Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FARMAKOLOGI

ANGONIS DAN ANTAGONIS MUSKARINIK

OLEH :

KELOMPOK IV

1. Intan Sri Maulina (1701019)

2. Isra Aulia Putri (1701020)

3. Justika Melsanta (1701021)

4. Lestari Juita Sinaga (1701022)

5. M. Givari Arija S (1701023)

6. Yesi Heria (1701045)

KELAS S1. 3A

DOSEN PENGAMPU :
Dra. Syilfia Hasti, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI S1
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2018

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk membantu
mahasiswa/i dalam memahami materi mata kuliah Farmakologi. Makalah ini secara umum
berisi tentang Agonis dan Antagonis Muskarinik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak sangat di perlukan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, penulis mohon maaf apabila dalam makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi pembaca khususnya
mahasiswa/i, serta menjadi pintu gerbang ilmu pengetahuan khususnya mata kuliah
Farmakologi.

Pekanbaru, 13 Oktober 2018

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Saraf Manusia ...................................................................... 3


2.2 Agonis Kolinergik .............................................................................................. 5
2.3 Obat-Obat Kolinergik......................................................................................... 7
2.4 Antagonis Kolinergik ………………………………... ..................................... 10
2.5 Obat-Obat Antikolinergik ................................................................................... 12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 15


3.2 Saran .................................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem saraf manusia adalah suatu jalinan jaringan saraf yang kompleks, sangat
khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi,
menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur kebanyakan aktivitas sistem-sistem tubuh
lainnya. Karena pengaturan saraf tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai sistem
tubuh hingga menyebabkan tubuh berfungsi sebagai unit yang dinamis. Dalam sistem inilah
berasal segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasi dan gerakan. Jadi
kemampuan untuk dapat memahami, belajar dan memberi respon terhadap suatu
rangsangan merupakan hasil kerja integrasi dari sistem saraf yang puncaknya dalam bentuk
kepribadian dan tingkah laku individu.

Sistem saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab
terhadap homeostasis. Kecuali pada otot rangka, yang mendapat persarafan dari sistem
saraf somatomotorik , semua organ yang lain dipersarafi oleh sistem saraf otonom. Ujung-
ujung saraf berlokasi di otot polos (contohnya : pembuluh darah, dinding usus, kandung
kemih), otot jantung, dan kelenjar (contohnya : kelenjar keringat, kelenjar ludah). Sistem
saraf memiliki dua divisi utama, sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Seperti
telah dijelaskan diatas, beberapa target organ dipersarafi oleh kedua divisi dan organ yang
lain dipersarafi hanya oleh satu divisi.

Neurotransmitter merupakan substansi sel saraf yang digunakan untuk


berkomunikasi dengan sel saraf lainnya. Setelah dilepaskan, neurotransmitter hanya akan
efektif bila berinteraksi dengan reseptornya pada sel target. Spesifisitas interaksi neuronal
ini ditentukan oleh jenis transmitter yang dilepaskan dan jenis reseptor.

Reseptor merupakan alat yang dapat mendeteksi informasi yang masuk ke dalam
sel. Reseptor telah diketahui memiliki tempat ikatan dengan struktur yang kaku. Reseptor
biasanya berikatan hanya dengan satu jenis transmitter, walaupun substansi alami dan
sintesis lainnya dapat berikatan dengan afinitas yang tinggi. Namun demikian, setiap jenis
transmitter dapat mengaktivasi lebih dari satu jenis reseptor.

1
Asetilkolin (ACh) adalah salah satu neurotransmitter yang sangat berperan dalam
fungsi sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom adalah sistem involunter yang berfungsi
untuk mengontrol kebutuhan dan aktivitas tubuh sehari-hari tanpa pengaruh kesadaran kita.
Sistem ini terutama berperan pada sel saraf motorik visceral yang mempersarafi otot polos
organ dalam, otot jantung dan kelenjar eksokrin.

Ada dua jenis reseptor kolinegik, yaitu reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik.
Reseptor muskarinik merangsang otot polos dan memperlambat denyut jantung. Reseptor
nikotinik merangsang otoT rangka. Obat antagonis muskarinik beraksi secara selektif
meghambat aktibitas syaraf parasimpatik, sehingga disebut juga parasimpatolitik. Obat ini
menghambat secara kompetitif reseptor astilkolin muskarinik, secara struktur kimia, obat
golongan ini mirip dengan asetilkolin, namun mempunyai gugus aromatic untuk
menggantikan gugus aktifnya yaitu asetil. Hal ini yang mengakibatkan strukturnya”bulky”
atau gemuk sehingga antagonis pada reseptor muskarinik. Begitu pula pada obat agonis
yang bekerja sebaliknya, yang disebut parasimpatomimetik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan sistem saraf manusia?
2. Apa yang dimaksud dengan agonis kolinergik?
3. Apa saja obat-obat kolinergik?
4. Apa yang dimaksud dengan antagonis kolinergik?
5. Apa saja obat-obat antikolinergik?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui sistem saraf manusia.


2. Mengetahui agonis kolinergik.
3. Mengetahui obat-obat kolinergik.
4. Mengetahui antagonis kolinergik.
5. Mengetahui obat-obat antikolinergik.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistem saraf manusia


Sistem saraf manusia dibagi menjadi 2 bagian, yaitu susunan saraf pusat (SSP) dan
susunan saraf tepi (SST), yang disebut juga susunan saraf perifer.
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis, sedangkan susunan saraf
tepi mempunyai 2 cabang yaitu susunan saraf motoric (susunan somatic) dan susunan saraf
otonom (SSO) yang disebut juga susunan saraf vegetative. Susunan saraf motoric bekerja
sesuai kehendak kita (dapat dikendalikan), sedangkan susunan saraf otonom bekerja diluar
kehendak kiat (tidak dapat dikendalikan).

Sistem saraf otonom memiliki 2 neuron :


1. Aferen : Mengirimkan informasi ke susunan saraf pusat untuk
diinterpretasikan
2. Eferen : Informasi dari otak diteruskan melalui medulla spinalis ke sel
organ efektor seperti jantung, paru-paru, saluran pencernaan.

Penggolongan obat-obat otonom berdasarkan kegiatannya :

1. Zat-zat yang bekerja terhadap saraf simpatis


 Simpatomimetika (adrenergic), obat yang efeknya menyerupai efek
yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatik, seperti efek
perangsang susunan saraf otonom oleh noradrenalin. Contohnya :
efedrin, amfetamin, dan sebagainya.
 Simpatolitik (adrenolitik), obat yang justru menghabat timbulnya
efek aktivitas saraf simpatik, melawan efek perangsang susunan saraf
otonom oleh nor adrenalin, contohnya : alkaloid sekale, tolazolin,
propranolol, dan sebagiannya.
2. Zat-zat yang bekerja terhadap saraf parasimpatis
 Parasimpatomimetik (kolinergik), obat yang efeknya menyerupai
efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatik,

3
seperti efek perangsang susunan saraf otonom oleh asetilkolin,
contohnya : pilokarpin.
 Parasimpatolitika (antikolinergik), obat yang menghambat timbulnya
efek dari aktivitas susunan saraf parasimpatik, melawan efek
perangsangan susunan saraf otonom oleh asetilkolin. Contohnya :
alkaloid belladonna (hyoscyamin, atromin, skopolamin)
3. Zat-zat perintang ganglion
Zat yang merintangi penerusan impuls dalam sel-sel ganglion simpatik dan
parasimpatik.

Ada dua jenis reseptor kolinegik, yaitu reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik.
Reseptor muskarinik merangsang otot polos dan memperlambat denyut jantung. Reseptor
nikotinik merangsang otot rangka. Obat antagonis muskarinik beraksi secara selektif
menghambat aktibitas syaraf parasimpatik, sehingga disebut juga parasimpatolitik. Obat ini
menghambat secara kompetitif reseptor astilkolin muskarinik, secara struktur kimia, obat
golongan ini mirip dengan asetilkolin, namun mempunyai gugus aromatic untuk
menggantikan gugus aktifnya yaitu asetil. Hal ini yang mengakibatkan strukturnya”bulky”
atau gemuk sehingga antagonis pada reseptor muskarinik. Begitu pula pada obat agonis
yang bekerja sebaliknya, yang disebut parasimpatomimetik.

4
Jaringan organ Respons simpatis Respons parasimpatis
tubuh
Mata Dilatasi pupil Kontriksi pupil

paru-paru Dilatasi bronkiolus Kontriksi bronkiolus dan


sekresi bertambah

Jantung Denyut jantung meningkat Denyut jantung menurun

pembuluh darah Kontriksi pembuluh darah Dilatasi pembuluh darah

gastrointestinal Relaksasi otot polos dari saluran Peristaltik meningkat


gastrointestinal

kandung kemih Relaksasi otot kandung kemih Kontraksi kandung kemih

Uterus Relaksasi otot uterus Kontraksi otot uterus

kelenjar saliva Saliva berkurang Salvasi bertambah

2.2 Agonis kolinergik

Istilah agonis kolinergik berarti obat yang memacu atau meningkatkan aktivitas
syaraf kolinergik. Di beberapa buku istilah ini disebut juga dengan istilah kolinomimetik.
Istilah tersebut mengandung arti suatu senyawa yang aksinya menyerupai neurotransmiter
utama yang terlibat dalam saraf kolinergik yaitu asetil kolin. Beberapa hal yang perlu di
ingat kembali bahwa reseptor asetilkolin ada 2 yaitu reseptor muskarinik dan nikotinik.

Reseptor muskarinik terdapat pada sel organ efektor saraf kolinergik misalnya sel
perietal lambung, otot jantung, otot polos saluran pencernaan. Sedangkan reseptor nikotinik
terdapat pada semua ganglia syaraf otonom (pertemuan syaraf prenaglion dan syaraf

5
postganglion), pada neuromuscular junction sistem syaraf somatik, dan pada sel kromafin
medula adrenal.

2.1.1 Agonis Kolinergik Langsung


A. Agonis muskarinik
Berdasarkan struktur kimianya obat ini dibedakan menjadi dua yaitu
golongan ester dan golongan alkaloid. Obat golongan ester merupakan
senyawa ester dari kolin, sehingga strukturnya mirip dengan asetilkolin.
Sedangkan obat golongan alkaloid strukturnya tidak mirip dengan asetilkolin
dan merupakan senyawa golongan alkaloid yang diisolasi dari tanaman.

Obat golongan ester hampir mempunyai spesifitas yang relatif tinggi


terhadap reseptor muskarinik dibanding reseptor nikotinik, misalnya metakolin
dan betanekol. Sedangkan karbakol mempunyai spesifitas pada kedua reseptor.
Obat golongan alkaloid misalnya arekolin, pilokarpin, muskarin dan
oksotremorin, hanya mempunyai spesifitas pada reseptor muskarinik.

Berikut ini aktivitas reseptor muskarinik pada beberapa organ yaitu :


 Jantung : penurunan frekuensi denyut dan kekuatan kontraksi.
 Mata : kontraksi pupil dan kontraksi otot sirkular
 Organ kelamin laki-laki : ereksi
 Bronkus : kontraksi otot polos bronkus dan sekresi bronkial
 Saluran pencernaan : peningkatan motilitas otot dan dilatasi sekresi
asam lambung.
 Kelenjer saliva dan lakrimal : peningkatan sekresi.

Efek samping yang sering dijumpai pada obat muskarinik yaitu


peningkatan sekresi keringat, salivasi, peningkatan kontraksi saluran cerna.

B. Agonis nikotinik
Obat agonis nikotik yang cenderung mengaktivasi reseptor asetilkolin
nikotinik pada ganglia otonom antara lain : nikotin, lobelin, epibatidin. Dimana
obat ini merupakan senyawa alkaloid. Aktivitas reseptor nikotinik pada pada
otot skeletal adalah kontraksi otot.

6
2.1.2 Inhibitor Kolinesterase
Inhibitor kolinesterase dibagi menjadi dua yaitu :

A. Inhibitor reversibel
Senyawa golongan ini bersifat larut dalam air, beraksi menghambat
dengan berkompetisi dengan asetilkolin pada sisi anionik pada enzim AchE.
Contoh obat golongan ini : edroponium, neostigmin, piridostigmin,
fisostigmin, ambenonium. Efek sampingnnya sama dengan obat golongan
kolinergik langsung karena aksi obat ini adalah menghentikan konsentrasi
asetilkolin pada celah sinaptik.

B. Inhibitor irreversibel
Senyawa golongan ini bersifat larut dalam lipid, bereaksi
memfosforilasi enzim AchE sehingga mengakibatkan inaktivasi enzim
tersebut secara tak terbalikkan ( irreversible). Contoh senyawa golongan ini
adalah dyflos, ecotiofat, isofluofat, malation, paration, yang digunakan dalam
bentuk gas sebagai insektisida.

Gejalanya antara lain gangguan pernafasan, berkeringat, diare, mual-


muntah, hipersalivasi, kecemasan dan distrimia jantung. Pada kondisi parah,
penderita mengalami gangguan penglihatan, edema paru-paru, bronkokontriksi,
kecemasan, kejang, tremor, depresi dan lain-lain.

2.3 Obat-Obat Kolinergik

Kolinergik (parasimpatomimetik)

Efek yang ditimbulkan oleh kolinergik adalah :


 Stimulasi aktifitas saluran cerna, feristaltik di perkuat, sekresi kelenjar kelnjar
ludah, geteh lambung, air mata, dll.
 Memperlambat sirkulasi darah dan mengurangi kegiatan jantung , vasodilatasi
dan penurunan tekanan darah
 Memperlambat pernafasan dengan menciutkan saluran nafas dan
meningkatkan sekresi dahak

7
 Kontraksi otot mata dengan penyempitan pupil mata dan menurunkan tekanan
intra okuler dan memperlancar keluarnya air mata .
 Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar keluarnya air
seni

Efek samping dari obat obat kolinergik adalah mual, muntah, diare, sekresi
ludah dahak, keringat dan air mata yang berlebihan , penghambatan kerja jantung,
bronkokontriksi dan kelumpuhan pernafasan.

Penggunaaan

Kolinergik terutama digunakan pada :

 Glaukoma , suatu penyakit mata dengan ciri tekanan intraokuler meningkat


dengan akibat kerusakan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Obat ini
bekerja dengan jalan midriasis seperti filokarpin , karbakol, dan fluostigmin.
 Myastenia grafis, yaitu suatu penyakit terganggunya penerusan impus di pelat
ujung motoris dengan gejala berupa kelemahan otot otot tubuh hingga
kelumpuhan. Contohnya , neostigme dan pridostigmin
 Atonia, yaitu kelemahan otot polos pada saluran cerna atau kandung kemih
setelah oprasi besar yang menyebabkan stres bagi tubuh. Akibatnya timbul
aktifitas saraf adrrenegik dengan efek obstipasi, sukar buang air kecil atau
lumpuhnya gerakan peristaltik dengan tertutupnyanusus. Contohnya
prostigmin.

Obat obat tersendiri


 Asetilkolin
Indikasi : motikum sesudah oprasi katarak.
Efek samping : pandangan kabur, udema pada mata, beradikardi dan
hipotensi
Sediaan beredar vial 20mg/2 ml

 Pilokarpin

Indikasi : miotikum
Efek samping : sakit kepala, rasa terbakar dan gatal pada mata .
Sediaan tetes mata 1%, 2%, 3%, 4%, dan 6%

 Neostigmin

Indikasi : atonia kandung kemih dan usus, melawan sifat toksis


dari atropin, miotikum, myastenia grafis.
Efek samping : mual, muntah sekresi ludah berlebih, diare.

8
Sediaan ampul 1ml.
 Piridostigmin
Indikasi : Myastenia gravis
Efek Samping : Mual, muntah, sekresi ludah berlebih, diare
Sediaan Beredar : Tablet 60 mg

Spesialit Obat Kolinergik


No GENERIK DAGANG PABRIK

1 Asetilkolin Miochol-E Novartis

2 Pilokarpin Cendo Carpine Cendo

3 Neostigmin Epicarpine Cendo


Miokar Sanbe Farma
Prostigmin Combiphar

9
2.4 Antagonis kolinergik

Istilah “antagonis” dalam hal ini adalah “melawan”, sehingga kalau “antagonis
kolinergik” berati melawan aksi asetil kolin atau syaraf kolinergik. Secara definitif, istilah
antagonis kolinergik berarti obat yang menghambat atau mengurangi efek asetil kolin atau
persyarafan kolinergik. Istilah tersebut juga dinamakan kolinolitik. Obat ini mempunyai
sasaran: menurunkan konsentrasi atau mengurangi aksi asetilkolin pada celah sinaptik.

Obat ini beraksi dengan cara :

1. Sebagai antagonis kompetitif pada reseptor muskarinik


2. Antagonis kompetitif pada reseptor nikotinik
3. Mengeblock kanal ion yang terhubung dengan reseptor nikotinik

Oleh karena itu, secara garis besar dibedakan menjadi 3 golongan utama yaitu :

1. Antagonis reseptor muskarinik


2. Ganglionic blocker
3. Neuromuscular blocker

A. Antagonis muskarinik
Obat ini beraksi secara selektif menghambat aktivitas syaraf
parasimpatik, sehingga disebut juga parasimpatolitik. Obat ini menghambat
secara kompetitif reseptor asetilkolin muskarinik. Secara struktur kimia, obat
golongan ini mirip dengan asetilkolin, namun mempunyai gugus aromatik
untuk menggantikan gugus aktifnya yaitu asetil. Hal ini mengakibatkan
strukturnya “bulky” atau gemuk sehingga ga bersifat antagonis pada reseptor
muskarinik. Maka antagonis dalam konteks ini adalah senyawa atau ligan yang
dapat berinteraksi dengan reseptornya namun tidak dapat menghasilkan respon
fisiologi.

10
Efek dari obat antagonis muskarinik adalah berlawanan dengan efek
agonis muskarinik. Efek antagonis muskarinik tersebut yaitu : peningkatan
frekuensi denyut jantung, midriasis (dilatasi pupil), relaksasi otot bronkus dan
penurunan sekresi bronkial, penurunan motilitas dan sekresi pada saluran
pencernaan, penurunan sekresi oleh kelenjar saliva, terjasi retensi urin,
berkurangnya keringat, penurunan aktivitas SSP misalnya sedasi, halusinasi
bahkan koma.

Contoh dari senyawa alami adalah atropin (atropa belladonna) dan


hyosin (datura stramonium). Atropin bersifat larut dalam lemak sehingga
mudah diabsorpsi dan didistribusi menembus barier darah-otak. Senyawa
turunannya yaitu atropin metonitrat mempunyai aksi perifer seperti atropin
namun tidak bisa menembus ke otak. Secara klinik, atropin digunakan untuk
relaksasi bronkus dan terapi keracunan organofosfat. Sedangkan atropin
metonitrat, digunakan pada penanganan hipermotilitas saluran pencernaan.
Hyosin atau dinamakan juga dengan scopalomin, digunakan untuk pengobatan
motion sickness.

Contoh obat antagonis kolinergik lainnya adalah : atropin metonitrat,


ipratropium, benztroprin, siklopentolat, pirenzepin, tropikamid, triheksifenidil,
disiklomin, oksibutinin, tolterodin. Ipratropium menghasilkan efek relaksasi
bronkus, sehingga digunakan dalam terapi penyakit paru obstruksi kronik.
Tropikami (aksi cepat) dan siklopentolat (aksi relatif lama) digunakan untuk
memproduksi midriasis dan sikloplegia. Sedangkan prenzapin digunakan
dalam penanganan tukak peptik karena merupakan antagonis selektif bagi
reseptor muskarinik 1 pada sel perietal lambung. Triheksifenidil digunakan
pada penderita parkinson untuk menurunkan aktivitas kolinergik. Oksibutinin
dan tolterodin digunakan untuk mengendalikan unrinary incontinence,
ketidakmampuan dalam mengendalikan pembuangan urin. Bagaimana efek
sampingnya? Ini berhubungan dengan efek antagonis muskarinik laiinya
misalnya terjadi retensi urin, mulut kering (penurunan sekresi) pandangan
kabur ( akibat midriasis berlebihan).

B. Obat pengeblok ganglion (ganglion-blocking drugs)


11
Obat ini beraksi dengan menghambat aksi asetilkolin ganglia otonom.
Ganglia otonom merupakan pertemuan antara ujung suaraf preganglion dengan
syaraf postganglion baik pada syaraf simpatik maupun parasimpatik.
Penghambatan aksi asetilkolin pada ganglia otonom dapat melalui aktivitas
antagonis pada reseptor asetilkolin nikotinik, contoh obatnya adalah
heksametonium. Trimetafan yang juga merupakan obat golongan ini,
digunakan secara klinik untuk penurunan tekanan darah pada pasien operasi
(dalam kondisi anastesi) dengan aksi yang cepat.

C. Neuromoscular-blocking drugs
Pada dasarnya, aksi obat ini mirip dengan pengeblok ganglion. Perlu
dipahami, obat golongan ini mempengaruhi aktivitas asetilkolin pada celah
sinaptik, dengan aksi berikatan dengan reseptor nikotinik pada neuromuscular
junction. Obat golongan ini dibagi menjadi dua :

1. Non-depolarising blocking agent, dengan aksi mengeblok reseptor


asetilkolin nikotinik pada neuromuscular junction, tepatnya di motor
endplate. Obat ini beraksi dengan berinteraksi dengan reseptor nikotinik
pada neuromuscular junction, namun tidak membuka kanal Na2+. Hal ini
mengakibatkan tidak terjadinya depolarisasi pada motor endplate,
sehingga tidak menghasilkan respon kontraksi otot skeletal.

2. Depolarising blocking agent yang beraksi sebagi agonis pada reseptor


tersebut. Obat ini beraksi dengan berinteraksi dengan reseptor nikotinik
pada neuromuscular junction, mengakibatkan terbukanya kanal Na2+.
Lebih lanjut terjadi depolarisasi pada motor endplate sehingga
menghasilkan respon kontraksi otot skeletal. Contoh obatnya adalah
suksamethonium (suksinilkolin) dan dekametonium.

2.5 Obat-Obat Antikolinergik

Semua antikolinergik memperlihatkan kerja yang hampir sama tetapi daya alifatisnya
berbeda terhadap berbgai organ, misalnya atropin hanya menekan sekresi luar, mukus dan
brongkus dan keringat pada dosis kecil, tetapi pada dosis besar dapat menyebabkan dilatasi

12
pupil mata, gangguan akomodasi dan penghambatan saraf fagus pada jantung.
Antikolinergik juga memperlihatkan efek sentral yaitu merangsang pada dosis kecil tetapi
mendepresi pada dosis toksis
Penggunaan
Obat obat ini digunakan dalam pengobatan untuk bermacam macam gangguan
tergantung dari khasiat spesifiknya masing masing antara lain :
 Spasmolitika dengan meredakan ketegangan otot polos, terutama merelaksasi
kejang dan kolik di saluran lambung - usus , empedu dan kemih. Contoh :
hiosiamin, skopolamin
 Asma dan bronkitis. Contoh ipatropium dan tiottropium
 Midriatikum, dengan melebarkan pupil mata dan melemahkan akomodasi mata.
Contoh fenillefrin.
 Borok lambung – usus, dengan menekan sekresi dan mengurangi peristaltik.
 Mengurangi sekresi kelenjar (air liur, keringat dan dahak)

Berdasarkan efeknya terhadap sistem saraf sentral

 Sedative pada premedikasi operasi bersama anestetika umum, contoh :


skopolamin.
 Parkinson , contoh : triheksilfenidil

Obat-obat tersendiri

a. Alkaloida Belladone

Alkaloida yang didapat dari tanaman Atropa Belladonne seperti atropine dan
skopolamin. Didapatkan juga dari tanaman Datura Stramonium dan Hyoscyamus niger.

 Atropin
Indikasi : midriatikum, spasmolitikum asma, batuk rejan, kejang pada
lambung- usus.
Sediaan 5mg/ml tetes mata.

 Skopolamin
Indikasi : obat mabuk perjalanan, midriatikum, dan paramedikasi oprasi.
Sediaan cendo scopola, ¼% 15ml tetes mata

b. Senyawa-senyawa Ammonium Kwartener


Khasiat antikolinergiknya lemah dengan kerja spasmolitik yang lebih kuat dari
atropine dan efek samping lebih ringan.

13
Indikasi : untuk meredakan peristaltic lambung-usus dan meredakan
organ dalam
Contoh : propantelin, ipratropium dan tiotropium
Sediaan Ipratropium : Atrovent (Boehringer Ingelheim) 0,25mg/1ml larutan.

c. Zat Zat Amin Tersier


Contoh : tropicamida
Indikasi : midriatik
Sediaan 0,5% dan 1% dalam 5ml ; 15 ml cendo midriatil.

d. Obat Obat Parkinson


Contoh : levodopa, difenhidramin dan benzheksol.

Spesialit Obat Antikolinergik

No Generik Dagang Pabrik


1 Atropin Cendottropine Cendo fahrenheit
isotic cycloma
2 Iprattropium Atrovent Boehringer ingelheim
3 Tropicamida Cendo mydriatil midric Cendo sanbe
4 Scopolamine spasmolict meprofarm

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem saraf pusat (SSP), yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan merupakan
Sistem saraf utama dari tubuh. Sistem saraf tepi, terletak diluar otak dan medula spinalis,
terdiri dari 2 bagian; otonom dan somatic. Sistem saraf Otonom tebagi dua yaitu system
saraf simpatis dan parasimpatis .

Zat-zat yang bekerja terhadap saraf parasimpatis :

 Parasimpatomimetik (kolinergik), obat yang efeknya menyerupai efek yang


ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatik, seperti efek perangsang
susunan saraf otonom oleh asetilkolin, contohnya : pilokarpin.
 Parasimpatolitika (antikolinergik), obat yang menghambat timbulnya efek dari
aktivitas susunan saraf parasimpatik, melawan efek perangsangan susunan saraf
otonom oleh asetilkolin. Contohnya : alkaloid belladonna (hyoscyamin, atromin,
skopolamin)

3.2 Saran

Mahasiswa diharapkan lebih memahami mengenai Agonis dan Antagonis Muskarinik.


Dan semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat baik bagi penulis maupun pembaca.

15
DAFTAR PUSTAKA

Endro Agung, N.2012. Farmakologi. Pustaka Pelajar : Jogjakarta

Goodman&Gilman.(2008).Manual Farmakologi dan Terapi.EGC : Jakarta

Gunawan, Gan Sulistia.(2012). Farmakologi dan terapi edisi 5 . Departemen


Farmakologi dan Terapeutik FKUI

Moulton, B.C, Fryer, A.D., 2011, Muscarinic receptor antagonist, from folklore to
pharmacology; finding drugs that actually work in asthma and COPD, Br J
Pharmacol., 163(1):44-52

Paraskos, J.A., 1986, Cardiovascular pharmacolog. III: Atropine, calcium, calcium blockers
and beta-blockers, Circulation, 74(6 Pt 2):IV86-69

16