Anda di halaman 1dari 53

CASE REPORT

STROKE NON HEMORAGIK

Disusun oleh :

Ghrena Amadea M. A.
1161050035

Pembimbing :

dr.Tumpal A. Siagian, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU NEUROLOGI

PERIODE 3 APRIL – 6 MEI 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari 24
jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan
peredaran darah otak sepintas, tumor otak, stroke sekunder karena trauma maupun
infeksi.
Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan oleh
iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh
darah otak yang
menyebabkan turunnya suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang mengalami
oklusi. Munculnya tanda dan gejala fokal atau global pada stroke disebabkan oleh
penurunan aliran darah otak. Oklusi dapat berupa trombus, embolus, atau
tromboembolus, menyebabkan hipoksia sampai anoksia pada salah satu daerah
percabangan pembuluh darah di otak tersebut. Stroke hemoragik dapat berupa perdarahan
intraserebral atau perdarahan subrakhnoid
Pada 1053 kasus stroke di 5 rumah sakit di Yogyakarta angka kematian tercatat
sebesar 28.3%; sedangkan pada 780 kasus stroke iskemik adalah 20,4%, lebih banyak
pada laki-laki. Mortalitas pasien stroke di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menduduki
peringkat ketiga setelah penyakit jantung koroner dan kanker, 51,58% akibat stroke
hemoragik, 47,37% akibat stroke iskemik, dan 1,05% akibat perdarahan subaraknoid .
Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi stroke di Indonesia 12,1 per
1.000 penduduk. Angka itu naik dibandingkan Riskesdas 2007 yang sebesar 8,3
persen. Stroke telah jadi penyebab kematian utama di hampir semua rumah sakit di
Indonesia, yakni 14,5 persen.2
Dilihat dari karakteristiknya, stroke banyak dialami orang lanjut usia,
berpendidikan rendah, dan tinggal di perkotaan. Perubahan gaya hidup; pola makan
terlalu banyak gula, garam, dan lemak; serta kurang beraktivitas adalah faktor risiko
stroke.
Riskesdas 2013 menunjukkan, prevalensi hipertensi orang Indonesia berusia lebih
dari 18 tahun 25,8 persen. Seseorang kena hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih
tinggi dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg.Tekanan sistolik
menunjukkan tekanan darah saat otot jantung berkontraksi dan tekanan diastolik saat otot
jantung tak berkontraksi.
BAB II
TNJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Menurut WHO definisi stroke adalah manifestasi klinis dari gangguan fungsi
serebral baik lokal maupun menyeluruh (global), berlangsung cepat, lebih dari 24
jam atau berakhir dengan kematian, tanpa ditemukan penyebabnya selain
gangguan vaskuler.
Adapun penyakit atau kelainan pembuluh darah otak yang mendasari
terjadinya stroke, misalnya arteriosklerosis otak, aneurisma, angioma pembuluh
darah otak dan sebagainya, disebut penyakit-penyakit peredaran darah otak (
cerebrovascular disease/CVD ).

II. FAKTOR RESIKO


Faktor resiko stroke ialah kelainan atau penyakit yang membuat seseorang
lebih rentan terhadap serangan stroke.
A. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi
- Umur
- Jenis Kelamin
- Genetik
- Ras
- BBLR
- Riwayat penyakit keluarga
B. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi
Faktor-faktor resiko mayor
1. Hipertensi
2. Penyakit jantung
a. Infark miokard
b. Elektrokardiogram abnormal disritmia, hipertrofi bilik kiri
c. Penyakit katup jantung
d. Gagal jantung kongestif
3. Sudah ada manifestasi arteriosklerosis secara klinis
a. Gangguan pembuluh darah koroner ( angina pektoris )
b. Gangguan pembuluh darah karotis
4. Diabetes melitus
5. Polisitemia
6. Pernah mendapat stroke
7. Merokok

Faktor-faktor resiko minor


1. Kadar lemak darah tinggi
2. Hematokrit tinggi
3. Kegemukan
4. Kadar asam urat tinggi
5. Kurang olahraga
6. Fibrinogen tinggi

III. KLASIFIKASI
A. Berdasarkan patologi anatomi
1. Stroke nonhemoragik (iskemik)
a. Trombosis serebri
b. Emboli serebri
2. Stroke hemoragik
a. Perdarahan intraserebral
b. Perdarahan subarakhnoid
B. Berdasarkan stadium/ pertimbangan waktu
1. TIA ( Transient Ischemic Attack )
2. Stroke in evolution
3. Complete stroke
C. Berdasarkan sistem pembuluh darah
1. Sistem karotis
2. Sistem vertebrobasiler

IV. PATOFISIOLOGI
Stroke Iskemik
Iskemik otak dapat bersifat fokal atau global. Pada iskemik global, aliran otak
secara keseluruhan menurun akibat tekanan perfusi, misalnya karena syok
irreversible akibat henti jantung. sedangkan iskemik fokal terjadi akibat menurunnya
tekanan perfusi otak regional. Keadaan ini disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya
salah satu pembuluh darah otak di daerah sumbatan atau tertutupnya aliran darah
sebagian atau seluruh lumen pembuluh darah otak.
Akibat penutupan aliran darah ke bagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian
proses patologis pada daerah iskemik. Perubahan ini dimulai di tingkat seluler,
berupa perubahan fungsi dan struktural sel yang diikuti kerusakan pada fungsi utama
serta integritas fisik dari susunan sel, selanjutnya akan berakhir dengan kematian
neuron.
Di samping itu terjadi perubahan mili ekstraseluler, karena peningkatan pH
jaringan serta kadar gas darah, keluarnya zat neurotransmitter (glutamat) serta
metabolisme sel-sel yang iskemik, disertai kerusakan sawar darah otak (blood brain
barrier). Seluruh proses ini merupakan perubahan yang terjadi pada stroke iskemik.
Pengurangan aliran darah yang disebabkan oleh sumbatan atau sebab lain, akan
menyebabkan iskemik di suatu daerah otak. Terdapatnya kolateral di sekitarnya
disertai mekanisme kompensasi fokal berupa vasodilatasi, memungkinkan terjadinya
beberapa keadaan berikut ini:
Pada sumbatan kecil, terjadi daerah iskemia yang dalam waktu singkat
dikompensasi dengan mekanisme kolateral dan vasodilatasi lokal. Secara klinis
gejala yang timbul adalah transient ischemic attack (TIA) yang timbul dapat berupa
hemiparesis yang menghilang sebelum 24 jam atau amnesia umum sepintas.
1. Bila sumbatan agak besar, daerah iskemia lebih luas. Penurunan CBF
regional lebih besar, tetapi dengan mekanisme kompensasi masih mampu
memulihkan fungsi neurologik dalam waktu beberapa hari sampai dengan 2
minggu. Mungkin pada pemeriksaan klinik ada sedikit gangguan. Keadaan
ini secara klinis disebut RIND (Reversible Ischemic Neurologic Deficit).
2. Sumbatan yang cukup besar menyebabkan daerah iskemia yang luas
sehingga mekanisme kolateral dan kompensasi tak dapat mengatasinya.
Dalam keadaan ini timbul defisit neurologis yang berlanjut.
Pada iskemia otak yang luas, tampak daerah yang tidak homogen akibat
perbedaan tingkat iskemia, yang terdiri dari:
a. Lapisan inti yang sangat iskemik (ischemic-core) terlihat sangat pucat
karena CBF-nya paling rendah. Tampak degenerasi neuron, pelebaran
pembuluh darah tanpa aliran darah. Kadar asam laktat disini tinggi
dengan pO2 yang rendah. Daerah ini mengalami nekrosis.
b. Daerah di sekitar inti ischemic core yang CBF-nya juga rendah, tetapi
masih lebih tinggi daripada CBF di ischemic core. Pada daerah ini pO2
rendah, pCO2 tinggi, dan asam laktat meningkat. Edema jaringan akibat
bendungan dengan dilatasi pembuluh darah dan jaringan berwarna
pucat. Astrup menyebutnya sebagai ischemic penumbra.
c. Daerah di sekeliling penumbra tampak berwarna kemerahan dan edema.
Pembuluh darah mengalami dilatasi maksimal, pCO2 dan pO2 tinggi
dan kolateral maksimal. Pada daerah ini CBF sangat meninggi sehingga
disebut sebagai daerah dengan perfusi berlebihan.
Perubahan lain yang terjadi adalah kegagalan autoregulasi di daerah iskemia,
sehingga respons arteriol terhadap perubahan tekanan darah dan oksigen atau
karbondioksida menghilang.
Perdarahan Intraserebral
Kira-kira 10% stroke disebabkan oleh perdarahan intraserebral. Hipertensi,
khususnya yang tidak terkontrol, merupakan penyebab utama. Penyebab lain adalah
pecahnya aneurisma, malformasi arterivena, angioma kavernosa, alkoholisme,
diskrasia darah, terapi antikoagulan, dan angiopati amiloid.
Perdarahan Subarakhnoid
Sebagian besar kasus disebabkan oleh pecahnya aneurisma pada percabangan
arteri-arteri besar. Penyebab lain adalah malformasi arteri – vena atau tumor.
V. DIAGNOSIS
Dasar diagnosis dari stroke dapat ditegakkan melalui anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Brain Imaging : MRI (bila diperlukan) atau CT-Scan
b. Vascular Imaging : MRA, CTA, atau carotid ultrasound (bila diperlukan)
c. Laboratorium : Pemeriksaan kimia darah lengkap, elektrolit, ureum,
kreatinin, asam urat, fungsi hati (SGOT/SGPT/CPK), aPTT, profil lipid
(kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL, gula darah sewaktu, HbA1c,
troponin).
d. EKG
e. Echocardiography (bila curiga terdapat kardioemboli)
Tetapi tidak seluruh Rumah Sakit memiliki alat-alat yang canggih, maka
untuk memudahkan pemeriksaan dapat dilakukan dengan sistem lain, misalnya
sistem skoring yaitu sistem yang berdasarkan gejala klinis yang ada pada saat
pasien masuk Rumah Sakit. Sistem skoring yang sering digunakan antara lain:
Gambar 1. Siriraj Score

Penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan refleks babinski adalah variabel-


variabel yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya untuk menyusun Algoritma
stroke Gadjah Mada sebagai suatu strategi klinik untuk membedakan stroke
perdarahan intraserebral dengan stroke iskemik akut atau stroke infark.
Tabel 2. Skor Gajah Mada

VII. PENATALAKSANAAN
Terapi Umum
a. Stabilisasi Jalan Napas dan Pernapasan
- Pemantauan status neurologis, nadi, tekanan darah, suhu tubuh, dan saturasi
oksigen dianjurkan dalam 72 jam pada pasien dengan status neurologis yang
nyata.
- Perbaiki jalan nafas. Berikan oksigen bila saturasi oksigen < 95%.
- Intubasi ETT diperlukan pada pasien dengan hipoksia (pO2 < 60 mmHg atau
pCO2 50 mmHg) atau syok atau pasien yang beresiko untuk terjadi aspirasi.

b. Stabilisasi hemodinamik
- Berikan cairan kristaloid atau koloid IV (hindari pemberian cairan hipotonis
seperti glukosa).
- Lakukan pemasangan CVC (Central Venous Catheter) untuk memantau
kecukupan cairan dan sarana untuk memasukkan cairan dan nutrisi.
- Optimalisasi tekanan darah.
- Pemantauan jantung harus dilakukan selama 24 jam pertama setelah awitan
serangan stroke iskemik.
- Bila terdapat adanya penyakit jantung kongestif, konsul kardiolog.
- Atasi hipovolemia dengan larutan salin normal.
c. Pemeriksaan Awal Fisik Umum
- Tekanan darah
- Pemeriksaan jantung
- Pemeriksaan neurologi
I. Derajat kesadaran
II. Pemeriksaan pupil dan okulomotor
III. Keparahan hemiparesis
d. Pengendalian Peninggian Tekanan Intrakranial (TIK)
- Monitor TIK harus dipasang pada pasien dengan GCS < 9 dan penderita yang
mengalami penurunan kesadaran karena TIK. Sasaran terapi adalah TIK
kurang dari 20 mmHg dan CPP > 70 mmHg.
- Penatalaksanaan penderita dengan peningkatan tekanan intrakranial meliputi:
i. Tinggikan posisi kepala 20o – 30o
ii. Posisi pasien menghindari penekanan vena jugular
iii. Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik
iv. Hindari hipertemia
v. Jaga normovolemia
vi. Osmoterapi atas indikasi:
 Manitol 0.25 – 0.50 gr/kgBB, selama > 20 menit, diulangi setiap 4
– 6 jam dengan target ≤ 310 mOsm/L. Osmolalitas sebaiknya
diperiksa 2 kali dalam sehari selama pemberian osmoterapi.
 Berikan furosemide dengan dosis inisial 1 mg/kgBB IV
vii. Intubasi untuk menjaga normoventilasi. Hiperventilasi mungkin
diperlukan bila akan dilakukan tindakan operatif.
viii. Drainase ventrikular dianjurkan pada hidrosefalus akut akibat stroke
iskemik serebelar.
ix. Tindakan bedah dekompresif pada keadaan iskemik serebelar yang
menimbulkan efek massa, merupakan tindakan yang dapat
menyelamatkan nyawa dan memberikan hasil yang baik.
e. Penanganan Transformasi Hemoragik
Terapi transformasi perdarahan simtomatik sama dengan terapi stroke
perdarahan, antara lain dengan memperbaiki perfusi serebral dengan
mengendalikan tekanan darah arterial secara hati-hati.
f. Pengendalian Kejang
- Berikan diazepam bolus lambat IV 5 – 20 mg dan fenitoin dose 15 – 20
mg/kg bolus dengan kecepatan maksimum 50 mg/menit.
- Bila belum teratasi, maka perlu dirawat.
- Pemberian antikonvulsan profilaksis pada penderita stroke iskemik tanpa
kejang tidak dianjurkan.
- Pada stroke perdarahan intraserebral, obat antikonvulsan profilaksis dapat
diberikan selama 1 bulan, kemudian diturunkan dan dihentikan bila tidak ada
kejang selama pengobatan.
g. Pengendalian Suhu Tubuh
- Setiap penderita stroke yang disertai demam harus diobati dengan antipiretika
dan diatasi penyebabnya.
- Pada pasien febris atau beresiko terjadi infeksi, lakukan kultur dan hapusan
(trakea, darah, dan urin) dan diberikan antibiotik. Jika memakai kateter,
ventrikuler, analisa cairan serebrospinal untuk mendeteksi meningitis, lalu
terapi dengan antibiotik.
h. Pemeriksaan Penunjang
- EKG
- Laboratorium (kimia darah, fungsi ginjal, hematologi, faal hemostatis, kadar
gula darah, analisis urin, analisis gas darah, dan elektrolit)
- Bila curiga adanya perdarahan subarachnoid, lakukan punksi lumbal.
- Lakukan pemeriksaan radiologi:
a. Foto rontgen dada
b. CT – Scan

Terapi Khusus
Penatalaksanaan Stroke Iskemik
1. Pengobatan terhadap hipertensi pada stroke akut
o Tekanan darah diturunkan sekitar 15% (sistolik maupun diastolik) dalam 24
jam pertama setelah awitan apabila TDS > 220 mmHg atau TDD > 120
mmHg. Pada pasien stroke iskemik akut yang akan diberikan terapi
trombolitik, tekanan darah diturunkan hingga TDS < 185 mmHg dan TDD <
110 mmHg. Lalu tekanan darah dipantau hingga TDS < 180 mmHg dan TDD
< 105 mmHg selama 24 jam setelah pemberian rtPA. Obat yang digunakan
adalah labetolol, nitropaste, nitroprusid, nikardipin, atau diltiazem IV.
2. Pengobatan terhadap hipoglikemia atau hiperglikemia
3. Pemberian terapi trombolisis
4. Pemberian antikoagulan
 Pemberian heparin dosis penuh pada penderita stroke iskemik akut dengan
risiko tinggi terjadi reembolisasi, diseksi arteri atau stenosis berat arteri karotis
sebelum pembedahan.
5. Pemberian antiplatelet
 Pemberian aspirin dengan dosis awal 325 mg dalam 24 sampai 48 jam setelah
awitan stroke dianjurkan untu setiap stroke iskemik akut. Tetapi jangan
diberikan bila diberikan obat trombolitik dalam 24 jam sebelumnya.
BAB III

STATUS PASIEN
 Nama : Tn. N
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 49 tahun
 Pekerjaan : Pegawai Swasta
 Agama : Islam
 Tgl. Masuk : 14-04-2017

Anamnesis
Autoanamnesis Tgl : 15 April 2017
 Keluhan utama : Kelemahan separuh badan kiri
 Keluhan Tambahan : Sulit bicara (bicara pelo)

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang ke RSUD Pasar Minggu dengan keluhan lemah separuh badan
sebelah kiri sejak 7 jam SMRS. Keluhan muncul tiba tiba pada saat pasien baru
bangun tidur dan keluhan ini baru muncul pertama kali. Lemas pada tangan dan kaki
kiri dirasakan bersamaan. Untuk mengurangi keluhan pasien hanya berisitirahat.
Pasien mengaku tidak merasa mual ataupun muntah. Tidak ada penurunan
kesadaran, demam, kejang, pusing berputar, nyeri dada, ataupun sering berdebar-
debar. Pandangan mata kabur, pandangan mata dobel, gangguan penciuman,
gangguan pendengaran, dan gangguan merasakan makanan disangkal. Tidak ada
tersedak saat makan ataupun minum. Pasien sulit berkomunikasi dengan baik karena
terdapat pelo dan mulutnya mencong ke arah kanan. BAB dan BAK lancar.

Riwayat Penyakit Terdahulu


 Riwayat tekanan darah tinggi sejak tahun 2011, tidak terkontrol
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
 Riwayat kencing manis pada ayah dan ibu pasien

Riwayat Kebiasaan Pribadi


 Merokok ± 4 batang sehari, alkohol disangkal

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis:
 Keadaan umum : Tampak Sakit Ringan
 Kesadaran : Compos mentis (E4M6V5)
 Tekanan Darah : 160/100 mmHg
 Nadi : 71 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,2° C
Status Regional
Kepala : Normocephali
Wajah : Simetris
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Hidung : Bentuk biasa, Lapang +/+, Sekret -/-
Mulut : Mukosa bibir baik, faring tidak hiperemis
Telinga : Normotia, Liang lapang +/+, Serumen Membran timpani
intak
Leher : KGB tidak teraba membesar
Toraks : Pergerakan dinding dada simetris kanan kiri
Paru-paru : Bunyi nafas dasar vesikuler, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Abdomen : Tampak datar, BU (+) 4x/menit, nyeri tekan (-), nyeri
Ketok (-)
Hepar : Tidak teraba membesar
Lien : Tidak teraba membesar
Genitalia externa : Tidak Dilakukan pemeriksaan
Extremitas : Akral hangat, Edema - - / - -
Status Neurologi
1. Rangsang meningeal
Kaku kuduk :-
Brudzinski I : -/-
Brudzinski II : -/-
Kernig : -/-
Laseque :>70º / >70º
2. Syaraf Kranial
N.I (Olfaktorius):
Cavum nasi : lapang/lapang
Tes penghidu : normosmia/normosmia

N.II (Optikus):
Visus :>3/60 // >3/60
Lihat warna : tidak buta warna
Lapang pandang : sama dengan pemeriksa
Funduscopy : tidak dilakukan

N.III, IV, VI (Okulomorius, Troklearis, Abdusens) :


Sikap bola mata : Simetris
Ptosis : +/-
Strabismus : -/-
Enoptalmus : -/-
Eksoptalmus : -/-
Diplopia : -/-
Deviasi konjugee : -/-
Pergerakan bola mata : Dapat bergerak ke segala arah
Pupil : Bulat, isokor 3mm/3mm, letak di tengah
Refleks cahaya langsung +/+
Refleks cahaya tidak langsung +/+
Refleks akomodasi +/+
N.V (Trigeminus) :
 Motorik :
Buka tutup mulut : baik/baik
Gerakan rahang : baik/baik
 Sensorik :
Rasa nyeri : kanan=kiri
Rasa raba : kanan=kiri
Rasa suhu : kanan=kiri
 Refleks :
Refleks kornea : +/+
Refleks maseter : +

N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik

N. VIII (Vestibulocochlearis)
Nistagmus : -/-
Vertigo :-
Suara berbisik : Baik/baik
Gesekan jari : +/+
Tes rinne : HU > HT
Tes weber : Tidak ada lateralisasi
Tes swabach : Sama dengan pemeriksa
N. IX, X (Glossofaringeus, Vagus):
Arkus faring : simetris
Palatum molle : intak
Uvula : tengah
Disartria :+
Disfagia :-
Disfonia :-
Refleks okulokardiak : tidak dilakukan
Refleks sinus caroticus: tidak dilakukan
Refleks faring : tidak dilakukan

N. XI (Aksesorius)
Angkat bahu : baik/baik
Menoleh : baik/baik

N. XII (Hipoglossus)
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : Deviasi ke kanan
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : baik, kanan=kiri

3. Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 2222
5555 2222
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-

4. Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-

5. Koordinasi :
 Statis
Duduk : Tidak dapat dilakukan
Berdiri : Tidak dapat dilakukan
Test romberg : Tidak dapat dilakukan
Test romberg dipertajam : Tidak dapat dilakukan

 Dinamis:
Telunjuk telunjuk: tidak dapat dilakukan
Telunjuk hidung: tidak dapat dilakukan
Tremor intensi : tidak dapat dilakukan
Disdiadokinesis : tidak dapat dilakukan
Dismetri : tidak dapat dilakukan
Menulis : tidak dapat dilakukan
Rebound fenomen : tidak dapat dilakukan
Tumit lutut : tidak dapat dilakukan

6. Sensibilitas :
 Eksteroseptif :
Rasa Raba : kanan=kiri
Rasa Nyeri : kanan=kiri
Rasa Suhu : kanan=kiri
 Propioseptif :
Rasa Getar : kanan=kiri
Rasa Gerak : kanan=kiri
Rasa Sikap : kanan=kiri

7. Vegetatif :
Miksi : baik
Defekasi : baik
Sekresi keringat : baik
Salivasi : baik
Fungsi seks : baik

8. Fungsi Luhur :
Memori : baik
Bahasa : dapat dimengerti
Kognitif : baik
Afek dan Emosi : baik
Visuospasial : baik
9. Tanda-tanda regresi
Refleks mengisap : tidak ada
Refleks menggigit : tidak ada
Refleks memegang : tidak ada
Snout refleks : tidak ada

10. Palpasi saraf tepi


Nervus ulnaris : tidak teraba membesar
Nervus aurikularis magnus : tidak teraba membesar

Resume
Pasien datang ke RSUD Pasar Minggu dengan keluhan lemah separuh badan
sebelah kiri sejak 7 jam SMRS. Keluhan muncul tiba tiba pada saat pasien baru
bangun tidur dan keluhan ini baru muncul pertama kali. Lemas pada tangan dan kaki
kiri dirasakan bersamaan. Untuk mengurangi keluhan pasien hanya berisitirahat.
Pasien mengaku tidak merasa mual ataupun muntah. Tidak ada penurunan
kesadaran, demam, kejang, pusing berputar, nyeri dada, ataupun sering berdebar-
debar. Pandangan mata kabur, pandangan mata dobel, gangguan penciuman,
gangguan pendengaran, dan gangguan merasakan makanan disangkal. Tidak ada
tersedak saat makan ataupun minum. Pasien sulit berkomunikasi dengan baik karena
terdapat pelo dan mulutnya mencong ke arah kanan. BAB dan BAK lancar.
Status Generalis:
 Keadaan umum : Tampak Sakit Ringan
 Kesadaran : Compos mentis (E4M6V5)
 Tekanan Darah : 160/100 mmHg
 Nadi : 71 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,2° C
Status Neurologis
N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik
N. XII
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : Deviasi ke kanan
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : Baik, kanan=kiri
Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 2222
5555 2222
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-
Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-

Siriraj Skor
(2.5 x kesadaran) + (2 x nyeri kepala) + (2 x muntah) + (0.1 x diastolik) – (3 x ateroma )
– 12
(2.5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 0) + (0.1 x 100) – (3 x 1) – 12 = -5 (Infark Serebri)

Gadjah Mada Skor


Nyeri kepala :-
Penurunan kesadaran : -
Babinski :+
(Stroke Iskemik Akut atau Stroke Infark)

Diagnosa
Klinis : Hemiparese sinistra dan Parese Nervus VII dan XII
sinistra central
Topis : Korteks serebri hemisfer dextra
Etiologis : Stroke Non Hemoragik + Hipertensi

Diagnosa Banding : Stroke Hemoragik


Pemeriksaan Penunjang : CT-Brain non kontras, kimia darah, ureum creatinin, asam
urat, urinalisa, AGD, elektrolit, H2TL, GDS
Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan darah (14/4/2017)
Pemeriksaan Hasil Satuan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 13,9 g/dL
Hematokrit 49 %
Leukosit 10 ribu/ul
Trombosit 307 ribu/ul
FUNGSI HATI
SGOT 23 U/l
SGPT 7 U/l
FUNGSI GINJAL
Ureum 29 mg/dl
Kreatinin 1,05 mg/dl
DIABETES
Glukosa Garah Sewaktu 112 mg/dl
ELEKTROLIT DARAH
Natrium 137
Kalium 3,6
Klorida 108

B. Pemeriksaan Darah (15/4/2017)

Pemeriksaan Hasil Satuan

Asam urat 6,1 mg/dL

DIABETES
HBA 1C 6
%
Glukosa darah puasa 110
mg/dL
Glukosa darah puasa 115
mg/dL
2 jam PP
LEMAK
Trigliserida 153 mg/dL
Kolesterol total 209 mg/dL
Kolesterol HDL 38 mg/dL
Kolesterol LDL 140 mg/dL

Terapi
a. Non-medikamentosa
 Rawat inap
 Tirah baring & posisikan kepala 30 derajat
 Pemasangan kateter
 Diet rendah lemak dan garam
b. Medikamentosa
 IVFD II RL/24 jam
 O2 2-4 LPM nasal kanul
 Aspilet 1x160 mg (PO)
 Citicolin 2x1 gr (IV)
 Ranitidine 2x 50 mg (IV)
 Simvastatin 1x 20 mg (PO)
 Asam folat 2x1 (PO)

Prognosis
Ad Vitam : Dubia ad bonam
Ad Sanationum : Dubia ad malam
Ad Fungsionum : Dubia ad bonam
Follow UpTanggal 14 April 2017 (PH :1)
S : Lemas separuh badan sebelah kiri , tidur nyenyak, mual (-), muntah (-),
sakit kepala(-), BAK: tidak ada keluhan, BAB: tidak ada keluhan.
O:
Status Generalis:
Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis (E3M5V6)
Tekanan Darah : 160/100 mmHg
Nadi : 71x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,2° C
Saturasi : 99%
Status Neurologi
3. Rangsang meningeal
Kaku kuduk :-
Brudzinski I : -/-
Brudzinski II : -/-
Kernig : -/-
Laseque :>70º / >70º
4. Syaraf Kranial
N.I (Olfaktorius):
Cavum nasi : lapang/lapang
Tes penghidu : normosmia/normosmia

N.II (Optikus):
Visus :>3/60 // >3/60
Lihat warna : tidak buta warna
Lapang pandang : sama dengan pemeriksa
Funduscopy : tidak dilakukan
N.III, IV, VI (Okulomorius, Troklearis, Abdusens) :
Sikap bola mata : Simetris
Ptosis : +/-
Strabismus : -/-
Enoptalmus : -/-
Eksoptalmus : -/-
Diplopia : -/-
Deviasi konjugee : -/-
Pergerakan bola mata : Dapat bergerak ke segala arah
Pupil : Bulat, isokor 3mm/3mm, letak di tengah
Refleks cahaya langsung +/+
Refleks cahaya tidak langsung +/+
Refleks akomodasi +/+

N.V (Trigeminus) :
 Motorik :
Buka tutup mulut : baik/baik
Gerakan rahang : baik/baik
 Sensorik :
Rasa nyeri : kanan=kiri
Rasa raba : kanan=kiri
Rasa suhu : kanan=kiri
 Refleks :
Refleks kornea : +/+
Refleks maseter : +

N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik

N. VIII (Vestibulocochlearis)
Nistagmus : -/-
Vertigo :-
Suara berbisik : Baik/baik
Gesekan jari : +/+
Tes rinne : HU > HT
Tes weber : Tidak ada lateralisasi
Tes swabach : Sama dengan pemeriksa

N. IX, X (Glossofaringeus, Vagus):


Arkus faring : simetris
Palatum molle : intak
Uvula : tengah
Disartria :+
Disfagia :-
Disfonia :-
Refleks okulokardiak : tidak dilakukan
Refleks sinus caroticus: tidak dilakukan
Refleks faring : tidak dilakukan

N. XI
Angkat bahu : baik/baik
/Menoleh : baik/baik

N. XII
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : Deviasi ke kanan
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : baik, kanan=kiri

3. Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 2222
5555 2222
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-

4. Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-
5. Koordinasi :
 Statis
Duduk : Tidak dapat dilakukan
Berdiri : Tidak dapat dilakukan
Test romberg : Tidak dapat dilakukan
Test romberg dipertajam : Tidak dapat dilakukan

 Dinamis:
Telunjuk telunjuk: tidak dapat dilakukan
Telunjuk hidung: tidak dapat dilakukan
Tremor intensi : tidak dapat dilakukan
Disdiadokinesis : tidak dapat dilakukan
Dismetri : tidak dapat dilakukan
Menulis : tidak dapat dilakukan
Rebound fenomen : tidak dapat dilakukan
Tumit lutut : tidak dapat dilakukan

6. Sensibilitas :
 Eksteroseptif :
Rasa Raba : kanan=kiri
Rasa Nyeri : kanan=kiri
Rasa Suhu : kanan=kiri
 Propioseptif :
Rasa Getar : kanan=kiri
Rasa Gerak : kanan=kiri
Rasa Sikap : kanan=kiri

7. Vegetatif :
Miksi : baik
Defekasi : baik
Sekresi keringat : baik
Salivasi : baik
Fungsi seks : baik

8. Fungsi Luhur :
Memori : baik
Bahasa : dapat dimengerti
Kognitif : baik
Afek dan Emosi : baik
Visuospasial : baik

9. Tanda-tanda regresi
Refleks mengisap : tidak ada
Refleks menggigit : tidak ada
Refleks memegang : tidak ada
Snout refleks : tidak ada

10. Palpasi saraf tepi


Nervus ulnaris : tidak teraba membesar
Nervus aurikularis magnus : tidak teraba membesar

A/
Klinis : Hemiparese sinistra dan Parese Nervus VII dan XII
sinistra central
Topis : Korteks serebri hemisfer dextra
Etiologis : Stroke Non Hemoragik + Hipertensi
Diagnosis Banding : Stroke Hemoragik
Pemeriksaan Penunjang : CT Brain non kontras, EKG
P/
IVFD II RL/24 jam
Elevasi kepala 30o
Diet: rendah garam, tinggi serat
Mm/
 Aspilet 1x160 mg (PO)
 Citicolin 2x1 gr (IV)
 Ranitidine 2x 50 mg (IV)
 Simvastatin 1x 20 mg (PO)
 Asam folat 2x1 (PO)

Follow UpTanggal 15 April 2017 (PH :2)


S : Lemas separuh badan sebelah kiri , tidur nyenyak, mual (+), muntah (-),
sakit kepala(-), Bicara sulit (+) BAK: tidak ada keluhan, BAB: tidak ada keluhan.
O:
Status Generalis:
Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis (E3M5V6)
Tekanan Darah : 180/110 mmHg
Nadi : 89x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 36,4° C
Saturasi : 99%
Status Neurologi
5. Rangsang meningeal
Kaku kuduk :-
Brudzinski I : -/-
Brudzinski II : -/-
Kernig : -/-
Laseque :>70º / >70º
6. Syaraf Kranial
N.I (Olfaktorius):
Cavum nasi : lapang/lapang
Tes penghidu : normosmia/normosmia

N.II (Optikus):
Visus :>3/60 // >3/60
Lihat warna : tidak buta warna
Lapang pandang : sama dengan pemeriksa
Funduscopy : tidak dilakukan

N.III, IV, VI (Okulomorius, Troklearis, Abdusens) :


Sikap bola mata : Simetris
Ptosis : +/-
Strabismus : -/-
Enoptalmus : -/-
Eksoptalmus : -/-
Diplopia : -/-
Deviasi konjugee : -/-
Pergerakan bola mata : Dapat bergerak ke segala arah
Pupil : Bulat, isokor 3mm/3mm, letak di tengah
Refleks cahaya langsung +/+
Refleks cahaya tidak langsung +/+
Refleks akomodasi +/+
N.V (Trigeminus) :
 Motorik :
Buka tutup mulut : baik/baik
Gerakan rahang : baik/baik
 Sensorik :
Rasa nyeri : kanan=kiri
Rasa raba : kanan=kiri
Rasa suhu : kanan=kiri
 Refleks :
Refleks kornea : +/+
Refleks maseter : +

N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik

N. VIII (Vestibulocochlearis)
Nistagmus : -/-
Vertigo :-
Suara berbisik : Baik/baik
Gesekan jari : +/+
Tes rinne : HU > HT
Tes weber : Tidak ada lateralisasi
Tes swabach : Sama dengan pemeriksa

N. IX, X (Glossofaringeus, Vagus):


Arkus faring : simetris
Palatum molle : intak
Uvula : tengah
Disartria :+
Disfagia :-
Disfonia :-
Refleks okulokardiak : tidak dilakukan
Refleks sinus caroticus: tidak dilakukan
Refleks faring : tidak dilakukan

N. XI
Angkat bahu : baik/baik
/Menoleh : baik/baik

N. XII
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : Deviasi ke kanan
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : Baik, kanan=kiri

3. Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 2222
5555 2222
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-

4. Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-

5. Koordinasi :
 Statis
Duduk : Tidak dapat dilakukan
Berdiri : Tidak dapat dilakukan
Test romberg : Tidak dapat dilakukan
Test romberg dipertajam : Tidak dapat dilakukan

 Dinamis:
Telunjuk telunjuk: tidak dapat dilakukan
Telunjuk hidung: tidak dapat dilakukan
Tremor intensi : tidak dapat dilakukan
Disdiadokinesis : tidak dapat dilakukan
Dismetri : tidak dapat dilakukan
Menulis : tidak dapat dilakukan
Rebound fenomen : tidak dapat dilakukan
Tumit lutut: tidak dapat dilakukan

6. Sensibilitas :
 Eksteroseptif :
Rasa Raba : kanan=kiri
Rasa Nyeri : kanan=kiri
Rasa Suhu : kanan=kiri
 Propioseptif :
Rasa Getar : kanan=kiri
Rasa Gerak : kanan=kiri
Rasa Sikap : kanan=kiri

7. Vegetatif :
Miksi : baik
Defekasi : baik
Sekresi keringat : baik
Salivasi : baik
Fungsi seks : baik

8. Fungsi Luhur :
Memori : baik
Bahasa : dapat dimengerti
Kognitif : baik
Afek dan Emosi : baik
Visuospasial : baik

9. Tanda-tanda regresi
Refleks mengisap : tidak ada
Refleks menggigit : tidak ada
Refleks memegang : tidak ada
Snout refleks : tidak ada

10. Palpasi saraf tepi


Nervus ulnaris : tidak teraba membesar
Nervus aurikularis magnus : tidak teraba membesar
A/
Klinis : Hemiparese sinistra dan Parese Nervus VII dan XII
sinistra central
Topis : Korteks serebri hemisfer dextra
Etiologis : Stroke Non Hemoragik + Hipertensi
Diagnosis Banding : Stroke Hemoragik
Pemeriksaan Penunjang : CT Brain non kontras, EKG

P/
IVFD II RL/24 jam
Elevasi kepala 30o
Diet: rendah garam, tinggi serat
Mm/
 Amlodipine 1x10 mg (PO)
 Aspilet 1x160 mg (PO)
 Citicolin 2x1 gr (IV)
 Ranitidine 2x 50 mg (IV)
 Simvastatin 1x 20 mg (PO)
 Asam folat 2x1 (PO)
Follow UpTanggal 16 April 2017 (PH :3)
S : Lemas separuh badan sebelah kiri , tidur nyenyak, mual (-), muntah (-),
sakit kepala(-), Bicara sulit (-) BAK: tidak ada keluhan, BAB: tidak ada keluhan.
O:
Status Generalis:
Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis (E3M5V6)
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Nadi : 98x/menit
Pernafasan : 22 x/menit
Suhu : 36,7° C
Saturasi : 99%
Status Neurologi
7. Rangsang meningeal
Kaku kuduk :-
Brudzinski I : -/-
Brudzinski II : -/-
Kernig : -/-
Laseque :>70º / >70º
8. Syaraf Kranial
N.I (Olfaktorius):
Cavum nasi : lapang/lapang
Tes penghidu : normosmia/normosmia

N.II (Optikus):
Visus :>3/60 // >3/60
Lihat warna : tidak buta warna
Lapang pandang : sama dengan pemeriksa
Funduscopy : tidak dilakukan
N.III, IV, VI (Okulomorius, Troklearis, Abdusens) :
Sikap bola mata : Simetris
Ptosis : +/-
Strabismus : -/-
Enoptalmus : -/-
Eksoptalmus : -/-
Diplopia : -/-
Deviasi konjugee : -/-
Pergerakan bola mata : Dapat bergerak ke segala arah
Pupil : Bulat, isokor 3mm/3mm, letak di tengah
Refleks cahaya langsung +/+
Refleks cahaya tidak langsung +/+
Refleks akomodasi +/+
N.V (Trigeminus) :
 Motorik :
Buka tutup mulut : baik/baik
Gerakan rahang : baik/baik
 Sensorik :
Rasa nyeri : kanan=kiri
Rasa raba : kanan=kiri
Rasa suhu : kanan=kiri
 Refleks :
Refleks kornea : +/+
Refleks maseter : +

N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik

N. VIII (Vestibulocochlearis)
Nistagmus : -/-
Vertigo :-
Suara berbisik : Baik/baik
Gesekan jari : +/+
Tes rinne : HU > HT
Tes weber : Tidak ada lateralisasi
Tes swabach : Sama dengan pemeriksa

N. IX, X (Glossofaringeus, Vagus):


Arkus faring : simetris
Palatum molle : intak
Uvula : tengah
Disartria :+
Disfagia :-
Disfonia :-
Refleks okulokardiak : tidak dilakukan
Refleks sinus caroticus: tidak dilakukan
Refleks faring : tidak dilakukan

N. XI
Angkat bahu : baik/baik
/Menoleh : baik/baik

N. XII
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : tidak ada deviasi
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : Baik, kanan=kiri

3. Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 3333
5555 3333
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-

4. Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-
5. Koordinasi :
 Statis
Duduk : Tidak dapat dilakukan
Berdiri : Tidak dapat dilakukan
Test romberg : Tidak dapat dilakukan
Test romberg dipertajam : Tidak dapat dilakukan

 Dinamis:
Telunjuk telunjuk: tidak dapat dilakukan
Telunjuk hidung: tidak dapat dilakukan
Tremor intensi : tidak dapat dilakukan
Disdiadokinesis : tidak dapat dilakukan
Dismetri : tidak dapat dilakukan
Menulis : tidak dapat dilakukan
Rebound fenomen : tidak dapat dilakukan
Tumit lutut: tidak dapat dilakukan

6. Sensibilitas :

 Eksteroseptif :
Rasa Raba : kanan=kiri
Rasa Nyeri : kanan=kiri
Rasa Suhu : kanan=kiri
 Propioseptif :
Rasa Getar : kanan=kiri
Rasa Gerak : kanan=kiri
Rasa Sikap : kanan=kiri
7. Vegetatif :
Miksi : baik
Defekasi : baik
Sekresi keringat : baik
Salivasi : baik
Fungsi seks : baik

8. Fungsi Luhur :
Memori : baik
Bahasa : dapat dimengerti
Kognitif : baik
Afek dan Emosi : baik
Visuospasial : baik

9. Tanda-tanda regresi
Refleks mengisap : tidak ada
Refleks menggigit : tidak ada
Refleks memegang : tidak ada
Snout refleks : tidak ada

10. Palpasi saraf tepi


Nervus ulnaris : tidak teraba membesar
Nervus aurikularis magnus : tidak teraba membesar
A/
Klinis : Hemiparese sinistra dan Parese Nervus VII dan XII
sinistra central
Topis : Korteks serebri hemisfer dextra
Etiologis : Stroke Non Hemoragik + Hipertensi
Diagnosis Banding : Stroke Hemoragik
Pemeriksaan Penunjang : CT Brain non kontras, EKG
P/
IVFD II RL/24 jam
Elevasi kepala 30o
Diet: rendah garam, tinggi serat
Mm/
 Amlodipine 1x10 mg (PO)
 Aspilet 1x160 mg (PO)
 Citicolin 2x1 gr (IV)
 Ranitidine 2x 50 mg (IV)
 Simvastatin 1x 20 mg (PO)
 Asam folat 2x1 (PO)
BAB III
PEMBAHASAN

Berikut penanganan rumah sakit saat pasien masuk dengan keluhan lemah separuh badan
kiri
Kepustakaan
1. Anamnesis Diketahui bahwa faktor resiko yang tidak dapat
Berdasarkan anamnesa didapatkan pasien dimodifikasi dari stroke salah satunya adalah
mengalami lemah separuh badan kiri yang genetik dan yang dapat dimodifikasi merupakan
dirasakan sejak 7 jam SMRS. Keluhan muncul tiba hipertensi dan kebiasaan merokok.
tiba pada saat pasien baru bangun tidur dan keluhan
ini baru muncul pertama kali. Untuk mengurangi Penilaian Siriraj Score
keluhan pasien hanya berisitirahat. (2.5 x kesadaran) + (2 x nyeri kepala) + (2 x
Pasien mengaku tidak merasa mual ataupun muntah) + (0.1 x diastolik) – (3 x ateroma ) – 12
muntah. Tidak ada penurunan kesadaran, demam, (2.5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 0) + (0.1 x 100) – (3 x 1)
kejang, pusing berputar, nyeri dada, ataupun sering – 12 = -5
berdebar-debar. Pandangan mata kabur, pandangan (hasil stroke non hemoragik)
mata dobel, gangguan penciuman, gangguan Gadjah Mada Score
pendengaran, dan gangguan merasakan makanan Nyeri kepala :-
disangkal. Tidak ada tersedak saat makan ataupun Penurunan kesadaran :-
minum. Pasien sulit berkomunikasi dengan baik Babinski :-
karena terdapat pelo dan mulutnya mencong. BAB (Stroke Non Hemoragik)
dan BAK lancar.

Hasil tersebut menunjukkan terjadinya stroke non

hemoragik. Namun, untuk lebih memastikan lagi

diperlukan pemeriksaan CT-Scan kepala non

kontras.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan hasil sebagai Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah
berikut: pasien termasuk dalam kategori Hipertensi Grade
Keadaan umum : Tampak Sakit Ringan II. Sehingga dapat dipastikan bahwa pasien
Kesadaran : Compos Mentis (E3M5V6) mengalami hipertensi dan itu merupakan faktor
Tekanan Darah : 160/100 mmHg resiko stroke yang dapat dimodifikasi. Kemudian
Nadi : 171 x/menit dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya paresis
Pernafasan : 20x/menit nervus VII dan XII sinistra tipe central. Semua
Suhu : 36,2° C pemeriksaan tersebut mengarah pada diagnosa
stroke. Namun untuk memastikan lagi apakah
Nervus Cranialis terjadi Stroke Non Hemoragik atau Hemoragik,
perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, terutama
N VII : Parese N VII sinistra tipe central
CT-Scan kepala non kontras.
N XII : Parese N XII sinistra tipe central

MOTORIK

Derajat kekuatan otot :5555/2222

5555/2222

SENSIBILITAS

Eksteroseptif

Raba : simetris kanan = kiri

Nyeri : simetris kanan = kiri


Pemeriksaan Laboratorium Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya
peningkatan LDL dan penurunan kadar HDL..
(14/4/2017)
Hb : 15,9 g/dl
Ht : 49 %
Leu : 10 ribu/uL
Trombosit : 307 ribu/uL
GDS : 112 mg/dL

- Na : 137 mmol/L
-K : 3,6 mmol/L
- Cl : 108 mmol/L
SGOT : 23 U/L
SGPT : 7 U/L
Ureum : 29 mg/dl
Creatinin: 1,05 mg/dl

Kimia darah (15/4/2017)


Kolestrol total : 209 mg/dL
Trigliserida : 153 mg/dL
LDL : 140 mg/dl
HDL : 38 mg/dL
As. Urat: 6,1 mg/dL

Resume
Pasien datang ke RSUD Pasar Minggu dengan keluhan lemah separuh badan
sebelah kiri sejak 7 jam SMRS. Keluhan muncul tiba tiba pada saat pasien baru
bangun tidur dan keluhan ini baru muncul pertama kali. Lemas pada tangan dan kaki
kiri dirasakan bersamaan. Untuk mengurangi keluhan pasien hanya berisitirahat.
Pasien mengaku tidak merasa mual ataupun muntah. Tidak ada penurunan
kesadaran, demam, kejang, pusing berputar, nyeri dada, ataupun sering berdebar-
debar. Pandangan mata kabur, pandangan mata dobel, gangguan penciuman,
gangguan pendengaran, dan gangguan merasakan makanan disangkal. Tidak ada
tersedak saat makan ataupun minum. Pasien sulit berkomunikasi dengan baik karena
terdapat pelo dan mulutnya mencong ke arah kanan. BAB dan BAK lancar.
Status Generalis:
 Keadaan umum : Tampak Sakit Ringan
 Kesadaran : Compos mentis (E4M6V5)
 Tekanan Darah : 160/100 mmHg
 Nadi : 71 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,2° C
Status Neurologis
N.VII (Fasialis) :
Sikap wajah : Simetris
Mimik : Biasa
Angkat alis : +/+
Kerut dahi : +/+
Kembung pipi : +/-
Lagoftalmus : -/-
Menyeringai : Sulcus Naso Labialis kiri mendatar
Rasa Kecap : Baik
N. XII
Sikap lidah : Di tengah
Julur lidah : Deviasi ke kanan
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Tremor :-
Tenaga otot lidah : Baik, kanan=kiri
Motorik
Derajat kekuatan otot :
5555 2222
5555 2222
Tonus Otot : Normotonus/normotonus
Trofi otot : Eutrofi/eutrofi
Gerakan spontan abnormal :-
Refleks
 Fisiologis :
Biceps ++/++
Triceps ++/++
KPR ++/++
APR ++/++
 Patologis:
Hoffmann tromner: -/+
Babinski -/+
Chaddock -/-
Gordon -/-
Oppenheim -/-
Schaefer -/-
Rossolimo -/-
Mendel bechtrew -/-
Klonus lutut -/-
Klonus kaki -/-

Siriraj Skor
(2.5 x kesadaran) + (2 x nyeri kepala) + (2 x muntah) + (0.1 x diastolik) – (3 x ateroma )
– 12
(2.5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 0) + (0.1 x 100) – (3 x 1) – 12 = -5 (Infark Serebri)

Gadjah Mada Skor


Nyeri kepala :-
Penurunan kesadaran : -
Babinski :+
(Stroke Iskemik Akut atau Stroke Infark)
Diagnosa
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan, maka diagnosa pasien sudah tepat yaitu:

Klinis : Hemiparese sinistra, Parese Nervus VII dan XII sinistra


central
Topis : Korteks serebri hemisfer dextra
Etiologis : Stroke Non Hemoragik + Hipertensi

Diagnosa Banding : Stroke Hemoragik


Gambar 3. CT Scan Pasien

52
DAFTAR PUSTAKA

1. Guideline Stroke 2011,seri Ketiga, Kelompok Studi Serebrovaskuler dan

Neurogeriatri, Perhimpunan Dr. Sp.Saraf Indonesia PERDOSSI

2. Mahar Marjono, Priguna S, Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat

3. Misbach H.J. Aspek Diagnostik, patofisiologi, Manajemen Stroke. Balai Penerbit

Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.1999

4. http://www.emedicine.com/ Stroke, Hemorrhagic Article by Denise Nassisi, MD.mht

5. http://www.emedicine.com/ Stroke, Ischemic Article by Joseph U Becker, MD.mht

53