Anda di halaman 1dari 11

Pertemuan Ke-9

LAPORAN KEUANGAN LPD

KELOMPOK 3

Ni Kadek Lia Indahyani (1607532081 / 09) ( )

Ni KadekDwiAryandari (1607532086 / 14) ( )

Alif Noer Wahyuni (1607532092 / 20) ( )

Putu Eka Mas Pratiwi (1607532094 / 22) ( )

Ida Bagus Sugita Adi (1607532102 / 30) ( )

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2018
Pertemuan Ke-9

9.1 LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan,


yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi
selama tahun buku yang bersangkutan. Pengertian laporan keuangan menurut
Standar Akuntansi Keuangan adalah “Laporan keuangan merupakan bagian dari
proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi
neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai
cara seperti misal, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan juga
termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut,
misal informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan
pengaruh perubahan harga.”

Dari pengertian di atas laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses
pelaporan keuangan yang lengkap, dengan tujuan untuk
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada manajemen.
Penyusunan laporan keuangan disiapkan mulai dari berbagai sumber data, terdiri
dari faktur-faktur, bon-bon, nota kredit, salinan faktur penjualan, laporan bank dan
sebagainya. Data yang asli bukan saja digunakan untuk mengisi buku perkiraan,
tetapi dapat juga dipakai untuk membuktikan keabsahan transaksi.

Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang


menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Laporan keuangan adalah laporan yang dibuat pada akhir
periode akuntansi yang terdiri dari laporan laba rugi (income statement), laporan
perubahan modal (capital statement), neraca (balance sheet) dan laporan arus kas
(cash flow).

9.1.1 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh


Ikatan Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan

1
Pertemuan Ke-9

posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar


pemakai dalam pengambilan keputusan.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (2010:


5), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut:

1) Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai


posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam
pembuatan keputusan ekonomi.
2) Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan
bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan
tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum
menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian dimasa lalu dan
tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.
3) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan
manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya
yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang
telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat
demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan
ini mungkin mencakup, misalnya keputusan untuk menahan atau
menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk
mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

9.1.2 Fungsi Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan


oleh Ikatan Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.
Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi
kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan
keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan

2
Pertemuan Ke-9

pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum


menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu, dan tidak
diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan
manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas
sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin melihat
apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat
demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini
mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau
menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk
mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

9.1.3 Tujuan Analisis Laporan Keuangan


Analisis laporan keuangan merupakan penerapan metode dan
teknik analisis untuk laporan keuangan dan data pendukung lainnya untuk
melihat dan menilai ukuran ukuran dan hubungan tertentu dalam laporan
tersebut yang berguna bagi pengambilan keputusan. Tujuan analisis
Laporan Keuangan menurut Berstein (1983) adalah sebagai berikut:
1. Screening : analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi
dan kondisi perusahaan dari laporan keuangan tanpa harus menemui
langsung objek yang dituju.
2. Understanding : memahami kondisi suatu perusahaan, kondisi
keuangannya dan apa yang dihasilkan.
3. Forecasting : analisis dilakukan untuk meramalkan kondisi keuangan
suatu perusahaan di masa yang akan datang.
4. Diagnosis : analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan masalah
yang terjadi, baik dalam manajemen, operasi, keuangan atau masalah
lain dalam suatu perusahaan.
5. Evaluation : analisis dilakukan untuk menilai prestasi pihak eksekutif
dalam mengelola suatu perusahaan.

3
Pertemuan Ke-9

9.2 LAPORAN KEUANGAN LPD

Kebijakan akuntansi LPD adalah prinsip-prinsip dasar dalam pelaporan


keuangan yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama sesuai dengan aturan
dan standar yang berlaku.

Beberapa contoh yang menyangkut kebijakan akuntansi LPD, diantaranya:

9.2.1 Dasar Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun dengan menggunakan harga perolehan.

9.2.3 Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pencatatan pendapatan dan beban menganut metode akrual basis


yaitu diakui pada saat terjadinya transaksi dan bukan pada saat realisasi
pembayaran.

Tidak dibenarkan mengantisipasi pendapatan, akan tetapi biaya-


biaya yang telah direalisasi sebelum tanggal neraca walaupun belum dapat
diketahui secara pasti, jumlahnya, harus dilaporkan dengan cara estimasi
yang wajar.

Namun demikian pelaksanaan prinsip diatas harus tetap


memperhatikan asas “proper matching cost against revenue” yaitu biaya
dan pendapatan dihadapkan secara tepat dalam periode yang sama agar
tidak menjadi pergeseran biaya atau pendapatan ke periode yang lain.

9.2.4 Piutang Usaha

Piutang usaha berupa kredit yang diberikan dicatat sebesar nilai


perolehan dikurangi dengan cadangan atas kemungkinan piutang yang
tidak dapat ditagih.

9.2.5 Beban Ditangguhkan (Biaya Praoperasi)

Semua beban yang dikeluarkan sebelum beroperasi komersial


ditangguhkan pembebanannya dan diamortisasi selama tahun dengan tarif
amortisasi 25% setiap tahun dari nilai saat transaksi.

4
Pertemuan Ke-9

9.2.6 Aktiva Tetap

Aktiva tetap dinyatakan di neraca berdasarkan harga peorlehan


dikurangi dengan akumulasi penyusutan. Aktiva tetap tidak termasuk
tanah disusutkan dengan metode garis lurus. Biaya pemeliharaan dan
perbaikan dibebankan pada laba-rugi pada saat terjadinya. Jika aktiva tetap
sudah tidak dapat digunakan lagi, maka harga perolehan dan akumulasi
penyusutannya akan dihapus dalam pembukuan. Laba atau rugi atas
pengalihan aktiva tetap diakui pada periode berjalan.

9.2.7 Akuntansi Utang Usaha

Utang usaha berupa simpanan dan deposito nasabah dinyatakan


secara lengkap sehingga menggambarkan seluruh kewajiban LPD pada
akhir periode. Untuk mengetahui batas waktu pembayaran, simpanan dan
deposito dilakukan pengelompokkan sesuai dengan jatuh temponya.

Laporan Keuangan LPD Disampaikan Kepada :

• Bendesa Adat
• Gubernur Provinsi Bali
• Bupati Kabupaten
• Camat
• Lurah
• Badan Pengawas LPD
• Kelian Banjar
• Krama Desa (Melalui paruman Banjar)

Dalam rangka menuju tata kelola organisasi yang baik, LPD perlu
memformalkan bahwa budaya perusahaan dalam bentuk “Catur Dharma
LPD” yang terdiri dari:

1. Menjadi milik yang bermanfaat bagi krama dan desa


pakraman
2. Memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah
3. Saling menghargai dan membina rasa kekeluargaan

5
Pertemuan Ke-9

4. Berusaha mencapai yang terbaik dengan menyediakan


ruang dan waktu untuk perbaikan berkelanjutan

Sampai saat ini LPD belum sepenuhnya menerapkan dasar


pengakuan akrual dalam laporan keuangannya. Dasar pengakuan yang
digunakan kebanyakan menggunakan cash basis yang dimodifikasi.
Dengan diberlakukan IFRS, ke depan kemungkinan laporan keuangan
LPD akan menunjukkan ke arah fair value.

9.2.8 Analisis Laporan Keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Menurut Gede Edy Prasetya, dalam buku "Penyusunan & Analisis


Laporan Keuangan Pemerintah Daerah" (2005:17) menyebutkan bahwa
analisis laporan keuangan pada dasarnya merupakan analisis yang
dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang tersaji dalam laporan
keuangan.

Menurut Harahap (2004:190) memberikan pengertian mengenai


analisis laporan keuangan yaitu menguraikan pos-pos laporan keuangan
menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang
lebih signifikan atau yang memiliki makna antara yang satu dengan yang
lain baik antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan
untuk mengetahui posisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam
proses menghasilkan keputusan yang tepat.

Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah


hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain
yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend)
suatu fenomena (Soemarso, 1999:430).

Untuk mengetahui kinerja laporan keuangan maka diperlukan suatu


analisis. Salah satu analisis laporan keuangan adalah analisis sumber dan
penggunaan modal kerja yaitu suatu analisa untuk mengetahui sumber-
sumber serta penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab
berubahnya modal kerja dalam periode tertentu. Yang digunakan sebagai
dasar perencanaan sumber dan penggunaan modal kerja periode-periode

6
Pertemuan Ke-9

berikutnya, serta dapat digunakan sebagai dasar penilaian kebijaksanaan


manajemen dalam mengelola modal kerjanya dan dapat digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan oleh LPD atau kreditur.

Untuk membuat laporan sumber dan penggunaan modal kerja,


terlebih dahulu harus menyajikan laporan perbandingan neraca antara dua
titik waktu yang akan dianalisis. Dari laporan perbadingan neraca tersebut
akan disusun laporan perubahan modal kerja dan dapat dianalisis unsur-
unsur non current account yang mempunyai efek memperbesar dan
memperkecil modal kerja. Selanjutnya dikelompokkan dan disusun
laporan sumber dan penggunaan modal kerja.

9.2.9 Mungkinkah LPD Mengadopsi dan Mengadaptasi SAK ETAP ?

SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar Akuntansi


Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh Ikatan
Akuntansi Indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP
ini dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Standar ETAP ini cukup
sederhana dan pasti tidak akan menyulitkan bagi penggunanya.

Apabila SAK ETAP ini telah berlaku efektif, maka lembaga


keuangan seperti LPD tidak perlu membuat laporan keuangan dengan
menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal SAK
ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan
dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.
Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK ETAP yang
hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.

Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini


dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik.
Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak
memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi
pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak

7
Pertemuan Ke-9

terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga


pemeringkat kredit.

Perlu pula diketahui bahwa Karakter SAK-ETAP :

1) Berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK-Umum


2) Menggunakan historical cost
3) Hanya mengatur transaksi umum yang terjadi pada ETAP
4) Lebih sederhana
5) Tidak berubah dalam beberapa tahun kedepan

SAK ETAP cocok digunakan oleh LPD. Dengan adanya


penggunaan SAK ETAP pada LPD maka LPD bisa menyusun laporan
keuangannya sendiri dan laporan keuangan LPD bisa diaudit (auditable)
dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan
keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usaha. SAK
ETAP lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK-IFRS karena SAK
ETAP merupakan penyederhanaan dari SAK Umum, sehingga lebih
mudah dalam mengimplementasikannya dan bisa memberikan informasi
yang handal dalam pengujian laporan keuangan. Penggunaan SAK ETAP
pada LPD bisa menjadikan pelaporan keuangan LPD menjadi lebih
transparan, komprehensif, dan relevan. Selain itu dengan menggunakan
SAK ETAP, LPD sebagai usaha mikro bisa dibandingkan dengan usaha-
usaha lainnya. LPD menggunakan dasar pengakuan accrual basis yang
merujuk pada SAK ETAP.

LPD yang merupakan singkatan dari Lembaga Perkreditan Desa


merupakan badan usaha keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan
usaha di lingkungan desa dan untuk krama desa, di mana masyarakat adat
setempat maupun di luar desa adatnya dapat melakukan penyimpanan dana
dan meminjam kredit pada Lembaga Perkreditan Desa Adat. Tujuan
pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat, berdasarkan penjelasan
peraturan Daerah No.2/ 1988 dan No. 8 tahun 2002 mengenai Lembaga
Peerkreditan Desa (LPD), adalah untuk mendukung pembangunan
ekonomi pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung masyarakat

8
Pertemuan Ke-9

desa dan menyediakan kredit bagi usaha skala kecil, untuk menghapuskan
bentuk–bentuk eksploitasi dalam hubungan kredit, untuk menciptakan
kesempatan yang setara bagi kegiatan usaha pada tingkat desa, dan untuk
meningkatkan tingkat monetisasi di daerah pedesaan.

LPD harus dapat mengadaptasi perkembangan-perkembangan


global. Sementara itu, SAK ETAP adalah standar akuntansi keuangan
yang juga sudah sesuai dengan perkembangan jaman di mana SAK ETAP
ini sudah merupakan penyederhanaan dari SAK Umum yang diharapkan
penggunaannya bisa mempermudah pembuatan laporan keuangan,
sehingga SAK ETAP ini sudah sesuai dengan LPD yang harus beradaptasi
dengan perkembangan zaman.

Setelah menerapkan SAK ETAP banyak manfaat yang didapat,


diantaranya laba menjadi lebih stabil, pelaporan lebih transparan dan
berstandar Internasional. SAK ETAP murah dari sisi biaya. SAK ETAP
relatif konsisten, sehingga dengan penggunaan SAK ETAP bagi LPD tidak
perlu disusahkan oleh perubahan standar akuntansi. Namun, kendala
utama penerapan kebijakan ini terletak pada kualitas SDM yang belum
memadai.

9
Pertemuan Ke-9

DAFTAR PUSTAKA

Suartana, I Wayan. 2009. Arsitektur Pengelolaan Risiko Pada Lembaga


Perkreditan Desa (LPD), Udayana University Press, Denpasar

Taswan. 2012. Akuntansi Perbankan. UPP STIM YKPN. Yogyakarta

https://id.scribd.com/doc/113905183/APLPD-9 (Diakses Pada Tanggal 31


Oktober 2018)

https://www.scribd.com/document/366445544/RMK-LPD (Diakses Pada Tanggal


31 Oktober 2018)

10