota Padang tahun 2018.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian

Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

10
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

tuberkulosis paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan di Puskesmas Andalas

Kota Padang tahun 2018.

b. Mengetahui distribusi frekuensi status ekonomi di Puskesmas Andalas

Kota Padang tahun 2018.

c. Mengetahui distribusi frekuensi kondisi rumah dengan di Puskesmas

Andalas Kota Padang tahun 2018.

d. Mengetahui distribusi frekuensi peran petugas di Puskesmas Andalas

Kota Padang tahun 2018.

e. Mengetahui distribusi frekuensi kejadian tuberkulosis paru di

Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018.

f. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan kejadian tuberkulosis paru

di Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018.

g. Mengetahui hubungan status ekonomi dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018.

h. Mengetahui hubungan kondisi rumah dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018.

11
i. Mengetahui hubungan peran petugas dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan

menambah pengetahuan bagi masyarakat, terutama bagi pasien yang

terduga tuberkulosis untuk dapat mencegah penularan terhadap penyakit

tuberkulosis

2. Bagi Puskesmas

Diharapkan penelitian ini dijadikan bahan rujukan bagi Puskesmas

Andalas Kota Padang untuk meningkatkan penemuan kasus TB Paru dan

cara pencegahan dari penyakit TB Paru dengan berbagai media terhadap

penyakit TB paru di Puskesmas Andalas Kota Padang.

3. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan

sebagai pengalaman dalam merealisasikan teori yang telah didapat

dibangku kuliah, khususnya mengenai faktor yang berhubungan dengan

kejadian TB Paru.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Data atau hasil yang diperoleh dapat menjadi data dasar yang

mendukung untuk penelitian berikutnya.

12
5. Bagi Institusi Pendidikan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber ilmu

pengetahuan yang berguna dan dapat dikembangkan dalam proses

pembelajaran yang berkaitan dengan Kejadian TB Paru.

E. Ruang Lingkup

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bersifat analitik

dengan pendekatan cross sectional study yang meneliti tentang faktor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian penyakit TB Paru pada Puskesmas

Andalas Kota Padang yang meliputi pengetahuan, status ekonomi, kondisi

rumah, dan peran petugas. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Andalas

Kota Padang pada bulan Agustus tahun 2018.

13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis

1. Pengertian

Tuberkulosis paru adalah suatu infeksi kronik jaringan paru, yang

disebabkan Mycobacterium tuberculosea. Didaerah tropik frekuensi

tuberkulosis paru masih tinggi (Sibuea,W. 2012). Secara umum sifat

kuman Mycobacterium tuberculosis atara lain adalah berbentuk batang

dengan panjang 1-10 mikron dan lebar 0,2- 0,8 mikron, bersifat asam

dalam peawarnaan dengan metode Ziehl Neelsen, berbentuk batang

berawna merah dalam pemeriksaan dibawa mikroskop dan tahan terhadap

suhu rendah sehingga bertahan hidup jangka waktu lama pada suhu antara

4°C – minus 70° C, kuman dapat bersifat Dorman ( Kemenkes RI, 2017).

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga

mengenai organ tubuh lainnya, namun yang paling sering terkena adalah

organ paru (90%). Bila menyerang organ selain paru (kelenjer limfa, kulit,

otak, tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru (Kemenkes RI,

2014).

14
2. Gejala Tuberkolusis Paru

a. Demam

Dimulai dengan demam subfebris seperti influenza. Terkadang

panas mencapai 40 – 410 C. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya

tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tubercolusis

yang masuk (Soeparman, 2009).

b. Batuk Darah

Batuk darah terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini

diperlukan membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk

dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah terjadi

peradangan menjadi produktif hal ini berlangsung 3 minggu atau lebih.

Keadaan lanjut adalah terjadinya batuk darah karena terdapat

pembuluh darah yang pecah. Yang merupakan tanda adanya ekskavasi

dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kavitas. Kematian

dapat terjadi karena penyumbatan bekuan darah pada saluran nafas

(Soeparman, 2009).

c. Sesak Nafas

Sesak nafas ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana

ilfiltrasinya sudah setengah bagian paru.

15
d. Nyeri Dada

Terjadi bila ilfiltrasinya radang sampai ke pleura sehingga

menimbulkan pleuritis.

d. Malaise (Badan lemah)

Penyakit tuberkolusis paru adalah penyakit radang yang bersifat

menahan nyeri otot dan keringat dimalam hari. Gejala tersebut makin lama

makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (Soeparman,

2009).

3. Cara penularan

a. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percikan

dahak yang dikeluarkannya. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB

dengan hasil pemeriksaan BTA negatif tidak dapat menularkan, karena

sensitivitas dengan pemeriksaan mikroskopi hanya 60 % .

b. Infeksi akan terjadi bila seseorang menghirup udara yang mengandung

percikan dahak pasien TB, saat batuk dan bersin ( Kemenkes RI,

revisi 2015)

Sumber penularan adalah pasien TB paru dengan BTA positif,

yaitu pada waktu pasien batuk atau bersin dapat menyebarkan kuman ke

udara dalam bentuk percikan ludah (droplet). Droplet yang mengandung

kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.

Infeksi akan terjadi apabila seseorang menghirup udara yang mengandung

16
percikan dahak yang infeksius. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitas

3000 percikan dahak yang mengandung kuman sebanyak 0- 3500 M.

Tuberculosis. Sedangkan kalau bersin dapat mengeluarkan sebanyak

4500- 1.000.000 M.tuberculosis. ( Kemenkes RI, 2017 ).

4. Klasifikasi Tuberkulosis

Klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB meliputi 4 hal yang perlu

diperhatikan:

a. Lokasi yang sakit, yaitu paru-paru atau selain paru / ekstra paru.

TB ekstra paru yaitu kuman Tb yang menyerang organ selain paru.

Diagnosis berdasarkan kultur (+) atau PA tempat lesi

b. Hasil pemeriksaan dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) positif atau

negatif

1) BTA (+) Positif

a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS

hasilnya BTA Positif.

b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto

toraks dada menunjukan gambaran TB.

c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan

Kuman TB Positif

d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3

Spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya

17
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah

pemberian antibiotika non OAT.

2) BTA (-) negatif

a) Hasil sptum BTA 3x negatif.

b) Gambaran radiologi menunjukkan kearah TB.

c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik no

OAT pada pasien HIV negatif.

d) Ditentukan oleh kader untuk diberikan pengobatan.

3) Riwayat pengobatan TB sebelumnya Status HIV

5. Diagnosis

a. Diagnosis TB Paru

Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari

berturut-turut, yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Seandainya kondisi

tersebut tidak dapat dipenuhi , maka rentang waktu antara fiksasi

spesimen Sewaktu (S) yang pertama dan yang kedua tidak lebih dari 7

hari. Bila melebihi 7 hari pengambilan spesimen pertama di harus

ulang kembali. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan

dengan ditemukannya kuman TB BTA positif. Pada programTB

nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis

merupakan diagnosis utama ( Kemenkes RI, Revisi 2015).

Pemeriksaan dahak dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen

dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan

18
berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS).-S (Sewaktu) : dahak

dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali.

Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk

mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.- P (Pagi) : dahak

dikumpulkan di rumah pada hari kedua, segera setelah bangun tidur.

Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Unit Pelayanan

Kesehatan (UPK).- S (Sewaktu) : dahak dikumpulkan di UPK pada

hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi. Pemeriksaan lain seperti

foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai

penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. ( Kemenkes

RI, 2014)

b. Diagnosis Ekstra Paru

Gejala dan keluhan tergantung pada organ yang terkena, misalnya

kaku kuduk pada meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura,

pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis Tb serta

deformitas tulang belakang pada spondilitis TB dan lainnya. Pada

pasien ektra paru ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis

atau hispatologi dari contoh uji yang diambil dari organ yang terkena

(Kemenkes RI, Revisi 2015)

19
Berikut ini merupakan bagan alur diagnosis TB paru (Pedoman

Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, 2008) yaitu :

Suspek TB Paru

Pemeriksaan dahak mikroskopis – Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)

Hasil Hasil Hasil


BTA BTA BTA
+++ +-- ---

Antibiotik Non-OAT

Tidak ada Ada


perbaika perbaika

Foto toraks dan Pemeriksaan dahak


pertimbangan dokter mikroskopis

Hasil BTA Hasil


+++ BTA
++ -
+--
Foto toraks dan
pertimbangan dokter

TB BUKAN TB
Gambar 2.1 Alur Diagnosis TB Paru

6. Pengobatan TB Paru

Pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah

kematian , mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan

mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT, dengan prinsip

pengobatan diberikan dalam bentuk panduan OAT yang tepat dalam dosis

yang tepat. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif

dan lanjutan. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari

20
dan perlu di awasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi

obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,

biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2

minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positip menjadi BTA negatif

(konversi) dalam 2 bulan. Tahap lanjutan Pada tahap lanjutan pasien

mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih

lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga

mencegah terjadinya kekambuhan ( Kemenkes RI, 2014 ).

7. Panduan Obat anti Tuberkulosis (OAT)

Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis di Indonesia (Kemenkes, revisi 2015) yaitu :

a. Kategori I : 2HRZE/4(HR)3. Tahap intensif ini terdiri dari isoniasid

(H), Rifampisin(R), Pirazinamid (Z) dan Ethambutol (E), obat

tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan, kemudian diteruskan

tahap selanjutnya terdiri dari Isoniazid dan Rifampisin diberikan 3 kali

dalam seminggu selama 4 bulan.Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita baru TB paru BTA positif

2) Penderita TB paru BTA negatif rontgen positip yang sakit berat.

3) Penderita TB ekstra paru berat.

b. Kategori 2 : 2HRZ(S)/HRZE/5(HR)3E3,tahap intensif ini diberikan

selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniazid, rifampisin,

21
pirazinamid, ethambutol dan suntikan streptomisin setiap hari.

Dilanjutkan dengan 1 bulan dengan isoniasid, rifampisin, pirazinamid

dan etambutol setiap hari. Setelah itu dilanjutkan tahap berikutnya

selama 5 bulan dengan RHE yang diberikan 3 kali dalam seminggu.

Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah

penderita minum obat. Obat ini diberikan untuk :

(1) penderita kambuh;

(2) penderita gagal

(3) penderita dengan pengobatan setelah lalai. OAT sisipan (HRZE),

bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positip

dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang

dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positip,

diberikan obat (HRZE) setiap hari selama sebulan.

8. Tersangka TB (Suspek)

Tersangka (suspek) penderita TB adalah seorang yang

kemungkinan menderita TB yang mengalami batuk berdahak selama 2-3

minggu atau lebih dan dapat diikuti gejala tambahan seperti batuk

bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, nafsu makan menurun,

penurunan berat badan, malaise, berkeringat di malam hari walaupun

tanpa melakukan kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.

(Kemenkes, 2012).

22
Gejala-gejala tersebut sesak nafas diatas dapat dijumpai pula pada

penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronchitis kronis, asma,

kanker paru dan lain-lain. Mengingat, seperti bronkiektasis, bronchitis

kronis, asma, kanker paru dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di

Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK

dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka

(suspek) pasien TB dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara

mikroskopis langsung (Kemenkes, 2012).

9. Penemuan penderita TB

Kegiatan penemuan pasien yang dilaksanakan di fasilitas

kesehatan dengan memperkuat jejaring layanan TB melalui PublicPrivate

Mix (PPM) dan memperkuat kolaborasi layanan misalnya di poli umum,

unit layanan Gizi, KIA. Secara manajemen layanan, penemuan pasien TB

juga harus diintegrasikan kedalam strategi atau sistem manajemen

kesehatan yang diterapkan di fasyankes seperti MTBS dan MTDS. Dan

penemuan pasien TB harus didukung dengan kegiatan promosi yang aktif,

sehingga semua terduga TB dapat ditemukan secara dini ( Kemenkes RI,

2017 ).

Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan

program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB

menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian

23
akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan

pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Salah satu

stategi penemuan terduga TB adalah dilakukan difasilitas kesehatan

didukung dengan promosi secara aktif oleh petugas kesehatan, bersama

masyarakat diantaranya kader kesehatan, sehingga semua terduga TB

dapat dapat ditemukan secara dini. (Kemenkes RI, revisi 2015,2017)

B. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Terduga (Suspek) TB

1. Pengetahuan Pasien Suspek Tuberkulosis Paru

a. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan adalahhasil

penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek

melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).

Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan

persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang

diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan

(mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas

atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6

tingkat pengetahuan, yakni :

1) Tahu (Know)

24
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik

dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu

tentang apa yang dipelajari, antara lain menyebutkan,

menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara besar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang

telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, meramalkan, menyimpulkan dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari.

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi

ataupenggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

25
4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih

didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya

satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat

bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan

sebagainya.

5) Sintesis (syntesis)

Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain sintesis ini adalah suatu kemampuan

untuk menyusun suatu formulasi-formulasi baru dari formulasi-

formulasi yang ada misalnya menyusun, dapat merencanakan,

dapat meringkas dan dapat menyesuaikan suatu teori atau rumusan

yang telah ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek. Penilain-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang

26
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada

(Notoatmodjo, 2007).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

1) Faktor eksternal

a) Kebudayaan

Kebudayaan dimana sesorang hidup, tinggal dan

dibesarkan memiliki pengaruh yang besar terhadap

pembentukan sikap. Apabila dalam suatu wilayah memiliki

budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka

sangat mungkin masyarakat disekitarnya memiliki sikap untuk

selalu menjaga kebersihan lingkungan maka sangatlah

mungkin berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi

seseorang (Saifuddin, 2009)

b) Informasi

Informasi merupakan keseluruhan makna dapat

diartikan sebagai pemberitahuan seiring adanya informsi baru

bagi terbentuknya sikap terhadap tersebut. Pesan-pesan sugesti

dibawa oleh informasi tersebut pendidikan ini biasanya

digunakan

2) Faktor internal

27
a) Pendidikan

Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh pelindung dan

bantuan yang diberikan kepada anak yang tertuju pada

kedewasaan. Garis-Garis Besar Haluan Negara Indonesia

mengidentifikasi lain bahwa pendidikan dari dalam dan dari

luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Notoadmodjo,

2003)

Menurut Kurt Levin, pendidikan formal yang diterima

seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang untuk

memahami sesuatu dan juga mempengaruhi sikap dan tindakan

dalam melaksanakan suatu kegiatan. Semakin tinggi

pendidikan seseorang akan semakin tinggi pula kemampuan

untuk menyerap dan menerima informasi sehingga

pengetahuan dan wawasan lebih luas dan akan mempengaruhi

pula perilaku seseorang yang dapat dilihat dari

sikapnya.Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang

direncanakan untuk mempengaruhi pengetahuan dan

kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu

(Notoatmodjo, 2007).

b) Pengalaman

28
Pengalaman terbentuk apabila apabila pengalaman pribadi

tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi

penghayatan. Penglaman akan lebih mendalam dan lama

membekas (Saifuddin, 2009)

c) Usia

Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari

sisi kepercayaan masyarakat, seseorang yang telah dewasa

akan lebih dipercaya dari pada seseorang yang belum cukup

tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman

dan kematangan jiwa. Darihasil penelitianyang dilaksanakan

di New York pada panti penampungan orang-orang

gelandangan menunjukan bahwa kemungkinan mendapatkan

infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai

dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya

mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75%

penderita Tuberkulosis paru adalah kelompok usia produktif

yaitu 15-50 tahun (Suryo. 2010).

d) Pekerjaan

29
Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari

nafkah atau pencarian. Masyarakat yang sibuk dengan kegiatan

pekerjaan sehari-hari akan memiliki sedikit waktu untuk

memperoleh informasi.

e) Pendapatan

Pendapatan merupakan sesuatu yang di dapat dan

pendapatan erat sekali hubungannya dengan status kesehatan.

f) Informasi

Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan

mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang

memiliki yang banyak informasi maka dirinya cenderung

memilikipengetahuan yang luas.

Penelitian Reviono menunjukan bahwa pada pasien yang

tahu menganai tuberkulosis paru jumlah keterlambatan

pasiennya lebih sedikit dibandingan dengan yang tidak tahu.

Penelitian dari Golub tahun 2005 juga mencacat bahwa pasien

yang tahu gejala tuberkulosis dan kemana harus pergi berobat

ternyata lebih sedikit terjadi keterlambatan dibandingkan yang

tidak tahu.

2. Status ekonomi Terduga (Suspek) Tuberkulosis Paru

30
a. Pengertian

Menurut kamus bahasa Indonesia, pengertian status adalah

tingkatan dan kedudukan seseorang dengan hubungannya dengan

masyarakat disekelilingnya, sedangkan pengertian ekonomi adalah

ilmu mengenai azas-azas produksi dan pemakaian barang-barang serta

kekayaan, sehingga pengertian status ekonomi adalah tingkatan

kekayaan seseorang dalam hubungannya dengan masyarakat

disekelilingnya (Poerwadaminta, 2002).

Keadaan status ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan,

keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan

kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya

kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan

sehinnga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi

buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun

sehingga memudahkan terkena infeksi tuberkulosis paru. Faktor

ekonomi, keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya

berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan karena

ketidakmampuan dalam mengatasi masalah kesehatan. Masalah

kemiskinan akan sangat mengurangi kemampuan masyarakat

untuk memenuhi kebutuhan gizi, pemukiman danlingkungan sehat,

jelas semua ini akan mudah menumbuhkan penyakit tuberkulosis

(Suryo 2010).

31
b. Faktor yang Mempengaruhi Status Ekonomi

Status ekonomi kemungkinan besar pembentuk gaya hidup

keluarga. Faktor-faktor yang mempengaruhi status sosial ekonomi

adalah :

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingannya yang diberikan oleh

seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-

cita tertentu. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka akan

mudah memperoleh pekerjaan sehingga semakin banyak juga

penghasilan yang diperoleh. Sebaliknya, pendidikan yang kurang

akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-

nilai yang baru berkembang.

2) Pekerjaan

Pekerjaan adalah simbol status seseorang di dalam masyarakat.

Pekerjaan adalah jembatan memperoleh uang dalam rangka

memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan pelayanan

kesehatan yang diinginkan

3) Keadaan ekonomi

32
Kondisi ekonomi keluarga yang rendah berkaitan dengan

status gizi yang buruk

4) Latar belakang budaya

Culture Universal adalah suatu kebudayaan yang bersifat

universal, ada dalam semua kebudayaan dunia seperti pengetahuan

bahasa dan khazanah dasar, cara bergaul, adat istiadat, dan

penilaian umum. Tanpa disadari kebudayaan telah memberi warna

tersendiri bagi sikap anggota masyarakat.

5) Pendapatan

Pendapatan adalah hasil yang diperoleh dari kerja atau

usaha yang dilakukan. Pendapatan akan mempengaruhi gaya hidup

seseorang. Orang atau keluarga yang memiliki status ekonomi atau

pendapatan tinggi akan mempraktekkan gaya hidup yang mewah

atau konsumtif karena orang tersebut mampu membeli semua yang

dibutuhkan bila dibandingkan dengan keluarga yang status

ekonominya rendah.( Indrawati, 2009).

Menurut (Notoadmodjo 2007). Tingkat ekonomi atau

penghasilan akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan

kesehatan. Seseorang kurang memenfaatkan pelayanan kesehatan

yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk

membeli obat atau membayar tranportasi Sebagai patokan atau

33
standar dalam menentukan rendah atau tidaknya pendapatan

keluarga adalah dengan membandingkan dengan Upah Minimum

Provinsi (UMP) Sumatera Barat yaitu Rp 2,160,000,-/ bulan

(UMP/UMR Provinsi Sumatra Barat, 2017).

Penelitian Reviono tahun 2008 di katakan variabel

pendapatan pasien tidak ada hubungannya dengan keterlambatan

namun hal itu disebabkan oleh besaran Upah Minimum Regional

(UMR) pada saat itu bukan batasan yang tepat untuk menilai

pendapatan orang tersebut cukup atau kurang. Selain itu penelitian

Ohmori mengatakan diagnosis tuberculosis dipengaruhi oleh

sistem asuransi atau pembiayaan kesehatan.

3. Sanitasi dan Kondisi rumah Terduga (Suspek) Tuberkulosis Paru

a. Pengertian

Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan

yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air

bersih dan sebagainya (Notoatmodjo, 2011). Lingkungan rumah

adalah segala sesuatu yang berada di dalam rumah.Lingkungan rumah

terdiri dari lingkungan fisik yaitu ventilasi, suhu, kelembaban, lantai,

dinding serta lingkungan sosial yaitu kepadatan penghuni. Rumah

yang ruangan terlalu sempit atau terlalu banyak penghuninya akan

kekurangan oksigen menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh yang

34
memudahkan terjadinya penyakitsehingga penularan penyakit saluran

pernapasan seperti TB paru akan mudah terjadidi antara penghuni

rumah (Notoatmodjo, 2003).

Lingkungan rumah menurut WHO adalah suatu struktur fisik

dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung. Lingkungan

dari struktur tersebut juga semua fasilitas dan pelayanan yang

diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan

rohani serta keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu,

oleh karena itu lingkungan rumah merupakan suatu hal yang sangat

penting bagi kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Dan

lingkungan rumah yang kurang baik merupakan salah satu tempat

yang baik dalam menularkan penyakit seperti penyakit TB paru

(Soemirat, 2009).

1) Kepadatan Penghuni Rumah

Cepat lambatnya penularan penyakit salah satunya ditentukan

oleh faktor kepadatan yang ditentukan oleh jumlah dan distribusi

penduduk. Dalam hal ini kepadatan hunian yang apabila tidak

dapat suplai rumah sehat yang memadai dan terjangkau, dapat

menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit TB

paru (Soemirat, 2009).

Kepadatan adalah perbandingan antara luas lantai rumah

dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal.

35
Persyaratan untuk kepadatan hunian untuk seluruh perumahan

biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum perorang

sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang

tersedia.

Untuk perumahan sederhana minimum 9 m² per orang. Untuk

kamar tidur di perlukan minimum 3 m² per orang. Kamar tidur

sebaiknya tidak dihuni ≥ 2 orang kecuali untuk suami istri dan

anak di bawah 2 tahun. Jarak antara tempat tidur satu dengan

lainnya adalah 90 cm. Apabila ada anggota keluarga yang

menderita penyakit TB paru sebaiknya tidak tidur dengan anggota

keluarga lainnya (Kepmenkes, 1999).

Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan

memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak

sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyababkan

overcrowded. Hal ini tidak sehat karena di samping menyebabkan

kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga

menderita suatu penyakit infeksi terutama TB paru akan mudah

menular kepada anggota keluarga yang lain, karena seorang

penderita rata-rata dapat menularkan kepada dua sampai tiga orang

di dalam rumahnya (Notoatmodjo, 2003).

Kepadatan merupakan pre-requisite untuk proses penularan

penyakit, semakin padat maka perpindahan penyakit khususnya

penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat. Oleh sebab

36
kepadatan hunian dalam rumah merupakan variabel yang berperan

dalam kejadian penyakit TB paru (Supriyono, 2002).

2) Lantai Rumah

Lantai merupakan dinding penutup ruangan bagian bawah,

konstruksi lantai rumah harus rapat air dan selalu kering agar

mudah di bersihkan dari kotoran dan debu. Selain itu dapat

menghindari meningkatnya kelembaban dalam ruangan. Untuk

mencegah masuknya air ke dalam rumah, maka lantai rumah

sebaiknya di naikkan 20 cm dari permukaan tanah. Keadaan lantai

rumah perlu dibuat dari bahan yang kedap terhadap air sehingga

lantai tidak menjadi lembab dan selalu basah seperti tegel, semen

dan keramik (Suyono, 2005).

Lantai rumah jenis tanah memiliki peran terhadap proses

kejadian penyakit TB paru, melalui kelembaban dalam ruangan.

Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban, dengan

demikian viabilitas bakteri Mycobacterium tuberculosis di

lingkungan juga sangat mempengaruhi (Achmadi, 2008).

Lantai yang tidak memenuhi syarat dapat dijadikan tempat

hidup dan perkembang biakan bakteri terutama bakteri

Mycobacterium tuberculosis. Menjadikan udara dalam ruangan

lembab, pada musim panas lantai menjadi kering sehingga

37
menimbulkan debu yang berbahaya bagi penghuninya (Suyono,

2005).

3) Ventilasi

Menurut Sarudji (2010), rumah harus memiliki sistem

pertukaran udara yang baik, karena penghuni memerlukan udara

yang segar. Setiap ruang/ kamar memerlukan ventilasi yang cukup

untuk menjamin kesegaran dan menyehatkan penghuninya.

Ventilasi bermanfaat sebagai pergantian udara dalam rumah

serta mengurangi kelembaban. Keringat manusia juga di kenal

mempengaruhi kelembaban. Semakin banyak manusia dalam satu

ruangan, kelembaban semakin tinggi khususnya karena uap air

baik dari pernapasan maupun keringat. Kelembaban dalam

ruangan tertutup di mana banyak terdapat manusia di dalamnya

lebih tinggi di banding di luar ruangan (Sarudji, 2010).

Secara umum, penilaian ventilasi rumah dengan cara

membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai rumah,

dengan menggunakan meteran. Menurut indikator penghawaan

rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah

≥10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi

syarat kesehatan adalah <10% luas lantai rumah (Kepmenkes,

1999).

38
Menurut Sarudji (2010), Ventilasi yang baik dalam suatu

ruangan memerlukan persyaratan tertentu, diantaranya yang

penting adalah luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas

lantai ruangan, sedangkan luas ventilasi insidental (yang dapat

dibuka dan ditutup) minimum 5% dari luas lantai.

Menurut Notoatmodjo (2003), rumah dengan luas ventilasi

yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh

bagi penghuninya. Salah satu fungsi ventilasi adalah menjaga

aliran udara dalam rumah tersebut tetap segar. Fungsi kedua

ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-

bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran

udara yang terus-menerus dan bakteri yang terbawa oleh udara

akan selalu mengalir.

Menurut Notoatmodjo (2011), fungsi lainya adalah untuk

menjaga agar ruangan selalu tetap didalam kelembaban (humidity)

yang optimum. Salain itu luas ventilasi yang tidak memenuhi

syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses

pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam

rumah, akibatnya bakteri Mycobacterium tuberculosis yang ada di

dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara

pernapasan. Perjalanan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang

setelah di batukkan akan terhirup oleh orang disekitarnya sampai

ke paru-paru, sehingga dengan adanya ventilasi yang baik akan

39
menjamin pertukaran udara, sehingga konsentrasi droplet dapat

dikurangi. Konsentrasi droplet bervolume udara dan lamanya

waktu menghirup udara tersebut memungkinkan seseorang akan

terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Selain itu pengaruh buruk berkurangnya ventilasi adalah

berkurangnya kadar oksigen, bertambahnya gas CO2, adanya bau

pengap, suhu udara ruangan naik, dan kelembaban udara

bertambah.

Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang

baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri-bakteri

patogen termasuk bakteri Mycobacterium tuberculosis (Depkes,

2002).

4) Pencahayaan

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak

kurang dan tidak terlalu banyak (Achmadi, 2008). Menurut

Notoatmodjo (2003), kurangnya cahaya yang masuk ke dalam

ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang

nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup

dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak

cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dan akhirnya

dapat merusakan mata.

40
MenurutSarudji (2010), cahaya dapat dibedakan menjadi 2,

yakni :

a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya matahari ini

sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri

patogen di dalam rumah, misalnya basil Mycobacterium

tuberkulosis. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus

mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya

jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya

15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam

ruangan rumah. Perlu diperhatikan dalam membuat jendela

diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke

dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi

jendela disini, disamping sebagai ventilasi,juga sebagai

jalan masuk cahaya.

Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan

diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai

(bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu

harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok). Jalan

masuknya cahaya ilmiah juga diusahakan dengan genteng

kaca.

b. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang

bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan

41
sebagainya. Kualitas dari cahaya buatan tergantung dari

terangnya sumber cahaya (brighness of thesource). Rumah

dengan pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh

terhadap kejadian penyakit TB paru. Bakteri

Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup pada

tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari

bertahun-tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar

matahari, lisol, sabun, karbon dan kapas api, bakteri ini

akan mati dalam waktu dua jam. Rumah yang tidak masuk

sinar matahari mempunyai risiko menderita TB paru 3-7

kali di bandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar

matahari (Fatimah, 2008).

5) Kelembaban

Kelembaban udara berpengaruh terhadap konsentrasi pencemar

di udara. Kelembaban berhubungan negatif (terbalik) dengan suhu

udara. Semakin tinggi suhu udara, maka kelembaban udaranya

akan semakin rendah (Suryanto 2003). Kelembaban yang standar

apabila kelembaban udaranya akan semakin rendah.

Kelembaban merupakan sarana baik untuk pertumbuhan

mikroorganisme terutama Mycobacterium tuberculosis.

42
Kelembaban rumah yang tinggi dapat mempengaruhi

penurunan daya tahan tubuh seseorang dan meningkatkan

kerentanan tubuh terhadap penyakit terutama penyakit infeksi.

Kelembaban juga dapat meningkatkan daya tahan hidup

bakteri. Kelembaban dianggap baik jika memenuhi 40%-70% dan

buruk jika kurang dari 40% atau lebih dari 70% (Sarudji, 2010).

Kelembaban berkaitan erat dengan ventilasi karena sirkulasi udara

yang tidak lancar akan mempengaruhi suhu udara dalam rumah

menjadi rendah sehingga kelembaban udaranya tinggi (Achmadi,

2008).

Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi

syarat kesehatan akan mambawa pengaruh bagi penghuninya.

Rumah merupakan media yang baik bagi pertumbuhan

mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia dan virus.

Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui

udara. Seperti yang telah diuraikan oleh (Gould, 2003, dalam

Ayunah, 2008), bakteri Mycobacterium tuberculosis seperti halnya

bakteri lain, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan

kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 80% volume

sel bakteri dan merupakan hal essensial untuk pertumbuhan dan

kelangsungan hidup sel bakteri.

43
6) Suhu

Salah satu faktor yang menentukan kualitas udara dalam rumah

adalah suhu. Di katakan nyaman apabila suhu udara berkisar antara

18 ºC -30ºC, dan suhu tersebut di pengaruhi oleh suhu udara luar,

pergerakan udara dan kelembaban udara. Bakteri Mycobacterium

tuberculosis hidup dan tumbuh baik pada kisaran suhu 31ºC -37ºC.

Suhu dalam rumah akan mempengaruhi kesehatan dalam rumah,

dimana suhu yang panas tentu akan berpengaruh pada aktivitas

(Depkes, 1999, dalam Ayunah, 2008).

4. Peran Petugas

a. Pengertian

Peran adalah seperangkap perilaku individu yang diharapkan

oleh orang lain sesuai kedudukkannya dalam sistem, (Kozier et al,

2008), maka upaya untuk menguatkan peran berkaitan dengan

intervensi faktor perilaku. Perilaku penemuan kasus TB dapat

diprediksi dari intensi/niat melakukan penemuan suspek TB.(

Sumartini, 2010).

Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan

diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan

keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis

44
tertentu yang memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya

kesehatan.

Tenaga kesehatan memiliki peranan yang sangat penting untuk

meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada

masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran

kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat sehingga akan

terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai investasi

bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial

dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum

(Kemenkes RI, 2014).

Peranan petugas kesehatan dalam program pemberantasan

tuberkulosis adalah mendeteksi, melakukan pengobatan, melakukan

pengawasan langsung dan mencegah orang lain terinfeksi. (Kemenkes

RI, 2012).

Petugas kesehatan merupakan ujung tombak dalam penemuan,

pengobatan dan evaluasi penderita maupun administrasi program di

puskesmas. Tanpa penemuan suspek maka program pemberantasan

tuberkulosis paru dari penemuan sampai pengobatan tidak akan

berhasil, sehingga penemuan suspek baru oleh petugas kesehatan

sangat menentukan keberhasilan program (Hidayat, 2005).

45
b. Tugas Pokok dan Fungsi Petugas Tuberkulosis di Puskesmas

1. Petugas program

Adapun tugas pokok dan fungsi petugas program tuberkulosis,

sesuai dengan kebijakan pemerintah melalui keputusan menteri

kesehatan tahun 2004 adalah sebagai berkut :

a. Menemukan Penderita

1) Memberikan penyuluhan tentang TBC kepada masyarakat

umum

2) Menjaring suspek (penderita tersangka) TBC

3) Mengumpulkan dahak dan mengisi buku daftar suspek

Form TB 06

4) Membuat sediaan hapus dahak

5) Mengirim sediaan hapus dahak ke laboratorium dengan

form TB 05

6) Menegakkan diagnosis TB sesuai protap

7) Membuat klasifikasi penderita

8) Mengisi kartu penderita (TB 01) dan kartu identitas

penderita (TB 02)

9) Memeriksa kontak terutama kontak dengan penderita TBC

BTA (+)

10) Memantau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah

penderita TBC yang ditemukan.

46
b. Memberikan Pengobatan

1) Menetapkan jenis paduan obat

2) Memberi obat tahap intensip dan tahap lanjutan

3) Mencatat pemberian obat tersebut dalam kartu penderita

(form TB 01)

4) Menentukan PMO (bersama penderita)

5) Memberi KIE (penyuluhan) kepada penderita, keluarga dan

PMO

6) Memantau keteraturan berobat

7) Melakukan pemeriksaan dahak ulang untuk follow-up

pengobatan

8) Mengenal efek samping obat dan komplikasi lainnya serta

cara penangganannya

9) Menentukan hasil pengobatan dan mencatatnya di kartu

penderita.

c. Penanganan Logistik

1) Menjamin ketersediaan OAT di puskesmas

2) Menjamin tersedianya bahan pelengkap lainnya (formulir,

reagens, dan lain-lain)

3) Jaga mutu pelaksanaan semua kegiatan

47
2. Petugas Laboratorium di Puskesmas

a. Menemukan Penderita

1) Memberikan penyuluhan tentang TBC kepada masyarakat

umum

2) Menjaring suspek (penderita tersangka) TBC

3) Mengumpul dahak dan mengisi buku daftar suspek Form

Tb 06

4) Membuat sediaan hapus dahak

5) Mewarnai dan membaca sediaan dahak, mengirim balik

hasil bacaan, mengisi buku register laboratorium (TB 04)

dan menyimpan sediaan dahak untuk cross check

b. Penanganan Logistik

Menjamin tersedianya bahan pelengkap lainnya

(formulir,reagens,dan lain-lain)

d. Faktor yang mempengaruhi peran petugas

Peran adalah suatu perilaku yang merefleksikan tujuan dan

nilai pada situasi tertentu yang bersifat homogen dan diharapkan

dapat secara normatif dariseorang coupon dalam situasi tertentu

(Firdaus, 2012). Adapun faktor yang mempengaruhi peran petugas

kesehatan dalam penemuan suspek adalah pengetahuan, sikap,

tingkat pendidikan pelatihan, masa kerja/pengalaman, kebudayaan

dan adanya supervisi wasor (Widayat, 2005)

48
C. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan

sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang

relevan dengan variabel yang diteliti. Mengacu pada tinjauan pustaka yang

telah dipaparkan kerangka teori dalam penelitian ini adalah :

Faktor Internal
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Kepercayaan
4. Keyakinan
5. Persepsi
6. Pengalaman
7. Nilai-nilai
8. Sosial budaya
9. Sosial ekonomi

Faktor Pendukung

1. Sarana dan Prasarana Kejadian tuberkulosis


2. Lingkungan paru
fisik/ geografis

Faktor pendorong

1. Peran Petugas
2. Dukungan Keluarga

D. Gambar 2.1. Kerangka Teori

E. Sumber : Lawrence Greeen (1993) dalam Notoatmodjo 2011, Potter dan Perry

(2007) dalam Mandriwati2008, Friedman 2010) dalam Darmayanti 2012

F. Keterangan : Tulisan yang dihitamkan merupakan variabel penelitian

49
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Penularan penyakit ini dapat terjadi secara langsung dari semprotan

droplet pada waktu bersin, batuk, meludah, menyanyi atau berbicara (biasanya

pada jarak 1meter), maupun secara tidak langsung melalui dahak penderita yang

mengandung Mycobacterium Tuberculosis yang di buang sembarangan dan

tercampur dengan partikel debu dalam kondisi tertentu kuman dihembuskan oleh

angin sehingga terhirup oleh orang lain yang tidak menderita tuberkulosis paru.

Pemberantasan penyakit tuberkulosis paru dapat dilakukan dengan cara

memutuskan penularannya. Dengan terputusnya rantai penularannya berarti akan

dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kejadian tuberkulosis paru.

Dengan demikian maka sumber infeksi dapat dihilangkan. Akan tetapi usaha

tersebut tidak semudah kita mengatakannya, karena dalam proses terjadinya

penyakit tuberkulosis paru sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu

diantaranya adalah tingkat status ekonomi. Terjadinya tuberkulosis paru

berhubungan dengan beberapa faktor, yaitu : Pengetahuan, pekerjaan, kondisi

rumah, status ekonomi, jenis kelamin.

50
Berdasarkan konsep di atas, dikemukakan bagan kerangka konsep dari

variabel independen, sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan

Status Ekonomi
Kejadian
Tuberkulosis Paru
Kondisi Rumah

Peran Petugas

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

51
B. Defenisi Operasional

N Variabel Defenisi CaraUkur Alat Ukur Hasil Ukur Skala


o Operasional Ukur
1. Pengetahuan Pengetahuan Wawancara Kuesioner 0 = Rendah < Ordinal
yang dari mean
pengalaman
sendiri atau orang  1 = Tinggi ≥
lain, pencegahan, mean
penyebab,
penularan dan
pengobatan TB
Paru

2. Status Jumlah Wawancara Kuesioner 0 = Rendah Ordinal


ekonomi penghasilan <UMP
seseorang dalam  1 = Tinggi ≥
satu bulan UMP
3. Kondisi suasana hunian observasi Kuesioner 0 = Tidak Ordinal
rumah yang di tempati Memenuhi
oleh si penderita syarat < mean
TB paru :
 1 = memenuhi
• Pencahayaan
syarat ≥ mean
• Ventilasi
• Kelembaban
• suhu
• Kepadatan
• lantai
4. Peran Tindakan yang Wawancara Kuesioner  0 = Belum Ordinal
Petugas dilakukan petugas Optimal <
kesehatan untuk mean
mendeteksi,
memeriksa,
mengobati, dan  1 = Optimal ≥
melakukan mean
pengawasan
langsung dan
mencegah orang
terinfeksi TB
Paru

52
5. Kejadian Indikasi yang Observasi Rekam • 0 = Ya Ordinal
terduga TB ditemukan terkait Medik Diagnosa
Paru dengan dan postif dari
terduga(Suspek) diagnosa dokter
TB paru dokter.
Alternatif • 1 = Tidak
jawaban : diagnosa
Positif : 0 negatitif dari
dan dokter
negatif 1

C. Hipotesis Penelitian

1. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian

tuberkulosis paru di Puskesmas Andalas Kota Padang.

2. Terdapat hubungan antara status ekonomi dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang.

3. Terdapat hubungan antara kondisi rumah dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang.

4. Terdapat hubungan antara peran petugas dengan kejadian tuberkulosis

paru di Puskesmas Andalas Kota Padang.

53
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Rancangan Penelitian

Jenis Penelitian yang akan digunakan adalah penelitian analitik kuantitatif

dengan menggunakan desain cross sectional study. Menurut Susilo dan Suyanto

(2015), Penelitian cross sectional adalah sesuatu penelitian dimana variabel-

variabel yang termasuk faktor resiko dan varabel-variabel yang termasuk efek

diobservasi sekaligus pada waktu yang sama, pada penemuan tersangka (suspek)

Tuberkulosis paru, variabel independennya adalah Pengetahuan, peran petugas,

status ekonomi, dan kondisi rumah. Sedangkan variabel dependennya adalah

kejadian tuberkulosis paru.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat

Akan dilakukan di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

2. Waktu

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus 2018.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, Sugiyono

54
(2013). Populasi dalam penelitian ini adalah semua suspek TB Paru yang

berkunjung ke Puskesmas Andalas Kota Padang sebanyak 896 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut. (Sugiyono, 2011,p.81). Sampel adalah bagian dari

populasi yang dianggap mewakili populasinya. Dalam penelitian survei,

hasil dari penelitian tersebut merupakan hasil dari keseluruhan. Dengan

kata lain, hasil dari sampel tersebut dapat digenerelisasikan sebagai hasil

populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel dalam penelitian ini adalah suspek

TB di puskesmas Andalas Kota Padang. Besar sampel dalam penelitian ini

ditentukan berdasarkan rumus dari Notoatmodjo 2010 sebagai berikut:

N
n
1  N (d 2 )

Ket :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d2 = Presisi yang ditetapkan  0,12 = 0,01

Jadi jumlah sampel didapatkan yaitu :

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁(𝑑2 )

896
𝑛=
1 + 896(0,12 )

55
896
𝑛=
1 + 896(0,01)

896
𝑛=
1 + 8,96

896
𝑛=
9,96

n = 89,9 dibulatkan menjadi 90 orang sampel

D. Teknik Pengambilan Sampel

Sehingga jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak

90orang responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini

Proportional Random Sampling. Pengambilan sampel secara proporsi

dilakukan dengan mengambil subyek dari setiap strata atau setiap wilayah

ditentukan seimbang dengan banyaknya subyek dalam masing-masing strata

atau wilayah (Arikunto, 2006). Dengan menggunakan teknik Proportional

Random Sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 90 suspek, adapun

besar atau jumlah pembagian sampel untuk masing-masing kelurahan dengan

menggunakan rumus menurut Sugiono (2011)

X
n xN1
N

56
Keterangan :

n : Jumlah sampel yang diinginkan setiap strata

N : Jumlah seluruh populasi

X : Jumlah populasi pada setiap strata

N1 : Sampel

Berdasarkan rumus, jumlah sampel dari masing-masing desa

yang terdiri dari 10 kelurahan yaitu :

80
1. Sawahan : 𝑛= 𝑥90 = 8 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

89
2. Jati Baru : 𝑛= 𝑥90 = 9 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

98
3. Jati : 𝑛= 𝑥90 = 10 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

69
4. Sawahan Timur : 𝑛= 𝑥90 = 7 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

91
5. Kubu Marapalam : 𝑛= 𝑥90 = 9 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

61
6. Andalas : 𝑛= 𝑥90 = 6 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

82
7. Parak Karakah : 𝑛= 𝑥90 = 8 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

118
8. Parak Gadang Timur : 𝑛= 𝑥90 = 12 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

109
9. Simpang Haru : 𝑛= 𝑥90 = 11 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

99
10. Ganting : 𝑛= 𝑥90 = 10 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
896

57
Tabel 3.2 Jumlah Sampel masing-masing Kelurahan

No Desa Jumlah Suspek sampel

1 Sawahan 80 8

2 Jati Baru 89 9

3 Jati 98 10

4 Sawahan Timur 69 7

5 Kubu Marapalam 91 9

6 Andalas 61 6

7 Parak Karakah 82 8

8 Parak Gadang Timur 118 12

9 Simpang Haru 109 11

10 Ganting 99 10

Total 896 90

Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini meliputi :

a. Kriteria sampel inklusi

1) Bersedia menjadi responden

2) Bertempat tinggal menetap di wilayah kerja Puskesmas Andalas Kota

Padang

3) Tidak sakit keras dan dapat diwawancarai

b. Kriteria sampel eksklusi

1) Gangguan mental

2) Sedang menjalani perawatan sehingga tidak memungkinkan untuk

58
menjadi responden

3) Telah pindah diluar wilayah kerja Puskesmas Andalas Kota Padang

4) Tidak menyetujui lembaran persetujuan menjadi responden

E. Cara Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan

dalam pengisian kuesioner responden didampingi oleh peneliti agar pengisian

kuesioner lebih akurat dan kesalahpahaman dapat dihindari.

1. Data Primer

Adapun pengumpulan data yaitu melalui wawancara langsung dengan

berpedoman pada kuisioner yang meliputiperan petugas, kondisi sarana dan

prasarana, kesediaan dana, peran kader, dan peran tokoh masyarakat dalam

penemuan suspek TB Parudengan langkah-langkah :

a. Penjelasan tentang penelitian dan tujuan penelitian pada responden

b. Penjelasan informed consent

c. Kuisioner dibagikan pada responden dan meminta responden memahami

terlebih dahulu setelah itu responden diharapkan untuk mengisi kuesioner

tersebut.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data dan informasi pendukung yang sudah ada,

diperoleh dari Puskesmas Andalas Kota Padang.

F. Teknik Pengolahan Data

Menurut Notoatmodjo (2010), setelah data terkumpul, pengolahan data

dilakukan secara komputerisasi dengan langkah–langkah sebagai berikut :

59
1. Pemeriksaan Data (Editing)

Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan

oleh responden. Tujuan dari editing adalah untuk mengurangi kesalahan atau

kekurangan yang ada dalam daftar pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai

sejauh mungkin.

2. Pengkodean Data (Coding)

Koding adalah mengklarifikasikan jawaban–jawaban dari para

responden kedalam kategori–kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan

cara memberi tanda atau kode berbentuk angka pada masing– masing

jawaban.

3. Memasukan Data (Processing)

Pada tahap ini dilakukan kegiatan proses data terhadap semua

kuesioner yang lengkap dan benar untuk dianalisis, pengolahan data dilakukan

dengan program computer.

4. Pembersihan Data (Cleaning)

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinankemungkinan

adanya kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan sebagainya dan kemudian

dilakukan pembentukan atau koreksi.

60
5. Tabulating

Setelah data dimasukan, lakukan pengolahan data secara komputerisasi

sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan peneliti.

G. Teknik Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran disrtibusi

frekuensi dari masing-masing variabel penelitian, baik variabel independen

(pengetahuan, peran petugas, kondisi rumah, status ekonomi responden)

maupun variabel dependen (Kejadiaan TB Paru ) (Notoatmodjo, 2010).

Berdasarkan nilai rata-rata data numerik dijadikan data kategorik dan

data kategorik selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan dua variable

yang dilakukan, apakah ada hubungan antara variabel independent dengan

variabel dependent (Notoatmodjo, 2010). Untuk mengetahui hubungan antara

kedua variabel ini digunakan uji statistik dengan Chi Square (X 2) dengan

tingkat kemaknaan atau alfa 95 %. Hasil uji Chi Square dikatakan bermakna

bila nilai p < 0,05.

H. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan izin

kepada responden untuk mendapatkan persetujuan penelitian. Setelah

mendapatkan persetujuan barulah peneliti melakukan penelitian dengan

61
menegakkan masalah etika. Menurut Aziz Alimul (2007). Masalah etika dalam

penelitian ini meliputi :

1. Informed Concent (Lembar Persetujuan)

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden

penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Lembar persetujuan ini

diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria dan

disertai judul penelitian dan manfaat penelitian. Jika responden menolak maka

peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Tidak memberikan nama responden pada lembar pengumpulan data.

Lembar tersebut hanya diberi inisial tertentu.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun

masalah-masalah lainnya, semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin

kerahasiaan oleh peneliti.

62
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Andalas terletak di kelurahan andalas dengan wilayah kerja

meliputi 10 kelurahan dengan luas 8.15 Km², terletak -0,939 LS/LU dan

100.38428 BT, terdiri dari 10 kelurahan yaitukelurahan sawahan, kelurahan

jati baru, kelurahan jati, kelurahan sawahan timur, kelurahan kubu marapalam,

kelurahan andalas, kelurahan kubu dalam parak karakah, kelurahan parak

gadang timur, kelurahan simpang haru, kelurahan ganting parak gadang. Batas

area wilayah kerja Puskesmas Andalas adalah :

1. Sebelah Utara : Kecamatan Padang Utara, Kuranji

2. Sebelah Selasa : Kecamatan Padang Selatan

3. Sebelah Barat : Kecamatan Padang Barat

4. Sebelah Timur : Kecamatan Lubuk Begalung, Pauh

B. Gambaran Demografis

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Andalas pada tahun 2017

berjumlah 84.830 orang, terdiri dari penduduk asli dan pendatang. Sejumlah

22.675 orang diantara tercatat sebagai keluarga miskin (gakin) dan telah

mendapatkan penjaminan pelayanan kesehatan bagi mmasyarakat miskin

dlam bentuk jamkesmas sejumlah 13.890 orang dan jamkesmas sejumlah

63
8.785 orang. Hingga tahun 2017 kepesertaan keluarga miskin dalam

jamkesmas sudah hampir 100%.

Penduduk di wilayah kerja puskesmas andalas sebagian besar

beragamam islam. Warga non muslim, umumnya adalah kaum pendatang dari

luar propinsi. Di tengah perbedaan suku, agama dan budaya, aktifitas sosial

dan peribadatan penduduk berjalan dengan baik.

Mata pencarian pendudk beraneka ragam, mulai dari bertani,

pedagang, wiraswasta, pegawai swasta, pegawai negri, ABRI dan Lain-lain.

Aktifitas perekonomian dalam lingkungan menegah kebawah, juga berjalan

sangat dinamis, ditunjang oleh keberadaan kampus sebuah universitas swasta

di kelurahan andalas.

Tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas andalas pada tahun

2017 berjumlah 63 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 50 orang PNS, 3

orang PTT, dan 2 Orang honor lepas, 2 orang tenaga kontrak BLUD dan 6

orang Volunter. Latar belakang pendidikan umumnya diploma III bidang

kesehatan. Distribusi tenaga sebagian besar berada di puskesmas induk,

sedangkan sebanyak 11 orang bertugas di 8 Pustu dan 3 orang di 3 Poskeskel.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, selain melalui pelatihan-

pelatihan pada program masing-masing, tenaga kesehatan juga diperkenankan

mengikuti pendidikan lebih tinggi. Pada tahun 2016 tercata 1 orang telah

menyelesaikan pendidikan S2 Kesehatan masyarakat, 2 orang petugas telah

64
menyelesaikan pendidikan profesi keperawatan dan yang sedang kuliah : 1

orang S2 kesehatan masyarakat, 2 S1 Kesehatan Masyarakat, 1 Orang profesi

keperawatan, 1 orang S1 ahli giizi, 1 orang D4 analisi kesehatan, dan 2 orang

D3 Kebidanan.

C. Karakteristik Responden
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Karakteristik f %
1. Umur
- 20 – 29 17 18,9
- 30 - 39 28 31,1
- 40 – 49 30 33,3
- 50 – 59 10 11,1
- 60 > 4 5,6
2. Jenis Kelamin
- Laki-laki 26 28,9
- Perempuan 64 71,1
3. Pekerjaan
- Wiraswasta 12 13,3
- Rumah Tangga 64 71,1
- PNS 16 17,8
4. Pendidikan
- Tinggi ( SMA, 42 46,7
DIII, S1 dan S2)
- Rendah (SD &SMP) 48 53,3

Tabel5.1 di atas menunjukkan bahwa proporsi umur 40-49 tahun

tertinggi (33,3%) dibandingkan kategori umur lainnya. Mayoritas responden

berjenis kelamin perempuan sebanyak 71,1%. Sebagian besar responden

bekerja sebagai ibu rumah tangga 71,1%. Tingkat pendidikan responden

mayoritas setingkat SD dan SMP (53,3%).

65
D. Analisa Univariat

1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden

Pengetahuan f %

Rendah 47 52,2

Tinggi 43 47,8

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa dari 90 responden, lebih

dari sebagian memiliki pengetahuan rendah tentang kejadian TB Paru, yaitu

sebanyak 47 responden (52,2%).

2. Distribusi Frekuensi Status Ekonomi Responden

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Status Ekonomi Responden

Status Ekonomi f %

Rendah < UMP 56 62,2

Tinggi > UMP 34 37,8

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa dari 90 responden, lebih

dari sebagian memiliki pendapatan rendah, yaitu sebanyak 56 responden

(62,2%).

66
3. Distribusi Frekuensi Kondisi Rumah Responden

Tabel 5.4Distribusi Frekuensi Kondisi Rumah Responden

Kondisi Rumah f %

Tidak memenuhi syarat 48 53,3

Memenuhi syarat 42 46,7

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa dari 90 responden, lebih

dari sebagian memiliki kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat, yaitu

sebanyak 48 responden (53,3%).

4. Distribusi Frekuensi Peran Petugas

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Peran Petugas


Peran Petugas f %

Belum Optimal 49 54,4

Optimal 41 45,6

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa dari 90 responden, lebih

dari sebagian memiliki peran petugas belum optimal, yaitu sebanyak 49

responden (54,4%).

67
5. Distribusi Frekuensi Kejadian TB Paru

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi KejadianTB Paru

Kejadian TB Paru f %

Positif 49 54,4

Negatif 41 45,6

Jumlah 90 100

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa dari 90 responden, lebih

dari sebagian memiliki yang terdiagnosa positif, yaitu sebanyak 49 responden

(54,4%).

E. Analisa Bivariat

1. Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian TB Paru diPuskesmas

Andalas

Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru


DiPuskesmasAndalas Tahun 2018

Kejadian TB Paru
Total P
Pengetahuan Positif Negatif OR CI 95%
value
n % n % n %
Rendah 32 68,1 15 31,9 47 100
3,263
Tinggi 17 39,5 26 60,5 43 100 0,011
(1,372-7,756)
Jumlah 49 54,4 41 45,6 90 100
Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa dari 47

respondenberpengetahuan rendah didapatkan 32 responden (68,1%) positif

terdiagnosa TB Paru, 15 responden (31,9%) negatif terdiagnosa TB Paru.

68
Dan dari 43 responden berpengetahuan tinggi 17 responden (39,5%) positif

terdiagnosa TB paru, dan 26responden (60,5%) negatif terdiagnosa TB Paru.

Hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,011 (p< 0,05), yang

artinya ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kejadian TB Paru

di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018. Hasil analisis lanjut Odds

Ratio = 3,263 dapat diartikan bahwa responden berpengetahuan rendah

memiliki peluang 3,3 kali lebih besar terdiagnosa positif TB Paru

dibandingkan responden yang berpengetahuan tinggi.

2. Hubungan Status Ekonomi dengan Kejadian TB Paru di Puskesmas

Andalas

Tabel 5.8 Hubungan Status Ekonomi Dengan Kejadian TB Baru di


Puskesmas Andalas Tahun 2018
Kejadian TB Paru
Status Total P
Positif Negatif OR CI 95%
Ekonomi value
N % n % n %
Rendah 28 57,1 27 65,9 55 100
< UMP
0,691
Tinggi 21 42,9 14 34,1 35 100 0,515
(0,293-1,631)
> UMP
Jumlah 49 54,4 41 45,6 90 100
Berdasarkan tabel 5.8dapat diketahui bahwa dari 55 responden

berpendapatan rendah didapatkan 28 responden (57,1%) positif terdiagnosa

TB Paru, 27 responden (65,9%) negatif terdiagnosa TB Paru. Dan dari 35

responden berpendapatan tinggi 21 responden (42,9%) positif terdiagnosa TB

paru, dan 14 responden (34,1%) negatif terdiagnosa TB Paru.

69
Hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,515 (p> 0,05), yang

artinyatidak ada hubungan signifikan antara status ekonomi dengan kejadian

TB Parudi Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

3. Hubungan Kondisi Rumah dengan Kejadian TB Paru diPuskesmas

Andalas

Tabel 5.9Hubungan Kondisi Rumah Dengan Kejadian TB Paru di


Puskesmas Andalas Tahun 2018
Kejadian TB Paru
Kondisi Total P
Positif Negatif OR CI 95%
rumah value
n % n % n %
Tidak 33 68,8 15 31,2 48 100
memenuhi
syarat 3,575
0,006
Memenuhi 16 38,1 26 61,9 42 100 (1,495-8,550)
syarat
Jumlah 49 54,4 41 45,6 90 100
Berdasarkan tabel 5.9dapat diketahui bahwa dari 48 respondenkondisi

rumah yang tidak memenuhi syarat didapatkan 33 responden (68,8%) positif

terdiagnosa TB Paru, 15 responden (31,2%) negatif terdiagnosa TB Paru.

Dan dari 42 responden kondisi rumah yang memenuhi syarat 16 responden

(38,1%) positif terdiagnosa TB paru, dan 26responden (61,9%) negatif

terdiagnosa TB Paru.

Hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,006 (p< 0,05), yang

artinya ada hubungan signifikan antara kondisi rumah dengan kejadian TB

Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018. Hasil analisis lanjut

Odds Ratio = 3,575 dapat diartikan bahwa responden yang rumah tidak

70
memenuhi syarat memiliki peluang 3,6 kali lebih besar terdiagnosa positif TB

Paru dibandingkan responden rumah yang memenuhi syarat.

4. Hubungan Peran Petugas Dengan Kejadian TB Paru diPuskesmas

Andalas

Tabel 5.10 Hubungan Peran Petugas dengan Kejadian TB Paru


DiPuskesmasAndalas Tahun 2018

Kejadian TB Paru
Peran Total P
Positif Negatif OR CI 95%
Petugas value
n % n % n %
Belum 35 71,4 14 28,6 49 100
optimal 4,821
0,001
Optimal 14 34,1 27 65,9 41 100 (1,970-11,798)
Jumlah 49 54,4 41 45,6 90 100
Berdasarkan tabel 5.10dapat diketahui bahwa dari 49 respondenperan

petugas yang belum optimal didapatkan 35 responden (71,4%) positif

terdiagnosa TB Paru, 14 responden (28,6%) negatif terdiagnosa TB Paru.

Dan dari 41 responden peran petugas yang optimal 14 responden (34,1%)

positif terdiagnosa TB paru, dan 27responden (65,9%) negatif terdiagnosa TB

Paru.

Hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,001 (p< 0,05), yang

artinya ada hubungan signifikan antara peran petugas dengan kejadian TB

Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018. Hasil analisis lanjut

Odds Ratio = 4,821 dapat diartikan bahwa responden peran petugas yang

belum optimal memiliki peluang 4,8 kali lebih besar penderita TB Paru

dibandingkan responden peran petugas yang optimal.

71
BAB VI
PEMBAHASAN

A. Analisa Univariat

1. Pengetahuan Responden Tentang TB Paru

Hasil penelitian yang tergambar pada tabel 5.2 dapat diketahui

bahwa dari 90 responden, lebih dari sebagian memiliki pengetahuan

rendah tentang Kejadian TB Paru , yaitu sebanyak 47 responden (52,2%).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

sesorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.sebagian

besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan

diperlukan sebagai pendukung dalam dukungan dalam menimbulkan

kepercayaan diri maupun sikap dan perilaku seseorang setiap hari,

sehingga dapat dikatan bahwa pengetahuan merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo,

2007). pengetahuan dalam penelitian ini adalah responden mampu

mengetahui tentang penyakit tuberkulosis paru.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian putra (2011), pengetahuan

responden tentang penyakit tuberkolosis paru dikota Solok di dapatkan

parsentase sebesar 63,6% yang berpengetahuan rendah. Rendahnya

tingkat pengetahuan dalam penelitian putra dapat disebabkan oleh

kurangnya pemahaman responden terhadap penyakit tuberkulosis paru.

72
Penelitan ini tidak sejalan dengan penelitian wahyuni 2008, pengetahuan

responden tentang penyakit tuberkulosis paru dan perilaku pencegahannya

penularannya di desa Sidorejo di dapat nilai persentase sebesar 42 %

berpengetahuan baik.

Menurut asusmsi peneliti Responden yang memiliki pengetahuan

yang tinggi tentang TB paru, cenderung mampu memahami dengan baik

pengertian TB paru, yaitu penyakit yang menyerang paru-paru sehingga

responden akan berupaya dengan baik untuk menghindari penyakit TB

paru, dan rendahnya tingkat pengetahuan responden mengenai penyakit

TB paru di Puskesmas Andalas terlihat dari data kuisioner dimana

responden tidak mengerti dengan gejala-gejala dari penyakit Tuberkulosis

paru dengan rendahnya pemahaman responden tentang hal diatas, maka

dimungkinkan kejadian TB paru semakin bertambah dan sulit untuk

untuk diantisipasi penularanya.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan responden terhadap

bahaya penyakit tuberkulosis dan penularannya, lebih meningkatkan

penyuluhan mengenai gejala-gejala penyakit TB Paru, cara penularan TB

Paru dan cara pencegahan dari penyakit TB Paru dengan berbagai media

yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit TB

paru.

73
2. Status Ekonomi Responden

Hasil penelitian yang tergambar pada tabel 5.3 dapat diketahui

bahwa dari 90 responden, lebih dari sebagian memiliki pendapatan rendah,

yaitu sebanyak 56 responden (62,2%).

Status ekonomi kemungkinan besar pembentuk gaya hidup

keluarga Status Ekonomi masyarakat dapat diukur dari indikator

pendapatan yang diperoleh oleh keluarga. Pendapatan adalah hasil dari

pekerjaan, pendapatan juga akan mempengaruhi gaya hidup seseorang.

Pendapatan erat kaitannya dengan kemiskinan, masyarakat yang

mempunyai pendapatan rendah biasanya mempunyai tingkat ekonomi

yang rendah pula.

Pendapatan yang rendah akan mempengaruhi seseorang dalam

menjaga kesehatannya, karena pendapatan yang rendah berpengaruh pada

pendidikan, pengetahuan, asupan makanan, pengobatan dan kondisi

tempat tinggal. Menurut Haryanto (2011) bahwa ekonomi mempunyai

kaitan erat dengan kejadian Tuberkulosis paru, telah diketahui bahwa pada

umumnya angka kejadian Tuberkulosis paru meningkat pada status sosial

ekonomi rendah.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rosiana,M (2013) Hasil

penelitian terhadap 32 responden tentang tingkat ekonomi seseorang di

Puskesmas Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus

menunjukkan bahwa tingkat ekonomi responden TB tingkat ekonomi

74
bawah dengan jumlah 15 orang (46,9%), sedangkan tingkat ekonomi

menengah sejumlah 13 orang (40,6%) dan tingkat ekonomi kaya sejumlah

4 responden (12,5%). Tingkat seseorang bawah yaitu < Rp 840.000 per

bulan.

Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan adanya bias penelitian

yaitu peneliti hanya melihat pendapatan keluarga dan tidak

memperhitungkan jumlah anggota keluarga. Tidak ada hubungannya

kondisi status ekonomi dengan kejadian kasus TB paru mungkin

disebabkan jumlah pendapat keluarga dibandingkan dengan anggota.

rendahnya status ekonomi responden Salah satu penyebabnya adalah

faktor perkerjaan. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar pekerjaan

responden yang menderita TB Paru adalah ibu rumah tangga yang hanya

mengandalkan dari penghasilan suami.

Upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan kesejahteraan

ekonomi masyarakat adalah membangun kemandirian. Melalui

programprogram pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada

penguatan ekonomi masyarakat. Jika kemandirian secara ekonomi sudah

dimiliki oleh masyarakat, secara tidak langsung akan berdampak terhadap

kualitas kesehatan masyarakat.

75
3. Kondisi Rumah Responden

Hasil penelitian yang tergambar pada tabel 5.4 dapat diketahui

bahwa dari 90 responden, lebih dari sebagian memiliki kondisi rumah

yang tidak memenuhi syarat, yaitu sebanyak 48 responden (53,3%).Hasil

penelitian ini menunjukan bahwasanya sebagian besar kondisi rumah yang

di miliki responden tidak memenuhi syarat. Parameter yang dipergunakan

untuk menentukan rumah sehat adalah sebagaimana yang tercantum dalam

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang

Persyaratan kesehatan perumahan. meliputi 3lingkup kelompok komponen

penilaian, yaitu:

1) Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding,

lantai, ventilasi, sarana pembuangan asap dapur dan pencahayaan.

2) Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih,pembuangan

kotoran,pembuangan air limbah, sarana tempat pembuangan

sampah.

3) Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela ruangan

dirumah, membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja ke

jamban, membuang sampah pada tempat sampah.

Menurut WHO bahwa rumah adalah struktur fisik yang dipakai

orang atau manusia untuk tempat berlindung, di mana lingkungan dari

struktur tersebut termasuk juga fasilitas dan pelayanan yang diperlukan,

perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta

76
keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu. Lingkungan rumah

yang kurang baik dan sehat, akan memicu berkembangnya

penularanpenyakit tuberkolosis paru secara cepat.

Peneltian ini sejalan dengan penelitian Sumarmi ( 2012), hasil

penelitian terhadap 62 responden tentang Kondisi Fisik Rumah Kejadian

TB Paru BTA Positif di Puskesmas Kotabumi II, Bukit Kemuning dan

Ulak Rengas Kab. Lampung Utara Tahun 2012, menunjukan bahwa

85,5% rumah responden BTA TB paru positif tidak memenuhi syarat.

Menurut asumsi peneliti kondisi rumah yang memenuhi syarat

mayoritas sesuai pengamatan tidak adanya rumah yang berlantaikan tanah,

lantai merupakan dinding penutup ruangan bagian bawah, konstruksi lantai

rumah harus rapat air dan selalu kering agar mudah di bersihkan dari

kotoran dan debu. Lantai rumah jenis tanah memiliki peran terhadap proses

kejadian penyakit TB paru, melalui kelembaban dalam ruangan.

Kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat disebabkan oleh

mayoritas rumah responden tidak memiliki ventilasi sesuai standar yang

sudah ditetapkan yakni 10 % dari luas lantai dan disamping itu kondisi

rumah responden yang tidak memenuhi syarat disebabkan responden sering

melakukan pembakaran sampah disekitar rumah sehingga udara disekitar

lingkungan tercemar karna polusi dari hasil pembakaran sampah.

Berdasarkan dari hasil penelitian upaya yang dapat dilakukan yaitu

77
menghimbau pada responden terutama yang yang yang hasil BTA nya

positif TB Paru, agar lebih meningkatkan kebersihan lingkungan,

membuka jendela setiap hari agar sinar matahari masuk ke dalam rumah.

4. Peran Petugas TB Paru

Hasil penelitian yang tergambar pada tabel 5.5 dapat diketahui

bahwa dari 90 responden,lebih dari sebagian memiliki peran petugas

belum optimal dalam menemukan kejadian TB Paru, yaitu sebanyak 49

responden (54,4%).

Menurut Wijayat faktor-faktor yang mempengaruhi peranan

petugas kesehatan dalam penemuan kejadian/suspek adalah pengetahuan,

sikap, tingkat pendidikan, pelatihan, masa kerja/pengalaman, kebudayaan

dan adanya supervisi pemegang program tuberkulosis. Sementara itu

menurut Ja’afar (2006) juga menyebutkan bahwa cakupan penemuan

suspek TB paru oleh petugas dipuskesmas dipengaruhi oleh pengetahuan,

pelatihan TBC yang diikuti oleh petugas, beban kerja, jarak pelayanan dan

supervisi pemegang program TBC.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Maryani (2015), diwilayah

kerja puskesmas Kartasura yang menunjukan bahwa peranan petugas

kesehatan dalam penemuan kejadian TB paru adalah kurang sebanyak 23

responden (46%) dari 50 orang responden.

78
Menurut asumsi peneliti peran petugas yang optimal yaitu

terdapat pada kuisioner yang tertinggi yang dijawab oleh responden yaitu

adanya petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang penyikt TB

Paru. Dan tidak optimal peran petugas kesehatan dalam menemukan

kejadian TB paru di Puskesmas Andalas terlihat dari tindakan yang

dilakukan oleh petugas kesehatan dalam mensosialisasikan penyakit TB

paru. Petugas jarang menggunakan brosur, spanduk lifelet sebagai media

sosialisasi untuk mengkampayekan penyakit TB dan memberkan kiat-kiat

atau nasehat kepada kepada masyarakat berkaitan untuk mengantisipasi

TB Paru. Upaya yang dilakukan oleh petugas yaitu lebih meningkatkan

penyuluhan mengenai penyakit TB Paru dan menghimbau masyarakat

yang mengalami gejala penyakit TB Paru agar memeriksakan diri ke

puskesmas.

5. Kejadian Tuberkulosis Paru

Hasil penelitian yang tergambar pada tabel 5.6 dapat diketahui

bahwa dari 90 responden,lebih dari sebagian memiliki peran petugas

belum optimal dalam menemukan kejadian TB Paru, yaitu sebanyak 49

responden (54,4%).

Tubekulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang

parenkim paru – paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen,

ginjal, tulang, dan nodus limfe Mycobacterium tuberculosis merupakan

79
jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal

0,3-0,6 mm. Sebagian besar komponen mycobacterium tuberculosis

adalah berupa lemak / lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap zat

kimia dan faktor fisik.

Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah

yang banyak oksigen. Oleh karena itu, mycobacterium tuberculosis sering

tinggal didaerah aspek paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi.

Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit

tuberculosis. (Somatri, 2008).

Menurut asumsi peneliti setelah dilakukan penelitian terhadap 90

orang responden, di dapatkan data bahwa sebanyak 49 orang responden

terdiagnosa menderita penyakit TB Paru dengan BTA positif.

Pemeriksaan sputum dilakukan sebanyak tiga kali yaitu (1) sewaktu yaitu

saat responden datang pertama kali ke puskesmas, (2) pagi yaitu sputum

yang diambil pada pagi hari, (3) sewaktu yaitu saat pasien mengantarkan

sputumnya ke puskesmas langsung diambil sputum sewaktunya. Bagi

responden yang BTA positif akan dilakukan pengobatan selama enam

bulan yaitu dua bulan tahap intensif dan empat bulan tahap lanjutan.

80
B. Bivariat

1. Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian TB Paru di Puskesmas

Andalas

Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,011

(p< 0,05), yang artinya ada hubungan signifikan antara pengetahuan

dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

Hasil analisis lanjut Odds Ratio = 3,263 dapat diartikan bahwa responden

berpengetahuan rendah memiliki peluang 3,3 kali lebih besar terdiagnosa

positif TB Paru dibandingkan responden yang berpengetahuan tinggi.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

sesorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.sebagian

besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan teliga. Pengetahuan

diperlukan sebagai pendukung dalam dukungan dalam menimbulkan

kepercayaan diri maupun sikap dan perilaku seseorang setiap hari,

sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo,

2007).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Putra (2011) tentang

hubungan perilaku dan kondisi sanitasi rumah dengan kejadian TB paru di

kabupaten solok tahun 2011. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan

bahwa faktor pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan terhadap

81
kejadian TB paru dengan nilai P<0,05=(p=0,034). Nilai Odds Ratio

didapatkan 4,667 (CI : 95% : 1,299-16,761).

Dari hasil penelitian diatas dapat di asumsikan bahwa tingkat

pengetahuan mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian TB

Paru. Tingkat responden yang memiliki pengetahuan yang tinggi tentang

TB paru, cenderung mampu memahami dengan baik pengertian TB paru,

yaitu penyakit yang menyerang paru-paru sehingga responden akan

berupaya dengan baik untuk menghindari penyakit TB paru, dan

rendahnya tingkat pengetahuan responden mengenai penyakit TB paru di

Puskesmas Andalas terlihat dari data kuisioner dimana responden tidak

mengerti dengan gejala-gejala dari penyakit Tuberkulosis paru dengan

rendahnya pemahaman responden tentang hal diatas, maka dimungkinkan

kejadian TB paru semakin bertambah dan sulit untuk untuk diantisipasi

penularanya. Upaya yang dilakukan yaitu lebih meningkatkan penyuluhan

mengenai gejala-gejala penyakit TB Paru, cara penularan TB Paru dan

cara pencegahan dari penyakit TB Paru.

2. Hubungan Status Ekonomi Dengan Kejadian TB Paru Di Puskesmas

Andalas

Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,515

(p> 0,05), yang artinyatidak ada hubungan signifikan antara status ekonomi

dengan kejadian TB Parudi Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

82
Pendapatan adalah hasil dari pekerjaan, pendapatan juga akan

mempengaruhi gaya hidup seseorang. Pendapatan erat kaitannya dengan

kemiskinan, masyarakat yang mempunyai pendapatan rendah biasanya

mempunyai tingkat ekonomi yang rendah pula. Pendapatan yang rendah

akan mempengaruhi seseorang dalam menjaga kesehatannya, karena

pendapatan yang rendah berpengaruh pada pendidikan, pengetahuan,

asupan makanan, pengobatan dan kondisi tempat tinggal. Hal ini sejalan

dengan pendapat dari Haryanto (2011) dalam bukunya yang berjudul

Sosiologi Ekonomi yang menyatakan bahwa ekonomi mempunyai kaitan

erat dengan kejadian Tuberkulosis paru, telah diketahui bahwa pada

umumnya angka kejadian Tuberkulosis paru meningkat pada status sosial

ekonomi rendah (Noer, 2008).

Penelitian ini Sejalan dengan penelitian Sunar, hasil analisis

statistik menunjukkan nilai p= 0,770(p> 0,05). Hal ini berari tidak ada

hubungan pendapatan dengan kejadian TB paru. Berdasarkan penelitian ini

dapat dijelaskan bawah pendapatan bukan merupakan faktor risiko

terhadap kejadian suspek TB paru.

Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan adanya bias penelitian

yaitu peneliti hanya melihat pendapatan keluarga dan tidak

memperhitungkan jumlah anggota keluarga. Tidak ada hubungannya

kondisi status ekonomi dengan kejadian kasus TB paru mungkin

disebabkan jumlah pendapat keluarga dibandingkan dengan anggota.

83
rendahnya status ekonomi responden Salah satu penyebabnya adalah

faktor perkerjaan. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar pekerjaan

responden yang menderita TB Paru adalah ibu rumah tangga yang hanya

mengandalkan dari penghasilan suami.

Upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan kesejahteraan

ekonomi masyarakat adalah membangun kemandirian. Melalui

programprogram pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada

penguatan ekonomi masyarakat. Jika kemandirian secara ekonomi sudah

dimiliki oleh masyarakat, secara tidak langsung akan berdampak terhadap

kualitas kesehatan masyarakat.

3. Hubungan Kondisi Rumah Dengan Kejadian TB Paru Di Puskesmas

Andalas

Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,006

(p< 0,05), yang artinya ada hubungan signifikan antara kondisi rumah

dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018.

Hasil analisis lanjut Odds Ratio = 3,575 dapat diartikan bahwa responden

yang rumah tidak memenuhi syarat memiliki peluang 3,6 kali lebih besar

terdiagnosa positif TB Paru dibandingkan responden rumah yang

memenuhi syarat.

Hasil ini diperkuat oleh teori WHO bahwa rumah adalah struktur

fisik yang dipakai orang atau manusia untuk tempat berlindung, di mana

84
lingkungan dari struktur tersebu termasuk juga fasilitas dan pelayanan yang

diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan

rohani serta keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu. Dan

lingkungan rumah yang kurang baik merupakan salah satu tempat yang

baik dalam menularkan penyakit seperti penyakit TB paru (Soemirat,

2009).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sumarmi (2012) Analisis

Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian TB Paru BTA Positif

diPuskesmas Kotabumi II, Bukit Kemuning dan Ulak Rengas Kab.

Lampung Utara Tahun 2012.Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada

hubungan antara kejadian TB Paru BTA positif dengan kondisi fisik rumah

(OR =3,72) dengan persentasi pada kelompok kasus sebagian besar kondisi

fisik rumah tidak memenuhi syarat kesehatan (85,5%).

Menurut asumsi peneliti kondisi rumah yang memenuhi syarat

mayoritas sesuai pengamatan tidak adanya rumah yang berlantaikan tanah,

lantai merupakan dinding penutup ruangan bagian bawah, konstruksi lantai

rumah harus rapat air dan selalu kering agar mudah di bersihkan dari

kotoran dan debu. Lantai rumah jenis tanah memiliki peran terhadap proses

kejadian penyakit TB paru, melalui kelembaban dalam ruangan.

Kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat disebabkan oleh

mayoritas rumah responden tidak memiliki ventilasi sesuai standar yang

85
sudah ditetapkan yakni 10 % dari luas lantai dan disamping itu kondisi

rumah responden yang tidak memenuhi syarat disebabkan responden sering

melakukan pembakaran sampah disekitar rumah sehingga udara disekitar

lingkungan tercemar karna polusi dari hasil pembakaran sampah.

Berdasarkan dari hasil penelitian upaya yang dapat dilakukan yaitu

menghimbau pada responden terutama yang yang yang hasil BTA nya

positif TB Paru, agar lebih meningkatkan kebersihan lingkungan,

membuka jendela setiap hari agar sinar matahari masuk ke dalam rumah.

4. Hubungan Peran Petugas dengan Kejadian TB Paru di Puskesmas

Andalas

Hasil uji statistik Chi-Square diketahui nilai p = 0,001 (p< 0,05),

yang artinya ada hubungan signifikan antara peran petugas dengan

kejadian TB Paru di Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018. Hasil

analisis lanjut Odds Ratio = 4,821 dapat diartikan bahwa responden peran

petugas yang belum optimal memiliki peluang 4,8 kali lebih besar

penderita TB Paru dibandingkan responden peran petugas yang optimal.

Menurut Wijayat faktor-faktor yang mempengaruhi peranan

petugas kesehatan dalam penemuan kejadian/suspek adalah pengetahuan,

sikap, tingkat pendidikan, pelatihan, masa kerja/pengalaman, kebudayaan

dan adanya supervisi pemegang program tuberkulosis. Sementara itu

menurut Ja’afar (2006) juga menyebutkan bahwa cakupan penemuan

suspek TB paru oleh petugas dipuskesmas dipengaruhi oleh pengetahuan,

86
pelatihan TBC yang diikuti oleh petugas, beban kerja, jarak pelayanan dan

supervisi pemegang program TBC.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Maryani (2015), diwilayah

kerja puskesmas Kartasura yang menunjukan bahwa peranan petugas

kesehatan dalam penemuan kejadian TB paru adalah kurang sebanyak 23

responden (46%) dari 50 orang responden.

Menurut asusmsi peneliti Responden yang memiliki pengetahuan

yang tinggi tentang TB paru, cenderung mampu memahami dengan baik

pengertian TB paru, yaitu penyakit yang menyerang paru-paru sehingga

responden akan berupaya dengan baik untuk menghindari penyakit TB

paru, dan rendahnya tingkat pengetahuan responden mengenai penyakit

TB paru di Puskesmas Andalas terlihat dari data kuisioner dimana

responden tidak mengerti dengan gejala-gejala dari penyakit Tuberkulosis

paru dengan rendahnya pemahaman responden tentang hal diatas, maka

dimungkinkan kejadian TB paru semakin bertambah dan sulit untuk

untuk diantisipasi penularanya.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan responden terhadap

bahaya penyakit tuberkulosis dan penularannya, lebih meningkatkan

penyuluhan mengenai gejala-gejala penyakit TB Paru, cara penularan TB

Paru dan cara pencegahan dari penyakit TB Paru dengan berbagai media

87
yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit TB

paru.

88
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di Puskesmas Andalas Kota

Padang tahun 2018, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Distribusi frekuensi TB Paru berdasarkan tingkat pengetahuan yang paling

banyak adalah tingkat pengetahuan rendah dengan parsentase 52,2%

2. Distribusi Frekuensi TB paru berdasarkan pendapatan yang paling banyak

adalah pendapatan rendah dengan parsentase 62,2%

3. Distribusi Frekuensi TB paru berdasarkan kondisi rumah yang paling

banyak adalah kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat sebanyak

53,3%

4. Distribusi Frekuensi TB paru berdasarkan peran petugas yang paling

banyak adalah peran petugas yang tidak optimal 54,4%

5. Distribusi frekuensi Kejadian TB paru positif sebanyak 54,4%

6. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian

TB Paru, dimana didapatkan p value 0,011 < 0,05 dan OR sebesar 3,263

7. Tidak ada hubungan yang signifikan antara status ekonomi dengan

kejadian TB Paru dengan p value 0,515 > 0,05

89
8. Terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi rumah dengan kejadian

TB Paru dimana didapatkan p value 0,006 < 0,05 dan OR sebesar 3,575

9. Terdapat hubungan yang signifikan antara peran petugas dengan kejadian

TB Paru dimana didapatkan p value 0,001 < 0,05 dan OR sebesar 4,821

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan di

Puskesmas Andalas Kota Padang, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai

berikut :

1. Bagi Responden

Untuk meningkatkan perilaku masyarakat menjadi perilaku yang

baik hidup bersih dan sehat haruslah dimulai dari peningkatan

pengetahuan, perubahan sikap dan melakukan tindakan, perubahan ini

dapat terbentuk jika informasi tentang TB Paru sering diterima dan sampai

kepada masyarakat. Proses dalam menyampaikan informasi dilakukan

oleh Dinas Kesehatan yaitu dengan melakukan penyuluhan tentang

pencegahan bagi masyarakat yang belum sakit sedangkan bagi yang

tertular TB diberikan penyuluhan agar makan obat teratur dan menjaga

perilaku hidup bersih agar tidak menularkan TB Paru.

90
2. Bagi Puskesmas

a. Puskesmas juga dapat menyebarkan media informasi seperti leaflet,

poster dan-lain-lain, agar semua lapisan masyarakat dapat tersentuh

dengan informasi tentang TB Paru.

b. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan melatih kader untuk

meningkatkan penemuan kasus, dan membantu mencegah penularan

penyakit TB.

3. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat menambah wawasan

peneliti tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar penelitian

selanjutnya, agar dapat melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain

seperti pendidikan,status gizi, sikap yang mempengaruhi kejadian TB

Paru.

5. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi

kepustakaan dan dapat diaplikasikan pada layanan kesehatan.

91