Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

“KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)”

OLEH
KELOMPOK 1
FITRI QALABI ILYAS (A021171003)
ANDI REZKY ANANDA AMALIA (A021171006)

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk
menciptakan perlindungan dan keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik
fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan
lingkungan.
Definisi menurut para ahli:
1. Keselamatan kerja adalah membuat kondisi kerja yang aman dengan
dilengkapi alat-alat pengaman, penerangan yang baik, menjaga lantai dan
tangga bebas dari air, minyak, nyamuk dan memelihara fasilitas air yang baik
(Agus, 1989).
2. Keselamatan kerja menunjuk pada perlindungan kesejahteraan fisik dengan
tujuan mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera terkait dengan pekerjaan
(Malthis dan Jackson, 2002).
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu upaya untuk
mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahteraan fisik, mental dan
sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan
penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor
yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam
suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan
psikologi; dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan
setiap manusia kepada jabatannya. (International Labour Organization).

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang penting bagi perusahaan
karena dapat terjadinya suatu kecelakaan karena tidak hanya merugikan
karyawan, tetapi juga perusahaan secara langsung maupun tidak langsung. Jika
sebuah perusahaan melaksanakan tindakan-tindakan keselamatan dan kesehatan
yang efektif, maka lebih sedikit pekerjaan yang menderita cedera atau penyekit
jangka panjang sebagai akibat dari pekerjaan mereka di perushaan tersebut.
B. Sistem Manajemen K3
CONTOH KASUS
Karyawan PG Djatiroto Tewas di Kolam Penampungan Limbah

Seorang karyawan pengolahan limbah tewas saat mengecek volume limbah tetes
Pabrik Gula (PG) Djatiroto di kolam penampungan. Wahyudi (43) tewas tenggelam
setelah terjatuh dari tangga, Senin (5/1/2009).

Peristiwa ini terjadi, saat korban warga Dusun Persil Desa/Kecamatan Jatiroto
bersama dua temanya, Sutrino (55) dan Bagong (57) warga Desa/Kecamatan Jatiroto
mengecek limbah tetes. Korban yang berada tepat di belakang Sutrisno yang
memegang tali ukur ke dalam limbah, terpeleset dan jatuh.

"Dia terjatuh terlentang dan sempat melambaikan tangan meminta tolong," kata
Sutrisno teman korban saat ditemui detiksurabaya.com di kamar mayat RS PG
Djatiroto.

Menurut Sutrisno, korban tidak bisa diselamatkan. Karena limbah tetes pekat seperti
lumpur dan terus menenggelamkan korban. "Limbah tetes ini kalau bergerak orang
akan tenggelam dengan sendirinya," tutur Sutrisno.

Sementara informasi yang berhasil dihimpun detiksurabaya.com dari sejumlah


karyawan PG Djatiroto, korban tidak dilengkapi alat pengaman untuk mengecek
limbah tetes. Bahkan pihak PG Djatirpto tidak menyediakan alat keselamatan bagi
pekerjanya.

Sementara Kanit Reskrim Polsek Jatiroto Aiptu Hariyanto, pihaknya masih


memeriksa saksi-saksi yang mengetahui kejadian. Sedangkan korban saat ini
dilakukan visum untuk mengetahui apakah ada unsur pembunuhan.

"Korban kami visum, hal ini menghindari kekhawatirkan keluarga korban yang masih
meragukan kematiannya," kata Hariyanto.
(fat/fat)

sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-1063165/karyawan-pg-djatiroto-tewas-
di-kolam-penampungan-limbah
Analisis Kasus

Jika ditinjau dari faktor penyebab kecelakaan kerja, penyebab dasar


kecelakaan kerja adalah tidak tersedianya alat keselamatan bagi pekerjanya.Dalam
hal ini, kesalahan terletak pada pihak pabrik. Menanggapi kecelakaan yang telah
menewaskan seorang karyawan tersebut, seharusnya pihak pabrik membuat kebijakan
baru dengan menyediakan alat keselamatan bagi pekerja dan memastikan setiap
karyawan menggunakan APD saat bekerja, maka mungkin kecelakaan kerja tersebut
tidak akan terjadi. Konstruksi kolam harus dibuat berpagar agar menghindari
kecelakaan kerja apabila tangga licin. Pihak pabrik perlu juga memberikan pelatihan
dan perhatian kepada pegawai mengenai keselamatan kerja agar tidak lalai dalam
mengambil suatu tindakan yang beresiko tinggi. Karyawan saat memasuki kolam
penampungan limbahseharusnya juga mengenakan alat-alat pelindung diri meski
tidak disediakan agar terhindar dari bahaya kecelakaan kerja.

Kemudian penyebab kecelakaan yang lain adalah kurangnya pengawasan


manajemen dalam bidang kesehatan, keselamatan, dan keamanan pada perusahaan
tersebut. Sistem manajemen yang baik seharusnya lebih ketat pengawasannya
terhadap pekerjaan ini menyadari pekerjaan ini memiliki risiko yang besar untuk
menghasilkan kerugian. Beberapa tindakan manajemen yang bisa dilakukan
adalah dengan menyediakan alat pelindung diri sesuai dengan jenis pekerjaannya.

Kemudian apabila telah terjadi kecelakaan, seharusnya dilakukan investigasi


kecelakaan, inspeksi, pencatatan serta pelaporan kecelakaan kerja. Tujuan dari
kegiatan ini tentu untuk meningkatkan manajemen dari kesehatan, keamanan serta
keselamatan pada pabrik tersebut, menentukan tindakan pencegahan yang tepat serta
menurunkan faktor risiko pada kecelakaan tersebut. Pabrik harus mengambil
pelajaran melalui kecelakaan ini dengan memperbaiki penyediaan alat pelindung diri
bagi seluruh karyawan. Jika tidak dilakukanberarti kecelakaan semacam ini masih
memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk kembali terjadi, baik pada
pabrik yang sama maupun pada pabriksejenisnya.

Solusi Mengatasi Kecelakaan Kerja dan Strategi Pengendalian :

Ada beberapa solusi yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengurangi
resiko dari adanya kecelakaan kerja. Salah satunya adalah pengusaha membentuk
Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja untuk menyusun program
keselamatan kerja. Beberapa hal yang menjadi ruang lingkup tugas panitia tersebut
adalah masalah kendali tata ruang kerja, pakaian kerja, alat pelindung diri dan
lingkungan kerja.

1. Tata ruang kerja yang baik adalah tata ruang kerja yang dapat mencegah timbulnya
gangguan keamanan dan keselamatan kerja bagi semua orang di dalamnya. Jalan-
jalan yang dipergunakan untuk lalu lalang juga harus diberi tanda, misalnya dengan
garis putih atau kuning. Jalan yang berhubungan langsung dengan kolam diberi
pagar. Tangga dan lantai diusahakan tidak licin.

2. Pakaian kerja sebaiknya tidak terlalu ketat dan tidak pula terlalu longgar. Pakaian
yang terlalu longgar dapat mengganggu pekerja melakukan penyesuaian diri dengan
mesin atau lingkungan yang dihadapi. Pakaian yang terlalu sempit juga akan sangat
membatasi aktivitas kerjanya.

3. Alat pelindung diri dapat berupa kaca mata, masker, sepatu atau sarung tangan. Alat
pelindung diri ini sangat penting untuk menghindari atau mengurangi resiko
kecelakaan kerja. Tapi sayangnya, pabrik memang tidak menyediakan dan para
pekerja tidak mempunyai inisiatif menyediakan sendiri karna terkadang enggan
memakai alat pelindung diri karena terkesan merepotkan atau justru mengganggu
aktivitas kerja.

Strategi Pengendalian :
1. Dibuatnya peraturan yang mewajibkan bagi setiap perusahaan untuk memilki
standarisasi yang berkaitan dengan keselamatan karyawan, perencanaan, konstruksi,
alat-alat pelindung diri, monitoring perlatan dan sebagainya.

2. Adanya pengawas yang dapat melakukan pengawasan agar peraturan perusahaan


yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja dapat dipatuhi.

3. Memberikan pendidikan dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja yang


diperlukan pekerja guna meningkatkan pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja,
demi mencegah terjadinya kecelakaan yang sama.

4. Dilakukan penelitian psikologis tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan


terjadinya kecelakaan

5. Seluruh tugas keselamatan dan kesehatan tenaga kerja harus bertanggung jawab
menjalankan penanggulangan kecelakaan, rencana penanganan darurat, serta
melakukan bimbingan pelaksanaan setiap bagian.
6. Komunikasi antar pegawai harus selalu terjaga dengan baik agar saling
memperhatikan satu sama lain sehingga mampu meminimalisir peluang kecelakaan
yang terjadi.

7. Mengikutsertakan semua pihak yang berada dalam perusahaaan ke dalam asuransi.

Pencegahan yang efektif

Pekerjaan pemeliharaan konstruksi tempat kerja mempunyai sifat bahaya


secara alamiah terhadap pekerja. Oleh sebab itu masalah bahaya harus ditempatkan
pada urutan pertama program keselamatan dan kesehatan. Di sebagian besar negara,
keselamatan di tempat kerja masih memprihatinkan. Seperti di Indonesia, rata-rata
pekerja usia produktif (15-45 tahun) meninggal akibat kecelakaan kerja. Kenyataanya
standard keselamatan kerja di Indonesia paling buruk dibandingkan dengan negara-
negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Kecelakaan kerja bersifat tidak menguntungkan, tidak dapat diramal, tidak


dapat dihindari sehingga tidak dapat diantisipasi dan interaksinya tidak disengaja.
Berdasarkan penyebabnya, terjadinya kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi
dua, yaitu langsung dan tidak langsung.

Adapun sebab kecelakaan tidak langsung terdiri dari faktor lingkungan (zat
kimia yang tidak aman, kondisi fisik dan mekanik) dan faktor manusia (mencapai
85%).
Pada umumnya kecelakaan terjadi karena kurangnya pengetahuan dan
pelatihan, kurangnya pengawasan, kompleksitas dan keanekaragaman ukuran
organisasi, yang kesemuanya mempengaruhi kinerja keselamatan dalam berkerja.
Para pekerja akan tertekan dalam bekerja apabila waktu yang disediakan
untuk merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan terbatas. Manusia
dan beban kerja serta faktor-faktor dalam lingkungan kerja merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan, yang disebut roda keseimbangan dinamis.

Untuk mencegah gangguan daya kerja, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan
agar para karyawan tetap produktif dan mendapatkan jaminan perlindungan
keselamatan kerja, yaitu :
1. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja (calon pekerja) untuk mengetahui apakah
calon pekerja tersebut serasi dengan pekerjaan barunya, baik secara fisik maupun
mental.

2. Pemeriksaan kesehatan berkala/ulangan, yaitu untuk mengevaluasi apakah faktor-


faktor penyebab itu telah menimbulkan gangguan pada pekerja

3. Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja diberikan kepada para karyawan
secara kontinu agar mereka tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya.

4. Pemberian informasi tentang peraturan-peraturan yang berlaku di tempat kerja


sebelum mereka memulai tugasnya, tujuannya agar mereka mentaatinya.

5. Penggunaan pakaian pelindung

6. Isolasi terhadap operasi atau proses yang membahayakan, misalnya mengecek


volume limbah tetes Pabrik Gula (PG) Djatiroto

Dapat disimpulkan bahwa pekerja sebagai sumber daya dalam lingkungan kerja
harus dikelola dengan baik, sehingga dapat memacu produktivitas yang tinggi.
Keinginan untuk mencapai produktivitas yang tinggi harus memperhatikan segi
keselamatan kerja, seperti memastikan bahwa para pekerja dalam kondisi kerja aman.