Anda di halaman 1dari 127

Ringkasan dari naskah Bahasa Inggris dan terjemahan KOMNAS HAM

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA (DUHAM) PBB (Disahkan Majelis Umum PBB, 10 Desember 1948)

Pasal:

1. Hak atas persamaan (tiap orang terlahir merdeka dan memiliki persamaan martabat dan hak).

2. Hak atas kebebasan dari diskriminasi dan pembedaan perlakuan dalam bentuk apapun.

3. Hak atas kehidupan, kebebasan, dan keselamatan sebagai indivindu.

4. Hak untuk bebas dari perbudakan dan perhambaan.

5. Hak untuk bebas dari penyiksaan, perlakuan dan penghukuman secara keji yang merendahkan martabat kemanusiaan.

6. Hak diakui sebagai manusia pribadi di depan hukum.

7. Hak atas persamaan di depan hukum.

8. Hak atas pemulihan hak yang efektif oleh pengadilan yang kompeten.

9. Kebebasan dari penangkapan, penahanan, atau pengasingan sewenang-wenang.

10. Hak atas pemeriksaan yang adil dan peradilan yang terbuka oleh pengadilan yang independen serta tidak berpihak.

11. Hak atas praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah.

12. Hak untuk bebas dari intervensi sewenang-wenang atas kebebasan pribadi, keluarga, rumah, dan hubungan surat- menyurat serta dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik.

13. Hak untuk bebas bergerak dan bertempat tinggal dalam batas-batas setiap negara, meninggalkan negaranya termasuk kembali ke negaranya sendiri.

14. Hak atas suaka di negeri lain.

15. Hak atas kewarganegaraan dan hak menggantinya.

16. Hak untuk menikah dan membangun keluarga.

17. Hak memilik harta.

18. Hak atas kebebasan pikiran, hati nurani, dan beragama atau kepercayaan.

19. Hak untuk bebas menyatakan pendapat, informasi, dan ekspresi.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

1

20.

Hak berkumpul dan berserikat secara damai.

21. Hak berpartisipasi dalam pemerintahan dan pemilihan umum serta hak atas pelayanan umum.

22. Hak atas jaminan sosial.

23. Hak atas pekerjaan, pemilihan pekerjaan, syarat-syarat kerja, perlindungan dari pengangguran, upah yang adil dan layak, serta pendirian dan keanggotaan serikat pekerja.

24. Hak atas istirahat dan liburan.

25. Hak atas standar hidup yang layak, termasuk makanan, pakaian, perumahan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial yang perlu, hak atas jaminan saat menganggur, sakit, menyandang ketunaan, menjadi janda, lanjut usia, atau kekurangan penghasilan, hak ibu dan anak mendapatkan perawatan dan bantuan khusus.

26. Hak mendapatkan pendidikan; orang tua memiliki hak pertama untuk memilih jenis pendidikan untuk anaknya.

27. Hak berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyarakat setempat, menikmati seni serta mengenyam kemajuan dan manfaat ilmu pengetahuan.

28. Hak atas ketertiban dan tatanan sosial dan internasional yang menjamin hak dan kebebasan dalam deklarasi ini.

29. Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat setempat yang memungkinkan ia untuk mengembangkan kepribadiannya secara bebas dan penuh.

30. Hak untuk bebas dari: keterlibatan negara, kelompok, atau seseorang yang dapat merusak hak dan kebebasan dalam deklarasi ini.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

2

Ringkasan dari terjemahan UNICEF

KONVENSI HAK-HAK ANAK

(Disetujui Majelis Umum PBB, 20 November 1989)

Pasal:

1. Anak adalah orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali undang-undang menyatakan lebih awal.

2. Negara berkewajiban menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi serta mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memajukan hak-hak tersebut.

3. Semua tindakan yang menyangkut anak akan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak. Negara akan menyediakan pemeliharaan yang memadai bagi anak jika orang tua, wali, atau orang lain yang bertanggung jawab gagal melaksanakannya.

4. Negara harus berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi hak- hak yang tercantum dalam konvensi ini.

5. Negara harus menghormati hak dan tanggung jawab orang tua dan keluarga luas atau orang-orang lain untuk memberikan arahan dan bimbingan yang memadai sesuai perkembangan kemampuan anak.

6. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan berkembang.

7. Hak atas akte kelahiran, nama, kewarganegaraan, dan hak mengetahui dan dipelihara orang tuanya.

8. Hak untuk mempertahankan identitas, termasuk kewaarganegaraan, nama, dan ikatan keluarga.

9. Hak untuk hidup dengan orang tuanya kecuali untuk kepentingan terbaik anak; hak mempertahankan hubungan dengan orang tuanya jika terpisah dari salah satu atau kedua orang tuanya.

10. Hak anak atau orang tuanya memasuki atau meninggalkan suatu negara dengan tujuan bergabung kembali atau mempertahankan hubungan anak-orang tua.

11. Hak untuk terbebas dari penyerahan atau penahanan secara gelap di luar negeri.

12. Hak mengemukakan pendapat secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak; pendapat tersebut dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kematangan anak.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

3

13. Hak atas kebebasan berekspresi, termasuk kebebasan mencari, menerima, dan memberi informasi dan gagasan, entah secara lisan, tertulis atau tercetak, dalam bentuk seni atau melalui media pilihan anak.

14. Hak atas kemerdekaan berpikir, hati nurani, dan agama di bawah arahan orang tua sesuai dengan perkembangan kemampuan anak.

15. Hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul secara damai

16. Hak atas perlindungan dari campur tangan terhadap privasi, keluarga, rumah, atau surat-menyurat, dan dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik.

17. Hak mendapatkan informasi dan bahan dari berbagai sumber dan terlindung dari informasi dan bahan yang merugikan.

18. Negara menjamin agar orang tua bertanggung jawab membesarkan dan mengembangkan anak serta memberi bantuan yang memadai bagi orang tua atau wali yang sah.

19. Negara melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental, luka atau perlakuan kasar, penelantaran atau perlakuan salah, perlakuan merugikan atau eksploitasi, termasuk kekerasan seks.

20. Hak memperoleh perlindungan dan bantuan khusus negara bila anak kehilangan lingkungan keluarganya serta mendapatkan pemeliharaan alternatif dengan memperhatikan latar belakang etnis, agama, budaya, dan linguistik anak.

21. Hak mendapatkan adopsi demi kepentingan terbaik anak dan hanya dengan izin pihak berwenang atau wali sah anak; adopsi antar-negara dianggap sebagai alternatif pemelihara- an anak jika anak tak dapat dipelihara dengan cara yang tepat di negara asalnya.

22. Hak anak yang berstatus atau sedang mencari status pengungsi untuk mendapatkan perlindungan khusus. Negara wajib bekerja sama dengan organisasi yang berwenang memberikan perlindungan dan bantuan.

23. Hak anak cacat fisik atau mental mendapatkan pemeliharaan, pendidikan, dan pelatihan khusus yang membantunya menikmati hidup yang penuh dan layak; dan memperoleh kemandirian dan dapat hidup di masyarakat sebaik-baiknya.

24. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya, pengobatan, dan penyembuhan penyakit.

25. Hak anak yang ditempatkan pihak yang berwenang untuk tujuan pemeliharaan, perlindungan, dan perawatan kesehatan fisik atau mental yang ditinjau secara berkala.

26. Hak mendapatkan jaminan sosial, termasuk asuransi sosial.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

4

27. Hak mendapatkan standar kehidupan yang memadai untuk perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial. Orang tua memiliki tanggung jawab pertama untuk menjamin anak mendapatkan standar kehidupan yang memadai. Kewajiban negara adalah menjamin bahwa tanggung jawab itu ada dan terpenuhi. Tanggung jawab negara dapat meliputi bantuan material kepada orang tua dan anak.

28. Hak anak mendapatkan pendidikan. Tanggung jawab negara menjamin agar pendidikan sekolah dasar bebas biaya dan wajib, mendorong pengembangan berbagai bentuk sekolah menengah dan setiap anak memiliki kesempatan menempuh sekolah itu, mengembangkan pendidikan tinggi bagi anak yang mampu. Disiplin sekolah harus konsisten dengan hak dan kehormatan anak. Negara dapat menjalin kerja sama internasional untuk melaksanakan hak ini.

29. Pendidikan bertujuan mengembangkan sepenuhnya kepribadian, bakat, dan kemampuan mental dan fisik. Pendidikan menyiapkan anak untuk kehidupan orang dewasa yang aktif, meningkatkan penghargaan terhadap orang tua, anak, identitas budaya, bahasa, dan nilai-nilai anak, nilai-nilai nasionalnya, negeri asalnya, dan peradaban yang berbeda dari peradabannya.

30. Hak anak-anak masyarakat minoritas dan penduduk asli untuk melaksanakan kebudayaan, agama, dan bahasanya.

31. Hak anak terhadap istirahat dan bersenang-senang, bermain dan kegiatan rekreasi yang cocok dengan usianya, serta berperan serta dalam kegiatan budaya dan seni.

32. Hak anak untuk dilindungi dari pekerjaan yang membahayakan kesehatan, pendidikan, atau perkembang- annya. Negara harus menetapkan umur minimum untuk bekerja dan mengatur kondisi untuk bekerja.

33. Hak anak untuk dilindungi dari penyalahgunaan obat-obatan narkotik dan psikotropik dan dari keterlibatannya dari produksi atau distribusi.

34. Hak anak untuk dilindungi dari eskplotasi dan penyalahgunaan sesksual, termasuk pelacuran dan keterlibatan pornografi.

35. Negara berkewajiban mengambil setiap langkah untuk mencegah penjualan, perdagangan, dan penculikan anak.

36. Hak anak untuk dilindungi dari segala bentuk eksploitasi yang menghambat kesejahteraan anak.

37. Hak anak untuk terlindung dari sasaran penganiayaan, perlakuan, atau hukuman yang kejam.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

5

- Hak anak untuk terlindung dari penahanan atau perampasan kebebasan anak yang tidak berdasar hukum, baik hukuman mati atau penjara seumur hidup tanpa kemungkinan dilepaskan untuk tindakan yang dilakukan anak di bawah usia 18 tahun. - Setiap anak yang ditahan harus dipisah dari orang dewasa kecuali demi kepentingan terbaik anak. Setiap anak harus mendapat bantuan hukum atau yang lainnya serta kontak dengan keluarganya.

38. Negara harus berusaha mengambil setiap langkah untuk menjamin anak di bawah 15 tahun tidak terlibat secara langsung dalam permusuhan. Anak di bawah 15 tahun tidak boleh dimasukkan ke angkatan perang. Negara harus menjamin perlindungan dan pemeliharaan anak yang dipengaruhi konflik bersenjata seperti diuraikan dalam hukum internasional yang relevan.

39. Negara berkewajiban menjamin agar anak-anak korban konflik bersenjata, penganiayaan, penelantaran, perlakuan buruk atau eksploitasi menerima perawatan yang tepat untuk kesembuhan dan pengintegrasian sosial kembali.

40. Hak anak yang dinyatakan sebagai tertuduh atau melanggar hukum untuk mendapatkan perlakuan yang meningkatkan kehormatan dan harga diri anak; untuk dipertimbangkan usianya dan tujuan pengintegrasiannya kembali ke dalam masyarakat. Hak anak mendapatkan jaminan dan bantuan hukum atau lainnya untuk mempertahankan diri. Prosedur hukum dan penempatan institusional sedapat mungkin harus dicegah.

41. Bila standar yang ditetapkan dalam hukum nasional dan internasional yang dapat diterapkan relevan dengan hak-hak anak dan lebih tinggi dari standar konvensi ini, standar yang lebih tinggi harus selalu diberlakukan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

6

Ringkasan dari terjemahan Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (KNKWI) bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri, dan disempurnakan Kantor Menteri Negara Peranan Wanita

KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN

(Disetujui Majelis Umum PBB, 18 Desember 1979. Diratifikasi menjadi UU No. 7/1984 tentang Pengesahan konvensi tersebut 24 Juli 1984)

Pasal

1. Istilah “diskriminasi terhadap perempuan” berarti setiap perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan,

penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara pria dan perempuan.

KEWAJIBAN NEGARA

2. Mengutuk diskriminasi terhadap perempuan dalam segala bentuknya dan menjalankan kebijaksanaan menghapus diskriminasi terhadap perempuan, melalui:

Pencantuman asas persamaan antara pria dan perempuan dalam UUD atau perundang-undangan dan peraturan lainnya. Perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan dan jaminan pengadilan nasional yang kompeten, perubahan dan penghapusan UU, peraturan, kebiasaan, dan praktek diskriminatif terhadap perempuan, serta. Pencabutan semua ketentuan pidana yang diskriminatif terhadap perempuan.

3. Membuat peraturan di semua bidang, khususnya di bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya, untuk menjamin perkembangan dan kemajuan perempuan serta pelaksanaan dan penikmatan HAM dan kebebasan-kebebasan pokok atas dasar persamaan dengan pria.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

7

4.

Membuat peraturan khusus sementara untuk mempercepat persamaan “de facto” antara pria dan perempuan, termasuk untuk melindungi kehamilan.

5. Membuat peraturan untuk mengubah pola tingkah laku sosial dan budaya pria dan perempuan untuk menghapus prasangka, kebiasaan, dan praktek yang berdasarkan inferioritas/ superioritas salah satu jenis kelamin atau peranan stereotip bagi pria dan perempuan. Membuat peraturan untuk menjamin bahwa pendidikan keluarga dan pemeliharaan anak terutama berdasarkan pertimbangan kepentingan anak.

6. Membuat peraturan untuk memberantas segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran.

HAK-HAK PEREMPUAN

7. Dalam kehidupan politik dan kemasyarakatan:

(a)

Hak memilih dan dipilih.

(b)

Hak berpartisipasi dalam pemerintahan.

(c)

Hak berpartipasi dalam organisasi dan perkumpulan

non-pemerintah.

8. Hak mewakili pemerintah pada tingkat internasional dan berpartisipasi dalam pekerjaan organisasi internasional.

9. Hak memperoleh, mengubah, atau mempertahankan kewarganegaraan. Hak menentukan kewarganegaraan anak-anaknya.

10. Di lapangan pendidikan:

(a)

Hak atas persyaratan yang sama untuk bimbingan karir dan keahlian, untuk kesempatan mengikuti pendidikan di segala tingkatan dan jenis lembaga pendidikan.

(b)

Hak pengikutsertaan pada kurikulum yang sama, ujian yang sama, staf pengajar dengan standar kualifikasi yang sama, serta gedung dan peralatan sekolah yang

berkualitas sama.

(c)

Penghapusan konsep yang stereotip mengenai peranan pria dan perempuan di segala tingkat dan bentuk pendidikan.

(d)

Hak atas kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa dan dana pendidikan yang lain.

(e)

Hak atas kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam program pendidikan yang berkelanjutan, termasuk

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

8

program pendidikan orang dewasa dan pemberantasan buta huruf fungsional.

(f)

Pengurangan angka putus sekolah pelajar putri dan penyelenggaraan program untuk gadis dan perempuan yang sebelum waktunya meninggalkan sekolah.

(g)

Hak atas kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam olah raga dan pendidikan jasmani.

(h)

Hak memperoleh penerangan edukatif khusus untuk kesehatan, kesejahteraan keluarga, termasuk keluarga berencana.

11. Di lapangan pekerjaan:

(a)

Hak untuk bekerja.

(b)

Hak atas kesempatan kerja yang sama.

(c)

Hak memilih dengan bebas profesi dan pekerjaan. Hak untuk promosi, jaminan pekerjaan dan semua tunjangan serta fasilitas kerja. Hak memperoleh pelatihan kejuruan dan pelatihan ulang.

(d)

Hak menerima upah yang sama, termasuk tunjangan, untuk pekerjaan yang sama.

(e)

Hak mendapatkan berbagai jaminan sosial.

(f)

Hak atas perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk terhadap fungsi melanjutkan keturunan.

Mencengah diskriminasi terhadap perempuan atas dasar perkawinan atau kehamilan dan untuk menjamin hak efektif mereka untuk bekerja.

12. Di bidang kehidupan ekonomi dan sosial:

(a) Hak atas tunjangan keluarga. (b) Hak atas pinjaman bank, hipotik, dan bentuk kredit permohonan lainnya. (c) Hak untuk ikut serta dalam kegiatan rekreasi, olah raga, dan semua segi kehidupan kebudayaan.

13. Perempuan di daerah pedesaan:

(a) Hak berprestasi dalam perluasan dan implementasi perencanaan pembangunan di segala tingkat. (b) Hak memperoleh fasilitas pemeliharaan kesehatan yang memadai termasuk dalam keluarga berencana. (c) Hak mendapatkan manfaat langsung dari program jaminan sosial. (d) Hak memperoleh segala jenis pelatihan dan pendidikan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

9

(e)

Hak membentuk kelompok swadaya dan koperasi.

(f)

Hak berpartisipasi dalam semua kegiatan masyarakat.

(g)

Hak memperoleh kredit dan pinjaman pertanian, fasilitas pemasaran, teknologi tepat guna, perlakuan yang sama pada landreform dan urusan pertanahan, termasuk tanah pemukiman.

(h)

Hak menikmati kondisi hidup yang memadai.

14. Bidang hukum:

a) Hak yang sama di muka hukum.

b) Hak mendapatkan kecakapan hukum dalam urusan sipil dan menjalankan kecakapan itu.

c) Hak berkenaan dengan hukum yang berhubungan dengan mobilitas orang dan kebebasan memilih tempat tinggal dan domisili.

15. Dalam perkawinan dan hubungan kekeluargaan:

a) Hak yang sama untuk memasuki jenjang perkawinan.

b) Hak memilih suami secara bebas dan memasuki jenjang perkawinan dengan persetujuan yang bebas dan sepenuhnya.

c) Hak dan tanggung jawab yang sama selama perkawinan dan pada pemutusan perkawinan.

d) Hak dan tanggung jawab yang sama sebagai orang tua, terlepas dari status kawin, dalam urusan anak.

e) Hak menentukan jumlah dan penjarakan kelahiran anak serta memperoleh penerangan, pendidikan, dan sarana untuk memungkinkan penggunaan hak ini.

f) Hak dan tanggung jawab yang sama berkenaan dengan perwalian, pemeliharaan, pengawasan, dan pengangkatan anak.

g) Hak pribadi yang sama sebagai suami-istri, termasuk hak memilih nama keluarga, profesi, dan jabatan.

h) Hak sama untuk kedua suami-istri bertalian dengan pemilihan, perolehan, pengelolaan, administrasi, pernikmatan dan pemidahtanganan harta benda, baik secara cuma-cuma maupun dengan penggantian berupa

uang.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

10

Ringkasan dari terjemahan resmi DPR-RI

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL

(Disetujui Majelis Umum PBB, 21 Desember 1965. Mulai berlaku sejak 4 Januari 1969)

Pasal

1. Pengertian “diskriminasi rasial” berarti suatu pembedaan, pengecualian, pembahasan atau pilihan berdasarkan ras, warna kulit, keturunan atau asal usul etnik atau kebangsaan, yang bertujuan atau berakibat mencabut atau mengurangi pengakuan, perolehan atau pelaksanaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan mendasar dalam suatu kesederajatan, di bidang politik, ekonomi, sosial budaya atau bidang-bidang kehidupan kemasyarakatan lainnya.

Untuk itu diperlukan langkah-langkah khusus dalam menjamin pemajuan hak asasi sekelompok ras atau etnik atau perorangan atau kelompok perorangan yang memerlukan perlindungan agar mereka dapat menikmati atau melaksanakan hak-hak asasi manusia dan kebebasan- kebebasan mendasar secara sederajat tidak dapat dianggap diskriminasi rasial sepanjang tidak mengarah kepada berlanjutnya hak-hak terpisah dan langkah-langkah tersebut tidak dilanjutkan setelah tujuannya tercapai.

2. 2.1) Mengutuk diskriminasi rasial dan menyusun kebijakan penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial dan memajukan pengertian antar-ras. Untuk itu, negara berkewajiban:

a) tidak akan melakukan kegiatan atau praktek diskriminasi rasial dan menjamin bahwa penguasa dan lembaga umum mana pun bertindak sesuai dengan kewajiban ini.

b) tidak akan menyokong, mempertahankan atau membantu diskriminasi rasial oleh perorangan atau organisasi.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

11

c) mengkaji ulang berbagai kebijakan pemerintahan dan mengubah, mencabut atau membatalkan per- UU-an dan peraturan yang menciptakan atau meneruskan diskriminasi rasial.

d) melarang dan menghentikan diskriminasi rasial.

e) mendorong gerakan dan organisasi integrasionis multirasial serta berbagai cara penghapusan hambatan antar-ras, dan tidak mendorong segala sesuatunya yang menjurus kepada penguatan pembedaan rasial.

2.2) Mengambil langkah-langkah di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan bidang-bidang lain guna menjamin pengembangan dan perlindungan terhadap kelompok- kelompok rasial tertentu atau perorangan dari kelompok tersebut untuk menjamin penikmatan HAM dan kebebasan mendasar

3. Mengutuk pengucilan rasial dan apartheid serta mencegah, melarang dan menghapuskan segala bentuk praktek kegiatan tersebut di wilayah yurisdiksinya

4. Mengutuk semua propaganda dan organisasi yang berdasarkan pemikiran atau teori supremasi ras dan mengambil langkah untuk menghapuskan semua hasutan atau tindakan diskriminasi.

5. Melarang dan menghapuskan segala bentuk diskriminasi rasial dan menjamin hak-hak setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, asal usul etnik atau

kebangsaan untuk mendapatkan kesederajatan di hadapan hukum, khususnya dalam menikmati hak-hak berikut, yaitu:

5.1)

Hak mendapatkan perlakuan yang sederajat di

5.2)

hadapan pengadilan dan semua badan peradilan lainnya. Hak atas keamanan perorangan dan perlindungan dari

negara terhadap tindakan kekerasan ataupun melalui badan yang dilakukan pejabat pemerintah atau suatu kelompok perorangan atau lembaga. 5.3) Hak-hak politik, khususnya hak-hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum, untuk memilih dan dipilih, untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

12

5.4)

Hak-hak “sipil” lainnya, khususnya:

(a)

Hak-hak kebebasan berpindah dan bertempat tinggal di dalam batas wilayah suatu negara.

(b)

Hak untuk meninggalkan suatu negara, termasuk negaranya sendiri, dan kembali ke negaranya sendiri.

(c)

Hak atas kewarganegaraan.

(d)

Hak atas perkawinan dan pilihan atas pasangannya sendiri.

(e)

Hak atas harta kekayaan secara sendiri atau pun bersama dengan perorangan lain dalam suatu asosiasi.

(f)

Hak waris

(g)

Hak atas kebebasan berpikir, beragama, dan berkeyakinan

(h)

Hak atas kebebasan berpendapat dan menyatakan pendapat.

(i)

Hak atas kebebasan berkumpul dan berasosiasi secara damai.

5.5)

Hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, khususnya:

(a)

Hak untuk bekerja. Hak atas kebebasan memilih pekerjaan. Hak atas kondisi tempat kerja yang adil dan menguntungkan. Hak atas perlindungan terhadap pengangguran. Hak atas pembayaran yang sesuai dengan pekerjaan. Hak atas penggajian yang adil dan menguntungkan.

(b)

Hak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja.

(c)

Hak atas perumahan.

(d)

Hak atas kesehatan. Hak atas perawatan kesehatan. Hak atas jaminan sosial dan pelayanan sosial lainnya.

(e)

Hak atas pendidikan dan pelatihan

(f)

Hak untuk berpartisipasi secara sederajat dalam kegiatan kebudayaan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

13

(g) Hak untuk mendapatkan akses ke tempat atau pelayanan umum seperti transportasi, hotel, restoran, kafe, gedung bioskop, dan taman.

6. Hak atas perlindungan dan perbaikan yang efektif melalui pengadilan dan lembaga negara lainnya terhadap tindakan diskriminasi rasial. Hak atas ganti rugi yang memadai atau memuaskan dari pengadilan dari segala bentuk kerugian akibat diskriminasi.

7. Negara mengambil tindakan yang efektif di bidang pengajaran, pendidikan, kebudayaan dan informasi untuk menentang prasangka yang mengarah pada diskriminasi ras dan mengembangkan pemahaman toleransi dan tujuan serta Prinsip Piagam PBB, DUHAM, serta Deklarasi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras.

8. 8.1) Dibentuk Komite Penghapusan Diskriminasi Ras, dengan 18 anggota yang mempertimbangkan distribusi geografis dan perwakilan berbagai bentuk peradaban maupun sistim hukum yang utama 8.2) Pemilihan anggota Komite dalam pemungutan suara yang rahasia, dan setiap negara peserta dapat mencalonkan 1 warganegaranya 8.3) Tiga bulan sebelum tanggal pemilihan Sekretaris Jenderal PBB akan berkirim surat kepada negara peserta agar menyampaikan calon masing-masing. 8.4) Kuorum untuk pemilihan anggota Komite adalah dua pertiga dari negara-negara peserta, dan calon yang dipilih adalah dengan jumlah suara terbanyak dan mayoritas mutlak suara dari perwakilan negara yang hadir 8.5) Anggota Komite dipilih untuk masa jabatan 4 tahun dan anggota komite yang tidak lagi menjalankan fungsinya harus menunjuk ahli lain di antara warga negaranya dengan persetujuan komite. 8.6) Negara-negara peserta bertanggung jawab atas pembiayaan yang dikeluarkan anggota Komite untuk pelaksanaan tugas-tugas komite.

9. Negara peserta menyampaikan laporan kepada Sekretaris Jenderal PBB mengenai langkah-langkah legislatif,

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

14

peradilan, administratif maupun langkah lain sesuai dengan ketentuan konvensi ini. Komite menyampaikan laporan tahunan melalui Sekretaris Jenderal PBB kepada Majelis Umum PBB.

10. 10.1) Komite menyusun tata kerjanya sendiri 10.2) Komite ini memilih pegawainya untuk masa kerja 2 tahun 10.3) Sekretariat Komite akan disediakan oleh Sekretaris Jenderal PBB 10.4) Persidangan-persidangan Komite diadakan di markas besar PBB

11. 11.1) Apabila negara peserta lain tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam kovenan ini,negara tersebut dapat mengajukan masalah ini untuk diperhatikan Komite dan Komite akan menyampaikan pengaduan pada negara peserta yang bersangkutan. 11.2) Apabila masalah tersebut tidak selesai dengan memuaskan, maka kedua pihak melalui negosiasi bilateral atau prosedur lain. Setelah 6 bulan dari pengaduan pertama Negara Pertama, masing-masing negara memiliki hak untuk mengajukan lagi kepada Komite. 11.3) Komite akan menangani masalah ini setelah yakin bahwa semua upaya penyelesaian telah dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip dalam hukum internasional. 11.4) Komite dapat memanggil negara-negara peserta untuk mendapatkan informasi yang relevan. 11.5) Tanpa mempunyai hak suara, negara peserta yang bersangkutan berhak menempatkan seorang wakilnya dalam pertemuan komite yang sedang membahas masalah yang timbul dari pasal ini.

12. 12.1.a) Penyelesaian sengketa dilakukan oleh Komisi 12.1.b) Apabila dalam sengketa gagal dicapai kesepakatan dalam waktu 3 bulan, maka negara yang bersengketa harus dipilih dengan pemungutan suara secara rahasia oleh dua pertiga dari suara mayoritas. 12.2) Anggota Komisi wajib bekerja dalam kapasitas pribadi mereka dan tidak boleh merupakan warganegara dari negara yang bersengketa.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

15

12.3) Komisi memilih ketua dan tata kerjanya sendiri 12.4) Persidangan dilakukan di markas besar PBB atau tempat yang ditentukan sendiri 12.5) Konvensi ini harus juga melayani Komisi apabila terjadi sengketa antar negara peserta yang melibatkan komisi ini 12.6) Negara-negara peserta yang bersengketa menanggung semua pengeluaran anggota Komisi secara bersama dan adil. 12.7) Sekretaris Jenderal menanggung biaya anggota Komisi apabila belum ada penggantian dari negara peserta yang bersengketa 12.8) Informasi yang diperoleh dan dikumpulkan Komite harus tersedia bagi Komisi. Komisi juga dapat meminta informasi dari negara-negara yang bersangkutan.

13. 13.1) Komisi menyiapkan laporan kepada Ketua Komite 13.2) Ketua Komite menyampaikan laporan Komisi kepada masing-masingg negara peserta yang bersengketa. Dalam 3 bulan Ketua Komite sudah menerima masukan apakah negara-negara menerima atau menolak rekomendasi yang dimuat dalam laporan Komisi 13.3) Ketua Komite memberitahukan laporan Komisi dan pernyataan negara peserta kepada negara-negara lain peserta Konvensi

14. 14.1) Negara peserta dapat menyatakan bahwa negaranya mengakui kewenangan Komite untuk menerima atau memeriksa pengaduan dari perorangan atau kelompok dalam wilayah hukumnya. 14.2) Negara peserta membentuk atau menunjuk suatu badan dalam tata hukum nasionalnya yang berwenang menerima dan memeriksa petisi dari perorangan atau kelompok dalam wilayah hukumnya 14.3) Pernyataan yang dibuat dan nama badan hukum tersebut diserahkan dan disimpan negara peserta yang bersangkutan kepada Sekretaris Jenderal PBB dan salinannya kepada negara peserta yang lainnya. 14.4) Daftar petisi disimpan oleh badan yang dibentuk atau ditunjuk dan salinan yang dilegalisir diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

16

14.5) Apabila tidak puas pada badan yang dibentuk atau ditunjuk, pihak yang mengajukan pengaduan berhak menyampaikan masalah ini pada Komite dalam waktu 6 bulan

Secara rahasia, Komite memberitahukan pengaduan yang diajukan agar diperhatikan negara peserta tanpa menyebut nama perorangan atau kelompok. Komite tidak menerima pengaduan tanpa identitas jelas. Dalam waktu 3 bulan, negara penerima harus menyampaikan kepada Komite penjelasan resmi dan upaya-upaya penyelesaiannya. Komite mempertimbangkan pengaduan dengan memperhatikan semua informasi yang disediakan dan tidak akan mempertimbangkan pengaduan sebelum yakin bahwa semua upaya telah dilakukan. Komite meneruskan usulan dan rekomendasinya kepada negara peserta yang bersangkutan dan kepada pengadu. Komite akan memasukkan dalam laporan tahunan ringkasan-ringkasan pengaduan Komite berwenang melaksanakan fungsi-fungsi dalam pasal ini apabila sedikitnya 10 negara peserta konvensi telah terikat melalui pernyataan yang sesuai dengan ayat 1 pasal ini.

14.6.a)

14.6.b)

14.7.a)

14.7b)

14.8)

14.9)

15. 15.1)

15.2)

15.3)

Sebelum tercapainya tujuan deklarasi tentang Pemberian Kemerdekaan kepada Negara-negara dan Bangsa-bangsa Jajahan, ketentuan konvensi ini tidak dapat membatasi hak untuk mengajukan pengaduan. Konvensi menerima salinan-salinan petisi dari, dan menyampaikan pandangan serta rekomendasi mengenai petisi kepada badan- badan PBB Komite wajib mencantumkan dalam laporan Kepada Majelis Umum ringkasan pengaduan dam laporan yang diterima dari badan-badan PBB, serta ringkasan pendapat dan rekomendasi Komite sehubungan dengan laporan pengaduan

16. Ketentuan-ketentuan penyelesaian sengketa dan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

17

pengaduan diberlakukan tanpa mengabaikan prosedur- prosedur lain dan tidak boleh menghalangi negara-negara peserta untuk memanfaatkan upaya lain dalam penyelesaian sengketa.

17. 17.1) Konvensi ini terbuka untuk ditandatangani oleh setiap negara anggota PBB atau badan-badan khususnya, oleh negara lain yang diundang Majelis Umum PBB untuk menjadi negara peserta 17.2) Konvensi ini perlu diratifikasi, instrumen ratifikasi diserahkan dan disimpan Sekretaris Jenderal PBB

18. Persetujuan Konvensi oleh negara yang disebutkan dalam pasal 17.1 dan persetujuan akan berlaku dengan diserahkannya dokumen persetujuan untuk disimpan Sekretaris Jenderal PBB

19. Konvensi ini mulai berlaku juga bagi negara peserta pada hari ke 30 setelah tanggal penyerahan kepada Sekretaris Jenderal PBB dokumen ke 27 dari ratifikasi atau persetujuan.

20. Sekretaris Jenderal PBB wajib menerima dan mengedarkan keberatan dari setiap negara pada saat ratifikasi atau persetujuan. Setiap keberatan dapat ditarik kembali sewaktu-waktu dengan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal.

21. Setiap negara dapat menarik diri dari Konvensi ini dengan pemberitahuan tertulis kepada Sekretaris Jenderal PBB.

22. Sengketa antara 2 pihak atau lebih negara peserta berkenaan dengan penerapan konvensi ini jika tidak terselesaikan dengan berbagai upaya, bisa diajukan ke depan Mahkamah Internasional.

23. Permohonan mengubah konvensi ini dapat diajukan kapan saja oleh negara peserta kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Majelis Umum PBB akan memutuskan langkah-langkah yang harus diambil.

24. Sekretaris Jenderal PBB akan memberitahu semua negara dalam pasal 17.1 tentang:

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

18

a. tanda tangan, ratifikasi dan persetujuan berdasarkan pasal 17 dan 18

b. tanggal berlakunya konvensi berdasarkan pasal 19

c. pengaduan dan pernyataan yang diterima berdasarkan pasal 14, 20 dan 23

d. penarikan diri berdasarkan pasal 21

25. Konvensi dalam bahasa Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Sepanyol yang autentik disimpan dalam arsip PBB Sekretaris Jenderal PBB wajib menyampaikan salinan konvensi yang telah disahkan kepada semua negara dalam pasal 17.1

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

19

Ringkasan dari terjemahan resmi DPR-RI

KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU PENGHUKUMAN LAIN YANG KEJAM, TIDAK MANUSIAWI, DAN MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA

(Disetujui Majelis Umum PBB, 10 Desember 1984. Mulai berlaku sejak 26 Juni 1997)

Istilah “penyiksaan” berarti setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani, pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga, atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga, atau untuk suatu alasan diskriminatif, apabila rasa sakit atau penderitaan tersebut ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan atau sepengetahuan pejabat publik (Pasal 1).

KEWAJIBAN NEGARA

Mengambil langkah-langkah legislatif, administrasi, hukum atau langkah-langkah efektif lainnya untuk mencegah tindak penyiksaan. (Pasal 2 ayat 1)

Keadaan perang atau ancaman perang, ketidak stabilan politik atau keadaan darurat umum lain tidak dapat dijadikan pembenaran terhadap tindakan penyiksaan (Pasal 2 Ayat 2).

Perintah dari atasan tidak dapat dijadikan sandaran sebagai pembenaran tindakan penyiksaan (Pasal 2 Ayat 3).

Tidak boleh mengusir, mengembalikan, atau mengekstradisi seseorang ke negara lain apabila ada dugaan kuat bahwa orang itu berada dalam bahaya karena menjadi sasaran penyiksaan (Pasal 3 Ayat 1).

Mengatur agar tindak penyiksaan atau percobaan untuk melakukan penyiksaan merupakan tindak pidana menurut ketentuan hukum pidana (Pasal 4 Ayat 1).

Mengatur agar tindak pidana dapat dihukum dengan hukuman yang setimpal dengan pertimbangan sifat kejahatannya. (Pasal 4 Ayat 2)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

20

Mengambil langkah-langkah yang diperlukan atas pelanggaran Pasal 4 apabila tindak pidana dilakukan dalam wilayah hukumnya atau di atas kapal laut atau pesawat terbang yang terdaftar di negara itu, apabila pelaku adalah warga negara tersebut, dan apabila korban adalah warga negara tersebut jika negara itu memandang perlu, (Pasal 5).

Menahan orang yang diduga telah melakukan tindak pidana agar memungkinkan prosedur pidana atau ekstradisi dilaksanakan, melaksanakan penyelidikan awal berdasarkan fakta yang ada (Pasal 6 Ayat 1, 2).

Dalam wilayah negara peserta jika ditemukan seseorang yang diduga melakukan pelanggaran dan negara tsb tidak mengekstradisinya maka pihak yang berwenang akan mengambil keputusan dengan cara yang sama seperti pelanggaran biasa lain yang menurut hukum itu merupakan tindak pidana berat. Setiap orang yang diajukan ke sidang pengdilan mendapatkan perlakuan adil pada semua tahap proses pengadilan (Pasal 7 Ayat 1, 2, 3).

Perbuatan penyiksaan diusahakan agar dimaksudkan sebagai pelanggaran yang dapat diekstradisi (Pasal 8 Ayat 1).

Para negara peserta harus saling memberikan tindakan bantuan sehubungan dengan pengadilan pidana terhadap pelanggaran (Pasal 9 Ayat 1).

Menjamin bahwa pendidikan dan informasi mengenai larangan penyiksaan dimasukkan dalam pelatihan para petugas penegak hukum, sipil atau militer, petugas kesehatan, pejabat publik, dan orang lain yang berkaitan dengan penahanan, interogasi, atau perlakuan terhadap setiap orang yang ditangkap, ditahan, atau dipenjara (Pasal 10 Ayat 1).

Mengawasi secara sistematik peraturan tentang interogasi, instruksi, metode, kebiasaan, dan peraturan penahanan serta perlakuan terhadap orang yang ditangkap, ditahan, atau dipenjara, untuk mencegah terjadinya kasus penyiksaan (Pasal

11).

Menjamin agar setiap orang yang telah disiksa mempunyai hak untuk mengadu, dan agar kasusnya diperiksa dengan segera dan tidak memihak oleh pihak berwenang. Menjamin bahwa orang yang mengadu dan saksi-saksi dilindungi dari segala perlakuan buruk atau intimidasi (Pasal 13).

Menjamin dalam sistem hukumnya korban dari suatu tindak penyiksaan memperoleh ganti rugi dan kompensasi, termasuk sarana untuk rehabilitasi (Pasal 14 Ayat 1).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

21

Mencegah perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia (Pasal 16 Ayat 1).

Dibentuk sebuah Komite untuk melaksanakan tugas-tugas yang ditentukan dengan anggota yang dipilih secara rahasia dari negara-negara peserta dengan masa jabatan tertentu dan syarat-syarat lain mengenai pengunduran diri dan penggantian (Pasal 17, ayat 1-6)

Pejabat dan tata kerja Komite ditetapkan oleh Komite. Sekretaris Jenderal PBB menyediakan staf dan fasilitas serta menyelenggarakan sidang pertama Komite. Segala pembiayaan yang dikeluarkan ditanggung oleh negara-negara peserta. (Pasal 18, ayat 1-5)

Penyerahan laporan oleh negara-negara peserta kepada Komite melalui Sekretaris Jenderal PBB. (Pasal 19 ayat 1-4)

Komite bekerja sama dengan negara peserta untuk memeriksa kebenaran informasi mengenai adanya penyiksaan yang sistemik di suatu wilayah negara peserta secara rahasia. (Pasal 20, ayat 1-5)

Komite berwenang menerima dan mempertimbangkan pengaduan dari negara peserta dan memprosesnya dengan tata cara yang telah disepakati. (Pasal 21, ayat 1-2)

Tata cara mengenai kewenangan Komite dalam menerima laporan pengaduan dari atau atas nama pribadi pada kewenangan hukum negara pesertanya. (Pasal 22, ayat 1-8)

Hak, kekebalan dan fasilitas para anggota Komite dan Komisi Pendamai adhoc diatur dalam bagian-bagian terkait dari Konvensi Hak Istimewa dan Kekebalan PBB (Pasal 23)

Komite menyerahkan Laporan tahunan tentang kegiatan- kegiatannya berdasarkan Konvensi kepada negara-negara peserta dan Majelis Umum PBB. (Pasal 24)

Konvensi ini terbuka untuk ditandatangani semua negara dan harus diratifikasi. Piagam ratifikasinya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB. (Pasal 25, ayat 1 dan 2)

Konvensi ini terbuka bagi semua persetujuan oleh semua negara. (Pasal 26)

Konvensi ini berlaku pada hari ke tiga puluh setelah tanggal penyerahan piagam kedua puluh dari ratifikasi atau persetujuan kepada Sekretaris Jenderal PBB. (Pasal 27 ayat 1 dan 2)

Setiap negara dapat tidak mengakui kewenangan Komite yang ditetapkan pada pasal 20, dan dapat menarik kembali

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

22

pembatasannya dengan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal PBB. (Pasal 28, ayat 1-2)

Tata cara pengusulan perubahan oleh negara peserta konvensi kepada Sekretaris Jenderal PBB. (Pasal 29, ayat 1-3)

Setiap perselisihan antara dua negara atau lebih diajukan kepada arbitrasi, dan jika dalam 6 bulan tidak tercapai kesepakatan, maka dapat meminta kepada Mahkamah Internasional untuk membantu penyelesaiannya. (Pasal 30)

Setiap negara peserta dapat menarik diri dari konvensi ini dengan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal PBB dengan tata cara dan kurun waktu yang ditentukan. (Pasal 31, ayat 1-3)

Sekretaris Jenderal PBB memberitahu semua negara anggota PBB dan semua negara yang telah menandatangani mengenai:

penandatangan, ratifikasi, persetujuan, tanggal diberlakukan Konvensi, tanggal diberlakukannya perubahan serta penarikan diri. (Pasal 32)

Sekretaris Jenderal PBB menyimpan semua naskah asli konvensi dalam bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia, dan Sepanyol dan mengirimkan salinannya kepada semua negara. (Pasal 33, ayat 1 dan 2)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

23

Ringkasan dari terjemahan Departemen Luar Negeri RI KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK (Disetujui Majelis Umum PBB, 16 Desember 1966)

Hak atas penentuan nasib sendiri (Pasal 1 Ayat 1).

Hak atas kebebasan mengelola kekayaan dan sumber alam (Pasal 1 Ayat 2).

Hak memperoleh ganti rugi yang efektif atas pelanggaran hak- hak dan kebebasan-kebebasan setiap orang, meskipun pelanggaran tersebut dilakukan pejabat resmi (Pasal 2 Ayat 3 a).

Hak seseorang yang haknya dilanggar untuk mengajukan tuntutan (Pasal 2 Ayat 3 b).

Hak persamaan bagi laki-laki dan perempuan untuk menikmati semua hak sipil dan politik (Pasal 3).

Hak hidup setiap umat manusia yang melekat pada dirinya. Hak ini harus dilindungi oleh hukum. Tidak seorang pun dapat dirampas hak hidupnya secara sewenang-wenang. (Pasal 6 Ayat 1).

Di negara-negara yang belum menghapuskan hukuman mati, maka hukuman mati dapat dijatuhkan hanya untuk kejahatan- kejahatan yang paling berat sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat dilakukannya kejahatan tersebut dan tidak bertentangan dengan kovenan ini dan kovensi tentang pencegahan dan hukuman kejahatan genosida (Pasal 6 Ayat

2).

Hak setiap orang yang telah dijatuhi hukuman mati untuk memohon pengampunan atau keringanan hukuman. Amesti, pengampunan, atau keringanan hukuman mati dapat diberikan dalam semua kasus (Pasal 6 Ayat 4).

Hukuman mati tidak boleh dijatuhkan untuk kejahatan yang dilakukan orang yang berumur kurang dari 18 tahun dan terhadap perempuan hamil (Pasal 6 Ayat 5).

Hak terbebas dari penyiksaan, atau perlakuan atau hukuman yang keji, tidak manusiawi atau memudahkan martabat (Pasal

7).

Hak terbebas dari dijadikan sebagai objek eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan secara sukarela yang bersangkutan (Pasal 7).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

24

Hak terbebas dari perbudakan dan perdagangan budak (Pasal 8 Ayat 1).

Hak terbebas dari perhambaan (Pasal 8 Ayat 2).

Hak terbebas dari paksaan untuk melakukan kerja paksa atau kerja wajib (Pasal 8 Ayat 3 a).

Hukuman kerja berat tidak dijatuhkan sebagai hukuman suatu kejahatan (Pasal 8 Ayat 3 b).

Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi. Hak terbebas dari penangkapan atau penahanan secara sewenang-wenang (Pasal 9 Ayat 1).

Hak setiap orang yang ditangkap untuk diberitahu pada saat penangkapan mengenai alasan penangkapannya dan sesegera mungkin diberitahu semua tuduhan yang dikenakan kepadanya (Pasal 9 Ayat 2).

Hak setiap orang yang ditangkap atau ditekan atas suatu tuduhan kejahatan agar segera dihadapkan di depan hakim atau pejabat hukum lain, agar diadili dalam jangka waktu yang wajar atau dibebaskan (Pasal 9 Ayat 3).

Hak setiap orang yang dirampas kebebasannya dengan penangkapan atau penahanan untuk mengajukan tuntutan di hadapan pengadilan agar pengadilan tersebut segera memutuskan keabsahan penahanannya dan memerintahkan pembebasannya apabila penahanan itu tidak sah (Pasal 9 Ayat

4).

Hak setiap orang yang telah menjadi korban penangkapan atau penahanan yang tidak sah atas kompensasi yang dapat diberlakukan (Pasal 9 Ayat 5).

Hak semua orang yang dirampas kebebasannya untuk diperlakukan secara manusiawi dan dengan menghormati martabat kemanusiannya (Pasal 10 Ayat 1).

Hak para terdakwa agar dipisahkan dari para narapidana dan mendapatkan perlakuan tersendiri sesuai dengan statusnya sebagai orang yang bukan narapidana (Pasal 10 Ayat 2 a).

Hak para terdakwa yang masih remaja agar dipisahkan dari orang dewasa dan secepat mungkin dibawa ke sidang pengadilan (Pasal 10 Ayat 2 b).

Hak terbebas dari pemenjaraan semata-mata atas dasar ketidakmampuan seseorang memenuhi suatu kewajiban kontak (Pasal 11).

Hak setiap orang yang secara sah berada dalam wilayah suatu negara atas kebebasan bergerak dan kebebasan memilih tempat tinggalnya (Pasal 12 Ayat 1).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

25

Hak atas kebebasan meninggalkan negara mana pun, termasuk negaranya sendiri (Pasal 12 Ayat 2).

Hak seseorang memasuki negaranya sendiri (Pasal 12 Ayat 4).

Hak semua orang mempunyai kedudukan yang sama dihadapan pengadilan dan majelis hakim. Hak setiap orang atas pemeriksaan yang adil dihadapan umum oleh suatu majelis hakim yang berwenang, independen, dan tidak berpihak yang ditetapkan hukum (Pasal 14 Ayat 1).

Hak setiap orang yang didakwa melakukan suatu tindak kejahatan untuk dianggap tidak bersalah sampai terbukti kesalahannya menurut hukum (Pasal 14 Ayat 2).

Hak untuk segera mengetahui alasan tuduhan (Pasal 14 Ayat

3a).

Hak untuk memperoleh waktu dan fasilitas dalam mempersiapkan pembelaan (Pasal 14 Ayat 3b).

Hak untuk diadili tanpa penundaan (Pasal 14 Ayat 3c).

Hak untuk diadili dengan kehadirannya, dan untuk membela diri atau melalui bantuan hukum yang dipilihnya sendiri (Pasal 14 Ayat 3d).

Hak untuk mendapatkan kehadiran serta pemeriksaan saksi- saksi yang meringankan (Pasal 14 Ayat 3e).

Hak untuk memperoleh penerjemah (Pasal 14 Ayat 3f).

Hak untuk tidak dipaksa memberikan kesaksian yang memberatkan (Pasal 14 Ayat 3g).

Dalam kasus orang-orang di bawah umur harus dipertimbangkan usia dan penghargaan untuk mengusahakan rehabilitasi (Pasal 15 Ayat 4).

Hak setiap orang yang dijatuhi hukuman pidana atas peninjauan kembali terhadap keputusan dan hukuman yang telah dijatuhkan oleh suatu majelis hakim yang lebih tinggi menurut hukum (Pasal 14 Ayat 5).

Hak untuk mendapatkan ganti rugi terhadap seseorang yang telah divonis dan ternyata ada kesalahan penerapan hukumnya (Pasal 14 Ayat 6).

Hak untuk tidak dituntut dua kali (Pasal 14 Ayat 7).

Hak untuk tidak boleh dianggap bersalah atas pelanggaran kejahatan yang tidak tergolong sebagai pelanggaran kejahatan (Pasal 15 Ayat 1).

Hak untuk tidak melemahkan sidang pengadilan dan hukuman (Pasal 15 Ayat 2).

Hak setiap orang atas pengakuan sebagai subjek hukum dimana pun ia berada (Pasal 16).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

26

Hak setiap orang terbebas dari suatu campur tangan sewenang-wenang atau yang tidak sah atas kehidupan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau hubungan surat-menyuratnya ataupun tidak boleh diserang secara tidak sah kehormatan dan nama baiknya (Pasal 17 Ayat 1) dan hak setiap orang atas perlindungan hukum dari campur tangan atau serangan seperti itu (Pasal 17 Ayat 2).

Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Hak ini meliputi kebebasan untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri, dan kebebasan untuk secara sendiri maupun atau pribadi, menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, ketaatan, pengamalan dan pengajaran (Pasal 18 Ayat 1).

Hak terbebas dari paksaan untuk menganut atau memeluk suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri (Pasal 18 Ayat 2).

Kebebasan para orang tua atau para wali hukum yang sah untuk memastikan bahwa pengajaran agama dan budi pekerti bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri (Pasal 18 Ayat 4).

Hak untuk berpendapat tanpa mendapatkan campur tangan (Pasal 19 Ayat 1).

Hak atas kebebasan mengemukakan pendapat. Hak ini harus meliputi kebebasan untuk mencari, menerima, dan memberikan informasi dan semua jenis pemikiran, terlepas dari pembatasan secara lisan, tulisan, atau cetakan dalam bentuk karya seni atau melalui sarana lain yang menjadi pilihannya sendiri (Pasal 19 Ayat 2). Hak-hak ini dapat dikenai pembatasan tertentu sesuai dengan hukum dan sepanjang diperlukan untuk menghormati hak-hak dan nama baik orang lain serta melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau kesusilaan umum (Pasal 19 Ayat

3).

Setiap propaganda perang harus dilarang oleh hukum (Pasal 20 Ayat 1).

Setiap tindakan anjuran kebencian atas dasar kebangsaan, ras, atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan, atau kekerasan harus dilarang oleh hukum (Pasal 20 Ayat 2).

Hak untuk berkumpul secara damai. Hak ini dapat dibatasi oleh hukum dan diperlukan dalam masyarakat demokratis demi keamanan nasional atau ketertiban umum, perlindungan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

27

kesehatan atau kesusilaan umum atau perlindungan terhadap hak-hak dan kebebasan orang lain (Pasal 21).

Hak untuk berserikat dengan orang lain, termasuk hak untuk membentuk dan bergabung pada serikat pekerja untuk melindungi kepentingan sendiri (Pasal 22 Ayat 1).

Hak keluarga yang merupakan sendi dasar masyarakat yang alami dan mendasar atas perlindungan dari masyarakat dan negara (Pasal 23 Ayat 1).

Hak laki-laki dan perempuan dewasa untuk menikah dan membentuk keluarga (Pasal 23 Ayat 2).

Tidak ada perkawinan yang dapat dilakukan tanpa persetujuan yang bebas dan penuh dari kedua calon mempelai (Pasal 23 Ayat 3).

Persamaan hak dan tanggung jawab antara suami-istri (Pasal

23 Ayat 4).

Hak setiap anak memperoleh tanpa diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, asal-usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, keturunan langkah-langkah

perlindungan yang diperlukan bagi statusnya sebagai anak di bawah umur dari keluarganya, masyarakat, dan negara (Pasal

24 Ayat 1).

Hak setiap anak untuk didaftarkan segera setelah kelahirannya dan untuk memperoleh sebuah nama (Pasal 24 Ayat 2).

Hak setiap anak memperoleh suatu kewarganegaraan (Pasal

24 Ayat 3).

Hak warga negara ikut serta dalam pengaturan semua urusan pemerintah, baik secara langsung maupun melalui wakil yang dipilih secara bebas (Pasal 25 Ayat a).

Hak warga negara untuk memilih dan dipilih pada pemilihan

umum yang murni, sama, universal, rahasia, dan bebas (Pasal

25 Ayat b).

Hak warga negara mendapatkan pelayanan pemerintahan di negaranya atas dasar persamaan (Pasal 25 Ayat c).

Hak atas kedudukan yang sama dihadapan hukum dan hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi apa pun (Pasal 26).

Hak kelompok minoritas etnis, agama, atau bahasa untuk secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya yang lain menjalankan agama, ibadah, atau bahasa mereka sendiri (Pasal 27).

Dibentuk Komite Hak-hak Asasi Manusia (dalam Kovenan ini selanjutnya akan disebut sebagai Komite). Komite akan terdiri

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

28

dari delapan belas anggota dan akan melaksanakan fungsi- fungsi tertentu. (Pasal 28 ayat 1-3)

Anggota Komite dipilih melalui pemungutan suara yang rahasia dari daftar orang-orang yang mempunyai kualifikasi yang ditentukan dalam Pasal 28, dan dicalonkan untuk tujuan itu oleh Negara Peserta Kovenan ini. (Pasal 29, ayat 1-3)

Kurun waktu dan tata cara pemilihan awal anggota Komite. Sekretaris Jenderal PBB membuat undangan tertulis bagi Negara Peserta Kovenan ini untuk menyampaikan calon mereka sebagai anggota Komite, dalam jangka waktu tiga bulan. Sekretaris Jenderal PBB menyiapkan daftar nama semua orang yang dicalonkan dengan menyebutkankan Negara Peserta yang mencalonkan mereka, dan menyampaikan daftar tersebut pada Negara Peserta Kovenan ini tidak kurang dari satu bulan sebelum tanggal pemilihan. (Pasal 30 ayat 1-4)

Komite tidak boleh beranggotakan lebih dari satu warga negara dari Negara yang sama dan mempertimbangkan pembagian geografis dan perwakilan berbagai bentuk peradaban dan sistim hukum yang utama. (Pasal 31, ayat 1-2)

Anggota Komite akan dipilih untuk jangka waktu empat tahun. Mereka dapat dipilih kembali apabila dicalonkan kembali. Namun masa jabatan untuk sembilan anggota pada pemilihan pertama akan berakhir setelah dua tahun; segera setelah pemilihan pertama, nama kesembilan anggota akan dipilih melalui undian oleh Ketua persidangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat 4.(Pasal 32, ayat 1-2)

Pergantian atau berhentinya seorang anggota Komite dalam melaksanakan fungsi-fungsinya berdasarkan suatu sebab, Ketua Komite akan memberitahukannya pada Sekeretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang kemudian akan menyatakan bahwa jabatan anggota tersebut kosong. (Pasal 33, ayat 1-2)

Pengisian kekosongan jabatan anggota Komite dilakukan oleh Sekretaris Jenderal PBB dengan syarat-syarat dan tata cara tertentu. (Pasal 34, ayat 1-2)

Para anggota Komite, dengan persetujuan dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan menerima honorarium dari sumber-sumber Perserikatan Bangsa-Bangsa berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang diputuskan oleh Majelis Umum dengan memperhatikan tanggung jawab yang penting dari Komite. (Pasal 35)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

29

Penyediaan staf dan fasilitas oleh Sekretaris Jenderal PBB (Pasal 36)

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menyelenggarakan persidangan awal Komite di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pertemuan-pertemuan lain. (Pasal 37)

Setiap anggota Komite, sebelum memulai tugasnya, wajib berjanji dengan sungguh-sungguh dalam komite terbuka bahwa ia akan melaksanakan tugasnya tanpa berpihak dan secara seksama. (Pasal 38)

Komite akan memilih pejabat-pejabatnya untuk jangka waktu dua tahun dan dapat dipilih kembali. Komite membuat aturan tata kerjanya sendiri (Pasal 39)

Penyampaikan laporan oleh negara peserta tentang langkah- langkah yang telah diambil untuk mewujudkan hak-hak yang diakui disini, beserta kemajuan yang telah dicapai dalam penikmatan Hak-hak tersebut. Kepada Sekretaris Jenderal PBB dan setelah berkonsultasi dengan Komite, dapat meneruskan ke badan-badan khusus bagian tertentu dari salinan laporan yang dianggap masuk dalam kewenangan badan khusus tersebut. (Pasal 40)

Negara Peserta dapat menyatakan, mengakui kompetensi Komite untuk menerima dan membahas komunikasi yang berhubungan dengan Negara Peserta yang menyatakan bahwa Negara Peserta lainnya tidak memenuhi kewajibannya berdasarkan Kovenan ini dalam tata cara komunikasi yang telah disepakati bersama (Pasal 41)

Apabila sebuah masalah yang diajukan kepada Komite sesuai dengan Pasal 41 tidak mendapat penyelesaian yang dirasa memuaskan oleh Negara-Negara Peserta yang berkepentingan, Komite, dengan persetujuan terlebih dahulu dari Negara-Negara Peserta yang berkepentingan, dapat menunjuk Komisi Pendamai ad hoc (selanjutnya disebut sebagai Komisi). (Pasal 42)

Para anggota Komite dan Komisi Pendamai ad hoc yang dapat ditunjuk berdasarkan Pasal 42, berhak atas fasilitas, keistimewaan dan kekebalan yang diberikan pada para ahli yang melakukan misi bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana diatur dalam Konvensi tentang Keistimewaan dan Kekebalan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Pasal 43)

Ketentuan untuk menerapkan Kovenan ini berlaku tanpa mengganggu prosedur yang ditentukan di bidang hak-hak

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

30

asasi manusia oleh atau berdasarkan instrumen-instrumen pendirian dan konvensi-konvensi dari Perserikatan Bangsa- Bangsa dan badan-badan khusus, dan tidak boleh mencegah Negara Peserta Kovenan ini untuk menggunakan prosedur lain untuk penyelesaian sengketa, sesuai dengan perjanjian internasional yang umum atau khusus yang berlaku di antara mereka. (Pasal 44)

Komite akan menyampaikan laporan tahunan tentang kegiatan-kegiatannya pada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Dewan Ekonomi dan Sosial. (Pasal 45)

Tidak ada satupun dalam Kovenan ini yang dapat ditafsirkan sebagai mengurangi ketentuan-ketentuan yang ada dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan konstitusi badan- badan khusus, yang merumuskan tanggung jawab masing- masing organ Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan khusus, sehubungan dengan masalah-masalah yang ditangani dalam Kovenan ini. (Pasal 46)

Tidak ada satupun dalam Kovenan ini yang dapat ditafsirkan sebagai mengurangi hak yang melekat pada semua bangsa untuk menikmati dan memanfaatkan secara penuh dan bebas kekayaan dan sumber daya alamnya. (Pasal 47)

Penanda tanganan, ratifikasi, akses terhadap kovenan ini oleh Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa atau anggota dari badan khusus, oleh Negara Peserta Statuta Mahkamah Internasional, dan oleh Negara lainnya yang telah diundang oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjadi Peserta Kovenan ini. (Pasal 48, ayat 1-3)

Kovenan ini mulai berlaku tiga bulan setelah tanggal disimpannya instrumen ratifikasi atau aksesi yang ketiga puluh lima pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa- Bangsa. (Pasal 49)

Ketentuan-ketentuan dalam Kovenan ini berlaku bagi semua bagian dari Negara federal tanpa ada pembatasan atau pengecualian apapun. (Pasal 50)

Perubahan Kovenan oleh negara peserta dan menyampaikannya pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tata cara komunikasinya. (Pasal 51, ayat

1-3)

penandatanganan, ratifikasi dan askesi berdasarkan Pasal 48; tanggal berlakunya Kovenan ini berdasarkan Pasal 49 dan tanggal berlakunya perubahan-perubahan berdasarkan Pasal 51 wajib disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB kepada semua negara (Pasal 52)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

31

Teks Kovenan ini dalam bahasa Cina, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol mempunyai kekuatan yang sama, akan disimpan pada arsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa wajib meneruskan salinan resmi Kovenan ini kepada semua Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. (Pasal 53)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

32

Ringkasan dari terjemahan Departemen Luar Negeri RI KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA (Disetujui Majelis Umum PBB, 16 Desember 1966)

Hak semua bangsa menentukan nasibnya sendiri yang memberikan kebebasan untuk menentukan status politik dan kebebasan untuk memperoleh kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya (Pasal 1 Ayat 1).

Hak semua bangsa secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alam mereka sendiri (Pasal 1 Ayat 2).

Larangan diskriminasi ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya, asal-usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, keturunan, atau status lain (Pasal 2 Ayat 2).

Hak persamaan bagi laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Pasal 3).

Hak atas pekerjaan, termasuk hak setiap orang atas kesempatan untuk mencari nafkah melalui pekerjaan yang dipilih atau diterima sendiri secara bebas (Pasal 6 Ayat 1).

Hak menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan, dan khususnya dijamin negara terhadap:

Upah yang adil dan imbalan yang sederajat untuk pekerjaan yang senilai tanpa pembedaan apapun, khususnya kepada perempuan dijamin kondisi kerja yang tidak lebih rendah daripada yang dinikmati laki-laki dengan gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama.

Kehidupan yang layak bagi mereka dan keluarganya.

Keselamatan dan kesehatan kondisi kerja.

Kesempatan

yang sama bagi setiap orang untuk

dipromosikan.

Istirahat, liburan, dan pembatasan jam kerja yang wajar, dan liburan berkala (Pasal 7).

Hak setiap orang membentuk serikat pekerja dan bergabung ke dalam serikat pekerja pilihannya sendiri (Pasal 8 Ayat 1 a).

Hak serikat pekerja membentuk federasi atau konfederasi nasional dan hak konfederasi nasional membentuk atau bergabung ke dalam organisasi serikat pekerja internasional (pasal 8 Ayat 1 b).

Hak serikat pekerja untuk bertindak secara bebas (Pasal 8 Ayat 1 c).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

33

Hak untuk melakukan pemogokan (Pasal 8 Ayat 1 d).

Hak setiap orang atas jaminan sosial, termasuk asuransi sosial (Pasal 9).

Hak keluarga untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan seluas-luasnya. Hak keluarga untuk bertanggungjawab atas perawatan dan pendidikan anak-anak yang masih dalam tanggungan. Hak calon mempelajari untuk melangsungkan perkawinan dengan persetujuan sukarela (Pasal 10 Ayat 1).

Hak ibu mendapatkan perlindungan khusus selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan, dan bagi ibu yang bekerja mendapatkan cuti dengan gaji atau jaminan sosial yang memadai (Pasal 10 Ayat 2).

Hak anak dan remaja mendapatkan perlindungan dan bantuan khusus bagi kepentingan mereka, dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan sosial, dari penggunaan tenaga mereka dalam pekerjaan yang merusak susila atau kesehatan, atau membahayakan kehidupan mereka atau menghambat perkembangan mereka secara wajar, dari penggunaan anak sebagai pekerja di bawah batas umur terendah (Pasal 10 Ayat

3).

Hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak baginya dan keluarganya, termasuk pangan, sandang, dan papan yang layak, dan atas perbaikan kondisi hidup secara berkesinambungan (Pasal 11 Ayat 1).

Hak mendasar setiap orang untuk bebas dari kelaparan (Pasal 11 Ayat 2).

Hak setiap orang untuk menikmati standar tertinggi kesehatan fisik dan mental (Pasal 12 Ayat 1).

Hak setiap orang atas pendidikan, yang diarahkan kepada pengembangan seutuhnya kepribadian dan kesadaran akan harga dirinya, yang memperkuat penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar, yang memungkinkan partisipasi secara efektif dalam masyarakat bebas, yang memajukan rasa saling pengertian, toleransi, dan pershabatan antar-semua bangsa dan kelompok ras, etnik, atau agama, dan yang memajukan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian (Pasal 13 Ayat 1).

Untuk mengupayakan realisasi hak itu secara penuh, negara mengakui:

Pendidikan dasar harus diwajibkan dan tersedia secara cuma-cuma bagi semua orang.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

34

Pendidikan lanjutan dalam berbagai bentuknya.

Pendidikan tinggi yang tersedia bagi semua orang atas dasar kecakapan.

Pengembangan sistem sekolah pada semua tingkat, sistem beasiswa yang memadai, dan kondisi material staf pengajar yang harus diperbaiki (Pasal 13 Ayat 2).

Hak orang tua atau wali yang sah untuk memilih sekolah bagi anak-anak mereka yang bukan didirikan instansi pemerintah, yang memenuhi standar minimal pendidikan dan untuk menjamin pendidikan agama dan budi pekerti anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 Ayat 3).

Hak kebebasan individu dan badan-badan untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang memenuhi standar minimal yang ditetapkan negara (Pasal 13 Ayat 4).

Hak setiap orang untuk:

Ambil bagian dalam kehidupan kebudayaan.

Menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya.

Memperoleh manfaat dari perlindungan atas kepentingan moral dan material yang timbul dari setiap hanya ilmu pengetahuan, sastra, atau seni yang telah diciptakannya. (Pasal 15 Ayat 1).

Hak atas kebebasan yang mutlak diperlukan untuk penelitian ilmu pengetahuan dan kegiatan yang kreatif (Pasal 15 Ayat 2).

Laporan tentang langkah-langkah yang telah diambil dan kemajuan yang telah diperoleh dalam mencapai ketaatan pada hak-hak yang diakui kepada Sekretaris Jenderal PBB yang akan diteruskan kepada Dewan Ekonomi dan Sosial. Salinannya disampaikan kepada negara-negara peserta. Pasal 16 ayat 1-2)

Negara Peserta Kovenan ini akan memberikan laporan mereka secara bertahap, sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Dewan Ekonomi dan Sosial dalam waktu satu tahun sejak Kovenan ini berlaku, setelah berkonsultasi dengan Negara Peserta dan badan khusus yang bersangkutan. (Pasal 17, ayat 1-3)

Laporan-laporan ini dapat memasukkan hal-hal khusus dari keputusan dan rekomendasi terhadap penerapan tersebut yang ditetapkan oleh organ-organ yang kompeten. (Pasal 18)

Dewan Ekonomi dan Sosial dapat menyampaikan kepada Komisi Hak-hak Asasi Manusia laporan-laporan mengenai hak-

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

35

hak asasi manusia yang disampaikan oleh Negara sesuai dengan Pasal 16 dan 17, dan laporan-laporan mengenai hak- hak asasi manusia yang disampaikan oleh badan khusus sesuai dengan Pasal 18 untuk dipelajari dan diberi rekomendasi umum, atau bilamana perlu, sekedar informasi. (Pasal 19)

Negara Peserta Kovenan ini dan badan khusus yang berkepentingan, dapat menyampaikan komentar pada Dewan Ekonomi dan Sosial tentang rekomendasi umum berdasarkan Pasal 19, atau mengenai rujukan ke rekomendasi umum tersebut dalam laporan Komisi Hak-hak Asasi Manusia atau dokumen yang dirujuk di dalamnya. (Pasal 20)

Laporan, rekomendasi dan ringkasan informasi dari negara peserta dapat disampaikan Dewan Ekonomi dan Sosial kepada Majelis Umum. (Pasal 21)

Dewan Ekonomi dan Sosial dapat meminta perhatian organ- organ PBB lainnya, badan-badan pelengkapnya dan badan- badan khusus yang berkepentingan memberikan bantuan teknis, untuk memperhatikan persoalan dalam laporan-laporan yang disebutkan Kovenan ini, yang dapat membantu badan- badan tersebut dalam memutuskan, sesuai dengan kompetensi masing-masing, kelayakan upaya-upaya internasional untuk membantu penerapan yang efektif Kovenan ini secara bertahap. (Pasal 22)

tindakan internasional untuk mencapai hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini mencakup metode-metode, seperti penandatanganan konvensi-konvensi, penetapan rekomendasi-rekomendasi, pemberian bantuan teknis dan penyelenggaraan sidang-sidang regional dan pertemuan- pertemuan teknis untuk keperluan konsultasi dan pengkajian dilaksanakan bersama dengan Pemerintah yang berkepentingan. (Pasal 23)

Tidak ada satu pun ketentuan dalam Kovenan ini dapat ditafsirkan sehingga melemahkan ketentuan-ketentuan dalam Piagam PBB dan aturan-aturan badan-badan khusus yang menetapkan tanggung jawab berbagai organ Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan khususnya sehubungan dengan hal-hal yang diatur dalam Kovenan ini. (Pasal 24)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

36

Tidak ada satu pun ketentuan dalam Kovenan ini dapat ditafsirkan sedemikian rupa sehingga mengurangi hak-hak yang melekat pada semua orang untuk menikmati dan memanfaatkan sepenuhnya dan dengan bebas, kekayaan dan sumber daya alam mereka. (Pasal 25)

Kovenan ini terbuka untuk ditandatangani dan diaksesi oleh Negara Peserta PBB atau oleh anggota badan khusus, oleh Negara Peserta Statuta Mahkamah Internasional, dan oleh Negara lainnya yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB untuk menjadi Peserta Kovenan ini. Kovenan ini perlu diratifikasi. Instrumen ratifikasi disimpan oleh Sekretaris Jenderal PBB. Sekretaris Jenderal PBB wajib menginformasikan pada semua Negara yang telah menandatangani Kovenan ini atau melakukan aksesi, tentang penyimpanan setiap instrumen ratifikasi atau aksesi. (Pasal

26)

Kovenan ini akan mulai berlaku tiga bulan setelah tanggal diserahkannya instrumen ratifikasi atau aksesi yang ketiga puluh lima untuk disimpan pada Sekretaris Jenderal PBB. Untuk setiap Negara yang meratifikasi melakukan aksesi atas Kovenan ini setelah disimpannya instrumen ratifikasi atau aksesi yang ketiga puluh lima, Kovenan ini akan mulai berlaku tiga bulan setelah tanggal disimpannya instrumen ratifikasi atau aksesi tersebut. (Pasal 27)

Ketentuan-ketentuan Kovenan ini akan berlaku untuk semua bagian Negara federal tanpa pembatasan atau pengecualian. (Pasal 28)

Negara Peserta Kovenan ini dapat mengusulkan perubahan dan menyampaikannya pada Sekretaris Jenderal PBB. Sekretaris Jenderal PBB setelah itu mengkomunikasikan usul perubahan apapun kepada Negara Peserta. Perubahan berlaku apabila telah disetujui oleh Majelis Umum PBB dan diterima oleh dua pertiga mayoritas Negara Peserta Kovenan ini sesuai dengan prosedur konstitusi masing-masing. Apabila perubahan telah berlaku, perubahan tersebut akan mengikat Negara-negara Peserta yang telah menerimanya, sedangkan Negara Peserta lainnya masih tetap terikat pada ketentuan- ketentuan Kovenan ini dan perubahan-perubahan sebelumnya yang telah mereka terima. (Pasal 29)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

37

Terlepas dari pemberitahuan yang dibuat berdasarkan Pasal 26 ayat 5, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa wajib memberitahukan semua Negara yang dimaksud dalam ayat 1 dari Pasal yang sama tentang penandatanganan, ratifikasi dan aksesi berdasarkan Pasal 26; tanggal berlakunya Kovenan ini berdasarkan Pasal 27 dan tanggal berlakunya perubahan-perubahan berdasarkan Pasal 29. (Pasal 30)

Teks Kovenan, dibuat dalam bahasa Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol, mempunyai kekuatan yang sama, disimpan pada arsip PBB, Sekretaris Jenderal PBB wajib menyampaikan salinan resmi Kovenan ini kepada semua Negara sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 26. (Pasal 31)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

38

Cuplikan dan ringkasan dari terjemahan KOMNAS HAM DEKLARASI VIENNA DAN PROGRAM AKSI YANG DISETUJUI KONFERENSI DUNIA HAK ASASI MANUSIA, 25 JUNI 1993

CATATAN:

Deklarasi Vienna dan Program Aksi: (1) membaharui komitmen masyarakat internasional dalam memajukan dan melindungi HAM; (2) memperlihatkan pandangan baru mengenai aksi global tentang HAM dalam menyongsong abad yang akan datang; (3) menandai puncak dari suatu proses panjang dalam bentuk ulasan dan debat mengenai situasi sistem HAM di dunia, menandai permulaan suatu pembaharuan dari usaha memperkuat dan menerapkan secara lebih dalam instrumen-instrumen HAM yang pokok – yaitu berbagai konvensi dan kovenan, yang telah dibangun dengan landasan Deklarasi Universal tentang HAM 1948; (4) menegaskan kembali prinsip-prinsip yang telah berkembang selama 45 tahun; (5) mengakui saling ketergantungan antara demokrasi, pembangunan, dan HAM; (6) mengambil langkah-langkah baru yang bersejarah untuk pemajuan dan perlindungan hak-hak perempuan, anak, dan penduduk asli.

Sejumlah hak asasi yang perlu dikemukakan untuk kepentingan guru dan siswa dalam pendidikan HAM antara lain adalah:

1. Hak tiap orang untuk menentukan nasib sendiri dan dengan hak ini yang bersangkutan bebas menetapkan status politiknya dan melaksanakan pembangunan ekonomi, sosial, dan budayanya (Pasal 2).

2. Hak atas pembangunan adalah hak yang universal dan tidak dapat dicabut dan merupakan bagian integral dari hak asasi manusia (Pasal 10).

3. Hak untuk terbebas dari ancaman serius terhadap hak setiap manusia atas kehidupan dan kesehatan akibat pembuangan bahan serta limbah beracun dan berbahaya secara gelap (Pasal 11).

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

39

4. Hak tiap orang untuk menikmati keuntungan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 11).

5. Hak asasi manusia dari perempuan adalah bagian dari hak asasi manusia yang tidak dapat dicabut, integral, dan tidak dapat dipisahkan (Pasal 18).

6. Hak kelompok minoritas untuk menikmati kebudayaan mereka sendiri, menganut dan mempraktekkan agamanya, serta menggunakan bahasanya secara pribadi maupun di depan publik, dengan bebas dan tanpa campur tangan maupun diskriminasi dalam bentuk apapun (Pasal 19).

7. Hak masyarakat asli terhadap kesejahteraan ekonomi, sosial, dan budaya mereka, serta untuk memungkinkan mereka menikmati hasil pembangunan yang berkesinambungan, untuk berpartisipasi dalam seluruh aspek masyarakat, untuk diakui nilai dan keanekaragaman dari identitas, kebudayaan, dan organisasi sosial mereka yang berbeda (Pasal 20).

8. Hak semua orang tanpa diskriminasi untuk mencari dan mendapatkan suaka di negara lain untuk menghindari penganiayaan dan hak untuk kembali ke negaranya sendiri (Pasal 23).

9. Perlindungan kepada kelompok minoritas menurut kebangsaan atau etnis, agama dan bahasa, termasuk masyarakat asli. (Pasal 25-32)

10. Perlindungan kepada Pekerja Migran (Pasal 33-35)

11. Konferensi Dunia mendesak agar hak asasi manusia

dinikmati secara sederajat dan sepenuhnya oleh perempuan, termasuk menekankan pentingnya usaha penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Hak ini menjadi prioritas bagi para pemerintah dan PBB. Juga ditekankan pentingnya integrasi dan partisipasi perempuan sepenuhnya sebagai agen

yang diuntungkan oleh proses pembangunan. (Pasal 41-44)

12. Pentingnya usaha-usaha utama yang dilaksanakan secara nasional maupun internasional, terutama yang termasuk dalam dana anak PBB untuk memajukan penghormatan terhadap hak anak untuk bertahan hidup, perlindungan, pembangunan dan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

40

partisipasi. Tindakan harus diambil agar Konvensi Hak Anak sudah akan diratifikasi secara universal selambat-lambatnya pada 1995 serta Deklarasi Dunia tentang Hak untuk Bertahan Hidup, Perlindungan dan Pembangunan Anak dan Rencana Aksi yang disetujui oleh Konferensi Dunia untuk Anak, serta agar penerapannya yang efektif ditandatangani secara universal. (Pasal 45-53)

13. Penyiksaan merupakan salah satu pelanggaran terhadap martabat manusia yang paling parah yang berakibat pada penghancuran martabat dan rusaknya kemampuan korban untuk melanjutkan hidup dan aktivitasnya. Sehingga bebas dari penyiksaan adalah hak yang harus dilindungi dalam segala keadaan termasuk pada saat terjadinya kekacauan internal atau internasional atau konflik bersenjata. Perhatian khususnya diberikan kepada penerapan prinsip Etika Medis, serta Perlindungan para Tahanan dan Tawanan. (Pasal 54-61)

14. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia mengimbau semua negara untuk mengambil tindakan legislatif, administratif, dan yudikatif serta langkah-langkah lain yang diperlukan untuk mencegah, memberantas, serta menghukum tindakan-tindakan penghilangan secara paksa. (Pasal 62)

15. Hak asasi manusia dan kebebasan asasi bersifat universal

dan sehingga tanpa kekecualian mencakup penyandang cacat, karena semua orang dilahirkan sederajat dan mempunyai hak yang sama atas kehidupan dan kesejahteraan, pendidikan dan pekerjaan, kehidupan yang independen serta partisipasi aktif dalam semua kehidupan masyarakat. (Pasal 63-65)

16. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia merekomendasikan

agar memberikan prioritas kepada aksi nasional maupun internasional dalam memajukan demokrasi, pembangunan dan

hak asasi manusia dengan perhatian pada:

- memperkokoh dan membangun lembaga-lembaga yang berhubungan dengan hak asasi manusia

- penguatan masyarakat sipil yang pluralistis

- perlindungan kelompok rentan. (Pasal 66-77)

17. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia memandang pendidikan, pelatihan dan informasi publik mengenai hak asasi

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

41

manusia sangatlah penting bagi kemajuan dan pencapaian hubungan yang stabil dan harmonis antar masyarakat, serta untuk meningkatkan saling pengertian, toleransi, dan perdamaian. (Pasal 78)

18. Negara harus berjuang untuk memberantas buta huruf dan harus mengarahkan pendidikan menuju pengembangan pribadi manusia seutuhnya serta memperkokoh penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan asasi. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia mengimbau semua negara dan institusi untuk memasukkan hak asasi manusia, hukum kemanusiaan, demokrasi, dan norma hukum sebagai mata pelajaran dalam kurikulum semua institusi pengajaran, secara formal maupun informal. (Pasal 79)

19. Pendidikan hak asasi manusia harus mencakup perdamaian, demokrasi, pembangunan, dan keadilan sosial, sebagaimana ditetapkan dalam instrumen hak asasi manusia regional dan internasional, agar diperoleh pemahaman dan kesadaran umum untuk memperkokoh komitmen universal terhadap hak asasi manusia. (Pasal 80)

20. Dengan memperhitungkan Rencana Aksi Dunia mengenai Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi yang disetujui pada Maret 1993 oleh Kongres Internasional mengenai Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi yang diadakan oleh UNESCO serta instrumen-instrumen hak asasi manusia lainnya, Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia merekomendasikan agar negara-negara mengembangkan program-program dan strategi-strategi spesifik guna menjamin pendidikan hak asasi manusia yang seluas-luasnya dan penyebaran informasi publik, khususnya dalam memperhitungkan kebutuhan hak asasi perempuan. (Pasal 81)

21. Pemerintah dengan bantuan organisasi antar pemerintah, lembaga-lembaga nasional dan organisasi non-pemerintah, harus meningkatkan kesadaran mengenai hak asasi manusia dan saling toleransi. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia menekankan pentingnya penguatan Kampanye Informasi Publik Dunia tentang Hak Asasi Manusia yang dilakukan PBB. Pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya harus memulai dan mendukung pendidikan hak asasi manusia serta melakukan penyebaran informasi publik yang efektif dalam bidang ini.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

42

Program layanan nasihat dan bantuan teknis perangkat PBB harus cepat menanggapi permintaan negara-negara untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam bidang hak asasi manusia dan juga untuk pendidikan khusus mengenai standar yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional serta penerapannya kepada kelompok-kelompok khusus, seperti angkatan bersenjata, petugas penegak hukum, polisi, dan petugas kesehatan. Pelu juga dipertimbangkan pencanangan dasawarsa PBB untuk pendidikan hak asasi manusia dengan tujuan memajukan, mendorong dan memfokuskan kegiatan pendidikan. (Pasal 82)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

43

Ringkasan Terjemahan Yayasan Obor Indonesia DEKLARASI TENTANG PEMBERIAN KEMERDEKAAN KEPADA NEGARA-NEGARA DAN BANGSA-BANGSA JAJAHAN (Resolusi Majelis Umum, 14 Desember 1960)

1. Menjadikan sasaran semua rakyat untuk penaklukan asing, dominasi, dan eksploitasi merupakan suatu pengingkaran terhadap HAM yang sangat dasar dan bertentangan dengan Piagam PBB serta menghambat perdamaian dan kerja sama dunia.

2. Hak semua rakyat menentukan nasib sendiri; atas dasar hak tersebut mereka bebas menentukan status politiknya dan dengan bebas mengejar perkembangan ekonomi, sosial, dan kebudayaannya.

3. Kesiapan politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan yang tidak memadai harus sama sekali tidak pernah dipakai sebagai dalih untuk penundaan kemerdekaan.

4. Semua tindakan bersenjata atau upaya penindasan bangsa- bangsa jajahan harus dihentikan agar memungkinkan mereka melaksanakan hak mereka untuk menyempurnakan kemerdekaan; integritas wilayah nasional mereka harus dihormati.

5. Langkah-langkah segera harus diambil di Wilayah-wilayah Perwalian lain yang belum memperoleh kemerdekaan untuk memindahkan semua kekuasaan kepada bangsa-bangsa wilayah-wilayah tersebut, agar memungkinkan mereka menikmati kemerdekaan dan kebebasan yang sempurna.

6. Usaha apa pun untuk mengacau sebagian atau keseluruhan kesatuan nasional dan integritas teritorial suatu negara bertentangan dengan tujuan dan asas Piagam PBB.

7. Semua negara harus mentaati ketentuan Piagam PBB, Deklarasi Universal tentang HAM, dan deklarasi ini.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

44

Ringkasan Terjemahan Yayasan Obor Indonesia KEDAULATAN PERMANEN ATAS SUMBER DAYA ALAM (Resolusi Majelis Umum, 14 Desember 1962)

1. Hak bangsa dan negara atas kedaulatan permanen atas kekayaan dan sumber daya alam mereka harus dilaksanakan demi kepentingan pembangunan nasional dan demi kesejahteraan penduduk negara yang bersangkutan.

2. Eksplorasi, pembangunan, dan pengaturan sumber daya dan juga impor modal asing harus sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat di mana bangsa-bangsa dan negara-negara dengan bebas menganggap diperlukan atau diinginkan mengenai pengizinan, pembatasan, atau pelarangan aktivitas yang telah disebutkan.

3. Apabila izin diberikan, modal yang diimpor dan penghasilan pada modal itu harus diatur dengan syarat-syarat mengenainya, dengan per-UU-an nasional yang berlaku, dan dengan hukum internasional. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh harus dibagi dalam proporsi yang disepakati secara bebas, dalam tiap kasus, antara para penanam modal dan negara penerima, perhatian yang semestinya diambil untuk menjamin bahwa tidak ada perusakan terhadap kedaulatan negara atas kekayaan dan sumber daya alamnya.

4. Nasionalisasi, perampasan, atau pengambilalihan harus didasarkan pada latar belakang atau alasan utilitas umum, keamanan, atau kepentingan nasional. Dalam kasus-kasus tersebut kepada pemilik harus dibayarkan kompensasi yang layak sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara yang mengambil tindakan tersebut dalam melaksanakan kedaulatannya dan sesuai dengan hukum internasional.

5. Pelaksanaan kedaulatan bangsa dan negara yang bebas dan bermanfaat atas sumber daya alam mereka harus dimajukan dengan saling menghormati para negara yang berdasarkan persamaan kedaulatan mereka.

6. Kerja sama internasional untuk pengembangan ekonomi negara-negara sedang berkembang harus sedemikian rupa untuk memajukan pembangunan nasional mereka yang

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

45

mandiri, dan harus berdasarkan penghormatan terhadap kedaulatan mereka atas kekayaan dan sumber daya alam mereka.

7. Pelanggaran terhadap hak-hak bangsa dan negara atas kedaulatan pada kekayaan dan sumber daya alam mereka bertentangan dengan jiwa dan asas-asas Piagam PBB dan menghalangi pengembangan kerja sama internasional dan pemeliharaan perdamaian.

8. Persetujuan-persetujuan penanaman modal asing yang dengan bebas dibuat oleh atau di antara para negara berdaulat harus ditaati dengan itikad baik; para negara dan organisasi internasional harus sepenuhnya dan dengan kesadaran menghormati kedaulatan bangsa dan negara atas kekayaan dan sumber daya alam mereka sesuai dengan Piagam dan asas-asas yang dinyatakan dalam resolusi ini.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

46

Ringkasan Terjemahan Yayasan Obor Indonesia DEKLARASI TENTANG PENGHAPUSAN SEMUA BENTUK KETIDAKRUKUNAN DAN DISKRIMINASI BERDASARKAN AGAMA ATAU KEPERCAYAAN (Resolusi Majelis Umum, 25 November 1981)

Pasal 1

1. (1) Hak setiap orang atas kebebasan berpikir, hati nurani, dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menganut suatu agama atau kepercayaan apa pun pilihannya, dan kebebasan, baik secara individu atau pun dalam masyarakat dengan orang-orang lain dan di depan umum atau sendirian, untuk mewujudkan agama dan kepercayaannya dalam beribadah, pentaatan, pengamalan, dan pengajaran. (2) Hak terbebas dan dijadikan sasaran pemaksaan yang mengurangi kebebasan menganut suatu agama atau

kepercayaan pilihannya. (3) Kebebasan untuk mewujudkan agama atau kepercayaan seseorang hanya boleh tunduk pada pembatasan yang ditetapkan UU dan yang diperlukan untuk melindungi keselamatan umum, ketertiban umum, kesehatan masyarakat, atau kesusilaan umum, atau hak dan kebebasan dasar orang lain.

2. (1) Hak terbebas dan dijadikan sasaran diskriminasi oleh negara, lembaga, kelompok, atau orang mana pun dengan alasan-alasan agama atau kepercayaan lain. (2) Ungkapan "ketidakrukunan dan diskriminasi berdasar- kan agama dan kepercayaan" berarti setiap pembedaan, pengesampingan, larangan, atau pengutamaan yang didasarkan pada agama atau kepercayaan, dan yang tujuan atau akibatnya meniadakan atau mengurangi pengakuan, penikmatan, atau pelaksanaan HAM dan kebebasan- kebebasan dasar atas dasar yang sama.

3. Diskriminasi diantara insan manusia dengan alasan-alasan agama atau kepercayaan merupakan penghinaan terhadap martabat manusia dan pengingkaran asas-asas Piagam PBB, dan harus dikutuk sebagai pelanggaran HAM dan kebebasan- kebebasan dasar dalam Deklarasi Universal tentang HAM dan yang dirinci dalam kovenan-kovenan internasional tentang

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

47

HAM dan sebagai hambatan terhadap hubungan bersahabat dan damai di antara bangsa-bangsa.

4. (1) Semua negara harus mengambil tindakan yang efektif untuk mencegah dan menghapus diskriminasi berdasarkan alasan agama atau kepercayaan dalam pengakuan, pelaksanaan, dan penikmatan HAM dan kebebasan- kebebasan dasar di semua bidang sipil, ekonomi, politik, sosial, dan kehidupan budaya. (2) Semua negara harus melakukan semua tindakan:

untuk

melarang diskriminasi apa pun; dan untuk memerangi ketidakrukunan berdasarkan alasan agama atau kepercayaan.

untuk

membuat

atau

mencabut

per-UU-an

5. (1) Hak orang tua atau wali hukum anak mengatur kehidupan dalam keluarga sesuai dengan agama atau kepercayaan mereka. (2) Hak anak mendapatkan akses ke pendidikan dalam persoalan agama atau kepercayaan sesuai dengan harapan orang tua atau wali hukumnya, dan tidak dapat dipaksa menerima pengajaran agama atau kepercayaan yang berlawanan dengan harapan orang tua atau wali hukumnya. (3) Hak anak atas perlindungan dari diskriminasi apa pun berdasarkan alasan agama atau kepercayaan. (4) Dalam kasus seorang anak yang tidak di bawah asuhan baik orang tua atau wali hukumnya, perhatian yang semestinya diberikan kepada harapan mereka dalam persoalan agama atau kepercayaan; kepentingan- kepentingan terbaik anak merupakan asas pedoman.

6. Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 deklarasi ini, hak atas kebebasan berpendapat, hati nurani, beragama atau kepercayaan harus mencakup kebebasan-kebebasan berikut:

(1) Beribadah atau berkumpul dalam hubungannya dengan suatu agama atau kepercayaan, dan mendirikan serta mengelola tempat-tempat untuk tujuan ini. (2) Mendirikan dan mengelola lembaga amal atau kemanusiaan yang tepat. (3) Membuat, memperoleh, dan menggunakan berbagai benda dan material yang diperlukan upacara atau adat istiadat agama atau kepercayaan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

48

(4) Menulis, menerbitkan, dan menyebarluaskan penerbitan yang relevan. (5) Mengajarkan agama atau kepercayaan di tempat yang cocok untuk tujuan ini. (6) Mengumpulkan dan menerima sumbangan keuangan dan sumbangan sukarela lain dari perseorangan atau lembaga. (7) Melatih, menunjuk, memilih, atau mencalonkan dengan suksesi para pemimpin yang tepat sesuai dengan persyaratan dan standar agama atau kepercayaan. (8) Menghormati hari istirahat, dan merayakan hari libur dan upacara menurut ajaran agama atau kepercayaan seseorang. (9) Mendirikan dan mengelola komunikasi dengan seseorang dan masyarakat dalam persoalan agama atau kepercayaan pada tingkat nasional dan internasional.

7. Hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang dinyatakan dalam deklarasi ini disesuaikan dalam per-UU-an dalam kehidupan sehari-hari setiap orang dapat menikmati sendiri hak dan kebebasan tersebut.

8. Tidak seorang pun dalam deklarasi ini dapat membatasi atau mengurangi hak mana pun yang ditetapkan dalam Deklarasi Universal HAM dan kovenan-kovenan internasional tentang HAM.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

49

Ringkasan Terjemahan Yayasan Obor Indonesia PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG KEMANDIRIAN PENGADILAN (Resolusi Majelis Umum, 13 Desember 1985)

Kemandirian Pengadilan

1. Kemandirian pengadilan harus dijamin oleh negara dan diabadikan dalam konstitusi atau undang-undang negara. Adalah merupakan kewajiban semua lembaga pemerintah atau lembaga yang lain untuk menghormati dan mentaati kemandirian pengadilan.

2. Pengadilan harus memutus perkara secara adil, atas dasar fakta-fakta dan sesuai dengan undang-undang, tanpa pembatasan apa pun, pengaruh yang tidak tepat, bujukan langsung atau tidak langsung, dari arah mana pun atau karena alasan apa pun.

3. Pengadilan harus memiliki yurisdiksi atas semua pokok masalah yang bersifat hukum dan harus mempunyai kekuasaan eksklusif untuk memutuskan apakah suatu pokok masalah yang diajukan untuk memperoleh keputusannya berada dalam kewenangannya seperti ditentukan hukum.

4. Tidak boleh ada campur tangan apa pun terhadap proses pengadilan, juga tidak boleh ada keputusan yudisial oleh pengadilan itu tunduk pada perbaikan. Prinsip ini tanpa mempengaruhi pemeriksaan ulang yudisial atau pada pelonggaran atau keringanan oleh para penguasa yang berwenang terhadap hukuman yang dikenakan oleh pengadilan, sesuai dengan undang-undang.

5. Hak tiap orang diadili oleh pengadilan ataupun tribunal biasa yang menggunakan prosedur hukum yang sudah mapan. Tribunal biasa yang tidak menggunakan prosedur proses hukum yang dibentuk sebagaimana mestinya tidak boleh diciptakan untuk menggantikan yurisdiksi milik pengadilan biasa ataupun tribunal yudisial.

6. Prinsip kemandirian pengadilan berhak dan mewajibkan pengadilan untuk menjamin bahwa acara kerja pengadilan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

50

dilakukan

dengan

adil

dan

bahwa

hak-hak

para

pihak

dihormati.

7. Adalah kewajiban setiap negara anggota untuk menyediakan sumber-sumber yang memadai guna memungkinkan pengadilan melaksanakan fungsi-fungsinya dengan tepat.

Kebebasan mengutarakan pendapat dan berhimpun

8. Menurut Deklarasi Universal HAM, para anggota pengadilan berhak atas kebebasan mengutarakan pendapat, keyakinan, berhimpun dan berkumpul.

9. Para hakim harus bebas membentuk dan bergabung dalam himpunan hakim atau organisasi lain untuk mewakili kepentingan, meningkatkan pelatihan profesional, dan melindungi kemandirian yudisial mereka.

Kualifikasi, pemilihan, dan pelatihan

10. Orang-orang yang dipilih untuk jabatan yudisial haruslah para individu yang memiliki integritas dan kemampuan dengan pelatihan atau kualifikasi yang tepat di dalam hukum. Metode pemilihan yudisial apa pun harus dilindungi dari referensi yudisial untuk alasan yang tidak tepat. Dalam pemilihan para hakim, tidak boleh ada diskriminasi terhadap seseorang atasa alasan ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, pendapat politik atau lainnya, asal-usul kebangsaan atau sosial, harta kekayaan, kelahiran atau status.

Keadaan-keadaan pelayanan dan masa jabatan

11. Masa jabatan para hakim, kemandiriannya, jaminan, penggajian yang memadai, kondisi-kondisi pelayanan, pensiun, dan umur pengunduran diri dijamin secara memadai oleh undang-undang.

12. Para hakim, apakah yang ditunjuk atau dipilih, memiliki masa jabatan yang dijamin sampai umur pengunduran diri dari jabatan atau berakhirnya masa jabatan mereka, apabila hal-hal semacam itu ada.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

51

13. Promosi para hakim harus didasarkan pada faktor-faktor yang obyektif, terutama kemampuan, integritas, dan pengalaman.

14. Penugasan kasus-kasus kepada para hakim dalam pengadilan di mana mereka menjadi anggota adalah suatu masalah internal pada administrasi yudisial.

Kerahasiaan dan kekebalan profesi

15. Pengadilan harus diikat oleh kerahasian profesi mengenai pertimbangan mereka dan informasi rahasia yang diperoleh dalam melaksanakan tugas mereka, dan tidak dapat dipaksa memberikan kesaksian pada masalah tersebut.

16. Tanpa mempengaruhi prosedur disipliner mana pun atau pun hak banding mana pun atau kompensasi dari negara yang bersangkutan sesuai dengan hukum nasional, para hakim harus memiliki kekebalan pribadi dari tuntutan perdata atas kerugian keuangan untuk perbuatan yang tidak tepat atau lalai di dalam melaksanakan fungsi-fungsi yudisial mereka.

Disiplin, penundaan, dan pemindahan

17. Suatu tuduhan atau tuntutan yang dibuat terhadap seorang hakim, di dalam kedudukan yudisial atau pun profesinya harus diproses dengan cara terbaik dan adil menurut prosedur yang tepat.

18. Para hakim tunduk pada penundaan atau pemindahan hanya karena alasan-alasan ketidakmampuan atau perilaku yang mengakibatkan mereka tidak layak melaksanakan kewajiban mereka.

19. Semua acara kerja disipliner, penundaan, atau pemindahan harus ditetapkan sesuai dengan standar tingkah laku yudisial yang sudah mapan.

20. Keputusan

dalam

acara

kerja

disipliner,

penundaan,

pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.
pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.
pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.
pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.

pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.

pemindahan harus tunduk pada peninjauan kembali independen.

atau

yang

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

52

Ringkasan terjemahan Yayasan Obor Indonesia DEKLARASI UNIVERSAL TENTANG PEMBERANTASAN KELAPARAN DAN KEKURANGAN GIZI

1. Hak tiap orang terbebas dari kelaparan dan kekurangan gizi, agar dapat mengembangkan sepenuhnya dan memelihara kemampuan fisik dan mental mereka.

2. Tanggung jawab dasar pemerintah untuk bekerja sama meningkatkan produksi pangan dan distribusi pangan yang lebih adil dan efesien antara para negara dan di dalam Negara. Pemerintah harus memecahkan kekurangan gizi yang kronis dan penyakit kekurangan vitamin di antara kelompok- kelompok yang mudah terserang dan berpenghasilan rendah.

3. Masalah-masalah pangan harus ditangani selama persiapan dan pelaksanaan rencana dan program nasional bagi pembangunan ekonomi dan sosial dengan tekanan pada aspek kemanusiaan.

4. Tanggung jawab menghilangkan rintangan pada produksi pangan dan memberikan insentif yang tepat kepada produsen pertanian.

5. Harus diambil tindakan untuk meningkatkan eksploitasi sumber daya perairan laut dan daratan memenuhi permintaan pangan semua bangsa.

6. Usaha menaikkan produksi pangan harus dilengkapi dengan usaha mencegah perusakan pangan.

7. Untuk memberikan keuletan pada produksi pangan di negara sedang berkembang dan terutama di negara terbelakang, harus diambil tindakan internasional oleh negara maju dan negara lainnya untuk memberikan bantuan teknik dan keuangan dengan syarat-syarat yang menguntungkan.

8. Semua negara, terutama negara industri tinggi, harus meningkatkan kemajuan teknologi produksi pangan, dan pengalihan, penyesuaian, dan penyebarluasan teknologi tersebut untuk kemanfaatan negara sedang berkembang.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

53

9. Untuk menjamin pelestarian sumber daya alam yang sedang atau mungkin didayagunakan untuk produksi pangan, semua negara harus bekerja sama untuk mempermudah pemeliharaan lingkungan, termasuk lingkungan laut.

10. Semua negara maju dan negara lainnya harus bekerja sama dalam teknik dan keuangan dengan negara sedang berkembang untuk memperluas tanah dan sumber daya perairan.

11. Semua negara harus berusaha mengatur kembali kebijakan pertanian mereka untuk mengutamakan produksi pangan dengan mengakui saling keterkaitan antara masalah pangan dunia dan perdagangan internasional.

12. Karena merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat internasional, untuk menjamin pemasokan bahan pangan pokok dunia yang memadai, semua negara harus bekerja sama membentuk sistem jaminan pangan dunia yang efektif.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

54

Ringkasan terjemahan Yayasan Obor Indonesia DEKLARASI TENTANG HAK ATAS PEMBANGUNAN (Disetujui Majelis Umum PBB, 4 Desember 1986)

Pasal

1. (1) Hak atas pembangunan adalah HAM yang tak dapat dipisahkan dimana setiap pribadi manusia dan semua bangsa berhak ikut serta, menyumbang, dan menikmati pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, yang di dalamnya semua HAM dan kebebasan dasar dapat diwujudkan sepenuhnya. (2) HAM atas pembangunan secara tak langsung menunjuk pada realisasi sepenuhnya hak bangsa-bangsa atas penentuan nasib sendiri dan kedaulatan penuh atas semua kekayaan dan sumber daya alam mereka.

2. (1) Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan. (2) Semua umat manusia bertanggung jawab meningkatkan dan melindungi tata politik, sosial, dan ekonomi yang tepat bagi pembangunan. (3) Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional yang tepat untuk mensejahterakan penduduk atas dasar peran serta mereka yang aktif, bebas, dan berarti dalam pembangunan dan distribusi keuntungan secara adil.

3. (1) Negara bertanggung jawab utama menciptakan kondisi nasional dan internasional yang baik untuk melaksanakan pembangunan. (2) Realisasi hak pembangunan memerlukan penghormatan prinsip hukum internasional tentang hubungan persahabatan dan kerja sama antar-negara, sesuai Piagam PBB. (3) Negara wajib saling bekerja sama dengan yang lain untuk menjamin pembangunan dan menghapus hambatan pembangunan. Negara-negara harus mewujudkan hak dan kewajiban mereka dengan cara yang dapat meningkatkan tata ekonomi internasional berdasarkan persamaan, kedaulatan, saling ketergantungan, kepentingan bersama, dan kerja sama, dan juga untuk mendorong pentaatan dan pelaksanaan HAM.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

55

4. (1) Negara wajib mengambil langkah secara individu dan koleftif untuk merumuskan kebijakan pembangunan internasional untuk mempermudah pelaksanaan hak pembangunan. (2) Perlunya tindakan berkesinambungan dan kerja sama internasional untuk memberi sarana dan fasilitas yang tepat untuk meningkatkan pembangunan negara sedang berkembang.

5. Para negara harus mengambil langkah tegas untuk menghapus pelanggaran besar-besaran dan menyolok terhadap hak-hak bangsa dan umat manusia, yang dipengaruhi situasi yang diakibatkan apartheid, rasisme, diskriminasi rasial, kolonialisme, dominasi asing, pendudukan, agresi, campurtangan asing, ancaman kedaulatan nasional, kesatuan nasional, integritas teritorial, acaman perang, dan penolakan hak bangsa-bangsa menentukan nasib sendiri.

6. Para negara harus mengambil langkah untuk menghapus hambatan terhadap pembangunan sebagai akibat pengabaian hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya.

7. Semua negara harus meningkatkan perdamaian dan keamanan internasional dan untuk tujuan tersebut harus memperjuangkan perlucutan senjata dan dana pembuatan senjata digunakan untuk pembangunan yang komprehensif, terutama pembangunan negara sedang berkembang.

8. (1) Negara harus berupaya merealisasi hak atas pembangunan dan harus menjamin:

persamaan kesempatan mendapatkan akses ke sumber daya dasar, pendidikan, pelayanan kesehatan, pangan, perumahan, pekerjaan, dan pembagian pendapatan yang adil;

peran aktif perempuan dalam proses pembangunan;

penataan yang tepat bidang ekonomi dan sosial untuk memberantas ketidakadilan sosial. (2) Negara harus mendorong partisipasi rakyat dalam semua bidang sebagai faktor yang penting dalam pembangunan dan realisasi sepenuhnya semua nilai-nilai HAM.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

56

9. (1) Semua aspek hak atas pembangunan sangat perlu dan saling tergantung dan tiap aspek harus dipertimbangkan dalam konteks keseluruhan. (2) Tak satu pun ketentuan dalam deklarasi ini dapat ditafsirkan bertentangan dengan tujuan dan prinsip PBB atau secara tak langsung tiap negara, atau perbuatan yang melanggar HAM dalam Deklarasi Universal tentang HAM dan kovenan-kovenan internasional tentang HAM.

10. Harus diambil langkah-langkah untuk menjamin pelaksanaan dan peningkatan hak atas pembangunan, termasuk merumuskan, menyetujui, dan melaksanakan kebijakan kebijakan, tindakan-tindakan legislatif dan lainnya pada tingkat nasional dan internasional.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

57

Ringkasan terjemahan Yayasan Obor-Indonesia KONVENSI TENTANG HAK-HAK POLITIK WANITA (Resolusi Majelis Umum, 20 Desember 1952)

Pasal

1. Hak wanita memberikan suara dalam semua pemilihan dengan syarat-syarat yang sama dengan pria, tanpa diskriminasi apa- pun.

2. Hak wanita dipilih untuk pemilihan pada semua badan yang dipilih secara umum, dibentuk oleh hukum nasional, dengan syarat-syarat yang sama dengan pria, tanpa diskriminasi apa pun.

3. Hak wanita memegang jabatan pemerintahan dan melaksanakan semua fungsi pemerintah, yang dibentuk oleh hukum nasional, dengan syarat-syarat yang sama dengan pria, tanpa diskriminasi apa pun.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

58

Ringkasan dari terjemahan Hasta Atmojo dalam Lembar Info No. 17/98, terbitan LBH APIK DEKLARASI PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (Resolusi Majelis Umum, 20 Desember 1993)

Pasal

1. “Kekerasan terhadap perempuan” adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi.

2. Kekerasan terhadap perempuan mencakup, tapi tidak hanya terbatas pada hal-hal sbb :

a. Kekerasan fisik, seksual, dan psikologi dalam keluarga, termasuk :

- pemukulan

- penyalahgunaan seksual anak perempuan dalam rumah tangga

- kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin

- perkosaan dalam perkawinan

- pengrusakan alat kelamin perempuan

- praktek kekejaman tradisional lain terhadap perempuan

- kekerasan di luar hubungan suami-istri

- kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi

b. dalam masyarakat luas, termasuk :

- perkosaan

- penyalahgunaan seksual

- pelecehan dan ancaman seksual di tempat kerja, dalam lembaga pendidikan, dsb.

- perdagangan perempuan

- pelacuran paksa

c. yang dilakukan atau dibenarkan oleh negara, di mana pun

terjadinya.

3. Kaum perempuan berhak menikmati dan memperoleh perlindungan HAM dan kebebasan asasi yang sama dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil, atau bidang- bidang lainnya. Hak-hak tersebut termasuk, a.l:

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

59

Hak atas kehidupan

Hak atas persamaan

Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi

Hak atas perlindungan yang sama di muka umum

Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi

Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik dan mental yang sebaik-baiknya

Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik

Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau kekejaman lain, perlakuan atau penyiksaan tidak manusiawi atau sewenang-wenang.

KEWAJIBAN NEGARA

4. - Mengutuk kekerasan terhadap perempuan dan tidak berlindung di balik pertimbangan adat, tradisi, atau keagamaan.

- Meneruskan kebijakan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.

- Untuk tujuan itu, negara harus :

(1) Mempertimbangkan, meratifikasi, atau menerima Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, atau menolak keberatan terhadap konvensi tersebut. (2) Menghentikan kebiasaan melakukan kekerasan tersebut. (3) Berusaha terus-menerus untuk mencegah, mengusut, dan menghukum pelakunya baik yang dilakukan oleh negara maupun perseorangan. (4) Mengembangkan sanksi-sanksi hukum, sipil, ketenagakerjaan, dan administratif dalam per-Undang- undangan nasional untuk menghukum dan menindak kesalahan yang menyebabkan perempuan menjadi korban kekerasan. Hak perempuan korban yang mengalami kekerasan mendapatkan akses kepada mekanisme pengadilan dan memperoleh kompensasi atas kerugian. (5) Mempertimbangkan kemungkinan rencana aksi nasional untuk meningkatkan perlindungan atau memasukkan ketentuan ke dalam rencana yang telah ada, dan memperhitungkan bentuk kerja sama dengan LSM.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

60

(6) Mengembangkan pendekatan preventif dengan perangkat hukum, politik, administratif, dan budaya guna meningkatkan perlidungan dan menjamin tak ada lagi korban akibat hukum yang sudah peka gender, praktek pemaksaan, atau campur tangan lainnya. (7) Menjamin sehingga perempuan korban dan bila mungkin anak mereka mendapatkan bantuan khusus, seperti rehabilitasi, bantuan pengasuhan dan pemeliharaan anak, peralatan, bimbingan, pelayanan kesehatan dan sosial, fasilitas, dan program. (8) Memasukkan dalam anggaran pemerintah dana untuk membiayai kegiatan penghapusan kekerasan tersebut. (10) Mengadopsi perangkat peraturan yang layak, khususnya di bidang pendidikan, untuk memodifikasi pola perilaku sosial dan budaya laki-laki dan perempuan dan menghilangkan prasangka, praktek adat, dan praktek lain berdasar inferioritas dan superioritas seksual dan stereotip peran laki-laki dan perempuan. (11) Meneliti, khususnya kekerasan dalam rumah tangga dan mengumumkan data statistik dan semua penelitian secara terbuka. (15) Mengakui pentingnya peran gerakan perempuan dan LSM di seluruh dunia. (16) Memfasilitasi dan mempertinggi kinerja gerakan perempuan dan LSM. (17) Menggagas organisasi regional antar pemerintah dengan program-program antara lain melawan kekerasan terhadap perempuan.

5. Organ-organ dan badan-badan khusus PBB dalam penghormatan mereka terhadap bidang ini hendaknya:

menyokong upaya kerjasama internasional dan regional dalam mendefinisikan strategi-strategi dan aktivitas dalam rangka melawan kekerasan terhadap perempuan, serta mempromosikan kegiatan-kegiatan penyadaran hak perempuan.

6. Tidak ada satupun dalam deklarasi ini dapat membatasi atau mengurangi hak mana pun yang ditetapkan dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

61

Ringkasan KETETAPAN MPR No. XVII/1998 TENTANG HAK ASASI MANUSIA, 13 November 1998

Pembukaan Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati, universal, dan abadi sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak keadilan, hak kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak keamanan, dan hak kesejahteraan yang oleh karena itu tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun.

Bab I

Pasal 1:

Hak untuk Hidup Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Bab II

Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan

Pasal 2:

Hak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

Bab III Hak Mengembangkan Diri Pasal 3: Hak atas pemenuhan kebutuhan dasar untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Pasal 4: Hak atas perlindungan dan kasih sayang untuk pengembangan pribadinya. Hak memperoleh dan mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup. Pasal 5: Hak untuk mengembangkan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi,seni, dan budaya, demi kesejahteraan umat manusia. Pasal 6: Hak untuk memajukan diri dengan memperjuangkan hak-haknya secara kolektif serta membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Bab IV Hak Keadilan Pasal 7: Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan perlakuan hukum yang adil. Pasal 8: Hak mendapatkan kepastian hukum dan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Pasal 9: Hak mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

62

Pasal 10: Hak atas status kewarganegaraan. Pasal 11: Hak atas kesempatan yang sama untuk bekerja. Pasal 12: Hak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

Bab V Hak Kemerdekaan Pasal 13: Kebebasan memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pasal 14: Hak atas kebebasan menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati nurani. Pasal 15: Kebebasan memilih pendidikan dan pengajaran. Pasal 16: Kebebasan memilih pekerjaan. Pasal 17: Kebebasan memilih kewarganegaraan. Pasal 18: Kebebasan bertempat tinggal di wilayah negara, meninggalkannya, dan berhak untuk kembali. Pasal 19: Hak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Bab VI Hak atas Kebebasan Informasi Pasal 20: Hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Pasal 21: Hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Bab VII Hak Keamanan Pasal 22: Hak atas rasa aman dan perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Pasal 23: Hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta miliknya. Pasal 24: Hak mencari suaka untuk memperoleh perlindungan politik dari negara lain. Pasal 25: Hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Pasal 26: Hak ikut serta dalam upaya pembelaan negara

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

63

Bab VIII Hak Kesejahteraan Pasal 27: Hak hidup sejahtera lahir dan batin. Pasal 28: Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 29: Hak bertempat tinggal serta berperikehidupan yang layak. Pasal 30: Hak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus di masa kanak-kanak, di hari tua, dan apabila menyandang cacat. Pasal 31: Hak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. Pasal 32: Hak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambilalih secara sewenang- wenang oleh siapa pun. Pasal 33: Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Bab IX Kewajiban Pasal 34: Kewajiban setiap orang menghormati hak asasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pasal 35: Kewajiban setiap orang ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 36: Kewajiban setiap orang tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang dalam menjalankan hak kebebasannya.

Bab X Perlindungan dan Pemajuan Pasal 37: Hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun (non-derogable) adalah :

hak untuk hidup

hak untuk tidak disiksa

hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani

hak beragama

hak untuk tidak diperbudak

hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum

hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut Hak atas kebebasan dari dan mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan diskriminatif.

Pasal 38:

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

64

Pasal 39: Hak laki-laki dan perempuan mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama Pasal 40: Hak kelompok masyarakat yang rentan, seperti anak- anak dan fakir miskin, mendapatkan perlindungan lebih terhadap hak asasinya. Pasal 41: Hak masyarakat tradisional agar identitas budaya, termasuk hak atas tanah ulayat, dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman. Pasal 42: Hak mendapatkan jaminan dan perlindungan atas hak warga negara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. Pasal 43: Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pasal 44: Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

65

DEKLARASI UMUM TENTANG HAK-HAK ASASI MANUSIA

PENGANTAR

Semua manusia lahir dengan hak-hak yang sama dan mutlak dan dengan kebebasan-kebebasan fundamental. Perserikatan Bangsa-bangsa memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi, menggalakkan dan melindungi hak-hak asasi manusia dari setiap individu. Komitmen ini berawal dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menegaskan keyakinan bangsa-bangsa di dunia pada hak- hak asasi manusia yang fundamental dan pada martabat dan nilai manusia.

Di dalam Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan dengan jelas dan sederhana hak-hak yang menjadi milik setiap orang secara adil. Hak-hak tersebut adalah milik anda. Dia adalah hak anda. Kenalilah hak-hak anda tersebut. Bantulah dalam menggalakkan dan mempertahankannya untuk anda sendiri maupun untuk sesama manusia yang lain.

KETENTUAN INTERNASIONAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA 1

MUKADIMAH

Bahwa pengakuan atas martabat yang melekat pada dan hak-hak yang

sama dan tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah

landasan bagi kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia,

Bahwa pengabaian dan penghinaan terhadap hak-hak asasi manusia telah

mengakibatkan tindakan-tindakan keji yang membuat berang nurani manusia, dan

terbentuknya suatu dunia dimana manusia akan menikmati kebebasan berbicara

dan berkeyakinan, serta kebebasan dari ketakutan dan kekurangan telah

dinyatakan sebagai aspirasi tertinggi manusia pada umumnya,

Bahwa sangat penting untuk melindungi hak-hak asasi manusia dengan

peraturan hukum supaya orang tidak akan terpaksa memilih jalan pemberontakan

sebagai usaha terakhir menentang tirani dan penindasan,

Bahwa sangat penting untuk memajukan hubungan persahabatan antar

bangsa-bangsa,

Bahwa bangsa-bangsa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalam Piagam

PBB telah menegaskan kembali kepercayaan mereka terhadap hak-hak asasi

manusia yang mendasar, terhadap martabat dan nilai setiap manusia, dan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

66

terhadap persamaan hak-hak laki-laki dan perempuan, dan telah mendorong kemajuan sosial dan standar kehidupan yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih luas, Bahwa bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Negara Peserta telah berjanji mencapai kemajuan universal dalam penghormatan dan ketaatan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar, Bahwa pemahaman yang sama tentang hak-hak dan kebebasan ini sangat penting dalam untuk mewujudkan janji tersebut sepenuhnya,

Oleh karena itu, dengan ini Majelis Umum,

Memproklamirkan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia sebagai standar umum keberhasilan semua manusia dan semua bangsa dengan tujuan bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan senantiasa mengingat Deklarasi ini, akan berusaha melalui cara pengajaran dan pendidikan untuk memajukan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan ini, dan melalui upaya-upaya yang progresif baik secara nasional dan internasional, menjamin pengakuan dan ketaatan yang universal dan efektif, baik oleh rakyat Negara Peserta maupun rakyat yang berada di dalam wilayah yang masuk dalam wilayah hukumnya.

Pasal 1 Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal budi dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu dengan yang lain dalam semangat persaudaraan.

Pasal 2 Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang tercantum dalam Deklarasi ini tanpa pembedaan dalam bentuk apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik atau keyakinan lainnya, asal usul kebangsaan dan sosial, hak milik, kelahiran atau status lainnya. Selanjutnya, pembedaan tidak dapat dilakukan atas dasar status politik, hukum atau status internasional negara atau wilayah dari mana seseorang

berasal, baik dari negara merdeka, wilayah perwalian, wilayah tanpa pemerintahan sendiri, atau wilayah yang berada di bawah batas kedaulatan lainnya.

Pasal 3 Setiap orang berhak atas kehidupan, kemerdekaan dan keamanan pribadi.

Pasal 4 Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhambakan; perbudakan dan perdagangan budak dalam bentuk apapun wajib dilarang.

Pasal 5 Tidak seorangpun boleh disiksa atau diperlakukan atau dihukum secara keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat.

Pasal 6 Setiap orang berhak atas pengakuan sebagai pribadi di depan hukum di mana saja ia berada.

Pasal 7 Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi apapun. Semua orang berhak untuk mendapatkan perlindungan yang sama terhadap diskriminasi apapun yang melanggar Deklarasi ini dan terhadap segala hasutan untuk melakukan diskriminasi tersebut.

Pasal 8 Setiap orang berhak atas penyelesaian yang efektif oleh peradilan nasional yang kompeten, terhadap tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak mendasar yang diberikan padanya oleh konstitusi atau oleh hukum.

Pasal 9 Tidak seorangpun yang dapat ditangkap, ditahan atau diasingkan secara sewenang-wenang.

Pasal 10 Setiap orang berhak, dalam persamaan yang penuh, atas pemeriksaan yang adil dan tebuka oleh peradilan yang bebas dan tidak memihak, dalam

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

68

penentuan atas hak-hak dan kewajibannya serta dalam setiap tuduhan pidana terhadapnya.

Pasal 11

1. Setiap orang yang dituduh melakukan tindak pidana berhak untuk dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya sesuai dengan hukum, dalam pengadilan yang terbuka, di mana ia memperoleh semua jaminan yang dibutuhkan untuk pembelaannya.

2. Tidak seorangpun dapat dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana karena perbuatan atau kelalaian, yang bukan merupakan pelanggaran pidana berdasarkan hukum nasional atau internasional ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak boleh dijatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang berlaku pada saat pelanggaran dilakukan.

Pasal 12 Tidak seorangpun boleh diganggu secara sewenang-wenang dalam urusan pribadi, keluarga, rumah tangga atau hubungan surat-menyuratnya, juga tidak boleh dilakukan serangan terhadap kehormatan dan reputasinya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau penyerangan seperti itu.

Pasal 13

1. Setiap orang berhak untuk bebas bergerak dan bertempat tinggal dalam batas- batas setiap Negara.

2. Setiap orang berhak untuk meninggalkan negaranya termasuk negaranya sendiri, dan kembali ke negaranya.

Pasal 14

1. Setiap orang berhak untuk mencari dan menikmati suaka di negara lain untuk menghindari penuntutan atau tindakan pengejaran sewenang- wenang (persecution).

2. Hak-hak ini tidak berlaku dalam kasus-kasus penuntutan yang benar-benar timbul karena kejahatan non-politik atau tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

69

Pasal 15

1. Setiap orang berhak atas kewarganegaraan.

2. Tidak seorangpun dapat dicabut kewarganegaraannya secara sewenang- wenang atau ditolak haknya untuk mengubah kewarganegaraannya.

Pasal 16

1. Laki-laki dan perempuan dewasa, tanpa ada pembatasan apapun berdasarkan ras, kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan membentuk keluarga. Mereka mempunyai Hak-hak yang sama dalam hal perkawinan, dalam masa perkawinan dan pada saat berakhirnya perkawinan.

2. Perkawinan hanya dapat dilakukan atas dasar kebebasan dan persetujuan penuh dari pihak yang hendak melangsungkan perkawinan.

3. Keluarga merupakan satuan kelompok masyarakat yang alamiah dan mendasar dan berhak atas perlindungan dari masyarakat dan Negara. Pasal 17

1. Setiap orang berhak untuk memiliki harta benda baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan orang lain.

2. Tidak seorangpun dapat dirampas harta bendanya secara sewenang- wenang.

Pasal 18 Setiap orang berhak atas kemerdekaan berpikir, berkeyakinan dan beragama; hak ini mencakup kebebasan untuk berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan pengajaran, peribadatan, pemujaan dan ketaatan, baik sendiri maupun bersama- sama dengan orang lain, di muka umum maupun secara pribadi.

Pasal 19 Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan menyatakan pendapat; hak ini mencakup kebebasan untuk berpegang teguh pada suatu pendapat tanpa ada intervensi, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan tanpa memandang batas-batas wilayah.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

70

Pasal 20

1. Setiap orang berhak atas kebebasan berkumpul secara damai dan berserikat.

2. Tidak seorangpun dapat dipaksa untuk menjadi anggota suatu perkumpulan.

Pasal 21

1. Setiap orang berhak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan negaranya, baik secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilihnya secara bebas.

2. Setiap orang berhak atas akses yang sama untuk memperoleh pelayanan umum di negaranya.

3. Keinginan rakyat harus dijadikan dasar kewenangan pemerintah; keinginan tersebut harus dinyatakan dalam pemilihan umum yang dilakukan secara berkala dan sungguh-sungguh, dengan hak pilih yang bersifat universal dan sederajat, serta dilakukan melalui pemungutan suara yang rahasia ataupun melalui prosedur pemungutan suara secara bebas yang setara.

Pasal 22 Setiap orang sebagai anggota masyarakat berhak atas jaminan sosial dan terwujudnya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan untuk martabat dan perkembangan kepribadiannya dengan bebas, melalui usaha-usaha nasional maupun kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan dan sumber daya yang ada pada setiap negara .

Pasal 23

1. Setiap orang berhak atas buruhan, untuk memilih buruhan dengan bebas, atas kondisi buruhan yang adil dan menyenangkan, dan atas perlindungan terhadap pengangguran.

2. Setiap orang berhak atas upah yang sama untuk buruhan yang sama, tanpa diskriminasi.

3. Setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan memadai, yang bisa menjamin penghidupan yang layak bagi dirinya maupun keluarganya sesuai dengan martabat manusia, dan apabila perlu

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

71

ditambah dengan perlindungan sosial lainnya.

4. Setiap orang berhak mendirikan dan bergabung dengan serikat buruh untuk melindungi kepentingannya.

Pasal 24 Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan jam kerja yang layak dan liburan berkala dengan menerima upah.

Pasal 25

1. Setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk Hak-hak atas pangan, sandang, papan, dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial yang diperlukan, serta hak atas keamanan pada saat menganggur, sakit, cacat, ditinggalkan oleh pasangannya, usia lanjut, atau keadaan-keadaan lain yang mengakibatkan merosotnya taraf kehidupan yang terjadi diluar kekuasaannya.

2. Ibu dan anak-anak berhak mendapatkan perhatian dan bantuan khusus. Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus menikmati perlindungan sosial yang sama.

Pasal 26

1. Setiap orang berhak atas pendidikan. Pendidikan harus cuma-cuma, paling tidak pada tahap-tahap awal dan dasar. Pendidikan dasar harus diwajibkan. Pendidikan teknis dan profesional harus terbuka bagi semua orang, dan begitu juga pendidikan tinggi harus terbuka untuk semua orang berdasarkan kemampuan.

2. Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan sepenuhnya kepribadian manusia, dan untuk memperkuat penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Pendidikan harus meningkatkan pengertian, toleransi dan persaudaraan di antara semua bangsa, kelompok rasial dan agama, dan wajib untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam memelihara perdamaian.

3. Orang tua mempunyai Hak-hak pertama untuk memilih jenis pendidikan yang akan diberikan pada anaknya.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

72

Pasal 27

1. Setiap orang berhak untuk secara bebas berpartisipasi dalam kehidupan budaya masyarakat, menikmati seni, dan turut mengecap kemajuan ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

2. Setiap orang berhak atas perlindungan terhadap keuntungan moral dan materil yang diperoleh dari karya ilimiah, sastra atau seni apapun yang diciptakannya.

Pasal 28 Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional, di mana hak- hak dan kebebasan-kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya.

Pasal 29

1. Setiap orang mempunyai kewajiban kepada masyarakat tempat satu- satunya di mana ia dimungkinkan untuk mengembangkan pribadinya secara bebas dan penuh.

2. Dalam pelaksanaan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang hanya tunduk pada batasan-batasan yang ditentukan oleh hukum, semata- mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain, dan memenuhi persyaratan-persyaratan moral, ketertiban umum dan kesejahteraan umum yang adil dalam masyarakat yang demokratis.

3. Hak-hak dan kebebasan-kebebasan ini dengan jalan apapun tidak dapat dilaksanakan apabila bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 30 Tidak ada satu ketentuan pun dalam Deklarasi ini yang dapat ditafsirkan sebagai memberikan hak-hak pada suatu Negara, kelompok atau orang, untuk terlibat dalam aktivitas atau melakukan suatu tindakan yang bertujuan untuk menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan apapun yang diatur di dalam Deklarasi ini

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

73

KONVENSI HAK-HAK ANAK

Disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November 1989

MUKADIMAH N e g a r a - N e g a r a Peserta/Penandatangan Konvensi

Mengingat bahwa, sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Piagam PBB, pengakuan atas martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut yang dimiliki oleh seluruh anggota keluarga manusia merupakan landasan dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di seluruh dunia.

Mengingat bahwa suku-suku bangsa dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menegaskan lagi dalam Piagam itu keyakinan mereka pada hak-hak asasi manusia, dan bertekad meningkatkan kemajuan sosial dan taraf kehidupan dalam kemerdekaan yang lebih luas.

Menyadari bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Deklarasi Sedunia tentang Hak-Hak Asasi Manusia, dan dalam Perjanjian-Perjanjian Internasional Hak-Hak Asasi Manusia, telah menyatakan dan menyetujui bahwa setiap orang berhak atas seluruh hak dan kemerdekaan yang dinyatakan di dalamnya, tanpa perbedaan dalam bentuk apapun, seperti perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik dan pandangan lain, asal-usul bangsa dan sosial, harta kekayaan, kelahiran dan status lain.

Mengingat bahwa, dalam Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia Sedunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyatakan bahwa masa kanak-kanak berhak memperoleh pemeliharaan dan bantuan khusus.

Meyakini bahwa keluarga, sebagai kelompok inti dari masyarakat dan sebagai lingkungan yang alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan seluruh anggotanya dan khususnya anak-anak, hendaknya diberi perlindungan dan bantuan yang diperlukan sehingga keluarga mampu mengemban tanggung jawabnya dalam masyarakat.

Menyadari bahwa anak, demi pengembangan kepribadiannya secara penuh dan serasi, hendaknya tumbuh kembang dalam suatu lingkungan keluarga, dalam suatu lingkungan yang bahagia, penuh kasih sayang dan pengertian.

Menimbang bahwa anak harus sepenuhnya dipersiapkan untuk megnhayati kehidupan pribadi dalam masyarakat dan dibesarkan dalam semangat cita-cita yang dinyatakan dalam Piagam PBB, dan khususnya dalam semangat perdamaian, martabat, tenggang rasa, kemerdekaan, persamaan dan kesetiakawanan.

Mengingat bahwa perlunya perluasan pelayanan khusus bagi anak telah dinyatakan dalam Deklarasi Jenewa tentang Hak-Hak Asasi Anak tahun 1924 dan dalam Deklarasi Hak-Hak Anak yang disetujui Majelis Umum PBB pada tahun 1959 dan diakui dalam Deklarasi Hak-Hak Sipil dan Politik (khususnya pasal 23

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

74

dan 24), dalam Perjanjian Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya (khususnya pasal 10) dan dalam ketentuan-ketentuan dan instrumen- instrumen terkait dari badan-badan khusus dan organisasi-organisasi internasional yang berkepentingan dengan kesejahteraan anak.

Mengingat bahwa, sebagaimana yang dinyatakan dalam Deklarasi Hak-Hak Anak, “anak karena ketidakmatangan jasmani dan mentalnya, memerlukan pengamatan dan pemeliharaan khusus termasuk perlindungan hukum yang layak, sebelum dan sesudah kelahiran”.

Mengingat ketentuan-ketentuan Deklarasi tentang Prinsip-prinsip Sosial dan Hukum sehubungan dengan Perlindungan dan Kesejahteraan Anak, dengan Rujukan khusus pada Penempatan sebagai Anak Angkat dan Adopsi secara Nasional maupun Internasional, Ketentuan-Ketentuan Minimum PBB yang baku bagi Pelaksanaan Peradilan Anak (ketentuan-ketentuan Beijing), dan Deklarasi tentang Perlindungan terhadap Wanita dan Anak dalam Keadaan Darurat dan Persengketaan Bersenjata.

Mengakui bahwa, di semua negara di dunia, ada anak-anak yang hidup dalam keadaan yang sulit, dan bahwa anak-anak seperti itu membutuhkan perhatian khusus.

Memperhatikan pentingnya nilai-nilai tradisi dan budaya dari setiap bangsa demi perlindungan dan pengembangan anak yang serasi.

Mengakui pentingnya kerjasama internasional untuk meningkatkan kondisi kehidupan anak di setiap negara, khususnya di negara-negara berkembang.

Telah menyetujui sebagai berikut:

BAGIAN I

Pasal 1

Yang dimaksud anak dalam Konvensi ini adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.

Pasal 2

1. Negara-negara Peserta anak menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi ini terhadap setiap anak dalam wilayah hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang rasa warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan lain, asal-usul bangsa, suku bangsa atau sosial, harta kekayaan, cacat, kelahiran atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum.

Negara-Negara Peserta akan mengambil langkah-langkah yang layak untuk menjamin bahwa anak dilindungi terhadap semua bentuk diskriminasi atau

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

75

hukuman yang didasarkan pada status, kegiatan, pendapat yang dikukuhkan atau kepercayaan orang tua anak, walinya yang sah, atau anggota keluarganya.

Pasal 3

1. Dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga- lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau swasta, lembaga peradilan, lembaga pemerintah atau badan legislatif, kepentingan terbaik anak akan merupakan pertimbangan utama.

2. Negara-negara Peserta berupaya untuk menjamin adanya perlindungan dan perawatan sedemikian rupa yang diperlukan untuk kesejahteraan anak, dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua anak, walinya yang sah, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab atas anak yang bersangkutan, dan untuk maksud ini, akan mengambil semua tindakan legislatif dan administratif yang layak.

3. Negara-Negara Peserta akan menjamin bahwa lembaga-lembaga, instansi- instansi dan fasilitas-fasilitas yang bertanggung jawab atas pemeliharaan dan perlindungan anak, akan menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, terutama dalam bidang keselamatan, kesehatan, baik dalam jumlah maupun petugas yang sesuai, jumlah dan keserasian petugas mereka, begitu pula pengawasan yang berwenang.

Pasal 4

Negara-Negara Peserta akan mengambil semua langkah legislatif dan administratif, dan langkah-langkah lain untuk pelaksanaan hak-hak yang diakui dalam Konvensi ini. Sepanjang yang menyangkut hak ekonomi, sosial dan budaya, Negara-Negara Peserta akan mengambil langkah-langkah seperti itu secara maksimal dari sumber-sumber yang tersedia, bila diperlukan, dalam kerangka kerjasama internasional.

Pasal 5

Negara-Negara Peserta akan menghormati tanggung jawab, hak dan kewajiban para orang tua atau, bila dapat diterapkan, para anggota keluarga besar luas atau masyarakat sebagaimana yang ditentukan oleh adat istiadat setempat, wali yang sah atau orang-orang lain yang secara hukum bertanggung-jawab atas anak yang bersangkutan, untuk memberi pengarahan dan bimbingan yang layak kepada anak dalam penerapan hak-haknya yang diakui dalam Konvensi ini, dengan cara yang sesuai dengan kemampuannya.

Pasal 6

1. Negara-Negara Peserta mengakui bahwa setiap anak memiliki hak yang merupakan kodrat hidup.

2. Negara-Negara Peserta semaksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan pengembangan anak.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

76

Pasal 7

1. Anak akan didaftarkan segera setelah kelahiran dan sejak lahir berhak atas sebuah nama, berhak memperoleh kewarganegaraan, dan sejauh memungkinkan, berhak mengetahui dan dipelihara oleh orangtuanya.

2. Negara-Negara Peserta akan menjamin pelaksanaan hak-hak ini sesuai dengan hukum nasional dan kewajiban-kewajiban mereka berdasarkan perangkat-perangkat internasional yang terkait dalam bidang ini, khususnya jika, anak akan menjadi tanpa kewarganegaraan.

Pasal 8

1. Negara-Negara Peserta berupaya untuk menghormati hak anak untuk mempertahankan identitasnya, termasuk kewarganegaraannya, nama dan hubungan keluarga sebagaimana yang diakui oleh undang-undang tanpa campur tangan yang tidak sah.

2. Dalam beberapa hal atau semua unsur identitas seorang anak dirampas secara tidak sah, Negara-Negara Peserta akan memberi bantuan dan perlindungan yang layak dengan tujuan memulihkan kembali identitas anak dengan cepat.

Pasal 9

1. Negara-Negara Peserta akan menjamin bahwa seorang anak tidak akan dipisahkan dari orang tuanya bertentangan dengan keinginan anak, kecuali bila penguasa yang berwenang yang tunduk pada peninjauan kembali oleh pengadilan menetapkan, sesuai dengan undang-undang dan prosedur yang berlaku, bahwa pemisahan tersebut diperlukan untuk kepentingan yang terbaik dari anak itu sendiri. Penetapan seperti itu mungkin diperlukan dalam kasus khusus seperti kasus yang melibatkan penyalahgunaan atau penelantaran anak yang bersangkutan oleh orang tuanya, atau kasus dimana kedua orang tuanya hidup terpisah, dan suatu keputusan harus menetapkan tempat tiggal anak tersebut.

2. Dalam setiap proses hukum menurut ayat 1 dari pasal ini, semua pihak yang berkepentingan akan diberi kesempatan untuk turut serta dalam proses tersebut dan diberi kesempatan untuk mengemukakan pandangan mereka.

3. Negara-Negara Peserta akan menghormati hak anak yang terpisah dari salah satu atau kedua orang tuanya, untuk mempertahankan hubungan pribadi dan hubungan langsung secara tetap dengan kedua orang tuanya, kecuali hal ini bertentangan dengan kepentingan terbaik dari anak yang bersangkutan.

4. Dalam hal pemisahan sedemikian itu merupakan akibat dari tindakan yang dilakukan oleh suatu negara peserta seperti penahanan, pemenjaraan, pembuangan, deportasi atau kematian termasuk kematian karena sebab apapun sementara orang yang bersangkutan dalam tahanan negara peserta salah satu atau kedua orang tuanya atau kematian anak yang bersangkutan. Negara Peserta tersebut, atas permintaan, akan memberikan kepada orang tua, anak atau, jika layak, kepada anggota keluarga yang lain, informasi penting mengenai dimana keberadaan anggota keluarga yang absen itu, kecuali jika pemberian informasi seperti itu akan mengganggu kehidupan anak yang bersangkutan. Negara-Negara Peserta lebih jauh akan menjamin bahwa

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

77

pemenuhan permintaan seperti itu tidak akan membawa akibat yang merugikan bagi orang yang berkepentingan.

Pasal 10

1. Sesuai dengan kewajiban Negara-Negara Peserta berdasarkan Pasal 9 ayat 1, permohonan yang diajukan oleh seorang anak atau orang tuanya untuk memasuki atau meninggalkan suatu Negara Peserta dengan tujuan untuk penyatuan kembali keluarga akan ditangani oleh Negara-Negara Peserta dengan cara yang positif, manusiawi dan cepat. Negara-Negara Peserta lebih jauh akan menjamin bahwa pemenuhan permintaan seperti itu tidak akan membawa akibat yang merugikan bagi pemohon dan bagi anggota keluarga mereka.

2. Seorang anak yang orang tuanya bertempat tinggal di negara yang berbeda akan berhak untuk memelihara hubungan pribadi dan kontak langsung dengan kedua orangtuanya secara tetap. Untuk tujuan itu dan sesuai dengan kewajiban Negara-Negara Peserta berdasarkan Pasal 9 ayat 1, Negara- Negara Peserta akan menghormati hak-hak anak dan hak orang tuanya untuk meninggalkan suatu negara, termasuk negara mereka sendiri, dan hak mereka untuk memasuki negaranya. Hak untuk meninggalkan suatu negara hanya tunduk pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh Undang-undang dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional, ketertiban umum, kesehatan umum, moral umum, atau hak dan kebebasan orang lain dan yang sesuai dengan hak-hak lainnya yang diakui dalam Konvensi ini.

Pasal 11

1. Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah untuk memberantas penyerahan anak keluar negeri yang dilakukan secara gelap dan yang tidak dapat kembali.

2. Untuk tujuan ini, Negara-Negara Peserta akan meningkatkan persetujuan- persetujuan bilateral atau multilateral atau penambahan atas persetujuan- persetujuan yang sudah ada.

Pasal 12

1. Negara-Negara Peserta akan menjamin anak-anak yang mampu membentuk pandangannya sendiri, bahwa mereka mempunyai hak untuk menyatakan pandangan-pandangannya secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak, dan pandangan anak dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kematangan anak.

2. Untuk tujuan ini, anak secara khusus akan diberi kesempatan untuk didengar dalam setiap proses peradilan dan administratif yang mempengaruhi anak, baik secara langsung, atau melalui suatu perwakilan atau badan yang tepat, dengan cara yang sesuai dengan hukum acara nasional.

Pasal 13

1. Anak mempunyai hak untuk secara bebas menyatakan pendapat; hak ini akan mencakup kebebasan yang terlepas dari pembatasan untuk meminta,

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

78

menerima dan memberi informasi dan gagasan dalam segala jenis, baik secara lisan, tertulis atau cetakan, dalam bentuk seni, atau melalui media lain menurut pilihan anak yang bersangkutan.

2. Penggunaan hak ini dapat disertai pembatasan-pembatasan tertentu, tetapi pembatasan ini hanya dapat ditetapkan oleh undang-undang yang diperlukan:

(a)

untuk menghormati hak-hak atau reputasi orang lain; atau

(b)

untuk melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum, kesehatan umum dan moral.

Pasal 14

1. Negara-Negara Peserta akan menghormati hak anak atas kemerdekaan berfikir, hati nurani dan beragama.

2. Negara-Negara Peserta akan menghormati hak dan kewajiban kedua orang tua dan, apabila sesuai, hak dan kewajiban wali yang sah, untuk memberi pengarahan kepada anak dalam menerapkan haknya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan kemampuan anak.

3. Kebebasan untuk memanifestasikan agama atau kepercayaan seseorang hanya tunduk pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang- undang dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan umum dan moral, atau hak-hak asasi dan kebebasan orang lain.

Pasal 15

Negara-Negara Peserta mengakui hak anak atas kemerdekaan berserikat dan kemerdekaan berkumpul dengan damai.

Tak ada pembatasan yang dikenakan untuk melakukan hak-hak ini selain yang telah ditetapkan sesuai dengan undang-undang dan yang diperlukan di dalam masyarakat demokratis demi kepentingan keamanan nasional atau keselamatan umum, ketertiban umum, perlindungan kesehatan umum atau moral atau perlindungan hak dan kemerdekaan orang lain.

Pasal 16

1. Tak seorang anakpun akan tunduk pada campur tangan sewenang-wenang dan tidak sah atas kehidupan pribadinya, keluarga, rumah tangganya atau yang dilakukan surat menyurat, juga atas serangan-serangan yang tidak sah atas kehormatan dan reputasinya.

2. Anak berhak atas perlindungan hukum terhadap campur tangan atau serangan seperti itu.

Pasal 17

Negara-Negara Peserta mengakui fungsi penting yang dilaksanakan oleh media massa dan akan menjamin bahwa anak bisa memperoleh informasi dan bahan dari berbagai sumber nasional dan internasional, terutama sumber-sumber yang dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan sosial, spiritual dan moralnya serta untuk kesehatan rohani dan jasmaninya. Untuk tujuan ini, Negara-Negara Peserta akan :

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

79

(a)

Mendorong media massa untuk menyebarluaskan informasi dan bahan yang bermanfaat dari segi sosial dan budaya bagi anak dan sesuai dengan semangat Pasal 29.

(b)

Mendorong kerja-sama internasional dalam pengadaan, pertukaran dan penyebar-luasan informasi dan bahan-bahan seperti itu dari berbagai sumber kebudayaan, nasional dan internasional.

(c)

Mendorong pengadaan dan penyebarluasan buku-buku anak.

(d)

Mendorong media massa untuk secara khusus memperhatikan kebutuhan studi bahasa anak yang termasuk kelompok minoritas atau pribumi

(e)

Mendorong pengembangan pedoman-pedoman yang tepat untuk melindungi anak dari informasi dan bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupannya, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Pasal 13 dam Pasal 18.

Pasal 18

1. Negara-negara Peserta akan membuat upaya yang terbaik guna menjamin pengakuan atas prinsip bahwa kedua orang tua memikul tanggung-jawab bersama untuk membesarkan dan mengembangkan anak. Orang tua, atau mungkin, walinya yang sah, memikul tanggung-jawab utama untuk membesarkan dan mengembangkan anak yang bersangkutan. Kepentingan terbaik anak akan menjadi perhatian utama.

2. Untuk menjamin dan meningkatkan hak-hak yang dinyatakan dalam Konvensi ini, Negara-negara Peserta akan memberi bantuan yang layak kepada orang tua dan wali yang sah dalam pelaksanaan tanggung-jawab membesarkan anak dan akan menjamin pengembangan lembaga-lembaga, fasilitas dan pelayanan untuk memelihara anak.

3. Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang layak untuk menjamin bahwa anak yang kedua orang tuanya bekerja berhak untuk memperoleh manfaat dari jasa pelayanan pemeliharaan anak dalam hal mereka telah memenuhi syarat memperolehnya.

Pasal 19

1. Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah legislatif administratif, sosial dan pendidikan yang layak guna melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental, atau penyalahgunaan, penelantaran atau perlakuan salah, luka (injury) atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seksual, sementara mereka dalam pemeliharaan orang tua, wali yang sah atau setiap orang lain yang memelihara anak.

2. Langkah-langkah yang perlindungan seperti itu, hendaknya, jika dianggap layak, mencakup prosedur-prosedur yang efektif dalam menetapkan program- program sosial guna memberi dukungan yang diperlukan bagi anak, dan mereka yang berhak memelihara anak dan juga dalam menetapkan bentuk- bentuk pencegahan dan bagi kepentingan identifikasi, pelaporan, rujukan, pemeriksaan, perlakuan dan tindak lanjut dari contoh-contoh pemeliharaan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

80

yang salah seperti yang diuraikan diatas, dan, jika perlu bagi kepentingan proses pribadi, untuk keterlibatan peradilan.

Pasal 20

1. Seorang anak yang kehilangan lingkungan keluarganya baik sementara maupun tetap, atau demi kepentinganya yang terbaik tidak dapat terus berada dalam lingkungan itu, akan berhak memperoleh dukungan dan bantuan khusus dari Negara.

2. Negara-negara Peserta sesuai dengan hukum nasional mereka, akan menjamin adanya pemeliharaan alternatif untuk anak seperti itu.

3. Pemeliharaan seperti itu bisa mencakup, antara lain, tempat penitipan anak, hukum Islam Kafala, adopsi atau jika perlu penempatan dalam lembaga- lembaga yang sesuai untuk pemeliharaan anak. Dalam mempertimbangkan pemecahan masalah, perhatian selayaknya diberikan pada kesinambungan pengasuhan anak dan pada latar belakang suku bangsa dan agama, kebudayaan dan bahasa anak yang bersangkutan.

Pasal 21

Negara-negara Peserta yang mengakui dan/atau membolehkan sistem adopsi akan menjamin bahwa kepentingan terbaik anak yang bersangkutan akan merupakan pertimbangan paling utama dan negara-negara itu akan :

(a)

menjamin bahwa adopsi anak hanya disahkan oleh penguasa yang berwenang yang menetapkan, sesuai dengan hukum dan prosedur yang berlaku dan berdasarkan semua informasi yang terkait dan terpercaya bahwa adopsi itu diperkenankan mengingat status anak sehubungan dengan keadaan orangtua, keluarga dan walinya yang sah dan, jika disyaratkan, orang-orang yang berkepentingan telah memberi persetujuan mereka atas adopsi tersebut atas dasar nasehat yang mungkin diperlukan.

(b)

Mengakui bahwa adopsi antarnegara dapat dianggap sebagai alternatif pemeliharaan anak, jika anak tidak dapat dipelihara oleh keluarga angkat atau adopsi atau tidak dapat dipelihara dengan cara yang tepat di negara asal anak yang bersangkutan.

(c)

Menjamin bahwa anak yang diadopsi antar negara memperoleh perlindungan dan norma-norma yang sama dengan perlindungan dan norma yang berlaku dalam adopsi nasional.

(d)

Mengambil semua langkah yang layak untuk menjamin bahwa dalam adopsi antar negara penempatan anak tidak mengakibatkan perolehan finansial yang tidak patut bagi mereka yang terlibat dengan adopsi tersebut.

(e)

Bilamana layak, meningkatkan sasaran-sasaran yang dimaksud dari Pasal ini dengan mengadakan pengaturan-pengaturan bilateral atau multilateral, dan upaya, dalam menempatkan kedudukan anak di negara lain dilaksanakan oleh penguasa atau badan yang berwenang.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

81

Pasal 22

1. Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah yang layak untuk menjamin bahwa anak yang mengusahakan status pengungsi atau yang dianggap sebagai pengungsi sesuai dengan hukum dan prosedur internasional atau nasional yang berlaku, baik didampingi oleh orang tuanya atau oleh orang lain, akan memperoleh perlindungan dan bantuan kemanusiaan yang layak dalam menikmati hak-hak yang berlaku yang dinyatakan dalam Konvensi ini dan dalam perangkat- perangkat hak-hak asasi manusia atau kemanusiaan dimana negara-negara tersebut adalah kelompok peserta.

2. Untuk tujuan ini, Negara-negara Peserta, bila mereka menganggapnya layak, akan bekerja-sama dalam setiap upaya yang dilakukan PBB dan lembaga- lembaga antar pemerintah yang berwenang atau lembaga-lembaga swadaya masyarakat, untuk melindungi dan membantu anak seperti itu dan melacak apakah orang tuanya atau anggota lain dari keluarganya memiliki anak sebagai pengungsi, agar bisa memperoleh informasi yang diperlukan untuk penyatuan kembali dan keluarganya. Dalam kasus-kasus dimana tidak bisa ditemukan orang tua atau anggota keluarga lain, anak yang bersangkutan akan diberi perlindungan yang sama seperti halnya dengan anak lain yang manapun yang kehilangan lingkungan keluarganya secara tetap atau sementara karena alasan apapun, seperti dinyatakan dalam Konvensi ini.

Pasal 23

1. Negara-negara Peserta mengakui bahwa anak yang cacat fisik dan mental hendaknya menikmati kehidupan penuh dan layak, dalam keadaan-keadaan yang menjamin martabat, meningkatkan percaya diri dan mempermudah peranserta aktif anak dalam masyarakat.

2. Negara-negara Peserta mengakui hak anak cacat atas pemeliharaan khusus dan akan mendorong dan menjamin pemberian, sesuai dengan sumber yang tersedia,kepada anak yang berhak dan kepada mereka yang bertanggung jawab atas pemeliharaannya, bantuan yang layak bagi kondisi anak dan bagi keadaan orang tua atau orang lain yang memelihara anak yang bersangkutan.

3. Mengakui kebutuhan-kebutuhan khusus anak cacat, bantuan yang diberikan sesuai dengan ayat 2 dari Pasal ini akan diberikan secara cuma-cuma. bilamana mungkin dengan memperhatikan sumber-sumber keuangan orang tua atau orang lain yang memelihara anak yang bersangkutan, dan akan dirancang untuk menjamin bahwa anak-anak cacat bisa memperoleh dan menerima pendidikan, pelatihan, pelayanan kesehatan, pelayanan pemulihan, persiapan untuk lapangan kerja dan kesempatan untuk rekreasi dengan cara yang membantu anak untuk mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu, termasuk pengembangan budaya dan rohaninya.

4. Negara-negara

Peserta

akan

meningkatkan,

dalam

semangat

kerjasama

internasional,

pertukaran

informasi

yang

layak

dalam

bidang

pelayanan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

82

kesehatan pencegahan dan perawatan medis, psikologis dan fungsional anak- anak cacat, termasuk penyebarluasan dan akses pada informasi mengenai metoda-metoda pemulihan, pendidikan dan pelayanan-pelayanan kejuruan, dengan tujuan memberi kemungkinan bagi negara-negara peserta untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dan memperluas pengalaman mereka dalam bidang-bidang ini. Dalam hal ini perhatian khusus akan diberikan kepada kebutuhan-kebutuhan negara berkembang.

Pasal 24

1. Negara-negara Peserta mengakui hak anak untuk menikmati norma kesehatan tertinggi yang bisa dicapai dan fasilitas perawatan sakit dan pemulihan kesehatan. Negara-negara Peserta akan berusaha keras untuk menjamin bahwa tidak seorang anakpun yang akan dirampas haknya untuk memperoleh pelayanan-pelayanan perawatan kesehatan seperti itu.

2. Negara-negara Peserta akan mengupayakan penyelesaian pelaksanaan sepenuhnya dari hak ini dan, khususnya, akan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk :

(a)

Mengurangi kematian bayi dan anak;

(b)

Menjamin pengadaan bantuan kesehatan yang diperlukan dan perawatan kesehatan untuk semua anak dengan menitik beratkan pada pengembangan pelayanan kesehatan dasar;

(c)

Memberantas penyakit dan kekurangan gizi, termasuk dalam rangka pelayanan kesehatan dasar, antara lain, melalui penerapan teknologi yang tersedia secara mudah dan melalui pengadaan makanan bergizi yang memadai dan air minum yang bersih, dengan mempertimbangkan bahaya dan resiko polusi lingkungan.

(d)

Menjamin perawatan kesehatan ibu sebelum dan sesudah kelahiran

(e)

Menjamin bahwa semua golongan masyarakat, khususnya para orang tua dan anak, mendapat informasi, pendidikan dan mendapat dukungan dalam penggunaan pengetahuan dasar mengenai kesehatan anak dan gizi, manfaat pemberian ASI, kebersihan penyehatan lingkungan dan pencegahan kecelakaan.

(f)

Mengembangkan perawatan kesehatan pencegahan, bimbingan untuk orang tua dan pendidikan dan pelayanan keluarga berencana.

3. Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang efektif dan tepat dengan tujuan menghapuskan praktek-praktek tradisional yang merugikan kesehatan anak.

4. Negara-negara Peserta berupaya untuk meningkatkan dan mendorong kerjasama internasional dengan tujuan secara bertahap mewujudkan sepenuhnya hak yang diakui dalam pasal ini. Dalam hal ini, perhatian khusus akan diberikan kepada kebutuhan-kebutuhan negara berkembang.

Pasal 25

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

83

Negara-negara Peserta mengakui hak anak yang ditempatkan oleh penguasa yang berwenang untuk tujuan pemeliharaan, perlindungan atau perawatan kesehatan rohani dan jasmaninya yang ditinjau secara berkala yang diberikan kepada anak yang bersangkutan dan semua keadaan lain yang terkait dengan penempatannya itu.

Pasal 26

1. Negara-negara Peserta akan mengakui hak anak untuk memperoleh manfaat dari jaminan sosial, termasuk asuransi sosial, dan akan mengambil langkah- langkah yang perlu guna mencapai perwujudan sepenuhnya dari hak ini sesuai dengan hukum nasional mereka.

2. Orang tua atau orang lain yang bertanggung jawab atas anak memikul tanggung jawab utama untuk menjamin, dalam batas kemampuan dan kapasitas keuangan mereka, kondisi kehidupan yang perlu untuk pengembangan anak.

Pasal 27

1. Negara-negara Peserta mengakui hak setiap anak atas tingkat kehidupan yang layak untuk pengembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial anak.

2. Orang tua atau orang lain yang bertanggung jawab untuk menjamin, dalam batas kemampuan dan kapasitas keuangan mereka, kondisi kehidupan yang perlu untuk pengembangan anak.

3. Negara-negara Peserta, sesuai dengan kondisi nasional dan dalam batas kemampuan mereka, akan mengambil langkah-langkah yang layak guna membantu orang tua dan orang-orang lain yang bertanggung jawab atas anak untuk melaksanakan hak ini dan bila diperlukan akan memberi bantuan materiil dan dukungan program, terutama yang menyangkut gizi, sandang dan perumahan.

4. Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah yang layak untuk menjamin pemulihan pemeliharaan anak dari orang tua atau orang-orang lain yang memikul tanggung-jawab keuangan atas anak baik dari dalam negara peserta maupun dari luar negeri khususnya, dimana orang yang memikul tanggung jawab keuangan atas anak yang tinggal di negara yang berbeda dari negara anak yang bersangkutan. Negara-negara Peserta akan meningkatkan pencapaian persetujuan-persetujuan internasional atau menandatangani persetujuan-persetujuan seperti itu, dan juga pengadaan penetapan- penetapan lain.

Pasal 28

1. Negara-negara Peserta mengakui hak anak atas pendidikan dan dengan tujuan mencapai hak ini secara bertahap dan berdasarkan kesempatan sama, khususnya mereka akan :

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

84

(a)

Membuat pendidikan dasar wajib dan tersedia cuma-cuma untuk semua anak;

(b)

Mendorong pengembangan bentuk-bentuk yang berbeda dari pendidikan menengah, termasuk pendidikan umum dan kejuruan, membuatnya tersedia dan bisa diperoleh oleh setiap anak, dan akan mengambil langkah-langkah yang layak seperti penerapan pendidikan cuma-cuma dan menawarkan bantuan keuangan bila diperlukan;

(c)

Membuat pendidikan tinggi wajib untuk semua anak yang didasarkan pada kemampuan dari setiap sarana yang layak;

(d)

Membuat informasi pendidikan dan kejuruan dan bimbingan tersedia dan dapat dicapai oleh semua anak;

(e)

Mengambil langkah-langkah untuk mendorong kehadiran anak secara teratur di sekolah dan penurunan tingkat putus sekolah.

2. Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang layak untuk menjamin bahwa disiplin sekolah dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan martabat kemanusiaan anak dan sesuai dengan Konvensi ini.

3. Negara-negara Peserta akan meningkatkan dan mendorong kerjasama internasional dalam masalah yang terkait dengan pendidikan, khususnya dengan tujuan untuk membantu menghapuskan kebodohan dan buta aksara di seluruh dunia dan mempermudah akses pada pengetahuan ilmiah dan teknologi dan metoda mengajar yang modern. Dalam hal ini perhatian khusus akan diberikan pada kebutuhan-kebutuhan negara berkembang.

Pasal 29

1. Negara-negara Peserta sependapat bahwa pendidikan anak akan diarahkan pada :

(a)

Pengembangan kepribadian anak, bakat dan kemampuan mental dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang paling penuh.

(b)

Pengembangan penghormatan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan asasi, dan atas prinsip-prinsip yang diabadikan dalam Piagam PBB.

(c)

Pengembangan rasa hormat kepada orang tua anak, identitas budaya, bahasa dan nilai-nilainya sendiri, kepada nilai-nilai nasional dimana anak bertempat tinggal, dari mana anak, dan kepada peradaban-peradaban yang berbeda dari peradabannya sendiri.

(d)

Persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam suatu masyarakat yang bebas, dalam semangat saling pengertian, perdamaian, toleransi, persamaan jenis kelamin, dan persahabatan antara sesama, suku bangsa, kelompok nasional dan agama dan orang-orang pribumi.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

85

(e) Pengembangan rasa hormat kepada lingkungan alam.

2. Tidak ada bagian dari Pasal ini atau Pasal 28 akan ditafsirkan sedemikian rupa sehingga mengganggu kemerdekaan perorangan dan lembaga-lembaga pendidikan, yang selalu mematuhi prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam ayat 1 Pasal ini dan kebutuhan bahwa pendidikan yang diberi dalam lembaga- lembaga seperti itu akan sesuai dengan norma-norma minimal sebagai yang mungkin ditetapkan oleh negara.

Pasal 30

Di negara-negara dimana terdapat minoritas suku bangsa, agama dan bahasa atau orang-orang pribumi, seorang anak dari kalangan minoritas seperti itu atau anak yang priibumi, tidak akan disangkal haknya dalam bermasyarakat dengan anggota-anggota lain dari kelompoknya baik wanita maupun pria, untuk menikmati budayanya sendiri, untuk mengakui dan melaksanakan agamanya sendiri, atau menggunakan bahasanya sendiri.

Pasal 31

1. Negara-negara Peserta mengakui hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni.

2. Negara-negara Peserta akan menghormati dan meningkatkan hak anak untuk turut serta sepenuhnya dalam kehidupan budaya dan seni dan akan mendorong pengadaan peluang yang layak dan sama untuk kegiatan budaya, seni, santai dan rekreasi.

Pasal 32

1. Negara-negara Peserta mengakui hak anak untuk dilindungi terhadap eksploitasi ekonomi dan terhadap pelaksanaan setiap pekerjaan yang mungkin berbahaya atau mengganggu pendidikan anak, atau merugikan kesehatan anak atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral atau sosial anak.

2. Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah legislatif, administratif dan pendidikan untuk menjamin pelaksanaan Pasal ini. Untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dan perangkat- perangkat internasional lain yang terkait, Negara-negara Peserta khususnya akan :

(a) Menetapkan usia minimum atau usia-usia minimum untuk dapat memasuki lapangan kerja;

(b) Menetapkan peraturan yang tepat mengenai jam-jam kerja dan kondisi kerja;

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

86

(c) Menetapkan hukuman-hukuman yang layak atau sanksi-sanksi lain untuk menjamin pelaksanaan yang efektif dari pasal ini.

Pasal 33

Negara-negara Peserta akan mengambil langkah-langkah yang layak termasuk langkah- langkah legislatif, administratif, sosial dan pendidikan guna melindungi anak dari pemakaian obat-obat narkotik secara gelap dan zat-zat psikotropis seperti yang ditetapkan dalam perjanjian-perjanjian internasional yang relevan, dan guna mencegah penggunaan anak dalam pembuatan dan pengedaran secara gelap zat-zat seperti itu.

Pasal 34

Negara-negara Peserta berusaha untuk melindungi anak dari semua bentuk eksploitasi seksual dan penyalahgunaan seksual. Untuk tujuan ini, Negara-

negara Peserta khususnya akan mengambil langkah-langkah yang layak, bilateral dan multilateral untuk mencegah:

(a)

Bujukan atau paksaan agar anak terlibat dalam setiap kegiatan seksual yang tidak sah;

(b)

Penggunaan anak secara eksploitatif dalam pelacuran atau praktek-praktek seksual yang tidak sah;

(c)

Penggunaan anak secara eksploitatif dalam pertunjukan-pertunjukan dan perbuatan-perbuatan yang bersifat pornografis.

Pasal 35

Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang layak, nasional, bilateral dan multilateral, untuk mencegah penculikan, penjualan atau jual beli anak untuk tujuan atau dalam bentuk apapun

Pasal 36

Negara-negara Peserta akan melindungi anak terhadap semua bentuk lain dari eksploitasi yang merugikan bagi setiap aspek dari kesejahteraan anak.

Pasal 37

Negara-negara Peserta akan menjamin bahwa:

(a)

Tak seorang anakpun boleh menjalani siksaan atau perlakuan yang kejam, perlakuan atau hukuman yang tidak manusiawi atau menurunkan martabat. Hukuman mati dan hukuman seumur hidup tidak akan dijatuhkan tanpa kemungkinan pembebasan untuk kejahatan yangdilakukan oleh anak (Pasal 1 ayat 1)

(b)

Tidak seorang anakpun akan dirampas kemerdekaannya secara tidak sah atau sewenang-wenang. Penangkapan, penahanan atau penghukuman

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

87

seorang anak harus sesuai dengan hukum dan akan diterapkan sebagai upaya terakhir dan untuk jangka waktu yang paling pendek.

(c) Setiap anak yang dirampas kemerdekaannya akan diperlakukan secara manusiawi dan dihormati martabat kemanusiaannya dan dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan orang seusianya. Khususnya, setiap anak yang dirampas kemerdekaannya akan dipisahkan dari orang-orang dewasa kecuali bila dianggap bahwa tidak melakukan hal ini merupakan kepentingan terbaik dari anak yang bersangkutan dan ia berhak untuk mengadakan hubungan dengan keluarganya melalui surat menyurat atau kunjungan-kunjungan, aman dalam keadaan-keadaan khusus.

(d) Setiap anak yang dirampas kemerdekaannya berhak secepatnya memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain yang layak, dan juga berhak untuk menggugat keabsahan perampasan kemerdekaan itu di depan pengadilan atau penguasa lain yang berwenang, dan independen dan tidak memihak, dan berhak atas suatu keputusan yang cepat mengenai hal tersebut.

Pasal 38

1. Negara-negara Peserta berupaya untuk menghormati dan menjamin penghargaan terhadap ketentuan-ketentuan hukum kemanusiaan internasional dan yang berlaku bagi anak-anak dalam masa pertentangan bersenjata.

2. Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang mungkin guna menjamin bahwa mereka yang belum mencapai usia lima belas tahun tidak terlibat secara langsung dalam permusuhan.

3. Negara-negara Peserta akan menahan diri untuk tidak merekrut orang yang belum mencapai usia lima belas tahun dalam angkatan bersenjata mereka. Dalam merekrut orang-orang yang sudah berusia delapan belas tahun, Negara-negara Peserta akan berusaha untuk memberi prioritas kepada mereka yang tertua.

3. Sesuai dengan kewajiban-kewajiban berdasarkan hukum kemanusiaan internasional untuk melindungi penduduk sipil dalam pertentangan bersenjata, Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang mungkin untuk menjamin perlindungan dan pemeliharaan bagi anak-anak yang terpengaruh oleh suatu pertentangan bersenjata.

Pasal 39

Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang layak untuk meningkatkan pemulihan rohani dan jasmani dan penyatuan kembali dalam masyarakat seorang anak yang menjadi korban dari: setiap bentuk penelantaran, eksploitasi, atau penyalah-gunaan; penyiksaan atau setiap bentuk kekejaman atau perlakuan penghukuman yang tidak manusiawi atau merendahkan martabat; atau pertentangan kesepakatan. Pemulihan dan penyatuan kembali seperti itu akan

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

88

dilakukan dalam suatu lingkungan yang memupuk kesehatan, harga diri dan martabat anak.

Pasal 40

1. Negara-negara Peserta mengakui hak setiap anak yang disangka, dituduh atau diakui sebagai telah melanggar undang-undang hukum pidana untuk diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan peningkatan martabat dan nilai anak, yang memperkuat penghargaan anak pada hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar dari orang lain dengan memperhatikan usia anak dan hasrat untuk meningkatkan penyatuan kembali/reintegrasi anak dan peningkatan peran yang konstruktif dari anak dalam masyarakat.

2. Untuk tujuan ini, dan memperhatikan ketentuan-ketentuan dari perangkat- perangkat internasional yang relevan, Negara-negara Peserta, khususnya, menjamin bahwa:

a. Tak seorang anakpun akan disangka sebagai, atau dituduh, atau diakui sebagai telah melanggar undang-undang hukum pidana karena tindakan- tindakan atau kelalaian yang tidak dilarang oleh hukum nasional atau internasional pada saat tindakan itu dilakukan.

b. Setiap anak yang disangka atau dituduh sebagai atau dituduh telah melanggar undang-undang hukum pidana setidaknya memiliki jaminan- jaminan sebagai berikut:

(i)

Dianggap tidak bersalah hingga dibuktikan bersalah menurut hukum;

(ii)

Secepatnya dan secara langsung diberitahu mengenai tuduhan- tuduhan terhadapnya, dan jika layak, melalui orang tua anak atau walinya yang sah, dan untuk memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain dalam mempersiapkan dan pengajuan pembelaannya;

(iii)

Memeriksa masalah tersebut tanpa penundaan oleh penguasa yang berwenang, independen dan tidak memihak atau oleh badan pengadilan dalam suatu pemeriksaan yang adil sesuai dengan undang-undang, adanya bantuan hukum atau bantuan lainnya yang layak dan, kecuali jika dianggap bukan untuk kepentingan terbaik dari anak, khususnya, dengan memperhatikan usia atau situasi anak, orang tua dan walinya yang sahnya;

(iv)

Tidak dipaksa untuk memberi kesaksian atau untuk mengakui kesalahan, untuk memeriksa atau menyuruh memeriksa sanksi- sanksi yang merugikan dan untuk memperoleh peran-serta dan pemeriksaan saksi-saksi untuk kepentingan anak yang didasarkan pada ketentuan persamaan hak;

(v)

Jika dianggap telah melanggar undang-undang hukum pidana, keputusan dan setiap tindakan yang dikenakan sebagai akibat dari padanya dapat ditinjau kembali oleh penguasa yang lebih berwenang, independen dan tidak memihak atau oleh badan peradilan sesuai undang-undang;

(vi)

Memperoleh bantuan cuma-cuma dari juru bahasa jika anak tidak dapat memahami atau tidak dapat berbicara dalam bahasa yang digunakan;

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

89

(vii)

Menghormati sepenuhnya kehidupan pribadi anak dalam semua tingkat proses peradilan.

3. Negara-negara Peserta akan berupaya untuk meningkatkan pembuatan undang-undang, proses peradilan, kekuasaan dan lembaga-lembaga yang

secara khusus berlaku untuk anak-anak, yang diduga akan dituduh, atau diakui sebagai telah melanggar undang-undang hukum, dan khususnya;

(a)

penetapan usia minimum dimana usia di bawahnya akan dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk melanggar undang-undang hukum pidana;

(b)

bilamana layak dan diinginkan, langkah-langkah untuk menangani anak- anak seperti itu tanpa harus menempuh tuntutan hukum, asal saja hak- hak asasi manusia dan pengamanan dari segi hukum sepenuhnya dihormati.

4. Berbagai pengaturan, seperti pemeliharaan, bimbingan dan peraturan pengawasan; pemberian nasehat, masa percobaan, pemeliharaan anak angkat, program-program pendidikan dan pelatihan kejujuran dan alternatif lain untuk lembaga pemeliharaan anak angkat, akan diadakan guna menjamin bahwa anak-anak akan ditangani dengan cara yang layak bagi kehidupan mereka seimbang baik dengan keadaan mereka maupun pelanggaran yang dilakukan.

Pasal 41

Tak satupun ketentuan dalam Konvensi ini akan mempengaruhi ketentuan-

ketentuan yang lebih mendorong terwujudnya hak-hak anak dan yang mungkin termuat dalam:

(a)

Hukum dari Negara Peserta, atau

(b)

Hukum Internasional yang berlaku di Negara itu.

B A G I A N

II

Pasal 42

Negara-negara Peserta berupaya agar prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan Konvensi ini diketahui secara luas, oleh orang dewasa dan juga anak-anak melalui cara yang tepat dan aktif.

Pasal 43

1. Untuk tujuan pengujian kemajuan yang dibuat oleh Negara-negara Peserta

dalam pencapaian pelaksanaan dari kewajiban-kewajiban yang diupayakan dalam

Konvensi ini, akan dibentuk suatu Komite Hak-hak Anak, yang akan melaksanakan fungsi-fungsi yang ditetapkan kemudian.

2. Komite akan terdiri dari sepuluh ahli dengan memiliki moral yang tinggi dan kewenangan yang diakui dalam bidang yang tercakup dalam Konvensi ini. Anggota Komite akan dipilih oleh Negara-negara Peserta dari warga negara mereka dan akan bertugas dalam kapasitas mereka sebagai perorangan,

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

90

pertimbangan diberikan kepada distribusi geografis yang adil, dan kepada sistem-sistem hukum yang utama.

3. Anggota Komite akan dipilih secara rahasia dari sebuah daftar orang-orang yang dicalonkan oleh Negara-negara Peserta. Masing-masing negara peserta dapat mencalonkan seorang dari warga negaranya sendiri.

4. Pemilihan awal Komite akan diadakan tidak lebih lama dari enam bulan setelah tanggal berlakunya Konvensi ini dan selanjutnya setelah setiap tahun kedua. Setidaknya empat bulan sebelum tanggal pemilihan, Sekretaris Jenderal PBB akan mengirim surat kepada Negara-negara Peserta untuk menyerahkan nama calon-calon mereka dalam dua bulan. Sekretaris Jenderal kemudian akan mempersiapkan suatu daftar yang memuat semua nama calon yang dinominasikan dalam urutan abjad dari seluruh orang yang dinominasikan, yang menunjukkan Negara-negara Peserta telah mencalonkan mereka, dan akan menyerahkan daftar tersebut kepada negara-negara peserta Konvensi ini.

5. Pemilihan diadakan pada pertemuan Negara-negara Peserta yang dipanggil bersidang di Markas Besar PBB oleh Sekretaris Jenderal. Pada pertemuan ini, kehadiran dua pertiga dari negara peserta merupakan Kworum, dan orang yang dipilih menjadi anggota Komite harus adalah mereka yang memperoleh jumlah suara terbanyak dan mayoritas mutlak dari suara wakil-wakil dari Negara-negara Peserta yang hadir dan memberi suaranya.

6. Anggota-anggota Komite akan dipilih untuk masa empat tahun. Mereka akan dapat dipilih kembali jika dicalonkan lagi. Masa bakti lima anggota yang dipilih pada pemilihan yang pertama akan berakhir untuk masa dua tahun; segera setelah pemilihan pertama,nama-nama lima anggota ini akan dipilih melalui undian oleh Pimpinan Sidang.

7. Jika seorang anggota Komite meninggal dunia atau mengundurkan diri atau menyatakan bahwa karena sesuatu sebab lain ia tidak dapat lagi melaksanakan kewajiban-kewajiban Komite, Negara-negara Peserta yang mencalonkan anggota itu akan menunjuk seorang ahli lain dari warga negaranya guna bertugas selama sisa masa tugas tersebut, dan ini tergantung pada persetujuan Komite.

8. Komite akan menetapkan sendiri ketentuan-ketentuan mengenai prosedur pemilihan.

9. Komite akan memilih pejabat-pejabatnya untuk masa dua tahun.

10. Pertemuan-pertemuan Komite secara normal akan diadakan di Markas Besar PBB atau di tempat lain yang tepat yang ditetapkan oleh Komite. Komite secara normal akan bertemu setiap tahun. Lamanya pertemuan Komite akan ditentukan dan ditinjau kembali, jika perlu, dalam suatu pertemuan Negara- negara Peserta Konvensi ini, dan ini tunduk pada persetujuan Majelis Umum.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

91

11.

Sekretaris Jenderal PBB akan menyediakan staf dan sarana yang diperlukan bagi efektivitas pelaksanaan fungsi-fungsi Komite berdasarkan Konvensi ini.

12. Dengan persetujuan Majelis Umum, anggota-anggota Komite yang dibentuk berdasarkan Konvensi ini akan menerima honorarium dari sumber-sumber PBB berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagaimana ditetapkan oleh Majelis.

Pasal 44

1. Negara-negara Peserta berupaya untuk menyerahkan kepada Komite melalui Sekretaris Jenderal PBB, laporan-laporan mengenai langkah-langkah yang telah mereka setujui yang menggiatkan hak-hak yang diakui didalam konvensi dan mengenai kemajuan yang telah dibuat tentang pemanfaatan hak-hak tersebut:

(a) Dalam masa dua tahun setelah berlakunya Konvensi ini bagi Negara Peserta yang bersangkutan;

(b) Setelah itu setiap lima tahun.

2. Laporan-laporan yang dibuat berdasarkan Pasal ini akan menunjukkan faktor- faktor dan kesulitan-kesulitan, jika ada, yang mempengaruhi tingkat pemenuhan kewajiban-kewajiban berdasarkan Konvensi ini. Laporan-laporan juga akan mengandung cukup informasi untuk melengkapi Komite dengan pengertian yang luas mengenai pelaksanaan Konvensi di negara yang bersangkutan.

3. Negara Peserta yang telah menyerahkan suatu laporan awal yang luas kepada Komite tidak perlu mengulangi informasi dasar yang sudah diberikan sebelumnya dalam laporan-laporan berikutnya yang diserahkan sesuai dengan ayat (b) pada pasal ini.

4. Komite dapat meminta informasi lebih jauh dari negara-negara peserta yang relevan dengan pelaksanaan Konvensi.

5. Komite, setiap dua tahun sekali, akan menyerahkan kepada Majelis Umum, melalui Dewan Ekonomi dan Sosial, laporan-laporan mengenai kegiatannya.

6. Negara-negara Peserta akan menyediakan laporan-laporan mereka secara luas kepada masyarakat di negara mereka sendiri.

Pasal 45

Untuk mengembangkan pelaksanaan yang efektif (dari Konvensi) dan mendorong kerjasama internasional dalam bidang yang tercakup dalam Konvensi ini:

a. Badan-badan khusus, Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) dan badan- badan PBB lainnya berhak untuk diwakili dalam mempertimbangkan pelaksanaan ketentuan-ketentuan Konvensi ini seperti yang termasuk dalam

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

92

lingkup mandat mereka. Komite dapat mengundang badan-badan khusus. Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) dan badan-badan berwenang lainnya bila dianggap layak untuk memberi nasihat-nasihat keahlian mengenai pelaksanaan Konvensi dalam bidang-bidang yang termasuk dalam lingkup mandat mereka masing-masing Komite dapat mengundang badan khusus, Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF), dan badan-badan PBB lainnya untuk menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan Konvensi dalam bidang- bidang yang termasuk dalam lingkup kegiatan mereka.

b. Komite akan mengirimkan, bila dianggap layak, kepada badan khusus, Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) dan badan-badan berwenang lainnya, setiap laporan dari Negara-negara Peserta yang memuat permintaan, atau menyatakan kebutuhan akan nasihat atau bantuan teknis, dan jika ada juga observasi-observasi dan saran-saran Komite, mengenai permintaan atau pernyataan kebutuhan tersebut.

c. Komite dapat merekomendasikan kepada Majelis Umum untuk meminta kepada Sekretaris Jenderal untuk melakukan studi-studi guna kepentingannya mengenai masalah-masalah khusus yang terkait dengan hak-hak anak.

d. Komite dapat memberi saran-saran dan rekomendasi umum berdasarkan berdasarkan informasi yang diterima sesuai dengan Pasal 44 dan 45 dari Konvensi ini. Saran-saran dan rekomendasi-rekomendasi umum tersebut itu akan dikirimkan kepada setiap negara peserta yang berkepentingan dan dilaporkan kepada Majelis Umum, bersama dengan tanggapan-tanggapan, jika ada, dari Negara-negara Peserta.

(Sumber: UNICEF, Konvensi Hak-hak Anak, New York: UNICEF)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

93

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1984

TENTANG

PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA (CENVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMINATION AGAINST WOMEN)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa segala warga negara bersama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, sehingga segala bentuk diskriminasi terhadap wanita harus dihapus karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 ; b. bahwa Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa di dalam sidang pada tanggal 18 Desember 1979, telah menyetujui Konvensi mengenai penghapusan segala bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) c. bahwa ketentuan-ketentuan di dalam Konvensi tersebut di atas pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila, Undang- Undang Dasar 1945 dan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia ;

d. bahwa Pemerintah Republik Indonesia telah menandatangani

Konvensi tersebut pada tanggal 29 Juli 1980 sewaktu diadakan Konperensi Sedunia dasawarsa Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi wanita di Kopenhagen ; e. bahwa berhubung dengan hal tersebut di atas maka dipandang perlu mengesahkan Konvensi sebagaimana tersebut pada huruf b di atas dengan Undang-Undang.

Mengingat :

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 ;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV MPR/1983 tentang Garis-Garis besar haluan negara ;

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT MEMUTUSKAN

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA (CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMINATION AGAINST WOMEN)

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

94

Pasal 1

Mengesahkan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) yang telah disetujui oleh Majelis umum Perserikatan Bangsa- Bangsa pada tanggal 18 Desember 1079, dengan persyaratan (reservation terhadap pasal 29 ayat (1) tentang penyelesaian perselisihan mengenai penafsiran atau penerapan Konvensi ini, yang salinannya dilampirkan pada Undang-Undang ini.

Pasal 2

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatan dalam Lembaran negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 24 Juli 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd

SOEHARTO

Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 24 Juli 1984 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd

SUDHARMONO, SH

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

95

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1984 NOMOR 29 PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1984 TENTANG

PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA (CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMINATION AGAINST WOMEN)

I.

Umum

Pada tahun 1967 Perserikatan Bangsa-bangsa telah mengeluarkan deklarasi mengenai Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita. Diskriminasi tersebut memuat hak dan kewajiban wanita berdasarkan persamaan hak dengan pria dan menyatakan langkah-langkah seperlunya untuk menjamin pelaksanaan deklarasi tersebut. Oleh karena deklarasi itu sifatnya tidak mengikat, maka Komisi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Kedudukan Wanita berdasarkan Deklarasi tersebut menyusun rencana konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Pada tanggal 18 Desember tahun 1979 Majelis Perserikatan Bangsa- Bangsa telah menyetujui Konvensi tersebut oleh karena ketentuan Konvensi pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, maka Pemerintah Republik Indonesia dalam Konperensi Sedunia Dasawarsa Perserikatan Bangsa-bangsa bagi Wanita di Kopenhagen pada tanggal 29 Juli 1980 telah menandatangani Konvensi tersebut. Penandatanganan itu merupakan penegasan sikap Indonesia yang dinyatakan pada tanggal 18 Desember 1979 pada waktu Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan pemungutan suara atas resolusi yang kemudian menyetujui Konvensi tersebut. Dalam pemungutan suara itu Indonesia memberikan suara setuju sebagai perwujudan keinginan Indonesia untuk berpartisipasi dalam usaha- usaha internasional menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap wanita, karena isi Konvensi itu sesuai dengan dasar negara Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 yang menetapkan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan Pemerintahan. Ketentuan Konvensi ini tidak akan mempengaruhi asas dan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Nasional yang mengandung asas persamaan hak antara pria dan wanita sebagai perwujudan tata hukum Indonesia yang sudah kita anggap baik atau lebih baik dan sesuai, serasi serta selaras dengan aspirasi bangsa Indonesia. Dalam pelaksanaannya, ketentuan dalam Konvensi ini wajib disesuaikan dengan tata kehidupan masyarakat yang meliputi nilai-nilai budaya, adat-istiadat serta norma-norma keagamaan yang masih berlaku dan diikuti secara luas masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber hukum nasional memberikan keyakinan dan jaminan bahwa pelaksanaan ketentuan Konvensi ini sejalan dengan tata kehidupan yang dikehendaki bangsa Indonesia.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

96

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Pada 29 Konvensi memuatkan ketentuan tentang cara untuk menyelesaikan perselisihan antara negara peserta Konvensi mengenai penafsiran atau penerapan ketentuan konvensi. Pemerintah Indonesia tidak bersedia untuk mengikatkan diri pada ketentuan pasal tersebut, karena pada prinsipnya tidak dapat menerima suatu kewajiban untuk mengajukan perselisihan internasional, dimana Indonesia tersangkut, kepada Mahkamah Internasional. Dengan pertimbangan tersebut di atas Indonesia mengadakan pensyaratan (reservatio) terhadap pasal 29 ayat (1) Konvensi hingga dengan demikian Indonesia menyatakan dirinya tidak terikat oleh pasal tersebut.

Cukup jelas.

Pasal 2

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3277.

LAMPIRAN :

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1984 TANGGAL 24 JULI 1984

Tentang :

PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA (CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMINATION AGAINTS WOMEN)

Diterjemahkan oleh :

Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (KNKWI) bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri RI. disempurnakan oleh :

Kantor menteri Negara Urusan Peranan Wanita

Catatan :

Apabila terjadi ketidaksamaan penafsiran dalam penterjemahan, maka yang digunakan sebagai pedoman adalah naskah aslinya yang berbahasa Inggris.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

97

KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN

Negara-negara peserta pada Konvensi yang sekarang ini,

Memperhatikan bahwa Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa menguatkan lagi keyakinan atas hak-hak azasi manusia, atas martabat dan nilai pribadi manusia, dan atas persamaan hak antara pria dan perempuan. Memperhatikan bahwa Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Azasi Manusia menegaskan azas mengenai tidak dapat diterimanya diskriminasi dan menyatakan bahwa manusia dilahirkan bebas dan sama dalam martabat dan hak, dan bahwa di dalamnya, tanpa perbedaan apapun, termasuk perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Memperhatikan bahwa Negara-negara peserta pada perjanjian Internasional mengenai Hak-hak Azasi Manusia berkewajiban untuk menjamin hak yang sama antara pria dan perempuan untuk menikmati semua hak ekonomi sosial, budaya, sipil dan politik. Mempertimbangkan konvensi-konvensi internasional yang ditanda tangani di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan khususnya, yang menganjurkan persamaan hak antara pria dan perempuan. Memperhatikan juga resolusi-resolusi, deklarasi-deklarasi dan rekomendasi- rekomendasi yang disetujui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan khususnya yang menganjurkan persamaan hak antara pria dan perempuan. Namun demikian sangat memprihatinkan bahwa meskipun adanya bermacam- macam dokumen tersebut, namun diskriminasi yang luas terhadap perempuan masih tetap ada. Mengingat, bahwa diskriminasi terhadap perempuan adalah melanggar azas persamaan hak dan rasa hormat terhadap martabat manusia, merupakan halangan bagi partisipasi perempuan, atas dasar persamaan dengan kaum pria dalam kehidupan politik, ssial, ekonomi dan budaya negara-negara mereka. Hal ini menghambat perkembangan kemakmuran masyarakat dan menambah sukarnya perkembangan sepenuhnya dari potensi kaum perempuan dalam pengabdiannya terhadap negara-negara mereka dan terhadap umat manusia. Memprihatinkan bahwa dalam situasi-situasi kemiskinan, perempuan yang paling sedikit mendapat kesempatan untuk memperoleh makanan, pemeliharaan kesehatan, pendidikan, pelatihan, maupun untuk memperoleh kesempatan kerja dan lain-lain kebutuhan. Yakin bahwa dengan terbentuknya tata ekonomi internasional yang baru, berdasarkan pemerataan dan keadilan, akan memberikan sumbangan yang berarti terhadap peningkatan persamaan antara pria dan perempuan. Menekankan bahwa penghapusan apartheid, penghapusan semua bentuk rasisme, diskriminasi rasial, kolonialisme, neo kolonialisme, agresi, pendudukan dan dominasi serta campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Negara adalah penting, untuk dapat menikmati sepenuhnya hak-hak pria dan perempuan. Menegaskan bahwa memperkuat perdamaian dan keamanan internasional, pengendoran ketegangan internasional, kerjasama timbal balik diantara semua negara, terlepas dari sistem sosial dan ekonomi mereka, pelucutan senjata secara umum dan menyeluruh dan khususnya perlucutan senjata nuklir di bawah pengawasan internasional yang ketat dan efektif, penegasan azas-azas keadilan, persamaan dan manfaat bersama dalam hubungan antar negara, realisasi hak-

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

98

hak bangsa-bangsa yang berada dibawah dominasi asing, dominasi kolonial pendudukan asing untuk menentukan nasib sendiri dan kemerdekaannya, maupun menghormati kedaulatan nasional dan keutuhan wilayah, akan meningkatkan kemajuan sosial dan pembangunan, yang dampaknya akan menunjang tercapainya persamaan sepenuhnya antara pria dan perempuan. Yakin bahwa pembangunan menyeluruh dan selengkapnya suatu negara, kesejahteraan dunia dan usaha perdamaian menghendaki partisipasi maksimal kaum perempuan atas dasar persamaan dengan kaum pria di segala lapangan. Mengingatkan kembali sumbangan besar kaum perempuan terhadap kesejahteraan keluarga dan pembangunan masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya diakui, arti sosial dari kehamilan, dan peranan kedua orang tua dalam keluarga dalam membesarkan anak-anak, dan menyadari bahwa peranan perempuan dalam memperoleh keturunan hendaknya jangan menjadi dasar diskriminasi, akan tetapi bahwa membesarkan anak-anak menghendaki pembagian tanggung jawab antara pria dan perempuan dan masyarakat sebagai keseluruhan. Menyadari bahwa diperlukan perubahan pada peranan tradisional kaum pria maupun peranan kaum perempuan dalam masyarakat dan dalam keluarga, untuk mencapai persamaan sepenuhnya antara pria dan perempuan. Bertekad untuk melaksanakan asas-asas yang tercantum dalam Deklarasi mengenai Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan, dan untuk itu membuat peraturan yang diperlukan untuk menghapus diskriminasi seperti itu dalam segala bentuk dan perwujudannya, Telah bersepakat mengenai hal-hal sebagai :

BAGIAN I

Pasal I

Untuk tujuan Konvensi yang sekarang ini, istilah “diskriminasi terhadap perempuan” berarti setiap perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak- hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara pria dan perempuan.

Pasal 2

Negara-negara peserta mengutuk diskriminasi terhadap perempuan dalam segala bentuknya dan bersepakat untuk menjalankan dengan segala cara yang tepat dan tanpa ditundatunda, kebijaksanaan menghapus diskriminasi terhadap perempuan, dan tuntuk tujuan ini berusaha.

a) Mencantumkan asas persamaan antara pria dan perempuan dalam Undang- Undang Dasar nasional mereka atau perundang-undangan yang tepat lainnya jika belum termasuk di dalamnya, dan untuk menjamin realisasi praktis dari asas ini melalui hukum dan cara-cara lain yang tepat;

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

99

b) Membuat peraturan perundang-undangan lain yang tepat dan peraturan- peraturan lainnya termasuk sanksi-sanksinya di mana perlu, melarang semua diskriminasi terhadap perempuan;

c) Menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan atas dasar yang sama dengan kaum pria dan untuk menjamin melalui pengadilan nasional yang kompeten dan bahan-bahan pemerintah lainnya, perlindungan kaum perempuan yang efektif terhadap setiap tindakan diskriminasi;

d) Tidak melakukan suatu tindakan atau praktek diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-lembaga negara akan bertindak sesuai dengan kewajiban tersebut;

e) Membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menghapus perlakuan diskriminasi terhadap perempuan oleh tiap orang, organisasi atau perusahaan;

f) Membuat peraturan-peraturan yang tepat, termasuk pembuatan undang- undang untuk mengubah dan menghapuskan undang-undang, peraturan- peraturan, kebiasaan-kebiasaan dan praktek-praktek yang diskriminasif terhadap perempuan;

g) Mencabut

perempuan.

semua

ketentuan

pidana

nasional

Pasal 3

yang

diskriminatif

terhadap

Negara-negara peserta membuat peraturan-peraturan yang tepat, termasuk pembuatan undang-undang di semua bidang, khususnya di bidang politik, sosial, ekonomi dan budaya, untuk menjamin perkembangan dan kemajuan perempuan sepenuhnya, dengan tujuan untuk menjamin mereka melaksanakan dan menikmati hak-hak azasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok atas dasar persamaan dengan pria.

Pasal 4

1)

Pembuatan peraturan-peraturan khusus sementara oleh negara-negara peserta yang ditujukan untuk mempercepat persamaan “de facto” antara pria dan perempuan, tidak dianggap diskriminasi seperti ditegaskan dalam Konvensi yang sekarang ini dan sama sekali tidak harus membawa konsekuensi pemeliharaan norma-norma yang tak sama atau terpisah, maka peraturan-peraturan ini dihentikan jika tujuan persamaan kesempatan dan perlakuan telah tercapai:

2)

Pembuatan peraturan-peraturan khusus oleh negara-negara peserta, termasuk peraturan-peraturan yang dimuat dalam Konvensi yang sekarang ini, yang ditujukan untuk melindungi kehamilan, tidak dianggap diskriminasi.

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

100

Pasal 5

Negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat :

(a) Untuk mengubah pola tingkah laku dan budaya pria dan perempuan dengan maksud untuk mencapai penghapusan prasangka-prasangka, kebiasaan- kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan perempuan:

(b) Untuk menjamin bahwa pendidikan keluarga melalui pengertian yang tepat mengenai kehamilan sebagai fungsi sosial dan pengakuan tanggung jawab bersama pria dan perempuan dalam membesarkan anak-anak mereka, seyogyanyalah bahwa kepentingan anak-anak adalah pertimbangan utama dalam segala hal.

Pasal 6

Negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan politik dan kehidupan kemasyarakatan negaranya, khususnya menjamin bagi perempuan atas dasar persamaan dengan pria, hak :

(a) Untuk memilih dan dipilih;

(b) Untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijaksanaan pemerintah dan implementasinya, memegang jabatan dalam pemerintahan dan melaksanakan segala fungsi pemerintahan di semua tingkat;

(c) Untuk

berpartisipasi

dalam

perkumpulan non-pemerintah masyarakat dan politik negara.

organisasi-organisasi

yang

berhubungan

BAGIAN II

Pasal 7

dan

perkumpulan-

kehidupan

dengan

Negara-negara peserta harus mengambil semua langkah yang diperlukan

untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan politik,

kehidupan kemasyarakatan negaranya, dan khususnya menjamin bagi

perempuan, atas dasar persamaan dengan laki-laki, hak-hak sebagai berikut:

(a)

Untuk memilih dalam semua pemilihan dan referendum publik, dan untuk

dipilih pada semua badan-badan yang secara umum anggotanya dipilih;

(b)

Untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan pemerintah dan

pelaksanaannya, serta memegang jabatan publik dan melaksanakan

segala

fungsi publik di semua tingkat pemerintahan;

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

101

(c) Untuk berpartisipasi dalam organisasi-organisasi dan perkumpulan-

perkumpulan non pemerintah yang berhubungan dengan kehidupan

masyarakat dan politik negara.

Pasal 8

Negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menjamin bagi perempuan kesempatan untuk mewakili pemerintah mereka pada tingkat internasional dan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan organisasi- organisasi internasional atas dasar persamaan dengan pria tanpa suatu diskriminasi.

Pasal 9

1) Negara-negara peserta wajib memberikan kepada perempuan hak yang sama dengan pria untuk memperoleh, mengubah atau mempertahankan kewarganegaraannya. Negara-negara peserta khususnya wajib menjamin bahwa perkawinan dengan orang asing maupun perubahan kewarganegaraan oleh suami selama perkawinan tidak secara otomatis mengubah kewarganegaraan istri, menjadikannya tidak berkewarganegaraan atau memaksa kewarganegaraan suaminya kepadanya.

2) Negara-negara peserta wajib memberi kepada perempuan hak yang sama dengan pria berkenaan kewarganegaraan anak-anak mereka.

BAGIAN III

Pasal 10

Negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan guna menjamin bagi mereka hak- hak yang sama dengan pria di lapangan pendidikan, khususnya guna menjamin persamaan antara pria dan perempuan :

(a) Persyaratan yang sama untuk bimbingan karir dan keahlian, untuk kesempatan mengikuti pendidikan dan memperoleh ijazah dalam lembaga- lembaga pendidikan segala tingkatan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Persamaan ini wajib dijamin baik dalam pendidikan taman kanak- kanak, umum tehnik, serta dalam pendidikan keahlian tehnik tinggi maupun dalam segala macam jenis pelatihan kejuruan;

(b) Pengikutsertaan pada kurikulum yang sama, ujian yang sama, staf pengajar dengan standar kualifikasi yang sama, serta gedung dan peralatan sekolah yang berkualitas sama;

(c) Penghapusan tiap konsep yang stereotip mengenai peranan pria dan perempuan di segala tingkat dan dalam segala bentuk pendidikan dengan menganjurkan ko-edukasi dan lain-lain jenis pendidikan yang akan membantu

C:\sg\HAM\Akhir\Ham-Umum

102

untuk mencapai tujuan ini, khususnya dengan merevisi buku wajib dan program-program sekolah serta penyesuaian metode mengajar;

(d)

Kesempatan yang sama untuk mengambil manfaat dari beasiswa dan lain-lain dana pendidikan;

(e)

Kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam program pendidikan yang berkelanjutan, termasuk program pendidikan orang dewasa dan pemberantasan buta huruf fungsional, khususnya program-program yang ditujukan pada pengurangan sedini mungkin tiap jurang pemisah dalam pendidikan yang ada antara pria dan perempuan;

(f)

Pengurangan angka putus sekolah pelajar puteri dan penyelenggaraan program untuk gadis-gadis dan perempuan yang sebelum waktunya meninggalkan sekolah;