Anda di halaman 1dari 21

2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.

html

Get paid to share your links!

Friday, May 5, 2017 Translate

MAKALAH AUDIT SAMPLING Pilih Bahasa

Diberdayakan oleh Terjemahan

BAB I
Popular Posts
PENDAHULUAN
KUMPULAN SOAL–SOAL
AKUNTANSI DAN KUNCI
1.1 Latar Belakang JAWABANNYA
1) Bidang akuntansi yang
Audit merupakan proses sistematis mendapatkan dan mengevaluasi mengkhususkan pada
masalah pemeriksaan
bukti-bukti secara objektif sehubungan dengan asersi atas tindakan dan keuangan Negara atau yang disebut
dengan istilah administrasi keuan...
peristiwa ekenomi untuk memastikan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi
Latihan Soal Siklus
tersebut dan menetapkan kriteria serta mengkomunikasikan hasilnya kepada Akuntansi Perusahaan Jasa
Ibu Citra mendirikan usaha
fitness centre pada tanggal
pihak-pihak yang berkepentingan (Mulyadi, 2002). 1 Mei 2002. Berikut ini
transaksi-transaksi usaha
Dalam menyampaikan opini, auditor harus mendapatkan bukti yang Fitness Centre Citra pada bulan p...

cukup. Sebagaimana yang dicantumkan dalam standar audit pekerjaan AUDIT PLAN, AUDIT
PROGRAM, AUDIT
lapangan yang ketiga yaitu bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh PROCEDURES, AUDIT
TEKNIK, RISIKO AUDIT
melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai DAN MATERIALITAS
P ERENCANAAN AUDIT (
dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang A UDIT PLAN ) : › Standar pekerjaan
lapangan pertama berbunyi : ”Pekerjaan
harus direncanakan sebaik-baikny...
diaudit. Makna cukup menunjukkan tidak semua bukti audit harus dikumpulkan,
ANALISIS PREDIKSI
melainkan dapat menggunakan sebagian bukti audit yang disebut dengan KEBANGKRUTAN
PERUSAHAAN
sampel. Pendahuluan Analisis
terhadap peluang
Sampling merupakan prosedur yang umum digunakan oleh auditor. IAI kebangkrutan suatu
perusahaan dipandang penting bagi suatu
melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 350 mendefinisikan sampling perusahaan. Analisis ini tidak hanya ...

sebagai penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo akun atau
Blog Archive
kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk

menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.

Untuk memperoleh bukti yang memadai, auditor tidak harus memeriksa Info

seluruh transaksi yang ada. Dalam setiap pemeriksaan auditor harus About me

mempertimbangkan manfaat dan biaya karena pertimbangan ini kemudian Fb

dalam profesi dikenal secara luas bahwa sebagian besar bukti diperoleh melalui
Followers
sampel.
Followers (28) Next
Hall et al. (2002) menyebutkan bahwa pengadilan federal di Amerika

Serikat sesuai dengan Federal Judicia Center 1994 memutuskan menerima

bukti sampel tergantung dari fakta atau data sampel tersebut merupakan “tipe
sampel data yang digunakan oleh ahli dalam bidang tertentu untuk membentuk

opini atau menarik kesimpulan atas subyek tertentu.” Dengan demikian bukti

sampel yang dihimpun oleh auditor layak dijadikan bukti di pengadilan. Dan ini
Follow
merupakan tantangan bagi profesi audit untuk meningkatkan kualitas

1 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

apakah sampel yang diambilnya merupakan sampel yang representatif maka 871,316
auditor maksimal hanya dapat meningkatkan kualitas pengambilan sampel
menjadi mendekati kualitas sampel yang representatif (Halim, 2001).

Untuk menentukan teknik pengambilan sampel, auditor dapat

menggunakan sampling non statistical atau pertimbangan (nonstatistical or

judgement sampling). Dalam hal ini auditor tidak menggunakan teknik statistik

untuk menentukan ukuran sampel, pemilihan sampel dan atau pengukuran

risiko sampling pada saat mengevaluasi hasil sampel. Selain sampel non

statistical auditor dapat juga menggunakan sampling statistik (statistical

sampling). Dalam metode ini auditor menggunakan hukum probabilitas untuk

menghitung ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampel, dengan demikian


memungkinkan auditor untuk menggunakan ukuran sampel yang paling efisien

dan mengkuantifikasi hasilnya, sehingga dapat mengambil kesimpulan yang


lebih akurat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan

masalah dalam penulisan ini adalah “ Bagaimanakah metode pengambilan


sampel audit dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan

metode sampel audit?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran

tentang bagaimana metode pengambilan sampel audit dan faktor-faktor apa

saja yang mempengaruhi penggunaan metode sampel audit.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Makalah ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan

mengenai audit sampling serta merupakan sarana latihan untuk diterapkan

dalam pembelajaran dari literatur yang ada.

2. Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan referensi yang

berguna bagi pembaca.

3. Makalah ini diharapkan dapat menambah pembendaharaan perpustakaan

dan juga dipakai sebagai bahan kajian dan perbandingan bagi mahasiswa

lain.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Audit

Setiap badan usaha baik yang bertujuan untuk memaksimalkan laba

maupun nirlaba membutuhkan audit. audit dapat dilakukan oleh auditor eksterna

juga oleh auditor internal. Biasanya auditor eksternal melakukan audit atas

laporan keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk menjamin keandalan

2 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

laporan keuangan perusahaan tersebut. Sedangkan audit yang dilakukan oleh

pihak internal selain bertujuan untuk menjamin keandalan laporan keuangan


yang dikeluarkan oleh manajemen perusahaan, audit tersebut bertujuan untuk

menjamin bahwa perusahaan telah melaksanakan peraturan dan perundangan.

Audit internal dapat juga dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

perusahaan. Mengingat penting audit atas asersi suatu entitas, maka audit

harus dilaksanakan dengan menggunakan tahap-tahap yang terstruktur. Proses

audit atas laporan keuangan dibagi dalam tahap-tahap berikut :

1. Penerimaan perikatan audit

Perikatan (engagement) adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan

suatu ikatan perjanjian. Dalam ikatan perjanjian, klien menyerahkan


pekerjaan audit atas laporan keuangan kepada auditor dan auditor sanggup

untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi


profesional.

2. Perencanaan audit

Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari kliennya,


langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah merencanakan audit. Tahap-

tahap yang harus dilakukan dalam merencanakan audit adalah memahami


bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur analitik,

mempertimbangkan tingkat materialitas awal, mempertimbangkan resiko

bawaan, mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap

saldo awal, jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama,
mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan, memahami

pengendalian intern klien.

3. Pelaksanaan pengujian audit

Tahap pelaksanaan pengujian disebut juga dengan pekerjaan lapangan.

Tujuan utama pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah untuk

memperoleh bukti audit tentang efektivitas pengendalian intern klien dan

kewajaran laporan keuangan klien.

4. Pelaporan audit

Tahap akhir pekerjaan audit atas laporan keuangan adalah pelaporan audit.

Pelaksanaan tahap ini harus mengacu ke standar pelaporan. Ada dua

langkah penting yang dilaksanakan oleh auditor dalam pelaporan audit ini (1)

menyelesaikan audit dengan meringkas semua hasil pengujian dan menarik

simpulan, (2) menerbitkan laporan audit.

2.2 Bukti Audit

Untuk menyajikan laporan audit atau memberikan opini atas laporan


keuangan suatu perusahaan, auditor membutuhkan bukti-bukti audit. Menurut

Mulyadi (2002 : 74) Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung

angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang

dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan

pendapatnya. Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data

akuntansi dan semua informasi penguat (corroborating information) yang

tersedia bagi auditor. Tipe bukti audit dapat dikelompokkan dalam dua golongan
yaitu data akuntansi dan informasi penguat. Data akuntansi terdiri dari

pengendalian intern dan catatan akuntansi. Pengendalian intern yang dibentuk

3 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

dalam setiap kegiatan perusahaan dapat digunakan untuk mengecek ketelitian

dan keandalan data akuntansi. Kesalahan yang timbul akan segera dan secara
otomatis dapat diketahui dengan adanya pengecekan silang (cross check) dan

cara-cara pembuktian (proof) yang dibentuk di dalamnya.

Jika auditor yakin bahwa perusahaan telah merancang pengendalian

intern dan telah melaksanakannya dalam kegiatan usahanya setiap hari, hal ini

merupakan bukti audit yang kuat bagi auditor mengenai keandalan informasi

yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Sedangkan catatan akuntansi

terdiri dari jurnal, buku besar dan buku pembantu serta buku pedoman

akuntansi, memorandum, dan catatan tidak resmi, seperti daftar lembaran kerja

(worksheet) yang mendukung alokasi biaya, perhitungan dan rekonsiliasi secara


keseluruhan merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan. Data

akuntansi saja tidak dapat dianggap sebagai pendukung yang cukup suatu
laporan keuangan tanpa dilandasi oleh kewajaran dan kecermatan data

akuntansi yang mendukung laporan keuangan, pendapat auditor atas laporan

keuangan tidak akan terjamin. Auditor menguji data akuntansi yang mendasari
laporan keuangan dengan jalan (1) menganalisis dan mereview, (2) menelusuri

kembali langkah-langkah prosedur yang diikuti dalam proses akuntansi dan


dalam proses pembuatan lembaran kerja dan alokasi yang bersangkutan, (3)

menghitung kembali dan melakukan rekonsiliasi jumlah-jumlah yang

berhubungan dengan penerapan informasi yang sama. Informasi penguat

meliputi segala dokumen seperti bukti fisik, bukti documenter, bukti perhitungan,
bukti lisan, perbandingan dan rasio dan bukti dari spesialis. Informasi penguat

diperoleh melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan

pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dikembangkan oleh atau tersedia

bagi auditor yang memungkinkannya untuk menarik kesimpulan berdasarkan

alasan yang kuat.

2.2.1 Populasi dan Sampel


Sebelum melakukan pengujian, baik pengujian pengendalian maupun

pengujian substantive, auditor harus mengumpulkan bukti. Bukti yang dapat

digunakan sebagai pendukung laporan audit adalah seluruh data akuntansi dan
informasi penguat yang digunakan oleh perusahaan dalam menyusun laporan

keuangan. Seluruh bukti ini merupakan populasi bukti audit. Menurut Copper

dan Schindler (2006 : 112) Populaso merupakan kumpulan seluruh obyek yang

ingin kita ketahui besaran karakteristiknya. Pengujian dengan menggunakan

seluruh anggota populasi dapat menghasilkan hasil yang akurat, karena

dikumpulkan dari semua bukti. Tetapi penggunaan populasi memakan waktu


yang lama dan membutuhkan biaya yang tinggi. Untuk menghemat waktu

sekaligus menghemat biaya, dan mendapatkan informasi yang dapat

digeneralisir dengan data populasi, auditor dapat menggunakan sampel.

Menurut Copper dan Schindler (2006 : 112) sampel adalah sebagian obyek

populasi yang mewakili karakteristik populasinya, dan kemudian diteliti. Hasil

penelitian atas sampel kemudian digeneralisasi bagi keseluruhan populasi.

Dengan demikian sampel yang digunakan harus representative (bersifat


mewakili populasi).

4 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

2.2.2 Alasan Menggunakan Sampel

Ada beberapa alasan yang mendorong pengambilan sampel. Alasan


pertama menggunakan sampel adalah biaya yang lebih rendah dari pada

menggunakan populasi, alasan lain adalah akurasi hasil yang lebih besar.

Karena jumlah bukti yang lebih sedikit, maka kecepatan pengumpulan data

lebih tinggi, dan tersedianya elemen populasi. Menurut Gaffor dan Charmichael

(1984) baik non statistical sampling maupun statistical sampling mempunyai

dasar karakeristik sebagai berikut :

1. Penggunaan sampel dapat menekan biaya

2. Dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan audit, apakah suatu akun

secara material disajikan terlalu tinggi atau tidak ada kesalahan yang
terdeteksi.

3. Dapat menghindarkan masalah yang kompleks dan inefisiensi seperti dalam


menentukan deviasi standar atas populasi.

Di samping ciri dasar diatas, ada kelemahan-kelemahan dalam

menggunakan sampel yang harus dipertimbangkan auditor. Jika sampling


digunakan, terdapat suatu unsur ketidakpastian dalam kesimpulan audit. Unsur

ketidakpastian ini disebut risiko sampling (sampling risk). Menurut Messier,


Glover dan Prawitt (2006 : 369) risiko sampling adalah kemungkinan bahwa

sample yang telah diambil tidak mewakili populasi, sehingga sebagai akibatnya

atas dasar sampel tersebut auditor menarik kesimpulan yang salah atas saldo

akun atau kelompok transaksi.

2.3 Sampling Audit

Menurut PSA No. 26 Sampling audit adalah penerapan prosedur audit

terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau

kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo


akun atau kelompok transaksi tersebut. Terdapat dua pendekatan yang dapat

digunakan dalam audit sampling yaitu non statistical dan statistik. Pada non
statistik untuk menentukan ukuran sampel, pemilihan sampel dan atau

pengukuran risiko sampling pada saat mengevaluasi hasil sampel. Sedangkan

sampel statistik (statistical sampling) menggunakan hukum probabilitas untuk


menghitung ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampel, dengan demikian

memungkinkan auditor untuk menggunakan ukuran sampel yang paling efisien

dan mengkuantifikasi risiko sampling untuk tujuan mencapai kesimpulan statistik

atas populasi. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan

pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan. Pelaksanaan dan

pengevaluasian bukti sampel. Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006 : 374)
keuntungan utama dari sampling statistik adalah membantu auditor dalam (1)

merancang ukuran sampel yang efisien, (2) mengukur kecukupan dari bukti

yang diperoleh, dan (3) mengkuantifikasi risiko sampling. Kerugian dari

sampling statistik di antaranya adalah adanya tambahan biaya untuk (1)

pelatihan auditor dalam menggunakan tehnik sampling yang memadai, (2)

perancangan dan pelaksanaan penerapan sampling, dan (3) kurangnya

konsistensi penerapan antara tim audit karena kompleksitas dari konsep yang
mendasarinya.

Secara lebih rinci auditor memeriksa sebagian bukti dengan berbagai

5 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

cara seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Cara Pengambilan Bukti Audit


Tipe Sampel Contoh Penerapan Cara Pemilihan Pengambilan
Sampel Sampel Kesimpulan di
dasarkan
1. Sampel 100% Semua faktur Unsur kunci Konklusif
penjualan di atas Rp
400.000 diperiksa
oleh auditor
2. Judgement Semua faktur Pertimbangan Pertimbangan
Sampling penjualan yang dibuat auditor auditor
mulai bulan Juni s.d
September 19X1
3. Representatif Lima puluh faktur Acak Pertimbangan
sampel penjualan yang dibuat auditor
dalam tahun yang
diaudit
4. Statistical Enam puluh faktur Acak Matematik
sample penjualan yang di
buat dalam 10 bulan
pertama dalam tahun
yang di audit
Sumber : Mulyadi

2.3.1 Statistical Sampling Models

Statistical sampling dibagi menjadi dua : attribute sampling dan variabel

sampling. Attribute sampling atau disebut pula proportional sampling digunakan

terutama untuk menguji efektivitas pengendalian intern (dalam pengujian-

pengujian), sedangkan variabel sampling digunakan terutama untuk menguji


nilai rupiah yang tercantum dalam akun (dalam pengujian substantive).

A. Attribute Sampling Models

Ada tiga model attribute sampling yaitu :


1. Fixed-sample-size attribute sampling

Model pengambilan sampel ini adalah model yang paling banyak digunakan
dalam audit. pengambilan sampel dengan model ini ditujukan untuk

memperkirakan persentase terjadinya mutu tertentu dalam suatu populasi.


Misalnya, dengan model ini auditor dapat memperkirakan berapa persen bukti

kas keluar (voucher) yang terdapat dalam populasi tidak dilampiri bukti

pendukung yang lengkap. Model ini terutama digunakan jika auditor melakukan

pengujian pengendalian terhadap suatu unsur pengendalian intern, dan auditor

tersebut memperkirakan akan menjumpai beberapa penyimpangan (kesalahan).

Prosedur pengambilan sampel adalah sebagai berikut :

a. Penentuan attribute yang akan diperiksa untuk menguji efektivitas

pengendalian intern. Attribute adalah karakteristik yang bersifat

kualitatif suatu unsur yang membedakan unsur tersebut dengan unsur

yang lain. Dalam hubungannya dengan pengujian pengendalian,

attribute adalah penyimpangan dari atau tidak adanya unsur tertentu

dalam suatu pengendalian intern yang seharusnya ada.

b. Penentuan populasi yang akan diambil sampelnya. Apabila attribute

telah ditentukan, auditor harus menentukan populasi yang akan

diambil, misalnya kelompok dokumen apa yang akan diambil.

c. Penentuan besarnya sampel. Untuk menentukan besarnya sampel

yang akan diambil dari populasi tersebut secara statistik, maka

auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut :


1) Penentuan tingkat keandalan (realibility level) atau confidence

6 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

benar dalam mempercayai efektivitas pengendalian intern.

Sebagai contoh, jika auditor memilih R= 95% berarti bahwa ia


mempunyai risiko 5% untuk mempercayai suatu pengendalian

intern yang sebenarnya tidak efektif.

2) Penaksiran presentase, terjadinya attribute dalam populasi.

Penaksiran didasarkan pada pengalaman auditor dimasa yang lalu

atau dengan melakukan percobaan.

3) Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (desired upper

precision limit atau DUPL)

4) Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan

besarnya sampel.
d. Pemilihan anggota sampel dari seluruh anggota populasi. Setelah

ditentukan besarnya sampel, langkah selanjutnya adalah menentukan


anggota populasi yang akan menjadi sampel. Agar setiap anggota

populasi dapat menjadi sampel, maka auditor dapat menggunakan

tabel acak.
e. Pemeriksaan terhadap attribute yang menunjukkan efektivitas unsur

pengendalian intern. Langkah selanjutnya adalah memeriksa attribute


yang telah ditentukan sebelumnya pada sampel yang akan diambil.

Auditor harus mencatat beberapa kali menemukan attribute yang

tidak sesuai dengan pengendalian intern yang telah dilakukan.

f. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap attribute anggota sampel.


Apabila auditor telah mendapatkan tingkat kesalahan dalam attribute,

maka auditor dapat membandingkan tingkat kesalahan dalam sampel

tersebut dengan menggunakan tabel Achieved Upper Percision Limit

(AUPL). AUPL akan dibandingkan dengan DUPL. Jika AUPL lebih

rendah dari AUPL, kesimpulan yang dapat diambil adalah unsur

pengendalian intern yang diperiksa merupakan unsur sistem yang

efektif.

2. Stop or Go Sampling

Jika auditor menggunakan fixed sample size attribute sampling, kemungkinan ia

akan terlalu banyak mengambil sampel. Hal ini dapat diatasi dengan

menggunakan model attribute sampling yang lain, yaitu stop or go sampling.

Dalam stop or go sampling ini, jika auditor tidak menemukan adanya

penyimpangan atau menemukan jumlah penyimpangan tertentu yang telah

ditetapkan, ia dapat menghentikan pengambilan sampelnya. Prosedur yang

harus ditempuh oleh auditor dalam menggunakan stop or go sampling adalah

sebagai berikut :

a. Tentukan desired upper precision limit dan tingkat keandalan. Pada


tahap ini auditor menentukan tingkat keandalan yang akan dipilih dan

tingkat kesalahan maksimum yang dapat diterima. Tabel yang

tersedia dalam stop or go sampling ini menyarankan auditor untuk

memilih tingkat kepercayaan 90%, 95% atau 99%.

b. Gunakan tabel besarnya sampel minimum untuk pengujian

pengendalian guna menentukan sampel pertama yang harus diambil.

Setelah tingkat keandalan dan desired upper precision limit (DUPL)

7 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

minimum yang harus diambil oleh auditor dengan bantuan tabel

besarnya sampel minimum untuk pengujian pengendalian. Jika


pengendalian intern baik, auditor disarankan untuk tidak

menggunakan tingkat keandalan kurang dari 95% dan menggunakan

desired upper precision limit lebih dari 5%. Dengan demikian pada

umumnya dalam pengujian pengendalian, auditor tidak pernah

memilih besarnya sampel kurang dari 60.

c. Buat tabel stop or go decision. Setelah besarnya sampel minimum

ditentukan langkah selanjutnya adalah membuat tabel keputusan.

Dalam tabel stop or go decision tersebut auditor akan mengambil

sampel sampai 4 kali.


d. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap sampel.

3. Discovery Sampling

Umumnya kondisi yang diperlukan sebagai dasar penggunaan discovery

sampling adalah :
a. Jika auditor memperkirakan tingkat kesalahan dalam populas sebesar

nol atau mendekati nol persen.


b. Jika auditor mencari karakteristik yang sangat kritis, yang jika hal ini

ditemukan, merupakan petunjuk adanya ketidakberesan yang lebih

luas atau kesalahan yang serius dalam laporan keuangan.

Discovery sampling digunakan pula oleh auditor dalam pengujian


substantif. Jika tujuan audit untuk menemukan paling tidak satu

kesalahan yang mempunyai dampak potensial terhadap suatu akun,

discovery sampling umumnya dipakai untuk tujuan tersebut. Prosedur

pengambilan sampel dalam discovery sampling adalah sebagai

berikut :

1) Tentukan attribute yang akan diperiksa

2) Tentukan populasi dan besar populasi yang akan diambil

sampelnya

3) Tentukan tingkat keandalan

4) Tentukan desired upper precision limit

5) Tentukan besarnya sampel

6) Periksa attribute sampel

7) Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap karakteristik sampel

B. Variabel Sampling

Variabel sampling adalah teknik statistik yang digunakan oleh auditor

untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk mengestimasi

jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas yang lain. Dalam pengujian
substantif, auditor dapat menghadapi dua keputusan yaitu melakukan

estimasi suatu jumlah (misalnya saldo suatu akun) atau menguji kewajaran

suatu jumlah. Jika variabel sampling digunakan untuk memperkirakan saldo

suatu akun, hasil perhitungannya akan berupa nilai rupiah (rata-rata sampel

dikalikan dengan besarnya populasi ditambah atau dikurangi dengan suatu

interval jumlah rupiah pada tingkat kepercayaan yang diinginkan. Variabel

sampling untuk memperkirakan saldo suatu akun digunakan oleh auditor

8 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

1. Jika klien tidak menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar.

2. Jika suatu akun ditentukan dengan statistical sampling.

2.3.2 Variabel Sampling Untuk Uji Hipotesis

Baik dengan menggunakan nonstatistical sampling maupun statistical

sampling, pengambilan sampel dalam pengujian substantif dilakukan oleh

auditor melalui 7 tahap berikut ini :

1. Penentuan tujuan pengambilan sampel

2. Penentuan populasi

3. Penentuan sampling audit

4. Penentuan besarnya sampel


5. Penentuan metode pemilihan sampel

6. Pemeriksaan sampel
7. Evaluasi hasil sampel

2.3.3 Penerapan Metode Sampling Audit


Metode sampling dalam melaksanakan audit sudah digunakan secara

luas, baik oleh auditor internal maupun auditor eksternal (akuntan publik).
Menurut Gaffor dan Charmichael (1984) pada dasarnya ada dua jenis audit

sampel yaitu statistical sampling dan non statistical sampling. Meskipun

sebagian auditor lebih memilih non statistical sampling sebagai judgement

sampling, sekarang telah bergeser, karena pertimbangan dibutuhkan baik


menggunakan metode sampel statistik dan metode non statistik. Perbedaan

utama antara statistical dan non statistical sampling adalah terletak pada

pengukuran semua karakteristik evaluasi secara ketat tergantung pada teori

probabilitas. Kedua metode audit sampel memenuhi syarat berikut :

1. Menyeleksi sampel yang representatif

2. Menentukan ukuran sampel

3. Menentukan tingkat kesalahan yang dapat diterima sebagai risiko sampel.

2.3.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Sampling Audit

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan sampling audit :

1. Keahlian menggunakan metode audit sampling

Sebagian besar perusahaan-perusahaan akuntan publik (Bamett 1986) dan

akuntan intern (Maingot dan Quon 2009) menggunakan non statistical

sampling. Hal ini kemungkinan disebabkan karena keahlian yang rendah

dalam menggunakan audit sampling. Sementara itu penelitian Silaban

(1993) menyimpulkan bahwa mayoritas akuntan publik belum memahami

penggunaan sampling statistik untuk pemeriksaan. Dan tingkat pemahaman

tersebut berhubungan positif dengan penggunaan dan frekuensi


penggunaan sampling statistik oleh auditor informasi lain dikumpulkan oleh

(Maingot dan Quon 2009) baru hampir separuh responden mengikuti

pelatihan audit sampling dan metode evaluasi.

2. Persepsi auditor terhadap metode sampling statistik dan persepsi auditor

terhadap risiko audit. Penelitian Zarkasyi (1992) menemukan bahwa

persepsi auditormempengaruhi rendahnya hubungan dependensi dengan

frekuensi penerapanmetode sampling statistik. Jika persepsi auditor baik

9 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

sampling statistik semakin besar. Jika persepsi auditor buruk maka

cenderung menghindari sampling statistik.Bedingfield (1974) dalam Arkin


(1982) menyatakan bahwa dampakberkembangnya tuntutan hukum

terhadap KAP mengawali atau memperluaspenggunaan sampling statistik.

Menurut Tucker dan Lordi (1997) sejak awalpenyelidikan metode sampling

statistik oleh AICPA, mereka sangat menyadariimplikasi hukum (legal) dari

penggunaan metode ini. Dan menurut kedua penelititersebut ketidakpuasan

terhadap metode sampling tradisional dan keraguanterhadap kemampuan

bertahan pendekatan sampling tradisonal terhadap seranganahli statistik di

pengadilan telah menjadi katalis berkembangnya sampling statistic.

2.3.5 Ketidakpastian Dan Sampling Audit

Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep


“sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang di acu dalam standar

pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian

timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang
diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari

kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang


dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja. Jika faktor-faktor ini tidak

memungkinkan penerimaan ketidakpastian, maka alternatifnya hanyalah

memeriksa semua data. Karena hal ini jarang terjadi, maka konsep dasar

sampling menjadi lazim dalam praktik audit.


Ketidakpastian yang melekat dalam penerapan prosedur-prosedur audit

disebut risiko audit. risiko audit terdiri dari (a) risiko (meliputi risiko bawaan dan

risiko pengendalian) bahwa saldo atau kelompok dan asersi yang berkaitan,

mengandung salah saji yang mungkin material bagi laporan keuangan, jika

dikombinasikan dengan salah saji pada saldo-saldo atau kelompok yang lain,

dan (b) risiko (risiko deteksi) bahwa auditor tidak menemukan salah saji

tersebut. Risiko terjadinya peristiwa-peristiwa negatif ini (adverse events) secara

bersamaan dapat dipandang sebagai suatu fungsi masing-masing risiko.

Dengan menggunakan pertimbangan profesional, auditor menilai berbagai

faktor untuk menentukan risiko bawaan dan risiko pengendalian (penentuan

risiko pengendalian pada tingkat yang lebih rendah dari pada tingkat maksimum

akan menuntut pelaksanaan pengujian atas pengendalian), dan melakukan

pengujian substantif (prosedur analitik dan pengujian atas rincian saldo-saldo

akun atau kelompok transaksi) untuk membatasi risiko deteksi.

Risiko audit meliputi ketidakpastian yang disebabkan oleh sampling dan

ketidakpastian yang disebabkan oleh faktor-faktor selain sampling. Aspek-aspek

risiko audit adalah risiko sampling dan risiko non sampling.

Risiko sampling timbul dari kemungkinan bahwa, jika suatu pengujian


pengendalian atau pengujian substantif terbatas pada sampel, kesimpulan

auditor mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan dicapainya jika cara

pengujian yang sama diterapkan terhadap semua unsur saldo akun atau

kelompok transaksi. Dengan pengertian, suatu sampel tertentu mungkin

mengandung salah saji moneter atau penyimpangan dari pengendalian yang

telah ditetapkan, yangsecara proporsional lebih besar atau kurang daripada

yang sesungguhnya terkandung dalam saldoakun atau kelompok transaksi

10 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

bervariasi secara berlawanan dengan ukuran sampelnya: semakin kecilukuran

sampel, semakintinggi risiko samplingnya.


Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak

berkaitan dengan sampling.Seorang auditor mungkin menerapkan prosedur

audit terhadap semua transaksi atau saldo dantetap gagal mendeteksi salah saji

yang material. Risiko nonsampling meliputi kemungkinanpemilihan prosedur

audit yang tidak semestinya untuk mencapai tujuan audit

tertentu.Sebagaicontoh, pengiriman surat konfirmasi atas piutang yang tercatat

tidak dapat diandalkan untukmenemukan piutang yang tidak tercatat. Risiko

nonsamplingjuga muncul karena auditor mungkingagal mengenali salah saji

yang ada pada dokumen yang diperiksanya, hal yang akan membuatprosedur
audit menjadi tidak efektif walaupun ia telah memeriksa semua data. Risiko

nonsamplingdapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui


cara-cara seperti perencanaandan supervisi memadai (lihat SA Seksi 311 [PSA

No. 05] Perencanaan dan Supervisi danpenyelenggaraan praktik audit yang

balk oleh kantor akuntan publik (lihat SASeksi 161 [PSA No.01] Hubungan
Standar Audit ing dengan Standar Pengendalian Mutu.

2.3.6 Risiko Sampling

Auditor harus menerapkan pertimbangan profesional dalam menentukan

risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian,


auditor memperhatikan dua aspek dari risiko sampling :

1. Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil


kesimpulan berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah

saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji

secara material.

2. Risiko keliru menolak (risk of incorrect rejection), yaitu risiko mengambil


kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji

secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji
secara material.

Auditor juga memperhatikan dua aspek risiko sampling dalam


menyelenggarakan pengujian pengendalian jika ia menggunakan sampling :

1. Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah (risk of

assessing control risk too low), yaitu risiko menentukan tingkat risiko

pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan

dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.

2. Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi (risk of


assessing control risk too high), yaitu risiko penentuan tingkat risiko

pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan

dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.

Risiko keliru menolak dan risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang

terlalu tinggi, berkaitan dengan efisiensi audit. sebagai contoh, jika penilaian

auditor atas sampel audit menuntunnya pada kesimpulan awal yang keliru
bahwa suatu saldo telah salah saji secara material, padahal kenyataannya tidak

demikian, penerapan prosedur tambahan dan pertimbangan atas bukti-bukti

11 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

audit yang lain biasanya akan menuntun auditor ke kesimpulan yang benar.

Sama halnya, jika penilaian auditor atas sampel menuntunnya pada penentuan
tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, maka biasanya auditor akan

memperluas lingkup pengujian substantif untuk mengkompensasi anggapannya

atas ketidakefektivan pengendalian. Walaupun audit dilaksanakan kurang

efisien dalam kondisi tersebut namun tetap efektif.

Risiko keliru menerima dan risiko penentuan tingkat risiko pengendalian

yang terlalu rendah, berkaitan dengan efektivitas audit dalam pendeteksian

terhadap ada atau tidaknya salah saji yang material.

2.4 Sampling Dalam Pengujian Substantif Rinci

2.4.1 Perencanaan Sampel


Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk melaksanakan audit

atas laporan keuangan. Untuk panduan umum perencanaan, lihat SA Seksi 311
(PSA No. 05) Perencanaan dan Supervisi.

Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substantif rinci, auditor


harus mempertimbangkan :

1. Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan. Lihat SA Seksi 326

(PSA No. 07) Bukti Audit.

2. Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas.

3. Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima (allowable risk of incorrect

acceptance).

4. Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau


kelompok transaksi yang menjadi perhatian.

Dalam perencanaan sampel tertentu, auditor wajib mempertimbangkan

tujuan audittertentu yang hares dicapai dan wajib menentukan apakah prosedur

atau kombinasi proseduraudit yang akan diterapkan akan mencapai tujuan

tersebut. Auditor wajib menentukanapakah populasi yang menjadi asal suatu

sampel adalah memadai untuk suatu tujuan audit.Sebagacontoh, auditor tidak

akan dapat mendeteksi penyajian akun yang terlalu rendah karena adanyaunsur

yang dihilangkan, dengan melakukan sampling atas catatan. Rencana sampling

semestinyauntuk pendeteksian penyajian yang terlalu rendah tersebut

melibatkan pemilihan sumber datayang mengikutsertakan unsur yang

dihilangkan. Sebagai gambaran, pengeluaran kas kemudianmungkin perlu

diambil sampelnya untuk menguji apakah utang dagang telah disajikan terlalu

rendahkarena tidak dicatatnya transaksi pembelian. Atau dokumen pengiriman

mungkin diambil sampelnya untukmendeteksi penyajian penjualan yang terlalu


rendah karena pengiriman yang telah dilakukan belumdicatat sebagai

penjualan.

Penilaian dalam satuan moneter atas hasil sampel untuk pengujian

substantif rincian akanmemberikan manfaat secara langsung bagi auditor,

karena penilaian seperti itu dapatdihubungkan dengan pertimbangan auditor

atas jumlah salah saji moneter yang mungkinmaterial. Dalam perencanaan

sampel untuk penguj ian substantif rinci, auditor


wajibmempertimbangkanberapa besar salah saji moneter yang dapat

terkandung dalam saldo akun ataukelompok transaksi yang bersangkutan tanpa

12 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

mengakibatkan laporan keuangan menjadi salah sajisecara material. Salah saji

moneter maksimum pada saldo atau kelompok ini disebut salah saji yangdapat
diterima (tolerable misstatement) pada sampel. Salah saji yang dapat diterima

adalah suatukonsep perencanaan dan berkaitan dengan pertimbangan

pendahuluanauditor atas tingkatmaterialitas, yang ditentukan sedemikian rupa

sehingga salah saji yang dapat diterima,dikombinasikan untuk seluruh rencana

audit, tidaklah melampaui estimasi tingkat materialitastersebut.

Standar pekerjaan lapangan kedua menyatakan, "Pemahaman memadai

ataspengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan

menentukan sifat, saat, danlingkup pengujian yangakan dilakukan."Setelah

menentukan dan mempertimbangkan tingkat risikobawaan dan risiko


pengendalian, auditor melaksanakan pengujian substantif untukmembatasirisiko

deteksi pada tingkat yang dapat diterima. Pada saat tingkatrisiko bawaan,
risikopengendalian, dan risiko deteksi yang telah ditentukan untuk prosedur

audit lain yang diarahkan ketujuan audit yang sama menurun, risiko keliru

menerima yang dapat diterima oleh auditor untukpengujian substantif rinci


meningkat, sehingga, ukuran sampel yang diperlukan untuk pengujiansubstantif

atas rincian tersebut semakin kecil. Sebagai contoh, jika risiko bawaan dan
risikopengendalian ditentukan pada tingkat maksimum, dan tidak ada

pengujiansubstantif lain yang diarahkan ke tujuan audit yang sama, auditor

harus menerima risiko kelirumenerima dengan tingkat yang rendah untuk

pengujian substantif rinci. Dalam hal ini, auditormemilih ukuran sampel yang
lebih besar untuk pengujian atas rincian daripada jika ia menerima risikokeliru

menerima dengan tingkat yang lebih tinggi.

Lampiran Seksi ini menguraikan bagaimana auditor dapat

menghubungkan risiko kelirumenerima untuk pengujian substantif atas rincian

dengan penentuan risiko bawaan, risikopengendalian, dan risiko bahwa

prosedur analitik dan pengujian substantif lain yang relevan akangagal

mendeteksi salah saji material.

Sebagaimana dibahas dalam SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti

Audit,cukup atau tidaknyapengujian atas rincian saldo akun atau, kelompok

transaksi tertentu, berkaitan dengan penting atautidaknya unsur yang diuji dan

kemungkinan salah saji yang material. Dalam perencanaan sampeluntuk

pengujian substantif atas rincian, auditor menggunakan

pertimbangannyauntukmenentukan unsur, jika ada, yang harus diuji tersendiri,

dan unsur yang harus disampling. Auditorwajib memeriksa unsur yang, menurut

pertimbangannya, tidak sesuai untuk penerapan risikosampling. Sebagai

contoh, hal tersebut meliputi unsur yang potensi salah sajinya secara

individualdapat sama atau melebihi salah saji yang dapat diterima. Semua

unsur yang telah diputuskan olehauditor untuk diperiksa 100% bukan


merupakan bagian dari populasi yang disampling. Unsur lainyang, menurut

pertimbangan auditor, perlu diuji untuk memenuhi tujuan audit namun tidak

perludiperiksa 100 %, harus disampling.

Auditor mungkin dapat mengurangi ukuran sampel yang disyaratkan

dengan memisahkanunsur yang disampling ke dalam kelompok-kelompok yang

relatif homogen berdasarkan atas beberapakarakteristik yang berkaitan dengan

tujuan audit tertentu. Sebagai contoh, dasar-dasar umum untukpengelompokan

13 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

terkaitdengan pemrosesan unsur, dan pert imbangan khusus yang berkaitan

dengan unsur tertentu.Jumlah unsur memadai kemudian ditentukan dari


masing-masing kelompok.

Untuk menentukan jumlah unsur yang harus dipilih dalam suatu sampel

pada pengujiansubstantif tertentu, auditor wajib mempertimbangkan salah saji

yang dapat diterima, risiko kelirumenerima yang dapat diterima,dan karakteristik

populasi. Auditor menggunakan pertimbanganprofesionalnya untuk

menghubungkan faktor-faktor ini dalam penentuanukuran sampel

memadai.Lampiran Seksi ini menguraikan dampak faktor-faktor ini yang

mungkin timbul dalam ukuran sampel.

2.4.2 Pemilihan Sampel

Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampelnya dapat


diharapkan mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi

harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Sebagai contoh, pemilihan

secara acak atas unsur merupakan suatu cara memperoleh sampel yang
mewakili.

2.4.3 Kinerja dan Penilaian

Prosedur audit memadai untuk suatu tujuan audit tertentu harus

diterapkan terhadap setiap unsur sampel. Dalam beberapa situasi, auditor

mungkin tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan terhadap


unsur sampel yang terpilih karena, misalnya, dokumentasipendukungnya hilang.

Perlakuan auditor terhadap unsur yang tidak diperiksa ini akan tergantung pada

dampak unsur tersebut terhadap penilaian hasil sampel.Jika penilaian auditor

terhadap hasilsampel tidak berubah dengan dipertimbangkannya unsur yang

tidak diperiksa sebagai salah saji,maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan

terhadap unsur tersebut. Namun, jika setelahmempertimbangkan unsur yang

tidak diperiksa ternyata auditor berkesimpulan bahwa saldoatau kelompok

transaksi berisi salah saji yang material, ia wajib mempertimbangkan

proseduralternatif yang dapat memberikan bukti yang cukup untuk mengambil

kesimpulan. Auditorberkewajiban pula untuk mempertimbangkan apakah

alasan-alasan yang mendasari tentang tidakdapat diperiksanya unsur tersebut

memiliki implikasi terhadap penentuan tingkat risiko pengendalian yang telah

direncanakan, atau seberapa jauh ia dapat menaruh kepercayaan kepada

representasi klien.

Auditor wajib memproyeksikan salah saji hasil sampel terhadap unsur

dalam populasi yang menjadi asal sampel yang dipilih. Ada beberapa cara yang

dapat diterima untuk memproyeksikansalah saji dari suatu sampel.Sebagai

contoh, auditor mungkin telah memilih sebuah sampel dari setiapunsur yang
keduapuluh (50 unsur) dari suatu populasi yang terdiri dari 1000 unsur. Jika

auditormenemukan lebih saji (overstatement) sebesar Rp 600.000 dalam

sampel tersebut, maka auditordapat memproyeksikan lebih saji sebesar Rp

12.000.000 dengan membagi jumlah lebih saji dalamsampel tersebut dengan

pecahan antara total sampel dengan total populasi. Auditorharusmenambahkan

proyeksi tersebut ke salah saji yang ditemukan dalam unsur yang diperiksa

100%.Total salah saji projeksian tersebut harus dibandingkan dengan salah saji

14 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

pertimbanganmemadai harus dilakukan terhadap risiko sampling. Jika total

salah saji projeksian lebih kecil daripadasalah saji yang dapat diterima untuk
saldo akun atau kelompok transaksi, auditor harusmempertimbangkan pula

risiko bahwa hasil semacam ini mungkin masih diperoleh, walaupun salahsaji

moneter yang sesungguhnya dalam populasi melebihi salah saji yang dapat

diterima. Sebaliknya, jika total salah saji projeksian mendekati salah saji yang

dapat diterima, auditor dapat

menyimpulkan adanya risiko yang sangat tinggi bahwa salah saji moneter yang

sesungguhnya dalampopulasi melebihi salah saji yang dapat diterima.Auditor

menggunakan pertimbanganprofesionalnya dalam membuat penilaian tersebut.

Sebagai tambahan terhadap penilaian atas frekuensi dan jumlah moneter


suatu salah saji,auditor harus mempertimbangkan aspek kualitatif suatu salah

saji. Hal ini meliputi (a) sifat danpenyebab salah saji, sepertiapakah salah saji
disebabkan oleh perbedaan secara prinsip atauperbedaan dalam penerapan,

apakah disebabkan oleh kekeliruan atau ketidakberesan,danapakah disebabkan

oleh tidak dipahaminya instruksi atau kecerobohan, dan (b)


kemungkinanhubungan antara salah saji dengan tahapan audit yang lain.

Penemuan adanya ketidakberesan biasanya memerlukan pertimbanganyang


lebih luas atas kemungkinan implikasinya daripadapenemuan adanya

kekeliruan.

Jika hasil sampel menunjukkan bahwa asumsi perencanaan auditor tidak

benar, maka iaharus mengambil tindakan yang dipandang perlu.Sebagai


contoh, jika salah saji moneterditemukan dalam pengujian substantif atas

rincian jumlah atau frekuensi, yang lebih besar dari tingkatrisiko bawaan dan

risiko pengendalian yang telah ditentukan, maka auditorharus mengubah

tingkatrisiko yang ditentukan sebelumnya. Auditor harus juga

mempertimbangkan apakah ia akanmemodifikasi pengujian audit yang lain yang

telah dirancang atas dasar tingkat risiko bawaan dan risikopengendalian

sebelumnya. Sebagai contoh, sejumlah besar salah sajiditemukan dalam

konfirmasipiutang mungkin merupakan indikasi perlu dipertimbangkannya

kembali tingkat risiko pengendalian yangtelah ditentukan dikaitkan dengan

asersi yang berdampak terhadap desainpengujian substantif ataspenjualan atau

penerimaan kas.

Auditor harus mengaitkan penilaian atas sampel dengan bukti audit lain

yang relevan dalampenarikan kesimpulan atas saldo-saldo akun ataukelompok

transaksi yang berkaitan.Hasil proyeksi salah saji untuk penerapan sampling

audit dan penerapan nonsampling harusdipertimbangkan secara total, bersama-

sama dengan bukti audit lain yang relevan, dalam rangkapenilaian auditor

terhadap apakah laporan keuangan secara keseluruhantelah salah saji secara

material.

2.5 Sampling Dalam Pengujian Pengendalian

2.5.1 Perencanaan Sampel

Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian,

auditor harus mempertimbangkan :

1. Hubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian

2. Tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang

15 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

3. Tingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko

pengendalian yang terlalu rendah.


4. Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau

kelompok transaksi yang menjadi fokus perhatian.

Terhadap berbagai pengujian pengendalian, sampling tidak dapat

diterapkan. Prosedur yangdilaksanakan untuk memperoleh pemahaman

ataspengendalian intern memadai untuk merencanakan audittidak dapat

dilaksanakan dengan menggunakan sampling. Sam-pling biasanya tidakdapat

diterapkandalam pengujian pengendalian yang sangat tergantung atas

pemisahan tugas memadai atau yangsebaliknya tidak akan memberikan bukti


dokumenter atas kinerja. Di samping itu, sampling mungkin tidakdapat

diterapkan dalam pengujian atas pengendalian tertentu yangdidokumentasikan.


Samplingtidak dapat diterapkan untuk pengujian yang ditujukan untuk

memperoleh bukti tentang desain atauoperasi suatu lingkungan pengendalian

atau sistem akuntansi. Sebagai contoh, sampling tidak dapatditerapkan dalam


prosedur permintaan keterangan atau observasi mengenai penjelasan

ataspenyimpangan dari anggaran, jika auditor tidak ingin mengestimasi tingkat


penyimpangan daripengendalian yang telah ditetapkan.

Dalam mendesain sampel untuk pengujian pengendalian, auditor

biasanya harus merencanakanuntuk menilai efektivitas operasi dalam

hubungannya dengan penyimpangan dari pengendalian internyang telah


ditetapkan, baik dalam bentuk tingkat penyimpangan maupun jumlah

monetertransaksi yangterkait.Dalam hal ini, pengendalian tertentu adalah

pengendalian yang belum dimasukkan dalamdesain pengendalian intern yang

akan berpengaruh sebaliknya terhadap rencana tingkat risikopengendalian yang

ditetapkan oleh auditor. Tingkat risiko pengendaliansecara keseluruhan

yangditetapkan oleh auditor untuk asersi tertentu melibatkan kombinasi antara

pertimbangan ataspengendalian yang telah ditetapkan, penyimpangan dari

prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan,dan tingkat keyakinan yang

diberikan oleh sampel dan pengujian pengendalian yang lain.

Auditor harus menentukan tingkat penyimpangan maksimum dari

pengendalian yang telahditetapkan, yaitu, ia akan bersedia menerima tanpa

mengubah rencana tingkat risiko pengendalianyang telah ditetapkan. Inilah

yang disebut tingkat penyimpangan yang dapat diterima. Dalampenentuan

tingkat penyimpangan yang dapat diterima, auditor harus mempertimbangkan(a)

tingkatrisiko pengendalian yang direncanakan, dan (b) tingkat keyakinan yang

diinginkan oleh bukti auditdalam sampel. Sebagai contoh, jika auditor

merencanakan untuk menentukan tingkat risikopada tingkat yang rendah, dan ia

menginginkan tingkat keyakinan yang tinggi dari bukti audit yangtersedia dari
sampel untuk pengujian pengendalian (yaitu, tidak melakukan pengujian

pengendalianyang lain atas asersi), ia mungkin menentukanbahwa tingkat

penyimpangan yang dapat diterimasebesar 5% atau lebih kecil makin baik. Jika

auditor merencanakan tingkat risiko pengendalian yanglebih tinggi, atau ia

menginginkan tingkat keyakinan dari pengujianpengendalian yang lain bersama-

samadengan yang disediakan oleh sampel (seperti misalnya permintaan

keterangan atas cukup atau tidaknyapersonalia entitas atau pengamatan atas

16 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

tingkat penyimpangan yang dapat diterima sebesar 10% atau lebih adalah

cukup memadai.
Dalam penentuan tingkat penyimpangan yang dapat diterima, auditor

harusmempertimbangkan bahwa, sementara penyimpangan dari pengendalian

tertentu meningkatkanrisiko salah saji material dalam catatanakuntansi,

penyimpangan tersebut tidak perlu menghasilkan suatu salahsaji.Sebagai

contoh, suatu pengeluaran yang tercatat, yang tidak memperlihatkan adanya

bukti persetujuanyang diperlukan, dapat merupakan transaksi yang telah

diotorisasi dan dicatat secara semestinya.Penyimpangan hanya akan

menyebabkan salah saji dalam catatan akuntansi jika penyimpangan

dansalahsaji tersebut terjadi dalam transaksi yang sama. Penyimpangan dari


prosedur pengendalian tertentu padatingkat tertentu biasanya diharapkan akan

menghasilkan salah saji pada tingkat yang lebih rendah.


Dalam beberapa situasi, risiko salah saji material atas suatu asersi

mungkin berkaitan dengan kombinasipengendalian. Jika kombinasi antaradua

atau lebih pengendalian diperlukan untuk mempengaruhi risiko salahsaji


material, maka pengendalian intern tersebut harus dipandang sebagai

satuprosedur, dan penyimpangan dari kombinasi prosedur atau kebijakan harus


dinilai dengan dasar tersebut.

Sampel yang diambil untuk pengujian terhadap efektivitas pelaksanaan

pengendalian ditujukan untuk memberikan dasar bagi auditor dalam

menyimpulkan apakah prosedur atau kebijakan pengendalian telah diterapkan


sebagaimana yang telah ditetapkan. Jika tingkat keyakinan tinggi diharapkan

dari bukti audit yang dihasilkan dari sampel, auditor harus menerima tingkat

risiko sampling yang rendah (yaitu, risiko pengendalian ditentukan terlalu

rendah) .

Untuk menentukan jumlah unsur yang akan dipilih sebagai sampel dalam

pengujianpengendalian, auditor harus mempertimbangkan tingkat

penyimpangan yang dapat diterima dari pengendalian yang diuji, kemungkinan

tingkat penyimpangan, dan risiko yang dapat diterima dalam penentuan tingkat

risiko pengendalian yang terlalu rendah. Auditor menerapkanpertimbangan

profesionalnya untuk menghubungkan berbagai faktor tersebut dalam

menentukan ukuran sampel memadai.

2.5.2 Pemilihan Sampel

Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang

terpilih diharapkan dapat mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur

dalam populasi harus memiliki kesempatanyang sama untuk dipilih.Pemilihan


secara acak merupakan salah satu cara pemilihan sampeltersebut. Ada tiga

metode pemilihan sampel yang umum digunakan: (1)pemilihan acak

(randomselection), yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata

memiliki kesempatan yangsama untuk dipilih, (2)pemilihan sistematik

(systematic selection), yaitu pemilihan unsur denganmenggunakan interval

konstan di antara yang dipilih, yang intervalpermulaannya dimulai secaraacak,

(3) pemilihan sembarang (haphazardselection), yang merupakan alternatif


pemilihan acak,dengan syarat auditormencoba mengambil sampel yang

mewakili dari keseluruhan populasi tanpamaksud untuk memasukkan atau tidak

17 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

memasukkan unit tertentu ke dalamsampel yang dipilih.Idealnya, auditor harus

menggunakan metode pemilihan yang memiliki kemampuan untuk memilihunsur


dari seluruh periode yang diaudit. SA Seksi 319 [PSA No. 23] Pertimbangan

PengendalianIntern dalamAudit Laporan Keuangan paragraf 73 memberikan

panduan yang dapatditerapkandalam penggunaan sampling oleh auditor

selama periode interimdan periode sisanya.

2.5.3 Kinerja dan Penilaian

Prosedur audit memadai untuk mencapai tujuan pengujian pengendalian

harusdilaksanakan terhadap setiap unsur sampel. Jika auditor tidak dapat

menerapkan prosedur audityang direncanakan atau prosedur alternatif

memadai terhadap unsur sampel yang terpilih, ia

harusmempertimbangkanpenyebab keterbatasan tersebut , dan ia biasanya

harusmempertimbangkan unsur yang terpilih tersebut sebagai penyimpangan

dari prosedur ataukebijakan yang telah ditetapkan untuk tujuan penilaian

sampel.
Tingkat penyimpangan dalam sampel merupakan estimasi terbaik auditor

terhadap tingkatpenyimpangan dalam populasi yang menjadi asal sampel. Jika

estimasi tingkat penyimpanganlebih kecil dari tingkat penyimpangan yang dapat

diterima untuk populasi, auditor harusmempertimbangkan risiko bahwa hasil

semacam itu mungkin akan diperoleh walaupun tingkatpenyimpangan yang


sesungguhnya dalam populasi melebihi tingkat penyimpangan populasiyang

dapat diterima. Sebagai contoh, jika tingkat penyimpangan populasi yang dapat
diterimasebesar 5%, dan auditor tidak menemukan penyimpangan dalam

sampel sebanyak 60 unsur, auditordapat menyimpulkan bahwa terdapat suatu

risiko sam-pling rendah yang dapat diterima bahwa tingkatpenyimpangan

sesungguhnya dalam populasimelarnpaui tingkat 5% yang dapat diterima.

Sebaliknya, jika dalam sampel tersebut terdapat satuatau lebih penyimpangan,

auditor dapat menyimpulkan bahwa terdapat risiko sampling tinggi yangtidak

dapat diterima bahwa tingkat penyimpangan dalam populasi melampaui tingkat

5%yangdapat diterima. Auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya

dalam melakukan evaluasitersebut.

Di samping itu, dalam penilaian terhadap frekuensi penyimpangan dalam

prosedur tertentu,pertimbangan juga dilakukan terhadap aspek kualitatif suatu


penyimpangan. Hal ini meliputi (a)sifat dan penyebab penyimpangan, seperti

misalnya, apakah penyimpangan tersebut merupakankekeliruan atau

ketidakberesan, atau disebabkan oleh tidak dipahaminyainstruksi atau

kecerobohan,dan (b) kemungkinan hubungan antara penyimpangan dengan

fase-fase lain dalam audit.Penemuan adanya suatu ketidakberesan biasanya

memerlukan pertimbangan yang lebih luas ataskemungkinan implikasinya

daripada penemuan adanya suatu kekeliruan.

Jika auditor menyimpulkan bahwa hasil sampel tidak mendukung tingkat

risikopengendalian yang direncanakan atas suatu asersi, maka ia harus menilai


kembali sifat, waktu, danlingkup prosedur substantif berdasarkan atas

pertimbangan yang telah direvisi atas tingkat risikopengendalian yang

ditetapkan untuk asersi laporan keuangan yang relevan.

18 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

Dalam beberapa situasi, auditor dapat mendesain sampel yang akan

digunakan untukmemenuhi dua tujuan: menentukan risiko pengendalian dan


menguji kebenaran jumlah monetertransaksi yang dicatat . Pada

umumnya,auditor yang merencanakan untuk menggunakansampel dengan

tujuan ganda telah membuat estimasi pendahuluan bahwa terdapat tingkat

risikoyang rendah bahwa penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan

dalampopulasi, akan melebihitingkat penyimpangan yang dapat diterima.

Sebagai contoh, auditor yang mendesain pengujianterhadap prosedur

pengendalian atas pencatatan dalam register bukti kas keluar (voucher

register)dapat merencanakan pengujian substantif yang berkaitan pada tingkat

risiko yangmemperkirakan tingkatrisiko pengendalian yang ditentukan di bawah


maksimum. Ukuran sampel yang dirancang untuk tujuanganda harus

merupakan yang terbesar di antara ukuran-ukuran sampel yang dirancanguntuk


masing-masingtujuan secara terpisah. Dalam menilai pengujian tersebut,

penyimpangan dari prosedur dansalah saji moneter harus dinilaisecara terpisah

dengan menggunakan tingkat risiko yang sesuaiuntuk masing-masing tujuan


pengujian.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Dalam melaksanakan pemeriksaan, auditor harus merencanakan

pelaksanaan auditnya secara efektif dan efisien. Auditor harus dapat

mengumpulkan bukti yang akurat dengan mempertimbangkan efisiensi biaya


dan waktu. Auditor dapat menggunakan Audit sampling. Ada dua metode dalam

audit sampling, yaitu nonstatistik sampling dan statistik sampling. Dari beberapa

hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa sebagian besar auditor


internal, auditor eksternal maupun auditor pemerintah lebih banyak

menggunakan nonstatistical sampling. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor

yaitu faktor kemampuan auditor menggunakan audit sampling, persepsi auditor

terhadap metode audit sampling dan persepsi terhadap risiko. Dari beberapa

hasil penelitian, terungkap pula bahwa auditor yang menggunakan nonstatistical

sampling tidak memperhitungkan bias dalam evaluasinya. Penggunaan


nonstatistical sampling juga terbukti lebih banyak menimbulkan masalah

dibanding penarikan sampel dengan menggunakan statitical sampling. Dapat

ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya statistical sampling merupakan metode


yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

3.2 Saran

Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar dapat

menambah pengetahuan berkaitan dengan Audit sampling. Tak lupa, kami

19 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

pertimbangan pada penulisan-penulisan berikutnya.

Sumber:
PSA No. 26 Sampling Audit SA Seksi 350

Diposkan oleh Rizky Amaliah Yahya di 8:59:00 PM

Reaksi:

Post a Comment

Newer Post Home Older Post

Subscribe to: Post Comments (Atom)

20 of 21 19/11/2018, 13:07
2018: MAKALAH AUDIT SAMPLING http://irmajhe.blogspot.com/2017/05/makalah-audit-sampling.html

Simple theme. Powered by Blogger.

21 of 21 19/11/2018, 13:07