Anda di halaman 1dari 18

KRIM PREDNISOLON

I. PENDAHULUAN
Prednisolon merupakan obat golongan steroid yang digunakan untuk mengobati
beberapa alergi jenis tertentu, kondisi peradangan, gangguan autoimun, dan kanker.
Beberapa dari kondisi ini termasuk insufisiensi adrenokortikal, tingginya kalsium di
darah, rheumatoid arthritis, dermatitis, peradangan pada mata, asma, dan sklerosis
ganda. obat ini digunakan melalui mulut atau oral, injeksi ke pembuluh darah, sebagai
krim kulit, dan sebagai obat tetes mata.

Kortikosteroid menghambat respon inflamasi pada berbagai agen dan diduga dapat
menunda atau memperlambat penyembuhan. Kortikosteroid menghambat edema,
endapan fibrin, dilatasi kapiler, migrasi leukosit , proliferasi kapiler, proliferasi
fibroblas, deposisi kolagen, dan pembentukan bekas luka dengan peradangan

Sebagai glukokortikoid, struktur lipofilik prednisolon memungkinkan untuk


memudahkan melewati membran sel kemudian mengikat masing-masing reseptor
glukokortikoid (GCR) yang terletak di sitoplasma. Setelah berikatan, pembentukan
kompleks GC/GCR menyebabkan disosiasi dari pendamping protein dari reseptor
glukokortikoid dan mengaktifkan kompleks GC/GCR kompleks bertranslokasi di
dalam nukleus. Proses ini terjadi selama 20 menit dari proses pengikatan. Di dalam
nukleus, homodimer kompleks GC/GCR berikatan dengan tempat berikatan di DNA
yang spesifik yang dikenal sebagai glucocorticoid response element (GREs) yang
mengakibatkan ekspresi gen atau penghambatan. Ikatan kompleks dengan GRE
positif akan menyebabkan sintesis protein anti-inflamasi, sementara apabila berikatan
dengan GRE negatif akan memblok transkripsi dari gen inflamasi.

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung satu atau lebih bahan
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (FI IV, hal 6). Berdasarkan
tipe krim dapat dibedakan menjadi:

- Tipe M/A atau O/W (Diktat Kuliah Teknologi Farmasi Likuida dan Semi Solida,
Hal 122).
Krim M/A (Vanishing krim) yang digunakan melalui kulit akan hilang tanpa
bekas. Pembuatan krim M/A sering menggunakan zat pengemulsi campuran dari
surfaktan (jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang
alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih
popular.

- Tipe A/M atau W/O (Diktat Kuliah Teknologi Farmasi Likuida dan Semi Solida,
Hal 122).
Krim berminyak mengandung zat pengemulsi A/M yang spesifik seperti adeps
lanae, wool alkohol atau ester asam lemak dengan atau garam dari asam lemak
dengan logam bervalensi 2, misal Ca. Krim A/M dan M/A membutuhkan
emulgator yang berbeda-beda. Jika emulgator tidak tepat, dapat terjadi
pembalikan fasa.

Keuntungan sediaan krim adalah :

- Mudah dicuci dan dihilangkan dari kulit dan pakaian

- Tidak lengket (emulsi m/a)

Basis krim mengandung air dalam jumlah banyak sedangkan sel hidup biasanya
lembab. Hal ini akan mempercepat pelepasan obat. Selain itu, tegangan permukaan
kulit akan diturunkan oleh emulgator dan bahan pembantu lain yang terdapat dalam
basis krim sehingga absorbsi lebih cepat (penetrating enhancer). Basis krim yang
berair juga dapat memelihara kelembaban sel kulit yang rusak.Krim mudah dipakai,
memberikan dispersi obat yang baik pada permukaan kulit dan mudah dicuci dengan
air.

Absorbsi obat yang optimal adalah pada obat yang larut air dan larut minyak, maka
bentuk pembawa yang cocok untuk memperoleh absorbsi yang optimal adalah krim
atau basis salep emulsi (RPS, Hal 413).

Untuk membuat sediaan krim, dibutuhkan beberapa bahan pembantu. Pemilihan


bahan pembantu didasarkan pada kesesuaian dan bentuk fisik jenis campuran serbuk
yang dibutuhkan. Bahan pembantu yang digunakan sebaiknya seminimal mungkin.
Semakin banyak bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul,
seperti masalah inkompatibilitas. Karena itu, sedapat mungkin eksipien yang
digunakan benar-benar dibutuhkan dalam formulasi. Akan lebih baik jika
menggunakan eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam.
II. FORMULASI
1. Bahan Aktif

Zat Prednisolon

Fungsi Kortikosteroid

Pemberian krim predisolon diindikasikan untuk : Pengobatan


lesi berikut: keloid; lokal hipertrofik, infiltrasi, lesi inflamasi
dari lichen planus, plak psoriasis, granuloma annulare, lichen
simplex chronicus; diskoid lupus eritematosus; necrobiosis
lipoidica diabeticorum; alopecia areata; Tumor cystic dari
aponeurosis atau tendon.

Struktur

Rumus C21H28O5
molekul

Titik lebur 230oC

Pemerian Serbuk kristalin higroskopis warna putih atau hampir putih,

Kelarutan Air = 1:1300


Etanol = 1:30
Kloroform = 1:180
Metanol = larut
Aseton = agak sukar larut
Stabilitas Dalam kondisi anaerob pada suhu 100oC larutan prednnisolon
menunjukkan kstabilan tertinggi pada pH 2,5. Dekomposisi
terjadi pada pH 5-6.
Prednisolon stabil dalam pembawa gel karbomer , stabilitas
prednison lebih besar pada basis hidroksipropil selulos
hidrogel.
Inkompabilitas Inkompatibel dengan alkalis

Keterangan
lain

Penyimpanan Bentuk padat : disimpan dalam wadah tertutup baik dan


terhindar dari cahaya
Prednisolon krim : disimpan pada tube yang dapat dilipat dan
kedap udara
Kadar 2,5 mg/gram pada krim
penggunaan

2. Bahan tambahan
a. Parrafin liquid

Zat Paraffin Liquidum

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 445)

Fungsi Basis Krim

Struktur -

Rumus -
molekul

Titik lebur -

Pemerian Paraffin liquidum adalah cairan berminyak kental, transparan,


tidak berwarna, tanpa fluoresens di siang hari. Praktis tidak
berasa dan tidak berbau saat dingin, dan memiliki bau
petroleum yang lemah ketika dipanaskan.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 446)


Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol (95%), gliserin, dan air; larut
dalam aseton, benzen, kloroform, karbon disulfide, eter, dan
eter petroleum. Larut dengan minyak menguap dan minyak
konstan, terkecuali minyak jarak.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 446)
Stabilitas Paraffin liquidum mengalami oksidasi jika terpapar panas dan
cahaya. Zat penstabil dapat ditambahkan untuk menghambat
oksidasi; butylated hydroxyanisole, butylated hydroxytoluene,
dan alpha-tocopherol adalah antioksidan yang paling umum
digunakan.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 446)


Inkompabilitas Paraffin liquidum inkompatibel dengan bahan-bahan oksidator
kuat.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 446)


Keterangan Nilai HLB: 12
lain
(Pharmaceutics, The Science of Dosage Form Design, 2nd
edition, hal. 346)

Penyimpanan Paraffin Liquidum harus disimpan di wadah kedap udara,


terlindung dari cahaya, di tempat sejuk dan kering.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 446)


Kadar 30% dari jumlah sediaan.
penggunaan

b. Adeps Lanae

Zat Adepslanae

Sinonim Adeps lanae; cera lanae; E913; lanolina; lanolin anhydrous;


Protalan anhydrous; purified lanolin; refined wool fat.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 378)
Struktur -

Rumus -
molekul
Titik lebur -

Pemerian Zat serupa lemak, liat, lekat; kuning muda atau kuning pucat,
agak tembus cahaya, bau lemah dan khas.

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 61)


Kelarutan Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
(95%) P; mudah larut dalam kloroform P, dan eter P.

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 61)

Stabilitas Lanolin dapat mengalami auto oksidasi selama penyimpanan.


Untuk menghambat proses oksidasi ini, digunakan Butylated
Hydroxytoluene sebagai antioksidan. Pemaparan terhadap
panas yang berkepanjangan dapat menyebabkan lanolin
anhidrat berubah warna menjadi lebih gelap dan menimbulkan
bau tengik.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 379)

Inkompabilitas Lanolin dapat mengandung prooksidan, yang dapat


mempengaruhi stabilitas dari beberapa zat aktif tertentu.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 379)

Keterangan -
lain

Penyimpanan Lanolin harus disimpan di wadah yang terisi cukup, tertutup


baik, terlindung dari cahaya, di tempat kering dan sejuk.
Penyimpanan yang normal adalah 2 tahun.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 379)


Kadar Basis salep (10%)
penggunaan (Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 378)
c. Cetyl alkohol

Zat Aktif Cetyl Alcohol

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 155)

Sinonim Alcohol cetylicus; Avol; Cachalot; Crodacol C70; Crodacol


C90; Crodacol C95; ethal; ethol; HallStar CO-1695; 1-
hexadecanol; n- hexadecyl alcohol; Hyfatol 16-95; Hyfatol 16-
98; Kessco CA; Lanette 16; Lipocol C; Nacol 16-95; palmityl
alcohol; Rita CA; Speziol C16 Pharma; Tego Alkanol 16;
Vegarol 1695.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 155)

Struktur
(Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th edition, hal. 155)

Rumus C16H34O
molekul
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 155)
Titik lebur 45-52 oC; 49 oC untuk bahan murni.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 156)


Pemerian Cetyl alcohol berbentuk lilin, serpihan putih, granul, kubus,
atau coran. Cetyl alcohol memiliki bau khas yang lemah dan
rasa hambar.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 155)
Kelarutan Mudah larut dalam ethanol (95%) dan eter, kelarutan
meningkat dengan peningkatan suhu; praktis tidak larut dalam
air. Larut ketika dilelehkan bersama lemak, paraffin cair dan
padat, dan isopropil miristat.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 156)


Stabilitas Cetyl alcohol stabil terhadap adanya asam, basa, cahaya, dan
udara; tidak berubah menjadi tengik.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 156)


Inkompabilitas Cetyl alcohol inkompatibel dengan bahan-bahan oksidator
kuat.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 156)


Keterangan -
lain

Penyimpanan Cetyl alcohol harus disimpan di wadah tertutup baik, di tempat


sejuk dan kering.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 156)


Kadar Emolien (2-5%), stiffening agent (2-10%).
penggunaan
(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal. 155)

d. Natrium EDTA

Zat Natrium EDTA

Sinonim 2 Synonyms Dinatrii edetas; disodium EDTA; disodium


ethylenediaminetetraacetate; edathamil disodium; edetate
disodium; edetic acid, disodium salt.
Struktur

Rumus molekul C10H14N2Na2O8 336.2 (for anhydrous)


C10H18N2Na2O10 372.2 (for dihydrate)
Titik lebur 252oC

Pemerian Serbuk kristalin berwarna putih tidak berbau, dan rasa sedikit
asam.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sedikit larut
dalam etanol 95% larut dalam 1:11 bagian air
Stabilitas Garam EDTA lebih stabil dibandingkan EDTA, larutan Na.
EDTA dapat disterilkan dengan autoklaf

Inkompabilitas Inkompatibel dengan agen pengoksidasi kuuat, basa kuat,


dan ion logam

Keterangan lain Fungsi : Chelating agent

Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah bebas alkali

Kadar 0,005 –0,1%


penggunaan

e. Metil paraben

Zat Metilparaben

Sinonim Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid


methyl ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis
parahydroxybenzoas; methyl p-hydroxybenzoate; Methyl
Parasept; Nipagin M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen P-23.
Struktur

Rumus molekul C8H8O3

Titik lebur -

Pemerian Serbuk kristalin tidak berwarna, tidak berbau, dan


mempunyai rasa sedikit membakar
Kelarutan

Stabilitas Larutan air metil paraben stabil pada pH 3-6 dan dapat
disterilkan dengan metode autoklaf selama 20 menit tanpa
terjadi dekomposisi.

Inkompabilitas Aktivitas antimikroba terganggu dengan adanya surfaktan


nonionik seperti polisorbat 80, karena terjadi pembentukan
msel. Inkompatibel dengan bentonit, magnesium trisilikat,
tragakan, alginat dan minyak essensial.

Keterangan lain Fungsi :pengawet

Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah tertutup baik, pada tempat


kering dan sejuk
Kadar 0.02-0.3%
penggunaan

f. Propil paraben

Zat Propil paraben

Sinonim Aseptoform P; CoSept P; E216; 4-hydroxybenzoic acid


propylester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl
Aseptoform; propylbutex; Propyl Chemosept; propylis
parahydroxybenzoas; propyl phydroxybenzoate;Propyl
Parasept; Solbrol P; Tegosept P; UniphenP-23.
Struktur

Rumus molekul C10H12O3

Titik lebur -

Pemerian Serbuk kristalin tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak


berbau
Kelarutan

Stabilitas Larutan air propil paraben stabil pada pH 3-6 dan dapat
disterilkan dengan metode autoklaf selama 20 menit tanpa
terjadi dekomposisi.

Inkompabilitas Aktivitas antimikroba terganggu dengan adanya surfaktan


nonionik seperti polisorbat 80, karena terjadi pembentukan
msel. Inkompatibel dengan bentonit, magnesium trisilikat,
tragakan, alginat dan minyak essensial.

Keterangan lain Fungsi : pengawet

Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah tertutup baik, pada tempat


kering dan sejuk
Kadar 0.01-0.6%
penggunaan
g. Asam stearat

Zat Asam stearat

Sinonim Acidum stearicum; cetylacetic acid; Crodacid; Cristal G;


Cristal S;Dervacid; E570; Edenor; Emersol; Extra AS; Extra
P; Extra S;Extra ST; 1-heptadecanecarboxylic acid;
Hystrene; Industrene;Kortacid 1895; Pearl Steric; Pristerene;
stereophanic acid; Tegostearic.
Struktur

Rumus molekul C18H36O2

Titik lebur 69-70oC

Pemerian Serbuk kristalin solid berwarna putih atau kekuningan,


mempunyai sedikit bau, dan rasa berlemak
Kelarutan Larut sempurna di dalam benzena, karbon tetrakloida,
kloroform, dan eter, arut dalam etanol 95% hexana dan
propilenglikol, praktis tidak larut dalam air.
Stabilitas Merupakan material yang stabil

Inkompabilitas Inkompatibel dengan logam hidroksida, agen pereduksi, dan


basa.

Keterangan lain Fungsi : emulgator

Penyimpanan Simpan dalam wadah tertutup baik, di tempat kering dan


sejuk
Kadar 1-20%
penggunaan
h. Aquadestilata

Zat Aqua Destillata (Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 96)

Sinonim Air suling.

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 96)


Struktur -

Rumus molekul H2O

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 96)


Titik lebur 0o C

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal.


766)
Pemerian Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
mempunyai rasa.

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 96)


Kelarutan Larut dengan sebagian besar pelarut polar.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal.


766)
Stabilitas Stabil secara kimia di semua bentuk fisik (padat, cairan,
uap). (Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition,
hal. 766)

Inkompabilitas Aqua destillata dapat bereaksi dengan obat dan bahan


tambahan lain yang rentan terhadap hidrolisis (penguraian
dengan adanya air atau uap air) pada suhu kamar dan tinggi.
Aqua destillata dapat bereaksi dengan logam-logam alkali
dan bentuk oksidanya, seperti kalsium oksida dan
magnesium oksida. Aqua destillata juga dapat bereaksi
dengan garam-garam anhidrat untuk membentuk hidrat dari
komposisi yang bervariasi dan dengan bahan-bahan organik
tertentu dan kalsium karbid. (Handbook of Pharmaceutical
Excipients 6th edition, hal. 768)

Keterangan lain -

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.

(Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 96)


Kadar Aqua destillata digunakan untuk aplikasi tertentu dalam
penggunaan konsentrasi hingga 100%.

(Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition, hal.


766)

III. CARA PEMBUATAN

1. Siapkan alat dan bahan


2. Bahan-bahan larut minyak dan lemak dilelehkan dalam suatu wadah hingga suhu
75°C. yaitu :
- Zat Aktif
- Parafin cair
- Adeps lanae
- Cetyl alkohol
3. Air dipanaskan bersama komponen-komponen larut air dalam wadah lain dengan
suhu diatas 75oC. yaitu :
- Na. EDTA
- Metil paraben
- Propil paraben
- Asam stearat
4. Keduanya dicampurkan pada suhu yang sama (75oC) dan dicampur sampai suhu
mendekati 35°C.
5. Pengadukan dilakukan hingga krim halus terbentuk.

IV. EVALUASI

A. Evaluasi Fisik

1. Penampilan (GA, Tek. Farmasi Likuida & Semi solida, Hal 127)

Dilihat dengan adanya pemisahan fasa atau pecahnya emulsi, bau tengik,
perubahan warna.
2. Homogenitas (GA, Tek. Farmasi Likuida & Semi solida, Hal 127)

Dengan cara meletakkan sedikit krim diantara 2 kaca objek dan diperhatikan
adanya partikel-partikel kasar atau ketidakhomogenan.

3. Viskositas dan rheologi

4. Ukuran partikel

Prinsip : perubahan reflektan pada panjang gelombang dimana fase dalam


berwarna mengabsorbsi sebagian cahaya yang masuk, ternyata berbanding
terbalik dengan suatu kekuatan dari diameter partikel.

Prosedur : sebarkan sejumlah krim yang membentuk lapisan tipis pada slide
mikroskop. Lihat di bawah mikroskop.

Syarat : Tidak boleh lebih dari 20 partikel berukuran >20μm, tidak boleh lebih
dari 2 partikel berukuran >50μm, dan tidak satupun partikel berukuran >90μm.

5. Stabilitas krim

Dilakukan uji percepatan dengan : Agitasi atau sentrifugasi (mekanik)

Prosedur : sediaan disentrifuga dengan kecepatan tinggi (+ 30000 RPMO).


Amati adanya pemisahan atau tidak.

Menurut Becher : sentrifugasi 3750 rpm, radius 10 cm, 5 jam sebanding dengan
efek gravitasi 1 tahun. Ultrasentrifugassi 25000 rpm atau lebih sebanding dengan
efek yang tidak diamati selama umur normal emulsi/krim.

Manipulasi suhu (termik) (Lachman, hal 1081).

Prosedur : krim dioleskan pada kaca objek dan dipanaskan pada suhu 30, 40, 50,
60 dan 70 oC. Amati dengan bantuan indikator (ex. Sudan merah), mulai suhu
berapa terjadi pemisahan. Makin tinggi suhu, krim makin stabil.

6. Isi minimum (FI IV <861>, hal 997)

Ambil contoh 10 wadah berisi zat uji, hilangkan etiket yang dapat mempengaruhi
bobot saat isi wadah dikeluarkan. Bersihkan dan keringkan dengan sempurna
bagian luar wadah dengan cara yang sesuai dan timbang satu per satu. Keluarkan
isi secara kuantitatif dari masing-masing wadah, potong ujung wadah, jika perlu
cuci dengan pelarut yang sesuai. Hati-hati agar tutup dan bagian lain wadah tidak
terpisah. Keringkan dan timbang kembali masing-masing wadah kosong dan
bagian-bagiannya. Perbedaan antara kedua penimbangan adalah bobot bersih isi
wadah. Bobot bersih rata-rata isi dari 10 wadah tidak kurang dari bobot yang
tertera pada etiket dan tidak satupun yang bobot bersihnya kurang dari 90% bobot
yang tertera pada etiket untuk bobot 60 g atau kurang. Jika persyaratan tidak
dipenuhi, tetapkan bobot bersih isi 20 wadah tambahan. Bobot rata-rata 30 wadah
tidak kurang dari bobot yang tertera di etiket dan hanya satu wadah yang kurang
dari 90% untuk bobot 60g atau kurang dan tidak kurang dari 95% harga yang
tertera di etiket untuk bobot lebih dari 60 g dan kurang dari 150 g.

7. Penentuan tipe emulsi

 Uji kelarutan zat warna (Martin, Farfis, Hal 1144-1145)


Sedikit zat warna larut air, misal metilen biru atau biru brillian CFC diteteskan
pada permukaan emulsi. Jika zat warna terlarut dan berdifusi homogen pada fase
eksternal yang berupa air, maka tipe emulsi adalah M/A. Jika zat warna tampak
sebagai tetesan di fase internal, maka tipe emulsi adalah A/M. Hal yang terjadi
adalah sebaliknya jika digunakan zat warna larut minyak (Sudan III).

 Uji pengenceran (Martin, Farfis, Hal 1145)


Uji ini dilakukan dengan mengencerkan emulsi dengan air. Jika emulsi tercampur
baik dengan air, tanpa memperlihatkan ketidakcampuran, maka tipe emulsi adalah
M/A. Hal ini dapat dilakukan dengan mikroskop untuk memberikan visualisasi
yang baik tentang tidak adanya ketidakcampuran.

8. Penetapan pH (FI IV <1071>, hal 1039-1040)

9. Uji pelepasan bahan aktif dari sediaan (Tugas Akhir Ivantia, “Uji Pelepasan
Diklofenak dari Sediaan Salep” ;TA Sriningsih “Kecepatan difusi kloramfenikol
dari sediaan salep)

Prinsip : mengukur kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan krim dengan
cara mengukur konsentrasi zat aktif dalam cairan penerima pada waktu tertentu.

Prosedur :

 Sejumlah krim dioleskan pada cawan Petri, permukaan dibuat serata mungkin.
 Cairan penerima disiapkan (dapar, Lar. NaCl 0,9%, dll) dalam gelas kimia 600 ml
dengan volume tertentu (ex. 250 mL). Kemudian gelas kimia direndam dalam
water bath bersuhu 370C. Pengaduk dipasang tepat ditengah-tengah antara
permukaan cairan penerima dengan krim, dengan kecepatan 60 rpm.
 Cawan Petri yang telah diolesi krim dimasukkan.
 Cairan penerima dipipet pada waktu-waktu tertentu, missal pada menit ke 5, 10,
15, 25, 30, 60, 90, 120, 180 dan 240.
 Cairan yang dipipet diganti dengan cairan penerima yang sama, bersuhu 37oC.
 Kadar zat aktif dalam sample ditentukan dengan metode yang sesuai, jika perlu
diencerkan.
 Jika komponen krim mengandung bahan yang dapat bercampur dengan cairan
penerima, maka pada permukaan krim dipasang membran selofen sehingga krim
tidak kontak langsung dengan cairan penerima.
Penafsiran hasil

Bahan aktif dinyatakan mudah lepas dari sediaan apabila pada waktu tunggu
(waktu pertama kali zat aktif ditemukan dalam cairan penerima) semakin kecil.
Dalam hal ini tergantung dari pembawa, penambahan komponen lain dan jenis
cairan penerima.

10. Uji kebocoran tube (FI ed IV, hal 1086)

B. Evaluasi Kimia

Identifikasi (tergantung monografi).

Uji penetapan kadar (Tergantung monografi).


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia,edisi IV,


Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia,edisi III,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Lachman, L., & Lieberman, H. A., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi
Kedua, 1091-1098, UI Press, Jakarta.
Laund , Walter. (1994). The Pharmaceutical Codex, 12th Edition , The
PharmaceuticalPress London
Rowe, Raymond C. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed., London:
Pharmaceutical Press.
Sinko, P. J., 2011, Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika edisi 5,
diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, 706, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.