Anda di halaman 1dari 103

PENGEMBANGAN LKS BERBASIS MASALAH

PADA MATERI BILANGAN BULAT


UNTUK SISWA KELAS VII SMP

SKRIPSI

Diajukan kepada Faklultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
Anita Mayasari
NIM. 08301244026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

i
PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul:

“PENGEMBANGAN LKS BERBASIS MASALAH


PADA MATERI BILANGAN BULAT
UNTUK SISWA KELAS VII SMP”

Yang disusun oleh:

Nama : Anita Mayasari

NIM : 08301244026

Jurusan : Pendidikan Matematika

Program Studi: Pendidikan Matematika

Telah disetujui dan disahkan oleh dosen pembimbing untuk diujikan kepada Dewan

Penguji Tugas Akhir Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Yogyakarta.

Disetujui pada tanggal:

23 Oktober 2012

Menyetujui

Pembimbing

Himmawati Puji Lestari- M.Si.


NIP. 197501102000122001
li
PENGESAHAN

Skripsi yang beijudul:


“PENGEMBANGAN LKS BERBASIS MASALAH
PADA MATERI BILANGAN BULAT
UNTUK SISWA KELAS VII SMP”

Yang disusun oleh:


Nama : Anita Mayasari
NIM : 08301244026
Prodi : Pendidikan Matematika

Skripsi ini telah diujikan di depan Dewan Penguji Skripsi pada tanggal 2
November 2012 dan dinyatakan LULUS.

DEWAN
PENGUJI
Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

Himmawati P.L.. M.Si. Ketua Penguji 4^ r 13"U'I7


NIP. 197501102000122001

Bambang S.H., M,Kom. Sekretaris Penguji ^


U 13 - tl - 20(2.
NIP. 196802101988121001
( * 2^/^
Sueivono. M.Pd. Penguji Utama
NIP. 195308251979031004

Dr. Agus Maman A.


NIP. 197008281995021001 Penguji Pendamping
Y ogyakarta, November 2012
dj
i
12,-/1

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

in
Yang bertanda
Nama
NIM
Program
Fakultas
Jurusan
Judul tangan
Studi: :Pengembangan
Skripsi di:Pendidikan
bawah
08301244026
Pendidikan
ini
Bilangan
Matematika saya:
Matematika
Matematika
Bulat
dan
Anita Mayasari untuk
PERNYATAAN
LKS Ilmu Yogyakarta,
Yang
Siswa menyatakan,
Kelas
Pengetahuan
Berbasis VII23
Alam
Masalah Oktober
SMP
pada Materi 2012
Menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri

dan sepanjang pengetahuan saya tidak berisi materi yang dipublikasikan atau

ditulis oleh orang lain atau telah digunakan sebagai persyaratan penyelesaian studi

di perguruan tinggi lain kecuali pada bagian-bagian tertentu yang saya ambil

sebagai acuan.

Apabila terbukti pernyataan saya ini tidak benar, maka sepenuhnya

menjadi tanggung jawab saya dan saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan

yang berlaku.
Anita Mayasari
NIM. 08301244026

iv
MOTTO

Hai orang-orang yang beriman. Jadikanlah sabar dan shalatmu Sebagai

penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Al-Baqarah: 153)

Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin

kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.

(Anonim)

Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal

yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah

mereka menyu kainya atau tidak.

(Anonim)

v
peRSEMBAHAN

Teriring doa dan penuh rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah

SWT, aku persembahkan skripsi ini untuk:

Kedua orang tuaku, Bapak Giman dan Ibu Endah yang tak pernah

berhenti memberikan doa, kasih sayang, dukungan, semangat, dan

motivasi kepadaku.

Abangku Oky dan adikku Esti yang senantiasa menghibur serta

memberi semangat dan motivasi untuk terus maju dan pantang

menyerah.

Sahabat-sahabat ku yang selalu memberikan bantuan kepadaku untuk

menyelesaikan skripsi ini

Teman-teman Pendidikan Matematika Swadana 2008 terima kasih

atas pertemanan yang terjalin selama ini.

Semua pihak yang telah membantuku hingga skripsi ini selesai

dibuat.

6
PENGEMBANGAN LKS BERBASIS MASALAH
PADA MATERI BILANGAN BULAT
UNTUK SISWA KELAS VII SMP

Oleh
Anita Mayasari
NIM. 08301244026

ABSTRAK

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan LKS berbasis


masalah pada materi bilangan bulat untuk siswa kelas VII SMP dan
mendeskripsikan kualitas LKS yang dikembangkan ditinjau dari aspek kevalidan,
kepraktisan, dan keefektifan.
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengacu pada model
pengembangan ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu: analisis (Analysis), desain
(Design), pengembangan (Development), implementasi (Implementation), dan
evaluasi (Evaluation). Instrumen penelitian ini berupa lembar penilaian LKS untuk
ahli materi, lembar penilaian LKS untuk ahli media, lembar penilaian LKS untuk
guru, angket respon siswa, soal tes tertulis, dan lembar observasi penggunaan
LKS.
Hasil penelitian ini berupa LKS berbasis masalah pada materi bilangan
bulat untuk siswa kelas VII SMP dan mempunyai kualitas yang baik ditinjau dari
aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan LKS. Kualitas LKS ditinjau dari
aspek kevalidan termasuk dalam kategori baik. Hal ini ditunjukan pada perolehan
skor total hasil penilaian LKS oleh ahli materi sebesar 208 dari skor maksimal 256
dan perolehan skor total hasil penilaian LKS oleh ahli media sebesar 136 dari skor
masimal 160 yang masing-masing berada dalam kriteria baik. Kualitas LKS
ditinjau dari aspek kepraktisan termasuk dalam kategori baik. Hal ini ditunjukan
oleh perolehan skor total hasil penilaian LKS oleh guru sebesar 171 dari skor
maksimal 216 termasuk dalam kategori baik dan perolehan skor total hasil angket
respon siswa sebesar 2241 dari skor maksimal 2816 termasuk dalam kategori baik.
Kualitas LKS ditinjau dari aspek keefektifan menunjukkan bahwa LKS efektif
digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini ditunjukkan oleh persentase
ketuntasan belajar klasikal sebesar 75% berdasarkan hasil tes tertulis termasuk
dalam kategori baik, serta berdasarkan hasil observasi penggunaan LKS,
presentase keterlaksanaan penggunaan LKS dalam pembelajaran sebesar 96,296%
berdasarkan hasil observasi penggunaan LKS termasuk dalam kategori sangat
baik.

Kata kunci: LKS, berbasis masalah, bilangan bulat

7
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan

berkah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Pengembangan LKS Berbasis

Masalah pada Materi Bilangan Bulat untuk Siswa Kelas VII SMP” dapat

diselesaikan dengan baik.

Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan karena bantuan, dukungan, saran,

dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa

terima kasih secara tulus kepada:

1. Bapak Dr. Hartono selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan

kemudahan izin kepada penulis dalam melakukan penelitian,.

2. Bapak Dr. Sugiman, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika

yang telah memberikan kemudahan pengurusan administrasi, sekaligus

validator ahli yang telah membantu proses validasi instrument penilaian

dan produk dalam penelitian ini

3. Bapak Dr. Ali Mahmudi selaku Koordinator Program Studi Pendidikan

Matematika yang telah memberikan izin untuk menyusun skripsi.

4. Ibu Himmawati, M.Si. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar telah

memberikan bimbingan dan motivasi dari awal sampai terselesaikannya

penulisan skripsi ini.

5. Ibu Mathilda Susanti, M.Si. yang telah bersedia memvalidasi instrumen

penilaian dalam penelitian ini.

8
6. Bapak Nur Hadi Waryanto, M.Eng., Ibu Dra. Endang Listyani, M.S., dan

Ibu Kuswari Hernawati, M.Kom. yang telah bersedia memvalidasi produk

pada penelitian ini.

7. Ibu Retno Subekti, M.Sc. sebagai Dosen Penasehat Akademik yang telah

memberikan nasehat kepada penulis selama masa studi penulis.

8. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Matematika yang ikhlas membagi dan

memberikan ilmunya.

9. Ibu Sri Handayani, S.Pd. selaku kepala SMP Negeri 3 Berbah yang telah

memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.

10. Bapak Wartaya, S.Pd. dan Bapak Maryono S.Pd. selaku guru matematika

SMP Negeri 3 Berbah yang telah banyak membantu saat dilaksanakan

penelitian ini.

11. Siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Berbah tahun pelajaran 2012/2013, yang

telah bersedia menjadi subjek uji coba dalam penelitian ini.

12. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan dan penyusunan

skripsi ini.

Penulis berharap semoga karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin.

Yogyakarta, 23 Oktober 2012

Penulis,

Anita Mayasari

9
DAFTAR ISI

Hal
Halaman Judul ......................................................................................................... i
Halaman Persetujuan .............................................................................................. ii
Halaman Pengesahan ............................................................................................ iii
Halaman Pernyataan .............................................................................................. iv
Halaman Moto ........................................................................................................ v
Halaman Persembahan........................................................................................... vi
Abstrak ........................................................................................................... vii
Kata Pengantar ............................................................................................... viii
Daftar Isi ................................................................................................................. x
Daftar Tabel ......................................................................................................... xii
Daftar Gambar ..................................................................................................... xiii
Daftar Lampiran .................................................................................................. xiv
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................................. 6
C. Rumusan Masalah .................................................................................... 7
D. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 7
E. Manfaat Penelitian ................................................................................... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori ......................................................................................... 9
1. Bahan Ajar ........................................................................................... 9
2. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) ......................................................... 12
3. Masalah ............................................................................................. 18
4. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah .................................... 19
5. Matematika SMP ................................................................................ 23
6. Bilangan Bulat .................................................................................... 25
B. Penelitian yang Relevan .......................................................................... 28
C. Kerangka Berpikir ................................................................................... 29
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ....................................................................................... 32
B. Desain Penelitian .................................................................................... 32
1. Analisis (Analysis) ............................................................................. 32
2. Desain (Design).................................................................................. 33
3. Pengembangan (Development)........................................................... 34
4. Implementasi (Implementation) ........................................................ 35
5. Evaluasi (Evaluation) ......................................................................... 35
C. Subjek Penelitian ..................................................................................... 36
D. Setting Penelitian ................................................................................... 36
E. Instrumen Penelitian ............................................................................... 36
1. Instrumen untuk Mengukur Kevalidan LKS ..................................... 37
2. Instrumen untuk Mengukur Kepraktisan LKS .................................. 38
3. Instrumen untuk Mengukur Keefektifan LKS .................................. 39
F. Jenis Data ............................................................................................... 39

10
G. Teknik Analisis Data ............................................................................... 40
1. Analisis Kevalidan LKS ..................................................................... 40
2. Analisis Kepraktisan LKS .................................................................. 41
3. Analisi Keefektifan LKS .................................................................... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 46
1. Proses Pengembangan LKS ............................................................... 46
2. Kualitas LKS ...................................................................................... 76
B. Pembhasan .............................................................................................. 81
C. Keterbatasan Penelitian ........................................................................... 86
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ................................................................................................. 87
B. Saran ........................................................................................................ 89
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 90
LAMPIRAN ........................................................................................................ 93

11
DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 1. Persentase Daya Serap Siswa SMP pada Materi Bilangan Bulat .. 5
Tabel 2. Sintaks untuk Pembelajaran Berbasis Masalah ................................... 22
Tabel 3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ....................................... 26
Tabel 4. Pedoman Penskoran Lembar Penilaian LKS untuk Ahli ................... 40
Tabel 5. Konversi Skor Data Kuantitatif menjadi Data Kualitatif .................... 41
Tabel 6. Pedoman Penskoran Lembar Penilaian LKS untuk Guru .................. 42
Tabel 7. Pedoman Penskoran Angket Respon Siswa ........................................ 42
Tabel 8. Kriteria Hasil Belajar Siswa ................................................................ 44
Tabel 9. Kriteria Ketuntasan Belajar Klasikal .................................................. 44
Tabel 10. Kriteria Observasi Penggunaan LKS ................................................. 45
Tabel 11. Rincian Judul Bab, Subbab, dan Judul LKS ...................................... 49
Tabel 12. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek Kualitas
Materi LKS ........................................................................................ 64
Tabel 13. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek Kesesuaian
LKS dengan Syarat Didaktik ............................................................. 64
Tabel 14. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek Kesesuaian
LKS dengan Syarat Konstruksi .......................................................... 64
Tabel 15. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek Kesesuaian
LKS dengan Syarat Teknis ................................................................ 65
Tabel 16. Rincian Aspek dan Jumlah Butir Pernyataan Lembar Penilaian
LKS untuk Guru .................................................................................. 66
Tabel 17. Rincian Aspek dan Jumlah Butir Pernyataan Angket Respon
Siswa .................................................................................................. 66
Tabel 18. Waktu Uji Coba LKS di SMP N 3 Berbah ........................................ 72
Tabel 19. Hasil Penilaian LKS oleh Ahli .......................................................... 77
Tabel 20. Hasil Penilaian LKS oleh Guru .......................................................... 78
Tabel 21. Hasil Angket Respon Siswa ............................................................... 79
Tabel 22. Hasil Observasi Penggunaan LKS ..................................................... 80

12
DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 1 Garis Bilangan Bulat ..................................................................... 26
Gambar 2 Urutan Bagian LKS ....................................................................... 51
Gambar 3 Tampilan Cover/Sampul LKS ....................................................... 54
Gambar 4 Tampilan Kata Pengantas ............................................................... 54
Gambar 5 Tampilan Sajian Isi LKS ............................................................... 55
Gambar 6 TampilanDaftar Isi ......................................................................... 55
Gambar 7 Tampilan Pendahuluan Bilangan Bulat .......................................... 56
Gambar 8 Tampilan Bagian Awal Lembar Kegiatan Siswa .......................... 57
Gambar 9 Tampilan Indikator dan Petunjuk Umum ....................................... 58
Gambar 10 Tampilan Petunjuk Khusus .......................................................... 59
Gambar 11 Tampilan Masalah ........................................................................ 59
Gambar 12 Tampilan Kegiatan Diskusi dan Ingat Kembali .......................... 60
Gambar 13 Tampilan Latihan Soal ................................................................. 61
Gambar 14 Tampilan Kunci Jawaban ............................................................ 61
Gambar 15 Tampilan Daftar Pustaka .............................................................. 62
Gambar 16 Aktivitas Siswa Mengerjakan LKS ............................................. 73
Gambar 17 Peneliti Mengecek Diskusi Siswa ................................................ 73
Gambar 18 Peneliti Menerangkan Bagian yang Tidak Dipahami Siswa ........ 74
Gambar 19 Siswa Mempresentasikan Hasil Diskusi ...................................... 74
Gambar 20 Siswa Mengisi Angket Respon Siswa .......................................... 75
Gambar 21 Siswa Mengerjakan Tes Tertulis .................................................. 75

13
DAFTAR LAMPIRAN

Hal
LAMPIRAN A
A. 1Analisis Kurikulum
95
A. 2Peta Kebutuhan LKS
99
A. 3RPP Pertemuan I
100
A. 4RPP Pertemuan II
104
A. 5 RPP Pertemuan III ................................................................................... 108
LAMPIRAN B
B. 1 Kisi-kisi Lembar Penilaian LKS untuk Ahli Materi ............................ 112
B. 2Lembar Penilaian LKS untuk Ahli Materi
113
B. 3 Deskripsi Butir Penilaian LKS untuk Ahli Materi
117
B. 4Kisi-kisi Lembar Penilaian LKS untuk Ahli Media
121
B. 5Lembar Penilaian LKS untuk Ahli Media
122
B.6 Deskripsi Butir Penilaian LKS untuk Ahli Media ................................... 125
B.7 Kisi-kisi Lembar Penilaian LKS untuk Guru .......................................... 127
B.8 Lembar Penilaian LKS untuk Guru ......................................................... 128
B.9 Kisi-kisi Angket Respon Siswa ............................................................... 131
B.10 Angket Respon Siswa .............................................................................. 132
B.11 Kisi-kisi Soal Tes Tertulis ....................................................................... 135
B.12 Soal Tes Tertulis ..................................................................................... 136
B.13 Pedoman Penskoran Tes Tertulis ............................................................. 137
B. 14 Lembar Observasi Penggunaan LKS ....................................................... 139
LAMPIRAN C
C. 1 Hasil Pengisian Lembar Penilaian LKS oleh AhliMateri ........................ 142
C. 2Hasil Pengisian Lembar Penilaian LKS oleh Ahli
Media 150
C. 3Hasil Pengisian Lembar Penilaian LKS oleh Guru
156
C. 4Beberapa Hasil Pengisian Angket Respon Siswa
162
C. 5Beberapa Lembar Hasil Tes Tertulis
168
C. 6 Hasil Pengisian Lembar Observasi Penggunaan LKS ............................. 171
LAMPIRAN D
D. 1 Hasil Analisis Lembar Penilaian LKS oleh Ahli ................................... 178
D. 2Hasil Analisis Lembar Penilaian LKS oleh Guru

14
184
D. 3Hasil Analisis Angket Respon Siswa
188
D. 4Hasil Analisis Tes Tertulis
193
D. 5 Hasil Analisis Lembar Observasi Penggunaan LKS ............................... 195
LAMPIRAN E
E. 1 Hasil Pengerjaan LKS oleh Siswa ............................................................ 199
LAMPIRAN F
F. 1 Surat Keputusan Penunj ukan Dosen Pembimbing ................................. 214
F. 2Surat Permohonan Validasi Instrumen
215
F.3 Surat Keterangan Validasi Instrumen ..................................................... 217
F.4 Surat Permohonan Validasi LKS ............................................................ 219
F.5 Surat Keterangan Validasi LKS .............................................................. 223
F.6 Surat Perijinan Penelitian dari BAPPEDA .............................................. 227
F. 7 Surat Keterangan Penelitian dari SMP N 3 Berbah ............................... 228
LAMPIRAN G
G. 1 LKS untuk Siswa ................................................................................. 230
G. ........................................................................................................ 2 LKS
untuk Guru ..................................................................................................... 275

15
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dalam arti luas sudah ada dan mulai dilaksanakan sejak manusia

berada di muka bumi ini. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia di sepanjang

hidupnya. Menurut Redja Mudyahardjo (2001: 3) pendidikan adalah segala

pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang

hidupnya yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Tujuan pendidikan adalah

perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi pada subjek didik setelah mengalami

proses pendidikan, antara lain perubahan pada tingkah laku individu, kehidupan

pribadi individu maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana

individu itu hidup (Binti Maunah, 2009: 9). Oleh karena itu dengan adanya

pendidikan maka manusia dapat terus maju dan berkembang menjadi lebih baik.

Pendidikan yang terus dilakukan sepanjang waktu akan mengalami

perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Matematika merupakan salah satu ilmu yang berperan penting dalam menunjang

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini membuat pemerintah sebagai

penyelenggara pendidikan di Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan mutu

dan kualitas pendidikan khususnya dalam pembelajaran matematika.

Salah satu upaya yang terus dilakukan pemerintah adalah dengan

pengembangan kurikulum. Pada tahun 2006, pemerintah memberlakukan

kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yaitu kurikulum yang dikembangkan

1
oleh masing-masing satuan pendidikan. Pengembangan KTSP yang mengacu pada

standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional

(BSNP, 2006: 3). KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan

dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (BSNP, 2006: 5). Sekolah dalam

hal ini sebagai satuan pendidikan mempunyai hak untuk mengembangkan kurikulum

yang mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat

dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Dalam pengembangan KTSP, sekolah harus mempersiapkan sarana dan

prasarana yang diperlukan dalam pelaksanakan kurikulum tersebut. Diantaranya

adalah dengan mempersiapkan kurikulum untuk setiap mata pelajaran termasuk

mata pelajaran matematika yang disesuaikan dengan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar masing-masing mata pelajaran.

KTSP dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan sehingga kurikulum dan

bahan ajar yang digunakan di setiap sekolah berbeda sesuai dengan kondisi dari

masing-masing sekolah. Selain itu bahan ajar yang dikembangkan masing- masing

sekolah juga harus disesuaikan dengan kurikulum dan karakteristik sekolahnya.

Walaupun kurikulum saat ini menuntut profesionalitas guru dalam

mengembangkan bahan ajar sendiri, namun sampai saat ini belum banyak guru yang

melakukannya. Kebanyakan para guru hanya menggunakan buku teks dari penerbit

tertentu. Hal ini memang dianggap lebih praktis bagi guru dari pada mereka harus

menyusun bahan ajar sendiri. Selain itu sebagian siswa yang tidak mempunyai buku

teks bahkan hanya mengandalkan catatan mereka sebagai sumber belajarnya. Akan

2
tetapi ini belum cukup untuk dijadikan sebagai satu- satunya sumber belajar. Di era

informasi seperti saat ini siswa dapat dengan mudah mencari informasi lain selain

informasi yang diperoleh dari guru atau buku pelajaran.

Selain itu sebagian besar pola pembelajaran saat ini juga masih bersifat

tansmitif, pengajar mentransfer dan menggerojokkan konsep-konsep secara

langsung pada peserta didik sehingga siswa hanya secara pasif menyerap struktur

pengetahuan yang diberikan guru atau yang terdapat dalam buku pelajaran (Trianto,

2010: 18). Sejalan dengan itu, Soedjadi dalam Trianto (2010:18) menyatakan bahwa

dalam kurikulum sekolah di Indonesia terutama pada mata pelajaran eksak

(matematika, fisika, kimia) dan dalam pengajarannya selama ini terpatri kebiasaan

dengan urutan sajian pembelajaran sebagai berikut: (1) Diajarkan

teori/teorema/definisi; (2) Diberikan contoh-contoh; dan (3) Diberikan latihan soal-

soal. Sedangkan pembelajaran yang dikembangkan saat ini harus berpusat pada

siswa (student centered approach) dimana guru hanya sebagai fasilitator yang

menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pengetahuan siswa berjalan

mulus. Dengan adanya bahan ajar dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan

baru selain yang diperoleh dari guru atau buku pelajaran. Selain itu, bahan ajar juga

akan mengurangi ketergantungan siswa pada guru sebagai satu-satunya sumber

informasi/pengetahuan.

Ada banyak bentuk bahan ajar yang dapatdikembangkan oleh guru. Menurut

Abdul Majid (2006: 174), bentuk bahan dapat dapat dikelompokan menjadi empat

jenis yaitu bahan ajar cetak (printed), bahan ajar dengar (audio), bahan ajar pandang

3
dengar (audio visual), dan bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching

material). Bahan ajar yang mudah untuk dikembangkan oleh guru adalah bahan ajar

cetak, dan salah satunya yang berupa Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

Berbeda dengan jenis bahan ajar yang lain, LKS menyediakan aktivitas-

aktivitas yang berpusat pada siswa. LKS berisi petunjuk-petunjuk baik berupa

pertanyaan maupun pernyataan yang harus dijawab oleh siswa sehingga siswa

belajar secara terarah. Menurut Endang Widjajanti (2008: 1) LKS merupakan salah

satu bahan ajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dalam

kegiatan belajar. LKS yang disusun dapat dirancang dan dikembangkan sesuai

dengan kondisi kegiatan pembelajaran yang dihadapi. Penggunaan LKS dalam

pengajaran akan membuat siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan menggali

kemampuannya dalam mempelajari matematika.

Salah satu materi yang dapat disampaikan dengan menggunakan LKS adalah

materi bilangan bulat. Menurut Standar Isi mata pelajaran matematika, bbilangan

bulat merupakan materi yang diberikan di jenjang SMP kelas VII semester ganjil.

Siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami materi ini Hasil ujian nasional

menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap beberapa kemampuan yang

berkaitan dengan materi bilangan bulat menurun setiap tahunnya, seperti

ditunjukkan pada Tabel 1 berikut ini.

4
Tabel 1. Persentase Daya Serap Siswa SMP pada Materi Bilangan Bulat
Tahun Kemampuan yang diuji Daya serap
2009 Menghitung operasi tambah dan kurang pada 81,25%
bilangan bulat positif dan negatif.
Menghitung operasi kali dan bagi pada 79,64%
bilangan bulat positif dan negatif.
Mnentukan hasil operasi hitung campuran 79,89%
2010
(+, -, x, atau :) pada bilangan bulat.
2011 Menghitung 76,29%
hasil operasi tambah, kurang, kali, dan bagi
pada bilangan bulat.
Rata-rata 79,27%
Sumber: BSNP

Berdasarkan Tabel. 1, rata-rata daya serap siswa pada materi bilangan bulat

sebesar 79,27% dan tergolong dalam kategori baik. Daya serap siswa berdasarkan

hasil Ujian Nasional tersebut menurun setiap tahunnya. Jika penguasaan materi ini

dimaksimalkan maka hasil belajarnya pun juga akan lebih baik. Salah satu upaya

yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penguasan materi bilangan bulat adalah

dengan menggunakan LKS yang dikembangkan dengan pendekatan tertentu, seperti

LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah.

Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah salah satu

pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah

menurut Tan adalah inovasi dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran

berbasis masalah kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui

proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat

memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya

secara berkesinambungan (Rusman, 2011: 229).

Pembelajaran berbasis masalah juga membantu siswa untuk mengembangkan

5
kemampuan berpikir dan ketrampilan mengatasi masalah (Richard I. Arends, 2008:

43). Sebuah LKS yang dikembangkan dengan menggunakan pendekatan

pembelajaran berbasis masalah diharapkan akan tercipta suatu pembelajaran yang

efektif. Penggunaan masalah awal dalam LKS berbasis masalah diambil dari

masalah-masalah kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan bilangan bulat

diharapkan memudahkan siswa dalam memahami materi bilangan bulat.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengembangkan LKS

berbasis masalahm pada materi bilangan bulat untuk siswa kelas VII SMP.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi masalah

sebagai berikut.

1. Dengan berlakunya KTSP, guru diwajibkan untuk memiliki kemampuan

mengembangkan bahan ajar secara mandiri, namun pada kenyataannya

masih guru guru yang belum mampu mengembangkan bahan ajar secara

mandiri.

2. Perlu adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga guru hanya

bertindak sebagai fasilitator, namun pada kenyataannya pembelajaran masih

berpusat pada guru.

3. Bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran kurang bervariasi.

4. Persentase penguasaan materi soal matematika UN untuk tahun 2009 hingga

tahun 2011 pada beberapa kemampuan yang berkaitan dengan materi

bilangan bulat menurun setiap tahunnya.

6
C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas maka

permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimana mengembangkan LKS berbasis masalah pada materi bilangan

bulat untuk siswa kelas VII SMP?

2. Bagaimana kualitas LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat untuk

siswa kelas VII SMP yang ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan, dan

keefektifan LKS?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Menghasilkan LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat untuk siswa

kelas VII SMP.

2. Mendeskripsikan kualitas LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat

untuk siswa kelas VII SMP yang ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan,

dan keefektifan.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa

Dengan menggunakan LKS sebagai sumber belajar matematika diharapkan

dapat tercipta suatu pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa

dapat lebih aktif dalam belajar dikelas.

2. Bagi Guru

Penggunaan LKS sebagai salah satu bahan ajar diharapkan dapat

7
memberikan gambaran pada guru tentang pembelajaran yang berpusat pada

siswa, dimana guru hanya sebagai fasilitator yang menyediakan sarana dan

situasi agar proses konstruksi pengetahuan siswa berjalan mulus.

3. Bagi Penulis

Penulis akan mendapatkan pengalaman berharga dalam penelitian. Sebagai

cal on guru yang dituntut untuk mampu mengembangkan bahan ajar sendiri,

penulis akan memiliki dasar-dasar kemampuan mengembangkan bahan ajar

yang berupa LKS. Selain itu juga dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi

dalam mengembangkan bahan ajar.

8
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Bahan Ajar

a. Pengertian bahan ajar

Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd/National

Center for Competency Based Training bahan ajar adalah segala bentuk bahan

yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan

kegiatan belajar mengajar di kelas (Abdul Majid, 2006: 174). Bahan yang

dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar atau

materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka

mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan (Depdiknas, 2006: 4). Bahan

ajar merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi

pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang di desain

secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan,

yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya

(Chomsin S. Widodo dan Jasmadi, 2008: 40).

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar

adalah segala bentuk bahan, baik bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis, yang

digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan

9
berisikan materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa untuk mencapai standar

kompetensi yang telah ditentukan.

b. Jenis bahan ajar

Terdapat berbagai macam bentuk atau jenis bahan ajar. Abdul Majid (2006:

174) mengelompokan bentuk bahan ajar menjadi empat kelompok, yang meliputi:

1. Bahan ajar cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kegiatan

siswa), brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.

2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact

disk audio.

3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.

4. Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) seperti compact disk

interactif

Dari keempat jenis bahan ajar tersebut, yang lebih mudah untuk

dikembangkan adalah bahan ajar cetak. Selain itu, Steffen Peter Ballstaedt dalam

Abdul Majid (2006: 175) mengemukakan bahwa bahan ajar cetak juga memiliki

beberapa keuntungan, antara lain:

1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi

seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang

sedang dipelajari.

2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit.

3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dengan mudah dipindah-

pindahkan.

4. Menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu.

10
5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca dimana saja.

6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan

aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa.

7. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar.

8. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri.

c. Tujuan dan manfaat pengembangan bahan ajar

Depdiknas (2008: 9) mengemukakan bahwa suatu bahan ajar disusun

bertujuan untuk:

1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan

mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan

karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.

2. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-

buku teks yang terkadang sulit diperoleh.

3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Manfaat pengembangan bahan ajar bagi guru menurut Depdiknas (2008: 9)

antara lain:

1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan

kebutuhan belajar siswa.

2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh.

3. Bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan

menggunakan berbagai referensi.

4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis

bahan ajar.

11
5. Bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif

antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada

gurunya.

2. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

a. Pengertian LKS

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang

harus dikerjakan oleh peserta didik (Abdul Majid, 2008: 176). Menurut Depdiknas

(2008: 23) LKS diartikan sebagai lembar kegiatan yang berisi petunjuk, langkah-

langkah untuk menyelesaikan tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar

kegiatan harus jelas Kompetensi dasar yang akan dicapainya. Menurut Collete dan

Chiappetta dalam Bakharuddin (2012), pemilihan materi pembelajaran seharusnya

berpijak pada pemahaman bahwa materi pembelajaran tersebut menyediakan

aktivitas-aktivitas yang berpusat pada siswa yang dapat dikemas dalam bentuk LKS.

Lembar kerja siswa sebagai sumber belajar dapat digunakan sebagai

alternatif media pembelajaran karena dapat digunakan secara bersama dengan

sumber belajar atau media pembelajaran yang lain. Menurut Surachman dalam

Endang Widjajanti (2008:1) LKS merupakan jenis handout yang dimaksudkan untuk

membantu siswa belajar secara terarah. LKS juga dapat menjadi buku pegangan bagi

guru di samping buku lainnya.

Endang Widjajanti (2008: 1-2) menyatakan beberapa fungsi pembelajaran

menggunakan LKS, antara lain sebagai berikut:

1. Merupakan alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran suatu

kegiatan tertentu sebagai kegiatan belajar mengajar.

12
2. Dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh materi yang telah dikuasai

siswa.

3. Dapat membantu siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.

4. Dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa, meningkatkan motivasi belajar

dan rasa ingin tahu.

5. Dapat mempermudah penyelesaian tugas perorangan, kelompok atau klasikal

karena dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan kecepatan belajarnya.

6. Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

b. Penyusunan LKS

Dalam menyusun LKS diperlukan model pengembangan yang tepat, agar

LKS yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mencapau tujuan pembelajaran yang

sudah ditetapkan. Salah satunya dengan model ADDIE (Analysis, Design,

Development, Implementation, dan Evaluation) yang langkah-langkahnya meliputi:

1. Analisis (Analysis)

Pada tahap ini dilakukan analisis untuk menentukan LKS seperti apa yang

akan dikembangkan.

2. Desain (Design)

Pada tahap ini disusun desain awal LKS yang bertujuan untuk memperjelas

pembagian/urutan penyajian materi.

3. Pengembangan (Development)

Pada tahap ini disusun sebuah draft awal LKS yang kemudian divalidasi dan

direvisi sehingga diperoleh draft LKS yang siap diujicobakan dalam

pembelajaran di sekolah.

13
4. Implementasi (Implementation)

Pada tahap ini dilakukan implementasi/uji coba draft LKS dalam

pembelajaran di sekolah.

5. Evalusi (Evaluation)

Pada tahap ini dilakukan analisis hasil uji coba sebagai bahan perbaikan LKS

untuk selanjutnya dilakukan revisi kembali terhadap LKS.

c. Kualitas LKS

Untuk menentukan kualitas hasil pengembangan model dan perangkat

pembelajaran diperlukan tiga kriteria: kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan, yang

mengacu pada kriteria kualitas hasil penelitian pengembangan yang dikemukakan

oleh Van den Akker dan kriteria kualitas produk yang dikemukakan oleh Nieveen

(Rochmad, 2011: 14).

Menurut Nieveen (Rochmad, 2011: 14-17) aspek validitas dapat dilihat dari:

(1) apakah kurikulum atau model pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada

state-of-the art pengetahuan; dan (2) apakah berbagai komponen dari perangkat

pembelajaran terkait secara konsisten antara yang satu dengan lainnya.

Aspek kepraktisan dilihat dari segi pengguna: (1) apakah para ahli dan praktisi

berpendapat bahwa apa yang dikembangkan dapat digunakan dalam kondisi normal;

dan (2) apakah kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut

dapat diterapkan oleh guru dan siswa. Dan aspek keefektifan juga dikaitkan dengan

dua hal, yaitu: (1) ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa

produk tersebut efektif, (2) dalam operasionalnya model tersebut memberikan hasil

yang sesuai dengan harapan (hasil belajar siswa).

14
Menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis (1992:41-46), agar

memiliki kualitas yang baik maka LKS yang disusun harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut:

1. Syarat didaktik

Artinya LKS harus mengikuti asas-asas pembelajaran efektif, seperti:

a. Memperhatikan perbedaan individu sehingga dapat digunakan oleh

seluruh siswa dengan kemampuan yang berbeda.

b. Menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga

berfungsi sebagai petunjuk bagi siswa untuk mencari informasi bukan

sebagai alat pemberi informasi.

c. Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa

sehingga dapat memberikan kepada siswa untuk menulis, menggambar,

berdialog dengan temannya, menggunakan alat, menyentuh benda nyata

dan sebagainya.

d. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral dan

estetika pada diri anak, sehingga tidak hanya ditujukan untuk mengenal

fakta dan konsep akademis.

e. Pengalaman belajar yang dialami siswa ditentukan oleh tujuan

pengembangan pribadi siswa.

2. Syarat kontruksi

Berhubungan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata,

tingkat kesukaran dan kejelasan dalam LKS yang meliputi:

a. menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak;

15
b. menggunakan struktur kalimat yang jelas;

c. memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan

siswa;

d. menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka, pertanyaan dianjurkan isian

jawabannya merupakan hasil dari pengolahan informasi, bukan

mengambildari perbendaharaan pengetahuan yang tak terbatas;

e. mengacu pada sumber belajar yang masih dalam kemampuan dan

keterbacaan siswa;

f. menyediakan ruang yang cukup untuk memberi keluasan pada siswa

untuk menulis maupun meggambarkan hal-hal yang ingin siswa

sampaikan dengan memberi bingkai tempat menulis dan menggambar

jawaban;

g. menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek;

h. gunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata;

i. memiliki tujuan yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber motivasi;

j. mempunyai identitas untuk mempermudahkan administrasi, misalnya

kelas, mata pelajara, topik, nama atau nama-nama anggota kelompok dan

sebagainya.

3. Syarat teknis

Menekankan pada tulisan, gambar dan penampilan yang dipaparkan sebagai

berikut:

a. Tulisan, tulisan dalan LKS harus memperhatikan hal-hal seperti:

1. menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin;

16
2. menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik;

3. meggunakan bingkai untuk membedakan pertanyaan dan j awaban;

4. perbandingan antara huruf dan gambar serasi.

b. Gambar, penggunaan gambar dalam LKS harus mendukung kejelasan

konsep.

c. Penampilan, ukuran lembar kegiatan siswa, desain, tata letak dan ilustrasi

harus dibuat menarik.

Dalam penelitian ini kualitas LKS yang dikembangkan dinilai dari:

1. Aspek kevalidan

LKS berbasis masalah dikatakan valid jika memenuhi kriteria yaitu hasil

penilaian validator menyatakan bahwa LKS layak digunakan dengan revisi

atau tanpa revisi didasarkan pada landasan teoritik yang kuat. Pengembangan

LKS berbasis masalah memenuhi aspek kesesuain LKS dengan syarat

didaktik, syarat konstruksi, syarat teknis, kesesuaian dengan pendekatan

pembelajaran berbasis masalah dan aspek kualitas materi LKS.

2. Aspek kepraktisan

LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat dikatakan praktis jika para

responden (guru dan siswa) menyatakan bahwa LKS dapat diterapkan di

kelas dan bermanfaat, yang ditunjukkan oleh hasil lembar penilaian guru dan

hasil angket respon siswa.

3. Aspek Keefektifan

LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat dikatakan efektif jika

memberikan hasil yang sesuai dengan harapan dengan ditunjukkan oleh hasil

17
belajar siswa.

3. Masalah

Masalah adalah suatu situasi yang mendorong seseorang untuk

menyelesaikannya tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk

menyelesaikannya (Erman Suherman, dkk., 2003: 92). Suatu pertanyaan akan

merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan/hukum

tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertnyaan

tersebut (Herman Hudojo, 2001: 162).

Pertanyaan merupakan suatu masalah bagi seorang siswa pada suatu saat,

tetapi bukan merupakan suatu masalah lagi bagi seorang siswa tersebut pada saat

berikutnya, bila siswa tersebut sudah mengetahui cara/proses mendapatkan

penyelesaian masalah tersebut. Adapun syarat suatu masalah menurut Herman

Hudojo (2005: 124) adalah sebagai berikut.

1. Pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang siswa haruslah dapat

dimengerti oleh siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan

tantangan baginya untuk menjawabnya.

2. Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah

diketahui siswa. Karena itu, faktor waktu untuk menyelesaikan masalah

janganlah dipandang sebagai hal yang esensial.

Jadi dapat disimpulkan bahwa masalah dalam konteks pembelajaran

matematika adalah suatu hal yang secara sadar dimengerti oleh siswa untuk dicari

penyelesaiannya, namun untuk mendapatkan penyelesaian tersebut tidak dapat

menggunakan cara yang sudah secara mudah untuk diketahui prosedurnya.

18
Menurut Polya yang dikutip oleh Herman Hudojo (2001: 164) terdapat dua

macam masalah.

1. Masalah untuk menemukan, dapat toritis/praktis, abstrak/konkret/, termasuk

teka-teki. Bagian utama dari masalah ini adalah apakah yang dicari,

bagaimana data yang diketahui, dan bagaimana syaratnya. Ketiga bagian

utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis

ini.

2. Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu

pernyataaan itu benar atau salah-tidak kedua-duanya. Bagian utama dari

masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus

dibuktikan kebenarannya.

4. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Dewey dalam Trianto (2010: 91), belajar berdasarkan masalah

adalah interaksi antara stimulus dan respons yang merupakan hubungan antara dua

arah belajar dan lingkungan, dimana lingkungan memberi masukan kepada siswa

berupa bantuan dan masalah, untuk kemudian bantuan yang diperoleh ditafsirkan

secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis

serta dicari pemecahannya dengan baik.

Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) atau biasa

disingkat PBM dinilai sangat efektif untuk pengajaran berpikir tingkat tinggi. PBM

membantu siswa untuk mengembangkan ketrampilan berpikir dan ketrampilan

mengatasi masalah, mempelajari peran-peran orang dewasa dan menjadi pembelajar

yang mandiri (Richard I.Arends, 2007: 43). Menurut Tan dalam Rusman (2011:

19
229), PBM merupakan inovasi dalam pembelajaran karena PBM membuat

kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja

kelompok, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara

berkesinambungan. Menurut Djamilah B.W. (2011: 3) PBM adalah suatu

pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata atau masalah simulasi

yang kompleks sebagai titik awal pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa PBM

adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah

nyata atau masalah simulasi yang kompleks yang bertujuan untuk mengembangkan

ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi dan kemampuan memecahkan masalah agar

siswa menjadi pembelajar mandiri yang aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Dave S. Knolton dan David C. Sharp (2003: 26-27), menyatakan ada 5

kriteria masalah dalam PBM yang menunjang aktivitas berfikir siswa adalah sebagai

berikut.

1. Appropriate for students

Masalah itu tepat untuk siswa atau dengan kata lain sesuai dengan tingkat

perkembangan intelektualnya.

2. Ill-srtuctured

Masalah itu seharusnya mempunyai struktur yang tidak jelas. Masalah yang

tidak jelas dapat diselesaikan dengan jawaban sederhana, tetapi

menggunakan berbagai macam langkah untuk menyelesaikan permasalahan

tersebut.

3. Collaborative

20
Masalah itu dibuat supaya siswa lebih berfikir tingkat tinggi yang

memerlukan kerjasama diantara siswa.

4. Authentic

Masalah itu seharusnya autentik atau dikaitkan dengan pengalaman rill

siswa.

5. Promotes lifelong and self-directed learning

Djamilah B.W. (2011: 3) menyatakan bahwa karakteristik PBM meliputi: (1)

pembelajaran dipandu oleh masalah yang menantang; (2) Para siswa bekerja dalam

kelompok kecil; (3) Guru mengambil peran sebagai fasilitator dalam pembelajaran.

Arends (2007: 381) menuliskan karakteristik PBM menurut para pengembang PBM

meliputi.

1. Pertanyaan atau masalah perangsang. PBM mengorganisasikan pengajaran di

seputar pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan bermakna

bagi siswa.

2. Fokus antar disiplin ilmu. Masalah yang diinvestigasi dipilih karena

solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subyek.

3. Investigasi yang mandiri dan keompok. PBM mengharuskan siswa untuk

melakukan investigasi mandiri dan kelompok yang berusaha menemukan

solusi nyata untuk masalah nyata.

4. Menghasilkan produk dan menyajikannya. PBM menuntut siswa untuk

mengonstruksikan produk bisa dalam bentuk laporan dan menyajikanya.

5. Kolaborasi. PBM ditandai oleh siswa yang bekerja bersama-sama siswa

lain.

21
Tabel 2. Sintaks untuk Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase Perilaku Guru
Fase 1: Memberikan orientasi Guru membahas tujuan pelajaran,
tentang mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik
permasalahannya kepada penting, dan memotivasi siswa untuk terlibat
siswa dalam kegiatan mengatasi-masalah.
Fase 2: Mengorganisasikan siswa Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan
untuk meneliti mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang
terkait dengan permasalahannya.
Fase 3: Membantu investigasi Guru mendorong siswa untuk mendapatkan
mandiri dan kelompok informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen,
dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4: Mengembangkan dan Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
mempressentasikan menyiapkan produk yang tepat, seperti laporan,
produk dan rekaman video, dan model-model, dan membantu
menyajikannya mereka untuk menyampaikannya kepada orang
lain.
Fase 5: Menganalisis dan Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
mengevaluasi proses terhadap investigasinya dan proses- proses yang
mengatasi masalah- mereka gunakan.
masalah
(Arends, 2007: 394)

Arends (2007: 381-382) menyatakan bahwa PBM dirancang terutama

bertujuan untuk:

1. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berpikir, ketrampilan

pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektulnya.

2. Mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui

berbagai situasi nyata atau situasi yang disimulasikan.

3. Menjadi pembelajar yang mandiri.

Menurut Trianto (2010: 96-97) pendekatan pembelajaran berbasis masalah

memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan PBM sebagai suatu pendekatan

pembelajaran antara lain:

1. sesuai dengan kehidupan siswa;

22
2. konsep sesuai dengan kebutuhan siswa;

3. memupuk sifat ingin tahu siswa;

4. pemahaman konsep jadi kuat; dan

5. memupuk kemampuan pemecahan masalah.

Selain kelebihan tersebut PBM juga memiliki kekurangan antara lain:

1. persiapan pembelajaran (alat, masalah, konsep) yang kompleks;

2. sulitnya mencari masalah yang relevan;

3. sering terjadi perbedaan konsep; dan

4. konsumsi waktu yang sering tersita untuk proses penyelidikan.

5. Matematika SMP

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang penting dalam berbagai

disiplin ilmu dan mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika yang

dimaksud dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah adalah

matematika sekolah. Matematika sekolah merupakan matematika yang diajarkan

jenjang persekolahan. Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika

yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk

pribadi serta berorientasi pada perkembangan IPTEK (Erman Suherman, 2003: 56).

Pembelajaran matematika di sekolah dilaksanakan agar para siswa dapat

memahami konsep matematika untuk digunakan dal am memecahkan permasalahan.

Menurut Erman Suherman (2003: 58) tujuan umum pembelajaran matematika di

sekolah adalah memberikan penekanan pada penataan nalar, pembentukan sikap

siswa, dan keterampilan dalam penerapan ilmu matematika baik dalam kehidupan

sehari-hari maupun membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Sedangkan

23
menurut BSNP (2006: 346) pembelajaran matematika bertujuan agar peserta didik

memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan

tepat, dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi

yang diperoleh.

4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta

sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Dengan pembelajaran

matematika, para siswa SMP diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri,

sikap ulet, dan dapat berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Tujuan khusus

pembelajaran matematika di SMP adalah sebagai berikut (Erman Suherman, 2003:

58):

1. Siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan

matematika.

2. Siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan

24
ke pendidikan menengah.

3. Siswa memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan

dari matematika sekolah dasar untuk digunakan dalam kehidupan sehari-

hari.

4. Siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis,

cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika.

3. Materi Bilangan Bulat

Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran matematika SMP

yang berkaitan dengan materi bilangan bulat diperlihatkan dalam table berikut.
Tabel 3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Bilangan
1. Memahami sifat-sifat operasi hitung 1.1 Melakukan operasi hitung bilangan
bilangan dan bulat dan pecahan
penggunaannya dalam pemecahan 1.2 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung
masalah bilangan bulat dan pecahan dalam
pemecahan masalah
Sumber: BSNP (2006: 347).

Bilangan bulat terdiri atas bilangan asli atau bilangan bulat positif, nol,

dan lawan bilangan asli atau bilangan bulat negatif (lawan dari bilangan asli), yaitu

B = {..., -3, -2,-1,0,1,2,3,...}.


^_l ll l llll l l l l l l l l l l l l !_►
-10 -9 -8 -7 -6- -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

< --------------- I ----------------- ►


Bilangan bulat negatif nol bilangan bulat positif

Gambar 2 Garis bilangan bulat

Operasi bilangan bulat adalah operasi yang dilakukan terhadap bilangan

bulat. Setiap operasi dasar dapat dilakukan terhadap bilangan bulat, yang meliputi

operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian (St. Negoro dan B.

25
Harahap, 1990: 308-312).

Operasi Hitung Bilangan Bulat antara lain:

1. Penjumlahan

Bila a dan b bilangan asli, maka:


a+b=b+a

(-a) + (—b) = —(a + b)

a + (-b) = a - b, dimana a > b

a + (-b) = (-b) + a = -(b - a), dimana a <


Lawan dari bilangan a adalah (- a). Lawan dari bilangan (- a) adalah a.

Sehingga berlaku a + (—a) = (—a) + a = 0. Sifat-sifat penjumlahan

bilangan bulat adalah sebagai berikut:

a. Asosiatif, yaitu untuk setiap a, b dan c bilangan bulat berlaku (a + b) +

c = a + (b + c).

b. Komutatif, yaitu untuk setiap a dan b bilangan bulat berlaku a + b = b

+ a.

c. Pada bilangan bulat, terdapat unsur identitas 0 sehingga untuk setiap a

bilangan bulat berlaku a + 0 = 0 + a = a.

d. Tertutup, yaitu untuk setiap a dan b bilangan bulat maka a + b juga

bilangan bulat.

2. Pengurangan
Jika a dan b bilangan asli, maka berlaku a — b = a + (- b'). Pada operasi

pengurangan bilangan bulat hanya berlaku sifat tertutup, yaitu untuk setiap

a dan b bilangan bulat, maka a — b juga bilangan bulat.

3. Perkalian

26
Aturan perkalian bilangan bulat adalah sebagai berikut.

a. Perkalian dua bilangan bulat dengan tanda sama adalah bilangan bulat

positif.

b. Perkalian dua bilangan bulat dengan tanda berbeda adalah bilangan

bulat negatif.

c. Peerkalian sebarang bilangan dengan nol adalah nol maka a x0 = 0x a =

0.

Sifat-sifat perkalian pada bilangan bulat.

a. Tertutup, yaitu untuk setiap a dan b bilangan bulat maka a x b bilangan

bulat.

b. Terdapat unsur identitas yaitu 1, sehingga untuk setiap a bilangan bulat

berlaku a x1 = 1x a = a.

c. Komutatif, yaitu untuk setiap a dan b bilangan bulat berlaku a x b = b x

a.

d. Asosiatif, yaitu untuk setiap a, b dan c bilangan bulat berlaku

(a x b) x c = a x (b x c).

4. Pembagian. Aturan pembagian bilangan bulat adalah sebagai berikut.

a. Hasil bagi dua bilangan bertanda sama adalah bilangan positif.

b. Hasil bagi dua bilangan yang berbeda tanda adalah bilangan negatif.

Pembagian sebagai invers (operasi kebalikan) dari perkalian. Untuk setiap a,

b dan b bilangan bulat dan b ^ 0, maka a - b = c ^ a = b x c. Pembagian

dengan nol. Untuk setiap a bilangan bulat dan b ^ 0, maka 0 = 0 - a = 0 dan ^

27
= a ■ 0 = ~ , dengan 0.

6. Penelitian yang relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Mujianti dari Universitas Negeri Yogyakarta

dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah

(Problem Based Learning) untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran

Matematika Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 4 Yogyakarta” pada tahun 2010

diperoleh kesimpulan bahwa setelah dilakukan pembelajaran matematika

dengan Pembelajaran Berbasis

Masalah (Problem-Based Learning), kemampuan penalaran matematika

siswa mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan

kemampuan penalaran yang dicapai siswa dari pra tindakan ke siklus I

dilanjutkan ke siklus II.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Uki Rahmawati dari UniversitasNegeri

Yogyakarta dalam skripsinya yang berjudul “Pengembangan Student

Worksheet Berbahasa Inggris dalam Pembelajaran Matematika SMP Kelas

VII Program BilingualMateri Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu

Variabel Berbasis Konstruktivisme dengan Pendekatan Pemecahan Masalah”

pada tahun 2011 menghasilkan Student Worksheet yang berjudul

“Mathematics Student Worksheet Linear Eqution and Inequality for junior

High School Grade VII”. Kualitas Student Worksheet ditinjau dari aspek

kevalidan dan kepraktisan telah memenuhi kriteria valid dan praktis. Kualitas

Student Worksheet ditinjau dari aspek keefektifan berdasarkan hasil belajar

siswa memenuhi kriteria efektif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa

28
data dapat disimpulkan bahwa Student Worsheet yang dikembangkan telah

memenuhi kriteria kualitas yang meliputi valid, praktis, dan efektif sehingga

layak untuk digunakan.

B. Kerangka Berpikir

Dengan berlakunya KTSP, guru dituntut untuk meningkatkan kreativitasnya

dalam menciptakan pembelajaran yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Pembelajaran yang diciptakan haruslah suatu pembelajaran yang berpusat pada

siswa. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan bahan ajar yang lebih variatif

dan fungsional untuk mendukung keberhasilan pembelajaran yang berpusat pada

siswa. Ada banyak bentuk bahan ajar yang dapat dikembangkan, akan tetapi yang

efektif dan efisien untuk dikembangkan secara mandiri adalah bahan ajar cetak.

LKS adalah salah satu bahan ajar cetak yang dapat mendukung pembelajaran

yang berpusat pada siswa. Penggunaan LKS dalam pembelajaran akan membuat

siswa lebih aktif untuk belajar. Siswa jadi lebih terarah dalam belajar karena dalam

LKS terdapat petunjuk-petunjuk baik yang berupa pertanyaan maupun pernyataan

yang harus dijawab oleh siswa. Dengan begitu LKS akan membuat pembelajaran

menjadi berpusat pada siswa.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah

pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), karena dalam

pembelajaran berbasis masalah kemampuan berpikir siswa betul-betul

dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga

siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan

berpikirnya secara berkesinambungan (Rusman, 2011: 229). Kegiatan mencari

29
sendiri solusi dari berbagai masalah nyata akan melatih siswa melaksanakan

tugasnya secara mandiri, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir

dan kemampuan memecahkan masalah, sehingga diharapkan akan tercipta suatu

pembelajaran yang efektif.

Bilangan bulat merupakan materi wajib dan penting dalam pembelajaran

matematika di SMP, karena merupakan dasar dari materi berikutnya. Untuk itu

diperlukan cara kreatif dalam mengajarkan materi tersebut sehingga siswa dapat

memahaminya dengan baik dan mampu memecahkan masalah yang ada di sekitar

menggunakan konsep yang ada dalam bilangan bulat.

Berdasarkan uraian di atas pengembangan LKS berbasis masalah pada materi

bilangan bulat perlu dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan

berpusat pada siswa.

30
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Penelitian ini bertujuan

untuk menghasilkan suatu bahan ajar berupa LKS berbasis masalah pada materi

bilangan bulat untuk siswa kelas VII SMP.

B. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model

ADDIE yang terdiri dari lima tahap, yaitu analisis (analysis), desain (design),

pengembangan (development), implementasi (implementation), dan evaluasi

(evaluation).

1. Analisis (Analysis)

Pada tahap ini dilakukan analisis kurikulum, analisis kebutuhan bahan ajar,

dan analisis siswa.

1. Analisi s kurikulum

Analisis kurikulum dilakukan dengan mengidentifikasi standar kompetensi

dan kompetensi dasar yang berkaitan dengan materi bilangan bulat untuk

menentukan indikator-indikator pencapaian tujuan pembelajaran yang

digunakan sebagai dasar dalam pengembangan LKS yang akan disusun.

2. Analisis kebutuhan bahan ajar

Analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan berupa analisis terhadap

ketersediaan bahan ajar yang berkaitan dengan materi bilangan bulat.

Peneliti dapat menginventarisasi ketersediaan bahan ajar di sekolah untuk

31
menentukan perlu atau tidaknya LKS dikembangkan sebagai bahan ajar yang

digunakan.

3. Analisis siswa

Analisis siswa bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi dan karakteristik

siswa yang akan menggunakan LKS yang akan dikembangkan.

2. Desain (Design)

Tahap selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah merancang LKS yang akan

dibuat. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam merancang LKS meliputi:

1. Penyusunan peta kebutuhan LKS

Peta kebutuhan LKS disusun untuk mengetahui banyaknya LKS yang harus

ditulis. Peta kebutuhan LKS disusun berdasarkan standar kompetensi dan

kompetensi dasar yang berkaitan dengan materi bilangan bulat.

2. Penentuan judul-judul LKS

Judul LKS ditentukan sesuai dengan kompetensi dasar, indikator-indikator

yang tecantum dalam kurikulum berkaitan dengan materi bilangan bulat.

3. Penyusunan desain isi LKS

Penyusunan desain isi LKS dilaksanakan untuk menentukan semua unsur

yang diperlukan dalam LKS yang akan dikembangkan, seperti kegiatan-

kegiatan yang tercakup dalam LKS yang akan dikembangkan serta urutan

penyajiannya.

4. Pengumpulkan referensi

Peneliti dapat mencari dan mengumpulkan buku-buku referensi yang relevan

dengan materi bilangan bulat. Selain itu, juga dilakukan pengumpulan

gambar, ilustrasi, dan soal-soal yang akan digunakan dalam penyusunan

32
LKS.

3. Pengembangan (Development)

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti dalam mengembangkan LKS

adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan draft LKS

Penyusunan draft LKS dilakukan sesuai dengan desain awal yang telah

disusun. Pada langkah penyusunan draft LKS akan diperoleh produk awal

LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat. Selanjutnya draft LKS

yang telah selesai disusun, dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk

mendapatkan masukan tentang kekurangan-kekurangan yang ada dalam

draft LKS.

2. Penyusunan instrumen penilaian LKS

Selama proses penyusunan draft LKS, peneliti juga menyusun instrumen

yang akan digunakan dalam penelitian. Sebelum digunakan instrumen ini

harus divalidasi terlebih dahulu oleh dua ahli agar diperoleh instrumen LKS

yang valid.

3. Validasi

Setelah penyusunan draft LKS selesai tahap selanjutnya adalah

validasi/penilaian draft LKS oleh validator. Validasi dilakukan oleh dosen

jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta, yaitu dua

dosen ahli materi dan dua dosen ahli media. Pada langkah ini diperoleh data

kevalidan LKS yang diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh ahli materi dan

ahli media. Tujuan dari validasi adalah untuk memperoleh penilaian,

masukan dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan draft LKS sehingga

33
akan diperoleh produk LKS awal yang terhindar dari kesalahan agar LKS

layak untuk diujicobakan.

4. Revisi

Setelah draft LKS divalidasi dan dinilai kelayakannya oleh ahli materi dan

ahli media, tahap selanjutnya dilakukan revisi atau perbaikan seperlunya

terhadap LKS sesuai dengan masukan dan saran para ahli. Setelah LKS

diperbaiki maka LKS telah siap untuk diujicobakan.

4. Implementasi (Implementation)

LKS yang sudah dinyatakan layak oleh ahli materi dan ahli media, tahap

selanjutnya adalah implementasi dalam pembelajaran yaitu menguji cobakan LKS

kepada 32 siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Berbah. Pada tahap implementasi

diperoleh data keefektifan LKS dan data kepraktisan LKS. Data keefektifan LKS

diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil observasi penggunaan LKS dalam

pembelajaran, sedangkan data kepraktisan LKS diperoleh dari hasil penilaian LKS

oleh guru dan hasil pengisian angket respon siswa.

5. Evalusi (Evaluation)

Tahap selanjutnya adalah evaluasi terhadap LKS yang telah diujicobakan.

Evaluasi yang dilakukan adalah dengan menganalisis data hasil penilaian LKS oleh

guru, hasil pengisian angket respon siswa, hasil tes tertulis, dan hasil observasi

penggunaan LKS dalam pembelajaran. Selanjutnya LKS direvisi kembali sesuai

tanggapan guru dan siswa, sehingga LKS dapat digunakan kembali dalam proses

pembelajaran.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini meliputi:

34
1. Guru matematika SMP

Guru matematika sebagai subjek penelitian ini adalah 2 guru matematika

SMP Negari 3 Berbah. Guru matematika akan memberikan penilaian dan

masukan terhadap LKS yang dikembangkan dengan mengisi lembar

penilaian LKS untuk guru.

2. Siswa SMP kelas VII

Siswa SMP kelas VII sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIA

SMP Negeri 3 Berbah sebanyak 32 siswa. Siswa akan mengerjakan tes

tertulis setelah mengikuti pembelaharan menggunakan LKS dan

memberikan tanggapan dan masukan terhadap LKS yang dikembangkan

dengangan mengisi angket resspon siswa.

D. Setting Penelitian

Implementasi LKS dilakukan pada Bulan September 2012 di SMP Negeri 3

Berbah.

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti adalah sebagai

berikut:

1. Instrumen untuk mengukur kevalidan LKS

a. Lembar penilaian LKS untuk ahli materi

Lembar penilaian ahli materi ini diberikan kepada 2 dosen ahli materi untuk

menilai LKS, yang selanjutnya dijadikan dasar dalam menentukan kevalidan LKS.

Penilaian ahli materi ini bertujuan untuk mengetahui komentar dan saran perbaikan

dari ahli materi yang selanjutnya digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

perbaikan LKS dan mengetahui layak tidaknya LKS diujicobakan di sekolah.

35
Penilaian ahli materi terdiri dari beberapa aspek yaitu aspek kualitas materi

LKS, aspek kesesuaian LKS dengan syarat didaktik, aspek kesesuaian LKS dengan

syarat konstriksi, dan kesesuaian LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis

masalah.

Lembar penilaian untuk ahli materi ini disusun dalam 32 butir penilaian

berbentuk dengan 4 alternatif jawaban yaitu sangat baik (4), baik (3), kurang baik

(2) dan tidak baik (1).

b. Lembar penilaian LKS untuk ahli media

Lembar penilaian ahli media ini diberikan kepada 2 dosen ahli media untuk

menilai LKS, yang selanjutnya dijadikan dasar dalam menentukan kevalidan LKS.

Penilaian ahli media ini bertujuan untuk mengetahui komentar dan saran perbaikan

dari ahli media yang selanjutnya digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

perbaikan LKS dan mengetahui layak tidaknya LKS diujicobakan di sekolah.

Penilaian ahli materi dilihat dari aspek kesesuaian LKS dengan syarat teknis.

Lembar penilaian untuk ahli media ini disusun dalam 20 butir penilaian

dengan 4 alternatif jawaban yaitu sangat baik (4), baik (3), kurang baik (2) dan tidak

baik (1).

2. Instrumen untuk mengukur kepraktisan LKS

a. Lembar penilaian LKS untuk guru

Lembar penilaian LKS untuk guru ini diberikan kepada 2 guru matematika

untuk mengukur aspek kepraktisan LKS. Penilaian guru ini bertujuan untuk

mendapatkan data mengenai penilaian guru sebagai pengguna terhadap LKS yang

dikembangakan. Penilaian guru terdiri dari 5 aspek yaitu aspek kualitas materi LKS,

aspek kesesuaian bahasa, aspek teknik penyajian, aspek kemudahan, dan aspek

36
keterbantuan.

Lembar penilaian untuk guru ini disusun dalam 27 butir penilaian dengan 4

kategori jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat

tidak setuju (STS).

b. Angket respon siswa

Angket respon siswa ini diberikan kepada 32 siswa kelas VIIA SMP untuk

mengukur aspek kepraktisan LKS. Angket ini bertujuan mendapatkan data mengenai

pendapat siswa tentang proses pembelajaran menggunakan LKS . Angket respon

siswa terdiri dari 4 aspek yaitu aspek kemenarikan, aspek kemudahan, aspek

keterbantuan, dan aspek sikap siswa.

Angket respon siswa ini disusun dalam 22 butir pernyataan terdiri dari 15

pernyataan positif dan 7 pernyataan negatif. Angket ini disusun dengan 4 kategori

jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju

(STS).

3. Instrumen untuk mengukur keefektifan LKS

a. Soal tes tertulis

Tes tertulis digunakan untuk mengukur aspek keefektifan LKS. Tes tertulis

dilakukan pada akhir pembelajaran menggunakan LKS kepada 32 siswa kelas VIIA

SMP untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menggunakan LKS yang telah

dikembangkan. Dari hasil tes tertulis ini diketahui persentase ketuntasan belajar

klasikal untuk menentukan kriteria keefektifan LKS. Soal Tes tertulis ini terdiri dari

5 soal uraian.

b. Lembar observasi penggunaan LKS

Lembar observasi penggunaan LKS digunakan untuk memperoleh data

37
mengenai keterlaksanaan penggunaan LKS pada saat pembelajaran. Lembar

observasi ini diisi oleh observer yang melakukan bservasi selama proses

pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan

penggunaan LKS selama proses pembelajaran dan kendala-kendala yang dihadapi

selama menggunakan LKS.

F. Jenis Data

Sesuai dengan tujuan penelitian pengembangan ini, maka jenis data yang

digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Data proses pengembangan LKS berbasis masalah pada materi bilangan

bulat sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Data ini berupa data

deskriptif meliputi data sesuai dengan model pengembangan yang dipilih,

yaitu ADDIE (data analysis, design, development, implementation, dan

evaluation).

2. Data kuantitatif mengenai kualitas kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan

LKS yang dikembangkan yaitu: data hasil penilaian LKS oleh ahli materi

dan ahli media, data hasil penilaian LKS oleh guru, data hasil angket respon

siswa, data hasil tes tertulis, dan data hasil observasi penggunaan LKS.

G. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah dalam menganalisis kreiteria kualitas LKS yang

dikembangkan yang terdiri dari aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan adalah

sebagai berikut.

1. Analisis kevalidan LKS

Data kevalidan LKS diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh ahli materi dan

hasil penilaian LKS oleh ahli media, data yang diperoleh akan dianalisis secara

38
kuantitatif untuk mengetahui kinerja kelayakan LKS. Langkah-langkahnya adalah

sebagai berikut.

1. Tabulasi data hasil penilaian LKS oleh ahli dengan mengubah data kualitatif

menjadi data kuantitatif dengan pedoman penskoran sebagai berikut.

Tabel 4. Pedoman Penskoran Lembar Penilaian LKS untuk Ahli


Kategori Skor
Sangat baik 4
Baik 3
Cukup baik 2
Tidak baik 1
2. Menghitung skor total, Xt, dan 5b; berdasarkan tabulasi data.

3. Mengkonversi skor total menjadi data kualitatif berdasarkan kriteria

penilaian berikut:

Tabel 5. Konversi Skor Data Kuantitatif menjadi Data Kualitatif


Rentang Skor Nilai Kriteria Kualitatif
X > Xf + 1,805b; A Sangat baik
X,- + 0,605b; < X ≤^ + 1,805b; B Baik
X,- — 0,605b; < X ≤^ + 0,605b; C Cukup baik
Xi — 1,805b; < X≤X^ — 0,605b; D Kurang baik
X > Xi — 1,805b; E Sangat kurang baik
(Eko Putro Widoyoko, 2009: 238)

Keterangan:

X : skor total

Xt : rata-rata ideal
—1
X[ = ^ x (skor maksimum ideal + skor minimum ideal)

Sfy : simpangan baku ideal

1
Sb[ = ^ x (skor maksimum ideal — skor minimum ideal)

LKS yang dikembangkan dikatakan memiliki kevalidan yang baik jika

minimal tingkat kevalidan yang dicapai masuk dalam kategori baik. Selain itu

39
jika kevalidan minimal mencapai kategori baik maka LKS layak untuk

diujicobakan dalam pembelajaran matematika.

2. Analisis kepraktisan LKS

a. Analisis hasil penilaian LKS oleh guru

Data kepraktisan LKS yang diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh guru

akan dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kriteria kualitatif LKS. Langkah-

langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Tabulasi data hasil penilaian LKS oleh guru dengan mengubah data kualitatif

menjadi data kuantitatif dengan pedoman penskoran sebagai berikut:

Tabel 6. Pedoman Penskoran Lembar Penilaian LKS untuk Guru


Kategori Skor
Sangat setuju (SS) 4
Setuju (S) 3
Tidak setuju (TS) 2
Sangat tidak setuju (STS) 1
2. Menghitung skor total, Xi, dan Sb* berdasarkan tabulasi data.

3. Mengkonversi skor total dari hasil penilaian LKS oleh guru ke dalam tabel

konversi skor (tabel 5).

LKS yang dikembangkan memiliki derajat kepraktisan yang baik jika

berdasarkan hasil lembar penilaian guru minimal masuk dalam kategori baik.

b. Analisis hasil angket respon siswa

Data kepraktisan LKS yang diperoleh dari hasil angket respon siswa akan

dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kriteria kualitatif LKS. Langkah-

langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Tabulasi data hasil angket respon siswa dengan mengubah data kualitatif

menjadi data kuantitatif dengan pedoman penskoran sebagai berikut:

Tabel 7. Pedoman Penskoran Angket Respon Siswa

40
Skor
Kategori Pernyataan Pernyataan
positif negatif
Sangat setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2
Tidak setuju (TS) 2 3
Sangat tidak setuju (STS) 1 4

2. Menghitung skor total, Xt, dan Sbt berdasarkan tabulasi data.

3. Mengkonversi skor total dari hasil angket respon siswa ke dalam tabel

konversi skor (tabel 5).

LKS yang dikembangkan memiliki derajat kepraktisan yang baik jika

berdasarkan hasil angket respon siswa minimal masuk dalam kategori baik.

3. Analisis Keefektifan LKS

a. Analisis hasil tes tertulis

Data keefektifan LKS diperoleh dari hasil tes tertulis. Hasil tes tertulis

dikoreksi dan dinilai berdasarkan pedoman penskoran yang telah ditentukan.

Langkah-langkah analisis keefektifan LKS adalah sebagai berikut.

1. Menghitung nilai yang diperoleh masing-masing siswa sesuai dengan

pedoman penskoran untuk menentukan ketuntasan belajar individu.

Ketuntasan belajar individu untuk SMP Negeri 3 Berbah minimal 75.

2. Nilai dari hasil tes tertulis dihitung rata-ratanya dengan cara yaitu:
_ _ £x
n

Keterangan:

x : rata-rata nilai tes tertulis

Z x : jumlah nilai tes tertulis seluruh siswa n :

banyaknya siswa

3. Mengubah nilai rata-rata menjadi nilai kualitatif kemudian diklasifikasikan

41
berdasarkan kriteria dengan menggunakan acuan pada tabel berikut.
Tabel 8. Kriteria Hasil Belajar Siswa
No Nilai kuantitatif (angka) Nilai huruf Kriteria
1 x ≥ 85 A Sangat Baik
2 75 ≤ x <85 B Baik
3 65 ≤ x < 75 C Cukup
4 45 ≤ x < 65 D Kurang
5 x ≤ 45 E Sangat Kurang

Berdasarkan hasil belajar siswa, LKS dikatakan efektif dalam pembelajaran

jika minimal hasil belajar seluruh siswa mencapai kriteria baik. Setelah dilakukan

analisis untuk menentukan kriteria kualitatif hasil belajar siswaselanjutnya dilakukan

analisis ketuntasan belajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menghitung persentase ketuntasan belajar secara klasikal dengan cara:


banyaknya siswa yang tuntas
p = : ---- , . ----- --------------- x 100%

banyaknya siswa yang ikut tes

2. Selanjutnya kriteria ketuntasan belajar secara klasikal mengacu pada tabel

berikut:

Tabel 9. Kriteria Ketuntasan Belajar Klasikal


No Presentase Ketuntasan Kriteria kualitatif
1. p > 80 Sangat baik
2. 60 < p ≤ 80 Baik
3. 40 < p ≤ 60 Cukup
4. 20 < p ≤ 40 Kurang
5. p ≤ 20 Sangat kurang
(Eko Putro Widoyoko, 2009: 242)

Keterangan:

p : presentase ketuntasan belajar klasikal

Dalam penelitian ini, LKS yang dikembangkan dikatakan efektif jika

minimal presentase ketuntasan belajar klasikal tes tertulis mencapai kriteria baik.

42
b. Analisis hasil observasi penggunaan LKS

Data keefektifan LKS yang diperoleh dari hasil observasi penggunaan LKS

akan dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kriteria kualitatif penggunaan

LKS. Langkah-langkar yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tabulasi data hasil observasi penggunaan LKS dengan mengubah data

kualitatif menjadi data kuantitatif dengan pedoman penskoran 1 untuk

jawaban “Ya” dan 0 untuk jawaban “Tidak”.

2. Menghitung skor tiap pertemuan danp berdasarkan tabulasi data.

3. Mengkonversi p dari hasil observasi penggunaan LKS menjadi data

kualitatif kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria dengan

menggunakan acuan pada tabel berikut.

Tabel 10. Kriteria Observasi Penggunaan LKS


Rentang Presentse Kriteria
x ≥ 85 Sangat Baik
70 ≤ x < 85 Baik
50 ≤ x < 70 Kurang Baik
x < 50 Tidak Baik
(Yuni Yamasari, 2010: 4)
Keterangan:

p : presentase keterlaksanaan penggunaan LKS dalam pembelajaran

Skor tiap pertemuan


p = —: ------ --------------- x 100%
skor maksimum

LKS yang dikembangkan dapat dikatakan efektif dalam pembelajaran jika

berdasarkan hasil observasi minimal masuk dalam kategori baik.

43
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian tentang pengembangan LKS berbasis masalah pada

materi bilangan bulat untuk siswa kelas VII SMP yang telah dilakukan dengan

mengacu pada model pengembangan ADDIE yang terdiri dari lima tahap meliputi

tahap analisis (Analysis), tahap desain (Design), tahap pengembangan

(Development), tahap implementasi (Implementation), dan tahap evaluasi

(Evaluation) diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

1. Proses Pengembangan LKS a.

Tahap analisis (Analysis)

Tahap analisis merupakan langkah paling awal yang dilakukan dalam

penelitian ini. Pada tahap ini dilakukan analisis kurikulum, analisis kebutuhan bahan

ajar, dan analisis siswa dengan uraian sebagai berikut:

1. Analisi s kurikulum

Pada tahap ini dilakukan identifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar,

dan indikator-indokator yang berkaitan dengan materi pada LKS yang akan

dikembangkan yaitu materi bilangan bulat. Sesuai dengan standar isi 2006,

standar kompetensi yang berkaitan dengan materi bilangan bulat adalah

memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya dalam

pemecahan masalah, dengan alokasi waktu sebanyak 9*40 menit.

Standar kompetensi ini terbagi menjadi 2 kompetensi dasar. Selanjutnya

kompetensi dasar ini dijabarkan ke dalam indikator-indikator. Indikator

inilah yang menjadi acuan dalam penyusunan LKS. Hasil analisis kurikulum

44
(Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator) selengkapnya

disajikan pada lampiran A.1.

2. Analisis kebutuhan bahan ajar

Pada analisis kebutuhan bahan ajar dilakukan inventarisasi terhadap bahan

ajar matematika apa saja yang sudah ada dan digunakan terutama pada

materi bilangan bulat. Bahan ajar yang digunakan di sekolah-sekolah

biasanya berupa buku-buku pelajaran baik dari BSE atau dari penerbit

tertentu. Dari segi isi, bahan ajar tersebut sudah cukup lengkap khususnya

dengan materi bilangan bulat, hanya saja siswa juga memerlukan bahan ajar

yang lain agar siswa memiliki nuansa yang baru dalam pembelajaran dan

mampu menciptakan pembelajaran yang efektif. Salah satutunya berupa

LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat.

3. Analisis siswa

Pada tahap ini diperoleh hasil bahwa siswa SMP kelas VII pada umumnya

berusia antara 12-13 tahun yang tergolong dalam tahap operasional formal.

Menurut Piaget dalam Muhibin Syah (1999: 67) tahap operasional formal

adalah perkembangan ranah kognitif sehingga siswa dapat menggunakan

prinsip-prinsip abstrak, siswa sudah mampu menggunakan penalaran logis.

Pada tahap operasional formal anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis

serta dapat menganalisis dan memecahkan masalah nyata atau masalah

simulasi yang kompleks sebagai titik awal pembelajaran. Dengan kata lain

pendekatan pembelajaran berbasis masalah mampu diterapkan untuk siswa

kelas VII SMP. Berdasarkan hal tersebut, maka LKS berbasis masalah cocok

digunakan untuk siswa kelas VII SMP.

45
b. Tahap desain (Design)

Setelah tahap analisis selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan tahap desain.

Pada tahap ini dilakukan kegiatan penyusunan peta kebutuhan LKS, penentuan

judul-judul LKS, penyusunan desain isi LKS, dan pengumpulan reverensi dengna

uraian sebagai berikut:

1. Penyusunan peta kebutuhan LKS

Jumlah dan urutan penyusunan LKS mengacu pada standar kompetensi,

kompetensi dasat dan indikator-indikator pencapaian kompetensi. Hasil peta

kebutuhan LKS ini disajikan pada lampiran A.2.

2. Penentuan j udu-j udul LK S

Judul-judul LKS ditentukan berdasarkan peta kebutuhan LKS dengan judul

bab disesuaikan dengan standar kompetensi dan judul subbab disesuaikan

dengan kompetensi dasar. LKS yang disusun terdiri dari 3 judul subbab,

yaitu subbab 1 terdiri dari 2 judul LKS, subbab 2 terdiri dari 8 judul LKS,

dan subbab 3 terdiri dari 5 judul LKS. Berikut ini rincian judul bab, judul

subbab dan judul LKS.

46
Tabel 11. Rincian Judul Bab, Judul Subbab, dan Judul LKS
Judul Judul Subbab Judul LKS
Bab
Bilangan Lembar Kegiatan Siswa 1: LKS 1.1 : Himpunan Bilangan
Bulat Bilangan Bulat dan Bulat
Lambangnya LKS 1.2 : Hubungan Dua
Bulangan Bulat
Lembar Kegiatan Siswa 2: LKS 2.1 : Operasi Penjumlahan
Operasi Hitung Bilangan pada Bilangan Bulat
Bulat LKS 2.2 : Operasi Pengurangan
pada Bilangan Bulat
LKS 2.3 : Operasi Perkalian pada
Bilangan Bulat
LKS 2.4 : Operasi Pembagian
pada Bilangan Bulat
LKS 2.5 : Taksiran pada
Bilangan Bulat
LKS 2.6 : Kuadrat dan Pangkat
Tiga Bilangan Bulat
LKS 2.7 : Akar Kuadrat dan
Akar Pangkat Tiga
LKS 2.8 : Operasi Campuran
pada Bilangan Bulat
Lembar Kegiatan Siswa 3: LKS 3.1 : Sifat-Sifat
Sifat-Sifat Operasi Hitung Penjumlahan pada
Bilangan Bulat LKS 3.2 Bilangan Bulat : Sifat-
Sifat
Pengurangan pada
Bilangan Bulat
LKS 3.3 : Sifat-Sifat Perkalian
pada Bilangan Bulat
LKS 3.4 : Sifat-Sifat Pembagian
pada Bilangan Bulat
LKS 3.1 : Sifat-Sifat Operasi
Bilangan Bulat
Berpangkat

3. Penyususnan desain isi LKS

Desain isi LKS berisi tentang apa saja yang akan ditulis peneliti dalam LKS

dan bagaimana urutan penyajiannya. Urutan penyajian LKS ini harus

disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi sehingga memudahkan siswa

untuk belajar. Kegiatan yang dilakukan peneliti adalah merangcang LKS dari

sisi kemediaan maupun dari sisi materi. LKS yang disusun terdiri dari bagian

47
halaman sampul, kata pengantar, sajian isi LKS, daftar isi, pendahuluan

bilangan bulat secara umum, masalah-masalah yang disesuaikan dengan

materi yang ingin disampaikan di masing-masing judul LKS yang dilanjutkan

dengan kegiatan diskusi, latihan soal di setiap akhir subbab, dan bagian

terakhir adalah kunci jawaban dan daftar pustaka.

Inti dari LKS berbasis masalah ini adalah bagaimana menyampaikan materi

melalui masalah yang disajikan di awal di setiap judul LKS dan bagaimana

siswa memaknai masalah-masalah tersebut. Setiap judul LKS terdiri dari

beberapa masalah yang disajikan di awal pembelajaran dan dilanjutkan

dengan kegiatan diskusi. Secara umum urutan bagian LKS disajikan pada

bagan barikut ini:

Gambar 2 Urutan Bagian LKS

48
4. Pengumpulan reverensi

Pada kegiatan ini dilakukan pengumpulan referensi dan sumber pustaka

seperti buku, internet, serta keperluan menulis. Buku referensi yang

digunakan adalah buku-buku yang sesuai dengan materi bilangan bulat.

Buku-buku ini digunakan untuk menyususn materi dan membuat soal-soal

sesuai dengan kebutuhan LKS yang akan dikembangkan. Pada tahap ini juga

dilakukan pengumpulan gambar yang dibutuhkan dalam menyusun LKS

yang didapat dari internet. Beberapa buku yang dijadikan referensi dalam

penyusunan LKS ini antara lainsebagai berikut:

a. A. Wagiyo dan F. Surati. (2008). Pegangan Belajar Matematika 1 untuk

SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.

b. Antik Winarti, dkk. (2008). Contextual Teaching and Learning

Matematika Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas

VIIEdisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan.

c. Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. (2008). Matematika Konsep dan

Aplikasinya untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.

d. M. Cholik Ainawan dan Sugijono. (2010). Mathematics for Junior High

School Volume 1A 1st Semester, Grade VII. Jakarta: Erlangga.

e. Marsigit. (2009). Mathematics for Junior High School Year VII. Jakarta:

Yudhistira.

f. St. Negoro dan B. Harahap. (1990). Ensiklopedi Matematika SMP.

Jakarta: Ghalia Indonesia.

g. Tatag Yuli Eko Siswono dan Netti Lastiningsih. (2007). Matematika

SMP dan MTs untuk Kelas VII. Jakarta: Esis.

49
c. Tahap Pengembangan (Development)

Tahap pengembangan merupakan kelanjutan dari tahap desain. Pada tahap

ini peneliti mulai mengembangkan LKS sesuai dengan rancangan awal yang telah

disusun. Pada tahap pengembangan ini kegiatan yang dilaksanakan meliputi

penyusunan draft LKS, penyusunan instrumen penilaian LKS, validasi LKS, dan

revisi LKS dengan rincian sebagai berikut:


1. Penyusunan draft LKS

Untuk menyusun draft LKS ini digunakan program komputer Microsoft

Word 2007 dan Corel Draw X5. Program Microsoft Word 2007 digunakan

untuk menulis isi materi, sedangkan Corel Draw X4 digunakan untuk

membuat desain sampul. LKS disusun dengan menggunakan Bahasa

Indonesia yang sederhana sesuai dengan kemampuan siswa SMP, mengacu

pada pendekatanpembelajaran berbasis masalah serta disesuaikan dengan

aspek kualitas LKS. LKS yang dikembangkan ini memiliki komponen-

komponen yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam proses

pembelajaran. Berikut ini komponen-komponen dalam LKS: a.

Cover/sampul bahan ajar

Cover LKS dibuat menggunakan Corel Draw X5. Sampul depan terdiri

dari judul bahan ajar, gambar/ilustrasi, nama penyusun, dan identitas

pemilik bahan ajar. Sampul belakang berisi penjelasan singkat mengenai

bilangan Fibonacci. Sampul punggung terdiri dai judul bahan ajar. Tata

letak dan desain sampul dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian

siswa sehingga dengan melihat sampul ini siswa akan termotivasi untuk

memperlajari LKS dengan baik. Berikut ini tampilan cover dari LKS

50
yang telah disusun.

Gambar 3 Tampilan Cover/Sampul LKS

b. Kata pengantar

Kata pengantar memuat penjelasan singkat mengenai peran dan

kegunaan LKS berbasis masalah dalam kegiatan pembelajaran di kelas

khususnya pada materi bilangan bulat. Berikut ini adalah tampilan kata

pengantar.

Kata Pengantar

Puji syu kur p enu lis panjat kan keha ditr at pada T uhan Ya ng Maha Esa, yang t elah

meli mpa hkan b er ka h, r ahmat, dan kar unia -N ya s ehingga p enyusu na n L KS Ber basis Masalah

Bilanga n Bu lat untu k S is wa K elas VII SMP ini dapat ter s elesa ikan.

LKS ini disusu n u ntu k membuat mat er i Bilanga n Bu lat leb ih mu dah diingat dan dipa hami

sis wa, s elain itu LKS ini ju ga disusu n s ebaga i sala h satu bahan ajar da la m p el akasanaan

p emb elajar an Matematika di s ekola h

Gambar 4 Tampilan Kata Pengantar

51
c. Sajian isi LKS

Pada bagian ini berisi keterangan mengeenai bagian-bagian yang tersaji

dalam LKS yang membantu siswa ketka akan mempelajari LKS. Berikut

ini merupakan tampilan sajian isi LKS.

Gambar 5 Tampilan Sajian Isi LKS

d. Daftar isi

Daftar isi memuat susunan LKS secara keseluruhan beserta halamannya.

Daftar isi dibuat untuk mempermudah siswa mencari bagian isi LKS atau

materi yang akan dipelajari. Berikut ini merupakan tampilan daftar isi.

Daftar Isi

Kata Penga ntar ................................ ................................................................ ........... iii

Sajia n Is i LKS ................................ ................................................................ ............. iv

Daftar Isi ................................ ................................................................ ................... vi

Penga ntar Bila ngan Bu lat ................................ ............................................................. vii

Bilanga n Bu lat da n La mba ngnya .

LKS 1.1 : Himpu na n Bila ngan Bu lat................................................................ ........... 2

K egiatan 1.1 ................................ ................................................................ 4

LKS 1.2 : Hubu ngan Dua Bila ngan Bu lat ................................................................ .... 6

Gambar 6 Daftar Isi


52
e. Pendahuluan bilangan bulat

Pada bagian ini berisi gambaran umum materi bilangan bulat Pada

bagian ini memuat beberapa komponen antara lain standar kompetensi,

gambar penunjang dan contoh bilangan bulat, serta isi LKS.

BILANGAN BULAT
Standar Komp et ens i:

Memaharrisifat-sifat operasi hitung bi.angan dan oengguraannya dalam pemeza- han


masala h.

T 'aukah kamu bahwa bebera-


pa tern pat di bumi pernah
mengalami suhu yang sargat
panas dan suhu yang sargat
dingin. Suhu paling paras
pernah terjadi di El Aziza,
Libya paza 13 September
1322, yaitu menzapai 5",5 *C.
Sedangkan suhu yang sangat
dingin pernah terj3didika-
wasan vostok , Antartika
paza 21 Juli 1352, yaitu
menzapai-53,2 JC

Bilangan-bilangan tersebut
meru- pakan contoh-contoh bilangan bulat.
akan rrenrbahss mengenaiapaitu bilangan bulat, yaitu meliputi: Bilangan Bulat
dar Lambangnya Operas' hitung Bilangan B w at Sifat-5rfat Operas Hitung 3 angan
BL at

Apa is i LK S ini
!? !? !?

LKS
ini
1.
2.

Gambar 7 Tampilan Pendahuluan Bilangan Bulat f

Lembar kegiatan siswa

LKS yang dikembangkan terdiri dari 3 Lembar Kegiatan Siswa (3 subbab). Pada

bagian awal setiap Lembar Kegiatan Siswa terdapat judul subbab, kompetensi

dasar, ilustrasi dan gambar pendukung

53
ilustrasi. Adapun keterangan dalam setiap komponen adalah sebagai berikut:

1) Judul subbab, kompetensi dasar, dan judul LKS dibuat dengan tujuan untuk

memudahkan siswa dalam mengenal dan mengelompokan setiap lembar

kegiatan siswa.

2) Ilustrasi dan gambar ilustrasi dibuat dengan tujuan memberikan motivasi dan

gambaran awal kepada siswa tentang materi yang dipelajari. Berikut salah

satu contoh tampilan bagian awal Lembar Kegiatan Siswa.

LEMBAR KEG ATAN S SWA 1

BILANGAN BULATDAN LAMBANGNYA


Kor r p et ens i Dasar :

Mela ku ka n 3p e r as hr tu ng bi a ngan bu lat

t ba

untjk tanu sb r - a- ^ = r a o a tu b a^sa- o_ a:, cs a 3r ar Bilangan Bulat dan


Lambangnya := a^ Lembar Kegiatan Siswa i r

Gambar 8 Tampilan Bagi


54
Pada setiap Lembar Kegiatan Siswa terdiri dari beberapa judul LKS dan latihan

soal, dan setiap judul LKS memiliki komponen antara lain indikator

pembelajaran dan petunjuk umum, petunjuk khusus, masalah, kegiatan diskusi,

dan ingat kembali. Berikut adalah keterangan dari setiap komponen tersebut:

1) Indikator dan petunjuk umum

Tujuan dituliskannya indikator adalah agar siswa mengetahui apa yang harus

dicapainya ketika mempelajari materi yang disajikan dalam LKS. Berikut

merupakan tampilan indikator dan petunjuk umum.

LKS 1.1 Himpunan Bilangan Bulat


Indikator:
1. Memberikan contoh bilangan bulat.
2. Menentukan letak bilangan bulat pada garis bilangan.

Petunjuk Umum:
1. Kerjakan setiap kegiatan yang ada dalam LKS dengan teliti dan sungguh-sungguh sesuai dengan petunjuk.
2. Tanyakan kepada Bapak/lbu guru jika ada hal yang tidak dimengerti.

Gambar 9 Tampilan Indikator dan Petunjuk Umum 2)

Petunjuk Khusus

Pada Bagian ini berisi petunjuk yang membantu siswa ketika akan

menyelesaikan masalah-masalah dan kegiatan diskusi. Berikut merupakan

petunjuk khusus.

55
^§j
Petuniuk
1. Tentu saja kamu dapat menyelesaikan masalah-masalah di atas dengan mudah. Untuk meyakinkan jawabanmu sudah benar, coba
bertanyalah kepada teman yang ada di sebelah kanan dan kirimu apa jawaban mereka.

2. Jika jawabanmu berbeda dengan jawaban temanmu, tanyakan bagaimana ia memperoleh jawabannya.
3. Setelah itu kerjakan Kegiatan 1.1 bersama teman sekelompokmu.

Gambar 10 Tampilan Petunjuk Khusus

3) Masalah

Pada bagian ini berisi masalah yang berkaitan dengan materi yang akan

dipelajari oleh siswa. Masalah yang disajikan merupakan masalah nyata atau

masalah simulasi yang kompleks sebagai titik awal pembelajaran. Tampilan

masalah dapat dilihat pada gambar berikut.

Masalah 1

Seeker burung hinggap di tiang layar sebuah perahu yang tingginya 5 m dari permukaan air

laut. Pemilik perahu terse- but sedang menyelam di kedalaman 3 m dari permukaan air laut.

Oapatkah kamu menjelaskan posisi burung dan nelayan tersebut ini dari perahu menggunakan

garis bilangan jika permukaan air laut dianggap sebagai titik 0?

Penyelesaian:

Gambar 11 Tampilan Masalah

4) Kegiatan diskusi

Kegiatan diskusi dalam LKS ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang

berkaitan dengan masalah yang disajikan sebelumnya sehingga siswa dapat

menemukan konsep terkait dengan materi yang dipelajari atau berisi

langkah-langkah kegiatan untuk

56
menemukan konsep materi tertentu. Setelah melakukan kegiatan ini siswa

diarahkan untuk membuat kesimpulan. Pada kegiatan ini siswa juga diajak

untuk saling berdiskusi dengan siswa lain dalam suatu kelompok.

5) Ingat kembali

Ingat kembali ini dibuat dengan tujuan memberikan penetahuan atau

informasi dalam LKS yang sudah diperoleh pada pembelajaran sebelumnya.

Berikut tampilan kegiatan diskusi dan ingat kembali yang terdapat dalam

LKS ini.

Gambar 12 Tampilan Kegiatan Diskusi dan Ingat Kembali

6) Latihan Soal

Latihan soal dalam LKS ini berupa soal-soal yang berhubungan dengan

materi yang telah dipelajari siswa. Soal-soal yang disajikan berupa soal

terapan dan soal cerita mengenai masalah yang

57
berhubungan dengan bilangan bulat dalam kehidupan sehari-hari. Tampilan

latihan soal dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 13 Tampilan Latihan Soal

g. Kunci Jawaban

Kunci jawaban memuat jawaban akhir dari setiap latihan soal dalam LKS

sehingga siswa dapat mengecek kebenaran dari jawaban mereka. Berikut ini

merupakan tampilan kunci jawaban.

h. Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat buku-buku yang dijadikan referensi dalam

penyusunan LKS berbasis masalah ini. Berikut ini merupakan tampilan

daftar pustaka.

Gambar 14 Tampilan Ku
58
Daftar Pustaka

A. Wagiyo dan F. Surati. (2008). Pegangan Belajar Matematika 1 Untuk SMP/MTs Keias VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Atik Winarti: dkk.. (2008). Contextual Teaching and Learning Matematika Sekolah Menengah Pertama Madrasah Tsanawtyah
Keias VII Edisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. (2008). Matematika Konsep dan Aplikasinya Untuk SMP MTs Keias MI. Jakarta:
Pusat Perbukuan.

M Cholik Adinawan dan Sugijono. (2010). Mathematics for Junior High Scholl Volume IA 1st Semester, Grade VII. Jakarta:
Erlangga.

Marsigit. (2008). Matematika SMP Keias VII. Bogor: Yudhistira.

Tatag Yuli E.S. dan Netti Lastiningsih. (2007). Matematika SMP dan MTs untuk KelasVII. Jakarta: Esis.

Gambar 15 Tampilan Daftar Pustaka

Selain menyusun LKS untuk siswa peneliti juga menyusun LKS untuk guru

yang dilengkapi dengan jawaban beserta cara penyelesaiannya dari setiap

pertanyaan yang ada pada LKS agar memudahkan guru sebagai pengguna LKS.

Setelah draft LKS selesai disusun, selanjutnya draft LKS ini dikonsultasikan

kepada dosen pembimbing untuk mendapatkan kritik dan saran perbaikan

sebelum divalidasikan kepada dosen validator.

2. Penyusunan instrumen penilaian LKS

Selama proses penyusunan LKS ini, peneliti juga menyusun instrumen yang

akan digunakan dalam penelitian (penilaian LKS). Penyusunan instrumen

penilaian LKS digunakan untuk menilai LKS yang dikembangkan. Instrumen ini

terdiri dari lembar penilaian LKS untuk ahli materi dan ahli media untuk

mengetahui kevalidan LKS, lembar penilaian LKS untuk guru dan angket

respon siswa untuk mengetahui kepraktisan LKS, serta tes tertulis dan lembar

observasi penggunaan LKS untuk mengetahui keefektifan LKS ketika

digunakan dalam pembelajaran. Lembar penilaian LKS untuk ahli materi dan

ahli media disusun berdasarkan kriteria kelayakan isi mennurut BSNP dan

kriteria penilaian kualitas LKS menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E.

Kaligis dengan menambahkan aspek yang dimodifikasi sesuai dengan

59
kebutuhan. Lembar penilaian untuk ahli materi dan ahli media ini berbentuk

angket terdiri dari 4 alternatif jawaban, yaitu 1, 2, 3, dan 4 yang masing-masing

menyatakan jawaban tidak baik, kurang baik, baik, dan sangat baik. Lembar

penilaian ini digunakan untuk menilai LKS berdasarkan aspek kualitas materi

LKS, aspek kesesuaian LKS dengan syarat didaktik, aspek kesesuaian LKS

dengan syarat konstruksi, aspek kesesuaian LKS dengan syarat teknis, dan aspek

kesesuaian LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah Adapun

rincian aspek dan jumlah butir pernyataan tiap aspek adalah sebagai berikut : a.

Aspek kualitas materi LKS

Aspek kualitas materi LKS terdiri dari 15 butir penilaian yang terbagi

menjadi 3 indikator. Berikut rincian indikator dan jumlah butir penilaian tiap

indikator.

60
Tabel 12. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek Kualitas
Materi LKS
Jumlah Butir
No Indikator Penilaian
Penilaian
1. Kesesuaian materi dengan SK dan KD 4
2. Keakuratan materi 5
3. Kesesuaian materi dengan tujuan
6
pembelajaran

b. Aspek kesesuaian LKS dengan syarat didaktik

Kesesuaian LKS dengan Syarat Didaktik


Jumlah Butir
No Indikator Penilaian
Penilaian
1. Kesesuaian dengan kemampuan siswa 1
Kegiatan yang merangsang kemampuan 3
2.
siswa

Aspek kesesuaian LKS dengan syarat didaktik terdiri dari 4 butir penilaian

yang terbagi menjadi 2 indikator. Berikut rincian indikator dan jumlah butir

penilaian tiap indikator.

Tabel 13. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek

c. Aspek kesesuaian LKS dengan syarat konstruksi

Aspek kesesuaian LKS dengan syarat konstruksi terdiri dari 8 butir penilaian

yang terbagi menjadi 3 indikator. Berikut rincian indikator dan jumlah butir

penilaian tiap indikator.

Kesesuaian LKS dengan Syarat Konstruksi


Jumlah Butir
No Indikator Penilaian
Penilaian
Ketepatan penggunaan bahawa dan 3
1.
kalimat
Memperhatikan pemilihan pertanyaan dan 3
2.
sumber belajar
3. Memiliki manfaat, tujuan, dan identitas 2

Tabel 14. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek

61
d. Aspek kesesuaian LKS dengan syarat teknis

Aspek kesesuaian LKS dengan syarat teknis terdiri dari 20 butir penilaian

yang terbagi menjadi 3 indikator. Berikut rincian indikator dan jumlah butir

penilaian tiap indikator.

Tabel 15. Rincian Indikator dan Jumlah Butir Penilaian Aspek


Kesesuaian LKS dengan Syarat Teknis
Jumlah Butir
No Indikator Penilaian
Penilaian
1. Ukuran LKS 2
2. Dasain kulit LKS (Cover) 6
3. Desain isi LKS 12

e. Aspek kesesuaian LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah

Aspek kesesuaian LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah

terdiri dari 5 butir penilaian yang termuat dala, 1 indikator yaitu Orientasi

pada masalah.

Selengkapnya mengenai kisi-kisi lembar penilaianLKS untuk ahli materi dan

media, lembar penilaianLKS untuk ahli materi dan media, serta deskripsi butir

penilaianLKS untuk ahli materi dan media dapat dilihat di lampiran B.1 s.d

lampiran B.6.

Instrumen lembar penilaian LKS oleh guru dan angket respon siswa digunakan

untuk mengetahui tanggapan guru dan siswa sebagai pengguna terhadap LKS

yang dikembangkan. Lembar penilaian LKS untuk guru dan angket respon siswa

terdiri dari 4 alternatif jawaban, yaitu jawaban sangat tidak setuju (STS), tidak

setuju (TS), setuju (S), dan sangat setuju (SS). Pada lembar penilaian LKS untuk

guru terdapat 27 butir pernyataan yang terbagi dalam 5 aspek, yaitu aspek

kualitas materi LKS, aspek kesesuaian

bahasa, aspek teknik penyajian, aspek kemudahan, dan aspek keterbantuan. Berikut

62
rincian aspek yang dinilai dan jumlah butir pernyataan tiap aspek pada lembar

penilaian LKS untuk guru.


Tabel 16. Rincian Aspek dan Jumlah Butir Pernyataan Lembar Penilaian
LKS untuk Guru
Jumlah Butir
No Aspek yang dinilai
Pernyataan
1. Kualitas materi LKS 9
2. Kesesuaian bahasa 6
3. Teknik penyajian 7
4. Kemudahan 3
5. Keterbantuan 2

Selengkapnya mengenai kisi-kisi lembar penilaian LKS untuk guru dan lembar

penilaian LKS untuk guru dapat dilihat di lampiran B.7 dan lampiran B.8.

Pada angket respon siswa terdapat 22 butir pernyataan yang terbagi dalam 4 aspek,

yaitu aspek kemenarikan, aspek kemmudahan, aspek keterbantuan, dan aspek sikap

siswa. Berikut rincian aspek yang dinilai dan jumlah butir pernyataan tiap aspek

pada angket respon siswa.


Tabel 17. Rincian Aspek dan Jumlah Butir Pernyataan Angket Respon Siswa
Jumlah Butir
No Aspek yang dinilai
Pernyataan
1. Kemenarikan 3
2. Kemudahan 8
3. Keterbantuan 5
4. Sikap Siswa 6

Selengkapnya mengenai kisi-kisi angket respon siswa dan angket respon siswa dapat

dilihat di lampiran B.9 dan lampiran B.10.

Instrumen tes tertulis dan lembar observasi penggunaan LKS digunakan untuk

mengetahui keefektifan LKS ditinjau dari hasil belajar siswa setelah menggunakan

LKS yang dikembangkan dan keterlaksanaan penggunaan LKS dalam pembelajaran.

Instrumen tes tertulis berupa soal essay yang terdiri dari 5 soal yang disesuaikan

dengan indikator pembelajaran. Sebelum menyusun soal tes, peneliti terlebih dahulu

63
menyusun kisi-kisi soal tes, selanjutnya disusun soal tes yang sesuai dengan kisi-kisi

yang telah dibuat lengkap dengan pedoman penskorannya. Selenngkapnya mengenai

kisi-kisi soal tes tertulis, soal tes tertulis, dan pedoman penskoran tes tertulis dapat

dilihat di lampiran B.11 s.d lampiran B.13. Lembar observasi penggunaan LKS

digunakan untuk mengetahui keefektifan LKS ditinju dari keterlaksanaan

penggunaan LKS pada saat pembelajaran. Lembar observasi ini terdiri dari 18 butir

pernyataan.Selengkapnya lembar observasi penggunaan LKS dapat dilihat di

lampiran B.14.

Instrumen yang telah disusun kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing

untuk selanjutnya divalidasi kepada validator. Validator instrumen pada penelitian

ini adalah dua dosen Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, yaitu

Ibu Mathilda Susanti, M.Si. dan Bapak Dr. Sugiman, M,Si. Butir-butir instrumen

yang tidak valid kemudian direvisi sesuai dengan saran dan masukan dari validator,

sehingga didapatkan instrumen penilaian LKS yang layak dan dapat digunakan

untuk mengambil data penelitian.


3. Validasi

Setelah LKS diperbaikan sesuai saran dosen pembimbing dan LKS sudah

disetujui oleh dosen pembimbing serta instrumen penelitian terutama lembar

penilaian ahli materi dan ahli media juga sudah siap untuk mengambil data

penelitian, selanjutnya LKS divalidasikan kepada validator. LKS yang telah

disusun divalidasi oleh dua dosen ahli materi yaitu Bapak Dr. Sugiman, M.Si.

dan Ibu Endang Listyani, M.S.,serta dua dosen ahli media, yaitu Bapak Nur

Hadi Waryanto, M.Eng dan Ibu Kuswari Herawati, M.Kom.

Validasi ini dimaksudkan untuk memperolah penilaian, masukan dan saran

untuk perbaikan dan penyempurnaan LKS yang dikembangkan. Validator

64
memberikan penilaian dengan menggunakan lembar penilaian LKS yang sudah

disediakan oleh peneliti.

4. Revisi

Walaupun secara keseluruhan LKS yang dikembangkan sudah layak layak untuk

diujicobakan, namun LKS juga masih perlu direvisi seseai saran dosen ahli.

Adapun beberapa hal yang perlu direvisi berdasarkan saran dosen ahli adalah

sebagai berikut:

1. Perbaiki halaman sampul, jenis font yang digunakan pada judul bab sampul

LKS terlalu kaku. Warna font pada sampul LKS kurang kontras dengan

background. Warna background pada sampul juga dirasa terlalu gepal dan

gambar pada sampul LKS kurang menggambarkan isi LKS. Sehingga

dilakukan perbaikan terhadap halaman sampul.

2. Perbaiki halaman iv dan v, lebar shape outline pada anak panah di sajian isi

LKS terlalu tebal sehingga ukurannya perlu diubah agar lebih tipis serta

lingkaran yang digunakan untuk menunjukkan bagian isi LKS terlalu kecil

sehingga belum mewakili bagian yang akan ditunjukkan.

3. Pada halaman vi dan vii, gambar ilustrasi pada daftar isi di setiap subbab

LKS sebaiknya dihilangkan saja.

4. Ruang untuk siswa menyelesaikan masalah terlalu luas sehingga

boros.sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam mengerjakan

soal. Dan bingkai yang digunakan dalam LKS juga sebaiknya berupa single

line agar terlihat lebih rapih.

5. Pemilihan warna pada ruang tempat siswa mengerjakan latihan soal kurang

sesuai. Sebaiknya dipilih warna yang cocok agar terlihat lebih harmonis atau

65
bias diganti dengan bingkai saja.

6. Sebaiknya gambar karakter yang digunakan untuk membedakan antar bagian

diganti agar lebih jelas perbedaannya.

7. Terdapat beberapa ejaan kata yang kurang tepat serta beberapa equation

yang tidak tercetak oleh printer.

8. Sebaiknya ukuran shape outline pada anak panah dalam sebuah garis

bilangan lebih kecil/tipis dari garis bilangannya.

9. Harus ada keterkaitan antara masalah yang satu dan yang lainnya. Selain itu

masalah yang dipilih harus lebih kompleks disesuaikan dengan tingkat

kemampuan siswa SMP kelas VII.

10. Sebaiknya masalah yang disajikan harus sesuai konteksnya. Misalnya pada

masalah mengenai pertumbuhan tunggi badan, seorang anak hanya dapat

bertambah tinggi badannya sampai pada usia 25 tahun dan pertumbuhannya

jugatidak konsisten. Pada kasus penurunan berat badan juga tidak konsisten

penurunannya atau penurunannya hanya sampai pada berat badan tertentu

saja. Sehingga perlu ditambahkan dalam soal sebuah batasan yang jelas.

11. Pertanyataan-pernyataan dalam LKS tidak secara langsung menyajikan

materi/rumus kepada siswa tetapi harus dapat mengarahkan siswa untuk

menemukan sendiri rumus/konsep yang akan dipelajari berkaitan dengan

masalah yang sebelumnya sudah disajikan di awal.

12. Soal nomer 1 pada Latihan 1 terlalu mudah untuk siswa kelas VII SMP,

sebaiknya ditambah satu pertayaan lagi yaitu ” Urutkanlah mulai dari yang

paling kecil.”.

13. Pada Kegiatan 2.3 LKS 2.3, judul gambar diganti dengan pengantar gambar

66
agar siswa lebih mudah memahami maksud dari gambar tersebut.

14. Sebaiknya ilustrasi burung pada Masalah 1 LKS 2.1 diganti dengan katak

agar lebih mmudah dalam memberikan pemahaman pada siswa mengenai

operasi penjumlahan menggunakan garis bilangan. Beberapa

instruksi dan pernyataan dalam Kegiatan 2.1 juga harus diganti

disesuaikan dengan perubahan pada Masalah 1.

15. Gambar ilustrasi dan pendahuluan pada LKS 3 dianggap kurang

mewakilisubbab sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat dan sebaiknya

diganti.

Selengkapnya mengenai draft LKS untuk siswa dan draft LKS untuk guru

yang sudah direvisi berdasarkan saran dosen ahli dapat dilihat di lampiran

G.1 dan lampiran G.2.

d. Tahap Implementasi (Implementation)

Setelah LKS dinyatakan layak oleh dosen ahli dan sudah direvisi, maka LKS

dapat diimplementasikan yaitu digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Uji

coba dilaksanakan pada bulan September 2012 di SMP Negeri 3 Berbah dengan

subjek penelitian kelas VIIA sebanyak 32 siswa.

Dalam uji coba ini peneliti tidak mengujicobakan semua LKS, LKS yang

diujicobakan adalah LKS 3 yaitu sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat yang

terbagi menjadi 5 judul LKS, yaitu LKS 3.1 tentang sifat-sifat operasi penjumlahan

pada bilangan bulat, LKS 3.2 tentang sifat-sifat operasi pengurangan pada bilangan

bulat, LKS 3.3 tentang sifat-sifat operasi perkalian pada bilangan bulat, LKS 3.4

tentang sifat-sifat operasi pembagian pada bilangan bulat, dan LKS 3.5 tentang sifat-

sifat operasi bilangan bulat berpangkat.

67
Tabel 18. Waktu Pelaksanaan Uji Coba LKS di SMP N 3 Berbah
Pertemuan
Waktu Penelitian Sub judul LKS Alokasi Waktu
ke-
Selasa,
1 LKS 3.1 dan LKS 3.2 2 x 40 menit
4 September 2012
Rabu,
2 LKS 3.3 dan LKS 3.4 2 x 40 menit
5 September 2012
Sabtu, LKS 3.5 dan pengisian
3 2 x 40 menit
8 September 2012 angket respon siswa
4 Selasa, Tes Tertulis 2 x 40 menit
11 September 2012

Pada awal pelaksanaan pembelajaran, peneliti terlebih dahulu membagikan

LKS kepada siswa. Pada saat menerima LKS, sebagian besar siswa merespon positif

dan terlihat senang. Berdasarkan kesepekatan peneliti dan guru, pembelajaran

dengan menggunakan LKS berbasis masalah dilakukan oleh peneliti.

Pada saat pembelajaran menggunakan LKS, terlihat bahwa siswa cukup

antusias dan tertarik mempelajari materi sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat.

Namun, dalam pelaksanaannya masih ada kesulitan-kesulitan yang dialami siswa

selama menggunakan LKS ini, antara lain sebagai berikut :

1. Beberapa siswa masih kesulitan ketika siswa diminta untuk menyelesaikan

beberapa masalah di awal pembelajaran tanpa diberikan rumus dan contoh

soal terlebih dahulu.

2. Beberapa siswa kesulitan memahami sifat tertutup pada operasi hitung

bilangan bulat.

3. Beberapa siswa kesulitan memahami sifat pemangkatan, terutama dalam

pembagian bilangan bulat berpangkat.

4. Terbatasnya waktu penelitian, sehingga dalam setiap pertemuan tidak bias

membahas dua judul LKS yang sudah direncanakan secara utuh, untuk

kegiatan diskusi yang belum sempat dibahas di kelas dan latihan soal

68
dijadikan PR untuk siswa.

Berikut adalah gambar yang diambil saat siswa mengerjakan LKS.

Gambar 16 Aktivitas Siswa Mengerjakan LKS Siswa

mengerjakan LKS dengan cara berdiskusi bersama kelompoknya, kecuali saat

mengerjakan masalah awal dan latihan soal yang harus dikerjakan secara individu.
W l IB
5
i 1 Igg

|v- f •

a
i
k 1
k,'AN ^jSp\ B

W.S, . ,
^ Ik** 1

Gambar 17 Peneliti Mengecek Diskusi Siswa Pada saat

berdiskusi, peneliti berkeliling untuk mengecek diskusi siswa dan membimbing

siswa ketika mengelami kesulitan dalam mengerjakan LKS.

69
Gambar 18 Peneliti Menerangkan Bagian yang tidak Dipahami Siswa Pada

saat sebagian besar siswa tidak paham tentang permasalahan tertentu peneliti

menjelaskan di depan kelas untuk menerangkan permasalahan tersebut.

Gambar 19 Siswa mempresentasikan hasil diskusi Ketika diskusi

selesai dilakukan, peneliti meminta salah seorang siswa untuk mempresentasikan

hasil diskusi kelompok mereka di papan tulis.

Selama uji coba berlangsung, observer diminta untuk mengisi lembar

70
observasi penggunaan LKS di setiap pertemuan untuk memperoleh data keefektifan

LKS. Peneliti juga memberikan lembar penilaian LKS untuk guru kepada dua orang

guru matematika di SMP N 3 berbah dan kemudian diminta untuk mengisi lembar

penilaian tersebut untuk memperoleh data kepraktisan LKS. Selain itu siswa juga

diminta mengisi angket respon siswa untuk mendapatkan data kepraktisan LKS

Seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 20 Siswa Mengisi Angket Respon Siswa Pada akhir

pembelajaran siswa juga diminta untuk mengikuti tes tertulis yaitu siswa diminta

mengerjakan tes tertulis untuk mendapatkan data keefektifan.

Gambar 21 Siswa Mengerjakan Tes


Tertulis

Secara umum implementaasi LKS berjalan dengan lncar, siswa aktif dan

antusias dalam pembelajaran matematika.

71
e. Tahap Evaluasi (Evaluation)

Pada tahap evaluasi ini peneliti mengevaluasi penggunaan LKS yang sudah

dikembangkan dan diujicobakan. Evaluasi yang dilakukan adalah menghitung data

keprktisan dan keefektifan penggunaan LKS yang diperoleh dari hasil uji cobadi

sekolah.

LKS yang telah diuji cobakan kepada siswa kelas VIIA SMP N 3 Berbah

kemudian direvisi berdasarkan masukan dari siswa dan guru. Revisi yang dilakukan

setelah uji coba adalah revisi tentang kesalahan penulisan kata atau kalimat,

kesalahan kunci jawaban yang tidak sesuai dengan soal. Hasil Revisi LKS dapat

dilihat pada lampiran G.1 dan lampiran G.2.

2. Kualitas LKS

Kualitas LKS berbasis masalah yang dikembangkan ditinjau dari aspek

kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Berikut adalah hasil perhitungan analisis

kevalidan, kepraktisan dan keefektifan LKS:

a. Analisis kevalidan LKS

Data kevalidan LKS diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh ahli materi dan

ahli media. Secara umum, data yang diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh dosen

ahli pada saat validasi disajikan pada Tabel 17 berikut dan selengkapnya disajikan

pada lampiran D.1:

72
Tabel 19 Hasil Penilaian LKS oleh Ahli
Skor
No Aspek yang Dinilai Skor Total Maks Nilai Kriteria
Tiap Aspek
Ahli materi
1. Kualitas materi LKS 95 120 B Baik
Kesesuaian LKS dengan syarat 24 32 B Baik
2.
didaktik
3. Kesesuaian LKS dengan syarat 58 64 A Sangat
konstruksi Baik
4. Kesesuaian LKS dengan 31 40 B Baik
pendekatan pembelajaran berbasis
masalah
Skor total ahli materi 208 256 B Baik
Ahli media
5. Kesesuaian LKS dengan syarat 136 B Baik
160
teknis
Skor keseluruhan 344 416 B Baik

Berdasarkan Tabel 18 diperoleh hasil penilaian LKS oleh ahli untuk aspek

kualitas materi LKS dengan skor sebesar 95 berada dalam kriteria baik, aspek

kesesuaian LKS dengan syarat didaktik dengan skor sebesar 24 berada dalam

kriteria baik, aspek kesesuaian LKS dengan syarat konstruksi dengan skor sebesar

58 berada dalam kriteria sangat baik, aspek kesesuaian LKS dengan syarat teknis

dengan skor sebesar 136 berada dalam kriteria baik, dan aspek kesesuaian LKS

dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dengan skor sebesar 31 berada

dalam kriteria baik. Skor keseluruhan sebesar 344 berada pada nilai konversi B

dengan kriteria baik.

Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa LKS mempunyai kriteria

baik. Dengan demikian LKS dinyatakan valid dengan derajat kevalidan yang baik.

Selain itu dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa LKS layak digunakan atau

diujicobakan dalam proses pembelajaran.

73
b. Analisis kepraktisan LKS
Data kepraktisan LKS diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh guru dan hasil

angket respon siswa. Berikut penjelasannya secara lebih rinci:

1. Analisis hasil penilaian LKS oleh guru

Secara umum, data yang diperoleh dari hasil penilaian LKS oleh guru

disajikan pada Tabel 19 berikut dan selengkapnya disajikan pada lampiran

D.2.

Tabel 20 Hasil Penilaian LKS oleh Guru


Skor Tiap Skor Nilai Kriteria
No Aspek
Aspek Maks
1. Kualitas materi LKS 47 56 B Baik
2. Kesesuaian bahasa 50 64 B Baik
3. Teknik penyajian 44 56 B Baik
4. Kemudahan 18 24 B Baik
5. Keterbantuan 12 16 B Baik
Skor keseluruhan 171 216 B Baik

Berdasarkan Tabel 19 diperoleh hasil penilaian LKS oleh guru untuk aspeek

kualitas materi LKS dengan skor sebesar 47 berada dalam kriteria baik,

aspek kesesuaian bahasa dengan skor sebesar 50 berada dalam kriteria baik,

aspek teknik penyajian dengan skor sebesar 44 berada dalam kriteria baik,

aspek kemudahan dengan skor sebesar 18 berada dalam kriteria baik, dan

aspek keterbantuan dengan skor sebesar 12 berada dalam kriteria baik. Skor

keseluruhan sebesar 171 berada pada nilai konversi B dengan kriteria baik.

Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa kriteria kepraktisan LKS

berdasarkan hasil penilaian LKS oleh guru menunjukkan bahwa LKS

memiliki derajat kepraktisan yang baik.

Secara umum, data yang diperoleh dari hasil angket respon siswa disajikan

pada Tabel 20 berikut dan selengkapnya disajikan pada lampiran D.3.

Tabel 21 Hasil Angket Respon Siswa


74
2. Analisis hasil angket respon siswa Skor Tiap Skor
No Aspek Nilai Kriteria
Aspek Maks
1. Kemenarikan 313 384 B Baik
2. Kemudahan 790 1024 B Baik
3. Keterbantuan 534 640 B Baik
4. Sikap siswa 604 768 B Baik
Skor keseluruhan 2241 2816 B Baik

Berdasarkan Tabel 20 diperoleh hasil penilaian LKS oleh guru untuk

kemenarikan dengan skor sebesar 313 berada dalam kriteria baik, aspek

kemudahan dengan skor sebesar 790 berada dalam kriteria baik, aspek

keterbantuan dengan skor sebesar 534 berada dalam kriteria baik, aspek dan

aspek sikap siswa dengan skor sebesar 604 berada dalam kriteria baik. Skor

keseluruhan sebesar 2241 berada pada nilai konversi B dengan kriteria baik.

Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa kriteria kepraktisan LKS

berdasarkan respon siswa menunjukkan bahwa LKS memiliki deraj at

kepraktisan yang baik.

c. Analisis keefektifan LKS

Data kepraktisan LKS diperoleh dari hasil tes tertulis dan hasil observasi

penggunaan LKS. Berikut penjelasannya secara lebih rinci:

75
1. Analisis hasil tes tertulis
Secara umum, data yang diperoleh dari hasil tes tertulis yaitu siswa yang

tuntas ada sebanyak 24 siswa dan yang tidak tuntas ada sebanyak 8 siswa.

Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 100 sedangkan nilai terendahnya

adalah 56. Rata-rata kelas sebesar 81,094 dengan kriteria ketuntasan

minimal adalah 75. dan selengkapnya disajikan pada lampiran D.4.

Dari hasil analisis analisis tes tertulis diketahui bahwa presentase ketuntasan

belajar klasikal kelas VIIA SMP N 3 Berbah sebesar 75%,. Berdasarkan

hasil analisis tersebut diketahui bahwa ketuntasan belajar klasikal mencapai

kriteria baik.

2. Analisis hasil observasi penggunaan LKS

Secara umum, data yang diperoleh dari hasil observasi penggunaan LKS

disajikan pada Tabel 21 berikut dan selengkapnya disajikan pada lampiran

D.5.
Tabel 22 Hasil Observasi Penggunaan LKS
No Pertemuan ke- Skor Skor Maks Kriteria
1. Pertemuan 1 17 18 Sangat Baik
2. Pertemuan 2 17 18 Sangat Baik
3. Pertemuan 3 18 18 Sangat Baik
Skor keseluruhan 52 54 Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 21 diperoleh hasil observasi penggunaan LKS untuk

pertemuan 1 dengan skor sebesar 17 berada dalam kriteria sangat baik,

pertemuan 2 dengan skor sebesar 17 berada dalam kriteria sangat baik, dan

pertemuan 3 dengan skor sebesar 17 berada dalam kriteria sangat baik. Skor

keseluruhan sebesar 52 berada dalam kriteria sangat baik.

76
Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa kriteria kepraktisan LKS

berdasarkan hasil observasi penggunaan LKS menunjukkan bahwa LKS

memiliki derajat kepraktisan yang sangat baik.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian di atas, diperoleh produk berupa

LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat. Langkah- langkah penyusunan

dan pengembangan LKS dilakukan sesuai model yang telah ditentukan, yaitu

ADDIE: Analisis (Analysis), Desain (Design), Pengembangan (Development),

Implementasi (Implementation), dan Evaluasi (Evaluation).

Tahap analisis diawali dengan menganalisis kurikulum untuk mengetahui

standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang berkaitan dengan materi

bilangan bulat. Rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar diturunkan dari

dokumen standar isi 2006 yang dikeluarkan BSNP, sedangkan indikator dijabarkan

sendiri oleh peneliti yang disesuaikan dengan kompetensi dasar. Selanjutnya

dilakukan analisis kebutuhan bahan ajar, dari hasil analisis kebutuhan bahan ajar

diperoleh hasil kurangnya variasi bahan ajar yang digunakan dalam proses

pembelajaran matematika. Analisis terakhir adalah analisis siswa, hasil analisis

siswa menunjukkan bahwa siswa SMP kelas VIII berada pada tahap operasi

formal.

Tahap selanjutnya adalah tahap desain (design) yang terdiri dari

penyusunan peta kebutuhan LKS, penentuan judul-judul LKS, penyusunan desain

isi LKS, dan pengumpulan referensi. Hasil penyusunan peta kebutuhan LKS

77
diketahui urutan dan banyaknya LKS yang disusun dengan memperhatikan

prasyarat yang diberikan terlebih dahulu kepada siswa untuk mempermudah siswa

dalam memperlajari materi yang sedang dipelajari maupun materi sebelumnya.

Misal ketika siswa diharapkan dapat menentukan sifat-sifat operasi penjumlahan

pada bilangan bulat, maka sebelumnya siswa harus mengetahui operasi

penjumlahan pada bilangan bulat. Hal ini akan mempermudah siswa menemukan

kembali materi yang telah mereka pelajari maupun memahami materi yang sedang

dipelajari. Penentuan judul-judul LKS yang ditentukan berdasarkan peta

kebutuhan LKS. Penyusunan desain isi LKS yaitu merancang komponen apa saja

yang terdapat dalam LKS. Referensi yang digunakan dalam penyusunan LKS

bersumber dari buku-buku dan internet.

Berdasarkan tahap pengembangan (development) LKS disusun dalam 4

langkah, yaitu penyusunan draft LKS, penyusunan instrumen penilaian LKS,

validasi LKS, dan revisi LKS. Penyusunan draft LKS dilakukan dengan

memperhatikan desain isi LKS yang telah disusun sebelumnya. Pada LKS ini

terdapat 3 subbab, dimana setiap subbab terdiri dari beberapa judul LKS dan

latihan soal dan satu judul LKS terdiri dari beberapa masalah yang disajikan di

awal dan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Subbab 1 terdiri dari 2 judul LKS,

subbab 2 terdiri dari 8 judul LKS, dan subbab 3 terdiri dari 5 judul LKS. Pada

bagian awal Lembar Kegiatan Siswa terdapat ilustrasi yang bertujuan memberikan

motivasi dan gambaran awal kepada siswa tentang materi yang dipelajari. Masalah

awal yang disajikan dalam LKS berupa masalah nyata atau masalah simulasi yang

78
kompleks sebagai titik awal pembelajaran. Penerapan pendekatan pembelajaran

berbasis masalah pada LKS juga disesuaiakan dengan kondisi peserta didik yang

akan menggunakan LKS yang dikembangkan.

Selama proses penyusunan LKS ini peneliti juga menyusun instrumen

penelitian. Setelah LKS disetujui oleh dosen pembimbing dan instrumen penelitian

sudah siap untuk mengambil data, kemudian LKS divalidasi oleh dosen ahli materi

dan dosen ahli media. Dosen ahli materi dan ahli media menyatakan bahwa LKS

layak diujicobakan dengan revisi. Oleh karena itu dilakukan revisi terhadap LKS

sesuai dengan komentar dan saran dari dosen ahli sebelum LKS digunakan untuk

uji coba. Pada tahap ini juga dilakukan perhitungan kevalidan LKS ditinjau dari

aspek kualitas materi LKS, aspek kesesuaian LKS dengan syarat didaktik, aspek

kesesuain LKS dengan syarat konstruksi, aspek kesesuaian LKS dengan syarat

teknis, dan aspek kesesuaian LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis

masalah.

Kevalidan LKS berdasarkan berdasarkan aspek kualitas materi LKS adalah

baik dengan perolehan skor total hasil penilaian LKS oleh ahli materi sebesar 208

dari skor maksimal 256 dan perolehan skor total hasil penilaian LKS oleh ahli

media sebesar 136 dari skor masimal 160 yang masing-masing berada dalam

kriteria baik. Hasil ini menunjukkan bahwa LKS berbasis masalah pada materi

bilangan bulat yang dikembangkan dinyatakan valid karena telah memenuhi

kualitas materi LKS yag baik menurut BSNP, memenuhi kualitas LKS yang baik

menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis yaitu memenuhi syarat

79
didaktik, syarat konstruksi serta syarat teknis, dan sesuai dengan pendekatan

pembelajaran berbasis masalah .

Pada tahap implementasi (implementation), LKS yang sudah dinyatakan

layak dan sudah direvisi, kemudian diujicobakan dalam pembelajaran matematika

di SMP Negeri 3 Berbah kelas VIIA. Pembelajaran dengan LKS dilaksanakan oleh

peneliti. Implementasi penggunaan LKS dalam kegiatan pembelajaran dilakukan

sebanyak 4 kali pembelajaran dengan materi operasi hitung pada bilangan bulat.

Setelah ujicoba dilakukan siswa diminta untuk mengisi angket respon siswa.

Selain itu siswa juga diberi tes tertulis untuk mengukur kemampuan siswa setelah

menggunakan LKS. Kemudian guru diminta untuk mengisi lembar penilaian LKS

oleh guru. Berdasarkan ujicoba yang telah dilakukan siswa merespon positif

adanya LKS berbasis masalah yang digunakan dalam pembelajaran, walaupun

siswa masih kesulitan dalam dalam menyelesaikan masalah-masalah awal dan

waktu yang dibutuhkan untuk latihan juga masih kurang. Hal ini sejalan dengan

pendapat Trianto (2010: 96-97) mengeni kelebihan dan kekurangan pembelajaran

berbasis masalah.

Tahap yang terakhir dalam pengembangan ini adalah tahap evaluasi

(evaluation), pada tahap ini dilakukan perhitungan skor hasil penilaian LKS oleh

guru, hasil angket respon siswa, hasil tes tertulis, dan hasil observasi penggunaan

LKS. Berdasarkan hasil penilaian LKS oleh guru dapat diketahui bahwa

kepraktisan LKS yang dikembangkan adalah baik dengan skor total sebesar 171

dari skor maksimal 216 berada dalam kriteria baik. Hasil angket respon siswa

80
diperoleh skor total sebesar 2241 dari skor maksimal 2816 masuk dalam kategori

baik, sehingga dapat dikatakan bahwa deraj at kepraktisan LKS adalah baik. Hal

ini menunjukkan adanya respon positif dari guru dan siswa sebagai pengguna LKS

yang dikembangkan.

Dengan LKS berbasis masalah yang dikembangkan kemampuan berpikir

siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok, sehingga siswa

dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan seperti

yang diungkapkan oleh Tan dalam Rusman (2011: 229). Dan berdasarkan analisis

hasil tes tertulis diketahui ketuntasan belajar klasikalnya mencapai 75% yang

berarti baik dengan rata-rata kelas sebesar 81,094. Dan berdasarkan hasil observasi

penggunaan LKS, presentase keterlaksanaan penggunaan LKS dalam

pembelajaran sebesar 96,296% termasuk dalam kategori sangat baik sehingga

dapat disimpulkan bahwa LKS efektif digunakan dalam proses pembelajaran.

Walaupun ketuntasan belajar dan rata-rata kelas tinggi, namun beberapa

siswa memperoleh hasil yang belum memuaskan. Hal ini disebabkan kemampuan

siswa yang beragam. Akan tetapi hasil ini menunjukkan bahwa LKS dengan

berbasis masalah efektif digunakan dalam pembelajaran.

81
C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian pengembangan LKS ini tidak terlepas dari keterbatasan-

keterbatasan sebagai berikut.

1. Adanya keterbatasan waktu, uji coba hanya dilakukan di SMP Negeri 3

Berbah kelas VIIA sebanyak 32 siswa.

2. Uji coba di sekolah dilaksanakan pada bulan September 2012 dengan 4

kali pertemuan, pertemuan terakhir digunakan untuk tes tertulis, sehingga

hanya 3 kali pertemuan yang digunakan untuk uji coba LKS dalam proses

pembelajaran. Keterbatasan waktu ini menyebabkan peneliti tidak dapat

menguji cobakan semua LKS. Uji coba yang dilakukan peneliti hanya pada

LKS 3 yaitu tentang materi sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat.

82
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil pengembangan LKS berbasis masalah pada materi

bilangan bulat, didapat beberapa simpulan sebagai berikut:

1. LKS berbasis masalah pada materi bilangan bulat dikembangkan dengan

model ADDIE yang terdiri dari 5 tahap, yaitu Analysis, Design,

Development, Implementation, dan Evaluation.

Pada tahap analysis meliputi analisis kurikulum, analisis kebutuhan bahan

ajar dan analisis siswa. Pada tahap design meliputi penyusunan peta

kebutuhan LKS, penentuan judul-judul LKS, penyusunan desain isi LKS,

dan pengumpulan referensi. Pada tahap development dilaksanakan

pengembangan LKS sesuai dengan spesifikasi yang sudah ditentukan

bersama dengan penyusunan instrumen penilaian LKS yang dilanjutkan

dengan validasi LKS oleh ahli materi dan ahli media. Hasil validasi ahli

materi dan ahli media menunjukkan bahwa LKS dinyatakan layak untuk

diujicobakan dengan revisi, sehingga LKS harus direvisi sesuai saran

validator sebelum diimplementasikan. Pada tahap implementation, LKS

yang sudah direvisi diujicobakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas

VIIA SMP Negeri 3 Berbah. Pada tahap evaluation dilakukan evaluasi

terhadap LKS yang dikembangkan. Pada tahap ini diperoleh hasil

penilaian LKS oleh guru, hasil angket respon siswa, hasil tes tertulis, hasil

83
observasi penggunaan LKS serta diperoleh LKS yang sudah direvisi sesuai

saran guru dan siswa.

2. Kualitas LKS yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

a. Ditinjau dari aspek kualitas materi LKS, aspek kesesuaian dengan LKS

syarat didaktik, aspek kesesuaian LKS dengan syarat konstruksi, aspek

kesesuaian LKS dengan syarat teknis dalam kategori baik, dan aspek

kesesuain LKS dengan pendekatan pembelajaran berbasis

masalahberada dalam kategori baik. Hal ini didasarkan pada perolehan

skor total hasil penilaian LKS oleh ahli materi sebesar 208 dari skor

maksimal 256 dan perolehan skor total hasil penilaian LKS oleh ahli

media sebesar 136 dari skor masimal 160 yang masing-masing berada

dalam kriteria baik.

b. Ditinjau dari hasil penilaian LKS oleh guru dan hasil angket respon

siswa, dapat disimpulkan bahwa LKS memiliki deraj at kepraktisan

baik. Hal ini didasarkan pada perolehan skor total hasil penilaian LKS

oleh guru sebesar 171 dari skor maksimal 216 termasuk dalam kategori

baik dan perolehan skor total hasil angket respon siswa sebesar 2241

dari skor maksimal 2816 termasuk dalam kategori baik.

c. Ditinjau dari hasil belajar siswa dan hasil observasi penggunaan LKS,

LKS efektif digunakan dalam proses pembelajaran karena persentase

ketuntasan belajar klasikal sebesar 75% berdasarkan hasil tes tertulis

termasuk dalam kategori baik, serta berdasarkan hasil observasi

84
penggunaan LKS, presentase keterlaksanaan penggunaan LKS dalam

pembelajaran sebesar 96,296% berdasarkan hasil observasi

penggunaan LKS termasuk dalam kategori sangat baik.

B. Saran

Beberapa saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini

dalam rangka mengembangkan bahan ajar berbentuk LKS adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengembangkan bahan ajar berbentuk LKS berbasis masalah

sebaiknya perlu ditekankan lagi tentang penyajian masalah nyata atau

masalah simulasi yang kompleks sebagai titik awal pembelajaran.

2. Guru hendaknya selalu berkreasi untuk membuat LKS dan

menggunakannya dalam pembelajaran

85
DAFTAR PUSTAKA

A. Wagiyo dan F. Surati. (2008). Pegangan Belajar Matematika 1 untuk SMP/MTs


Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Abdul Majid. (2006). Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar
Kompetensi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Antik Winarti, dkk. (2008). Contextual Teaching and Learning Matematika Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Edisi 4. Jakarta: Pusat
Perbukuan.
Arends, Richard I. (2007). Learning to Teach: Seventh Edition. New York: McGraw
Hill Companies.
Bakharuddin. (2012). Pengembangan Bahan Ajar dan Media Pmbelajaran. Diakses
dari http://www.bakharuddin.net/2012/06/pengembangan-bahan-aiar-dan-
media.html. pada tanggal 2 September 2012.
Binti Maunah. (2009). Landasan Pendidikan. Yogyakarta: Teras.
BSNP. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.
BSNP. (2006). Pengankat Pembelajaran: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mata Pelajaran Matematika Untuk SMP/Mts. Jakarta: BSNP.
Chomsin S. Widodo dan Jasmadi. (2008). Panduan Manyusun Bahan Ajar Berbasis
Kompetensi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Depdiknas. (2006). Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat
Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas. (2008). Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Atas Departemen Pendidikan Nasional.
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. (2008). Matematika Konsep dan Aplikasinya untuk
SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Djamilah B.W. (2011). Problem Based Learning dan Contoh Implementasinya.
Makalah Seminar. Hlmn. 3.
Eko Putro Widoyoko. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran Panduan Praktis bagi

86
Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Erman Suherman, dkk. (2003). Common Textbook Strategi Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung: FMIPA UPI.
Endang Widjajanti. (2008). Kualitas Lembar Kerja Siswa. Makalah disampaikan
dalam Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat di Ruang Sidang Kimia FMIPA
UNY pada tanggal 22 Agustus 2008
Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis. (1992). Pendidikan IPA II. Jakarta:
Depdikbud.
Herman Hudojo. (2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.
Malang: UM PRESS.
Knolton, Dave S. & Sharp, David C. (2003). Problem-Based Learning in the
Information Age. San Francisco: Jossey-Bass.
M. Cholik Ainawan dan Sugijono. (2010). Mathematics for Junior High School
Volume 1A 1st Semester, Grade VII. Jakarta: Erlangga.
Marsigit. (2009). Mathematics for Junior High School Year VII. Jakarta: Yudhistira.
Mujianti. (2011). Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa
Kelas VIIB SMP Negeri 4 Yogyakarta. Skripsi. UNY.
Redja Muyaharjo. (2001). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Rochmad. (2011). Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika.
Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Dipublikasikan pada Maret 2011
Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran: Membangun Profesionalisme Guru.
Jakarta: PT. Grafindo Persada.
St. Negoro dan B. Harahap. (1990). Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Tatag Yuli Eko Siswono dan Netti Lastiningsih. (2007). Matematika SMP dan MTs
untuk Kelas VII. Jakarta: Esis.
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovativ-Progresif: Konsep,
Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Jakarta: Kencana Perdana Media Group.
Uki Rahmawati. (2011). Pengembangan Student Worksheet Berbahasa Inggris dalam

87
Pembelajaran Matematika SMP Kelas VII Program BilingualMateri
Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel Berbasis
Konstruktivisme dengan Pendekatan Pemecahan Masalah. Skripsi. UNY.
Yuni Yamasari. (2010). Pengembangan Media pembelajaran Matematika Berbasis
ICT yang berkualitas. Seminar Nasional Pasca Sarjana X-ITS, Surabaya 4
Agustus 2010.

88