Anda di halaman 1dari 4

RHINITIS AKUT

No. Dokumen :

No. Revisi :
SOP
TanggalTerbit : 05 Maret 2018

Halaman :1/4
La Joni, AMK
UPTD Puskesmas Waho
Nip.197904161999031005
1. Pengertian Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi oleh
alergen yang sama serta dilepaskan suatu mediator kimia ketika terjadi
paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut.
Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and it’s Impact on Asthma),
2001, rinitis alergi adalah kelainan pada gejala bersin-bersin, rinore,
rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantai oleh Ig E.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Rhinitis Alergi di Poli Umum
Puskesmas Waho
3. Kebijakan 1. SK Kepala UPTD Puskesmas Waho No.440/SK/C/VII/112/03/2018
Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis

2. SK Kepala UPTD Puskesmas Waho No.440/SK/A/I/001/03/2018


Tentang Jenis Pelayanan yang disediakan

3. SK Kepala UPTD Puskesmas Waho No.440/SK/C/VII/039/03/2018


Tentang Penyusunan Rencana Layanan Medis

4. SK Kepala UPTD Puskesmas Waho No.440/SK/C/VII/076/03/2018


Tentang Isi Rekam Medis

4. Referensi
Peraturan Mentri Kesehatan no 5 Tahun 2015 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
5. Persiapan Alat :
1. Alat tulis 4. Pengukur BB 7. Penlight
2. Tensimeter 5. Pengukur TB 8. Spekulum Hidung
3. Stetoskop 6. Termometer
Bahan : Rekam Medis

1|RhinitisAlergi
6. Prosedur 1. Perawat poli menerima rekam medis dari loket
2. Perawat poli memanggil pasien sesuai identitas yang tertera pada
rekam medis.
3. Perawat poli melakukan pemeriksaan TB, BB, Tekanan darah,
pengukuran Nadi, pernapasan dan suhu pasien dan mencatatnya
dalam Rekam medis pasien
4. Perawat poli memberikan status pasien kepada Dokter poli Umum
5. Dokter rmemeriksa kesesuaian identitas pasien dengan data pada
rekam medis
6. Dokter melakukan anamnesis
Keluhan
Pasien datang dengan keluhan keluarnya ingus encer dari hidung
(rinorea), bersin, hidung tersumbat dan rasa gatal pada hidung
(trias alergi). Bersin merupakan gejala khas, biasanya terjadi
berulang, terutama pada pagi hari. Bersin lebih dari lima kali sudah
dianggap patologik dan perlu dicurigai adanya rinitis alergi dan ini
menandakan reaksi alergi fase cepat. Gejala lain berupa mata gatal
dan banyak air mata.
Faktor Resiko
Adanya riwayat atopi. Lingkungan dengan kelembaban yang tinggi
merupakan faktor risiko untuk untuk tumbuhnya jamur, sehingga
dapat timbul gejala alergis. Terpaparnya debu tungau biasanya
karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi.
7. Dokter melakukan konfirmasi dengan pemeriksaan fisik
Perhatikan adanya allergic salute, yaitu gerakan pasien menggosok
hidung dengan tangannya karena gatal.
- Wajah: Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan
berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung. Nasal
crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui
setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok
hidung keatas dengan tangan. Mulut sering terbuka dengan
lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan
menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies

2|RhinitisAlergi
adenoid).
- Faring: dinding posterior faring tampak granuler dan edema
(cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal.
Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue).
- Rinoskopi anterior: Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau
kebiruan (livide), disertai adanya sekret encer, tipis dan
banyak. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan
sinusitis. Pada rinitis alergi kronis atau penyakit
granulomatous, dapat terlihat adanya deviasi atau perforasi
septum. Pada rongga hidung dapat ditemukan massa seperti
polip dan tumor, atau dapat juga ditemukan pembesaran konka
inferior yang dapat berupa edema atau hipertropik. Dengan
dekongestan topikal, polip dan hipertrofi konka tidak akan
menyusut, sedangkan edema konka akan menyusut.
8. Dokter menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan Fisik
9. Dokter melakukan penatalaksanaan Anti histamin generasi 1:
difenhidramin, klorfeniramin, siproheptadin. Anti histamin
generasi 2: loratadin, cetirizine. Preparat simpatomimetik golongan
agonis alfa dapat dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan
atau tanpa kombinasi antihistamin. Dekongestan oral:
pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin.
10. Dokter melakukan konseling edukasi berupa hindari pencetus
11. Dokter mempersilahkan pasien menuju apotek untuk mengambil
obat jika telah selesai.
12. Dokter mendokumentasikan hasil pemeriksaan dalam Rekam
Medis

3|RhinitisAlergi
7. Bagan Alir
Perawat poli Memanggil Pasien Melakukan
menerima RM sesuai identitas di pemeriksaan
dari loket RM TB,BB,TD,Nadi, RR,
Suhu

Dokter memeriksa Perawat poli memberikan status


kesesuaian identitas kepada dokter
pasien dengan RM

Melakukan Melakukan Pemeriksaan Menegakkan


Anamnesa Fisik Diagnosis

Mempersilahkan pasien Memberikan Melakukan


menuju Apotek Konseling edukasi Penatalaksanaan

Menanyakankeluhand
anpoli yang dituju
Mendokumentasikan hasil
pemeriksaan dalam RM

8. Hal-hal yang
perludiperhatikan
9. Unit terkait 1. Loket Pendaftaran
2. Apotik
10. Dokumenterkait
Rekam Medik
11. Rekamanhistorisperub No Yang diubah Isi perubahan Tanggalmulai di berlakukan
ahan
1

4|RhinitisAlergi